Anda di halaman 1dari 2

MKEK IDI Medan Terima Enam Aduan Pelanggaran MEDAN (SINDO) Sepanjang tahun 2010, Majelis Kode Etik

k Kedokteran (MKEK) IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Kota Medan menerima enam pengaduan dari pasien atau pihak yang mewakilinya.

Sekretaris MKEK IDI Medan Ery Suhaimi menyebutkan, enam pengaduan itu merupakan masalah dugaan pelanggaran etik, termasuk masalah dugaan malapraktik, kesalahan diagnosa, dan pelanggaran disiplin. Dari enam pengaduan itu,empat di antaranya sudah diputus, sedangkan dua lagi masih diproses di MKEK. Kalau sudah kami bahas di MKEK,hasilnya kami serahkan ke IDI lagi untuk diproses di sana.Soal apakah ditindaklanjuti ke kepolisian, kami tidak tahu. MKEK hanya memandang dari segi etik saja, papar Ery,kemarin. Dia menyebutkan, pengaduan itu berasal dari pasien,sebagian besar melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Pelanggaran terdiri dari pelanggaran ringan, sedang, dan berat. Dari enam pengaduan itu semuanya hanya pelanggaran ringan, sebutnya. Menurut dia, pengaduan yang diterima pihaknya hanya dugaan dan karena pasien kurang paham atau kesalahpahaman.

Ketua IDI kota Medan dr Syahmirza Warli SpU tak menampik masih adanya pengaduan pasien terhadap tindakan medis dokter, seperti pengaduan dugaan pelanggaran etik, malapraktik, dan lainnya. Namun,semua kasus dapat diselesaikan dengan cara mediasi. Sebab, pengaduan itu umumnya hanya disebabkan kesalahpahaman antara pasien dengan dokter. Misalnya, ada pasien yang penyembuhan lukanya tidak bagus. Nah,kasus yang seperti itu banyak.

Tapi itu bisa diselesaikan dengan mediasi dokter dan pasien. Pada pasien kami beri pengertian dan penjelasan,terangnya. Dia menjelaskan,tindakan medis yang dilakukan seorang dokter tidak bisa dijamin 100% sembuh. Sebab,semua tindakan medis pasti ada risikonya. Dijelaskannya, sejatinya tindakan medis yang dilakukan seorang dokter itu tidak bisa dijamin 100 persen sembuh. Sebab, semua tindakan medis pasti ada resikonya. Biasanya dokter menjelaskan risiko apa yang

terjadi kalau dilakukan tindakan.Misalnya,operasi ada tertinggal sesuatu. Sebab, pasien punya hak untuk mengetahui kondisi penyakit pasien.Tapi kadang, sulit menjelaskan kepada pasien, karena takut pasien cemas.Karena tingkat pendidikan tidak terlalu tinggi, sehingga penjelasan yang diterima jadi rancu,terangnya.

Selain itu, setelah operasi atau tindakan medis lain pun terkadang pasien tidak sembuh 100%.Nah yang seperti itulah kadang tidak diterima pasien, lalu mengadukannya ke pihak terkait. Padahal,apa yang dilakukan dokter sudah sesuai prosedur,hanya saja tidak bisa 100% penyembuhannya,ujarnya. Dia menuturkan,semua dokter pada dasarnya memiliki standar prosedur untuk melakukan tindakan medis.

Namun, tidak tertutup pula kemungkinan adanya dokter yang melakukan tindakan medis di luar prosedur. Bisa jadi ada dokter yang melakukan tindakan di luar kontrol. Kalau dokter yang melakukan tindakan di luar prosedur dan itu membahayakan orang lain, maka akan ada sanksinya, seperti teguran, tidak praktik, bahkan hingga pencabutan izin praktiknya, terangnya. (eko agustyo fb)