Anda di halaman 1dari 135

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrim. Kebanyakan kasus nyeri karena fraktur sekarang di akibatkan oleh tinggainya angka kecelakaan yang terjadi di jalan raya yang di akibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan alat-alat yang memenuhi standar keselamatan dalam berkendaraan. Seperti menggunakan helm yang standar untuk pengendara sepeda motor dan menggunakan sabuk pengaman untuk pengendara mobil. Klien dengan fraktur femur datang dengan nyeri tekan akut, pembengkakan nyeri saat bergerak dan spasme otot. Mobilitas atau kemampuan fisik klien untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari perubahan dan klien perlu belajar bagaimana menyesuaikan aktivitas dan lingkungan untuk mengakomodasikan diri dengan menggunakan alat bantu dan bantuan mobilitas. Berdasarkan data-data tersebut di atas maka kelompok kami tertarik untuk membahas kasus fraktur khususnya Fraktur Femur 1/3 Sinistra dan juga untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah KMB dalam praktek klinik di Ruang Lantai V Bedah Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Jakarta.

B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk memperoleh gambaran umum mengenai fraktur meliputi konsep dasar (anatomi fisiologi, definisi, etiologi, patofisiologi, patoflow, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, serta penatalaksanaan medis), asuhan keperawatan secara teori (pengkajian,

diagnose keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi), tinjauan kasus dan pembahasan kasus. 2. Tujuan Khusus Mahasiswa mampu:
a. Memahami konsep dasar dari Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra

b. Melakukan pengkajian pada klien dengan Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra
c. Menentukan diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan

Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra.


d. Menyusun rencana tindakan keperawatan dalam perawatan klien

dengan Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra e. Melakukan distal Sinistra


f. Mengevaluasi

tindakan

keperawatan

berdasarkan

rencana

keperawatan yang telah disusun pada klien dengan Fraktur Femur 1/3 tindakan keperawatan yang telah di

implementasikan pada klien dengan Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra.


C. Ruang Lingkup

Dalam menulis makalah ini Kami membahas mengenai Konsep Dasar (Anatomi Fisiologi, definisi, etiologi, patofisiologi, patoflow, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis), asuhan keperawatan serta studi kasus mengenai klien dengan Fraktur Femur 1/3 distal sinistra.

D. Metode Penulisan Dalam menyusun makalah ini Kami menggunakan metode deskriptif. Adapun tenik pengumpulan data dan informasi dalam penyusunan makalah ini adalah studi kepustakaan dengan menggunakan literatur untuk memperoleh materi-materi yang bersifat teoritis dan studi kasus dengan mengambil data

langsung pada klien mengalami Fraktur Femur 1/3 distal Sinistra guna menyempurnakan makalah ini.

E. Sistematika Penulisan Makalah ini tersusun secara sistematis yang terdiri atas 5 bab yaitu: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum 2. Tujuan Khusus C. Ruang Lingkup D. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar 1.
2.

Anatomi Fisiologi Definisi Fraktur Berbagai jenis fraktur Etiologi Manifestasi klinis Tahap pembentukan tulang Patofisiologi Patoflow Komplikasi Pemeriksaan Penunjang Penatalaksanaan Medis Pengkajian Diagnosa Keperawatan Perencanaan Evaluasi
3

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 1.
2.

B. Asuhan Keperawatan

3. 4.

BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian B. Diagnosa C. Perencanaan D. Implementasi E. Evaluasi BAB IV PEMBAHASAN BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORITIS


A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Muskuloskeletal Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengukur pergerakan. Tulang manusia saling berhubungan satu dengan yang lain dalam berbagai bentuk untuk memperoleh fungsi sistem muskuloskeletal yang optimum. Aktivitas gerak tubuh manusia tergantung pada efektifnya interaksi antara sendi yang normal unit-unit neuromuskular yang menggerakkannya. Elemen-elemen tersebut juga berinteraksi untuk mendistribusikan stress mekanik ke jaringan sekitar sendi. Otot, ligamen, rawan sendi dan tulang saling bekerjasama dibawah kendali sistem saraf agar fungsi tersebut dapat berlangsung dengan sempurna. a. Tulang Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, proteksi alat-alat di dalam tubuh, pembentuk tubuh metabolisme kalsium, mineral dan organ hemopoetik. Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Matriks organik tulang disebut juga sebagai osteoid. Sekitar 70% dari osteoid adalah kolagen tipe I yang kaku dan memberikan ketegangan tinggi pada tulang. Materi organik lain yang juga menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam hialuronat.
5

Anatomi

Fisiologi

Sistem

1) Bagian-bagian dari tulang panjang yaitu: a) Diafisis ( batang ) Merupakan bagian tengah tulang yang berbentuk silinder, bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. b) Metafisis Adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh tulang trabekula atau spongiosa yang mengandung, sumsum merah.metafisis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon pada epifisis. c) Epifisis Lempeng epifisis adalah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak. Bagian ini akan menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis yang letaknya dekat dengan sendi tulang panjang bersatu dengan metafisis sehingga pertumbuhan memanjang tulang terhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum, yaitu: yang mengandung selsel yang berproliferasi dan berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Pada tulang epifisis terdiri dari 4 zone, yaitu: Daerah sel istirahat Lapisan sel paling atas yang letaknya dekat dengan epifisis Zona proliferasi Pada zona ini terjadi pembelahan sel, dan disinilah terjadi pertumbuhan tulang panjang. Sel-sel yang aktif ini didorong ke arah batang tulang, ke dalam daerah hipertropi. Daerah hipertropi Pada daerah ini, sel-sel membengkak, menjadi lemah dan secara metabolik menjadi tidak aktif. Daerah kalsifikasi provisional Sel-sel mulai menjadi keras dan menyerupai tulang normal.
6

Bila daerah proliferasi mengalami pengrusakan, maka pertumbuhan dapat terhenti dengan retardasi pertumbuhan longitudinal anggota gerak tersebut atau terjasi deformitas progresif bila terjadi hanya sebagian dari lempeng tulang yang mengalami kerusakan berat. Sebagaimana jaringan ikat lainnya, tulang terdiri dari komponen matriks dan sel. Matriks tulang terdiri dari seratserat kolagen dan protein non kolagen. Sedangkan sel tulang terdiri dari: Osteoblas Sel tulang yang bertagunag jawab terhadap proses formasi tulang, yaitu; berfungsi dalam sintesis matrik tulang yang disebut osteoid, suatu komponen protein dalam jaringan tulang. Selain itu osteoblas juga berperan memulai proses resorpsi tulang dengan cara memebersihkan permukaan osteoid yang akan diresorpsi melalui berbagai proteinase netral yang dihasilkan. Pada permukaan osteoblas, terdapat berbagai reseptor permukaan untuk berbagai mediator metabolisme tulang, termasuk resorpsi tulang, sehingga osteoblas merupakan sel yang sangat penting pada bone turnoven. Osteosit Sel tulang yang terbenam didalam matriks tulang. Sel ini berasal dari osteoblas, memilliki juluran sitoplasma yang menghubungkan antara satu osteosit dengan osteosit lainnya dan juga dengan bone lining cell di permukaan tulang. Fungsi osteosit belum sepenuhnya diketahui, tetapi diduga berperan pada trasmisi signal dan stimuli dari satu sel ke sel lainnya. Baik osteoblas maupun osteosit berasal dari sel mesenkimal yang terdapat di dalam sumsum tulang, periosteum dan mungkin endotel pembuluh darah. Sekali osteoblas mensintesis osteosid, maka osteoblas akan
7

berubah menjadi osteosit dan terbenam di dalam osteoid yang disintesisnya. Osteoklas Sel tulang yang bertanggung jawab terhadap proses resorpsi tulang. Pada tulang trabekular osteoklas akan membentuk cekungan pada permukaan tulang yang aktif yang disebut: lakuna howship. Sedangkan pada tulang kortikal, osteoklas akan membentuk kerucut sedangkan hasil resorpsinya disebut: cutting cone, dan osteoklas berada di apex kerucut tersebut. Osteoklas merupakan sel raksasa yang berinti banyak, tetapi berasal dari sel hemopoetik mononuklear.

2) Faktor pertumbuhan osteogenik: a) Hormon pertumbuhan (GH) Hormon ini mempunyai efek langsung dan tidak langsung terhadap osteoblas untuk meningkatkan remodeling

tulang

dan

pertumbuhan

tulang

endokondral.

Efek

langsungnya yaitu: dengan melalui interaksi reseptor GH pada permukaan osteoblas, sedangkan efek tidak langsungnya melalui produksi insulin like growth faktor-1 (IGF)

b) TGF Merupakan polipeptida dengan BM 25.000. TGF berfungsimenstimulasi replikasi proteoblas, sintesis kolagen dan resorpsi tulang dengan cara menginduksi opoptosis osteoklas. c) Fibroblas Growth Faktor (FGF) FGF 1 dan 2 adalah polipeptida dengan BM 17000 yang berperan pada neovaskulrisasi, penyembuhan luka dan resorpsi tulang. FGF 1 dan 2 akan merangsang replikasi sel tulang sehingga populasi sel tersebut meningkat dan memungkinkan tejadinya sintesis kolagen tulang. d) Platelet-Derived Growth Faktor (PDGF) Merupakan polipeptida dengan BM 3000 dan pertama kali diisolasi dari trombosit dan diduga berperan penting pada awal penyembuhan luka. PDGF berfungsi merangsang replikasi sel dan sintesis kolagen tulang. e) Vaskular Endotelial Growth Faktor (VEGF) VEGF berperan sangat penting pada osifikasi endokondral. Semua osifikasi endokondral, terjadi invasi pembuluh darah ke dalam eawan sendi selama mineralisasi matriks, opoptosis kondrosit yang hipertropik, degenerasi matriks dan formasi tulang 3) Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon, antara lain : a) Hormon Paratiroid

Mempunyai efek langsung dan segera pada mineral tulang, menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorpsi dan bergerak memasuki serum. Disamping itu, peningkatan kadar hormon paratiroid secara perlahan-lahan menyebabkan peningkatan jumlah dan akttivitas osteoklas, sehingga terjadi demineralisasi. b) Hormon Pertumbuhan GH tidak mempunyai efek langsung terhadap remodeling tulang, tetapi melalui perangsangan IGF 1. Efek langsung GH pada formasi tulang sangat kecil, karena sel-sel tulang hanya mengekpresiksn reseptor GH dalam jumlah kecil. c) Kalsitonin Kalsitonin menyebabkan kontraksi sitoplasma osteoklas dan pemecahan osteoklas menjadi sel mononuklear dan menghambat pembentukan osteoklas. d) Estrogen dan Androgen Mempunyai peranan penting dalam maturasi tulang yang sedang tumbuh dan mencegah kehilangan masa tulang. Reseptor estrogen pada sel-sel tulang sangat sedikit diekspresikan sehingga sulit diperlihatkan efek estrogen terhadap resorpsi dan formasi tulang. Eatrogen dapat menurunkan resorpsi tulang secara tidak langsung melalui penurunan sintesis berbagai sitokin, seperti IL-1, TNF-, IL-6. e) Hormon Tiroid Berperan merangsang resorpsi tulang, hal ini akan menyebabkan pasien hipertiroidisme akan disertai hiperkalsemia dan pasien pasca menopouse yang mendapat supresi tiroid jangka panjang akan mengalami osteopenia.
f) 1,25-dehidroksivitamin D [1,25 (OH)2 D]

Merupakan vitamin D aktif yang berperan menjaga hemostasis kalsium dengan cara meningkatkan absorpsi
10

kalsium di usus dan mobilisasi kalsium dan tulang pada keadaan kalsium yang adekuat. Di tulang, 1,25 (OH)2 D akan menginduksi monositik stem cell di sumsum tulang untuk berdiferensiasi menjadi osteoklas. Setelah itu sel ini kehilangan kemampuannya untuk bereaksi terhadap 1,25 (OH)2D. Pada proses mineralisasi tulang 1,25 (OH)2 D berperan dalam menjaga konsentrasi Ca dan P di dalam cairan ekstraseluler sehingga deposisi kalsium hidroksiapatit pada matriks tulang akan berlangsung baik. 4) Penyembuhan tulang Ada beberapa tahap dalam penyembuhan tulang, antara lain: a) Inflamasi Dengan adanya patah tulang, tubuh mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri. b) Proliferasi Sel Dalam sekitar 5 hari, hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendolan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblas dan osteoblast, yang akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patah tulang. Terbentuknya jaringan ikat fibrosa dan tulang rawan (osteoid) dari periosteum tampak pertumbuhan melingkar. c) Pembentukan Kalus
11

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrosa, tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhubungan dengan pengrusakan tulang dan pergeseran tulang. Perlu waktu 3-4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrosa. d) Osifikasi Pembentukan kalus mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras. Pada patah tulang orang dewasa normal, penulangan memerlukan waktu 3sampai 4 bulan. e) Remodeling Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun, tergantung beratnyamodifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan konselus, serta stress fungsional pada tulang

12

5) Nama-nama tulang pada tubuh 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Cranium (tengkorak) Mandibula (tulang rahang) Clavicula (tulang selangka) Scapula (tulang belikat) Sternum (tulang dada) Rib (tulang rusuk) Humerus (tulang pangkal lengan) Vertebra (tulang punggung) Radius (tulang lengan)

10. Ulna (tulang hasta) 11. Carpal (tulang pergelangan tangan) 12. Metacarpal (tulang telapak tangan) 13. Phalanges (ruas jari tangan dan jari kaki) 14. Pelvis (tulang panggul) 15. Femur (tulang paha) 16. Patella (tulang lutut) 17. Tibia (tulang kering) 18. Fibula (tulang betis) 19. Tarsal (tulang pergelangan kaki) 20. Metatarsal (tulang telapak kaki) 6) Gerakan Tulang a) Fleksi adalah gerakan yang memperkecil sudut antara dua tulang atau dua bagian tubuh.

13

Dorsofleksi adalah gerakan menekuk telapak kaki di pergelangan ke arah depan Plantar fleksi adalah gerakan meluruskan telapak kaki pada pergelangan kaki b) Ekstensi adalah gerakan yang memperbesar sudut antara dua tulang atau dua bagian tubuh

Ekstensi adalah tubuh kembali ke posisi anatomis Hiperekstensi mengacu pada gerakan yang

memperbesar sudut pada bagian-bagian tubuh melebihi 180o c) Abduksi adalah gerakan tubuh menjauhi garis lurus tubuh d) Aduksi adalah gerakan bagian tubuh saat kembali ke aksis utama tubuh atau aksis longitudinal tungkai e) Rotasi adalah gerakan tulang yang berputar di sekitar aksis pusat tulang itu sendiri tanpa mengalami dislokasi lateral Pronasi adalah rotasi medial lengan bawah dalam posisi anatomis, yang mengakibatkan talapak tangan menghadap ke belakang Supinasi adalah rotasi lateral lengan bawah yang mengakibatkan telapak tangan mengahadap ke depan f) Sirkumduksi adalah kombinasi dari semua gerakan angular dan berputar untuk membuat ruang berbentuk kerucut, seperti saat mengayunkan lengan membentuk putaran g) Inversi h) Eversi adalah adalah gerakan gerakan sendi sendi pergelangan pergelangan kaki kaki yang yang memungkinkan telapak kaki menghadap ke dalam atau medial memungkinkan telapak kaki menghadap ke arah luar i) Protraksi adalah memajukan bagian tubuh seperti saat menonjolkan rahang bawah ke depan j) Retraksi adalah gerakan menarik bagian tubuh ke belakang seperti saat meretraksi mandibula k) Elevasi adalah pergerakan struktur ke arah superior, seperti saat mengatupkan mulut dan mengangkat bahu
14

l) Depresi adalah menggerakkan suatu struktur ke arah inferior, seperti saat membuka mulut b. Sendi Pengertian sendi adalah semua persambungan tulang, baik yang memungkinkan tulang itu bergerak satu sama lain, maupun tidak dapat bergerak satu sama lain. Secara anatomik, sendi di bagi menjadi 3 yaitu: a) Sinartrosis Sendi yang memungkinkan tulang-tulang yang berhubungan dapat bergerak satu sama lain. Diantara tulan gyang saling bersambungan tersebut terdapat jaringan yang dapat berupa jaringan ikat (sindesmosis), seperti: pada tulang tengkorak, antara gigi dan rahang, dan antara radius dan ulna, atau dapat juga dengan jaringan tulang rawan kondrosis) misalnya: persambungan antara os ilium, os iskium dan os pubikum. b) Diartrosis Sambungan antara 2 tulang atau yang memungkinkan tulang-tulang tersebut bergerak sama lain. Diantara tulang-tulang yang bersendi tersebut terdapat rongga yang disebut kavum artikulare. Diartrosis disebut juga sendi sinovial. Sendi ini tersusun atas bongol sendi (ligamentum). Berdasarkan bentuknya, diartrosis dibagi menjadi:
Sendi peluru misalnya: persendian panggul, glenohumeral yang

memungkinkan gerakan bebas penuh. Sendi engsel, memungkinkan gerakan melipat hanya pada satu arah dan contohnya pada persendian interfalang, humeroulnaris, lutut. Sendi pelana, memungkinkan gerakan pada dua bidang yang saling tegak lurus. Misalnya; persendian pada dasar ibu jari, karpometakarpal.

15

Sendi pivot yang memungkinkan rotasi untuk aktivitas, misalnya: persendian antara radius dan ulna. c) Amfiartrosis Merupakan sendi yang memungkinkan tulang-tulang yang saling berhubungan dapat bergerak secara terbatas, misalnya: sendi sakroiliaka dan sendi-sendi antara korpus vertebra

1) Rawan Sendi Rawan sendi merupakan jaringan avaskuler dan juga tidak memiliki jaringan saraf, berfungsi sebagai bantalan terhadap beban yang jatuh ke dalam sendi. Rawan sendi dibentuk oleh sel rawan sendi (kondrosit) dan matriks rawan sendi a) Kondrosit Kondrosit berfungsi mensintesis dan memelihara matriks rawan sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik b) Matriks rawan sendi Terutama terdiri dari: Air Proteoglikan Proteoglikan merupakan molekul yang kompeks yang tersusun atas inti protein dan glikosaminoglikan. Glikosaminoglikan yang menyusun proteoglikan tersusun dari keratan sulfat, kondroitin-6-sulfat dan kondroitin-4-sulfat. Bersama-sama dengan asam hialuronat, proteoglikan membentuk agregat yang dapat menghisap air dan sekitarnya sehingga mengembang sedemikian rupa dan membentuk bantalan yang sesuai fungsi rawan sendi. Bagian proteoglikan yang melekat pada asam hialuronat adalah terminal-N dari inti

16

proteinnya yang mungkin berperan dengan matriks ekstraseluler lainnya. Kolagen Kolagen yang terdapat di dalam rawan sendi terutama adalah kolagen tipe II. Kolagen tipe II tersusun dari 3 alpha yang membentuk gulungan tripel heliks. Kolagen berfungsi sebagai kerangka bagi rawan sendi yang akan membatasi pengembangan berlebihan agregat proteoglikan. 2) Membran Sinovial Membran sinovial merupakan jaringan avaskuler yang melapisi permukaan dalam kapsul sendi, tetapi tidak melapisi permukaan rawan sendi. Membran ini licin dan lunak dan berlipat-lipat. Walaupun banyak prmbuluh darah dan limfe di dalam jaringan subsinovial, tetapi tidak satupun mencapai sinoviosit. Jaringan pembuluh darah ini berperan dalam transfer konstituen darah ke dalam rongga sendi dan pembentuk cairan sendi. Sel sinovisit terdiri dari 3 tipe yaitu: a) Sinoviosit tipe A Mempunyai banyak persamaan dengan makrofag, dan berfungsi melepaskan debris-debris sel dan material khusus lainnya ke dalam rongga sendi b) Sinovisit tipe B Mempunyai banyak persamaan dengan fibroblas, berperan mensintesis dan mengekresikan hialuronat yang merupakan zat aditif dalam cairan sendi dan berperan dalam mekanisme lubrikasi, dan juga berperan memperbaiki kerusakan sendi yang meliputi produksi kolagen dan melakukan proses remodeling. c) Sel C Sebagian sinovisit yang mempunyai ultrastruktur antara sel A dan sel B. Sinovium dan kapsul sendi diinervasi oleh mekanoreseptor, pleksus saraf dan ujung bebas bebas yang tidak
17

dibungkus mielin. Ujung saraf ini merupakan neuron aferen primer yang berfungsi sebagai saraf sensori dan memiliki neuropeptida yang disebut substansi-P.

3) Cairan Sinovial Karakteristik cairan sendi pada berbagai keadaan ditunjukan pada tabel berikut : Grup I Sifat cairan sendi Volum(lutut,ml ) Viskositas Warna Kejernihan Tak Bekuan musin mudah putus 200 Leukosit /mm3 < 25 Sel PMN(%) Kultur MO c. Otot
18

Normal

Non inflamasi > 3,5 Tinggi Kekuningan Transparan Tak putus 200-2000 <25 Negatif

Grup II Inflamasi > 3,5 Rendah Kuning Transulenopak

Grup III Septik > 3,5 Bervariasi Tergantung mikroorganisnya Opak Mudah putus

< 3,5 Sangat tinggi Tidak berwarna Trasparan

mudah Mudah putus

2000-100.000 >50 Negatif

>500.000 >75 positif

Negatif

Otot merupakan jaringan tubuh yang mempunyai kemampuan berkontraksi. Adanya otot akan memungkinkan tubuh untuk menghasilkan suatu gerakan. Hampir 40% tubuh kita terdiri dari otot rangka yang berjumlah 500 otot, sedangkan otot polos dan otot jantung hanya 10% saja.

1) Karakteristik otot Setiap otot memiliki 4 karakteristik: a) Iritabilitas Otot mempunyai kemampuan untuk menerima dan merespon berbagai jenis stimulus. Otot dapat merespon potensial aksi yang dialirkan oleh serabut saraf menjadi stimulus elektrik yang dialirkan oleh serabut sarafmenjadi stimulus elektrik yan gdialirkan secara langsung ke permukaan-permukaan otot atau tendonnya. b) Kontraktilitas Apabila c) Ekstensibilitas Otot mampu memanjang baik pasif maupun aktif d) Elastisitas Setelah otot memendek atau memanjang, maka otot mampu kembali pada kondisi normal atau istirahat baik dalam hal panjang atau bentuknya. 2) Tipe otot otot menerima stimulus otot memiliki kemampuan untuk memendek.

Terdapat 3 jenis jaringan otot yaitu : a) Otot Polos

19

Otot ini terdapat pada saluran cerna dan pembuluh darah dan diatur oleh sistem saraf otonom b) Otot Jantung Otot yang terdapat di jantung dan diatur oleh sistem saraf otonom c) Otot Lurik Otot ini sebagian besar menempel ke tulang walaupun dalam jumlah kecil menempel ke fascia, aponeurosis dan tulang rawan. Otot lurik dikendalikan oleh kemauan 3) Struktur otot Sel otot atau serabut otot rangka merupakan suatu silinder panjang dan lurus mempunyai banyak inti. Serabut ini mempunyai diameter antara 0,01-0,1 mm dan panjangnya sampai 30 cm. Inti sel terdapat dalam sarkoplasma. Serabut otot dikelilingi oleh selaput jaringan ikat yang disebut: endomisium. Serabut-serabut otot ini akan membentuk fasikulus yang dibungkus oleh parimisium. Pada sebagian besar otot, fasikulus-fasikulus ini terikat bersama-sama oleh epimisium dan kadang-kadang bergabung dengan fascia. Setiap serabut otot rangka terdiri dari ratusan miofibril. Miofibril merupakan kumpulan dari ribuan filamen miosin dan filamen aktin. Miosin berwarna gelap dan tebal sedangkan akti tipis dan terang. 4) Mekanisme kontraksi otot Pada saat kontraksi filamen aktin dan miosin saling tumpang tindih sehingga Z line mejadi semakin dekat satu dengan yang lainnya, sedangkan H zone semakin menyempit. Apabila otot diregangkan maka ujung dari molekul aktin akan tertarik sehingga hanya molekul miosin yang tertinggal pada H zone tampak lebih terang dibandingkan saat kedua filamen tersebut saling tumpang tindih. Kontraksi akan menyebabkan kedua filamen saling tumpang
20

tindih dan tampak lebih gelap.I band hanya terdiri dari molekul aktin, pada saat kontraksi ujung myosin akan masuk ke daerah ini sehingga terlihat lebih gelap. Pada saat kontraksi penuh seluruh filamen aktin dan myosin saling tumpang tindih sehingga tidak ada daerah yang terang. Mekanisme tumpang tindih (sliding) yaitu kepala molekul myosin akan melekat di satu tempat di molekul aktin membuat lekukan dan menarik molekul aktin. Selanjutnya kepala tersebut akan melepaskan diri dari molekul aktin dan lekukan pada kepala tersebut kembali keposisi semula. Setiap gerakan myosin akan menarik aktin tersebut hanya akan menyebabkan pergerakan yang sedikit jaraknya, tetapi karena adanya sejumlah gerakan menarik yang sangat cepat dari sejumlah mo;ekun myosin, maka akan terjadi pemendekan otot.kepala miosin yang melekat ini disebut cross bridge. 5) Tipe Kontraksi Otot Kontraksi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan terbentuknya suatu respon tegangan otot terhadap stimulus Terdapat 2 tipe kontraksi yaitu: a) Kontraksi Isometriks Kontraksi isometriks terjadi apabila tegangan di dalam serabut otot tidak menyebabkan gerakan sendi. Isometrik berarati panjang otot sama antara sebelum dan saat kontraksi. Contoh: bila kita mendorong dinding yang tidak dapat digerakkan. b) Kontraksi Isotonik Melibatkan kontraksi otot dan gerakan sendi. Pada kontraksi isotonik tegangan tetap konstan sedang panjang otot memendek. c) Kontraksi konsentrik

21

Apabila otot menjadi aktif dan menghasilkan suatu tegangan yang menyebabkan otot menjadi memendek dan mengakibatkan gerakan. Contoh: apabila otot fleksor lengan memendek yang mengakibatkan siku menjadi fleksi. d) Kontraksi eksentrik Apabila lengan tersebut secara perlahan-lahan menurunkan beban pada ujung lengan dari kondisi fleksi ke relaksasi secara perlahan-lahan.

2. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Kapita Selekta Kedokteran; 2000) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (R. Sjamsuhidayat dan Wim de Jong,1998). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditemukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner dan suddarth, 2001). Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia Anderson Price. Lorraine Mc Carty Klilson, 1995). Fraktur femur adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisikondisi tertentu seperti degenerasi tulang/osteoporosis. Fraktur dapat dibagi menjadi: a. Fraktur tertutup (closed), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. b. Fraktur terbuka (open, compound), terjadi bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di

22

kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu: 1) Derajat I: a) Luka < 1 cm b) Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk c) Kontaminasi minimal 2) a) b) c) d) 3) a) Derajat II: Laserasi > 1 cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas Fraktur kominutif sedang Kontaminasi sedang Derajat III: Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas: b) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas, atau fraktur segmental/sangat kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka c) d) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus terpapar atau kontaminasi massif diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak Berbagai jenis khusus fraktur:
a. Fraktur komplet: patah pada seluruh garis tengah tulang dan

biasanya mengalami pergeseran.


b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah

tulang
c. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit

23

d. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran

mukosa sampai ke patahan tulang.


e. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi

lainnya membengkak.
f.

Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang

g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam i.

Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen

pada tulang belakang)


j.

atau tendo pada daerah perlekatannnya.

24

3. Berbagai Jenis Fraktur Fraktur femur dibagi menjadi 2 yaitu: a. Fraktur batang femur Fraktur batang femur mempunyai insiden yang cukup tinggi di antara jenis-jenis patah tulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur di daerah kaput, kolum, trokanter, subtrokanter, suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif. b. Fraktur kolum femur Dapat terjadi akibat trauma langsung, pasien terjatuh dengan posisi miring dan trokanter mayor langsung terbentur pada benda keras seperti jalanan. Pada trauma tidak langsung, fraktur kolum femur terjadi karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada wanita usia tua yang tulangnya sudah mengalami osteoporosis. Fraktur kurang stabil bila arah sudut garis patah lebih besar dari 300 (tipe II atau tipe III menurut Pauwel). Fraktur subkapital yang kurang stabil atau fraktur pada pasien tua lebih besar kemungkinannya untuk terjadinya nekrosis avaskular. (Arif, et al. Kapita Selekta Kedokteran; 2000)
25

Selain diatas fraktur femur juga dapat dibagi menjadi: a. Fraktur Intrakapsuler femur yang terjadi di dalam tulang sendi, panggul dan melalui kepala femur (capital fraktur) 1) Hanya di bawah kepala femur 2) Melalui leher dari femur b. Fraktur Ekstrakapsuler Terjadi di luar sendi dan kapsul, melalui trokhanter femur yang lebih besar/yang lebih kecil /pada daerah intertrokhanter. Terjadi di bagian distal menuju leher femur tetapi tidak lebih dari 2 inci di bawah trokhanter kecil.

4. Etiologi a. Trauma b. Gaya meremuk c. Gerakan puntir mendadak d. Kontraksi otot ekstrem e. Keadaan patologis: osteoporosis, neoplasma f. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit (Brunner, Suddarth; 2001) Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relatif rapuh namun mempunyai cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan oleh beberapa hal yaitu: a. Fraktur akibat peristiwa trauma Sebagian fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur lunak juga pasti akan ikut rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. Penghancuran
26

kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas. b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau matatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris dalam jarak jauh.
c.

Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang

tersebut lunak (misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh. (http://911medical.blogspot.com/ 5. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis umum pada fraktur meliputi: a. b. c. d. e. f. Luka pada daerah yang terkena membengkak dan disertai rasa sakit Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

Pada fraktur batang femur, terjadi: a. b. c. d. Daerah paha yang patahntulangnya sangat membengkak, ditemukan tanda fungsio laesa, nyeri tekan dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau angulasi anterior, endo/eksorotasi. Ditemukan adanya pemendekan tungkai bawah Pada fraktur 1/3 tengah femur, saat pemerikasaan harus diperhatikan pulaadanya kemungkinan dislokasi sendi panggul dan robeknya
27

ligamentum di daerah lutut. Setelah itu periksa juga keadaan nervus siatika dan arteri dorsalis pedis Pada fraktur kolum femur, terjadi: a. Pada pasien muda biasanya mempunyai riwayat kecelakaan berat, sedangkan pasien tua biasanya hanya riwayat trauma ringan, misalnya terpeleset b. Pasien tak dapat berdiri karena sakit pada panggul c. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan endorotasi d. Tungkai yang cedera dalam posisi abduksi, fleksi, dan eksorotasi, kadang juga terjadi pemendekan e. Pada palpasi sering ditemukan adanya hematom di daerah panggul f. Pada tipe impaksi biasanya pasien masih bisa berjalan disertai rasa sakit yang tidak begitu hebat, tungkai masih tetap dalam posisi netral 6. Tahap Pembentukan Tulang a. Tahap pembentukan hematom Dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk kearea fraktur. Suplai darah meningkat, terbentuklah hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima. b. Tahap proliferasi Dalam waktu sekitar 5 hari, hematom akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrosa dan tulang rawan. c. Tahap pembentukan kalus Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrosa, tulang rawan
28

dan tulang serat imatur. Perlu waktu 3-4 minggu agar frakmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrosa d. Osifikasi Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui proses penulangan endokondrial. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan
e. Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan). Tahap akhir

dari perbaikan patah tulang

7. Patofisiologi Fraktur terjadi ketika tulang mendapatkan energi kinetik yang lebih besar dari yang dapat tulang serap. Fraktur itu sendiri dapat muncul sebagai akibat dari berbagai peristiwa diantaranya pukulan langsung, penekanan yang sangat kuat, puntiran, kontraksi otot yang keras atau karena berbagai penyakit lain yang dapat melemahkan otot. Pada dasarnya ada dua tipe dasar yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur, kedua mekanisme tersebut adalah: Yang pertama mekanisme direct force dimana energi kinetik akan menekan langsung pada atau daerah dekat fraktur. Dan yang kedua adalah dengan mekanisme indirect force, dimana energi kinetik akan disalurkan dari tempat tejadinya tubrukan ke tempat dimana tulang mengalami kelemahan. Fraktur tersebut akan terjadi pada titik atau tempat yang mengalami kelemahan. Pada saat terjadi fraktur periosteum, pembuluh darah, sumsum tulang dan daerah sekitar jaringan lunak akan mengalami gangguan. Sementara itu perdarahan akan terjadi pada bagian ujung dari tulang yang patah serta dari jaringan lunak (otot) terdekat. Hematoma akan terbentuk pada medularry canal antara ujung fraktur dengan bagian dalam dari periosteum. Jaringan tulang akan segera berubah menjadi tulang yang mati. Kemudian jaringan nekrotik ini akan secara intensif menstimulasi

29

terjadinya

peradangan

yang

dikarakteristikkan

dengan

terjadinya

vasodilatasi, edema, nyeri, hilangnya fungsi, eksudasi dari plasma dan leukosit serta infiltrasi dari sel darah putih lainnya. Proses ini akan berlanjut ke proses pemulihan tulang yang fraktur tersebut.

8. Patoflow
Trauma, proses patologi, penuaan, mal nutrisi

Rusak atau terputusnya kontinuitas tulang

Kerusakan jaringan lunak dan kulit

Pembuluh Darah

Serabut saraf dan sumsum tulang

Periosteum & korteks tulang

Port dentry

Hematoma

Hemoragi Serabut saraf putus Hilangnya fragmen tulang

Non infeksi

Infeksi

Vasodilatasi eksudat plasma dan migrasi leukosit

hipovolemi

hipotensi inflamasi Delayed union Supresi saraf Suply O2 ke otak menurun

Kehilangan sensasi

Sembuh

Deformitas, krepitasi, pemendekan tulang

nyeri Deformitas imobilisasi Gangguan Body image Shock hipovolemik, kesadaran menurun

Syndrom konus nodularis: anestesia,ggn defekasi, ggn miksi,impotensi,hil angnya reflek anal Intoleransi aktivitas

Nyeri

30

Malunion

Atrofi otot

Kerusakan integritas kulit

Kematian

9. Komplikasi a. Komplikasi awal


1)

Shock Hipovolemik/traumatik

Syok hipovolemik akibat perdarahan (baik kehilangan darah eksterna maupun yang tak kelihatan) dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada berbagai fraktur termasuk fraktur femur. Karena tulang merupakan organ yang sangat vaskuler, maka dapat terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar sebagai akibat trauma. Penanganan meliputi mempertahankan volume darah, mengurangi nyeri yang diderita pasien, memasang pembebatan yang memadai dan melindungi pasien dari cedera lebih lanjut. 2) Emboli lemak
Fraktur tulang panjang, pelvis, fraktur multipel, cedera remuk (20-30 th)

Tekanan sumsum tulang > tek. kapiler

Reaksi stres

Globula lemak masuk ke dalam darah

Katekolamin

Bergabung dengan trombosit

Memobilisasi asam lemak

31

Emboli

Menyumbat pembuluh darah kecil

Otak

Paru

Ginjal

Emboli sistemik

- Bingung - Delirium - koma

Takipnea Dyspnea Krepitasi Mengi Sputum putih kental >>> Takikardi PO2 < 60 mmHg Alkalosis respiratorik Pada sinar X: badai salju

- Lemak bebas dalam urine - Gagal ginjal

- Pucat - Petechia pada membran pipi, kantung konjungtiva, palatum durum, fundus okuli, dan di atas dada serta lipatan ketiak depan

(Brunner, Suddarth; 2001) Ada dua teori yang menyatakan bagaimana terjadinya emboli lemak. Teori pertama menyatakan bahwa lemak dilepaskan dari sumsum tulang yang mengalami injuri dan dikeluarkan seiring dengan meningkatnya tekanan intramedular dam memasuki sirkulasi vena menuju kapiler pulmonal, beberapa tetesan lemak melewati dasar kapiler dan masuk ke sirkulasi sistemik dan mengemboli organ lainnya seperti otak. Teori kedua menyatakan bahwa katekolamin dilepaskan ketika terjadi mobilisasi asam lemak bebas oleh trauma dari jaringan adipose, sehingga menyebabkan hilangnya stabilitas emulsi chylomicron. Chylomicron membentuk tetesan lemak yang besar pada paru, dan bisa mengakibatkan perubahan biokimia karena injury. Jaringan dari paru, otak, hati, ginjal dan kulit yang paling sering terkena.
3)

Sindrom kompartemen

32

Terjadi pada saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini disebabkan oleh karena: - Penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat atau gips/balutan yang menjerat - Peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (iskemi, cedera remuk, toksik jaringan) Kompartemen terdiri dari otot, tulang, saraf dan pembuluh darah yang mengalami fibrosis dan fasia. Tekanan kompartemen normal (< atau = 8 mmHg), jika di atas 3040 mmHg dapat merusak peredaran darah mikro. Manifestasi klinik yaitu nyeri iskhemik yang terus menerus yang tidak dapat dikontrol dengan analgesik, nyeri yang meningkat dengan turunnya aliran arteri dan nyeri ketika dipalpasi atau dipindahkan, klien mungkin akan mengalami kelemahan beraktivitas, paresthesia, rendahnya/absent dari nadi, ekstremitas yang dingin dan pucat. Perawatan yang dilakukan yaitu dengan memindahkan penyebab dari kompresi, jika sindrom kompartmen disebabkan dari edema atau pendarahan maka diperlukan fasciotomy, biasanya insisi dibiarkan terbuka sampai berkurangnya bengkak, selama 2-3 hari area tersebut dibungkus dengan longgar sehingga pemindahan kulit terjadi. Sindrom kompartment juga dapat disebabkan klien yang mengalami luka bakar yang hebat, injuri, gigitan berbisa atau prosedur revascularisasi.
4)

Kerusakan arteri

Terdiri dari contused, thrombosis, laserasi, atau arteri yang kejang. Arteries dapat disebabkan ikatan yang terlalu ketat. Indikasi dari kerusakan arteri antara lain absent/tidak teraturnya nadi, bengkak, pucat, kehilangan darah terus menerus, nyeri, hematoma, dan paralysis. Intervensi emergency yaitu pemisahan atau pemindahan
33

pembalut yang mengikatnya, meninggikan atau merubah posisi dari bagian yang injuri, mengurangi fraktur/dislokasi, operasi. 5) Shock

Hypolemic shock merupakan masalah yang potensial karena fragment tubuh dapat melaserasi pembuluh darah besar dan menyebabkan pendarahan, klien yang beresiko tinggi yaitu klien dengan fraktur femur dan pelvis.
6)

Injuri saraf saraf radial biasanya disebabkan fraktur humerus,

Injuri

manifestasinya antara lain paresthesia, paralisis, pucat, ekstremitas yang dingin, meningkatnya nyeri dan perubahan kemampuan untuk menggerakkan ekstremitas
7)

Volkmanns iskhemik kontraktur

Komplikasi ini dapat menyebabkan lumpuhnya tangan atau lengan bawah akibat fraktur, dimulai dengan timbulnya sindrom kompartmen pada sirkulasi vena dan arteri. Jika tidak hilang, tekanan dapat menyebabkan iskhemik yang berkepanjangan dan otot secara bertahap akan digantikan dengan jaringan fibrosis antara tendon dan saraf. Mati rasa dan paralisis juga sering terjadi.
8)

Infeksi

Disebabkan kontaminasi fraktur yang terbuka atau terkena saat dioperasi. Agen infeksi yang biasanya menimbulkan infeksi yaitu pseudomonas. Tetanus atau gas gangren dapat meningkatkan resiko infeksi. Infeksi gas gangren berkembang didalam dan mengkontaminasi luka, gas gangren disebabkan bakteri anaerobik. Pengkajian menunjukkan: turunnya Hb secara cepat; naiknya suhu tubuh; nadi semakin cepat; nyeri; bengkak lokal secara tiba-tiba; dan pucat.

34

Perawatan yang dapat dilakukan untuk kasus ini yaitu membuka luka lebih lebar untuk membiarkan udara masuk dan mencegah terjadinya drainase. Insisi multipel juga dapat dilakukan melewati kulit dan fascia, jahitan dan materi gangren dihilangkan dan luka diirigasi. Jika gangren tetap berkembang, amputasi mungkin diperlukan (Brunner, Suddarth; 2001)
b.

Komplikasi lambat 1) Delayed union Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya lebih dari 4 bulan. Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. 2) Non union

Non union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 69 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang. 3) Mal union

Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan bentuk). Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik. 4) Nekrosis avaskuler tulang

Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang. Tulang yang mati mengalami kolaps dan diganti oleh tulang yang
35

baru. Pasien mengalami nyeri dan keterbatasan gerak. Sinar X menunjukkan kehilangan kalsium dan kolaps struktural. 5) 6) Kekakuan sendi lutut Gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan

10. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur: menentukan lokasi, luasnya fraktur/trauma b. Scan tulang: menidentifikasi kerusakan jaringan lunak c. Pemeriksaan jumlah darah lengkap Hematokrit multiple) Peningkatan SDP: respon stres normal setelah trauma d. Arteriografi: dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai e. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
f. Profil koagulasi: perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah atau

mungkin

meningkat

(hemokonsentrasi),

menurun

(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma

cedera hati 11. Penatalaksanaan Medis Ada empat konsep dasar yang harus diperhatikan/pertimbangkan pada waktu menangani fraktur:
a. Rekognisi: menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian

kecelakaan dan kemudian di rumah sakit. 1) Riwayat kecelakaan 2) Parah tidaknya luka 3) Diskripsi kejadian oleh pasien 4) Menentukan kemungkinan tulang yang patah 5) Krepitus
b. Reduksi: reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak

normalnya. Reduksi terbagi menjadi dua yaitu:


36

1) 2)

Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan

manual dengan traksi atau gips diluruskan melalui pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin, plat yang langsung kedalam medula tulang.
c. Retensi: menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk

mempertahankan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)


d. Rehabilitasi: langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan

bersamaan dengan pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cidera dan program pengobatan hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck). (Sylvia, Price; 1995) Penatalaksanaan umum a. Atasi syok dan perdarahan, serta dijaganya lapang jalan nafas b. Sebelum penderita diangkut, pasang bidai untuk mengurangi nyeri, mencegah bertambahnya kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya kedudukan fraktur. c. Fraktur tertutup: 1) dengan menggunakan traksi. 2) imobilisasi Sendi-sendi di atas dan di bawah garis fraktur biasanya di imobilisasi. Pada fraktur yang sudah di imobilisasi maka gips berbantal cukup untuk imobilisasi. 3) (pengembalian fungsi) Restorasi Fiksasi atau Reposisi, diperlukan anestesi. Kedudukan fragmen distal dikembalikan pada alligment

37

Setelah imobilisasi akan terjadi kelemahan otot dan kekakuan sendi, dimana hal ini diatasi dengan fisioterapi. d. Fraktur terbuka: 1) steril (jangan di balut) 2) fisiologis 3) mati 4) 5) Reposisi Penutupan luka Eksisi jaringan yang Dalam anestesi, dilakukan pembersihan luka dengan aquadest steril atau garam Tindakan pada saat pembidaian diikuti dengan menutupi daerah fraktur dengan kain

Masa kurang dari 6-7 jam merupakan GOLDEN PERIOD, dimana kontaminasi tidak luas, dan dapat dilakukan penutupan luka primer. 6) 7) Fiksasi Restorasi (Purwadianto, Agus; 2000) Pada fraktur femur: Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi Buck, didahului dengan pemakaian Thomas splint, tungkai ditraksi dalam keadaan ekstensi. Tujuan traksi kulit tersebut adalah untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah. Setelah itu dilakukan traksi kulit dapat dipilih non-operatif atau operatif. a. Pengobatan non-operatif Dilakukan traksi skeletal, yang sering disebut metode Perkin, dan metode balance skeletal traction, pada anak di bawah 3 tahun digunakan traksi kulit Bryant, sedangkan pada anak usia 3-13 tahun dengan traksi Russell.
1) Metode Perkin

38

Pasien tidur terlentang, satu jari dibawah tuberositas tibia dibor dengan Steinman pin, lalu ditarik dengan tali. Paha ditopang dengan 3-4 bantal. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu lebih sampai terbentuk kalus yang cukup luas. Sementara itu, tungkai bawah dapat dilatih untuk gerakan ekstensi dan fleksi.
2)

Metode Balance Skeletal Traction Pasien tidur terlentang, satu jari dibawah tuberositas tibia

dibor dengan Steinman pin, lalu ditarik dengan tali. Paha ditopang dengan Thomas Splint, sedang tungkai bawah ditopang oleh Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya membentuk kalus yang cukup. Untuk mempersingkat waktu rawat, setelah 4 minggu ditraksi, dipasang gips hemispica atau cast bracing.
3)

Traksi kulit Bryant Anak tidur terlentang di tempat tidur. Kedua tungkai

dipasang traksi kulit, kemudian ditegakkan ke atas, ditarik dengan tali yang diberi beban 1-2 kg sampai kedua bokong anak tersebut terangkat dari tempat tidur.
4)

Traksi Russel Anak tidur terlentang, dipasang plester dari batas lutut.

Dipasang sling di daerah poplitea, sling dihubungkan dengan tali yang dihubungan dengan beban penarik. Untuk mempersingkat waktu rawat, setelah 4 minggu ditraksi, dipasang gips hemispica karena kalus yang terbentuk belum kuat benar. b. Operatif Indikasi operasi antara lain: 1) Penanggulangan non-operatif gagal 2) Fraktur multipel 3) Robeknya arteri femoralis 4) Fraktur patologik 5) Fraktur pada orang yang tua

39

Pada fraktur femur 1/3 tengah sangat baik untuk dipasang intramedularry nail. Terdapat bermacam-macam intramedularry nail untuk femur, di antaranya Kuntscher nail, A0 nail, dan Interlocking nail. Operasi dapat dilakukan dengan cara terbuka dan cara tertutup. Cara terbuka yaitu dengan menyayat kulit-fasia sampai ke tulang yang patah. Pen dipasang secara retrograd. Cara interlocking nail dilakukan tanpa menyayat di daerah yang patah. Pen dimasukkan melalui ujung trokanter mayor dengan bantuan image intensifier. Tulang dapat direposisi dan pen dapat masuk ke dalam fragmen bagian distal melalui guide tube. Keuntungan cara ini tidak menimbulkan bekas sayatan lebar dan perdarahan terbatas. (Arif, et al; 2000)

B. ASUHAN KEPERAWATAN
40

1.

PENGKAJIAN Tanda : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera fraktur itu sendiri atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan, nyeri).

a. Aktivitas/Istirahat

b. Sirkulasi Tanda : - Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respons terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah). - Takikardia (Respon stress, hipovolemia). - Pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi cedera. c. Neurosensori Gejala : - Hilang gerakan/sensasi, spasme otot - Kebas/kesemutan (parestesis) Tanda: - Deformitas lokal, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan/hilang fungsi. - Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain). d. Nyeri/Kenyamanan Gejala : - Nyeri berat tiba-tiba pada saat ceder (mungkin terlokasasi pada area jaringan/kerusakan tulang: dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. - Spasme/kram otot (setelah imobilisasi). e. Keamanan Gejala : - Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna. - Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap atau tiba-tiba).

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
41

1. 2.

Risiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan

kehilangan integritas tulang fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi, stress dan ansietas 3. Risiko tinggi perhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah/cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus 4. Risiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah, emboli lemak, perubahan membrane alveolar/kapiler 5. 6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan rangka neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, perubahan sirkulasi, imobilisasi fisik 7. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan 8. kebutuhan Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan salah berhubungan interpretasi dengan kurang mengenal informasi/tidak

terpajan/mengingat, sumber informasi 3.


a.

INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa : risiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang. Tujuan dan kriteria hasil: 1) 2) Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan

stabilitas pada sisi fraktur

42

3)

Menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur

dengan cepat Intervensi :


1)

Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi

R: meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/penyembuhan


2)

Letakkan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan

pasien pada tempat tidur ortopedik R: tempat tidur yang lembut dapat membuat deformasi gips yang masih basah, mematahkan gips yang sudah kering
3)

Sokong fraktur dengan bantal atau gulungan selimut

R: mencegah gerakan yang tidak perlu dan perubahan posisi 4) Pertahankan posisi atau integritas traksi

R: traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang dan mengatasi tegangan otot untuk memudahkan posisi/penyatuan 5) Pertahankan katrol tidak terhambat dengan beban bebas

menggantung R: jumlah beban traksi optimal dipertahankan 6) Kaji ulang tahanan yang timbul karena terapi

R: mempertahankan integritas tarikan traksi 7) Kaji integritas alat fiksasi eksternal

R: traksi Hoffman memberikan stabilisasi dan sokongan kaku untuk tulang fraktur tanpa menggunakan katrol tali atau beban, memungkinkan mobilitas/kenyamanan pasien atau besar dan memudahkan perawatan luka Kolaborasi 8) Kaji ulang foto

43

R: memberi bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktifitas dan kebutuhan terapi 9) Berikan atau pertahankan stimulsi listrik bila digunakan

R: meningkatkan pertumbuhan tulang pada keterlambatan penyembuhan

b.

Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot,

gerakan fragmen tulang, edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi, stress dan ansietas Tujuan dan criteria hasil 1) 2) 3) Menyatakan nyeri hilang Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan

aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat aktifitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual Intervensi keperawatan 1) 2) Kaji tanda-tanda vital klien Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah R: mengetahui keadaan umum pasien baring, gips R: menghilangkan nyei dan mencegah kesalahan posisi tulang yang cedera 3) Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena R: meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri 4) Hindari penggunaan bantal plastik/sprey di bawah ekstremitas dalam gips R: dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering

44

5)

Tinggikan penutup tempat tidur; pertahankan linen terbuka

pada ibu jari kaki R: mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidaknyamanan karena tekanan selimut pda bagian yang sakit
6)

Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi

dan karakteristik termasuk intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal (perubahan pada tanda-tanda vital dan emosi) R: mempengaruhi pilihan/keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi atau reaksi terhadap nyeri
7)

Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba

atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik R: dapat menandakan terjadinya komplikasi contohnya infeksi, iskemi jaringan, sindrom kompartemen 8)
9)

Beri obat sebelum perawatan aktifitas Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuai

R: meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi keperluan R: menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri
10)

Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik non

narkotik: NSAID injeksi (ketoralak) dan atau relaksan otot, contoh siklobenzaprin (flekseril), hidroksin (vistaril). Berikan narkotik sekitar pada jamnya selama 3-5 hari R: diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau spasme otot
c.

Diagnosa : Risiko tinggi perhadap disfungsi neurovaskuler

perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah/cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus Tujuan dan criteria hasil:

45

1)

Mempertahankan

perfusi

jaringan

dibuktikan

oleh

terabanya nadi, kulit hangat/kering, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil, dan haluaran urine adekuat untuk situasi individu Intervensi: 1) Evaluasi adanya kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi R: penurunan/tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler dan perlunya evaluasi medic segera terhadap status sirkulasi 2) fraktur R: kembalinya warna harus cepat (2-3 detik), warna kulit menunjukkan gangguan arterial. Sianosis diduga ada gangguan vena 3) fungsi Lakukan pengkajian neuromuskuler. Perhatikan perubahan motor/sensori. Minta pasien untuk melokalisasi Kaji aliran perifer, warna kulit dan kehangatan distal pada

nyeri/ketidaknyamanan R: gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat 4) Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali dengan meyakinkan adanya sindrom

dikontraindikasikan kompartemen

R: meningkatkan drainase vena/menurunkan edema 5) Perhatikan keluhan nyeri ekstrem untuk tipe cedera atau

peningkatan nyeri pada gerakan pasif ekstremitas, terjadinya parestesia, tegangan otot/nyeri tekan dengan eritema, dan perubahan nadi distal. R: perdarahan/pembentukan edema berlanjut dalam otot tertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan

46

iskemia miositis atau sindrom kompartemen, perlu intervensi darurat untuk menghilangkan tekanan/memperbaiki sirkulasi 6) Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba-tiba

R: dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang berdekatan, dengan akibat hilangnya aliran darah ke distal 7) Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari/sendi distal

cedera. Ambulasi sesegera mungkin R: meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan darah khususnya pada ekstremitas bawah 8) Awasi tanda vital. Perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis

umum, kulit dingin, perubahan mental R: ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan 9) Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi

R: menurunkan edema/pembentukan hematoma, yang dapat mengganggu sirkulasi 10) Pemeriksaan kogulasi, Hb/Ht

R: membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan keefektifan terapi penggantian

d.

Diagnosa

Risiko

tinggi

kerusakan

pertukaran

gas

berhubungan dengan perubahan aliran darah, emboli lemak, perubahan membrane alveolar/kapiler Tujuan dan criteria hasil: 1) Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat, dibuktikan oleh tidak adanya dyspnea/sianosis, frekuensi pernafasan dan GDA dalam batas normal Intervensi : 1) Awasi frekuensi pernafasan

47

R: takipnea, dispnea, dan perubahan dalam mental dan tanda dini insufisiensi pernafasan 2) Auskultasi bunyi nafas

R: perubahan bunyi menunjukkan adanya komplikasi pernafasan 3) Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut

R: mencegah terjadinya emboli lemak yang erat hubungannya dnegan fraktur 4) efektif R: meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi 5) Perhatikan peningkatan kegelisahan, kacau, letargi, stupor Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk

R: gangguan pertukaran gas dapat menyebabkan penyimpangan tingkat kesadaran pasien 6) Bantu dalam spirometri intensif

R: maksimalkan ventilasi/oksigenasi
7)

Berikan tambahan O2

Meningkatkan persediaan O2 untuk oksigenasi optimal jaringan 8) Berikan obat sesuai indikasi

R: heparin dan kortikosteroid dapat digunakan untuk mencegah bertambahnya pembekuan dan steroid digunakan untuk mengatasi emboli lemak
e.

Diagnosa : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan

kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri/ketidaknyamanan Tujuan dan criteria hasil: 1) 2) Mempertahankan posisi fungsional Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan

mengkompensasi bagian tubuh

48

3)

Menunjukkan

teknik

yang

memampukan

melakukan

aktifitas Intervensi : 1) Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera R: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri tentang keterbatasan fisik yang memerlukan informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan 2) Lakukan dan awasi rentang gerak pasif dan aktif

R: Mempertahankan kekuatan otot yang sakit, memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera 3) Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda

R: menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ 4) ml/hari R: mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi urinarius, pembentukan batu 5) mineral R: pada cedera musculoskeletal nutrisi diperlukan untuk penyembuhan dapat berkurang dengan cepat sering mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang 6)
f.

Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000-3000

Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan

Konsul dengan ahli terapi fisik Diagnosa : Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas

R: berguna dalam membuat aktifitas individu/program latihan kulit/jaringan berhubungan dengan cedera tusuk, fraktur terbuka, perubahan sirkulasi, imobilisasi fisik Tujuan dan criteria hasil : 1) Menyatakan ketidaknyamanan hilang

49

2) 3)

Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu

kulit/memudahkan penyembuhan sesuai indikasi Intervensi : 1)Kaji kulit, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna, kelabu R: memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh pemasangan gips 2)Masase kulit dan penonjolan tulang R: menurunkan tekanan pada area yang peka dan risiko abrasi 3)Bersihkan kulit dengan sabun dan air R: memberikan gips tetap kering, dan area bersih 4)Masase kulit sekitar akhir gips dengan alcohol R: mempunyai efek pengering yang menguatkan kulit 5)Balik pasien dnegan sering untuk melibatkan sisi yang tak sakit R: meminimalkan tekanan pada kaki dan sekitar tepi gips
g.

Diagnosa : Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan

tidak adekuatnya pertahanan primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan Tujuan dan criteria hasil: 1) Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen, atau eritema, dan demam. Intervensi : 1) Inspeksi kulit untuk adanya iritasi R: pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan dan abrasi 2) Observasi luka untuk pembentukan bula

R: tanda perkiraan infeksi gas gangren 3) bicara Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan

50

R: kekakuan otot, spasme otot rahang disfagia menunjukkan indikasi tetanus 4) Berikan obat sesuai indikasi

R: sesuai dengan program terapi antara lain dengan memberikan obat antibiotic IV dan tetanus toksoid 5) Berikan irigasi luka/tulang

R: debridemen local menurunkan mikroorganisme dan insiden infeksi iskemik


h.

Diagnosa : Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang

dan

terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi Tujuan dan criteria hasil: 1) 2) Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan. Intervensi : 1) datang R: memberikan dasar pengetahuan pasien dan pasien dapat membuat pilihan informasi 2) Dorong pasien untuk melakukan latihan aktif untuk sendi Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang akan

R: mencegah kekakuan sendi, kontraktur, dan kelelahan otot 3) Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat

R: menurunkan risiko trauma tulang/jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut 4. a. EVALUASI Mempertahankan stabilitas dan posisi fraktur

51

b. c. d. e. f. g. h.

Menyatakan nyeri hilang Mempertahankan perfusi jaringan adekuat Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat Meningkatkan/mempertahankan mobilitas fisik yang tinggi Integritas kulit baik Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan

purulent

52

BAB III TINJAUAN KASUS RESUME Klien Tn. E usia 48 tahun, masuk RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Pusat pada hari kamis tanggal 19 Februari 2011. Klien mengatakan terjatuh saat mengendarai sepeda motor ketika pulang kerja, klien pingsan dan dibawa ke RS Fatmawati, dan baru sadar saat sudah di RS, klien mengalami luka pada kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri, luka dibersihkan di RS Fatmawati, kemudian klien dipindahkan ke RSPAD Gatot Subroto karena masih aktif menjadi anggota TNI. Setelah dilakukan rontgen, klien didiagnosa fraktur femur 1/3 distal fragmented sinistra, fraktur tibia, fibula 1/3 proximal sinistra, open fraktur phalang media distal digiti 2 manus sinistra dan harus dilakukan tindakan pembedahan. Setelah itu klien dirawat di Ruang Perawatan Bedah Lantai V. Klien di operasi pemasangan ORIF pada femur, tibia, dan fibula sinistra pada tanggal 25 Februari 2011, kemudian post operasi dirawat di ICU sampai tanggal 26 Februari 2011. Klien mendapatkan tranfusi darah PRC, Golongan darah B Rhesus (+) sebanyak 300 cc. Terdapat 3 luka post operasi di kaki kiri yang tertutup perban, luka post op hari ke 14 dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 jahitan di area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 jahitan di area genue atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 jahitan di area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op 5 mm, luka mengalami perembesan pada perban, warna rembesan kuning kecoklatan, bau khas darah. Untuk fraktur phalang medial distal digiti 2 manus sinistra dilakukan operasi pada tanggal 11 maret 2011 dengan 2 jumlah jahitan, luka dibalut perban hari ke-4. Dilakukan perawatan luka 2x/hari. Kondisi klien saat ini, keadaan umum baik, kesadaran composmentis, Tandatanda vital, Tekanan Darah 120/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, Suhu 36oC, Respiratory Rate 20 x/menit. Klien mempunyai riwayat fraktur femur dextra karena kecelakaan pada tahun 1996. Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi di kaki kiri. Klien mengatakan nyeri pada skala 7, klien mengatakan frekuensi nyeri tidak tentu, klien mengatakan lamanya nyeri kurang lebih 10
53

menit, klien menyatakan nyeri tumpul, klien mengatakan nyeri mulai dari paha kiri sampai tungkai bawah kiri, klien mengatakan nyeri timbul pada saat latihan gerak dan malam hari pada saat udara dingin, klien mengatakan bila nyeri minum obat ponstan dan mengatur posisi, klien mengatakan di sekitar luka post op kaki kiri terasa panas, klien mengatakan di sekitar luka post op kaki kiri terasa gatal, klien mengatakan susah beraktivitas karena adanya luka post operasi pada kaki kiri dan tangan kiri, klien mengatakan luka sering rembes setelah dibawa berjalan, klien mengatakan bengkak pada lutut kaki kiri di area post operasi, klien mengatakan tidak leluasa melakukan kegiatan seperti biasa, klien mengatakan butuh bantuan untuk melakukan kegiatan tertentu, seperti berjalan, pindah tempat, mandi, ganti pakaian, klien mengatakan kesemutan dan kebas pada tangan kiri dan kaki kiri, klien mengatakan berjalan di bantu dengan tongkat, luka post op di genue merembes pada perban, warna rembesan pada perban kuning kecoklatan, bau rembesan post op pada kaki kiri khas darah, klien tampak menjaga area yang sakit dari lingkungan sekitar, klien terlihat berhati-hati saat menggerakkan kaki kiri, respon emosi klien tenang, nyeri tekan pada daerah post op kaki kiri (+), klien rutin menggerakkan jari dan melatih kaki yang fraktur, klien tampak meringis menahan sakit saat latihan rentang gerak aktif dan pasif, kesadaran composmentis, klien terpasang IVFD NaCl 0,9% + Fosmicin 2 gr per drip, 20 tpm di tangan kiri, cara berjalan : berjalan dengan tongkat, ROM : aktif dan pasif, genggaman tangan/lepas : kuat pada tangan kanan, lemah pada tangan kiri, postur : tegap dengan tongkat, terdapat deformitas pada kaki kiri, kaki kiri hanya dapat menekuk 75, warna kulit sawo matang, pengisian kapiler : < 3 dtk, rentang gerak : terbatas karena adanya fraktur di kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri, tremor kadang-kadang pada tangan kiri bila terlalu lama dalam posisi telapak tangan telentang. Contohnya saat ganti balutan di tangan, massa otot : baik, Kekuatan otot/ tonus otot 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 3 3 3

Kebutuhan klien di bantu keluarga dan perawat seperti mandi, berganti baju, berjalan, berpindah tempat, dan toileting.Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 10 maret 2011 di dapat hasil:

54

/uL)

Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC

: 10,2 g/dL : 32 % : 3,7 juta/uL : 15.600 /uL : 819.000 /uL : 87 fl : 27 pg : 32 g/dL

() () () () () (N) (N) (N)

(13-18 g/dl) (40-52%) (4,3-5,0 juta

(4800-10800 / (150000(80-96 fl) (27-32 pg) (32-36 g/dl)

uL)

400000)

Klien mendapat therapy oral: Ponstan 3x1 bila nyeri Ranitidin 2x50 mg tiap 12 jam Vitamin 1x1 tiap 24 jam Fosmicin 2x2gr tiap 12 jam Hipobach 2x200mg tiap 12 jam Ciprofloxacin 2x100ml tiap 12 jam Ranitidine 2x50mg tiap 12 jam

Therapy injeksi

Sehingga muncul diagnosa keperawatan Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d terputusnya continuitas jaringan, Infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur invasive, keterbatasan mobilitas fisik b/d fraktur femur, Resiko tinggi kontraktur b/d kehilangan integritas tulang dan imobilisasi.

55

1. Pengkajian Informasi Umum Nama Tanggal Lahir Umur Jenis kelamin Suku Bangsa Tanggal masuk : Tn. E : 28 Desember 1963 : 48 tahun, : laki-laki : Batak : 19 Februari 2011, Rujukan dari RS Fatmawati, Jakarta Selatan Sumber Informasi : Klien , Keluarga, dan Medikal Record AKTIFITAS/ ISTIRAHAT Gejala (subjektif) Pekerjaan : TNI Aktifitas/hobi : nonton TV, membaca, makan, kegiatan gereja . saya menghabiskan waktu di kantor dan di jalan, karena macet dan tempat kerja jauh dari rumah. Berangkat subuh pulang malam, sampai rumah sudah jam 9 malam. Aktifitas waktu luang : Berkumpul dengan keluarga. Perasaan bosan / tidak puas : Ya , karena lama belum sembuh Ketebatasan karena penyakit : Ya, klien tidak leluasa melakukan kegiatan seperti biasa dan butuh bantuan untuk kegiatan tertentu, seperti berjalan, mandi, ganti pakaian. Tidur : 6-8 jam/malam. Tidur siang : jarang Insomnia : tidak ada Rasa segar saat bangun : Iya, jika tidur nyenyak Tanda (objektif) Respon terhadap aktifitas yang terobservasi : Cardiovaskuler, TD 120/80 mmHg , Pernapasan Vesikuler 20 x/menit. Status mental : sadar/aktif
56

Pengkajian neuromuscular : Postur : tegap dengan bantuan tongkat. Tremor : Iya , kadang-kadang pada tangan kiri bila terlalu lama dalam posisi yang sama. Contohnya saat ganti balutan di tangan. Rentang gerak : terbatas karena adanya fraktur di kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri Kekuatan otot / tonus otot : 5 5 5 5 5 5 5 5 75 SIRKULASI Gejala (subjektif) Flebitis : Ya , pada lutut kaki kiri Penyembuhan lambat : Ya, terutama pada daerah fraktur karena masih keluar rembesan setelah 2 minggu post op ORIF. Ekstremitas : bengkak pada lutut kaki kiri di area post ORIF Batuk/ hemoptisis : Tidak Perubahan frekuensi/jumlah urin : normal / 2,5 Liter / 24 jam Kebas : Ya, kadang-kadang jari kaki kiri dan jari tangan kiri Tanda (objektif) TD : berbaring : 120/80 mmHg Nadi : radialis 88 x/menit, kualitas : kuat, irama : teratur Auskultasi dada : ronki (-), wheezing (-) DVJ : Tidak ada Getaran Jantung : ada , normal Ekstremitas : suhu : akral hangat Warna kulit : sawo matang Pengisian kapiler : < 3 detik Kuku : kuku jari normal Rambut : hitam dan tipis, Penyebaran : Merata Membrane mukosa : lembab Membrane bibir : kering
57

5 5 5 4 3 3 3 3

Deformitas : Iya , pada kaki kiri hanya dapat menekuk

Punggung kuku : melengkung baik Konjungtiva : anemis Sklera : unikterik

INTEGRITAS EGO Gejala (subjektif)

Faktor stress : Terkadang memikirkan keadaannya yang lama tidak sembuh-sembuh Cara mengatasi stress : bertukar pikiran dengan istri Masalah financial : tidak ada, karena semua biaya ditanggung Status hubungan : Menikah Faktor-faktor budaya : Hidup di daerah perkotaan Agama : Kristen Kegiatan Keagamaan : pergi ke gereja, selama perawatan di RS klien tidak pernah ke gereja Gaya hidup : Berkecukupan Perubahan terakhir : Tidak ada Perasaan ketidakberdayaan : Ya, karena pada kaki kiri masih dalam pengobatan / masih nyeri bila digerakkan.

Tanda (objektif)

Status emosional : tenang Respon-respon fisilogis yang terobservasi : Klien aktif dan mau berpartisipasi dalam proses pengobatan / perawatan

ELIMINASI Gejala (subjektif)

Pola buang air besar : lancar/waktu tidak tentu BAB terakhir : Tadi pagi (10 Maret 2011) Karakter feces : Agak padat Riwayat Perdarahan : Tidak Hemoroid : Tidak ada Konstipasi : kadang-kadang Penggunaan lakstif : Tidak Bola BAK : normal
58

Frekuensi : > 10x/24 jam Karakteristik urin : kuning jernih Tanda (objektif) Nyeri tekan abdomen : Tidak Lembek/keras : lembek Skala nyeri : Tidak ada Teraba massa : tidak ada Bising usus : aktif pada ke-4 kuadran, yaitu : 8 x/menit Perubahan kandung kemih : Tidak ada BAK terlalu sering : > 10x/24 jam karena klien banyak minum 3 L/24 Jam MAKANAN/ CAIRAN Gejala (subjektif) Diit biasa (Tipe) : (Makanan biasa Tinggi kalori Tinggi Protein) Jumlah makanan per hari : 3 kali/24 jam Pola diit : Pagi , siang , sore Makan/masukan terakhir : Tadi pagi (10-03-2011) Mual/muntah : Tidak ada Alergi makanan : Tidak ada Kehilangan selera makan : Iya , sejak operasi yang kedua Masalah mengunyah/menelan : Tidak ada Nyeri ulu hati/intoleransi makanan : Tidak ada Gigi : klien hanya kumur-kumur dan jarang gosok gigi selama di rawat di RS Berat badan biasa : 70 kg. Perubahan berat badan : turun 2 kg selama di RS Penggunaan diuretic: tidak ada Tanda (objektif) Berat badan sekarang : 68 kg Tinggi badan : 165 cm Bentuk tubuh : Tegap Turgor kulit : Kering
59

Penampilan lidah : midline pink. Membran mukosa : lembab Kondisi gigi/gusi : ada caries Edema : Pada lutut kaki kiri Bunyi nafas : vesikuler Bising usus : aktif pada ke-4 kuadran, yaitu 8 x/menit HIGIENE Gejala (subjektif) Aktifitas sehari-hari : Tergantung sebagian (parsial care) Mobilitas : Tergantung Higiene : Dibantu perawat dan keluarga Toileting : dibantu perawat dan keluarga Makan : sendiri Berpakaian : dibantu keluarga dan perawat Waktu mandi yang diinginkan : pagi/sore Pemakaian alat bantu / Prostetik : Iya, klien menggunakan alat bantu tongkat Bantuan diberikan oleh : keluarga dan perawat

Tanda (objektif)

Penampilan umum : sesuai dengan laki-laki yang berusia 48 tahun, bersih , rambut sedikit beruban Cara berpakaian : rapih (memakai kaos oblong dan celana pendek) Bau badan : tidak Kondisi kulit kepala : baik Rasa ingin pingsan/pusing : tidak ada Sakit kepala : tidak ada Kesemutan/kebas/ kelemahan (lokasi) : kesemutan pada tangan kiri dan kaki kiri Stroke / gejala sisa : tidak ada Epilepsi : Iya 2 tahun yang lalu Mata : baik. Telinga : baik
60

NEUROSENSORI Gejala (subjektif)

Hidung : Epitaksis : Tidak. Indera pendengaran : tidak ada masalah Tanda (objektif) Status mental : sadar Terorientasi terhadap waktu, tempat, orang. Kesadaran : Compos Mentis Afek : perhatian. Memori yang lama dan baru : jelas dan utuh Kacamata : tidak, Kontak Lensa : Tidak Bicara : jelas dan koheren Genggaman tangan/lepas : kuat pada tangan kanan, lemah pada tangan kiri Postur : tegap dengan tongkat Ukuran pupil : 2/2 NYERI/TIDAK NYAMAN Gejala (subjektif) Lokasi : kaki kiri Intensitas : 7 Kualitas : Nyeri tumpul Frekuensi : Tidak tentu Durasi : 10 menit Penjalaran : dari paha kiri sampai tungkai bawah kiri Faktor pencetus : pada saat latihan gerak dan malam hari pada saat udara dingin terasa ngilu Cara mengatasi : minum obat ponstan, mengatur posisi, dan tidur Tanda (objektif) Mengkerutkan muka : Iya saat latihan ROM aktif dan pasif Menjaga area yang sakit : Iya, menjauhkan area sakit dari lingkungan sekitar, contohnya : saat ada orang yang mendekati area yang sakit, klien akan menghindar dan tampak berhatihati dalam menggerakkan kaki kiri. Penyempitan focus : negatif
61

Respon emosi : tenang, kadang tidur Nyeri tekan pada daerah post op : (+) PERNAFASAN Gejala (subjektif) Dipsnea : Tidak Batuk : Tidak Empisema : Tidak Bronchitis : Tidak Asma : Tidak Tuberkulusis : Tidak Perokok : Iya, 1 bungkus / hari , lama merokok : 20 tahun Penggunaan alat bantu nafas : Tidak Oksigen : Tidak Tanda (objektif) Frekuensi pernafasaan : 20 x/menit Kedalaman : Normal Simetris : di kedua lapang dada Penggunaan otot-otot assesori : Tidak ada Napas cuping hidung : Tidak ada Bunyi napas : Vesikuler Sianosis : Tidak ada Jari tubuh : terdapat luka di jari telunjuk tangan kiri Karakteristik sputum : Tidak ada Fungsi mental/kegelisahan : sadar/terorientasi/rileks KEAMANAN Gejala (subjektif) Alergi/sensitivitas : Tidak ada Perubahan system imun sebelumnya : Tidak ada Penyakit hubungan seksual : Tidak ada Perilaku resiko tinggi : Tidak ada Transfusi darah : Iya , setelah operasi pemasangan ORIF pada kaki kiri di ruang ICU, mendapat tranfusi darah PRC, Golongan darah B Rh (+) sebanyak 300 cc Gambaran reaksi : Tidak ada aglutinasi
62

Riwayat cedera / kecelakaan : Iya , pernah mengalami fraktur communitied femur dextra Fraktur/dislokasi : ya, pada kaki kiri di area paha, atas dan bawah lutut, serta jari telunjuk tangan kiri. Terdapat rembesan pada perban setelah dibawa berjalan. Di sekitar luka post op kaki kiri terasa panas dan gatal. Arthritis/sendi tidak stabil : Iya, pada bagian lutut Masalah punggung : Tidak ada Perubahan pada tahi lalat : Tidak ada Pembesaran nodus : Tidak ada Gangguan penglihatan : Tidak ada Kerusakan pendengaran : Tidak ada Alat ambulatory : Iya, menggunakan tongkat untuk berjalan. Tanda (objektif) Suhu :36,20 C, Aksila Diaforesis : Tidak ada Integritas kulit : terdapat luka post op ORIF di kaki kiri Kemerahan : Ya Jaringan parut : Tidak ada Ulserasi : Tidak ada Ekimosis : Tidak ada Lepuh : Tidak ada Laserasi : Tanggal operasi : 25 Februari 2011 Terdapat luka post operasi dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op 5 mm, post op hari ke 14. Operasi ke 2 dilakukan pada tanggal 11 maret 2011, luka operasi di tangan kiri terdapat 2 jahitan bagian palang medial distal digiti 2 manus sinistra, post op hari ke-4. Luka merembes pada perban, warna rembesan kuning kecoklatan,
63

bau khas darah. Kekuatan otot/ tonus otot: 5 5 5 5 5 5 5 5 Cara berjalan : berjalan dengan tongkat ROM : aktif dan pasif Paralisis/parastesial : Tidak ada SEKSUALITAS Gejala (subjektif) Aktifitas melakukan hubungan seksual : tidak selama perawatan di Rumah Sakit. Rabas penis : Tidak ada Gangguan prostat : Tidak Vasektomi : Tidak Melakukan Pemeriksaan sendiri : Iya Prostoscopy / Pemeriksaan Prostat terakhir : Tidak ada Testis : tidak ada masalah Masalah/keluhan : Tidak ada Tanda (objektif) INTERAKSI SOSIAL Gejala (subjektif) Pemeriksaan Testis : Tidak terkaji Kutil Genital / Lesi : Tidak terkaji Status perkawinan : Menikah Lama : 20 tahun Hidup dengan : Anak dan istri Laporan masalah : Tidak ada Masalah-masalah / stress : Tidak ada Keluarga besar : Anak dan Istri Orang pendukung lain : Teman dan keluarga Peran dalam struktur keluarga : Kepala keluarga, Suami, Ayah Masalah-masalah yang berhubungan dengan penyakit / kondisi: Terbatas gerakan dan aktifitas Perubahan bicara / penggunaan alat bantu komunikasi : tidak ada
64

5 5 54 3 3 3 3

Adanya laringektomi : Tidak ada \ Tanda (Objektif) Bicara : jelas, dapat dimengerti Pola bicara : biasa / teratur Penggunaan alat bantu bicara : Tidak ada Komunikasi verbal/non verbal dengan keluarga/orang terdekat: sering berbicara dengan anak dan istri Pola interaksi keluarga (perilaku) : Klien dan istri saling membuat komentar satu sama lain. PENYULUHAN/ PEMBELAJARAN Gejala (subjektif) Bahasa dominan : Indonesia, melek huruf : Ya , Alphabet Tingkat pendidikan : SMA Faktor resiko keluarga : epilepsi Obat yang di resepkan setelah operasi : Ponstan : 3x1 tab, tiap 8 jam Indikasi : meredakan nyeri ringan hingga sedang pada nyeri traumatic, otot dan pasca operasi Ranitidin : 2x1 amp , tiap 8 jam Indikasi : tukak duodenum aktif, tukak lambung aktif non maligna, kondisi hipersekresi patologis. Hypobach 2011) Indikasi : infeksi pasca operasi, infeksi tulang dan sendi, infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap gentamycin Ciprofloxacin : 2 x 100 ml, tiap 12 jam Indikasi : Pencegahan infeksi anaerob pra dan pasca operasi Fosmicin 2 gr/ drip NaCl 0,9% 20 tpm Neurobid 1x1, tiap 24 jam
65

: 1x100 mg, tiap 24 jam

selama 2 hari (tanggal 14 dan 15 maret

Indikasi: pencegahan infeksi pada pembedahan

Indikasi: untuk masa pemulihan, meredakan nyeri, mengembalikan kesegaran tubuh, kekurangan vit B1, B6, B12. Obat tanpa resep / bebas : tidak ada Penggunaan alcohol (Jumlah / Frekuensi) : Iya , kadangkadang. Diagnosa saat masuk per Dokter : Fraktur Femur Alasan dirawat per pasien : Ingin dilakukan operasi Riawayat keluhan terakhir : nyeri saat kaki yang fraktur digerakkan. Harapan pasien terhadap perawatan : semoga penyakit saya cepat sembuh dan bisa beraktifitas lag.i

66

DATA FOKUS Nama Klien Umur : Tn. E : 48 Tahun DATA SUBJEKTIF Klien mengatakan nyeri pada Klien mengatakan nyeri pada Klien mengatakan frekuensi Klien Klien mengatakan menyatakan lamanya nyeri Ruang Kamar No RM : L V Bedah : 077728

DATA OBJEKTIF Klien post operasi ORIF di kaki Klien post operasi ORIF di jari Terdapat luka post op ORIF pada Operasi pertama tanggal 25

luka post operasi di kaki kiri skala 7 nyeri tidak tentu nyeri kurang lebih 10 menit tumpul Klien mengatakan nyeri mulai dari paha kiri sampai tungkai bawah kiri

kiri (operasi ke-1) hari ke-14 telunjuk kiri, (operasi ke-2) hari ke-4 kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri Februari 2011, Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian
67

Klien mengatakan nyeri timbul

atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op di kaki Operasi kedua pada tanggal 11 kiri 5 mm maret 2011, luka operasi di jari tangan kiri terdapat 2 jahitan bagian palang medial distal digiti 2 manus sinistra. Luka post op di genue merembes Warna rembesan pada perban Bau rembesan post op pada kkai pada perban kuning kecoklatan kiri khas darah Klien tampak menjaga area yang sakit Klien terlihat berhati-hati saat Respon emosi klien tenang Nyeri tekan pada daerah post op kaki Klien rutin menggerakkan jari dan Klien tampak meringis menahan sakit Kesadaran composmentis TTV :
-

pada saat latihan gerak dan malam hari pada saat udara dingin Klien mengatakan bila nyeri minum obat ponstan dan mengatur posisi Klien mengatakan di sekitar Klien mengatakan di sekitar Klien mengatakan susah luka post op kaki kiri terasa panas luka post op kaki kiri terasa gatal beraktivitas karena adanya luka post operasi pada kaki kiri dan tangan kiri klien mengatakan luka sering Klien mengatakan rembes setelah dibawa berjalan

bengkak dari lingkungan sekitar menggerakkan kaki kiri -

pada lutut kaki kiri di area post operasi melakukan kegiatan seperti biasa Klien mengatakan Klien mengatakan tidak leluasa -

butuh kiri (+)

bantuan untuk melakukan kegiatan tempat, mandi, ganti pakaian -

tertentu, seperti berjalan, pindah melatih kaki yang fraktur Klien mengatakan kesemutan saat latihan rentang gerak aktif dan pasif -

dan kebas pada tangan kiri dan kaki kiri Klien mengatakan berjalan di bantu dengan tongkat

Tekanan Darah : 120/80 mmHg Nadi : 88 x/menit Suhu : 36 C Respiratory rate : 20 x/menit
68

Hasil lab ( 10/03/11) Darah rutin :


-

Hemoglobin : 10,2 g/dl Hematokrit : 32 %

- Leukosit: 15.600 u/L - Trombosit : 819.000 u/L - Eritrosit: 3,7 Jt/uL - MCV : 87 fl - MCH: 27 pg - MCHC : 32 g/dl Klien terpasang IVFD NaCl 0,9% + Fosmicin 2 gr per drip, 20 tpm di tangan kiri Cara berjalan : berjalan dengan ROM : aktif dan pasif Genggaman tangan/lepas : kuat tongkat

pada tangan kanan, lemah pada tangan kiri kiri 75 Warna kulit sawo matang Pengisian kapiler : < 3 dtk Rentang gerak : terbatas karena Kaki kiri hanya dapat menekuk Postur : tegap dengan tongkat Terdapat deformitas pada kaki

adanya fraktur di kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri. Tremor kadang-kadang tangan pada tangan kiri bila terlalu lama dalam posisi telapak telentang.
69

Contohnya saat ganti balutan di tangan. Massa otot : baik Kekuatan otot/ tonus otot 5 5 5 5 5 5 5 5 Kebutuhan 5 5 5 4 klien di bantu 3 3 3 3

keluarga dan perawat seperti mandi, berganti baju, berjalan, berpindah tempat, dan toileting

ANALISA DATA Nama klien BEDAH Umur No 1 : 48 tahun Data DS: 7 Klien mengatakan frekuensi nyeri Klien mengatakan lamanya nyeri
70

: Tn. E No. RM

Ruang Kamar : L V : 077728 Etiologi Terputusnya continuitas jaringan

Masalah Gangguan rasa

Klien mengatakan nyeri pada luka nyaman: nyeri Klien mengatakan nyeri pada skala

post operasi di kaki kiri

tidak tentu

kurang lebih 10 menit Klien menyatakan nyeri tumpul Klien mengatakan nyeri mulai dari Klien mengatakan nyeri timbul pada

paha kiri sampai tungkai bawah kiri saat latihan gerak dan malam hari pada saat udara dingin Klien mengatakan bila nyeri minum obat ponstan dan mengatur posisi DO: Klien tampak meringis menahan sakit Klien tampak menjaga area yang sakit Klien terlihat berhati-hati saat Respon emosi klien tenang Nyeri tekan pada daerah post op kaki TTV :
-

saat latihan rentang gerak aktif dan pasif dari lingkungan sekitar menggerakkan kaki kiri

kiri (+) TD : 120/80 mmHg N : 88 x/menit

- Sh : 36 C 2 DS - RR : 20 x/menit : Klien mengatakan luka sering Infeksi Masukkannya mikroorganisme asing dan prosedur invasif

rembes pada perban setelah dibawa berjalan Klien mengatakan di sekitar luka Klien mengatakan di sekitar luka post op kaki kiri terasa panas post op kaki kiri terasa gatal

71

DO : -

Klien mengatakan bengkak pada

lutut kiri di area post operasi Klien post operasi ORIF di kaki kiri Klien post operasi ORIF di jari

(operasi ke-1) hari ke-14 telunjuk tangan kiri, (operasi ke-2) hari ke-4 Terdapat luka post op ORIF pada Operasi pertama tanggal 25 Februari kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri 2011, Terdapat luka post operasi dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op kaki kiri Operasi kedua pada tanggal 11 5 mm maret 2011, luka operasi di jari tangan kiri terdapat 2 jahitan bagian palang medial distal digiti 2 manus sinistra. Luka post op di genue merembes Warna luka pada perban kuning Bau luka post op kaki kiri khas klien terpasang IVFD Nacl 0,9% +
72

pada perban kecoklatan darah

Fosmicin 2 gr drip, 20 tpm -

TTV : TD : 120/80 mmHg N : 88 x/menit

- Sh : 36 C - RR : 20 x/menit
-

Hasil lab ( 10/03/11) Darah rutin :


-

Hb : 10,2 g/dl Ht : 32 %

- Leuko: 15.600 u/L - Trombo : 819.000 u/L - Eritrosit: 3,7 Jt/uL - MCV : 87 fl - MCH: 27 pg - MCHC : 32 g/dl 3 Ds : karena adanya luka post op pada kaki kiri, dan tangan kiri Klien mengatakan tidak leluasa Klien mengatakan butuh bantuan kegiatan tertentu, berpindah tempat, berjalan, melakukan kegiatan seperti biasa untuk melakukan seperti Do : Klien terpasang IVFD NaCl 0,9% +
73

Keterbatasan Klien mengatakan susah beraktivitas mobilitas fisik

Fraktur femur

mandi, ganti pakaian Klien mengatakan kesemutan dan Klien mengatakan berjalan di bantu kebas pada tangan kiri dan kaki kiri dengan tongkat

Fosmicin drip, 20 tpm di tangan kiri Kebutuhan klien di bantu keluarga dan perawat seperti mandi, berganti baju, berjalan, berpindah tempat, dan toileting Cara berjalan : berjalan dengan ROM : aktif dan pasif Genggaman tangan/lepas : kuat pada Postur : tegap dengan tongkat Terdapat deformitas pada kaki kiri Kaki kiri hanya dapat menekuk 75 Warna kulit sawo matang Pengisian kapiler : < 3 dtk Rentang gerak : terbatas karena tongkat

tangan kanan, lemah pada tangan kiri

adanya fraktur di kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri. Tremor kadang-kadang pada tangan kiri bila terlalu lama dalam posisi telentang. Contohnya saat ganti balutan di tangan. Massa otot : baik Kekuatan otot / tonus otot 5 5 5 5 5 5 5 4 3 3 3 3 Risiko tinggi Klien mengatakan susah beraktivitas kontraktur kehilangan integritas tulang dan imobilisasi

5 5 5 5 4 Ds : -

karena adanya luka post operasi pada kaki kiri Klien mengatakan bengkak pada lutut kaki kiri di area post operasi

74

Do : -

Klien mengatakan kesemutan dan Klien mengatakan tidak leluasa

kebas pada tangan kiri dan kaki kiri melakukan kegiatan seperti biasa Klien post operasi ORIF hari ke-14 Klien post operasi ORIF di kaki kiri Klien post operasi ORIF di jari (operasi ke-1) hari ke-14 telunjuk tangan kiri, (operasi ke-2) hari ke-4 Terdapat luka post op ORIF pada kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri Klien rutin menggerakkan jari dan Klien tampak meringis menahan sakit Nyeri tekan pada daerah luka post op (+) Cara berjalan : berjalan dengan ROM : aktif dan pasif Genggaman tangan/lepas : kuat pada Postur : tegap dengan tongkat Terdapat deformitas pada kaki kiri Kaki kiri hanya dapat menekuk 75 Warna kulit sawo matang Pengisian kapiler : < 3 dtk Rentang gerak : terbatas karena tongkat melatih kaki yang fraktur saat latihan rentang gerak aktif dan pasif

tangan kanan, lemah pada tangan kiri

adanya fraktur di kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri.


75

Tremor kadang-kadang pada tangan

kiri bila terlalu lama dalam posisi telentang. Contohnya saat ganti balutan di tangan. Massa otot : baik Kekuatan otot 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 3 3 3

2. Diagnosa Keperawatan DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama klien BEDAH Umur : 48 tahun No. RM : 077728 : Tn. E Ruang Kamar : L V

No

Diagnosa Keperawatan

Tanggal Ditemukan Teratasi


76

Paraf

Gangguan

rasa

nyaman:

nyeri

b/d

terputusnya

14-03-11

19-03-11

continuitas jaringan 2 Infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur invasive 3 4 keterbatasan mobilitas fisik b/d fraktur femur Risiko tinggi kontraktur b/d kehilangan integritas tulang dan imobilisasi 14-03-11 14-03-11 19-03-11 19-03-11 14-03-11 19-03-11

77

3. Intervensi Keperawatan INTERVENSI KEPERAWATAN Nama Umur No 1 : Tn.E : 48 tahun Ruang No. RM Tujuan dan Kriteria Hasil Tujuan: Setelah dilakukan nyeri tindakan berkurang keperawatan selama 4x24 jam Klien mengatakan nyeri pada luka post operasi di diharapkan Klien mengatakan nyeri pada skala 7 Klien mengatakan frekuensi nyeri tidak tentu Klien mengatakan lamanya nyeri kurang lebih 10 Klien menyatakan nyeri tumpul Klien mengatakan nyeri mulai dari paha kiri sampai Kriteria Hasil: - Skala nyeri 4-6 - Klien tenang dan nyaman - Klien dapat mengontrol nyeri - TTV dalam batas normal kaki kiri sampai dengan hilang : L. V Bedah : 077728 Intervensi dan Rasional 1. Pertahankan imobilisasi di bagian yang sakit dengan tirah baring dan bebat R/: 2. Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena R/: meningkatkan aliran balik vena, menurukan edema dan nyeri 3. menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang

Diagnosa Keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri b/d terputusnya continuitas jaringan ditandai dengan Ds:

menit

tungkai bawah kiri

78

Do: -

Klien mengatakan nyeri timbul pada saat latihan Klien mengatakan bila nyeri minum obat ponstan dan

Evaluasi keluhan nyeri R/: mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi 4. Ajarkan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi nyeri R/: membantu menurunkan tegangan dan mengurangi nyeri 5. Berikan posisi yang nyaman, posisi semifowler R /: meningkatkan ekspansi dada maksimal, bernafas, kenyamanan. 6. Berikan lingkungan yang tenang R /: memberi kenyamanan dan meningkatkan istirahat membuat yang memudah meningkatkan

gerak dan malam hari pada saat udara dingin mengatur posisi Klien tampak meringis menahan sakit saat latihan rentang Klien tampak menjaga area yang sakit dari lingkungan Klien terlihat berhati-hati saat menggerakkan kaki kiri Respon emosi klien tenang Nyeri tekan pada daerah post op kaki kiri (+) TTV :
-

gerak aktif dan pasif sekitar

TD : 120/80 mmHg N : 88 x/menit

- Sh : 36 C - RR : 20 x/menit

79

7. Ukur TTV R/ : mengetahui keadaan umum klien 8. Kolaborasi pemberian analgetik R/ : membantu menghilangkan nyeri

No 2

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur Tujuan: invasif ditandai dengan DS : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam Klien mengatakan luka sering rembes pada perban perluasan infeksi tidak terjadi Kriteria Hasil: Tanda-tanda infeksi pada luka seperti tumor, kalor, dolor, rubor dan fungsio lesia berkurang sampai dengan Klien mengatakan di sekitar luka post op kaki kiri Klien mengatakan di sekitar luka post op kaki kiri

Intervensi dan Rasional 1. Kaji kulit, perhatikan keluhan peningkatan nyeri/ rasa terbakar atau adanya edema, eritema, drainase, bau tidak enak R/: 2. Berikan perawatan luka sesuai mengindikasikan timbulnya infeksi

setelah dibawa berjalan terasa panas terasa gatal

80

DO : -

Klien mengatakan bengkak pada lutut kiri di area

hilang Luka kering Tidak ada rembesan pada Luka tidak berbau busuk

prosedur R/: 3. Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak R/: tanda perkiraan infeksi gas gangren 4. Kaji tonus otot, reflex tendon dalam dan kemampuan berbicara R/: kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfasia menunjukkan terjadinya tetanus 5. Ukur TTV R/ : mengetahui keadaan umum mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi

post operasi Klien post operasi ORIF di kaki kiri (operasi ke-1) Klien post operasi ORIF di jari telunjuk tangan kiri, Terdapat luka post op ORIF pada kaki kiri dan jari Operasi pertama tanggal 25 Februari 2011, Terdapat

perban -

hari ke-14 (operasi ke-2) hari ke-4 telunjuk tangan kiri luka post operasi dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op kaki kiri 5 mm Operasi kedua pada tanggal 11 maret 2011, luka

operasi di jari tangan kiri terdapat 2 jahitan bagian palang medial distal digiti 2 manus sinistra.

81

Luka post op di genue merembes pada perban Warna luka pada perban kuning kecoklatan Bau luka post op kaki kiri khas darah klien terpasang IVFD Nacl 0,9% + Fosmicin 2 gr TTV : TD : 120/80 mmHg N : 88 x/menit

klien 6. Kolaborasi laboratorium R/: mengawasi tanda-tanda infeksi (leukositosis) 7. Kolaborasi pemberian obat antibiotic R/: antibiotic spectrum luas dapat digunakan secara profilaksik, dapat ditujukan pada organisme khusus 8. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian diet TKTP R/: membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan member energi 9. Penkes tentang personal hygiene dan kebersihan lingkungan dalam pengawasan

drip, 20 tpm

- Sh : 36 C - RR : 20 x/menit
-

Hasil lab ( 10/03/11) Darah rutin :


-

Hb : 10,2 g/dl Ht : 32 %

- Leuko: 15.600 u/L - Trombo : 819.000 u/L - Eritrosit: 3,7 Jt/uL - MCV : 87 fl - MCH: 27 pg

82

- MCHC : 32 g/dl

R/ : membantu mengurangi resiko kontaminasi silang

Keterbatasan mobilisasi fisik b/d fraktur femur di tandai dengan Ds : luka post op pada kaki kiri, dan tangan kiri seperti biasa Klien mengatakan butuh bantuan untuk melakukan kegiatan tertentu, seperti berjalan, berpindah tempat, mandi, ganti pakaian Do : Klien terpasang IVFD NaCl 0,9% + Fosmicin drip, 20 tpm di tangan kiri Klien mengatakan kesemutan dan kebas pada tangan Klien mengatakan berjalan di bantu dengan tongkat kiri dan kaki kiri

Tujuan: Setelah dilakukan mobilitas tindakan dapat keperawatan selama 4x24 jam

1. imobilitas

Kaji derajat

R/: mengetahui kebutuhan klien 2. Instruksika n/ bantu pasien dalam rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit dan tidak sakit R/: meningkatkan aliran darah ke otak, tulang, meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak karena sendi, dan tidak mencegah reabsorpsi digunakan 3. ntu perawatan diri R/: meningkatkan kekuatan otot dan Lakukan/ba kontraktur/atrofi, kalsium

Klien mengatakan susah beraktivitas karena adanya diharapkan Klien mengatakan tidak leluasa melakukan kegiatan Kriteria Hasil: -

kembali optimal Rentang gerak sempurna kesemutan dan kebas dengan sampai

berkurang hilang dapat

melakukan sehari-hari tanpa

aktivitas dibantu

83

Kebutuhan klien di bantu keluarga dan perawat

sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam 4. roda, kruk, tongkat R/: mengurangi komplikasi dari tirah baring 5. secara periodic R/: 6. mengurangi komplikasi kulit karena penekanan Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet TKTP, vitamin dan mineral R/: membantu dalam mempercepat penyembuhan tulang Ubah posisi situasi, meningkatkan Berikan/ kesehatan diri secara langsung bantu dalam mobilisasi dengan kursi

seperti mandi, berganti baju, berjalan, berpindah tempat, dan toileting Cara berjalan : berjalan dengan tongkat ROM : aktif dan pasif Genggaman tangan/lepas : kuat pada tangan kanan, Postur : tegap dengan tongkat Terdapat deformitas pada kaki kiri Kaki kiri hanya dapat menekuk 75 Warna kulit sawo matang Pengisian kapiler : < 3 dtk Rentang gerak : terbatas karena adanya fraktur di Tremor kadang-kadang pada tangan kiri bila terlalu

lemah pada tangan kiri

kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri. lama dalam posisi telentang. Contohnya saat ganti balutan di tangan. Massa otot : baik Kekuatan otot / tonus otot:

84

5 5 5 5 5 5 5 5 4.

5 5 5 4 3 3 3 3 Tujuan: Setelah dilakukan tindakan dapat keperawatan selama 4x24 jam 1. Pertahanka

Resiko tinggi kontraktur b/d kehilangan integritas tulang dan imobilisasi Ds : Do : Klien post operasi ORIF hari ke-14 Klien post operasi ORIF di kaki kiri (operasi ke-1) Klien post operasi ORIF di jari telunjuk tangan kiri, hari ke-14 luka post operasi pada kaki kiri area post operasi Klien mengatakan kesemutan dan kebas pada tangan Klien mengatakan tidak leluasa melakukan kegiatan kiri dan kaki kiri seperti biasa

n posisi ekstremitas dengan tirah baring sesuai dengan indikasi, berikan sokongan sendi di atas dan di bawah sendi bila bergerak atau membalik. R/: meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi atau penyembuhan. 2. atau pasif. R/: mempertahankan Ajarkan dan bantu latihan rentang gerak aktif

Klien mengatakan susah beraktivitas karena adanya diharapkan

kontraktur

diminimalisasi. Mempertahankan Menunjukkan mekanika yang meningkatkan

Klien mengatakan bengkak pada lutut kaki kiri di Kriteria Hasil: stabilisasi dan posisi fraktur tubuh -

stabilitas pada sisi fraktur Menunjukkan kalus atau fraktur rentang penyatuan pembentukkan mulai dengan tepat. Menunjukkan

kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera. 3. Motivasi

85

(operasi ke-2) hari ke-4 Terdapat luka post op ORIF pada kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri Klien rutin menggerakkan jari dan melatih kaki yang Klien tampak meringis menahan sakit saat latihan rentang Nyeri tekan pada daerah luka post op (+) Cara berjalan : berjalan dengan tongkat ROM : aktif dan pasif Genggaman tangan/lepas : kuat pada tangan kanan, Postur : tegap dengan tongkat Terdapat deformitas pada kaki kiri Kaki kiri hanya dapat menekuk 75 Warna kulit sawo matang Pengisian kapiler : < 3 dtk Rentang gerak : terbatas karena adanya fraktur di fraktur gerak aktif dan pasif

gerak dalam batas maksimal (dapat menekukkan dan meluruskan kaki).

dan

awasi

dalam

rentang

gerak

aktif/pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit. R/ : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi dan mencegah kontraktur sendi. 4. roda, kruk, tongkat R/: mengurangi komplikasi dari tirah baring 5. sendi distal yang cedera. R/: meningkatkan sirkulasi dan darah menurunkan 6. pemgumpulan Motivasi klien secara rutin latihan jari atau Berikan/ bantu dalam mobilisasi dengan kursi

lemah pada tangan kiri

khususnya pada ekstremitas bawah. Kolaborasi

kaki kiri dan jari telunjuk tangan kiri.

86

Tremor kadang-kadang pada tangan kiri bila terlalu

dalam mengkaji ulang foto rontgen atau evaluasi. R/: memberikan bukti visual mualinya pembentukkan kalus, untuk dan proses menentukan kebutuhan

lama dalam posisi telentang. Contohnya saat ganti balutan di tangan. Massa otot : baik Kekuatan otot 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 3 3 3 3

penyembuhan tingkat

aktivitas

perubahan atau tambahan terapi.

4. Implementasi IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Nama klien : Tn. E Umur Tanggal dan Waktu 15-3-2011 09.00 No. Diagnosa 1,2 1. Mengukur tanda tanda vital dengan manset spigmomanometer di lengan kanan, thermometer di aksila sinistra dan mengukur denyut nadi pada arteri radialis dextra Hasil : TD : 120/80 mmHg : 48 tahun Implementasi dan Hasil Ruang No. RM : Lantai 5 bedah : 077728 Paraf

87

Nadi : 88 x/menit Suhu : 360C RR : 20 x/menit

09.30 2

2. Mengkaji kulit perhatikan, perubahan warna kulit kecoklatan, keluhan peningkatan nyeri/rasa terbakar, adanya edema, eritema, drainase dan bau drainase Hasil : Terdapat jaringan nekrosis pada area sekitar luka post op kaki kiri Klien mengatakan area sekitar luka post op kaki kiri terasa panas klien mengatakan nyeripada luka post op kaki kiri pada saat ditekan. Area sekitar genue bengkak dan sakit saat ditekan. Terdapat rembesan luka di lutut pada kasa perban, berwarna kuning kecoklatan dan

berbau khas darah 09.35 2 3. Melakukan perawatan luka dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Hasil : Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%

88

Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan

pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. 10.00 1 Kedalaman luka post op di kaki kiri 5 mm Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan

4. Mengkaji karakteristik nyeri meliputi intensitas, durasi, kualitas, factor pencetus, cara mengatasi nyeri, frekwensi Hasil : Klien mengatakan nyeri timbul saat latihan gerak dan malam hari saat udara dingin, dengan skala 7, nyeri terjadi selama 10 menit, nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki, nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. 10.30 2 Hasil : 10.35 1 Tidak ada tanda-tanda alergi obat 6. Meninggikan dan dukung ekstremitas yang mengalami fraktur Klien mengatakan segera minum ponstan untuk menghilangkan nyeri. Klien meringis menahan sakit saat latihan gerak Area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan.

5. Memberikan antibiotic fusmicin dalam cairan infuse NaCl 0,9% 20 tpm

89

Hasil : 10.40 1,4 Hasil : 12.00 2 Kaki klien di bebat pada area femur dengan perban elastic 8. Memberikan penkes personal hygiene dan kebersihan lingkungan, seperti jangan menyentuh area luka, menjaga area sekitar luka agar tetap bersih, menjaga kerapian tempat tidur Hasil: 12.00 2,3 Hasil: 12.10 3 Hasil : 13.00 1 - Pasien sudah meminum vitamin 11. Memberikan analgesic oral ponstan 1 tablet dan mengingatkan klien untuk meminum obat ini jika mengalami nyeri hebat Hasil : Klien diberikan diit TKTP Makan habis 1 porsi Klien mengerti dan mengatakan akan melakukan apa yang telah dianjurkan perawat 9. Memberikan klien diit siang Kaki kiri klien diganjal dengan 1 bantal 7. Menganjurkan tirah baring dan membebat area fraktur dengan perban elastic

10. Memberikan vitamin Neurobid

90

13.10

Obat oral ponstan sudah diminum oleh klien

12. Mengajarkan dan membantu klien dalam rentang gerak pasif dan aktif pada ektremitas yang sakit dan tidak sakit Hasil : 13.15 3 Klien tampak meringis saat latihan rentang gerak Klien hanya bisa menekuk lutut kaki kiri sampai 75 Klien dapat mengangkat kaki kiri tetapi tidak bisa menurunkan kembali dengan posisi Klien dilatih untuk menggerakkan memutar pergelangan kaki dan menggerakkan jari-

semula tanpa bantuan jari kaki 13. Mengkaji derajat imobilitas Hasil : - Klien mengatakan BAK di tempat tidur dengan menampung urin di urinal. - Klien mengatakan ingin duduk dan menggunakan tongkat tapi sulit dilakukan karena ada 13.30 3,4 luka di tangan kiri dan infus di tangan kiri. 14. Membantu mobilisasi dengan tongkat, dan Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga untuk tidak menapakkan kaki kiri selama 3 bulan Hasil : Klien dapat mendemonstrasikan cara berdiri dengan tongkat tanpa menapakkan kaki

91

kiri yang fraktur 13.40 1 Hasil : 16-3-2011 09.00 1,2 1. Hasil : -

Klien dibantu untuk duduk dengan kaki menjuntai ke lantai dan berdiri dengan tongkat Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan Klien terlihat sedikit tegang saat berlatih berdiri dengan tongkat

15. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri Klien dapat mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam yang sudah diajarkan. Klien mengatakan nyeri agak berkurang dan merasa sedikit lebih nyaman setelah

mempratikkan teknik relaksasi nafas dalam Mengukur tanda tanda vital dengan manset spigmomanometer di lengan kanan,

thermometer di aksila sinistra dan mengukur denyut nadi pada arteri radialis dextra TD : 120/80 mmHg

Nadi : 76 x/menit Suhu : 360C RR : 18 x/menit Mengevaluasi keluhan nyeri

09.10 1,2 2. Hasil :

92

Klien mengatakan kaki kirinya nyeri saat digerakkan dengan skala 6, nyeri terjadi

selama 10 menit, kemudian nyeri berkurang, nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki, nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. 09.30 2,3 3. Hasil : 09.45 3 4. Hasil : 10.00 2 5. Hasil : Drainase agak bau Klien mengatakan setiap malam menjelang pagi, luka terasa sering nyeri Klien mengatakan akan mandi tiap pagi dengan dibantu keluarga Mengkaji kulit, memperhatikan keluhan nyeri/rasa terbakar , edema, eritema dan klien dimandikan perawat di tempat tidur Klien mengatakan lebih segar setelah dimandikan Memberikan penkes tentang personal hygiene, Menganjurkan klien untuk mandi dan Klien mengatakan saat subuh kaki terasa sakit dan ngilu Klien meringis saat kakinya dimobilisasi Area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan. Memandikan klien

gosok gigi dengan dibantu oleh keluarga

drainase/bau tak enak

93

10.05 2 6.

Kaki klien pada area lutut agak bengkak Melakukan perawatan luka dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis

dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Hasil : Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9% Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan

pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. 10.30 2,3 7. Hasil : 10.35 2 Klien mengerti dan akan melaksanakan untuk makan makanan yang mengandung tinggi kalori tinggi protein seperti : susu, daging, sayur, buah Kedalaman luka post op di kaki kiri 5 mm Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan Memberikan penkes tentang gizi seimbang seperti makanan yang mengandung tinggi

kalori tinggi protein untuk mempercepat proses penyembuhan luka

94

8. Hasil : 10.40 3,4 9. Hasil : 11.10 3,4 10. Hasil : 12.00 2,3 11. Hasil: 12.05 2 12. Hasil : -

Memberikan antibiotic ciprofloxacin 100ml, 30 tpm Tidak ditemukan tanda-tanda alergi Membantu melatih rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit Klien dapat mengangkat sendiri kaki kirinya dengan hati-hati, tetapi agak kesulitan Kaki klien dapat ditekuk 75o Membantu mobilisasi dengan tongkat Klien latihan berjalan dan menumpukkan dengan kaki kanan Klien mengatakan ada cairan yang keluar dari luka setelah diistirahatkan sehabis Memberikan klien diit siang Klien makan makanan tinggi kalori tinggi protein Klien makan habis 1 porsi Memberikan vitamin Neurobid

ketika menurunkan kakinya karena terasa sangat nyeri, sehingga perlu dibantu

latihan berjalan

95

12.06

- Pasien sudah meminum vitamin 13. Hasil : Memberikan analgesic oral ponstan 1 tablet dan mengingatkan klien untuk meminum obat ini jika mengalami nyeri hebat

12.30

3,4 14.

Obat oral ponstan sudah diminum oleh klien Mengajarkan dan membantu klien dalam rentang gerak pasif dan aktif pada ektremitas

yang sakit dan tidak sakit Hasil : 12.40 3 15. Hasil : - Klien mengatakan BAK di tempat tidur dengan menampung urin di urinal. - Klien mengatakan ingin duduk dan menggunakan tongkat tapi sulit dilakukan karena ada 13.00 3 luka di tangan kiri dan infus di tangan kiri. Klien tampak meringis saat latihan rentang gerak Klien hanya bisa menekuk lutut kaki kiri sampai 75 Klien dapat mengangkat kaki kiri tetapi tidak bisa menurunkan kembali dengan posisi Klien dilatih untuk menggerakkan memutar pergelangan kaki dan menggerakkan jariMengkaji derajat imobilitas

semula tanpa bantuan jari kaki

96

16. Membantu mobilisasi dengan tongkat, ajarkan cara menggunakan tongkat Hasil : 13.30 1 Hasil : 17-3-2011 08.50 1,2,3 1. Hasil : -

Klien dibantu untuk duduk dengan kaki menjuntai ke lantai dan berdiri dengan tongkat Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan Klien terlihat sedikit tegang saat berlatih berdiri dengan tongkat

17. Mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi nyeri Klien dapat mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam yang sudah diajarkan. Klien mengatakan nyeri agak berkurang dan merasa sedikit lebih nyaman setelah

mempratikkan teknik relaksasi nafas dalam Mengukur tanda tanda vital dengan manset spigmomanometer di lengan kanan,

thermometer di aksila sinistra dan mengukur denyut nadi pada arteri radialis dextra TD : 120/80 mmHg

Nadi : 82 x/menit Suhu : 360C RR : 18 x/menit Mengambil sampel darah untuk mengevaluasi pemeriksaan nilai laboratorium

9.00 2 2.

97

Hasil : 09.05 2,3 3. Hasil: 09.10 1,2 4. Hasil : 09.20 2 5. Klien mengatakan intensitas nyeri 6 Klien mengatakan nyeri timbul setiap malam menjelang pagi Klien mengatakan lamanya nyeri 5 menit Klien mengatakan nyeri dirasakan pada kaki kiri Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat. Melakukan perawatan luka dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis Klien sudah mandi dibantu oleh istri Klien tampak segar Mengkaji nyeri, meliputi pencetus, kualitas nyeri, penyebaran nyeri, skala nyeri, durasi Klien diambil darah di vena antecubiti kanan Dilakukan pemeriksaan darah lengkap Hasil lab bisa diketahui sore ini Mengevaluasi perawatan diri

dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa lembab yang mengandung NaCl 0,9%

98

kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Hasil : 10.00 3 6. Hasil : 11.00 3,4 7. Hasil : 12.00 2,3 8. Hasil : Klien makan habis 1 porsi Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali Kaki berlatih menekuk lutut Memberikan klien diet TKTP (tinggi karbohidrat tinggi protein) secara mandiri secara berhati-hati Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 5 meter Membantu latihan gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9% Luka sepanjang 44 cm Sebagian luka (luka di lutut) masih belum kering (masih ada drainase) Luka yang ditutup perban hanya pada bagian lutut Luka yang sudah kering diolesi salep Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan Membantu mobilisasi dengan tongkat

99

12.10

2,3

9. Hasil :

Memberikan vitamin Neurobid

- Pasien sudah meminum vitamin 13.00 3 10. Hasil: Kesemutan sudah jarang terjadi Jari tangan kiri masih terasa kebas Capilary refill < 3 detik Mengobservasi sensibilitas, kapilary refill, menanyakan keluhan kesemutan dan kebas

18-3-2010 14.00 1,2,3 1. dextra Hasil : -

Mengukur tanda tanda vital dengan manset spigmomanometer di

lengan kanan, thermometer di aksila sinistra dan mengukur denyut nadi pada arteri radialis

TD

: 110/70 mmHg

Nadi : 74 x/menit Suhu : 360C RR : 18 x/menit

14.10

1,2

100

2. Hasil : 14.30 2 3. -

Mengkaji nyeri, meliputi pencetus, kualitas nyeri, penyebaran nyeri, skala nyeri, durasi Klien mengatakan intensitas nyeri 5 Klien mengatakan lamanya nyeri saat kaki digerakkan/ditekan 5 menit Klien mengatakan nyeri dirasakan pada kaki kiri Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat. Melakukan perawatan luka dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis

dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa lembab yang mengandung NaCl 0,9% kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Hasil : 15.30 3,4 4. Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9% Luka sepanjang 44 cm Sebagian luka (luka di lutut) masih belum kering (masih ada drainase) Luka yang ditutup perban hanya pada bagian lutut Luka yang sudah kering diolesi salep Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan Membantu latihan gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit

101

Hasil : 16.30 3,4 5. Hasil : 17.00 2,3 6. Hasil : 17.15 2,3 7. Hasil : 18.00 2 8. Hasil : 19.00 4 9. Hasil : Tidak ditemukan tanda-tanda alergi Mengevaluasi hasil foto rontgen Klien makan 1 porsi Klien makan sendiri di atas tempat tidur Memberikan antibiotic ciprofloxacin 100ml, 30 tpm Klien mandi dibantu oleh istri, berpakaian dibantu oleh istri Memberikan kien diet TKTP (tinggi karbohidrat tinggi protein) Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 10 meter Mengawasi perawatan diri (personal hygiene) Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali Kaki berlatih menekuk lutut Membantu mobilisasi dengan tongkat secara mandiri secara berhati-hati

102

10. Hasil : -

Sudah terdapat kalus pada fraktur Mengevaluasi hasil pemeriksaan laboratorium Hasil lab. Tgl 17-3-2011

Hemoglobin : 11 g/dL Hematokrit : 35 % Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : 4.0 jt/uL : 10900 /uL : 428000/uL : 88 fl : 27 pg : 31 g/dL

Dari hasil lab menunjukkan leukosit sudah berkurang dan mendekati nilai normal,

dibandingkan hasil pemeriksaan terakhir tanggal 10 maret 2011.

103

5. Evaluasi EVALUASI Nama klien Umur Tanggal 16-3-11 No. Diagnosa 1 S: : Tn. E : 48 tahun Evaluasi Klien mengatakan nyeri dengan skala nyeri 6 Ruang No. RM : lantai 5 bedah : 077728 Paraf

104

Klien mengatakan nyeri timbul saat latihan gerak dan malam hari saat udara dingin Klien mengatakan nyeri terjadi selama 10 menit Klien mengatakan nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. Klien mengatakan segera minum ponstan untuk menghilangkan nyeri. Klien meringis menahan sakit saat latihan gerak Area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan Kaki kiri klien diganjal dengan 1 bantal Klien dapat mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam yang sudah diajarkan. Klien mengatakan nyeri agak berkurang dan merasa sedikit lebih nyaman setelah Wajah klien tampak rileks TTV dalam batas normal : -

O:-

mempratikkan teknik relaksasi nafas dalam TD : 120/80 mmHg

Nadi : 88 x/menit Suhu : 360C RR : 20 x/menit

P : Intervensi dilanjutkan :
-

A : Masalah keperawatan nyeri belum teratasi ukur tanda-tanda vital per 8 jam

105

berikan analgesic ponstan 3x1 tab atau bila nyeri ajarkan teknik relaksasi napas dalam evaluasi keluhan nyeri

2 S:-

Klien mengatakan area sekitar luka post op kaki kiri terasa panas klien mengatakan nyeripada luka post op kaki kiri pada saat ditekan. Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan Klien mengerti dan mengatakan akan melakukan apa yang telah dianjurkan perawat Area sekitar genue bengkak dan sakit saat ditekan. Terdapat rembesan luka di lutut pada kasa perban, berwarna kuning kecoklatan dan Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9% Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan

O:-

Terdapat jaringan nekrosis pada area sekitar luka post op kaki kiri -

berbau khas darah

pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op di kaki kiri 5 mm Tidak ada tanda-tanda alergi obat

106

A : Masalah keperawatan infeksi belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan :


-

Ukur tanda-tanda vital per 8 jam Evaluasi keluhan nyeri Mandikan klien Kaji kulit, pertahatikan keluhan nyeri Lakukan perawatan luka dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis

dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. 3 S : - Klien mengatakan BAK di tempat tidur dengan menampung urin di urinal. Klien mengatakan ingin duduk dan menggunakan tongkat tapi sulit dilakukan karena ada luka di tangan kiri dan infus di tangan kiri. Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan Beri penkes tentang gizi seimbang Kolaborasi dalam pemberian antibiotic dan vitamin Beri klien diet siang

107

O : - Klien diberikan diit TKTP Makan habis 1 porsi Obat oral ponstan sudah diminum oleh klien Klien tampak meringis saat latihan rentang gerak Klien hanya bisa menekuk lutut kaki kiri sampai 75 Klien dapat mengangkat kaki kiri tetapi tidak bisa menurunkan kembali dengan posisi Klien dilatih untuk menggerakkan memutar pergelangan kaki dan menggerakkan jari-

semula tanpa bantuan jari kaki A : Masalah keperawatan keterbatasan mobilitas fisik belum teratasi P : Intervensi keperawatan dilanjutkan: 4 Beri penkes tentang personal hygiene Bantu melatih rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit Bantu mobilisasi dengan tongkat Kaji derajat imobilitas

S : - Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan O:Kaki kiri klien diganjal dengan 1 bantal Kaki klien di bebat pada area femur dengan perban elastic

108

Klien dapat mendemonstrasikan cara berdiri dengan tongkat tanpa menapakkan kaki Klien dibantu untuk duduk dengan kaki menjuntai ke lantai dan berdiri dengan tongkat Klien terlihat sedikit tegang saat berlatih berdiri dengan tongkat

kiri yang fraktur

A : Masalah keperawatan resiko tinggi kontraktur belum teratasi P : Lanjutkan intervensi keperawatan 17-3-11 1 S: -

Bantu melatih rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit Bantu mobilisasi dengan tongkat Klien mengatakan kaki kirinya nyeri saat digerakkan Klien mengatakan skala 6, Klien mengatakan nyeri terjadi selam 5 menit Klien mengatakan nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki, Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. Klien mengatakan saat subuh kaki terasa sakit dan ngilu Klien mengatakan nyeri agak berkurang dan merasa sedikit lebih nyaman setelah mempratikkan teknik relaksasi nafas dalam Klien meringis saat kakinya dimobilisasi Area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan Obat oral ponstan sudah diminum oleh klien

O: -

109

Klien dapat mempraktikkan teknik relaksasi nafas dalam yang sudah diajarkan

A : Masalah keperawatan nyeri belum teratasi P : lanjutkan intervensi keperawatan 2 S:Ukur tanda-tanda vital Kaji nyeri Klien mengatakan setiap malam menjelang pagi, luka terasa sering nyeri O:-

Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan Klien mengatakan lebih segar setelah dimandikan Kaki klien pada area lutut agak bengkak Luka klien dibersihkan dengan cairan dengan menggunakan set steril (kom kecil,

Drainase agak bau

pinset chirurgis dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian

110

bawah. Kedalaman luka post op di kaki kiri 5 mm Tidak ditemukan tanda-tanda alergi Klien dimandikan perawat di tempat tidur

A : Masalah keperawatan infeksi belum teratasi P : lanjutkan intervensi keperawatan 3 S : - Klien mengatakan BAK di tempat tidur dengan menampung urin di urinal. Klien mengatakan ingin duduk dan menggunakan tongkat tapi sulit dilakukan karena ada luka di tangan kiri dan infus di tangan kiri. Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan Makan habis 1 porsi Obat oral ponstan sudah diminum oleh klien Klien tampak meringis saat latihan rentang gerak O : - Klien diberikan diit TKTP Ukur tanda-tanda vital Ambil sampel darah untuk evaluasi pemeriksaan nilai laboratorium Lakukan perawatan luka Berikan diet TKTP

111

Klien hanya bisa menekuk lutut kaki kiri sampai 75 Klien dapat mengangkat kaki kiri tetapi tidak bisa menurunkan kembali dengan posisi Klien dilatih untuk menggerakkan memutar pergelangan kaki dan menggerakkan jari-

semula tanpa bantuan jari kaki A : Masalah keperawatan keterbatasan mobilitas fisik belum teratasi P : Intervensi keperawatan dilanjutkan: 4 Beri penkes tentang personal hygiene Bantu melatih rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit Bantu mobilisasi dengan tongkat Kaji derajat imobilitas

S : - Klien mengatakan agak terasa sakit tapi masih bisa ditahan O:Kaki kiri klien diganjal dengan 1 bantal Kaki klien di bebat pada area femur dengan perban elastic Klien dapat mendemonstrasikan cara berdiri dengan tongkat tanpa menapakkan kaki Klien dibantu untuk duduk dengan kaki menjuntai ke lantai dan berdiri dengan tongkat Klien terlihat sedikit tegang saat berlatih berdiri dengan tongkat

kiri yang fraktur

112

A : Masalah keperawatan resiko kontraktur belum teratasi P : Lanjutkan intervensi keperawatan 18-3-11 1 S: O:Bantu melatih rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas yang sakit Bantu mobilisasi dengan tongkat Klien mengatakan intensitas nyeri 5 Klien mengatakan nyeri timbul setiap malam menjelang pagi Klien mengatakan lamanya nyeri 5 menit Klien mengatakan nyeri dirasakan pada kaki kiri Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat. Klien tampak tenang, tetapi meringis saat menggerakkan kaki. Klien dapat mengontrol nyeri TTV dalam batas normal : -

TD

: 120/80 mmHg

Nadi : 82 x/menit Suhu : 360C RR : 18 x/menit

P : Intervensi dilanjutkan : Ukur tanda-tanda vital kaji nyeri setiap hari

A : Masalah keperawatan nyeri belum teratasi

113

evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium

S : - Klien mengatakan lebih merasa nyaman setelah lukanya dibersihkan O : - Klien diambil darah di vena antecubiti kanan -

Dilakukan pemeriksaan darah lengkap Hasil lab bisa diketahui sore ini Klien sudah mandi dibantu oleh istri Klien tampak segar Luka klien dibersihkan dengan cairan dengan menggunakan set steril (kom kecil,

pinset chirurgis dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester. Luka sepanjang 44 cm Sebagian luka (luka di lutut) masih belum kering (masih ada drainase) Luka yang ditutup perban hanya pada bagian lutut Luka yang sudah kering diolesi salep

A : Masalah keperawatan infeksi belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan :

114

Ukur tanda-tanda vital per 8 jam Lakukan perawatan luka 2x sehari, pagi dan sore hari Awasi perawatan diri Beri klien diet TKTP Berikan antibiotik

S : - Klien mengatakan akan lebih giat berlatih rentang gerak O: Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 5 meter Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali Kaki berlatih menekuk lutut Klien makan habis 1 porsi Pasien sudah meminum vitamin Kesemutan sudah jarang terjadi Jari tangan kiri masih terasa kebas Capilary refill < 3 detik secara mandiri secara berhati-hati

A : Masalah keperawatan keterbatasan mobilitas fisik belum teratasi P : Intervensi keperawatan dilanjutkan: Bantu latihan rentang gerak pasif/aktif

115

Anjurkan klien untuk berlatih mobilisasi mandiri bertahap Evaluasi perawatan diri Berikan klien diet TKTP 3 x sehari

S : - Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali secara mandiri secara berhati-hati O : - Kaki berlatih menekuk lutut A : Masalah keperawatan resiko kontraktur belum teratasi P: Lanjutkan intervensi keperawatan
-

Bantu latihan gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit 2 kali sehari Bantu mobilisasi dengan tongkat Klien mengatakan intensitas nyeri 5 Klien mengatakan lamanya nyeri saat kaki digerakkan/ditekan 5 menit Klien mengatakan nyeri dirasakan pada kaki kiri Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat. Klien dapat mengontrol nyeri TTV dalam batas normal : TD : 120/80 mmHg Nadi : 76 x/menit

19-3-11 1 S: -

O:-

Klien tampak tenang, tetapi meringis saat menggerakkan kaki.

116

Suhu : 360C RR : 18 x/menit

A : Masalah keperawatan nyeri teratasi P : Intervensi dilanjutkan : -

kaji nyeri setiap hari memberikan analgesic ponstan bila nyeri

S: -

Klien mengatakan area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan. Klien mengatakan kaki kirinya nyeri saat digerakkan dengan skala 6, nyeri terjadi selama 10 menit, kemudian nyeri berkurang, nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki, nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. Klien mengatakan saat subuh kaki terasa sakit dan ngilu Luka sepanjang 44 cm Sebagian luka (luka di lutut) masih belum kering (masih ada drainase) Luka yang ditutup perban hanya pada bagian lutut Luka yang sudah kering diolesi salep Hemoglobin : 11 g/dl

O : - Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%

Hasil pemeriksaan laboratorium (Tanggal 17-03-11)

117

Hematokrit : 35 % Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : 4.0 jt/uL : 10900 /uL : 428000/uL : 88 fl : 27 pg : 31 g/dL

Dari hasil lab menunjukkan leukosit sudah berkurang dan mendekati nilai normal, dibandingkan hasil pemeriksaan terakhir tanggal 10 maret 2011. A : Masalah keperawatan infeksi belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan :
-

Ukur tanda-tanda vital per 8 jam Lakukan perawatan luka 2 kali sehari pagi dan sore hari dengan menggunakan set steril (kom kecil, pinset chirurgis dan pinset anatomis, gunting), kassa steril, handskund steril dan bersih, bengkok, plester, pengalas, cairan NaCl 0,9%. Kontrak dengan pasien, pasang pengalas, luka dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9%, lalu luka dikompres dengan kassa yg dibasahi dengan Metronidazol kemudian ditutup dengan kassa kering dan diplester.

Evaluasi perawatan diri

118

Beri klien diet TKTP 3 kali sehari Berikan antibiotic ciprofloxacin 2 x 100 ml

S : - Klien mengatakan akan melatih terus rentang geraknya O : - Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali secara mandiri secara berhati-hati Kaki berlatih menekuk lutut Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 10 meter Klien mandi dibantu oleh istri, berpakaian dibantu oleh istri Klien makan 1 porsi Klien makan sendiri di atas tempat tidur

A : Masalah keperawatan keterbatasan mobilitas fisik belum teratasi P : Intervensi keperawatan dilanjutkan: 4 bantu latihan rentang gerak pasif/aktif Anjurkan klien untuk berlatih mobilisasi mandiri bertahap

S : - Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali secara mandiri secara berhati-hati O : - Kaki berlatih menekuk lutut

119

- Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 10 meter - Hasil foto rontgen : sudah terdapat kalus pada fraktur A : Masalah keperawatan resiko kontraktur belum teratasi P: Lanjutkan intervensi keperawatan Bantu latihan gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit Bantu mobilisasi dengan tongkat

120

BAB IV PEMBAHASAN Dalam BAB ini kami ingin membahas perbedaan antara asuhan keperawatan secara teoritis dengan asuhan keperawatan pada Tn.E dengan diagnose medis closed Fraktur Femur Distal sinistra, pembahasan ini mencakup : A. Pengkajian Dalam pengkajian ini penulis mengkaji berdasarkan landasan teoritis dengan diagnosa medis closed Fraktur Femur 1/3 Distal sinistra dan asuhan keperawatan yang sesuai dengan kasus rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis. Pada kasus ini fraktur pada klien Tn. E disebabkan oleh trauma langsung (kecelakaan motor). Pada asuhan keperawatan secara teori, didapatkan data: 1. keterbatasan fungsi pada bagian yang terkena 2. takikardia, dan pembengkakan jaringan 3. dan pemendekan, spasme otot 4. nyeri berat 5. Keamanan, ditemukan adanya laserasi Nyeri, Kenyamanan, ditemukan data Neurosensori, ditemukan gejala spasme Sirkulasi, ditemukan tanda hipertensi, Aktivitas / istirahat ditemukan

otot, kebas, dan kesemutan. Sedangkan pada tanda ditemukan adanya deformitas local

kulit, perubahan warna apada area luka fraktur dan pembengkakan local. Pada pengkajian laporan kasus, ditemukan data:
121

1. keluarga serta perawat untuk kegiatan tertentu


2.

Aktivitas

istirahat, didapatkan data klien tidak melakukan kegiatan seperti biasa dan butuh bantuan

Sirkulasi, terdapat

oedem pada bagian genue di kaki kiri. Tanda-tanda vital: TD 120/80 mmHg, Nadi 88x/menit, Suhu 36 3. menekuk 75 4. Nyeri / Neurosensori,

ditemukan data kesemutan pada kaki dan tangan kiri, deformitas (kaki kiri hanya dapat

Kenyamanan, ditemukan data nyeri tekan pada area post op ORIF kaki kiri. Kualitas nyeri tumpul, nyeri timbul pada saat latihan gerak aktif pasif dan malam hari pada saat udara dingin
5.

Keamanan,

ditemukan data tanda kemerahan di luka post op ORIF kaki kiri, laserasi : Terdapat luka post operasi pada kaki dengan jumlah 3 sayatan, dimana sayatan pertama jumlah jahitan 44 pada area femur sampai tibia, sayatan kedua jumlah jahitan 9 pada area genue bagian atas, sayatan ketiga jumlah jahitan 11 pada area genue bagian bawah. Kedalaman luka post op di kaki kiri 5 mm. Operasi kedua pada tanggal 11 maret 2011, luka operasi di jari tangan kiri terdapat 2 jahitan bagian palang medial distal digiti 2 manus sinistra. 6. Integritas ego,

ditemukan gejala pada klien terkadang memikirkan keadaannya yang lama tidak sembuhsembuh. Tanda : klien aktif dan mau berpartisipasi dalam proses pengobatan / perawatan 7. yaitu 8x/menit Eliminasi,

ditemukan gejala pola BAB dan BAK lancer. Tanda : bising usus aktif pada ke-4 kuadran

122

8. sekarang 68 Kg. Tinggi badan 165 cm, membrane mukosa lembab. 9. penampilan umum baik 10. didapatkan data tidak ada masalah pada system pernapasan. 11. didapatkan data tidak ada masalah pada seksualitas 12.

Makanan/ cairan,

didapatkan gejala makan biasa TKTP 3x/hari pada pagi, siang, sore. Tanda : berat badan

Higiene,

ditemukan gejala klien dalam memenuhi kebutuhan dibantu keluarga dan perawat. Tanda:

Pernapasan,

Seksualitas,

Interaksi

sosial,

didaptkan data klien sudah menikah selama 20 tahun, hidup dengan anak dan istri. Peran dalam keluarga sebagai kepala keluarga dan ayah. Tanda : bicara jelas, dapat dimengerti, pola bicara biasa / teratur.

Berdasarkan data di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengkajian yang ditemukan pada kasus memiliki kesamaan seperti apa yang terjadi di teori. Tetapi ada beberapa system pengkajian yang tidak terdapat di teori namun ditemukan pada kasus.

B. Diagnosa Keperawatan

Secara teoritis pada pasien dengan Fraktur Femur terdapat 8 diagnosa, yaitu: 1.
2.

Risiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema dan

cedera pada jaringan lunak, alat traksi, stress dan ansietas

123

3.

Risiko tinggi perhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan

penurunan/interupsi aliran darah/cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus 4. 5. 6. 7. 8. Risiko tinggi kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler, Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan darah, emboli lemak, perubahan membrane alveolar/kapiler nyeri/ketidaknyamanan cedera tusuk, fraktur terbuka, perubahan sirkulasi, imobilisasi fisik primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat, salah interpretasi informasi/tidak mengenal sumber informasi Sedangkan pada kasus kami menemukan diagnosa utama yaitu: 1.
2. 3.

Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d terputusnya continuitas jaringan infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur invasive IVFD Keterbatasan mobilisasi fisik b/d fraktur femur Risiko tinggi kontraktur b/d kehilangan integritas tulanng dan imobilisasi

4.

Berdasarkan data diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa diagnose keperawatan yang kami temukan pada kasus, terdapat juga pada diagnose keperawatan secara teori, tetapi tidak semua diagnose keperawatan secara teori kami angkat karena data yang ditemukan hanya mengarah kepada 4 diagnosa tersebut dan disesuaikan dengan kondisi klien serta karena tidak semua data-data yang ditemukan pada kasus dapat mendukung untuk ditegakkannya semua diagnose secara teori. Untuk diagnose keperawatan no 4 pada kasus tidak terdapat pada teori karena diagnose tersebut diambil berdasarkan data-data yang ditemukan pada kasus. C. Intervensi

124

Sebelum melaksanakan implementasi terlebih dahulu kami membuat perencanaan, tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah kilen. Dalam penyusunan perencanaan ini kami menyesuaikan dengan landasan teori yang kami temukan pada relefansi. 1. a. b. c. d. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema dan Kaji tanda-tanda vital klien Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena Hindari penggunaan bantal plastik/sprey di bawah ekstremitas dalam gips cedera pada jaringan lunak, alat traksi, stress dan ansietas R: mengetahui keadaan umum pasien R: menghilangkan nyei dan mencegah kesalahan posisi tulang yang cedera R: meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema dan menurunkan nyeri R: dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering e. Tinggikan penutup tempat tidur; pertahankan linen terbuka pada ibu jari kaki R: mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidaknyamanan karena tekanan selimut pda bagian yang sakit
f.

Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik

termasuk intensitas (skala 1-10). Perhatikan petunjuk nyeri non verbal (perubahan pada tanda-tanda vital dan emosi) R:
g.

mempengaruhi

pilihan/keefektifan

intervensi.

Tingkat

ansietas

dapat

mempengaruhi persepsi atau reaksi terhadap nyeri Selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa/tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif/buruk tidak hilang dengan analgesik R: dapat menandakan terjadinya komplikasi contohnya infeksi, iskemi jaringan, sindrom kompartemen h.
i.

Beri obat sebelum perawatan aktifitas Lakukan kompres dingin/es 24-48 jam pertama dan sesuai keperluan

R: meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi R: menurunkan edema/pembentukan hematoma, menurunkan sensasi nyeri
125

j.

Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik non narkotik: NSAID injeksi

(ketoralak) dan atau relaksan otot, contoh siklobenzaprin (flekseril), hidroksin (vistaril). Berikan narkotik sekitar pada jamnya selama 3-5 hari R: diberikan untuk menurunkan nyeri dan/atau spasme otot 2. a. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan Inspeksi kulit untuk adanya iritasi primer, kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan R: pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan dan abrasi b. c. d. Observasi luka untuk pembentukan bula Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan bicara Berikan obat sesuai indikasi R: tanda perkiraan infeksi gas gangren R: kekakuan otot, spasme otot rahang disfagia menunjukkan indikasi tetanus R: sesuai dengan program terapi antara lain dengan memberikan obat antibiotic IV dan tetanus toksoid e. 3. a. Berikan irigasi luka/tulang Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neuromuskuler, Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera R: debridemen local menurunkan mikroorganisme dan insiden infeksi iskemik nyeri/ketidaknyamanan R: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri tentang keterbatasan fisik yang memerlukan informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan b. Lakukan dan awasi rentang gerak pasif dan aktif R: Mempertahankan kekuatan otot yang sakit, memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera c. Bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda R: menurunkan komplikasi tirah baring dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ d. Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000-3000 ml/hari

126

R: mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi urinarius, pembentukan batu e. Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral R: pada cedera musculoskeletal nutrisi diperlukan untuk penyembuhan dapat berkurang dengan cepat sering mengakibatkan penurunan berat badan sebanyak 20-30 pon selama traksi tulang f. Konsul dengan ahli terapi fisik R: berguna dalam membuat aktifitas individu/program latihan Adapun untuk setiap diagnosa, intervensi yang kami susun sebagai berikut: 1. Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d terputusnya continuitas jaringan a. b. c. d. e. Pertahankan imobilisasi di bagian yang sakit dengan tirah baring dan bebat Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena Evaluasi keluhan nyeri Dorong menggunakan teknik relaksasi untuk mengatasi nyeri Berikan posisi yang nyaman, posisi semifowler R : menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang R : meningkatkan aliran balik vena, menurukan edema dan nyeri R : mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi R : membantu menurunkan tegangan dan mengurangi nyeri R : meningkatkan ekspansi dada maksimal, membuat memudah bernafas, yang meningkatkan kenyamanan. f. g. Berikan lingkungan yang tenang Kolaborasi pemberian analgetik R : memberi kenyamanan dan meningkatkan istirahat R : membantu menghilangkan nyeri
2. Infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur invasive IVFD

a.

Kaji kulit, perhatikan keluhan peningkatan nyeri/ rasa terbakar atau adanya

edema, eritema, drainase, bau tidak enak R : mengindikasikan timbulnya infeksi b. Berikan perawatan luka sesuai prosedur
127

R : mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi c. Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak R : tyanda perkiraan infeksi gas gangren d. Kaji tonus otot, reflex tendon dalam dan kemampuan berbicara R : kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfasia menunjukkan terjadinya tetanus e. f. g. Ukur TTV Kolaborasi pengawasan laboratorium Kolaborasi pemberian obat antibiotic R : mengetahui keadaan umum klien R : mengawasi tanda-tanda infeksi (leukositosis) R : antibiotic spectrum luas dapat digunakan secara profilaksik, dapat ditujukan pada organisme khusus h. i. Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian diet TKTP Penkes tentang personal hygiene dan kebersihan lingkungan R : membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan member energi R : membantu mengurangi resiko kontaminasi silang
3. Keterbatasan mobilisasi fisik b/d fraktur femur

a. b.

Kaji derajat imobilitas Instruksikan/ bantu pasien dalam rentang gerak pasif dan aktif pada ekstremitas

R : mengetahui kebutuhan klien yang sakit dan tidak sakit R : meningkatkan aliran darah ke otak, tulang, meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi, dan reabsorpsi kalsium karena tidak digunakan c. Bantu/ dorong perawatan diri R : meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan control pasien dalam situasi, meningkatkan kesehatan diri secara langsung d. Berikan/ bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat R : mengurangi komplikasi dari tirah baring
128

e. f.

Ubah posisi secara periodic Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet tktp, vitamin dan mineral

R : mengurangi komplikasi kulit karena penekanan R : membantu mempercepat penyembuhan tulang 4. Risiko tinggi terhadap kontraktur b/d kehilangan integritas tulang dan imobilisasi a. sendi di atas dan di bawah sendi bila bergerak atau membalik. R/: meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi atau penyembuhan. b. dan bantu latihan rentang gerak aktif atau pasif. R/: mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang cedera. c. sakit. R/ : meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi dan mencegah kontraktur sendi. d. bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat R/: mengurangi komplikasi dari tirah baring e. klien secara rutin latihan jari atau sendi distal yang cedera. R/: meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pemgumpulan darah ekstremitas bawah. f. dalam mengkaji ulang foto rontgen atau evaluasi. R/: memberikan bukti visual mualinya pembentukkan kalus, proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan atau tambahan terapi. Kolaborasi khususnya pada Motivasi Berikan/ Motivasi dan awasi dalam rentang gerak aktif/pasif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak Ajarkan Pertahanka n posisi ekstremitas dengan tirah baring sesuai dengan indikasi, berikan sokongan

129

Berdasarkan data diatas didapatkan bahwa tidak semua rencana keperawatan secara teori dimasukkan pada rencana keperawatan pada kasus karena banyak yang sudah dilakukan tindakan modifikasi oleh perawat dan mahasiswa di ruang perawatan lantai V bedah. h. Implementasi Implementasi yang kami lakukan sesuai dengan perencanaan yang kami susun dan disertai dengan kemampuan klien. Secara garis besar semua tindakan yang telah kami rencanakan dapat kami implementasikan, walaupun belum maksimal, yang disebabkan oleh keterbatasan waktu dan pengalaman kami yang kurang. i. Evaluasi Secara teoritis evaluasi keperawatan tidak di buat berdasarkan SOAP sedangkan pada laporan kasus, evaluasi keperawatan dibuat berdasarkan SOAP (Subjektif, Objektif, Analisa, Planning) dan mengacu pada criteria hasil yang terdapat dalam perencanaan keperawatan pada setiap diagnosa Dx 1 S: Klien mengatakan intensitas nyeri 5 - Klien mengatakan lamanya nyeri saat kaki digerakkan/ditekan 5 menit - Klien mengatakan nyeri dirasakan pada kaki kiri - Klien mengatakan nyeri seperti ditimpa beban berat. O:Klien tampak tenang, tetapi meringis saat menggerakkan kaki. - Klien dapat mengontrol nyeri - TTV dalam batas normal : TD : 120/80 mmHg - Nadi : 76 x/menit
- Suhu : 360C

- RR A : Masalah keperawatan teratasi P : Intervensi dilanjutkan : - kaji nyeri setiap hari - memberikan analgesic ponstan

: 18 x/menit

130

Dx 2 S: Klien mengatakan area sekitar luka di daerah lutut terasa sakit bila ditekan. - Klien mengatakan kaki kirinya nyeri saat digerakkan dengan skala 6, nyeri terjadi selama 10 menit, kemudian nyeri berkurang, nyeri terasa di kaki kiri dari paha sampai telapak kaki, nyeri seperti ditimpa beban berat / nyeri tumpul. - Klien mengatakan saat subuh kaki terasa sakit dan ngilu O : - Luka klien dibersihkan dengan cairan NaCl 0,9% - Luka sepanjang 44 cm - Sebagian luka (luka di lutut) masih belum kering (masih ada drainase) - Luka yang ditutup perban hanya pada bagian lutut - Luka yang sudah kering diolesi salep - Hasil pemeriksaan laboratorium (Tanggal 17-03-11) Hemoglobin : 11 g/dl Hematokrit : 35 % Eritrosit Leukosit Trombosit MCV MCH MCHC : 4.0 jt/uL : 10900 /uL : 428000/uL : 88 fl : 27 pg : 31 g/dL

Dari hasil lab menunjukkan leukosit sudah berkurang dan mendekati nilai normal, dibandingkan hasil pemeriksaan terakhir tanggal 10 maret 2011. A : Masalah keperawatan belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan : Ukur tanda-tanda vital Lakukan perawatan luka Awasi perawatan diri Beri klien diet TKTP Berikan antibiotik

Dx 3
131

S : - Klien mengatakan akan melatih terus rentang geraknya O : - Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali secara mandiri secara berhati-hati - Kaki berlatih menekuk lutut - Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 10 meter - Klien mandi dibantu oleh istri, berpakaian dibantu oleh istri - Klien makan 1 porsi - Klien makan sendiri di atas tempat tidur A : Masalah belum teratasi P : Intervensi keperawatan dilanjutkan: - bantu latihan rentang gerak pasif/aktif - Anjurkan klien untuk berlatih mobilisasi mandiri bertahap Dx 4 S : - Klien dapat mengangkat kakinya secara mandiri dan dapat menurunkannya kembali secara mandiri secara berhati-hati O : - Kaki berlatih menekuk lutut - Klien berlatih berjalan menggunakan tongkat sejauh 10 meter - Hasil foto rontgen : sudah terdapat kalus pada fraktur A : Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi keperawatan - Bantu latihan gerak aktif dan pasif pada ekstremitas yang sakit - Bantu mobilisasi dengan tongkat

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

132

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan fraktur femur merupakan rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang dapat disebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, kondisi-kondisi tertentu seperti degenerasi tulang / osteoporosis. Kegiatan yang kami lakukan di ruang perawatan bedah lantai V, antara lain meliputi: 1.Pengkajian pada klien dengan pemeriksaan fisik serta data penunjang medis.
2.

Menentukan diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah klien. Adapun Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d terputusnya continuitas jaringan Infeksi b/d masuknya mikroorganisme asing dan prosedur invasive Keterbatasan mobilitas fisik b/d fraktur femur Risiko tinggi kontraktur b/d kehilangan integritas tulang dan imobilisasi Mampu menyusun rencana keperawatan dengan melibatkan klien dan keluarga

diagnose keperawatan yang kami ambil, yaitu:


a.

b. c. d.
3.

4.Mampu mengemplementasikan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
5.

Mampu mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah kami laksanakan.

B. Saran

1. Bagi Institusi Pendidikan (UPN VETERAN JAKARTA) Diharapkan lebih aktif dan berperan di dalam bimbingan praktik profesi keperawatan mata ajar keperawatan medikal bedah kepada Mahasiswa sehingga ilmu yang dipelajari di kampus dapat diterapkan dan dibandingkan dengan praktik di lapangan. 2. Bagi Rumah sakit khususnya Ruang Bedah Lantai V Kepada para perawat diharapkan lebih kompak dan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien pre dan pasca operasi sehingga klien dapat mempercepat proses pemulihan klien. 3. Bagi teman-teman sejawat (Mahasiswa/i Keperawatan)

133

Diharapkan makalah yang kami susun ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca dan dapat dijadikan pedoman di dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya pada klien dengan fraktur femur.

DAFTAR PUSTAKA
134

Doenges,Marylinn.2000.Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian keperawatan perawatan pasien.Jakarta:EGC. Ethel,Sloane.2003.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta:EGC. Arief Mansjoer,dkk.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3 Jilid 2.Jakarta:Media Esculapius. Fakulta Kedokteran Indonesia. Rasjad,Chairuddin.2008.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.Jakarta: Yarsif Waatampone Reksoprodjo,Soelarto.1995. Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Smeltzer,Suzanne C.2001.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta : EGC Sylvia,A.1995.Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta: EGC. .

135