Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul HUKUM KENEGARAAN POSITIF .

Makalah ini berisikan tentang Hukum yang berlaku pada suatu negara pada masa tertentu yakni mempelajari Hukum Kenegaraan Positif di suatu negara secara garis besar.

Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Hukum positif secara umum. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Bandung 8 November 2012

Latar Belakang Pada saat ajaran atau paham kedaulatan negara (staatssouvereiniteit) muncul di awal abad 16, maka pertumbuhan dan perkembangan ilmu negara memasuki babak selanjutnya, yaitu Masa Hukum Kenegaraan Positif. Dari paham kedaulatan negara itu, timbul sataatsrechtsdogmatiek atau disebut wetenschap van het positief staatsrecht yaitu ilmu pengetahuan mengenai hukum kenegaraan positif. Hal ini merupakan pengaruh dari aliran Legisme, yang dasar ajarannya berdasarkan pada: 1. Bahwa Peraturan Perundangan-undangan menjadi hukum sebab merupakan hasil pekerjaan badan pembentuk undang-undang atau badan legislatif yang

mempergunakan rasionya; 2. Bahwa hukum kebiasaan tidak dapat diterima sebagai hukum yang sungguh-sungguh karena tidak sesuai dengan sifat hukum alam yang berlaku dimana-mana dan tidak berubah, sedangkan hukum kebiasaan itu sifatnya berbeda-beda bergantung kepada tempat dan waktu. Kemudian melalui ajaran pembagian kekuasaan Montesquieu (1688-1755) yang pada dasarnya, bahwa suatu kaidah baru merupakan kaidah hukum bilamana kaidah tersebut dibuat dan ditentukan oleh badan kenegaraan yang diserahi tugas dan kekuasaan legislatif. Dalam ajaran kedaulatan negara itu, kekuasaan tertinggi terletak pada negara, dan kemauan serta kehendak negara itu terwujud dalam hukum yang berbentuk undang-undang karena itu di luar undang-undang tidak ada hukum. Hal ini menimbulkan aliran Deutsche Publisizten Schule, yaitu suatu mazhab di negara Jerman yang menjadikan hukum publik sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Aliran ini mengalami fase pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut, termasuk di dalamnya ilmu kenegaraan dan ilmu negara. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, terdapat beberapa paham yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya karena merupakan suatu kelanjutan. Pertumbuhan dan penggolongan paham-paham tersebut dapat dirumuskan dalam beberapa fase sebagai berikut: I. Fase Pertama

Ini merupakan paham pertama dari perkembangan positivisme yang dipelopori oleh Von Gerber dan Paul Laband. Aliran ini timbul sebagai reaksi, baik terhadap hukum Romawi maupun hukum Alam.

A. Reaksi terhadap hukum Romawi Hukum Romawi bertahan berkembang selama 10 abad. Mulanya hukum primitif agraris. Kemudian dimulai dari kodifikasi Undang-undang 12 mejadan ditutup dengan kodifikasi Kaisar Justianus atau Corpus Luris Cicilis. Melalui resepsi (penerimaan hukum sebagai anasir dalam hukum asli) hukum Romawi masuk ke Eropa Barat (khususnya Belanda). Selanjutnya masuk ke Indonesia. B. Reaksi terhadap hukum Alam Hukum alam membedakan antara kodrat manusia dan kodrat benda. Keduanya memakai metode penyelidikan deduktif. Kemudian timbul reaksi yang menimbulkan positivisme. positivisme berasal dari bahasa latin positif yang maksudnya sama dengan relatif. Pertalian antara (relatif) dengan positinisme, terletak pada anggapan positivisme sendiri ialah sifat hukum positif itu relatif, disebabkan tidak terdapat hukum yang bersifat abadi dan langgeng seperti hukum alam. Hal tersebut disebabkan karena berlainan : 1. Waktu, baik yang telah lampau, sekarang, dan yang akan datang; 2. Tempat dan keadaan 3. Bangsa yang satu dengan bangsa yang lainnya. Jadi, hukum yang satu berbeda dengan hukum yang lain. Terdapat dalil Das recht wird nich gemacht, aber es ist und wird mit dfen volke yang berarti hukum itu tidak dibuat, melainkan ada dan menjadi bersama-sama dengan rakyat. Dengan demikian terbuktilah, bahwa tidak ada hukum yang berlaku abadi dan langgeng, melainkan yang ada hanyalah hukum yang bersifat relatif.

II.

Fase kedua : Bluntschi dan Georg Jellinek Paham kedua dari perkembangan positivisme diwakili oleh Bluntschi dan Georg

Jellinek Ketika Bluntschi, seorang mahaguru dalam mata kuliah ilmu negara di Universitas Heidelberg di Negara Jerman mengundurkan diri, selama 5 tahun dicari

penggantinya.Akhirnya pilihan jatuh pada muridnya, yaitu Georg Jellinek yang mendapatkan menjadi mahaguru ordonaris dalam mata kuliah ilmu negara Bukunya yang sangat termasyur berjudul Allgemeine Staatslehre. Buku tersebut pada dasarnya memuat pengertian dan sendi-sendi pokok mengenai negara serta hukum tata negara, dan bersifat logis-sistematik. Ia digelari Bapak Ilmu Negara. Disebut Bapak sebab memandang ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan kenegaraan tidak secara

insidental, melainkan secara kesuluruhan. Ia berhasil meletakkan seluruh lapangan penyelidikannya dalam suatu sistematik yaitu satu kesatuan. Masing-masing bagian tidak simpang siur melainkan ada hubungannya satu sama lainnya. Di dalamnya tidak ada pertentangan, dan dicakup dalam suatu rangka. Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Negara Dengan Beberapa Perkembangannya Di lapangan ilmu negara, karena ia telah berusaha dan berhasil melihat secara keseluruhan lapangan ilmu negara, dari overzicht memberikan inzicht. Atas dasar hal itu, maka buku itu dianggap dan merupakan suatu legger, yaitu suatu penutup bagi masa yang telah lampau dan merupakan dasar serta pembuka bagi masa yang akan datang dalam penyelidikan tehadap ilmu negara. Lawan-lawannya dalam teori ilmu negara haruslah terlebih dahulu mempelajari buku tersebut sebelum dapat menguraikan teori-teori barunya. Di dalam penyelidikannya itu Georg Jellinek mempergunakan metode sistematik atau metode van systematic, yaitu suatu penyelidikan yang berlangsung dari atas ke bawah, dengan cara mengumpulkan dan menghimpun bahan-bahan yang telah ada sejak kebudayaan Yunani Purba, Romawi, abad menengah dan zaman modern. Di samping itu ajaran gurunya tadi dikhususkan dalam teorinya yang terkenal Zweiseiten theorie. Zweiseiten theorie, yaitu suatu teori yang mengandung negara dari 2 segi adalah : 1. Segi sosiologis, yaitu suatu pandangan yang membicarakan negara sebagai gejala peristiwa sosial atau soziales Faktum 2. Segi yuridis, yaitu suatu pendangan yang membicarakan negara sebagai bangunanbangunan hukum atau rechsliche Institution Selanjutnya oleh Georg Jellinek, Staatswissenschaft dalam arti luas itu dilihat dari aspek negara an-sich yang mengakibatkan adanya Staatswissenschaft dalam arti sempit. Dan dari aspek yuridisnya an-sich mengakibatkan adanya Rechtwissenschaft. Kemudian

Staatswissenschaft dalam arti sempit itu terbagi atas 3 macam, yaitu : 1. Beschreibende Staatswisenschaft atau Staatenkunde, yaitu ilmu pengetahuan tentang pelukisan-pelukisan negara berdasarkan bahan-bahan yang telah ada. 2. Theoristiche Staatswissenschaft atau Staatslehre, yaitu ilmu pengetahuan yang merupakan perumusan dan konkretisasi ide-ide yang abstrak mengenai negara yang bersifat umum. 3. Angewandte Staatswissenschaft atau Kunstlehre, yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat praktis dan tidak merupakan ilmu negara pengetahuan yang berdiri sendiri.

Kemudian Theoritische Staatswissenschaft dapat dibagi menjadi 2 bagian ialah : 1. Allgemeine Staatslehre, yaitu yang mengenai negara secara keseluruhan atau ganzheit yaitu terlihat dari luar yang merupakan hasil perbandingan di antara negara-negara. 2. Besondere Staatslehre, yaitu mengenai negara sebagai species Pada Allgemeine Staatslehre, masing-masing Allgemeine Soziale Staatslehre, yaitu negara dilihat dari sosiologis yang merupakan gejala peristiwa sosial maupun Soziale Faktum. Dalam hal ini terdapat beberapa problematik sebagai berikut : nama negara, sifat hakikat negara, tujuan negara dll Allegemeine Staatsrechstlehre, yaitu negara dilihat dari sudut yang merupakan bangunan-bangunan atau lembaga-lembaga negara ataupun Rechtsliche Institution. Dalam hal ini pun terdapat beberapa problematik sebagai berikut : perbedaan antara hukum publik dengan hukum perdata Pada Besondere Staatslehre, masing-masing Individuelle Staatslehre, yaitu negara dilihat secara sosiologis yang merupakan gejala peristiwa sosial ataupun Soziale negara selaku individu Spezielle Staatslehre, yaitu negara dilihat secara yuridis yang merupakan bangunanbangunan atau lembaga-lembaga hukum ataupun Rechsliche Institution. Negara sebagai objek penyelidikan dilihat dari dalam, yaitu dalam struktur, organisasi, dan ordeningnya, terhadap lembaga-lembaga negara seperti : kepala negara, kabinet, DPR Berhubung dengan hal tersebut di atas, maka letak ilmu negara sebagai Theoritische Staatswissenschaft atau Staatslehre itu merupakan salah satu bagian dari Staaatswissenschaft dalam arti kata sempit. Faktum. Dalam hal ini mengenai suatu negara,

III.

Fase Ketiga: Hans Kelsen

Hans Kelsen murid Georg Jellinek. Ia menyatakan bahwa, buku Georg Jellinek Allgemeine Staatslehre merupakan suatu legger bagi seluruh pengetahuan kenegaraan. Hans kelsen hanyalah secara konsekuen melanjutkan paham dari sudut yuridisnya saja, yaitu selaku rechtsliche Institution-nya. Hans Kelsen menyebutkan bahwa hukum itu

merupakan kumpulan kaidah-kaidah (normen) yang bersifat memaksa. Lewat ajaran reine Rechtslehre atau ajaran hukum yang murni, hukum itu harus dibersihkan dari faktor-faktor non yuridis, terutama faktor sosiologis dan etis. Berdasarkan pandangan yang demikian atas sifat hakikat negara itu terjadilah apa yang disebut Der Staat ist Zurrechtnungpunkt atau negara itu merupakan titik pertanggungjawaban terhadap undang-undang atau tata hukum. jadi negara adalah badan yang memberikan sanksi dan yang bertanggung jawab. Hans Kelsen menganggap, bahwa negara itu merupakan kesatuan tata hukum atau normordening (behorenordening), yaitu tata yang memberi pedoman terhadap tingkah laku manusia apa yang seharusnya dijalankan dan tidak dijalankan. Dengan demikian negara itu identik dengan hukum: Staatslehre sama dengan Rechtslehre. Maka objek dari Staatsleer sama dengan objek dari rechtsleer, yaitu hukum sebagai norma (kaidah).

Contoh Masa Hukum Kenegaraan Positif adalah Hukum Positif di Indonesia. Salah satu negara yang menganut sistem hukum positif adalah Indonesia.Hukum yang berlaku di Indonesia hampir pasti tidak ada yang menyamai secara keseluruhan, karena Indonesia memiliki sistem hukum yang hanya bisa diterapkan di Indonesia itu sendiri.Sumber hukum formal pada umumnya dibedakan menjadi lima, yaitu: Undang-undang, Kebiasaan dan Adat, Traktat, Yurisprudensi, dan Doktrin Hukum Positif di Indonesia terdiri atas hukum tertulis dan hukum tidak tertulis.Hukum tertulis adalah Undang-undang dan peraturan-peraturan yang tertulis dan diterapkan.Hukum tertulis ini menjadi pola dalam melaksanakan sistem hukum di Indonesia. Sumber hukum tertulis dasar di Indonesia adalah Pancasila sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat, karena merupakan dasar fundamental bagi bangsa Indonesia, dalam Undang-undang No 10 Tahun 2004 ditentukan urutan-urutan sumber hukum tertulis di Indonesia,yaitu: 1. Undang-Undang Dasar 1945 2. Undang-Undang yang dibuat DPR bersama Presiden 3. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 4. Peraturan Pemerintah 5. Keputusan Presiden 6. Peraturan Daerah

Selain itu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah contoh lain hukum tertulis yang berlaku di Indonesia. Hukum lain yang menjadi bagian dari hukum positif di Indonesia adalah hukum tidak tertulis. Hukum tidak tertulis merupakan hukum kebiasaan atau hukum adat yang sudah berlaku turun temurun.Hukum ini tidak pernah tertulis dan diarsipkan sebagaimana hukum tertulis dibuat, namun berlaku dan menjadi paten di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia.Contoh hukum tidak tertulis yang berlaku di Indonesia adalah hukum adat sasi di Maluku Tenggara.Hukum adat ini melarang warganya untuk mengambil sumber daya alam di suatu kawasan dalam jangka waktu tertentu, biasanya enam bulan sampai satu tahun, dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan dan menjamin hasil lebih berkualitas dan berlipat di masa depan.bagi para pelanggarnya akan dikenakan sanksi adat berupa pemberian lela (miniatur meriam berwarna emas) dan mas adat (berbentuk gelang dari emas).Satu lela bisa berharga sepuluh juta rupiah.Sedangkan, satu mas adat bisa berharga lima raatus ribu rupah.Jumlah lela dan mas adat yang diberikan tergantung keputusan tetua adatnya.

Kesimpulan Dengan timbulnya ajaran atau paham kedaulatan negara, maka perkembangan memasuki babak kelima, di mana dari paham kedaulatan negara itu kemudian timbul adanya ilmu pengetahuan mengenai hukum kenegaraan positif. Hal ini di antaranya dipengaruhi aliran Legisme yang pada masa pikiran rasionalistik banyak pengikutnya disebabkan dasar ajarannya sesuai dengan dan dapat diterima rasio waktu itu, yaitu: 1. Bahwa peraturan perundang-undangan menjadi hukum sebab merupakan hasil pekerjaan badan pembentuk Undang-undang atau badan legislatif yang

mempergunakan rasionya 2. Bahwa hukum kebiasaan tidak dapat diterima sebagai hukum yang sungguh-sungguh karena tidak sesuai dengan sifat hukum alam yang berlaku di mana-mana dan tidak berubah, sedangkan hukum kebiasaan itu sifatnya berbeda-beda bergantung kepada tempat dan waktu

Anggapan di atas sesuai dengan ajaran-ajaran perjanjian masyarakat (social contract) dari Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), dan Jean Jacques Rousseau (1712-1778). Pada pokoknya ajaran itu mendasarkan pahamnya berlandaskan hukum alam yang bersifat rasionalistis individualistis dan logis, yang pada masa sebelumnya telah dirintis oleh Hugo de Groot atau Grotius yang mengubah

landasan hukum alam berasal dari agama ke rasio. Kemudian lewat trias politica Charles Secondat baron de Labrede et de Montesquieu (1688-1755) yang pada dasarnya bahwa suatu kaidah baru merupakan kaidah hukum bilamana kaidah tersebut dibuat dan ditentukan oleh badan kenegaraan yang diserahi tugas dan kekuasaan legislatif.

Masa hukum kenegaraan positif terdiri dari tiga fase yaitu : 1. Fase pertama yang bereaksi terhadap hukum Romawi dan hukum alam dipelopori oleh K.F. von Gerber dan Paul Laband, 2. Fase kedua dipelopori oleh Bluntschli dan George Jellinek yang keduanya merupakan mahaguru mata kuliah ilmu negara pada universitas Heidelberg Jerman, kemudian 3. Fase ketiga yang diwakili oleh Hans Kelsen selaku pemimpin mazhab atau aliran hukum Wina yang merupakan kelanjutan dari mazhab Malburg yang dipimpin Cohen. Mmazhab Malburg sendiri merupakan pecahan dan kelanjutan dari NeoKantiaanserichting atau aliran Neo Kantsian, yang merupakan pembaharuan dari ajaran Immanuel Kant, yang pada pokoknya membedakan tajam sekali antara Welt das Sein dengan Welt das Solens.

Daftar Pustaka
Basah, Sjachran. 1997. Ilmu Negara (Pengantar, Metode, dan Perkembangan). Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Makalah Imu Negara

Hukum Kenegaraan Positif


Dosen: Dr. Agus Kusnadi, SH., MH. Dan Sherly Disusun oleh: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Franklin Michael Hutasoit Yohannes Teddy Rayan Reynaldi Yulius R Simanullang Awari Hulio Mahadika Satrio Agung Harish Pandu Arga M Kelas D

Universitas Padjadjaran