Anda di halaman 1dari 30

Makalah Kimia Analitik II

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Reduksioksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke reduktor. Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron atau reaksi terjadinya kenaikan bilangan oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi penerimaan elektron dan pelepasan elektron atau reaksi penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi redoks secara umum dapat dituliskan sebagai berikut : Ared + Boks Aoks + Bred Jika suatu logam dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung ion logam lain, ada kemungkinan terjadi reaksi redoks, misalnya: Ni(s) + Cu2+(l) Ni2+ + Cu(s) Hubungan reaksi redoks dan perubahan energi adalah sebagai berikut:

Reaksi redoks melibatkan perpindahan elektron Arus listrik adalah perpindahan elektron Reaksi redoks dapat menghasilkan arus listrik, contoh: sel galvani Arus listrik dapat menghasilkan reaksi redoks, contoh sel elektrolisis. Sel galvani dan sel elektrolisis adalah sel elektrokimia. Persamaan elektrokimia yang berguna dalam perhitungan potensial sel

adalah persamaan Nernst. Reaksi redoks dapat digunakan dalam analisis volumetri bila memenuhi syarat. Titrasi redoks adalah titrasi suatu larutan standar oksidator dengan suatu reduktor atau sebaliknya, dasarnya adalah reaksi oksidasireduksi antara analit dengan titran. Beberapa contoh titrasi redoks antara lain yaitu permanganimetri,

iodo/iodimetri dan dikromatometri yang akan dibahas dalam makalah ini.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 1

Makalah Kimia Analitik II

1.2

Tujuan Penulisan makalah ini dilakukan untuk memenuhi tugas yang diberikan

oleh bapak Rusvirman Muchtar, Drs.,Msc. dari mata kuliah Kimia Analitik II dan agar mahasiswa dapat lebih memahami konsep dari titrasi redoks, serta mahasiswa dapat memahami aplikasi titrasi redoks dalam kehidupan sehari hari. 1.3 Rumusan Masalah Penghantar redoks Titrasi Redoks Beberapa contoh titrasi redoks permanganimetri, iodo/iodimeti dan dikromatometri Aplikasi titrasi redoks dalam sehari hari.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 2

Makalah Kimia Analitik II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Penghantar Redoks Redoks (singkatan dari reaksi reduksi/oksidasi) adalah istilah yang

menjelaskan berubahnya bilangan oksidasi (keadaan oksidasi) atom atom dalam sebuah reaksi kimia. Hal ini dapat berupa proses redoks yang sederhan seperti oksidasikarbon yang menghasilkan karbondioksida, atau reduksi karbon oleh hydrogen menghasilakn metana (CH4). Istilah redoks berasal dari dua konsep, yaitu reduksi dan oksidasi. Ia dapat dijelaskan dengan mudah sebagai berikut :
1.

Oksidasi menjelaskan ; a. pelepasan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion

b. reaksi pengikatan oksigen dan c.


2.

reaksi yang mengalami kenaikan bilangan biloks

Reduksi menjelaskan ; a. penambahan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion

b. reaksi pelepasan oksigen dan c. reaksi yang mengalami penurunan bilangan biloks. Pada reaksi Redoks terjadi transfer elektron dari fase satu ke yang lain dan elektron tersebut tidak hilang maupun diciptakan selama proses redoks. Oksidasi dan reduksi selalu terjadi bersama tidak ada suatu zat yang teroksidasi tanpa adanya zat lain yang mengalami reduksi. Zat yang menyebabkan zat lain mengalami oksidasi disebut oksidator, dan zat yang menyebabkan zat lain mengalami reduksi disebut reduktor. Oksidator akan mengalami reaksi reduksi sedangkan reduktor mengalami oksidasi. Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan di atas tidaklah persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 3

Makalah Kimia Analitik II

perubahan bilangan oksidasi karena transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih baik didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan oksidasi. Dalam prakteknya, transfer elektron akan selalu mengubah bilangan oksidasi, namun terdapat banyak reaksi yang diklasifikasikan sebagai "redoks" walaupun tidak ada transfer elektron dalam reaksi tersebut (misalnya yang melibatkan ikatan kovalen). Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi atau yang tinggi (seperti yang H2O2, MnO4, CrO3, Cr2O72, OsO4)

senyawa-senyawa

sangat elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin). Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa lain dikatakan sebagai reduktif dan dikenal sebagai reduktor atau agen reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsur logam seperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai reduktor. Logam-logam ini akan memberikan elektronnya dengan mudah. Reduktor jenus lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4), reagen-reagen ini digunakan dengan luas dalam kimia organik, terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 4

Makalah Kimia Analitik II

juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis paladium, platinum, atau nikel, Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap dua ata tiga karbon-karbon. Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi disebut sebagai pasangan redoks

2.2

Titrasi Redoks Titrasi redoks merupakan analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi

redoks. Pada titrasi redoks, sampel yang dianalisis dititrasi dengan suatu indikator yang bersifat sebagai reduktor atau oksidator, tergantung sifat dari analit sampel dan reaksi yang diharapkan terjadi dalam analisis. Prosedur titrasi yang berdasarkan reaksi redoks dapat memerlukan suhu yang dinaikkan , penambahan katalis, atau pereaksi berlebih disusul dengan titrasi kembali. Pereaksi berlebih biasanya ditambahkan dan kita harus dapat mengambil kelebihannya dengan mudah sehingga ia tidak akan bereaksi dengan titran pada titrasi selanjutnya.Titik ekuivalen pada titrasi redoks tercapai saat jumlah ekivalen dari oksidator telah setara dengan jumlah ekivalen dari reduktor. Titrasi redoks melibatkan reaksi oksidasi dan reduksi antara titrant dan analit.Titrasi redoks banyak dipergunakan untuk penentuan kadar logam atau senyawa yang bersifat sebagai oksidator atau reduktor. Aplikasi dalam bidang industri misalnya penentuan sulfite dalam minuman anggur dengan menggunakan iodine, atau penentuan kadar alkohol dengan menggunakan kalium dikromat. Beberapa contoh yang lain adalah penentuan asam oksalat dengan menggunakan permanganate, penentuan besi(II) dengan serium(IV), dan sebagainya. Karena melibatkan reaksi redoks maka pengetahuan tentang penyetaraan reaksi redoks memegang peran penting, selain itu pengetahuan tentang
Nurul Ramadanah/3212101020 Page 5

Makalah Kimia Analitik II

perhitungan sel volta, sifat oksidator dan reduktor juga sangat berperan. Dengan pengetahuan yang cukup baik mengenai semua itu maka perhitungan stoikiometri titrasi redoks menjadi jauh lebih mudah. Titik akhir titrasi dalam titrasi redoks dapat dilakukan dengan mebuat kurva titrasi antara potensial larutan dengan volume titrant, atau dapat juga menggunakan indikator. Dengan memandang tingkat kemudahan dan efisiensi maka titrasi redoks dengan indicator sering kali yang banyak dipilih. Beberapa titrasi redoks menggunakan warna titrant sebagai indikator contohnya penentuan oksalat dengan permanganat, atau penentuan alkohol dengan kalium dikromat. Beberapa titrasi redoks menggunakan amilum sebagai indicator, khususnya titrasi redoks yang melibatkan iodine.Indikator yang lain yang bersifat reduktor/oksidator lemah juga sering dipakai untuk titrasi redoks jika kedua indicator diatas tidak dapat diaplikasikan, misalnya ferroin, metilen, blue, dan nitroferoin. Contoh titrasi redoks yang terkenal adalah iodimetri, iodometri, permanganometri menggunakan titrant kalium permanganat untuk penentuan Fe2+ dan oksalat, Kalium dikromat dipakai untuk titran penentuan Besi(II) dan Cu(I) dalam CuCl. Bromat dipakai sebagai titrant untuk penentuan fenol, dan iodida (sebagai I2 yang dititrasi dengan tiosulfat), dan Cerium (IV) yang bisa dipakai untuk titrant titrasi redoks penentuan ferosianida dan nitrit. Dalam redoks titik akhir titrasi (TAT) dapat dilakukan dengan megukur potensial larutan dan dengan menggunakan indicator. TAT dengan mengukur potensial memerlukan peralatan yang agak lebih banyak deperti penyediaan voltameter dan elektroda khisus, dan kemudian diikuti dengan pembuatan kurva titrasi redoks maka dengan alasan kemudahan dan efisiensi maka TAT dengan menggunakan indicator yang lebih banyak untuk diaplikasikan.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 6

Makalah Kimia Analitik II

Beberapa Jenis Indikator Pada Titrasi Redoks

Indikator Sendiri Apabila titrant dan analit salah satunya sudah berwarna, sebagai contoh penentuan oksalat dengan permanganate dimana lautan oksalat adalah larutan yang tidak berwarna sedangkan permanganate berwarna ungu tua, maka warna permanganate ini dapat dipakai sebagai indicator penentuan titik akhir titrasi. Pada saat titik akhir titrasi terjadi maka warna larutan akan berubah menjadi berwarna merah muda akibat penambahan sedikit permanganate. Karena titik akhir titrasi terjadi setelah titik equivalent terjadi (baca: TAT diamati setelah penambahan sejumlah kecil permanganate agar tampak warna merah muda ) maka penggunaan blanko sangat dianjurkan untuk mengkoreksi hasil titrasi pada waktu melakukan titrasi ini. Contoh lain titrasi redoks yang melibatkan indicator sendiri adalah titrasi alkohol dengan menggunakan kalium dikromat.

Indikator Amilum Indikator amilum dipakai untuk titrasi redoks yang melibatkan

iodine.Amilum dengan iodine membentuk senyawa kompleks amilum-iodin yang bewarna biru tua.Pembentukan warna ini sangat sensitive dan terjadi walaupun I2 yang ditambahkan dalam jumlah yang sangat sedikit.Titrasi redoks yang biasa menggunakan indicator amilum adalah iodimetri dan iodometri.

Indikator Redoks Indikator redoks melibatkan penambahan zat tertentu kedalam larutan yang akan dititrasi. Zat yang dipilih ini biasanya bersifat sebagai oksidator atau reduktor lemah atau zat yang dapat melakukan reaksi redoks secara reversible.Warna indicator dalam bentuk teroksidasi dengan bentuk tereduksinya berbeda sehingga perubahan warna ini dapat dipakai untuk penentuan titik akhir titrasi redoks. Reaksi indicator dapat dituliskan sebagai berikut: (Inox bentuk teroksidasi dan Inred bentuk tereduksi) Inox + ne- <-> Inred

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 7

Makalah Kimia Analitik II

Indikator redoks berubah warnanya pada kisaran potensial tertentu (hal ini analog dengan perubahan indicator asam basa yang berubah pada kisaran pH tertentu untuk membacanya Anda bisa mengikuti link ini). Jadi jika suatu indicator redoks mengalami reaksi berikut: Inox + nH+ + ne- <-> Inred Eo Maka potensial larutan dapat dinyatakan sebagai berikut: E = Eo + 0.0591/n log [Inox][H+]n / [Inred] E = Eo + 0.0591/n log [Inox]/[Inred] + 0.0591/n x n log [H+]

Karena perubahan warna terjadi terjadi pada saat [Inox]/[Inred] nilainya 10/1 atau 1/10 dan asumsikan n=1 maka persamaan diatas menjadi: E1 = Eo + 0.0591/n log 1/10 + 0.0591/n x log [H+] E1 = Eo + E o + 0.0591 log [H+] 0.0591/n

Jadi pada saat Eo = constant dan pH = Constant maka nilai E menjadi E1 = constant 0.0591/n ..(1) E2 = Eo + 0.0591/n log 10/1 +0. 0591/n x log [H+]

E2 = Eo + E o + 0.0591 log [H+] + 0.0591/n

Jadi pada saat Eo = constant dan pH = Constant maka nilai E menjadi E2 = constant +0.0591/n ..(2)

Jadi Range E agar terjadi perubahan warna indicator redoks adalah: Erange = E2-E1 = 0.0591/n 0.0591/n = 0.118V/n

Titik akhir titrasi akan tergantung pada:


Eo pH

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 8

Makalah Kimia Analitik II

Syarat Indikator redoks


Indikator harus bisa megalami raksi reduksi atau oksidasi dengan cepat. Indikator harus dapat mengalami reaksi redoks reversibel dengan cepat

sehingga bila terjadi penumpukan massa titrant atau analit maka sistem tidak akan mengalami reaksi oksidasi atau reduksi secara gradual.

Contoh indikator redoks adalah ferroin Tris (1, 10 phenanthroline) iron(II)Sulfate yang dipakai untuk titrasi Besi(II) dengan Ce(IV), dimana bentuk teroksidasi ferooin berwarna biru muda dan bentuk tereduksinya berwarna merah darah. Dengan syarat reaksi tidak melibatkan ion poliatomik seperti CrO42- dan tidak melibatkan ion hydrogen.Indeks 1 untuk setengah reaksi oksidasi dan 2 untuk setengah reaksi reduksi. Kurva titrasi dibuat dengan mengeplotkan potensial larutan terhadap volume larutan titrant yang ditambahkan (modifikasi alat dapat dilihat pada gambar) dimana 1 merupakan elektroda untuk mengukur potensial atau dapat berupa pH meter, dan 2 merupakan alat untuk tempat titrant. Setelah titrant ditambahkan maka larutan diaduk dengan stir magnetic agar reaksi berjalan merata dan cepat. Berdasarkan larutan baku yang digunakan, titrasi oksidi - reduksi dibagi atas : 1). Oksidimetri , adalah metode titrasi redoks dimana larutan baku yang digunakan bersifat sebagai oksidator. Yang termasuk titrasi oksidimetri adalah : 1. Permanganometri, larutan bakunya : KMnO4 2. Dikromatometri, larutan bakunya : K2Cr2O7 3. Serimetri, larutan bakunya : Ce(SO4)2, Ce(NH4)2SO4 4. Iodimetri, larutan bakunya : I2
Nurul Ramadanah/3212101020 Page 9

Makalah Kimia Analitik II

2). Reduksimetri , adalah metode titrasi redoks dimana larutan baku yang digunakan bersifat sebagai reduktor. Yang termasuk titrasi reduksimetri adalah : Iodometri, larutan bakunya : Na2S2O3 . 5H2O

2.3 a.

Macam Macam Titrasi Redoks Permanganometri Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi

oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu.Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+ , asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya (Anonim,2009).

1. Sifat-sifat Kalium Permanganat Kalium permanganat telah banyak dipergunakan sebagai agen

pengoksidasi. Reagen ini dapat diperoleh dengan mudah, tidak mahal, dan tidak membutuhkan indikator terkecuali untuk larutan yang amat encer. Satu tetes 0,1 N permanganat memberikan warna merah muda yang jelas pada volume dari larutan yang biasa dipergunakan dalam sebuah titrasi. Warna ini dipergunakan untuk mengindikasi kelebihan reagen tersebut.Permanganat menjalani beragam reaksi kimia, karena mangan hadir dalam kondisi-kondisi oksidasi +2, +3, +4, +6, +7. Reaksi yang paling umum ditemukan dalam laboratorium adalah reaksi yang terjadi dalam larutan-larutan yang bersifat amat asam, 0,1 N atau lebih besar. Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi berdasarkan reaksi ini, namun beberapa substansi membutuhkan pemanasan dan penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi (Underwood, 2002).

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 10

Makalah Kimia Analitik II

Kalium permanganat, selain sebagai oksidator dalam suasana asam, juga dapat berlangsung dalam suasana basa maupun netral. Dalam suasana asam atau [H+] 0,1 N, ion permanganat mengalami reduksi menjadi ion mangan (II) sesuai reaksi : MnO4- + 8H+ + 5e- Mn2+ + 4H2O Eo= 1,51 Volt

Dalam suasana basa, ion permanganat mengalami reduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau seperti reaksi berikut : MnO4- + e- MnO42Eo= 0,56 Volt

Dalam

suasana

netral,

MnO4

direduksi

menjadi

MnO2

yang

mengendap.Reaksinya : MnO4- + 4H+ + 3e 3MnO2 + H2O (Annisanfushie, 2008). Reaksi dalam suasana alkalis : MnO4- + 3e MnO42MnO42- + 2H2O + 2e MnO2 + 4OHMnO4- + 2H2O + 3e MnO2 + 4OH( Dinda, 2008). Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Titrasi harus dilakukan dalam Eo= 1,70 V

larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangkan potensial elektroda sangat tergantung pada pH.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 11

Makalah Kimia Analitik II

Asam sulfat adalah asam yang paling sesuai, karena tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida, ada kemungkinan terjadi reaksi : 2MnO4-+ 10Cl- + 16H+ 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O dan sedikit permanganat dapat terpakai dalam pembentukan klor. Reaksi ini terutama berkemungkinan akan terjadi dengan garam-garam besi, kecuali jika tindakan-tindakan pencegahan yang khusus diambil. Dengan asam bebas yang sedikit berlebih, larutan yang sangat encer, temperatur yang rendah, dan titrasi yang lambat sambil mengocok terus-menerus, bahaya dari penyebab ini telah dikurangi sampai minimal (Annisanfushie, 2008). 2. Standarisasi Kalium Permanganat Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu. Larutan baku KMnO4 dibuat dengan melarutkan sejumlah kalium permanganat dalam air, mendidihkannya selama delapan jam atau lebih, kemudian endapan MnO2 yang terbentuk disaring, lalu dibakukan dengan zat baku utama (larutan standar primer) (Rivai, 1994). Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan permanganat.Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan

permanganat.Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MNO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan (Dinda, 2008).

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 12

Makalah Kimia Analitik II

Ada beberapa standar primer untuk standarisasi permanganat,yaitu : Arsen (III) Oksida Senyawa As2O3 adalah standar primer yang sangat baik untuk larutanlarutan permanganat.Senyawa ini stabil, non higroskopis, dan tersedia dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Oksida ini dilarutkan dalam larutan Natrium hidroksida, dan larutan kemudian diasamkan dengan asam klorida dengan titrasi permanganat : 5HAsO2 + 2MnO4- + 6H + 2H2O 2Mn2+ + 5H3AsO4 Reaksi ini berjalan lambat pada suhu ruangan terkecuali sebuah katalis ditambahkan.Kalium iodida, KI, kalium iodidat, KIO3, dan iodinmonoklorida, ICl, telah dipergunakan sebagai katalis. Natrium Oksalat Senyawa ini, Na2C2O4, juga merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asam.Senyawa ini dapat diperoleh dengan tingkat kemurnian yang tinggi, stabil pada saat pengeringan, dan

nonhigroskopis.Reaksinya dengan permanganat agak sedikit rumit, dan meskipun banyak penyelidikan telah dilakukan, mekanisme tapatnya idak pernah jelas.Reaksinya berjalan lambat dalam suhu ruangan, sehingga larutan biasanya dipanaskan sampai 60oC.Bahkan pada suhu tinggi reaksinya mulai dengan lambat, namun kecepatannya meningkat ketika ion mangan (II) terbentuk. Mangan (II) bertindak sebagai katalis,dan reaksinya disebut autokatalitik , karena katalisnya diproduksi di dalam reaksi itu sendiri. Ion tersebut dapat memberikan efek katalitiknya dengan cara bereaksi dengan cepat dengan permanganat untuk membentuk mangan berkondisi oksidasi menengah (+3 atau +4), dimana ada gilirannya secara cepat mengoksidasi ion oksalat, kembali ke kondisi divalent. Persamaan reaksi yang terjadi : 5C2O4- + 2MnO4- + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 13

Makalah Kimia Analitik II

Untuk pengasaman sebaiknya dipakai asam sulfat, karena asam ini tidak menghasilkan reaksi samping.Sebaliknya jika dipakai asam klorida dapat terjadi kemungkinan teroksidasinya ion klorida menjadi gas klor dan reaksi ini mengakibatkan dipakainya larutan permanganat dalam jumlah berlebih. Meskipun untuk beberapa reaksi dengan arsen (II) oksida, antimoni (II) dan hidrogen peroksida, karena pemakaian asam sulfat justru akan menghasilkan beberapa tambahan kesulitan. Kalium pemanganat adalah oksidator kuat, oleh karena itu jika beradadalam HCl akan mengoksidasi ion Clyang menyebabkan

terbentuknya gas klor dan kestabilan ion ini juga terbatas. Biasanya digunakan pada medium asam 0,1 N. Namun, beberapa zat memerlukan pemanasan atau katalis untuk mempercepat reaksi. Seandainya banyak reaksi itu tidak lambat, akan dijumpai lebih banyak kesulitan dalam menggunakanreagensia ini (Annisanfushie, 2008). Besi Kawat besi dengan tingkat kemurnian yang tinggi dapat dijadikansebagai sebuah standar primer. Unsur ini larut dalam asam klorida encer,dan semua besi (III) yang diproduksi selama proses pelarutan direduksimenjadi besi (II). Jika larutannya kemudian dititrasi dengan permanganat,cukup banyak ion klorida yang dioksidasi selain besi (II). Oksida dari ionklorida oleh permanganat berjalan lambat pada suhu ruangan. Namun demikian, dengan kehadiran besi, oksidasi akan berjalan lebih cepat.Meskipun besi (II) adalah agen pereduksi yang lebih kuat dari pada ionklorida, ion yang belakangan ini disebut ini teroksidasi secara bersamaan dengan besi. Kesulitan semacam ini tidak ditemukan di dalam oksidasi dari As2O3atau pun Na2C2O4 dalam larutan asam klorida. Sebuah larutan dari mangan (II) sulfat, asam sulfat, dan asam fosfat, disebut larutan pencegah, atau larutan Zimmerman-Reinhardt , dapat

ditambahkan ke dalam larutan asam klorida dari besi sebelum dititrasi dengan permanganat. Asam fosfat menurunkan konsentrasi dari ion besi (III) dengan membentuk sebuah kompleks, membantu memaksa reaksi berjalan sampai selesai,

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 14

Makalah Kimia Analitik II

dan juga menghilangkan warna kuning yang ditunjukkan oleh besi (III) dalam media klorida.Kompleks fosfat ini tidak berwarna, dan titik akhirnya lebih jelas (Underwood, 2002). A. Penentuan-Penentuan dengan Permanganat Larutan baku permanganat dapat dipakai untuk penentuan beberapa zat yang bersifat sebagai reduktor. Beberapa diantara reduktor tersebut bereaksi dengan permanganat menurut persaman reaksi berikut: 5Fe2+ + MnO4- + 8H+ 5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O 5H2O2 + 2MnO4- + 6H+ 5O2 + 2Mn2+ + 8H2O

5NO2- + 2MnO4- + 6H+ 5NO3- + 2Mn2+ + 3H2O 5HSO3- + 2MnO4- + H+ 5SO4- + 2Mn2+ + 3H2O

5H3AsO3 + 2MnO4- + H+ 5H2AsO4- + 2Mn2+ + 3H2O

Penentuan Besi di dalam Bijih-bijih Besi Penentuan besi dalam bijih-bijih besi adalah salah satu aplikasi terpenting dari titrasi-titrasi permanganat. Asam terbaik untuk melarutkan bijih-bijih besi adalah asam klorida, dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses pelarutan. Sebelum titrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus direduksi menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor Jones atau dengan timah(II) klorida. Reduktor Jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat, mengingat tidak ada ion klorida yang masuk. Jika larutannya mengandung asam klorida, seperti yang sering terjadi, reduksi dengan timah (II) klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 15

Makalah Kimia Analitik II

ke dalam sebuah larutan panas dari sampelnya, dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dari ion besi (III) : Sn2+ + 2Fe3+ Sn4+ + 2Fe2+ Sedikit kelebihan timah (II) klorida ditambahkan untuk memastikan selesainya reduksi.Kelebihan ini dihilangkan dengan permanganat melalui titrasi. Untuk tujuan ini, larutan tersebut didinginkan, dan rakssa (II) klorida ditambahkan secara cepat untuk mengoksidasi kelebihan ion timah(II) : 2HgCl2 + Sn2+ Hg2Cl2(s) + Sn4+ + 2ClBesi (II) tidak dioksidasi oleh rakasa (II) klorida. Endapan dari raksa (I) klorida, jika kecil, tidak akan mengganggu titrasi lanjutannnya. Namun demuikian, jika timah (II) klorida yang ditambahkan terlalu banyak raksa (I) klorida dapat direduksi lebih lanjut manjadi raksa yang bebas : Hg2Cl2(s) + Sn2+ 2Hg(l) + 2Cl- + Sn4+ Raksa, yang dihasilkan dalam keadaan yang dengan terbagi baik pada kondisi-kondisi ini, menyebabkan endapannya tampak berwarna abu-abu hingga hitam. Jika endapannya gelap, sampel tersebut harus dibuang, karena raksa, dalam keadaan yang terbagi dengan baik, akan teroksidasi selama titrasi. Kecenderungan untuk mengalami reduksi lebih lanjut dari Hg2Cl2 akan sangat berkurang jika larutan tersebut dingin dan HgCl2 ditambahkan secaracepat. Tentu saja jika SnCl2 yang ditambahkan tidak mencukupi, tidak ada endapan Hg2Cl2 yang akan didapat. Dalam kasus ini sampel harus dibuang.Timah (II) klorida biasanya dipergunakan untuk mereduksi besi dalam sampel-sampel yang telah dilarutkan dalam asam klorida. Larutan pencegah Zimmermann-Reindhardt lalu ditambahkan jika titrasi akan dilakukan dengan permanganat (Underwood, 2002). Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg(I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara
Nurul Ramadanah/3212101020 Page 16

Makalah Kimia Analitik II

kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci,dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 menitrasinya dengan KMnO4 (Anonim, 2009). Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 MnO4- dengan Mn2+ : MnO4- + 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air : H2C2O4 + O2 H2O2 + 2CO2 (Anonim , 2009). yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara berlebih.Sebagian Fe2+

dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 17

Makalah Kimia Analitik II

b. Iodometri dan iodimetri Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi III, tembaga II, dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk akan ditentukan dengan menggunakan larutan baku tiosulfat. Oksidator + KI I2 + 2eIa+ Na2S2O3 NaI + Na2S4O6 Sedangkan iodimetri adalah merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat. Reduktor + I2 2INa2S2O3 + I2 NaI +Na2S4O6 Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh elektron.Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja (Khopkar, 2003). Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor.Namun

demikian, oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 18

Makalah Kimia Analitik II

iodium sebagai pentiter disebut iodimetri,sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri (Rivai,1995). Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi (iodimetri) dan ioniodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium.Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit.Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi cukupkuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida, dan ada banyak penggunaan prosesiodometrik.Suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yangditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Reaksi antara iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood,1986). Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada 250C), tetapi agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam botol volumetrik. Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada suatu larutan KI pekat,yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap suatu standar primer, As2O3 yang paling

biasadigunakan. (Underwood, 1986) Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah natriumtiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasiterhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama.Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer untuk larutan natrium tiosulfat.Iodium murni merupakan standar yang paling nyata, tetapi jarang digunakan karenakesukaran dalam penanganan dan penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yangkuat yang membebaskan iodium dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986).

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 19

Makalah Kimia Analitik II

Titrasi iodometri Metode titrasi iodometri langsung ( kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri), adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem reversibel: I2 (solid) 2e 2I- adalah 0,5345 volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasiion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida: I2(aq)+ I-I3- Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulissebagai:I3-+ 2e 3IDan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion tri-iodidamerupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kaliumdikromat, dan serium(IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994). Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri) digunakan suatu larutan ioddalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalah ion tri-iodida, I3- . Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis denganI3-dan bukan dengan I2, misalnya:I3-+ 2S2O32-3I-+ S4O62-akan lebih akurat daripada:I2+ 2S2O32-= 2I-+ S4O62- (Bassett, J. dkk., 1994). Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang halini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodide (Underwood,

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 20

Makalah Kimia Analitik II

1986). Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I-(iodide) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat.Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali. Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikandengan oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titrant hal ini disebabkan karena faktor kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indikator yang dapat dipakai untuk iodide. Oleh sebab itu titrasi kembali merupakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi yang melibatkan iodide. Senyawaan iodide umumnya KI ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga terbentuk I2. I2 yang terbentuk adalah equivalent dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan. Jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2 dengan larutan standar tiosulfat (umumnya yang dipakai adalah Na2S2O3) dengan indicator amilum jadi perubahan warnanya dari biru tua kompleks amilum-I2 sampai warna initepat hilang. Reaksi yang terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah sebagai berikut: IO3- + 5 I- + 6H+ I2 + 2 S2O32-> 3I2 + H2O -> 2I- + S4O62-

Setiap mmol IO3- akan menghasilkan 3 mmol I2 dan 3 mmol I2 ini akan tepat bereaksidengan 6 mmol S2O32- (ingat 1 mmol I2 tepat bereaksi dengan 2 mmol S2O32-)sehingga mmol IO3- ditentukan atau setara dngan 1/6 mmol S2O32c. Dikromatometri Dikhromatometri adalah titrasi redoks yang menggunakan larutan kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai larutan standar.Garam dari K2Cr2O7 memeiliki beberapa kelebihan yaitu, dapat diperoleh dalam keadaan murni dan cukup stabil sampai titik leburnya, sehingga dapat digunakan sebagai standar primer. Proses oksidasi oleh K2Cr2O7 hanya dapat berlangsung dalam suasana asam, dimana garam tersebut akan tereduksi menjadi garam kromi (Cr3+) yang berwarna hijau, menurut persamaan reaksi :

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 21

Makalah Kimia Analitik II

Cr2O7 2- + 14 H+ + 6e

2 Cr3+ + 7 H2O

Titrasi ini umumnya digunakan untuk menetapkan kadar besi dalam bijihnya atau penetapan ion Fe2+, dan oleh karena K2Cr2O7 merupakan zat standar primer, maka untuk membuatnya sebagai larutan standar cukup menimbang zatnya dengan tepat dan kemudian dilarutkan dalam volume tertentu. Misalnya untuk membuat larutan 1 N, maka dilarutkan zat padatnya yang mengandung berat = 1/6 mol K2Cr2O7 dalam setiap liternya. Pada proses titrasi ini, untuk mengetahui saat tercapainya titik ekivalen dapat digunakan 3 cara, yaitu : dengan indikator internal, eksternal dan secara potensiometri. Cara yang paling sederhana dan banyak digunakan adalah dengan indikator internal. Indikator internal yang dapat digunakan adalah difenilamin (1% dalam H2SO4 pekat), difenilbenzidin (1% dalam H2SO4 pekat) dan natrium difenilaminsulfonat (0,2% dalam air). Dalam penetapan Fe2+, indikator eksternal yang biasa digunakan adalah K3{Fe(CN)6}, yang ditambahkan diluar larutan yang dititrasi. Caranya ketika titrasi diperkirakan sudah mendekati titik ekivalen, larutan yang dititrasi diambil sedikit cuplikannya (2 tetes) dan diteteskan ke atas pelat tetes yang telah diisi dengan larutan indikator K3{Fe(CN)6}. Apabila titik ekivalen telah tercapai pada penambahan 2 tetes larutan yang dititrasi ke dalam larutan indikator akan menghasilkan warna coklat yang stabil/permanen dari garam Fe{Fe(CN)6}, sedangkan jika titik ekivalen belumtercapai akan diperoleh warna coklat kebiruan campuran dari warna larutan garam ferro dan ferrisianida. Penetapan secara potensiometri didasarkan pada kurva titrasinya. Dalam cara ini diperlukan alat pengukur potensial larutan (potensiometer). pH-meter saat ini umumnya dilengkapi juga dengan alat pengukur potensial.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 22

Makalah Kimia Analitik II

2.4

Aplikasi Titrasi Redoks Salah satu aplikasi titrasi redoks khususnya permanganometri,

iodo/iodimetri dan dikromatometri akan diuraikan dibawah ini. a. Aplikasi Permanganometri Alat dan Bahan Untuk membuat standarisasi larutan kalium permanganat (KMnO4) dengan larutan asam oksalat (H2C2O4 . 2H2O) Alat Labu Erlenmeyer Corong Buret Pipet volume/pipet gondok Gelas ukur Termometer Gelas kimia Penangas Ukuran 10 mL 25 mL 500 mL Jumlah 3 buah 1 buah Lengkap 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Larutan H2SO4 Aquades

Ukuran 1N

Jumlah 5 mL secukupnya

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 23

Makalah Kimia Analitik II

Untuk menetapkan kemurnian nitrit dalam garam nitrit (NaNO2) Alat Neraca analitik Gelas kimia Labu Erlenmeyer Corong Buret Pipet volume/pipet gondok Gelas ukur Ukuran 250 mL 10 mL 25 mL Jumlah 1buah 1 buah 3 buah 1 buah Lengkap 1 buah 1 buah

Bahan Kristal CuSO4 Larutan NH4OH Larutan standart Na2S2O4 Larutan KI Indikator Universal Indikator amilum Aquades

Ukuran 0,1 N 0,1 N -

Jumlah 2,5 gram secukupnya 50 mL 15 mL secukupnya 1 2 mL secukupnya

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 24

Makalah Kimia Analitik II

PROSEDUR PERCOBAAN Standarisasi larutan KMnO4 dengan larutan H2C2O4 . 2H2O 1. Mengisi buret dengan larutan kalium permanganat (KMnO4) sampai penuh (50 mL). 2. Mengukur 10 mL larutan asam oksalat (H2C2O4 . 2H2O) dari kegiatan percobaan di atas dan memasukkannya ke dalam labu erlenmeyer. 3. Menambahkan larutan H2SO4 1 N sebanyak 5 mL ke dalam labu erlenmeyer, kemudian memanaskannya sampai pada suhu 70C. 4. Kemudian barulah menitrasi larutan dalam labu erlenmeyer tersebut dengan menggunakan larutan kalium permanganat (KMnO4) melalui buret sampai terjadi perubahan warna larutan dari yang tidak berwarna (bening) sampai menjadi berwarna cokelat (warna permanen). 5. Melakukan kegiatan percobaan ini sebanyak 3 kali pengulangan dan mencatat hasil pengamatannya pada lembar pengamatan.

Untuk menetapkan kemurnian nitrit dalam garam nitrit (NaNO2)

1. Mengukur 10 mL larutan garam nitrit (NaNO2) dari kegiatan percobaan di atas dan memasukkannya ke dalam labu erlenmeyer. 2. Menambahkan larutan H2SO4 1 N sebanyak 5 mL ke dalam labu erlenmeyer, kemudian memanaskannya sampai pada suhu 70C. 3. Kemudian barulah menitrasi larutan dalam labu erlenmeyer tersebut dengan menggunakan larutan kalium permanganat (KMnO4) melalui buret sampai terjadi perubahan warna larutan dari yang tidak berwarna (bening) sampai menjadi berwarna violet muda (warna permanen). Melakukan kegiatan percobaan ini sebanyak 3 kali pengulangan dan mencatat hasil pengamatannya pada lembar pengamatan.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 25

Makalah Kimia Analitik II

b. Aplikasi Iodo/Iodimetri Salah satu aplikasi dari Iodometri yaitu pengukuran kadar kafein dalam teh Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. labu takar 100 mL Erlenmeyer Timbangan Gelas beker Kertas saring Corong Batang pengaduk Buret 9. Larutan amilum

10. Teh sepeda balap 11. Akuades 12. Alkohol 13. H2SO4 10% 14. Larutan iodium 0,1 N 15. Indikator kanji.

Proses Pengolahan

A. Preparasi Sampel Teh 1. Ditimbang 25 gram teh kering, dimasukkan dalam gelas beker. 2. Ditambahkan 100 mL akuades, kemudian didihkan larutan sampai 30 menit sambil diaduk sesekali. Angkat, lalu disaring. 3. Diuapkan filtrat yang diperoleh hingga volumenya berkurang menjadi sekitar 20 mL, diangkat dan didinginkan filtrat. B. Analisis Kadar Kafein dalam Teh 1. Dimasukkan filtrat teh hasil preparasi dalam labu takar 100 mL, ditambahkan 25 mL alkohol, dikocok sekitar 5 menit sampai homogen. 2. Ditambahkan 5 mL H2SO4 10% dan 20 mL larutan iodium 0,1 N ke dalam labu takar, diencerkan sampai batas, kemudian kocok larutan sampai homogen.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 26

Makalah Kimia Analitik II

3. Diambil 20 mL larutan, dimasukkan dalam erlenmeyer, ditambahkan indikator kanji. 4. Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga warna biru

hilang. Titrasi dilakuakn sebanyak 3 kali pengulangan c. Aplikasi Dikromatometri Alat dan Bahan Neraca analitis Buret 50 mL Botol Timbang Botol Semprot Corong Tangkai Pendek Labu Erlenmeyer 250 mL Batang Pengaduk Klem buret Statif Sendok/spatula Tegel putih Kaki tiga Kawat kasa Larutan K2Cr2O7 Sampel garam ferro Air bebas O2 Indicator difenil sulfonat Kertas Isap

Langkah Kerja Timbang selisih 1 gram sampel garam ferro, bilasi dengan H2SO4 4 N ke dalam Erlenmeyer 250 mL, lalu larutkan dengan 50 mL air bebas O2 Tambahkan 12,5 mL H2SO4 4N Tambahkan H3PO4 85% (jika tidak ada, encerkan larutan ferro hingga 300 mL) Tambahkan 6-8 tetes difenilamin sulfonat Titrasi dengan larutan standar K2Cr2O7 hingga terjadi perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah sangat muda. Lakukan secara duplo Hitung kadar Fe2+ dalam sampel.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 27

Makalah Kimia Analitik II

BAB III PEMBAHASAN

Dalam titrasi dengan metode dikromatometri untuk penetapan Fe3+ dilakukan pengasaman dengan HCl karena HCl karena akan memberikan warna yang jelas mencirikan adanya Fe3+, kemudian dipanaskan pada penangas air untuk mempercepat reaksi redoks yang terjadi kemudian ditambahkan asam pospat untuk mengikat ion ferry sehingga warnanya jelas dan TA mudah diamati. Pada analisa kadar kafein dalam teh, alkohol yang digunakan dalam percobaan berguna untuk memisahkan senyawa organik dengan zat organik yang terkandung dalam teh, karena dalam teh tidak hanya mengandung teh tetapi juga mengandung zat-zat lain seperti minyak oli yang merupakan pewangi teh. Penambahan asam sulfat membuat reaksi berada dalam suasana agar reaksi yang terjadi, karena kepekatan lebih besar dalam larutan asam daripada dalam larutan netral dan lebih basa dengan adanya ion iodium yang ditambah dan kelebihan iodium setelah terjadi reaksi adisi. Penggunaan natrium thiosulfat sebagai larutan yang akan terurai dalam larutan belerang sebagai endapan. Akan tetapi reaksinya berlangsung lambat dan tidak terjadi apabila thiosulfat dititrasi dengan larutan berasam. Pada iodium jika larutannya tidak diaduk maka reaksi antara iodium dengan thiosulfat jauh lebih cepat dari pada penguraian. Iodium mengoksidasi thiosulfat menjadi ion tetraionat reaksinya I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62Pada titrasi digunakan indikator kanji yang berbentuk ion komplek berwarna biru yang berasal dari amilum, reaksi yang menunjukkan adalah sebagai berikut: I2 + amilum I2-amilum.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 28

Makalah Kimia Analitik II

Setelah dilakukan titrasi maka reaksi yang terjadi adalah: I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62Penggunaan indikator kanji atau amilum ini dalam proses titrasi natrium thiosulfat dan teh karena natrium thiosulfat lebih kuat pereaksinya dibandingkan dengan amilum sehingga amilum atau larutan kanji tersebut dapat didesak keluar dari proses reaksi tersebut. Jadi hal ini menyebabkan warna berubah kembali seperti semula setelah dilakukannya titrasi dengan natrium thiosulfat.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 29

Makalah Kimia Analitik II

BAB IV KESIMPULAN

Permanganometri, Iodo/Iodimetri dan dikromatometri merupakan metode titrasi redoks yang melibatkan reaksi reduksi, oksidasi. Titrasi redoks ini banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari seperti dalam penetapan kadar kafein dalam teh dapat menggunakan dengan metode iodo/iodimetri, penetapan kadar Fe3+ dapat menggunakan metode dikromatometri dan penetapan kadar garam nitrit dengan menggunakan metode permanganometri.

Nurul Ramadanah/3212101020

Page 30