P. 1
pipiet-senja-kapas-kapas-di-langit.

pipiet-senja-kapas-kapas-di-langit.

|Views: 4|Likes:
Dipublikasikan oleh Ukhti Muslimah
pipiet-senja-kapas-kapas-di-langit.
pipiet-senja-kapas-kapas-di-langit.

More info:

Published by: Ukhti Muslimah on Jan 10, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/05/2014

pdf

text

original

Sections

  • Bab 1
  • Bab 2
  • Bab 3
  • Bab 4
  • Bab 5
  • Bab 6
  • Bab 7
  • Bab 8
  • Bab 9
  • Bab 10
  • Bab 11
  • Bab 12
  • Bab 13
  • Bab 14

Kapas-Kapas di Langit

Pipiet Senja

persembahan untuk anak-anakku tersayang yang senantiasa memperkuat semangat bunda; MK. Haekal Siregar Seli Siti Sholihat Adzimattinur KN. Siregar

1

Sinopsis
Garsini, remaja muslimah, sejak kecil selalu ingin membuktikan kemampuannya dengan meraih prestasi demi prestasi. Awal tujuannya adalah untuk menarik perhatian serta kasih sayang ayahnya yang seringkali memperlakukannya kasar dan pilih kasih di antara tiga bersaudara. Terutama dengan adik laki-lakinya, Ucok, yang mendapat perlakuan istimewa dari sang ayah. Berangkat dari ketakharmonisan rumah tangga orang tuanya, Garsini berhasil membuktikan dirinya sebagai anak yang bisa dibanggakan. Lulus SMU, ia kuliah di Universitas Indonesia. Semester tiga, ia berhasil meraih beasiswa Monbusho dari pemerintah Jepang. Garsini meninggalkan Tanah Air dengan satu tujuan; membuktikan kepada dunia bahwa gadis Muslimah, berjilbab, akhwat seperti dirinya pun mampu “berbicara di dunia internasional”. Di kalangan rekan-rekannya di Universitas Tokyo, Garsini dikenal sebagai mahasiswi enerjik, jenius, taat beribadah dengan busana unik, kepribadian tangguh. Di kalangan para dosen, Garsini pun dihargai dan disayangi. Sehingga ada seorang guru besar tamu di universitasnya, Profesor Charles del Pierro, terkesan sekali dengan sosoknya dan menjadikannya asistennya. Dengan dukungan yayasan sosial yang disponsori Profesor tua dari Perancis itu, mantan tomboy ini menerbitkan kamus perbandingan antarbangsa-bangsa Asia, CD-nya ala Garsini. Pelbagai pengalaman selama di negeri sakura telah menempanya menjadi sosok yang dewasa, tanpa meninggalkan kekaffahannya sebagai gadis Muslimah. Adakah ia menerima khitbah dokter Haekal yang telah lama dikenalnya sejak di Indonesia? Ataukah ia memilih tawaran bea-siswa dari Universitas Sorbonne, berkat rekomendasi Profesor Charles del Pierro? Silakan simak dan ambil ibrah dari novel ini. ***

2

Isi
1. Bab Satu 2. Bab Dua 3. Bab Tiga 4. Bab Empat 5. Bab Lima 6. Bab Enam 7. Bab Tujuh 8. Bab Delapan 9. Bab Sembilan 10. Bab Sepuluh 11. Bab Sebelas 12. Bab Duabelas 13. Bab Tigabelas 14. Bab Empatbelas 15. Penutup

3

Bahkan Haliza. Sebuah asrama putri di kawasan kampus Universitas Tokyo yang terkenal karena tradisi dan historisnya. pertanda sesuatu yang luar biasa tengah terjadi. pertanda ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan hatinya. Haliza. Berarti bukan ilusi. Ya. Garsini mengucak-ucak matanya yang masih berat lalu memandanginya keheranan. bukan pengaruh mimpi. saudara seiman berbusana Muslimah seperti dirinya. Sepasang matanya reflek melirik jam wekker di atas meja belajarnya.” ujarnya mengajak bercanda dalam nada riang tak dibuat-buat. awal musim semi yang lembut dan hangat. Baru pukul enam. tampak agak gelisah berdiri canggung di antara para gakusei3 baru. Suara-suara keras dan kehebohan itu muncul dari lantai bawah tempat tinggalnya. Mereka sedang diterima 1 2 Selamat pagi universitas 3 mahasiswa 4 . Tanpa tekanan sama sekali! “Mmh… segaar! Oyaho gozaimasu1. Ia masih mengenakan jubah mandi dengan rambut terbalut handuk setelah keramas. heran dengan semangat dan gerak-geriknya yang tampak lebih lincah dari biasanya. Hampir sepanjang malam ia berkutat di depan komputer dengan programnya. sebaliknya bahkan terdengar semakin parah. Perlahan gadis itu menggeliat malas. biasanya saat begini para penghuninya masih bergulung dalam selimut tebalnya masing-masing. berharap dirinya hanya terpengaruh mimpi. Terdengar senandungnya yang merdu. dara Malaysia yang kutu buku itu pun sudah beraktivitas? Gadis yang melintas di pikirannya tiba-tiba muncul dari kamar mandi.Bab 1 Tokyo. Ia masih ingat saat pertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu di daigaku2. Wajahnya segar dan berseriseri. Tapi ketika keributan di bawahnya bukan menghilang. apa yang terjadi? Rasanya baru beberapa menit aku tertidur. Dilihatnya ranjang di sebelahnya sudah kosong. Yap! Ia tersentak bangun dan melemparkan selimutnya dengan sebal. Ugh. Garsini-san.

Ini baru mahkota wanita terindah yang pernah dilihat Garsini.” sahut Garsini. Dalam bilangan menit keduanya telah akrab. Mahasiswi kedokteran yang mengaku takkan menikah dengan siapapun selain Mahathir Rashid itu kemudian menyahut. Apa itu ukhuwah? Tentu saja para gakusei Jepang. “Lekaslah shalat subuh tu!” sepasang alisnya yang indah terangkat. “Famili di Yokohama. khusus bagi para gakusei asing penerima beasiswa pemerintah Jepang. tadi tidur lagi. kemudian mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang dengan hairdryer. Haliza mengaku terus terang. juga mereka dari negara-negara non islam itu tak pernah mengerti maknanya. semakin terheranheran. menunjukkan berbagai fasilitas yang dapat mereka manfaatkan.” bisik Haliza kini dapat berjalan tegak di sebelah Garsini. “Subhanallah!” seru dara jelita itu tertahan. menjejeri para gakusei asing lainnya. Sejak hari pertama berkenalan keduanya menjadi karib dan senantiasa saling mengingatkan. Sering rekan-rekan sealmamater keheranan melihat kedekatan kedua gadis berjilbab itu. “Sudah. “Mau bepergian rupanya. tak mengira bisa secepat itu bertemu sesama Muslimah di Negeri Sakura. Acapkali keduanya malah tertawa geli karenanya. “Namaku Siti Haliza binti Haji Tun Abdul Razak dari Selangor. perbedaan istilah antara bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia taklah menjadi masalah. Haliza membuka balutan handuk. eeh… itu dekat Jakarta.” Garsini masih memandanginya. Sementara rombongan kecil itu mulai bergerak. mengundangku libur di rumah peristirahatannya…” 5 . Mengalahkan rambut para gadis shampo yang bertaburan di layar kaca Indonesia. menguatkan dalam setiap kesempatan. dibimbing senior berkeliling sekitar fakultas.oleh panitia daigaku. “Saya Garsini Siregar dari Depok. Haliza masih asyik dengan kesibukan pengeringan rambutnya. hemm?” Garsini baru menyadari keberadaan ransel yang telah dikemas apik di sudut kamar mereka. kala Garsini menghampirinya dan langsung berusaha berkomunikasi dengannya.

kok aku baru ingat ya?” Sesaat ia tampak bagai linglung. Ternyata medium itulah yang kemudian menjadi alternatif komunikasi mereka di hari-hari selanjutnya. Sekaligus pula melancarkan bahasa Jepangnya yang memang amat parah. “Gusti Allah amat mengasihi kalian. *** Rasanya belum lama mereka memasuki aktivitas perkuliahan di Universitas Tokyo. Dia tak membiarkan kalian bisa selalu dekat berduaan. sebab jadwal padat dan tekanan luar biasa yang harus mereka hadapi dalam keseharian. agar ia tinggal di minshuku. “Masya Allah. Setelah sebelumnya pun ada hari-hari libur selama beberapa pekan. Sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk belajar mengenal adat kebiasaan orang Jepang. Garsini tahu. adik Haekal dulu berkata demikian. “Aa Haekal mengambil spesialisasi haematologi. Ia sempat sangat jenuh tanpa kegiatan sebelum memulai perkuliahan itu. Sementara Haliza menatapnya dengan cemas dan bimbang. Itulah agaknya yang terbaik bagi keduanya. Sebab kasih-Nya kepada kalian. gumam Garsini. tapi sengaja mengambil lokasi yang berbeda. Yaitu penginapan milik keluarga.” Mama kerap berkata begitu di telepon. Anakku. hanya berkomunikasi melalui telepon dan internet.“Libur panjang!” tukas Garsini menyentak. menyemangatinya senantiasa dan mendoakannya tentu saja. Sekarang Aa Haekal juga takkan sempat mampir ke sini.” Selly. Tapi itu rasanya tak mungkin terwujudkan. membuat Haliza menoleh ke arahnya. Haekal juga melakukan hal yang serupa. 6 . Sehingga mereka tak bisa setiap saat bertemu. Sesuatu yang jauh dari perkiraan mereka di masa lalu. Dia akan mengawasimu selama di Negeri Sakura. godaan nafsu. Kebersamaan kalian kan bisa mendatangkan fitnah. Dalam beberapa bulan ini mereka bertemu bisa dihitung dengan jari. Haekal yang ambil spesialisasi di Universitas Waseda mengunjunginya dan memberinya alternatif.

Berbahagialah dia yang selalu merasa terpanggil untuk bakti kemanusiaan. masih menatapnya dalam harapan. Dipandanginya wajah Muslimah Indonesia itu dengan cemas.Tempo hari pemuda itu menelepon Garsini. kali ini disertai sedikit harapan. Bagaimana rasanya menghabiskan liburan di pulau yang dihuni oleh para penderita kusta. sadarlah dirinya bahwa 7 . “Jangan katakan kau tak punya rencana bepergian… Pasti sudah punya rencana khusus. Haliza bagaimana kalau… ajak aku. memberi tahu tentang rencana libur panjangnya. Kami akan jihad di leprosium. Garsini sesaat mengguncangguncang lengannya. Sungguh amat kontras dengan karakternya yang Srikandi! Haliza terperangah dalam rasa bersalah. Tapi manakala dilihatnya wajah cantik itu dikabuti rasa bersalah. Sementara gaya hidup di Jepang sangat mahal! “Tidak. suasana kuil Budha di Nara musim semi begini…” Apa Haliza lupa. aku tidak tahu mau ke mana!” pintas Garsini terdengar agak mengeluh dan balik menatapnya. “Aku sama sekali tak punya rencana ke mana-mana…” “Bagaimana kamu bisa…” Haliza terheran-heran menatapnya. meletakkan alat pengering rambut di atas dipannya dan menghampiri Garsini. “Aku dan beberapa rekan akan melakukan kerja bakti di pulau Pusan. “Oh. ya. ya kan? Mau ke mana? Kyoto atau Saporo? Ooh. ya? Suara dokter muda itu terdengar begitu bersemangat. “Di mana pulau Pusan dan apa itu leprosium?” tanya Garsini ingin tahu. *** Haliza mendadak berhenti. Telepon pun memperdengarkan suara klik.” katanya riang seperti biasa. please?” pintanya terdengar mengiba. “Pulau Pusan wilayah Korea…” “Korea… jadi Aa mo ke luar negeri?” Sayup nama Haekal terdengar sudah dipanggil-panggil oleh kelompok baksos-nya. kalau aku bukan anak orang berduit? Memang ada uang saku yang kuterima per bulannya. tapi itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kelancaran perkuliahan.

Garsini telah menyegarkan diri. Ia mencari relawan untuk menggantikannya. Sahabat Jepun-nya itu relawan musiman di museum sains terbesar di Jepang. Ia kemudian bangkit dan berusaha mengubah kemuraman wajahnya. tapi ia pun tak mungkin membuyarkan rencananya.” tukas Garsini gegas merangkul bahunya dan memeluknya erat. Apa masih berlaku tawaran dari Nakajima-san sebagai relawan MeSci. museum sains itu. Mayumi-san. Garsini tersenyum paham. Tentu bukan sekadar undangan biasa.” jelas dara Malaysia itu dengan wajah memerah. Ada maksud lebih jauh di luar sekadar menampung seorang mahasiswi yang ingin menikmati libur panjang. kata Mak Tuo tu… Ngng. Tak mungkin kan kalau tiba-tiba…” Suara Haliza terdengar terpatah-patah. hm…?” “Mereka beramanat agar aku tak banyak bawaan. “Tak apa. ia bertanya keheranan. “Sungguh kau tak apa-apa?” Haliza telah siap berangkat. Ia menggelengkan kepalanya. sementara dirinya bepergian ke luar kota selama beberapa hari. Masih diliputi perasaan bersalah. minta pengertiannya yang dalam.harapannya hanya akan menyulitkan Haliza. ya Garsini… Tentu mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Haliza. ya? Lelaki tua itu mengingatkan Garsini kepada mendiang kakeknya. Mereka keluarga calon suami Haliza dan khusus mengundangnya. Berjalan menghampiri ransel berukuran sedang yang sudah siap menunggu pemiliknya membawanya kembara itu. Wajahnya berseri-seri dan sarat percaya diri seperti biasa. 8 . sudahlah… Jangan khawatir. mahasiswi jurusan sastra yang menyampaikannya kepada Garsini. “Hanya ini bawaanmu. masih famili Abang Rashid. Ia tentu saja tak ingin mengganggu sebuah keluarga yang hendak mempererat tali silaturakhim. Perlahan dilepaskannya tangan gadis itu dan otaknya mulai sibuk menemukan gagasan. “Afwan. Musim semi ini ia bermaksud mengunjungi keluarganya di Saporo. tampaknya siap pula hendak bepergian. Semuanya sudah disediakan.

bertemperasan hampir secara serempak. melihat-lihat hotel yang pantas untuknya. gadis Austria ikut merandek demi melihat Garsini menghentikan langkahnya. Setelah beberapa saat lalu para gakusei yang kebelet menikmati liburan musim semi. itu memang benar dan ia baru mengingatnya lagi kini. Sebaiknya aku jalan saja. Ada karung besar teronggok tak jauh dari sang nenek. dan secara serempak pula mengklakson mereka tanpa ampun. hingga seolah balik menteror. jalan bergandengan menyusuri koridor yang telah lengang. Miss Garusiniii…?” ledek Clarissa. menyerbu seluruh lapisan masyarakat dan usia bangsa ini. aneh dan geli mengenai hal ini. sepupuku dari Holland akan libur di Tokyo. sebagian besar telah lama mukim di sini. atau merencanakan wisata ke tempat rekreasi yang sejak lama diidamkan. Bermaksud balik ke Chofu dengan keiosen. 9 . “What the matter with you. Mungkin karena sepagi itu mereka telah dipanggil. Keduanya meninggalkan kamar. kereta. pria dan wanita Jepang lebih suka menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Ada beberapa pengalaman mulai dari yang lucu. Miss Garusini. Fenomena work-cholic dari saat ke saat kian merata. nenek renta yang tengah mengumpulkan sampah. Ditunggu oleh taksi-taksi yang telah mereka panggil. dialami Garsini selama mukim di Jepang. ia paling yunior di antara lima gadis dan tiga pemuda yang baru jalan-jalan di Shinjuku. Ia tengah jalan bareng rekan-rekan kuliahnya dari berbagai bangsa.” Dalihnya tak dibuatbuat. *** Garsini tahu. Suatu hari Garsini melihat seorang nenek renta tengah sibuk mengumpulkan sampah di pelataran eki. Padahal saat awal libur musim semi begini nikmatnya berkumpul bersama anak dan istri di rumah. Sementara ia begitu seksama dan cermat memperhatikan suasana sekitarnya. Garsini tertegun-tegun memperhatikan Abaasan. demikian rekan-rekan Jepun kadang menyebutnya. stasion kereta.”Aku baru ingat. Jadi.

Mana ada pemandangan macam ini bisa ditemuinya di Jakarta atau Depok. berseliweran dengan mobil-mobil mutakhir keluaran pabrik negerinya… Menuju gedung-gedung pencakar langit. Baru satudua kali jalan seorang diri. Diam-diam ia kembali gabung dengan rekan-rekannya. Coba bayangkan. ia sering merasa dirinya paling tahu. Karung di atas troli yang dijadikannya tong sampah itu isinya sudah padat.” bisik Garsini ketika akhirnya Tasya jadi tertarik. tempatnya bekerja! “Garsini. Menghuni apartemen canggih yang harga sewa per bulannya ribuan dolar.“Baru lihat orang Jepang kerja. “Kasihan juga. biar kerjaannya cepat selesai?” cetus Garsini merasa tak tahan lagi. ya…?” bisik Tasya menatap iba ke arah Abaasan yang kini kelihatan susah payah mendorong trolinya. Ini di negeri mereka. malu-maluin bangsa Indonesia aja!” Tasya si Manado dari kejauhan memperingatkan Garsini. 10 . Gadis ini hanya selang satu semester tingkatannya dari Garsini.Sang Pembersih. Sementara kala itu. “Kita bantu. Tapi. balik menghampirinya dan menjejerinya. orang Jepang yang terkenal sebagai turis pelit di kawasan wisata Indonesia. bekas minuman dan kotak makanan. Dalam bilangan menit. Para pengusaha elektronik. ya? Ups. para eksekutif arogan di Jakarta. tukang sampah nich yeee…!” cemoohnya dan bibirnya yang sensual manyun. hati-hati kalau ngomong. ia telah memunguti lusinan bekas softdrink di sekitarnya. tapi terus juga dipenuhinya dengan sampah yang berhasil dipungutinya. melanjutkan perjalanan. bahkan melebihi para seniornya. jangan norak dong. Garsini untuk ke sekian kalinya jalan bareng rekan-rekannya. Clarissa sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua gadis Indonesia itu. Tapi ia sama sekali tak berniat turun tangan kecuali ada hal darurat yang bisa merubah keputusannya. Sementara Abaasan semakin sibuk memunguti sampah. “Ssst. pikir Garsini sambil mengagumi gerak-geriknya yang amat cekatan dan terampil.

anak-anak korban perceraian ortu. Namun. setelah hampir setengah jam membantu Abaasan di pelataran eki. Mungkin sejak keluarganya pindah dari Manado ke Jakarta. anak-anak kemudian bertemperasan dititipkan ke sanak famili di pelosok Tanah Air. Sejak Mami cerai dengan Papi. kereta dari Shinjuku ke Chofu. pikirnya terheran-heran. dia kira aku tak punya Allah. usia mereka masih tergolong teeneger. berdua Garsini si pendatang di tempat asing begini? Memang sih ia lebih dulu mukim di Negeri Sakura. Bagaimana kalau kesasar. Dialah yang senantiasa mengarahkan kaki-kakiku ini hingga tak nyasar…” Ugh. jadi terpaksa mengikuti jejak Garsini. Bapa! Garsini telah melesat ikut turun tangan. Tasya sungguh kaget saat diketahuinya kemudian Garsini sudah berani jalan seorang diri. iya kan?” Tasya terengah-engah saat menghambur ke dalam keiosen. Garsini hanya tersenyum lega. “Ahaaa… asyik juga bisa bantu orang Jepun itu. selalu jalan bareng rombongan. ya? Tanpa pamrih begini. Tapi Bapa dan anak Allahku itu sudah lama tak pernah kutengok di gereja. ada pahalanya.“Ngng…” Tasya menyadari mereka sudah tertinggal jauh dari rombongannya. 11 . Ketika Tasya mempertanyakannya. ia tak punya nyali untuk jalan seorang diri. bila terus didesaknya barulah ia memberi jawaban yang ajaib di telinga Tasya. bisa bergabung lagi dengan rombongannya dalam satu gerbong. Bagaimana mungkin dirinya yang lebih senior bisa dilangkahi si anak bawang. Sesekali berhenti. Mereka pun asyik membantu sang Abaasan. menjejeri nenek tua itu mendorong trolinya. di bawah duapuluh. Tasya tak berhasil menemukan rombongannya lagi. memunguti sampah yang sesungguhnya hanya satu-dua saja tampak di sekitar mereka. Rekan-rekannya hanya senyum-senyum kecil melihat kelakuan kedua gadis belia itu. apakah Garsini tidak merasa takut jalan sendirian di negeri asing? Garsini hanya tersenyum manis. Lindungi kami. pikir Tasya. “Kenapa mesti takut? Karena ada Allah Sang Maha Penunjuk.

“Iya. Peter. “Selamat tinggal. “Sepupumu. Setidaknya dari lantai dua. tempat tinggal sekitar seratus mahasiswa asing dari berbagai warganegara. Jadi. senyap. antara lain memunguti sampah pada hari libur atau saat-saat tertentu. bo! *** Kehebohan luar biasa itulah yang telah membangunkan Garsini dari tidurnya di pagi buta. Ada kebekuan mengapung di tengah mereka.” Clarissa nyeletuk sambil menuding-nuding keluar jendela. Geeerrr… rekan-rekan lainnya seketika tertawa terbahak-bahak. ya?” sahut Clarisa sambil ngakak. Garsini melongokkan kepalanya melalui jendela kaca di sampingnya. Dalam keriangan. ya?” Haliza melirik gadis itu. ingin tahu. ada kebiasaan para lansia Jepang melakukan bakti sosial. Tampaklah Abaasan dan beberapa kakek yang tahu-tahu sudah bergabung dengan mereka. sampai jumpa lagi…” jawab Maria Linares. Garsini tak menyukainya. Sementara Garsini hanya mesem-mesem tulus. ja mata…!” seru mereka bak dikomando saja. memunguti sampah itu. gadis Manila. Tasya lebih banyak bersungut-sungut menyesali kelakuan mereka. Sepanjang sisa perjalanan itu. “Sayonara. Kini barisan lansia itu tersenyum senang dan melambai-lambaikan tangan ke arah dirinya dan Tasya.“Lihat. “Apa katanya?” tanya Garsini bingung. semangat dan keikhlasan seperti biasanya mereka rasakan selama ini. Sekarang asrama putri ini terasa lengang. “Lain kali kalian harus lebih rajin mengumpulkan sampah bersama mereka. Ia baru tahu. Abaasan itu bukan tukang sampahlah. Mungkin tinggal mereka berdua yang belum angkat kaki dari tempat ini. Ia cepat ingin mengubah suasana hati mereka kembali. Mulai mencium keanehan. putra Tante Arnie yang mukim di Holland. mereka mengucapkan terima kasih kepada kalian. Rasanya aku pernah mengungkitnya kepadamu… Dia pernah berencana melanjutkan studi di 12 .

Hanya kawula muda pilihan saja yang sanggup menjalani hari-hari “neraka” macam itu. Tapi entah mengapa urung.” katanya riang dan tulus. Haliza tersenyum lega mendengar keriangan suara sohibnya. Seolah mereka takkan pernah bersua kembali. Semangat dan keriangan telah kembali mewarnai wajahnya. Haliza. “Waalaikumussalam. Ia tak ingin melihat sohib tercinta terluka. Mereka berhak bersenang-senang setelah menjalani jadwal aktivitas yang begitu padat. Garsini?” tukas Haliza terdengar menghiba. “Baiklah. Sebuah taksi telah menantikan Haliza.Jepang. “Kaulah yang mesti hati-hati dengan keluarga Raja di Raja Malaysia tu. hati-hatilah dengan sepupumu itu. Sebuah salam yang kerap keduanya perdengarkan kala bertemu atau berpisah. “Dan kuharap kau takkan… mmh.” bisik gadis Malaysia itu saat akan berpisah di teras asrama. Ee. Takkan terjangkau oleh uang saku yang mereka peroleh dari pemerintah Jepang melalui beasiswa.” balas Garsini dan ia sungguh mulai mencemaskan hasil kunjungan sahabatnya kelak. Keduanya berangkulan dan berpelukan erat. Hanya pada kesempatan istimewa saja para gakusei memanggil taksi. Hari ini memang pengecualian. *** 13 . ya. sarat tekanan luar biasa. tahu-tahu kabarnya dia kini telah menjadi seorang tentara Kerajaan Belanda. seandainya nanti…” “Yeah… tolong restui aku.” balas Garsini.” ujar gadis Malaysia itu tertawa. dan membuat rekan mereka sering keheranan atau hanya tersenyum maklum. mengingat tarifnya tinggi. “Lekaslah masuk!” Garsini mendorongnya masuk taksi dan melemparkan ranselnya ke jok belakang. “Assalamualaikum.

Pesawat KLM beberapa saat lalu telah mendarat mulus di landas pacu bandara yang terkenal dengan teknologi canggih se-Asia itu. suatu petang yang sejuk. Ini diakibatkan oleh sejumlah peristiwa pemboman hebat di berbagai belahan dunia. Peter. kawatnya? Seperti apa rupanya sekarang anak bawel itu? Masih tomboykah dia. “Exuse me… Anda bicara apa?” susulnya dalam bahasa Inggris. Harum jantan meruap dari tubuhnya. Ia tahu gerak-geriknya tengah diperhatikan oleh rekan-rekannya dari kejauhan. Namun.Bab 2 Bandara Narita. hmm! “What?” Peter celingukan. tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat ringkas di hadapannya. Adakah anak bawel itu di antara para penjemput? Aku bukan anak bawel lagi. Petugas memeriksa bawaan mereka dengan ketat. Peter. Aku sudah dewasa. Ganteng sekali dia. “Anata no o-namae wa nan desu ka? Ryoko wa tanoshikatta desu ka?”5a Gadis Jepang itu semakin tergairah menggodanya. Sekilas ia melayangkan pandangannya ke kejauhan. Belakangan suasana bandara di seluruh dunia dicekam ketakutan dan kengerian luar biasa. rambut cepak dan celana jeans belel bolong-bolong? “Yokoso Nihon e irasshaimasen…4” seorang pramugari yang melintas di sebelahnya. sudah jadi akhwat… Ketika itu Garsini mahasiswi di Universitas Indonesia.” “Siapakah nama Anda? Perjalanan Anda menyenangkan?” 14 . 4 5a “Selamat datang di Jepang…. Tentara Kerajaan Belanda. seorang pemuda berseragam militer antri dengan sabar di antara para penumpang yang baru tiba dari Holland. keluar berdampingan dengan pramugari yang memiliki wajah mirip boneka Jepang koleksi ibunya itu. Ia telah selesai melalui pemeriksaan. Begitu bangga dia menceritakan tentang rekan-rekan apa itu. Para penumpang mengalir keluar dari pintu kedatangan. iseng menyapa pemuda itu.

” balas Garsini mulai memperlihatkan keras kepalanya. shitsurei desu ga6…” “Sayonara. Tante Arnie pasti telah berusaha keras mewariskan kepadanya. jangan begini!” Garsini merenggangkan pelukan sepupunya. bahasa pemersatu bangsanya itu. enerjik dan terus-menerus tersenyum bandel ke arahnya. kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. “Dia tak bisa bicara Nippon. mirip sekali Takeshi Kaneshiro… Long Vacation! Gadis Jepang itu gegas-gegas berlalu. “Kamu adikku!” Peter mejawil hidungnya seperti kebiasaan saat mereka kecil dahulu. Peter tertawa lebar. ya? Coba bilang dari tadi. harus mencari tempat untuk shalat maghrib. ya? Sepupu dari Holland. “Dia mengucapkan selamat datang di negerinya.” katanya dalam bahasa Jepang yang lumayan. Mirip apanya. “Kamu sama sekali tak beri kesempatan. “Tidak juga. menanyakan nama juga tentang perjalananmu.“Hai. “Hei. Apalagi si tentara itu. “Huss. jika mengantar 5b 6 Terima kasih maaf permisi 15 . membungkuk hormat.” Garsini tak bisa lama-lama di sini. Sebab Mamaku kakak Mamimu. Sekejap Peter sudah memeluk gadis itu. aku akan berikan kartunama yang bagus untuknya.” Garsini sambil melirik arlojinya. “Domo arigato5b… Dia sepupu saya dari Holland. Karena ia tahu. kamu yang adikku. Peter masih berdiri rikuh memandangi makhluk jelita. Ooo. sayonara… Sampai jumpa!” balas sang pramugari tersipu malu dan menatap wajah keduanya sekilas. dia sendiri dari mana? Tampang kalian mirip orang Jepang. pasti ini dia si bawel Garsini Siregar. menuju beberapa rekannya yang masih memperhatikan pagelarannya sambil cekikikan. tadi itu apa sih? Kamu bicara apa dengan pramugari itu?” Seketika ia memprotes dalam bahasa Indonesia yang lumayan bagus. Tentu saja mengingat dia telah meninggalkan Indonesia sejak umur lima tahun. Broer Peter!” Garsini tersenyum ramah kepada sang pramugari. pekiknya dalam hati.

“Bagaimana kalau kamu nggak ada nanti? Bisa bicara apa aku di sini?” tanyanya seperti bocah ketakutan. Garsini?” “Insya Allah tidak!” sahut Garsini mantap membuat Peter terperangah. Seketika pemuda itu merasa penasaran sekali. Di tengah kesibukan tibatiba harus shalat.Peter ke hotel yang telah dipesannya akan memerlukan waktu yang cukup panjang. hingga Garsini tertawa geli. Mmh. *** Setelah satu malam tinggal di hotel bergaya Barat. Garsini berusaha tetap tersenyum riang. “Apa menjadi Muslimah itu sulit. aku mau sake Jepang!” kata Peter menukas cepat. “Huss!” Garsini tertawa geli melihat semangat sepupunya yang super tinggi itu. Ia sangat mengandalkan sepupunya. mata Peter tak lepas-lepas mengawasi kelakuannya. Peter memutuskan menerima saran sepupunya. di tengah bangsa asing begini? Peter teringat ibunya yang masih mengaku orang Islam. tapi aku harus shalat maghrib dulu. “Tak ada apa-apa. Matanya telah menangkap suatu sudut yang lumayan sepi di sekitar situ. terutama berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. wajah Peter langsung ditekuk lucu. ya? Sementara aku shalat kau bisa menikmati…” “Sake! Ya. Begitu Garsini kembali menghampirinya. Tapi diantarnya juga sepupunya ke sebuah coffee house. Ketika Garsini menunjukkan sebuah penginapan tradisional. Apa dia tak menemukan kesulitan hidup seperti itu. 7 penginapan 16 . pindah ke ryokan7 ala Jepang. begini saja kita ke kafetaria itu dulu. Apa yang terjadi dengan anak itu? Begitu taatnya dia menjalankan syariat agamanya. tapi belangbentong menunaikan shalat lima waktunya. “Ada apa?” tanya Peter cemas dan menangkap kegelisahannya. Ketika Garsini menunaikan shalat maghribnya di sudut sepi itu. ia langsung menohoknya dengan pertanyaan.

Sekilas Peter tampak mirip dengan para pemuda Jepang lainnya yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Tapi sekarang. cucunya justru menjadi abdi Kerajaan Belanda. mereka bercerai dan ibunya menikah lagi dengan pria Belanda. Siapa pernah mengira sepupunya yang sejak kecil bercita-cita studi teknik informatika di Jepang. ini jalan kita…” “Bercanda kamu… It’s funy!” Peter seketika tergelak geli. bahkan kemudian berusaha keras mendapatkan beasiswa teknik kedokteran… Tapi sekali lagi.. “Kamu seorang serdadu. Ironisnya hidup ini! Peter kelihatan masih merasa menyesal. kan?” *** 8 sebutan untuk kakak lelaki. Broer. Opa nggak bilang apa-apa tuh waktu terakhir aku menziarahinya di Cikutra. Kalau Opa masih hidup apa komentarnya soal profesi yang kamu pilih ini.” gumam Peter terdengar menyesal. Itu akan sangat membantumu.“Jangan khawatir. “Opa akan menangis darah. Siang itu mereka berjalan kaki menuju sebuah penginapan. kakek mereka berjuang dengan jiwa raga. “Sejak SMP kutahu kamu sudah bercita-cita menjadi dokter.“Nanti kuberikan kamus praktis bahasa Jepang. malah menjadi seorang militer? Siapa mengira pula kalau ia yang sejak lama ingin menjadi dokter. inilah jalan-Nya! “Kenapa kamu nyasar ke teknik informatika. Jepang dan Portugis. tapi tak bisa berbuat apa-apa. ya?” Garsini menjawil pet hijau yang bertengger di kepala sepupunya. Celana jeans hitam dengan t-shirt berlengan sportif. Garsini menepuk tangannya dan berkata riang.” Garsini menenangkan. Jangan merasa bersalah. dan menggantinya dengan pakaian santai. darah dan air mata melawan penjajah. Ayah Peter adalah etnis Manado. Mereka telah hafal betul kisah heroik Opa tercinta..8 Hmm. Dulu pertama datang aku juga memanfaatkannya. Belanda 17 . Untuk pertama kalinya Garsini melihat sepupunya melepas seragam militer. Garsini?” tanya Peter. seketika dipandanginya penampilan sepupunya lekat-lekat. Di zaman revolusi 1945. Di negerinya kolonialis itu identik dengan Belanda.

Dara Jepun itu memberi banyak informasi yang memang sangat dibutuhkannya kala itu. Sehingga akhirnya mereka mendapatkan jalan keluarnya. mahasiswi sastra yang banyak membantunya. hanya menimbulkan rasa frustasi dan putus asa saja. Sungguh sangat melelahkan. bagaimana hancurnya seluruh bangga ayahnya jika ia kembali sebagai seorang pecundang! “Pasti dia anak orang penting dari Indonesia. “Orang yang sudah menyerobot posisimu itu!” sergah Peter.Garsini tak ingin mengenang saat-saat tak mengenakkan pada minggu pertama keberadaannya di Tokyo. Ya. kala menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya. ia menuntaskan permasalahannya. Lagi pula Haekal tak bisa terus-menerus mendampinginya. Pikirannya sesaat melayang ke pulau Pusan. Aku harus menerima kenyataan ini. Mungkin juga ke pihak panitia pemberi beasiswa di Jakarta. Sementara masa perkuliahan sudah akan dimulai. menemani Garsini ke beberapa tempat. Mereka sudah sampai di depan meja resepsionis ryokan. lebih baik kuterima saja daripada harus kembali ke tanah air! Tak bisa terbayangkan oleh Garsini. Wajah Garsini sekilas tampak memerah. Melepas rasa frustasi yang sekejap membelenggu diri gadis itu. heh?” komentar Peter. 18 . ujug-ujug menyerobot posisinya di teknik kedokteran. Nama lain masih berasal dari Indonesia. karena ia pun harus menyelesaikan urusannya sendiri. Pihak daigaku merasa tak bersalah cenderung langsung angkat tangan. Tak ada siapapun di situ. Kadang Haekal ikut serta bersamanya dalam melacak kekeliruan itu. Ada kesalahpahaman. tapi kemudian mereka menyadari hanya menemukan jalan buntu. kesalahan teknis dan entah apalagi. Kembali hanya berdua Mayumi. Ia sampai rela mengorbankan waktu liburnya sendiri. menyilakannya untuk mengurus kesalahkaprahan ini ke Kedubes RI. Keduanya menunggu beberapa saat dengan sabar. “Dia… siapa?” Garsini tersentak. Sementara namanya terdaftar sebagai mahasiswa teknik informatika. Hari-hari itulah ia bertemu Mayumi.

ya? Hanya karena dia anak orang penting. domo arigato gozaimasu10. terutama sebagai biang pesta dan mengencani banyak mahasiswa asing.”9 katanya ramah. 9 10 “Selamat siang… Selamat datang di Jepang.“ balas Garsini tak kalah santun. Dia takkan lupa bagaimana gerak-gerik memikat. bak burung merak sedang pamer keindahahan. kabarnya di sebuah apartemen indah di kawasan elit. Cewek itu angkuh dan sangat mengetahui persis apa yang diinginkannya. “Jadi seorang cewek. maka dengan mudah merampok keberuntungan anak lain? Tapi bisakah dia disalahkan atas semua ini? Bagaimana kalau dia hanya korban dari ambisi orang tuanya? Kasihan sekali kalau begitu! *** Seorang wanita paro baya mengenakan kimono bagus menyambut kedatangan mereka. dia sangat cantik dan glamour…” Garsini tertawa kecut. Ia tersenyum ramah dan membungkukkan tubuhnya dengan santun. “Oya. “Ayo katakan kepadaku. cantikkah?” “Tentu saja. Saat secara kebetulan di syokudo. membungkukkan badannya dengan baik sekali. ia sempat berpikir sambil menahan kegeraman hatinya. “Apa dia tahu kamulah orangnya?” Garsini menggeleng ragu. Dalam tempo relatif singkat dia telah menjadi bintang kecil di fakultasnya. heh. terima kasih. Begitulah gosip yang beredar di kalangan rekannya di asrama.” “Selamat siang Nyonya. aku pernah bertemu cewek itu. berhadapan langsung dengannya. kamu! Tak ada pacaran di kamus hidupku…” elak Garsini cepat. Bagaimana nurani dan moral gadis ini.“Naah. Dia sendiri tidak tinggal di asrama. “Konnichiwa gakusei-san… irasshaimasen. aula besar di kampus. kamu sudah punya pacar kan?” “Ah. ya?” “Ngng… lihat saja nanti!” Peter menggeram.” Garsini tersipu malu seolah telah dipergoki. “Konnichiwa Okusan. kamu melamunkan siapa?” ejek Peter. “Pasti nggak pantas jadi anak teknik kedokteran.” 19 . Peter tersenyum menang.

“Domo arigato gozaimasu…” Garsini sudah terbiasa dengan tatapan aneh begitu. enerjik. sangat cerdas dan taqwa menjalankan syariat agamanya. cara membungkuk ala Jepang ini telah ia pelajari secara khusus dari Mayumi. Kebanyakan mereka mengagumi tata cara pelaksanaan ibadahnya yang amat disiplin. Di kampusnya Garsini dikenal sebagai mahasiswi teeneger.” pujinya tulus. sunguh menarik. ia selalu berharap mampu menjalaninya lebih singkat.Woo. Tiba-tiba Okusan balik menoleh ke arah Peter dengan tatapan sinis. “Kamu gakusei-san. Ia mengerutkan keningnya. Sesungguhnya mudah saja bagi Okusan untuk menebak asal mahasiswa yang datang ke penginapannya. ya kan?” tanyanya ramah sekali. tepekur membilang tasbih atau shaum pada hari-hari tertentu. Sepasang matanya menyiratkan penghormatan dan kekaguman seorang ibu terhadap anaknya. Garsini mengangguk. percaya diri dan tahu tatakrama tradisional Jepang. ya?” ujarnya langsung menebak. Okusan…” “Tapi bahasa Jepangmu sudah lumayan. “Kamu sangat beruntung bisa menggaet gadis cantik dan 20 . memiliki sorot mata cerdas.“Gakusei-san mahasiswa asing. selebihnya Garsini merasa hepi-hepi saja menikmati masa perkuliahannya. Mereka kerap mendapatinya shalat. “Begitulah. Ia memiliki sepasang mata lebar yang bagus sekali. Pemilik ryokan tampak terpesona. dari Universitas Tokyo. Kebanyakan mahasiswa Universitas Tokyo sangat khas. pikir wanita itu. mengira busana yang dikenakan gadis itu adalah mode mutakhir anak-anak muda. Tapi mata Garsini sama sekali tidak sipit. Empat tahun kesempatan emas yang diberikan mereka kepadanya. selain tatapan aneh. Itu tak membuatnya tersinggung apalagi rendah diri. Mereka memandang heran ke arah busana yang dikenakannya. Sejauh ini. Ya. menatap wajah Garsini sambil tetap tersenyum ramah. “Iya… Bagaimana Nyonya tahu?” Garsini menatapnya terheran-heran. Rekan-rekannya menghargai keberadaannya sebagaimana mestinya. Garsini tak mengalami banyak hambatan. kecewa dan marah. Dan busana yang dikenakannya.

Namun kemudian ia segera menyadari kesalahpahaman. Madame. Okusan dengan serius sekali masih akan melanjutkan acara bungkukmembungkuknya. Indonesu… saya tahu itu di Bali?” komentarnya sok tahu. Bahkan di negeri leluhurku sendiri. Peter mendadak terdiam dan celingukan. Sudah sering saya alami hal seperti ini di Holland. “Sumimasen… Koko ga machigatte iru to omoimasu… I’m verry sorry. Ditemani oleh seorang putri Okusan yang mendekati mereka dengan sikap amat pendiam. Okusan. Menjelaskan bahwa ia telah salah paham menganggap Peter pemuda Jepang yang telah menggaet gakusei asing. Indonesia… Aha. Bahkan sepertinya dimarahi? Untuk sesaat Garsini pun terkesima. “Tidak apa-apa. Begitu Garsini selesai bicara. Percayalah. Membisikkan sesuatu ke telinga Peter. rikuh dan gerak-gerik lamban. Tapi ingat. serba canggung. memalukan nama bangsa saja…” gerutunya pula saat melihat Peter masih tersenyum-senyum. keduanya melihat kamar yang telah dipesan. perlahan wajahnya merah padam. jika Garsini tak segera mencairkan suasananya. apa kata rekan-rekannya di daigaku nanti! “Kami bersaudara. Ia cepat memutuskan untuk meluruskannya. “Ooh.” Garsini bicara serius dengan wanita itu. Sehingga sepintas lalu 11a “Maafkan… Saya kira ada kekeliruan di sini… maafkan saya. Sementara Peter semakin bingung. dia sepupu saya. bingung.” ujar Peter ramah dalam bahasa Inggris. hah! Sungguh menjijikkan. “Tampang saya memang mirip orang Jepang. kami tak suka kalau kamu hanya memanfaatkannya!” cerocosnya tajam dan ketus sekali. Berabe. ternyata Okusan paham bahasa Inggris!” pujinya pula tulus. Beres urusan pesan tempat. “Mentang-mentang tampangmu mirip Takeshi Kaneshiro.kelihatannya tahu adat ini. hingga pemuda itu tertawa ditahan. sebelum situasinya semakin parah bahkan bisa berakibat fatal. Okusan balik menghadapi Peter kali ini dengan sikap santun yang sangat berlebihan.”11a katanya dalam sikap amat malu dan merasa sangat bersalah.” 21 . kenapa tiba-tiba ia diperlakukan galak dan ketus oleh wanita itu.

Peter acuh tak acuh melanjutkan hasil pembelajaran praktisnya selama di dalam kamar.. Kebanyakan tamunya adalah turis asing yang berminat merasakan nuansa tradisional Jepang. “Ei-go de hanashite kudasai… yeah. sok tahu kamu!” tegur Garsini menatap iba ke arah gadis bertubuh gemuk pendek itu. saya mengerti!” 22 . “Nihon-go wa wakarimasen… sumimasen!”11 tiba-tiba Peter menyela. Wakarimasu ka?”12 “Haik. Sementara Okusan harus melayani para tamu yang mulai berdatangan. Itu langsung disampaikannya kepada Garsini. ketika Garsini tengah memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya sambil berusaha keras mengajak berkomunikasi putri Okusan. “Haik!” katanya. “Jangan khawatir. Ketika keduanya kembali ke depan. yeah pelan-pelan… Anda mengerti?” 13 “Ya. Dalam hati ia terpaksa mesti membenarkan kesimpulan kilat sepupunya. Okusan dan Garsini menoleh ke arahnya. Tampaknya Peter merasa puas dan menyetujui untuk tinggal di situ selama beberapa hari. pamer hasil studi kilatnya dari kamus praktis pemberian Garsini. “Dia setuju untuk menginap di sini beberapa hari…” “Haik. apa itu ya. Hebat. “Okusan.” Garsini tersenyum lembut kepadanya. Biasanya mereka menginap satu-dua malam sebagai transit.. kemudian akan melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata lainnya. domo arigato. Wajah Okusan merona tapi ia kembali membungkuk. kami sangat beruntung.pun Peter sudah bisa menarik kesimpulan. gadis itu seorang terbelakang mental. masih dalam perasaan bersalah. beautiful to!” Peter mengerling nakal. Garsini? Yeah. eh. yukkuri. menatap Peter dengan surprise. wakarimasu!”13 sahut Okusan sambil lagi-lagi membungkukkan tubuhnya. Okusan telah menanti mereka dengan wajah harap-harap cemas. “Psst. gadis itu hanya menyahut dengan mengiyakan atau mengangguk. pikirnya. Okusan.” Okusan tampak lega sekali. 11 12 “Bahasa Jepang saya payah… permisi!” “Tolong bicara dalam bahasa Ingris. seorang militer muda dan punya pengetahuan atau bakat psikolog juga. Usaha yang sia-sia.

Semuanya. Apakah dia selalu begitu antusias? “Semuanya. Okusan…” kata Garsini pamitan. ini dan ini juga ya…” Ia menunjuk contoh makanan yang dipajang di rak. Kita cari makan di luar. Ups. “Aku mau makan semuanya. Mereka berjalan kaki menuju restoran yang tak jauh dari penginapan. masih terengah-engah tentara Kerajaan Belanda itu menunjukkan protesnya. Mereka betul-betul mau meracuni perutku. “Sayonara. Ia pernah tiga kali mengunjungi Indonesia. tapi membiarkannya saja. “Kami pergi dulu. Garsini. “Jangan pernah lagi ajak aku ke restoran Jepang itu. “Tentu saja. ja mata. gakusei-san. semuanya saja!” Garsini menatapnya keheranan. “Sudah. Disambarnya lengan sepupunya dan berkata. Okusan!” Peter sambil tertawa bandel ke arah pemilik ryokan. aduuuhhh…” 14 potongan kecil makanan mentah hasil laut di atas nasi 23 . replika makanan itu selalu tampak menggiurkan dan mengundang selera siapapun yang melihatnya. sungguh semuanya?” tanya Garsini minta ketegasan. Garsini menatap daftar menunya dengan cemas. Garsini melihatnya kepayahan terhuyunghuyung menuju kloset.” keluhnya. kemudian cepat sekali memesan kepada seorang pelayan. yap!” Peter amat bernafsu. Sampai jumpa!” balas Etsuko-san. Beberapa menit kemudian. jangan bercanda lagi. “Lebih hormat daripada orang Jawa. pergi ke Yogyakarta dan Bali. “Kamu mau mencicipi sushi atau kujira?” tanya Garsini ketika sudah sampai di sebuah restoran kecil. “Aku mau yang ini. “Kamu kelewatan. merasa iba juga kepada Okusan. jangan sia-siakan kesempatan selama di Negeri Ninja ini. terutama sushi14 dan kujira15-nya. ya?” Peter tertawa lepas dan geleng kepala sesampai mereka di luar.Garsini menahan tawa. hehhh. lagilagi mengantar kepergian mereka dengan membungkuk takzim. Ketika ia kembali wajahnya tampak pucat pasi. hayoo!” “Haik! Haik! Sayonara. hampir saja ia mengucap salam lekum-nya.

. Nakajima-san.” “Tentu saja saya datang. Nasional Museum of Emerging Science and Innovation. ia selalu terkenang akan mendiang kakeknya. *** 15 bistik yang terbuat dari ikan paus 24 . “Akhirnya kamu mau datang juga. “Ohayo gozaimasu16. wah. tak menyangka keadaan sepupunya ternyata jauh lebih parah daripada dirinya. pikirnya. betapa mudahnya orang Jepang memuji. sutekina fuku desu ne… bajunya bagus ya? Ia sangat sering mendengarnya.Garsini menatapnya terkejut dan iba sekali. Mungkin bingkisan spesial untuk cucunya. mengenakan pantalon warna coklat tua dan kaos berleher di balik jas wol santainya. orang tak dikenal yang ditemuinya di gerbong kereta. terima kasih.” suara Garsini agak tercekat. dan sebuah bingkisan dikemas dengan kertas bagus teronggok di sebelah lelaki tua itu. nggak cocok dengan perut mereka! *** Nakajima-san sudah tampak di depan gedung MeSci.. ketika pertama kali datang dan “dijebak” begitu oleh Tasya. Setiap kali bertemu Nakajima-san. Opa pergi terlalu cepat.” katanya balas membungkukkan tubuhnya. “Gozaimasu domo arigato. Waah… anatawa kirei desu ne!” “Terima kasih. Aku sempat mengira kamu menolak tawaranku melalui Mayumi-san tempo hari.” paras Garsini merona dadu. Kedua jenis makanan khas Jepang itu memang sungguh-sungguh. Atau.” sapa Garsini memberi salam. bahkan sebelum berhasil menerbitkan memoar yang sedang disusunnya. bahkan dari nenek-nenek. Usia mereka sebaya kalau Opa masih ada. Ia memang tinggal di kawasan itu. Garsini-san. Kalimat seperti itu. Meskipun ia mulai menyadari. Ekor mata Garsini melihat tas berukuran sedang. wah kamu cantik sekali. Tampaknya ia sudah siap bepergian. Dari rekan-rekan Nippon di kampusnya. Tapi pujian dari Nakajima-san terdengar tulus di kuping Garsini. Lelaki berumur tujuhpuluhan itu menyambut kemunculan Garsini dengan wajah berseriseri.

Tiba-tiba kakek itu menyerahkan sebuah amplop kepada Garsini. “Saya ada banyak waktu musim libur ini. “Yang penting bisa bertemu Aiko. Garsini pernah berhutang budi. sahabat Jepun-nya itu. Seperti halnya dengan Mayumi. “Yah. mungkin tiga-empat hari saja. memanfaatkan fasilitas terknologi terkini di fakultasnya sebelum perkuliahan dimulai. Rekan-rekannya belakangan baru bisa mengikuti jejaknya. Di masa mudanya Nakajima telah membaktikan hidup dan ilmunya sebagai staf pengajar di Universitas Tokyo. ia baru teringat lagi kepada sepupunya. Rasa tanggung jawabnya yang tinggi. Tapi sesaat kemudian. Sehingga rekan mereka kerap menyindir keduanya sebagai cucu Nakajima. begitu bisa liburan ke Jepang langsung menuju Saporo.” 25 .” tukas Garsini menenangkannya.” Garsini mengangguk simpati.” janji Nakajima-san sungguh-sungguh. Ia bisa merasakan kesepian dan kesunyian hari-hari sang kakek. Mayumi banyak cerita tentang Nakajima-san. Mereka turis remaja Belanda yang dikenal Peter di hotel. 16 “Selamat pagi. Pak Nakajima. “Ini sungguh tidak akan lama. setidaknya sampai Anda kembali akhir pekan…” tambah Garsini. aku takkan pergi lama.Bab 3 “Jangan khawatir. Selama ini mereka tinggal di Korea. berkat rekomendasi Nakajima-san beberapa urusannya di daigaku mendapat kemudahan. tempat menginap sebelumnya. Hanya beberapa hari. Di Tokyo lelaki tua itu tak memiliki keluarga lain sejak istrinya meninggal sepuluh tahun yang silam. Peter memintanya ikut dengan rombongan tur keliling Jepang. Ketika pensiun ia memutuskan untuk menjadi staf museum sains terbesar di Tokyo ini. putraku Kurasawa seorang eksekutif penting yang sangat sibuk. yang kerap diakuinya sudah seperti kakeknya sendiri. tempat keluarga menantuku. sungguh membuat hati Garsini terharu sekali. cucuku semata wayang… Kau tahu.” janji Nakajima-san.

” katanya terengah-engah. Ia bergulung-gulung dan sebentar lagi bisa jadi akan berubah menggumpal menjadi awan. menanti. Kamu mau gantikan aku. kuatkanlah hatiku untuk bertahan di negeri orang ini. tanah airnya dan rumahnya di Depok. “Taksinya sudah menanti di seberang. Ya Allah. Ada sesuatu yang tak beres. Mungkin aku takkan punya kesempatan lain. seolah bisa menangkap kerinduan gadis itu.“Di sini kutuliskan daftar yang harus kamu pelajari. tak membuat goyah tali persahabatan 26 . Mata Garsini terasa menghangat. Begitu sudah ada di hadapan mereka. Mereka keluargaku. panggil begitu. pikirnya was-was. tapi Pak Nakajima…” “Jangan ditolak. Pak…” Garsini seketika merindukan mendiang kakeknya. ya?” tukas Nakajima-san meminta dengan nada tulus. “Uji-san…” “Bagiku ini kesempatan sangat baik bertemu anak-menantu dan cucu. aku berterima kasih kepadamu. Mayumi datang berlari-lari menghampiri mereka.” Ada yang mengapung dari sepasang mata Uji-san. “Oh. Uji. bagaimana kususuri hari-hariku mendatang selama empat tahun? Mungkin ditambah dua tahun lagi untuk program S2 kalau mereka masih memberiku beasiswa. juga ada uang saku untukmu. seperti kapas-kapas berarak di langit musim semi. Ia sudah janji untuk mengantar Nakajima ke bandara.” jelasnya tersenyum hangat. selalu tergila-gila akan segala sesuatu berbau Barat dan serba modern. Perbedaan pembawaan yang sangat kontras di antara Garsini dengan Mayumi. itu sungguh membantu mengingat ini musim libur. ada apa ini? Garsini seketika merasakan dingin. Roknya yang pendek berkibar diterpa angin nakal musim semi. Wajahnya yang putih tampak memerah segar. Aaah. Teman-teman sebayamu ribut melancong…” “Saya memang tidak punya rencana pergi. ia membungkuk cepat. Mayumi prototipe gadis Jepang modern. “Kakek. Ini baru beberapa bulan.

ya.” Mayumi berusaha tersenyum riang. lalu seperti Garsini harus menempuh perjalanan dengan taksi dan boat. ”Oyaho gozaimasu. Menemukan Mayuko-san sering batuk hingga tampak kewalahan. Nakajima sekali lagi memberi petunjuk singkat kepada Garsini. “Nanti aku mampir tengah hari. ya Mayumi?” Garsini pernah mampir beberapa kali ke rumah sahabatnya. jengah. Dan keteguhan gadis Indonesia itu dalam menjalankan syariat agamanya. Islam. Seharusnya ia yang lebih dahulu menyapanya bukan sebaliknya. Jarang sekali museumnya menerima relawan berusia muda. Janjinya telah dibuktikan dengan bangun di pagi buta. “Bagaimana keadaan Okusan?” tanya Pak Nakajima kali ini terdengar khawatir. Baikbaikkah?” “Semuanya baik-baik saja. “Sumimasen… maafkan terlambat. tapi tadi sudah janji akan menemui dokter Ikeda di klinik perusahaannya. Tapi baru sebatas ingin tahu lain tidak.” Ada kemuraman membersit di wajah porselinnya. mau merangkap tugasku dan tugas Pak Nakajima. hingga Mayumi tersipu-sipu. gegas meninggalkan rumahnya di Tokyo. tapi ditatapnya Garsini dengan hangat. Garsini mengagumi bakti gadis itu terhadap ibunya dan seorang kakak lelakinya. sesuatu yang kadang menggugah rasa ingin tahunya. Mayumi-san…” nadanya terdengar menegur. Gadis itu bersikeras ingin mengantar Pak Nakajima sampai bandara Narita.” sahutnya agak muram. silakan kalian berangkat. Sebaliknya Mayumi juga amat mengagumi kemandirian dan rasa percaya diri Garsini. mengenai teknik pelaksanaan sebagai relawan di museum kesayangannya. kebanyakan para pensiunan dari 27 .” ujar Garsini. “Yah. “Belum baik jugakah?” “Okusan keras kepala. “Masih batuk-batuk juga. oke?!” janji Mayumi. Kita akan punya waktu leluasa mereguk ilmu pengetahuan sepuasnya di sini.mereka. tadi saya harus meyakinkan Okusan agar pergi ke dokter. “Terima kasih.

sampai jumpa lagi.berbagai instansi. untuk mengenyahkan dari kalbunya pun serasa tak mungkin. Entahlah. Mayumi kerap mengeluh soal tradisi yang dikatakannya hanya basa-basi tak berguna belaka. Nakajima-san pakar di bidangnya. Musim libur dan mereka sangat kekurangan relawan. ja mata… Selamat jalan. Garsini jadi teringat akan dirinya semasa di Indonesia. mengingat di rumahnya Mayumi begitu santun dan kasih kepada ibu serta kakak lelakinya. Tapi sepanjang hari kemarin ia menjadi guide Peter. agar lebih leluasa berkeliling museum didampingi Nakajima-san. hanya dirinya yang mengetahuinya. “Haik. Akhirnya Garsini melepas kepergian dua sosok dari lain generasi itu. sambil tetap merasa ada sesuatu yang tak beres.” Garsini membalas penghormatan keduanya. diam-diam dengan ikhlas ia mengucap doa selamat untuk Pak Nakajima. sudah siap berangkat sekarang. merengkuh semua yang mampu diraihnya. Garsini menangkap mata indah Mayumi mengerling ke arahnya sambil tersenyum lucu. Tentu akan berbeda rasanya bila dilakukan lain orang. karena daya penglihatannya telah berkurang. gedung kekaisaran. Begitu ada kesempatan mengekpresikannya di luar rumah. Maka. ia bagai terbang melayanglayang. Mungkin Pak Nakajima tak bisa melihatnya. “Sayonara. kenapa bukan kemarin ia mendatanginya. tapi masih dalam bingkai positif. Garsini agak merasa bersalah. Kontras sekali. Mayumi mengenakan topeng untuk satu alasan. Ia pun sempat mengenakan topeng kepura-puraan. taman Ueno dan berakhir di restoran Indonesia. Mereka berkeliling museum kepolisian. pengetahuannya sangat luas sebagai insinyur teknik mesin. anak-anak?” tanya Nakajima. Mayumi sudah mewantinya sejak dua minggu lalu. pikir Garsini. Kali ini memang pengecualian. milik seorang artis Indonesia yang menikah dengan pebisnis Amerika. Sebab ia sendiri tak bisa merinci apa ketakberesan itu. *** 28 .

Makanya. ya! Dia sama sekali tak aneh. Semangat masyarakat Jepang untuk merawat secuil rekaman peradaban sangat tinggi. 29 . mengamati segala sesuatunya dengan seksama. Contoh terakhir yang paling diingat dan amat disesalkannya. ada museumnya. begitulah pakaian wanita Islam. naskah asli Supersemar. Garsini jadi teringat akan penatalaksanaan rekaman peradaban di tanah airnya. “Jangan melecehkan. hingga banyak mata rantai sejarah yang terputus. istilah sepupunya. menurut data statistik terakhir yang diketahui Garsini. tak heran bila setiap aspek kehidupan di negeri Ninja. tak ketahuan rimbanya. baru sampai generasi para pelaku sejarahnya pun sudah raib. di 5-1. Entah di mana naskah aslinya itu. terutama ketika sering diskusi sejarah dengan kakeknya dulu. “Haah!” ejek seorang rekan Tom Noda yang menyongsongnya di ujung koridor. Mereguk tak habishabisnya segala pengetahuan di sekitarnya dan menyerapnya sepuasnya.Di Jepang ada sekitar hampir lima ribu museum. Bangsa ini agaknya sangat apik dan telaten dalam menata dan merekam alur peradabannya. Menurut Nakajimasan tadi saat diperkenalkannya kepadaku.” katanya sebelum meninggalkan Garsini leluasa berkeliling. Chuoku. Kemarin siang ia bersama Peter menyelusuri gedung Tokyo Metropolitan Police Departemen. Ia bicara terus-menerus dalam bahasa Jepang. menerangkan ini-itu. tak peduli pendengarnya bisa memahaminya atau tidak. “Anak jenius apa jenius…” kakek itu masih juga terkekeh-kekeh. Jangankan untuk generasi mendatang. Kamu terlalu cerdas untukku. “Kewalahan juga kau dengan rasa penasaran gadis aneh itu. jangan ganggu anak jenius kita itu!” tegurnya dalam nada keras. bawahan Pak Nakajima dengan senang hati mendampinginya. Sangat payah. ya? Apa dia menggigitmu. berseberangan dengan gerbang selatan kekaisaran. Kini untuk beberapa waktu ia khusus memusatkan perhatiannya berkeliling MeSci. Beberapa lama Pak Tom Noda. Sudah. Koyabashi 2-chome. Noda-san?” sambungnya sambil mengekeh. “Sekarang lebih baik kubiarkan kamu mengamatinya sendirian.

bersih-bersih. jaga adik-adik dan hanya pergi ke sekolah. amplop pemberian Nakajima-san cukup tebal. Adakalanya muncul sebagai mimpi indah. Semuanya masih nyata tercetak di memori otaknya. Merangkap. Tapi gadis berjilbab biru laut itu sama sekali tak memperlihatkan dirinya tersinggung. gaul dengan Asep. buktikan kemampuanmu. gumamnya. “Cepat. Ia menikmatinya beberapa jenak sebagai penghiburan agar tidak terjebak hilang asa. pikirnya. Selain berisi daftar tugas ada juga sejumlah uang. nyatanya masih santai-santai saja. Bahkan ia bisa menambah wawasannya di tengah peradaban teknologi Jepang dari masa ke masa ini. hasil baksos binaan Selly dan kawan-kawan. tukang cuci. setidaknya sampai Pak Nakajima kembali. Bang Tompel. Selama di Negeri Sakura pun ia lebih banyak hilir-mudik “asrama. Namun. Begitu murah hati Pak Nakajima. itu takkan pernah kembali seperti hari-harinya yang tertinggal jauh di belakang. sekarang sudah banyak pengunjungnya!” seru Pak Tom Noda membuyarkan seluruh angan Garsini. Bila ditambahkan dengan sisa uang saku bulan ini. Lagi pula Garsini tak termasuk orang yang suka bepergian.Garsini tersenyum kecil menguping percakapan kakek-kakek itu. daigaku dan perpustakaan”. Pok Rinah. itulah saat-saat tak terlupakan yang mewarnai masa remajanya. Tapi tidak akan. seharusnya banyak tugas. Ia merasa sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi relawan di museum ini. untuk melakukan pendekatan dengan Tuan Nyinyir. entah siapa namanya. kemudian ia tahu itu lebih baik tersimpan apik di sudut kalbunya. Ditambah uang saku pula. Al-Munawaroh. ketika dirinya sangat lelah dari serbuan aktivitas perkuliahan. gakusei-san!” kakek yang satu itu. alhamdulillah… Ia menyentuh saku gamisnya. Ia orang rumah. Garsini cepat mengingatkan dirinya agar meluangkan waktu khusus. 30 . menyindirnya tajam. masak. tinggal di rumah singgah. “Nah. Ada saat-saat menjadi “liar” di luar. ia bisa bepergian ke beberapa lokasi wisata di luar Tokyo. Akhirnya ia pun menyadarinya. sebagai bagian sejarah kehidupannya. mengamen di KRL.

Disambung dengan boat yang memang sudah tersedia untuk para pengunjung MeSci. Karena letaknya lumayan terpencil di pulau kecil Teluk Tokyo. Ia bicara dalam bahasa Inggris yang baik. “Baik. Terpampang indah pula di novel-novel karya penulis perempuan nonmuslim. Tapi pagi sekali. Mungkin juga setelah berkeliling museum lain di sekitar Tokyo. Peter sudah menyambanginya ke asrama yang lengang ditinggal hampir semua penghuni. tapi ada juga yang usil menggodanya.” sahut Garsini membungkuk sopan dan bergegas ke depan. diseling bahasa Jepang yang cukup lancar dan mudah dipahami. Atau terang-terangan mengaguminya. karena belum sempat ditegur sapa secara pribadi oleh dirinya.Tapi Garsini cepat merespon dengan cerdas serta percaya diri tinggi. Odaiba. hanya para gadis nonmuslim yang menduduki jabatan terhormat dan prestasi menakjubkan itu. menjadikan MeSci sebagai persinggahan terakhir wisata museum mereka. Marga T dan Marianne Katopo. secara to the point menyatakan keheranan dengan busana Muslimah yang dikenakannya. Sehingga mereka menjadi jengah 31 . Suaranya yang jernih dan lantang seolah menggema ke seluruh penjuru ruang demi ruang museum itu. Sebab ada banyak contoh nyata. hal itu serasa merupakan sesuatu yang musykil. menyambut rombongan demi rombongan yang mengalir bak air bah. Di lingkungannya di Indonesia. Para pengunjung tampak senang dan puas. Dari asramanya ia harus menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan kereta api. Akhirnya ia ditraktir taksi oleh Peter yang urung melancong bersamanya. Agaknya mereka lebih suka datang setelah makan siang. *** Awalnya Garsini hanya ingin membuktikan bahwa gadis muslimah pun mampu meraih banyak prestasi. untuk mengalihkan perhatian para pengagumnya.Ia merasa kakek itu hanya caper. Kini ia dengan lincah dan cekatan memandu para pengunjung MeSci.

“Oh. kami lagi taruhan nih. dagadu nih. “Pasti dari Jakarta! Soalnya kelihatan sangat modern. “Apa pedulinya libur tak libur untuk anak orang kaya? Bahkan lulus atau tak lulus pun sekolahnya.” demikian Haliza pernah melampiaskan uneg-uneg hatinya. ya kan? Aslinya dari mana siiih?” tanyanya berbisik penasaran. ya? Bahasa Inggris dan Jepang Kakak bagus sekali. ya!” Garsini tertawa. Haliza. dibarengi dua rekannya. penginderaan jarak jauh. Bahasa Inggrisnya lumayan juga. Saudara-saudara… Produk-produk digital memang sangat mendominasi koleksi museum ini. “Kakak sudah lama kerja di sini. tapi…” cetus teman satunya pula. semakin mengagumi dan menghormatinya.sendiri. sekarang sekolahnya memakai sistem semesteran. seperti memprotesnya. Apa di Indonesia sekarang musim liburan juga.” sahutnya riang sambil menunjukkan sudut teknologi mutakhir Jepang. tampilan mesin deteksi kode genetik. “Iya. Mungkin anak orang kaya yang lagi libur. “Kakak…” tegur anak ABG itu lagi. kemudian menghargai kerja keras. Menjadi wakil peradaban di masa depan melalui miniaturnya yang ditampilkan di museum ini…” Garsini berhenti karena ditempel terus oleh si ABG yang pakai kaos dagadu itu. “Kenapa sih mesti pake baju dan jilbab kayak gitu? Noraaak!” 32 .” cetus seorang ABG putra. menggantikan seorang teman. Matanya seolah-olah ingin melanjutkan. khusus untuk practising English. kendaraan imajiner.” sambar rekannya. ya? Ucok bilang via email-nya. “Hanya relawan. toh perusahaan dan bisnis warisan sudah menanti. mengenakan kaos merek yang tak asing lagi bagi Garsini. Garsini meliriknya sekilas. Anda sekalian bisa lihat di sekitar kita ini. belum mengabarinya sejak kepergiannya tiga hari yang lalu. “Baiklah. robot penghibur. Kak. malu-malu dalam bahasa Inggris parah yang pernah Garsini dengar. Kalau begitu saat ini mereka sedang midtest. “Kakak pasti orang Indonesia.

pikirnya keheranan. Itu tuh kucing Butet. katanya tampil bareng Joni Ariadinata. “What’s wrong. Seorang gadis muda kulit putih berambut pirang. what’s problem?!” cecar Nona Mata Hijau penasaran. Agaknya kini Mama sudah diizinkan beraktivitas penuh sebagai penulis oleh Papa. tapi jelas sekali terdengar oleh semua anggota rombongan itu. ya. bermata hijau bak mata si Empus. Mamoru Mohri. sikapnya sinis bahkan cenderung melecehkan. Kami senantiasa terbuka untuk memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari masyarakat Jepang…” “Kalau dari negara kami. entah dari mana kok sudah muncul di belakangnya. Kini menjejeri Garsini dengan gagahnya bak Gatotkaca tanding laga.” Garsini menahan geli kala melihat mata ketiganya membelalak tak percaya.”Rasanya berbau Yogyakarta tuh…” Ketiga anak baru gede itu seketika menyingkir. “Museum ini dirintis oleh astronout kebangsaan Jepang. “Bukan apa-apa. hemm?” Peter. 33 . Alhamdulillah… *** “Apa katamu tadi. Belum lama Mama menceritakan melalui email.“Gamping Kidul. Joni Ariadinata. jeri juga rupanya melihat Peter yang tegap dan kekar bak bodyguard. Syukurlah. Kebanyakan orang Barat cenderung mudah curiga terhadap warga Muslim. di mana pun berada. ya Dik? Ia jadi ingat seorang teman sastrawan ibunya. mereka yang mempelopori membom kami dulu. Bagaimana dia bisa sampai di sini. Pasti itu desa orang tuamu. Karena kami juga tak begitu suka Amerika.” Garsini kembali memusatkan pikiran untuk kepuasan para pengunjung. hanya masalahnya…” Garsini mengambangkan suaranya yang lembut. Mereka mendadak berhenti memperhatikannya. kata Mayumi. adik bungsu Garsini di Depok. “Tentu saja boleh. Putu Wijaya dan Sutarji Calzoum Bachri di sebuah SMU berasrama. di Jepang ia tak merasakan kesulitan kaitan dengan status dan busananya. boleh juga kan?” ada yang nyeletuk lantang.

mentang-mentang dari negeri adidaya…” “Hmm.“Urang Amerika sigana mah. sombong kitu. please. Kalau begini jadi terbalik. Garsini cepat menyelinap di antara sepupunya dengan bule yang semakin sarat amarah. “Dasar kampungan! Kamu tak bisa bicara bahasa orang-orang beradab. Perancis. siapa yang kampungan dan tak beradab itu. apalagi dalam bahasa dunia yang ditawarkannya. oi!” 34 . sudut demi sudut yang memang banyak barang teknologi inovasinya. sarat percaya diri dan sangat cerdas menjawab setiap pertanyaan itu? 17 “Orang Amerika kayaknya sih. Jerman. “What do you say?” sergah gadis bule itu memelototi Peter. “Yeaaah! Peace! Peace…!” sambut orang-orang sambil tertawa dan kembali menikmati suasana sekitarnya. heh…?!” Peter naik pitam dengan wajah merah padam. bukan?” ejek seorang lelaki paro baya dalam bahasa Inggris yang betul-betul bagus. menyemprot si pirang. si pirang telah dipermalukan secara telak oleh pemuda berwajah Japanesse tapi mahir berbahasa dunia itu. “Makanya jadi orang jangan arogan begitu. Tak jelas lagi kepada siapa amuknya ingin diarahkan. Kelihatannya orang-orang sudah bisa merasakan. Kemudian mereka kembali bergerak mengamati ruangan demi ruangan. sok menjadi hakim dunia saja!” “Dikiranya cuma dia sendiri yang pintar!” “Peace. pemuda yang merepet bicara dalam mega bahasa dunia? Atau gadis belia nan jelita berbusana Muslimah yang selalu tampak sabar. langsung membalasnya memaki dalam bahasa Belanda. Kedua anak muda itu tahu-tahu sudah berhadapan secara frontal. yeah?” seru Garsini menghimbau semua orang. Tak sanggup membalas makian Peter. tapi sama sekali tak mencomot istilah bahasa Inggris sepatah kata pun. sombong banget. Buktinya gadis bule terlongong kaget dengan mulut menganga lebar. Spanyol bahkan Sunda. euy!”17 gerutu Peter perlahan. “Iya. Beberapa detik suasananya terasa mendadak tegang dan gerah. Diam-diam si pirang masih geram sendiri. peace.

“Apa Anda sekarang membawa contoh teknologi inovatif untuk dipajang di sini?” Gerrr. Bahkan tawaran untuk mengetahui namanya. Lelaki itu tak mempedulikannya.” sahut Garsini kalem. kebapakan. yang memang semakin terasa memanas. “Insya Allah. sampai jumpa di negeri kami. ya.Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri. “Dia Miss Indonesia!” seru Peter terdengar nyungkun dari kejauhan. Ia memaksa agar Garsini menerima tips dan kartunamanya. malah tertawa simpati. ada banyak teroris! “Apa masalahnya?” cecar si pirang masih merasa penasaran. Sampai selesai memandu. Mungkin amat simpati melihat usaha keras Garsini dalam mencairkan ketegangan. tetap tersenyum hangat kepada Garsini. Sebagai gadis Amerika yang bersikeras melancong ke Asia. *** “You look so… great!” lelaki paro baya kulit putih itu mengangguk hormat kepada Garsini saat akan berpisah.” pria sebaya ayahnya itu segera bersikap bijak. ini bukan hak saya. Miss…” Garsini hanya tersenyum samar. “Masalahnya sepele saja. terima kasih… tapi maaf. 35 . “Kalau di negeriku kamu sudah pasti akan mendapatkan banyak fasilitas pendidikan. mengejar Garsini. tak terjebak untuk meladeni tawaran kencan siapapun. Sehingga orang itu tak tersinggung. Si pirang akhirnya bungkam seribu basa dan diam-diam menyisihkan diri dari rombongan. seketika rombongan kembali tertawa riang.” balas Garsini cepat dikembalikannya tipsnya dengan santun. Asia. “Terima kasih banyak. meskipun sudah diwanti-wanti keluarga dan teman-temannya. Garsini tak pernah melihat sosok pirang itu kembali. agar dia mengurungkan niatnya melancong tahun ini.

“Kamu memang mengagumkan. Profesor Charles del Pierro.” pujinya tulus memberi penghormatan terakhir sebelum berlalu. guru besar sejarah dan filsafat dari Universitas Sorbone. “Kalau-kalau suatu hari kamu membutuhkan bantuan negaraku. Saya sedang menjadi dosen luar biasa selama satu semester di Universitas Keio. Sekilas mata Garsini membaca kartunama bagus di tangannya. Miss Indonesse…” ujarnya dengan tatapan semakin mengagumi. Perancis. Apa peduliku. Ia berhasil menyelipkan kartunamanya ke tangan Garsini dengan sangat santun. *** 36 . pikir Garsini dan apa maksudnya ini? Tapi entah mengapa ia kemudian menyimpan benda itu di saku gamisnya. tulisnya di belakang kartunama itu.

“Mereka sungguh arogan. Jadwal tugasnya hampir usai. Garsini belum 37 . baiklah kau bisa istirahat sekarang. apa itu iman.” “Ah!” sungutnya geleng kepala. gumam Garsini sambil menatap wajah sepupunya dengan amat iba dan prihatin. Tapi gadis Jepang itu seperti sudah terbiasa suka terlambat setiap kali mereka janjian. “Iman dalam Islamku menghalangi diri ini agar tidak membenci siapapun. tak kebagian tiket…” lapornya tersengal-sengal. apa dia pikir dirinya bukan orang Eropa. “Apa itu?” Peter mengejarnya. terlalu baik hati!” gerutu Peter dengan mimik tidak senang. “Jadi?” Garsini menatapnya khawatir. Ada sesuatu yang ingin dicari oleh anak muda itu. seharusnya Mayumi segera kembali sesuai janjinya. Entah apa! Bayangan Mayumi berkelebat dari lantai bawah. Broer? Apa kabar Tante Arnie? Seketika Garsini merasa Peter bukan sekadar berlibur datang ke Negeri Sakura ini. Ha. Terbayang wajah Nakajima-san yang begitu merindukan keluarganya. “Terpaksa pakai kereta di Tokyo Eki… Nah. apa itu agama?” Astaghfirulahal adziiim. kenapa kamu memiliki hati bak pualam begitu. Apa yang telah kau dapatkan selama hidup di Eropa. “Sumimasen.” sahut Mayumi dengan wajah merah bak buah tomat. adikku?” “Mau tahu jawabannya?” Garsini melangkah kembali ke dalam. ”Kamu tahu. ya? Padahal belasan tahun mukim di Holland bahkan kini sudah menjadi warganegara Belanda.Bab 4 “Kamu… ugh. “Nonsens. ada sedikit masalah. Nakajima-san urung naik pesawat. “He. langsung menghampiri Garsini dan meminta maaf. menuju lantai dua. memuakkan!” sungutnya geram dan ia balik menatap Garsini. mereka orang Barat dan Amerika!” “Apa salahnya dengan orang Barat dan Amerika?” Garsini agak tak enak mendengar sikap Peter yang terasa sinis.

diantarkan oleh beberapa staf museum mengucapkan rasa terima kasih dan salam perpisahan. Ia tak mempedulikan tatapan takjub dari Mayumi. Rombongan turis sudah bubar di luar. Tiba-tiba sayup kupingnya mendengar keributan dari bawah. terusmenerus memandang kagum ke arah sepupunya. Mereka mengacung-acungkan pamflet. “Hei. “Kamu ini kenapa mendadak aneh begitu?” “Ugh. apa yang terjadi di bawah sana? Dari mana datangnya rombongan kawula muda itu? Para remaja dan pelajar telah berkerumun dan menjerit-jerit histeris. surprise. Sebab Mayumi keburu tertegun dengan mata terbelalak. setengah berseru dan mengeluh menepuk jidatnya. Garsini penasaran dan melongok ke balkon melalui kaca jendela. Broer!” tegur Garsini mengingatkan. anak-anak Nippon itu sudah sinting!” Peter tiba-tiba bagai baru teringat kembali. Dipandanginya Mayumi yang 38 . come oooon.sempat memperkenalkan sepupunya kepada gadis itu. Garsini. Mayumi-san?” sergahnya. Garsini geleng kepala kian penasaran. tertarik untuk memperhatikan sepupunya. spanduk sambil terus meneriakkan yel-yel. joint us!” “Jangan biarkan mereka menggantungku. Mereka tengah berada di lantai dua terhalangi oleh kaca pembatas balkon. Garsini balik heran dengan gerak-gerik Mayumi yang juga aneh. please…” Suara Peter setengah memohon. tak paham dan bingung. “Sejak kapan kamu kenal selebritis?” balik Mayumi bertanya. bersembunyi di belakang punggung sepupunya. matanya kini dilayangkan keluar jendela balkon. Kepala Garsini mulai pening. Ia merandek urung mengamati suasana di bawah. ada apa denganmu. “Kami mau Takeshiii! Mau Takeshiii!” “Takeshiiii. Dibarengi oleh Peter yang mendadak seperti gelisah. “Pantas mereka histeris begitu…” Garsini mengerutkan kening tak paham maksud sahabatnya. Peter tampak masih menahan kesal. “Psst… kalo ngomong hati-hati dong! Ini kita lagi di Jepang. “Ada apa sih di bawah sana?” gumamnya bingung. “Kamu… Kenapa sendirian di sini?” desisnya memandangi wajah Peter lekat-lekat. Ups.

ia mulai memahami duduk persoalannya berkat tudingan Mayumi dalam bahasa Inggris. I’m verry verry sorry…” ucap Mayumi sambil membungkukkan badan berkali-kali. mulai dari pengalamannya sebelum sampai di tempat itu. nggak ada yang lucu. Cepat-cepat dijelaskannya kepada Garsini. para mahasiswi asing seperti kamu!” cerocos Mayumi semakin sengit. *** “Sorry. Ia terpisah dari rombongan turis Belanda yang diikutinya. tahu!” gerutu Peter sambil menggaruk-garuk kepalanya yang cepak. membayangkan Peter dikejar-kejar dan merasa dirinya seperti maling di negeri asing.masih mengamati sepupunya dengan begitu cermat. Bergaya bintang film untuk menipu gadis-gadis lugu. Garsini? Kenapa dia begitu aneh kelakuannya? Bantu aku. “Euleuh-euleuh. nei! He. Takeshi Kaneshiro…!” cerocosnya pula dalam bahasa leluhurnya yang kental. Hingga tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum simpul. “Nei. Sekaligus senang. ngomong apa cewek ini. boro-boro kepingin ketawa lo!” 39 . hingga Mayumi kini semakin jelas bahwa dia bukan orang yang dimaksud. “Siapa kamu?” tudingnya tiba-tiba kepada Peter mendadak berubah ketus dan galak. aha! “Bukannya menolongku malah menertawakan… Ugh. ternyata Tante Arnie 18 “Aduh-aduh. Mayumi-san!” “Bagaimana sudah salah paham? Aku tahu persis lelaki macam begini. mendadak ada serombongan remaja yang mengejar-ngejarnya sambil meneriakkan yel-yel. “Sebentar. Garsini!” seru Peter dengan wajah merah padam. sebentar… kamu sudah salah paham. Ketika celingukan itulah. ”Kamu penyusup. Tentara Kerajaan Belanda berpangkat Sersan. Rombongan itu kian bertambah dari saat ke saat hingga ia nyasar ke museum MeSci. Peter baru saja melepas topinya. ya? Kamu peniru bintang idola kami. Beberapa saat Garsini terpingkal geli. boro-boro hayang seuri siah!”18 sungut Peter lucu membuat Garsini kembali terpingkal geli. Peter membelalak.

tak lupa mengajari putranya bahasa karuhun19 mereka. Ini hari kelima Garsini bekerja sebagai relawan 19 leluhur 40 . “Di asrama kamu cuma sendirian. bahwa yang mereka lihat bukan orang yang dimaksud.” jelas Mayumi. Para staf menjelaskan kepada kawula muda itu. Dalam hitungan menit kerumunan di bawah pun bubar bertemperasan. “Bintang film Jepang yang lagi diidolakan para remaja. “Karena aku bukan anak gaul. lho!” *** “Kalau begini. Garsini?” tanya Peter menatap sepupunya keheranan. “Huuu… memangnya siapa sih si Takeshi itu?” berungut Peter. Di Jepang orang masih sangat menghargai arti keamanan. ketertiban dan disiplin untuk mematuhi peraturan. Dalam sekejap sudah tak tampak lagi orang berkerumun di areal yang sama. Garsini. tapi kenapa Tante Arnie lupa mengajarinya agama? Keributan di luar akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. undang-undang. Ah. “Kamu bisa menginap di rumah kami selama liburan.” keluh Matsua-san. “Kok kamu nggak tahu itu.” kata Mayumi. sementara rekan-rekannya tak henti melontarkan pengaguman dan pujian kepada Garsini. berkemaskemas untuk pulang.” sahut gadis itu singkat.” “Bagus!” sambut Peter senang. Satu pelajaran berharga yang bisa segera dipetik Garsini begitu sampai di Negeri Sakura ini. aku betul-betul akan pensiun dua kali. Mayumi memaksa untuk mentraktir makan malam sebagai ucapan rasa terima kasih dan penyesalannya. Apalagi ketika terdengar suara sirine mobil kepolisian yang sempat dipanggil pihak keamanan museum. Hari itu mereka kembali ke Tokyo bertiga. nanti ada orang jahat menyerobot. kakek ceriwis itu. “Aku sudah bicarakan ini dengan ibuku dan dia setuju. Mereka sedang istirahat setelah menyelesaikan tugas hari itu.

kalau tak ingat itu kesayangan Pak Matsua.” kata Tom Noda sambil berjalan ke luar. termasuk wilayah Asia Tenggara. Garsini membiarkan kedua sepuh itu berjalan di depannya. kata Mayumi bila sudah jengkel sekali dengan perkataan tajamnya. Keluarganya tak 41 . Setidaknya sampai Nakajima-san pulang dari Saporo. Tom Noda-san dan Matsua-san. Jangan-jangan sebentar lagi si Robocop bakal lenyap dari MeSci. Kedua kakek ini tinggal di kawasan museum sedang lainnya harus menyeberang dengan boat ke kota.”Jangan begitu!” tegurnya dan tersenyum minta maaf kepada Garsini.”Sudah.menggantikan Nakajima-san. “Saya akan kembali hari Senin. Garsini-san?” “Hah! Mana sempat dia baca koran? Kerjanya cuma mengotak-atik teknologi inovasi di ruang milik Nakajima-san itu. Garsini sudah tahu sedikit ikhwal Matsua dari Tom Noda. Tinggal dua orang stafnya.” ujar Garsini kepada mereka sebelum berpisah.”Pak Matsua sungguh benar. seperti biasanya nyinyir dan sinis. Si Lidah tak bertulang yang tak punya kerja lain kecuali menikam anak-anak muda. Tubuh kecil Matsua berusaha mengimbangi kesigapan jalan rekannya. Terutama Robocop-nya. Kalian pernah menjajah kami selama tiga setengah tahun. biarkan saja.” katanya kalem. Ternyata Mayumi hanya pada hari pertama saja bisa menemaninya.” celetuk Matsua-san. Matsua mantan veteran perang yang telah banyak kehilangan. ingat?” “Oooh…!” Ada yang terbanting dari atas kepala bulat yang sering terangkat angkuh itu. “Dia tidak akan pulang besok. tentu sudah lama saya gondol ke negeri saya…” “Di mana negerimu yang aneh itu?” Matsua-san kali ini tertarik. Selebihnya Garsini berjalan sendiri menunaikan tugastugasnya di museum ini. jangan dengarkan dia ya. “Apa kamu tidak baca koran hari ini. Nak…” Garsini tersenyum lembut dan ikhlas. Kudengar ada taifun di Selatan.”Tidak apa-apa. Tom Noda-san memelototinya. Lainnya sudah bubar sejak beberapa menit berselang. Saya sangat tertarik dengan penemuan-penemuan baru di ruangan itu. “Indonesia.

kujalani juga dengan susah payah. akibat keganasan bom yang dijatuhkan Sekutu di kampungnya Hiroshima.” “Kurasa kamu terlalu rendah hati…” 42 . Di atas semua kepedihan dan sejarah kelam itu. *** “Aku harus cari tambahan uang saku untuk bantu keluarga. please.” “Di mana. Sebab mengaitkan sejarah kelam kedua bangsa. Garsini dengan Matsua-san. hiburnya sendiri. Sebenarnya aku enggan melanjutkan kuliah. kalau mampu tentu Mayumi juga bisa mendapatkan beasiswa itu. yang datang atas beasiswa pemerintah Jepang. bekas penjajah dan bekas jajahannya. “Jangan bilang ini kepada ibuku.” kata Mayumi. Bukan salahmu. sudahlah. yah. “Tidak bisa. Detik itulah ada ikatan yang menghubungkan mereka. please…” Kerap ada nada getir di sana. “Aku kan tak bisa mendapatkan beasiswa seperti dirimu…” “Jadi kamu sekarang bekerja. kumohon jangan bicarakan ini lagi. Garsini bahkan sempat menangkap rasa iri gadis itu akan keberuntungannya sebagai mahasiswa asing.” suaranya sesaat terdengar rapuh dan sarat permintaan maaf. Ironis memang! “Sumimasen… aku tidak tahu kau gadis Indonesia. please…” pintanya memohon. Mayumi?” gugat Garsini.” “Di mana?” “Blue Diamond. ya?” “Begitulah.” “Apaa?!” Garsini kaget. di kemudian hari ternyata masih ada yang tersisa dan tumbuh dengan baiknya. “Tapi kenapa mesti kerja di tempat seperti itu. Padahal ketika itu Matsua sedang berjuang keras mempertahankan jajahannya di negeri seberang. kenangan dan kepedihan. Tapi demi ibuku yang mengharapkanku jadi sarjana. “Klab malam para eksekutif di kawasan Ginza. persahabatan nan indah.tersisa lagi satu pun. Awal persahabatan yang terjalin dengan cara unik. dan tempat apa itu?” cecarnya ingin tahu. “Kamu takkan mengerti kesulitanku.

menerima kehadirannya dengan senang hati. Seolah-olah sarat nafsu dan hasrat. Akira. “Tidak. Dia hanya lagi kumat iridengkinya saja. tenanglah. Ya. sejak kedatangan Akira ke rumah keluarga kecil itu.” keluh Mayuko pagi itu ketika sarapan. “Buat apa kau bawa gadis asing. “Aku tidak sepandai kamu. belakangan ia semakin sulit diajak berbicara. Mahasiswa ekonomi sebuah universitas swasta itu menyambut keberadaan Garsini dengan mulut tajam. Sebaliknya Mayuko-san. terasa ada jurang yang dalam di tengah keduanya. itu tak dihargai mereka. kakakku bukan orang seperti itu. Namun. Makanya jurusan yang kuambil pun hanya sastra. Kau tetap tidur bersamaku. seandainya saja aku memiliki otak sejenius kamu…” Kalau sudah sampai di situ percakapan mereka. kakak semata wayangnya pulang kemarin. perampok hak kita ke rumah ini. betapa tak enak mendustai seorang ibu yang amat mempercayai kedua anaknya secara meyakinkan ini. Mayumi memang selalu santun dan menghormatinya. perempuan sebaya ibu Garsini. Mayumi?” sergahnya begitu mengetahui status Garsini di daigaku Tokyo. Untuk beberapa saat kebekuan menyelip dan itu sungguh tak mengenakkan. entah apa yang dikerjakannya di luar sana. siap menerkamnya kapan saja. terutama sorot matanya yang bak mata elang itu.” hibur Mayumi. Ia bahkan lebih menganggap Garsini sebagai teman curah hati daripada sekadar tamu putrinya. Garsini sampai gemetar mendengar keketusannya.” penghiburan yang disampaikan dengan lembut dan tulus itu membuatnya tersenyum kembali. serta mau bersabar menjadi pendengar yang baik. Mayumi telah berlalu dan tak mempedulikan gerutuan ibunya lagi. 43 .Mayumi dengan murung menggeleng. Garsini merasa tidak nyaman. Garsinisan. tanpa menyinggung nyonya rumah. Okusan. Mengingat perilaku Garsini yang bijak dan tegar. mengancamnya. “Mungkin ada tugas penting. Aduh. “Mayumi. Garsini. Namun. Selalu repot saja rasanya. Ia mulai mencari akal agar bisa keluar dari rumah sahabatnya dengan baik-baik.

Anakku. Putra yang selalu dibangga-banggakannya kepada siapapun. hemm?” tanya pemuda itu tiba-tiba. jangan ganggu.” Okusan kembali bergabung dan meletakkan sepinggan makanan kesukaan putranya.” ejeknya diarahkan kepada Garsini. Sebelum dijawab Akira mengamati hidangan di depannya. ada sesuatu yang spesial kusiapkan untukmu. Masih ada gamang di hatinya. reflek pula menyingkirkan mangkok makanannya. “Sumimasen… Apa Kakak mengusirku?” tanyanya sesaat secara kilat mereguk minumannya. “Apa Okusan sudah bosan dengan kami berdua?” tukas Akira ketus sekali dan terasa sangat menusuk hati. “Mentang-mentang dari universitas terkenal tuh. belum cuci muka dan gosok gigi langsung bergabung untuk sarapan. selalu ini ke ini saja. 44 . Nak…” Okusan tergopoh-gopoh mengambil makanan lain untuk putranya tercinta. Garsini tersedak dengan wajah pucat pasi. Okusan?” Akira baru muncul dari kamar. Anakku…” “Sudah.“Sarapan apa kali ini. termasuk kepada Garsini bila mereka berbincang. Bahkan hingga saat-saat terakhir keberangkatannya ke Jepang.”Jangan bicara begitu di depan tamu kita. “Tenang. jangan bicara begitu. di mana nama putrinya tersimpan di hati Mayuko? Pilih kasih yang selalu mengingatkan Garsini akan traumatisnya sendiri di masa kecil hidupnya.” tegur Mayuko lembut sambil tersenyum minta pengertian Garsini. “Huuu. aku mau makan sendirian di sini!” usir Akira tanpa perasaan. “Akira. “Oh. Apa tidak ada makanan lainnya?” tanyanya ketus tanpa sopan santun sama sekali. secepatnya meninggalkan rumah sejak kedatangan kakaknya. sungguh telah tuluskah Papa mengasihi diriku? “Kapan kamu pergi dari rumah kami. Hingga kerap Garsini merasa tak enak hati. di mana penganan itu disembunyikan saat Mayumi hendak makan tadi? Pantaslah Mayumi kian suka bepergian. maunya jadi anak Okusan juga. Hingga Garsini bisa membaui hawa tak sedap meruap dari tubuhnya yang tinggi kurus. “Kami senang Garsini-san tinggal di rumah ini…” Naaah kan.

Okusan. Ia menyelipkan sejumlah uang ke tangan wanita itu. boleh ya?” katanya santun. ini Tokyo. Jadi kemungkinan tak pulang ke sini.” ujarnya malu-malu dan cepat menyembunyikan uang itu ke saku gaun rumahnya. Kak Akira lumayan sudah tujuh tahun. Di mana sesungguhnya pria yang seharusnya bertanggung jawab akan segala kesulitan keluarga itu? “Dia seorang pejabat tinggi. Detik ini betapa ingin Garsini memeluknya erat. ya Nak. “Baiklah. Kisah selingkuhan begini selalu mendatangkan banyak kerugian di berbagai pihak. ya?” kata perempuan yang pernah bekerja menjadi geisha di masa mudanya itu. cepat menyingkir tanpa bicara sepatah kata pun. selalu waspada. sejak datang uring-uringan terus. “Maafkan dia. “Nah. Okusan kali ini tidak menolaknya. jadi masih ingat wajahnya… Bahkan suatu saat dia bertekad untuk menyambanginya ke istananya!” Lelaki itu sudah memiliki istri dan anak ketika bertemu dengan Mayuko. Dia lelaki tak bertanggung jawab. bahkan sekadar membela gadis itu. Wajah Okusan yang bingung. Nak. Diantarnya Garsini sampai teras. ini untuk belanja besok.Okusan sesaat merasa bingung. Tapi ia sungguh tak berdaya. Aku hanya mengenalnya dari potretnya. hanya menginginkan Okusan ketika masih cantik dan segar. Garsini mengangguk maklum. “Kalian tak pernah bertemu?” “Aku masih bayi ketika dia pergi. tak seperti saat pertama kali Garsini melakukan serupa. malu dan iba kepada Garsini. sungguh! Mengingatkan Garsini kepada Mamanya sendiri. aduuuh. Mungkin karena kami belum bisa membekalinya sejumlah uang yang diminta.” kata Okusan ketika mengantar Garsini berangkat. tapi Okusan tak pernah mau bilang di mana keberadaannya kini. tak berdaya dan tampak ringkih itu. Terutama anak-anak dan… argh! 45 . Kini ia buruh sebuah pabrik elektronik di luar kota. kemudian disentuhnya pergelangan tangan Okusan. Garsini yang paham suasananya.” gerutu Mayumi suatu kali. ”Nanti malam saya ada acara dengan sepupu.

Tubuhnya seketika terasa dingin. *** 20 “Tolong antar saya ke Sendai…” 46 . seorang diri? Pikiran itu membuatnya gelisah dan ia cepat menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya. Bagaimana seandainya hubungan itu berbuah dan Sintia mesti menanggung aib itu.Tiba-tiba Garsini teringat kembali affair ayahnya dengan Sintia. “Sendai made itte kudasai…”20 katanya sambil menghenyakkan tubuhnya yang letih di jok belakang.

“Apa tidak takut sendirian di situ? Bagaimana kalau ada orang jahat menyerobot ke dalam kamarmu?” Garsini melambai mengisyaratkan agar tidak perlu mengkhawatirkannya. “Iya. entah dari mana. begitu senyap dan lengang. di sinilah saya tinggal. sampai hari Senin Ojira-san takkan bertugas jaga malam di sini. uuuh. Degh! 47 . “Tapi gakusei-san…!” serunya masih menanti kalau-kalau gadis berbusana aneh itu mengubah keputusan. berhenti sebentar di suatu tempat. Hanya dirinya dan lelaki muda itu yang tinggal di sini. Beberapa detik jantung Garsini seakan berdegup kencang. Ojira-san yang baik hati di sini? “Tidak. Nona?” tanyanya seperti meragukan permintaannya.” kata seorang rekannya. Nona mahir sekali taekwondo…” tiba-tiba seorang rekannya muncul. sopir itu menyebutkan separuh harga dari tarif resmi. Pak. Bukankah ada satpam. “Jangan khawatir. Kenekatan para kriminal yang menyasar ke kawasan asramanya. menyambut Garsini dan membukakan pintu untuknya.Bab 5 Malam mengapung di musim semi Negeri Sakura. Tolong. Meskipun rekanrekannya sudah sering kali mengingatkannya tentang kemungkinan itu. “Sungguh mau turun di sini. Suatu pemborosan sia-sia hanya dilakukan orang yang sedang bingung. saya ada bersama seorang teman gantikan tugas Ojirasan. Garsini menyodorkan ongkosnya dan mengucapkan terima kasih. terasa senyap.” katanya seperti bisa membaca pikirannya. Taksi berhenti di depan asrama putri daigaku Tokyo. kembali mencarternya dan minta diantarkan ke lain arah. Ia melihat ke sekitarnya. berapa harus saya bayar?” Terdorong rasa iba agaknya. Sopirnya seorang lelaki tua dan mengerling khawatir ke arah Garsini. “Dan kami tahu. Ini bukan kali pertama dirinya tinggal di asrama sendirian. Gadis ini telah memintanya diantar ke Sendai.

masih di musim semi yang memberi banyak semangat dan harapan kepada dirinya. bisiknya kala bersujud mencium sejadahnya. Tak ada kejadian apa-apa selain sekitar dua jam ia tak bisa memejamkan mata. Sagura-san. Dia kan lelaki yang suatu hari pernah mencoba melecehkan Haliza dengan mencolek pipinya. Sejak saat itu seluruh penghuni asrama mengetahui. ah. Begitu kan. oh. karena merasa dipermalukan dan ingin balas dendam? Seharusnya ia lebih berbaik hati. percayalah kepada kami. membalas salam selamat malam keduanya dengan santun. tidak. Garsini yang berada di samping gadis Malaysia itu. Seorang diri. pekiknya dalam hati. sosok tegap bertato di lengan yang tampak kekar itu telah lenyap di kegelapan. 48 . Yoshirosan?” “Yentu saja begitu. dirinya seorang taekwondoin handal dari Indonesia. “Kami selalu hormat kepada gadis yang mahir ilmu beladiri. Berdua berpelukan sambil terkekeh-kekeh.Garsini ingat kepada lelaki bertubuh kerempeng ini. “Sungguh. Garsini seketika merasa telah terjebak di dunia asing. tapi… sudahlah! Telanjur. Demikian selalu kata Mama dan ia sangat meyakininya. langsung menggebraknya dengan satu jurus taekwondo andalannya. entah sudah sampai di mana saat ini. senantiasa ada cahaya Ilahi di mana pun dirinya berada. Begitu pula taksi yang mengantarnya tadi.” kata pemuda yang pertama muncul. sungguh Maha Pengasih Engkau. Baiklah. Allah. Benar saja. Bagaimana kalau kedua lelaki ini mengcincarnya. Begitu banyak nikmat-Mu yang telah Engkau curahkan kepada hamba. Air matanya berlinangan menyambut awal pagi yang baru. konbanwa Miss Indonesu…” Garsini hanya tersenyum samar. Alhamdulillah. meskipun dalam hati mendadak ada bimbang. Allah. *** Garsini terbangun oleh dering weker yang distel tepat waktunya untuk shalat subuh. Satu malam pun telah berlalu dengan sempurna. terdengar misterius di telinga Garsini. tapi akhirnya tertidur juga setelah melakoni shalat lail.

untuk lebih menguatkan lagi ukhuwah mereka. Mereka langsung menjadi akrab berkat simpul kasih Islam. sepanjang malam sepupumu menelepon ke sini.Nikmat-Nya mana lagi yang tak tercurahkan kepada dirinya? Bahkan baru saja Sagura-san mampir. Meskipun seluruh temannya hampir tak ada yang tidak memegang HP. siapa itu temanmu gadis Arab?” Ayyesha yang dimaksud Mayumi. seperti komunitas Rohisnya di F-Mipa UI dulu. bukan gadis Arab melainkan Muslimah Palestina. tapi begitu hemat dirinya. Garsini merasa surprise dan senang sekali bisa memiliki kelompok kajian. alhamdulillah…” “Apa itu. “Lagi apa kamu dan ada di mana?!” seru suara cemas di telepon. Garsini baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Ia harus mampir ke rumah keluarga yang baik hati itu nanti. 49 . “Baru sarapan di kamarku di asrama…” Garsini menelan sisa bubur ayam lezat bikinan istri Ojira-san di mulutnya. Inikah buah iman sebab shalat duha yang telah kulakoni beberapa menit lalu. Hanya karena ingin mengirim sedikit dari sisa uang saku per bulannya untuk kedua adiknya di tanah air. aku masih segar bugar. Ini sungguh membuat Garsini tertegun dan semakin mensyukuri nikmat Allah. Aku tak sempat berpikir kalau kamu berani tidur di asrama malam tadi. menanyakan keadaannya dan mengantar titipan penganan dari istri Ojira-san untuknya. hei? Kamu tahu. sebab belum punya waktu untuk mampir ke apartemennya. Ia bisa saja membeli benda itu kalau mau. menanyakan dirimu. “Be calm please. Kupikir kamu jadi menginap di rumah. Sayang sekali ia terpaksa harus menangguhkan kunjungannya. Ia tidak memiliki HP sampai saat itu. Ayyesha mengajaknya bergabung dengan kelompok kajiannya. “Aduuh! Sendirian ya? Kamu ini sungguh menantang bahaya!” umpat Mayumi. Ya Robb? Kriiing…! Garsini tergopoh-gopoh menghampiri telepon di ruang depan.

aku merasa demam tinggi. tapi tenang. sebentar…” Garsini menanti dengan berdebar. ya Broer. Eeh. “Baik. Kumohon kamu harus tenang. di mana dia sekarang?” Garsini baru teringat lagi akan sepupunya yang melancong bersama rombongan turis Belanda. dan katamu selalu mencurahimu berkah dan hidayah-Nya itu!” erang Peter bergetar bak tengah terserang gigilan hebat. Sorry. “Peter. kedengarannya dia ada kesulitan dan butuh bantuanmu. insya Allah aku akan berusaha membantumu. “Datanglah ke sini. Garsini. Mereka hendak melakukan baksos di suatu tempat di Okinawa. “Iya. please. Bagaimana kalau terjadi sesuatu atas diri sepupunya itu? Putra semata wayang Tante Arnie. please… Demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Garsini. Mereka keliling Jepang dengan kereta peluru “Katanya terpisah dari rombongan turisnya. rasanya aku mau mati saja… cepatlah ke mari.” bujuk Garsini jadi ikut gentar. hmm. Peter menyebutkan sebuah alamat hotel kecil di Hiroshima. “Moshi-moshi…”21 Peter. Garsini hampir menyerah. please…” pintanya memohon. tolong ceritakan apa yang terjadi denganmu?” “Aduuh. menyambut kedatangan rombongan para pengungsi Palestina. Garsini. ya Garsini-san. ya? Sejurus kemudian terdengar suara Peter yang gugup. tabah. tapi rapuh di beberapa hal lainnya itu. Rencananya ia 21 “Hallo. kurasa sepupumu itu aneh. Sehingga hati Garsini tercekat dan jantungnya berdebur keras. bingung dan takut. rasanya kamu jadi kebiasaan terpisah dari rombongan. hallo…” 50 .Kemarin petang Garsini datang terlambat satu jam. *** Setelah sepanjang siang itu bersama Mayumi berusaha keras mendapatkan kartu pas kereta peluru. Ayyesha sudah berangkat lebih dulu bersama kelompok kajiannya ke Okinawa. Parah sekali. menurut Mama adalah pelita hati wanita super enerjik di suatu hal. baik sebentar kusambungkan kalian.

“Ibuku pasti senang kalau lihat kemunculan kita yang tiba-tiba macam tadi. karena tanpa mereka sadari telah berjalan amat jauh. Garsini masih melihat ekor mata sahabatnya menatap geram ke belakang. Kalau pakai pesawat uangnya tak mencukupi. Gerah. Mentari musim semi terasa tak hangat lagi. Mereka kenalan Okusan dulu. Kenapa tidak sekalian ditawarkan saja kepada para lelaki hidung belang itu…?” “Mayumiii! Itu sama sekali tak lucu!” sergah Garsini dengan wajah mengeras. tapi sudah bersemu kelabu. ia menemani Mayumi untuk menemui beberapa orang penting. Itukah rumah geisha. Jadi. Untuk beberapa lama tak ada yang bicara. betapapun telah membekaskan luka di hati 51 . tertawa sarkastis kemudian berkata tajam. Sehingga baru mereka sadari lagi kala sudah berada di luar kota. Arakan kapas di langit masih berwarna putih. Beberapa malah sempat melecehkan kedua gadis itu. menggigit ubun-ubun. Mayumi seperti bisa menebak pikirannya. melalui ucapan yang miris di kalbu.akan menuju Hiroshima dengan kereta peluru itu agar cepat sampai. Ia tak ingin Mayumi larut dalam rasa malu mengingat aib masa lalu ibunya. jangan teruskan!” kesah Garsini begitu keluar dari pintu terakhir yang mereka singgahi. Mayumi!” “Sumimasen… Aku juga tak mengira begitu kejadiannya. Teringat ibu Mayumi. pulang saja!” Garsini menarik lengan Mayumi menuju stasiun terdekat. hingga Mayuko-san semakin parah batuknya? Kedua gadis itu sudah menaiki kereta kembali ke Tokyo Eki. tempat dulu Mayuko-san bergelimang nista? “Ayo. Polusi apakah yang ada di pabrik itu. “Lelaki-lelaki di dalam itu… aduuuh! Beraninya kamu mengajakku ke situ. tapi ternyata tak ada seorang pun yang mau mempercayai ucapannya. “Sudah. Brengsek sekali tua bangka itu. kata Mayumi. Secuil pengalaman tak nyaman itu. saat-saat begini tentu saja sedang bekerja keras di pabrik. ya!” Mayumi menyatakan rasa penyesalannya yang dalam.

Sekalipun Mayumi selalu gembar-gembor tentang kebebasan yang ingin diraihnya. keluhnya. Garsini menangkap rasa jengkel dalam nada suara sahabatnya. Apa bedanya dengan saat menaiki KRL Depok-Kota. “Apa tak ada yang beri informasi kepadamu dulu?” cecar Mayumi. Dan begitulah agaknya dirinya tercipta! 52 . Padat sekali oleh penumpang. tapi baru sebatas di mulut. Luka hati mereka mengenang para wanita. buku. Mereka masih amatlah lugu dalam hal perikehidupan. Ternyata kartu pas itu hanya diberikan kepada para tamu penting. rasanya hanya benda itu yang bisa membawanya ke sisi sepupunya. betapa sulit mendapatkan kartu pas agar bisa naik kereta peluru. entahlah…” Garsini angkat bahu mulai jenuh dan lelah. Mama. Ia bahkan hampir tak ingat lagi hal-hal tetek bengek saat keberangkatannya. *** Suasana di kereta sedang jam-jam sibuk. Rasanya sama saja kalau urusan padat pepatnya. Secepatnya. Garsini belum delapan belas sedang Mayumi sembilanbelas.keduanya. “Yah. Otak Garsini mendadak dipenuhi macam-macam pikiran. Garsini menggeleng. majalah. Kalaupun ada perbedaan mencolok adalah perihal perilaku kebanyakan para penumpangnya. Di mana-mana orang Jepang memegang koran. pendeknya bacaan. turis asing dan diperoleh dari negara asal mereka. “Kenapa kamu baru tahu sekarang?” Mayumi buka suara kembali. Keluarga. Namun. Keduanya masih terbilang remaja belia. Ia baru mengetahui sekarang. Terlalu banyak masalah melibat hari-hari terakhirnya di Indonesia. seribu pikiran segera raib tersilih oleh satu titik persoalan. Kartu pas itu. Sintia. Gilang… semuanya di luar kepentingan pribadinya. pikirnya. ia tak melihat apa-apa selain gurat kecewa di wajah bak porselin itu. Namun. kaumnya yang pernah terjebak di rumah geisha itu. Papa. Selly. Itulah yang jarang dilihat Garsini di KRL Depok-Kota.

maksudku yang kalian hibahkan kepada Indonesia.“Bagaimana dengan orang Jepang sendiri untuk mendapatkannya?” tanya Garsini jadi penasaran juga dengan kartu pas itu. ia menundukkan wajahnya tersipu malu. Ia sangat terharu bisa menikmati anugerah-Nya ini. berapa banyak jumlah kereta yang dihibahkan pemerintah Jepang kepada Indonesia. Keberadaan mereka. mohon ampunan-Nya. menikmati segala macam kecanggihan dan fasilitas teknologi tinggi yang dimiliki Negeri Sakura.” ucap Garsini asal bicara. Hampir semuanya serba gratis… Subhanallah! “Ada apa?” Mayumi menanyainya heran. Mirip kereta eksekutif jurusan Kota-Bogor. seolah ingin mengisi seluruh ruang pepat dan jenuh di paru-parunya. 53 . eksekutif. kalau tahu bilang ya!” Mayumi semakin tergelak geli. Dalam hati. Seketika ada keharuan yang menyungkupi hatinya. Paras Garsini memerah dadu. Ayoooo. “Psst… siapa bilang?” Garsini berlagak marah dengan membelalakkan matanya yang bagus. Garsini menghirup kenikmatan itu sepuas-puasnya. otakmu mulai tak beres agaknya ya?” Mayumi cekikikan. “Kereta kalian. “Kereta apa? Hibah apa? Aha. perilaku mereka telah memikat perhatian beberapa orang. aku telah menduganya. Garsini tetap tak paham dengan sistem begini.” Garsini menukas sambil memperbaiki posisi duduknya. “Malah kamu yang tak peduli. megakorup yang telah dicapkan kepada Indonesia oleh pers dunia? Suasana di dalam kereta baru terasakan nikmatnya ketika sudah agak lowong. Adakah hal begini di negerinya? Selain KKN. pebisnis… Orang awam macam kami ini. para pejabat tinggi. yaaah!” “Ooh…” Bibir Garsini membentuk bulatan. cepat-cepat ia mengucap istigfar. “Hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Mayumi mengangkat bahu. Beberapa penumpang pria menoleh ke arah keduanya. “Segala kereta kamu pedulikan… hihihi!” “Sudahlah. Kamu memang tak pernah peduli halhal seperti itu. Ini kereta full AC yang amat bersih dan terawat. hampir tak pernah kunikmati.

Juga rasa kangen yang seketika menerjang kisi kalbunya. Kangennya terhadap Oneng. Kereta pun tiba di Tokyo Eki. “Kasihan kamu. Bukannya bermaksud menduakan 54 . diam-diam ia memejamkan matanya. ya Garsini?” Gadis Sakura itu tertawa. mengapa Garsini tak bisa menaiki kereta hibahan Jepang itu. “Kereta-kereta itu sangat bagus. jadi dinyatakan sebagai kelas eksekutif dengan harga yang tak terjangkau oleh saku kempesku.” jelas Garsini tertawa sumbang. Garsini amat terharu mendengarnya. janjinya terdengar tulus sekali. “Sumimasen. Maka. lupakan itu! Tak seharusnya hal seperti itu kupikirkan lagi. Menurut pikirannya kala itu. semakin lelah dan bosan. Bahkan kalau mungkin kereta peluru!” Kali ini Garsini sambil tertawa riang seolah ingin menghapus segala ironi perikehidupan di masyarakatnya. “Tapi aku janji nanti akan kuusahakan lagi. Setidaknya terhadap keluarga dan para sahabatnya.” bisiknya tersekat di tenggorokan. Mayumi terdiam.” Mayumi prihatin. “Sudahlah. Ucik. Mayumi-san. Asep dan para penghuni rumah singgah pinggir kereta itu melebihi rasa kangennya terhadap keluarganya. Karena selama di sini aku bisa sepuasnya naik kereta macam itu.menyandar santai lalu menutup wajahnya dengan ujung jilbabnya.”Tentu bukan itulah tujuan pemerintah kami…” “Tentu saja. mereka lebih tak mungkin untuk meraih kesempatan yang dimilikinya saat ini. Buktinya ia bahkan menanyakan alasan.” Mayumi terpaksa mengucapkan salam perpisahan.” sahut Garsini cepat-cepat. Ia menyesali tudingannya di atas kereta kepada gadis itu. mengira kelakuannya telah menyinggung hati sahabatnya. Mungkin di tempat kerjaku tahu-tahu ada yang memiliki benda menggemaskan itu. Tentu saja Mayumi seorang gadis yang memiliki empati tinggi. kepedulian yang mengagumkan. Mereka keluar stasiun berjalan tanpa arah dan tujuan. Sungguh lelah. aku harus berangkat kerja sekarang. rakyat miskin kota yang pernah digaulinya di Jabotabek dulu. “Kamu sahabatku yang terbaik.

kehendak Ilahi, tapi ia hanya melihat kenyatan di depan mata. Orang-orang yang terpinggirkan itu, Allah… lindungi mereka! Mata Garsini seketika memanas. Detik inilah ia diingatkan kembali untuk mensyukuri nikmat-Nya. Hingga dirinya kini bisa menikmati segala fasilitas super modern, melalui anugerah Ilahi dalam bentuk beasiswa itu. Oh, Allah, ampuni khilafku, jeritnya dalam hati. Mayumi malah mengira Garsini menangis karena kecewa atas kegagalan mereka mendapatkan kartu pas. Sehingga ia tak bisa secepatnya mendampingi sepupunya, membantunya. “Allahmu akan selalu memberi kejutan untukmu, kan begitu Garsini-san?” hibur Mayumi sambil menyentuh ujung jilbab Garsini. “Bagaimana?” Garsini terheran-heran menatapnya dan cepat menghapus air matanya. “Aku hampir meyakini bahwa kamu adalah gadis suci, gadis pilihan Tuhan…” “Pssst… Terlalu berlebihan, ah!” Wajah Garsini seketika bersemu merah. “Jadi, kamu tidak apa!” Mayumi tertawa kembali dan tampak lega. “Sudahlah, kukira sebaiknya Peter harus bertahan menunggu sampai hari Senin. Karena baru besok aku bisa naik bus jurusan Hiroshima… kereta api bawah tanah dan bus umum kan?” sahutnya pula pasrah. Sementara Mayumi menuju tempat kerjanya di kawasan Ginza. Garsini pulang ke asrama sambil terus mencari akal, jalan keluar untuk memenuhi janjinya kepada Peter. ***

Garsini tak bisa melenyapkan kekhawatiran perihal Peter dari bilik kalbunya. Ke mana pun dirinya melangkah, apapun yang dikerjakannya, otaknya terus-menerus mengait kepada sepupunya itu. Ada yang sungguh membuatnya prihatin dan cemas. Getar suara sarat kesepian dan ketakutan di telepon itu, addduuuh!

55

Nuansa ketakutan, kesepian serupa itulah yang sering melanda rekanrekan generasinya di Jepang. Seorang rekannya pernah bercerita tentang adiknya yang melakukan harakiri, penyebabnya hanya karena merasa ketakutan dan kesepian hidup di Tokyo. Tragedi macam itu bukan hanya sekali-dua didengarnya, tetapi sering dan itu sungguh amat menakutkannya. Tidak, saudaraku tak boleh dibiarkan sendirian bahkan untuk beberapa jam sekalipun, pekiknya dalam hati. Kamu sumber harapan hidup ibumu. Tante Arnie, apa yang sanggup dilakukannya tanpa dirimu? Bingung dara itu menghentikan semua pekerjaannya, program inovatifnya yang teranyar. Ia meninggalkan laptop pinjaman dari Haliza. Beberapa saat mondar-mandir di sekitar kamarnya yang senyap. Ia membuka tirai jendela kamarnya di lantai dua. Matanya menyergap nuansa malam musim semi menjelang musim panas. Arakan mega putih bak hamparan kapas lembut, pucat, lugas dan sungguh polos. Ia seolah menantang untuk dilukis. Ya, dilukis, kreasi, harapan dan impian… masa depan! Ugh, aku tak melihat apa-apa selain wajahmu, Peter, erangnya. Gadis itu meninggalkan nuansa malam di luar asrama, berbalik menuju pintu hendak mengambil tambahan aqua dari koridor. Mereka selalu menyediakan galon aqua di sudut-sudut koridor setiap lantai. Lengang dan senyap saat matanya mengapung ke sekitar koridor. Bulu romanya mendadak meremang. Membayangkan film-film horor dalam nuansa sama. Seorang gadis sendirian disergap kriminal, diperkosa dan dibunuh… Astagfirullahal adziim! Begitu berhasil mengisi botolnya, tergopoh-gopoh ia berbalik menuju kamarnya, cepat pula dikuncinya rapat-rapat pintunya. Di sudut kamarnya dekat kantong sampah, seketika matanya bersirobok dengan kantung plastik besar khusus untuk menampung baju-baju kotor. Oh, ia bahkan baru teringat lagi belum sempat membawanya ke tempat cuci umum. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukannya, meskipun ia sedang sesibuk apapun. Kebersihan kan sebagian dari iman. Ia sudah terdisiplin memelihara kesehatan dan kebersihan sejak kecil.

56

Kakinya seketika tergerak iseng mengutak-atik kantung itu hingga terbuka. Matanya berhenti di ujung gamis biru muda yang pernah dikenakannya pada hari pertama kerja di museum. Ia teringat sesuatu dan membungkuk untuk merogo-rogo saku gamisnya. “Naaah, ini mungkin bisa menolong kita, Broer!” pekiknya girang sekali. Dalam hitungan menit ia telah berada di luar asrama, menanti dengan tak sabar taksi yang dipanggilnya via telepon. “Imperial Palace made itte kudasai,”22 katanya kepada sopir taksi. Gadis itu menghenyakkan tubuhnya yang baru terasa sangat letih. Kapan terakhir kali ia bisa makan lengkap? Mungkin saat makan roti bersama Mayumi di luar kota siang itu. Semangat yang menyala-nyala dalam dadanya seolah mengirimkan suatu kekuatan baru ke sekujur tubuhnya. Seluruh kengerian dan ketakutan yang sempat menyergap di sepanjang koridor, seolah raib entah ke mana. “Betul gakusei-san ingin pergi ke tempat seperti itu?” Suara itu! Garsini mengenalnya dan segera mengamati sopir di depannya melalui kaca spion. Ya, ternyata sopir tua yang kemarin dicarternya sejak di perbatasan Odaiba menuju Sendai hingga ke asramanya. “Ah, Pak Mitszui!” sapanya santun. Lelaki paro baya itu menoleh ke jok belakang, merasa senang karena Garsini masih mengenalinya bahkan ingat akan namanya. Ia menghargai kesantunan dan penghormatan generasi muda. Gadis ini jelas bukan gadis sembarangan, pikirnya sejak pertama kali melihatnya dalam busana eklusif. “Menemui seseorang?” tanyanya menyelidik. “Ya, Pak, seorang guru besar Perancis yang baik hati…” Semoga demikian adanya, jeritnya mendoakan dalam hati. Garsini hanya ingin menghilangkan kesan curiga yang kentara jelas di wajah Mitszui-san. “Hati-hati, ya gakusei-san. Kalau ada apa-apa cepat panggil saya!” pesannya ketika mereka berpisah di depan Imperial Palace. ***
22

“Tolong antar ke hotel Imperial Palace.”

57

“Seorang Muslimah yang tetap terpelihara kehormatan dirinya. bertanya agak sangsi. Profesor Charles del Pierro tampaknya amat terkesan dengan perilaku Garsini. semua ini berkat kemurahan Allah semata yang senantiasa memelihara kesucian. Garsini merasakan wajahnya memanas. saya tidak apa-apa. Gadis itu sungguh keluar dari sana bak porselin cantik yang masih utuh dan indah. Dalam keadaan selamat tentu saja. Karena sampai saat itu. “Ya. gakusei Indonesia…” ucapnya tanpa bermaksud riya. entah dalam situasi segawat apa. “Haik. Pak. Secuil sangsi telah raib bersama kekalahan para iblis dari dasar neraka. kehormatan dan iman Islam saya…” 58 . saya percayalah!” sambut Mitszui terbawa emosinya ikut sukacita. “Bapak bisa lihat sendiri kan. Ia seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. tetapi beruntunglah dirinya. tetap segar bugar. ternyata masih ada lebih banyak orang yang baik dan tulus di sekitar dirinya.” puji Mitszui-san terdengar tulus. ya… saya kira Nona memang begitulah adanya. “Nona tidak apa-apa kan?” tanyanya agak cemas. Demikian yang terekam di kalbu Garsini begitu meninggalkan Imperial Palace. Maka segera terucapkan istigfar dalam hatinya. “Tentu saja. Semua kejujuran itu terpancar jelas melalui sorot matanya yang bening.Bab 6 Mungkin ada banyak kriminal berkeliaran di sekitarnya. “Sumimasen.” keluh gadis berkerudung itu bagai meralat. cemerlang. beberapa saat terdiam. Terutama atas semangat dan ketulusannya dalam membantu saudaranya yang terjebak di Hiroshima. setia menanti Garsini muncul selamat dari Imperial Palace. Hingga sopir paro baya itu menoleh lagi ke belakang. Garsini tersenyum riang. “Sungguh? Orang asing itu mau membantumu begitu saja?” Mitszui-san yang tak mau beranjak di pelataran parkir.” Sedetik Garsini segera menyadari dirinya bisa terjerumus riya. lugu dan murni. saya masih Garsini. Tanpa tergores secuil pun.

jangan pikir apa-apa lagi. ini ambillah dan jangan pernah dikembalikan!” katanya sambil tertawa riang. Nilai sejarah saya juga selalu bagus lho. “Baiklah. “Sudah saya bilang. luar biasa… Bahkan mulai besok saya sudah tak ada di Tokyo lagi. diantarnya gadis itu sampai lobi dengan gayanya yang amat kebapakan dan bijak. saya malah bingung mau diapakan benda ini. Ketulusan dan keikhlasan terpancar dari suaranya. lalu kartu pas ini?” Garsini kian tak enak hati. Bagaimana guru besar Perancis itu bersedia membantunya. “Kebetulan. saya seorang yang haus ilmu. berikut hotel bintang lima. Jadwal saya sungguh padat. sejarah bangsa-bangsa Asia kan?” Profesor Charles del Pierro geleng-geleng kepala. Prof…” “Tapi saya akan keliling Jepang selama musim panas nanti.” “Oh. Ia langsung mensyukuri nikmatNya dengan membilang tasbih dalam hatinya. Itu termasuk tiket pesawat eksekutif ke mana-mana. Mayumi tentu takkan percaya jika ia menceritakan pengalaman “viveri veri coloso” malam ini. bimbang. Tentu ia tak ingin memberi kesan negatif atas keberadaan Garsini di tempatnya saat itu. tak ada gunanya buatku. suite-room… Sudah. Mereka sudah menyediakan berbagai fasilitas mewah. memberikan kartu pas kereta peluru miliknya kepada Garsini tanpa imbalan apapun. “Ngng… mungkin ada yang bisa saya kerjakan selama Anda menetap di Tokyo? Yah. Okey?” 59 . Lain kali kalau ada kesempatan lebih baik dari saat ini. “Sudah kubilang. Garsini merasa bahagia sekali malam itu. gadis Muslimah dari Indonesia. ia akan menanyakan apa arti “iman Islam” yang dimaksud. menurutmu apa yang bisa kamu lakukan. Sekarang saya jadi senang sekali sebab mengetahui ini sangat bermanfaat buatmu… Hei.“Amiiiin!” sambut lelaki paro baya itu mengaminkan penjelasan yang dianggapnya sebagai doa panjang nan indah. umpamanya menambahkan referensi Anda. Giliran Garsini yang merasa tahu diri. hei kandidat pakar teknik informatika?” candanya. untukmu sajalah.

Memang tak perlu jadi tak enak hati lagi. Ia telah sering menemukan hal begini dalam sepuluh tahun terakhir. kepedihan yang disebabkan oleh ketak harmonis antara dirinya dengan ayahnya. Meskipun pernah ditentangnya. tapi dalam beberapa hal terkadang menegakkan harga dirinya. Kamu bisa mengajaknya jalan-jalan ke Ginza… atau ke mana saja kalian suka?” katanya di akhir pertemuan mereka. sudah tak punya rasa hormat lagi sedikit pun untuk perjuangan para leluhur? Mereka yang telah berjuang keras membangun negeri Jepang. patutnya disyukuri saja. *** Pemilik hotel kecil di luar kota Hiroshima itu mengeluh tentang kelakuan Peter yang dianggapnya terlalu berisik. Mungkin lagi patah hati dan sebentar lagi dipastikan bakal harakiri. dari keterpurukan akibat kekalahan memalukan pada perang dunia silang. “Oh. begitu menurut ayahnya. “Mungkin kamu mau menemani Charlotte… Dia itu putriku semata wayang yang akan datang akhir bulan ini. Ada jasa selalu ada imbalan. ya. Sebab ia tak pernah menginginkan belas kasihan orang. hingga seperti sekarang…” 60 . dan itu hanya menambah rasa marahnya terhadap pemuda bernama Peter van Moorsel. sungutnya pula kian sebal dan uring-uringan. Itu sungguh membuat hatinya angkara sekaligus kecewa berat.Ini sungguh rezeki dari Allah yang dikirimkan melalui tangan sang Profesor. Kadang ia menumpahkannya kepada istrinya yang berusaha menenangkannya. Ia selalu menghormati ayahnya sebagaimana seharusnya. “Apa dunia ini sudah mau kiamat? Apa mereka… teman-temanmu itu. Dan apapun yang pernah terjadi. tentu saja saya bersedia!” janji Garsini dengan amat lega. Garsini telah melupakannya. seru Garsini dalam hati. terlalu memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. Sehingga ia mendapat sejumlah komplain dari para tamunya.

semalam dia mengamuk.” katanya kemudian masih meneriaki Garsini di belakangnya. berusaha tersenyum manis dan menjawab santun pula. “Tolong. “Terima kasih…” Garsini menyambar kunci itu dari tangannya. ya?” “Ya. Ugh. bagaimana keadaan Peter? Di koridor menuju kamar Peter. “Kamu kelihatannya sangat… aneh!” diserahkannya juga kunci duplikat kamar Peter kepada gadis itu. kumohoon…” Sepasang mata pria Jepang paro baya itu membelalak lebar seolah akan menelannya hidup-hidup. tunjukkan saja kamar saudaraku itu.” kata wanita itu tersenyum hormat. sungguh saya suka melihatnya. “Terima kasih. boleh kan Nyonya?” “Hati-hatilah.” dengusnya. Nyonya. Nona? Adakah itu tren mode mutakhir? Rasanya sangat baik. 61 .Garsini hampir tak mendengar penjelasannya yang tampak sekali masih akan berlarat-larat. Hatinya menjadi kebatkebit dan jantungnya berdebur keras. “Ya. mengungkap keburukan sepupunya.” katanya mengingatkan. “Pakaian untuk wanita pemeluk Islam…” Nah. domo arigato gozaimasu…” “Kudengar Nona hendak ke kamar ujung itu. Agaknya ia istri pemilik hotel. Hanya satu yang segera ingi diketahuinya saat ini. keibuan. indah sekali. Nyonya…” “Muslimah… apa itu?” “Oh!” bibir Garsini tulus menyungging senyum. serba tertutup dan amat apik…“ ia menatap wajah Garsini lekat-lekat dalam sikap santun. “Boleh kutanya. bukalah sendiri. makhluk apa gerangan si jelita bertampang pucat ini? “Aku tidak tahu siapa dirimu.”Ini busana Muslimah. bukankah ini juga secuil syiar? “Oooh. ia berpapasan dengan seorang perempuan berwajah manis dan ramah menyapanya. baju apa yang kamu kenakan itu. Nona. Garsini merandek. *** Garsini terpaksa menahan rasa kesal atas sambutan sinisnya itu.

betapa ingin ia menepis segala prasangka dan fitnah yang mungkin telah menyebar di seluruh hotel kecil itu. Namun. Mereka sangat mengaguminya dan menghormatinya…” “Kau ingin bilang. kamu memang kulihat sangat enerjik dan eksentrik. “Lihatlah. “Diakah kekasihmu yang sudah membuatmu nyaris harakiri. Tapi hanya itu yang masih bisa terucapkan dari bibirnya. Saya mengenal dia dengan cukup baik kok…” “Mau-maunya gadis itu dipanggil…” seorang tamu melongok dari sebuah kamar yang dilewati Garsini. anak itu sudah membawa berkah ke sini?” “Bahkan lebih dari itu!” sergah istrinya kesal. rombongan turis yang baru masuk ke hotel kita tadi? Mereka mengatakan satu kereta dengan gadis itu. kala ia menanyakan asal kedatangannya. Pak. Mujur. to teh point saja apa yang ingin kamu katakan?” 62 . ia pun segera lenyap dalam tempo relatif singkat. tentu saja anak-anak metropolitan yang sangat ekspresif dan serba modern. dia merasa sangat surprise. “Makanya. Garsini berhasil menyejukkan suasana tepat pada waktunya.” tegur istrinya.“Saya adiknya.” cetus rekannya.” komentar istri pemilik hotel pula tentang jawaban Garsini. Lelaki paro baya itu masih berpikir-pikir tentang Garsini dan Peter. gadis itu lain sekali… Kau tahu. Lidahnya mulai kelu. jangan gampang naik pitam dan selalu sinis terhadap generasi putra kita. bagaimana kalau dia dihabisi di dalam sana. Seperti kemunculannya yang tiba-tiba bagai kilat pada pagi buta. ketika dalam bilangan tak lebih dari limabelas menit anak muda itu telah minta rekening kepadanya dengan wajah sumringah. heemmm?” Peter kontan naik pitam dan hendak meninju wajah lelaki sebaya ayahnya itu. *** Tokyo. “Aku merasa bisa memetik pelajaran yang sangat berharga hari ini…” “Jangan berlarat-larat. semuanya tak seburuk yang Anda kira. “Iya. “Baiklah. Garsini merandek sesaat. percayalah.

Penyebabnya konon karena modernisasi yang terlalu melejit nyaris tak seimbang dengan peradaban lama. Contoh kecilnya adalah perseteruan yang seharusnya tak ada antara pemilik hotel kecil di Hiroshima itu dengan putranya semata wayang.“Sudah saatnya kamu mengubah penilaian serba negatif terhadap generasi putramu. menakutkan. hanya karena pernikahannya tak direstui mereka. “Ujung-ujungnya kamu mau kita segera memanggil putra kita dari Korea. Ia merasa tak keliru kini. Agama lama yang masih dipegang pun bahkan tak bisa menjawab kebingungan mereka. terus-menerus mempercakapkannya. Putra mereka semata wayang telah bertahun-tahun pergi ke Korea. pikirnya membenarkan penilaian istrinya. menangkap sorot rindu menyembul dari sepasang mata tua di depannya. Ada riak-riak rindu yang membinar di mata lelaki paro baya saat memandangi punggung Peter. ia tak perlu membahasnya lagi. Di antara tarik ulur itulah generasi muda Jepang terlahir. mungkin juga anak-anak muda itu membawa berkah. hidup dan berkembang tanpa arah yang pasti. Namun. Ternyata generasi putraku tak separah seperti yang kubayangkan selama ini. sementara putramu itu…” “Alaah. Ya. siapapun gadis itu sesungguhnya. berani. Demi menolong sepupunya. Membawa serta istri dan anak-anaknya. Terutama semangat dan keyakinan yang dimiliki gadis berbusana eklusif itu. itu buktinya. hingga mendorongnya melakukan perbuatan nekad. bukan? Bertele-tele segala…” Perempuan itu terdiam. satu hal yang pasti kemunculannya telah menggetarkan simpul ikatan kasih yang sejak lama terputus. Hmm. aku tahu sekarang!” tukas pemilik hotel. Aha. katanya memutuskan. yang berjalan tegak di samping gadis berbusana eklusif itu. kebaikan dan keanggunan masih dipadu dengan kemandirian dan kesalehan. yang keukeuh ingin dipertahankan oleh generasi sebelumnya. Ketulusan. Ia mendengar rombongan turis Belanda yang baru tiba di penginapannya. anak itu berani melakukan 63 . Di Jepang begitu banyak manusia terjebak dalam dunianya yang senyap. pasangan anak muda itu. Buktinya gadis itu sangat mandiri. Dia kan hanya anak perempuan.

Mereka memesan roti segar dan kuekue basah khas Jepang yang lezat di sebuah kedai yang bersih. “Okusaaan! Berapa nomer telepon putraku itu? Biar aku telepon dia sekarang juga. turun entah di mana. hanya air yang bisa masuk ke tenggorokanku. Selera 64 .” tebak Garsini. “Itu benar. Dalam demam tinggi itu. Wajahnya berseri-seri sehat dan bugar. Malah sempat dipanggilkannya seorang dokter. sebelumnya Peter sudah lelah melacak jejak mereka. lalu bersama mereka menumpang kereta peluru sepanjang malam itu. Hingga ia nekad berangkat sendiri. Seolah-olah ia tak pernah makan dalam dua hari itu. “Bukan cuma mengira nyentrik… Dia memergokiku lagi menceracau. Padahal. bisa fokus dan berpikir jernih kembali. Peter menyantap penganan yang terhidang dengan sangat lahap. Begitu pula perihal secara kebetulan Garsini bertemu rombongan turis Belanda. jadi ditudingnya aku sinting. “Karena itu pemilik hotel mengira kamu orang nyentrik. Di matanya yang kolot itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa. rasanya aku melempari mereka dengan galon-galon aqua yang sudah kosong…” Kini Peter mulai bisa mengenang tiga malamnya yang terburuk itu dari sudut pandang orang sehat.perjalanan seorang diri dari Tokyo. elak Garsini setiap Peter ingin mengetahui asal-usul kepemilikan kartu pasnya. Di tengah perjalanan seketika ia merasa dirinya mulai sakit. kemudian terdampar di Hiroshima. Jadi. rasanya tak usah dibahas. ia terpaksa menghentikan perjalanannya. bergalon-galon aqua kupesan. naik taksi… Tahu-tahu mendapatkan dirinya di hotel kecil itu! “Wuiih.” aku Peter. petualangan yang mencekam tuh!” katanya mulai bisa tertawa lagi. supaya secepatnya bawa menantu dan cucu-cucu kita pulang ke sini…” *** Apakah itu berkah atau kebetulan-kebetulan yang menguntungkan saja.

Sepanjang perjalanan ia menemukan orang-orang di mana-mana bicara perihal cuaca. “Apa kamu nggak takut seperti kejadian di Tokyo tempo hari?” tanya Garsini mengingatkan. Sesungguhnya Garsini baru menyadari kebiasaan orang Jepang yang amat menyukai bicara perihal cuaca. 65 . ya?” “Ya. Samar-samar kupingnya masih menangkap dua orang lelaki di sebelahnya bicara perihal cuaca buruk. Giliran Garsini yang tampak pucat kurang tidur. ditingkahi angin musim semi yang menerobos melalui tirai jendela kedai dari arah pegunungan.makannya sungguh telah kembali.” Tapi aku punya kenalan yang sedang melakukan perjalanan ke arah Hokkaido. Perjalanan naik kereta peluru beserta upaya dalam mendapatkan kartu pasnya. Malah membuat Garsini yang menyaksikan kelakuannya jadi khawatir sekali. bisik hati Garsini. Non. Saporo. Tentu Mayumi akan senang bila sahabatnya ini terus bertambah wawasannya mengenai masyarakat Jepang. Nakajima-san. Namun. Kepalanya berayun-ayun. Orang Sunda bilang mah mamayu!” “Mamayu itu kan kalau sakitnya lama. taifun yang melanda beberapa bagian Negeri Sakura. “Aha… ini soal lain. “Iiih. transportasi ke arah selatan Hokkaido mengalami macet total…” “Dilanda taifun dahsyat. Jadi Garsini membiarkan Peter bicara dengan mata yang berat oleh kantuk. bahkan ia tak peduli akan keunikan cuaca di antara musim semi dengan musim panas yang terjadi di kawasan Jepang. Ia ingin mengabarkannya kepada Mayumi. apa pedulinya saat ini? “Kau sudah dengar. Ini satu pengetahuaan baru lagi. sungguh suatu tualang melelahkan. Otaknya bagai berhenti seketika. pokoknya mamayu we naha?” Peter keukeuh. mengerikan sekali!” “Untung aku tak punya kenalan atau famili di kawasan sana. begitu sembuh langsung doyan makan apapun.” sahut Garsini sekenanya.

Namun. kali ini Peter sukses menerangkan keinginannya melalui bahasa tarzan dan isyarat. Sedetik Peter masih mengira Garsini hanya ketiduran. “Waah. yaap. “Help. Beruntunglah. Memori otaknya tak mampu menggerakkan isyarat untuk melakukan ini dan itu. heeelp…!” serunya pula kepada si bule yang pertama dilihatnya di kedai itu. ada apa Garsini? Kamu… yaah. please. kok malah tidur di sini sih?” Dua lelaki yang duduk di sebelah mereka tersentak dan bangkit menghampiri pasangan muda itu. Akhirnya Garsini merasa tak tahan lagi. tapi mana tahu kan? Lagi pula ia masih trauma dengan demam malaria yang baru saja menyerbu dirinya sendiri. hingga Peter memahaminya. kenapa gadis ini. bahkan ada yang mengkhawatirkan keadaan Garsini… Ia mulai panik. “Apa yang terjadi dengan nona ini?” tanya seorang di antara mereka. Sehingga dalam bilangan menit sebuah taksi tiba di kedai itu. Bruuukk…! “Hei. *** Garsini telah menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan sang De Broer. kepalanya sungguh bagai mengalami kemacetan total. “Apa dia sakit?” cecar rekannya mencemaskan. “Tidak. dia hanya ketiduran saja kurasa…” Peter tertawa. Bahkan sekadar untuk mengatakan keadaannya itu pun kepada Peter. “Taksi. terkalahkan oleh jurig tunduh. ia sungguh tak sanggup lagi. ya?” “Wajahnya pucat pasi seperti mayat…” “Jangan-jangan dia terserang penyakit… epilepsi?” Dan kebetulan yang terakhir bicara itu justru orang bule dalam bahasa internasional. takesu kudasaaaai. takesu. Hanya ingatan 66 . Meskipun ia tak yakin bila sepupunya punya indikasi epilepsi. malah mungkin hanya ingin menggodanya saja. Tapi manakala orang-orang mengerumuni mereka. haaaiik!” seru Peter dengan panik sekali. Ia tak ingat segalanya sampai beberapa jam lamanya.

di dalam lagi ditemani Okusan.” sahut Peter. air hangat masih terasa membekas. kakiku yang terkilir di kereta sudah sembuh berkat dia. “Seperti kata dokter Sumitsu-san di depan sana. Seorang wanita paro baya baru selesai mengelapkan handuk kecil ke wajahnya. tidak apa-apa…” Kuping Garsini sayup-sayup mendengar orang bercakapcakap.” sahut Okusan sambil tersenyum hangat. siapa orang ini? Garsini berusaha bangkit. kamu hanya kelelahan saja. Adikmu itu baik sekali… eeh. maka ia menghampirinya lebih dekat lagi dan tersenyum ramah. tapi sekujur tubuhnya masih letih bahkan kaku untuk digerakkan. siapa Ibu?” tanya Garsini. Sampaikan rasa terima kasihku kepadanya. “Kalau kalian ikut tentu akan lebih semarak. Peter bercakap-cakap dengan seorang pria kulit putih. 67 . wajah sepupunya yang mencemaskannya…. setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan sebelum ikut rombongan melanjutkan perjalanan. kamu baik sekali mau meluangkan waktu mampir…” “Yeah. Wanita Jepang itu menyadari keheranannya. “Hai… Nona sudah betul-betul bangun ya kan?” sapanya. “Yah. “Ngng… di mana ini. Peter. “Istri pemilik kedai di seberang…” “Kau sudah mirip sekali dengan orang Jepang. “Thank’s. ya Peter…” suara wanita yang tak asing lagi. “Sayang sekali. bayangan-bayangan asing yang sibuk di sekitar dirinya. Ibu itu duduk di sebelahnya dan menyentuh tangan Garsini. kalian harus istirahat dulu di sini. Ia hanya memandangi wajah di depannya. matanya juga menangkap bayangan-bayangan di depan pintu kamarnya. Oh. ya?” entah siapa tapi itu suara seorang wanita yang berbeda.” sindir suara wanita. “Kamu berada di hotel terbaik di kota ini. “Sekarang sudah baik. “Siapa?” orang itu terdengar tertawa.yang timbul tenggelam. ya Smith. bagaimana keadaan adikmu itu sekarang?” tanyanya seperti penasaran sekali. selamat mendaki gununglah. manis dan lembut mengingatkannya kepada ibu Mayumi. Jadi. Beberapa saat terdengar tawa riang.” kata Peter terdengar ikhlas.

Sejak itu mereka menaruh hormat dan kekaguman tersendiri kepada Garsini. Ia memberikan pertolongan yang amat diperlukan Peter. Sebagaimana sikapnya sebelum peristiwa itu terjadi. mencurigai gerak-geriknya yang dianggap aneh… Padahal. Ketika Garsini berhasil memberikan sebagian ilmu yang diperolehnya dari dojo. hingga rekan-rekannya mendadak heboh. dalam hal urutmengurut. tanpa peduli terhadap orang-orang di sekitar mereka. Sedang para bule itu terus-menerus berisik. gadis Belanda itu tentu saja Beatrice. “Biarkan saya membantu Nona ini. tak seorang pun berani komplain terhadap keributan yang ditimbulkan mereka. ya. Garsini ingat lagi. betapa terheran-herannya mereka. please…” kata Garsini. impaslah sudah! *** 68 . Segala canda ria berhenti total. Memejamkan matanya dan membilang zikir dengan jari-jemarinya. Meskipun Garsini menyambutnya biasa saja.“Ya. tentu saja akan kusampaikan…” “Kalau begitu kami pamit saja. seketika tergerak untuk mengulurkan bantuan. bahkan cenderung tak menggubris tingkah laku mereka selama sisa perjalanan malam itu. Mula-mula reaksi mereka adalah memandanginya dengan terheran-heran. Anehnya. pasangan Beatrice ternyata seorang dokter. Gadis yang tiba-tiba terkilir saat dia pamer kemahirannya bersalsa. daaag Peter!” “Daaag…” balas Peter mengantar dua pasang anak muda itu dari depan pintu kamar. Smith. Garsini tengah berusaha keras untuk khusuk shalat isya malam itu. Garsini yang duduk di gerbong sama dan semula agak terganggu dengan keributan rombongan bule itu. saat menghadapi sepupunya yang mendadak colaps. merubung-rubungi si Beatrice yang mengerang-erang kesakitan. akhirnya mereka sama mengakui keunikan dan kehebatan gadis berbusana eklusif itu. Kalau begitu. Sebelumnya pun mereka sempat melecehkan caranya berpakaian. Dari rasa heran campur malu.

tampangnya masih pucat pasi. Peter seperti memahami keinginannya. seorang schizoprenia akut di mata pemilik hotel itu. tak kurang suatu apapun… Garsini baru mengetahuinya kini. Sebaliknya penampilannya tentu amat menyedihkan. Peter telah merawatnya dengan sangat baik sekali. tak terjadi hal buruk. malah menatapnya lekat-lekat dengan rasa kagum dan sayang seorang saudara sedarah. kisruh… Di mana jilbabnya selama ini disampirkan? Dengan gugup dan jengah. cepat-cepat menutupi rambutnya yang tergerai panjang. seketika ikut merasa gemetar dan menggigil sepanjang menyimak kisah yang dituturkan Peter. seketika Garsini bisa menangkap kepedihan yang dalam di mata anak muda itu. lima tahun ketika itu tapi masih kuingat saat-saat mengerikan itu… Orang itu memukuliku. Meskipun itu sia-sia. Garsini percaya. ugh. “Biasanya juga hanya dua-tiga hari menyerang. saat kanak-kanak di awal kedatangannya berdua ibunya di negeri Kincir Angin belasan tahun lalu. ya?” Peter tertawa sumbang. karena toh ia tak tahu apa yang terjadi selama sehari semalam itu. Tidak mengapa.Bab 7 “Bagaimana malariamu sekarang?” Peter tak segera menyahut. Garsini berusaha menutupi mahkota indahnya dari pandangan sepupunya. Kepedihan di masa silam. mimpi-mimpi buruk… mengerikan sekali! Apa aku seperti sosok psikopat yang siap membunuh. Sedang di luar 69 . pikirnya. Mereka sempat disekap oleh seorang lelaki Belanda. “Aku masih kecil. Menurut Okusan tadi. Sekilas diliriknya wajah De Broer-nya. Itu sudah lewat. yang dikenal Arnie melalui biro jodoh di dunia cyber. Kepedihan mengental itu telah menyilih kebingungan yang semula menyelimuti hati Garsini. menyekapku di kloset. Garsini menerimanya tanpa bicara. Garsini masih belum paham sepenuhnya. interniran militer. disambarnya kerudung Garsini yang tersampir di kapstok dan diberikannya kepada gadis itu. sama sekali tak memperlihatkan pertanda orang baru sembuh dari sakit parah.

Mereka kemudian menyusuri salju tak tentu arah dalam baju tipis. Tante Arnie kemudian menerima lamaran Paul van Moorsel. “Musim dingin. Pengalaman itu sangat membekas dalam ingatan Peter kecil. sebab tak ingin lebih banyak menyusahkan orang tua dalam hal finansial. Akhirnya. Bahkan menjadi mimpi-mimpi buruknya untuk beberapa lama. Peter memutuskan bergabung dengan militer Kerajaan Belanda. Pendetanya sangat baik. Van Moorsel. sungguh mengerikan! Entah apa saja yang telah diperbuat si jahanam itu terhadap Mami. menggapai kasih sayang mereka dan memperoleh perlindungan serta kehangatan. nyaris mati kelaparan dan kedinginan. Sehingga ia sempat menjadi pasien psikiater sepanjang tahun. Memiliki rumah mode sendiri di Huizen. Papi sangat mendukungnya. hiks. Sebuah bangunan yang ternyata adalah kapel tampak oleh mata mereka. salju pertama yang kami lihat di negeri Kincir Angin ketika itu…” Peter melanjutkan kepedihan masa silam yang tak pernah terungkap hingga bertemu Garsini. suatu siang yang penuh salju kesempatan itu datang. 70 . menjadi paranoid dan kleptomania! Semua itu konon sebagai dampak traumatis jiwanya di masa kecil. Tante Arnie nekad turun dari lantai tiga apartemen si George. memiliki seorang putra yang masih lajang. hingga kakinya terkilir. oooh. “Kukira sekarang Mami sudah bisa mencintai ayah tiriku yang baik hati itu.kudengar suara Mami mengerang. Asalnya mungkin hanya sekadar balas budi. hiks…” Peter menangis tersedu-sedu di hadapan Garsini yang ikut memburaikan air mata. Ke situlah akhirnya Tante Arnie berlabuh. Bertahun-tahun Mami sekolah di mana-mana malah sampai London segala…” Sekarang Tante Arnie telah menjadi seorang perancang busana yang sukses. bahkan menyemangati Mami agar melanjutkan sekolahnya. Agaknya Peter amat tahu diri akan hal itu. Meskipun ayah tirinya tak pernah mengeluh perihal biaya pendidikannya. susah payah menurunkan putranya. memohon-mohon agar si Monster itu membebaskanku… Mami rela berbuat apapun demi kebebasanku.

Maka ia meminjam handphone Peter. Maka Garsini pun mengangguk ikhlas. ya… Jangan pernah ungkapkan kepada siapapun. please…?” Ada untaian kristal gemerlap di sudut-sudut mata itu.” bisiknya serius sekali. Dari kejauhan Peter mengawasi gerak-geriknya sambil mesem-mesem. pasti akan kumat jantungnya kalau mendengar kisah ini! Tiba-tiba Peter meraih kedua tangan sepupunya dan menggenggamnya erat. Kadang dia mirip sekali 71 . semakin mengasihi dan menghormatinya. Garsini berpikir. apa kabar Tokyo…?” sapa Garsini riang.”Ini hanya menjadi rahasia kita. Lebih erat.” janji Garsini. masa lalu yang tak perlu kita ungkap… Tak perlu kita kenang lagi. Ia meminta pertimbangan dan kabar baru mengenai Nakajima-san kepada Mayumi.Siapa mengira elegi kelam itu pernah mereka alami? Di dalam keluarga ibunya. akhirnya ia berhasil juga mengontak sahabatnya itu. “Tolong. yakni untuk mempengaruhi sepupunya dalam hal keyakinan… Tapi hidayah itu bukankah sesuatu yang hanya timbul dari kedalaman kalbu seseorang? Ia hanya bisa mempengaruhi. toh segalanya terpulang kepada takdir-Nya. *** Peter meminta kesediaan Garsini agar menemaninya melanjutkan perjalanan wisatanya. “Moshi-moshi. sejak saat itu sikapnya terhadap Peter akan berubah total. demi kasih sayang sebagai saudara sedarah. Mereka tak pernah tahu arti di balik kabar sukses itu. Garsini lebih sering mendengar pujian dan kekaguman terlontar atas keberhasilan Tante Arnie di negeri orang. curahan transfer uang dan bingkisan dari Tante Arnie untuk saudara-saudara di Cimahi… Oma Aliet. Meskipun ada sebersit niat yang dibawanya sejak keberangkatannya dulu. tentu saja ini hanya kisahmu. supaya bisa menghubungi Tokyo. Garsini agak bimbang. Setelah sabar menanti sinyal selama setengah hari. “Ya. Dipandanginya wajah Garsini lekat-lekat. sebagai pemicunya.

Sementara di satu sisi sedang musim semi menuju musim panas. Terpaksa pulangnya ditunda sampai akhir bulan…” “Waaah. Lucuuu deh kaamuu! “Jangan pernah lewatkan kesempatan emasmu itu. jadi bagaimana tugas para sesepuh di museum itu?” “Tenanglah. Garsini-san!” seru Mayumi penuh semangat seperti biasa. Sudahlah. diberitakan frekuensinya lebih besar daripada taifun di bagian dunia manapun. terjadi hujan dan taifun khas Jepang di sisi lainnya. “Pak Nakajima sudah telepon. sampaikan salamku buat abangmu. tak ada masalah apa-apa di Tokyo yang perlu kamu khawatirkan. ya?” sindirnya. aku sudah berhasil merekrut beberapa adik kelas yang mau kerja sambilan di MeSci. Garsini-san. sifatnya mirip dengan angin-angin topan yang kerap memporak-porandakan pantai timur Amerika Serikat. 72 . Garsini menyimaknya dengan seksama dan penuh perhatian. Sebagaimana Peter membaca korannya dengan mimik serius. takjub sekaligus keheranan. dia langsung mengotak-atiknya. Non. siapapun namanya dia… okey?!” Kliiik! Telepon betul-betul diputus oleh Mayumi. Ini cuaca yang sangat unik. Rangkaian angin badai atau taifun itu. “Ibarat sang Monster. Mayumi suka celoteh ke mana-mana. di sini semuanya sehat dan serahkan saja soal MeSci itu kepada yang berhak…” “Ada kabar dari Pak Nakajima?” tukas Garsini penasaran. Keduanya merupakan hasil hubungan umum yang sama antara daratan dengan air pada garis-garis lintang yang sama pula…” Peter membaca pelan koran lokal di tangannya. “Ini sambungan jauh. cepatlah… lagi pula ada taifun di mana-mana!” Terdengar tawa renyah dari seberang. bukan sebagai dampak taifun yang melanda seluruh negeri Jepang saat itu. Kalau tak diingatkan.“Kamu suka dikejar-kejar setan begitu selamanya. “Tak perlu pertimbangkan apa-apa lagi.dengan bocah! Pas diberi kesempatan pegang benda itu. Sudah kubilang. katanya lagi bersenang-ria bersama keluarganya di Saporo. pikir Garsini lesu mengembalikan handphone ke tempatnya semula di atas meja. selamat bersenang-ria. Oya.

Mengapa harus negeri ini? Mengapa tidak negeri lainnya? Mengapa. Penderitaan.” tukas Peter tanpa ampun menohok ulu hati gadis itu. sanggup Engkau timpakan begitu saja kepada makhluk. Garsini?” tanya Peter membahana di antara gumpalan awan yang berarak dari arah selatan pegunungan. Mereka. Ia merasakan tubuhnya seketika dingin. taifun. mengapa. tak memiliki rumah yang layak huni.“Namun. justru di situlah tempat taifun pertama-tama mendarat…” Garsini hampir tak tahan lagi membayangkan ribuan korban jiwa yang tak berdosa berjatuhan. Anak-anak. mengejutkan Garsini pada kenyataan kembali. Itu cukup berhasil. Sementara bagian terbesar penduduk Jepang terpusat di pantai-pantai laut sebelah barat daya. “Ya Allah. Mengapa. Peter?” ujar Garsini menatapnya pilu. Hiroshima. mengapaaa? “Apa yang kamu katakan barusan. Persis seperti saat ia menyadari dirinya berada di Hiroshima. Tuhanku. kehancuran anak manusia. tapi berhasil menarik pulang sebagian jiwanya yang sempat mengapung dalam samudera kepedihan anak manusia. Sebuah kota yang pernah dijatuhi bom atom oleh sekutu di masa perang dunia. kakek. yang konon paling mulia di antara seluruh makhluk ciptaan-Mu itu…?” suara pilu Garsini tersekat di tenggorokan. 73 . Digasak sang Monster! “Tak bisa terbayangkan akan berapa juta lagi korban jiwa yang bakal berjatuhan. ribuan korban jiwa dan harta yang tak terhingga. mengapa taifun itu selalu datang dan menghancurkan Jepang…?” “Ditambah bencana gempa secara berkala dan setiap saat. penduduk yang tak berdosa. nenek lanjut usia…” lanjut Peter masih asyik membaca. “Tadi aku sempat mempertanyakan kepada Sang Khalik. mungkin sudah miskin sekali. sang Monster… Seolah-olah satu kesatuan jahat yang siap menghancurkan seluruh rakyat Jepang. sang Monster ini menggasak Jepang begitu hebatnya hingga menimbulkan kehancuran. wanita hamil. “Ya. bagaimana kehancuran dan kepedihan yang maha ini.

Mengerikan.” gumamnya lirih. “Korbannya konon lebih dari 130 ribuan tewas seketika. Terbayang bagaimana dirinya suatu saat bakal menjadi salah satu korban bencana itu. atau masih sempat ditemukan oleh regu penyelamat.. bayangkan saja. Ini tragedi kemanusiaan yang tak terampunkan. Tahun 1783. begitukah? Peter malah terus saja membacakan sekilas ulasan bencana yang pernah melanda Jepang di masa silam. Entah terkubur begitu saja. Tahun 1923. Apakah itu akan selalu terjadi. sanak saudara. Peter melemparkan koran di tangannya begitu saja. menyeberanginya… Ups! “Astaghfirullahal adziiim.. kapan saja. Untuk beberapa jenak tak ada yang bicara lagi. merenanginya. Asama. demi Tuhan. Susah payah Garsini menembus samudera ketakutan itu. Hening mengapung di sekitar mereka bak mata pisau yang menikam telak jantung masing-masing. Mengejutkan saat pertama kali. Garsini!” serunya masih belum melepaskan korannya. Terasing. di mana dan seberapa parahkah?” “Setiap saat. di mana pun kamu berada di seluruh pelosok negeri ini…” “Ya Allah!” seru Garsini menutup wajahnya ngeri. Garsini… Ini sungguh mengerikaaan!” serunya histeris. menghancurkan ratusan mil persegi kawasan Honshu bagian tengah.Wajah pilu itu kini memucat. Semuanya disamaratakan dengan tanah. suatu hari ketika ibunya baru saja babak 74 . Pintu yang terbuka meniupkan hawa segar angin musim semi dari pegunungan di belakang penginapan itu. Apakah kala itu masih dalam iman Islam atau sebaliknya. sebagai penggugat-Nya? Mati dalam kekufuran nikmat-Nya. kapan. mengamuk pada tengah hari bolong. seorang diri. “Wooow. Sang Maut. “Ya. 1 September gempagempa dahsyat berulang kali menghantam Tokyo dan kota pelabuhan Yokohama. Napasnya tersengalsengal. menyelaminya. aku pernah mengalaminya. Keduanya duduk terpaku di atas tatami. sesak sekali. Garsini tersadar dalam sepenggal nostalgi bersama ibunya. kematian itu merenggutnya dengan telak. tapi kemudian aku mulai terbiasa. jauh dari orang tua.

Bayangannya tak ada di antara para pemuja dunia gemerlap. “Apa artinya itu?” Begitu pula tanyanya kala itu. kenikmatan sesaat… Dia begitu unik. penuh perhatian dan pengaguman diam-diam. Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa cuaca cerah di Jepang bisa mendadak berubah… mengerikan! *** Sepanjang hari itu mereka menghabiskan waktu untuk keluyuran di kota yang pernah dibom atom sekutu. Ma? Mama pun berkata lugas. pikir Garsini. Tidak goyah oleh hempasan angin. tapi kapan kita akan kembali ke Tokyo?” “Sore juga bisa. seolah baru kembali dari kembara yang amat menyedihkan itu. istiqomah itu apa. Mengapa Mama diam saja. Saat itulah ia baru menyadari akan kemandirian sepupunya. anakku. kita jalan-jalan mumpung cuacanya cerah!” ajak Peter ingin menghilangkan rasa ngeri yang sempat membelenggu hati mereka. Jadilah manusia yang istiqomah terhadap Allah. geramnya menggugat. para turis asing yang berseliweran di sekitar mereka itu… 75 . Garsini tak sama dengan para remaja bule yang pernah dikenalnya di Holland.” diraihnya tubuh Garsini kecil dan mendekapnya ke dalam dadanya. Bagaimana dengan prasangka dan fitnah? Adakah mereka percaya kalau keduanya bukan pasangan roman. pasangan bebas? Seperti pasangan lain. “Orang yang istiqomah terhadap Allah memiliki empat sifat gunung. langka! “Ayo. tepatnya. Sesungguhnya Garsini merasa agak tak enak hati juga. Peter pun menoleh ke sebelahnya. mengingat mereka jalan bareng dan selalu tampil berduaan. “Baiklah. selebriti dan hal-hal bersifat semu. Tidak beku oleh cuaca dingin. Tidak bergeser oleh arus air…” Peter menyimak perkataan gadis itu dengan seksama. Asyik kan bisa naik kereta malam-malam lagi?” Peter tertawa riang.belur dipukuli suami. “Tidak lebur oleh terik mentari. naik taksi ke kota dari sana dilanjutkan dengan kereta. Kelihatannya rencana yang bagus dan takkan ada hambatan apa-apa. tidak balik melawan Papa. kata wanita tegar itu.

karena dia seorang turunan aristokrat Kerajaan Oranye. itu bukan salahnya. gadis yang satu ini mudah sekali merespon segala sesuatu dengan tawanya yang riang. Garsini tersenyum menyambut empat muda warganegara Belanda itu. “Jangan kejam begitu. “Tidak juga. Peter. Sepenuhnya kesalahanku. “Tentu saja.” bujuk Smith menatap mesra dan mengecup sekilas pipinya.” celetuk Beatrice tertawa riang.” ajak Garsini tak tahan lagi dengan tatapan selidik. “Waktu terkilir tempo hari di kereta peluru itu…” “Dia sama sekali tak tertawa malah menjerit histeris kesakitan.” keluh dokter muda itu dengan raut kecewa sekali. “Para manusia nekad itu memaksa pergi juga dengan pemandu yang tak kalah nekadnya. tak mengenakkan hati itu. Saat bersitegang itulah mereka bertemu kembali dengan rombongan Smith yang urung naik gunung Fujiyama. Kami disarankan untuk membatalkan perjalanan tamasya ke arah sana.“Kita kembali saja ke hotel. kalau kalian pergi aku terpaksa harus tinggal di sini sendirian atau balik ke Tokyo juga sendirian.” elak gadis Belanda itu menanggapi komentar Garsini selang kemudian. sebab tak begitu suka hiking. Lagi pula. Garsini melengos dan berpikir. Mereka mampir di kafe yang agak sepi di sudut kota untuk makan siang.”Bikin semuanya panik dan ketakutan…” “Kamu tidak berguna sebagai seorang kandidat Doktor!” ejek Marlene van de Kaplan yang wajahnya mengingatkan Garsini kepada Sophia Latjuba. “Cuacanya sangat buruk. “Mana yang lainnya?” tanya Peter. Dialah satu-satunya yang memperkenalkan diri kepada Garsini dengan nama lengkap. “Aku malah bersyukur. ah.” tukas Beatrice masih juga tertawa riang. Menyewa mereka dengan harga lipat-lipat. “Tapi kita belum ke mana-mana.” protes Peter. terlalu genit memamerkan salsaku dan… Begitulah akibatnya!” 76 . Marlene van de Kaplan. Beatrice berseru memanggil Garsini dengan suaranya yang lantang. Sayang. Konon. “Karena kakimu belum begitu sehat.” jelas Hendrick yang selalu digelendoti manja oleh gadis bernama Marlene van de Kaplan.” ejek Smith.

hemm?” Marlene menatap Garsini dalam sorot mengiri. kalau begitu kamu anak orang kaya.” sahut Garsini semakin tak nyaman berada di tengah orang yang bukan golongannya. Apakah ia dan Peter bisa menolak ajakan mereka untuk bergabung? Dan akan beberapa kali lagi mereka harus bersulang? Toast. “Saya bisa kuliah di Universitas Tokyo itu dengan beasiswa dari pemerintah Jepang…” Suasana yang sempat kaku itu segera dicairkan oleh ajakan riang Beatrice. “Sudahlah. Garsini merasa tak enak hati dan sesaat hanya menunduk dengan wajah merona. “Waah. Broer. kami haturkan beribu terima kasih atas pertolonganmu waktu itu. Mereka sungguh bukan golonganku. Rombongan Smith masih menginap di hotel kecil tempat mereka sebelumnya. menggaet gadis secantik dan sepandai dia…” Marlene menambahkan dengan nada sok tahu. okeeey?” Ketika tangan-tangan para muda itu terulur dengan mengacungkan gelasgelas kristal. Sekali lagi.“Beruntunglah ada Angel. dia sepupuku dari Indonesia yang sedang belajar di Jepang sini.” Smith bersopan-sopan secara demonstratif. Kalaupun ada yang agak melegakan Garsini adalah mereka tidak tinggal satu hotel. Miss Indonesia ini. kalian ini… Mari kita bersulang untuk persahabatan antar warga dunia. “Kapan kalian meresmikannya?” Garsini tersentak bagai tersengat listrik. Ia melirik ke arah Peter dengan mata memelas. ternyata kemudian betapa sulit Garsini melepaskan diri dari rombongan itu. “Tidak juga. “Kami ini bersaudara. teman-teman barunya yang beraneka ragam karakter dan kelakuannya itu. “Berbahagialah kamu. sang Penyelamat. Peter maklum akan ketaknyamanan hatinya.” jelas Peter tegas.Tiba-tiba Hendrick berkata seraya memandangi Peter dengan agak mengiri. toast…! 77 . Garsini semakin mengkerut hatinya. aku sama sekali tak pantas berada di sini! Namun. Garsini tak dapat membayangkan seandainya mereka satu hotel.

suara lantang dan perilaku yang mbarat sekaaalee… Budaya Barat telah merebak di sekitarmu.Dan bunyi gelas beradu pun berdentingan. membarengi tawa genit. Garsini! *** 78 .

Garsini ternyata telah siap mengantisipasi kemungkinan macam ini. Kita tak bisa ke mana-mana…” “Baik. penampilan sepupunya itu memang selalu memikat. Garsini jadi lebih gelisah lagi. sebab hotel telah dipadati tamu yang terjebak angin badai di kawasan itu. siapa namanya itu yang suka dikejar-kejar para fansnya? 79 .Bab 8 “Hari ini juga kita kembali ke Tokyo!” cetus Garsini keesokan harinya menegaskan tanpa bisa ditawar-tawar lagi.” sungutnya. Terpaksa Peter keluar untuk menuruti permintaannya. kemudian bangkit untuk minum teh. mendatangi pemilik hotel. Dia sama sekali tak mirip selebriti yang arogan. “Ini Kagume. Peter tidur di atas tatami. Sepanjang malam ia merasa sangat tersiksa dengan situasi yang mereka hadapi.” jelas Garsini. Garsini menggeleng. Mujur. Tapi melihatnya gelisah begitu. gentle dan berwibawa. tapi ia sudah memutuskan sikap. putri pemilik kedai seberang itu. Usianya sekitar dua-tiga tahun lebih muda dari Garsini. gelisah jalan mondar-mandir. Beberapa saat kemudian Peter kembali dengan tangan hampa. “Ada apa denganmu?” Peter bertanya cemas. “Kalau begitu. Kagume membungkuk takzim ke arah Peter. dan sama sekali tak pernah dibayangkannya. Garsini harus mengakui.” Peter terperangah. Garsini mengangkat bahu dengan tampang disetel serius sekali. bergelung kedinginan dan bisa dipastikan sulit tidur juga. pesankan kamar satu untukku. dia bukan seorang perokok. Jangan khawatir. “Siapa dia?” Peter terheran-heran menatap seorang gadis asing di kamar mereka. kamar itu nanti akan kubayar sendiri. ekor matanya mengerling kagum.” kata Garsini sesaat wajahnya tampak serius sekali. Charming. “Kamu ini mulai aneh-aneh saja. Beberapa kali Garsini memergoki Peter terbangun. “Tapi angin badai begitu dahsyat di luar.

Aku setuju-setuju saja. Beruntunglah. “Baiklah.” jelas Garsini. “Oceee. Bosss…!” Keduanya sesaat tertawa riang. Bahwa kita bukan pasangan roman. ya Garsini?” suara Peter melunak. setidaknya kita sudah berusaha untuk menunjukkan kepada mereka. Jangan pikirkan lagi untuk bayar macam-macam perihal tamasya ini. “Baiklah kalau itu bagus menurutmu. Agaknya dia lagi pusing dengan tingkah Kagume… Yaah. Ini kegiatan kecilnya bersama Kagume. Kagume tersipu malumalu sambil mencuri pandang ke arah mereka. ”Ibunya tadi mampir. Tak ada tanda-tanda lagi kesal. gelisah apalagi kecewa di wajah gantengnya. katanya…” “Apa urusan kita dengan semuanya itu?” “Ini hanya kebetuan yang amat baik buat banyak pihak. “Yaah. Tak ada gadis sebayanya lagi di sekitar sini. “Aku tak mau berdebat lagi… bagus menurutmu. Peter manggut-manggut dan memahami tujuannya. kembali ke pekerjaan masing-masing. Ibu Kagume hanya meminta kesediaanku agar menemani putrinya beberapa hari. kenapa kamu jadi sok pahlawan begitu sih. Oke?” suara Peter kini terdengar tulus dan sarat pengertian. Kagume bisa bahasa Inggris. dinilainya suka mengundang perhatian turis asing di kedainya…” “Jadi. Jadi komunikasi mereka bisa berjalan lancar. kau meminta ibunya untuk membawa putrinya ke sini?” “Bukan begitu.” ajak Garsini yang segera diiyakan oleh Peter. Garsini?” “Bukankah itu lebih baik buat kita berdua? Supaya tak ada prasangka orang lagi?” Garsini bersikeras. “Sejak saat ini sampai kita bisa melanjutkan perjalanan. Kagume akan menemaniku.“Maksudku. bisa ditanyakan kepada seorang saksi mata…” cerocos Garsini antusias. apa urusannya dia di sini?” Peter menggiring Garsini agak menjauhi Kagume yang berlagak sibuk menyiapkan teh untuk mereka.” “Aduuh. Buat kita juga buat ibu dan anak yang sudah tak punya ayah itu. 80 . Kami ngobrol sebentar dan ia mengeluh perihal putrinya semata wayang. menanyakan keadaanku.

Garsini jadi terkenang lagi saat-saat dirinya pada posisi serupa. sudah. tak perlu pusing-pusing. curah hatinya kepada wanita itu. “Terima kasih. saya normal kan? Tidak gila. Garsini menjelaskan tentang beberapa hal yang dipertanyakan remaja putri itu. Kagume-san?” “Ya.Sementara Peter diam-diam kembali ke sudutnya. Broer…” “Ya. Holland. Garsini angkat bahu. laptop-nya akan diberikan kepada sepupunya. ya Broer Peter?” pinta Kagume mulai terbiasa dengan keduanya. Padahal. “Apa yang kalian bicarakan?” teriak Peter dari sudut favoritnya. Agaknya Kagume sedang mengalami masa-masa transisi. “Ini jauh-jauh kubawa buat Garsini… Ah. “Tidak. ya. malah mendadak macet. ya Kak?” seru Kagume sampai juga ke telinga Peter yang belum berhasil memperbaiki laptop-nya. Peter baru saja memutuskan. Garsini sudah bisa menebak kegelisahan Kagume. Mama. “Ya. selalu berusaha memuaskan kepenasaran putri sulungnya. ini urusan perempuan. memang ini soal perempuan!” sambut Kagume dan tertawa kecil. percuma bersitegang dengan sepupunya perihal 81 . perubahan bentuk tubuh dan kegelisahan yang melanda hatinya secara tiba-tiba.” Peter malah seperti tertantang. saya lega sekarang. Tahu begini. seperti menstruasi. enak saja!” gerutu Peter.” saran Garsini tersenyum. mengotak-atik laptopnya yang mendadak macet. Hingga Garsini tak pernah sungkan untuk menumpahkan kegelisahannya. ya?” “Jangan repot-repot begitu. Mending beli saja di Jepang. Kakak. Artinya. sebuah peralihan dari seorang kanak-kanak ke masa remaja. Dalam beberapa menit saja. meskipun dilanda begitu banyak kemelut rumah tangga. sebaiknya ini buat Kagume sajalah. Ia ingin mempertanyakan beberapa hal yang tak dipahaminya. Ya kan begitu. apa sebaiknya kubelikan saja untukmu nanti di Tokyo. buat apa jauh-jauh dibawa dari rumah keluarganya di Blaricum. Bahkan bisa bersikap terbuka dan manja. “Uugh. “Buat Kagume saja. Eee. tinggalkan saja benda rongsok itu. ia belum lama membelinya di Amsterdam.

kebendaan. Peter dinilai begitu boros. Tapi itu haknya karena memang ia telah menyiapkan liburan ini sedemikian rupa sejak lama. Peter bercerita tentang perjuangannya sebagai loper koran. Menyusuri salju dengan kereta luncur, melempar-lemparkan koran ke rumah para langganannya, di tengah udara dingin yang menggigit tulang sumsum. Perjuangan keras yang hanya saggup dilakukan oleh seorang anak berpribadi mandiri. Bukan anak korban traumatis jiwa. Peter tentu saja telah berhasil melewati kritis kejiwaannya itu dengan baik sekali. Dan itu tanpa agama, hanya karena aku berhasil menutup memori itu, luka itu dalam-dalam, katanya dalam nada bangga. Apa itu agama, bulshit, nonsens! Kalau sudah sampai ke arah pembicaraan spiritual, Peter selalu berhasil menepis segala upaya Garsini dalam mempengaruhi pikirannya. Mereka akan terlibat dalam perdebatan seru, berlarat-larat dan sangat melelahkan. Ini hampir dua minggu kebersamaan mereka, tapi rasanya tak ada pengaruh apapun, pikir Garsini. Ia bahkan nyaris membiarkan takdir-Nya bicara langsung atas diri sepupunya. Tak perlu ada ikut campur siapapun termasuk dirinya. Bila Allah menghendaki… kun fa ya kun! Jihad itu, syiar dakwah itu ternyata sangat-sangat-sangat sulit! “He, cuaca di luar mulai cerah,” kata Kagume. “Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Kalian belum sempat tamasya ke Miyajima, bukan?” Peter menoleh kepada remaja itu dengan penuh minat “Apa itu?” Garsini jengah dan membuang pandangnya ke luar jendela. Sesaat ia berpikir keras, bagaimana caranya yang bijak agar ia bisa berdiri pada posisi penengah. Gerakgerik Kagume, keluguan dan kemurnian remajanya kadang terasa berlebihan. “Kita pergi saja ke sana, nanti baru bisa terasa indah tamasyanya. Setuju?” ajak Kagume sudah terdengar seperti memaksa. Sia-sia Garsini berusaha menghindar, apalagi karena sepupunya telah bersemangat sekali menyambutnya. “Baik, ayo, kita pergi berdua saja kalau Garsini enggan…” “Tentu saja aku akan iku!” tukas Garsini cepat. ***

82

Awan berarak-arak menghiasi langit Sakura. Tampak putih dan seolah menantang untuk dilukis oleh tangan-tangan terampil yang memiliki citarasa tinggi dan luhur. Di mata Garsini, gerombolan awan itu selalu mirip arakan kapas nan lembut menjanjikan selaksa keindahan dan kenyamanan. Simbul sejuta harapan selaksa impian, masa depan cemerlang yang menanti dan melambai-lambai kepadanya untuk segera dijumput. Sebab di balik arakan kapas itu ada ribuan bintang gemintang, menantinya pula untuk dipetik oleh jari-jemarinya. Tentu saja dia akan terbang melayang, menggapai awan hingga lapisan langit ke tujuh sana. Kemudian ia akan menjumputnya, meraihnya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sebab ia tak ingin menjadi orang yang kalah, pecundang atau pengecut yang tak sanggup mengambil keputusan. Ia akan menggambari lapis demi lapis langit nun di sana, dengan macam ragam lukisan nan indah dan bermakna. Sehingga ia berhasil menembus selaksa tantangan itu, dan dihadiahi bintang-gemintang yang akan disematkan ke dadanya. Manakala kembali ke Indonesia, dia akan menghaturkan bintang paling cemerlang dan indah berikut selaksa lukisan nan bermakna itu; kepada Mama, Papa, adik-adik dan keluarga besar mereka. Baik yang ada di Cimahi maupun di Tapanuli dan Jakarta…. Tanah air dan agamanya! Garsini menikmati khayalnya terindah itu hingga matanya terasa membasah. Apakah ia akan sanggup mewujudkan selaksa mimpi dan angannya kelak? Hanya waktu yang mampu menjawabnya dan kemurahan Allah, yang kepada Dia selalu dirinya menghadap setiap kali merasa disergap rindu dendam, resah pasah. Ya, jeritnya merambah langit. Monster mengerikan itu sesungguhnya bernama rindu. Garsini terbetot kembali dari alam khayalnya, angannya dan bayang-bayang masa depannya. Bila boleh memilih, sesungguhnya ia lebih suka kembali ke pangkuan orang-orang yang dikasihinya… bahkan walau tanpa sebutir bintang sekalipun!

83

“Hai, apa kabar, saudariku yang enerjik? Kenapa mendadak pendiam?” tegur Peter di antara keriangannya menikmati nuansa indah di sekitar mereka. Garsini tak berkata-kata. Ia tepekur menikmati pemandangan yang… subhanallaaah! Inilah Nihon sankei, Miyajima pulau kuil di Inland Sea tamasya terindah dan terdekat dari Hisroshima. Kagume penuh semangat dan suaranya renyah memikat, berusaha memuaskan kedua turis yang dipandunya dengan uraian penjelasan yang lugas. “Di Jepang selain Fujiyama yang tiada bandingannya,” ujar Kagume berulang kali mengagungkan keindahan alam gunung yang memang sangat terkenal itu. “Sesungguhnya ada tiga tamasya Jepang yang masyhur antara lain Miyajima, inilah yang sedang kita kunjungi dan nikmati pemandangannya…” “Dua lagi apa?” tanya Peter dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Garsini merasa harus membentangkan tirai itu di antara sepupunya dengan Kagume. Apalagi mengingat ibu Kagume telah amat mempercayainya. Sehingga meminta Garsini agar mengajari putrinya semata wayang, beberapa hal yang

dirasakannya tak sanggup dia berikan sendiri. Padahal, apalah dirinya? Sehingga ia mendapat kehormatan dan kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang ibu lugu, janda malang yang sudah lama ditinggal kawin lagi oleh suami. Namun, demikianlah adanya, penghargaan tak ternilai itu begitu saja disandangkan ibu Kagume ke bahu-bahu Garsini. Hanya karena perempuan sebaya Mama itu telanjur jatuh hati, terpikat oleh kemurniannya dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Itulah karunia Ilahi untuk Garsini, mengingat kebersamaanya dengan ibu Kagume baru tiga hari. “Boleh aku yang menjawabkannya, Kagume-san?” ujarnya lembut. Garsini berusaha dengan bijak tanpa menyinggung hati Kagume, menawarkan jasanya. Ia cemas akan kedekatan mereka. Terutama perilaku manja Kagume terhadap sepupunya, sungguh membuat hatinya kebat-kebit. Ia bisa memahami ketunaan gadis belia itu, toh Kagume bukan seorang Muslimah. Apa artinya muhrim dan non muhrim buat gadis belia itu, bukan?

84

“Biar pun baru kubaca referensinya dari buku. ya kan Kagume?” “Ya. demi menampung turis-turis kota…” 85 .”Sudah sejak generasi kakekku. “Artinya Jembatan Nirwana. “Wah.” tukas Kagume prihatin. terdapat ribuan tempat indah yang lain juga tempat peristirahatan dengan sumber air panas. Garsini tak mempedulikan sindirannya. seperti mulai kehabisan kata-kata. “Dan Matsushima.” sambung Garsini manakala Kagume terdiam.”Baiklah. demi jalan-jalan lintas udara dan subway. itu tetap memikat para turis mancanegara…” “Berbeda dengan kehebatan Barat gaya Amerika. “Waah. “Itu adalah tanjung pasir yang ditumbuhi cemara di pantai Laut Jepang sebelah utara Kyoto. “Ama-no-hashidate…” Kagume berseru takjub tanpa merasa tersisihkan. pemukiman penduduk. yaitu sekelompok pulau indah yang diliputi pohon cemara di sebuah teluk dekat kota Sendai di bagian utara Jepang… Ugh. wah.” sahutnya. nggak mau kalah jadi pemandu wisata nih?” sindir Peter. tepat sekali!” Kagume kian mengagumi pengetahuannya. ”Ukuran keindahan alam Jepang sebagian besar mungil dan mesra. dari hari ke hari semakin banyak pencemaran dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab. aku merasa bisa menjelaskannya. Demikian pula tak terbilang tempat-tempat indah yang kurang terkenal. tolong bantu aku melanjutkannya. “Kebanyakan tempat di Jepang memiliki tiga atau delapan tamasyanya sendiri. Orang Jepang berusaha keras untuk mengabadikan dan melindungi alamnya…” “Hanya sayang sekali. Menimbuni daratan yang diambil dari laut. Kakak sungguh fasih menyebutnya!” Garsini tersenyum hangat. Bukit-bukit hijau nan indah dibabat habis untuk membangun pabrik-pabrik. tapi lebih memusatkan pikiran untuk mengutarakan betapa indah dan agungnya negerinya tercinta.” kata Garsini lagi.” katanya kini hampir tak mempedulikan keberadaan Peter.“Memangnya Kakak tahu?” tantang Kagume tertawa kecil. Kagume-san!” Dengan senang hati remaja itu menyambutnya. Garsini menyelipkan tubuhnya di antara kedua makhluk itu.

“Banzaaaai!” “Banzaaaai!” sahut Kagume dan Peter kompak. bukan?” keluh Kagume terdengar mengerang sakit. kalian akan tetap memiliki keunikan tersendiri. ia mengangkat tangannya ke udara sambil berseru lantang.”Allahu Akbaaar…!” 86 . Buktinya. Padahal. yang pernah didiskusikannya bersama Peter tadi malam. ironis sekali. seperti berkat guncangan gempa dan bencana alam maha dahsyat yang acapkali melanda negerimu. Penyakit kota pun kian gencar menggerayangi banyak kawasan pedalaman. Bayu dari arah kumpulan kuil semilir hampa menerpa wajah ketiganya. seberapa parah pun orang berusaha merusak alamnya. kalian terkenal sebagai bangsa kuat. “Ya. ”Seperti Allah telah membuktikan hal itu atas kehancuran-kehancuran yang terjadi di masa lampau. Allah takkan pernah diam!” cetusnya. Keduanya sesaat berpandangan lalu perlahan sama tersenyum maklum. Suaranya yang lantang seolah menggema ke pelosok Inland Sea. Garsini sekonyong menggaet tangan sepupunya di sebelah kanan dan meraih tangan Kagume di sebelah lainnya. Semuanya itu ada hikmahnya. “Banzaaaai!” Peter tiba-tiba usil menjatuhkan bom simpanannya. Kemudian seketika itu pula. paling ulet. Untuk beberapa jenak ketiga anak muda itu terdiam dalam alam cemasnya masingmasing. ia baru saja menemukan jawaban atas sejuta tanya ikhwal bencana taifun. pertanian…” “Ironis sekali. Diam-diam jauh di lubuk hatinya. ikut mengerang pilu. Kagume dan Garsini tersentak kaget sekali. Sampai Garsini kembali memberi harapan dan pencerahan. Garsini membarengi pula dengan selarik takbir.” keluh Peter bareng Garsini.“Dan gunung-gunung nan indah telah lenyap di belakang kabut asap industri. Pesona indah nan agung…” “Begitukah?” Kagume terdengar agak meragukannya. “Tapi yakinlah. Dan untuk Jepang khususnya. tahan bantingan di mana pun kalian berada…” Garsini berhenti dan merasa lelah bicara seorang diri. “Ya.

perilaku dan perkataan Garsini kala itu ternyata telah amat membekas terhadap perkembangan jiwa Kagume selanjutnya. “Shalat. sebab ada satu hal lain yang lebih utama. lebih mulia pula maknanya. maklumlah…” “Aku mengerti. Terutama terhadap Kagume. Suatu persahabatan yang terikat oleh simpul kasih Islamiyah nan indah dan agung. Kagume tampak sekali terkesan dengan berbagai uraiannya. Bahkan menurut data statistik dari saat ke saat perkembangannya semakin meningkat pesat. “Agama yang sungguh baru bagiku. “Tapi di Tokyo pemeluk Islamnya cukup banyak.” katanya. rukun Iman. jauh ke mana-mana. Memang baru persemaian.” 87 . “Sebab di lingkungan kami hampir tak ada pemeluk Islam. itu sembahyangnya pemeluk Islam. Sebelumnya Kagume meluangkan waktu pulang dulu ke rumahnya. Hidayah itu agaknya mulai bersemayam di hati Kagume. Kagume Itsuwa… *** Petang itu mereka kembali ke hotel dengan penuh keriangan. tapi kelak itu akan menjadi tonggak pertamanya yang tangguh bagi kelahiran jiwa islam seorang insan. Bahwa sebagian dampak dari persahabatan itu kemudian membuahkan banyak hikmah dan berkah. Segala gerak-gerik. Sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Garsini. membawa peralatan kerajinan tangan yang ingin diajarkannya kepada Garsini.” kata Garsini. “Apa yang Kakak lakukan barusan?” tanya Kagume tatkala melihat Garsini usai mendirikan shalat isya. perihal tata cara ibadahnya bahkan pandangan keyakinan yang dipeluknya itu tentang pacaran. hanya sekadar pemicu. Kota ini begitu terpencil. Di luar rasa kagum dan hormat. remaja imut-imut yang kala pertama ditemuinya sedang dalam pencarian jatidiri.Ia tak pernah mengira bahwa kebersamaan itu telah mengikatkan tali ukhuwah. seperti yang dituntut oleh gadis belia itu. Rukun Islam. Kagume…” Kemudian Garsini menjelaskan beberapa hal perihal Islam.

Miyajima. seperti usia dirinya dengan Kagume. Garsini berpikir. Garsini menghela napas dalamdalam. dipandanginya wajah Kagume. perihal jatidirinya saat ini? Kepada siapa adik lelaki itu melabuhkan curah hatinya? Seketika terbit rasa rindunya yang mendalam kepada si Ucok. ya kan?” Garsini menggeleng. tentang Islam. Disodorkannya bantal khas Jepang kepada Kagume. Ia sendiri merasa letih setelah sepanjang siang hingga sore tamasya ke Nihon sankei. Sekilas Garsini cerita juga tentang persahabatannya dengan Ayesha. Mata remaja itu tampak sayu dan kepalanya terkantuk-kantuk. tentu saja dia takkan mendengar apapun lagi. Tapi kenapa mereka suka menyangkutkannya dengan teroris?” Garsini dengan sabar dan bijak terus berusaha menjelaskan perihal kesalahkaprahan itu. Tentang perjuangan. Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia. rindukah juga kepadaku? Garsini cepat mengenyahkan rasa pilu yang hendak menyergap kalbunya. keluargaku nun di sana. Dan Ucok akan banyak bertanyakah.”Ini untukmu saja. remaja ini mengingatkannya kepada adik laki-lakinya. jihad para mujahid di berbagai belahan dunia. *** 88 . Mereka paling bertaut dua-tiga tahun saja. “Aku memang pernah mendengarnya dari koran dan televisi. gadis Palestina yang telah berulang kali mengajaknya bergabung dengan komunitas kajian Islamnya itu. Diperbaikinya dengan lembut dan apik selimut yang menutupi tubuh sohib kecilnya itu. Mereka yang terpojokkan. sekarang tidurlah. ayo. bersandar ke dinding di belakangnya. si Butet juga Mama dan Papa… Kalian.” akhirnya Garsini melihat Kagume cukup puas.“Pasti bukan untuk anak muda sepertimu. Ah. terjajah dan didzalimi… “Tentang perjuangan bangsa Palestina yang selalu diteror zionis Israel itu. Meskipun adakalanya sikap dan pembawaan Kagume lebih dewasa daripada usia sebenarnya. Sebab remaja itu memang telah tertidur tanpa disadarinya.” bisiknya. “Islam di Jepang justru kebanyakan memikat hati generasi kita…” “Oooh…?” Kagume terkesan takjub.

Baginya. 89 . menerawang ke langit-langit kamar. cepat-cepat berlagak sibuk dengan Al-Quran mungilnya. ya…?” Garsini tak menyahut. Peter jadi ge-er. aneh-aneh saja anak kitu! “Belum menyerah juga. “Kamu tahu. masih belibet dengan laptop-nya. memberikan sesuatu kepada orang haruslah yang terbaik yang kita miliki. ingin meninggalkannya begitu saja di Hiroshima. Ah. sejak duduk di kelas dua aku sudah berjuang cari nafkah sendiri.Bab 9 Peter di sudutnya.” sesaat Peter menghentikan kesibukannya. jadi kapan sesungguhnya kamu beli laptop kesayanganmu itu?” “Hmm. memperjuangkannya sedemikian rupa agar benda itu bisa dimanfaatkan kembali. kali berikutnya ia bersikeras memperbaikinya. sekitar lima-enam tahun yang lalu. Itu setara dengan kelas tiga SMP kalian. gumamnya membatin dalam ketakmengertian. rongsokan? Dan itu justru ingin dihadiahkannya kepada sepupu kesayangan. ya Broer?” Garsini bangkit dan menghampirinya. Namun. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya. adakah Peter menyadari bahwa benda itu sesungguhnya telah usang. bahkan asyik membaca kitab sucinya. Garsini akan menyesalinya. Tiba-tiba ia sungguh menghentikan kegiatannya. bahkan membuangnya ke tong sampah. Kalau bisa akan dibawanya kembali ke Holland… Iiih. Ha. Entah ada apa dengan laptop itu. seorang yang tak mempercayai agama perihal ini? Melihat Garsini tak bereaksi. Uangnya sebagian kuserahkan kepada Mami. Kadang Peter pasrah. sebagian lagi kutabung untuk memenuhi kebutuhanku sendiri…” “Baik.” sahut Peter terdengar penuh nostalgi. Non.”Kukira saat aku kelas tujuh. Garsini gelenggeleng kepala menyadari akan sikap keras kepala sepupunya itu. tapi mana paham Peter. “Ini benda elektronik pertama yang sanggup kubeli dengan jerih payahku sendiri. Beberapa kali mereka sempat mendiskusikan khusus perihal keberadaannya. katanya? Bahkan untuk Kagume saja. kenapa kamu mesem-mesem begitu? Jangan mengejekku.

Garsini. “Mungkin kamu berpikir. sempat tak diakui ayah dan diragukan eksistensinya. Bahkan hingga saat ini. Kepalanya mengangguk perlahan. Betapa ingin Garsini meneriaki kuping sepupunya itu. Broer. “Kamu takkan pernah memahami bagaimana perjuanganku di masa kanak-kanak.“Baiklah. kamu dengaaaar…?!” Garsini meletakkan mushafnya dengan sangat menyesal dan kecewa. eliiing!” Garsini merasa sesak dadanya. Sadarlah. Bahkan tentang derita dirinya. dipinggirkan. Ambon. mirip Yahudi saja. Garsini!” sentaknya mengagetkan gadis yang begitu teguh mengenakan kerudungnya itu.” suara Peter seketika mengeras dan dingin. Karena otaknya sudah pepat oleh segala keluh-kesah sepanjang kebersamaan mereka. alangkah pelitnya aku. Ia tak ingin mendengar keluh kesahnya lagi. ini soal benda yang menyimpan banyak kenangan untukmu. kemudian ia kembali dengan mushaf pemberian Oom Ady itu. ya begitu kan?” cetusnya. Seberapapun dia menghiburnya. Garsini meliriknya sekilas dengan gerakan acuh tak acuh dan seulas senyum bijak di sudut bibirnya. aku akan membuang benda rongsokan ini. derita anak-anak para pengsungsi di Aceh. Broer. “Cobalah meningkatkan empatimu terhadap orang-orang di sekitarmu. Masa kanak-kanak yang pedih! Mengapa itu saja yang selalu dijadikan tamengnya? Seakan-akan hanya dirinya yang paling menderita di jagat raya ini. Tentang penderitaan orang lain. Sampit. ya kan?” “Dengar. “Hmm…” “Dengar.”Jadi. dengar itu Garsini. Bahkan oleh ayah kandungku sendiri. aku tak sepelit yang kamu duga! Ini hanya soal benda kesayanganku yang pernah susah payah kubeli dari jerih payahku sendiri…” “Sudah kudengar ratusan kali tuh!” usil bibir Garsini meningkahi. penampilanku yang ngeslank di mata orangorang Belanda. statusku. rasanya Peter tetap takkan pernah puas untuk selalu mengeluh. 90 . Peter memandanginya dengan gemas. kamu selalu merasa hanya dirimu yang pernah punya masa kelam saat kanak-kanak. diskriminasi. “Kamu egois. Anak-anak para TKW yang tak pernah mengetahui siapa ayahnya.

Ia tersentak kembali manakala mengingat tujuan keberadaan Kagume di kamar mereka. *** Begitu sampai di asrama. bukan hanya kamu yang pernah menderita. Ada kecewa mendalam di mata Garsini. ampunilah hamba-Mu yang daif ini. Kadang tampak riang. Namun. Tengoklah juga ke bawah. mandiri dan mudah ketawa-ketiwi. Baru disadari Garsini. “Intinya. didapatinya Kagume tetap tertidur lelap.jangan hanya menengadah ke langit-langit. Ada amarah dan geram di mata Peter. Allah. hal itu mulai menjadi kebiasaan Peter. Mengherani kelakuan sepupunya yang ternyata amat kompleks dan sulit ditebak. Mereka pun terbang dengan pesawat carteran kembali ke Tokyo. Lama ia hanya diam seribu basa di dalam kamar mandi itu. banyak ketakpuasan. keluh-kesah dan menyimpan kepedihan masa silam. bagaimana kujelaskan semuanya ini kepadamu?” Beberapa detik keduanya berhadapan secara frontal. Ia pun mengabaikan akan kemungkinan percakapan mereka bisa saja membangunkan Kagume. tak terhingga…” Garsini bangkit karena merasa tak tahan lagi Dadanya kian sesak dan kepalanya mulai berdenyar-denyar. Sementara sepupunya entah pergi ke mana. “Astaghfirullah adziim.” gumamnya sambil terhuyung-huyung menggapai kamar mandi. jutaan. Peter. gadis India yang menggantikan posisinya sebagai relawan di museum. memiliki traumatis jiwa. Esok paginya ketika cuaca mendadak cerah. Ia tak mempedulikan sorot amarah yang masih tersisa di mata sepupunya. Ketika dengan tergopoh-gopoh Garsini keluar. aduuuh. 91 . Mungkin mencari hawa segar di luar. Ada banyak derita anak-anak di dunia ini. terutama bila dirinya gelisah dan sulit tidur. saling menatap. ribuan. adakalanya muram. menyodorkan sebuah koran hari itu. Itulah malam terakhir kebersamaan mereka di sebuah kamar hotel terbaik di Hiroshima. Anjeli. Garsini mendapat kabar tentang Nakajima dari seorang rekannya. Peter berhasil mendapatkan transportasi eklusif bersama rombongan turis Belanda.

kamu masih di sini. kami ada bersamamuuu!” “Tolong. orang-orang mulai bosan dan putus asa. berseliweran di depan pintu apartemennya. Hingga beberapa jam lamanya demikian. tak ada reaksi. Kelihatannya sedikit pucat. Namun. tebak Anjeli iba. “Nakajima-san! Nakajima-san. Mereka terpaksa bubar. bukalah pintunya. Bahkan beberapa tetangga dan kenalan Nakajima yang sudah berdatangan sebelum mereka. menemukan Garsini seorang diri masih tinggal di depan pintu apartemen Nakajima. “Bahkan kamu pun mengenalnya!” seru Anjeli separuh mengisak. bukalah pintunyaaa!” “Iya. tak dapat masuk. 92 . Paaak…!” Tak ada sahutan. “Kasihan sekali dia. Seketika ia merasakan kesedihan tak terkira. Wajahnya sama sekali tak memperlihatkan gurat-gurat kelelahan. “Ada orang yang kau kenal?” Garsini menatap wajah gadis Hindustan itu. Pak Nakajima. jerit Garsini dalam hati. apartemennya tertutup rapat. seharusnya sudah kembali ke Tokyo.” Garsini kini berderaian air mata. Ketiganya memutuskan untuk pergi ke rumah lelaki tua yang malang itu. Paaak. “Anakmenantu. Garsini-san?” seru Mayumi terheranheran. meninggalkan tempat itu tanpa bisa mengetahui keadaan Pak Nakajima.” kata Mayumi.“Pesawat yang membawa penumpang menuju Korea meledak…” berkata Anjeli dengan mengeja. mungkin basah oleh bekas air mata campur keringat. Menjelang sore Mayumi dan Anjeli kembali ke tempat itu. Mereka tak bisa mencegah Garsini yang masih ingin bertahan. “Sekarang Pak Nakajima mungkin sudah mengetahui berita ini di apartemennya. cucu Pak Nakajima…” Ya Allah… innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Apalagi ketika selang kemudian Mayumi sengaja menjemputnya untuk urusan ini. “Kenapa dengan wajahmu… basah sekali?” Anjeli penasaran agaknya. Anjeli dan Mayumi pun harus bekerja. Tapi Aa Haekal bukan terbang ke Korea melainkan sebaliknya. “Ya ampuun.

” tergagap Garsini berusaha menyembunyikan perasaan pilu dan harunya sepanjang siang itu. Maluu!” sergah Anjeli menegurnya. Anjeli?” Anjeli menjinjit-jinjitkan kakinya. Garsini diam-diam menyingkir dengan hati kecewa. penderitaan masihkah belum cukup untuk mengingatkan manusia akan kepapaannya? Garsini semakin tak mengerti sekaligus kecewa. menggodanya. si Sarukh Khan itu memang macho nian…!” *** Sementara kedua gadis itu ngerumpi-ria soal cowok-cowok penghuni apartemen seberang. Melainkan untuk mengintip aktivitas para pemuda India. Mayumi terkikik melihat kelakuan Anjeli. kalian tak usah mengkhawatirkan Pak Nakajima lagi. Ugh! Astagfirullah… kenapa mesti berprasangka. tetangga yang sejak tadi secara atraktif menyiulinya. sekaligus geli akan keluguan Garsini. kesakitan. Belakangan Garsini semakin kecewa lagi 93 . entah bagaimana kronologis ceritanya. Pesona si Sarukh Khan dan kawan-kawan agaknya sudah mencuri empati kedua gadis itu terhadap sesamanya. Tenanglah. “Pssst… jangan tertawa genit begitu. “Habiiis… Matamu jelalatan! Pasti lagi cari tahu kabar si Sarukh Khan yang tinggal di apartemen seberang sana. “Beberapa kenalan Pak Nakajima… kenapa dengan kakimu itu. Sayup-sayup terdengar tawa genit keduanya dari arah seberang. “Ada siapa di dalam sana?” tanya Anjeli pula ingin tahu. padahal perawakannya yang tinggi langsing dengan mudah bisa melihat segalanya di depannya. manakala sejurus kemudian Mayumi dan Anjeli sudah tak ada lagi. Kematian. ”Kamu juga kaaan. pikirnya kemudian. Teras itu agak tinggi menghalangi apartemen seberang yang dibatasi jalan raya. Mereka sudah bergabung dengan para penghuni apartemen itu.“Aku baru ambil wudhu mau shalat maghrib sebentar lagi. mereka ke sini bukan semata ingin mengetahui keadaan Nakajima-san. Dan ia segera meleburkan diri dalam rakaat-rakaatnya yang khusuk di sudut balkon itu. ya kan?” sindir Mayumi. Anjeli tersipu dan meninju perut Mayumi perlahan. Ia sempat berpikir.

“Menikah maksudmu? Aha. Hal itu betapa takkan pernah memuaskan bagi orang yang mengejarnya. Ia baru menyadari bahwa keduanya termasuk penganut aliran gaul bebas. kebebasan beserta segala janji kenikmatan yang melambai-lambai kepadanya telah digapainya. ketakutan dan malu persis seperti Garsini. Nona…” Mayumi tertawa sumbang. 94 . Mayumi?” jengek Garsini mulai sebal mendengar keluhkesahnya perihal cowok.” desisnya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Sampai Mayumi suatu hari mendatanginya dengan wajah kusut masai. kemudian dimiliki dan saat berhasil meraih. nikmat semu. Dunia semu. kala mereka berlari keluar rumah geisha di sudut kota itu. Namun. Mayumi terdiam sambil sibuk menyalakan rokoknya. nikmat semu itu yang melambai-lambai. Untuk beberapa waktu lamanya. Kemodernan. tapi jalan bareng dan macam-macam sudah sering?” sindir Garsini kian sebal dan kecewa. sekarang kamu tidak tinggal bersama Okusan lagi?” Mayumi menggeleng. diraih. Garsini…” “Bukankah itu lebih baik bagimu daripada keluyuran ke sana ke mari tanpa ikatan apapun.”Biarlah ibuku tenang dengan dunia khayalnya. kini Mayumi sudah melesat meninggalkan Garsini. Kala itu Mayumi masih tampak sebagai gadis polos. ya? Menikah tak mau. Tapi semakin berhasil digapai. itu sama sekali tak masuk agendaku. Menuntut untuk dikejar. “Begitu. desah Garsini membatin. maka semakin bertambah pula kesenangan duniawi. Sebab semakin dikejar. ia sering menghindari Mayumi sebagai ungapan rasa ketaksetujuannya. memilikinya… Ketakpuasan justru kian menikam lebih dari saat-saat sebelumnya! “Jadi.”Masak aku dimintanya menjalin hubungan lebih serius lagi dengan si Jay Bachan.dengan perilaku kedua sahabatnya itu. Rasanya baru beberapa bulan lalu mereka jalan bareng. segala nikmat semu itu semakin tak terpuaskan pemenuhannya. Garsini baru menyadarinya kini. Sejak kapan dia pandai merokok. “Anjeli itu keterlaluan sekali!” adu Mayumi. mencari-cari kartu pas kereta peluru itu.

” kilah Garsini kini kala Mayumi menyinggung perihal ini. Di mata rekan-rekan seasramanya. Sayang. Sudah pernah terjadi sebelumnya kala Garsini kedatangan Anjeli. membosankan. menonjol dibanding gadis-gadis moderat lainnya. Garsini tersenyum kecil mengingat kebiasaan dara dari negeri jiran itu. kalian memang istimewa.Garsini cepat-cepat membuka jendela apartemen agar asap rokok tidak menyesaki kamarnya. “Kalau begitu.” “Sudahlah. moderat dan dinamis daripada Miss Malaysia itu. jangan terlalu menyanjung…” Garsini bermaksud melanjutkan pekerjaan rumahnya yang tertunda. “Ah. sosok berkerudung muncul diikuti tiga gadis Afrika. itu kan reka-reka kalian saja. Meskipun dalam hal keanggunan dan kecerdasan keduanya dianggap seimbang. di asrama putri ini Haliza dikenal sebagai penasehat spiritual. buat orang-orang tertentu menganggap Haliza sebagai orang yang bisa diajak bertukar pikiran perihal spiritual.”Gadis yang suka merokok sungguh tak baik. Kebiasaan yang baik. Garsini dipandang lebih enerjik. memberi wejangan gratis kepada orang-orang sekitarnya. Garsini tak bisa mengelak lagi.” “Tidak. unik. Bahkan lebih dari sekadar penasehat melainkan pengaguman berlebihan. Garsini menduduki urutan kedua ikhwal ini. tak ada yang istimewa. Mereka membawa pengaruh buruk kepada kita. Biasanya yang datang adalah gadis-gadis dari belahan dunia Afrika. tak semua orang bisa menerima apalagi menyukai hal itu. ”Kami merasa biasa-biasa saja. 95 . pasti akan mengetahui kalau kamar mereka sempat terkontaminasi polusi rokok. Mengejek Haliza sebagai gadis kolot. Haliza menemukan puntung rokok dan sisa-sisa bau asap yang masih menempel di sudut kamar mereka. pendeknya tak sama dengan kami. Beberapa di antara mereka menjadi balik tak suka.” sungutnya yang akan dilanjutkan dengan wejangan berlaratlarat. jangan bersahabat lagi dengan Miss India itu!” kata Haliza tegas. Jadi. Haliza dengan penciumannya yang luar biasa itu. Meskipun demikian. Tibatiba pintu didorong tanpa pemberitahuan.

tapi…” “Sungguh kamu tak tahu apa yang mereka lakukan?” selidik Cristal bimbang menatapnya. 96 . silakaaan!” tiba-tiba Cristal. Mayumi sambil menyambar tas tangannya menimpali. Untuk sesaat para pendatang itu terkejut melihat keberadaan Garsini dan Mayumi. “Pssst… ayo. “Tidak apa. “Kalau kalian mau diskusi. Haliza tertegun tak enak dan sedikit bingung. Giliran Garsini yang masih merasa tak enak. Garsini terlonjak menghampirinya dalam rasa bersalah. dan percaya akan hal-hal berbau mistik itu. Mayumi mesem-mesem penuh arti. Seolah-olah jalan bareng merupakan tradisi ketat untuk ketiganya. bisa pakai kamarku saja.Barbina. ”Sebentar… kira-kira apa yang akan mereka lakukan di kamarmu sana. Orang sampai menyebutnya itu sebagai ritual gaya persahabatan mereka.” sesal Gweeny. Beberapa kali menumpang di mobil orang yang diperkenalkan Cristal sebagai pamannya. “Maaf… kukira kamu takkan pulang sore ini?” gagap Garsini. okey?” Cristal terkikik manakala Haliza dan ketiga African-look itu sudah masuk ke kamarnya di ujung koridor lantai dua. Mata Haliza langsung membelalak lebar melihat Mayumi tengah asyik menyedot sigaretnya.”Kalian ini memang aneh. Bersahabat sangat erat. “Tadi kamu bilang takkan ada siapa-siapa. “Yaah…!” Cristal angkat bahu. “Baiklah. maaf juga kami sudah ganggu!” suara Haliza terdengar sumbang dan matanya mengerling dingin ke arah Mayumi. kita cari tempat lain saja!” Barbina menghela tangan kedua rekannya. semuanya sudah aman kembali. Cris?” tanyanya ingin tahu. Zeena dan Gweeny. wajahnya merona. tiga gadis berkulit hitam yang amat kompak karena ke mana-mana sering tampak jalan bareng. Pria paro baya yang selalu berpenampilan keren itu suka menjemput Cristal tiap akhir pekan. menatap gadis Swedia yang dikenal hobi nonton film horor. Mereka akan jalan bareng menuju Kyoto. lanjutkan saja. Sementara Cristal ke rumah kediaman pria macho itu. Haliza mengenal Cristal dengan baik. gadis Swedia menyelamatkan suasana. Haliza menuju rumah peristirahatan salah seorang famili Rashid. Garsini mendengus dan menggeleng.

mereka serempak bubar meninggalkan Haliza yang terbengong-bengong. 97 . masalahnya tak diselesaikan seketika itu juga. Namun. tubuhnya seketika terasa lemas sekali. jadi kalian sudah paham sekarang kan?” sergah Haliza seperti menyimpan amarah. Sehingga prasangka buruk terus menggayuti keduanya sampai beberapa waktu. “… nah. kamu bisa jelaskan?” tuntut Garsini. hemm? Mayumi. Mayumi semakin liar saja dalam dunia gaul bebasnya. “Kalau mau tahu. “Cristal. sayup-sayup terdengar suara Haliza. tunggu…!” “Aku sudah telat nih.”Kalian ini bicara apa sebenarnya. Prasangka buruk. detik berikutnya sesal dan amarah campur kecewa itu telah menyergap kalbunya. ya… bye!” Cristal pun melenggok bak supermodel kelas dunia. Parahnya lagi. Betapa tidak. tanpa menoleh lagi kepada kedua gadis itu. Cristal menatap iba kepadanya. suuzon pun seketika menikam ulu hati Garsini. Tapi jangan bilang dariku. Garsini sudah mengintip aktivitas yang terjadi di kamar Cristal. Sebegitu parahkah luka pilih kasih yang dibekaskan ibunya kepada Mayumi? “Cristal.”Obat itu memang sangat kuat hingga bisa menghancurkan janin di dalam rahim Gweeny!” Terbawa emosi.” ujar Cristal tajam. Ia tertegun di balik pintu yang terbuka sedikit. please…” Garsini memohon. hei. Garsini tak pernah berhasil melembutkan hatinya. Garsini ceroboh dan mengakibatkan bunyi berisik di depan pintu kamar itu.”Ternyata kalian bukan sahabat yang solid seperti yang kami duga. mau ke mana. Apalagi membujuknya agar pulang ke rumah keluarganya. lihat saja sendiri ke sana. Seketika trio African-girls tersentak.Garsini jadi kian penasaran. Kasihan Mayuko-san. Sedetik Garsini masih menangkap gurat sesal dan kecewa di wajah pucat Haliza. teman-teman… sayonaraa!” Mayumi melenggang meninggalkan kamarnya. Selang kemudian. Memintanya agar membujuk putrinya untuk pulang. ada beberapa kali khusus mendatangi Garsini.

Sungguh membuat hati Garsini tertusuk hingga ke tulang sumsum. musim dingin. berakhir dengan ketragisan lelaki malang itu. Terutama manakala dirinya terjebak dalam rasa jenuh. kamu berhasil menyabet predikat the best gakusei…?” Garsini hanya tersenyum tipis. Semuanya saling belit-membelit. Haliza dan terakhir kecemburuan Haekal yang membuta. Beberapa kejadian belakangan ini. “Terima kasih. Semangat libur musim semi. Musim semi disilih musim panas. Musim demi musim pun berganti.Merenggangkan renggang. hubungan mereka. acapkali menimbulkan semangat baru manakala dirinya terperangkap dalam kejenuhan rutinitas. kesepian yang menyengat dan mengharu biru kalbunya. ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa di apartemennya di pagi musim dingin yang dahsyat. alhamdulillah. menurut istilah Mayumi. Melebihi rasa dingin. kemudian tiba musim gugur. Ya. dukacita yang melanda Nakajima-san. sarat tantangan dan tekanan… Semuanya harus dilewati tanpa ampun! “Selamat. ya Garsini. Seperti masa-masa perkuliahan yang semakin padat. temanku yang orang Papua itu. Belum lagi usai persoalan antara dirinya dengan Mayumi. gigilan hebat yang menyergapnya dari menit ke menit pada musim dingin yang pertama kali dialaminya di Negeri Sakura. Haliza. ada semangat di sana. seolah takkan sanggup teruraikan. Apapun namanya. Sungguh menyakitkan! *** 98 .” kata Haliza begitu Garsini muncul di kamar mereka petang itu. kenangan itu kerap mengukuhkan kembali cita-cita dan seluruh harapan dari orang-orang yang dikasihi dan mengasihi dirinya. persahabatan yang kental menjadi *** Mengenang saat-saat liburan musim semi yang pertama kali dialami Garsini sepanjang mukim di Negeri Sakura.” Hatinya sungguh sedang digayuti rindu dendam tak berkesudahan. “Kudengar dari Andreas.

Saat melintasi apartemen di seberang. Mayumi mendengus sebal. Termasuk seberapa dekat hubungan mereka dengan lelaki tua yang malang itu.” sahutnya pendek. “Para pengkhianat sialan itu. tak menjanjikan apa-apa lagi. Ekor matanya sempat mengerling tajam ke arah sekelompok mahasiswa India. Sudahlah. Mayumi menghela tangannya menjauhi kawasan apartemen Nakajima. Tak baik lama-lama di udara sedingin ini. tentu akan liburan musim dingin." nasihatnya sungguh bijak. Setelah merasa cukup puas dengan penjelasan keduanya secara bergantian. “Kalau kalian punya keterangan lain…” kata seorang petugas yang segera dihampiri rekannya yang lebih tua. brengsek sekali!” 99 . “Mungkin kami yang lebih membutuhkan kalian. “Entahlah. ia memberikan kartunama. Sementara beberapa petugas sibuk mengangkut jenazah tua itu ke atas sebuah ambulans. Garsini. tak ada yang memintanya demikian juga tak ada indikasi kriminal di balik kematiannya. Garsini merasa belum puas. baik dalam pangkat maupun usia. Seorang polisi menghampiri mereka dan menanyakan beberapa hal yang ingin diketahuinya. Mayumi mengisak perlahan di sampingnya. kenapa berakhir sampai di sini saja? Apakah takkan ada tindak lanjut yang lebuh melegakan hati? Apa mereka akan melakukan visum et repertum? “Tidak. kami berterima kasih atas kesediaan kalian datang ke TKP pagi buta begini.Bab 10 “Apa betul dia meninggal karena serangan jantung?” tanya Garsini kepada Mayumi yang juga sempat shock dengan kepergian sobat sepuhnya secara tragis. Sungguh. Sekarang sebaiknya kalian cepat pulang saja. Mereka sedang sibuk berkemas.” jelas petugas yang telah memberi nasihat bijak kepada mereka itu.

masih melangkah berat di sisinya sambil menahan tangis duka. Tersilih oleh rasa terkejut atas reaksi Mayumi terhadap keberadaan para pria Hindustan itu. di atas kereta. dan suasananya sarat canda dan tawa. percakapan itu kembali mengental. Saat itulah Garsini baru mengetahui love-affair Mayumi-Sarukh Khan. “Mereka pasti akan bersenang-senang di… sungguh tak punya hati!” umpat Mayumi semakin sarat benci dan dendam.“Kamu bilang apa. “Kamu… aaah?!” Mulut Garsini ternganga. kebutuhan curah hati dan entah apalagi. dendam dan benci. biar dia mampus disambar kereta peluruuu…!” desis Mayumi. dialah pengkhianat brengsek! Demi Tuhanku Yang Pengasih. Namanya tentu saja bukan Sarukh Khan. dustaaa! Pendusta besaar si Anjeli itu! Orang-orang itu. ada apa denganmu?” “Lihat si Sarukh Khan itu. kedukaan dan perkabungan untuk Nakajima. “Eh. Salah satu pengagum dan telah menjadi korbannya adalah Mayumi. itu hanya julukannya di kalangan fansclub-nya. Sekilas ekor mata Garsini pun terarah ke apartemen seberang. ugh. Mayumi-san?” Garsini lesu. sesaat mengapung di udara dingin yang menghajar tulang sumsum. kembali terikat oleh tali simpati. “Bahkan Anjeli sekarang masih bersama mereka! Juga Miss Swedia Cristal si pahit lidah itu!” umpat Mayumi kini terdengar sarat angkara. Jay Bachan memang playboy Hindustan yang sukses kembara di Jepang. Mayumi telah tersihir oleh perangkap salah seorang pria ganteng di sana. Sebuah mobil carry sudah menanti. Sesungguhnya 100 . Ada pasangan-pasangan roman yang tengah siap berangkat. Umpatan. keheranan. Persahabatan mereka yang sempat renggang. Mahasiswa hukum yang terancam di-DO itu sangat banyak pengagumnya. semuanya saja brengseeekk!”” Garsini tak urung meliriknya. Sepanjang perjalanan menuju asrama. ”Katanya dia menyesalkan. Setahunya dalam beberapa bulan itu. caci maki terhebat yang pernah diperdengarkan oleh mulut manis Mayumi.

Mayumi terdiam. *** Garsini sendiri memutuskan untuk cepat kembali ke asrama. ceritanya sudah sebulan ini kamu tak pernah lagi gaul dengan mereka…” “Ya.Garsini lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Dia akan memaafkanmu. menengok Okusan yang telah lama tak diketahui kabar beritanya. pekik Garsini membatin. aku sungguh menyesalinya!” desis Mayumi menahan sakit. Ia sudah banyak melihat contohnya. marah dan benci dendamnya. Tak usah dilanjutkan. gaul bebas. Tak mengindahkan para penumpang lain yang menatap dengan penuh rasa ingin tahu. Ingin melabuhkan rasa pilu di kalbu di atas peraduannya yang hangat. jika kamu melakukan taubatan nasuha. ia menemukan Haliza yang sudah beberapa hari tak pulang. Garsinisan?” suara Mayumi terdengar parau dan bergetar hebat. bunga segala bangsa yang datang kepadanya…” “Sejauh itukah? Dan kamu. jika sahabat kesayangannya sampai terjerumus ke jurang serupa itu. Allah itu Maha Pengampun…” Mayumi beberapa saat tersedu di haribaannya. Tak dinyana. “Insya Allah. Sunguh pertanyaan yang sangat kejam. desisnya ikut merasakan rasa sakit yang diderita sahabatnya. kisah cinta remaja yang terjebak nafsu. Wajahnya pucat. Karena tugas 101 . tubuhnya seketika terasa bergetar dan bersandar pada Garsini. itu gara-gara si bajingan Jay Bachan!” “Sebelumnya kamu begitu mengaguminya. Tapi ia berencana nanti malam akan mampir ke rumah.” “Itu sudah berakhir. Mayumi langsung ke tempat kerjanya di kawasan Ginza. kecewa. Tapi ia tak pernah berpikir. “Jay Bachan itu cuma ingin menghisap madu setiap bunga Sakura. nikmat sesaat. “Jadi. sampai di mana kamu menyerah?” Garsini menggigit ujung bibirnya. Sedang Mayumi tak henti curtah hati dengan segenap emosi. Mereka turun di Tokyo Eki. “Apakah Tuhan akan memaafkan diriku yang telah terjerumus ini. demi Tuhan.

ukhti sayang. Sebuah prestasi gemilang kembali telah dipetiknya. sadarlah. Kalau ia tetap dalam keadaan begini. Tengah malam pun lewat. Bukankah kita akan memetik berkah dan nikmat shaum untuk pertama kalinya di Negeri Sakura ini. “Besok kita mulai memasuki bulan suci Ramadhan. Haliza meninggalkannya untuk mendirikan shalat tahajud. Demam aneh yang sebelumnya pernah menyergapnya beberapa bulan silam. Papa. Sesungguhnya ingin segera dihaturkan Garsini ke haribaan Mama. karena ia keburu hanyut dalam berita dukacita yang datang kepadanya di kampus. adik-adik. dukacita Nakajimasan. di balik itu ada pilu yang masih menggayut di ujung kalbu Garsini. sanak saudara dan para sahabat tersayang di tanah air. Ini sudah lewat sepuluh jam. Usai shalat dihampirinya lagi Garsini. Namun. Garsini…” Garsini tak bereaksi sama sekali. Ketika dirinya dalam puncak kelelahan setelah berburu tiket pas kereta peluru. Sepanjang malam itu ia hampir tak memejamkan matanya. Ia berdoa khusus demi kesembuhan sahabatnya. Suatu hal yang nyaris terlupakan oleh Garsini. please…” Haliza kini sungguh merintih pilu bahna cemasnya atas keadaan sahabatnya. ukhti sayang… Ayo. sebagian butiran kristalnya itu berjatuhan dan membasahi pipi Garsini.” bisik Haliza sambil berlinangan air mata. Mendampingi Garsini yang mendadak terserang demam tinggi.hariannya di rumah sakit yang konon semakin padat dan keras. Kini penyakit yang sama kembali dan menghajarnya tanpa ampun! Haliza mengganti kompres di atas kening Garsini. ambruk di penginapan luar kota Hiroshima. sembuhlaaah. Dan pilu nestapa itu menyeret Garsini ke rasa sakit yang berkepanjangan. Masih belum sadar jugakah? 102 . “Sembuhlah. saatnya memasuki dua per tiga malam. terpaksa aku harus memanggil ambulans dan mengangkutnya ke rumah sakit! “Garsini. Saat itulah Haliza mengucapkan selamat atas keberhasilannya sebagai teh best gakusei.

Duh. pupil matanya mengecil… Ah. “Jangan. buktinya membelikannya handphone dan laptop baru. “Aku akan sembuh. “Tidak. tak ada istilah kencan.” bantah Haliza kala itu sebagai pembenaran sikapnya.” elak Garsini. tentu saja dialah yang harus secepatnya dihubungi. “Kami tak lakukan apa-apa. Meskipun Garsini hampir tak pernah menggunakan telepon selularnya. Garsini. Ia tak perlu lagi meminjamnya dari orang. 103 . pikir Haliza. Sebab ia baru pulang bepergian berdua Abang Rashid. Tidak. iya… De Broer Petermu itu?” Seketika Haliza menepuk jidatnya sendiri. Haliza sayang. Berapa biaya transportasi yang harus dikeluarkan. tak mungkin memintanya datang ke situ. ya. sebentar lagi. be calm please…” Haliza tersentak dari lamunannya. bergerak tak menentu. siapa dia? Oh. aku pasti sudah pikuuun! Kenapa aku jadi selinglung ini. ya? Haekal. tapi sebagai sahabatnya seharusnya ia tahu hal ini. pacaran dalam kamus Muslimah. Buktinya. jangan panggil siapapun…” erang Garsini. Di antara mereka ada hubungan khusus. perjananan antarbenua itu? Bagaimana kalau sakitnya hanya demam biasa. bila mereka sedang chatting…? “Mengapa kamu tak pernah mengajaknya kencan?” Haliza pernah menguping Mayumi bertanyakan hal itu kepada Garsini. Ia memanjakan Garsini. ke mana aku harus menghubungi saudaramu itu. Meskipun selama ini Garsini tak pernah secara terbuka mengakui pemuda itu sebagai something special. tapi laptop itu sangat bermanfaat baginya. Cepat-cepat dihampirinya Garsini dan memperhatikan keadaannya dengan seksama. De Broer tinggal di Holland.”Jangan membuatku ketakutan. sabarlah. besok pun sembuh… Bila itu dilakukan hanya akan bikin persoalan baru! Tapi De Broer tampaknya sangat mengasihi saudarinya ini. hanya untuk mengurus saudarinya yang sakit. Masih di batas kewajaran. matanya kadang membuka beberapa saat. Ketika itu Haliza merasa Garsini tengah menyindirnya. teringat lagi bahwa itu hal yang sangat musykil. Apakah Garsini mengingau? Tampaknya dara itu gelisah sekali. tenang saja.

“Kamu pernah memintaku agar kita selalu saling mengingatkan,” ujar Garsini diplomatis. Tanpa memberi nasihat berlarat-larat, tapi ketaksetujuannya akan hal itu sudah sangat jelas. ***

Haliza tergopoh-gopoh menuju meja belajar Garsini. Beberapa saat lamanya ia memeriksa buku telepon. Tidak, tak ada nama Haekal di sini, pikirnya keheranan. Mungkin di telepon selulernya. Ugh, kenapa Garsini tak

mengaktifkan benda canggih itu? Bahkan laptop-nya juga di-password, hingga ia tak bisa membuka email Garsini untuk menghubungi Haekal. Haliza kembali menghampiri Garsini dengan kecewa dan putus asa. “Apa yang sudah kamu lakukan itu, Haliza?” suara parau Garsini terasa menikam ujung hati Haliza. Dengan wajahnya merah padam menahan malu dan marah pada diri sendiri, Haliza hanya tercengang dan gugup. Ia merasa dipergoki telah mengacak-acak benda pribadi Garsini. Itu telah melanggar kenentuan dan tatakrama. Namun, Garsini tersenyum samar seperti telah memaafkan kelakuannya itu. Kedua tangannya terulur, mengisyaratkan Haliza untuk mendekat kepadanya. “Kamu sudah sadar? Alhamdulillaaah…!” Haliza pun menghambur dan memeluknya, mendekapnya erat-erat. Garsini berusaha bangkit dengan susah payah, tanpa mengindahkan uluran bantuannya. Haliza geleng-geleng kepala. “Ugh, sudah parah pun masih sombong kau ni!” sungut Haliza tertawa haru. Garsini berhasil duduk dengan tegak ditunjang oleh tumpukan bantal. Kepalanya masih pening, tapi demamnya telah jauh berkurang. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang lemas dan kaku-kaku. “Obat apa saja yang sudah kamu jejalkan ke mulutku tadi, Haliza?” protes Garsini. Haliza tertawa kecil, matanya masih membasah bahna harunya. Memori Garsini telah kembali secara utuh!

104

“Jangan suuzon, aku hanya memberimu beberapa butir pil anti demam.” Haliza mengelus-elus jari-jemari sahabatnya. Giliran Garsini yang sangat terharu. Matanya kini membasah, tapi ia menahan tangisnya agar tak tumpah. ”Punya apa untuk makan sahur kita, Haliza?” tanyanya pula tiba-tiba. “Aku tahu, kamu tadi bilang bahwa besok kita akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan..” Haliza tercengang takjub melihat perubahan yang sangat pesat itu. “Tapi kamu belum bisa shaum…” “Kata dokter Siti Haliza Tun Razak tu!” Garsini mencibir dengan meleletkan lidahnya. “Kamu betul-betul sudah sembuh, Garsini.” Haliza tertawa senang melihat Garsini telah kembali riang dan humornya telah muncul. “Tapi aku sampai lupa, tak sempat sediakan makanan apa-apa untuk makan sahur kita… maaf,” keluh Haliza. “Bagaimana?” giliran Garsini membelalakkan matanya, tak percaya atas keteledorannya. “Yaaa… kita tak sempat menitipkan daftar belanjaan ke orang dapur. Sepanjang siang tadi aku tak bisa ke mana-mana, menjagamu…” “Ah, sudahlah, maafkan aku… Mari, kita sahur apa saja!” “Hanya sepotong roti kismis dan teh manis, mau?” bujuk Haliza, masih berharap agar sahabatnya mengurungkan niat berpuasa esok. Gartsini telah bulat, menyambut tawarannya dengan penuh semangat. “Ya, tentu saja mau… mannnaaa?” “Sungguh, kamu tampak sudah pulih!” “Yeee… lha wong dari tadi juga aku merasa sudah pulih kok!” Haliza pun menyerah. Lagi pula, siapa yang kuasa menimpakan sakit dan memberi kesembuhan selain Sang Maha Penyembuh? ***

Garsini mendorong troli belanjaannya menyusuri rak demi rak di sebuah supermal kawasan Ginza. Tanpa terasa ini sudah memasuki minggu ketiga bulan Ramadhan.

105

Gerak-gerik Garsini tampak serba ringkas dan cekatan. Tangannya menjumput ini-itu sesuai daftar belanjaan di secarik kertas genggamannya. Siapa mengira, bahkan dirinya sendiri bahwa kesehatannya berangsur membaik sedemikian pesat. Beberapa hari yang lalu, Haliza sangat mengkhawatirkan demam tinggi yang menyerangnya sepanjang malam. Sehingga gadis itu nyaris putus asa untuk memberi tahukan keluarganya. “Ini sungguh berkah dan hikmah Ramadhan,” decak Haliza saat mereka buka bersama, tepatnya hanya berdua di kamar. “Kamu tampak segar bugar, Garsini sayang. Tak ada sisa sedikit pun kalau kemarin malam kamu sakit. Subhanallah!” Garsini kini tersenyum-senyum kecil. Ya, kekuatan maha dahsyat itu muncul di dua per tiga malam. Ketika ia melihat sosok Haliza mendirikan shalat tahajud, menengadahkan kedua tangannya, mendoakan dirinya kepada Sang Khalik. Beberapa saat sebelumnya kupingnya pun sudah mendengar suara Haliza. Memberi tahukan bahwa besok mereka akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan yang pertama kali di Jepang. “Sungguh kamu tidak apa-apa, Garsini?” Haliza menanyainya dengan cemas saat tengah hari. Ia kebetulan tidak kuliah hari itu. Demikian pula Garsini yang terpaksa izin sakit dalam tiga hari itu. “Insya Allah, aku merasa tak kurang suatu apa… Lihat saja ni!” Garsini baru mandi air hangat, hendak shalat zuhur. Sebelumnya Haliza sempat melarangnya bangkit dari tempat tidur. Apalagi untuk mandi dan bershaum. “Allah Maha Penyembuh yang tiada tara,” decak Haliza akhirnya harus mengakui mukjizat itu telah menghampiri Garsini, dan mereka merasakan berkahnya bershaum. “Hari pertama berhasil kita lewati dengan nikmat,” kata Haliza saat mereka berbuka puasa. Meskipun tanpa kolak dan pembuka aneka ragam seperti bila mereka berpuasa di negeri sendiri, di tengah-tengah keluarga. Lama mereka hanya berdiam diri sambil mereguk teh manis hangat, ditambah beberapa potong kue basah khas Jepang. Istri Ojira-san yang membuatnya khusus untuk kedua gadis Muslim itu.

106

seperti gadis Turki dan Pakistan yang pernah menghuni kamar kalian tahun sebelumnya…” Wanita baik hati itu lalu bercerita sekilas mengenai kedua Muslimah yang dimaksudkannya. “Tidak juga. Suami-istri tua itu selalu menyambut mereka dengan hangat. sayang sekali kami tak punya anak sebaya kalian. Dia hanya berdua Pak Ojira di rumah tua di belakang sana…” Sejak itu mereka jadi sering mampir ke rumah keluarga Ojira. “Karena kutahu kalian Muslim. Rumah terasa sepi sekali…” “Kalau mau. Kini mereka telah lulus dan kembali ke negerinya masing-masing. meninggalkan mereka dengan sepiring penganan lezat khas Jepang. Seberkas pencerahan telah menghangatkan sepotong kalbu yang renta dimakan usia. Gadis Turki dan Pakistan itu menghuni kamar yang sama selama beberapa semester.” kata Garsini tersipu.“Aku tahu kalian sedang menjalankan puasa. Tak berapa lama kemudian ia pamitan dengan air muka berseri-seri. Ah.” komentar Haliza saat Bu Ojira berlalu. “Kami tampak tertutup. anggap saja kami ini anak Ibu!” seru Garsini renyah.” elak Bu Ojira. “Tampaknya Bu Ojira itu kesepian sekali.” kata istri penjaga asrama itu dengan hangat. kalau selama ini kami kurang silaturahim. Padahal. Terutama gadis baik-baik dan taat beragama seperti kalian ini. rumah kami selalu terbuka untuk para gadis asrama. lima-limanya katanya tadi? Tapi tak ada satu pun yang tinggal bersamanya. Bu Ojira tertawa kesenangan. agar mereka jangan lupa membalas budi baik pasangan 107 . ya?” “Anak-anaknya lelaki semua. “Baiklah. “Maaf. Hanya mungkin kalian terlalu sibuk hingga kalian jarang mampir ke rumah kami. menawarkan simpul kekeluargaan. Melalui kedua gadis itulah. Bu Ojira mengenal apa itu Islam. Acapkali Garsini mengingatkan Haliza. “Kalian sangat ramah dan tahu tatakrama. Sambutan kedua gadis itu agaknya sungguh telah menyenangkan hatinya yang tua dan menderita kesepian. sekarang kita sungguh telah punya keluarga di Jepang. ya kan Bu Ojira?” Haliza turut menyampaikan penyesalannya.

” kata wanita itu serius. Persaudaraan yang terjalin secara mendadak itu pun agaknya salah satu berkah untuk mereka di bulan Ramadhan. Sehingga Bu Ojira amat terkesan perihal bulan Ramadhan. “Kami tidak sedang jual-beli. ukhuwah Islamiah yang bagaimana telah ditawarkan kedua Muslimah itu. Namun. Mereka harus bersyukur kepada kedua gadis Muslimah penghuni lama kamar itu. Entah syiar dakwah apa. Okusan…” kata Garsini dan Haliza terharu sekali. anak-anakku. *** 108 .lansia itu. Lalu ia tergerak untuk menyapa secara lebih dekat Garsini dan Haliza. bila mereka membawakan sesuatu. ternyata Bu Ojira malah menggerutu tak senang. maafkan kami. “Baiklah.

Berkat hubungan baik dengan komunitas Ayyesha. kamu bisa bergabung dengan kami. Ayyesha sudah mempercayai Garsini.” kata Ayyesha suatu kali. Garsini pun berusaha meluangkan waktu bersilaturahim dengan komunitas Ayyesha. meningkatkan jumlah bacaan Al-Qurannya. meluncurkan berbagai penjelasan mengenai perjuangan warga Filistin yang tersebar di beberapa kota besar Negeri Sakura. Ia pun harus sering jalan sendirian. bagaimana pun sibuk dan kerasnya jadwal perkuliahan. “Ini masih top secret…” Meskipun demikian. ya kan Haliza?” komentar Garsini.Bab 11 “Ini menjadikan ibrah buat kita. ia bisa lebih banyak menambah wawasan keislaman. “Tentu saja. lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. kenapa harus di Okinawa dan tidak di sini saja?” tanyanya pula hati-hati. Tapi berkah dan nikmatnya sungguh tak terkira. “Boleh tahu. Selly. Kita harus tetap mengingat syiar dakwah kita di mana pun berada!” janji Garsini yang segera disanggupi pula oleh Haliza dengan lebih serius lagi. Sejak awal Ramadhan. Sejak saat ini kita harus lebih empati.” janji Garsini yang belum tahu bagaimana mengisi hari raya Idhul Fitri di Negeri Sakura. “Kita akan menyelenggarakan shalat Idhul Fitri nanti di Okinawa. karena Haliza tak selalu bisa menemaninya mengingat jadwal perkuliahannya lebih ketat. Maka. Saat itu Garsini mulai menangkap gerakan rahasia komunitas Ayyesha. enerji dan perhatian khusus. ya ukhti?” “Insya Allah.” Haliza berkata dengan nada serius. Memang dibutuhkan pengorbanan waktu. “Aku harap. di masa lalu. 109 . Seperti sering dinasihatkan oleh seniornya. “Ya. Meskipun untuk itu ia harus menempuh perjalanan ke Sendai dalam dingin dan badai yang sering menghajarnya amat dahsyat. Beberapa saat lamanya perihal itu memang menjadi perenungan mendalam bagi Garsini dan Haliza.

aku akan lebih fokus dakwah di lingkunganku. Haliza menggeleng lelah. Sepanjang malam ia berkutat dengan literatur berbahasa latin dan Inggris. Menyelesaikan kuliah yang dibiayai pemerintah Jepang ini dengan sebaik-baiknya. Pendeknya. “Maksudku begini. Haliza memutuskan percakapan itu dengan menguap. Haliza. Seketika matanya bersirobok dengan dua pasangan yang bergandengan mesra. Ia bermaksud menuju ke bassemen. “Apakah menurutmu komunitas itu berbahaya?” “Ngng… entahlah.” “Hal ini tak perlu selalu kamu ingatkan.” elak Haliza enggan. “Apa yang ingin kamu katakan lagi?” desak Garsini.” tanggap Haliza kala menyimak laporannya. “Sekarang apa yang sudah kamu lakukan untuk syiar dakwah itu?” pancing Garsini ingin tahu. Ia juga bisa memahami perjuangan mereka. Kudengar nama komunitas itu suka dikait-kaitkan dengan teroris…?” “Naaah! Kamu sudah terpengaruh propaganda Amerika!” tuding Garsini.” Haliza merebahkan diri di samping Garsini dalam keadaan kisruh-misuh. Garsini. “Ingatlah. Cristal menggelendot manja di lengan Jay Bachan. bangsa Palestina yang selalu didzalimi dan ditindas oleh bangsa Israel. Mayumi akan menemuinya di situ.” protes Garsini agak tak enak hati. kalangan paramedis di rumah sakit. entah siapa 110 . hati-hatilah di mana pun kamu berada. “Jangan salah paham. Agaknya baru sebeginilah yang mampu mereka perbuat saat ini. Garsini menghela napas panjang. kamu harus selalu waspada dan hati-hati menjaga diri di tengah komunitas Ayyesha itu. tanpa cela.Garsini ikut merasakan semangat jihad yang senantiasa berkobar-kobar di mata Ayyesha dan rekan-rekan lainnya. “Kupikir. kewajiban kita di sini yang utama adalah belajar. tapi semangat jihadnya tetap menyala-nyala dalam dadanya. *** Garsini selesai dengan belanjaannya. Sedangkan Anjeli dengan kekasih sejatinya.

penggembira belaka dalam rombongan kecil itu. ia tak dapat berbuat banyak untuk menolong Gweeny selain menyarankannya untuk secepatnya pergi ke rumah sakit. Kalau mereka mencemaskan reaksi keluarga dan bangsanya. Penyihir Melayu. Padahal. Haliza telah mengingatkan Gweeny agar tidak mengkonsumsi pil-pil sembarangan. Sehingga Garsini dan Haliza sempat menjadi bahan olok-olok rekan seasrama. Tapi gadis itu masih juga mengkonsumsinya secara diam-diam. “Kamu tidak tahu. guna-guna seperti dituduhkan Cristal kepadanya. Haliza berusaha menolong Gweeny yang sedang dalam kesulitan. mengapa hal ini sama sekali tak terpikir saat akan diperbuat? “Kita kan anak muda. menjijikkan! “Nah. Cristal sambil terkikik menyindir Garsini. jadi dialah biang gosip yang menyebarkan isu picisan itu.pula namanya. Bukan buka praktek sihir. 111 . tepat di belakangnya. Di mata Garsini para pria itu sama saja. Wajah Garsini memerah padam. “Semuanya akan hancur begitu aku hamil!” keluhnya bersikeras. kekasihnya sudah bersedia bertanggung jawab dan ingin menikahinya secepatnya. pembenaran-pembenaran itu! Ketika proses aborsi itu mulai berlangsung. sekali waktu merasa kesepian… ingin cari kesenangan…” Ah. Tampang badak. Telanjur. Kami akan dikucilkan oleh keluarga kalau hal itu terjadi…” Haliza tak paham dengan pikiran ketiga gadis itu. hamil di luar nikah. kedua rekannya ketakutan. Bahkan Garsini sempat sedikit terpengaruh karenanya. semuanya telah terlambat. Sebelumnya Cristal tak berhasil memecah persahabatan kedua gadis Melayu ini. Beberapa pria lagi tampak mirip para pesolek maskulin. itu dia salah satu dari duo penyihir Melayu!” si lidah beracun. Belakangan Garsini mengetahui perihal kedekatan Haliza dengan trio African-girls itu. Haliza sungguh menyesalinya. Haliza. Mereka membawa Gweeny agar berkonsultasi dengan Haliza.

plaaak! Dua tamparan telak mendarat di pipi macho yang tak menduga dapat serangan kilat itu. Sebab tiba-tiba ada bayangan kilat menyambar tepat di depan hidungnya. Apalagi karena ibunya dengan sangat bijak dan penuh kasih sayang. Mayumi sama sekali tak gentar. “Ha. dan ia tak sudi mengikuti jejak gadis Afrika itu. playboy picisan. Yap. “Kamu pikir dirimu itu siapa. Pemilik apartemen menemukan jenazah Gweeny keesokan harinya dalam keadaan sangat memilukan. perempuan murahan?” dengusnya pula dingin. “Jangan ganggu gadis suci ini. Sejak itulah. Hanya sedetik Jay Bachan kaget. mereka tak pernah lagi melihat sosok African-girls melakukan semacam ritual jalan bareng ke mana-mana… Audzubillahi min dzalik. 112 . Tak tahu malu. Tragedi yang menimpa Gweeny telah sampai ke telinganya. kini Mayumi siap menumpahkan benci dan dendamnya. Mayumi-san!” ejeknya sinis sekali. be careful… kabarnya dia jago taekwondo tuh!” kata pasangan Anjeli. di perjalanan itulah Gweeny mengalami pendarahan hebat. tertawa mengejek. Haliza diberi tahu oleh seniornya di rumah sakit tentang berita dukacita itu. “Aku ingin tahu kehebatannya di tempat tidd…” Jay Bachan tak sempat melanjutkan kalimatnya. Ia telah berhasil melewati masa-masa kritis itu rupanya. Gweeny meninggal karena kehabisan darah tanpa sempat diangkut ke rumah sakit. adakah contoh dampak gaul bebas setragis itu belum juga menggugah nurani mereka? “Pssst. Beberapa hari kemudian. berusaha keras memahami kesulitannya dan menyemangatinya.Konon. cuiiih!” Plaaak. tapi sedetik berikutnya ia siap membalas perlakuan yang dirasakannya amat mempermalukan harga dirinya. brengseeek! Cukuplah kamu sudah berhasil melecehkan diriku… Lelaki tak bertanggung jawab. Kedua rekannya meninggalkannya begitu saja di apartemen mereka. Wajahnya gantengnya telah berubah mirip tokoh Rahwana di mata Garsini.

inilah perempuan murahan yang pernah kamu bujuk rayu hingga menyerah total kepadamu. Kepalanya pasti bakal 113 .”Baiklah. “Hupsss… Sopan sedikit kepada kaum wanita. merah padam. senantiasa menyimpan suatu kekuatan dahsyat dampak latihan bertahun-tahun di dojo. pucat pasi.“Perempuan murahan. Jay Bachaaan!” Mayumi berteriak-teriak histeris. Ia cepat melihat reaksi lelaki yang telah berhadapan secara frontal dengan Mayumi itu. ia pun segera memperlihatkan kepengecutannya yang keji dan sangat memalukan. bahkan sudah menjurus ke adu kekerasan itu. Tangannya yang kekar sudah terangkat dengan tinju terkepal. Wajah Jay Bachan berubah-ubah. Tubuh tinggi tegap itu seperti melayang sesaat. Adakah saat itu pun ia habis diperlakukan keji oleh si Rahwana? Karena ia telah bolak-balik. Garsini tak paham. Bung!” Tangannya yang mungil. Dalam sekejap mereka segera merubungi anak-anak muda yang sedang beradu mulut. katamu?” dengus Mayumi sambil mendongakkan dagunya. memaksanya agar mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kala itu Mayumi tak mengatakan apa-apa selain menangis perlahan. Siap dihantamkan ke wajah Mayumi. Lalu bak Rahwana. suatu malam Mayumi mendatanginya di kamarnya dengan wajah biru lebam. Bruuuaak…! “Aduuuhhh…!” jerit kesakitan bagai menyapu pelosok supermal itu. Inilah perempuan murahan yang sebentar lagi bakal melahirkan anakmu. sebelum kemudian berguling-guling meluncur di antara undakan tangga menuju ke luar. tahu-tahu telah menguasai sekujur tubuhnya yang menyalurkan seluruh kekuatan melalui tangannya… “Ini hadiah dari Mayumi. hanya bisa mengusap-usap rambut gadis itu dengan simpati dan hati turut mengharu biru. Bahkan sampai kini pun masih dilakukannya secara diam-diam tiap punya kesempatan. Sedetik Garsini teringat akan penglihatannya. Kini mata Garsini terbuka lebar. Dan entah dari mana hasrat itu muncul. Insiden itu tak pelak telah mengundang perhatian orang-orang di sekitar situ. haaaik!” Garsini melepaskan kekuatan yang menguasai dirinya itu melalui jurus handalannya.

Garsini-san. tak beranjak dari tempatnya berdiri. Kenapa angkara itu masih juga sulit terelakkan. 114 . melewati kerumunan orang-orang. Cepat-cepat ia menjauhinya. Hingga sang petugas merasa muak dan bosan berurusan dengan mereka.mengalami gegar otak ringan bila seorang petugas tak berhasil mencegah daya luncurnya. ya? Ia kembali teringat insiden yang menghebohkan di kampus UI dengan kelompok kiri. “Dan ini dari calon putramu. sebelumnya pernah melakukan aksi yang dinilai atraktif di supermalnya. Ia menatap wajah sahabat Nippon-nya dengan tatapan tak mengerti. Mayumi?!” “Jangan lakukan itu kepada ayah calon bayiku. Agaknya rombongan pria macho dan maskulin itu. ya? “Pantasnya stuntgirl dari Hongkong…” “Bagaimana kalau Yakuza yang lagi menyamar…” “Pssst… diamlah! Dia melihat ke arahmu!” Digelandang oleh Mayumi keluar supermal. Anehnya. Mayumi cepat-cepat menyeret lengan sahabatnya. Garsini terpaksa menghentikan serangannya. petugas itu membiarkannya begitu saja. Cristal sendiri tampak shock dan hanya terperangah. Bahkan saat Garsini masih memburunya. Donald. ia mematuhinya saat Mayumi mengisyaratkan untuk meninggalkan tempat itu. please ampunilah dia…” Mayumi telah mencegah pukulan telak di wajah si playboy picisan itu. serentak riuh memberikan aplus kepada Garsini. Itu pun terjadi di saat bulan suci bulan Ramadhan setahun yang silam. Sementara erang kesakitan Jay Bachan segera menyibukkan Anjeli dan rekan-rekannya. Hingga wajah gantengnya terhindar dari kehancuran fatal. napasnya memburu dan tersengal-sengal. Apa yang dilakukan si penyihir Melayu itu? Beberapa orang di pelataran parkir yang telah terhipnotis dan bergabung. hei Rahwana! Haaa… ugh. Namun. “Begitulah seharusnya menjadi seorang gadis!” “Tadi itu jurus taekwondo. diam-diam Garsini menyesali tindakannya dalam hati. ia berlagak tak melihat apa-apa.

“Apa kamu tidak pernah baca pemberitaan di koran-koran. Coba ceritakan. mereka bilang Akira-san kini menjadi gembong Yakuza. Oya. bagaimana reaksi kakakmu?” “Kakakku. kamu tak usah merasa bersalah. ya kan?” “Sayangnya itu benar. kamu sedang mengandung anaknya. “Kamu lenyap dari peredaran dalam sebulan terakhir.” Mayumi tertawa riang. Mayumi?” Garsini menanyainya serius. mengira Garsini menyesali telah melukai Jay Bachan. tak perlu lebih. Kakakku sudah berhenti dari kuliahnya.” Garsini menghela napas lega. jadi Menteri itu ayah kalian?” Garsini tertegun-tegun.” hibur Mayumi salah paham. ugh… Ya Allah. dia melakukan itu hanya untuk menarik perhatian ayah kami…” “Oh. Mayumi kelihatannya sudah cukup puas berhasil mempermalukan Jay Bachan di depan orang banyak.“Sudahlah. entahlah… Konon. Tapi Garsini merasa tak keliru. kalau Okusan sudah tahu semuanya. tentang kakakku…” “Hmm.” desis Mayumi seketika muram kembali. Kamu harus tahu. sekarang kalian tinggal serumah lagi kan?” “Okusan yang pindah ke tempatku. aku ingat itu.” suaranya terdengar sarat semangat baru. “Sungguh. “Syukurlah. Hanya sampai di situ saja. itu pasti hanya gosip murahan saja. 115 . bisa melihat kemerlip bintang di sepasang mata indah itu. Mayumi pun memberi tahu perihal sikap ibunya menerima kenyataan ini. ketika mereka telah berada di atas taksi.” protes Garsini. Itu lho yang pernah ditinggali oleh sepupumu dulu…” “Ya. Pernah juga kubaca berita tentang sepak terjang mereka di bawah pimpinan kakakmu. “Begitulah. “Kami sibuk pindah dan mengecat ulang tempat tinggal… Bosku yang baru adalah pemilik ryokan di ujung jalan sana. aku belum cerita kepadamu tentang Bosku yang baru. Dia kemudian bergabung dengan Yakuza. Rumah Mayumi dan asrama masih satu arah. ampunilah hamba-Mu yang selalu khilaf ini. Mayumi mengangguk dengan wajah memerah. Membuat keributan di istana seorang pejabat penting Jepang? Ugh. aku sudah pindah kerja ke tempat lebih baik dan aman. “Jadi. Kalau kuasa aku ingin.

” “Hei. keluhnya suatu saat kepada Mayumi. ramah dan hangat menyambut kedatangannya. “Alhamdulillah… baik-baik saja. menatapnya ingin tahu. Segalanya disediakan demi menyenangkan hati sang tamu.“Ya… Dan berkat pengaruhnya juga akhirnya kakakku dibebaskan begitu saja. Untuk beberapa saat ia merasa mendapat limpahan pemanjaan. apa itu?” tanya kedua wanita itu serempak. Nak?” tanya Mayuko sambil menemaninya makan di samping Etsuko. Kasusnya dipetieskan… Kamu tahu.”Thank’s God. tapi itu belum tentu dari lubuk hatinya terdlam. bajunya bagus ya. Jadi. Kamu cantik ya… Bahkan tak jarang diucapkan oleh nenek-nenek yang baru pertama kali dijumpainya di gerbong keiosen. dia menyuruh kawanannya untuk menghabisi Jay!” Percakapan sekitar Akira-san dengan Yakuzanya terputus. Taksi telah sampai di ryokan Etsuko. Garsini meluangkan waktu untuk mampir. Betapa sering Garsini mendengar dua kalimat di atas. bacaannya orang Islam. Ya.” Garsini terbengong mendengar kepasihan sahabatnya menerangkan kalimat spontan tadi. Mayumi yang menjawabkannya. Wah. Etsuko dan Mayuko sesaat berpandangan. Garsini terharu sekali akan kehangatan dan kasih sayang yang ditawarkan kedua wanita itu kepada dirinya. Akhirnya ia buka di ryokan yang sedang sepi itu. Masyarakat Jepang senang sekali memuji orang. Hanya basabasi saja. Hingga Garsini tak sampai hati untuk menolak. “Anata wa kirei desu ne!” tambah Mayuko-san. Keduanya segera sibuk menyiapkan makanan pembuka. kamu jangan kegeeran kalau lagi dipuji… Namun. puji syukur kepada Tuhan… Itu namanya hamdalah. 116 . tapi kemudian memutuskan untuk mengindahkan hal itu. Garsini merasakan aura kehangatan dan ketulusan memancar dari kedua wanita ini. sutekina fuku desu ne!” sambut Etsuko-san. “Bagaimana kabarmu sekarang. “Wah. Wanita sebaya ibunya itu masih saja santun.

“Saya hanya membantunya membuatkan program… menyusun semacam katalog. “Kamu harus sering-sering mampir ke sini. kali ini aku lagi tulus pahaaam?” Suasananya menjadi semakin hangat dan riang. Mereka jarang bisa berkumpul seperti ini. Mayumi maklum dan tertawa geli.. pikir Garsini. penuh harapan baru dan pencerahan agaknya. Etsuko dan Mayuko sangat senang dan menikmati keriangan anak muda ini. Hingga Garsini baru menyadari. hingga nyaris tak memiliki waktu untuk urusan pribadi. biar kami bisa menjamu kamu sepuasnya!” janji Etsuko. betapa cukup banyak pengetahuan Mayumi mengenai Islam. Bahkan Ucok sampai marah-marah melalui emailnya. “Kamu jauh lebih kurus dari saat kita terakhir bertemu. Mereka pengecualian. Kedua ibu itu melepas Garsini dengan wajah berseri-seri. ensiklopedia mini tentang perbandingan budaya bangsa Asia. Apalagi sejak putri Etsuko terpaksa masuk ke rehabilitasi mental di luar kota.” lagi-lagi Mayumi yang menjelaskan. Huu. karena kakaknya tak sempat membalas surat-surat dari keluarganya.Garsini sangat sibuk mengejar prestasi gemilangnya. Ia sudah janji untuk itikaf bersama Ayyesha dan komunitas muslimnya di Sendai. “Tuluskah?” goda Garsini menatap wajah sahabatnya. “Tapi itulah yang telah membuatnya melesat dari rekan-rekan gakusei lainnya. “Ya.”Iya. makan pagi sekali?" “Namanya makan sahur. pasti dia semakin sibuk. Malam ini kamu harus menginap di sini.. Kesenyapan dan kesedihan terasa menggayut di pelosok ryokan. ya?” pinta Mayuko. Bu!” Mayumi mengadu kepada ibunya. Mayuko-san menatap wajah jelita itu dengan iba. ya?” “Iya. Dia ini salah satu pengecualian gakusei berasal dari Indonesia yang sangat kreatif. “Apalagi sekarang dia menjadi asisten pribadi Profesor Charles del Pierro. Adakah hidayah-Nya mulai mengelus kalbu Mayumi? Sayang sekali. inovatif… pendeknya jeniuslah!” Mayumi habis-habisan memuji. Tak sekadar 117 .” kata Garsini merendah. “Kami akan menyiapkan apa itu. Nak!” dukung Etsuko berseri-seri. Garsini dengan sangat menyesal terpaksa menolaknya.

Ini membuatnya sukacita.basa-basi melainkan keluar dari hati yang ikhlas. *** 118 . Ternyata ia telah berhasil memikat dua orang ibu. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Dan penemuan itu membuatnya bertambah tegar dalam melangkah hari-harinya di Negeri Sakura.

aktorlah. Namun. Cristal ekstra keras bergaya dan beberapa saat secara serius melakukan atraksi pribadinya. Ah. Tak terlalu pendiam. ke mana Garsini? Kenapa dia begitu lama membiarkannya sendirian di sarang macan betina ini? Masihkah dia belum bisa memaafkannya? Mayumi terus mengamati Haekal dari tempatnya duduk di sofa sudut ruang tamu lantai bawah. tapi tampaknya suka merenung dan menyendiri. Sebagian telah pergi dijemput pasangannya. masih ada seorang gadis yang tampaknya amat tertarik kepada pemuda itu. Tampangnya itu. menggoda Haekal. senyum menantang dari bibir menyala milik Cristal. Namun. sama sekali tak mempedulikan kerling genit. pamer kemolekan di sekitarnya. Inilah untuk ketiga kalinya memergoki Haekal tengah menanti Garsini dengan segala kesabaran dan kesetiaan nan mengagumkan. Haekal tampaknya bersikap acuh tak acuh. Baru kali inilah Mayumi punya kesempatan mengamati pemuda Indonesia itu dari jarak dekat. gumamnya membatin.Bab 12 Malam tahun baru yang diharapkan para gadis di asrama itu akan bertabur cinta dan kasih. Sehingga membuat Haekal semakin rikuh dan jengah sendiri. Ia menundukkan kepalanya. akhirnya para makhluk molek itu jemu juga. mungkin juga ujung sepatunya yang masih dinodai percikan salju. very-very cool! Hmm… pantasnya perawakan atletis dan tampang keren begini. raib entah ke mana. Bak para supermodel bergaya di atas catwalk. 119 . tepekur menatap ubin di kakinya. ia tak pernah berani mendekatinya apalagi menyapanya. Haekal duduk dengan rikuh di ruang tamu di bawah tatapan kagum makhluk bernama gadis yang berseliweran. Karena tak dipedulikan. kemudian jalan mondar-mandir dengan gelisah. atau memperoleh kencan dadakan. Beberapa kali Mayumi memergoki pemuda itu bangkit. Mereka entah sengaja atau tidak.

Ah. Garsini membatin. keduanya memilih tempat yang terbuka dari pandangan umum. Adakah itu terimbas dari perubahan total yang terjadi pada diri Jay Bachan? Sesungguhnya dari Jay Bachan. *** Suatu hari Jay Bachan memergoki mereka lagi berbantahan keras di kampusnya. tak paham akan bentuk hubungan kedua manusia berlainan jenis itu. mereka yang mengaku anggota Yakuza.Ia telah punya komitmen tinggi dengan Garsini akan hal ini. Mayumi serasa telah mengenal begitu baik makhluk alim ini. tapi kamu kan bukan orang Islam. Sedang ia sendiri akan pulang ke asramanya. Dari mana perubahan pemikiran itu muncul. Haekal hanya akan tersenyum bijak. Iya. sangat mengaguminya. melepas Garsini kembali ke kamarnya di lantai dua. Baik di kampus maupun di asramanya. Meskipun Garsini hanya tertawa kecil mendengar tekadnya itu. Jay tak peduli. bila Garsini menolak kedatangannya. Hampir tak henti-hentinya Jay menceritakan kebaikan Haekal. kita harus memelihara kehormatan. Jay bersungut-sungut di belakangnya. Ada semacam magnit. Garsini tak pernah mau jalan bareng. Kan menurut Islam. Jay tak pernah melihat wajah ganteng itu kesal atau kecewa. Bermula dari insiden pengeroyokan temanteman kakak Mayumi. Mayumi cemberut dibuatnya. Diakhiri dengan kepergian Haekal. Begitu pula bila bercakap-cakap singkat. Sejak saat itu Jay sangat menghormati Haekal dan ingin selalu berdekatan. tapi mana tahu kan suatu saat nanti… Lagi-lagi Garsini hanya tertawa kecil. wajah yang merah padam dan 120 . Ada beberapa kali Haekal memintanya mendampinginya untuk menemui gadis itu. salju tebal. Harus menutup hijab antara wanita dan pria. menempuh hujan badai. Dari situlah Jay mengetahui “kelainan” hubungan kedua anak muda itu. Meskipun kemudian rekan-rekannya mengucilkannya. bila hanya berduaan. Jay Bachan yang telah berubah total berkat kedekatannya dengan Haekal. daya tarik yang amat kuat melalui tali ukhuwah Islam yang diulurkan Haekal kepadanya.

pikir Jay. terserah kamu. Aku sudah menyakiti gadis suci itu. Seharusnya gadis itu sangat senang dan berbahagia memiliki kekasih sesetia Haekal. Musim dingin terasa menggigit di akhir bulan Nopember. Jay amat mengagumi kekuatan hati orang Islam melalui sosok Haekal. Bahkan Jay Bachan hampir mengidolakannya sebagai sosok orang suci. Hujan badai menghambat perjalanan mereka untuk sementara waktu. silakan saja. Karena ia sama sekali tak memesan apa-apa. Ia sedang berpuasa.” keluh Haekal. “Aku tidak paham dengan kelakuan kalian. manusia yang banyak kelemahan. bershaum selama satu bulan tanpa meninggalkan aktivitas kesehariannya. “Karena kamu bukan seorang Muslim. paginya sengaja mampir ke kampus Garsini.”Aku hanya seorang manusia biasa. Sedang Garsini berlari-lari sambil membawa isak tangisnya yang terdengar menyayat di telinga Jay Bachan. menyakiti hatinya secara telak!” Jay Bachan menggelengkan kepala. saat itu sosok Haekal sudah sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi atas dirinya. “Jangan. bagaikan Dewa laiknya.” tegur Haekal keras. Boleh aku pesan minuman beralkohol?” tanya Jay meminta pendapat Haekal.terluka. Jay mengira hubungan mereka takkan bisa dipertahankan lagi. ya?” Haekal mengangguk dan ia tak mempedulikan tatapan keheranan orangorang sekitarnya. Ada masalah. tak boleh minum minuman beralkohol. something wrong di antara mereka. pikirnya. banyak melakukan kekhilafan… Kamu sudah lihat buktinya beberapa menit yang lalu. Mereka mampir di caffee-house dekat kampus. jadi kalau aku Muslim. “Bukankah kalian pasangan kekasih yang saling mengasihi? Tapi kenapa kalian tak pernah bisa 121 .” “Ooh. “Kopi saja rasanya takkan mampu mengusir hawa dingin ini. Inilah untuk pertama kalinya Jay melihatnya begitu kisruh-misuh. Padahal.” protes Jay. Kenapa malah tadi seperti mengusir-usirnya? “Puasaku sudah batal karena sempat marah-marah tadi. jangan pernah pandang aku seperti itu. kebingungan. Haekal baru tugas jaga malam.

tapi aku sudah lama tak mempedulikannya. Walaupun harus dipelototi pemilik kafe. tak memesan apa-apa. “Aku sudah menduganya!” tukas Jay tak sabar. “Dalam agama Hindu pun ada banyak aturan dan disiplin. ia lebih suka mengeluarkan beberapa puluh yen sebagai kompensasi tempat mereka berteduh. kapan kamu akan merasa siap untuk mengambil alih kekuasaannya? Dia merasa sudah semakin tua dan lelah.” ungkap Haekal kemudian. ia menyilakan Jay untuk memesan minuman dan penganan. Mungkin sejak mereka membuangku ke luar negeri. katamu tempo hari utusan keluargamu sudah datang untuk menjemputmu?” Jay mengangguk.jalan bareng berduaan. “Kami memang berniat untuk menjadi suami-istri. Meskipun ia merasa puasanya sudah batal.” tegur Haekal tak enak. Inggris dan sekarang aku terdampar di Negeri Sakura… tanpa masa depan!” “Jangan pesimis begitu. Jay akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak Haekal. memadu kasih seperti lazimnya pasangan kasmaran lainnya?” Haekal menghela napas berat. tentang halal dan haram. Paman Vijay mengingatkannya agar segera merubah gaya hidupnya yang amburadul. Ayahnya konon sudah tak sabar lagi menanti perubahannya. Pamannya. aku tak pernah melihat kalian kencan apalagi bermesraan?” Wajah Haekal merona.”Masa depan itu tetap ada dan terletak di tanganmu sendiri. suatu hari nanti. tentang khalwat. Ia menjelaskan secara singkat tentang makna mahram dan non mahram. hijab… Sehingga Jay mengangguk-angguk paham. Vijay untuk ke sekian kalinya diutus oleh keluarga besarnya di New Delhi. aku kan sudah berulang kali mengingatkanmu. Kedua kakakmu tak 122 .”Tapi kenapa kalian begitu asing kelihatannya? Maksudku. Gelisah duduk di antara para pelanggan kafe. “Katanya. Mula-mula ke Amerika. Semuanya tergantung bagaimana kamu memperlakukannya… Hei. tapi tak punya niat untuk makan dan minum di siang hari.

Jay Bachan!” 123 . Jay pun kembara ke mana saja dia suka. lebih suka hidup di mancanegara sebagaimana dulu orang tuanya mengkondisikannya demikian. Tualang ke sana ke mari. Bayang-bayang kedua kakak lelakinya yang sukses sebagai politikus. perusahaan kita semakin melebar ke pelosok dunia. lantas apa saranmu?” seru Jay ketika melepas keberangkatan pamannya di bandaran Narita. Paman Vijay. jangan harapkan lagi sokongan fasilitas dan kemudahan dari keluarga besarmu di India!” Itu berarti. tak sabar lagi menantikan Sang Pangeran untuk mengembangkannya…” Jay hanya terdiam seribu basa.”Kalau dalam tempo dua bulan kamu masih begini saja. kehamilan Mayumi. paham?” mata Paman Vijay berkaca-kaca.bisa diandalkan lagi. Jay terkucilkan. Namun. Jay Bachan! Carilah seorang gadis untuk mendampingi hidupmu. Harapan itu terlalu tinggi. Jay. rasanya terlalu beban untuk disaingi. “Siapapun gadis itu. ya Paman?” “Siapapun dia asalkan bisa membuatmu menjadi orang lagi. pelarian itu ternyata nol belaka! Bahkan memberinya dampak yang sangat menjijikkan. hidup foya-foya dan hura-hura sebagai pelarian. Ingatlah. karena mereka lebih suka dengan karier politiknya. bahkan dari satu pelukan wanita ke pelukan wanita lainnya. terlalu berat diletakkan ayahnya ke atas bahu-bahunya yang ringkih. Trauma masa silam itu sangat dalam memasung jiwanya. Beberapa minggu setelah insiden di supermal yang memberinya kabar mengejutkan. Jay. “Berubahlah secara total. Lemah dan ringkih karena kepengecutan dirinya untuk tampil sebagai pemenang. dosa tak terampunkan. dia akan hidup sengsara di negeri orang untuk selamalamanya. Nehiiii! “Baik. gonorhea! Kali ini paman Vijay baru pulang setelah memberi ultimatum. Dokter kemudian memvonis dirinya dengan suatu penyakit memalukan. Menghamburkan setiap rupee yang ditranfer keluarganya. Jay jatuh sakit. mengarahkan jalanmu… Paham kamu.

Bukankah kita harus selalu memiliki keyakinan itu. jangan sampai merasa terpaksa… Pertimbangkanlah kembali matang-matang!” Tapi Jay telah merasa mantap agaknya.” Haekal melengak. “Bagaimana caranya aku bisa memeluk Islam?” Menghabiskan hari itu. Jay. ya Ustaz?” katanya. jerit Jay bachan. apakah itu berkat kedekatannya dengan Haekal atau kehamilan Mayumi… Tak usah diperdebatkan lagi. aku dan Mayumi untuk memeluk agamamu Islam. kepercayaan akan takdir-Nya?” Inilah saatnya Jay merasa dirinya telah mengalami perubahan total. sesaat kemudian ia tersenyum bijak. Siapapun pemicunya. kamu akan sanggup melewati masa-masa kritis hidupmu. mengalahkan kisruh-misuh di wajahnya dan persoalan pribadinya. “Aku ingin minta sesuatu darimu. Jay pun dibimbing melafalkan dua kalimah syahadat oleh Cak Wahid. tapi bagaimana kalau… Anak itu terlahir cacat? Mayumi dengan bijak dan pasrah tetap menyemangatinya. “Itu tak sesederhana perkiraanmu.Sekarang aku telah menemukan gadis itu. Maka. Bahkan dia sudah mengandung putraku. kalau begitu dimulai dari diriku dulu. 124 . mereka menuju Wisma Nusantara. Selain ada Mayumi. dan mengungkapkan niatnya. Tak ada yang disembunyikan lagi. sebab yang jelas ini akan sangat menyenangkan. Mereka sangat hangat dan menyambut gembira keinginan Jay. “Apa itu?” Haekal tengadah. ada keturunanmu. harapan keluarga besarmu… Nah. “Baiklah. menatap paras pemuda India yang menatapnya dengan mimik serius itu. “Ajaklah aku… maksudku kami berdua. Kamu kuat. “Kita lihat saja kenyataannya nanti. seorang guru agama yang sedang bertugas sebagai staf pengajar di sekolah internasional. apalagi yang kamu harapkan? Semuanya itu menjadi karunia dalam sisa hidupmu kelak. “Peganglah keyakinan itu. Haekal memperkenalkan Jay kepada taklimnya. Aa Haekal.” semangat Haekal seperti biasa menggebugebu. setelah Jay mengungkapkan kondisinya secara jujur. Mayumi sendiri harus meyakininya.” cetus Jay Bachan sebelum meninggalkan kafe itu. Jay. Jay.

temuilah dia sana!” Garsini bersikeras tak mau menemuinya. tapi jauh di lubuk hatinya ia meragukan. ia menyarankan mereka agar sebaiknya pulang saja. Ia sungguh ingin menjadi sosok yang baru. ya? Itu mengingatkan Garsini akan sikap ayahnya. dalam kepasrahan seorang Muslim. sudah seperti saudara malah… Apa sebenarnya yang kalian pertengkarkan?” tanya Mayumi beberapa hari yang lalu. kalau begitu maafkanlah dia. adakah itu sekadar salah paham belaka? Ataukah lebih dari sekadar itu? Benih-benih perbedaan di antara mereka? Garsini masih juga menyembunyikan masalah yang terjadi antara dirinya dengan pemuda itu. Aduuuh… demi Allah! Aku tak ingin hal yang sama terjadi dalam keluargaku kelak! “Nah. mencurigai… habis-habisan! Sungguh tak masuk akal. Pertengkaran itu sungguh melukai hati Garsini yang murni dan mungil. Melalui Jay yang selalu jalan bareng dengan Haekal dalam beberapa pekan itu. Garsini-san. Kenapa sikapnya jadi berubah begitu mengesalkan. Jay pun mempelajarinya dengan sangat serius dan istiqomah. “Hanya salah paham saja. Mencemburui. “Betulkah si De Broer itu sepupumu? Dan kalian berduaan saja bepergian ke Hisroshima?” cecar Haekal.Haekal kemudian melimpahinya dengan sejumlah buku tuntunan Islam. Bahwa ia sudah banyak memberi kesempatan. tetapi Haekal selalu mengulangi kesalahan yang sama. katakan terus teranglah. Ia masih trauma dengan masa lalunya. kekerasan yang kerap terjadi dalam rumah tangga orang tuanya. Sehingga terpaksa Mayumi ke bawah.” elak Garsini. 125 . ketika Garsini menceritakan semuanya secara terus-terang. Tak ada yang dirahasiakan. Kita kan bersahabat. Semua diakibatkan oleh ketakpercayaan Papa terhadap cinta Mama. *** “Tolong. manusia baru dalam perubahan total.

pekik Garsini sakit hati sekali kala itu. Sebab ia pun tak bisa ikut bersama kajian Ayyesha. Seribu luka pun turut merajam sukma Garsini! “Bagaimana tidak ngambek. terlalu riskan untuk menempuh badai salju menuju Sendai. menyesalkan sikap sahabat Indonesunya yang dinilai aneh. Mayumi-san. Garsini memilih tinggal di kamarnya dengan dalih untuk melakukan tafakur. kami harus memelihara hubungan suci ini. ”Kami tidak pacaran. Ia tak bisa membayangkan seandainya Mayumi kembali dikecewakan. suatu hari nanti. Apalagi seorang diri. menikah! Setelah itu aku sungguh tak ingin apa-apa lagi!” Garsini geleng-geleng kepala. Dia ingin menjadikanku istrinya. duuuh…! “Jawablah dengan jujur. 126 .Aduuh. Jadi. Haekal tak berhasil mengajak Garsini pergi ke KBRI. ayo?” “Apapun itu… aku tak peduli! Bagiku yang penting. Haekal telah berhasil melakukan pendekatan. kenapa Aa Haekal menyangsikan kejujuranku. sikapmu itu terlalu dingin kepadanya. bahkan sanggup mempengaruhi pikiran Jay Bachan. melalui telepon dan mail-mail. berbagai pertanyaan. Garsini hanya akan tersenyum lembut. Tak seperti seorang kekasih… Lama-lama dia akan cari pacar baru. Luar biasa! “Bagaimana kalau dia sudah dimanfaatkan oleh Aa Haekal. Garsini!” tegur Mayumi pada malam lebaran yang lalu. itikaf dan bertakbir sendirian. Apalagi ketika sampai beberapa waktu Haekal secara terusmenerus mencecarnya. apa betul kalian pasangan kekasih?” Mayumi kembali mendesaknya soal status Haekal bagi gadis itu. tapi tidak sekarang. Jay sudah berubah dan itu sangat menakjubkan!” “Bagaimana kalau perubahannya hanya sementara? Hanya untuk membuatmu kembali ke dalam pelukannya? Setelah kalian menikah dia akan…” “Itulah yang paling kuinginkan. Ketika itu Mayumi amat surprise dan mulai membuka hati untuk memaafkan Jay Bachan. Bagaimana kalau dia sampai harakiri. Membuat Mayumi geleng kepala. meskipun sudah susah payah mengajak serta Jay Bachan.

langsung mengenai ulu hati Mayumi. seperti kemarin didengarnya melalui telepon. terang-terangan menghina Mayumi.Jangan sampai terkontaminasi oleh hasrat. Bahkan ia rela melakukan apapun demi mewujudkan niat baiknya itu. menunggu kedatangan Jay Bachan yang telah janji menjemputnya di asrama malam itu. mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Mayumi. bersombong-ria mengklaim sebagai penakluk semua penghuni apartemen Hindustan di Shinjuku itu. kesediaannya bertanggung jawab sebab telah menyadari semua dosa-dosanya. please. Sejak insiden di supermal itu. Cristal. itukah berkahnya iman dalam Islam? Semakin kagum Mayumi terhadap Garsini. Ia bertekad menebusnya dalam wujud satu ikatan pernikahan resmi. Menemui ibunya dan menyampaikan penyesalan sekaligus keinginan baiknya. Cristal menjengek sambil mencibir sinis. tempatnya duduk berdiam diri dalam lima belas menit terakhir. Mayumi takkan pernah menanyakan detailnya perihal perubahan itu.” bisiknya mendesir di telinga gadis Swedia yang pernah melecehkannya. Mayumi merasa tak tahan lagi untuk menegurnya. dia takkan macam-macam. Jay telah berkali-kali mendatangi tempat tinggalnya. insya Allah!” Gadis satu ini memang luar biasa! Islam. *** Ketika untuk ke sekian kalinya Cristal yang mengenakan gaun seronok. “Apa urusanmu di tempat terhormat ini. nafsu atau nikmat sesaat belaka… Aku percaya. Mayumi tidak tampak marah. melenggang-lenggok secara atraktif di sekitar ruang tamu itu. Jay Bachan mengalami perubahan total. semakin tinggi pula rasa ingin tahu dan penasarannya akan agama yang dipeluk gadis itu. he perempuan murah?” dengusnya tajam menikam. 127 . dalam satu keyakinan janji orang terkasih. Jay Bachan entah untuk ke berapa kalinya mengungkapkan. Bibirnya malah melepas sesungging senyum. Agama yang telah sangat memperngaruhi jalan hidup Jay Bachan. Ia sangat surprise dan sungguh berbahagia menerima kenyataan seindah ini. Ia pun bangkit dari sofa. “Jaga sikapmu. Bukan mimpi. sungguh kenyataan.

“Ahaaaa? Apa kupingku tak salah dengar nih?” ejek Cristal sambil mendengungkan tawa yang terasa kejam menikam di telinga Mayumi. bantahnya cepat dalam hati. berkah yang menghinggapi dan bersemayam secara kokoh di kalbu seorang manusia. tanyanya suatu saat kepada Garsini. Kecuali jika ada sesuatu yang luar biasa. Garsini sudah sejak kemarin menyatakan keberatannya pergi malam ini. “Kami akan pergi ke KBRI untuk…” Tidak juga.”Kamu sudah semakin parah jadi pemimpi ulung. Kamu mau menjadi istriku bukan? Hati Mayumi kini dilumuri kehangatan cinta. aku juga bukan guru agama. Dalam beberapa bukan terakhir. Jay akan datang ke sini? Bareng kalian untuk malam tahun baru… hemm?” Mayumi tak bereaksi lagi. berilah kesempatan kepadaku untuk menjadi ayah yang baik bagi bayi kita kelak. 128 . kata Garsini. Begitu dilihatnya pemuda itu kembali masuk. kelembutan janji yang terpancar melalui mata Jay Bachan… Dia telah berubah total. Maaf. Betapa aku menginginkan hidayah itu menghinggapi dan bersemayam dengan kokoh di kalbuku ini! Sementara Haekal baru kembali dari teras dan aksi mondar-mandirnya. Garsini. aku percaya kini! “Sudah tuli. menghampiri Haekal. lima-enam…?” “Aku memenuhi janjiku kepada sahabatku. Cristal terpaksa melepaskan kesempatan untuk melukai hati Mayumi. Allah… Allah Sang Pengasih! Apakah itu hidayah. katanya tegas. Cepat-cepat ia stel habis gaya dengan segala percaya dirinya.Ampuni aku. memilih kembali ke sofanya di sudut ruang tamu. setelah secara berkala berdiskusi panjang-lebar mengenai keyakinan. ya? Kamu pikir. ya? Apa tidak malu masih keluyuran dengan perut buncitmu itu? Sudah berapa bulan.” ujar Mayumi datar tanpa mempedulikan semburan hinaannya. tetapi itulah yang pernah kupelajari. bukan pakarnya. Hidayah itu sesuatu nikmat. kepercayaan diri dengan Garsini… Mayumi ingin menjadi seorang yang istiqomah terhadap Tuhan sahabat baiknya itu.

Pasti sesuatu yang sangat mengguncang jiwa Cristal. Entah apa yang dikatakan oleh Haekal kepada Cristal. berlenggok menghampiri sudut Mayumi. Pacar si Garsini itu pasti sudah sinting! Mana mungkin Jay sudi menikahi gadis murahan ini. persis seperti janji Jay tempo hari. berdiri menantang di depan hidungnya. Mayumi bangkit kembali dan perlahan mengamati orang-orang itu. Jay berdua Paman Vijay. Cristal masih juga berlagak pilon. Dia tak pernah ingkar janji lagi. Mayumi mengamati semua gerak-gerik kedua makhluk itu dari sudutnya. Tentu saja berikut gaun seronok. Seketika ekor matanya menangkap dua sosok baru muncul di ambang pintu.” cetus Cristal begitu berdiri di depan hidung gadis Jepun itu. itulah mereka. Sebuah tragedikah? Namun. sangat apik dengan tuksedonya. jangan bilang kalau kamu masih mengharapkan Jay. My God. pekiknya hampir histeris. tapi Jay dengan kemeja… Muslimnya! *** 129 . Mayumi merasa jemu dan muak meladeni keangkuhannya. Dampaknya kentara sekali dari mimik dan gerak-gerik gadis Swedia itu.Kali ini Cristal sengaja menghadangnya. “Ugh. desisnya sebal. Ia memutuskan untuk bungkam seribu basa. beberapa meter dari mereka. berleher rendah dan berbelah panjang di kedua pinggir pahanya.

Etsuko-san… Mungkin ia pun sudah melakukan harakiri! ”Tentu saja. menanggung aib tak terampunkan. “Tentu saja. “Kamu mau menjadi istriku malam ini. Paman Vijay bisa memahami keputusanku. “Wa alaikumussalam…” sahut Haekal tertawa senang. Paman Vijay dan Haekal mengikutinya dari belakang. “Hei. ya kan Mayumi-san?” Mayumi tegak berdiri dengan perut lima bulannya.Bab 13 Haekal pun bergegas menyongsong kedua orang yang sejak tadi dinantikannya dengan harap-harap cemas. malam ini aku ingin memperistri Mayumi. sebab Jay telah menghampirinya dengan wajah bersinar-sinar. Menikahinya secara Islam seperti yang telah kujanjikan kepadamu tempo hari itu. Agaknya Jay berhasil meyakinkan pamannya. insya Allah. Setelah melewati malam-malam yang terasa sangat menakutkan dan sarat kebimbangan. dijabatnya tangan Paman Vijay.”Kamu sudah mantap. apa betul kalian akan menikah malam ini di…?” Mayumi tak menggubrisnya. tapi… aku ingin mengikuti jejakmu dulu. tanyakan sendiri kepadanya…” Mayumi yang diam-diam menguping percakapan mereka menghela napas dalam-dalam. “Assalamualaikum…” sapa Jay mendahului. Kemudian ia memeluk Jay erat-erat. kali ini mulai bisa mengembangkan seulas senyum lembutnya. Adakah ini sepotong mimpi dari seluruh impian dan harapan yang ingin disampirkannya ke bahu Jay Bachan? Cristal mencoba berusaha memahami apa yang tengah terjadi. bahkan mendatangkannya dari India untuk merestui keputusan penting dalam hidupnya. ya?” Jay mengangguk tegas. kepercayaan dirinya sudah kembali dan sangat kokoh! “Maksudmu…?” 130 . Seandainya tanpa dukungan ibunya dan majikannya. Bisakah?” Suaranya sama sekali tidak gugup. Hari-hari yang meresahkan di bawah sorot mata hinaan.

tak tahan lagi dengan segala sukacita dan kasih sayang yang melumuri wajah Mayumi. Artinya. Konon. Paman Vijay giliran menyampaikan restunya secara resmi. meskipun menurut Mayumi hal itu sama saja seperti menganyam awan alias muskil. “Kami sudah menerima keputusan Jay. Mereka ingin segera melihatmu.” Agaknya hal itu memang sudah dipertimbangkan masak-masak oleh Mayumi. Asalkan Akira mau melepaskan diri dari Yakuza. apakah aku bisa melakukannya?” “Insya Allah bisa. agama barumu yang telah membuat dirimu sangat berubah. Namun. di koridor lantai dua ia berpapasan dengan tiga wanita yang mengenakan kimono Jepang. Miss Indonesu…” 131 . “Haekalsan. maka Akira yang tak sudi diatur-atur. kalau bukan ayah mereka yang ingkar janji. Iya kan.” janji Haekal. banyak diberkati Tuhan…” kata-katanya terdengar amat indah di telinga Jay dan Haekal. Termasuk restu Akira yang sempat mendekam di balik terali besi. Etsuko?” “Haik… Anata wa kirei desune!” sahut Etsuko sambil tertawa riang dan menjawil pipi porselin itu. please… Biarlah Mayumi rembukan dulu dengan keluarganya. Semuanya sangat sukacita. Kemudian katanya pula kepada Haekal yang masih terperangah. Paman Vijay. Cristal mendengar percakapan mereka yang menurut perasaannya tak menggubris keberadaannya. Sang Menteri telah berjanji untuk selalu menjamin keuangan Akira dan adiknya sejak saat ini. *** Cristal bagai kambing congek. kamu cantik sekali dengan kimono dan kerudungmu itu. nanti akan diatur sesuai keinginanmu. Bahkan restu ibunya telah diperoleh jauh-jauh hari. Ia berlari kecil kembali ke kamarnya. “Ini pujian tulus. Nona Mayumi… Minggu depan bisakah kita pulang ke New Delhi?” Jay menengahi “Jangan terlalu memaksakan kehendak. “Sungguh. belakangan segera dikeluarkan oleh ayah kandungnya yang tak mau karier politiknya lebih hancur.“Bimbinglah aku ke dalam keyakinanmu. serasi sekali.

Kedua wanita Jepang itu terus jua bersendagurau. Kasihan juga dia. maafkan… jangan tersinggung dulu. Seandainya Mayuko tahu. bagaimana Cristal memperlakukan putrinya dengan segala sindiran tajam dan penghinaannya. Aku hanya ingin membantunya saja. Sedang Garsini menatap prihatin ke arah Cristal yang nyaris menabraknya. Kita kan bisa mencarikannya pasangan?” komentar Mayuko. “Kelihatannya dia tak dapat ajakan kencan malam tahun baru ini. Sudahlah. sebentar lagi. Lebih baik pikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. semuanya akan berakhir dalam kebahagiaan. tolong cubit aku! Apa aku bermimpi? Bayangkan.” Etsuko asal tebak. apakah koleksi pacar yang selalu dibanggakannya itu sudah habis? Tak sepotong pun tersisa yang sudi mengajaknya kencan malam ini? Ataukah mereka sudah mengetahui bagaimana gaya hidup liar gadis itu? “Ada apa dengan si pirang itu?” Mayuko ingin tahu. ini akan menjadi kejutan menyenangkan buat Mayumi…” Betapa ia telah berjuang meyakinkan kedua wanita itu untuk merestui pernikahan putrinya dengan Jay Bachan. “Kasihan sekali. sebentar lagi aku akan dipanggil Ibu Mertua…?!” seru ibu Mayumi. Tapi Cristal cepat-cepat berlari menghindarinya. agar tidak mengetahui keberadaan kedua wanita yang mengasihinya itu di kamarnya. “Niiih. “Kapan kalian meresmikan hubungan… dengan dokter Haekal itu?!” Garsini tak menjawab malah cepat mengalihkan percakapan. “Etsuko. Ia juga telah berusaha keras menahan Mayumi. rasakan cubitanku!” gemas Etsuko mencubit tangan sahabatnya. “Bagaimana kalau hubunganmu 132 . Coba sebelumnya dia datang ke ryokanmu. apalagi ketika Mayumi menambahkan. “Bukan begitu. “Memangnya ryokanku tempat apa?” sergah Etsuko. “Aduuuh…!” pekik Mayuko. pikir Garsini.” tegur Etsuko selang kemudian.Wajah Garsini memerah.” nada Mayuko terdengar tulus hingga sahabatnya turut merasa simpati. Etsuko. “Percayalah. “Kamu ini selalu memikirkan orang lain.

Lagi pula. Sebab bila pernikahan itu dilaksanakan saat ini. Air mata haru menitik membasahi pipi Mayuko. kuliahnya. kamu pernah dua kali mendadak jatuh sakit…?” “Jangan menakutinya. rindu rumah yang lazim dialami oleh para gakusei asing. Semuanya telah disiapkan oleh Paman Vijay dan istrinya yang asli Pakistan. seketika Garsini merasakan hatinya menggigil. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Bukankah tawaran menikah dari seorang pria yang baik adalah suatu kesempatan emas. naik pesawat terakhir ke Paris untuk berbulan madu. “Kamu sakit? Kata Mayumi. Ia merasa takut sekali. Mayumi sudah tampak sangat akrab dan bisa bermanja-manja kepadanya. kalaupun dia punya kelainan 133 . beasiswanya tentu akan dicabut… Kepalanya mendadak pening! “Ada apa denganmu. yang bila kita menolaknya Allah akan melaknat? Tapi bagaimana dengan masa depannya. Beberapa saat sebelumnya mereka pun menyaksikan mempelai wanita mengucapkan dua kalimah syahadat. Haekal pernah menawarkan pernikahan itu kepadanya. tangannya digenggam erat oleh Etsuko. Mereka akan langsung menuju bandara Narita. Garsini tak segera menyahut.dengan Matsua-san juga segera diresmikan seperti mereka? Bukankah pacaran itu dosa. seorang muslimah yang lembut dan anggun. Dalam tempo relatif singkat. “Itu penyakit biasa. Haekal berdiri tertegun-tegun di sebelah Cak Wahid. Nak?” tanya Mayuko menatapnya cemas. Kedua mempelai baru saja diantarkan menaiki limousin milik keluarga besar Paman Vijay. rasanya itu hal yang tak mungkin! Bagaimana kalau itu serius? Ugh.” kata Etsuko. ya Miss Indonesu…?” *** Dan pertanyaan itu diulang kali ini oleh Mayuko kepada Garsini. bila dirinya tak mampu menolak tawaran itu. pikir Garsini. tapi ia menganggapnya sebagai gurauan belaka. ketika mereka telah selesai menyaksikan akad nikah pasangan berbahagia di Islamic Centre. keduanya melambailambaikan tangan ke arah pengantin baru. tangan Garsini terasa gemetar dalam genggamannya.

kalian belum siap. Suatu kebiasaan Barat yang tak pernah digubrisnya seumur hidupnya. Etsuko!” sungut Mayuko menyesalinya. maksudku usia Garsini masih terlalu muda…” 134 . mempercakapkan masa depan gadis yang sudah mereka anggap sebagai putri sendiri. Garsini terdiam dalam kebingungan. keyakinan mereka. Tiba-tiba kedua ibu itu beradu argumen. Lagi pula dia tak sama dengan Mayumi… Maaf. “Naaah. “Kalau untuk menikah. kita sudah membuatnya tersinggung nih. Haekal baru bisa menghampiri kedua wanita yang masih kebingungan mengawasi tingkah Garsini. Begitu heboh. mau ke mana. bukankah usia Garsini masih delapan belas? Terlalu muda. kalian sebentar lagi juga akan meresmikan pertunangan barangkali?” “Tidak. eeh. Terutama tentang pernikahannya.pasti dokter Haekal cepat mengobatinya… Aha! Kukira. “Antara Garsini dengan putriku memang sangat berbeda watak. begitu kan. baik-buruknya bila tidak atau akan dilangsungkan dalam waktu dekat.” Mayuko tak tersinggung. Sayang?” bantah Mayuko. Garsini-san?” Ibu Mayumi ini. Haekal-san…” “Ya. Gadis itu tampak menyeberang jalan kemudian menyusuri jembatan layang yang sudah ramai oleh orang-orang. apakah kalian punya rencana menikah dalam waktu dekat ini? Kalau menurutku. Tapi sekarang ada yang mengikat keduanya yaitu simpul kasih. maksudku kasusnya berbeda!” “Aku paham. “Cepat. seakan-akan tengah membincangkan nasib seseorang yang sama sekali tak memiliki hak bicara dan privasi lagi… “Hei. “Tapi kamu yang memulai!” Etsuko tak mau disalahkan. katakan kepada kami. Sayang? Aaah. Mereka hendak merayakan malam tahun baru dan Garsini baru menyadari hal itu kembali. ukhuwah Islamiyah. Etsuko… Tidak akan ada pertunangan sebab hal itu tak lazim dalam Islam. kebetulan sekali kamu datang!” sambut Mayuko girang. kadang resmi-resmian. Begitu kan. kadang begitu hangat kekeluargaan. apa namanya? Ehem. Bayangan Cak Wahid telah lenyap dalam sebuah taksi. Kedua wanita itu terpana memandangi bayangan Garsini yang secepat kilat menjauhi mereka.

kelihatannya Garsini butuh pertolongan.“Tidak apa-apa. Analisa Algoritma. jangan pernah menyeraaah!” Pada kenyataannya. hari demi hari. musim gugur. bertepuk tangan-ria sambil mengikik geli. Mayuko dan Etsuko seketika menyemangatinya. maaf… 135 . Logika Matematika. Praktikum… Rekayasa Perangkat Lunak. Akhirnya empat tahun pun berlalu sudah. Artificial Intelligence. Sehingga Garsini bisa menarik napas lega dan tanpa beban lagi. Haekal tak berani menawarkan pernikahan itu secara serius saat itu.” ujar Haekal bak bisa memaklumi kesulitan gadis itu dari kejauhan. semuanya berujung pada teknologi inovatif… Semuanya berseliweran dari menit ke menit. Ia pun mau memaafkan segala kehilafan. Sementara matanya menangkap sosok dalam kimono Jepang tengah berusaha keras membebaskan diri dari kehiruk-pikukan massa. ayooo. Organisasi Komputer. Database System. Musim semi. musim dingin dan begitu selanjutnya silih berganti. dokter! Jangan hiraukan dia! Garsini dengan putriku itu sebaya. 23 Maafkan saya. Algoritma dan Pemrograman. Tawaran itu baru diulurkan kepadanya tiga tahun kemudian. Kurasa Garsini sama saja sudah siap bila kamu ajak menikah…?” Haekal geleng-geleng kepala melihat perdebatan yang seolah takkan usai dalam waktu singkat itu. bersamaan dengan secarik ijazah dan gelar sarjana teknik informatika dalam genggamannya. Seperti mendapat mainan baru. kecemburuan membuta dan kecurigaan tak beralasan Haekal. Haekal-saaan!” “Ayooo. “Kamu haruuuus. “Sumimasen ga23… Saya permisi dulu. musim panas. Struktur Data. *** Semester demi semester terus berpacu dalam jadwal perkuliahan kian padat dan tugas-tugas yang semakin ketat. minggu demi minggu. secara sungguh-sungguh bahkan terdengar seperti mendesak dan menyudutkannya. haruuus mampu mendapatkannya. hanya beda beberapa bulan.

musim semi yang lembut dan Garsini baru menuruni tangga menuju ruang tamu. Ia merasa kini dirinya dalam suatu persimpangan jalan. ternyata tak memberinya kepuasan seperti yang diperkirakannya dulu. Kali ini ia seorang diri. bahkan ada yang belum kuncup sama sekali. Sekarang Haliza telah menjadi seorang dokter. Dulu ia masih tergagapgagap dalam kecanggihan dan fasilitas super modern yang dimiliki Negeri 136 . Konon. sebagian masih segar. seiring dengan berlalunya waktu. gadis Muslimah itu pun mampu menjalani hari-harinya dengan istiqomah. Rasa bangga akan keberhasilan yang telah diraihnya. Perancis? Ataukan kembali ke Indonesia. “Suatu saat. mungkin aku akan kembali ke bangku kuliah.” tekad Haliza sebelum berpisah. Siang itu. langit bening dan bersih. Tapi kalau tak ada juga. Haliza telah mendahuluinya pulang ke Malaysia beberapa pekan yang lalu. Adakah ia akan menerima tawaran beasiswa yang diupayakan Profesor del Pierro di Universitas Sorbone. ambil spesialisasi bedah jantung di Amerika. Garsini menyadari hal itu. Di matanya mirip kapas-kapas yang berarak lembut. Namun. Ia akan melakukan semacam menapak tilas untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan sikap. hubungannya dengan Rashid tak berlangsung seperti harapannya. menerima khitbah Haekal yang ditawarkan kepadanya tadi malam? Asramanya tampak telah lengang ditinggalkan para penghuni. Rasanya seperti saat ini.Ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya. di langit tampak awan putih. ia bertekad mengabdikan ilmunya demi kesejahteraan umat dan rakyat jelata di lingkungannya. menjadi seorang istri dan ibu. menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Nuansanya tentu saja sudah sangat berbeda. Bunga-bunga Sakura berguguran berserak di pekarangan. barulah aku akan berubah pikiran. sebuah klinik kecil telah menantinya di Selangor. bila ada pria yang baik dan saleh meminangku. Haliza sempat frustasi mengetahui Rashid akhirnya memilih menyerah. Sayang sekali. Garsini teringat lagi akan keberduaan mereka di musim semi sekitar empat tahun yang silam.

Berbagai penghargaan yang telah diperolehnya dalam usia yang sangat belia. Di kalangan almamaternya. Hingga ia bisa mengirimkan berbagai bingkisan untuk kedua adiknya dan ibunya di Depok. Garsini memperoleh ribuan yen dari penjualan VCD ensiklopedia uniknya itu. pengaguman dan respek tinggi dari para guru besarnya. Hingga ia memperoleh berbagai limpahan kemudahan. Hingga digelari Einsten-girl oleh para senior. Ia juga sukses menjalin komunikasi yang sangat luwes di kalangan dosen dan staf pengajar. Ia berhasil mengembangkannya. Ucok tak berhasil meyakinkannya. mungkin pula telah menyatu dalam derap kecanggihan dan teknologi super modern bangsa Jepang. Garsini banyak disebut-sebut sebagai cendekia muda brilian. persis seperti dulu! Aneh sekali punya ayah seperti Papa. Untuk menyayangi. kadang melambungkan dirinya ke awang-awang… Seakan-akan tak ada satu pun yang tak mampu diraihnya! Garsini berhasil sebagai mahasiswa cemerlang. sukses pula dalam beberapa klub elite masyarakat cendekia dunia yang dimasukinya. Adalah berkat program inovatifnya yang sesungguhnya teknik dasarnya diwariskan dari mendiang profesor Nakajima. Oleh-olehnya sama sekali tak mendapat perhatian dari lelaki itu ketika ia pulang dua tahun yang lalu. disegani kakak kelas dan dikagumi adik kelas. pikir Garsini.Sakura. Garsini tak berani lagi mengirimkan sesuatu untuk ayahnya. hingga menjadi “ensiklopedi perbandingan budaya bangsa Asia” karya Garsini Siregar. yang telah memberinya pekerjaan paruh waktu dengan imbalan sangat menggiurkan. Kini ia merasa sudah sangat terbiasa. *** 137 . Namanya populer di berbagai kalangan dan lapisan masyarakat Jepang. memperlihatkan perasaan suka saja kok mesti dengan caranya sendiri. Bermula dari rekomendasi Profesor Charles del Pierro. sesungguhnya Papa sangat menyukai bingkisannya berupa eksiklopedia itu… hanya dengan caranya sendiri. sesuatu yang justru tak dipahami dan disukai oleh orang yang disayanginya.

hingga mereka begitu terperangkap oleh kecanduannya bekerja. 138 . Prof. di mana-mana lengang dan senyap! “Apalagi yang kamu pikirkan. rupanya telah menduga maksud kedatangannya untuk mengucapkan sayonara. Matanya cepat mencari-cari sesuatu yang bisa disetel di tape-deck. Suasana kampus pun lengang. dosen pembimbing yang mengantarkan garsini meraih predikat summa cum laude. bukan? Gelar sarjana. jangan mendesak. aku akan mentraktirmu. Garsini duduk di sebelahnya dengan perasaan aneh. tawaran kerja sambil melanjutkan program S2 dari Universitas Sorbone… Atau kamu memilih menerima pinangan dokter Haekal dan pulang ke Indonesia?" “Ah. katanya. Garsini tak pernah memahami gaya hidup wanita cantik ini. karena sebagian besar mahasiswa dan dosen sudah mengambil kesempatan untuk menikmati liburannya tiga hari yang lalu. ia pernah melintasi jalan ini dengan taksi bersama Mayumi. Empat tahun yang silam. “Ah…” Garsini menghela napas dalam-dalam. Kalau boleh sehari itu lebih dari 24 jam. Ya. Ia menerima gadis itu dengan hangat di ruang kerjanya. sementara sepasang matanya menerawang ke luar jendela kaca di sebelahnya. Ia termasuk orang Jepang yang work-cholik. Garsini geleng-geleng kepala. “Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan.” elak Garsini. bahwa ia selalu merasa kekurangan waktu untuk bekerja. mengikuti saran Garsini untuk sedikit bersantai. jangan tolak lagi ya!” akhirnya ia mengalah.Profesor Yamanaka. Ia mengunci ruang kerjanya dengan sikap yang merasa sayang sekali untuk meninggalkannya. “Baiklah. melakukan sesuatu? Mereka naik sedan bagus yang dikendarai oleh sang Profesor. agar mengusir rasa sepi dan lengang yang terasa aneh merayapi sisi-sisi kalbunya. Kala itu pun mereka melewati jalan-jalan di kampus yang senyap. Yamanaka acapkali mengeluh kepadanya. Garsini-san?” tanya sang Profesor melirik Garsini yang terdiam. Apa yang dikejar oleh semua orang Jepang.

nah… ini siaran lokal.” “Baiklah. adat kebiasaan suatu bangsa… Ups! “Nama penyanyinya sama dengan nama sahabatmu yang diboyong ke Hindustan itu.” “Sejak saat ini jangan panggil aku demikian. ya? Jangan harap. Hingga ia tak pernah mengetahui apa makna liriknya. tak ada apa-apa di sini…” Yamanaka tertawa kecil. “Arigato gozaimasu… Ternyata Anda cukup perhatian. Tak ada yang berbicara lagi. Sesungguhnya itu bukan lagu favoritnya. budaya. apa ini? Ada mail-boks. menyangkut kulturat. kesenian. seolah bisa menebak pikiran gadis itu.“Mencari kaset dan VCD. “Begitu lengkapnya! Apa Anda selalu membawa serta peralatan kerja ke manamana? Lihatlah. Hanya karena beberapa kali Garsini dipergoki Yamanaka sedang menyetel lagu-lagu Mayumi Itsuwa. laptop. Saat Yamanaka iseng mempertanyakannya. Itu rupanya yang membuatnya menyimpulkan demikian. 139 . microwave ke sini?” Profesor Yamanaka tergelak melihat Garsini langsung merengut. Sebab ia pun tak pernah punya waktu untuk memahami hal-hal sepele seperti itu. ketika mereka sedang berada di laboratorium. fax. pesawat televisi mungil… Kenapa nggak sekalian saja mengangkut kulkas. Jadi.” Garsini menoleh dan tersenyum kembali. mungkin Ibu. Prof.” tegurnya. Bibi. ya kan?” usik Yamanaka. “Lho? Tapi saya harus panggil apa?” “Entahlah. bahkan ia sama sekali tak pernah menyimaknya dengan seksama. Amayadori. asal jangan yang berbau hirarki akademislah. Kakak. “Oya?” Mata Garsini cepat menyusuri semua kekayaan di hadapannya. apa saja yang menurutmu tidak sepele? Lagu itu kan bahasa. “Masih ada radio. Ibu Yamanaka…” “Hei. bukankah ini lagu favoritmu?” Sedan melaju tenang keluar dari kawasan kampus. Garsini sambil lalu menjawab bahwa nama penyanyinya sama dengan sahabatnya. Garsini menyimak lagu pop dari penyanyi Mayumi Itsuwa.

“Tidak ada!” Mayumi tertawa geli. suatu saat pasti akan bertemu kembali. “Setelah ini. Wajahnya begitu berseri-seri dan ia tengah mengandung buah cinta kasihnya dengan Jay. ya…” Garsini tertawa kecil mengingat pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu. “Bagaimana dengan penyakit…?” tanyanya hati-hati. Mereka berpisah sambil tertawa riang seolah sepakat. aku masih ingin melahirkan enam anak lagi!” katanya tanpa tedemng aling-aling membuat Garsini terlongong. Mayumi mampir ke asramanya membawa serta dua jagoan ciliknya yang ganteng-ganteng dan sehat.” komentar Yamanaka ketika mereka menikmati makan siang di sebuah rumah makan mewah di kawasan Ginza. mereka bisa hidup berbahagia.Agaknya Yamanaka merasa terpikat. Yamanaka menawarinya kesempatan untuk menjadi asistennya.” Mutiara kehidupan bertemperasan dari sepasang matanya. ia terus memancingnya tentang Mayumi. berjanji merekomendasikannya untuk mendapatkan beasiswa lagi. “Bagaimana kabarnya dia sekarang?” “Oh. “Penyakitnya ternyata tidak berat. Mereka sedang berada di Jepang. “Jadi. *** 140 . Tanpa sadar Garsini pun menceritakan sekilas perihal love-story sahabatnya.

Sepak terjangnya yang gagah berani. sebab mereka pasangan lesbian!” tuding mereka telak. Keluwesannya pun telah mengantarkan Garsini untuk menjadi anggota. wanita itu sangat menyayangimu. Annisa di klub elite bentukan Profesor Charles del Pierro. Sangat tidak menguntungkan keberadaan komunitas mereka. Islam diidentikkan dengan teroris. kamu juga memiliki komunitas kajian Islam di Sendai.” puji seniornya. “Tentu saja mereka dekat. Tapi Garsini sudah kebal dengan hantaman gosip. Betapa ia sering membangga-banggakan dirinya di depan para mahasiswa. memiliki perpaduan yang sangat langka. menghujat sejumlah kebijaksanaan Amerika yang dinilai sangat 141 . penasaran sekali. Itu ada benarnya. Masih dalam kebimbangan. “Kamu ini sosok istimewa. kemudian menyebarkan gosip murahan. “Ah…” Garsini mulai lelah dan jemu dengan kebimbangan yang membelenggu dirinya. Garsini-san! Garsini takkan melupakan kebaikan hati Profesor Yamanaka. Bahkan kudengar belakangan ini kamu dikandidatkan untuk menggantikan Ayyesha?” cecar Annisa suatu kali. Apalagi sejak peristiwa runtuhnya gedung WTC di New York. Bahkan sejak ia semester satu di Universitas Indonesia dulu. gerakan unjuk rasanya yang menggebu-gebu. budaya dan spiritual. bahkan kemudian mendapat kesempatan mengetuai beberapa komunitas sosial. Ada beberapa orang yang merasa iri. “Apa sih kiatmu hingga kamu bisa bergaul dengan baik di berbagai kalangan masyarakat Jepang? Aku tahu. Garsini melanjutkan upaya menapak tilasnya. Meskipun belakangan kedekatannya dengan sang Profesor malah menimbulkan kabar burung tak mengenakkan. gosip murahan seperti itu telah sering menghantam dirinya. Hingga acapkali Garsini merasa risih dibuatnya. Ayyesha dinilai lebih banyak melakukan manuvermanuver politisnya daripada syiar dakwahnya.Bab 14 Jelas sekali.

” hibur Haliza tersendat-sendat menahan tangis kepedihannya sendiri. Beberapa lama keduanya menangis sambil berpelukan erat. terlihat sosok imut-imut berjilbab hitam… Kagume! Air mata Garsini tumpah ruah menyaksikan bagaimana para petugas dengan tak berperasaan. ingatlah selalu akan takdir-Nya. menyeret Sang Ketua yang gagah berani itu dan terus jua meneriakkan yel-yel anti Amerikanya… Melemparkan sosok imut-imut yang tampak ringkih dan pucat pasi itu ke atas truk! “Damn’it!” jerit geram Haliza terlonjak dari tataminya. sumpah serapahmu itu. itulah untuk pertama kalinya ia mendengar Haliza bersumpah serapah.merugikan perjuangan bangsa Palestina. Sungguh keji. berdemo-ria. Haliza yang baru tersadar pun segera mengucap istigfar berulang kali. Hanya itulah yang mampu mereka lakukan sepanjang malam takbiran. Dirinyalah yang telah menjadi pemicu pengenalan Kagume 142 . biadaaab. akhirnya pemerintah Jepang yang selalu membanggakan kenetralannya. dajaaal!” “Aduuh. terlalu mendukung Israel dengan segala arogansi adidayanya… Sungguh. Garsini. *** Pada malam takbir yang lalu. Haliza. Karena mendapat tekanan dari pihak Amerika. duduk di samping Garsini ikut menonton siaran langsung. sering membuat bulu kuduk Garsini meremang hebat bahna pengagumannya! Ayyesha hampir tiap saat memprovokasi massa dan jamaahnya agar turun ke jalan.” keluh Garsini pedih dan tersentak kaget. dalam tayangan siaran langsung di layar kaca. Seingatnya. lebaran keempat di Negeri Sakura bagi Garsini. terpaksa menindak gerakan bawah tanah itu. “Mereka memperlakukan rekan-rekanmu itu tak ubahnya seperti para kriminal saja. Di antara massa itu. tampaklah Ayyesha sedang meneriakkan yel-yel anti Amerika di Okinawa. dekat pangkalan militer Amerika. Hal itu tak urung membuat pemerintah Jepang merasa gerah. itu bukan salahmu. “Tidak. Jangan terlalu terpengaruh. Hingga beberapa waktu lamanya Garsini hampir tak bisa memaafkan dirinya sendiri.

dengan iman Islamnya dan makna ukhuwah Islamiyah. Dia pulalah yang tahun silam didatangi oleh Kagume, agar mendampinginya saat mengucapkan dua kalimah syahadat di Islamic Centre. Ketika Garsini merasa terlalu sibuk dengan urusannya, terpaksa dengan menyesal tak bisa selalu mendampingi Kagume… tahu-tahu remaja itu telah bergabung dengan komunitas Ayyesha di Sendai! “Biarkan aku di sini,” ujar Kagume baru terdengar tegas. Wajahnya yang belia tampak dilumuri pendar-pendar kehidupan, sesuatu yang tak mungkin dimiliki oleh remaja awam. Apa yang telah dijanjikan oleh Ayyesha kepadanya, pikir Garsini. Nikmat Ilahiyah dan sorgakah? Sosok bingung, ragu-ragu dan manja yang dikenalnya di kota kecil Hiroshima tiga tahun silam, telah sirna entah ke mana. “Aku mau ikut berjihad bersama rekan-rekan demi kemerdekaan bangsa Palestina,” kata Kagume yang mengaku kini sangat mengidolakan Ayyesha. “Tapi Kagume, di sini akan sangat riskan bagi remaja belia seperti dirimu…” Garsini sungguh tak berani mengatakan “berbahaya”. Di bawah tatapan mata rasa ingin tahu para akhwat jamaah Ayesha, mana mungkin ia berani menentang kebijaksanaan Sang Ketua Ayyesha? Kagume pasti tak paham hal itu. Yang Kagume inginkan hanyalah menjadi seorang Muslimah yang istiqomah. Betapa sederhana cita-cita Kagume, tapi pada kenyataannya tak ada yang sesederhana seperti harapan dan keinginannya. Garsini merasa sangat tak berdaya dan semakin menyesali dirinya, tatkala ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan Ayyesha, Kagume dan beberapa jamaah lainnya dari balik terali besi. Lagi pula, memangnya siapa dirinya? Hanya seorang mahasiswa asing di Negeri Sakura. Sungguh, ia tak memiliki wewenang apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan berdoa panjang di atas hamparan sajadahnya. Bahkan ketika rekan-rekan di komunitas Sendai mendaulatnya untuk gantikan posisi Ayyesha sementara waktu, ia memutuskan untuk menolaknya.

143

“Tidak, maafkan… itu bukan wewenangku. Hanya pantas untuk seorang Ayyesha,” dalihnya menahan pedih di bawah tatapan kecewa dan harapan sirna atas dirinya. Sejak itulah, Garsini menjaga jarak dengan komunitas Sendai. Rasanya sangat menyakitkan menyadari ketakberdayaan dirinya, kebimbangan dan kepengecutan… Pecundang, julukannya yang paling pas saat itu! Sebuah julukan yang selama hidupnya selalu ingin dihindarinya. ***

Beberapa pekan kemudian, dari pemberitaan koran-koran lokal, Garsini mengetahui pembebasan mereka. Dikabarkan setelah melalui nego-nego yang alot, menurunkan para diplomat dari sejumlah negara, barulah mereka bisa dibebaskan. Ada syarat yang mesti ditanda-tangani hitam di atas putih. Bahwa mereka tidak akan melakukan hal serupa, ditambah harus melapor sampai waktu tertentu… tak boleh bepergian ke luar kota, apalagi mancanegara! Ah, itukah pengaruh negara adidaya terhadap dunia internasional? Sejak menjauhi komunitas Sendai, Garsini kemudian akrab dengan

Annisa. Meskipun agak menyesalinya, mengapa Annisa baru terbuka terhadap dirinya belakangan itu. Ada yang berubah pada diri Annisa. Ia mulai memperlihatkan secara terang-terangan tentang identitas dirinya. Aneh sekali, pikir Garsini. Begitu berhati-hati Annisa tentang jatidiri kemuslimahannya selama ini. Betapa kaget Garsini mengetahui bagaimana Annisa sesungguhnya. Ternyata Annisa pernah mengenyam pendidikan pesantren. Baik di ujung, bukankah namanya khusnul khotimah? Mungkin itulah yang tepat bagi Annisa. Sejak kedekatannya dengan Garsini, perubahan itu secara bertahap terus diperlihatkan Annisa. Hijrahnya justru dilakukan pada saat banyak orang ketakutan oleh hal berbau Islam. Apapun itu, Garsini merasa sangat beruntung bisa memiliki sahabat seunik Annisa. Dari kedekatan singkat itu pun Garsini bisa menarik banyak pelajaran. Annisa mengajarinya tilawah yang benar, memperbaiki bacaan Al-Qurannya, memperkuat keimanan dan ketakwaannya.

144

Saat inilah Garsini baru menyadari satu hal. Agaknya hanya sosialisasi, kehebatan berorganisasi belaka yang diperolehnya dari komunitas Ayyesha. Lantas, bagaimana kabarnya Kagume? Terakhir mereka bertemu, kelihatannya Kagume baik-baik saja. Tetap nyaman dan merasa cocok sekali setelah bergabung dengan Islamic Centre. Kagume bahkan punya kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya, mendapat dana pendidikan dari Arab Saudi. “Hei… Kamu belum jawab pertanyaanku, Ukhti,” tegur Annisa. Garsini malah jadi bingung untuk menjawabnya secara serius. Maka, ia memutuskan untuk menjawab ringan tanpa nada bangga berlebihan, “Ah, itu kan hanya karena namaku yang terdengar pas di telinga orang Jepang. Garusiniiii, hihihi…” Annisa menjentik bangir hidungnya dan tertawa gemas. “Dasar… tukang ngocol kamu!” Perpisahan itu di balkon klub diskusi bentukan Profesor Charles del Pierro yang mungkin sudah terlupakan oleh pemakarsanya. Buktinya, guru besar itu sudah lama tak menjenguknya apalagi mencari tahu, apakah kuicuran dananya sampai dengan selamat untuk melanjutkan proyeknya ini? Ia telah menyerahkan pengembangannya kepada para murid kepercayaannya, seperti Annisa. Bila Annisa telah selesai urusannya di sini, lantas siapa pula yang bakal melanjutkannya? Tuan Congkak Andrew, Bu Lantang Akiko, Nona Cerewet Mandu, Miss Vietnam Lien Ang yang selalu tertawa keras itu… Aduh, Garsini merasa sayang sekali kalau penggantinya kelak bukan orang Asia! Ah, aah, kenapa mesti kupikirkan, itu bukan masalahku, jerit Garsini kesal dengan pemikirannya sendiri. Annisa pasti sudah menyiapkan kaderisasi yang baik. Meskipun harapannya tak bisa terkabulkan melalui dirinya. “Jangan lupa balas setiap mailku, ya Dik,” pinta Annisa serius. “Insya Allah, Mbak.” “Aku ingin tahu bagaimana perkembangan politik negeri kita dalam lima tahun terakhir. Kemungkinan besar aku masih akan tingal di sini dalam limaenam tahun mendatang,” cetusnya terdengar datar. Kali ini Garsini setengah memekik kaget. “Masya Allah, selama itukah?!”

145

“Romo dan Ibu sudah meninggal. Mbak!” desak Garsini.” elaknya seperti biasa. Adakah konflik. kakang-kakangmasku tak ada lagi di sana. mungkin trauma masa lalu… entahlah! 146 . seorang bangsawan trah Keraton Ngayogyakarta. Garsini telah mendengar cerita masa silamnya. jangan desak Mbak terus. membawahi suatu tim untuk mengembangkan program-program kemanusiaan di fakultasnya. Empat adik perempuan sudah melangkahiku. ditambah… kerudung gaul! “Jangan pandangi Mbak begitu. ia menangkap kepedihan dan luka di bening mata gadis ayu itu. Annisa terlahir sebagai anak penengah dari sembilan bersaudara. Dik. kalau begitu jawablah. tanpa polesan wajah sedikit pun. Berapa usianya sekarang? Annisa merahasiakannya. Ibunya garwo ampil. celana jeans alakadarnya.Garsini menatap keheranan wajah ayu di hadapannya. intrik atau konspirasi seperti dalam keluarga kerajaan di film-film Mandarin yang pernah ditontonnya? Kini siapa yang pernah mengira anak yang tersisihkan. mendapat kedudukan terhormat di Universitas Tokyo? Belum lama Annisa mendapat kontrak kerja sebagai guru besar tetap.” katanya agak tersendat. “Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan sama Mbak…” “Nah. Biasanya ia tak peduli dengan penampilannya. tapi Garsini menaksirnya sudah kepala tiga. Garsini tahu Annisa penganut feminisme.” Annisa melengos. “Sudahlah. Sampai kapankah dia ingin menghabiskan usianya di negeri orang? Dan untuk apa semuanya itu dilakukannya? Di awal pertemuan mereka. sering dilecehkan bahkan oleh saudara-saudaranya seayah itu. Inilah kesempatan terakhir mereka untuk saling terbuka. tapi bukan itu masalahnya. Garsini tak keliru. belakanagan Annisa mengenakan kulot dengan blazer cantik dan sedikit riasan wajah. Sedetik ia menyesal telah memaksanya untuk menyingkap luka lama. “Kenapa Mbak memutuskan untuk bertahan selama lima-enam tahun lagi di sini? Apa Mbak nggak kangen keluarga di Solo?” cecar Garsini tak peduli. Namun.

cepat-cepat menjauhi gadis Solo itu. semoga saja ada lowongan pekerjaan untukku di sana…” “Pokoknya selalu berjuang. harapan bangsanya yang sedang carut-marut. Ia takut dirinya tak sanggup melepaskan lagi rangkulan hangat di bahu-bahunya. ya Mbak?” Annisa menghapus air mata yang menggantung di sudut-sudut matanya. ide. sosok tinggi ramping. hingga lenyap di ujung gang menuju gedung lain. tapi tenggorokannya mendadak tersekat. kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Mbak Annisa adalah Kartini masa kini. Saat memeluknya hampir loncat air mata Garsini. “Baiklah… Semoga sukses di negerimu yang selalu kamu banggakan dan kami cintai itu. hidup kesepian di negeri orang. jeritnya dalam hati. Berapa banyak lagikah perenungan. diguncang amuk prahara. Betapapun. “Kudoakan juga Mbak sukses sebagai guru besar di sini… tapi jangan terlalu lama melanglang buananya. ya Mbak?” Betapa banyak yang ingin disampaikannya. puluhan kepala 147 . “Sudah. Setiap perpisahan selalu menaburkan keharuan mendalam di dadanya. Ia tak bisa membayangkan. Kartini itu dibelenggu keraguan untuk pulang ke negerinya. Kemudian kakinya melangkah tegas-tegas menyusuri koridor. bagaimana sosok Annisa pada lima-enam tahun mendatang. Apakah masih tetap melajang. filosofi dan buah pemikiran para cendekia dunia yang bakal ditemuinya nun di sana? Mbak Annisa. Beberapa saat lamanya Garsini masih memandangi gedung tua di sudut kampusnya itu. Akhirnya. Lupakan pertanyaanku… dan maafkan kelancanganku. Mbak. Sayang sekali. Ya Robb. tempatnya kelak berkiprah dalam bidangnya. stelan apik dan kerudung gaul itu membalikkan tubuhnya. jangan dipikirkan lagi. pemikiran dan perenungan dari belasan. ya Dik?” “Yah. aduuuh… Tunjukkanlah jalan lurus untuk gadis ini. okey?” kata Annisa menyemangati. Sebuah bangunan baru yang kelak akan menggantikan gedung tua. Sampai kemudian Garsini merenggangkan dirinya. Beberapa saat keduanya masih saling berpelukan erat.Digenggamnya jari-jemari Annisa. di tempat inilah dirinya pernah mengenal berbagai gagasan.

Ia telah menerima tawaran kerja paruh waktu. Nah. “Tapi Prof. Kamu akan mendapatkan banyak pengetahuan di sana. membuat paras Garsini memerah dadu. saya tak kenal siapa pun di sana…” “Kamu juga tak kenal aku waktu malam-malam datang ke sini. “Datanglah ke klub. terutama karena sikap Profesor sangat kebapakan dan bijak.” sindirnya sambil tertawa gelak. Ada beberapa kali Profesor membawa serta Marie Jane. bergaya hidup 148 . *** Bermula dari saran Profesor del Pierro yang menilainya sangat berpotensi dalam bidang studi perbandingan budaya antarbangsa.” kata Profesor del Pierro.antarbangsa. Selama menjadi asistennya. Di sinilah proses pendewasaan intelektualnya berkembang leluasa. kaitannya dengan materi untuk program yang ingin kamu ciptakan. seorang wanita cantik. Hubungannya dengan pria paro baya warganegara Perancis itu hanyalah sebatas bawahan dengan atasan. Senantiasa riuh oleh diskusi-diskusi dan debat-debat seru. Itu akan sangat bermanfaat untukmu. Garsini merasa nyaman-nyaman saja. betapa kokohnya gedung tua ini hingga tak goyah setapak pun oleh suara-suara lantang. manakala Profesor Charles harus berkeliling Jepang. pekik geram. Marie Jane. kalau perlu mendebatnya habishabisan untuk kemudian menyodorkan. menyimak. Itu terjadi sepulangnya berlibur musim semi semester dua. selalu ada beberapa asisten lainnya. Kadang Garsini merasa heran. gebrakan kepalan tangan dan tinju di meja dari para angotanya… Bahkan oleh guncangan gempa. Klub elit paramuda cendekia antarbangsa ini sungguh mengasyikkan. disimbahi makna demokrasi yang dijunjung tinggi. teriakan kesal. istrinya yang perancang busana terkenal. entah tak terbilang lagi. mereka tak pernah berada dalam satu ruangan berduaan. Di sini ia bisa mendengar. bahkan memaksakan buah pemikiran dan gagasannya sendiri. ini kartu anggota kehormatan untukmu. membuatkan program ensiklopedia ala Garsini Siregar.

lain kali kalau istriku mengadakan pagelaran busana di Tokyo. sampai lebih dari selusin kali Marie Jane mengadakan pagelaran karya-karyanya dalam tiga tahun terakhir di pelosok Jepang. Banyak tugas yang harus saya kerjakan. Garsini merasakan tubhnya sesaat bagai mengejang.” bisiknya pula di telinga Garsini. dirinya tak pernah merasa nyaman dengan gaya hidup hura-hura yang disemburatkan oleh aura Marie Jane.sebagaimana galibnya kaum selebritis. ia bisa bersikap ramah dan tulus terhadap Garsini. ya Nak. sudahlah. menghadiri pagelaran adibusana istri tercinta. “Oh. memuji-muji kamu. Garsini jengah dan menunduk tersipu-sipu. Karena ayahnya sering membicarakanmu. Prof. memandang wajah Garsini sekilas. Namun. Sayang sekali. kamu harus melihat pagelaran karyaku. Garsini?” tanyanya pula menatap sekilas kepada gadis itu. kamu tidak bisa ikut kami malam ini. karena kesibukannya dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan selama liburan. Pernah suami-istri itu membawa serta Charlotte.” Marie Jane menghibur Garsini dan menyesali sikap putrinya yang cepat lenyap di balik pintu suite-room. jadi ini Garsini Siregar yang terkenal itu?” kata gadis itu bersikap dingin. “Ya. tanyakan kepadanya busana apa yang dikenakannya itu?” cetusnya pula sambil lalu. Sayang?” katanya pula sambil menggandeng mesra istrinya. iya kan. Garsini tak bisa menemaninya ajakan wisatanya ketika itu. hingga Garsini merasa trenyuh. Garsini tak pernah punya kesempatan melihatnya. Mungkin juga dia merasa iri kepadamu. dia anak bungsu. menyesal sekali. “Itulah akibatnya kalau kita terlalu memanjakannya. “Mooom. Namun.” tukas Profesor yang telah siap bepergian. “Maklumlah. tak ada alasan! Kamu harus melihatnya. putri bungsu mereka yang sebaya dengan Garsini. Selalu ada seribu dalih yang pada akhirnya Garsini menyimpulkan. “Maafkan. Nak. Sungguhkah gadis seapatis dan sesinis itu terlahir dari sepasang suami-istri yang baik hati? “Maafkan dia. “Ya.” kata Garsini menyesal.” Marie Jane terdengar memohon dengan tulus. “Betul. 149 .

“Profesor sangat memuji talentamu.” ujarnya segera berpetatah-petitih. “Ya.” balas Garsini memujinya tulus. Dik. begitulah kira-kira… Kamu ini gadis yang sangat mandiri dan dikaruniai Tuhanmu banyak talenta. mengingatkannya akan penampilan dirinya semasa di SMU. Sebuah penampilan yang cukup nyentrik. kini bukan hanya terheranheran melainkan juga sorot pengaguman dan penghormatan. 150 . Profesor memang suka begitu kan? Nama Mbak Annisa juga sering disebut-sebut. ayah Gilang. Mereka menyusuri koridor untuk mencapai ruangan yang juga suka disebut sebagai “markas para turunan Aristoteles”. pikirnya. “Terima kasih. Ini musim panas. Tatapan Annisa agak keheranan melihat penampilannya yang serba tertutup.” sambutnya ramah dan hangat. kaos lengan pendek dan sleyer yang disampirkan seenaknya di bahunya. seniornya di Universitas Indonesia dulu.” Garsini menegaskan. Mari. Garsini. *** Di balkon inilah tiga tahun yang silam.” gumamnya geleng-geleng kepala. Dik!” “Ah. “Baru delapan belas. Itu anugerah terindah yang tak mungkin diberikan kepada semua orang. Mengingatkannya kepada Profesor Kosasih. bagaimana mungkin anak ini bisa tahan dalam busana Muslimahnya itu. “Waah. ya Prof?” Garsini akhirnya mengangap ayah dari dua orang anak yang telah dewasa itu sebagai sesepuhnya.” sahutnya pendek. “Luar biasa!” decak Annisa memandanginya. “Pantaslah Profesor memujimu. Apalagi kala mengetahui Garsini adalah mahasiswa teknik informatika.“Jadi harus nekad saja. Annisa mengenakan celana jeans belel. ya?” komentarnya saat membaca curiculum vitae yang diserahkan Garsini. kamu masih sangat belia… belum dua puluh umurmu. Garsini berpapasan dengan Annisa yang membawa tumpukan buku tebal-tebal di tangannya. silakan ikuti saya. “Saya sudah dengar dari Profesor Charles.

Anehnya. “Kamu pasti membelanya!” cetus Andrew di telinga Garsini terdengar sinis dan arogan sekali. “Yeah… cantik wajahnya. di sana komputer belum ada?” “Kamu salah menafsirkan. dia cantik dan unik sekali kan?” kata Akiko. segera disambut derai tawa selusin kepala yang saat itu hadir. “Kenapa Profesor kita merekomendasikanmu.Awalnya pandangan rekan-rekannya atas keberadaan Garsini tak ubahnya sebagai “gangguan teknis” belaka. Nah. Apa sih yang membuatnya tertawa macam gadis binal begitu? *** 151 . Kecuali Annisa yang memperlihatkan ketaksetujuannya dalam diam. tapi kita tidak tahu bagaimana isi batok kepalanya. ya?” cetus Josephine. komputer belum dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia…” “Itu benar!” tanggap Lien Ang sambil tertawa keras. hingga Garsini terbengong. apa sekarang di negerimu sudah ada komputer? Sebab ketika sekitar tiga tahun yang lalu Miss Annisa datang ke sini. Miss Garsini. teknik informatika ternyata sangat banyak membantu kelancaran operasional program-program mereka. “Karena kalian sebangsa dan setanah air. “Apa dia tidak kepanasan dengan busananya yang aneh itu. “Ssst. Indonesia… Nah. Garsini dengan latar belakang ilmu eksak.” komentar Andrew tajam dan tanpa tedeng aling-aling. “Tentu saja Profesor del Pierro merekomendasikan adik ini dengan alasan kuat. tapi harus diakui. silakan kalian saling berkenalan. Nona…?” tanya gadis Vietnam. kemudian mereka harus mengakui kelebihan yang dimiliki si anak bawang ini. “Yang kukatakan kepadamu ketika itu. Lien Ang.” bantah Annisa berwibawa dan tenang sekali. Namun. Andrew.” Annisa cepat menengahi komentarkomentar sumbang yang begitu deras berseliweran dari mulut-mulut usil itu.

Dan sebuah taksi. saya juga tidak akan lama. Mereka telah lama tak saling berjumpa. Garsini mengiyakannya dengan terspipu. “Mayumi katanya masih ingin bicara serius denganmu… Maaf.” Jay Bachan sukses sebagai pebisnis. Kedua anak yang sempat amat menggemaskan Garsini. Ia turun dari taksi tepat di depan asrama dan dilihatnya tiga orang yang tak asing lagi tengah menantinya. “Kalian sudah lama menunggu di sini?” Garsini menyalami suami-istri itu. ditinggal di hotel bersama istri Paman Vijay yang sangat mengasihi mereka.” jelas Mayumi. biasalah urusan perempuan. Demikian hasil perenungan Garsini seusai melakukan upaya menapak tilas dalam kebimbangan hatinya. “Seperti yang pernah kukatakan kepadamu beberapa waktu lalu.” katanya pula sambil meminta dengan santun pengertian lelaki tua itu. kemudian menerima salam selamat dari Pak Mitzui. 152 . Agak jauh dari mereka tampak sebuah limousine dengan seorang sopir berpakaian necis. “Kami mau pamitan kepadamu. Sopir taksi langganannya yang paling loyal dalam tiga tahun terakhir mengaku baru mengetahui hal itu sekarang. “Mereka mengatakan bahwa kamu sudah tak punya urusan lagi di sini.Penutup Ternyata yang nikmat itu adalah saat-saat menjalani proses pembelajaran. tentu saja itu taksi Mitzui-san! Jay Bachan dan Mayumi kali ini tanpa kedua jagoan ciliknya. Mereka hanya mampir sebentar sebelum kembali ke India petang itu. Manakala angan-angan itu telah mewujud dalam suatu kenyataan.” Mitzui-san terdengar seperti menegur. tidak apa-apa. ya Pak Mitzui. baru meresmikan kantor cabang perusahaannya di beberapa kota besar Jepang. “Oh. Hanya ingin mengucapkan selamat tinggal saja kepadanya…” Ditatapnya wajah Garsini dengan hangat kebapakan. nikmatnya sudah hambar dan bisa dikatakan itu bukan suatu kenikmatan lagi. pikir Garsini. meraih kesuksesan yang masih dalam angan-angan. “Kami kebetulan saja bertemu di sini.

” ia bersungutsungut tak jelas. air matanya mulai berloncatan. kerinduan terhadap keluarga. tapi lelaki tua itu seolah-olah tak mendengarnya teriakannya. kalian akan merasakannya sendiri… Ugh. Bapak jangan berpikir untuk menjadi penghuni panti jompo itu… Pak. kata-kata bijak yang pernah dipompakan ke telinganya… Manakala dirinya dalam kelelahan. aku benci dikasihani. Ia terus jua melangkah tergesa-gesa menuju taksinya. ya kan Tuan Jay?” Ada kepiluan dalam kepasrahan yang mengapung di antara kalimat-kalimat pendeknya. Kelak. Garsini… Lagi pula. Mitzui menghindari tatapan iba dari ketiga anak muda itu. ketakpastian. tunggu sebentar! Jangan pernah menyerah. Ia berseru dengan pilu. 153 . apatis… Kecuali Mayuko menjadi istri Matsua. “Pak Mitzui berencana ke mana?” Hati Garsini seketika dirayapi rasa dingin. kesepian. “Biarkan dia dengan urusannya. teringat percakapan terakhir mereka. sementara Etsuko tampak sudah merasa bahagia menjadi bagian keluarga sahabatnya itu. “Pak Mitzui. Tapi Garsini bisa merasakannya dalam senyum kebapakannya yang tulus.Sejak mereka mengoperasi mataku… Yeah. rangkaian nasihat. “Tidak mungkin!” Garsini tersentak menyadari masa depan lelaki tua itu. kurasa memang sudah waktunya aku pensiun. kejemuan. Mitzui mencoba berusaha keras menyembunyikan kepiluan. membalikkan tubuhnya yang masih tampak kuat dan mulai melangkah menjauhi mereka. Oh. Mereka yang harus mengisi sisa-sisa harinya tanpa keluarga. “Jangan pandangi aku dengan tatapan iba begitu. Nakajima-san dan Matsua-san… Entah berapa banyak lagi lansia tak beruntung yang pernah dikenalnya selama mukim di Jepang. jangan pernah coba mengasihaninya. Mitzui-san. Uluran persahabatan. sudahlah. Paaak!” Garsini mencoba mengejarnya. kehilangan rasa percaya diri. dialah rupanya pengganti Pak Mitzui! Mayumi menahan upayanya untuk mengejar lelaki tua itu. tanpa semangat. Garsini sekilas melihat seorang anak muda di belakang taksi itu.

154 .Dia akan menganggapmu sebagai anak muda yang sombong. ya Pak?” Akhirnya dia setuju. Kira-kira masa depan apa yang menantinya di Indonesia? Dalam gonjang-ganjing politik. akhirnya hanya bisa tertegun-tegun memandangi taksi yang mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Pak Mitzui mengeluhkan perihal dampak operasi matanya dan rencana masa depannya. sebuah prospek masa depan? Ooooh… Bahkan rekan-rekannya banyak yang merasa malu menjadi orang Indonesia! “Hujan emas di negeri orang masih lebih baik hujan peluru di negeri sendiri… Ah. Sekilas terngiang kembali percakapan terakhir mereka. carut-marut perekonomian dan keparahan stabilitas keamanan… Bom-bom yang semakin sering berledakan di manamana… Adakah secuil saja kesempatan untuk dirinya. “Apa kamu kerasan tinggal di Jepang?” tanya Mitzui tiba-tiba sambil menoleh ke jok belakang. yang dianggapnya terlalu meledak-ledak. tersipu-sipu menerimanya tapi tanpa kehilangan harga dirinya yang tinggi. tak tahu sopan santun… sudahlah. Meskipun ia harus susah payah membujuknya agar mau menerimanya. “Anggaplah ini sebagai ongkos taksi yang sering Bapak gratiskan kepada saya dan rekan-rekan. tapi ia juga sangat merindukan keluarganya. “Hm… bagaimana ya…” Garsini tengah sibuk dengan sidang yang akan dihadapinya. Sesungguhnya ia merasa kerasan tinggal di Jepang. tanah airnya. kelelahan dan kejemuan malah melahirkan ketakpastian. Beberapa bulan sebelumnya Garsini membagi sebagian rezekinya dengan Pak Tua itu. itu peribahasa yang sudah ketinggalan zaman!” Tasya acapkali mencemooh rasa kebangsaan Garsini. Ia pun menyadari ketakberdayaannya. kendalikan dirimu!” *** Garsini memahami betul makna teguran Mayumi.

Karena itu sama sekali tidak fair! Apalagi itu hanya perkataan seorang artis… siapa namanya itu?” ia agak tergagap mesti dusta. “Indonesia itu bukan hanya Bung Karno. sebab sangat malu dan jengkel bangsanya memiliki artis seperti itu. Tasya semakin gencar melakukan propagandanya. Habibie. Megawati atau Amien Rais!” ucapnya menggebu-gebu. Tasya yang selalu menyatakan sangat malu terlahir sebagai anak Indonesia. Bung Hatta. keyakinan. mentang-mentang cucu seorang pejuang empat lima!” ejek Tasya. “Itu karena sistem yang salah sejak awal telah dijalankan oleh para pemimpin Indonesia…” Aduuuh. Meskipun ia tak suka juga dengan sistem pemerintahan Indonesia. mereka senantiasa berjuang keras… Untuk hidup rukun dan damai…” “Nyatanya tidak bisa juga kan? Kekacauan terjadi di mana-mana!” cecar Tasya geram dan benci sekali. negerinya tercinta. Namun begitulah. Ia tak pernah setuju dengan mereka yang bukan saja merasa malu menjadi anak Indonesia.Garsini sesungguhnya hanya tak suka ada orang yang melecehkan bangsanya. seluruh lapisan masyarakat… Meskipun berbeda-beda suku bangsa. penganut Katolik teguh. bahkan di belahan dunia mana pun sudah tak laku!” sergah Josephine. 155 . “Komunisme. “Kalian jangan menilai bangsaku dari sikap dan ucapan satu orang Indonesia saja. Rekan-rekan di klub pun tak pernah menggubrisnya. “Ugh. pengkhianatan… Baru rasa kamu!” Garsini tak menggubris provokasinya. Suharto. “Kalau sudah kembali ke Indonesia dan kamu menemukan banyak kesengsaraan. “Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. Tasya paling sering melakukannya. tapi itu adalah hal lain. entah dari mana dia mengetahui silsilah keluarganya. Gus Dur. Di penghujung kebersamaan mereka. melainkan juga menjelek-jelekkannya dan ikut gencar menyudutkan Indonesia. dia lebih suka menerima tekanan dari si Congkak Andrew atau lainnya ketimbang dari rekan senegaranya.

maukah kamu menjadi Britney Spears. tidak mau. 156 . Nona. gadis Hindustan yang belakangan suka mengenakan atribut kehindustanannya. Sedangkan Siti Nurhaliza dengan segala kehalusan dan keanggunan wanita Timur. maaaau!” Josephine menengahi debat mereka. “Padahal.“Kalau nggak salah Nafa Urbach.” sahut Tasya yang latah masuk klub awalnya hanya karena iri terhadap kecemerlangan Garsini. “Kalau nggak salah? Artinya ini baru kabar burung?” Garsini sengit. “Ketahuilah. Sementara kutahu kamu memiliki nurani. sebelum kamu kehilangan hatimu. aku hanya ingin menjadi diriku sendiri… Kira-kira begitulah!” berkata Mandu. Nak…” “Kenapa. “Jangan terjebak dalam arus teknologi tinggi Jepang. Mungkin dia tergetar juga oleh rasa percaya diri yang tinggi dari artis Malaysia yang memang patut diacungi jempol itu. pulanglah secepatnya begitu urusanmu di sini selesai!” nasihatnya diulang untuk beberapa kali. Pak?” Garsini tergagap. Dianggap sebagai “tong kosong nyaring bunyinya”. bersendandung jauh lebih merdu dan berkharismatik. hingga Garsini tergetar. saat pertanyaan serupa diajukan kepada Siti Nurhaliza di tempat yang sama. Tiba-tiba Garsini tersentak dari lamunannya oleh teguran keras Pak Mitzui. “Siti Nurhaliza mengatakan dengan jernih dan penuh percaya diri. Nafa Urbach dengan penampilan seronok. Belakangan entah dari mana ia tergerak untuk mempropagandakan paham komunisme. di sini sudah tak ada hati lagi. Ia sering dijadikan bulan-bulanan. Dia spontan menjawab. Aura keindahan wanita Melayu menyebar dari sosoknya. Lien Ang menambahkan. “Tidak juga. Nah. sepotong hati yang murni. “Apa jawaban penyanyi Malaysia itu?” Garsini jadi ingin tahu. hanya selang sehari…” gadis Vietnam itu seperti sengaja mendadak mengapungkan ujung kalimatnya. pusar diumbar murah ke mana-mana. Benaknya seketika membayangkan dua penampilan artis yang bak bumi dan langit. meniru-niru Britney Spears. sorry aku tak membawa korannya… Ketika dia disodori pertanyaan. ada beritanya di harian lokal.

Garsini? Hanya karena dia pernah mencurigaimu?” cecar Mayumi kecewa. sekaligus memperistrinya. Mayumi bisa memahami perasaannya. dia menyiakannya. Garsini?” Mayumi hati-hati mengingatkannya. Suaranya terdengar lelah dan putus asa. menyambung silaturakhim. setiap kali kuberi kesempatan dan memaafkannya. Garsini tak ingin mendapatkan suami yang mirip ayahnya. karena belakangan mulai suka dusta kecil-kecilan? Kenapa ia tak berani terus terang. “Mengapa kamu tak pernah bisa memaafkannya secara tulus.Apakah ia pun mulai kehilangan sedikit nurani. ukhuwah Islamiyah…?” “Bukan hanya curiga!” tukas Garsini miris. “Bukankah kita harus selalu berprasangka baik terhadap Allah. agar menarik pulang Garsini. Ia tak sudi mengalami penderitaan ibunya di masa lalu. pernah melihat penampilan Nafa Urbach di layarkaca Indonesia dulu? Kok berlagak pilon? *** Mayumi masih menanti keputusannya. Ia dan Jay tahu bahwa Haekal sudah datang meminta Garsini sebagai istrinya. Kemungkinan besar ia akan pulang ke Indonesia seorang diri petang nanti. Semalam Haekal pun menelepon mereka dan mengabarkan tentang ketakpastian Garsini. Pemuda itu mengaku kepada Jay bahwa mereka sempat bertengkar dan dirinya merasa tak berdaya untuk terus mendesak Garsini. “Bukankah kamu pernah mengajariku tentang kekuatan dari memaafkan. itu sering kau 157 . “Istiqomah terhadap Allah. bahkan mungkin masih dialaminya hingga kini. melanggarnya. Beberapa waktu sebelumnya Haekal menemui keduanya di hotel dan mengungkapkan niatnya itu. Padahal seluruh harapan keluarga besarnya disampirkan ke bahunya. “Dia pernah menanyakan apakah diriku masih suci? Hanya karena aku dinilainya telah bersikap agak bebas dalam pergaulan… Dia jelas sekali selalu menyangsikan diriku. Sungguh mengecewakan sekaligus menakutkan. Garsini mempunyai ketakutan dan trauma masa kanak-kanak yang parah akibat kekasaran ayahnya yang pencuriga berat.” Garsini mulai berurai air mata.

tak mengembangkan tingkat pendewasaannya ke tingkat lebih tinggi? Terbukti dari sikap. Seharusnya telah matang dalam segala hal. Lelaki itu. tapi jelas sekali kamulah pemicunya. Tentu Mayumi telah mendapat polesan lebih bermakna dan sarat ibrah tentang indahnya Islam dari istri Paman Vijay. pikir Garsini. Penampilannya yang anggun dalam busana Pakistan. usianya hampir tiga puluh. Ia tidak menyatakan penolakan. Ia tak bisa membayangkan. hanya tak bisa memberi kepastian seketika itu juga. baik dalam sikap perilaku maupun perkataan dan tindakannya. dirinya berhasil menyamai tingkat pendewasaan itu secara utuh. 158 . Apa kamu tak takut akan laknatNya bila menolak khitbah dokter Haekal?” Garsini terdiam. melahirkan anak-anaknya dalam ketakpastian…?” Air mata Garsini kini berderaian hebat. ini memang tentang hidayah-Nya. memaksanya pergi berduaan dengan dalih sebagai refreshing. berlalu dalam kekecewaan dan ketakberdayaan. Sehingga Haekal meninggalkan tiket pulang begitu saja di atas meja. Di sisi lain Haekal justru mandek. Haekal telah melewati proses pendewasaan itu sejak mereka pertama kali berkenalan… Namun. Bibi Haznah.” lanjut Mayumi. perkataan dan tindakannya yang kerap tak bijak dan kekanak-kanakan… melamarnya tiba-tiba. mencurigainya. kehidupan pahit ibunya harus dijalaninya pula kelak dengan pria yang pernah dikhianati kekasihnya itu. menyangsikan kejujurannya… “Apakah aku harus selalu memahaminya seumur hidupku kelak? Selalu memberinya kesempatan tiap saat dari waktu ke waktu? Berbakti dan mengabdi kepadanya. setidaknya demikian menurut anggapan Garsini.” Garsini merasa sangat trenyuh mendengar pengakuannya yang tulus. Hingga aku terpengaruh dan sangat terpikat untuk lebih mengetahui keislaman… Oh. maaf. “Dia telah mengkhitbahmu tadi malam. menanyakan kesucian dirinya. “Biar bagaimana pun dokter Haekal itu seorang pria yang baik. Dipandanginya wajah Mayumi yang sarat kebahagiaan. mengapa rasanya.yakinkan kepadaku dulu.

Tatkala limousine itu telah bergerak meninggalkan pekarangan. Di bibirnya tiba-tiba tersungging seulas senyum. Ia telah menentukan pilihan.” Mayumi melirik arloji indah yang membelit pergelangan tangannya. masih ada waktu menuju Bandara Narita. Jay Bachan sudah mengisyaratkan bahwa sudah tiba saatnya mereka meninggalkan tempat itu.” Garsini memahaminya. ia tak ingin merepotkan suami-istri itu. kembali ke Tanah Air dengan pesawat sama yang ditumpangi Haekal. merasa telah berhasil mengecoh Mayumi.“Cobalah kamu berdiri di posisinya. bahkan sekadar untuk menumpang limousine mereka. memandangi lanskap Negeri Sakura. Garsini merasakan kesenyapan yang menyakitkan. Dirangkulnya Garsini dan dipeluknya erat-erat. Mayumi.” gumamnya sendiri sambil membalikkan tubuhnya. shalat lail. Tentu saja.” Mayumi pun tak punya pilihan lain. Awan-awan putih berarak. istikharah. Persis seperti empat tahun silam mereka pernah melakukannya. Sejurus kemudian tampak gadis itu telah siap berangkat dengan koper alakadarnya. “Jangan khawatirkan aku. tetapi selalulah bersandar kepada-Nya… ehm. aku akan mendukungmu. senantiasa menjanjikan sejuta harapan… Tapi di sini urusanku memang telah selesai! “Aku telah mengemasi barang… Hmm. Bunga-bunga sakura berguguran di hadapannya pertanda musim semi akan segera berakhir. Ia mendongakkan kepalanya ke langit. ya Sayang?” “Insya Allah. pergilah… Nanti akan kuberi tahu keputusanku melalui telepon. “Apapun keputusanmu. “Sudahlah. di matanya masih terlukis sebagai arakan kapas yang lembut.” kata Garsini dan semalam pun ia telah melakukannya. Depok. jangan pikirkan lagi diriku. Syawal 1423 Hijriyah SELESAI 159 .

Siregar (12). harian Gala dan tabloid Galura. Asy-Syaamil). Novel-novel teranyarnya adalah. Istri Drs.Biodata Pipiet Senja adalah nama pena Etty Hadiwati Arief. lahir di Sumedang.com *** 160 . Kisi Hati Bulan (kumcer bareng Nurul F. harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya. Huda. Korrie Layun Rampan. Nurani dan Cahaya (Mizan). Rumah Idaman. Cermin dan Malam Ganjil. Dan Senja Pun Begitu Indah (novelet bareng Mariam Arianto. Novel yang telah dibukukan 55 buah. Menggapai Kasih-Mu. FBA Press) Kumcer bareng penulis FLP. menulis pula dalam bahasa Sunda. julukannya dari Helvy Tiana Rosa. Sejak tahun 2000 bergabung dengan FLP. menulis fiksi bernuansakan Islami. Rembulan Sepasi (Gema Insani Press). HE. Siti Hadijah-SM. pipiet_senja@myquran. Kalbu. Penulis prolifik. Kado Pernikahan (Asy-Syaamil). Namaku May Sarah. 16 Mei 1957 dari pasangan Hj. Kidung Kembara. Putri sulung dari tujuh bersaudara ini mulai menulis sejak remaja. Serpihan Hati. ia merasa terlecut balapan dengan paramuda penulis Islami. Suatu Petang di Kafe Kuningan. MK. Tembang Lara. Sebuah karyanya nyasar juga di buku Penulis Perempuan Indonesia. Haekal Siregar (21) dan Adzimattinur KN. Wanita Sunda ini pasien klinik Haemotologi dengan thallassaemia. Rumah Tanpa Cinta. Karya-karyanya mengalir bagai air bah di majalah Mangle. Merah di Jenin. Semua Atas Nama Cinta (Ghalia) Profilnya ada pada buku Profil Perempuan Pengarang Peneliti Penerbit di Indonesia. Riak Hati Garsini. Bunga Rampai cerpen Wanita Penulis Indonesia.Yassin Siregar. Arief (alm) seorang pejuang ’45. memoarnya Cahaya di Kalbuku. Luka Telah Menyapa Cinta (FBA Press). Triloginya. Kritik dan saran demi perbaikan ditunggu di email. Lukisan Rembulan. Kini dia menetap di Depok dan aktivis Forum Lingkar Pena. Korrie Layun Rampan. memiliki dua orang anak yakni.

161 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->