Kapas-Kapas di Langit

Pipiet Senja

persembahan untuk anak-anakku tersayang yang senantiasa memperkuat semangat bunda; MK. Haekal Siregar Seli Siti Sholihat Adzimattinur KN. Siregar

1

Sinopsis
Garsini, remaja muslimah, sejak kecil selalu ingin membuktikan kemampuannya dengan meraih prestasi demi prestasi. Awal tujuannya adalah untuk menarik perhatian serta kasih sayang ayahnya yang seringkali memperlakukannya kasar dan pilih kasih di antara tiga bersaudara. Terutama dengan adik laki-lakinya, Ucok, yang mendapat perlakuan istimewa dari sang ayah. Berangkat dari ketakharmonisan rumah tangga orang tuanya, Garsini berhasil membuktikan dirinya sebagai anak yang bisa dibanggakan. Lulus SMU, ia kuliah di Universitas Indonesia. Semester tiga, ia berhasil meraih beasiswa Monbusho dari pemerintah Jepang. Garsini meninggalkan Tanah Air dengan satu tujuan; membuktikan kepada dunia bahwa gadis Muslimah, berjilbab, akhwat seperti dirinya pun mampu “berbicara di dunia internasional”. Di kalangan rekan-rekannya di Universitas Tokyo, Garsini dikenal sebagai mahasiswi enerjik, jenius, taat beribadah dengan busana unik, kepribadian tangguh. Di kalangan para dosen, Garsini pun dihargai dan disayangi. Sehingga ada seorang guru besar tamu di universitasnya, Profesor Charles del Pierro, terkesan sekali dengan sosoknya dan menjadikannya asistennya. Dengan dukungan yayasan sosial yang disponsori Profesor tua dari Perancis itu, mantan tomboy ini menerbitkan kamus perbandingan antarbangsa-bangsa Asia, CD-nya ala Garsini. Pelbagai pengalaman selama di negeri sakura telah menempanya menjadi sosok yang dewasa, tanpa meninggalkan kekaffahannya sebagai gadis Muslimah. Adakah ia menerima khitbah dokter Haekal yang telah lama dikenalnya sejak di Indonesia? Ataukah ia memilih tawaran bea-siswa dari Universitas Sorbonne, berkat rekomendasi Profesor Charles del Pierro? Silakan simak dan ambil ibrah dari novel ini. ***

2

Isi
1. Bab Satu 2. Bab Dua 3. Bab Tiga 4. Bab Empat 5. Bab Lima 6. Bab Enam 7. Bab Tujuh 8. Bab Delapan 9. Bab Sembilan 10. Bab Sepuluh 11. Bab Sebelas 12. Bab Duabelas 13. Bab Tigabelas 14. Bab Empatbelas 15. Penutup

3

pertanda ia merasakan kebahagiaan dan kenyamanan hatinya. Tanpa tekanan sama sekali! “Mmh… segaar! Oyaho gozaimasu1. pertanda sesuatu yang luar biasa tengah terjadi. Baru pukul enam. Ugh. Dilihatnya ranjang di sebelahnya sudah kosong. Sebuah asrama putri di kawasan kampus Universitas Tokyo yang terkenal karena tradisi dan historisnya.” ujarnya mengajak bercanda dalam nada riang tak dibuat-buat. Sepasang matanya reflek melirik jam wekker di atas meja belajarnya. apa yang terjadi? Rasanya baru beberapa menit aku tertidur. heran dengan semangat dan gerak-geriknya yang tampak lebih lincah dari biasanya. biasanya saat begini para penghuninya masih bergulung dalam selimut tebalnya masing-masing. bukan pengaruh mimpi. Wajahnya segar dan berseriseri. tampak agak gelisah berdiri canggung di antara para gakusei3 baru. Perlahan gadis itu menggeliat malas. dara Malaysia yang kutu buku itu pun sudah beraktivitas? Gadis yang melintas di pikirannya tiba-tiba muncul dari kamar mandi. awal musim semi yang lembut dan hangat.Bab 1 Tokyo. Hampir sepanjang malam ia berkutat di depan komputer dengan programnya. Suara-suara keras dan kehebohan itu muncul dari lantai bawah tempat tinggalnya. Garsini mengucak-ucak matanya yang masih berat lalu memandanginya keheranan. Berarti bukan ilusi. Haliza. Terdengar senandungnya yang merdu. saudara seiman berbusana Muslimah seperti dirinya. Ia masih ingat saat pertama kali mereka bertemu beberapa bulan yang lalu di daigaku2. Mereka sedang diterima 1 2 Selamat pagi universitas 3 mahasiswa 4 . Garsini-san. Ia masih mengenakan jubah mandi dengan rambut terbalut handuk setelah keramas. Ya. sebaliknya bahkan terdengar semakin parah. Bahkan Haliza. berharap dirinya hanya terpengaruh mimpi. Tapi ketika keributan di bawahnya bukan menghilang. Yap! Ia tersentak bangun dan melemparkan selimutnya dengan sebal.

“Famili di Yokohama.” Garsini masih memandanginya. mengundangku libur di rumah peristirahatannya…” 5 . semakin terheranheran. Haliza masih asyik dengan kesibukan pengeringan rambutnya. Haliza membuka balutan handuk. Sering rekan-rekan sealmamater keheranan melihat kedekatan kedua gadis berjilbab itu. “Namaku Siti Haliza binti Haji Tun Abdul Razak dari Selangor. Dalam bilangan menit keduanya telah akrab. juga mereka dari negara-negara non islam itu tak pernah mengerti maknanya. Acapkali keduanya malah tertawa geli karenanya. kala Garsini menghampirinya dan langsung berusaha berkomunikasi dengannya. menunjukkan berbagai fasilitas yang dapat mereka manfaatkan. Apa itu ukhuwah? Tentu saja para gakusei Jepang. perbedaan istilah antara bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia taklah menjadi masalah. menjejeri para gakusei asing lainnya. dibimbing senior berkeliling sekitar fakultas. Ini baru mahkota wanita terindah yang pernah dilihat Garsini.” bisik Haliza kini dapat berjalan tegak di sebelah Garsini. tadi tidur lagi. Mahasiswi kedokteran yang mengaku takkan menikah dengan siapapun selain Mahathir Rashid itu kemudian menyahut. “Saya Garsini Siregar dari Depok. “Lekaslah shalat subuh tu!” sepasang alisnya yang indah terangkat. tak mengira bisa secepat itu bertemu sesama Muslimah di Negeri Sakura. Sementara rombongan kecil itu mulai bergerak. Haliza mengaku terus terang. hemm?” Garsini baru menyadari keberadaan ransel yang telah dikemas apik di sudut kamar mereka. eeh… itu dekat Jakarta. “Sudah. khusus bagi para gakusei asing penerima beasiswa pemerintah Jepang. Mengalahkan rambut para gadis shampo yang bertaburan di layar kaca Indonesia.” sahut Garsini. Sejak hari pertama berkenalan keduanya menjadi karib dan senantiasa saling mengingatkan. “Mau bepergian rupanya. menguatkan dalam setiap kesempatan.oleh panitia daigaku. kemudian mengeringkan rambutnya yang panjang bergelombang dengan hairdryer. “Subhanallah!” seru dara jelita itu tertahan.

gumam Garsini. “Aa Haekal mengambil spesialisasi haematologi. Sesuatu yang jauh dari perkiraan mereka di masa lalu. agar ia tinggal di minshuku. Haekal yang ambil spesialisasi di Universitas Waseda mengunjunginya dan memberinya alternatif. Anakku. hanya berkomunikasi melalui telepon dan internet. adik Haekal dulu berkata demikian. Yaitu penginapan milik keluarga. Itulah agaknya yang terbaik bagi keduanya. “Gusti Allah amat mengasihi kalian. Sebab kasih-Nya kepada kalian. Dalam beberapa bulan ini mereka bertemu bisa dihitung dengan jari.” Selly. 6 . *** Rasanya belum lama mereka memasuki aktivitas perkuliahan di Universitas Tokyo. Sementara Haliza menatapnya dengan cemas dan bimbang. kok aku baru ingat ya?” Sesaat ia tampak bagai linglung. Sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk belajar mengenal adat kebiasaan orang Jepang. Ia sempat sangat jenuh tanpa kegiatan sebelum memulai perkuliahan itu. Sekaligus pula melancarkan bahasa Jepangnya yang memang amat parah. Dia tak membiarkan kalian bisa selalu dekat berduaan. Garsini tahu. tapi sengaja mengambil lokasi yang berbeda.” Mama kerap berkata begitu di telepon.“Libur panjang!” tukas Garsini menyentak. Haekal juga melakukan hal yang serupa. Tapi itu rasanya tak mungkin terwujudkan. sebab jadwal padat dan tekanan luar biasa yang harus mereka hadapi dalam keseharian. “Masya Allah. godaan nafsu. Sekarang Aa Haekal juga takkan sempat mampir ke sini. Kebersamaan kalian kan bisa mendatangkan fitnah. Ternyata medium itulah yang kemudian menjadi alternatif komunikasi mereka di hari-hari selanjutnya. Setelah sebelumnya pun ada hari-hari libur selama beberapa pekan. Sehingga mereka tak bisa setiap saat bertemu. menyemangatinya senantiasa dan mendoakannya tentu saja. membuat Haliza menoleh ke arahnya. Dia akan mengawasimu selama di Negeri Sakura.

please?” pintanya terdengar mengiba.Tempo hari pemuda itu menelepon Garsini. meletakkan alat pengering rambut di atas dipannya dan menghampiri Garsini. kali ini disertai sedikit harapan. kalau aku bukan anak orang berduit? Memang ada uang saku yang kuterima per bulannya. “Pulau Pusan wilayah Korea…” “Korea… jadi Aa mo ke luar negeri?” Sayup nama Haekal terdengar sudah dipanggil-panggil oleh kelompok baksos-nya. Dipandanginya wajah Muslimah Indonesia itu dengan cemas. suasana kuil Budha di Nara musim semi begini…” Apa Haliza lupa.” katanya riang seperti biasa. sadarlah dirinya bahwa 7 . “Oh. “Di mana pulau Pusan dan apa itu leprosium?” tanya Garsini ingin tahu. Bagaimana rasanya menghabiskan liburan di pulau yang dihuni oleh para penderita kusta. Tapi manakala dilihatnya wajah cantik itu dikabuti rasa bersalah. ya. Berbahagialah dia yang selalu merasa terpanggil untuk bakti kemanusiaan. Haliza bagaimana kalau… ajak aku. tapi itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kelancaran perkuliahan. masih menatapnya dalam harapan. Sementara gaya hidup di Jepang sangat mahal! “Tidak. Kami akan jihad di leprosium. ya? Suara dokter muda itu terdengar begitu bersemangat. *** Haliza mendadak berhenti. “Aku sama sekali tak punya rencana ke mana-mana…” “Bagaimana kamu bisa…” Haliza terheran-heran menatapnya. Sungguh amat kontras dengan karakternya yang Srikandi! Haliza terperangah dalam rasa bersalah. memberi tahu tentang rencana libur panjangnya. “Jangan katakan kau tak punya rencana bepergian… Pasti sudah punya rencana khusus. aku tidak tahu mau ke mana!” pintas Garsini terdengar agak mengeluh dan balik menatapnya. Garsini sesaat mengguncangguncang lengannya. Telepon pun memperdengarkan suara klik. “Aku dan beberapa rekan akan melakukan kerja bakti di pulau Pusan. ya kan? Mau ke mana? Kyoto atau Saporo? Ooh.

“Sungguh kau tak apa-apa?” Haliza telah siap berangkat. ia bertanya keheranan. tapi ia pun tak mungkin membuyarkan rencananya. Wajahnya berseri-seri dan sarat percaya diri seperti biasa. Perlahan dilepaskannya tangan gadis itu dan otaknya mulai sibuk menemukan gagasan. sudahlah… Jangan khawatir. Ada maksud lebih jauh di luar sekadar menampung seorang mahasiswi yang ingin menikmati libur panjang. Sahabat Jepun-nya itu relawan musiman di museum sains terbesar di Jepang.harapannya hanya akan menyulitkan Haliza. ya? Lelaki tua itu mengingatkan Garsini kepada mendiang kakeknya. “Tak apa.” jelas dara Malaysia itu dengan wajah memerah. sementara dirinya bepergian ke luar kota selama beberapa hari. minta pengertiannya yang dalam. Ia tentu saja tak ingin mengganggu sebuah keluarga yang hendak mempererat tali silaturakhim. Apa masih berlaku tawaran dari Nakajima-san sebagai relawan MeSci. masih famili Abang Rashid. kata Mak Tuo tu… Ngng.” tukas Garsini gegas merangkul bahunya dan memeluknya erat. Garsini tersenyum paham. 8 . Masih diliputi perasaan bersalah. mahasiswi jurusan sastra yang menyampaikannya kepada Garsini. Semuanya sudah disediakan. Berjalan menghampiri ransel berukuran sedang yang sudah siap menunggu pemiliknya membawanya kembara itu. Tak mungkin kan kalau tiba-tiba…” Suara Haliza terdengar terpatah-patah. Ia mencari relawan untuk menggantikannya. Tentu bukan sekadar undangan biasa. Haliza. Mayumi-san. Garsini telah menyegarkan diri. “Hanya ini bawaanmu. museum sains itu. hm…?” “Mereka beramanat agar aku tak banyak bawaan. ya Garsini… Tentu mereka sudah merencanakan ini sejak lama. Musim semi ini ia bermaksud mengunjungi keluarganya di Saporo. Ia menggelengkan kepalanya. Ia kemudian bangkit dan berusaha mengubah kemuraman wajahnya. tampaknya siap pula hendak bepergian. “Afwan. Mereka keluarga calon suami Haliza dan khusus mengundangnya.

“What the matter with you. Ditunggu oleh taksi-taksi yang telah mereka panggil. Jadi. Ada beberapa pengalaman mulai dari yang lucu. aneh dan geli mengenai hal ini. Ia tengah jalan bareng rekan-rekan kuliahnya dari berbagai bangsa. Fenomena work-cholic dari saat ke saat kian merata. Miss Garusiniii…?” ledek Clarissa. Mungkin karena sepagi itu mereka telah dipanggil. dan secara serempak pula mengklakson mereka tanpa ampun. Setelah beberapa saat lalu para gakusei yang kebelet menikmati liburan musim semi. *** Garsini tahu. 9 . sebagian besar telah lama mukim di sini. stasion kereta. demikian rekan-rekan Jepun kadang menyebutnya. sepupuku dari Holland akan libur di Tokyo. menyerbu seluruh lapisan masyarakat dan usia bangsa ini. Ada karung besar teronggok tak jauh dari sang nenek. dialami Garsini selama mukim di Jepang. Sebaiknya aku jalan saja. Miss Garusini. gadis Austria ikut merandek demi melihat Garsini menghentikan langkahnya. Suatu hari Garsini melihat seorang nenek renta tengah sibuk mengumpulkan sampah di pelataran eki. Keduanya meninggalkan kamar. pria dan wanita Jepang lebih suka menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Sementara ia begitu seksama dan cermat memperhatikan suasana sekitarnya. melihat-lihat hotel yang pantas untuknya. nenek renta yang tengah mengumpulkan sampah. kereta. Padahal saat awal libur musim semi begini nikmatnya berkumpul bersama anak dan istri di rumah. atau merencanakan wisata ke tempat rekreasi yang sejak lama diidamkan. hingga seolah balik menteror. itu memang benar dan ia baru mengingatnya lagi kini. jalan bergandengan menyusuri koridor yang telah lengang. bertemperasan hampir secara serempak. Garsini tertegun-tegun memperhatikan Abaasan. Bermaksud balik ke Chofu dengan keiosen. ia paling yunior di antara lima gadis dan tiga pemuda yang baru jalan-jalan di Shinjuku.” Dalihnya tak dibuatbuat.”Aku baru ingat.

“Kasihan juga. pikir Garsini sambil mengagumi gerak-geriknya yang amat cekatan dan terampil. ya? Ups. Tapi. berseliweran dengan mobil-mobil mutakhir keluaran pabrik negerinya… Menuju gedung-gedung pencakar langit. jangan norak dong. Garsini untuk ke sekian kalinya jalan bareng rekan-rekannya. Karung di atas troli yang dijadikannya tong sampah itu isinya sudah padat. Baru satudua kali jalan seorang diri. biar kerjaannya cepat selesai?” cetus Garsini merasa tak tahan lagi. Dalam bilangan menit. Sementara kala itu. orang Jepang yang terkenal sebagai turis pelit di kawasan wisata Indonesia. Coba bayangkan. Para pengusaha elektronik. hati-hati kalau ngomong. Gadis ini hanya selang satu semester tingkatannya dari Garsini. Diam-diam ia kembali gabung dengan rekan-rekannya.” bisik Garsini ketika akhirnya Tasya jadi tertarik. para eksekutif arogan di Jakarta.Sang Pembersih. ia sering merasa dirinya paling tahu. Ini di negeri mereka. “Ssst. tapi terus juga dipenuhinya dengan sampah yang berhasil dipungutinya. bahkan melebihi para seniornya. ya…?” bisik Tasya menatap iba ke arah Abaasan yang kini kelihatan susah payah mendorong trolinya. balik menghampirinya dan menjejerinya. Tapi ia sama sekali tak berniat turun tangan kecuali ada hal darurat yang bisa merubah keputusannya. malu-maluin bangsa Indonesia aja!” Tasya si Manado dari kejauhan memperingatkan Garsini. ia telah memunguti lusinan bekas softdrink di sekitarnya. Clarissa sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua gadis Indonesia itu. Mana ada pemandangan macam ini bisa ditemuinya di Jakarta atau Depok. Sementara Abaasan semakin sibuk memunguti sampah. “Kita bantu. Menghuni apartemen canggih yang harga sewa per bulannya ribuan dolar. tempatnya bekerja! “Garsini. 10 . melanjutkan perjalanan.“Baru lihat orang Jepang kerja. tukang sampah nich yeee…!” cemoohnya dan bibirnya yang sensual manyun. bekas minuman dan kotak makanan.

jadi terpaksa mengikuti jejak Garsini. memunguti sampah yang sesungguhnya hanya satu-dua saja tampak di sekitar mereka. anak-anak korban perceraian ortu. Rekan-rekannya hanya senyum-senyum kecil melihat kelakuan kedua gadis belia itu.“Ngng…” Tasya menyadari mereka sudah tertinggal jauh dari rombongannya. dia kira aku tak punya Allah. apakah Garsini tidak merasa takut jalan sendirian di negeri asing? Garsini hanya tersenyum manis. “Kenapa mesti takut? Karena ada Allah Sang Maha Penunjuk. Lindungi kami. berdua Garsini si pendatang di tempat asing begini? Memang sih ia lebih dulu mukim di Negeri Sakura. pikir Tasya. Dialah yang senantiasa mengarahkan kaki-kakiku ini hingga tak nyasar…” Ugh. Tasya tak berhasil menemukan rombongannya lagi. usia mereka masih tergolong teeneger. Bapa! Garsini telah melesat ikut turun tangan. Garsini hanya tersenyum lega. bila terus didesaknya barulah ia memberi jawaban yang ajaib di telinga Tasya. di bawah duapuluh. Namun. Sesekali berhenti. bisa bergabung lagi dengan rombongannya dalam satu gerbong. “Ahaaa… asyik juga bisa bantu orang Jepun itu. pikirnya terheran-heran. iya kan?” Tasya terengah-engah saat menghambur ke dalam keiosen. Bagaimana mungkin dirinya yang lebih senior bisa dilangkahi si anak bawang. ya? Tanpa pamrih begini. kereta dari Shinjuku ke Chofu. Tasya sungguh kaget saat diketahuinya kemudian Garsini sudah berani jalan seorang diri. Bagaimana kalau kesasar. Ketika Tasya mempertanyakannya. selalu jalan bareng rombongan. Mereka pun asyik membantu sang Abaasan. ada pahalanya. Mungkin sejak keluarganya pindah dari Manado ke Jakarta. Tapi Bapa dan anak Allahku itu sudah lama tak pernah kutengok di gereja. ia tak punya nyali untuk jalan seorang diri. menjejeri nenek tua itu mendorong trolinya. 11 . anak-anak kemudian bertemperasan dititipkan ke sanak famili di pelosok Tanah Air. setelah hampir setengah jam membantu Abaasan di pelataran eki. Sejak Mami cerai dengan Papi.

ya?” Haliza melirik gadis itu. sampai jumpa lagi…” jawab Maria Linares. Sepanjang sisa perjalanan itu.“Lihat. “Lain kali kalian harus lebih rajin mengumpulkan sampah bersama mereka. Geeerrr… rekan-rekan lainnya seketika tertawa terbahak-bahak. Mungkin tinggal mereka berdua yang belum angkat kaki dari tempat ini. Tasya lebih banyak bersungut-sungut menyesali kelakuan mereka. “Apa katanya?” tanya Garsini bingung. Jadi. mereka mengucapkan terima kasih kepada kalian. Dalam keriangan. Rasanya aku pernah mengungkitnya kepadamu… Dia pernah berencana melanjutkan studi di 12 . Mulai mencium keanehan. semangat dan keikhlasan seperti biasanya mereka rasakan selama ini. “Sepupumu. “Sayonara. senyap. Kini barisan lansia itu tersenyum senang dan melambai-lambaikan tangan ke arah dirinya dan Tasya. ingin tahu. Peter. Abaasan itu bukan tukang sampahlah. Garsini tak menyukainya. ada kebiasaan para lansia Jepang melakukan bakti sosial. Sekarang asrama putri ini terasa lengang. ja mata…!” seru mereka bak dikomando saja. memunguti sampah itu. Tampaklah Abaasan dan beberapa kakek yang tahu-tahu sudah bergabung dengan mereka. Ia baru tahu. Ia cepat ingin mengubah suasana hati mereka kembali. gadis Manila. ya?” sahut Clarisa sambil ngakak. “Iya. tempat tinggal sekitar seratus mahasiswa asing dari berbagai warganegara. Garsini melongokkan kepalanya melalui jendela kaca di sampingnya. Setidaknya dari lantai dua. putra Tante Arnie yang mukim di Holland. Ada kebekuan mengapung di tengah mereka.” Clarissa nyeletuk sambil menuding-nuding keluar jendela. Sementara Garsini hanya mesem-mesem tulus. “Selamat tinggal. antara lain memunguti sampah pada hari libur atau saat-saat tertentu. bo! *** Kehebohan luar biasa itulah yang telah membangunkan Garsini dari tidurnya di pagi buta.

“Kaulah yang mesti hati-hati dengan keluarga Raja di Raja Malaysia tu. Tapi entah mengapa urung.Jepang. Ia tak ingin melihat sohib tercinta terluka. “Waalaikumussalam. Hanya pada kesempatan istimewa saja para gakusei memanggil taksi. sarat tekanan luar biasa. Haliza tersenyum lega mendengar keriangan suara sohibnya. Hanya kawula muda pilihan saja yang sanggup menjalani hari-hari “neraka” macam itu. Garsini?” tukas Haliza terdengar menghiba. seandainya nanti…” “Yeah… tolong restui aku. Haliza. Semangat dan keriangan telah kembali mewarnai wajahnya. Sebuah salam yang kerap keduanya perdengarkan kala bertemu atau berpisah. dan membuat rekan mereka sering keheranan atau hanya tersenyum maklum. *** 13 . hati-hatilah dengan sepupumu itu. Sebuah taksi telah menantikan Haliza. Seolah mereka takkan pernah bersua kembali. “Dan kuharap kau takkan… mmh. “Assalamualaikum.” balas Garsini dan ia sungguh mulai mencemaskan hasil kunjungan sahabatnya kelak. ya.” katanya riang dan tulus. mengingat tarifnya tinggi. Ee.” balas Garsini. tahu-tahu kabarnya dia kini telah menjadi seorang tentara Kerajaan Belanda. “Lekaslah masuk!” Garsini mendorongnya masuk taksi dan melemparkan ranselnya ke jok belakang.” bisik gadis Malaysia itu saat akan berpisah di teras asrama. Hari ini memang pengecualian.” ujar gadis Malaysia itu tertawa. Takkan terjangkau oleh uang saku yang mereka peroleh dari pemerintah Jepang melalui beasiswa. Keduanya berangkulan dan berpelukan erat. “Baiklah. Mereka berhak bersenang-senang setelah menjalani jadwal aktivitas yang begitu padat.

“Anata no o-namae wa nan desu ka? Ryoko wa tanoshikatta desu ka?”5a Gadis Jepang itu semakin tergairah menggodanya. hmm! “What?” Peter celingukan. Para penumpang mengalir keluar dari pintu kedatangan. kawatnya? Seperti apa rupanya sekarang anak bawel itu? Masih tomboykah dia. Begitu bangga dia menceritakan tentang rekan-rekan apa itu. Adakah anak bawel itu di antara para penjemput? Aku bukan anak bawel lagi. Ini diakibatkan oleh sejumlah peristiwa pemboman hebat di berbagai belahan dunia. Pesawat KLM beberapa saat lalu telah mendarat mulus di landas pacu bandara yang terkenal dengan teknologi canggih se-Asia itu. Tentara Kerajaan Belanda. seorang pemuda berseragam militer antri dengan sabar di antara para penumpang yang baru tiba dari Holland. “Exuse me… Anda bicara apa?” susulnya dalam bahasa Inggris. 4 5a “Selamat datang di Jepang…. Ia telah selesai melalui pemeriksaan. Ganteng sekali dia. Aku sudah dewasa. Sekilas ia melayangkan pandangannya ke kejauhan.Bab 2 Bandara Narita. keluar berdampingan dengan pramugari yang memiliki wajah mirip boneka Jepang koleksi ibunya itu. Peter. Belakangan suasana bandara di seluruh dunia dicekam ketakutan dan kengerian luar biasa. Petugas memeriksa bawaan mereka dengan ketat. Ia tahu gerak-geriknya tengah diperhatikan oleh rekan-rekannya dari kejauhan. sudah jadi akhwat… Ketika itu Garsini mahasiswi di Universitas Indonesia. Namun. Harum jantan meruap dari tubuhnya. suatu petang yang sejuk. rambut cepak dan celana jeans belel bolong-bolong? “Yokoso Nihon e irasshaimasen…4” seorang pramugari yang melintas di sebelahnya.” “Siapakah nama Anda? Perjalanan Anda menyenangkan?” 14 . tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat ringkas di hadapannya. Peter. iseng menyapa pemuda itu.

shitsurei desu ga6…” “Sayonara.” Garsini tak bisa lama-lama di sini. jangan begini!” Garsini merenggangkan pelukan sepupunya. Sekejap Peter sudah memeluk gadis itu. Peter masih berdiri rikuh memandangi makhluk jelita.” Garsini sambil melirik arlojinya. harus mencari tempat untuk shalat maghrib. jika mengantar 5b 6 Terima kasih maaf permisi 15 . Ooo. Apalagi si tentara itu. “Dia mengucapkan selamat datang di negerinya. Tante Arnie pasti telah berusaha keras mewariskan kepadanya. kamu yang adikku.“Hai. Peter tertawa lebar. Tentu saja mengingat dia telah meninggalkan Indonesia sejak umur lima tahun. pasti ini dia si bawel Garsini Siregar. “Hei. ya? Sepupu dari Holland. mirip sekali Takeshi Kaneshiro… Long Vacation! Gadis Jepang itu gegas-gegas berlalu. “Domo arigato5b… Dia sepupu saya dari Holland. aku akan berikan kartunama yang bagus untuknya. “Dia tak bisa bicara Nippon. “Tidak juga. Karena ia tahu. kemudian tiba-tiba teringat sesuatu. “Kamu sama sekali tak beri kesempatan. “Kamu adikku!” Peter mejawil hidungnya seperti kebiasaan saat mereka kecil dahulu. “Huss. dia sendiri dari mana? Tampang kalian mirip orang Jepang. membungkuk hormat. Mirip apanya. sayonara… Sampai jumpa!” balas sang pramugari tersipu malu dan menatap wajah keduanya sekilas. menanyakan nama juga tentang perjalananmu. bahasa pemersatu bangsanya itu. Sebab Mamaku kakak Mamimu. menuju beberapa rekannya yang masih memperhatikan pagelarannya sambil cekikikan. Broer Peter!” Garsini tersenyum ramah kepada sang pramugari. enerjik dan terus-menerus tersenyum bandel ke arahnya.” katanya dalam bahasa Jepang yang lumayan. tadi itu apa sih? Kamu bicara apa dengan pramugari itu?” Seketika ia memprotes dalam bahasa Indonesia yang lumayan bagus. pekiknya dalam hati. ya? Coba bilang dari tadi.” balas Garsini mulai memperlihatkan keras kepalanya.

“Tak ada apa-apa. pindah ke ryokan7 ala Jepang. Garsini?” “Insya Allah tidak!” sahut Garsini mantap membuat Peter terperangah. tapi belangbentong menunaikan shalat lima waktunya. 7 penginapan 16 . terutama berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Garsini berusaha tetap tersenyum riang.Peter ke hotel yang telah dipesannya akan memerlukan waktu yang cukup panjang. Tapi diantarnya juga sepupunya ke sebuah coffee house. tapi aku harus shalat maghrib dulu. Apa yang terjadi dengan anak itu? Begitu taatnya dia menjalankan syariat agamanya. begini saja kita ke kafetaria itu dulu. ia langsung menohoknya dengan pertanyaan. “Ada apa?” tanya Peter cemas dan menangkap kegelisahannya. Matanya telah menangkap suatu sudut yang lumayan sepi di sekitar situ. Apa dia tak menemukan kesulitan hidup seperti itu. Ketika Garsini menunaikan shalat maghribnya di sudut sepi itu. Mmh. “Apa menjadi Muslimah itu sulit. mata Peter tak lepas-lepas mengawasi kelakuannya. Begitu Garsini kembali menghampirinya. Ia sangat mengandalkan sepupunya. Peter memutuskan menerima saran sepupunya. aku mau sake Jepang!” kata Peter menukas cepat. di tengah bangsa asing begini? Peter teringat ibunya yang masih mengaku orang Islam. ya? Sementara aku shalat kau bisa menikmati…” “Sake! Ya. “Huss!” Garsini tertawa geli melihat semangat sepupunya yang super tinggi itu. “Bagaimana kalau kamu nggak ada nanti? Bisa bicara apa aku di sini?” tanyanya seperti bocah ketakutan. Ketika Garsini menunjukkan sebuah penginapan tradisional. Di tengah kesibukan tibatiba harus shalat. Seketika pemuda itu merasa penasaran sekali. wajah Peter langsung ditekuk lucu. hingga Garsini tertawa geli. *** Setelah satu malam tinggal di hotel bergaya Barat.

malah menjadi seorang militer? Siapa mengira pula kalau ia yang sejak lama ingin menjadi dokter.” gumam Peter terdengar menyesal.. Broer. Tapi sekarang. Celana jeans hitam dengan t-shirt berlengan sportif. Jepang dan Portugis. “Sejak SMP kutahu kamu sudah bercita-cita menjadi dokter. ya?” Garsini menjawil pet hijau yang bertengger di kepala sepupunya. darah dan air mata melawan penjajah. dan menggantinya dengan pakaian santai. Untuk pertama kalinya Garsini melihat sepupunya melepas seragam militer. cucunya justru menjadi abdi Kerajaan Belanda. bahkan kemudian berusaha keras mendapatkan beasiswa teknik kedokteran… Tapi sekali lagi. Kalau Opa masih hidup apa komentarnya soal profesi yang kamu pilih ini. Siang itu mereka berjalan kaki menuju sebuah penginapan. Garsini menepuk tangannya dan berkata riang. inilah jalan-Nya! “Kenapa kamu nyasar ke teknik informatika. ini jalan kita…” “Bercanda kamu… It’s funy!” Peter seketika tergelak geli. Itu akan sangat membantumu. Ironisnya hidup ini! Peter kelihatan masih merasa menyesal. Garsini?” tanya Peter. Sekilas Peter tampak mirip dengan para pemuda Jepang lainnya yang berlalu-lalang di sekitar mereka. Di negerinya kolonialis itu identik dengan Belanda. Siapa pernah mengira sepupunya yang sejak kecil bercita-cita studi teknik informatika di Jepang. Ayah Peter adalah etnis Manado. Di zaman revolusi 1945. seketika dipandanginya penampilan sepupunya lekat-lekat. kan?” *** 8 sebutan untuk kakak lelaki.8 Hmm.“Jangan khawatir. kakek mereka berjuang dengan jiwa raga. tapi tak bisa berbuat apa-apa. mereka bercerai dan ibunya menikah lagi dengan pria Belanda.” Garsini menenangkan.“Nanti kuberikan kamus praktis bahasa Jepang. Jangan merasa bersalah. Mereka telah hafal betul kisah heroik Opa tercinta. “Opa akan menangis darah. “Kamu seorang serdadu. Opa nggak bilang apa-apa tuh waktu terakhir aku menziarahinya di Cikutra. Dulu pertama datang aku juga memanfaatkannya.. Belanda 17 .

Nama lain masih berasal dari Indonesia. Pihak daigaku merasa tak bersalah cenderung langsung angkat tangan. bagaimana hancurnya seluruh bangga ayahnya jika ia kembali sebagai seorang pecundang! “Pasti dia anak orang penting dari Indonesia. Pikirannya sesaat melayang ke pulau Pusan. Sehingga akhirnya mereka mendapatkan jalan keluarnya. Dara Jepun itu memberi banyak informasi yang memang sangat dibutuhkannya kala itu. Kadang Haekal ikut serta bersamanya dalam melacak kekeliruan itu. Hari-hari itulah ia bertemu Mayumi. lebih baik kuterima saja daripada harus kembali ke tanah air! Tak bisa terbayangkan oleh Garsini. ia menuntaskan permasalahannya. karena ia pun harus menyelesaikan urusannya sendiri.Garsini tak ingin mengenang saat-saat tak mengenakkan pada minggu pertama keberadaannya di Tokyo. ujug-ujug menyerobot posisinya di teknik kedokteran. Sungguh sangat melelahkan. “Orang yang sudah menyerobot posisimu itu!” sergah Peter. Sementara masa perkuliahan sudah akan dimulai. Melepas rasa frustasi yang sekejap membelenggu diri gadis itu. Wajah Garsini sekilas tampak memerah. kesalahan teknis dan entah apalagi. menyilakannya untuk mengurus kesalahkaprahan ini ke Kedubes RI. Aku harus menerima kenyataan ini. hanya menimbulkan rasa frustasi dan putus asa saja. 18 . Ada kesalahpahaman. “Dia… siapa?” Garsini tersentak. heh?” komentar Peter. Ya. Ia sampai rela mengorbankan waktu liburnya sendiri. Mungkin juga ke pihak panitia pemberi beasiswa di Jakarta. mahasiswi sastra yang banyak membantunya. Tak ada siapapun di situ. Mereka sudah sampai di depan meja resepsionis ryokan. Lagi pula Haekal tak bisa terus-menerus mendampinginya. Keduanya menunggu beberapa saat dengan sabar. kala menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya. Kembali hanya berdua Mayumi. menemani Garsini ke beberapa tempat. Sementara namanya terdaftar sebagai mahasiswa teknik informatika. tapi kemudian mereka menyadari hanya menemukan jalan buntu.

“Naah. Dalam tempo relatif singkat dia telah menjadi bintang kecil di fakultasnya. Bagaimana nurani dan moral gadis ini. Cewek itu angkuh dan sangat mengetahui persis apa yang diinginkannya. Begitulah gosip yang beredar di kalangan rekannya di asrama. “Apa dia tahu kamulah orangnya?” Garsini menggeleng ragu. aku pernah bertemu cewek itu. terima kasih.“ balas Garsini tak kalah santun. terutama sebagai biang pesta dan mengencani banyak mahasiswa asing. kabarnya di sebuah apartemen indah di kawasan elit.” Garsini tersipu malu seolah telah dipergoki. “Ayo katakan kepadaku. dia sangat cantik dan glamour…” Garsini tertawa kecut. “Jadi seorang cewek. berhadapan langsung dengannya. “Konnichiwa Okusan. kamu sudah punya pacar kan?” “Ah. ia sempat berpikir sambil menahan kegeraman hatinya. bak burung merak sedang pamer keindahahan. “Konnichiwa gakusei-san… irasshaimasen. Peter tersenyum menang. “Pasti nggak pantas jadi anak teknik kedokteran. Ia tersenyum ramah dan membungkukkan tubuhnya dengan santun. Dia takkan lupa bagaimana gerak-gerik memikat. 9 10 “Selamat siang… Selamat datang di Jepang. cantikkah?” “Tentu saja. ya?” “Ngng… lihat saja nanti!” Peter menggeram.”9 katanya ramah. maka dengan mudah merampok keberuntungan anak lain? Tapi bisakah dia disalahkan atas semua ini? Bagaimana kalau dia hanya korban dari ambisi orang tuanya? Kasihan sekali kalau begitu! *** Seorang wanita paro baya mengenakan kimono bagus menyambut kedatangan mereka. “Oya. Saat secara kebetulan di syokudo. kamu melamunkan siapa?” ejek Peter. heh. kamu! Tak ada pacaran di kamus hidupku…” elak Garsini cepat. ya? Hanya karena dia anak orang penting. aula besar di kampus. membungkukkan badannya dengan baik sekali.” “Selamat siang Nyonya. domo arigato gozaimasu10.” 19 . Dia sendiri tidak tinggal di asrama.

Tiba-tiba Okusan balik menoleh ke arah Peter dengan tatapan sinis. cara membungkuk ala Jepang ini telah ia pelajari secara khusus dari Mayumi. tepekur membilang tasbih atau shaum pada hari-hari tertentu. sangat cerdas dan taqwa menjalankan syariat agamanya. “Iya… Bagaimana Nyonya tahu?” Garsini menatapnya terheran-heran. Dan busana yang dikenakannya. Ya. Di kampusnya Garsini dikenal sebagai mahasiswi teeneger. selain tatapan aneh. “Begitulah. ia selalu berharap mampu menjalaninya lebih singkat. Sepasang matanya menyiratkan penghormatan dan kekaguman seorang ibu terhadap anaknya. Tapi mata Garsini sama sekali tidak sipit. Sesungguhnya mudah saja bagi Okusan untuk menebak asal mahasiswa yang datang ke penginapannya. kecewa dan marah. Okusan…” “Tapi bahasa Jepangmu sudah lumayan. mengira busana yang dikenakan gadis itu adalah mode mutakhir anak-anak muda. Ia memiliki sepasang mata lebar yang bagus sekali.Woo. ya kan?” tanyanya ramah sekali.“Gakusei-san mahasiswa asing. pikir wanita itu. percaya diri dan tahu tatakrama tradisional Jepang. dari Universitas Tokyo. ya?” ujarnya langsung menebak. Kebanyakan mereka mengagumi tata cara pelaksanaan ibadahnya yang amat disiplin. menatap wajah Garsini sambil tetap tersenyum ramah. memiliki sorot mata cerdas. “Kamu gakusei-san. Itu tak membuatnya tersinggung apalagi rendah diri. Rekan-rekannya menghargai keberadaannya sebagaimana mestinya. Mereka kerap mendapatinya shalat. Kebanyakan mahasiswa Universitas Tokyo sangat khas. Mereka memandang heran ke arah busana yang dikenakannya. enerjik. Garsini tak mengalami banyak hambatan. Sejauh ini. Garsini mengangguk.” pujinya tulus. “Kamu sangat beruntung bisa menggaet gadis cantik dan 20 . sunguh menarik. selebihnya Garsini merasa hepi-hepi saja menikmati masa perkuliahannya. Ia mengerutkan keningnya. Pemilik ryokan tampak terpesona. Empat tahun kesempatan emas yang diberikan mereka kepadanya. “Domo arigato gozaimasu…” Garsini sudah terbiasa dengan tatapan aneh begitu.

Okusan balik menghadapi Peter kali ini dengan sikap santun yang sangat berlebihan.kelihatannya tahu adat ini. serba canggung. Bahkan di negeri leluhurku sendiri. Tapi ingat. Ditemani oleh seorang putri Okusan yang mendekati mereka dengan sikap amat pendiam.” ujar Peter ramah dalam bahasa Inggris. hingga pemuda itu tertawa ditahan. hah! Sungguh menjijikkan. Sementara Peter semakin bingung. Peter mendadak terdiam dan celingukan. “Tidak apa-apa. keduanya melihat kamar yang telah dipesan. “Tampang saya memang mirip orang Jepang. Indonesia… Aha. jika Garsini tak segera mencairkan suasananya. Okusan dengan serius sekali masih akan melanjutkan acara bungkukmembungkuknya. Menjelaskan bahwa ia telah salah paham menganggap Peter pemuda Jepang yang telah menggaet gakusei asing. kenapa tiba-tiba ia diperlakukan galak dan ketus oleh wanita itu. Ia cepat memutuskan untuk meluruskannya. memalukan nama bangsa saja…” gerutunya pula saat melihat Peter masih tersenyum-senyum. Bahkan sepertinya dimarahi? Untuk sesaat Garsini pun terkesima. Sudah sering saya alami hal seperti ini di Holland. kami tak suka kalau kamu hanya memanfaatkannya!” cerocosnya tajam dan ketus sekali. rikuh dan gerak-gerik lamban. Namun kemudian ia segera menyadari kesalahpahaman. Okusan. Percayalah. apa kata rekan-rekannya di daigaku nanti! “Kami bersaudara. “Sumimasen… Koko ga machigatte iru to omoimasu… I’m verry sorry. ternyata Okusan paham bahasa Inggris!” pujinya pula tulus. Sehingga sepintas lalu 11a “Maafkan… Saya kira ada kekeliruan di sini… maafkan saya. Indonesu… saya tahu itu di Bali?” komentarnya sok tahu. “Ooh. perlahan wajahnya merah padam.” 21 . Beres urusan pesan tempat.” Garsini bicara serius dengan wanita itu.”11a katanya dalam sikap amat malu dan merasa sangat bersalah. Berabe. bingung. Membisikkan sesuatu ke telinga Peter. dia sepupu saya. “Mentang-mentang tampangmu mirip Takeshi Kaneshiro. Begitu Garsini selesai bicara. sebelum situasinya semakin parah bahkan bisa berakibat fatal. Madame.

Dalam hati ia terpaksa mesti membenarkan kesimpulan kilat sepupunya. wakarimasu!”13 sahut Okusan sambil lagi-lagi membungkukkan tubuhnya. Hebat. Sementara Okusan harus melayani para tamu yang mulai berdatangan. Okusan. ketika Garsini tengah memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya sambil berusaha keras mengajak berkomunikasi putri Okusan. “Okusan. “Dia setuju untuk menginap di sini beberapa hari…” “Haik.” Okusan tampak lega sekali. yeah pelan-pelan… Anda mengerti?” 13 “Ya. Peter acuh tak acuh melanjutkan hasil pembelajaran praktisnya selama di dalam kamar. “Psst. Tampaknya Peter merasa puas dan menyetujui untuk tinggal di situ selama beberapa hari. domo arigato. “Nihon-go wa wakarimasen… sumimasen!”11 tiba-tiba Peter menyela. pikirnya.pun Peter sudah bisa menarik kesimpulan. apa itu ya.. Wakarimasu ka?”12 “Haik. gadis itu seorang terbelakang mental.” Garsini tersenyum lembut kepadanya. yukkuri. Kebanyakan tamunya adalah turis asing yang berminat merasakan nuansa tradisional Jepang. kami sangat beruntung. Biasanya mereka menginap satu-dua malam sebagai transit. pamer hasil studi kilatnya dari kamus praktis pemberian Garsini. masih dalam perasaan bersalah. sok tahu kamu!” tegur Garsini menatap iba ke arah gadis bertubuh gemuk pendek itu. eh. “Ei-go de hanashite kudasai… yeah. Itu langsung disampaikannya kepada Garsini. Usaha yang sia-sia. kemudian akan melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata lainnya. gadis itu hanya menyahut dengan mengiyakan atau mengangguk. Okusan telah menanti mereka dengan wajah harap-harap cemas. menatap Peter dengan surprise. Ketika keduanya kembali ke depan. 11 12 “Bahasa Jepang saya payah… permisi!” “Tolong bicara dalam bahasa Ingris. seorang militer muda dan punya pengetahuan atau bakat psikolog juga.. Garsini? Yeah. saya mengerti!” 22 . Wajah Okusan merona tapi ia kembali membungkuk. “Jangan khawatir. Okusan dan Garsini menoleh ke arahnya. beautiful to!” Peter mengerling nakal. “Haik!” katanya.

lagilagi mengantar kepergian mereka dengan membungkuk takzim. ini dan ini juga ya…” Ia menunjuk contoh makanan yang dipajang di rak.Garsini menahan tawa. jangan sia-siakan kesempatan selama di Negeri Ninja ini. Apakah dia selalu begitu antusias? “Semuanya. “Kamu mau mencicipi sushi atau kujira?” tanya Garsini ketika sudah sampai di sebuah restoran kecil. Mereka berjalan kaki menuju restoran yang tak jauh dari penginapan. aduuuhhh…” 14 potongan kecil makanan mentah hasil laut di atas nasi 23 . tapi membiarkannya saja. hehhh. hampir saja ia mengucap salam lekum-nya. Semuanya. “Aku mau makan semuanya. Ups. Beberapa menit kemudian. terutama sushi14 dan kujira15-nya. Okusan!” Peter sambil tertawa bandel ke arah pemilik ryokan. hayoo!” “Haik! Haik! Sayonara. “Kami pergi dulu. Garsini melihatnya kepayahan terhuyunghuyung menuju kloset. Kita cari makan di luar. replika makanan itu selalu tampak menggiurkan dan mengundang selera siapapun yang melihatnya. merasa iba juga kepada Okusan. “Jangan pernah lagi ajak aku ke restoran Jepang itu. jangan bercanda lagi. ya?” Peter tertawa lepas dan geleng kepala sesampai mereka di luar. “Sudah. “Kamu kelewatan. “Lebih hormat daripada orang Jawa. pergi ke Yogyakarta dan Bali. yap!” Peter amat bernafsu. semuanya saja!” Garsini menatapnya keheranan. Garsini menatap daftar menunya dengan cemas. kemudian cepat sekali memesan kepada seorang pelayan. gakusei-san. “Tentu saja. Ia pernah tiga kali mengunjungi Indonesia. Mereka betul-betul mau meracuni perutku.” keluhnya. ja mata. Disambarnya lengan sepupunya dan berkata. “Aku mau yang ini. sungguh semuanya?” tanya Garsini minta ketegasan. Ketika ia kembali wajahnya tampak pucat pasi. Sampai jumpa!” balas Etsuko-san. Okusan…” kata Garsini pamitan. “Sayonara. Garsini. masih terengah-engah tentara Kerajaan Belanda itu menunjukkan protesnya.

Tampaknya ia sudah siap bepergian.” sapa Garsini memberi salam. nggak cocok dengan perut mereka! *** Nakajima-san sudah tampak di depan gedung MeSci..” “Tentu saja saya datang. Nakajima-san. Ekor mata Garsini melihat tas berukuran sedang. pikirnya. Lelaki berumur tujuhpuluhan itu menyambut kemunculan Garsini dengan wajah berseriseri. ketika pertama kali datang dan “dijebak” begitu oleh Tasya. “Gozaimasu domo arigato. orang tak dikenal yang ditemuinya di gerbong kereta.” paras Garsini merona dadu. Tapi pujian dari Nakajima-san terdengar tulus di kuping Garsini. Meskipun ia mulai menyadari. terima kasih. betapa mudahnya orang Jepang memuji. “Akhirnya kamu mau datang juga. *** 15 bistik yang terbuat dari ikan paus 24 . dan sebuah bingkisan dikemas dengan kertas bagus teronggok di sebelah lelaki tua itu. bahkan sebelum berhasil menerbitkan memoar yang sedang disusunnya.. “Ohayo gozaimasu16. Mungkin bingkisan spesial untuk cucunya. Nasional Museum of Emerging Science and Innovation. bahkan dari nenek-nenek.” katanya balas membungkukkan tubuhnya. Garsini-san.Garsini menatapnya terkejut dan iba sekali. Setiap kali bertemu Nakajima-san. Opa pergi terlalu cepat. sutekina fuku desu ne… bajunya bagus ya? Ia sangat sering mendengarnya. Aku sempat mengira kamu menolak tawaranku melalui Mayumi-san tempo hari. wah. Dari rekan-rekan Nippon di kampusnya. Usia mereka sebaya kalau Opa masih ada. Ia memang tinggal di kawasan itu. Waah… anatawa kirei desu ne!” “Terima kasih.” suara Garsini agak tercekat. wah kamu cantik sekali. tak menyangka keadaan sepupunya ternyata jauh lebih parah daripada dirinya. ia selalu terkenang akan mendiang kakeknya. Atau. mengenakan pantalon warna coklat tua dan kaos berleher di balik jas wol santainya. Kedua jenis makanan khas Jepang itu memang sungguh-sungguh. Kalimat seperti itu.

Peter memintanya ikut dengan rombongan tur keliling Jepang. berkat rekomendasi Nakajima-san beberapa urusannya di daigaku mendapat kemudahan. yang kerap diakuinya sudah seperti kakeknya sendiri. Mayumi banyak cerita tentang Nakajima-san. Di masa mudanya Nakajima telah membaktikan hidup dan ilmunya sebagai staf pengajar di Universitas Tokyo. aku takkan pergi lama. Di Tokyo lelaki tua itu tak memiliki keluarga lain sejak istrinya meninggal sepuluh tahun yang silam. “Yang penting bisa bertemu Aiko. sahabat Jepun-nya itu. “Yah.Bab 3 “Jangan khawatir.” janji Nakajima-san sungguh-sungguh. Tiba-tiba kakek itu menyerahkan sebuah amplop kepada Garsini.” Garsini mengangguk simpati. cucuku semata wayang… Kau tahu. Hanya beberapa hari. Mereka turis remaja Belanda yang dikenal Peter di hotel. sungguh membuat hati Garsini terharu sekali. putraku Kurasawa seorang eksekutif penting yang sangat sibuk. Pak Nakajima.” tukas Garsini menenangkannya.” janji Nakajima-san. setidaknya sampai Anda kembali akhir pekan…” tambah Garsini. 16 “Selamat pagi. mungkin tiga-empat hari saja. Rekan-rekannya belakangan baru bisa mengikuti jejaknya. Selama ini mereka tinggal di Korea. Sehingga rekan mereka kerap menyindir keduanya sebagai cucu Nakajima. Ketika pensiun ia memutuskan untuk menjadi staf museum sains terbesar di Tokyo ini.” 25 . memanfaatkan fasilitas terknologi terkini di fakultasnya sebelum perkuliahan dimulai. begitu bisa liburan ke Jepang langsung menuju Saporo. “Saya ada banyak waktu musim libur ini. “Ini sungguh tidak akan lama. Ia bisa merasakan kesepian dan kesunyian hari-hari sang kakek. tempat keluarga menantuku. tempat menginap sebelumnya. ia baru teringat lagi kepada sepupunya. Rasa tanggung jawabnya yang tinggi. Tapi sesaat kemudian. Seperti halnya dengan Mayumi. Garsini pernah berhutang budi.

Aaah.“Di sini kutuliskan daftar yang harus kamu pelajari. Kamu mau gantikan aku. “Uji-san…” “Bagiku ini kesempatan sangat baik bertemu anak-menantu dan cucu. Perbedaan pembawaan yang sangat kontras di antara Garsini dengan Mayumi. Mata Garsini terasa menghangat. “Taksinya sudah menanti di seberang. ada apa ini? Garsini seketika merasakan dingin. tak membuat goyah tali persahabatan 26 .” jelasnya tersenyum hangat. Wajahnya yang putih tampak memerah segar. Pak…” Garsini seketika merindukan mendiang kakeknya. Ia bergulung-gulung dan sebentar lagi bisa jadi akan berubah menggumpal menjadi awan. Ya Allah. Begitu sudah ada di hadapan mereka. Teman-teman sebayamu ribut melancong…” “Saya memang tidak punya rencana pergi. “Oh. pikirnya was-was. ia membungkuk cepat. Roknya yang pendek berkibar diterpa angin nakal musim semi. selalu tergila-gila akan segala sesuatu berbau Barat dan serba modern. tanah airnya dan rumahnya di Depok. ya?” tukas Nakajima-san meminta dengan nada tulus. Mungkin aku takkan punya kesempatan lain. Mayumi datang berlari-lari menghampiri mereka.” Ada yang mengapung dari sepasang mata Uji-san. “Kakek. panggil begitu.” katanya terengah-engah. Ada sesuatu yang tak beres. seolah bisa menangkap kerinduan gadis itu. menanti. kuatkanlah hatiku untuk bertahan di negeri orang ini. Uji. juga ada uang saku untukmu. aku berterima kasih kepadamu. itu sungguh membantu mengingat ini musim libur. Ia sudah janji untuk mengantar Nakajima ke bandara. seperti kapas-kapas berarak di langit musim semi. bagaimana kususuri hari-hariku mendatang selama empat tahun? Mungkin ditambah dua tahun lagi untuk program S2 kalau mereka masih memberiku beasiswa. Mereka keluargaku. Ini baru beberapa bulan. Mayumi prototipe gadis Jepang modern. tapi Pak Nakajima…” “Jangan ditolak.

“Sumimasen… maafkan terlambat. lalu seperti Garsini harus menempuh perjalanan dengan taksi dan boat.” sahutnya agak muram. ya Mayumi?” Garsini pernah mampir beberapa kali ke rumah sahabatnya. mau merangkap tugasku dan tugas Pak Nakajima. Jarang sekali museumnya menerima relawan berusia muda. sesuatu yang kadang menggugah rasa ingin tahunya. Dan keteguhan gadis Indonesia itu dalam menjalankan syariat agamanya. Sebaliknya Mayumi juga amat mengagumi kemandirian dan rasa percaya diri Garsini.” ujar Garsini. jengah. gegas meninggalkan rumahnya di Tokyo. Garsini mengagumi bakti gadis itu terhadap ibunya dan seorang kakak lelakinya. Mayumi-san…” nadanya terdengar menegur. tapi tadi sudah janji akan menemui dokter Ikeda di klinik perusahaannya. tapi ditatapnya Garsini dengan hangat. “Yah. Tapi baru sebatas ingin tahu lain tidak. “Belum baik jugakah?” “Okusan keras kepala. kebanyakan para pensiunan dari 27 . Menemukan Mayuko-san sering batuk hingga tampak kewalahan.mereka. “Terima kasih. mengenai teknik pelaksanaan sebagai relawan di museum kesayangannya. “Masih batuk-batuk juga. hingga Mayumi tersipu-sipu. “Bagaimana keadaan Okusan?” tanya Pak Nakajima kali ini terdengar khawatir. “Nanti aku mampir tengah hari. Seharusnya ia yang lebih dahulu menyapanya bukan sebaliknya. Gadis itu bersikeras ingin mengantar Pak Nakajima sampai bandara Narita. ”Oyaho gozaimasu.” Ada kemuraman membersit di wajah porselinnya. Nakajima sekali lagi memberi petunjuk singkat kepada Garsini. silakan kalian berangkat. Janjinya telah dibuktikan dengan bangun di pagi buta. Kita akan punya waktu leluasa mereguk ilmu pengetahuan sepuasnya di sini. tadi saya harus meyakinkan Okusan agar pergi ke dokter. Islam. Baikbaikkah?” “Semuanya baik-baik saja. oke?!” janji Mayumi. ya.” Mayumi berusaha tersenyum riang.

berbagai instansi. “Sayonara. diam-diam dengan ikhlas ia mengucap doa selamat untuk Pak Nakajima. kenapa bukan kemarin ia mendatanginya. Mayumi sudah mewantinya sejak dua minggu lalu. karena daya penglihatannya telah berkurang. Tapi sepanjang hari kemarin ia menjadi guide Peter. sampai jumpa lagi. Kontras sekali. tapi masih dalam bingkai positif. pikir Garsini. Sebab ia sendiri tak bisa merinci apa ketakberesan itu. sambil tetap merasa ada sesuatu yang tak beres. Garsini jadi teringat akan dirinya semasa di Indonesia. Musim libur dan mereka sangat kekurangan relawan. Mayumi mengenakan topeng untuk satu alasan. Kali ini memang pengecualian. merengkuh semua yang mampu diraihnya. mengingat di rumahnya Mayumi begitu santun dan kasih kepada ibu serta kakak lelakinya.” Garsini membalas penghormatan keduanya. Maka. hanya dirinya yang mengetahuinya. Tentu akan berbeda rasanya bila dilakukan lain orang. Entahlah. anak-anak?” tanya Nakajima. taman Ueno dan berakhir di restoran Indonesia. Nakajima-san pakar di bidangnya. Mereka berkeliling museum kepolisian. Garsini agak merasa bersalah. gedung kekaisaran. Mungkin Pak Nakajima tak bisa melihatnya. agar lebih leluasa berkeliling museum didampingi Nakajima-san. Begitu ada kesempatan mengekpresikannya di luar rumah. *** 28 . ia bagai terbang melayanglayang. sudah siap berangkat sekarang. Ia pun sempat mengenakan topeng kepura-puraan. milik seorang artis Indonesia yang menikah dengan pebisnis Amerika. Mayumi kerap mengeluh soal tradisi yang dikatakannya hanya basa-basi tak berguna belaka. “Haik. Akhirnya Garsini melepas kepergian dua sosok dari lain generasi itu. ja mata… Selamat jalan. Garsini menangkap mata indah Mayumi mengerling ke arahnya sambil tersenyum lucu. pengetahuannya sangat luas sebagai insinyur teknik mesin. untuk mengenyahkan dari kalbunya pun serasa tak mungkin.

” katanya sebelum meninggalkan Garsini leluasa berkeliling. hingga banyak mata rantai sejarah yang terputus. Noda-san?” sambungnya sambil mengekeh. Mereguk tak habishabisnya segala pengetahuan di sekitarnya dan menyerapnya sepuasnya. begitulah pakaian wanita Islam. Kamu terlalu cerdas untukku. Entah di mana naskah aslinya itu. Garsini jadi teringat akan penatalaksanaan rekaman peradaban di tanah airnya. berseberangan dengan gerbang selatan kekaisaran. “Haah!” ejek seorang rekan Tom Noda yang menyongsongnya di ujung koridor. terutama ketika sering diskusi sejarah dengan kakeknya dulu. baru sampai generasi para pelaku sejarahnya pun sudah raib. Kini untuk beberapa waktu ia khusus memusatkan perhatiannya berkeliling MeSci. Ia bicara terus-menerus dalam bahasa Jepang. mengamati segala sesuatunya dengan seksama. ya! Dia sama sekali tak aneh. Beberapa lama Pak Tom Noda. Semangat masyarakat Jepang untuk merawat secuil rekaman peradaban sangat tinggi. bawahan Pak Nakajima dengan senang hati mendampinginya. di 5-1. Sudah. jangan ganggu anak jenius kita itu!” tegurnya dalam nada keras. naskah asli Supersemar. Koyabashi 2-chome. istilah sepupunya. menurut data statistik terakhir yang diketahui Garsini. Contoh terakhir yang paling diingat dan amat disesalkannya. “Sekarang lebih baik kubiarkan kamu mengamatinya sendirian. tak heran bila setiap aspek kehidupan di negeri Ninja. “Jangan melecehkan. menerangkan ini-itu. Kemarin siang ia bersama Peter menyelusuri gedung Tokyo Metropolitan Police Departemen. 29 . ada museumnya. tak peduli pendengarnya bisa memahaminya atau tidak. Sangat payah. Bangsa ini agaknya sangat apik dan telaten dalam menata dan merekam alur peradabannya. ya? Apa dia menggigitmu. “Anak jenius apa jenius…” kakek itu masih juga terkekeh-kekeh. Menurut Nakajimasan tadi saat diperkenalkannya kepadaku.Di Jepang ada sekitar hampir lima ribu museum. Chuoku. “Kewalahan juga kau dengan rasa penasaran gadis aneh itu. Makanya. Jangankan untuk generasi mendatang. tak ketahuan rimbanya.

gaul dengan Asep. Al-Munawaroh. itu takkan pernah kembali seperti hari-harinya yang tertinggal jauh di belakang. Ia orang rumah. alhamdulillah… Ia menyentuh saku gamisnya. jaga adik-adik dan hanya pergi ke sekolah. Selama di Negeri Sakura pun ia lebih banyak hilir-mudik “asrama. nyatanya masih santai-santai saja. daigaku dan perpustakaan”. Ada saat-saat menjadi “liar” di luar. untuk melakukan pendekatan dengan Tuan Nyinyir. itulah saat-saat tak terlupakan yang mewarnai masa remajanya. Ia merasa sangat beruntung mendapat kesempatan menjadi relawan di museum ini. Tapi tidak akan. Pok Rinah. Semuanya masih nyata tercetak di memori otaknya. tukang cuci. “Nah. sebagai bagian sejarah kehidupannya. masak. Bila ditambahkan dengan sisa uang saku bulan ini. Bang Tompel. gumamnya. Ditambah uang saku pula. kemudian ia tahu itu lebih baik tersimpan apik di sudut kalbunya. Lagi pula Garsini tak termasuk orang yang suka bepergian. gakusei-san!” kakek yang satu itu. Bahkan ia bisa menambah wawasannya di tengah peradaban teknologi Jepang dari masa ke masa ini. mengamen di KRL. Ia menikmatinya beberapa jenak sebagai penghiburan agar tidak terjebak hilang asa. entah siapa namanya. Tapi gadis berjilbab biru laut itu sama sekali tak memperlihatkan dirinya tersinggung. Akhirnya ia pun menyadarinya. Begitu murah hati Pak Nakajima. hasil baksos binaan Selly dan kawan-kawan. “Cepat. ketika dirinya sangat lelah dari serbuan aktivitas perkuliahan. seharusnya banyak tugas. 30 . ia bisa bepergian ke beberapa lokasi wisata di luar Tokyo. buktikan kemampuanmu. tinggal di rumah singgah. sekarang sudah banyak pengunjungnya!” seru Pak Tom Noda membuyarkan seluruh angan Garsini. Adakalanya muncul sebagai mimpi indah. Selain berisi daftar tugas ada juga sejumlah uang.Garsini tersenyum kecil menguping percakapan kakek-kakek itu. pikirnya. Namun. menyindirnya tajam. Merangkap. setidaknya sampai Pak Nakajima kembali. amplop pemberian Nakajima-san cukup tebal. bersih-bersih. Garsini cepat mengingatkan dirinya agar meluangkan waktu khusus.

Marga T dan Marianne Katopo. Peter sudah menyambanginya ke asrama yang lengang ditinggal hampir semua penghuni. secara to the point menyatakan keheranan dengan busana Muslimah yang dikenakannya. Ia bicara dalam bahasa Inggris yang baik. Tapi pagi sekali. menyambut rombongan demi rombongan yang mengalir bak air bah. Kini ia dengan lincah dan cekatan memandu para pengunjung MeSci. *** Awalnya Garsini hanya ingin membuktikan bahwa gadis muslimah pun mampu meraih banyak prestasi.” sahut Garsini membungkuk sopan dan bergegas ke depan. Disambung dengan boat yang memang sudah tersedia untuk para pengunjung MeSci. untuk mengalihkan perhatian para pengagumnya. Agaknya mereka lebih suka datang setelah makan siang. “Baik.Ia merasa kakek itu hanya caper. karena belum sempat ditegur sapa secara pribadi oleh dirinya. Terpampang indah pula di novel-novel karya penulis perempuan nonmuslim. Atau terang-terangan mengaguminya. tapi ada juga yang usil menggodanya. Sehingga mereka menjadi jengah 31 . Mungkin juga setelah berkeliling museum lain di sekitar Tokyo.Tapi Garsini cepat merespon dengan cerdas serta percaya diri tinggi. Karena letaknya lumayan terpencil di pulau kecil Teluk Tokyo. hanya para gadis nonmuslim yang menduduki jabatan terhormat dan prestasi menakjubkan itu. hal itu serasa merupakan sesuatu yang musykil. Odaiba. Akhirnya ia ditraktir taksi oleh Peter yang urung melancong bersamanya. menjadikan MeSci sebagai persinggahan terakhir wisata museum mereka. diseling bahasa Jepang yang cukup lancar dan mudah dipahami. Dari asramanya ia harus menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan kereta api. Sebab ada banyak contoh nyata. Suaranya yang jernih dan lantang seolah menggema ke seluruh penjuru ruang demi ruang museum itu. Para pengunjung tampak senang dan puas. Di lingkungannya di Indonesia.

robot penghibur. dagadu nih. “Pasti dari Jakarta! Soalnya kelihatan sangat modern. penginderaan jarak jauh. Mungkin anak orang kaya yang lagi libur. semakin mengagumi dan menghormatinya. Bahasa Inggrisnya lumayan juga. menggantikan seorang teman.” cetus seorang ABG putra. Apa di Indonesia sekarang musim liburan juga. kami lagi taruhan nih. belum mengabarinya sejak kepergiannya tiga hari yang lalu.” sambar rekannya. ya kan? Aslinya dari mana siiih?” tanyanya berbisik penasaran. Kalau begitu saat ini mereka sedang midtest. kemudian menghargai kerja keras. ya? Bahasa Inggris dan Jepang Kakak bagus sekali. tapi…” cetus teman satunya pula. Anda sekalian bisa lihat di sekitar kita ini. mengenakan kaos merek yang tak asing lagi bagi Garsini.” sahutnya riang sambil menunjukkan sudut teknologi mutakhir Jepang. Menjadi wakil peradaban di masa depan melalui miniaturnya yang ditampilkan di museum ini…” Garsini berhenti karena ditempel terus oleh si ABG yang pakai kaos dagadu itu. “Hanya relawan. Garsini meliriknya sekilas. malu-malu dalam bahasa Inggris parah yang pernah Garsini dengar. Matanya seolah-olah ingin melanjutkan. “Kenapa sih mesti pake baju dan jilbab kayak gitu? Noraaak!” 32 . Kak. ya? Ucok bilang via email-nya. toh perusahaan dan bisnis warisan sudah menanti. “Kakak sudah lama kerja di sini. tampilan mesin deteksi kode genetik. “Kakak pasti orang Indonesia. “Baiklah. khusus untuk practising English. seperti memprotesnya. Haliza. “Oh. Saudara-saudara… Produk-produk digital memang sangat mendominasi koleksi museum ini. ya!” Garsini tertawa.” demikian Haliza pernah melampiaskan uneg-uneg hatinya.sendiri. “Iya. dibarengi dua rekannya. “Kakak…” tegur anak ABG itu lagi. sekarang sekolahnya memakai sistem semesteran. “Apa pedulinya libur tak libur untuk anak orang kaya? Bahkan lulus atau tak lulus pun sekolahnya. kendaraan imajiner.

mereka yang mempelopori membom kami dulu. adik bungsu Garsini di Depok. “Museum ini dirintis oleh astronout kebangsaan Jepang. Alhamdulillah… *** “Apa katamu tadi. Kini menjejeri Garsini dengan gagahnya bak Gatotkaca tanding laga. Kami senantiasa terbuka untuk memamerkan inovasi-inovasi mutakhir dari masyarakat Jepang…” “Kalau dari negara kami. Karena kami juga tak begitu suka Amerika. Seorang gadis muda kulit putih berambut pirang. “What’s wrong. di Jepang ia tak merasakan kesulitan kaitan dengan status dan busananya.“Gamping Kidul. hemm?” Peter. jeri juga rupanya melihat Peter yang tegap dan kekar bak bodyguard. sikapnya sinis bahkan cenderung melecehkan. Kebanyakan orang Barat cenderung mudah curiga terhadap warga Muslim. Mamoru Mohri. boleh juga kan?” ada yang nyeletuk lantang. Bagaimana dia bisa sampai di sini. pikirnya keheranan. bermata hijau bak mata si Empus. 33 . katanya tampil bareng Joni Ariadinata. what’s problem?!” cecar Nona Mata Hijau penasaran.”Rasanya berbau Yogyakarta tuh…” Ketiga anak baru gede itu seketika menyingkir. entah dari mana kok sudah muncul di belakangnya. di mana pun berada. kata Mayumi. Putu Wijaya dan Sutarji Calzoum Bachri di sebuah SMU berasrama. “Bukan apa-apa. Agaknya kini Mama sudah diizinkan beraktivitas penuh sebagai penulis oleh Papa. Joni Ariadinata. ya Dik? Ia jadi ingat seorang teman sastrawan ibunya. ya. tapi jelas sekali terdengar oleh semua anggota rombongan itu. Syukurlah. hanya masalahnya…” Garsini mengambangkan suaranya yang lembut. “Tentu saja boleh.” Garsini kembali memusatkan pikiran untuk kepuasan para pengunjung. Pasti itu desa orang tuamu. Belum lama Mama menceritakan melalui email. Itu tuh kucing Butet.” Garsini menahan geli kala melihat mata ketiganya membelalak tak percaya. Mereka mendadak berhenti memperhatikannya.

sombong kitu. pemuda yang merepet bicara dalam mega bahasa dunia? Atau gadis belia nan jelita berbusana Muslimah yang selalu tampak sabar.“Urang Amerika sigana mah. tapi sama sekali tak mencomot istilah bahasa Inggris sepatah kata pun. heh…?!” Peter naik pitam dengan wajah merah padam. “Makanya jadi orang jangan arogan begitu. apalagi dalam bahasa dunia yang ditawarkannya. peace. “Iya. langsung membalasnya memaki dalam bahasa Belanda. euy!”17 gerutu Peter perlahan. Kelihatannya orang-orang sudah bisa merasakan. yeah?” seru Garsini menghimbau semua orang. bukan?” ejek seorang lelaki paro baya dalam bahasa Inggris yang betul-betul bagus. oi!” 34 . “What do you say?” sergah gadis bule itu memelototi Peter. Perancis. Garsini cepat menyelinap di antara sepupunya dengan bule yang semakin sarat amarah. siapa yang kampungan dan tak beradab itu. sombong banget. mentang-mentang dari negeri adidaya…” “Hmm. sarat percaya diri dan sangat cerdas menjawab setiap pertanyaan itu? 17 “Orang Amerika kayaknya sih. menyemprot si pirang. Kedua anak muda itu tahu-tahu sudah berhadapan secara frontal. Buktinya gadis bule terlongong kaget dengan mulut menganga lebar. Kemudian mereka kembali bergerak mengamati ruangan demi ruangan. Tak sanggup membalas makian Peter. Beberapa detik suasananya terasa mendadak tegang dan gerah. “Dasar kampungan! Kamu tak bisa bicara bahasa orang-orang beradab. si pirang telah dipermalukan secara telak oleh pemuda berwajah Japanesse tapi mahir berbahasa dunia itu. Kalau begini jadi terbalik. Jerman. “Yeaaah! Peace! Peace…!” sambut orang-orang sambil tertawa dan kembali menikmati suasana sekitarnya. Tak jelas lagi kepada siapa amuknya ingin diarahkan. Diam-diam si pirang masih geram sendiri. please. Spanyol bahkan Sunda. sudut demi sudut yang memang banyak barang teknologi inovasinya. sok menjadi hakim dunia saja!” “Dikiranya cuma dia sendiri yang pintar!” “Peace.

Si pirang akhirnya bungkam seribu basa dan diam-diam menyisihkan diri dari rombongan. malah tertawa simpati. “Apa Anda sekarang membawa contoh teknologi inovatif untuk dipajang di sini?” Gerrr. sampai jumpa di negeri kami.” balas Garsini cepat dikembalikannya tipsnya dengan santun. agar dia mengurungkan niatnya melancong tahun ini. kebapakan. tak terjebak untuk meladeni tawaran kencan siapapun. Sampai selesai memandu. yang memang semakin terasa memanas. Mungkin amat simpati melihat usaha keras Garsini dalam mencairkan ketegangan. Bahkan tawaran untuk mengetahui namanya. meskipun sudah diwanti-wanti keluarga dan teman-temannya. Garsini tak pernah melihat sosok pirang itu kembali. Ia memaksa agar Garsini menerima tips dan kartunamanya. tetap tersenyum hangat kepada Garsini. *** “You look so… great!” lelaki paro baya kulit putih itu mengangguk hormat kepada Garsini saat akan berpisah.Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri. “Insya Allah. mengejar Garsini. “Kalau di negeriku kamu sudah pasti akan mendapatkan banyak fasilitas pendidikan. ini bukan hak saya. Sehingga orang itu tak tersinggung. Lelaki itu tak mempedulikannya. Miss…” Garsini hanya tersenyum samar. terima kasih… tapi maaf. “Masalahnya sepele saja. 35 . “Dia Miss Indonesia!” seru Peter terdengar nyungkun dari kejauhan.” sahut Garsini kalem. Sebagai gadis Amerika yang bersikeras melancong ke Asia. Asia. ada banyak teroris! “Apa masalahnya?” cecar si pirang masih merasa penasaran. ya. seketika rombongan kembali tertawa riang.” pria sebaya ayahnya itu segera bersikap bijak. “Terima kasih banyak.

Saya sedang menjadi dosen luar biasa selama satu semester di Universitas Keio. Sekilas mata Garsini membaca kartunama bagus di tangannya.“Kamu memang mengagumkan.” pujinya tulus memberi penghormatan terakhir sebelum berlalu. Apa peduliku. Perancis. Profesor Charles del Pierro. *** 36 . tulisnya di belakang kartunama itu. Miss Indonesse…” ujarnya dengan tatapan semakin mengagumi. “Kalau-kalau suatu hari kamu membutuhkan bantuan negaraku. pikir Garsini dan apa maksudnya ini? Tapi entah mengapa ia kemudian menyimpan benda itu di saku gamisnya. guru besar sejarah dan filsafat dari Universitas Sorbone. Ia berhasil menyelipkan kartunamanya ke tangan Garsini dengan sangat santun.

mereka orang Barat dan Amerika!” “Apa salahnya dengan orang Barat dan Amerika?” Garsini agak tak enak mendengar sikap Peter yang terasa sinis. “Sumimasen. Tapi gadis Jepang itu seperti sudah terbiasa suka terlambat setiap kali mereka janjian. Terbayang wajah Nakajima-san yang begitu merindukan keluarganya. “Jadi?” Garsini menatapnya khawatir. Nakajima-san urung naik pesawat.” sahut Mayumi dengan wajah merah bak buah tomat. Entah apa! Bayangan Mayumi berkelebat dari lantai bawah. seharusnya Mayumi segera kembali sesuai janjinya. memuakkan!” sungutnya geram dan ia balik menatap Garsini. apa dia pikir dirinya bukan orang Eropa. “Nonsens.” “Ah!” sungutnya geleng kepala. ”Kamu tahu. terlalu baik hati!” gerutu Peter dengan mimik tidak senang. adikku?” “Mau tahu jawabannya?” Garsini melangkah kembali ke dalam. Broer? Apa kabar Tante Arnie? Seketika Garsini merasa Peter bukan sekadar berlibur datang ke Negeri Sakura ini. ada sedikit masalah. baiklah kau bisa istirahat sekarang. apa itu agama?” Astaghfirulahal adziiim. “Apa itu?” Peter mengejarnya. kenapa kamu memiliki hati bak pualam begitu. “Terpaksa pakai kereta di Tokyo Eki… Nah. Ha. “He. Jadwal tugasnya hampir usai. apa itu iman. Ada sesuatu yang ingin dicari oleh anak muda itu. langsung menghampiri Garsini dan meminta maaf. Apa yang telah kau dapatkan selama hidup di Eropa. gumam Garsini sambil menatap wajah sepupunya dengan amat iba dan prihatin.Bab 4 “Kamu… ugh. “Iman dalam Islamku menghalangi diri ini agar tidak membenci siapapun. menuju lantai dua. “Mereka sungguh arogan. ya? Padahal belasan tahun mukim di Holland bahkan kini sudah menjadi warganegara Belanda. Garsini belum 37 . tak kebagian tiket…” lapornya tersengal-sengal.

Garsini penasaran dan melongok ke balkon melalui kaca jendela. diantarkan oleh beberapa staf museum mengucapkan rasa terima kasih dan salam perpisahan. setengah berseru dan mengeluh menepuk jidatnya.sempat memperkenalkan sepupunya kepada gadis itu. surprise. joint us!” “Jangan biarkan mereka menggantungku. “Kamu… Kenapa sendirian di sini?” desisnya memandangi wajah Peter lekat-lekat. “Kami mau Takeshiii! Mau Takeshiii!” “Takeshiiii. Tiba-tiba sayup kupingnya mendengar keributan dari bawah. ada apa denganmu. “Ada apa sih di bawah sana?” gumamnya bingung. Peter tampak masih menahan kesal. tak paham dan bingung. Ia merandek urung mengamati suasana di bawah. spanduk sambil terus meneriakkan yel-yel. Ia tak mempedulikan tatapan takjub dari Mayumi. Mereka tengah berada di lantai dua terhalangi oleh kaca pembatas balkon. “Kamu ini kenapa mendadak aneh begitu?” “Ugh. Rombongan turis sudah bubar di luar. “Pantas mereka histeris begitu…” Garsini mengerutkan kening tak paham maksud sahabatnya. come oooon. apa yang terjadi di bawah sana? Dari mana datangnya rombongan kawula muda itu? Para remaja dan pelajar telah berkerumun dan menjerit-jerit histeris. bersembunyi di belakang punggung sepupunya. Mayumi-san?” sergahnya. Garsini geleng kepala kian penasaran. Ups. tertarik untuk memperhatikan sepupunya. “Hei. Mereka mengacung-acungkan pamflet. Sebab Mayumi keburu tertegun dengan mata terbelalak. matanya kini dilayangkan keluar jendela balkon. “Sejak kapan kamu kenal selebritis?” balik Mayumi bertanya. “Psst… kalo ngomong hati-hati dong! Ini kita lagi di Jepang. please…” Suara Peter setengah memohon. Garsini balik heran dengan gerak-gerik Mayumi yang juga aneh. terusmenerus memandang kagum ke arah sepupunya. Broer!” tegur Garsini mengingatkan. Kepala Garsini mulai pening. anak-anak Nippon itu sudah sinting!” Peter tiba-tiba bagai baru teringat kembali. Garsini. Dipandanginya Mayumi yang 38 . Dibarengi oleh Peter yang mendadak seperti gelisah.

mulai dari pengalamannya sebelum sampai di tempat itu. Peter membelalak. aha! “Bukannya menolongku malah menertawakan… Ugh. Rombongan itu kian bertambah dari saat ke saat hingga ia nyasar ke museum MeSci. ”Kamu penyusup. mendadak ada serombongan remaja yang mengejar-ngejarnya sambil meneriakkan yel-yel. ia mulai memahami duduk persoalannya berkat tudingan Mayumi dalam bahasa Inggris. Takeshi Kaneshiro…!” cerocosnya pula dalam bahasa leluhurnya yang kental. tahu!” gerutu Peter sambil menggaruk-garuk kepalanya yang cepak. Peter baru saja melepas topinya. membayangkan Peter dikejar-kejar dan merasa dirinya seperti maling di negeri asing. “Sebentar. nggak ada yang lucu. para mahasiswi asing seperti kamu!” cerocos Mayumi semakin sengit. Beberapa saat Garsini terpingkal geli. Hingga tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum simpul. ya? Kamu peniru bintang idola kami. “Euleuh-euleuh. ternyata Tante Arnie 18 “Aduh-aduh. nei! He. Garsini? Kenapa dia begitu aneh kelakuannya? Bantu aku.masih mengamati sepupunya dengan begitu cermat. boro-boro hayang seuri siah!”18 sungut Peter lucu membuat Garsini kembali terpingkal geli. I’m verry verry sorry…” ucap Mayumi sambil membungkukkan badan berkali-kali. Mayumi-san!” “Bagaimana sudah salah paham? Aku tahu persis lelaki macam begini. ngomong apa cewek ini. Tentara Kerajaan Belanda berpangkat Sersan. boro-boro kepingin ketawa lo!” 39 . “Siapa kamu?” tudingnya tiba-tiba kepada Peter mendadak berubah ketus dan galak. “Nei. hingga Mayumi kini semakin jelas bahwa dia bukan orang yang dimaksud. Ketika celingukan itulah. Sekaligus senang. Garsini!” seru Peter dengan wajah merah padam. sebentar… kamu sudah salah paham. Bergaya bintang film untuk menipu gadis-gadis lugu. Ia terpisah dari rombongan turis Belanda yang diikutinya. *** “Sorry. Cepat-cepat dijelaskannya kepada Garsini.

“Kamu bisa menginap di rumah kami selama liburan. Ini hari kelima Garsini bekerja sebagai relawan 19 leluhur 40 . Hari itu mereka kembali ke Tokyo bertiga. aku betul-betul akan pensiun dua kali. Di Jepang orang masih sangat menghargai arti keamanan. berkemaskemas untuk pulang.” keluh Matsua-san. “Huuu… memangnya siapa sih si Takeshi itu?” berungut Peter. “Aku sudah bicarakan ini dengan ibuku dan dia setuju. “Bintang film Jepang yang lagi diidolakan para remaja.” sahut gadis itu singkat. Apalagi ketika terdengar suara sirine mobil kepolisian yang sempat dipanggil pihak keamanan museum. lho!” *** “Kalau begini. Mayumi memaksa untuk mentraktir makan malam sebagai ucapan rasa terima kasih dan penyesalannya. nanti ada orang jahat menyerobot. “Di asrama kamu cuma sendirian. undang-undang. Dalam sekejap sudah tak tampak lagi orang berkerumun di areal yang sama. “Karena aku bukan anak gaul. bahwa yang mereka lihat bukan orang yang dimaksud. sementara rekan-rekannya tak henti melontarkan pengaguman dan pujian kepada Garsini. Ah. Para staf menjelaskan kepada kawula muda itu. ketertiban dan disiplin untuk mematuhi peraturan.tak lupa mengajari putranya bahasa karuhun19 mereka.” jelas Mayumi. Dalam hitungan menit kerumunan di bawah pun bubar bertemperasan.” kata Mayumi. Mereka sedang istirahat setelah menyelesaikan tugas hari itu. Garsini. kakek ceriwis itu. Garsini?” tanya Peter menatap sepupunya keheranan.” “Bagus!” sambut Peter senang. tapi kenapa Tante Arnie lupa mengajarinya agama? Keributan di luar akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. “Kok kamu nggak tahu itu. Satu pelajaran berharga yang bisa segera dipetik Garsini begitu sampai di Negeri Sakura ini.

kalau tak ingat itu kesayangan Pak Matsua.” celetuk Matsua-san. Nak…” Garsini tersenyum lembut dan ikhlas.” ujar Garsini kepada mereka sebelum berpisah. “Apa kamu tidak baca koran hari ini. kata Mayumi bila sudah jengkel sekali dengan perkataan tajamnya. Jangan-jangan sebentar lagi si Robocop bakal lenyap dari MeSci.” kata Tom Noda sambil berjalan ke luar. Matsua mantan veteran perang yang telah banyak kehilangan. jangan dengarkan dia ya. Tom Noda-san memelototinya. Tubuh kecil Matsua berusaha mengimbangi kesigapan jalan rekannya. Terutama Robocop-nya. Ternyata Mayumi hanya pada hari pertama saja bisa menemaninya. Garsini membiarkan kedua sepuh itu berjalan di depannya.”Jangan begitu!” tegurnya dan tersenyum minta maaf kepada Garsini. Kedua kakek ini tinggal di kawasan museum sedang lainnya harus menyeberang dengan boat ke kota. Tom Noda-san dan Matsua-san. Tinggal dua orang stafnya. Selebihnya Garsini berjalan sendiri menunaikan tugastugasnya di museum ini. Garsini-san?” “Hah! Mana sempat dia baca koran? Kerjanya cuma mengotak-atik teknologi inovasi di ruang milik Nakajima-san itu.”Sudah. Setidaknya sampai Nakajima-san pulang dari Saporo. tentu sudah lama saya gondol ke negeri saya…” “Di mana negerimu yang aneh itu?” Matsua-san kali ini tertarik. biarkan saja. Kalian pernah menjajah kami selama tiga setengah tahun. Saya sangat tertarik dengan penemuan-penemuan baru di ruangan itu. termasuk wilayah Asia Tenggara. Si Lidah tak bertulang yang tak punya kerja lain kecuali menikam anak-anak muda. “Saya akan kembali hari Senin.”Pak Matsua sungguh benar.”Tidak apa-apa. “Dia tidak akan pulang besok. Garsini sudah tahu sedikit ikhwal Matsua dari Tom Noda.” katanya kalem. “Indonesia. Lainnya sudah bubar sejak beberapa menit berselang. Keluarganya tak 41 . seperti biasanya nyinyir dan sinis. ingat?” “Oooh…!” Ada yang terbanting dari atas kepala bulat yang sering terangkat angkuh itu. Kudengar ada taifun di Selatan.menggantikan Nakajima-san.

Detik itulah ada ikatan yang menghubungkan mereka. kenangan dan kepedihan. “Kamu takkan mengerti kesulitanku. kumohon jangan bicarakan ini lagi. dan tempat apa itu?” cecarnya ingin tahu. Awal persahabatan yang terjalin dengan cara unik.” “Apaa?!” Garsini kaget. “Aku kan tak bisa mendapatkan beasiswa seperti dirimu…” “Jadi kamu sekarang bekerja. kalau mampu tentu Mayumi juga bisa mendapatkan beasiswa itu. “Tapi kenapa mesti kerja di tempat seperti itu. “Jangan bilang ini kepada ibuku. hiburnya sendiri. bekas penjajah dan bekas jajahannya.” kata Mayumi.tersisa lagi satu pun. sudahlah. please…” pintanya memohon. ya?” “Begitulah. Tapi demi ibuku yang mengharapkanku jadi sarjana. *** “Aku harus cari tambahan uang saku untuk bantu keluarga. Sebab mengaitkan sejarah kelam kedua bangsa. yah.” “Kurasa kamu terlalu rendah hati…” 42 . please…” Kerap ada nada getir di sana. please. Garsini dengan Matsua-san. akibat keganasan bom yang dijatuhkan Sekutu di kampungnya Hiroshima. kujalani juga dengan susah payah. yang datang atas beasiswa pemerintah Jepang.” suaranya sesaat terdengar rapuh dan sarat permintaan maaf. di kemudian hari ternyata masih ada yang tersisa dan tumbuh dengan baiknya. Garsini bahkan sempat menangkap rasa iri gadis itu akan keberuntungannya sebagai mahasiswa asing. Bukan salahmu. persahabatan nan indah. “Klab malam para eksekutif di kawasan Ginza. Ironis memang! “Sumimasen… aku tidak tahu kau gadis Indonesia.” “Di mana?” “Blue Diamond. “Tidak bisa. Padahal ketika itu Matsua sedang berjuang keras mempertahankan jajahannya di negeri seberang. Di atas semua kepedihan dan sejarah kelam itu.” “Di mana. Mayumi?” gugat Garsini. Sebenarnya aku enggan melanjutkan kuliah.

Sebaliknya Mayuko-san. Makanya jurusan yang kuambil pun hanya sastra. Mayumi memang selalu santun dan menghormatinya. “Aku tidak sepandai kamu.” penghiburan yang disampaikan dengan lembut dan tulus itu membuatnya tersenyum kembali. Selalu repot saja rasanya. Aduh. kakak semata wayangnya pulang kemarin. siap menerkamnya kapan saja. Untuk beberapa saat kebekuan menyelip dan itu sungguh tak mengenakkan. Garsini merasa tidak nyaman. seandainya saja aku memiliki otak sejenius kamu…” Kalau sudah sampai di situ percakapan mereka. Garsini sampai gemetar mendengar keketusannya. Mahasiswa ekonomi sebuah universitas swasta itu menyambut keberadaan Garsini dengan mulut tajam. serta mau bersabar menjadi pendengar yang baik. menerima kehadirannya dengan senang hati. “Mungkin ada tugas penting. perempuan sebaya ibu Garsini. Seolah-olah sarat nafsu dan hasrat. tenanglah. belakangan ia semakin sulit diajak berbicara. Akira. Okusan. Garsinisan. “Buat apa kau bawa gadis asing. Mayumi?” sergahnya begitu mengetahui status Garsini di daigaku Tokyo. entah apa yang dikerjakannya di luar sana.” hibur Mayumi. terasa ada jurang yang dalam di tengah keduanya.Mayumi dengan murung menggeleng. Dia hanya lagi kumat iridengkinya saja. Namun. mengancamnya. Mayumi telah berlalu dan tak mempedulikan gerutuan ibunya lagi. “Mayumi. “Tidak. 43 . terutama sorot matanya yang bak mata elang itu. Ia bahkan lebih menganggap Garsini sebagai teman curah hati daripada sekadar tamu putrinya. sejak kedatangan Akira ke rumah keluarga kecil itu. Ia mulai mencari akal agar bisa keluar dari rumah sahabatnya dengan baik-baik. itu tak dihargai mereka. Ya. Kau tetap tidur bersamaku. perampok hak kita ke rumah ini. Mengingat perilaku Garsini yang bijak dan tegar. tanpa menyinggung nyonya rumah. Namun.” keluh Mayuko pagi itu ketika sarapan. Garsini. kakakku bukan orang seperti itu. betapa tak enak mendustai seorang ibu yang amat mempercayai kedua anaknya secara meyakinkan ini.

“Kami senang Garsini-san tinggal di rumah ini…” Naaah kan. Nak…” Okusan tergopoh-gopoh mengambil makanan lain untuk putranya tercinta. “Apa Okusan sudah bosan dengan kami berdua?” tukas Akira ketus sekali dan terasa sangat menusuk hati. belum cuci muka dan gosok gigi langsung bergabung untuk sarapan. jangan bicara begitu. termasuk kepada Garsini bila mereka berbincang. Hingga Garsini bisa membaui hawa tak sedap meruap dari tubuhnya yang tinggi kurus. Masih ada gamang di hatinya. hemm?” tanya pemuda itu tiba-tiba. selalu ini ke ini saja.” tegur Mayuko lembut sambil tersenyum minta pengertian Garsini.”Jangan bicara begitu di depan tamu kita. Sebelum dijawab Akira mengamati hidangan di depannya. “Mentang-mentang dari universitas terkenal tuh.” Okusan kembali bergabung dan meletakkan sepinggan makanan kesukaan putranya. maunya jadi anak Okusan juga. Garsini tersedak dengan wajah pucat pasi. sungguh telah tuluskah Papa mengasihi diriku? “Kapan kamu pergi dari rumah kami. “Sumimasen… Apa Kakak mengusirku?” tanyanya sesaat secara kilat mereguk minumannya. Anakku. “Tenang. Anakku…” “Sudah. reflek pula menyingkirkan mangkok makanannya. Bahkan hingga saat-saat terakhir keberangkatannya ke Jepang. ada sesuatu yang spesial kusiapkan untukmu. secepatnya meninggalkan rumah sejak kedatangan kakaknya. Putra yang selalu dibangga-banggakannya kepada siapapun.” ejeknya diarahkan kepada Garsini. “Huuu. Hingga kerap Garsini merasa tak enak hati. “Akira. Apa tidak ada makanan lainnya?” tanyanya ketus tanpa sopan santun sama sekali. aku mau makan sendirian di sini!” usir Akira tanpa perasaan. di mana nama putrinya tersimpan di hati Mayuko? Pilih kasih yang selalu mengingatkan Garsini akan traumatisnya sendiri di masa kecil hidupnya. jangan ganggu. 44 . “Oh. Okusan?” Akira baru muncul dari kamar.“Sarapan apa kali ini. di mana penganan itu disembunyikan saat Mayumi hendak makan tadi? Pantaslah Mayumi kian suka bepergian.

jadi masih ingat wajahnya… Bahkan suatu saat dia bertekad untuk menyambanginya ke istananya!” Lelaki itu sudah memiliki istri dan anak ketika bertemu dengan Mayuko. Di mana sesungguhnya pria yang seharusnya bertanggung jawab akan segala kesulitan keluarga itu? “Dia seorang pejabat tinggi.” gerutu Mayumi suatu kali. “Maafkan dia. ini Tokyo. “Baiklah. Okusan kali ini tidak menolaknya. Wajah Okusan yang bingung.” ujarnya malu-malu dan cepat menyembunyikan uang itu ke saku gaun rumahnya. tapi Okusan tak pernah mau bilang di mana keberadaannya kini. Detik ini betapa ingin Garsini memeluknya erat. tak seperti saat pertama kali Garsini melakukan serupa. Dia lelaki tak bertanggung jawab. tak berdaya dan tampak ringkih itu. Nak. Diantarnya Garsini sampai teras. cepat menyingkir tanpa bicara sepatah kata pun. Terutama anak-anak dan… argh! 45 . Kisah selingkuhan begini selalu mendatangkan banyak kerugian di berbagai pihak. aduuuh. Kak Akira lumayan sudah tujuh tahun. ya?” kata perempuan yang pernah bekerja menjadi geisha di masa mudanya itu. Garsini mengangguk maklum.Okusan sesaat merasa bingung. ini untuk belanja besok. Jadi kemungkinan tak pulang ke sini. Ia menyelipkan sejumlah uang ke tangan wanita itu. Garsini yang paham suasananya. Kini ia buruh sebuah pabrik elektronik di luar kota. selalu waspada. “Kalian tak pernah bertemu?” “Aku masih bayi ketika dia pergi. sejak datang uring-uringan terus. ”Nanti malam saya ada acara dengan sepupu. kemudian disentuhnya pergelangan tangan Okusan. sungguh! Mengingatkan Garsini kepada Mamanya sendiri. Tapi ia sungguh tak berdaya. Okusan. boleh ya?” katanya santun. “Nah.” kata Okusan ketika mengantar Garsini berangkat. malu dan iba kepada Garsini. bahkan sekadar membela gadis itu. Aku hanya mengenalnya dari potretnya. hanya menginginkan Okusan ketika masih cantik dan segar. ya Nak. Mungkin karena kami belum bisa membekalinya sejumlah uang yang diminta.

*** 20 “Tolong antar saya ke Sendai…” 46 . Tubuhnya seketika terasa dingin. Bagaimana seandainya hubungan itu berbuah dan Sintia mesti menanggung aib itu. “Sendai made itte kudasai…”20 katanya sambil menghenyakkan tubuhnya yang letih di jok belakang. seorang diri? Pikiran itu membuatnya gelisah dan ia cepat menghentikan sebuah taksi yang melintas di depannya.Tiba-tiba Garsini teringat kembali affair ayahnya dengan Sintia.

Pak. saya ada bersama seorang teman gantikan tugas Ojirasan. “Iya. terasa senyap. Nona mahir sekali taekwondo…” tiba-tiba seorang rekannya muncul. kembali mencarternya dan minta diantarkan ke lain arah. Taksi berhenti di depan asrama putri daigaku Tokyo. Suatu pemborosan sia-sia hanya dilakukan orang yang sedang bingung.” katanya seperti bisa membaca pikirannya. Ojira-san yang baik hati di sini? “Tidak. Hanya dirinya dan lelaki muda itu yang tinggal di sini. berapa harus saya bayar?” Terdorong rasa iba agaknya. Bukankah ada satpam. berhenti sebentar di suatu tempat. Ia melihat ke sekitarnya. Gadis ini telah memintanya diantar ke Sendai. Tolong. entah dari mana. Sopirnya seorang lelaki tua dan mengerling khawatir ke arah Garsini. “Apa tidak takut sendirian di situ? Bagaimana kalau ada orang jahat menyerobot ke dalam kamarmu?” Garsini melambai mengisyaratkan agar tidak perlu mengkhawatirkannya. sopir itu menyebutkan separuh harga dari tarif resmi. “Sungguh mau turun di sini. di sinilah saya tinggal. Ini bukan kali pertama dirinya tinggal di asrama sendirian. Garsini menyodorkan ongkosnya dan mengucapkan terima kasih.” kata seorang rekannya. menyambut Garsini dan membukakan pintu untuknya. “Dan kami tahu. Nona?” tanyanya seperti meragukan permintaannya. “Jangan khawatir. Kenekatan para kriminal yang menyasar ke kawasan asramanya.Bab 5 Malam mengapung di musim semi Negeri Sakura. Meskipun rekanrekannya sudah sering kali mengingatkannya tentang kemungkinan itu. “Tapi gakusei-san…!” serunya masih menanti kalau-kalau gadis berbusana aneh itu mengubah keputusan. Beberapa detik jantung Garsini seakan berdegup kencang. Degh! 47 . uuuh. begitu senyap dan lengang. sampai hari Senin Ojira-san takkan bertugas jaga malam di sini.

membalas salam selamat malam keduanya dengan santun. konbanwa Miss Indonesu…” Garsini hanya tersenyum samar. Begitu pula taksi yang mengantarnya tadi. Begitu banyak nikmat-Mu yang telah Engkau curahkan kepada hamba. Garsini yang berada di samping gadis Malaysia itu. pekiknya dalam hati. 48 . oh. Bagaimana kalau kedua lelaki ini mengcincarnya. “Sungguh. Allah. sungguh Maha Pengasih Engkau. Satu malam pun telah berlalu dengan sempurna. Air matanya berlinangan menyambut awal pagi yang baru. Alhamdulillah. Sejak saat itu seluruh penghuni asrama mengetahui. entah sudah sampai di mana saat ini. Garsini seketika merasa telah terjebak di dunia asing. Yoshirosan?” “Yentu saja begitu. Demikian selalu kata Mama dan ia sangat meyakininya. Sagura-san.Garsini ingat kepada lelaki bertubuh kerempeng ini. tidak. *** Garsini terbangun oleh dering weker yang distel tepat waktunya untuk shalat subuh. Begitu kan.” kata pemuda yang pertama muncul. Seorang diri. dirinya seorang taekwondoin handal dari Indonesia. Allah. percayalah kepada kami. tapi… sudahlah! Telanjur. Baiklah. terdengar misterius di telinga Garsini. Dia kan lelaki yang suatu hari pernah mencoba melecehkan Haliza dengan mencolek pipinya. “Kami selalu hormat kepada gadis yang mahir ilmu beladiri. ah. masih di musim semi yang memberi banyak semangat dan harapan kepada dirinya. karena merasa dipermalukan dan ingin balas dendam? Seharusnya ia lebih berbaik hati. langsung menggebraknya dengan satu jurus taekwondo andalannya. tapi akhirnya tertidur juga setelah melakoni shalat lail. meskipun dalam hati mendadak ada bimbang. Benar saja. Berdua berpelukan sambil terkekeh-kekeh. senantiasa ada cahaya Ilahi di mana pun dirinya berada. Tak ada kejadian apa-apa selain sekitar dua jam ia tak bisa memejamkan mata. bisiknya kala bersujud mencium sejadahnya. sosok tegap bertato di lengan yang tampak kekar itu telah lenyap di kegelapan.

Aku tak sempat berpikir kalau kamu berani tidur di asrama malam tadi. Ia bisa saja membeli benda itu kalau mau. Kupikir kamu jadi menginap di rumah. aku masih segar bugar.Nikmat-Nya mana lagi yang tak tercurahkan kepada dirinya? Bahkan baru saja Sagura-san mampir. Ia harus mampir ke rumah keluarga yang baik hati itu nanti. bukan gadis Arab melainkan Muslimah Palestina. Ia tidak memiliki HP sampai saat itu. menanyakan keadaannya dan mengantar titipan penganan dari istri Ojira-san untuknya. hei? Kamu tahu. Hanya karena ingin mengirim sedikit dari sisa uang saku per bulannya untuk kedua adiknya di tanah air. tapi begitu hemat dirinya. sebab belum punya waktu untuk mampir ke apartemennya. Garsini baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Mereka langsung menjadi akrab berkat simpul kasih Islam. seperti komunitas Rohisnya di F-Mipa UI dulu. Inikah buah iman sebab shalat duha yang telah kulakoni beberapa menit lalu. Ayyesha mengajaknya bergabung dengan kelompok kajiannya. menanyakan dirimu. “Be calm please. 49 . “Lagi apa kamu dan ada di mana?!” seru suara cemas di telepon. untuk lebih menguatkan lagi ukhuwah mereka. alhamdulillah…” “Apa itu. Ini sungguh membuat Garsini tertegun dan semakin mensyukuri nikmat Allah. Garsini merasa surprise dan senang sekali bisa memiliki kelompok kajian. “Aduuh! Sendirian ya? Kamu ini sungguh menantang bahaya!” umpat Mayumi. siapa itu temanmu gadis Arab?” Ayyesha yang dimaksud Mayumi. Ya Robb? Kriiing…! Garsini tergopoh-gopoh menghampiri telepon di ruang depan. Sayang sekali ia terpaksa harus menangguhkan kunjungannya. sepanjang malam sepupumu menelepon ke sini. “Baru sarapan di kamarku di asrama…” Garsini menelan sisa bubur ayam lezat bikinan istri Ojira-san di mulutnya. Meskipun seluruh temannya hampir tak ada yang tidak memegang HP.

tabah. aku merasa demam tinggi. dan katamu selalu mencurahimu berkah dan hidayah-Nya itu!” erang Peter bergetar bak tengah terserang gigilan hebat. hallo…” 50 . ya Broer. sebentar…” Garsini menanti dengan berdebar. menurut Mama adalah pelita hati wanita super enerjik di suatu hal. menyambut kedatangan rombongan para pengungsi Palestina. “Baik. tolong ceritakan apa yang terjadi denganmu?” “Aduuh. “Peter. tapi rapuh di beberapa hal lainnya itu. kurasa sepupumu itu aneh. di mana dia sekarang?” Garsini baru teringat lagi akan sepupunya yang melancong bersama rombongan turis Belanda. please…” pintanya memohon. kedengarannya dia ada kesulitan dan butuh bantuanmu. Garsini. tapi tenang. ya Garsini-san. “Moshi-moshi…”21 Peter. bingung dan takut. Peter menyebutkan sebuah alamat hotel kecil di Hiroshima. insya Allah aku akan berusaha membantumu. Garsini. Kumohon kamu harus tenang. Garsini. rasanya aku mau mati saja… cepatlah ke mari. Eeh. please.Kemarin petang Garsini datang terlambat satu jam. “Datanglah ke sini. Ayyesha sudah berangkat lebih dulu bersama kelompok kajiannya ke Okinawa. hmm. please… Demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Mereka hendak melakukan baksos di suatu tempat di Okinawa. Rencananya ia 21 “Hallo. Mereka keliling Jepang dengan kereta peluru “Katanya terpisah dari rombongan turisnya. rasanya kamu jadi kebiasaan terpisah dari rombongan. Sorry. Bagaimana kalau terjadi sesuatu atas diri sepupunya itu? Putra semata wayang Tante Arnie. ya? Sejurus kemudian terdengar suara Peter yang gugup. *** Setelah sepanjang siang itu bersama Mayumi berusaha keras mendapatkan kartu pas kereta peluru. Sehingga hati Garsini tercekat dan jantungnya berdebur keras.” bujuk Garsini jadi ikut gentar. Parah sekali. Garsini hampir menyerah. baik sebentar kusambungkan kalian. “Iya.

Kalau pakai pesawat uangnya tak mencukupi. pulang saja!” Garsini menarik lengan Mayumi menuju stasiun terdekat. Mayumi seperti bisa menebak pikirannya. ia menemani Mayumi untuk menemui beberapa orang penting. Arakan kapas di langit masih berwarna putih. saat-saat begini tentu saja sedang bekerja keras di pabrik. ya!” Mayumi menyatakan rasa penyesalannya yang dalam. Gerah. Brengsek sekali tua bangka itu. Jadi. kata Mayumi. jangan teruskan!” kesah Garsini begitu keluar dari pintu terakhir yang mereka singgahi. Itukah rumah geisha. melalui ucapan yang miris di kalbu. “Lelaki-lelaki di dalam itu… aduuuh! Beraninya kamu mengajakku ke situ. Mereka kenalan Okusan dulu. tertawa sarkastis kemudian berkata tajam. Polusi apakah yang ada di pabrik itu. “Ibuku pasti senang kalau lihat kemunculan kita yang tiba-tiba macam tadi. karena tanpa mereka sadari telah berjalan amat jauh. Mentari musim semi terasa tak hangat lagi.akan menuju Hiroshima dengan kereta peluru itu agar cepat sampai. Teringat ibu Mayumi. Beberapa malah sempat melecehkan kedua gadis itu. menggigit ubun-ubun. tapi ternyata tak ada seorang pun yang mau mempercayai ucapannya. Garsini masih melihat ekor mata sahabatnya menatap geram ke belakang. tempat dulu Mayuko-san bergelimang nista? “Ayo. Kenapa tidak sekalian ditawarkan saja kepada para lelaki hidung belang itu…?” “Mayumiii! Itu sama sekali tak lucu!” sergah Garsini dengan wajah mengeras. Untuk beberapa lama tak ada yang bicara. Ia tak ingin Mayumi larut dalam rasa malu mengingat aib masa lalu ibunya. hingga Mayuko-san semakin parah batuknya? Kedua gadis itu sudah menaiki kereta kembali ke Tokyo Eki. Secuil pengalaman tak nyaman itu. betapapun telah membekaskan luka di hati 51 . “Sudah. Mayumi!” “Sumimasen… Aku juga tak mengira begitu kejadiannya. Sehingga baru mereka sadari lagi kala sudah berada di luar kota. tapi sudah bersemu kelabu.

ia tak melihat apa-apa selain gurat kecewa di wajah bak porselin itu. “Apa tak ada yang beri informasi kepadamu dulu?” cecar Mayumi. Rasanya sama saja kalau urusan padat pepatnya. Garsini belum delapan belas sedang Mayumi sembilanbelas. Itulah yang jarang dilihat Garsini di KRL Depok-Kota. tapi baru sebatas di mulut. Secepatnya. Luka hati mereka mengenang para wanita. Namun. “Yah. Kalaupun ada perbedaan mencolok adalah perihal perilaku kebanyakan para penumpangnya. Ia baru mengetahui sekarang. Garsini menggeleng. Papa. *** Suasana di kereta sedang jam-jam sibuk. Keluarga. Sekalipun Mayumi selalu gembar-gembor tentang kebebasan yang ingin diraihnya. rasanya hanya benda itu yang bisa membawanya ke sisi sepupunya. keluhnya. buku. betapa sulit mendapatkan kartu pas agar bisa naik kereta peluru. pendeknya bacaan. Padat sekali oleh penumpang. kaumnya yang pernah terjebak di rumah geisha itu. Keduanya masih terbilang remaja belia.keduanya. Dan begitulah agaknya dirinya tercipta! 52 . Otak Garsini mendadak dipenuhi macam-macam pikiran. Kartu pas itu. Garsini menangkap rasa jengkel dalam nada suara sahabatnya. turis asing dan diperoleh dari negara asal mereka. seribu pikiran segera raib tersilih oleh satu titik persoalan. Selly. entahlah…” Garsini angkat bahu mulai jenuh dan lelah. Apa bedanya dengan saat menaiki KRL Depok-Kota. Mama. Ia bahkan hampir tak ingat lagi hal-hal tetek bengek saat keberangkatannya. “Kenapa kamu baru tahu sekarang?” Mayumi buka suara kembali. majalah. Di mana-mana orang Jepang memegang koran. Mereka masih amatlah lugu dalam hal perikehidupan. pikirnya. Namun. Sintia. Ternyata kartu pas itu hanya diberikan kepada para tamu penting. Terlalu banyak masalah melibat hari-hari terakhirnya di Indonesia. Gilang… semuanya di luar kepentingan pribadinya.

aku telah menduganya. seolah ingin mengisi seluruh ruang pepat dan jenuh di paru-parunya. Paras Garsini memerah dadu.” Garsini menukas sambil memperbaiki posisi duduknya. Garsini menghirup kenikmatan itu sepuas-puasnya. maksudku yang kalian hibahkan kepada Indonesia. “Kereta apa? Hibah apa? Aha. “Psst… siapa bilang?” Garsini berlagak marah dengan membelalakkan matanya yang bagus. ia menundukkan wajahnya tersipu malu. otakmu mulai tak beres agaknya ya?” Mayumi cekikikan. megakorup yang telah dicapkan kepada Indonesia oleh pers dunia? Suasana di dalam kereta baru terasakan nikmatnya ketika sudah agak lowong. menikmati segala macam kecanggihan dan fasilitas teknologi tinggi yang dimiliki Negeri Sakura. Hampir semuanya serba gratis… Subhanallah! “Ada apa?” Mayumi menanyainya heran. 53 . “Malah kamu yang tak peduli. Kamu memang tak pernah peduli halhal seperti itu. Seketika ada keharuan yang menyungkupi hatinya. hampir tak pernah kunikmati. Keberadaan mereka. Garsini tetap tak paham dengan sistem begini. berapa banyak jumlah kereta yang dihibahkan pemerintah Jepang kepada Indonesia. Adakah hal begini di negerinya? Selain KKN.“Bagaimana dengan orang Jepang sendiri untuk mendapatkannya?” tanya Garsini jadi penasaran juga dengan kartu pas itu. kalau tahu bilang ya!” Mayumi semakin tergelak geli. Ia sangat terharu bisa menikmati anugerah-Nya ini. “Segala kereta kamu pedulikan… hihihi!” “Sudahlah. pebisnis… Orang awam macam kami ini. eksekutif. Mirip kereta eksekutif jurusan Kota-Bogor.” ucap Garsini asal bicara. perilaku mereka telah memikat perhatian beberapa orang. yaaah!” “Ooh…” Bibir Garsini membentuk bulatan. Ayoooo. cepat-cepat ia mengucap istigfar. Ini kereta full AC yang amat bersih dan terawat. “Kereta kalian. Dalam hati. “Hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Mayumi mengangkat bahu. mohon ampunan-Nya. para pejabat tinggi. Beberapa penumpang pria menoleh ke arah keduanya.

“Tapi aku janji nanti akan kuusahakan lagi.” jelas Garsini tertawa sumbang. Ia menyesali tudingannya di atas kereta kepada gadis itu. “Kasihan kamu. Karena selama di sini aku bisa sepuasnya naik kereta macam itu. “Kereta-kereta itu sangat bagus. Mungkin di tempat kerjaku tahu-tahu ada yang memiliki benda menggemaskan itu. lupakan itu! Tak seharusnya hal seperti itu kupikirkan lagi. mengira kelakuannya telah menyinggung hati sahabatnya. “Sumimasen. Mayumi terdiam. Asep dan para penghuni rumah singgah pinggir kereta itu melebihi rasa kangennya terhadap keluarganya.” bisiknya tersekat di tenggorokan. rakyat miskin kota yang pernah digaulinya di Jabotabek dulu. Bukannya bermaksud menduakan 54 . Sungguh lelah. mengapa Garsini tak bisa menaiki kereta hibahan Jepang itu.”Tentu bukan itulah tujuan pemerintah kami…” “Tentu saja.” sahut Garsini cepat-cepat. Tentu saja Mayumi seorang gadis yang memiliki empati tinggi.” Mayumi prihatin. jadi dinyatakan sebagai kelas eksekutif dengan harga yang tak terjangkau oleh saku kempesku. semakin lelah dan bosan.” Mayumi terpaksa mengucapkan salam perpisahan. Maka. kepedulian yang mengagumkan. mereka lebih tak mungkin untuk meraih kesempatan yang dimilikinya saat ini. ya Garsini?” Gadis Sakura itu tertawa. Garsini amat terharu mendengarnya. Juga rasa kangen yang seketika menerjang kisi kalbunya. janjinya terdengar tulus sekali.menyandar santai lalu menutup wajahnya dengan ujung jilbabnya. diam-diam ia memejamkan matanya. “Sudahlah. Kangennya terhadap Oneng. Mereka keluar stasiun berjalan tanpa arah dan tujuan. Bahkan kalau mungkin kereta peluru!” Kali ini Garsini sambil tertawa riang seolah ingin menghapus segala ironi perikehidupan di masyarakatnya. Ucik. Buktinya ia bahkan menanyakan alasan. Menurut pikirannya kala itu. Kereta pun tiba di Tokyo Eki. aku harus berangkat kerja sekarang. “Kamu sahabatku yang terbaik. Mayumi-san. Setidaknya terhadap keluarga dan para sahabatnya.

kehendak Ilahi, tapi ia hanya melihat kenyatan di depan mata. Orang-orang yang terpinggirkan itu, Allah… lindungi mereka! Mata Garsini seketika memanas. Detik inilah ia diingatkan kembali untuk mensyukuri nikmat-Nya. Hingga dirinya kini bisa menikmati segala fasilitas super modern, melalui anugerah Ilahi dalam bentuk beasiswa itu. Oh, Allah, ampuni khilafku, jeritnya dalam hati. Mayumi malah mengira Garsini menangis karena kecewa atas kegagalan mereka mendapatkan kartu pas. Sehingga ia tak bisa secepatnya mendampingi sepupunya, membantunya. “Allahmu akan selalu memberi kejutan untukmu, kan begitu Garsini-san?” hibur Mayumi sambil menyentuh ujung jilbab Garsini. “Bagaimana?” Garsini terheran-heran menatapnya dan cepat menghapus air matanya. “Aku hampir meyakini bahwa kamu adalah gadis suci, gadis pilihan Tuhan…” “Pssst… Terlalu berlebihan, ah!” Wajah Garsini seketika bersemu merah. “Jadi, kamu tidak apa!” Mayumi tertawa kembali dan tampak lega. “Sudahlah, kukira sebaiknya Peter harus bertahan menunggu sampai hari Senin. Karena baru besok aku bisa naik bus jurusan Hiroshima… kereta api bawah tanah dan bus umum kan?” sahutnya pula pasrah. Sementara Mayumi menuju tempat kerjanya di kawasan Ginza. Garsini pulang ke asrama sambil terus mencari akal, jalan keluar untuk memenuhi janjinya kepada Peter. ***

Garsini tak bisa melenyapkan kekhawatiran perihal Peter dari bilik kalbunya. Ke mana pun dirinya melangkah, apapun yang dikerjakannya, otaknya terus-menerus mengait kepada sepupunya itu. Ada yang sungguh membuatnya prihatin dan cemas. Getar suara sarat kesepian dan ketakutan di telepon itu, addduuuh!

55

Nuansa ketakutan, kesepian serupa itulah yang sering melanda rekanrekan generasinya di Jepang. Seorang rekannya pernah bercerita tentang adiknya yang melakukan harakiri, penyebabnya hanya karena merasa ketakutan dan kesepian hidup di Tokyo. Tragedi macam itu bukan hanya sekali-dua didengarnya, tetapi sering dan itu sungguh amat menakutkannya. Tidak, saudaraku tak boleh dibiarkan sendirian bahkan untuk beberapa jam sekalipun, pekiknya dalam hati. Kamu sumber harapan hidup ibumu. Tante Arnie, apa yang sanggup dilakukannya tanpa dirimu? Bingung dara itu menghentikan semua pekerjaannya, program inovatifnya yang teranyar. Ia meninggalkan laptop pinjaman dari Haliza. Beberapa saat mondar-mandir di sekitar kamarnya yang senyap. Ia membuka tirai jendela kamarnya di lantai dua. Matanya menyergap nuansa malam musim semi menjelang musim panas. Arakan mega putih bak hamparan kapas lembut, pucat, lugas dan sungguh polos. Ia seolah menantang untuk dilukis. Ya, dilukis, kreasi, harapan dan impian… masa depan! Ugh, aku tak melihat apa-apa selain wajahmu, Peter, erangnya. Gadis itu meninggalkan nuansa malam di luar asrama, berbalik menuju pintu hendak mengambil tambahan aqua dari koridor. Mereka selalu menyediakan galon aqua di sudut-sudut koridor setiap lantai. Lengang dan senyap saat matanya mengapung ke sekitar koridor. Bulu romanya mendadak meremang. Membayangkan film-film horor dalam nuansa sama. Seorang gadis sendirian disergap kriminal, diperkosa dan dibunuh… Astagfirullahal adziim! Begitu berhasil mengisi botolnya, tergopoh-gopoh ia berbalik menuju kamarnya, cepat pula dikuncinya rapat-rapat pintunya. Di sudut kamarnya dekat kantong sampah, seketika matanya bersirobok dengan kantung plastik besar khusus untuk menampung baju-baju kotor. Oh, ia bahkan baru teringat lagi belum sempat membawanya ke tempat cuci umum. Suatu hal yang hampir tak pernah dilakukannya, meskipun ia sedang sesibuk apapun. Kebersihan kan sebagian dari iman. Ia sudah terdisiplin memelihara kesehatan dan kebersihan sejak kecil.

56

Kakinya seketika tergerak iseng mengutak-atik kantung itu hingga terbuka. Matanya berhenti di ujung gamis biru muda yang pernah dikenakannya pada hari pertama kerja di museum. Ia teringat sesuatu dan membungkuk untuk merogo-rogo saku gamisnya. “Naaah, ini mungkin bisa menolong kita, Broer!” pekiknya girang sekali. Dalam hitungan menit ia telah berada di luar asrama, menanti dengan tak sabar taksi yang dipanggilnya via telepon. “Imperial Palace made itte kudasai,”22 katanya kepada sopir taksi. Gadis itu menghenyakkan tubuhnya yang baru terasa sangat letih. Kapan terakhir kali ia bisa makan lengkap? Mungkin saat makan roti bersama Mayumi di luar kota siang itu. Semangat yang menyala-nyala dalam dadanya seolah mengirimkan suatu kekuatan baru ke sekujur tubuhnya. Seluruh kengerian dan ketakutan yang sempat menyergap di sepanjang koridor, seolah raib entah ke mana. “Betul gakusei-san ingin pergi ke tempat seperti itu?” Suara itu! Garsini mengenalnya dan segera mengamati sopir di depannya melalui kaca spion. Ya, ternyata sopir tua yang kemarin dicarternya sejak di perbatasan Odaiba menuju Sendai hingga ke asramanya. “Ah, Pak Mitszui!” sapanya santun. Lelaki paro baya itu menoleh ke jok belakang, merasa senang karena Garsini masih mengenalinya bahkan ingat akan namanya. Ia menghargai kesantunan dan penghormatan generasi muda. Gadis ini jelas bukan gadis sembarangan, pikirnya sejak pertama kali melihatnya dalam busana eklusif. “Menemui seseorang?” tanyanya menyelidik. “Ya, Pak, seorang guru besar Perancis yang baik hati…” Semoga demikian adanya, jeritnya mendoakan dalam hati. Garsini hanya ingin menghilangkan kesan curiga yang kentara jelas di wajah Mitszui-san. “Hati-hati, ya gakusei-san. Kalau ada apa-apa cepat panggil saya!” pesannya ketika mereka berpisah di depan Imperial Palace. ***
22

“Tolong antar ke hotel Imperial Palace.”

57

Semua kejujuran itu terpancar jelas melalui sorot matanya yang bening. Tanpa tergores secuil pun. “Haik. “Tentu saja. Maka segera terucapkan istigfar dalam hatinya. saya tidak apa-apa. Demikian yang terekam di kalbu Garsini begitu meninggalkan Imperial Palace. setia menanti Garsini muncul selamat dari Imperial Palace. Hingga sopir paro baya itu menoleh lagi ke belakang. “Bapak bisa lihat sendiri kan.” keluh gadis berkerudung itu bagai meralat. saya percayalah!” sambut Mitszui terbawa emosinya ikut sukacita. “Seorang Muslimah yang tetap terpelihara kehormatan dirinya. “Sumimasen. cemerlang. tetapi beruntunglah dirinya. kehormatan dan iman Islam saya…” 58 . beberapa saat terdiam. “Ya. ternyata masih ada lebih banyak orang yang baik dan tulus di sekitar dirinya. Secuil sangsi telah raib bersama kekalahan para iblis dari dasar neraka. entah dalam situasi segawat apa. Karena sampai saat itu. bertanya agak sangsi.” Sedetik Garsini segera menyadari dirinya bisa terjerumus riya.” puji Mitszui-san terdengar tulus. “Sungguh? Orang asing itu mau membantumu begitu saja?” Mitszui-san yang tak mau beranjak di pelataran parkir. gakusei Indonesia…” ucapnya tanpa bermaksud riya. lugu dan murni. Gadis itu sungguh keluar dari sana bak porselin cantik yang masih utuh dan indah. “Nona tidak apa-apa kan?” tanyanya agak cemas. tetap segar bugar. ya… saya kira Nona memang begitulah adanya. Garsini tersenyum riang. Dalam keadaan selamat tentu saja. Garsini merasakan wajahnya memanas. Profesor Charles del Pierro tampaknya amat terkesan dengan perilaku Garsini. saya masih Garsini.Bab 6 Mungkin ada banyak kriminal berkeliaran di sekitarnya. Ia seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pak. Terutama atas semangat dan ketulusannya dalam membantu saudaranya yang terjebak di Hiroshima. semua ini berkat kemurahan Allah semata yang senantiasa memelihara kesucian.

” “Oh. suite-room… Sudah. berikut hotel bintang lima. Giliran Garsini yang merasa tahu diri. untukmu sajalah. “Sudah saya bilang. gadis Muslimah dari Indonesia. Lain kali kalau ada kesempatan lebih baik dari saat ini. Mayumi tentu takkan percaya jika ia menceritakan pengalaman “viveri veri coloso” malam ini. Sekarang saya jadi senang sekali sebab mengetahui ini sangat bermanfaat buatmu… Hei. tak ada gunanya buatku. Ketulusan dan keikhlasan terpancar dari suaranya. ia akan menanyakan apa arti “iman Islam” yang dimaksud. Ia langsung mensyukuri nikmatNya dengan membilang tasbih dalam hatinya. Prof…” “Tapi saya akan keliling Jepang selama musim panas nanti. “Kebetulan. saya malah bingung mau diapakan benda ini. umpamanya menambahkan referensi Anda. sejarah bangsa-bangsa Asia kan?” Profesor Charles del Pierro geleng-geleng kepala. Nilai sejarah saya juga selalu bagus lho. Jadwal saya sungguh padat.“Amiiiin!” sambut lelaki paro baya itu mengaminkan penjelasan yang dianggapnya sebagai doa panjang nan indah. luar biasa… Bahkan mulai besok saya sudah tak ada di Tokyo lagi. “Ngng… mungkin ada yang bisa saya kerjakan selama Anda menetap di Tokyo? Yah. saya seorang yang haus ilmu. Bagaimana guru besar Perancis itu bersedia membantunya. Tentu ia tak ingin memberi kesan negatif atas keberadaan Garsini di tempatnya saat itu. bimbang. ini ambillah dan jangan pernah dikembalikan!” katanya sambil tertawa riang. diantarnya gadis itu sampai lobi dengan gayanya yang amat kebapakan dan bijak. “Baiklah. Garsini merasa bahagia sekali malam itu. Itu termasuk tiket pesawat eksekutif ke mana-mana. memberikan kartu pas kereta peluru miliknya kepada Garsini tanpa imbalan apapun. hei kandidat pakar teknik informatika?” candanya. menurutmu apa yang bisa kamu lakukan. Okey?” 59 . Mereka sudah menyediakan berbagai fasilitas mewah. lalu kartu pas ini?” Garsini kian tak enak hati. jangan pikir apa-apa lagi. “Sudah kubilang.

Ia telah sering menemukan hal begini dalam sepuluh tahun terakhir. Memang tak perlu jadi tak enak hati lagi. Sebab ia tak pernah menginginkan belas kasihan orang. Kamu bisa mengajaknya jalan-jalan ke Ginza… atau ke mana saja kalian suka?” katanya di akhir pertemuan mereka. kepedihan yang disebabkan oleh ketak harmonis antara dirinya dengan ayahnya. “Apa dunia ini sudah mau kiamat? Apa mereka… teman-temanmu itu. ya. tapi dalam beberapa hal terkadang menegakkan harga dirinya. dan itu hanya menambah rasa marahnya terhadap pemuda bernama Peter van Moorsel. patutnya disyukuri saja. Kadang ia menumpahkannya kepada istrinya yang berusaha menenangkannya. “Mungkin kamu mau menemani Charlotte… Dia itu putriku semata wayang yang akan datang akhir bulan ini. terlalu memancing perhatian orang-orang di sekitarnya. Itu sungguh membuat hatinya angkara sekaligus kecewa berat. sudah tak punya rasa hormat lagi sedikit pun untuk perjuangan para leluhur? Mereka yang telah berjuang keras membangun negeri Jepang. begitu menurut ayahnya. hingga seperti sekarang…” 60 . Ada jasa selalu ada imbalan. Mungkin lagi patah hati dan sebentar lagi dipastikan bakal harakiri. Dan apapun yang pernah terjadi. Meskipun pernah ditentangnya. sungutnya pula kian sebal dan uring-uringan.Ini sungguh rezeki dari Allah yang dikirimkan melalui tangan sang Profesor. Garsini telah melupakannya. dari keterpurukan akibat kekalahan memalukan pada perang dunia silang. seru Garsini dalam hati. “Oh. *** Pemilik hotel kecil di luar kota Hiroshima itu mengeluh tentang kelakuan Peter yang dianggapnya terlalu berisik. Ia selalu menghormati ayahnya sebagaimana seharusnya. tentu saja saya bersedia!” janji Garsini dengan amat lega. Sehingga ia mendapat sejumlah komplain dari para tamunya.

ia berpapasan dengan seorang perempuan berwajah manis dan ramah menyapanya. “Ya.” kata wanita itu tersenyum hormat. Hanya satu yang segera ingi diketahuinya saat ini. keibuan. Nona? Adakah itu tren mode mutakhir? Rasanya sangat baik. Agaknya ia istri pemilik hotel. Garsini merandek. tunjukkan saja kamar saudaraku itu.Garsini hampir tak mendengar penjelasannya yang tampak sekali masih akan berlarat-larat. serba tertutup dan amat apik…“ ia menatap wajah Garsini lekat-lekat dalam sikap santun. “Pakaian untuk wanita pemeluk Islam…” Nah. baju apa yang kamu kenakan itu. ya?” “Ya.” dengusnya. Nyonya. domo arigato gozaimasu…” “Kudengar Nona hendak ke kamar ujung itu. mengungkap keburukan sepupunya. “Kamu kelihatannya sangat… aneh!” diserahkannya juga kunci duplikat kamar Peter kepada gadis itu. bagaimana keadaan Peter? Di koridor menuju kamar Peter. berusaha tersenyum manis dan menjawab santun pula. Nona. boleh kan Nyonya?” “Hati-hatilah. “Tolong. Nyonya…” “Muslimah… apa itu?” “Oh!” bibir Garsini tulus menyungging senyum. *** Garsini terpaksa menahan rasa kesal atas sambutan sinisnya itu. sungguh saya suka melihatnya. “Terima kasih…” Garsini menyambar kunci itu dari tangannya. bukankah ini juga secuil syiar? “Oooh.”Ini busana Muslimah. “Boleh kutanya. kumohoon…” Sepasang mata pria Jepang paro baya itu membelalak lebar seolah akan menelannya hidup-hidup. makhluk apa gerangan si jelita bertampang pucat ini? “Aku tidak tahu siapa dirimu. Hatinya menjadi kebatkebit dan jantungnya berdebur keras.” katanya mengingatkan. Ugh. indah sekali. 61 .” katanya kemudian masih meneriaki Garsini di belakangnya. “Terima kasih. bukalah sendiri. semalam dia mengamuk.

rombongan turis yang baru masuk ke hotel kita tadi? Mereka mengatakan satu kereta dengan gadis itu. percayalah. Pak. Mereka sangat mengaguminya dan menghormatinya…” “Kau ingin bilang. “Makanya. kamu memang kulihat sangat enerjik dan eksentrik. Garsini berhasil menyejukkan suasana tepat pada waktunya. Mujur. “Lihatlah. jangan gampang naik pitam dan selalu sinis terhadap generasi putra kita. Lelaki paro baya itu masih berpikir-pikir tentang Garsini dan Peter. ketika dalam bilangan tak lebih dari limabelas menit anak muda itu telah minta rekening kepadanya dengan wajah sumringah. bagaimana kalau dia dihabisi di dalam sana. Seperti kemunculannya yang tiba-tiba bagai kilat pada pagi buta. betapa ingin ia menepis segala prasangka dan fitnah yang mungkin telah menyebar di seluruh hotel kecil itu.” komentar istri pemilik hotel pula tentang jawaban Garsini. Saya mengenal dia dengan cukup baik kok…” “Mau-maunya gadis itu dipanggil…” seorang tamu melongok dari sebuah kamar yang dilewati Garsini. Namun.“Saya adiknya. *** Tokyo. dia merasa sangat surprise. kala ia menanyakan asal kedatangannya. semuanya tak seburuk yang Anda kira. “Aku merasa bisa memetik pelajaran yang sangat berharga hari ini…” “Jangan berlarat-larat. to teh point saja apa yang ingin kamu katakan?” 62 . “Baiklah. tentu saja anak-anak metropolitan yang sangat ekspresif dan serba modern.” cetus rekannya. Garsini merandek sesaat. Tapi hanya itu yang masih bisa terucapkan dari bibirnya.” tegur istrinya. ia pun segera lenyap dalam tempo relatif singkat. gadis itu lain sekali… Kau tahu. anak itu sudah membawa berkah ke sini?” “Bahkan lebih dari itu!” sergah istrinya kesal. “Diakah kekasihmu yang sudah membuatmu nyaris harakiri. heemmm?” Peter kontan naik pitam dan hendak meninju wajah lelaki sebaya ayahnya itu. Lidahnya mulai kelu. “Iya.

hingga mendorongnya melakukan perbuatan nekad. Dia kan hanya anak perempuan. “Ujung-ujungnya kamu mau kita segera memanggil putra kita dari Korea. katanya memutuskan. terus-menerus mempercakapkannya. Di antara tarik ulur itulah generasi muda Jepang terlahir. anak itu berani melakukan 63 . Ketulusan. menakutkan. satu hal yang pasti kemunculannya telah menggetarkan simpul ikatan kasih yang sejak lama terputus. Hmm. bukan? Bertele-tele segala…” Perempuan itu terdiam. hanya karena pernikahannya tak direstui mereka. kebaikan dan keanggunan masih dipadu dengan kemandirian dan kesalehan. hidup dan berkembang tanpa arah yang pasti. itu buktinya. Ya. Namun. Ia mendengar rombongan turis Belanda yang baru tiba di penginapannya. Terutama semangat dan keyakinan yang dimiliki gadis berbusana eklusif itu. ia tak perlu membahasnya lagi. Putra mereka semata wayang telah bertahun-tahun pergi ke Korea. Aha. pikirnya membenarkan penilaian istrinya. Penyebabnya konon karena modernisasi yang terlalu melejit nyaris tak seimbang dengan peradaban lama. Membawa serta istri dan anak-anaknya. pasangan anak muda itu. menangkap sorot rindu menyembul dari sepasang mata tua di depannya. Ternyata generasi putraku tak separah seperti yang kubayangkan selama ini. Ia merasa tak keliru kini. Agama lama yang masih dipegang pun bahkan tak bisa menjawab kebingungan mereka. Contoh kecilnya adalah perseteruan yang seharusnya tak ada antara pemilik hotel kecil di Hiroshima itu dengan putranya semata wayang. Buktinya gadis itu sangat mandiri. berani. mungkin juga anak-anak muda itu membawa berkah.“Sudah saatnya kamu mengubah penilaian serba negatif terhadap generasi putramu. Ada riak-riak rindu yang membinar di mata lelaki paro baya saat memandangi punggung Peter. siapapun gadis itu sesungguhnya. Demi menolong sepupunya. aku tahu sekarang!” tukas pemilik hotel. Di Jepang begitu banyak manusia terjebak dalam dunianya yang senyap. sementara putramu itu…” “Alaah. yang keukeuh ingin dipertahankan oleh generasi sebelumnya. yang berjalan tegak di samping gadis berbusana eklusif itu.

Padahal. elak Garsini setiap Peter ingin mengetahui asal-usul kepemilikan kartu pasnya. Hingga ia nekad berangkat sendiri. petualangan yang mencekam tuh!” katanya mulai bisa tertawa lagi. sebelumnya Peter sudah lelah melacak jejak mereka. Dalam demam tinggi itu. Selera 64 . bergalon-galon aqua kupesan. jadi ditudingnya aku sinting. Jadi. Seolah-olah ia tak pernah makan dalam dua hari itu. “Bukan cuma mengira nyentrik… Dia memergokiku lagi menceracau. Begitu pula perihal secara kebetulan Garsini bertemu rombongan turis Belanda. Di matanya yang kolot itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa. “Okusaaan! Berapa nomer telepon putraku itu? Biar aku telepon dia sekarang juga. rasanya tak usah dibahas. “Itu benar. Malah sempat dipanggilkannya seorang dokter. Mereka memesan roti segar dan kuekue basah khas Jepang yang lezat di sebuah kedai yang bersih. naik taksi… Tahu-tahu mendapatkan dirinya di hotel kecil itu! “Wuiih. ia terpaksa menghentikan perjalanannya.” aku Peter. turun entah di mana. kemudian terdampar di Hiroshima. Di tengah perjalanan seketika ia merasa dirinya mulai sakit. bisa fokus dan berpikir jernih kembali. rasanya aku melempari mereka dengan galon-galon aqua yang sudah kosong…” Kini Peter mulai bisa mengenang tiga malamnya yang terburuk itu dari sudut pandang orang sehat. supaya secepatnya bawa menantu dan cucu-cucu kita pulang ke sini…” *** Apakah itu berkah atau kebetulan-kebetulan yang menguntungkan saja. Peter menyantap penganan yang terhidang dengan sangat lahap.” tebak Garsini. “Karena itu pemilik hotel mengira kamu orang nyentrik. hanya air yang bisa masuk ke tenggorokanku. lalu bersama mereka menumpang kereta peluru sepanjang malam itu. Wajahnya berseri-seri sehat dan bugar.perjalanan seorang diri dari Tokyo.

Tentu Mayumi akan senang bila sahabatnya ini terus bertambah wawasannya mengenai masyarakat Jepang. Jadi Garsini membiarkan Peter bicara dengan mata yang berat oleh kantuk.” sahut Garsini sekenanya. Perjalanan naik kereta peluru beserta upaya dalam mendapatkan kartu pasnya. transportasi ke arah selatan Hokkaido mengalami macet total…” “Dilanda taifun dahsyat. Orang Sunda bilang mah mamayu!” “Mamayu itu kan kalau sakitnya lama. Non. ya?” “Ya. Sepanjang perjalanan ia menemukan orang-orang di mana-mana bicara perihal cuaca. Saporo. mengerikan sekali!” “Untung aku tak punya kenalan atau famili di kawasan sana. sungguh suatu tualang melelahkan.” Tapi aku punya kenalan yang sedang melakukan perjalanan ke arah Hokkaido. “Iiih. Samar-samar kupingnya masih menangkap dua orang lelaki di sebelahnya bicara perihal cuaca buruk. bahkan ia tak peduli akan keunikan cuaca di antara musim semi dengan musim panas yang terjadi di kawasan Jepang. apa pedulinya saat ini? “Kau sudah dengar. 65 . Otaknya bagai berhenti seketika. “Aha… ini soal lain. Sesungguhnya Garsini baru menyadari kebiasaan orang Jepang yang amat menyukai bicara perihal cuaca. “Apa kamu nggak takut seperti kejadian di Tokyo tempo hari?” tanya Garsini mengingatkan. Giliran Garsini yang tampak pucat kurang tidur. Kepalanya berayun-ayun. Malah membuat Garsini yang menyaksikan kelakuannya jadi khawatir sekali. Ini satu pengetahuaan baru lagi.makannya sungguh telah kembali. Ia ingin mengabarkannya kepada Mayumi. taifun yang melanda beberapa bagian Negeri Sakura. ditingkahi angin musim semi yang menerobos melalui tirai jendela kedai dari arah pegunungan. bisik hati Garsini. begitu sembuh langsung doyan makan apapun. pokoknya mamayu we naha?” Peter keukeuh. Namun. Nakajima-san.

takesu. “Tidak. ada apa Garsini? Kamu… yaah. Beruntunglah. terkalahkan oleh jurig tunduh. malah mungkin hanya ingin menggodanya saja. Tapi manakala orang-orang mengerumuni mereka. tapi mana tahu kan? Lagi pula ia masih trauma dengan demam malaria yang baru saja menyerbu dirinya sendiri. kenapa gadis ini. takesu kudasaaaai. ia sungguh tak sanggup lagi. Memori otaknya tak mampu menggerakkan isyarat untuk melakukan ini dan itu. Bruuukk…! “Hei. bahkan ada yang mengkhawatirkan keadaan Garsini… Ia mulai panik. heeelp…!” serunya pula kepada si bule yang pertama dilihatnya di kedai itu. kepalanya sungguh bagai mengalami kemacetan total. kok malah tidur di sini sih?” Dua lelaki yang duduk di sebelah mereka tersentak dan bangkit menghampiri pasangan muda itu. Hanya ingatan 66 . “Waah. Bahkan sekadar untuk mengatakan keadaannya itu pun kepada Peter. Ia tak ingat segalanya sampai beberapa jam lamanya. *** Garsini telah menyerahkan segalanya kepada kebijaksanaan sang De Broer. “Apa dia sakit?” cecar rekannya mencemaskan. dia hanya ketiduran saja kurasa…” Peter tertawa. please. “Help. Sehingga dalam bilangan menit sebuah taksi tiba di kedai itu. haaaiik!” seru Peter dengan panik sekali. “Apa yang terjadi dengan nona ini?” tanya seorang di antara mereka. Sedetik Peter masih mengira Garsini hanya ketiduran.Namun. Akhirnya Garsini merasa tak tahan lagi. Meskipun ia tak yakin bila sepupunya punya indikasi epilepsi. yaap. “Taksi. ya?” “Wajahnya pucat pasi seperti mayat…” “Jangan-jangan dia terserang penyakit… epilepsi?” Dan kebetulan yang terakhir bicara itu justru orang bule dalam bahasa internasional. hingga Peter memahaminya. kali ini Peter sukses menerangkan keinginannya melalui bahasa tarzan dan isyarat.

matanya juga menangkap bayangan-bayangan di depan pintu kamarnya. Wanita Jepang itu menyadari keheranannya. “Kamu berada di hotel terbaik di kota ini. “Seperti kata dokter Sumitsu-san di depan sana. Peter. siapa orang ini? Garsini berusaha bangkit. bagaimana keadaan adikmu itu sekarang?” tanyanya seperti penasaran sekali. tidak apa-apa…” Kuping Garsini sayup-sayup mendengar orang bercakapcakap. selamat mendaki gununglah.yang timbul tenggelam. bayangan-bayangan asing yang sibuk di sekitar dirinya. 67 . “Siapa?” orang itu terdengar tertawa. Jadi. “Hai… Nona sudah betul-betul bangun ya kan?” sapanya.” kata Peter terdengar ikhlas. di dalam lagi ditemani Okusan. kakiku yang terkilir di kereta sudah sembuh berkat dia. “Yah. ya Smith. manis dan lembut mengingatkannya kepada ibu Mayumi. “Sayang sekali. ya Peter…” suara wanita yang tak asing lagi. kamu hanya kelelahan saja. Oh. Beberapa saat terdengar tawa riang. “Thank’s. “Ngng… di mana ini. “Istri pemilik kedai di seberang…” “Kau sudah mirip sekali dengan orang Jepang.” sindir suara wanita.” sahut Peter.” sahut Okusan sambil tersenyum hangat. Peter bercakap-cakap dengan seorang pria kulit putih. kalian harus istirahat dulu di sini. Adikmu itu baik sekali… eeh. Seorang wanita paro baya baru selesai mengelapkan handuk kecil ke wajahnya. air hangat masih terasa membekas. siapa Ibu?” tanya Garsini. setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan sebelum ikut rombongan melanjutkan perjalanan. “Sekarang sudah baik. maka ia menghampirinya lebih dekat lagi dan tersenyum ramah. Ia hanya memandangi wajah di depannya. Ibu itu duduk di sebelahnya dan menyentuh tangan Garsini. wajah sepupunya yang mencemaskannya…. “Kalau kalian ikut tentu akan lebih semarak. Sampaikan rasa terima kasihku kepadanya. tapi sekujur tubuhnya masih letih bahkan kaku untuk digerakkan. ya?” entah siapa tapi itu suara seorang wanita yang berbeda. kamu baik sekali mau meluangkan waktu mampir…” “Yeah.

tanpa peduli terhadap orang-orang di sekitar mereka. Sebelumnya pun mereka sempat melecehkan caranya berpakaian. mencurigai gerak-geriknya yang dianggap aneh… Padahal. Memejamkan matanya dan membilang zikir dengan jari-jemarinya. tentu saja akan kusampaikan…” “Kalau begitu kami pamit saja. saat menghadapi sepupunya yang mendadak colaps. hingga rekan-rekannya mendadak heboh. Smith. ya. pasangan Beatrice ternyata seorang dokter. seketika tergerak untuk mengulurkan bantuan. akhirnya mereka sama mengakui keunikan dan kehebatan gadis berbusana eklusif itu. Mula-mula reaksi mereka adalah memandanginya dengan terheran-heran. impaslah sudah! *** 68 . tak seorang pun berani komplain terhadap keributan yang ditimbulkan mereka. Sejak itu mereka menaruh hormat dan kekaguman tersendiri kepada Garsini. “Biarkan saya membantu Nona ini. Kalau begitu. Ketika Garsini berhasil memberikan sebagian ilmu yang diperolehnya dari dojo.“Ya. Segala canda ria berhenti total. Meskipun Garsini menyambutnya biasa saja. Garsini tengah berusaha keras untuk khusuk shalat isya malam itu. Ia memberikan pertolongan yang amat diperlukan Peter. Anehnya. please…” kata Garsini. Gadis yang tiba-tiba terkilir saat dia pamer kemahirannya bersalsa. bahkan cenderung tak menggubris tingkah laku mereka selama sisa perjalanan malam itu. dalam hal urutmengurut. merubung-rubungi si Beatrice yang mengerang-erang kesakitan. Sebagaimana sikapnya sebelum peristiwa itu terjadi. betapa terheran-herannya mereka. Garsini ingat lagi. daaag Peter!” “Daaag…” balas Peter mengantar dua pasang anak muda itu dari depan pintu kamar. Sedang para bule itu terus-menerus berisik. Garsini yang duduk di gerbong sama dan semula agak terganggu dengan keributan rombongan bule itu. gadis Belanda itu tentu saja Beatrice. Dari rasa heran campur malu.

karena toh ia tak tahu apa yang terjadi selama sehari semalam itu. Sebaliknya penampilannya tentu amat menyedihkan. Kepedihan di masa silam. Peter telah merawatnya dengan sangat baik sekali. Garsini berusaha menutupi mahkota indahnya dari pandangan sepupunya. malah menatapnya lekat-lekat dengan rasa kagum dan sayang seorang saudara sedarah. kisruh… Di mana jilbabnya selama ini disampirkan? Dengan gugup dan jengah. ya?” Peter tertawa sumbang. tak kurang suatu apapun… Garsini baru mengetahuinya kini. Garsini menerimanya tanpa bicara. Menurut Okusan tadi. Mereka sempat disekap oleh seorang lelaki Belanda. seketika ikut merasa gemetar dan menggigil sepanjang menyimak kisah yang dituturkan Peter. yang dikenal Arnie melalui biro jodoh di dunia cyber. sama sekali tak memperlihatkan pertanda orang baru sembuh dari sakit parah. “Aku masih kecil. pikirnya. Garsini masih belum paham sepenuhnya. cepat-cepat menutupi rambutnya yang tergerai panjang. Itu sudah lewat. lima tahun ketika itu tapi masih kuingat saat-saat mengerikan itu… Orang itu memukuliku. interniran militer. tak terjadi hal buruk. seorang schizoprenia akut di mata pemilik hotel itu. Kepedihan mengental itu telah menyilih kebingungan yang semula menyelimuti hati Garsini. Meskipun itu sia-sia. Sedang di luar 69 . Peter seperti memahami keinginannya. Sekilas diliriknya wajah De Broer-nya. Tidak mengapa. tampangnya masih pucat pasi. mimpi-mimpi buruk… mengerikan sekali! Apa aku seperti sosok psikopat yang siap membunuh. seketika Garsini bisa menangkap kepedihan yang dalam di mata anak muda itu. disambarnya kerudung Garsini yang tersampir di kapstok dan diberikannya kepada gadis itu.Bab 7 “Bagaimana malariamu sekarang?” Peter tak segera menyahut. menyekapku di kloset. saat kanak-kanak di awal kedatangannya berdua ibunya di negeri Kincir Angin belasan tahun lalu. Garsini percaya. ugh. “Biasanya juga hanya dua-tiga hari menyerang.

Agaknya Peter amat tahu diri akan hal itu. sungguh mengerikan! Entah apa saja yang telah diperbuat si jahanam itu terhadap Mami. memohon-mohon agar si Monster itu membebaskanku… Mami rela berbuat apapun demi kebebasanku. Tante Arnie nekad turun dari lantai tiga apartemen si George. memiliki seorang putra yang masih lajang. Memiliki rumah mode sendiri di Huizen. oooh. bahkan menyemangati Mami agar melanjutkan sekolahnya. suatu siang yang penuh salju kesempatan itu datang. 70 . salju pertama yang kami lihat di negeri Kincir Angin ketika itu…” Peter melanjutkan kepedihan masa silam yang tak pernah terungkap hingga bertemu Garsini.kudengar suara Mami mengerang. Papi sangat mendukungnya. sebab tak ingin lebih banyak menyusahkan orang tua dalam hal finansial. nyaris mati kelaparan dan kedinginan. Bertahun-tahun Mami sekolah di mana-mana malah sampai London segala…” Sekarang Tante Arnie telah menjadi seorang perancang busana yang sukses. menjadi paranoid dan kleptomania! Semua itu konon sebagai dampak traumatis jiwanya di masa kecil. hiks. Sebuah bangunan yang ternyata adalah kapel tampak oleh mata mereka. “Kukira sekarang Mami sudah bisa mencintai ayah tiriku yang baik hati itu. Sehingga ia sempat menjadi pasien psikiater sepanjang tahun. susah payah menurunkan putranya. Ke situlah akhirnya Tante Arnie berlabuh. Mereka kemudian menyusuri salju tak tentu arah dalam baju tipis. Pengalaman itu sangat membekas dalam ingatan Peter kecil. Van Moorsel. Pendetanya sangat baik. Akhirnya. Bahkan menjadi mimpi-mimpi buruknya untuk beberapa lama. Asalnya mungkin hanya sekadar balas budi. Tante Arnie kemudian menerima lamaran Paul van Moorsel. Meskipun ayah tirinya tak pernah mengeluh perihal biaya pendidikannya. hiks…” Peter menangis tersedu-sedu di hadapan Garsini yang ikut memburaikan air mata. hingga kakinya terkilir. “Musim dingin. Peter memutuskan bergabung dengan militer Kerajaan Belanda. menggapai kasih sayang mereka dan memperoleh perlindungan serta kehangatan.

please…?” Ada untaian kristal gemerlap di sudut-sudut mata itu. Garsini agak bimbang. curahan transfer uang dan bingkisan dari Tante Arnie untuk saudara-saudara di Cimahi… Oma Aliet. semakin mengasihi dan menghormatinya. sebagai pemicunya. masa lalu yang tak perlu kita ungkap… Tak perlu kita kenang lagi. Mereka tak pernah tahu arti di balik kabar sukses itu. apa kabar Tokyo…?” sapa Garsini riang.Siapa mengira elegi kelam itu pernah mereka alami? Di dalam keluarga ibunya. Maka Garsini pun mengangguk ikhlas. “Ya. “Moshi-moshi. pasti akan kumat jantungnya kalau mendengar kisah ini! Tiba-tiba Peter meraih kedua tangan sepupunya dan menggenggamnya erat. demi kasih sayang sebagai saudara sedarah. yakni untuk mempengaruhi sepupunya dalam hal keyakinan… Tapi hidayah itu bukankah sesuatu yang hanya timbul dari kedalaman kalbu seseorang? Ia hanya bisa mempengaruhi. *** Peter meminta kesediaan Garsini agar menemaninya melanjutkan perjalanan wisatanya. Garsini berpikir. tentu saja ini hanya kisahmu. Dipandanginya wajah Garsini lekat-lekat. Meskipun ada sebersit niat yang dibawanya sejak keberangkatannya dulu.” janji Garsini. toh segalanya terpulang kepada takdir-Nya. Garsini lebih sering mendengar pujian dan kekaguman terlontar atas keberhasilan Tante Arnie di negeri orang. Dari kejauhan Peter mengawasi gerak-geriknya sambil mesem-mesem. “Tolong. Ia meminta pertimbangan dan kabar baru mengenai Nakajima-san kepada Mayumi. Kadang dia mirip sekali 71 . Maka ia meminjam handphone Peter. ya… Jangan pernah ungkapkan kepada siapapun. Setelah sabar menanti sinyal selama setengah hari. sejak saat itu sikapnya terhadap Peter akan berubah total.”Ini hanya menjadi rahasia kita. supaya bisa menghubungi Tokyo. akhirnya ia berhasil juga mengontak sahabatnya itu.” bisiknya serius sekali. Lebih erat.

terjadi hujan dan taifun khas Jepang di sisi lainnya. di sini semuanya sehat dan serahkan saja soal MeSci itu kepada yang berhak…” “Ada kabar dari Pak Nakajima?” tukas Garsini penasaran. Ini cuaca yang sangat unik.dengan bocah! Pas diberi kesempatan pegang benda itu. Sebagaimana Peter membaca korannya dengan mimik serius. Sudah kubilang. Oya. Kalau tak diingatkan. Garsini-san. Garsini menyimaknya dengan seksama dan penuh perhatian. Lucuuu deh kaamuu! “Jangan pernah lewatkan kesempatan emasmu itu. dia langsung mengotak-atiknya. sampaikan salamku buat abangmu. Non. Sudahlah. 72 . bukan sebagai dampak taifun yang melanda seluruh negeri Jepang saat itu. “Tak perlu pertimbangkan apa-apa lagi. pikir Garsini lesu mengembalikan handphone ke tempatnya semula di atas meja. Sementara di satu sisi sedang musim semi menuju musim panas.“Kamu suka dikejar-kejar setan begitu selamanya. Terpaksa pulangnya ditunda sampai akhir bulan…” “Waaah. tak ada masalah apa-apa di Tokyo yang perlu kamu khawatirkan. sifatnya mirip dengan angin-angin topan yang kerap memporak-porandakan pantai timur Amerika Serikat. katanya lagi bersenang-ria bersama keluarganya di Saporo. ya?” sindirnya. siapapun namanya dia… okey?!” Kliiik! Telepon betul-betul diputus oleh Mayumi. Keduanya merupakan hasil hubungan umum yang sama antara daratan dengan air pada garis-garis lintang yang sama pula…” Peter membaca pelan koran lokal di tangannya. aku sudah berhasil merekrut beberapa adik kelas yang mau kerja sambilan di MeSci. Rangkaian angin badai atau taifun itu. Garsini-san!” seru Mayumi penuh semangat seperti biasa. “Pak Nakajima sudah telepon. jadi bagaimana tugas para sesepuh di museum itu?” “Tenanglah. diberitakan frekuensinya lebih besar daripada taifun di bagian dunia manapun. selamat bersenang-ria. “Ini sambungan jauh. “Ibarat sang Monster. Mayumi suka celoteh ke mana-mana. cepatlah… lagi pula ada taifun di mana-mana!” Terdengar tawa renyah dari seberang. takjub sekaligus keheranan.

“Namun. sanggup Engkau timpakan begitu saja kepada makhluk. Ia merasakan tubuhnya seketika dingin. Mengapa harus negeri ini? Mengapa tidak negeri lainnya? Mengapa. justru di situlah tempat taifun pertama-tama mendarat…” Garsini hampir tak tahan lagi membayangkan ribuan korban jiwa yang tak berdosa berjatuhan. Mereka. sang Monster ini menggasak Jepang begitu hebatnya hingga menimbulkan kehancuran. Tuhanku.” tukas Peter tanpa ampun menohok ulu hati gadis itu. Garsini?” tanya Peter membahana di antara gumpalan awan yang berarak dari arah selatan pegunungan. tak memiliki rumah yang layak huni. bagaimana kehancuran dan kepedihan yang maha ini. nenek lanjut usia…” lanjut Peter masih asyik membaca. Itu cukup berhasil. kakek. Anak-anak. “Ya. mungkin sudah miskin sekali. mengejutkan Garsini pada kenyataan kembali. sang Monster… Seolah-olah satu kesatuan jahat yang siap menghancurkan seluruh rakyat Jepang. yang konon paling mulia di antara seluruh makhluk ciptaan-Mu itu…?” suara pilu Garsini tersekat di tenggorokan. Mengapa. “Tadi aku sempat mempertanyakan kepada Sang Khalik. mengapa. penduduk yang tak berdosa. wanita hamil. Sementara bagian terbesar penduduk Jepang terpusat di pantai-pantai laut sebelah barat daya. mengapaaa? “Apa yang kamu katakan barusan. Sebuah kota yang pernah dijatuhi bom atom oleh sekutu di masa perang dunia. Digasak sang Monster! “Tak bisa terbayangkan akan berapa juta lagi korban jiwa yang bakal berjatuhan. tapi berhasil menarik pulang sebagian jiwanya yang sempat mengapung dalam samudera kepedihan anak manusia. Penderitaan. “Ya Allah. 73 . taifun. Hiroshima. kehancuran anak manusia. ribuan korban jiwa dan harta yang tak terhingga. mengapa taifun itu selalu datang dan menghancurkan Jepang…?” “Ditambah bencana gempa secara berkala dan setiap saat. Persis seperti saat ia menyadari dirinya berada di Hiroshima. Peter?” ujar Garsini menatapnya pilu.

Garsini!” serunya masih belum melepaskan korannya. begitukah? Peter malah terus saja membacakan sekilas ulasan bencana yang pernah melanda Jepang di masa silam. Hening mengapung di sekitar mereka bak mata pisau yang menikam telak jantung masing-masing. sesak sekali. Untuk beberapa jenak tak ada yang bicara lagi. Garsini… Ini sungguh mengerikaaan!” serunya histeris. kapan. seorang diri. menyeberanginya… Ups! “Astaghfirullahal adziiim. atau masih sempat ditemukan oleh regu penyelamat. Terasing. Susah payah Garsini menembus samudera ketakutan itu. Tahun 1923. Napasnya tersengalsengal. “Korbannya konon lebih dari 130 ribuan tewas seketika. Garsini tersadar dalam sepenggal nostalgi bersama ibunya. Pintu yang terbuka meniupkan hawa segar angin musim semi dari pegunungan di belakang penginapan itu. Sang Maut. “Ya. Apakah itu akan selalu terjadi. Ini tragedi kemanusiaan yang tak terampunkan. kapan saja. Apakah kala itu masih dalam iman Islam atau sebaliknya. di mana dan seberapa parahkah?” “Setiap saat. suatu hari ketika ibunya baru saja babak 74 .” gumamnya lirih. Keduanya duduk terpaku di atas tatami. menyelaminya.. Entah terkubur begitu saja. sebagai penggugat-Nya? Mati dalam kekufuran nikmat-Nya. 1 September gempagempa dahsyat berulang kali menghantam Tokyo dan kota pelabuhan Yokohama. Asama. menghancurkan ratusan mil persegi kawasan Honshu bagian tengah. jauh dari orang tua. demi Tuhan. Mengejutkan saat pertama kali. tapi kemudian aku mulai terbiasa. Mengerikan. aku pernah mengalaminya. sanak saudara. bayangkan saja. merenanginya. mengamuk pada tengah hari bolong. Tahun 1783. Peter melemparkan koran di tangannya begitu saja. “Wooow.. Semuanya disamaratakan dengan tanah. di mana pun kamu berada di seluruh pelosok negeri ini…” “Ya Allah!” seru Garsini menutup wajahnya ngeri. Terbayang bagaimana dirinya suatu saat bakal menjadi salah satu korban bencana itu. kematian itu merenggutnya dengan telak.Wajah pilu itu kini memucat.

pasangan bebas? Seperti pasangan lain. penuh perhatian dan pengaguman diam-diam. “Baiklah. Tidak goyah oleh hempasan angin. “Orang yang istiqomah terhadap Allah memiliki empat sifat gunung. Peter pun menoleh ke sebelahnya. kita jalan-jalan mumpung cuacanya cerah!” ajak Peter ingin menghilangkan rasa ngeri yang sempat membelenggu hati mereka. Tidak beku oleh cuaca dingin. Saat itulah ia baru menyadari akan kemandirian sepupunya. anakku. langka! “Ayo.belur dipukuli suami. Bagaimana dengan prasangka dan fitnah? Adakah mereka percaya kalau keduanya bukan pasangan roman. “Apa artinya itu?” Begitu pula tanyanya kala itu. mengingat mereka jalan bareng dan selalu tampil berduaan. Ma? Mama pun berkata lugas. Sesungguhnya Garsini merasa agak tak enak hati juga. selebriti dan hal-hal bersifat semu.” diraihnya tubuh Garsini kecil dan mendekapnya ke dalam dadanya. “Tidak lebur oleh terik mentari. Jadilah manusia yang istiqomah terhadap Allah. Kelihatannya rencana yang bagus dan takkan ada hambatan apa-apa. tidak balik melawan Papa. kata wanita tegar itu. tapi kapan kita akan kembali ke Tokyo?” “Sore juga bisa. pikir Garsini. Garsini tak sama dengan para remaja bule yang pernah dikenalnya di Holland. Tidak bergeser oleh arus air…” Peter menyimak perkataan gadis itu dengan seksama. naik taksi ke kota dari sana dilanjutkan dengan kereta. tepatnya. Bayangannya tak ada di antara para pemuja dunia gemerlap. seolah baru kembali dari kembara yang amat menyedihkan itu. geramnya menggugat. kenikmatan sesaat… Dia begitu unik. Asyik kan bisa naik kereta malam-malam lagi?” Peter tertawa riang. istiqomah itu apa. Ia sama sekali tak pernah mengira bahwa cuaca cerah di Jepang bisa mendadak berubah… mengerikan! *** Sepanjang hari itu mereka menghabiskan waktu untuk keluyuran di kota yang pernah dibom atom sekutu. para turis asing yang berseliweran di sekitar mereka itu… 75 . Mengapa Mama diam saja.

Menyewa mereka dengan harga lipat-lipat.” elak gadis Belanda itu menanggapi komentar Garsini selang kemudian. karena dia seorang turunan aristokrat Kerajaan Oranye.” ajak Garsini tak tahan lagi dengan tatapan selidik. Garsini melengos dan berpikir. “Karena kakimu belum begitu sehat. “Para manusia nekad itu memaksa pergi juga dengan pemandu yang tak kalah nekadnya.“Kita kembali saja ke hotel. Sepenuhnya kesalahanku. Peter. ah. itu bukan salahnya. Mereka mampir di kafe yang agak sepi di sudut kota untuk makan siang. gadis yang satu ini mudah sekali merespon segala sesuatu dengan tawanya yang riang. Garsini tersenyum menyambut empat muda warganegara Belanda itu.” protes Peter. “Mana yang lainnya?” tanya Peter. “Jangan kejam begitu. terlalu genit memamerkan salsaku dan… Begitulah akibatnya!” 76 . Marlene van de Kaplan. Dialah satu-satunya yang memperkenalkan diri kepada Garsini dengan nama lengkap. “Aku malah bersyukur. Lagi pula. kalau kalian pergi aku terpaksa harus tinggal di sini sendirian atau balik ke Tokyo juga sendirian.” keluh dokter muda itu dengan raut kecewa sekali. Konon.” jelas Hendrick yang selalu digelendoti manja oleh gadis bernama Marlene van de Kaplan. “Tapi kita belum ke mana-mana. Sayang. Beatrice berseru memanggil Garsini dengan suaranya yang lantang. Kami disarankan untuk membatalkan perjalanan tamasya ke arah sana. Saat bersitegang itulah mereka bertemu kembali dengan rombongan Smith yang urung naik gunung Fujiyama. “Waktu terkilir tempo hari di kereta peluru itu…” “Dia sama sekali tak tertawa malah menjerit histeris kesakitan. “Tidak juga. “Tentu saja. sebab tak begitu suka hiking.” tukas Beatrice masih juga tertawa riang. tak mengenakkan hati itu.” celetuk Beatrice tertawa riang.”Bikin semuanya panik dan ketakutan…” “Kamu tidak berguna sebagai seorang kandidat Doktor!” ejek Marlene van de Kaplan yang wajahnya mengingatkan Garsini kepada Sophia Latjuba.” ejek Smith. “Cuacanya sangat buruk.” bujuk Smith menatap mesra dan mengecup sekilas pipinya.

kami haturkan beribu terima kasih atas pertolonganmu waktu itu. ternyata kemudian betapa sulit Garsini melepaskan diri dari rombongan itu. menggaet gadis secantik dan sepandai dia…” Marlene menambahkan dengan nada sok tahu. “Kami ini bersaudara. Mereka sungguh bukan golonganku. “Saya bisa kuliah di Universitas Tokyo itu dengan beasiswa dari pemerintah Jepang…” Suasana yang sempat kaku itu segera dicairkan oleh ajakan riang Beatrice. Kalaupun ada yang agak melegakan Garsini adalah mereka tidak tinggal satu hotel. kalau begitu kamu anak orang kaya.” jelas Peter tegas. Broer. toast…! 77 . Peter maklum akan ketaknyamanan hatinya. Miss Indonesia ini. “Berbahagialah kamu.Tiba-tiba Hendrick berkata seraya memandangi Peter dengan agak mengiri.“Beruntunglah ada Angel. “Sudahlah. Garsini merasa tak enak hati dan sesaat hanya menunduk dengan wajah merona. “Tidak juga. Apakah ia dan Peter bisa menolak ajakan mereka untuk bergabung? Dan akan beberapa kali lagi mereka harus bersulang? Toast. Garsini semakin mengkerut hatinya. aku sama sekali tak pantas berada di sini! Namun. “Waah. Garsini tak dapat membayangkan seandainya mereka satu hotel. okeeey?” Ketika tangan-tangan para muda itu terulur dengan mengacungkan gelasgelas kristal. sang Penyelamat. Sekali lagi. Ia melirik ke arah Peter dengan mata memelas. Rombongan Smith masih menginap di hotel kecil tempat mereka sebelumnya.” sahut Garsini semakin tak nyaman berada di tengah orang yang bukan golongannya. “Kapan kalian meresmikannya?” Garsini tersentak bagai tersengat listrik. teman-teman barunya yang beraneka ragam karakter dan kelakuannya itu. dia sepupuku dari Indonesia yang sedang belajar di Jepang sini.” Smith bersopan-sopan secara demonstratif. kalian ini… Mari kita bersulang untuk persahabatan antar warga dunia. hemm?” Marlene menatap Garsini dalam sorot mengiri.

Dan bunyi gelas beradu pun berdentingan. membarengi tawa genit. suara lantang dan perilaku yang mbarat sekaaalee… Budaya Barat telah merebak di sekitarmu. Garsini! *** 78 .

“Kalau begitu. gentle dan berwibawa.Bab 8 “Hari ini juga kita kembali ke Tokyo!” cetus Garsini keesokan harinya menegaskan tanpa bisa ditawar-tawar lagi. Sepanjang malam ia merasa sangat tersiksa dengan situasi yang mereka hadapi. Garsini jadi lebih gelisah lagi. putri pemilik kedai seberang itu. Usianya sekitar dua-tiga tahun lebih muda dari Garsini.” sungutnya. Charming. pesankan kamar satu untukku. mendatangi pemilik hotel. Peter tidur di atas tatami. kemudian bangkit untuk minum teh. dan sama sekali tak pernah dibayangkannya. Beberapa kali Garsini memergoki Peter terbangun. dia bukan seorang perokok.” Peter terperangah. “Ini Kagume. “Siapa dia?” Peter terheran-heran menatap seorang gadis asing di kamar mereka. penampilan sepupunya itu memang selalu memikat. Garsini mengangkat bahu dengan tampang disetel serius sekali. Jangan khawatir. Garsini harus mengakui.” kata Garsini sesaat wajahnya tampak serius sekali. Beberapa saat kemudian Peter kembali dengan tangan hampa.” jelas Garsini. “Kamu ini mulai aneh-aneh saja. Kita tak bisa ke mana-mana…” “Baik. Mujur. sebab hotel telah dipadati tamu yang terjebak angin badai di kawasan itu. Garsini menggeleng. ekor matanya mengerling kagum. siapa namanya itu yang suka dikejar-kejar para fansnya? 79 . Terpaksa Peter keluar untuk menuruti permintaannya. “Tapi angin badai begitu dahsyat di luar. “Ada apa denganmu?” Peter bertanya cemas. Dia sama sekali tak mirip selebriti yang arogan. bergelung kedinginan dan bisa dipastikan sulit tidur juga. Tapi melihatnya gelisah begitu. Kagume membungkuk takzim ke arah Peter. Garsini ternyata telah siap mengantisipasi kemungkinan macam ini. gelisah jalan mondar-mandir. kamar itu nanti akan kubayar sendiri. tapi ia sudah memutuskan sikap.

setidaknya kita sudah berusaha untuk menunjukkan kepada mereka. “Aku tak mau berdebat lagi… bagus menurutmu. Buat kita juga buat ibu dan anak yang sudah tak punya ayah itu.” jelas Garsini. Jangan pikirkan lagi untuk bayar macam-macam perihal tamasya ini. Garsini?” “Bukankah itu lebih baik buat kita berdua? Supaya tak ada prasangka orang lagi?” Garsini bersikeras. Beruntunglah. Bosss…!” Keduanya sesaat tertawa riang. Agaknya dia lagi pusing dengan tingkah Kagume… Yaah.” “Aduuh. Ini kegiatan kecilnya bersama Kagume. “Oceee. Tak ada gadis sebayanya lagi di sekitar sini. “Yaah. ”Ibunya tadi mampir. kau meminta ibunya untuk membawa putrinya ke sini?” “Bukan begitu. Kami ngobrol sebentar dan ia mengeluh perihal putrinya semata wayang. bisa ditanyakan kepada seorang saksi mata…” cerocos Garsini antusias. Jadi komunikasi mereka bisa berjalan lancar. dinilainya suka mengundang perhatian turis asing di kedainya…” “Jadi. ya Garsini?” suara Peter melunak. Kagume bisa bahasa Inggris. kenapa kamu jadi sok pahlawan begitu sih. menanyakan keadaanku. Aku setuju-setuju saja. Ibu Kagume hanya meminta kesediaanku agar menemani putrinya beberapa hari.” ajak Garsini yang segera diiyakan oleh Peter. Peter manggut-manggut dan memahami tujuannya. Bahwa kita bukan pasangan roman. Tak ada tanda-tanda lagi kesal. Kagume akan menemaniku. katanya…” “Apa urusan kita dengan semuanya itu?” “Ini hanya kebetuan yang amat baik buat banyak pihak. Kagume tersipu malumalu sambil mencuri pandang ke arah mereka. “Baiklah. 80 . Oke?” suara Peter kini terdengar tulus dan sarat pengertian. “Sejak saat ini sampai kita bisa melanjutkan perjalanan. kembali ke pekerjaan masing-masing. “Baiklah kalau itu bagus menurutmu. gelisah apalagi kecewa di wajah gantengnya. apa urusannya dia di sini?” Peter menggiring Garsini agak menjauhi Kagume yang berlagak sibuk menyiapkan teh untuk mereka.“Maksudku.

Holland. malah mendadak macet. “Ini jauh-jauh kubawa buat Garsini… Ah. Bahkan bisa bersikap terbuka dan manja. “Terima kasih. Dalam beberapa menit saja. saya normal kan? Tidak gila. “Buat Kagume saja. “Apa yang kalian bicarakan?” teriak Peter dari sudut favoritnya. Padahal. Artinya. Broer…” “Ya. “Ya. seperti menstruasi. Ya kan begitu.Sementara Peter diam-diam kembali ke sudutnya. Mending beli saja di Jepang. Ia ingin mempertanyakan beberapa hal yang tak dipahaminya. curah hatinya kepada wanita itu. Garsini jadi terkenang lagi saat-saat dirinya pada posisi serupa. mengotak-atik laptopnya yang mendadak macet. saya lega sekarang. percuma bersitegang dengan sepupunya perihal 81 . ya?” “Jangan repot-repot begitu. ya. Agaknya Kagume sedang mengalami masa-masa transisi. Tahu begini. Garsini angkat bahu. “Uugh.” Peter malah seperti tertantang. Garsini menjelaskan tentang beberapa hal yang dipertanyakan remaja putri itu. sudah. tak perlu pusing-pusing. Mama. Kagume-san?” “Ya. enak saja!” gerutu Peter. “Tidak. buat apa jauh-jauh dibawa dari rumah keluarganya di Blaricum. Eee. Peter baru saja memutuskan. ya Broer Peter?” pinta Kagume mulai terbiasa dengan keduanya. selalu berusaha memuaskan kepenasaran putri sulungnya. sebuah peralihan dari seorang kanak-kanak ke masa remaja. apa sebaiknya kubelikan saja untukmu nanti di Tokyo. ini urusan perempuan. Garsini sudah bisa menebak kegelisahan Kagume. sebaiknya ini buat Kagume sajalah. memang ini soal perempuan!” sambut Kagume dan tertawa kecil. Hingga Garsini tak pernah sungkan untuk menumpahkan kegelisahannya. ya Kak?” seru Kagume sampai juga ke telinga Peter yang belum berhasil memperbaiki laptop-nya.” saran Garsini tersenyum. Kakak. meskipun dilanda begitu banyak kemelut rumah tangga. tinggalkan saja benda rongsok itu. ia belum lama membelinya di Amsterdam. laptop-nya akan diberikan kepada sepupunya. perubahan bentuk tubuh dan kegelisahan yang melanda hatinya secara tiba-tiba.

kebendaan. Peter dinilai begitu boros. Tapi itu haknya karena memang ia telah menyiapkan liburan ini sedemikian rupa sejak lama. Peter bercerita tentang perjuangannya sebagai loper koran. Menyusuri salju dengan kereta luncur, melempar-lemparkan koran ke rumah para langganannya, di tengah udara dingin yang menggigit tulang sumsum. Perjuangan keras yang hanya saggup dilakukan oleh seorang anak berpribadi mandiri. Bukan anak korban traumatis jiwa. Peter tentu saja telah berhasil melewati kritis kejiwaannya itu dengan baik sekali. Dan itu tanpa agama, hanya karena aku berhasil menutup memori itu, luka itu dalam-dalam, katanya dalam nada bangga. Apa itu agama, bulshit, nonsens! Kalau sudah sampai ke arah pembicaraan spiritual, Peter selalu berhasil menepis segala upaya Garsini dalam mempengaruhi pikirannya. Mereka akan terlibat dalam perdebatan seru, berlarat-larat dan sangat melelahkan. Ini hampir dua minggu kebersamaan mereka, tapi rasanya tak ada pengaruh apapun, pikir Garsini. Ia bahkan nyaris membiarkan takdir-Nya bicara langsung atas diri sepupunya. Tak perlu ada ikut campur siapapun termasuk dirinya. Bila Allah menghendaki… kun fa ya kun! Jihad itu, syiar dakwah itu ternyata sangat-sangat-sangat sulit! “He, cuaca di luar mulai cerah,” kata Kagume. “Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Kalian belum sempat tamasya ke Miyajima, bukan?” Peter menoleh kepada remaja itu dengan penuh minat “Apa itu?” Garsini jengah dan membuang pandangnya ke luar jendela. Sesaat ia berpikir keras, bagaimana caranya yang bijak agar ia bisa berdiri pada posisi penengah. Gerakgerik Kagume, keluguan dan kemurnian remajanya kadang terasa berlebihan. “Kita pergi saja ke sana, nanti baru bisa terasa indah tamasyanya. Setuju?” ajak Kagume sudah terdengar seperti memaksa. Sia-sia Garsini berusaha menghindar, apalagi karena sepupunya telah bersemangat sekali menyambutnya. “Baik, ayo, kita pergi berdua saja kalau Garsini enggan…” “Tentu saja aku akan iku!” tukas Garsini cepat. ***

82

Awan berarak-arak menghiasi langit Sakura. Tampak putih dan seolah menantang untuk dilukis oleh tangan-tangan terampil yang memiliki citarasa tinggi dan luhur. Di mata Garsini, gerombolan awan itu selalu mirip arakan kapas nan lembut menjanjikan selaksa keindahan dan kenyamanan. Simbul sejuta harapan selaksa impian, masa depan cemerlang yang menanti dan melambai-lambai kepadanya untuk segera dijumput. Sebab di balik arakan kapas itu ada ribuan bintang gemintang, menantinya pula untuk dipetik oleh jari-jemarinya. Tentu saja dia akan terbang melayang, menggapai awan hingga lapisan langit ke tujuh sana. Kemudian ia akan menjumputnya, meraihnya dan mendekapnya erat-erat ke dadanya. Sebab ia tak ingin menjadi orang yang kalah, pecundang atau pengecut yang tak sanggup mengambil keputusan. Ia akan menggambari lapis demi lapis langit nun di sana, dengan macam ragam lukisan nan indah dan bermakna. Sehingga ia berhasil menembus selaksa tantangan itu, dan dihadiahi bintang-gemintang yang akan disematkan ke dadanya. Manakala kembali ke Indonesia, dia akan menghaturkan bintang paling cemerlang dan indah berikut selaksa lukisan nan bermakna itu; kepada Mama, Papa, adik-adik dan keluarga besar mereka. Baik yang ada di Cimahi maupun di Tapanuli dan Jakarta…. Tanah air dan agamanya! Garsini menikmati khayalnya terindah itu hingga matanya terasa membasah. Apakah ia akan sanggup mewujudkan selaksa mimpi dan angannya kelak? Hanya waktu yang mampu menjawabnya dan kemurahan Allah, yang kepada Dia selalu dirinya menghadap setiap kali merasa disergap rindu dendam, resah pasah. Ya, jeritnya merambah langit. Monster mengerikan itu sesungguhnya bernama rindu. Garsini terbetot kembali dari alam khayalnya, angannya dan bayang-bayang masa depannya. Bila boleh memilih, sesungguhnya ia lebih suka kembali ke pangkuan orang-orang yang dikasihinya… bahkan walau tanpa sebutir bintang sekalipun!

83

“Hai, apa kabar, saudariku yang enerjik? Kenapa mendadak pendiam?” tegur Peter di antara keriangannya menikmati nuansa indah di sekitar mereka. Garsini tak berkata-kata. Ia tepekur menikmati pemandangan yang… subhanallaaah! Inilah Nihon sankei, Miyajima pulau kuil di Inland Sea tamasya terindah dan terdekat dari Hisroshima. Kagume penuh semangat dan suaranya renyah memikat, berusaha memuaskan kedua turis yang dipandunya dengan uraian penjelasan yang lugas. “Di Jepang selain Fujiyama yang tiada bandingannya,” ujar Kagume berulang kali mengagungkan keindahan alam gunung yang memang sangat terkenal itu. “Sesungguhnya ada tiga tamasya Jepang yang masyhur antara lain Miyajima, inilah yang sedang kita kunjungi dan nikmati pemandangannya…” “Dua lagi apa?” tanya Peter dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Garsini merasa harus membentangkan tirai itu di antara sepupunya dengan Kagume. Apalagi mengingat ibu Kagume telah amat mempercayainya. Sehingga meminta Garsini agar mengajari putrinya semata wayang, beberapa hal yang

dirasakannya tak sanggup dia berikan sendiri. Padahal, apalah dirinya? Sehingga ia mendapat kehormatan dan kepercayaan yang begitu tinggi dari seorang ibu lugu, janda malang yang sudah lama ditinggal kawin lagi oleh suami. Namun, demikianlah adanya, penghargaan tak ternilai itu begitu saja disandangkan ibu Kagume ke bahu-bahu Garsini. Hanya karena perempuan sebaya Mama itu telanjur jatuh hati, terpikat oleh kemurniannya dalam bertutur kata, bersikap dan berperilaku. Itulah karunia Ilahi untuk Garsini, mengingat kebersamaanya dengan ibu Kagume baru tiga hari. “Boleh aku yang menjawabkannya, Kagume-san?” ujarnya lembut. Garsini berusaha dengan bijak tanpa menyinggung hati Kagume, menawarkan jasanya. Ia cemas akan kedekatan mereka. Terutama perilaku manja Kagume terhadap sepupunya, sungguh membuat hatinya kebat-kebit. Ia bisa memahami ketunaan gadis belia itu, toh Kagume bukan seorang Muslimah. Apa artinya muhrim dan non muhrim buat gadis belia itu, bukan?

84

nggak mau kalah jadi pemandu wisata nih?” sindir Peter. Orang Jepang berusaha keras untuk mengabadikan dan melindungi alamnya…” “Hanya sayang sekali. “Dan Matsushima. demi menampung turis-turis kota…” 85 . Kagume-san!” Dengan senang hati remaja itu menyambutnya. Kakak sungguh fasih menyebutnya!” Garsini tersenyum hangat. “Artinya Jembatan Nirwana.”Sudah sejak generasi kakekku. tapi lebih memusatkan pikiran untuk mengutarakan betapa indah dan agungnya negerinya tercinta.“Memangnya Kakak tahu?” tantang Kagume tertawa kecil. “Kebanyakan tempat di Jepang memiliki tiga atau delapan tamasyanya sendiri. “Wah. seperti mulai kehabisan kata-kata. Garsini menyelipkan tubuhnya di antara kedua makhluk itu.” kata Garsini lagi. “Itu adalah tanjung pasir yang ditumbuhi cemara di pantai Laut Jepang sebelah utara Kyoto. “Waah.”Baiklah. tolong bantu aku melanjutkannya.” sambung Garsini manakala Kagume terdiam. pemukiman penduduk. demi jalan-jalan lintas udara dan subway. itu tetap memikat para turis mancanegara…” “Berbeda dengan kehebatan Barat gaya Amerika. dari hari ke hari semakin banyak pencemaran dilakukan orang-orang tak bertanggung jawab. yaitu sekelompok pulau indah yang diliputi pohon cemara di sebuah teluk dekat kota Sendai di bagian utara Jepang… Ugh. ya kan Kagume?” “Ya. ”Ukuran keindahan alam Jepang sebagian besar mungil dan mesra. “Biar pun baru kubaca referensinya dari buku. aku merasa bisa menjelaskannya. terdapat ribuan tempat indah yang lain juga tempat peristirahatan dengan sumber air panas. Menimbuni daratan yang diambil dari laut. Demikian pula tak terbilang tempat-tempat indah yang kurang terkenal. “Ama-no-hashidate…” Kagume berseru takjub tanpa merasa tersisihkan.” tukas Kagume prihatin. wah. Garsini tak mempedulikan sindirannya.” katanya kini hampir tak mempedulikan keberadaan Peter.” sahutnya. Bukit-bukit hijau nan indah dibabat habis untuk membangun pabrik-pabrik. tepat sekali!” Kagume kian mengagumi pengetahuannya.

Dan untuk Jepang khususnya. Suaranya yang lantang seolah menggema ke pelosok Inland Sea.“Dan gunung-gunung nan indah telah lenyap di belakang kabut asap industri. ”Seperti Allah telah membuktikan hal itu atas kehancuran-kehancuran yang terjadi di masa lampau. “Ya. Allah takkan pernah diam!” cetusnya. Keduanya sesaat berpandangan lalu perlahan sama tersenyum maklum. Pesona indah nan agung…” “Begitukah?” Kagume terdengar agak meragukannya. seberapa parah pun orang berusaha merusak alamnya. Buktinya. Kagume dan Garsini tersentak kaget sekali. ironis sekali. seperti berkat guncangan gempa dan bencana alam maha dahsyat yang acapkali melanda negerimu.”Allahu Akbaaar…!” 86 . Padahal. Sampai Garsini kembali memberi harapan dan pencerahan. tahan bantingan di mana pun kalian berada…” Garsini berhenti dan merasa lelah bicara seorang diri. “Ya. Semuanya itu ada hikmahnya. “Banzaaaai!” “Banzaaaai!” sahut Kagume dan Peter kompak. bukan?” keluh Kagume terdengar mengerang sakit. kalian terkenal sebagai bangsa kuat. ikut mengerang pilu. Garsini sekonyong menggaet tangan sepupunya di sebelah kanan dan meraih tangan Kagume di sebelah lainnya. Garsini membarengi pula dengan selarik takbir.” keluh Peter bareng Garsini. paling ulet. “Banzaaaai!” Peter tiba-tiba usil menjatuhkan bom simpanannya. “Tapi yakinlah. Kemudian seketika itu pula. Diam-diam jauh di lubuk hatinya. Bayu dari arah kumpulan kuil semilir hampa menerpa wajah ketiganya. ia baru saja menemukan jawaban atas sejuta tanya ikhwal bencana taifun. yang pernah didiskusikannya bersama Peter tadi malam. Penyakit kota pun kian gencar menggerayangi banyak kawasan pedalaman. pertanian…” “Ironis sekali. ia mengangkat tangannya ke udara sambil berseru lantang. kalian akan tetap memiliki keunikan tersendiri. Untuk beberapa jenak ketiga anak muda itu terdiam dalam alam cemasnya masingmasing.

sebab ada satu hal lain yang lebih utama. Terutama terhadap Kagume. “Apa yang Kakak lakukan barusan?” tanya Kagume tatkala melihat Garsini usai mendirikan shalat isya. rukun Iman. “Shalat. Hidayah itu agaknya mulai bersemayam di hati Kagume. Kagume…” Kemudian Garsini menjelaskan beberapa hal perihal Islam. Di luar rasa kagum dan hormat. membawa peralatan kerajinan tangan yang ingin diajarkannya kepada Garsini. seperti yang dituntut oleh gadis belia itu. Rukun Islam. “Agama yang sungguh baru bagiku.Ia tak pernah mengira bahwa kebersamaan itu telah mengikatkan tali ukhuwah.” 87 . Bahwa sebagian dampak dari persahabatan itu kemudian membuahkan banyak hikmah dan berkah. hanya sekadar pemicu. maklumlah…” “Aku mengerti. Sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Garsini. Kagume Itsuwa… *** Petang itu mereka kembali ke hotel dengan penuh keriangan. Sebelumnya Kagume meluangkan waktu pulang dulu ke rumahnya. jauh ke mana-mana. Memang baru persemaian.” katanya. tapi kelak itu akan menjadi tonggak pertamanya yang tangguh bagi kelahiran jiwa islam seorang insan. lebih mulia pula maknanya. remaja imut-imut yang kala pertama ditemuinya sedang dalam pencarian jatidiri. “Tapi di Tokyo pemeluk Islamnya cukup banyak. perilaku dan perkataan Garsini kala itu ternyata telah amat membekas terhadap perkembangan jiwa Kagume selanjutnya. perihal tata cara ibadahnya bahkan pandangan keyakinan yang dipeluknya itu tentang pacaran. Suatu persahabatan yang terikat oleh simpul kasih Islamiyah nan indah dan agung. “Sebab di lingkungan kami hampir tak ada pemeluk Islam. Kota ini begitu terpencil.” kata Garsini. Bahkan menurut data statistik dari saat ke saat perkembangannya semakin meningkat pesat. itu sembahyangnya pemeluk Islam. Kagume tampak sekali terkesan dengan berbagai uraiannya. Segala gerak-gerik.

Tentang perjuangan. “Aku memang pernah mendengarnya dari koran dan televisi. Mereka yang terpojokkan. bersandar ke dinding di belakangnya. terjajah dan didzalimi… “Tentang perjuangan bangsa Palestina yang selalu diteror zionis Israel itu. seperti usia dirinya dengan Kagume. jihad para mujahid di berbagai belahan dunia. Miyajima. Disodorkannya bantal khas Jepang kepada Kagume. Tapi kenapa mereka suka menyangkutkannya dengan teroris?” Garsini dengan sabar dan bijak terus berusaha menjelaskan perihal kesalahkaprahan itu. gadis Palestina yang telah berulang kali mengajaknya bergabung dengan komunitas kajian Islamnya itu. perihal jatidirinya saat ini? Kepada siapa adik lelaki itu melabuhkan curah hatinya? Seketika terbit rasa rindunya yang mendalam kepada si Ucok. Mereka paling bertaut dua-tiga tahun saja.”Ini untukmu saja. Diperbaikinya dengan lembut dan apik selimut yang menutupi tubuh sohib kecilnya itu. “Islam di Jepang justru kebanyakan memikat hati generasi kita…” “Oooh…?” Kagume terkesan takjub. Meskipun adakalanya sikap dan pembawaan Kagume lebih dewasa daripada usia sebenarnya. tentu saja dia takkan mendengar apapun lagi. dipandanginya wajah Kagume. Sekilas Garsini cerita juga tentang persahabatannya dengan Ayesha. Sebab remaja itu memang telah tertidur tanpa disadarinya. Dan Ucok akan banyak bertanyakah. remaja ini mengingatkannya kepada adik laki-lakinya. Ketakutan Barat terhadap kebangkitan Islam di berbagai belahan dunia. ayo. sekarang tidurlah. Garsini menghela napas dalamdalam. *** 88 . ya kan?” Garsini menggeleng. tentang Islam. Ia sendiri merasa letih setelah sepanjang siang hingga sore tamasya ke Nihon sankei.“Pasti bukan untuk anak muda sepertimu. keluargaku nun di sana. si Butet juga Mama dan Papa… Kalian. Garsini berpikir.” bisiknya.” akhirnya Garsini melihat Kagume cukup puas. rindukah juga kepadaku? Garsini cepat mengenyahkan rasa pilu yang hendak menyergap kalbunya. Mata remaja itu tampak sayu dan kepalanya terkantuk-kantuk. Ah.

kenapa kamu mesem-mesem begitu? Jangan mengejekku. kali berikutnya ia bersikeras memperbaikinya. katanya? Bahkan untuk Kagume saja.” sesaat Peter menghentikan kesibukannya. Non. Entah ada apa dengan laptop itu. bahkan asyik membaca kitab sucinya. menerawang ke langit-langit kamar. Dalam hati ia sempat bertanya-tanya. gumamnya membatin dalam ketakmengertian. jadi kapan sesungguhnya kamu beli laptop kesayanganmu itu?” “Hmm. Ha. tapi mana paham Peter. sebagian lagi kutabung untuk memenuhi kebutuhanku sendiri…” “Baik. adakah Peter menyadari bahwa benda itu sesungguhnya telah usang. ya Broer?” Garsini bangkit dan menghampirinya. Kadang Peter pasrah. Kalau bisa akan dibawanya kembali ke Holland… Iiih. Namun. cepat-cepat berlagak sibuk dengan Al-Quran mungilnya. Beberapa kali mereka sempat mendiskusikan khusus perihal keberadaannya.”Kukira saat aku kelas tujuh. Ah. Garsini akan menyesalinya. Tiba-tiba ia sungguh menghentikan kegiatannya. rongsokan? Dan itu justru ingin dihadiahkannya kepada sepupu kesayangan. memperjuangkannya sedemikian rupa agar benda itu bisa dimanfaatkan kembali. Garsini gelenggeleng kepala menyadari akan sikap keras kepala sepupunya itu. Uangnya sebagian kuserahkan kepada Mami. memberikan sesuatu kepada orang haruslah yang terbaik yang kita miliki. Baginya. aneh-aneh saja anak kitu! “Belum menyerah juga. sekitar lima-enam tahun yang lalu. ingin meninggalkannya begitu saja di Hiroshima. sejak duduk di kelas dua aku sudah berjuang cari nafkah sendiri. bahkan membuangnya ke tong sampah. seorang yang tak mempercayai agama perihal ini? Melihat Garsini tak bereaksi.Bab 9 Peter di sudutnya. Itu setara dengan kelas tiga SMP kalian. Peter jadi ge-er. “Kamu tahu. 89 . masih belibet dengan laptop-nya. “Ini benda elektronik pertama yang sanggup kubeli dengan jerih payahku sendiri.” sahut Peter terdengar penuh nostalgi. ya…?” Garsini tak menyahut.

“Baiklah. dengar itu Garsini. Bahkan hingga saat ini. ini soal benda yang menyimpan banyak kenangan untukmu. Kepalanya mengangguk perlahan. Garsini meliriknya sekilas dengan gerakan acuh tak acuh dan seulas senyum bijak di sudut bibirnya. penampilanku yang ngeslank di mata orangorang Belanda. Bahkan tentang derita dirinya. derita anak-anak para pengsungsi di Aceh. mirip Yahudi saja. sempat tak diakui ayah dan diragukan eksistensinya. “Mungkin kamu berpikir. aku akan membuang benda rongsokan ini. kemudian ia kembali dengan mushaf pemberian Oom Ady itu. “Cobalah meningkatkan empatimu terhadap orang-orang di sekitarmu. Seberapapun dia menghiburnya. Betapa ingin Garsini meneriaki kuping sepupunya itu. “Kamu takkan pernah memahami bagaimana perjuanganku di masa kanak-kanak. statusku. aku tak sepelit yang kamu duga! Ini hanya soal benda kesayanganku yang pernah susah payah kubeli dari jerih payahku sendiri…” “Sudah kudengar ratusan kali tuh!” usil bibir Garsini meningkahi. Garsini!” sentaknya mengagetkan gadis yang begitu teguh mengenakan kerudungnya itu. ya kan?” “Dengar. Bahkan oleh ayah kandungku sendiri. “Kamu egois. Ia tak ingin mendengar keluh kesahnya lagi. rasanya Peter tetap takkan pernah puas untuk selalu mengeluh. Sampit. Broer. Ambon. Peter memandanginya dengan gemas. Tentang penderitaan orang lain. alangkah pelitnya aku. dipinggirkan. Masa kanak-kanak yang pedih! Mengapa itu saja yang selalu dijadikan tamengnya? Seakan-akan hanya dirinya yang paling menderita di jagat raya ini.”Jadi. kamu dengaaaar…?!” Garsini meletakkan mushafnya dengan sangat menyesal dan kecewa. Garsini. “Hmm…” “Dengar. kamu selalu merasa hanya dirimu yang pernah punya masa kelam saat kanak-kanak. Karena otaknya sudah pepat oleh segala keluh-kesah sepanjang kebersamaan mereka.” suara Peter seketika mengeras dan dingin. Sadarlah. 90 . diskriminasi. ya begitu kan?” cetusnya. Broer. Anak-anak para TKW yang tak pernah mengetahui siapa ayahnya. eliiing!” Garsini merasa sesak dadanya.

aduuuh. banyak ketakpuasan. Mengherani kelakuan sepupunya yang ternyata amat kompleks dan sulit ditebak. Peter berhasil mendapatkan transportasi eklusif bersama rombongan turis Belanda. Mereka pun terbang dengan pesawat carteran kembali ke Tokyo. tak terhingga…” Garsini bangkit karena merasa tak tahan lagi Dadanya kian sesak dan kepalanya mulai berdenyar-denyar. Namun. ribuan. memiliki traumatis jiwa. bukan hanya kamu yang pernah menderita. Peter. saling menatap. Baru disadari Garsini. Mungkin mencari hawa segar di luar. Ia tak mempedulikan sorot amarah yang masih tersisa di mata sepupunya. Tengoklah juga ke bawah. Ada banyak derita anak-anak di dunia ini.” gumamnya sambil terhuyung-huyung menggapai kamar mandi. “Intinya. Kadang tampak riang. gadis India yang menggantikan posisinya sebagai relawan di museum. Anjeli. Lama ia hanya diam seribu basa di dalam kamar mandi itu. Esok paginya ketika cuaca mendadak cerah. menyodorkan sebuah koran hari itu. “Astaghfirullah adziim. Ia tersentak kembali manakala mengingat tujuan keberadaan Kagume di kamar mereka. Ada kecewa mendalam di mata Garsini. ampunilah hamba-Mu yang daif ini. hal itu mulai menjadi kebiasaan Peter. Ketika dengan tergopoh-gopoh Garsini keluar. bagaimana kujelaskan semuanya ini kepadamu?” Beberapa detik keduanya berhadapan secara frontal. Garsini mendapat kabar tentang Nakajima dari seorang rekannya. *** Begitu sampai di asrama. terutama bila dirinya gelisah dan sulit tidur. adakalanya muram. Itulah malam terakhir kebersamaan mereka di sebuah kamar hotel terbaik di Hiroshima. didapatinya Kagume tetap tertidur lelap. jutaan. Ia pun mengabaikan akan kemungkinan percakapan mereka bisa saja membangunkan Kagume. Allah. Sementara sepupunya entah pergi ke mana.jangan hanya menengadah ke langit-langit. Ada amarah dan geram di mata Peter. 91 . mandiri dan mudah ketawa-ketiwi. keluh-kesah dan menyimpan kepedihan masa silam.

seharusnya sudah kembali ke Tokyo. “Nakajima-san! Nakajima-san. “Bahkan kamu pun mengenalnya!” seru Anjeli separuh mengisak. Apalagi ketika selang kemudian Mayumi sengaja menjemputnya untuk urusan ini. Seketika ia merasakan kesedihan tak terkira. Mereka terpaksa bubar. jerit Garsini dalam hati. tak ada reaksi. menemukan Garsini seorang diri masih tinggal di depan pintu apartemen Nakajima. Namun. Anjeli dan Mayumi pun harus bekerja. 92 .” kata Mayumi. Paaak. bukalah pintunyaaa!” “Iya.” Garsini kini berderaian air mata. “Kasihan sekali dia. Kelihatannya sedikit pucat. Ketiganya memutuskan untuk pergi ke rumah lelaki tua yang malang itu. Mereka tak bisa mencegah Garsini yang masih ingin bertahan. mungkin basah oleh bekas air mata campur keringat. kami ada bersamamuuu!” “Tolong. “Sekarang Pak Nakajima mungkin sudah mengetahui berita ini di apartemennya. orang-orang mulai bosan dan putus asa. cucu Pak Nakajima…” Ya Allah… innalilahi wa inna ilaihi rojiuun. Tapi Aa Haekal bukan terbang ke Korea melainkan sebaliknya. meninggalkan tempat itu tanpa bisa mengetahui keadaan Pak Nakajima. berseliweran di depan pintu apartemennya.“Pesawat yang membawa penumpang menuju Korea meledak…” berkata Anjeli dengan mengeja. Garsini-san?” seru Mayumi terheranheran. apartemennya tertutup rapat. tebak Anjeli iba. Menjelang sore Mayumi dan Anjeli kembali ke tempat itu. Bahkan beberapa tetangga dan kenalan Nakajima yang sudah berdatangan sebelum mereka. Pak Nakajima. “Anakmenantu. Hingga beberapa jam lamanya demikian. tak dapat masuk. “Kenapa dengan wajahmu… basah sekali?” Anjeli penasaran agaknya. bukalah pintunya. Paaak…!” Tak ada sahutan. “Ada orang yang kau kenal?” Garsini menatap wajah gadis Hindustan itu. “Ya ampuun. kamu masih di sini. Wajahnya sama sekali tak memperlihatkan gurat-gurat kelelahan.

Garsini diam-diam menyingkir dengan hati kecewa. menggodanya. kesakitan.“Aku baru ambil wudhu mau shalat maghrib sebentar lagi. ya kan?” sindir Mayumi. Dan ia segera meleburkan diri dalam rakaat-rakaatnya yang khusuk di sudut balkon itu. Maluu!” sergah Anjeli menegurnya. kalian tak usah mengkhawatirkan Pak Nakajima lagi. Mereka sudah bergabung dengan para penghuni apartemen itu. ”Kamu juga kaaan. tetangga yang sejak tadi secara atraktif menyiulinya. “Pssst… jangan tertawa genit begitu.” tergagap Garsini berusaha menyembunyikan perasaan pilu dan harunya sepanjang siang itu. “Habiiis… Matamu jelalatan! Pasti lagi cari tahu kabar si Sarukh Khan yang tinggal di apartemen seberang sana. Melainkan untuk mengintip aktivitas para pemuda India. “Beberapa kenalan Pak Nakajima… kenapa dengan kakimu itu. Ugh! Astagfirullah… kenapa mesti berprasangka. sekaligus geli akan keluguan Garsini. Pesona si Sarukh Khan dan kawan-kawan agaknya sudah mencuri empati kedua gadis itu terhadap sesamanya. manakala sejurus kemudian Mayumi dan Anjeli sudah tak ada lagi. si Sarukh Khan itu memang macho nian…!” *** Sementara kedua gadis itu ngerumpi-ria soal cowok-cowok penghuni apartemen seberang. Belakangan Garsini semakin kecewa lagi 93 . Tenanglah. Mayumi terkikik melihat kelakuan Anjeli. Teras itu agak tinggi menghalangi apartemen seberang yang dibatasi jalan raya. Ia sempat berpikir. entah bagaimana kronologis ceritanya. Kematian. Anjeli tersipu dan meninju perut Mayumi perlahan. padahal perawakannya yang tinggi langsing dengan mudah bisa melihat segalanya di depannya. Sayup-sayup terdengar tawa genit keduanya dari arah seberang. Anjeli?” Anjeli menjinjit-jinjitkan kakinya. “Ada siapa di dalam sana?” tanya Anjeli pula ingin tahu. pikirnya kemudian. penderitaan masihkah belum cukup untuk mengingatkan manusia akan kepapaannya? Garsini semakin tak mengerti sekaligus kecewa. mereka ke sini bukan semata ingin mengetahui keadaan Nakajima-san.

kebebasan beserta segala janji kenikmatan yang melambai-lambai kepadanya telah digapainya. itu sama sekali tak masuk agendaku. Mayumi?” jengek Garsini mulai sebal mendengar keluhkesahnya perihal cowok. memilikinya… Ketakpuasan justru kian menikam lebih dari saat-saat sebelumnya! “Jadi. nikmat semu itu yang melambai-lambai. Kala itu Mayumi masih tampak sebagai gadis polos.”Biarlah ibuku tenang dengan dunia khayalnya. ketakutan dan malu persis seperti Garsini. Sampai Mayumi suatu hari mendatanginya dengan wajah kusut masai. kini Mayumi sudah melesat meninggalkan Garsini. Rasanya baru beberapa bulan lalu mereka jalan bareng.”Masak aku dimintanya menjalin hubungan lebih serius lagi dengan si Jay Bachan. Menuntut untuk dikejar. 94 . diraih. Untuk beberapa waktu lamanya. sekarang kamu tidak tinggal bersama Okusan lagi?” Mayumi menggeleng. Mayumi terdiam sambil sibuk menyalakan rokoknya. Sebab semakin dikejar. Namun. “Menikah maksudmu? Aha. kemudian dimiliki dan saat berhasil meraih. desah Garsini membatin. Tapi semakin berhasil digapai. kala mereka berlari keluar rumah geisha di sudut kota itu. segala nikmat semu itu semakin tak terpuaskan pemenuhannya.” desisnya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. “Anjeli itu keterlaluan sekali!” adu Mayumi.dengan perilaku kedua sahabatnya itu. Hal itu betapa takkan pernah memuaskan bagi orang yang mengejarnya. “Begitu. tapi jalan bareng dan macam-macam sudah sering?” sindir Garsini kian sebal dan kecewa. Garsini baru menyadarinya kini. ia sering menghindari Mayumi sebagai ungapan rasa ketaksetujuannya. Sejak kapan dia pandai merokok. Garsini…” “Bukankah itu lebih baik bagimu daripada keluyuran ke sana ke mari tanpa ikatan apapun. Nona…” Mayumi tertawa sumbang. Ia baru menyadari bahwa keduanya termasuk penganut aliran gaul bebas. Dunia semu. nikmat semu. ya? Menikah tak mau. maka semakin bertambah pula kesenangan duniawi. Kemodernan. mencari-cari kartu pas kereta peluru itu.

pasti akan mengetahui kalau kamar mereka sempat terkontaminasi polusi rokok.” sungutnya yang akan dilanjutkan dengan wejangan berlaratlarat. jangan terlalu menyanjung…” Garsini bermaksud melanjutkan pekerjaan rumahnya yang tertunda. Di mata rekan-rekan seasramanya. Kebiasaan yang baik. ”Kami merasa biasa-biasa saja. Jadi. moderat dan dinamis daripada Miss Malaysia itu. buat orang-orang tertentu menganggap Haliza sebagai orang yang bisa diajak bertukar pikiran perihal spiritual. Garsini tak bisa mengelak lagi. di asrama putri ini Haliza dikenal sebagai penasehat spiritual. Bahkan lebih dari sekadar penasehat melainkan pengaguman berlebihan. membosankan.” “Tidak. Haliza dengan penciumannya yang luar biasa itu. Garsini menduduki urutan kedua ikhwal ini. tak ada yang istimewa. jangan bersahabat lagi dengan Miss India itu!” kata Haliza tegas.” “Sudahlah. tak semua orang bisa menerima apalagi menyukai hal itu. Meskipun dalam hal keanggunan dan kecerdasan keduanya dianggap seimbang. Mengejek Haliza sebagai gadis kolot. Sayang. menonjol dibanding gadis-gadis moderat lainnya. pendeknya tak sama dengan kami. 95 . Meskipun demikian. Mereka membawa pengaruh buruk kepada kita. Haliza menemukan puntung rokok dan sisa-sisa bau asap yang masih menempel di sudut kamar mereka. itu kan reka-reka kalian saja. Biasanya yang datang adalah gadis-gadis dari belahan dunia Afrika. memberi wejangan gratis kepada orang-orang sekitarnya. Beberapa di antara mereka menjadi balik tak suka. “Kalau begitu. Garsini tersenyum kecil mengingat kebiasaan dara dari negeri jiran itu. kalian memang istimewa. unik.” kilah Garsini kini kala Mayumi menyinggung perihal ini. sosok berkerudung muncul diikuti tiga gadis Afrika.Garsini cepat-cepat membuka jendela apartemen agar asap rokok tidak menyesaki kamarnya. Sudah pernah terjadi sebelumnya kala Garsini kedatangan Anjeli. Tibatiba pintu didorong tanpa pemberitahuan.”Gadis yang suka merokok sungguh tak baik. “Ah. Garsini dipandang lebih enerjik.

Mayumi sambil menyambar tas tangannya menimpali. Garsini terlonjak menghampirinya dalam rasa bersalah. tiga gadis berkulit hitam yang amat kompak karena ke mana-mana sering tampak jalan bareng. Haliza tertegun tak enak dan sedikit bingung. Mayumi mesem-mesem penuh arti. Giliran Garsini yang masih merasa tak enak. silakaaan!” tiba-tiba Cristal. Beberapa kali menumpang di mobil orang yang diperkenalkan Cristal sebagai pamannya. Haliza mengenal Cristal dengan baik. “Baiklah. ”Sebentar… kira-kira apa yang akan mereka lakukan di kamarmu sana. lanjutkan saja.” sesal Gweeny. Garsini mendengus dan menggeleng. Pria paro baya yang selalu berpenampilan keren itu suka menjemput Cristal tiap akhir pekan. gadis Swedia menyelamatkan suasana. Orang sampai menyebutnya itu sebagai ritual gaya persahabatan mereka. Bersahabat sangat erat. kita cari tempat lain saja!” Barbina menghela tangan kedua rekannya. menatap gadis Swedia yang dikenal hobi nonton film horor. “Tidak apa. semuanya sudah aman kembali. “Yaah…!” Cristal angkat bahu. “Kalau kalian mau diskusi. wajahnya merona. Cris?” tanyanya ingin tahu. Seolah-olah jalan bareng merupakan tradisi ketat untuk ketiganya. “Tadi kamu bilang takkan ada siapa-siapa. “Maaf… kukira kamu takkan pulang sore ini?” gagap Garsini.”Kalian ini memang aneh. Haliza menuju rumah peristirahatan salah seorang famili Rashid. 96 . Zeena dan Gweeny. bisa pakai kamarku saja. tapi…” “Sungguh kamu tak tahu apa yang mereka lakukan?” selidik Cristal bimbang menatapnya. Mereka akan jalan bareng menuju Kyoto. Sementara Cristal ke rumah kediaman pria macho itu. Untuk sesaat para pendatang itu terkejut melihat keberadaan Garsini dan Mayumi.Barbina. “Pssst… ayo. maaf juga kami sudah ganggu!” suara Haliza terdengar sumbang dan matanya mengerling dingin ke arah Mayumi. Mata Haliza langsung membelalak lebar melihat Mayumi tengah asyik menyedot sigaretnya. okey?” Cristal terkikik manakala Haliza dan ketiga African-look itu sudah masuk ke kamarnya di ujung koridor lantai dua. dan percaya akan hal-hal berbau mistik itu.

kamu bisa jelaskan?” tuntut Garsini.”Obat itu memang sangat kuat hingga bisa menghancurkan janin di dalam rahim Gweeny!” Terbawa emosi. ada beberapa kali khusus mendatangi Garsini. hei. Mayumi semakin liar saja dalam dunia gaul bebasnya. ya… bye!” Cristal pun melenggok bak supermodel kelas dunia. lihat saja sendiri ke sana. Apalagi membujuknya agar pulang ke rumah keluarganya. teman-teman… sayonaraa!” Mayumi melenggang meninggalkan kamarnya. Sehingga prasangka buruk terus menggayuti keduanya sampai beberapa waktu. hemm? Mayumi. sayup-sayup terdengar suara Haliza. Betapa tidak. Tapi jangan bilang dariku. Cristal menatap iba kepadanya. “Kalau mau tahu. Memintanya agar membujuk putrinya untuk pulang. Garsini ceroboh dan mengakibatkan bunyi berisik di depan pintu kamar itu. tanpa menoleh lagi kepada kedua gadis itu. tubuhnya seketika terasa lemas sekali. Prasangka buruk. mereka serempak bubar meninggalkan Haliza yang terbengong-bengong. “Cristal. jadi kalian sudah paham sekarang kan?” sergah Haliza seperti menyimpan amarah. Namun. Kasihan Mayuko-san. Sebegitu parahkah luka pilih kasih yang dibekaskan ibunya kepada Mayumi? “Cristal. mau ke mana. Sedetik Garsini masih menangkap gurat sesal dan kecewa di wajah pucat Haliza. “… nah. 97 . Seketika trio African-girls tersentak.Garsini jadi kian penasaran. Garsini tak pernah berhasil melembutkan hatinya. tunggu…!” “Aku sudah telat nih. suuzon pun seketika menikam ulu hati Garsini. Garsini sudah mengintip aktivitas yang terjadi di kamar Cristal.”Kalian ini bicara apa sebenarnya. Selang kemudian. detik berikutnya sesal dan amarah campur kecewa itu telah menyergap kalbunya. masalahnya tak diselesaikan seketika itu juga.”Ternyata kalian bukan sahabat yang solid seperti yang kami duga. please…” Garsini memohon. Ia tertegun di balik pintu yang terbuka sedikit.” ujar Cristal tajam. Parahnya lagi.

” Hatinya sungguh sedang digayuti rindu dendam tak berkesudahan. “Kudengar dari Andreas. kesepian yang menyengat dan mengharu biru kalbunya.” kata Haliza begitu Garsini muncul di kamar mereka petang itu. sarat tantangan dan tekanan… Semuanya harus dilewati tanpa ampun! “Selamat. dukacita yang melanda Nakajima-san. Ya. Musim semi disilih musim panas. ada semangat di sana. berakhir dengan ketragisan lelaki malang itu. menurut istilah Mayumi. Belum lagi usai persoalan antara dirinya dengan Mayumi. kamu berhasil menyabet predikat the best gakusei…?” Garsini hanya tersenyum tipis. musim dingin. persahabatan yang kental menjadi *** Mengenang saat-saat liburan musim semi yang pertama kali dialami Garsini sepanjang mukim di Negeri Sakura.Merenggangkan renggang. alhamdulillah. “Terima kasih. temanku yang orang Papua itu. ya Garsini. Sungguh membuat hati Garsini tertusuk hingga ke tulang sumsum. hubungan mereka. Musim demi musim pun berganti. gigilan hebat yang menyergapnya dari menit ke menit pada musim dingin yang pertama kali dialaminya di Negeri Sakura. Sungguh menyakitkan! *** 98 . ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa di apartemennya di pagi musim dingin yang dahsyat. Apapun namanya. Semuanya saling belit-membelit. acapkali menimbulkan semangat baru manakala dirinya terperangkap dalam kejenuhan rutinitas. Beberapa kejadian belakangan ini. Melebihi rasa dingin. kenangan itu kerap mengukuhkan kembali cita-cita dan seluruh harapan dari orang-orang yang dikasihi dan mengasihi dirinya. Semangat libur musim semi. seolah takkan sanggup teruraikan. kemudian tiba musim gugur. Haliza. Terutama manakala dirinya terjebak dalam rasa jenuh. Seperti masa-masa perkuliahan yang semakin padat. Haliza dan terakhir kecemburuan Haekal yang membuta.

tentu akan liburan musim dingin. kami berterima kasih atas kesediaan kalian datang ke TKP pagi buta begini. Mayumi mengisak perlahan di sampingnya. Sungguh." nasihatnya sungguh bijak. Tak baik lama-lama di udara sedingin ini. Setelah merasa cukup puas dengan penjelasan keduanya secara bergantian. tak ada yang memintanya demikian juga tak ada indikasi kriminal di balik kematiannya. Termasuk seberapa dekat hubungan mereka dengan lelaki tua yang malang itu. Mereka sedang sibuk berkemas. Sudahlah. baik dalam pangkat maupun usia. Ekor matanya sempat mengerling tajam ke arah sekelompok mahasiswa India.Bab 10 “Apa betul dia meninggal karena serangan jantung?” tanya Garsini kepada Mayumi yang juga sempat shock dengan kepergian sobat sepuhnya secara tragis. Garsini merasa belum puas. Sekarang sebaiknya kalian cepat pulang saja. Sementara beberapa petugas sibuk mengangkut jenazah tua itu ke atas sebuah ambulans. “Para pengkhianat sialan itu. “Mungkin kami yang lebih membutuhkan kalian. brengsek sekali!” 99 . Saat melintasi apartemen di seberang. Garsini. Mayumi menghela tangannya menjauhi kawasan apartemen Nakajima. “Entahlah. kenapa berakhir sampai di sini saja? Apakah takkan ada tindak lanjut yang lebuh melegakan hati? Apa mereka akan melakukan visum et repertum? “Tidak. Seorang polisi menghampiri mereka dan menanyakan beberapa hal yang ingin diketahuinya. ia memberikan kartunama. “Kalau kalian punya keterangan lain…” kata seorang petugas yang segera dihampiri rekannya yang lebih tua.” sahutnya pendek. tak menjanjikan apa-apa lagi. Mayumi mendengus sebal.” jelas petugas yang telah memberi nasihat bijak kepada mereka itu.

Tersilih oleh rasa terkejut atas reaksi Mayumi terhadap keberadaan para pria Hindustan itu. Ada pasangan-pasangan roman yang tengah siap berangkat. Jay Bachan memang playboy Hindustan yang sukses kembara di Jepang. Salah satu pengagum dan telah menjadi korbannya adalah Mayumi. percakapan itu kembali mengental. Saat itulah Garsini baru mengetahui love-affair Mayumi-Sarukh Khan. Setahunya dalam beberapa bulan itu. di atas kereta. Sebuah mobil carry sudah menanti. “Mereka pasti akan bersenang-senang di… sungguh tak punya hati!” umpat Mayumi semakin sarat benci dan dendam. masih melangkah berat di sisinya sambil menahan tangis duka. Namanya tentu saja bukan Sarukh Khan. sesaat mengapung di udara dingin yang menghajar tulang sumsum. “Bahkan Anjeli sekarang masih bersama mereka! Juga Miss Swedia Cristal si pahit lidah itu!” umpat Mayumi kini terdengar sarat angkara. kedukaan dan perkabungan untuk Nakajima. keheranan. Sesungguhnya 100 . ”Katanya dia menyesalkan. semuanya saja brengseeekk!”” Garsini tak urung meliriknya. Mayumi-san?” Garsini lesu. Umpatan. Sekilas ekor mata Garsini pun terarah ke apartemen seberang. dan suasananya sarat canda dan tawa. kebutuhan curah hati dan entah apalagi. ada apa denganmu?” “Lihat si Sarukh Khan itu. Sepanjang perjalanan menuju asrama. Mayumi telah tersihir oleh perangkap salah seorang pria ganteng di sana. dialah pengkhianat brengsek! Demi Tuhanku Yang Pengasih. caci maki terhebat yang pernah diperdengarkan oleh mulut manis Mayumi. Persahabatan mereka yang sempat renggang. dendam dan benci. kembali terikat oleh tali simpati. “Eh. biar dia mampus disambar kereta peluruuu…!” desis Mayumi. dustaaa! Pendusta besaar si Anjeli itu! Orang-orang itu.“Kamu bilang apa. itu hanya julukannya di kalangan fansclub-nya. “Kamu… aaah?!” Mulut Garsini ternganga. Mahasiswa hukum yang terancam di-DO itu sangat banyak pengagumnya. ugh.

demi Tuhan. Sunguh pertanyaan yang sangat kejam. “Jay Bachan itu cuma ingin menghisap madu setiap bunga Sakura. *** Garsini sendiri memutuskan untuk cepat kembali ke asrama. desisnya ikut merasakan rasa sakit yang diderita sahabatnya. itu gara-gara si bajingan Jay Bachan!” “Sebelumnya kamu begitu mengaguminya. Tak dinyana. Tak usah dilanjutkan. aku sungguh menyesalinya!” desis Mayumi menahan sakit. “Jadi.” “Itu sudah berakhir. ia menemukan Haliza yang sudah beberapa hari tak pulang. sampai di mana kamu menyerah?” Garsini menggigit ujung bibirnya. pekik Garsini membatin. Dia akan memaafkanmu. “Insya Allah. jika kamu melakukan taubatan nasuha. Ingin melabuhkan rasa pilu di kalbu di atas peraduannya yang hangat.Garsini lebih banyak menjadi pendengar yang baik. Tapi ia tak pernah berpikir. Mayumi langsung ke tempat kerjanya di kawasan Ginza. Tak mengindahkan para penumpang lain yang menatap dengan penuh rasa ingin tahu. marah dan benci dendamnya. Ia sudah banyak melihat contohnya. kisah cinta remaja yang terjebak nafsu. Mayumi terdiam. Allah itu Maha Pengampun…” Mayumi beberapa saat tersedu di haribaannya. jika sahabat kesayangannya sampai terjerumus ke jurang serupa itu. menengok Okusan yang telah lama tak diketahui kabar beritanya. nikmat sesaat. Wajahnya pucat. Sedang Mayumi tak henti curtah hati dengan segenap emosi. Tapi ia berencana nanti malam akan mampir ke rumah. “Apakah Tuhan akan memaafkan diriku yang telah terjerumus ini. bunga segala bangsa yang datang kepadanya…” “Sejauh itukah? Dan kamu. Mereka turun di Tokyo Eki. ceritanya sudah sebulan ini kamu tak pernah lagi gaul dengan mereka…” “Ya. tubuhnya seketika terasa bergetar dan bersandar pada Garsini. Garsinisan?” suara Mayumi terdengar parau dan bergetar hebat. Karena tugas 101 . gaul bebas. kecewa.

Ketika dirinya dalam puncak kelelahan setelah berburu tiket pas kereta peluru. Garsini…” Garsini tak bereaksi sama sekali. Ia berdoa khusus demi kesembuhan sahabatnya. Dan pilu nestapa itu menyeret Garsini ke rasa sakit yang berkepanjangan. Papa. Namun. di balik itu ada pilu yang masih menggayut di ujung kalbu Garsini. sanak saudara dan para sahabat tersayang di tanah air. Masih belum sadar jugakah? 102 . Sepanjang malam itu ia hampir tak memejamkan matanya. sebagian butiran kristalnya itu berjatuhan dan membasahi pipi Garsini. Tengah malam pun lewat. Kini penyakit yang sama kembali dan menghajarnya tanpa ampun! Haliza mengganti kompres di atas kening Garsini. ambruk di penginapan luar kota Hiroshima. Bukankah kita akan memetik berkah dan nikmat shaum untuk pertama kalinya di Negeri Sakura ini. adik-adik.” bisik Haliza sambil berlinangan air mata. sembuhlaaah. Usai shalat dihampirinya lagi Garsini. “Besok kita mulai memasuki bulan suci Ramadhan. dukacita Nakajimasan.hariannya di rumah sakit yang konon semakin padat dan keras. Haliza meninggalkannya untuk mendirikan shalat tahajud. Suatu hal yang nyaris terlupakan oleh Garsini. ukhti sayang. karena ia keburu hanyut dalam berita dukacita yang datang kepadanya di kampus. Sesungguhnya ingin segera dihaturkan Garsini ke haribaan Mama. Demam aneh yang sebelumnya pernah menyergapnya beberapa bulan silam. Ini sudah lewat sepuluh jam. terpaksa aku harus memanggil ambulans dan mengangkutnya ke rumah sakit! “Garsini. Kalau ia tetap dalam keadaan begini. Sebuah prestasi gemilang kembali telah dipetiknya. “Sembuhlah. Mendampingi Garsini yang mendadak terserang demam tinggi. sadarlah. please…” Haliza kini sungguh merintih pilu bahna cemasnya atas keadaan sahabatnya. saatnya memasuki dua per tiga malam. ukhti sayang… Ayo. Saat itulah Haliza mengucapkan selamat atas keberhasilannya sebagai teh best gakusei.

“Aku akan sembuh. Ia memanjakan Garsini. Berapa biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Apakah Garsini mengingau? Tampaknya dara itu gelisah sekali. Ketika itu Haliza merasa Garsini tengah menyindirnya. Duh. sebentar lagi.” bantah Haliza kala itu sebagai pembenaran sikapnya. tak mungkin memintanya datang ke situ. ya? Haekal. Meskipun selama ini Garsini tak pernah secara terbuka mengakui pemuda itu sebagai something special. matanya kadang membuka beberapa saat. aku pasti sudah pikuuun! Kenapa aku jadi selinglung ini. tak ada istilah kencan. pupil matanya mengecil… Ah. jangan panggil siapapun…” erang Garsini. iya… De Broer Petermu itu?” Seketika Haliza menepuk jidatnya sendiri. 103 . be calm please…” Haliza tersentak dari lamunannya.” elak Garsini. tapi laptop itu sangat bermanfaat baginya. De Broer tinggal di Holland. ke mana aku harus menghubungi saudaramu itu. sabarlah. Buktinya. ya. hanya untuk mengurus saudarinya yang sakit.”Jangan membuatku ketakutan. “Tidak. bergerak tak menentu. “Kami tak lakukan apa-apa. Haliza sayang. Di antara mereka ada hubungan khusus. Garsini. siapa dia? Oh. teringat lagi bahwa itu hal yang sangat musykil. Ia tak perlu lagi meminjamnya dari orang. pikir Haliza. tapi sebagai sahabatnya seharusnya ia tahu hal ini. Masih di batas kewajaran. tenang saja. Cepat-cepat dihampirinya Garsini dan memperhatikan keadaannya dengan seksama. perjananan antarbenua itu? Bagaimana kalau sakitnya hanya demam biasa. “Jangan. besok pun sembuh… Bila itu dilakukan hanya akan bikin persoalan baru! Tapi De Broer tampaknya sangat mengasihi saudarinya ini. Sebab ia baru pulang bepergian berdua Abang Rashid. Meskipun Garsini hampir tak pernah menggunakan telepon selularnya. buktinya membelikannya handphone dan laptop baru. Tidak. tentu saja dialah yang harus secepatnya dihubungi. bila mereka sedang chatting…? “Mengapa kamu tak pernah mengajaknya kencan?” Haliza pernah menguping Mayumi bertanyakan hal itu kepada Garsini. pacaran dalam kamus Muslimah.

“Kamu pernah memintaku agar kita selalu saling mengingatkan,” ujar Garsini diplomatis. Tanpa memberi nasihat berlarat-larat, tapi ketaksetujuannya akan hal itu sudah sangat jelas. ***

Haliza tergopoh-gopoh menuju meja belajar Garsini. Beberapa saat lamanya ia memeriksa buku telepon. Tidak, tak ada nama Haekal di sini, pikirnya keheranan. Mungkin di telepon selulernya. Ugh, kenapa Garsini tak

mengaktifkan benda canggih itu? Bahkan laptop-nya juga di-password, hingga ia tak bisa membuka email Garsini untuk menghubungi Haekal. Haliza kembali menghampiri Garsini dengan kecewa dan putus asa. “Apa yang sudah kamu lakukan itu, Haliza?” suara parau Garsini terasa menikam ujung hati Haliza. Dengan wajahnya merah padam menahan malu dan marah pada diri sendiri, Haliza hanya tercengang dan gugup. Ia merasa dipergoki telah mengacak-acak benda pribadi Garsini. Itu telah melanggar kenentuan dan tatakrama. Namun, Garsini tersenyum samar seperti telah memaafkan kelakuannya itu. Kedua tangannya terulur, mengisyaratkan Haliza untuk mendekat kepadanya. “Kamu sudah sadar? Alhamdulillaaah…!” Haliza pun menghambur dan memeluknya, mendekapnya erat-erat. Garsini berusaha bangkit dengan susah payah, tanpa mengindahkan uluran bantuannya. Haliza geleng-geleng kepala. “Ugh, sudah parah pun masih sombong kau ni!” sungut Haliza tertawa haru. Garsini berhasil duduk dengan tegak ditunjang oleh tumpukan bantal. Kepalanya masih pening, tapi demamnya telah jauh berkurang. Keringat membasahi sekujur tubuhnya yang lemas dan kaku-kaku. “Obat apa saja yang sudah kamu jejalkan ke mulutku tadi, Haliza?” protes Garsini. Haliza tertawa kecil, matanya masih membasah bahna harunya. Memori Garsini telah kembali secara utuh!

104

“Jangan suuzon, aku hanya memberimu beberapa butir pil anti demam.” Haliza mengelus-elus jari-jemari sahabatnya. Giliran Garsini yang sangat terharu. Matanya kini membasah, tapi ia menahan tangisnya agar tak tumpah. ”Punya apa untuk makan sahur kita, Haliza?” tanyanya pula tiba-tiba. “Aku tahu, kamu tadi bilang bahwa besok kita akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan..” Haliza tercengang takjub melihat perubahan yang sangat pesat itu. “Tapi kamu belum bisa shaum…” “Kata dokter Siti Haliza Tun Razak tu!” Garsini mencibir dengan meleletkan lidahnya. “Kamu betul-betul sudah sembuh, Garsini.” Haliza tertawa senang melihat Garsini telah kembali riang dan humornya telah muncul. “Tapi aku sampai lupa, tak sempat sediakan makanan apa-apa untuk makan sahur kita… maaf,” keluh Haliza. “Bagaimana?” giliran Garsini membelalakkan matanya, tak percaya atas keteledorannya. “Yaaa… kita tak sempat menitipkan daftar belanjaan ke orang dapur. Sepanjang siang tadi aku tak bisa ke mana-mana, menjagamu…” “Ah, sudahlah, maafkan aku… Mari, kita sahur apa saja!” “Hanya sepotong roti kismis dan teh manis, mau?” bujuk Haliza, masih berharap agar sahabatnya mengurungkan niat berpuasa esok. Gartsini telah bulat, menyambut tawarannya dengan penuh semangat. “Ya, tentu saja mau… mannnaaa?” “Sungguh, kamu tampak sudah pulih!” “Yeee… lha wong dari tadi juga aku merasa sudah pulih kok!” Haliza pun menyerah. Lagi pula, siapa yang kuasa menimpakan sakit dan memberi kesembuhan selain Sang Maha Penyembuh? ***

Garsini mendorong troli belanjaannya menyusuri rak demi rak di sebuah supermal kawasan Ginza. Tanpa terasa ini sudah memasuki minggu ketiga bulan Ramadhan.

105

Gerak-gerik Garsini tampak serba ringkas dan cekatan. Tangannya menjumput ini-itu sesuai daftar belanjaan di secarik kertas genggamannya. Siapa mengira, bahkan dirinya sendiri bahwa kesehatannya berangsur membaik sedemikian pesat. Beberapa hari yang lalu, Haliza sangat mengkhawatirkan demam tinggi yang menyerangnya sepanjang malam. Sehingga gadis itu nyaris putus asa untuk memberi tahukan keluarganya. “Ini sungguh berkah dan hikmah Ramadhan,” decak Haliza saat mereka buka bersama, tepatnya hanya berdua di kamar. “Kamu tampak segar bugar, Garsini sayang. Tak ada sisa sedikit pun kalau kemarin malam kamu sakit. Subhanallah!” Garsini kini tersenyum-senyum kecil. Ya, kekuatan maha dahsyat itu muncul di dua per tiga malam. Ketika ia melihat sosok Haliza mendirikan shalat tahajud, menengadahkan kedua tangannya, mendoakan dirinya kepada Sang Khalik. Beberapa saat sebelumnya kupingnya pun sudah mendengar suara Haliza. Memberi tahukan bahwa besok mereka akan mengawali bulan suci bulan Ramadhan yang pertama kali di Jepang. “Sungguh kamu tidak apa-apa, Garsini?” Haliza menanyainya dengan cemas saat tengah hari. Ia kebetulan tidak kuliah hari itu. Demikian pula Garsini yang terpaksa izin sakit dalam tiga hari itu. “Insya Allah, aku merasa tak kurang suatu apa… Lihat saja ni!” Garsini baru mandi air hangat, hendak shalat zuhur. Sebelumnya Haliza sempat melarangnya bangkit dari tempat tidur. Apalagi untuk mandi dan bershaum. “Allah Maha Penyembuh yang tiada tara,” decak Haliza akhirnya harus mengakui mukjizat itu telah menghampiri Garsini, dan mereka merasakan berkahnya bershaum. “Hari pertama berhasil kita lewati dengan nikmat,” kata Haliza saat mereka berbuka puasa. Meskipun tanpa kolak dan pembuka aneka ragam seperti bila mereka berpuasa di negeri sendiri, di tengah-tengah keluarga. Lama mereka hanya berdiam diri sambil mereguk teh manis hangat, ditambah beberapa potong kue basah khas Jepang. Istri Ojira-san yang membuatnya khusus untuk kedua gadis Muslim itu.

106

Kini mereka telah lulus dan kembali ke negerinya masing-masing. “Maaf. “Tampaknya Bu Ojira itu kesepian sekali. sayang sekali kami tak punya anak sebaya kalian. “Kami tampak tertutup.” elak Bu Ojira. Dia hanya berdua Pak Ojira di rumah tua di belakang sana…” Sejak itu mereka jadi sering mampir ke rumah keluarga Ojira. Sambutan kedua gadis itu agaknya sungguh telah menyenangkan hatinya yang tua dan menderita kesepian.” kata istri penjaga asrama itu dengan hangat. agar mereka jangan lupa membalas budi baik pasangan 107 . “Kalian sangat ramah dan tahu tatakrama. “Karena kutahu kalian Muslim. lima-limanya katanya tadi? Tapi tak ada satu pun yang tinggal bersamanya.” kata Garsini tersipu. Padahal. Acapkali Garsini mengingatkan Haliza. Melalui kedua gadis itulah. Seberkas pencerahan telah menghangatkan sepotong kalbu yang renta dimakan usia. Bu Ojira tertawa kesenangan. “Tidak juga. “Baiklah. kalau selama ini kami kurang silaturahim. sekarang kita sungguh telah punya keluarga di Jepang. Terutama gadis baik-baik dan taat beragama seperti kalian ini.” komentar Haliza saat Bu Ojira berlalu. Bu Ojira mengenal apa itu Islam. anggap saja kami ini anak Ibu!” seru Garsini renyah. Rumah terasa sepi sekali…” “Kalau mau. ya kan Bu Ojira?” Haliza turut menyampaikan penyesalannya. seperti gadis Turki dan Pakistan yang pernah menghuni kamar kalian tahun sebelumnya…” Wanita baik hati itu lalu bercerita sekilas mengenai kedua Muslimah yang dimaksudkannya. Tak berapa lama kemudian ia pamitan dengan air muka berseri-seri. meninggalkan mereka dengan sepiring penganan lezat khas Jepang. ya?” “Anak-anaknya lelaki semua. Gadis Turki dan Pakistan itu menghuni kamar yang sama selama beberapa semester. menawarkan simpul kekeluargaan. rumah kami selalu terbuka untuk para gadis asrama. Ah. Suami-istri tua itu selalu menyambut mereka dengan hangat. Hanya mungkin kalian terlalu sibuk hingga kalian jarang mampir ke rumah kami.“Aku tahu kalian sedang menjalankan puasa.

anak-anakku. Persaudaraan yang terjalin secara mendadak itu pun agaknya salah satu berkah untuk mereka di bulan Ramadhan. “Baiklah. Entah syiar dakwah apa. *** 108 . Lalu ia tergerak untuk menyapa secara lebih dekat Garsini dan Haliza. Namun.lansia itu. Mereka harus bersyukur kepada kedua gadis Muslimah penghuni lama kamar itu. “Kami tidak sedang jual-beli. Sehingga Bu Ojira amat terkesan perihal bulan Ramadhan. Okusan…” kata Garsini dan Haliza terharu sekali. ternyata Bu Ojira malah menggerutu tak senang.” kata wanita itu serius. ukhuwah Islamiah yang bagaimana telah ditawarkan kedua Muslimah itu. maafkan kami. bila mereka membawakan sesuatu.

Berkat hubungan baik dengan komunitas Ayyesha. karena Haliza tak selalu bisa menemaninya mengingat jadwal perkuliahannya lebih ketat. “Aku harap. Selly.Bab 11 “Ini menjadikan ibrah buat kita. kamu bisa bergabung dengan kami. Maka. kenapa harus di Okinawa dan tidak di sini saja?” tanyanya pula hati-hati.” Haliza berkata dengan nada serius. ya ukhti?” “Insya Allah. Saat itu Garsini mulai menangkap gerakan rahasia komunitas Ayyesha. Meskipun untuk itu ia harus menempuh perjalanan ke Sendai dalam dingin dan badai yang sering menghajarnya amat dahsyat. Garsini pun berusaha meluangkan waktu bersilaturahim dengan komunitas Ayyesha. bagaimana pun sibuk dan kerasnya jadwal perkuliahan. “Ini masih top secret…” Meskipun demikian. meluncurkan berbagai penjelasan mengenai perjuangan warga Filistin yang tersebar di beberapa kota besar Negeri Sakura. Memang dibutuhkan pengorbanan waktu. enerji dan perhatian khusus. meningkatkan jumlah bacaan Al-Qurannya. Ayyesha sudah mempercayai Garsini. Sejak saat ini kita harus lebih empati. “Boleh tahu. “Ya. Tapi berkah dan nikmatnya sungguh tak terkira. Beberapa saat lamanya perihal itu memang menjadi perenungan mendalam bagi Garsini dan Haliza. Kita harus tetap mengingat syiar dakwah kita di mana pun berada!” janji Garsini yang segera disanggupi pula oleh Haliza dengan lebih serius lagi.” kata Ayyesha suatu kali. lebih peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. “Tentu saja. Ia pun harus sering jalan sendirian.” janji Garsini yang belum tahu bagaimana mengisi hari raya Idhul Fitri di Negeri Sakura. “Kita akan menyelenggarakan shalat Idhul Fitri nanti di Okinawa. 109 . ya kan Haliza?” komentar Garsini. Sejak awal Ramadhan. Seperti sering dinasihatkan oleh seniornya. di masa lalu. ia bisa lebih banyak menambah wawasan keislaman.

hati-hatilah di mana pun kamu berada. Garsini. Kudengar nama komunitas itu suka dikait-kaitkan dengan teroris…?” “Naaah! Kamu sudah terpengaruh propaganda Amerika!” tuding Garsini.” “Hal ini tak perlu selalu kamu ingatkan. tapi semangat jihadnya tetap menyala-nyala dalam dadanya. Haliza menggeleng lelah.” elak Haliza enggan. “Maksudku begini.Garsini ikut merasakan semangat jihad yang senantiasa berkobar-kobar di mata Ayyesha dan rekan-rekan lainnya. Haliza memutuskan percakapan itu dengan menguap. Ia juga bisa memahami perjuangan mereka. kamu harus selalu waspada dan hati-hati menjaga diri di tengah komunitas Ayyesha itu. bangsa Palestina yang selalu didzalimi dan ditindas oleh bangsa Israel. “Apakah menurutmu komunitas itu berbahaya?” “Ngng… entahlah. Seketika matanya bersirobok dengan dua pasangan yang bergandengan mesra.” Haliza merebahkan diri di samping Garsini dalam keadaan kisruh-misuh. Mayumi akan menemuinya di situ.” tanggap Haliza kala menyimak laporannya. Ia bermaksud menuju ke bassemen. Haliza. “Ingatlah. aku akan lebih fokus dakwah di lingkunganku. Menyelesaikan kuliah yang dibiayai pemerintah Jepang ini dengan sebaik-baiknya. entah siapa 110 . “Apa yang ingin kamu katakan lagi?” desak Garsini. Sedangkan Anjeli dengan kekasih sejatinya. Agaknya baru sebeginilah yang mampu mereka perbuat saat ini. kewajiban kita di sini yang utama adalah belajar. Garsini menghela napas panjang. tanpa cela. “Sekarang apa yang sudah kamu lakukan untuk syiar dakwah itu?” pancing Garsini ingin tahu. Sepanjang malam ia berkutat dengan literatur berbahasa latin dan Inggris. kalangan paramedis di rumah sakit. Cristal menggelendot manja di lengan Jay Bachan.” protes Garsini agak tak enak hati. “Kupikir. *** Garsini selesai dengan belanjaannya. “Jangan salah paham. Pendeknya.

Tapi gadis itu masih juga mengkonsumsinya secara diam-diam. “Semuanya akan hancur begitu aku hamil!” keluhnya bersikeras. Penyihir Melayu. tepat di belakangnya. Di mata Garsini para pria itu sama saja. Beberapa pria lagi tampak mirip para pesolek maskulin. sekali waktu merasa kesepian… ingin cari kesenangan…” Ah. ia tak dapat berbuat banyak untuk menolong Gweeny selain menyarankannya untuk secepatnya pergi ke rumah sakit. Padahal. penggembira belaka dalam rombongan kecil itu. semuanya telah terlambat. Haliza berusaha menolong Gweeny yang sedang dalam kesulitan.pula namanya. Bahkan Garsini sempat sedikit terpengaruh karenanya. Bukan buka praktek sihir. Wajah Garsini memerah padam. Mereka membawa Gweeny agar berkonsultasi dengan Haliza. kekasihnya sudah bersedia bertanggung jawab dan ingin menikahinya secepatnya. Haliza. Haliza sungguh menyesalinya. Tampang badak. Haliza telah mengingatkan Gweeny agar tidak mengkonsumsi pil-pil sembarangan. guna-guna seperti dituduhkan Cristal kepadanya. 111 . “Kamu tidak tahu. Cristal sambil terkikik menyindir Garsini. Kami akan dikucilkan oleh keluarga kalau hal itu terjadi…” Haliza tak paham dengan pikiran ketiga gadis itu. Telanjur. pembenaran-pembenaran itu! Ketika proses aborsi itu mulai berlangsung. Sehingga Garsini dan Haliza sempat menjadi bahan olok-olok rekan seasrama. menjijikkan! “Nah. Kalau mereka mencemaskan reaksi keluarga dan bangsanya. kedua rekannya ketakutan. Sebelumnya Cristal tak berhasil memecah persahabatan kedua gadis Melayu ini. hamil di luar nikah. mengapa hal ini sama sekali tak terpikir saat akan diperbuat? “Kita kan anak muda. Belakangan Garsini mengetahui perihal kedekatan Haliza dengan trio African-girls itu. itu dia salah satu dari duo penyihir Melayu!” si lidah beracun. jadi dialah biang gosip yang menyebarkan isu picisan itu.

brengseeek! Cukuplah kamu sudah berhasil melecehkan diriku… Lelaki tak bertanggung jawab. playboy picisan. kini Mayumi siap menumpahkan benci dan dendamnya. “Jangan ganggu gadis suci ini. Tak tahu malu. plaaak! Dua tamparan telak mendarat di pipi macho yang tak menduga dapat serangan kilat itu. berusaha keras memahami kesulitannya dan menyemangatinya. Mayumi sama sekali tak gentar. Mayumi-san!” ejeknya sinis sekali. cuiiih!” Plaaak. Haliza diberi tahu oleh seniornya di rumah sakit tentang berita dukacita itu. Sejak itulah. perempuan murahan?” dengusnya pula dingin. Ia telah berhasil melewati masa-masa kritis itu rupanya. Hanya sedetik Jay Bachan kaget. Kedua rekannya meninggalkannya begitu saja di apartemen mereka. Gweeny meninggal karena kehabisan darah tanpa sempat diangkut ke rumah sakit. tapi sedetik berikutnya ia siap membalas perlakuan yang dirasakannya amat mempermalukan harga dirinya. Beberapa hari kemudian. dan ia tak sudi mengikuti jejak gadis Afrika itu. Tragedi yang menimpa Gweeny telah sampai ke telinganya. di perjalanan itulah Gweeny mengalami pendarahan hebat. “Kamu pikir dirimu itu siapa. Pemilik apartemen menemukan jenazah Gweeny keesokan harinya dalam keadaan sangat memilukan. be careful… kabarnya dia jago taekwondo tuh!” kata pasangan Anjeli. Apalagi karena ibunya dengan sangat bijak dan penuh kasih sayang. tertawa mengejek. “Ha. “Aku ingin tahu kehebatannya di tempat tidd…” Jay Bachan tak sempat melanjutkan kalimatnya. adakah contoh dampak gaul bebas setragis itu belum juga menggugah nurani mereka? “Pssst. 112 . Wajahnya gantengnya telah berubah mirip tokoh Rahwana di mata Garsini. Sebab tiba-tiba ada bayangan kilat menyambar tepat di depan hidungnya. mereka tak pernah lagi melihat sosok African-girls melakukan semacam ritual jalan bareng ke mana-mana… Audzubillahi min dzalik. Yap.Konon.

Siap dihantamkan ke wajah Mayumi. Dalam sekejap mereka segera merubungi anak-anak muda yang sedang beradu mulut.“Perempuan murahan. Bung!” Tangannya yang mungil. Adakah saat itu pun ia habis diperlakukan keji oleh si Rahwana? Karena ia telah bolak-balik. senantiasa menyimpan suatu kekuatan dahsyat dampak latihan bertahun-tahun di dojo. haaaik!” Garsini melepaskan kekuatan yang menguasai dirinya itu melalui jurus handalannya. inilah perempuan murahan yang pernah kamu bujuk rayu hingga menyerah total kepadamu. Bruuuaak…! “Aduuuhhh…!” jerit kesakitan bagai menyapu pelosok supermal itu. katamu?” dengus Mayumi sambil mendongakkan dagunya. Kepalanya pasti bakal 113 . Tangannya yang kekar sudah terangkat dengan tinju terkepal. sebelum kemudian berguling-guling meluncur di antara undakan tangga menuju ke luar. merah padam. Garsini tak paham. tahu-tahu telah menguasai sekujur tubuhnya yang menyalurkan seluruh kekuatan melalui tangannya… “Ini hadiah dari Mayumi. Wajah Jay Bachan berubah-ubah. Inilah perempuan murahan yang sebentar lagi bakal melahirkan anakmu. bahkan sudah menjurus ke adu kekerasan itu. suatu malam Mayumi mendatanginya di kamarnya dengan wajah biru lebam. Ia cepat melihat reaksi lelaki yang telah berhadapan secara frontal dengan Mayumi itu. Sedetik Garsini teringat akan penglihatannya.”Baiklah. memaksanya agar mempertanggung jawabkan perbuatannya? Kala itu Mayumi tak mengatakan apa-apa selain menangis perlahan. Kini mata Garsini terbuka lebar. pucat pasi. Lalu bak Rahwana. Dan entah dari mana hasrat itu muncul. Tubuh tinggi tegap itu seperti melayang sesaat. ia pun segera memperlihatkan kepengecutannya yang keji dan sangat memalukan. Jay Bachaaan!” Mayumi berteriak-teriak histeris. Insiden itu tak pelak telah mengundang perhatian orang-orang di sekitar situ. “Hupsss… Sopan sedikit kepada kaum wanita. hanya bisa mengusap-usap rambut gadis itu dengan simpati dan hati turut mengharu biru. Bahkan sampai kini pun masih dilakukannya secara diam-diam tiap punya kesempatan.

Ia menatap wajah sahabat Nippon-nya dengan tatapan tak mengerti. melewati kerumunan orang-orang.mengalami gegar otak ringan bila seorang petugas tak berhasil mencegah daya luncurnya. Garsini terpaksa menghentikan serangannya. napasnya memburu dan tersengal-sengal. Mayumi cepat-cepat menyeret lengan sahabatnya. ia mematuhinya saat Mayumi mengisyaratkan untuk meninggalkan tempat itu. Mayumi?!” “Jangan lakukan itu kepada ayah calon bayiku. Hingga wajah gantengnya terhindar dari kehancuran fatal. hei Rahwana! Haaa… ugh. petugas itu membiarkannya begitu saja. 114 . diam-diam Garsini menyesali tindakannya dalam hati. Cepat-cepat ia menjauhinya. Agaknya rombongan pria macho dan maskulin itu. Garsini-san. ya? Ia kembali teringat insiden yang menghebohkan di kampus UI dengan kelompok kiri. “Dan ini dari calon putramu. Anehnya. Itu pun terjadi di saat bulan suci bulan Ramadhan setahun yang silam. Namun. “Begitulah seharusnya menjadi seorang gadis!” “Tadi itu jurus taekwondo. Hingga sang petugas merasa muak dan bosan berurusan dengan mereka. sebelumnya pernah melakukan aksi yang dinilai atraktif di supermalnya. Sementara erang kesakitan Jay Bachan segera menyibukkan Anjeli dan rekan-rekannya. tak beranjak dari tempatnya berdiri. Apa yang dilakukan si penyihir Melayu itu? Beberapa orang di pelataran parkir yang telah terhipnotis dan bergabung. serentak riuh memberikan aplus kepada Garsini. Kenapa angkara itu masih juga sulit terelakkan. please ampunilah dia…” Mayumi telah mencegah pukulan telak di wajah si playboy picisan itu. Bahkan saat Garsini masih memburunya. Cristal sendiri tampak shock dan hanya terperangah. ia berlagak tak melihat apa-apa. ya? “Pantasnya stuntgirl dari Hongkong…” “Bagaimana kalau Yakuza yang lagi menyamar…” “Pssst… diamlah! Dia melihat ke arahmu!” Digelandang oleh Mayumi keluar supermal. Donald.

“Kamu lenyap dari peredaran dalam sebulan terakhir. ampunilah hamba-Mu yang selalu khilaf ini. entahlah… Konon. Oya. Rumah Mayumi dan asrama masih satu arah. “Begitulah.” Mayumi tertawa riang. itu pasti hanya gosip murahan saja. Membuat keributan di istana seorang pejabat penting Jepang? Ugh. Coba ceritakan. Kakakku sudah berhenti dari kuliahnya. sekarang kalian tinggal serumah lagi kan?” “Okusan yang pindah ke tempatku. aku sudah pindah kerja ke tempat lebih baik dan aman.” hibur Mayumi salah paham. kalau Okusan sudah tahu semuanya. Itu lho yang pernah ditinggali oleh sepupumu dulu…” “Ya. 115 . tentang kakakku…” “Hmm.“Sudahlah.” suaranya terdengar sarat semangat baru. Mayumi mengangguk dengan wajah memerah. tak perlu lebih. Mayumi kelihatannya sudah cukup puas berhasil mempermalukan Jay Bachan di depan orang banyak. kamu sedang mengandung anaknya. mereka bilang Akira-san kini menjadi gembong Yakuza. Kalau kuasa aku ingin. “Syukurlah. ya kan?” “Sayangnya itu benar. “Sungguh. Mayumi?” Garsini menanyainya serius.” protes Garsini. bisa melihat kemerlip bintang di sepasang mata indah itu.” desis Mayumi seketika muram kembali. “Apa kamu tidak pernah baca pemberitaan di koran-koran. ketika mereka telah berada di atas taksi.” Garsini menghela napas lega. ugh… Ya Allah. Hanya sampai di situ saja. Pernah juga kubaca berita tentang sepak terjang mereka di bawah pimpinan kakakmu. jadi Menteri itu ayah kalian?” Garsini tertegun-tegun. Mayumi pun memberi tahu perihal sikap ibunya menerima kenyataan ini. dia melakukan itu hanya untuk menarik perhatian ayah kami…” “Oh. “Kami sibuk pindah dan mengecat ulang tempat tinggal… Bosku yang baru adalah pemilik ryokan di ujung jalan sana. aku belum cerita kepadamu tentang Bosku yang baru. bagaimana reaksi kakakmu?” “Kakakku. Kamu harus tahu. kamu tak usah merasa bersalah. Dia kemudian bergabung dengan Yakuza. mengira Garsini menyesali telah melukai Jay Bachan. Tapi Garsini merasa tak keliru. “Jadi. aku ingat itu.

bajunya bagus ya. Masyarakat Jepang senang sekali memuji orang. ramah dan hangat menyambut kedatangannya. dia menyuruh kawanannya untuk menghabisi Jay!” Percakapan sekitar Akira-san dengan Yakuzanya terputus. Jadi. Kamu cantik ya… Bahkan tak jarang diucapkan oleh nenek-nenek yang baru pertama kali dijumpainya di gerbong keiosen. Etsuko dan Mayuko sesaat berpandangan. Garsini merasakan aura kehangatan dan ketulusan memancar dari kedua wanita ini. Betapa sering Garsini mendengar dua kalimat di atas.” “Hei. “Bagaimana kabarmu sekarang. Wanita sebaya ibunya itu masih saja santun. Taksi telah sampai di ryokan Etsuko.” Garsini terbengong mendengar kepasihan sahabatnya menerangkan kalimat spontan tadi. 116 . Hingga Garsini tak sampai hati untuk menolak. Garsini meluangkan waktu untuk mampir. sutekina fuku desu ne!” sambut Etsuko-san. “Alhamdulillah… baik-baik saja. puji syukur kepada Tuhan… Itu namanya hamdalah. Nak?” tanya Mayuko sambil menemaninya makan di samping Etsuko. Mayumi yang menjawabkannya. kamu jangan kegeeran kalau lagi dipuji… Namun. “Wah.”Thank’s God. bacaannya orang Islam. Ya. keluhnya suatu saat kepada Mayumi. Kasusnya dipetieskan… Kamu tahu. Untuk beberapa saat ia merasa mendapat limpahan pemanjaan. apa itu?” tanya kedua wanita itu serempak. “Anata wa kirei desu ne!” tambah Mayuko-san. tapi itu belum tentu dari lubuk hatinya terdlam. Hanya basabasi saja. Segalanya disediakan demi menyenangkan hati sang tamu. tapi kemudian memutuskan untuk mengindahkan hal itu. Wah.“Ya… Dan berkat pengaruhnya juga akhirnya kakakku dibebaskan begitu saja. Garsini terharu sekali akan kehangatan dan kasih sayang yang ditawarkan kedua wanita itu kepada dirinya. Akhirnya ia buka di ryokan yang sedang sepi itu. menatapnya ingin tahu. Keduanya segera sibuk menyiapkan makanan pembuka.

pasti dia semakin sibuk. hingga nyaris tak memiliki waktu untuk urusan pribadi. Mereka jarang bisa berkumpul seperti ini. Dia ini salah satu pengecualian gakusei berasal dari Indonesia yang sangat kreatif. Adakah hidayah-Nya mulai mengelus kalbu Mayumi? Sayang sekali. Mayumi maklum dan tertawa geli. makan pagi sekali?" “Namanya makan sahur. “Kami akan menyiapkan apa itu. penuh harapan baru dan pencerahan agaknya. Kedua ibu itu melepas Garsini dengan wajah berseri-seri. inovatif… pendeknya jeniuslah!” Mayumi habis-habisan memuji. “Tapi itulah yang telah membuatnya melesat dari rekan-rekan gakusei lainnya. Mereka pengecualian. Kesenyapan dan kesedihan terasa menggayut di pelosok ryokan. Etsuko dan Mayuko sangat senang dan menikmati keriangan anak muda ini. ensiklopedia mini tentang perbandingan budaya bangsa Asia. ya?” “Iya. “Apalagi sekarang dia menjadi asisten pribadi Profesor Charles del Pierro. “Saya hanya membantunya membuatkan program… menyusun semacam katalog. Garsini dengan sangat menyesal terpaksa menolaknya. pikir Garsini. Nak!” dukung Etsuko berseri-seri. Bu!” Mayumi mengadu kepada ibunya. betapa cukup banyak pengetahuan Mayumi mengenai Islam..”Iya.. kali ini aku lagi tulus pahaaam?” Suasananya menjadi semakin hangat dan riang.” lagi-lagi Mayumi yang menjelaskan. Mayuko-san menatap wajah jelita itu dengan iba.Garsini sangat sibuk mengejar prestasi gemilangnya. ya?” pinta Mayuko. Ia sudah janji untuk itikaf bersama Ayyesha dan komunitas muslimnya di Sendai. Hingga Garsini baru menyadari. Bahkan Ucok sampai marah-marah melalui emailnya. “Ya. “Kamu jauh lebih kurus dari saat kita terakhir bertemu. Tak sekadar 117 . Malam ini kamu harus menginap di sini. biar kami bisa menjamu kamu sepuasnya!” janji Etsuko. “Tuluskah?” goda Garsini menatap wajah sahabatnya. karena kakaknya tak sempat membalas surat-surat dari keluarganya. Huu. “Kamu harus sering-sering mampir ke sini. Apalagi sejak putri Etsuko terpaksa masuk ke rehabilitasi mental di luar kota.” kata Garsini merendah.

Ini membuatnya sukacita.basa-basi melainkan keluar dari hati yang ikhlas. *** 118 . Ternyata ia telah berhasil memikat dua orang ibu. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Dan penemuan itu membuatnya bertambah tegar dalam melangkah hari-harinya di Negeri Sakura.

tepekur menatap ubin di kakinya. raib entah ke mana. sama sekali tak mempedulikan kerling genit. gumamnya membatin. Tak terlalu pendiam. ia tak pernah berani mendekatinya apalagi menyapanya. senyum menantang dari bibir menyala milik Cristal. Haekal duduk dengan rikuh di ruang tamu di bawah tatapan kagum makhluk bernama gadis yang berseliweran. Sebagian telah pergi dijemput pasangannya. ke mana Garsini? Kenapa dia begitu lama membiarkannya sendirian di sarang macan betina ini? Masihkah dia belum bisa memaafkannya? Mayumi terus mengamati Haekal dari tempatnya duduk di sofa sudut ruang tamu lantai bawah.Bab 12 Malam tahun baru yang diharapkan para gadis di asrama itu akan bertabur cinta dan kasih. Namun. Namun. pamer kemolekan di sekitarnya. aktorlah. Ah. Mereka entah sengaja atau tidak. Beberapa kali Mayumi memergoki pemuda itu bangkit. Cristal ekstra keras bergaya dan beberapa saat secara serius melakukan atraksi pribadinya. Karena tak dipedulikan. atau memperoleh kencan dadakan. menggoda Haekal. Inilah untuk ketiga kalinya memergoki Haekal tengah menanti Garsini dengan segala kesabaran dan kesetiaan nan mengagumkan. Sehingga membuat Haekal semakin rikuh dan jengah sendiri. Ia menundukkan kepalanya. Haekal tampaknya bersikap acuh tak acuh. 119 . masih ada seorang gadis yang tampaknya amat tertarik kepada pemuda itu. Bak para supermodel bergaya di atas catwalk. Tampangnya itu. very-very cool! Hmm… pantasnya perawakan atletis dan tampang keren begini. akhirnya para makhluk molek itu jemu juga. Baru kali inilah Mayumi punya kesempatan mengamati pemuda Indonesia itu dari jarak dekat. kemudian jalan mondar-mandir dengan gelisah. mungkin juga ujung sepatunya yang masih dinodai percikan salju. tapi tampaknya suka merenung dan menyendiri.

wajah yang merah padam dan 120 . Sedang ia sendiri akan pulang ke asramanya. Garsini membatin. daya tarik yang amat kuat melalui tali ukhuwah Islam yang diulurkan Haekal kepadanya.Ia telah punya komitmen tinggi dengan Garsini akan hal ini. Mayumi serasa telah mengenal begitu baik makhluk alim ini. sangat mengaguminya. Meskipun Garsini hanya tertawa kecil mendengar tekadnya itu. Sejak saat itu Jay sangat menghormati Haekal dan ingin selalu berdekatan. Ada beberapa kali Haekal memintanya mendampinginya untuk menemui gadis itu. Jay tak pernah melihat wajah ganteng itu kesal atau kecewa. keduanya memilih tempat yang terbuka dari pandangan umum. Meskipun kemudian rekan-rekannya mengucilkannya. Baik di kampus maupun di asramanya. mereka yang mengaku anggota Yakuza. Dari situlah Jay mengetahui “kelainan” hubungan kedua anak muda itu. Begitu pula bila bercakap-cakap singkat. *** Suatu hari Jay Bachan memergoki mereka lagi berbantahan keras di kampusnya. Garsini tak pernah mau jalan bareng. Hampir tak henti-hentinya Jay menceritakan kebaikan Haekal. Iya. Harus menutup hijab antara wanita dan pria. melepas Garsini kembali ke kamarnya di lantai dua. tapi mana tahu kan suatu saat nanti… Lagi-lagi Garsini hanya tertawa kecil. Bermula dari insiden pengeroyokan temanteman kakak Mayumi. menempuh hujan badai. tapi kamu kan bukan orang Islam. salju tebal. Jay Bachan yang telah berubah total berkat kedekatannya dengan Haekal. bila Garsini menolak kedatangannya. Kan menurut Islam. Ada semacam magnit. bila hanya berduaan. Jay tak peduli. Adakah itu terimbas dari perubahan total yang terjadi pada diri Jay Bachan? Sesungguhnya dari Jay Bachan. Dari mana perubahan pemikiran itu muncul. Mayumi cemberut dibuatnya. Diakhiri dengan kepergian Haekal. Ah. tak paham akan bentuk hubungan kedua manusia berlainan jenis itu. Haekal hanya akan tersenyum bijak. kita harus memelihara kehormatan. Jay bersungut-sungut di belakangnya.

” keluh Haekal. “Bukankah kalian pasangan kekasih yang saling mengasihi? Tapi kenapa kalian tak pernah bisa 121 . Kenapa malah tadi seperti mengusir-usirnya? “Puasaku sudah batal karena sempat marah-marah tadi.”Aku hanya seorang manusia biasa. Jay mengira hubungan mereka takkan bisa dipertahankan lagi. jadi kalau aku Muslim. bagaikan Dewa laiknya. “Aku tidak paham dengan kelakuan kalian. manusia yang banyak kelemahan. kebingungan. ya?” Haekal mengangguk dan ia tak mempedulikan tatapan keheranan orangorang sekitarnya. Sedang Garsini berlari-lari sambil membawa isak tangisnya yang terdengar menyayat di telinga Jay Bachan. pikir Jay. menyakiti hatinya secara telak!” Jay Bachan menggelengkan kepala. banyak melakukan kekhilafan… Kamu sudah lihat buktinya beberapa menit yang lalu. pikirnya. Ia sedang berpuasa. Hujan badai menghambat perjalanan mereka untuk sementara waktu. Boleh aku pesan minuman beralkohol?” tanya Jay meminta pendapat Haekal. Karena ia sama sekali tak memesan apa-apa.terluka. Bahkan Jay Bachan hampir mengidolakannya sebagai sosok orang suci. silakan saja. something wrong di antara mereka. Seharusnya gadis itu sangat senang dan berbahagia memiliki kekasih sesetia Haekal.” tegur Haekal keras. “Kopi saja rasanya takkan mampu mengusir hawa dingin ini. saat itu sosok Haekal sudah sangat mempengaruhi perubahan yang terjadi atas dirinya. paginya sengaja mampir ke kampus Garsini. terserah kamu. Ada masalah. Padahal. “Jangan. “Karena kamu bukan seorang Muslim. jangan pernah pandang aku seperti itu. Haekal baru tugas jaga malam. tak boleh minum minuman beralkohol. Aku sudah menyakiti gadis suci itu. Mereka mampir di caffee-house dekat kampus. bershaum selama satu bulan tanpa meninggalkan aktivitas kesehariannya. Inilah untuk pertama kalinya Jay melihatnya begitu kisruh-misuh.” “Ooh. Jay amat mengagumi kekuatan hati orang Islam melalui sosok Haekal.” protes Jay. Musim dingin terasa menggigit di akhir bulan Nopember.

Gelisah duduk di antara para pelanggan kafe. “Katanya. Semuanya tergantung bagaimana kamu memperlakukannya… Hei. Kedua kakakmu tak 122 . tak memesan apa-apa. suatu hari nanti.” tegur Haekal tak enak.jalan bareng berduaan. tentang khalwat. Pamannya. Ia menjelaskan secara singkat tentang makna mahram dan non mahram. Inggris dan sekarang aku terdampar di Negeri Sakura… tanpa masa depan!” “Jangan pesimis begitu. Meskipun ia merasa puasanya sudah batal. Walaupun harus dipelototi pemilik kafe.”Masa depan itu tetap ada dan terletak di tanganmu sendiri. aku kan sudah berulang kali mengingatkanmu. Mungkin sejak mereka membuangku ke luar negeri. aku tak pernah melihat kalian kencan apalagi bermesraan?” Wajah Haekal merona. Mula-mula ke Amerika. hijab… Sehingga Jay mengangguk-angguk paham. Jay akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak Haekal. Paman Vijay mengingatkannya agar segera merubah gaya hidupnya yang amburadul. “Aku sudah menduganya!” tukas Jay tak sabar. ia lebih suka mengeluarkan beberapa puluh yen sebagai kompensasi tempat mereka berteduh. kapan kamu akan merasa siap untuk mengambil alih kekuasaannya? Dia merasa sudah semakin tua dan lelah.”Tapi kenapa kalian begitu asing kelihatannya? Maksudku. ia menyilakan Jay untuk memesan minuman dan penganan. tentang halal dan haram.” ungkap Haekal kemudian. katamu tempo hari utusan keluargamu sudah datang untuk menjemputmu?” Jay mengangguk. “Kami memang berniat untuk menjadi suami-istri. tapi aku sudah lama tak mempedulikannya. “Dalam agama Hindu pun ada banyak aturan dan disiplin. tapi tak punya niat untuk makan dan minum di siang hari. Vijay untuk ke sekian kalinya diutus oleh keluarga besarnya di New Delhi. Ayahnya konon sudah tak sabar lagi menanti perubahannya. memadu kasih seperti lazimnya pasangan kasmaran lainnya?” Haekal menghela napas berat.

Jay jatuh sakit. Nehiiii! “Baik. Beberapa minggu setelah insiden di supermal yang memberinya kabar mengejutkan. Paman Vijay. Ingatlah. “Siapapun gadis itu. kehamilan Mayumi. gonorhea! Kali ini paman Vijay baru pulang setelah memberi ultimatum. perusahaan kita semakin melebar ke pelosok dunia. lebih suka hidup di mancanegara sebagaimana dulu orang tuanya mengkondisikannya demikian. jangan harapkan lagi sokongan fasilitas dan kemudahan dari keluarga besarmu di India!” Itu berarti. Jay terkucilkan. dia akan hidup sengsara di negeri orang untuk selamalamanya. rasanya terlalu beban untuk disaingi. hidup foya-foya dan hura-hura sebagai pelarian. tak sabar lagi menantikan Sang Pangeran untuk mengembangkannya…” Jay hanya terdiam seribu basa. Lemah dan ringkih karena kepengecutan dirinya untuk tampil sebagai pemenang. dosa tak terampunkan. mengarahkan jalanmu… Paham kamu. bahkan dari satu pelukan wanita ke pelukan wanita lainnya. Dokter kemudian memvonis dirinya dengan suatu penyakit memalukan. paham?” mata Paman Vijay berkaca-kaca. Bayang-bayang kedua kakak lelakinya yang sukses sebagai politikus. Trauma masa silam itu sangat dalam memasung jiwanya. Menghamburkan setiap rupee yang ditranfer keluarganya. “Berubahlah secara total. pelarian itu ternyata nol belaka! Bahkan memberinya dampak yang sangat menjijikkan.”Kalau dalam tempo dua bulan kamu masih begini saja. Namun. lantas apa saranmu?” seru Jay ketika melepas keberangkatan pamannya di bandaran Narita. karena mereka lebih suka dengan karier politiknya. Jay Bachan!” 123 . ya Paman?” “Siapapun dia asalkan bisa membuatmu menjadi orang lagi. Tualang ke sana ke mari. Jay Bachan! Carilah seorang gadis untuk mendampingi hidupmu. Jay pun kembara ke mana saja dia suka. Jay. terlalu berat diletakkan ayahnya ke atas bahu-bahunya yang ringkih.bisa diandalkan lagi. Harapan itu terlalu tinggi. Jay.

mengalahkan kisruh-misuh di wajahnya dan persoalan pribadinya. Tak ada yang disembunyikan lagi. “Baiklah. Aa Haekal. seorang guru agama yang sedang bertugas sebagai staf pengajar di sekolah internasional. “Ajaklah aku… maksudku kami berdua. dan mengungkapkan niatnya. “Apa itu?” Haekal tengadah.” semangat Haekal seperti biasa menggebugebu. harapan keluarga besarmu… Nah. kalau begitu dimulai dari diriku dulu. tapi bagaimana kalau… Anak itu terlahir cacat? Mayumi dengan bijak dan pasrah tetap menyemangatinya. setelah Jay mengungkapkan kondisinya secara jujur. Jay pun dibimbing melafalkan dua kalimah syahadat oleh Cak Wahid.” Haekal melengak. Mayumi sendiri harus meyakininya. Selain ada Mayumi. aku dan Mayumi untuk memeluk agamamu Islam. kamu akan sanggup melewati masa-masa kritis hidupmu. Maka. kepercayaan akan takdir-Nya?” Inilah saatnya Jay merasa dirinya telah mengalami perubahan total. ya Ustaz?” katanya. Mereka sangat hangat dan menyambut gembira keinginan Jay. Bahkan dia sudah mengandung putraku. Bukankah kita harus selalu memiliki keyakinan itu. “Aku ingin minta sesuatu darimu. Kamu kuat. apakah itu berkat kedekatannya dengan Haekal atau kehamilan Mayumi… Tak usah diperdebatkan lagi. sesaat kemudian ia tersenyum bijak. Siapapun pemicunya. “Bagaimana caranya aku bisa memeluk Islam?” Menghabiskan hari itu. “Itu tak sesederhana perkiraanmu. mereka menuju Wisma Nusantara.” cetus Jay Bachan sebelum meninggalkan kafe itu. apalagi yang kamu harapkan? Semuanya itu menjadi karunia dalam sisa hidupmu kelak. “Peganglah keyakinan itu. Jay. Jay. Jay. menatap paras pemuda India yang menatapnya dengan mimik serius itu. ada keturunanmu. “Kita lihat saja kenyataannya nanti. 124 . jangan sampai merasa terpaksa… Pertimbangkanlah kembali matang-matang!” Tapi Jay telah merasa mantap agaknya. Haekal memperkenalkan Jay kepada taklimnya.Sekarang aku telah menemukan gadis itu. sebab yang jelas ini akan sangat menyenangkan. jerit Jay bachan.

Jay pun mempelajarinya dengan sangat serius dan istiqomah. sudah seperti saudara malah… Apa sebenarnya yang kalian pertengkarkan?” tanya Mayumi beberapa hari yang lalu. temuilah dia sana!” Garsini bersikeras tak mau menemuinya. tapi jauh di lubuk hatinya ia meragukan. Tak ada yang dirahasiakan. Kenapa sikapnya jadi berubah begitu mengesalkan. Melalui Jay yang selalu jalan bareng dengan Haekal dalam beberapa pekan itu. “Betulkah si De Broer itu sepupumu? Dan kalian berduaan saja bepergian ke Hisroshima?” cecar Haekal. 125 . kalau begitu maafkanlah dia. *** “Tolong.Haekal kemudian melimpahinya dengan sejumlah buku tuntunan Islam. Bahwa ia sudah banyak memberi kesempatan. Garsini-san. ia menyarankan mereka agar sebaiknya pulang saja. tetapi Haekal selalu mengulangi kesalahan yang sama. Kita kan bersahabat. Pertengkaran itu sungguh melukai hati Garsini yang murni dan mungil. dalam kepasrahan seorang Muslim. Sehingga terpaksa Mayumi ke bawah. katakan terus teranglah. kekerasan yang kerap terjadi dalam rumah tangga orang tuanya. adakah itu sekadar salah paham belaka? Ataukah lebih dari sekadar itu? Benih-benih perbedaan di antara mereka? Garsini masih juga menyembunyikan masalah yang terjadi antara dirinya dengan pemuda itu. Semua diakibatkan oleh ketakpercayaan Papa terhadap cinta Mama. Aduuuh… demi Allah! Aku tak ingin hal yang sama terjadi dalam keluargaku kelak! “Nah. Ia sungguh ingin menjadi sosok yang baru. ketika Garsini menceritakan semuanya secara terus-terang. “Hanya salah paham saja. ya? Itu mengingatkan Garsini akan sikap ayahnya.” elak Garsini. Ia masih trauma dengan masa lalunya. mencurigai… habis-habisan! Sungguh tak masuk akal. manusia baru dalam perubahan total. Mencemburui.

Jadi. suatu hari nanti. Sebab ia pun tak bisa ikut bersama kajian Ayyesha. Dia ingin menjadikanku istrinya. Ia tak bisa membayangkan seandainya Mayumi kembali dikecewakan. terlalu riskan untuk menempuh badai salju menuju Sendai. Tak seperti seorang kekasih… Lama-lama dia akan cari pacar baru. Apalagi seorang diri. tapi tidak sekarang. Seribu luka pun turut merajam sukma Garsini! “Bagaimana tidak ngambek. Haekal tak berhasil mengajak Garsini pergi ke KBRI. Apalagi ketika sampai beberapa waktu Haekal secara terusmenerus mencecarnya. meskipun sudah susah payah mengajak serta Jay Bachan. pekik Garsini sakit hati sekali kala itu. ayo?” “Apapun itu… aku tak peduli! Bagiku yang penting. ”Kami tidak pacaran. Luar biasa! “Bagaimana kalau dia sudah dimanfaatkan oleh Aa Haekal. bahkan sanggup mempengaruhi pikiran Jay Bachan. Haekal telah berhasil melakukan pendekatan. menyesalkan sikap sahabat Indonesunya yang dinilai aneh. Garsini hanya akan tersenyum lembut. sikapmu itu terlalu dingin kepadanya. Mayumi-san. Membuat Mayumi geleng kepala. melalui telepon dan mail-mail. Bagaimana kalau dia sampai harakiri. itikaf dan bertakbir sendirian. Ketika itu Mayumi amat surprise dan mulai membuka hati untuk memaafkan Jay Bachan. berbagai pertanyaan. kenapa Aa Haekal menyangsikan kejujuranku. kami harus memelihara hubungan suci ini. Garsini!” tegur Mayumi pada malam lebaran yang lalu. duuuh…! “Jawablah dengan jujur. Jay sudah berubah dan itu sangat menakjubkan!” “Bagaimana kalau perubahannya hanya sementara? Hanya untuk membuatmu kembali ke dalam pelukannya? Setelah kalian menikah dia akan…” “Itulah yang paling kuinginkan. Garsini memilih tinggal di kamarnya dengan dalih untuk melakukan tafakur.Aduuh. 126 . apa betul kalian pasangan kekasih?” Mayumi kembali mendesaknya soal status Haekal bagi gadis itu. menikah! Setelah itu aku sungguh tak ingin apa-apa lagi!” Garsini geleng-geleng kepala.

itukah berkahnya iman dalam Islam? Semakin kagum Mayumi terhadap Garsini. Cristal.” bisiknya mendesir di telinga gadis Swedia yang pernah melecehkannya. Jay Bachan mengalami perubahan total. nafsu atau nikmat sesaat belaka… Aku percaya. Ia pun bangkit dari sofa. Agama yang telah sangat memperngaruhi jalan hidup Jay Bachan. Jay telah berkali-kali mendatangi tempat tinggalnya. terang-terangan menghina Mayumi. *** Ketika untuk ke sekian kalinya Cristal yang mengenakan gaun seronok. “Apa urusanmu di tempat terhormat ini. melenggang-lenggok secara atraktif di sekitar ruang tamu itu. insya Allah!” Gadis satu ini memang luar biasa! Islam. 127 . he perempuan murah?” dengusnya tajam menikam. Menemui ibunya dan menyampaikan penyesalan sekaligus keinginan baiknya. tempatnya duduk berdiam diri dalam lima belas menit terakhir. sungguh kenyataan. please. Ia sangat surprise dan sungguh berbahagia menerima kenyataan seindah ini. Mayumi tidak tampak marah. seperti kemarin didengarnya melalui telepon. langsung mengenai ulu hati Mayumi. menunggu kedatangan Jay Bachan yang telah janji menjemputnya di asrama malam itu. Jay Bachan entah untuk ke berapa kalinya mengungkapkan. Bukan mimpi. Mayumi merasa tak tahan lagi untuk menegurnya. Mayumi takkan pernah menanyakan detailnya perihal perubahan itu. Sejak insiden di supermal itu. dalam satu keyakinan janji orang terkasih. semakin tinggi pula rasa ingin tahu dan penasarannya akan agama yang dipeluk gadis itu. Bibirnya malah melepas sesungging senyum. Bahkan ia rela melakukan apapun demi mewujudkan niat baiknya itu. Cristal menjengek sambil mencibir sinis. mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Mayumi. bersombong-ria mengklaim sebagai penakluk semua penghuni apartemen Hindustan di Shinjuku itu. dia takkan macam-macam. Ia bertekad menebusnya dalam wujud satu ikatan pernikahan resmi. kesediaannya bertanggung jawab sebab telah menyadari semua dosa-dosanya.Jangan sampai terkontaminasi oleh hasrat. “Jaga sikapmu.

” ujar Mayumi datar tanpa mempedulikan semburan hinaannya. Maaf. Garsini. Allah… Allah Sang Pengasih! Apakah itu hidayah. “Ahaaaa? Apa kupingku tak salah dengar nih?” ejek Cristal sambil mendengungkan tawa yang terasa kejam menikam di telinga Mayumi. ya? Kamu pikir. berilah kesempatan kepadaku untuk menjadi ayah yang baik bagi bayi kita kelak. Kecuali jika ada sesuatu yang luar biasa.Ampuni aku. tetapi itulah yang pernah kupelajari. kata Garsini. Cepat-cepat ia stel habis gaya dengan segala percaya dirinya. ya? Apa tidak malu masih keluyuran dengan perut buncitmu itu? Sudah berapa bulan. Begitu dilihatnya pemuda itu kembali masuk. Hidayah itu sesuatu nikmat. setelah secara berkala berdiskusi panjang-lebar mengenai keyakinan. Cristal terpaksa melepaskan kesempatan untuk melukai hati Mayumi. Kamu mau menjadi istriku bukan? Hati Mayumi kini dilumuri kehangatan cinta. menghampiri Haekal. berkah yang menghinggapi dan bersemayam secara kokoh di kalbu seorang manusia.”Kamu sudah semakin parah jadi pemimpi ulung. 128 . Garsini sudah sejak kemarin menyatakan keberatannya pergi malam ini. lima-enam…?” “Aku memenuhi janjiku kepada sahabatku. bukan pakarnya. Dalam beberapa bukan terakhir. memilih kembali ke sofanya di sudut ruang tamu. kepercayaan diri dengan Garsini… Mayumi ingin menjadi seorang yang istiqomah terhadap Tuhan sahabat baiknya itu. kelembutan janji yang terpancar melalui mata Jay Bachan… Dia telah berubah total. “Kami akan pergi ke KBRI untuk…” Tidak juga. Jay akan datang ke sini? Bareng kalian untuk malam tahun baru… hemm?” Mayumi tak bereaksi lagi. katanya tegas. tanyanya suatu saat kepada Garsini. bantahnya cepat dalam hati. Betapa aku menginginkan hidayah itu menghinggapi dan bersemayam dengan kokoh di kalbuku ini! Sementara Haekal baru kembali dari teras dan aksi mondar-mandirnya. aku percaya kini! “Sudah tuli. aku juga bukan guru agama.

Mayumi merasa jemu dan muak meladeni keangkuhannya. berdiri menantang di depan hidungnya. Pasti sesuatu yang sangat mengguncang jiwa Cristal. jangan bilang kalau kamu masih mengharapkan Jay. beberapa meter dari mereka. desisnya sebal. tapi Jay dengan kemeja… Muslimnya! *** 129 . Cristal masih juga berlagak pilon. berleher rendah dan berbelah panjang di kedua pinggir pahanya. Sebuah tragedikah? Namun.Kali ini Cristal sengaja menghadangnya. berlenggok menghampiri sudut Mayumi. Ia memutuskan untuk bungkam seribu basa. Mayumi mengamati semua gerak-gerik kedua makhluk itu dari sudutnya. Entah apa yang dikatakan oleh Haekal kepada Cristal. Jay berdua Paman Vijay.” cetus Cristal begitu berdiri di depan hidung gadis Jepun itu. Mayumi bangkit kembali dan perlahan mengamati orang-orang itu. persis seperti janji Jay tempo hari. sangat apik dengan tuksedonya. Tentu saja berikut gaun seronok. “Ugh. Dia tak pernah ingkar janji lagi. Dampaknya kentara sekali dari mimik dan gerak-gerik gadis Swedia itu. My God. Pacar si Garsini itu pasti sudah sinting! Mana mungkin Jay sudi menikahi gadis murahan ini. itulah mereka. Seketika ekor matanya menangkap dua sosok baru muncul di ambang pintu. pekiknya hampir histeris.

Bab 13 Haekal pun bergegas menyongsong kedua orang yang sejak tadi dinantikannya dengan harap-harap cemas. bahkan mendatangkannya dari India untuk merestui keputusan penting dalam hidupnya. malam ini aku ingin memperistri Mayumi. kepercayaan dirinya sudah kembali dan sangat kokoh! “Maksudmu…?” 130 . Bisakah?” Suaranya sama sekali tidak gugup. “Wa alaikumussalam…” sahut Haekal tertawa senang. “Tentu saja. kali ini mulai bisa mengembangkan seulas senyum lembutnya. Agaknya Jay berhasil meyakinkan pamannya. Setelah melewati malam-malam yang terasa sangat menakutkan dan sarat kebimbangan. tapi… aku ingin mengikuti jejakmu dulu. dijabatnya tangan Paman Vijay. Kemudian ia memeluk Jay erat-erat. tanyakan sendiri kepadanya…” Mayumi yang diam-diam menguping percakapan mereka menghela napas dalam-dalam. “Assalamualaikum…” sapa Jay mendahului. “Hei. sebab Jay telah menghampirinya dengan wajah bersinar-sinar.”Kamu sudah mantap. Menikahinya secara Islam seperti yang telah kujanjikan kepadamu tempo hari itu. apa betul kalian akan menikah malam ini di…?” Mayumi tak menggubrisnya. ya?” Jay mengangguk tegas. Paman Vijay bisa memahami keputusanku. ya kan Mayumi-san?” Mayumi tegak berdiri dengan perut lima bulannya. Adakah ini sepotong mimpi dari seluruh impian dan harapan yang ingin disampirkannya ke bahu Jay Bachan? Cristal mencoba berusaha memahami apa yang tengah terjadi. Paman Vijay dan Haekal mengikutinya dari belakang. menanggung aib tak terampunkan. “Kamu mau menjadi istriku malam ini. Etsuko-san… Mungkin ia pun sudah melakukan harakiri! ”Tentu saja. Seandainya tanpa dukungan ibunya dan majikannya. Hari-hari yang meresahkan di bawah sorot mata hinaan. insya Allah.

Iya kan. meskipun menurut Mayumi hal itu sama saja seperti menganyam awan alias muskil. Etsuko?” “Haik… Anata wa kirei desune!” sahut Etsuko sambil tertawa riang dan menjawil pipi porselin itu. Kemudian katanya pula kepada Haekal yang masih terperangah. kamu cantik sekali dengan kimono dan kerudungmu itu. apakah aku bisa melakukannya?” “Insya Allah bisa. Mereka ingin segera melihatmu. “Sungguh. di koridor lantai dua ia berpapasan dengan tiga wanita yang mengenakan kimono Jepang. belakangan segera dikeluarkan oleh ayah kandungnya yang tak mau karier politiknya lebih hancur. “Ini pujian tulus.” Agaknya hal itu memang sudah dipertimbangkan masak-masak oleh Mayumi. “Haekalsan. Konon. Nona Mayumi… Minggu depan bisakah kita pulang ke New Delhi?” Jay menengahi “Jangan terlalu memaksakan kehendak. maka Akira yang tak sudi diatur-atur.” janji Haekal. Paman Vijay giliran menyampaikan restunya secara resmi. Sang Menteri telah berjanji untuk selalu menjamin keuangan Akira dan adiknya sejak saat ini. Miss Indonesu…” 131 . banyak diberkati Tuhan…” kata-katanya terdengar amat indah di telinga Jay dan Haekal. Paman Vijay. Ia berlari kecil kembali ke kamarnya. please… Biarlah Mayumi rembukan dulu dengan keluarganya.“Bimbinglah aku ke dalam keyakinanmu. “Kami sudah menerima keputusan Jay. Termasuk restu Akira yang sempat mendekam di balik terali besi. Semuanya sangat sukacita. *** Cristal bagai kambing congek. agama barumu yang telah membuat dirimu sangat berubah. Asalkan Akira mau melepaskan diri dari Yakuza. Cristal mendengar percakapan mereka yang menurut perasaannya tak menggubris keberadaannya. Bahkan restu ibunya telah diperoleh jauh-jauh hari. nanti akan diatur sesuai keinginanmu. Namun. Artinya. serasi sekali. kalau bukan ayah mereka yang ingkar janji. tak tahan lagi dengan segala sukacita dan kasih sayang yang melumuri wajah Mayumi.

Wajah Garsini memerah. “Kapan kalian meresmikan hubungan… dengan dokter Haekal itu?!” Garsini tak menjawab malah cepat mengalihkan percakapan. Lebih baik pikirkan kebahagiaan dirimu sendiri. “Aduuuh…!” pekik Mayuko.” tegur Etsuko selang kemudian. pikir Garsini. apalagi ketika Mayumi menambahkan.” nada Mayuko terdengar tulus hingga sahabatnya turut merasa simpati. Aku hanya ingin membantunya saja. semuanya akan berakhir dalam kebahagiaan. Kita kan bisa mencarikannya pasangan?” komentar Mayuko. Sedang Garsini menatap prihatin ke arah Cristal yang nyaris menabraknya. sebentar lagi aku akan dipanggil Ibu Mertua…?!” seru ibu Mayumi. maafkan… jangan tersinggung dulu. “Etsuko.” Etsuko asal tebak. Coba sebelumnya dia datang ke ryokanmu. rasakan cubitanku!” gemas Etsuko mencubit tangan sahabatnya. “Kasihan sekali. “Bagaimana kalau hubunganmu 132 . Seandainya Mayuko tahu. Tapi Cristal cepat-cepat berlari menghindarinya. Sudahlah. Etsuko. bagaimana Cristal memperlakukan putrinya dengan segala sindiran tajam dan penghinaannya. sebentar lagi. “Kamu ini selalu memikirkan orang lain. “Memangnya ryokanku tempat apa?” sergah Etsuko. agar tidak mengetahui keberadaan kedua wanita yang mengasihinya itu di kamarnya. “Kelihatannya dia tak dapat ajakan kencan malam tahun baru ini. Ia juga telah berusaha keras menahan Mayumi. “Bukan begitu. apakah koleksi pacar yang selalu dibanggakannya itu sudah habis? Tak sepotong pun tersisa yang sudi mengajaknya kencan malam ini? Ataukah mereka sudah mengetahui bagaimana gaya hidup liar gadis itu? “Ada apa dengan si pirang itu?” Mayuko ingin tahu. “Percayalah. ini akan menjadi kejutan menyenangkan buat Mayumi…” Betapa ia telah berjuang meyakinkan kedua wanita itu untuk merestui pernikahan putrinya dengan Jay Bachan. Kedua wanita Jepang itu terus jua bersendagurau. tolong cubit aku! Apa aku bermimpi? Bayangkan. Kasihan juga dia. “Niiih.

Semuanya telah disiapkan oleh Paman Vijay dan istrinya yang asli Pakistan. kuliahnya. Dalam tempo relatif singkat. tapi ia menganggapnya sebagai gurauan belaka. beasiswanya tentu akan dicabut… Kepalanya mendadak pening! “Ada apa denganmu. Beberapa saat sebelumnya mereka pun menyaksikan mempelai wanita mengucapkan dua kalimah syahadat. Kedua mempelai baru saja diantarkan menaiki limousin milik keluarga besar Paman Vijay. Garsini tak segera menyahut. kamu pernah dua kali mendadak jatuh sakit…?” “Jangan menakutinya. tangan Garsini terasa gemetar dalam genggamannya. rasanya itu hal yang tak mungkin! Bagaimana kalau itu serius? Ugh. “Kamu sakit? Kata Mayumi. Mereka akan langsung menuju bandara Narita. Air mata haru menitik membasahi pipi Mayuko. seketika Garsini merasakan hatinya menggigil. bila dirinya tak mampu menolak tawaran itu. Sebab bila pernikahan itu dilaksanakan saat ini.dengan Matsua-san juga segera diresmikan seperti mereka? Bukankah pacaran itu dosa. Lagi pula. pikir Garsini. seorang muslimah yang lembut dan anggun. yang bila kita menolaknya Allah akan melaknat? Tapi bagaimana dengan masa depannya. Haekal pernah menawarkan pernikahan itu kepadanya. tangannya digenggam erat oleh Etsuko. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia merasa takut sekali. kalaupun dia punya kelainan 133 . keduanya melambailambaikan tangan ke arah pengantin baru. Nak?” tanya Mayuko menatapnya cemas. ketika mereka telah selesai menyaksikan akad nikah pasangan berbahagia di Islamic Centre. rindu rumah yang lazim dialami oleh para gakusei asing. “Itu penyakit biasa. ya Miss Indonesu…?” *** Dan pertanyaan itu diulang kali ini oleh Mayuko kepada Garsini. Mayumi sudah tampak sangat akrab dan bisa bermanja-manja kepadanya. naik pesawat terakhir ke Paris untuk berbulan madu. Bukankah tawaran menikah dari seorang pria yang baik adalah suatu kesempatan emas. Haekal berdiri tertegun-tegun di sebelah Cak Wahid.” kata Etsuko.

Suatu kebiasaan Barat yang tak pernah digubrisnya seumur hidupnya. mempercakapkan masa depan gadis yang sudah mereka anggap sebagai putri sendiri. mau ke mana. Begitu kan. kadang begitu hangat kekeluargaan.” Mayuko tak tersinggung. Terutama tentang pernikahannya. katakan kepada kami. maksudku kasusnya berbeda!” “Aku paham. kadang resmi-resmian. “Tapi kamu yang memulai!” Etsuko tak mau disalahkan. Begitu heboh. begitu kan. Haekal-san…” “Ya. Lagi pula dia tak sama dengan Mayumi… Maaf. Garsini-san?” Ibu Mayumi ini. “Cepat. Mereka hendak merayakan malam tahun baru dan Garsini baru menyadari hal itu kembali. seakan-akan tengah membincangkan nasib seseorang yang sama sekali tak memiliki hak bicara dan privasi lagi… “Hei. kalian sebentar lagi juga akan meresmikan pertunangan barangkali?” “Tidak. bukankah usia Garsini masih delapan belas? Terlalu muda. Garsini terdiam dalam kebingungan. “Naaah. apa namanya? Ehem. Sayang?” bantah Mayuko. Tapi sekarang ada yang mengikat keduanya yaitu simpul kasih. eeh. baik-buruknya bila tidak atau akan dilangsungkan dalam waktu dekat. maksudku usia Garsini masih terlalu muda…” 134 . Gadis itu tampak menyeberang jalan kemudian menyusuri jembatan layang yang sudah ramai oleh orang-orang. apakah kalian punya rencana menikah dalam waktu dekat ini? Kalau menurutku. kita sudah membuatnya tersinggung nih. Haekal baru bisa menghampiri kedua wanita yang masih kebingungan mengawasi tingkah Garsini. ukhuwah Islamiyah. Bayangan Cak Wahid telah lenyap dalam sebuah taksi. Tiba-tiba kedua ibu itu beradu argumen. “Antara Garsini dengan putriku memang sangat berbeda watak. kalian belum siap. keyakinan mereka. Etsuko!” sungut Mayuko menyesalinya. “Kalau untuk menikah. Kedua wanita itu terpana memandangi bayangan Garsini yang secepat kilat menjauhi mereka.pasti dokter Haekal cepat mengobatinya… Aha! Kukira. kebetulan sekali kamu datang!” sambut Mayuko girang. Sayang? Aaah. Etsuko… Tidak akan ada pertunangan sebab hal itu tak lazim dalam Islam.

*** Semester demi semester terus berpacu dalam jadwal perkuliahan kian padat dan tugas-tugas yang semakin ketat. dokter! Jangan hiraukan dia! Garsini dengan putriku itu sebaya. musim dingin dan begitu selanjutnya silih berganti. Haekal-saaan!” “Ayooo. hari demi hari. “Sumimasen ga23… Saya permisi dulu. Sehingga Garsini bisa menarik napas lega dan tanpa beban lagi. bertepuk tangan-ria sambil mengikik geli. jangan pernah menyeraaah!” Pada kenyataannya. Tawaran itu baru diulurkan kepadanya tiga tahun kemudian. musim gugur. Database System. Praktikum… Rekayasa Perangkat Lunak. bersamaan dengan secarik ijazah dan gelar sarjana teknik informatika dalam genggamannya.” ujar Haekal bak bisa memaklumi kesulitan gadis itu dari kejauhan. Seperti mendapat mainan baru. 23 Maafkan saya. ayooo. Artificial Intelligence. Musim semi. hanya beda beberapa bulan. Analisa Algoritma. kecemburuan membuta dan kecurigaan tak beralasan Haekal. Sementara matanya menangkap sosok dalam kimono Jepang tengah berusaha keras membebaskan diri dari kehiruk-pikukan massa. haruuus mampu mendapatkannya. Mayuko dan Etsuko seketika menyemangatinya. Logika Matematika. Organisasi Komputer. Algoritma dan Pemrograman. Ia pun mau memaafkan segala kehilafan. Kurasa Garsini sama saja sudah siap bila kamu ajak menikah…?” Haekal geleng-geleng kepala melihat perdebatan yang seolah takkan usai dalam waktu singkat itu. Struktur Data. “Kamu haruuuus. Haekal tak berani menawarkan pernikahan itu secara serius saat itu. maaf… 135 . musim panas.“Tidak apa-apa. semuanya berujung pada teknologi inovatif… Semuanya berseliweran dari menit ke menit. Akhirnya empat tahun pun berlalu sudah. kelihatannya Garsini butuh pertolongan. minggu demi minggu. secara sungguh-sungguh bahkan terdengar seperti mendesak dan menyudutkannya.

Namun. mungkin aku akan kembali ke bangku kuliah. Di matanya mirip kapas-kapas yang berarak lembut.Ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya. menerima khitbah Haekal yang ditawarkan kepadanya tadi malam? Asramanya tampak telah lengang ditinggalkan para penghuni. langit bening dan bersih. Nuansanya tentu saja sudah sangat berbeda. Ia akan melakukan semacam menapak tilas untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan sikap. Kali ini ia seorang diri. sebuah klinik kecil telah menantinya di Selangor. di langit tampak awan putih. Konon. barulah aku akan berubah pikiran.” tekad Haliza sebelum berpisah. ambil spesialisasi bedah jantung di Amerika. gadis Muslimah itu pun mampu menjalani hari-harinya dengan istiqomah. Siang itu. sebagian masih segar. musim semi yang lembut dan Garsini baru menuruni tangga menuju ruang tamu. menjadi seorang istri dan ibu. ternyata tak memberinya kepuasan seperti yang diperkirakannya dulu. Sayang sekali. Dulu ia masih tergagapgagap dalam kecanggihan dan fasilitas super modern yang dimiliki Negeri 136 . Perancis? Ataukan kembali ke Indonesia. Tapi kalau tak ada juga. bahkan ada yang belum kuncup sama sekali. “Suatu saat. bila ada pria yang baik dan saleh meminangku. Garsini teringat lagi akan keberduaan mereka di musim semi sekitar empat tahun yang silam. ia bertekad mengabdikan ilmunya demi kesejahteraan umat dan rakyat jelata di lingkungannya. seiring dengan berlalunya waktu. hubungannya dengan Rashid tak berlangsung seperti harapannya. Haliza telah mendahuluinya pulang ke Malaysia beberapa pekan yang lalu. Garsini menyadari hal itu. Rasa bangga akan keberhasilan yang telah diraihnya. Sekarang Haliza telah menjadi seorang dokter. Haliza sempat frustasi mengetahui Rashid akhirnya memilih menyerah. Ia merasa kini dirinya dalam suatu persimpangan jalan. Bunga-bunga Sakura berguguran berserak di pekarangan. menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Rasanya seperti saat ini. Adakah ia akan menerima tawaran beasiswa yang diupayakan Profesor del Pierro di Universitas Sorbone.

mungkin pula telah menyatu dalam derap kecanggihan dan teknologi super modern bangsa Jepang. Untuk menyayangi. memperlihatkan perasaan suka saja kok mesti dengan caranya sendiri. Ia berhasil mengembangkannya. disegani kakak kelas dan dikagumi adik kelas. Adalah berkat program inovatifnya yang sesungguhnya teknik dasarnya diwariskan dari mendiang profesor Nakajima. Garsini memperoleh ribuan yen dari penjualan VCD ensiklopedia uniknya itu. Ucok tak berhasil meyakinkannya. *** 137 . Berbagai penghargaan yang telah diperolehnya dalam usia yang sangat belia. persis seperti dulu! Aneh sekali punya ayah seperti Papa. pengaguman dan respek tinggi dari para guru besarnya. Hingga ia memperoleh berbagai limpahan kemudahan. kadang melambungkan dirinya ke awang-awang… Seakan-akan tak ada satu pun yang tak mampu diraihnya! Garsini berhasil sebagai mahasiswa cemerlang. Bermula dari rekomendasi Profesor Charles del Pierro. yang telah memberinya pekerjaan paruh waktu dengan imbalan sangat menggiurkan. Di kalangan almamaternya. Namanya populer di berbagai kalangan dan lapisan masyarakat Jepang. pikir Garsini. Garsini tak berani lagi mengirimkan sesuatu untuk ayahnya. Ia juga sukses menjalin komunikasi yang sangat luwes di kalangan dosen dan staf pengajar.Sakura. sesungguhnya Papa sangat menyukai bingkisannya berupa eksiklopedia itu… hanya dengan caranya sendiri. sukses pula dalam beberapa klub elite masyarakat cendekia dunia yang dimasukinya. Hingga ia bisa mengirimkan berbagai bingkisan untuk kedua adiknya dan ibunya di Depok. Garsini banyak disebut-sebut sebagai cendekia muda brilian. Kini ia merasa sudah sangat terbiasa. Oleh-olehnya sama sekali tak mendapat perhatian dari lelaki itu ketika ia pulang dua tahun yang lalu. Hingga digelari Einsten-girl oleh para senior. hingga menjadi “ensiklopedi perbandingan budaya bangsa Asia” karya Garsini Siregar. sesuatu yang justru tak dipahami dan disukai oleh orang yang disayanginya.

tawaran kerja sambil melanjutkan program S2 dari Universitas Sorbone… Atau kamu memilih menerima pinangan dokter Haekal dan pulang ke Indonesia?" “Ah. Ia mengunci ruang kerjanya dengan sikap yang merasa sayang sekali untuk meninggalkannya. Garsini duduk di sebelahnya dengan perasaan aneh. Ia termasuk orang Jepang yang work-cholik. Yamanaka acapkali mengeluh kepadanya. karena sebagian besar mahasiswa dan dosen sudah mengambil kesempatan untuk menikmati liburannya tiga hari yang lalu.” elak Garsini. Ia menerima gadis itu dengan hangat di ruang kerjanya. Kalau boleh sehari itu lebih dari 24 jam. aku akan mentraktirmu. rupanya telah menduga maksud kedatangannya untuk mengucapkan sayonara. agar mengusir rasa sepi dan lengang yang terasa aneh merayapi sisi-sisi kalbunya. Garsini tak pernah memahami gaya hidup wanita cantik ini. hingga mereka begitu terperangkap oleh kecanduannya bekerja. Garsini geleng-geleng kepala. Garsini-san?” tanya sang Profesor melirik Garsini yang terdiam. Apa yang dikejar oleh semua orang Jepang. bukan? Gelar sarjana. Ya. mengikuti saran Garsini untuk sedikit bersantai. di mana-mana lengang dan senyap! “Apalagi yang kamu pikirkan. ia pernah melintasi jalan ini dengan taksi bersama Mayumi. Suasana kampus pun lengang. bahwa ia selalu merasa kekurangan waktu untuk bekerja. “Baiklah. jangan mendesak.Profesor Yamanaka. katanya. sementara sepasang matanya menerawang ke luar jendela kaca di sebelahnya. Prof. Kala itu pun mereka melewati jalan-jalan di kampus yang senyap. “Ah…” Garsini menghela napas dalam-dalam. melakukan sesuatu? Mereka naik sedan bagus yang dikendarai oleh sang Profesor. Matanya cepat mencari-cari sesuatu yang bisa disetel di tape-deck. jangan tolak lagi ya!” akhirnya ia mengalah. “Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan. 138 . dosen pembimbing yang mengantarkan garsini meraih predikat summa cum laude. Empat tahun yang silam.

bukankah ini lagu favoritmu?” Sedan melaju tenang keluar dari kawasan kampus. Hingga ia tak pernah mengetahui apa makna liriknya. 139 . apa saja yang menurutmu tidak sepele? Lagu itu kan bahasa.” “Sejak saat ini jangan panggil aku demikian. tak ada apa-apa di sini…” Yamanaka tertawa kecil. Bibi. adat kebiasaan suatu bangsa… Ups! “Nama penyanyinya sama dengan nama sahabatmu yang diboyong ke Hindustan itu. “Oya?” Mata Garsini cepat menyusuri semua kekayaan di hadapannya. Jadi. Kakak. Sesungguhnya itu bukan lagu favoritnya. seolah bisa menebak pikiran gadis itu. “Begitu lengkapnya! Apa Anda selalu membawa serta peralatan kerja ke manamana? Lihatlah. Itu rupanya yang membuatnya menyimpulkan demikian.” “Baiklah.” Garsini menoleh dan tersenyum kembali. bahkan ia sama sekali tak pernah menyimaknya dengan seksama. Garsini sambil lalu menjawab bahwa nama penyanyinya sama dengan sahabatnya. “Arigato gozaimasu… Ternyata Anda cukup perhatian. Ibu Yamanaka…” “Hei. budaya. laptop.” tegurnya. Tak ada yang berbicara lagi. ya? Jangan harap. Prof. microwave ke sini?” Profesor Yamanaka tergelak melihat Garsini langsung merengut. fax. asal jangan yang berbau hirarki akademislah. Amayadori. Garsini menyimak lagu pop dari penyanyi Mayumi Itsuwa. Sebab ia pun tak pernah punya waktu untuk memahami hal-hal sepele seperti itu.“Mencari kaset dan VCD. mungkin Ibu. kesenian. Saat Yamanaka iseng mempertanyakannya. menyangkut kulturat. apa ini? Ada mail-boks. nah… ini siaran lokal. ketika mereka sedang berada di laboratorium. ya kan?” usik Yamanaka. “Masih ada radio. Hanya karena beberapa kali Garsini dipergoki Yamanaka sedang menyetel lagu-lagu Mayumi Itsuwa. pesawat televisi mungil… Kenapa nggak sekalian saja mengangkut kulkas. “Lho? Tapi saya harus panggil apa?” “Entahlah.

Agaknya Yamanaka merasa terpikat. “Bagaimana kabarnya dia sekarang?” “Oh. “Bagaimana dengan penyakit…?” tanyanya hati-hati. “Penyakitnya ternyata tidak berat. aku masih ingin melahirkan enam anak lagi!” katanya tanpa tedemng aling-aling membuat Garsini terlongong. ya…” Garsini tertawa kecil mengingat pertemuan terakhir mereka seminggu yang lalu. Yamanaka menawarinya kesempatan untuk menjadi asistennya.” komentar Yamanaka ketika mereka menikmati makan siang di sebuah rumah makan mewah di kawasan Ginza. Mereka sedang berada di Jepang. ia terus memancingnya tentang Mayumi. mereka bisa hidup berbahagia.” Mutiara kehidupan bertemperasan dari sepasang matanya. berjanji merekomendasikannya untuk mendapatkan beasiswa lagi. “Jadi. Tanpa sadar Garsini pun menceritakan sekilas perihal love-story sahabatnya. suatu saat pasti akan bertemu kembali. “Tidak ada!” Mayumi tertawa geli. Wajahnya begitu berseri-seri dan ia tengah mengandung buah cinta kasihnya dengan Jay. *** 140 . Mayumi mampir ke asramanya membawa serta dua jagoan ciliknya yang ganteng-ganteng dan sehat. “Setelah ini. Mereka berpisah sambil tertawa riang seolah sepakat.

Apalagi sejak peristiwa runtuhnya gedung WTC di New York. wanita itu sangat menyayangimu. Tapi Garsini sudah kebal dengan hantaman gosip. Hingga acapkali Garsini merasa risih dibuatnya. Garsini-san! Garsini takkan melupakan kebaikan hati Profesor Yamanaka. Bahkan sejak ia semester satu di Universitas Indonesia dulu. sebab mereka pasangan lesbian!” tuding mereka telak. Itu ada benarnya.Bab 14 Jelas sekali. “Ah…” Garsini mulai lelah dan jemu dengan kebimbangan yang membelenggu dirinya. Ayyesha dinilai lebih banyak melakukan manuvermanuver politisnya daripada syiar dakwahnya. Ada beberapa orang yang merasa iri. “Kamu ini sosok istimewa.” puji seniornya. Sangat tidak menguntungkan keberadaan komunitas mereka. Betapa ia sering membangga-banggakan dirinya di depan para mahasiswa. gerakan unjuk rasanya yang menggebu-gebu. budaya dan spiritual. bahkan kemudian mendapat kesempatan mengetuai beberapa komunitas sosial. Annisa di klub elite bentukan Profesor Charles del Pierro. penasaran sekali. Meskipun belakangan kedekatannya dengan sang Profesor malah menimbulkan kabar burung tak mengenakkan. memiliki perpaduan yang sangat langka. kamu juga memiliki komunitas kajian Islam di Sendai. Islam diidentikkan dengan teroris. kemudian menyebarkan gosip murahan. Bahkan kudengar belakangan ini kamu dikandidatkan untuk menggantikan Ayyesha?” cecar Annisa suatu kali. menghujat sejumlah kebijaksanaan Amerika yang dinilai sangat 141 . Sepak terjangnya yang gagah berani. “Tentu saja mereka dekat. Keluwesannya pun telah mengantarkan Garsini untuk menjadi anggota. Masih dalam kebimbangan. gosip murahan seperti itu telah sering menghantam dirinya. “Apa sih kiatmu hingga kamu bisa bergaul dengan baik di berbagai kalangan masyarakat Jepang? Aku tahu. Garsini melanjutkan upaya menapak tilasnya.

Hingga beberapa waktu lamanya Garsini hampir tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Di antara massa itu. lebaran keempat di Negeri Sakura bagi Garsini. itu bukan salahmu. terlalu mendukung Israel dengan segala arogansi adidayanya… Sungguh. dajaaal!” “Aduuh. dalam tayangan siaran langsung di layar kaca. Hal itu tak urung membuat pemerintah Jepang merasa gerah. Karena mendapat tekanan dari pihak Amerika. terlihat sosok imut-imut berjilbab hitam… Kagume! Air mata Garsini tumpah ruah menyaksikan bagaimana para petugas dengan tak berperasaan. sering membuat bulu kuduk Garsini meremang hebat bahna pengagumannya! Ayyesha hampir tiap saat memprovokasi massa dan jamaahnya agar turun ke jalan.” keluh Garsini pedih dan tersentak kaget. *** Pada malam takbir yang lalu.merugikan perjuangan bangsa Palestina. “Tidak. Dirinyalah yang telah menjadi pemicu pengenalan Kagume 142 . akhirnya pemerintah Jepang yang selalu membanggakan kenetralannya. Haliza yang baru tersadar pun segera mengucap istigfar berulang kali. Beberapa lama keduanya menangis sambil berpelukan erat. dekat pangkalan militer Amerika. sumpah serapahmu itu. terpaksa menindak gerakan bawah tanah itu. menyeret Sang Ketua yang gagah berani itu dan terus jua meneriakkan yel-yel anti Amerikanya… Melemparkan sosok imut-imut yang tampak ringkih dan pucat pasi itu ke atas truk! “Damn’it!” jerit geram Haliza terlonjak dari tataminya. itulah untuk pertama kalinya ia mendengar Haliza bersumpah serapah. duduk di samping Garsini ikut menonton siaran langsung. berdemo-ria. ingatlah selalu akan takdir-Nya. Jangan terlalu terpengaruh. biadaaab. Seingatnya.” hibur Haliza tersendat-sendat menahan tangis kepedihannya sendiri. “Mereka memperlakukan rekan-rekanmu itu tak ubahnya seperti para kriminal saja. Haliza. Garsini. Sungguh keji. tampaklah Ayyesha sedang meneriakkan yel-yel anti Amerika di Okinawa. Hanya itulah yang mampu mereka lakukan sepanjang malam takbiran.

dengan iman Islamnya dan makna ukhuwah Islamiyah. Dia pulalah yang tahun silam didatangi oleh Kagume, agar mendampinginya saat mengucapkan dua kalimah syahadat di Islamic Centre. Ketika Garsini merasa terlalu sibuk dengan urusannya, terpaksa dengan menyesal tak bisa selalu mendampingi Kagume… tahu-tahu remaja itu telah bergabung dengan komunitas Ayyesha di Sendai! “Biarkan aku di sini,” ujar Kagume baru terdengar tegas. Wajahnya yang belia tampak dilumuri pendar-pendar kehidupan, sesuatu yang tak mungkin dimiliki oleh remaja awam. Apa yang telah dijanjikan oleh Ayyesha kepadanya, pikir Garsini. Nikmat Ilahiyah dan sorgakah? Sosok bingung, ragu-ragu dan manja yang dikenalnya di kota kecil Hiroshima tiga tahun silam, telah sirna entah ke mana. “Aku mau ikut berjihad bersama rekan-rekan demi kemerdekaan bangsa Palestina,” kata Kagume yang mengaku kini sangat mengidolakan Ayyesha. “Tapi Kagume, di sini akan sangat riskan bagi remaja belia seperti dirimu…” Garsini sungguh tak berani mengatakan “berbahaya”. Di bawah tatapan mata rasa ingin tahu para akhwat jamaah Ayesha, mana mungkin ia berani menentang kebijaksanaan Sang Ketua Ayyesha? Kagume pasti tak paham hal itu. Yang Kagume inginkan hanyalah menjadi seorang Muslimah yang istiqomah. Betapa sederhana cita-cita Kagume, tapi pada kenyataannya tak ada yang sesederhana seperti harapan dan keinginannya. Garsini merasa sangat tak berdaya dan semakin menyesali dirinya, tatkala ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan Ayyesha, Kagume dan beberapa jamaah lainnya dari balik terali besi. Lagi pula, memangnya siapa dirinya? Hanya seorang mahasiswa asing di Negeri Sakura. Sungguh, ia tak memiliki wewenang apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan berdoa panjang di atas hamparan sajadahnya. Bahkan ketika rekan-rekan di komunitas Sendai mendaulatnya untuk gantikan posisi Ayyesha sementara waktu, ia memutuskan untuk menolaknya.

143

“Tidak, maafkan… itu bukan wewenangku. Hanya pantas untuk seorang Ayyesha,” dalihnya menahan pedih di bawah tatapan kecewa dan harapan sirna atas dirinya. Sejak itulah, Garsini menjaga jarak dengan komunitas Sendai. Rasanya sangat menyakitkan menyadari ketakberdayaan dirinya, kebimbangan dan kepengecutan… Pecundang, julukannya yang paling pas saat itu! Sebuah julukan yang selama hidupnya selalu ingin dihindarinya. ***

Beberapa pekan kemudian, dari pemberitaan koran-koran lokal, Garsini mengetahui pembebasan mereka. Dikabarkan setelah melalui nego-nego yang alot, menurunkan para diplomat dari sejumlah negara, barulah mereka bisa dibebaskan. Ada syarat yang mesti ditanda-tangani hitam di atas putih. Bahwa mereka tidak akan melakukan hal serupa, ditambah harus melapor sampai waktu tertentu… tak boleh bepergian ke luar kota, apalagi mancanegara! Ah, itukah pengaruh negara adidaya terhadap dunia internasional? Sejak menjauhi komunitas Sendai, Garsini kemudian akrab dengan

Annisa. Meskipun agak menyesalinya, mengapa Annisa baru terbuka terhadap dirinya belakangan itu. Ada yang berubah pada diri Annisa. Ia mulai memperlihatkan secara terang-terangan tentang identitas dirinya. Aneh sekali, pikir Garsini. Begitu berhati-hati Annisa tentang jatidiri kemuslimahannya selama ini. Betapa kaget Garsini mengetahui bagaimana Annisa sesungguhnya. Ternyata Annisa pernah mengenyam pendidikan pesantren. Baik di ujung, bukankah namanya khusnul khotimah? Mungkin itulah yang tepat bagi Annisa. Sejak kedekatannya dengan Garsini, perubahan itu secara bertahap terus diperlihatkan Annisa. Hijrahnya justru dilakukan pada saat banyak orang ketakutan oleh hal berbau Islam. Apapun itu, Garsini merasa sangat beruntung bisa memiliki sahabat seunik Annisa. Dari kedekatan singkat itu pun Garsini bisa menarik banyak pelajaran. Annisa mengajarinya tilawah yang benar, memperbaiki bacaan Al-Qurannya, memperkuat keimanan dan ketakwaannya.

144

Saat inilah Garsini baru menyadari satu hal. Agaknya hanya sosialisasi, kehebatan berorganisasi belaka yang diperolehnya dari komunitas Ayyesha. Lantas, bagaimana kabarnya Kagume? Terakhir mereka bertemu, kelihatannya Kagume baik-baik saja. Tetap nyaman dan merasa cocok sekali setelah bergabung dengan Islamic Centre. Kagume bahkan punya kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya, mendapat dana pendidikan dari Arab Saudi. “Hei… Kamu belum jawab pertanyaanku, Ukhti,” tegur Annisa. Garsini malah jadi bingung untuk menjawabnya secara serius. Maka, ia memutuskan untuk menjawab ringan tanpa nada bangga berlebihan, “Ah, itu kan hanya karena namaku yang terdengar pas di telinga orang Jepang. Garusiniiii, hihihi…” Annisa menjentik bangir hidungnya dan tertawa gemas. “Dasar… tukang ngocol kamu!” Perpisahan itu di balkon klub diskusi bentukan Profesor Charles del Pierro yang mungkin sudah terlupakan oleh pemakarsanya. Buktinya, guru besar itu sudah lama tak menjenguknya apalagi mencari tahu, apakah kuicuran dananya sampai dengan selamat untuk melanjutkan proyeknya ini? Ia telah menyerahkan pengembangannya kepada para murid kepercayaannya, seperti Annisa. Bila Annisa telah selesai urusannya di sini, lantas siapa pula yang bakal melanjutkannya? Tuan Congkak Andrew, Bu Lantang Akiko, Nona Cerewet Mandu, Miss Vietnam Lien Ang yang selalu tertawa keras itu… Aduh, Garsini merasa sayang sekali kalau penggantinya kelak bukan orang Asia! Ah, aah, kenapa mesti kupikirkan, itu bukan masalahku, jerit Garsini kesal dengan pemikirannya sendiri. Annisa pasti sudah menyiapkan kaderisasi yang baik. Meskipun harapannya tak bisa terkabulkan melalui dirinya. “Jangan lupa balas setiap mailku, ya Dik,” pinta Annisa serius. “Insya Allah, Mbak.” “Aku ingin tahu bagaimana perkembangan politik negeri kita dalam lima tahun terakhir. Kemungkinan besar aku masih akan tingal di sini dalam limaenam tahun mendatang,” cetusnya terdengar datar. Kali ini Garsini setengah memekik kaget. “Masya Allah, selama itukah?!”

145

” katanya agak tersendat. Annisa terlahir sebagai anak penengah dari sembilan bersaudara. Garsini tahu Annisa penganut feminisme. seorang bangsawan trah Keraton Ngayogyakarta. Berapa usianya sekarang? Annisa merahasiakannya. Sampai kapankah dia ingin menghabiskan usianya di negeri orang? Dan untuk apa semuanya itu dilakukannya? Di awal pertemuan mereka. mendapat kedudukan terhormat di Universitas Tokyo? Belum lama Annisa mendapat kontrak kerja sebagai guru besar tetap. Dik. celana jeans alakadarnya. intrik atau konspirasi seperti dalam keluarga kerajaan di film-film Mandarin yang pernah ditontonnya? Kini siapa yang pernah mengira anak yang tersisihkan. Sedetik ia menyesal telah memaksanya untuk menyingkap luka lama. Inilah kesempatan terakhir mereka untuk saling terbuka. jangan desak Mbak terus. “Kenapa Mbak memutuskan untuk bertahan selama lima-enam tahun lagi di sini? Apa Mbak nggak kangen keluarga di Solo?” cecar Garsini tak peduli. Garsini tak keliru. Empat adik perempuan sudah melangkahiku. kalau begitu jawablah. kakang-kakangmasku tak ada lagi di sana. ia menangkap kepedihan dan luka di bening mata gadis ayu itu. membawahi suatu tim untuk mengembangkan program-program kemanusiaan di fakultasnya. tapi bukan itu masalahnya. Mbak!” desak Garsini. “Romo dan Ibu sudah meninggal.” Annisa melengos. “Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan sama Mbak…” “Nah.Garsini menatap keheranan wajah ayu di hadapannya. Ibunya garwo ampil. tapi Garsini menaksirnya sudah kepala tiga. Namun. sering dilecehkan bahkan oleh saudara-saudaranya seayah itu. Adakah konflik. Garsini telah mendengar cerita masa silamnya. ditambah… kerudung gaul! “Jangan pandangi Mbak begitu. tanpa polesan wajah sedikit pun. belakanagan Annisa mengenakan kulot dengan blazer cantik dan sedikit riasan wajah.” elaknya seperti biasa. “Sudahlah. Biasanya ia tak peduli dengan penampilannya. mungkin trauma masa lalu… entahlah! 146 .

Beberapa saat keduanya masih saling berpelukan erat. “Baiklah… Semoga sukses di negerimu yang selalu kamu banggakan dan kami cintai itu. di tempat inilah dirinya pernah mengenal berbagai gagasan. Sebuah bangunan baru yang kelak akan menggantikan gedung tua. hingga lenyap di ujung gang menuju gedung lain. Betapapun.Digenggamnya jari-jemari Annisa. ya Dik?” “Yah. aduuuh… Tunjukkanlah jalan lurus untuk gadis ini. Berapa banyak lagikah perenungan. semoga saja ada lowongan pekerjaan untukku di sana…” “Pokoknya selalu berjuang. bagaimana sosok Annisa pada lima-enam tahun mendatang. tempatnya kelak berkiprah dalam bidangnya. Lupakan pertanyaanku… dan maafkan kelancanganku. Apakah masih tetap melajang. sosok tinggi ramping. Saat memeluknya hampir loncat air mata Garsini. jangan dipikirkan lagi. kenapa dia baru menyadarinya sekarang? Mbak Annisa adalah Kartini masa kini. “Kudoakan juga Mbak sukses sebagai guru besar di sini… tapi jangan terlalu lama melanglang buananya. cepat-cepat menjauhi gadis Solo itu. diguncang amuk prahara. “Sudah. Akhirnya. Mbak. puluhan kepala 147 . filosofi dan buah pemikiran para cendekia dunia yang bakal ditemuinya nun di sana? Mbak Annisa. Ia tak bisa membayangkan. stelan apik dan kerudung gaul itu membalikkan tubuhnya. Kartini itu dibelenggu keraguan untuk pulang ke negerinya. ya Mbak?” Annisa menghapus air mata yang menggantung di sudut-sudut matanya. Sayang sekali. pemikiran dan perenungan dari belasan. harapan bangsanya yang sedang carut-marut. Setiap perpisahan selalu menaburkan keharuan mendalam di dadanya. hidup kesepian di negeri orang. okey?” kata Annisa menyemangati. ide. jeritnya dalam hati. Beberapa saat lamanya Garsini masih memandangi gedung tua di sudut kampusnya itu. ya Mbak?” Betapa banyak yang ingin disampaikannya. Ia takut dirinya tak sanggup melepaskan lagi rangkulan hangat di bahu-bahunya. Sampai kemudian Garsini merenggangkan dirinya. tapi tenggorokannya mendadak tersekat. Ya Robb. Kemudian kakinya melangkah tegas-tegas menyusuri koridor.

Hubungannya dengan pria paro baya warganegara Perancis itu hanyalah sebatas bawahan dengan atasan. disimbahi makna demokrasi yang dijunjung tinggi. menyimak. “Tapi Prof. pekik geram. gebrakan kepalan tangan dan tinju di meja dari para angotanya… Bahkan oleh guncangan gempa. kalau perlu mendebatnya habishabisan untuk kemudian menyodorkan. entah tak terbilang lagi. Garsini merasa nyaman-nyaman saja. Kadang Garsini merasa heran. mereka tak pernah berada dalam satu ruangan berduaan. membuatkan program ensiklopedia ala Garsini Siregar. kaitannya dengan materi untuk program yang ingin kamu ciptakan. ini kartu anggota kehormatan untukmu. membuat paras Garsini memerah dadu.” kata Profesor del Pierro.” sindirnya sambil tertawa gelak. Kamu akan mendapatkan banyak pengetahuan di sana. bergaya hidup 148 . Di sini ia bisa mendengar. Senantiasa riuh oleh diskusi-diskusi dan debat-debat seru. Ada beberapa kali Profesor membawa serta Marie Jane. betapa kokohnya gedung tua ini hingga tak goyah setapak pun oleh suara-suara lantang. teriakan kesal. Itu terjadi sepulangnya berlibur musim semi semester dua. manakala Profesor Charles harus berkeliling Jepang. Selama menjadi asistennya. *** Bermula dari saran Profesor del Pierro yang menilainya sangat berpotensi dalam bidang studi perbandingan budaya antarbangsa. bahkan memaksakan buah pemikiran dan gagasannya sendiri. istrinya yang perancang busana terkenal. “Datanglah ke klub. terutama karena sikap Profesor sangat kebapakan dan bijak. Marie Jane. Itu akan sangat bermanfaat untukmu. Klub elit paramuda cendekia antarbangsa ini sungguh mengasyikkan. saya tak kenal siapa pun di sana…” “Kamu juga tak kenal aku waktu malam-malam datang ke sini.antarbangsa. selalu ada beberapa asisten lainnya. Nah. Di sinilah proses pendewasaan intelektualnya berkembang leluasa. Ia telah menerima tawaran kerja paruh waktu. seorang wanita cantik.

Sayang sekali. Karena ayahnya sering membicarakanmu. iya kan. hingga Garsini merasa trenyuh. Sayang?” katanya pula sambil menggandeng mesra istrinya. kamu tidak bisa ikut kami malam ini. jadi ini Garsini Siregar yang terkenal itu?” kata gadis itu bersikap dingin. ia bisa bersikap ramah dan tulus terhadap Garsini. tak ada alasan! Kamu harus melihatnya.” Marie Jane terdengar memohon dengan tulus.” tukas Profesor yang telah siap bepergian.” Marie Jane menghibur Garsini dan menyesali sikap putrinya yang cepat lenyap di balik pintu suite-room. Pernah suami-istri itu membawa serta Charlotte. “Oh. Selalu ada seribu dalih yang pada akhirnya Garsini menyimpulkan. 149 . Namun. menghadiri pagelaran adibusana istri tercinta.” kata Garsini menyesal. karena kesibukannya dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan selama liburan. Mungkin juga dia merasa iri kepadamu. ya Nak. Garsini jengah dan menunduk tersipu-sipu. sampai lebih dari selusin kali Marie Jane mengadakan pagelaran karya-karyanya dalam tiga tahun terakhir di pelosok Jepang. “Maklumlah. Nak. Garsini?” tanyanya pula menatap sekilas kepada gadis itu.sebagaimana galibnya kaum selebritis. memandang wajah Garsini sekilas. kamu harus melihat pagelaran karyaku. menyesal sekali. Sungguhkah gadis seapatis dan sesinis itu terlahir dari sepasang suami-istri yang baik hati? “Maafkan dia. “Mooom. Banyak tugas yang harus saya kerjakan. “Maafkan. Garsini tak bisa menemaninya ajakan wisatanya ketika itu. “Itulah akibatnya kalau kita terlalu memanjakannya. “Betul. lain kali kalau istriku mengadakan pagelaran busana di Tokyo. putri bungsu mereka yang sebaya dengan Garsini.” bisiknya pula di telinga Garsini. memuji-muji kamu. Garsini tak pernah punya kesempatan melihatnya. Namun. Prof. dirinya tak pernah merasa nyaman dengan gaya hidup hura-hura yang disemburatkan oleh aura Marie Jane. dia anak bungsu. tanyakan kepadanya busana apa yang dikenakannya itu?” cetusnya pula sambil lalu. Garsini merasakan tubhnya sesaat bagai mengejang. “Ya. sudahlah. “Ya.

ya Prof?” Garsini akhirnya mengangap ayah dari dua orang anak yang telah dewasa itu sebagai sesepuhnya. mengingatkannya akan penampilan dirinya semasa di SMU. silakan ikuti saya.” sahutnya pendek.” gumamnya geleng-geleng kepala. Itu anugerah terindah yang tak mungkin diberikan kepada semua orang. Mari. “Profesor sangat memuji talentamu. “Saya sudah dengar dari Profesor Charles.” balas Garsini memujinya tulus. kaos lengan pendek dan sleyer yang disampirkan seenaknya di bahunya. ya?” komentarnya saat membaca curiculum vitae yang diserahkan Garsini. begitulah kira-kira… Kamu ini gadis yang sangat mandiri dan dikaruniai Tuhanmu banyak talenta. Annisa mengenakan celana jeans belel. “Ya. Ini musim panas. pikirnya. Profesor memang suka begitu kan? Nama Mbak Annisa juga sering disebut-sebut. 150 . Sebuah penampilan yang cukup nyentrik. Tatapan Annisa agak keheranan melihat penampilannya yang serba tertutup.” sambutnya ramah dan hangat. ayah Gilang. “Terima kasih. Dik. *** Di balkon inilah tiga tahun yang silam. “Pantaslah Profesor memujimu. Apalagi kala mengetahui Garsini adalah mahasiswa teknik informatika. “Baru delapan belas. seniornya di Universitas Indonesia dulu. Mereka menyusuri koridor untuk mencapai ruangan yang juga suka disebut sebagai “markas para turunan Aristoteles”. kamu masih sangat belia… belum dua puluh umurmu.” ujarnya segera berpetatah-petitih. Garsini berpapasan dengan Annisa yang membawa tumpukan buku tebal-tebal di tangannya. Garsini.“Jadi harus nekad saja. bagaimana mungkin anak ini bisa tahan dalam busana Muslimahnya itu. Mengingatkannya kepada Profesor Kosasih. “Luar biasa!” decak Annisa memandanginya.” Garsini menegaskan. Dik!” “Ah. “Waah. kini bukan hanya terheranheran melainkan juga sorot pengaguman dan penghormatan.

kemudian mereka harus mengakui kelebihan yang dimiliki si anak bawang ini. Indonesia… Nah.” komentar Andrew tajam dan tanpa tedeng aling-aling. “Yang kukatakan kepadamu ketika itu. Lien Ang. “Apa dia tidak kepanasan dengan busananya yang aneh itu. Namun. Nah.” Annisa cepat menengahi komentarkomentar sumbang yang begitu deras berseliweran dari mulut-mulut usil itu.” bantah Annisa berwibawa dan tenang sekali. di sana komputer belum ada?” “Kamu salah menafsirkan. “Ssst. teknik informatika ternyata sangat banyak membantu kelancaran operasional program-program mereka. ya?” cetus Josephine. Garsini dengan latar belakang ilmu eksak. “Karena kalian sebangsa dan setanah air. Anehnya. Nona…?” tanya gadis Vietnam. segera disambut derai tawa selusin kepala yang saat itu hadir. “Yeah… cantik wajahnya. tapi harus diakui. Apa sih yang membuatnya tertawa macam gadis binal begitu? *** 151 . “Kenapa Profesor kita merekomendasikanmu. Kecuali Annisa yang memperlihatkan ketaksetujuannya dalam diam. hingga Garsini terbengong. “Tentu saja Profesor del Pierro merekomendasikan adik ini dengan alasan kuat. tapi kita tidak tahu bagaimana isi batok kepalanya. dia cantik dan unik sekali kan?” kata Akiko. komputer belum dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia…” “Itu benar!” tanggap Lien Ang sambil tertawa keras. Miss Garsini. Andrew. “Kamu pasti membelanya!” cetus Andrew di telinga Garsini terdengar sinis dan arogan sekali. silakan kalian saling berkenalan. apa sekarang di negerimu sudah ada komputer? Sebab ketika sekitar tiga tahun yang lalu Miss Annisa datang ke sini.Awalnya pandangan rekan-rekannya atas keberadaan Garsini tak ubahnya sebagai “gangguan teknis” belaka.

Garsini mengiyakannya dengan terspipu. tentu saja itu taksi Mitzui-san! Jay Bachan dan Mayumi kali ini tanpa kedua jagoan ciliknya. Ia turun dari taksi tepat di depan asrama dan dilihatnya tiga orang yang tak asing lagi tengah menantinya. tidak apa-apa. “Oh. kemudian menerima salam selamat dari Pak Mitzui. baru meresmikan kantor cabang perusahaannya di beberapa kota besar Jepang. Agak jauh dari mereka tampak sebuah limousine dengan seorang sopir berpakaian necis. “Kami kebetulan saja bertemu di sini. Manakala angan-angan itu telah mewujud dalam suatu kenyataan. “Mayumi katanya masih ingin bicara serius denganmu… Maaf.” Mitzui-san terdengar seperti menegur.” katanya pula sambil meminta dengan santun pengertian lelaki tua itu. ditinggal di hotel bersama istri Paman Vijay yang sangat mengasihi mereka. “Kami mau pamitan kepadamu. saya juga tidak akan lama. ya Pak Mitzui. Sopir taksi langganannya yang paling loyal dalam tiga tahun terakhir mengaku baru mengetahui hal itu sekarang. Kedua anak yang sempat amat menggemaskan Garsini. “Seperti yang pernah kukatakan kepadamu beberapa waktu lalu.Penutup Ternyata yang nikmat itu adalah saat-saat menjalani proses pembelajaran. Mereka hanya mampir sebentar sebelum kembali ke India petang itu. meraih kesuksesan yang masih dalam angan-angan. Demikian hasil perenungan Garsini seusai melakukan upaya menapak tilas dalam kebimbangan hatinya.” Jay Bachan sukses sebagai pebisnis. Mereka telah lama tak saling berjumpa. “Kalian sudah lama menunggu di sini?” Garsini menyalami suami-istri itu.” jelas Mayumi. biasalah urusan perempuan. 152 . pikir Garsini. “Mereka mengatakan bahwa kamu sudah tak punya urusan lagi di sini. nikmatnya sudah hambar dan bisa dikatakan itu bukan suatu kenikmatan lagi. Hanya ingin mengucapkan selamat tinggal saja kepadanya…” Ditatapnya wajah Garsini dengan hangat kebapakan. Dan sebuah taksi.

rangkaian nasihat.Sejak mereka mengoperasi mataku… Yeah. kurasa memang sudah waktunya aku pensiun. kalian akan merasakannya sendiri… Ugh. teringat percakapan terakhir mereka. ya kan Tuan Jay?” Ada kepiluan dalam kepasrahan yang mengapung di antara kalimat-kalimat pendeknya. “Pak Mitzui. sementara Etsuko tampak sudah merasa bahagia menjadi bagian keluarga sahabatnya itu. “Biarkan dia dengan urusannya. Bapak jangan berpikir untuk menjadi penghuni panti jompo itu… Pak. kerinduan terhadap keluarga. kata-kata bijak yang pernah dipompakan ke telinganya… Manakala dirinya dalam kelelahan. Kelak. membalikkan tubuhnya yang masih tampak kuat dan mulai melangkah menjauhi mereka. kejemuan. dialah rupanya pengganti Pak Mitzui! Mayumi menahan upayanya untuk mengejar lelaki tua itu. Nakajima-san dan Matsua-san… Entah berapa banyak lagi lansia tak beruntung yang pernah dikenalnya selama mukim di Jepang. Tapi Garsini bisa merasakannya dalam senyum kebapakannya yang tulus. Mereka yang harus mengisi sisa-sisa harinya tanpa keluarga. 153 . tunggu sebentar! Jangan pernah menyerah. jangan pernah coba mengasihaninya.” ia bersungutsungut tak jelas. Mitzui mencoba berusaha keras menyembunyikan kepiluan. Garsini sekilas melihat seorang anak muda di belakang taksi itu. aku benci dikasihani. apatis… Kecuali Mayuko menjadi istri Matsua. Mitzui menghindari tatapan iba dari ketiga anak muda itu. “Pak Mitzui berencana ke mana?” Hati Garsini seketika dirayapi rasa dingin. “Jangan pandangi aku dengan tatapan iba begitu. tanpa semangat. Uluran persahabatan. ketakpastian. “Tidak mungkin!” Garsini tersentak menyadari masa depan lelaki tua itu. Ia terus jua melangkah tergesa-gesa menuju taksinya. Oh. tapi lelaki tua itu seolah-olah tak mendengarnya teriakannya. Ia berseru dengan pilu. kehilangan rasa percaya diri. kesepian. sudahlah. air matanya mulai berloncatan. Mitzui-san. Garsini… Lagi pula. Paaak!” Garsini mencoba mengejarnya.

akhirnya hanya bisa tertegun-tegun memandangi taksi yang mulai bergerak meninggalkan tempat itu. itu peribahasa yang sudah ketinggalan zaman!” Tasya acapkali mencemooh rasa kebangsaan Garsini. Ia pun menyadari ketakberdayaannya. Meskipun ia harus susah payah membujuknya agar mau menerimanya. tak tahu sopan santun… sudahlah. Beberapa bulan sebelumnya Garsini membagi sebagian rezekinya dengan Pak Tua itu. sebuah prospek masa depan? Ooooh… Bahkan rekan-rekannya banyak yang merasa malu menjadi orang Indonesia! “Hujan emas di negeri orang masih lebih baik hujan peluru di negeri sendiri… Ah. “Anggaplah ini sebagai ongkos taksi yang sering Bapak gratiskan kepada saya dan rekan-rekan. tapi ia juga sangat merindukan keluarganya. ya Pak?” Akhirnya dia setuju. Sekilas terngiang kembali percakapan terakhir mereka. “Hm… bagaimana ya…” Garsini tengah sibuk dengan sidang yang akan dihadapinya. Pak Mitzui mengeluhkan perihal dampak operasi matanya dan rencana masa depannya. carut-marut perekonomian dan keparahan stabilitas keamanan… Bom-bom yang semakin sering berledakan di manamana… Adakah secuil saja kesempatan untuk dirinya.Dia akan menganggapmu sebagai anak muda yang sombong. Kira-kira masa depan apa yang menantinya di Indonesia? Dalam gonjang-ganjing politik. “Apa kamu kerasan tinggal di Jepang?” tanya Mitzui tiba-tiba sambil menoleh ke jok belakang. tersipu-sipu menerimanya tapi tanpa kehilangan harga dirinya yang tinggi. tanah airnya. 154 . kelelahan dan kejemuan malah melahirkan ketakpastian. Sesungguhnya ia merasa kerasan tinggal di Jepang. yang dianggapnya terlalu meledak-ledak. kendalikan dirimu!” *** Garsini memahami betul makna teguran Mayumi.

sebab sangat malu dan jengkel bangsanya memiliki artis seperti itu. Gus Dur. “Indonesia itu bukan hanya Bung Karno. Suharto. Di penghujung kebersamaan mereka. mereka senantiasa berjuang keras… Untuk hidup rukun dan damai…” “Nyatanya tidak bisa juga kan? Kekacauan terjadi di mana-mana!” cecar Tasya geram dan benci sekali. 155 . bahkan di belahan dunia mana pun sudah tak laku!” sergah Josephine. Tasya yang selalu menyatakan sangat malu terlahir sebagai anak Indonesia. “Komunisme. melainkan juga menjelek-jelekkannya dan ikut gencar menyudutkan Indonesia. dia lebih suka menerima tekanan dari si Congkak Andrew atau lainnya ketimbang dari rekan senegaranya.Garsini sesungguhnya hanya tak suka ada orang yang melecehkan bangsanya. Tasya paling sering melakukannya. “Kalian jangan menilai bangsaku dari sikap dan ucapan satu orang Indonesia saja. “Itu karena sistem yang salah sejak awal telah dijalankan oleh para pemimpin Indonesia…” Aduuuh. “Ugh. Meskipun ia tak suka juga dengan sistem pemerintahan Indonesia. “Kalau sudah kembali ke Indonesia dan kamu menemukan banyak kesengsaraan. mentang-mentang cucu seorang pejuang empat lima!” ejek Tasya. Rekan-rekan di klub pun tak pernah menggubrisnya. Bung Hatta. Megawati atau Amien Rais!” ucapnya menggebu-gebu. Tasya semakin gencar melakukan propagandanya. penganut Katolik teguh. Namun begitulah. keyakinan. pengkhianatan… Baru rasa kamu!” Garsini tak menggubris provokasinya. negerinya tercinta. Karena itu sama sekali tidak fair! Apalagi itu hanya perkataan seorang artis… siapa namanya itu?” ia agak tergagap mesti dusta. Habibie. entah dari mana dia mengetahui silsilah keluarganya. Ia tak pernah setuju dengan mereka yang bukan saja merasa malu menjadi anak Indonesia. “Indonesia adalah dari Sabang sampai Merauke. tapi itu adalah hal lain. seluruh lapisan masyarakat… Meskipun berbeda-beda suku bangsa.

saat pertanyaan serupa diajukan kepada Siti Nurhaliza di tempat yang sama. Dianggap sebagai “tong kosong nyaring bunyinya”. hingga Garsini tergetar. aku hanya ingin menjadi diriku sendiri… Kira-kira begitulah!” berkata Mandu. “Siti Nurhaliza mengatakan dengan jernih dan penuh percaya diri. maaaau!” Josephine menengahi debat mereka. Pak?” Garsini tergagap. maukah kamu menjadi Britney Spears.“Kalau nggak salah Nafa Urbach. “Jangan terjebak dalam arus teknologi tinggi Jepang. Nah. Lien Ang menambahkan. sebelum kamu kehilangan hatimu. Ia sering dijadikan bulan-bulanan. hanya selang sehari…” gadis Vietnam itu seperti sengaja mendadak mengapungkan ujung kalimatnya. bersendandung jauh lebih merdu dan berkharismatik. Mungkin dia tergetar juga oleh rasa percaya diri yang tinggi dari artis Malaysia yang memang patut diacungi jempol itu. “Ketahuilah. pulanglah secepatnya begitu urusanmu di sini selesai!” nasihatnya diulang untuk beberapa kali. “Padahal. Nafa Urbach dengan penampilan seronok. sorry aku tak membawa korannya… Ketika dia disodori pertanyaan. Nak…” “Kenapa. Nona. sepotong hati yang murni.” sahut Tasya yang latah masuk klub awalnya hanya karena iri terhadap kecemerlangan Garsini. gadis Hindustan yang belakangan suka mengenakan atribut kehindustanannya. tidak mau. pusar diumbar murah ke mana-mana. “Tidak juga. Dia spontan menjawab. di sini sudah tak ada hati lagi. Sedangkan Siti Nurhaliza dengan segala kehalusan dan keanggunan wanita Timur. Belakangan entah dari mana ia tergerak untuk mempropagandakan paham komunisme. “Apa jawaban penyanyi Malaysia itu?” Garsini jadi ingin tahu. Tiba-tiba Garsini tersentak dari lamunannya oleh teguran keras Pak Mitzui. 156 . meniru-niru Britney Spears. Aura keindahan wanita Melayu menyebar dari sosoknya. Sementara kutahu kamu memiliki nurani. “Kalau nggak salah? Artinya ini baru kabar burung?” Garsini sengit. ada beritanya di harian lokal. Benaknya seketika membayangkan dua penampilan artis yang bak bumi dan langit.

ukhuwah Islamiyah…?” “Bukan hanya curiga!” tukas Garsini miris. Garsini?” Mayumi hati-hati mengingatkannya. Padahal seluruh harapan keluarga besarnya disampirkan ke bahunya. Ia dan Jay tahu bahwa Haekal sudah datang meminta Garsini sebagai istrinya. “Bukankah kamu pernah mengajariku tentang kekuatan dari memaafkan. dia menyiakannya. bahkan mungkin masih dialaminya hingga kini. sekaligus memperistrinya. “Dia pernah menanyakan apakah diriku masih suci? Hanya karena aku dinilainya telah bersikap agak bebas dalam pergaulan… Dia jelas sekali selalu menyangsikan diriku.Apakah ia pun mulai kehilangan sedikit nurani. Semalam Haekal pun menelepon mereka dan mengabarkan tentang ketakpastian Garsini. “Mengapa kamu tak pernah bisa memaafkannya secara tulus. “Istiqomah terhadap Allah. setiap kali kuberi kesempatan dan memaafkannya. Kemungkinan besar ia akan pulang ke Indonesia seorang diri petang nanti. Beberapa waktu sebelumnya Haekal menemui keduanya di hotel dan mengungkapkan niatnya itu. Sungguh mengecewakan sekaligus menakutkan. Garsini tak ingin mendapatkan suami yang mirip ayahnya. Suaranya terdengar lelah dan putus asa. agar menarik pulang Garsini. Ia tak sudi mengalami penderitaan ibunya di masa lalu. Garsini? Hanya karena dia pernah mencurigaimu?” cecar Mayumi kecewa. Mayumi bisa memahami perasaannya. pernah melihat penampilan Nafa Urbach di layarkaca Indonesia dulu? Kok berlagak pilon? *** Mayumi masih menanti keputusannya. menyambung silaturakhim. itu sering kau 157 . karena belakangan mulai suka dusta kecil-kecilan? Kenapa ia tak berani terus terang. “Bukankah kita harus selalu berprasangka baik terhadap Allah.” Garsini mulai berurai air mata. Garsini mempunyai ketakutan dan trauma masa kanak-kanak yang parah akibat kekasaran ayahnya yang pencuriga berat. melanggarnya. Pemuda itu mengaku kepada Jay bahwa mereka sempat bertengkar dan dirinya merasa tak berdaya untuk terus mendesak Garsini.

” lanjut Mayumi. Haekal telah melewati proses pendewasaan itu sejak mereka pertama kali berkenalan… Namun. memaksanya pergi berduaan dengan dalih sebagai refreshing. “Dia telah mengkhitbahmu tadi malam. setidaknya demikian menurut anggapan Garsini. pikir Garsini. dirinya berhasil menyamai tingkat pendewasaan itu secara utuh. Di sisi lain Haekal justru mandek. mencurigainya.yakinkan kepadaku dulu. Tentu Mayumi telah mendapat polesan lebih bermakna dan sarat ibrah tentang indahnya Islam dari istri Paman Vijay. baik dalam sikap perilaku maupun perkataan dan tindakannya. tapi jelas sekali kamulah pemicunya. ini memang tentang hidayah-Nya. mengapa rasanya. Apa kamu tak takut akan laknatNya bila menolak khitbah dokter Haekal?” Garsini terdiam. Ia tidak menyatakan penolakan. maaf. usianya hampir tiga puluh. hanya tak bisa memberi kepastian seketika itu juga. “Biar bagaimana pun dokter Haekal itu seorang pria yang baik. Seharusnya telah matang dalam segala hal. berlalu dalam kekecewaan dan ketakberdayaan. perkataan dan tindakannya yang kerap tak bijak dan kekanak-kanakan… melamarnya tiba-tiba. Dipandanginya wajah Mayumi yang sarat kebahagiaan. menanyakan kesucian dirinya. Ia tak bisa membayangkan. kehidupan pahit ibunya harus dijalaninya pula kelak dengan pria yang pernah dikhianati kekasihnya itu. Sehingga Haekal meninggalkan tiket pulang begitu saja di atas meja. Bibi Haznah.” Garsini merasa sangat trenyuh mendengar pengakuannya yang tulus. 158 . Hingga aku terpengaruh dan sangat terpikat untuk lebih mengetahui keislaman… Oh. menyangsikan kejujurannya… “Apakah aku harus selalu memahaminya seumur hidupku kelak? Selalu memberinya kesempatan tiap saat dari waktu ke waktu? Berbakti dan mengabdi kepadanya. tak mengembangkan tingkat pendewasaannya ke tingkat lebih tinggi? Terbukti dari sikap. Penampilannya yang anggun dalam busana Pakistan. Lelaki itu. melahirkan anak-anaknya dalam ketakpastian…?” Air mata Garsini kini berderaian hebat.

Depok.” kata Garsini dan semalam pun ia telah melakukannya. Ia mendongakkan kepalanya ke langit. Sejurus kemudian tampak gadis itu telah siap berangkat dengan koper alakadarnya. Bunga-bunga sakura berguguran di hadapannya pertanda musim semi akan segera berakhir. Tatkala limousine itu telah bergerak meninggalkan pekarangan. di matanya masih terlukis sebagai arakan kapas yang lembut. Awan-awan putih berarak.“Cobalah kamu berdiri di posisinya. “Sudahlah. Jay Bachan sudah mengisyaratkan bahwa sudah tiba saatnya mereka meninggalkan tempat itu. aku akan mendukungmu. jangan pikirkan lagi diriku. istikharah. Garsini merasakan kesenyapan yang menyakitkan. ya Sayang?” “Insya Allah.” Mayumi melirik arloji indah yang membelit pergelangan tangannya. Di bibirnya tiba-tiba tersungging seulas senyum. ia tak ingin merepotkan suami-istri itu. masih ada waktu menuju Bandara Narita. Persis seperti empat tahun silam mereka pernah melakukannya. shalat lail. tetapi selalulah bersandar kepada-Nya… ehm. pergilah… Nanti akan kuberi tahu keputusanku melalui telepon. Tentu saja.” gumamnya sendiri sambil membalikkan tubuhnya. Mayumi. memandangi lanskap Negeri Sakura. bahkan sekadar untuk menumpang limousine mereka. merasa telah berhasil mengecoh Mayumi. Syawal 1423 Hijriyah SELESAI 159 . Dirangkulnya Garsini dan dipeluknya erat-erat. senantiasa menjanjikan sejuta harapan… Tapi di sini urusanku memang telah selesai! “Aku telah mengemasi barang… Hmm.” Mayumi pun tak punya pilihan lain. Ia telah menentukan pilihan.” Garsini memahaminya. kembali ke Tanah Air dengan pesawat sama yang ditumpangi Haekal. “Apapun keputusanmu. “Jangan khawatirkan aku.

menulis fiksi bernuansakan Islami. Suatu Petang di Kafe Kuningan. 16 Mei 1957 dari pasangan Hj. Kado Pernikahan (Asy-Syaamil). Semua Atas Nama Cinta (Ghalia) Profilnya ada pada buku Profil Perempuan Pengarang Peneliti Penerbit di Indonesia. Tembang Lara. Triloginya. Luka Telah Menyapa Cinta (FBA Press). Rumah Tanpa Cinta. Siti Hadijah-SM. memiliki dua orang anak yakni. Bunga Rampai cerpen Wanita Penulis Indonesia. Kini dia menetap di Depok dan aktivis Forum Lingkar Pena. menulis pula dalam bahasa Sunda. Riak Hati Garsini. Karya-karyanya mengalir bagai air bah di majalah Mangle. Putri sulung dari tujuh bersaudara ini mulai menulis sejak remaja. Menggapai Kasih-Mu. julukannya dari Helvy Tiana Rosa. Korrie Layun Rampan. Kalbu. HE. Sejak tahun 2000 bergabung dengan FLP. Novel yang telah dibukukan 55 buah. Penulis prolifik. harian Gala dan tabloid Galura. Arief (alm) seorang pejuang ’45. Haekal Siregar (21) dan Adzimattinur KN. MK. Istri Drs. harus ditransfusi darah secara berkala seumur hidupnya.Yassin Siregar. Dan Senja Pun Begitu Indah (novelet bareng Mariam Arianto. Sebuah karyanya nyasar juga di buku Penulis Perempuan Indonesia. memoarnya Cahaya di Kalbuku. Novel-novel teranyarnya adalah. pipiet_senja@myquran. Nurani dan Cahaya (Mizan). Asy-Syaamil). Rembulan Sepasi (Gema Insani Press). Kidung Kembara. Wanita Sunda ini pasien klinik Haemotologi dengan thallassaemia.com *** 160 . Namaku May Sarah. FBA Press) Kumcer bareng penulis FLP. Lukisan Rembulan. Rumah Idaman.Biodata Pipiet Senja adalah nama pena Etty Hadiwati Arief. Serpihan Hati. Huda. Siregar (12). lahir di Sumedang. Korrie Layun Rampan. Kisi Hati Bulan (kumcer bareng Nurul F. Merah di Jenin. Cermin dan Malam Ganjil. Kritik dan saran demi perbaikan ditunggu di email. ia merasa terlecut balapan dengan paramuda penulis Islami.

161 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful