Anda di halaman 1dari 24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Dasar Teori II.1.1 Ekstraksi Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Proses ekstraksi dapat berlangsung pada:

Ekstraksi parfum, untuk mendapatkan komponen dari bahan yang wangi. Ekstraksi cair-cair atau dikenal juga dengan nama ekstraksi solven. Ekstraksi jenis ini merupakan proses yang umum digunakan dalam skala laboratorium maupun skala industri.

Leaching, adalah proses pemisahan kimia yang bertujuan untuk memisahkan suatu senyawa kimia dari matriks padatan ke dalam cairan.

Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan plarut Selektivitas Pelarat hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan komponenkomponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktik,terutama pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak, resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan. Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan, yaitu misalnya diekstraksi lagi dengan menggunakan pelarut kedua. Kelarutan Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit). Kemampuan tidak saling bercampur Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas) larut dalam bahan ekstraksi. Kerapatan Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini dimaksudkan agar kedua fase dapat dengan mudah dipisahkan kembali setelah pencampuran (pemisahan dengan gaya berat). Bila beda kerapatannya kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan dengan menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal). Reaktivitas Pada umumnya I-1

Biodiesel pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada

komponenkornponen bahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali Ekstraksi juga disertai dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak harus berada dalam bentuk larutan. Titik didih Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didit kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk ascotrop.Ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika pada proses ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti juga halnya dengan panas penguapan yang rendah).
(wikipedia, 2012)

Ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu: 1) Ekstraksi padat-cair Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut. Pada ekstraksi, yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Larutan ekstrak dengan konsentrasi yang tinggi terbentuk di bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut dengan larutan di luar bahan padat. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padatcair, yaitu: a. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase padat dan fase cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang seluas mungkin. b. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju alir bahan ekstraksi. c. Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi. LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-2

Biodiesel

2) Ekstraksi cair-cair Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair itu sesempurna mungkin.Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): solute dipisahkan dari cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven ini adalah heterogen ( immiscible, tidak saling campur), jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak). Perbedaan konsentrasi solute di dalam suatu fasa dengan konsentrasi pada keadaan setimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solute dari larutan yang ada. Gaya dorong (driving force) yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi dapat ditentukan dengan mengukur jarak system dari kondisi setimbang. Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut. Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-3

Biodiesel

Gambar 1. (a)Proses ekstraksi cair-cair dan (b) aplikasi ekstraksi caircair

Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi. Yang cair dicampur berulangkali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki pengaduk (sebaiknya dengan saluran keluar di bagian bawah). Larutan ekstrak yang dihasilkan setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat). A. Biodiesel Biodiesel didefinisikan sebagai metil ester yang diproduksi dari minyak tumbuhan atau lemak hewan dan memenuhi kualitas untuk digunakan sebagai bahan bakar di dalam mesin diesel (Vicente et al., 2006). Sedangkan menurut Darnoko et al., (2000), biodiesel merupakan monoalkil ester yang dihasilkan dari minyak alami terbarukan. Metil ester atau etil ester merupakan senyawa yang relatif stabil, berwujud cair pada temperatur ruang (titik leleh antara 4-180C), titik didih rendah dan tidak korosif. Metil ester lebih stabil secara pirolitik dalam proses distilasi fraksional dan lebih ekonomis sehingga lebih disukai daripada etil ester (Sonntag, 1982). Spesifikasi biodiesel menurut Standar Nasional Indonesia tahun 2006 dapat dilihat pada Tabel 1.1. Biodiesel dapat diproduksi dari minyak nabati maupun lemak hewan, namun minyak nabati lebih umum digunakan sebagai bahan baku. Minyak nabati tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar karena berat molekul dan viskositas lebih besar dari minyak diesel atau solar, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tidak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran. Selain itu, molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-4

Biodiesel yang menyebabkan angka setana minyak nabati lebih rendah daripada metil ester. Tabel II.1.1 Spesifikasi Biodiesel

(SN
2006)

Keuntungan pemakaian biodiesel dibandingkan dengan petrodiesel (BBM) diantaranya adalah bahan baku dapat diperbaharui (renewable), cetane number tinggi, biodegradable, dapat digunakan pada semua mesin tanpa harus modifikasi, dan berfungsi sulfur sebagai pelumas 4 sekaligus membersihkan injector, serta dapat mengurangi emisi karbon dioksida, partikulat berbahaya, oksida. Tabel menunjukkan perbandingan antara biodiesel dan petrodiesel.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-5

Biodiesel Tabel II.1.2 Perbandingan Petrodiesel dan Biodiesel

(sitorus, 2004) Dibandingkan dengan solar, biodiesel memiliki kelebihan diantaranya (Hambali, 2007) : 1. Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik (free sulphur, smoke number rendah) 2. Cetane number lebih tinggi sehingga efisiensi pembakaran lebih baik dibandingkan dengan minyak kasar 3. Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin 4. Dapat terurai (biodegradable) 5. Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat diperbaharui 6. Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi secara lokal Menurut Syah (2006), karakteristik emisi pembakaran biodiesel dibandingkan dengan solar adalah sebagai berikut : 1. Emisi karbon dioksida (CO2) netto berkurang 100% LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-6

Biodiesel 2. Emisi sulfur dioksida berkurang 100% 3. Emisi debu berkurang 40-60% 4. Emisi karbon monoksida (CO) berkurang 10-50% 5. Emisi hidrokarbon berkurang 10-50% 6. Hidrokarbon 98%, aromatik polisiklik (PAH = polycyclic 56%, aromatic hydrocarbon) berkurang, terutama PAH beracun seperti : phenanthren berkurang benzofloroanthen berkurang benzapyren berkurang 71%, serta aldehida dan senyawa aromatik berkurang 13%.
(Universitas sumatera utara, 2010)

Biodiesel dapat diproduksi dari minyak nabati maupun lemak hewan, namun minyak nabati lebih umum digunakan sebagai bahan baku. Minyak nabati tidak dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar karena berat molekul dan viskositas lebih besar dari minyak diesel atau solar, sehingga pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tidak mampu menghasilkan pengkabutan (atomization) yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran. Selain itu, molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak yang menyebabkan angka setana minyak nabati lebih rendah daripada metil ester. II.1.3 Bahan bakar diesel Bahan bakar diesel yang sering disebut solar (light oil) merupakan suatu campuran hidrokarbon yang didapat dari penyulingan minyak mentah pada temperature 200C-3400C. Minyak solar yang sering digunakan adalah hidrokarbon rantai lurus (hetadecene (C16H34)) dan alpha-methilnapthalene. Bahan bakar yang sebaiknya digunakan dalam motor diesel adalah jenis bahan bakar yang dapat segera terbakar (sendiri) yaitu yang dapat memberikan periode persyaratan pembakaran rendah. Bahan bakar motor diesel juga mempunyai sifatsifat yang mempengaruhi prestasi. Sifat-sifat bahan bakar diesel yang mempengaruhi prestasi dari motor diesel antara lain:

Penguapan(Volality)

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-7

Biodiesel Penguapan dari bahan bakar diesel diukur dengan 90% suhu penyulingan. Ini adalah suhu dengan 90% dari contoh minyak yang telah disuling, semakin rendah suhu ini maka semakin tinggi penguapannya. Residu karbon Residu karbon adalah karbon yang tertinggal setelah penguapan dan

pembakaran

habis.

Bahan

yang

diuapkan

dari

minyak,

diperbolehkan residu karbon maksimum 0,10%. Viskositas Viskositas minyak dinyatakan oleh jumlah detik yang digunakan oleh volume tertentu dari minyak untuk mengalir melalui lubang dengan diameter kecil tertentu, semakin rendah jumlah detiknya berarti semakin rendah viskositasnya. Belerang Belerang dalam baha n bakar terbakar bersama minyak dan menghasilkan gas yang sangat korosif yang diembunkan oleh dinding-dinding silinder, terutama ketika mesin beroperasi dengan beban ringan dan suhu silinder menurun. Kandungan belerang dalam bahan bakar tidak boleh melebihi 0,5 %-1,5%. Abu dan endapan Abu dan endapan dalam bahan bakar adalah sumber dari bahan mengeras yang mengakibatkan keausan mesin. Kandungan abu maksimal yang diijinkan adalah 0,01% dan endapan 0,05%. Titik nyala Titik nyala merupakan suhu yang paling rendah yang harus dicapai dalam pemanasan minyak untuk menimbulkan uap terbakar sesaat ketika disinggungkan dengan suatu nyala api. Titik nyala minimum untuk bahan bakar diesel adalah 1500F. Titik Tuang. Titik tuang adalah suhu minyak mulai membeku/berhenti mengalir. Titik tuang maksimum untuk bahan bakar diesel adalah 0 0F. Sifat korosif. LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-8

Biodiesel Bahan bakar minyak tidak boleh mengandung bahan yang bersifat korosif dan tidak boleh mengandung asam basa. Mutu penyalaan. Nama ini menyatakan kemampuan bahan bakar untuk menyala ketika diinjeksikan ke dalam pengisian udara tekan dalam silinder mesin diesel. Suatu bahan bakar dengan mutu penyalaan yang baik akan siap menyala, dengan sedikit keterlambatan penyalaan. Bahan bakar dengan mutu penyalaan yang buruk akan menyala dengan sangat terlambat. Mutu penyalaan adalah salah satu sifat yang paling penting dari bahan bakar diesel untuk dipergunakan dalam mesin kecepatan tinggi. Mutu penyalaan bahan bakar tidak hanya menentukan mudahnya penyalaan dan penstarteran ketika mesin dalam keadaan dingin tetapi juga jenis pembakaran yang diperoleh dari bahan bakar. Bahan bakar dengan mutu penyalaan yang baik akan memberikan mutu operasi mesin yang lebih halus, tidak bising, terutama akan menonjol pada beban ringan.

Bilangan Cetana (Cetane Number). Mutu penyalaan yang diukur dengan indeks yang disebut Cetana. Mesin diesel memerlukan Bilangan cetana sekitar 50. Bilangan cetana bahan bakar adalah persen volume dari cetana dalam campuran cetana dan alpha-metyl naphthalene mempunyai mutu penyalaan yang sama dan bahan bakar yang diuji. Cetana mempunyai mutu penyalaaan yang sangat baik dan alpha-metyl naphthalene mempunyai mutu penyalaaan yang buruk. Bilangan cetana 48 berarti bahan bakar cetana dengan campuran yang terdiri atas 48% cetana dan 52% alpha-metyl naphthalene.

(murni, 2010) Bahan Baku Biodiesel Minyak nabati sebagai sumber utama biodiesel dapat dipenuhi oleh berbagai macam jenis tumbuhan tergantung pada sumberdaya utama

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-9

Biodiesel yang banyak terdapat di suatu tempat/negara. Indonesia mempunyai banyak sumber daya untuk bahan baku biodiesel.

Tabel II.1.3 Sumber minyak nabati yang potensial sebagai bahan baku Biodiesel

(www.jurnalinsinyurmesin.com/index.php?option=com)

B.

Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).

minyak

Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-10

Biodiesel Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi. Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa. Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya. Buah terdiri dari tiga lapisan: Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin. Mesoskarp, serabut buah Endoskarp, cangkang pelindung inti Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi. Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).
(id.wikipedia.org/wiki/Kelapa Sawit)

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-11

Biodiesel

Syarat hidup Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15 LU - 15 LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. Tipe kelapa sawit Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik. Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dariDura,Pisifera, dan Tenera.

Gambar II.1.2 Sawit

Pohon Kelapa

Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-12

Biodiesel berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%. Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.
(id.wikipedia.org/wiki/Kelapa Sawit)

Hasil Tanaman Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik. Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-13

Biodiesel sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

Gambar II.1.3 Buah Kelapa Sawit Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.
(id.wikipedia.org/wiki/Kelapa Sawit)

C.

MINYAK KELAPA SAWIT Minyak kelapa sawit adalah minyak yang diperoleh dari proses daging buah tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit

pengempaan

digolongkan dalam satu jenis mutu dengan nama Sumatra palm oil. Minyak kelapa merupakan minyak yang diperoleh dari kopra (daging buah kelapa yang dikeringkan) atau dari perasan santannya. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua diperkirakan mencapai 30%-35%, atau kandungan minyak dalam kopra mencapai 63-72%. Minyak kelapa sebagaimana minyak nabati lainnya merupakan senyawa trigliserida yang tersusun atas berbagai asam lemak dan 90% diantaranya merupakan asam lemak jenuh. Selain itu minyak kelapa yang belum dimurnikan juga mengandung sejumlah kecil komponen bukan lemak LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-14

Biodiesel seperti fosfatida, gum, sterol (0,06-0,08%), tokoferol (0,003%), dan asam lemak bebas (< 5%) dan sedikit protein dan karoten. Sterol berfungsi sebagai stabilizer dalam minyak dan tokoferol sebagai antioksidan (Ketaren, 1986). Setiap minyak nabati memiliki sifat dan ciri tersendiri yang sangat ditentukan oleh struktur asam lemak pada rangkaian trigliseridanya . Minyak kelapa kaya akan asam lemak berantai sedang (C8 C14), khususnya asam laurat dan asam meristat. Adanya asam lemak rantai sedang ini (medium chain fat) yang relatif tinggi membuat minyak kelapa mempunyai beberapa sifat daya bunuh terhadap beberapa senyawaan yang berbahaya di dalam tubuh manusia. Sifat inilah yang didayagunakan pada pembuatan minyak kelapa murni (VCO, virgin coconut oil). (www.dekindo.com/.../teknologi/Proses_Pengolahan_Minyak_Kelapa) Tabel Tabel II.1.4 Syarat mutu minyak kelapa sawit

(SNI , 2006) Sifat-sifat Lemak dan Minyak Sifat fisika Lemak dan Minyak 1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetilamin dari lecitin 2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu kamar 3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-15

Biodiesel 4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil0, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen. 5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon 6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak. 7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak. 8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak 9. shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak 10. slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya
(Netti Herlina, 2002)

D.

Proses Produksi Biodiesel Hambatan dalam pengembangan serta komersialisasi biodiesel

adalah biaya produksi yang tinggi serta viskositas dan bilangan asam bahan baku yang tinggi. Oleh karena itu, penggunaan minyak nabati secara langsung di dalam mesin diesel umumnya memerlukan modifikasi pada mesin, misalnya penambahan pemanas bahan bakar sebelum sistem pompa dan injektor bahan bakar untuk menurunkan nilai viskositas. Viskositas yang tinggi dapat menyebabkan atomisasi bahan bakar rendah dan berkorelasi langsung dengan kualitas pembakaran, daya mesin, dan emisi gas buang, sedangkan bilangan asam yang tinggi menyebabkan korosi pada mesin pembakaran. Menurut Sudradjat (2006), teknologi proses biodiesel yang dilakukan harus dapat menurunkan keasaman biodiesel, terutama minyak nabati yang mempunyai asam lemak tidak jenuh tinggi karena akan mudah teroksidasi.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-16

Biodiesel Secara umum, biodiesel diproduksi melalui proses transesterifikasi minyak atau lemak yang menghasilkan metil ester/monoalkil ester dan gliserol sebagai produk samping. Minyak yang memiliki keasaman tinggi kurang sesuai diproses langsung melalui transesterifikasi karena akan terjadi penyabunan (Gubitz, 1999). Menurut Canakci dan Gerpen (2001), konversi menjadi metil ester dapat dilakukan dengan esterifikasi menggunakan katalis asam, dilanjutkan dengan reaksi transesterifikasi berkatalis basa untuk mengkonversi sisa trigliserida. Proses dua tahap ini dikenal dengan istilah esterifikasi-transesterifikasi (estrans). 1. Esterifikasi Esterifikasi adalah reaksi antara metanol dengan asam lemak bebas membentuk metil ester menggunakan katalis asam. Katalis asam yang sering digunakan adalah asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) dan asam klorida (HCl). Reaksi esterifikasi tidak hanya mengkonversi asam lemak bebas menjadi metil ester tetapi juga menjadi trigliserida walaupun dengan kecepatan yang lebih rendah dibandingkan dengan katalis basa (Freedman et al., 1998). Faktor yang mempengaruhi reaksi esterifikasi adalah jumlah pereaksi, waktu reaksi, suhu, konsentrasi katalis dan kandungan air pada minyak. Metil ester hasil reaksi esterifikasi harus bebas air dan sisa katalis sebelum reaksi transesterifikasi (Ozgul dan Turkay, 2002). Reaksi esterifikasi dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Gambar II.1.4 Mekanisme Esterifikasi 2. Transesterifikasi Transesterifikasi adalah reaksi ester untuk menghasilkan ester baru yang mengalami penukaran posisi asam lemak (Swern, 1982). Reaksi transesterifikasi bersifat reversible, sehingga dibutuhkan alkohol berlebih untuk menggeser kesetimbangan ke arah kanan LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-17

Biodiesel (produk) (Ma et al., 1999). Metanol paling banyak digunakan dibandingkan dengan etanol karena harga lebih murah dan secara fisikomia memiliki keuntungan yaitu bersifat polar dan memiliki rantai paling pendek. Persamaan reaksi transesterifikasi ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.

Gambar II.1.5 Mekanisme Transesterifikasi Transesterifikasi berkatalis antara trigliserida dan metanol melalui pembentukan berturut-turut digliserida dan monogliserida menghasilkan metil ester pada setiap tahapan (Mao, Konar, dan Boocoock, 2004). Reaksi transesterifikasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan kondisi yang berasal dari minyak, seperti kandungan air dan asam lemak bebas. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang tidak berasal dari minyak meliputi suhu reaksi, waktu reaksi, kecepatan pengadukan, rasio molar metanol, dan jenis katalis (Freedman et al., 1984). Kandungan air dan asam lemak bebas pada minyak dapat berpengaruh menurunkan terhadap efisiensi pembentukan katalis, sabun selama viskositas reaksi, dan meningkatkan

menyebabkan kesulitan dalam pemisahan gliserol. Kadar asam lemak bebas terbaik dalam reaksi transesterifikasi adalah kurang dari 0,5 %. Menurut Noureddini dan Zhu (1997), suhu reaksi berpengaruh terhadap kecepatan reaksi. Semakin meningkat suhu reaksi, maka waktu reaksi akan berlangsung lebih singkat. Transesterifikasi akan berlangsung lebih cepat apabila suhu dinaikkan mendekati titik didih metanol (68oC) (Freedman et al., 1984). Kecepatan pengadukan berfungsi untuk meningkatkan II-18 LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

Biodiesel frekuensi kontak pada pencampuran antara minyak, alkohol dan katalis. Hal ini disebabkan fasa minyak dan alkohol tidak dapat bercampur secara sempurna, sehingga kecepatan pengadukan yang sesuai dapat meningkatkan kecepatan konversi (Noureddini dan Zhu, 1997). Rasio molar transesterifikasi sangat dipengaruhi oleh jenis katalis yang digunakan. Stoikiometri transesterifikasi memerlukan 3 mol alkohol dan 1 mol trigliserida untuk menghasilkan 3 mol metil ester dan 1 mol gliserol. Peningkatan rasio molar akan menghasilkan konversi ester yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat. Katalis merupakan bahan yang ditambahkan untuk mempercepat laju reaksi tanpa mempengaruhi produk dari reaksi, mengarahkan reaksi sesuai jalur reaksi tertentu dan mengurangi pembentukan produk samping untuk meningkatkan kemurnian produk yang dihasilkan (Kirk dan Othmer, 1964). Penentuan katalis merupakan faktor penting dalam transesterifikasi, karena kondisi reaksi dan kualitas metil ester yang dihasilkan bergantung pada katalis yang digunakan. Katalis transesterifikasi digolongkan dalam katalis basa, katalis asam, dan katalis enzim. Berdasarkan fasa yang dibentuk, ada dua jenis katalis yaitu katalis homogen dan katalis heterogen. Katalis homogen katalis mempunyai fase yang sama dengan reaktan, sedangkan katalis heterogen merupakan katalis yang memiliki fase berbeda dengan reaktan. Transesterifikasi menggunakan katalis basa akan berlangsung lebih cepat dan sempurna pada suhu rendah (Swern, 1982) dibandingkan dengan penggunaan katalis asam. Namun, apabila minyak memiliki kandungan asam lemak bebas tinggi, katalis asam lebih sesuai digunakan untuk menghindari terjadinya penyabunan (Freedman et al., 1984). Syarat transesterifikasi dengan katalis basa adalah minyak harus bersih, bebas air, dan netral secara substansial (Swern, 1982). Minyak dengan kandungan air kurang 0,1% dapat menghasilkan metil ester lebih dari 90% (Goff et al., 2004). Reaksi transesterifikasi dinyatakan gagal apabila terbentuk sabun yang mengurangi efektifitas katalis serta terbentuk gel yang menyulitkan LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-19

Biodiesel pemisahan dan pengendapan gliserol. Kandungan asam lemak bebas dan air lebih dari 0.5% dan 0.3% dapat menurunkan rendemen transesterifikasi minyak. 3. Netralisasi Pada umumnya netralisasi dilakukan dengan cara kimia, fisika, fisikokimia dan esterifikasi. Netralisasi secara kimia adalah reaksi antara asam lemak bebas dalam minyak atau lemak dengan basa yang akan menghasilkan sabun. (Ketaren, 1986) Menurut Swern (1982), netralisasi bertujuan untuk menetralkan asam lemak bebas, mengurangi gum dan lendir yang masih tertinggal, memperbaiki rasa dan warna minyak atau lemak. Reaksi netralisasi dapat dilakukan dengan alkali, natrium karbonat, amonia atau menggunakan uap (deacidifikasi). Netralisasi dengan NaOH banyak dilakukan dalam skala industri karena labih efisien dan lebih murah (Ketaren, 1986). Reaksi yang terjadi pada proses netralisasi ditunjukkan pada Gambar di bawah ini.

Gambar II.1.6 Reaksi Netralisasi Kotoran yang dibuang pada proses netralisasi adalah asam lemak bebas, fosfatida, zat warna, karbohidrat, protein, ion logam, zat padat, dan hasil samping oksidasi (Hendrix, 1990). Netralisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara basah. Cara kering dilakukan dengan mereaksikan basa pada suhu rendah dengan pengadukan, di daerah tropis biasanya pada suhu 30oC. Sedangkan cara basah dilakukan pada suhu tinggi (60-65oC), dengan larutan basa encer dan pencucian.Penentuan konsentrasi larutan alkali yang digunakan didasarkan pada kandungan asam lemak bebas. Semakin tinggi kandungan asam lemak bebas semakin tinggi pula konsentrasi larutan alkali yang digunakan. Konsentrasi alkali yang terlalu tinggi menyebabkan trigliserida yang tersabunkan tinggi, sedangkan larutan LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-20

Biodiesel yang terlalu lemah menyebabkan banyaknya emulsi sabun yang terbentuk sehingga menyulitkan pemisahan soap stock (Ketaren, 1986). Jumlah NaOH yang digunakan merupakan jumlah stoikiometri ditambah ekses sebanyak 5-10% tergantung pada minyak yang akan dinetralkan (Bernardini, 1983). Menurut Sonntag (1982), untuk minyak nabati dan lemak hewan dengan kandungan gum dan pigmen rendah dapat menggunakan ekses 0,1-0,2% b/b. Satuan konsentrasi NaOH dalam larutan adalah derajat Baume (oBe). Tabel di bawah ini menunjukkan konsentrasi NaOH dalam larutan berdasarkan oBe.

Tabel II.1.7. Konsentrasi larutan NaOH untuk netralisasi

Netralisasi dilakukan pada suhu 60-65 oC dengan konsentrasi larutan NaOH 10-20oBe (Thieme, 1986). Menurut Hendrix (1990), larutan NaOH yang digunakan adalah 12-30oBe atau 12-20oBe pada suhu 20-40oC dilanjutkan pemanasan pada suhu 60-80oC untuk pemecahan emulsi sabun dan minyak. Kadar asam lemak bebas 1% digunakan larutan alkali dengan konsentrasi 8-12oBe, lebih besar dari satu persen sebesar 20oBe dan lebih besar dari enam persen digunakan alkali dengan konsentrasi lebih besar dari 20oBe (Bernardini, 1983). Pemisahan soap stock dari minyak yang telah dinetralisasi dilakukan berdasarkan gravitasi. Efisiensi netralisasi dinyatakan dalam refining factor (RF) yaitu perbandingan kehilangan total minyak karena netralisasi dengan jumlah asam lemak bebas LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-21

Biodiesel dalam minyak kasar. Rumus penentuan RF dapat dilihat pada persamaan berikut:

Semakin rendah nilai RF maka efisiensi netralisasi semakin tinggi. Konsentrasi NaOH yang digunakan mempengaruhi nilai RF. Semakin kental larutan, nilai RF semakin tinggi karena minyak netral yang tersabunkan semakin banyak. Pada reaksi netralisasi, air menjadi media reaksi penyabunan dan membentuk larutan sabun (emulsi dengan minyak). Faktor yang mempengaruhi rendemen netralisasi adalah emulsifikasi. Semakin encer larutan kaustik soda yang digunakan, semakin besar pula tendensi larutan sabun untuk membentuk emulsi dengan trigliserida. (anonim, 2009)

II.2 Aplikasi Industri PREPARASI KARAKTERISTIK BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA SAWIT
Tilani Hamid S. dan Rachman Yusuf
Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, 16424

Dengan ketersediaan minyak bumi yang saat ini semakin terbatas, menyebabkan perhatian terhadap penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar telah bangkit kembali. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai minyak nabati memiliki potensi cukup besar sebagai bahan bakar alternatif mesin diesel (biodiesel), karena memiliki karakteristik yang serupa dengan bahan bakar mesin diesel yang berasal dari minyak bumi (petrodiesel). Pemanfaatan minyak nabati secara langsung sebagai bahan bakar mesin diesel (biodiesel), ternyata masih dijumpai suatu masalah. Masalah yang dihadapi tersebut terutama disebabkan oleh viskositas minyak nabati yang terlalu tinggi jika dibandingkan dengan petroleum diesel

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-22

Biodiesel Viskositas minyak nabati yang terlalu tinggi menyebabkan proses penginjeksian dan atomisasi bahan bakar tidak dapat berlangsung dengan baik, sehingga akan menghasilkan pembakaran yang kurang sempurna yang dapat mengakibatkan terbentuknya deposit dalam ruang bakar. Selain itu, proses termal (panas) di dalam mesin menyebabkan minyak nabati yang merupakan suatu senyawa trigliserida akan terurai menjadi gliserin dan asam lemak. Asam lemak dapat teroksidasi atau terbakar relative sempurna, tetapi dari gliserin akan menghasilkan pembakaran yang kurang sempurna dan dapat terpolimerisasi menjadi senyawa plastis yang agak padat. Senyawa ini juga dapat menyebabkan kerusakan pada mesin, karena akan membentuk deposit pada pompa dan nozzle injector. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan proses konversi minyak nabati kedalam bentuk ester (metil ester) dari asam lemak minyak nabati melalui proses transesterifikasi. Penelitian ini diawali dengan persiapan alat dan bahan, proses preparasi biodiesel melaui reaksi transesterifikasi antara minyak kelapa sawit dan methanol dengan perbandingan volume 5:1, serta melakukan variasi katalis yang digunakan 3,5 gr, 4,5 gr, 5 gr dan 5,5 gr. Reaksi berlangsung pada temperatur 60oC dan membutuhkan waktu selama + 1 jam. Gliserin yang dihasilkan dipisahkan, kemudian hasil metil ester (biodiesel) yang diperoleh dicuci dengan air sampai mencapai pH normal (6-7) dan dilanjutkan dengan pengujian karakteristiknya. Pengujian karakteristik yang dilakukan meliputi viskositas, indeks setana (calculated cetane index), titik tuang (pour point), titik nyala (flash point), kadar residu karbon (conradson carbon residue) dan bilangan asam (total acid number). Sehingga diperoleh hasil utama dari proses konversi minyak kelapa sawit menjadi metil ester (biodiesel) adalah menurunkan viskositas minyak kelapa sawit yang semula adalah 43.1 cSt menjadi 8 - 6 cSt yang berarti terjadi penurunan sekitar 82 86 %, dan mendekati batasan maksimal viskositas dari minyak solar dan minyak diesel, yaitu 5.8 6 cSt LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS II-23

Biodiesel sehingga sangat memungkinkan untuk dicampur dengan minyak solar ataupun dengan minyak diesel. Jumlah semakin katalis yang digunakan katalis dalam NaOH reaksi yang transesterifikasi digunakan akan mempengaruhi produk biodiesel bertambah jumlah (metil ester) yang dihasilkan, dimana

menurunkan jumlah produk biodiesel yang dihasilkan. Produk biodiesel yang dihasilkan dengan mengunakan katalis NaOH sebanyak 5,5 gram (M5.5) mempunyai karakteristik yang secara garis besar dapat memenuhi batasan karakteristik dari minyak solar. Produk biodiesel selain M5.5 (M3.5. M4.5 dan M5.0) secara garis besar dapat memenuhi karakteristik dari minyak diesel (untuk mesin diesel putaran rendah). Hasil dari pengujian B20 (campuran 20% biodiesel M5.5 dengan 80% minyak solar) menunjukkan bahwa biodiesel sangat baik dijadikan campuran bahan bakar mesin diesel (solar), karena dapat memperbaiki karakteristik dari bahan bakar solar terutama pada viskostas nya 5 cSt dan titik nyala (falsh point) 100oC, dimana dari 100% solar menghasilkan viskositas 4.7 cSt, dan titik nyala (flash point) 74oC.

LABORATORIUM TEKNOLOGI BIOFUEL, ATSIRI, NABATI PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA FTI - ITS

II-24