Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Luka adalah suatu keadaan putusnya kontinuitas jaringan yang disebabkan oleh berbagai hal. Seseorang yang menderita luka akan merasakan adanya ketidaksempurnaan yang pada akhirnya cenderung untuk mengalami gangguan fisik dan emosional sehingga berdampak pada kualitas hidupnya. Di Indonesia, perhatian terhadap perawatan luka masih sangat kurang. Padahal luka adalah permasalahan sederhana yang bisa menjadi kompleks, karena bisa berujung pada parut dan keloid. Di Amerika, untuk perawatan luka saja, dinas kesehatan nasional Amerika menganggarkan dana tidak kurang dari 2,5 miliyar dollar. Sebuah jumlah yang cukup besar. Hal itu dilakukan karena setiap tindakan operasi, luka pasti menjadi side product dari tindakan tersebut. Parut dan keloid yang dihasilkan tidak hanya menimbulkan rasa ketidakpercayaan diri saja, namun juga rawan memicu frustasi. Ini yang belum diperhatikan pemerintah negeri ini. Kendala dalam perawatan luka di Indonesia adalah adanya anggapan bahwa material perawatan luka modern, mahal, dan tidak cocok untuk masyarakat Indonesia. Luka akut yang dirawat dengan metode konvensional umumnya lebih lama sembuh. Semakin lama luka, maka bekas parut yang dihasilkan akan semakin parah.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Luka (wound) merupakan adanya diskontinuitas dan/atau kerusakan jaringan tubuh yang menyebabkan gangguan fungsi. Luka pada kulit, otot, tulang, pembuluh darah, maupun organ seperti jantung, usus dan sebagainya, semuanya melalui suatu proses reparatif yang serupa (similar) dan dapat di prediksi (predictable). Luka dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu : 1. Luka akut Luka akut adalah luka dalam hitungan jam (s/d 8 jam). Luka yang dibiarkan lebih dari 8 jam dinamakan neglected wound (luka yang terabaikan). Luka akut umumnya merupakan luka traumatik, contohnya luka tertusuk, terpotong, abrasi, laserasi, luka bakar, dan luka traumatik lainnya. 2. Luka kronik Luka kronis adalah luka yang berlangsung lebih dari 2 minggu tanpa melewati fase-fase penyembuhan secara sempurna; atau merupakan luka yang berulang. Contohnya adalah luka akibat tekanan.

2.2 Fisiologi Luka Ada beberapa fase penyembuhan luka yakni : a. Fase inflamasi : berupa hemostatsis dan inflamasi b. Fase proliferatif : terdiri dari epitelialiasi, angiogenesis, pembentukan jaringan granulasi dan deposisi kolagen c. Fase maturasi : kontraksi, pembentukan jaringan parut (scar tissue), remodeling

Tabel 1. Fase penyembuhan luka serta faktor pertumbuhan yang terlibat Fase penyembuhan luka Hemostasis Inflamasi Proliferasi sel Granulasi dan matrix repair Epitelialisasi Remodelling/ pembentukan scar Growth factors dan sitokin PDGF, IGF-1, EGF, FGF, TGF-beta Sda + aktivasi komplemen Protease (elastase, kolagenase) MMPs, TIMPs EGF, TGF-beta FGF, protease

Gambar 1. Gambaran Fase Penyembuhan Luka Umumnya luka yang akut akan melalui tahapan fase diatas dengan baik, jika dilakukan perawatan luka yang benar. Namun jika perawatan luka dilakukan dengan sembarangan dan menyalahi prinsip-prinsip perawatan luka, maka luka dapat menjadi kronis karena adanya fase penyembuhan yang tidak terlewati dengan dengan sempurna. Penyebab lainnya adalah penyakit yang mendasari (misalnya diabetes melitus, CVI, dll) sehingga elemen pencetus luka tersebut selalu ada. Pada luka-luka seperti ini tentunya memerlukan pemahaman perawatan luka yang benar karena jelas luka tersebut lebih sulit untuk sembuh.

Fase-fase dalam penyembuhan luka (khususnya pada kulit dan jaringan di bawahnya) umumnya memiliki pola dan waktu yang serupa seperti terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 2. Waktu penyembuhan luka Fase penyembuhan luka Waktu Sel yang berperan Hemostasis Inflamasi Segera (menit) Hari 1-3 Platelet Neutrofil Makrofag Proliferasi sel Granulasi dan matrix repair Hari 3-21 Hari 7-21 Makrofag Limfosit Angiosit Neurosit Fibroblast Epitelialisasi Remodelling/ pembentukan scar Hari 3-21 Hari 21-beberapa tahun Keratinosit Fibrosit

Teknik

perawatan

luka

juga

harus

mengikuti

fase-fase

dalam

penyembuhan luka, khususnya dari segi waktu: waktu penggantian wound dressing, waktu pengangkatan benang, dsb. Jenis dari penyembuhan luka terdiri dari : 1. Primary wound healing (penyembuhan luka primer): terjadi saat pinggirian luka (wound edges) yang bersih dan masih vital (tidak iskemik/ nekrosis) ditemukan dengan aprokmasi yang baik (biasanya penjahitan) sehingga fase pembentukan jaringan granulasi lebih cepat dan epitelialisasi langsung terjadi dalam beberapa hari (1-3 hari). 2. Secondary wound healing (penyembuhan luka sekunder): terjadi pada luka yang cukup dalam /lebar dan jarak antara ujung-ujung luka terlalu jauh, sehingga tidak dapat dilakukan penjahitan secara langsung. Seluruh fase penyembuhan luka secara spontan akan dilewati sesuai dengan dalam/luasnya luka dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. 3. Tertiary wound healing (penyembuhan luka tersier): terjadi pada luka yang kurang vital/jaringan nekrotik cukup banyak/luka cukup dalam/luka kotor dan memerlukan tindakan debridemen/nekrotomi terlebih dahulu untuk

jangka waktu tertentu (hingga luka cukup vital dan bersih), untuk kemudian melewati fase-fase penyembuhan luka.

2.3 Penilaian Luka Tabel 3. Kerangka kerja penilaian luka


Parameter M E A S U R Measure Exudate Appearance Suffering Undermining Re-evaluate Penilaian Panjang, lebar, kedalaman, area Kuantitas dan kualitas eksudat Wound bed, jenis jaringan dan jumlah Kuantitas dan kualitas nyeri Ada atau tidaknya Monitor ulang seluruh kondisi luka secara regular E Edge Kondisi pinggir luka dan kulit sekitar luka

1. Measure Pengukuran luka dapat berubang pada sepanjang proses penyembuhan luka. Pada proses awal penyembuhan dimana jaringan nekrotik telah dibuang, luka tampak semakin meluas, hal ini karena daerah luka yang sebenarnya telah tertutupi oleh jaringan nekrotik tersebut. Monitoring dari ukuran luka penting dalam menentukan pilihan dressing luka yang tepat. Luka yang luas dan dalam memerlukan dressing yang berbeda dengan luka yang dangkal, maupun luka yang memiliki sinus. 2. Exudate Normalnya eksudat dapat muncul pada proses penyembuhan pada fase inflamasi dan lebih sedikit pada fase epitelisasi. Adanya eksudat yang berlebihan menunjukkan adanya pemanjangan fase inflamasi ataupun adanya infeksi pada luka. Keast menyatakan bahwa eksudat dapat dinilai dari kualitas dan kuantitas eksudat serta bau pada luka. Tabel 4. Indikator penilaian eksudat Sistem TELER
Poin Kebocoran Eksudat

5 4

Tidak terdapat eksudat pada saat pergantian wound dressing Terdapat eksudat dalam waktu 2 jam sebelum pergantian wound dressing berikutnya

Terdapat eksudat dalam waktu 8 jam sebelum pergantian wound dressing berikutnya

Terdapat eksudat dalam waktu 24 jam setelah pergantian wound dressing

Terdapat eksudat dalam waktu 8 jam setelah pergantian wound dressing

Terdapat eksudat dalam waktu 2 jam setelah pergantian wound dressing

Tabel 5. Indikator penilaian bau luka Sistem TELER


Poin 5 4 3 2 1 0 Tanpa bau Bau tercium saat wound dressing dibuka Bau tercium di dekat luka Bau tercium dari jarak sehasta dari pasien Bau tercium memenuhi seluruh ruangan Bau tercium saat memasuki rumah / klinik Bau

3. Appearance Penilaian penampilan luka dapat mengevaluasi tahapan penyembuhan luka maupun adanya komplikasi pada luka. Umumnya dari penampilan dapat diketahui apakah suatu luka tersebut nekrotik, terinfeksi, bernanah, granulasi atau epitelisasi. 4. Suffering Rasa nyeri yang meningkat seiring dengan proses perjalanan luka menunjukkan adanya infeksi pada luka. Krasner membagi nyeri pada luka menjadi tiga tipe: nyeri luka akut non-siklik, contohnya nyeri pada saat debriment; nyeri luka akut siklik, contohnya nyeri pada saat penggantian wound dressing; nyeri luka kronik, yaitu bersifat konstan dan persisten.

Intensitas nyeri dapat diukur dengan visual and logue scale. 5. Undermining Pada saat tindakan perawatan luka, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap cavitas luka, apakah terdapat saluran dan sinus pada dinding dan dasar luka. Pada luka dapat dibersihkan dengan kasa steril untuk dapat mengevaluasinya. 6. Re-evaluate Evaluasi ulang dilakukan dengan tujuan untuk memeriksa ada atau tidaknya tanda-tanda komplikasi dan untuk memonitor perkembangan luka terhadap terapi yang diberikan. Frekuens evaluasi ulang berbeda-beda tergantung pada jenis dan progresifitas luka, pada luka kronik evaluasi ulang dapat dilakuakn setiap 1-2 minggu, sedangkan pada luka akut dapat dilakukan lebih sering. 7. Edge Hal ini mencakup pinggiran luka dan kulit sehat di sekitarnya. Pinggir luka dengan sel epitel yang meninggi menunjukkan luka yang mengalami proses penyembuhan. Keadaan kulit di sekitar luka perlu diperhatikan, seperti adanya eritema dan kalor yang menunjukkan proses infeksi. Adanya eritema tanpa tanda radang lainnya dapat menunjukkan adanya reaksi alergi terhadap bahan wound dressing. Indurasi menunjukkan adanya kerusakan progresif pada luka tekanan. Maserasi dapat timbul pada luka dengan produksi eksudat yang banyak.

2.4 Prinsip Perawatan Luka Prinsip perawatan luka secara umum adalah : 1. Debridement Seluruh materi asing/nonviable/jaringan nekrotik merupakan debris dan dapat menghambat penyembuhan luka sehingga diperlukan tindakan untuk membersihkan luka dari semua materi asing ini. Nekrotomi (pembuangan jaringan nekrotik) juga termasuk dalam debridemen luka. Debridemen dapat dilakukan berkali-kali (bertahap) samapai seluruh dasar luka (wound

10

bed) bersih dan vital. 2. Moist wound bed Dasar luka (wound bed) harus selalu lembab. Lembab bukan berarti basah. Kassa yang direndam dalam larutan seperti Nacl itu basah bukan lembab, karena kassa yang basah dapat menjadi kering sehingga tidak pernah menjadi lembab. Lembab yang dimaksud adalah adanya eksudat yang berasal dari sel di dasar luka yang mengandung sel-sel darah putih, growth factors, dan enzim-enzim yang berguna dalam proses

penyembuhan luka. Suasana lembab ini harus dipertahankan dengan diikuti pencegahan infeksi dan pembentuka pus. 3. Prevent further injury Jaringan disekitar luka biasanya mengalami inflamasi sehingga ikatan antar selnya kurang kuat. Saat merawat luka dianjurkan untuk tidak membuat luka/kerusakan baru dijaringan sekitarnya. Imobilisasi lama juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan lainnya misalnya terbentuk ulkus dekubitus, infeksi sekunder, bahkan pneumonia, dll. 4. Nutritional therapy Nutrisi adalah suatu terapi bukan hanya sebagai suplemen/tambahan. Terapi nutrisi sangat penting dalam proses penyembuhan luka sebab komponen jaringan yang rusak harus diganti. Pada setiap luka memerlukan elemen pengganti yang didapatkan dari asupan nutrisi. 5. Treat underlying diseases Salah satu faktor yang berpengaruh dalam proses penyembuhan luka adalah penyakit yang mendasari luka tersebut misalnya DM, CVI, SLE, dll. Jika penyakit yang mendasarinya tidak diatasi, kemungkian besar luka akan sulit sembuh 6. Work with law of nature Pepatah mengatakan time heals all wounds. Sesungguhnya

penyembuhan luka dilakukan oleh tubuh penderita sendiri. Yang dapat kita lakukan adalah memberikan suasana dan kondisi ideal agar luka dapat sembuh tanpa adanya hambatan/gangguan.jika seluruh faktor yang

11

menghambat penyembuhan luka dapat diatasi (mulai dari faktor sistemik sampai keadaan status lokalis itu sendiri) maka tidak ada alasan luka tidak dapat sembuh.

2.5 Jenis-Jenis Perawatan Luka 1. Perawatan luka akut Secara umum 8 jam pada luka akut ditentukan sebagai golden period untuk luka. Jaringan tubuh yang dibiarkan iskemik (tidak mendapat oksigen dari darah) selama lebih dari 8 jam akan menjadi nekrosis dan kerusakannya tidak dapat dikembalikan ke keadaan normal (sering disebut irreversibel injury). Maka dari itu sebaiknya perawatan luka dimulai secepatnya sejak luka/injury terjadi dan tidak menunggu hingga nekrosis. Luka akut yang bersih (acute clean wound) misalnya luka sayatan pisau yang bersih dapat segera ditutup/dijahit sehingga terjadi

penyembuhan luka secara primer (primary wound healing). Luka akut yang kotor memerlukan penanganan debridemen terlebih dahulu sebelum penjahitan luka sesuai dengan prinsip penanganan luka secara umum. Debridemen pada luka akut dilakukan sesegera mungkin setelah luka terjadi. Penggunaan antiseptik pada luka masih kontroversial karena beberapa pendapat mengatakan bahwa luka tidak harus steril dan flora normal pada luka masih diperlukan untuk melawan kuman patogen. Penggunaan antiseptik seperti betadine, alkohol atau peroksida dapat mengakibatkan kerusakan jaringan sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan pada luka terbuka. Larutan ideal digunakan untuk debridemen adalah cairan fisiologis (NaCl 0.9%) sebanyak mungkin sampai luka menjadi bersih. Setelah dilakukan debridemen luka dengan benar, luka kemudian dinilai apakah dapat langsung dilakukan penutupan/penjahitan. Jika luka akut tersebut kotor namun masih dapat ditutup dengan penjahitan sebaiknya dipasang drain sebagai pencegahan jika terbentuk pus dikemudian hari. Jika luka akut tersebut cukup besar/dalam dan penjahitan sulit dilakukan

12

maka sebaiknya dipilih jenis perawatan/penyembuhan luka sekunder (perawatan luka terbuka). Luka pasca operasi umumnya merupakan luka akut steril sehingga dapat dipertahankan sampai 3 hari untuk kemudian dilakukan penggantian dressing. Waktu 3 hari dipakai sebagai patokan sesuai waktu yang diperlukan bagi luka untuk melewati fase proliferasi dan epitelialisasi pada luka akut tipe primary healing/repair. Saat epitelialisasi ujung-ujung luka terjadi, luka tersebut bukan lagi dinamakan luka terbuka, oleh karena itu dapat dilakukan wound dressing dan pencucian. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air atau Nacl fisiologis untuk mencuci krusta dan kemungkinan adanya kuman yang menempel saat dressing dibuka. Oleh karena itu pasien boleh mandi setelah dressing atau balutan dibuka dan luka harus dicuci saat mandi. Setelah itu luka dikeringkan dan dapat langsung ditutup dengan dressing yang baru. Penggunaan antiseptik (betadine, alkohol, dll) masih tetap kontroversial, 2. Perawatan luka kronik Mungkin saja suatu saat luka kronis dapat melalui seluruh fase penyembuhan namun tanpa mempertahankan fungsi dan struktur anatomis yang benar. Luka dapat menjadi kronis jika terdapat hambatan/ gangguan saat melewati fase-fase penyembuhan, misalnya ada penyakit yang mendasari (biasanya penyakit kronis pula seperti diabetes, dll), nutrisi yang kurang, atau akibat perawatan luka yang tidak benar. Gangren diabetikum merupakan salah satu contoh luka kronis yang paling sering dijumpai dan sering berakhir dengan tindakan amputasi. Perawatan luka secara baik dan benar yang dibarengi dengan kontrol glukosa yang teratur sesungguhnya dapat mencegah tindakan amputasi yang berlebihan. Secara prinsip perawatan luka kronis tidak banyak berbeda dengan luka akut. Debridemen dan nekrotomi harus dilakukan secara rutin untuk menghilangkan faktor penghambat penyembuhan luka. Debridemen dapat dilakukan secara bertahap untuk mngurangi kemungkinan further injury

13

pada jaringan sehat disekitar luka. Prinsip moist wound bed pun harus dilakukan dengan pemilihan wound dressing yang tepat. Nutrisi dan pengobatan penyakit yang mendasari juga harus selalu dievaluasi supaya pasien memperoleh asupan gizi penyembuhan luka Luka maligna (malignant wound), suatu luka yang timbul akibat adanya sel-sel neoplasma maligna di sekitar luka tersebut, juga dapat dikategorikan sebagai luka kronis. Meskipun demikian, penanganan luka yang mengikuti prinspi-prinsip diatas dapat menghasilkan penyembuhan luka yang baik. 3. Wound dressing Wound dressing (balutan) pada luka hingga saat ini masih merupaka subyek yang terus diteliti dan dikembangkan untuk mencari bentuk yang paling ideal pada semua luka. Dressing yang idela harusnya mempunyai kriteria sebagai berikut : a. Memertahankan kelembapan dasar luka b. Dapat mengontrol perumbuhan kolonisasi bakteri c. Bersifat absorben d. Mudah digunakan e. Berfungsi sebagai barrier dari bakteri f. Penggantian dressing yang efektif g. Menyebakan pembentukan jaringan granulasi yang sehat h. Memulai epitelialisasi i. Aman j. Mengurangi dan menghilangkan nyeri pada tempat luka k. Saat pelepasan tidak menyebabkan nyeri l. Murah yang baik untuk mempercepat

Berbagai macam tipe dari balutan (wound dressing), mulai dari yang kontroversial hingga yang advanced. Dressing kontroversial yang masih digunakan sampai sekarang adalah kassa (cotton gauze). Advance dressing

14

sangat beragam jenisnya diantaranya hydogel, hydroccolids, alginate, VAC (vacuum assted closure), bioceramics. Apapun dressingnya prinsip penaganan luka selalu sama. Lima tahapan perawatan luka secara umum atau biasa disebut 5D, yaitu: a. Describe: luka akut atau kronis, tetanus prone atau non tetanus prone, luas atau kecil, permukaan atau dalam, terbuka atau tertutup, dengan atau tanpa underlying diseases. b. Debridement: buang semua debris, pus jaringan nekrotik, corpus alienum, dan semua hal yang dapat menghambat penyembuhan luka. Hindari injury pada jaringan sehat disekitar luka. Irigasi cukup dengan cairan fisiologis Nacl 0,9% atau aqua (H2O). Hindari pemakaian antiseptik/cairan lain yang dapat merusak jaringan yang sehat (H2O2), povidon iodin, alkohol, dsb). Debridemen harusnya dilakukan bertahap untuk mencegah kerusakan jaringan sehat yang berlebihan. c. Dressing (moist wound bed): luka ditutup dengan balutan yang memenuhi prinsip perawatan luka yaitu moist. Jika memungkinkan pilih dressing yang dapat menciptakan suasana tekanan negatif pada dasar luka (negative pressure), artinya debris/pus/eksudat di dasar luka diangkat/dikeluarkan secara kontinu. Pilih tipe wound dressisng yang paling ideal yang memenuhi prinsip penanganan luka d. Disease: selama penyakit yang mendasari tidak diobati dengan benar maka luka tidak akan dapat sembuh dengan sempurna e. Diet: nutrisi yang cukup sangat penting dalam proses penyembuhan luka

2.6 Perawatan Luka dengan Madu Madu merupakan bahan yang tidak membuat iritasi, tidak beracun, mudah tersedia, dan relatif murah. Madu telah dilaporkan memiliki sifat antimikroba yang baik. Selain itu madu juga efektif dalam penyembuhan luka, hampir semua jenis luka responsif terhadap perawatan dengan madu.penggunaan

15

madu dalam dressing luka dapat mempercepat proses penyembuhan luka karena efeknya yang menstimulasi proses penyembuhan luka, mencegah infeksi, menstimulasi pertumbuhan jaringan granulasi, mengurangi

peradangan dan dressing jaringan yang tidak melekat.

(a)

(b)

Gambar . (a) Aplikasi madu secara konvensional sebagai wound dressing (b) Produk perawatan luka dan wound dressing berbahan dasar madu Mekanisme pasti yang mendasari proses penyembuhan luka dengan menggunakan madu masih belum diketahui, namun beberapa penelitian mengatakan bahwa madu bekerja melalui penurunan kadar ROS, selain itu madu juga memiliki efek antibakteri dan pH yang rendah dengan kandungan asam bebas yang tinggi. Hal ini penting dalam membantu proses penyembuhan luka. Disamping itu jenis luka dan derajat keparahan luka juga mempengaruhi dalam keberhasilan perawatan luka dengan madu. Madu yang digunakan harus dalam jumlah yang cukup sehingga bila terkena eksudat luka maka madunya tidak langsung hilang. Pemberiannya harus menutupi dan mencakup seluruh bagian luka hingga kebagian tepinya. Hasil yang lebih baik didapatkan bila madu diberikan pada dressing dibandingkan dengan dioleskan langsung pada lukanya. Semua rongga harus terisi oleh madu dan dressing membentuk suatu oklusi untuk mencegah madu keluar dari luka. Pengaruh madu dalam menyembuhkan luka merupakan hasil dari gabungan efek debrimen secara kimiawi pada jaringan nekrotik dan devitalisasi jaringan dari ulkus oleh katalase, penyerapan edema melalui sifat

16

higroskopis dari madu, merangsang pertumbuhan jaringan granulasi, dan epitelisasi dari tepi luka, sifat bakterisid dan fungsid madu, gizi untuk jaringan, dan produksi H2O2 yang dihasilkan. Madu mengandung 40% glukosa, 40% fruktosa, 20% air, dengan asam organik, vitamin, enzim, dan mineral, tetapi memiliki berat jenis 1,4 dan pH 3,6. Pengobatan dengan madu sederhana dan di tidak mahal serta tidak perlu di buat steril terlebih dahulu karena sudah memiliki sifat bakterisid dan fungisid, memiliki viskositas yang tinggi sehingga membentuk penghalang fisik, menciptakan lingkungan luka yang lembab sehingga mempercepat proses penyembuhan luka.

Gambar . Penyembuhan luka dengan aplikasi madu

2.7 Maggot Debridement Therapy (MDT) Penggunaan larva untuk proses penyembuhan luka telah tercatat dengan baik selama berabad-abad. Efek dari penggunaan larva pada luka pertama kali diperkenalkan oleh Ambrosius Pare tahun 1557. Pembentukan jaringan granulasi ditingkatkan oleh penggunaan dari belatung. Aplikasi klinis pertama penggunaan belatung dilakukan oleh JF Zakharia dan J jones pada perang saudara di Amerika. Kemudian William Bear menyempurnakan metode ini dengan menggunakan belatung yang telah disterilkan untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka. Terapi dengan metode ini semakin banyak digunakan terutama untuk luka kronis dan luka yang terinfeksi di Amerika Utara dan Eropa selama tahun 1930. Dengan meluasnya penggunaan antibiotik, MDT in kemudian ditinggalkan. Dan kembali digunakan sekitar akhir tahun 1990-an dimana telah banyak ditemukan resistensi bakteri

17

terhadap antibiotik. Larva dari lalat hijau Lucilia Sericata adalah larva yang paling umum digunakan untuk MDT. Larva yang berukuran 1-2 mm akan menetas dari telurnya dalam waktu 12-24 jam. Mereka akan memakan jaringan yang nekrotik dalam kondisi lingkungan luka yang lembab. Dalam 4-5 hari mereka akan menjadi dewasa dengan ukuran 10 mm, kemudian menjadi kepompong dan lalat dewasa.

Gambar . Daur Hidup Lalat Larva yang digunakan dalam MDT harus steril untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Larva yang digunakan adalah larva yang baru baru menetas dari telurnya. Dan larva harus digunakan dalam waktu 8 jam dan disimpan dalam kulkas dengan suhu 8-10C, sehingga dapat memperlambat metabolisme tubuh mereka. Untuk memaksimalkan debridemen, hal yang penting untuk diperhatikan adalah pasokan oksigen pada luka dan kelembaban luka. Namun luka yang terlalu lembab juga akan mematikan larva. Tiga enzim proteolitik telah diidentifikasi dalam eksresi/sekresi (ES) belatung. Enzim ini efektif mendegradasi komponen matriks ektraseluler, termasuk laminin dan fibronektin. Dalam ES juga telah diindentifikasi adanya zat antibakteri. ES menghambat perkembangan bakteri gram negatif dan gram positif termasuk stafilokokus aureus yang resisten meticilin (MRSA), E.coli, dan pseudomonas aeruginosa. ES juga menghasilkan amonia sehingga menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri. Selain itu, penelitian lain mengungkapkan bahwa larva L sericata

18

juga mencerna dan membunuh bakteri yang terdapat dalam luka. Maggot juga menyebabkan peningkatan proliferasi dari fibroblas sehingga akan mempercepat proses penyembuhan luka. Selain itu ES juga mengandung sitokin, kandungan gamma-interferon dan interleukin-10 (IL-10) juga meningkatkan jaringan granulasi pada luka. Maggot debridement therapy terutama digunakan untuk membersihkan dan desinfektan pada luka kronis yang kotor, banyak jaringan nekrotik, dan terinfeksi. Berbagai penelitian menunjukkan kemajuan MDT dalam mengobati luka yang gagal

disembuhkan. Larva ini efektif membersihka jaringan nekrotik dan eksudat tanpa merusak jaringan sehat disekitarnya. Hal ini akan merangsang timbulnya jaringan granulasi dan mengurangi bau. MDT bermanfaat pada berbagai jenis luka kronis.

Tabel . Jenis luka yang dapat di terapi dengan MDT


Jenis Luka Ulkus diabetik Ulkus venous Ulkus neuropati (non-diabetik) Luka / ulkus post-trauma Abses malleolus Grossly infected toe Ulkus iskemik / arterial Ulkus tekanan Thromboangiitis obliterans Necrotising fasciitis Sinus pilonidal Osteomyelitis

Luka infeksi pasca replantasi lengan Luka pasca prostese lutut bawah Luka infeksi pasca operasi payudara Luka pada keganasan Luka kronis pasca operasi Luka tembak terinfeksi Luka bakar Luka terinfeksi S. aureus yang resisten terhadap methisilin

19

Kombinasi ulkus venous-arterial

Mastoiditis sub-akut

Tidak semua jenis luka dapat menggunakan MDT, MDT tidak boleh digunakan pada luka yang kering karena maggot tidak bisa hidup di lingkungan tersebut. Selain itu penggunaan MDT juga harus di hindari pada luka terbuka organ berongga dan luka di dekat pembuluh darah besar.

(a)

(b) Gambar . (a) Aplikasi MDT pada luka Buerger Disease (b) Aplikasi MDT pada Diabetic Ulcer

20

DAFTAR PUSTAKA
De Jong, Sjamsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 3. Jakarta: EGC. 2011 Chan DCW, et al. Maggot Debridement Therapy in Chronic Wound Care. Hongkong Med J. 2007; 13(5): 382-5 Dealey C. The Care of Wounds: A Guide For Nurses. UK: Blackwell Publishing Ltd. 2005 Molan PC. Using Honey in Wound Care. International Journal of Clinical Aromatherapy. 2006; 3(2): 21-4 Pangayoman, RA. Perawatan Luka. RS Sentosa Internatinal. Bandung. 2011 Puri A, et al. Topical Application of Honey in The Treatment of Wound Healing: A Metaanalysis. Department of Pharmacology. 2008; 10(4): 166-9 Sontani D. Perawatan Luka Modern. Universitas Airlangga. Surabaya. 2010 Suriadi. Manajemen Luka. Pontianak: Penerbit STIKEP MUHAMMADIYAH Pontianak. 2007