Anda di halaman 1dari 50

Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Dengan Metode Rasio Keuangan, Economic Value Added (EVA) Dan Market Value

Added (MVA)
(Studi Pada Perusahaan Semen Yang Go Public)

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh Nama : Dimas Ragil Kinayungan P. NIM : 02610260

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2007
BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Negara berkembang seperti Indonesia, kebutuhan semen sangat vital terhadap pertumbuhan ekonomi, bahkan pertumbuhan kebutuhan semen secara rata-rata, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan pendekatan ekonometrik, hubungan antara pertumbuhan riil PDB dan pertumbuhan permintaan semen adalah sekitar dua kali lipatnya. Sebagai contoh: apabila pertumbuhan PDB rata-rata 4 persen per tahun, maka pertumbuhan permintaan semen menjadi 8 persen per tahun. Lebih jelasnya lagi, apabila tahun ini utilisasi pabrik domestik adalah 58 persen, sementara diasumsikan tidak ada kenaikan kapasitas industri semen di Indonesia beberapa tahun ke depan, maka diperkirakan kondisi puncak utilisasi (kira kira 95 persen) akan dicapai pada tahun 2008. Apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari rata-rata 4 persen per tahun, berarti kondisi puncak utilisasi tersebut akan dicapai lebih cepat. (Kompas, Senin, 2 Desember 2002) Ada ancaman serius dalam industri semen domestik yang luput dari perhatian. Pertama, ancaman kelangkaan atau krisis semen. Jika konsumsi semen

terus naik konstan 10% per tahun, sedangkan investasi baru tidak ada, tahun 2007 Indonesia akan mengalami krisis semen. Kedua, industri semen domestik tumbuh dalam iklim yang tidak sehat karena dibayang-bayangi oleh ancaman kartel oleh raksasa semen global yang ada di Indonesia, tetapi untuk menyelesaikan kedua masalah itu tidaklah mudah. Kapasitas industri semen nasional saat ini sebesar 47 juta ton setahun, tetapi karena krisis dan permintaan yang turun, utilisasi kapasitas produksinya hanya 36 juta ton (71,7%). Untuk menghindari kelangkaan, selain bisa dilakukan dengan mengurangi volume ekspor bisa juga dengan investasi baru. Masalahnya, investasi baru (grassroot) memerlukan 150-200 dolar AS per ton kapasitas dan untuk pengembangan 100-150 dolar AS per ton kapasitas, itu pun jangka pembangunannya sekitar 3-4 tahun. Masalah tersebut sulit dipecahkan karena realitasnya industri semen domestik sudah tidak lagi di bawah kendali kita. Sejak program privatisasi BUMN digulirkan pada 1998, satu per satu industri semen domestik jatuh ke kelompok The Big Five (Lafarge, Blue Circle, Holderbank, Heidelberger, dan Cemex). Menurut data, ada empat raksasa semen dunia sudah

mencengkeram Indonesia. Saham Semen Gresik (SG) sudah dikuasai Cemex, raja semen dari Meksiko, sebesar 25,53% sejak 1998 yang lalu. Heidelberger Zement dari Jerman menguasai saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. sebesar 60,62%. Holderbank bahkan sudah menguasai 100% saham PT Semen Cibinong Tbk. Sementara itu, raksasa semen dari Prancis, Lafarge - yang merger dengan Blue Circle dari Inggris menguasai 72,41% saham PT Semen Andalas Indonesia. (Pikiran Rakyat, Senin, 23 Juni 2003)

Ada tiga besar industri semen Indonesia adalah Semen Gresik Group (SGG) (pangsa pasar nasional terbesar yakni 41 persen), Indocement (dengan pangsa pasar 33 persen) dan Semen Cibinong (pangsa pasar 14 persen). Di antara ketiga produsen semen terbesar tersebut, SGG merupakan saham yang direkomendasikan kepada para investor, hal itu dikarenakan SGG memiliki likuiditas saham yang tinggi serta kondisi neraca yang jauh lebih baik dari pesaingnya. Valuasinya pun paling murah dalam "kacamata" Enterprise Value (EV) per ton kapasitas. (Enterprise value menyatakan nilai pasar dari saham dan utang perusahaan). (Pikiran Rakyat, Senin, 23 Juni 2003) Bila tidak ada penambahan kapasitas pabrik atau pembangunan pabrik semen baru maka pada tahun 2007 Indonesia akan mengalami krisis semen. Mengingat pembangunan pabrik membutuhkan waktu sampai tiga tahun, maka pada tahun 2006 atau lebih dini lagi, penambahan kapasitas pabrik atau pembangunan pabrik semen baru, sudah harus dimulai, jadi semua pemain industri semen nasional haruslah mempersiapkan diri dan mengkonsolidasikan usahanya mulai dari sekarang agar supaya mereka berada dalam kondisi keuangan yang siap untuk melakukan ekspansi pabrik baru pada tahun 2006 atau lebih dini. (Kompas, Senin, 2 Desember 2002) Dalam hubungannya dengan penilaian kinerja keuangan perusahaan semen, tingkat kesehatan perusahaan bagi para pemegang saham sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi sebenarnya suatu perusahaan, agar modal yang diinvestasikan cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian (rate of return) yang menguntungkan dari investasi yang

ditanamkannya. Bagi pihak manajemen perusahaan, penilaian kinerja ini akan sangat mempengaruhi dalam penyusunan rencana usaha perusahaan yang akan diambil untuk masa yang akan datang demi kelangsungan hidup perusahaan. Untuk mengukur kinerja perusahaan ini tentunya bukan merupakan hal yang mudah. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam penilaian kinerja ini antara lain yaitu harapan dari pihak-pihak yang menginvestasikan uangnya, dan karyawannya. Para penyedia dana tentunya akan mengharapkan tingkat pengembalian yang besar untuk investasi yang ditanamkannya, sedangkan pihak karyawan menginginkan kinerja perusahaan agar kelangsungan hidup dari perusahaan dapat terjamin yang berarti bahwa kesejahteraan mereka juga akan ikut terjamin. Pada saat ini terdapat berbagai alat ukur kinerja yang kadang berbeda dari satu industri dengan industri yang lain. Tetapi sulit untuk mengatakan bahwa alat ukur tersebut benar-benar merupakan alat ukur yang dapat menilai keberhasilan perusahaan yang sebenarnya. Sehingga kita dapat mengetahui apakah roda usaha telah berjalan dengan efisien dan efektif. Ada 4 metode yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan selama ini, antara lain : a. Metode Rasio Keuangan, merupakan alat yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan yang menekankan operasi keuangan yaitu: Likuiditas Ratio, Leverage Ratio, Probabilitas Ratio, dan Activity Ratio. b. Metode Economic Value Added (EVA), digunakan dalam menilai kinerja perusahaan yang memfokuskan pada penerapan nilai, dan hanya bisa menilai proses dalam periode 1 tahun, dengan kata lain EVA merupakan

pengukuran pendapatan sisa (residul income) yang mengurangkan biaya modal terhadap laba operasi. c. Metode Balanced Scorecard (BSC), merupakan alat untuk mengukur

kinerja perusahaan dengan menyeimbangkan faktor-faktor keuangan dan non keuangan dari suatu perusahaan. Mempertimbangkan 4 aspek atau prospektif yakni prospektif keuangan, pelanggan, proses bisnis internal dan proses belajar dan berkembang. d. Metode Radar, merupakan alat untuk menilai kinerja pada perusahaan yang merupakan modifikasi atau penyempurnaan dari metode-metode sebelumnya. Rasio Radar mengelompokkan rasionya menjadi 5 kelompok besar yaitu Rasio Profitabilitas, Produktifitas, Utilitas Aktiva, Stabilitas dan Rasio Pertumbuhan. Dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan, analisis rasio keuangan merupakan metode analisis keuangan yang paling banyak digunakan di Indonesia Hal ini dapat dilihat dari penggunaan Indonesian Capital Market Directory, yang semakin luas sebagai dasar untuk melihat kinerja keuangan perusahaanperusahaan yang tercatat di Pasar Modal Indonesia. Hasil analisis rasio keuangan ini dinyatakan dalam suatu rasio, yaitu suatu besaran yang merupakan perbandingan antara nilai suatu rekening tertentu dalam laporan keuangan dengan nilai rekening yang lainnya. Dalam penerapannya, analisis rasio keuangan memiliki beberapa kelemahan, kemudian analisis ini dikembangkan lebih lanjut menjadi analisis rasio keuangan yang dimodifikasi seperti dikemukakan Warsono (2003; 26) analisis ini berusaha untuk memberikan analisis rasio keuangan klasik

dengan variasi yang lain, yaitu membandingkan antar rekening yang ada dalam laporan keuangan dalam periode waktu yang sama atau membandingkan antara suatu rekening yang sama dengan periode waktu yang berbeda. Dengan cara ini keunggulan dari analisis rasio dapat dilihat berdasarkan besarnya persentase suatu rekening tertentu dengan rekening lainnya, atau melihat perkembangan suatu rekening antar waktu. Untuk melengkapi analisis rasio keuangan kemudian berkembang metode analisis modifikasi baru, dimana metode ini dalam mengukur kinerja dapat secara tepat memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana (kreditur dan pemegang saham). Metode yang dimaksud adalah model Economic Value Added atau EVA (konsep penilaian kinerja) yang di Indonesia lebih dikenal dengan nama konsep Nilai Tambah Ekonomis atau NITAMI. Cara perhitungan berdasarkan model EVA mulai muncul pada 1993, yang dipopulerkan pertama kali oleh sebuah perusahaan konsultan di AS yaitu Stern Steward Management Services (SSMS). Dengan konsep ini akan diketahui berapa sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan sehubungan dengan pemakaian modal usaha. Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat perusahan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan, hal ini merupakan keunggulan EVA dibandingkan dengan metode perhitungan yang lain. Selain itu keunggulan EVA yang lain adalah EVA dapat dipergunakan tanpa memerlukan data pembanding. Namun, EVA juga mempunyai kelemahan yaitu hanya mengukur hasil akhir saja. Penggunaan EVA tetap berguna untuk dijadikan

acuan mengingat EVA memberikan pertimbangan dalam hal biaya modal sebagai kompensasi atas dana yang digunakan untuk membiayai investasi tersebut. Metode yang kedua yaitu MVA yang mempunyai tekanan yang sama dengan EVA yaitu pada kesejahteraan penyandang dana perusahaan. MVA merupakan hasil komulatif dari kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang diantisipasi akan dilakukan. Sehingga peningkatan MVA adalah sebagai keberhasilan memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan aloksi sumber-sumber yang tepat. Dengan demikian MVA merupakan ukuran kinerja eksternal perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan semen, khususnya pada perusahaan perusahaan yang sudah go publik dengan judul Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Dengan Metode Rasio Keuangan, Economic Value Added (EVA) Dan Market

Value Added (MVA) (Studi Pada Perusahaan Semen Yang Go Public).

II. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka untuk mempermudah pembahasan, penulis merumuskan permasalahan tersebut sebagai berikut: a. Apakah kinerja keuangan pada perusahaan semen yang go public

jika diukur dengan menggunakan Rasio Keuangan sehat? b. Apakah kinerja keuangan pada perusahaan semen yang go public

jika diukur dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) sehat?

c.

Apakah kinerja keuangan pada perusahaan semen yang go public

jika diukur dengan menggunakan Market Value Added (MVA) sehat? d. Diantara perusahaan semen yang go public, perusahaan manakah

yang mempunyai kinerja keuangan yang paling sehat?

III. Batasan Penelitian Agar pokok permasalahan yang diteliti tidak melebar terlalu jauh, maka penulis membatasi masalah hanya pada data berupa laporan keuangan dari tahun 2003 s/d tahun 2005 dan menggunakan 3 perusahaan semen yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yaitu PT Semen Gresik (Persero) Tbk, PT Semen Cibinong Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

IV. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan uraian perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan pada perusahaan

semen yang go public, jika diukur dengan Rasio Keuangan. b. Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan pada perusahaan

semen yang go public, jika diukur dengan Economic Value Added (EVA). c. Untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan pada perusahaan

semen yang go public, jika diukur dengan Market Value Added (MVA).

d.

Untuk mengetahui perusahaan mana yang mempunyai kinerja

keuangan yang paling sehat pada perusahaan semen yang go public.

2. Kegunaan Penelitian a. Bagi investor, dapat memberikan tambahan informasi untuk

melakukan investasi pada perusahaan yang diinginkan. b. Bagi kreditur, dapat memberikan tambahan informasi akan

kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajibannya. c. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan hasil penelitian ini dapat

menambah serta memperkaya ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya yang khususnya berhubungan dengan pengukuran kinerja perusahaan.

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. Tinjauan Pustaka A. a) Tinjauan Peneliti Terdahulu Peneliti Pertama Penelitian Heny Fuji Rosyidiana pada tahun 2003, dengan judul Penerapan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) dalam Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT Mandom Indonesia Tbk dan PT Mustika Ratu Tbk. Tabel 1 Perbandingan Nilai EVA dan MVA
PT /Tahun PT Mandom 1999 2000 2001 PT Mustika Ratu 1999 2000 2001 EVA Rp3.599.650.920 (Rp1.913.149.610) Rp4.526.253.470 (Rp599.616.590) (Rp5.376.844.220) (Rp16.169.554.550) MVA Rp103.350.000.000 (Rp120.900.000.000) (Rp245.700.000.000) (Rp64.200.000.000) (Rp133.750.000.000) (Rp144.450.000.000)

11

Sumber : Skripsi Heny Fuji Rosyidiana Hasil analisis data pada PT Mandom Indonesia Tbk dan PT Mustika Ratu Tbk selama tahun 1999-2001 dengan menggunakan metode EVA dan MVA yaitu kinerja PT Mandom Indonesia Tbk jika dinilai dengan metode EVA pada tahun 1999 dan 2001 kinerjanya sehat, sedangkan tahun 2000 kinerjanya tidak sehat. Apabila dinilai dengan metode MVA pada tahun 1999 kinerjanya sehat, sedangkan pada tahun 2000 dan 2001 kinerjanya tidak sehat. Kinerja PT Mustika Ratu Tbk jika dinilai dengan metode EVA, selama tiga tahun kinerjanya tidak sehat. Apabila dinilai dengan metode MVA, selama tiga tahun kinerjanya juga tidak sehat. Diantara kedua perusahaan tersebut yang kinerjanya lebih sehat adalah PT Mandom Indonesia Tbk karena nilai EVA tahun 1999 dan 2001 positif dan MVA tahun 1999 positif, sedangkan PT Mustika Ratu Tbk selama tiga tahun nilai EVA dan MVA negatif. Persamaan dari landasan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dibuat adalah sama-sama menilai kinerja perusahaan menggunakan metode EVA dan MVA, sedangkan perbedaannya adalah pada periode waktu, obyek atau perusahaan dan dalam penelitian ini juga diterapkan metode penilaian kinerja yang lain yaitu analisis rasio keuangan. b) Peneliti Kedua Penelitian Fina Setyarini pada tahun 2003, dengan judul Analisa Penerapan Antara EVA Dengan Rasio Keuangan dalam Menilai Kinerja Perusahaan ( Studi Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di BEJ ).

12

Hasil analisis data penilitian tersebut yaitu jika dilihat dari Rasio keuangan, rata-rata kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun 1998-2000 memiliki angka rasio yang baik, sehingga mempunyai

pertumbuhan yang cukup tinggi atau mempunyai prospek yang bagus pula baik pada saat ini dan di masa mendatang. Dan dilihat dari EVA, rata-rata kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun 1998-2000 hampir semua menunjukkan angka positif, yang berarti perusahaan telah berhasil menciptakan nilai ekonomis dan dapat memenuhi harapan investor. Persamaan dari landasan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dibuat adalah sama-sama menilai kinerja perusahaan menggunakan metode EVA dan Rasio Keuangan, sedangkan perbedaannya adalah pada periode waktu, obyek atau perusahaan dan dalam penelitian ini juga diterapkan metode penilaian kinerja yang lain yaitu MVA. c) Peneliti Ketiga Penelitian Muzayyanah pada tahun 2000, dengan judul Penggunaan Analisis Rasio Finansial dan Konsep EVA (Economic Value Added) Dalam menilai Kinerja Perusahaan pada PT Tancho Indonesia,Tbk. dan PT Unilever Indonesia, Tbk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja perusahaan PT Tancho Indonesia, Tbk. dan PT Unilever Indonesia, Tbk. melalui metode analisis Rasio Finansial dan Metode Economic Value Added. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah, Hasil analisis data penilitian tersebut yaitu jika dilihat dari Rasio keuangan, rata-rata kinerja perusahaan PT Tancho Indonesia, Tbk. dan PT Unilever Indonesia, Tbk pada

13

tahun 1998-2000 memiliki angka rasio yang cukup baik, sehingga mempunyai pertumbuhan yang cukup tinggi atau mempunyai prospek yang bagus pula baik pada saat ini dan di masa mendatang. Berdasarkan pada perhitungan EVA, terlihat bahwa kedua perusahaan tersebut mempunyai kinerja perusahaan yang sehat, karena nilai EVA kedua perusahaan selama dua tahun menunjukkan nilai positif. Nilai EVA PT Tancho Indonesia,Tbk. pada tahun 1997 sebesar Rp2.439.052.000,00 dan pada tahun 1998 nilainya mengalami penurunan menjadi Rp184.880.000,00. Nilai EVA PT Unilever Indonesia, Tbk. Pada tahun 1997 sebesar

Rp70.200.308.000,00 dan pada tahun 1998 nilainya mengalami kenaikan menjadi sebesar Rp74.654.793.000,00. Persamaan dari landasan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dibuat adalah sama-sama menilai kinerja perusahaan menggunakan metode Analisis Rasio Finansial dan EVA, sedangkan perbedaannya adalah pada periode waktu, obyek atau perusahaan dan dalam penelitian ini juga diterapkan metode penilaian kinerja yang lain yaitu MVA.

B. 1.

Landasan Teori Analisis Rasio Keuangan

1) Pengertian Kinerja dan Pengukuran Kinerja Keuangan Kinerja berasal dari kata performance, kinerja dinyatakan sebagai prestasi yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan dari perusahaan tersebut.

14

Pengukuran kinerja adalah penentuan secara periodik tampilan perusahaan yang berupa kegiatan operasional, struktur organisasi, dan karyawan yang berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelummya ( Mulyadi, 1997; 419). Pengukuran kinerja bisa didasarkan pada informasi keuangan maupun non keuangan, oleh sebab itu pengukuran kinerja dibedakan menjadi dua yaitu: a) Pengukuran kinerja manajerial

Pengukuran kinerja manajerial ini bertujuan untuk: a. Mengelola kegiatan operasi perusahaan secara efektif dan efisien dengan pemotivasian karyawan secara maksimum. b. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan karyawan. c. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan. d. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerja mereka. e. Pengukuran kinerja dapat menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan. b) Pengukuran kinerja keuangan Pengukuran kinerja keuangan mempunyai arti yang penting bagi pengambilan keputusan baik bagi pihak intern maupun ekstern perusahaan. Laporan keungan merupakan alat yang dijadikan acuan

15

penilaian untuk meramalkan kondisi keuangan, operasi dan hasil usaha perusahaan. Menurut Mahmud dan Halim, (2003, 75) ukuran kinerja meliputi rasio-rasio berikut : a. Rasio Likuiditas mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kemampuan

perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih. b. Rasio Aktivitas mengukur sejauh mana efektivitas penggunaan aset dengan melihat tingkat aktivitas aset. c. Rasio Solvabilitas mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. d. Rasio Profitabilitas mengukur seberapa kemampuan

perusahaan menghasilkan laba (Profitabilitas). e. Rasio Pasar mengukur perkembangan nilai perusahaan relatif terhadap nilai pasar. Rasio Keuangan sebagai pengukuran kinerja keuangan dalam laporan keuangan perusahaan dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk memprediksi laba bersih dan dividen pada masa yang akan datang. Cara yang digunakan untuk mendukung prediksi tersebut adalah dengan menganalisis laporan keuangan perusahaan. Analisis tersebut

mengkombinasikan hubungan antara komponen keuangan yang satu dengan komponen keuangan yang lain. Pada umumnya, hubungan tersebut

16

dilihat dari rasio antara komponen-komponen keuangan yang satu dengan yang lain. Dalam konteks manajemen keuangan, analisis tersebut dikenal dengan analisis rasio keuangan. Analisis rasio ini berguna untuk membandingkan kinerja perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain atau membandingkan kinerja satu perusahaan pada tahun ini dengan tahun yang lainnya. Pada dasarnya analisis rasio keuangan dikelompokkan ke dalam empat macam kategori, yaitu (Hanafi; 2003: 77-88): a. Rasio Likuiditas Rasio ini mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahan relatif terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban perusahaan). Biasanya rasio yang digunakan adalah current ratio, cash ratio, dan net working capital to total asset ratio. b. Rasio Leverage (Solvabilitas) Rasio ini untuk digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total hutangnya lebih besar dibandingkan total asetnya. Rasio Leverage yang bisaanya digunakan seperti debt to total asset ratio, total debt to total capital asset ratio, total debt to equity ratio, long term debt to equity ratio, dan lain-lain. c. Rasio Aktivitas

17

Rasio ini melihat beberapa aset kemudian menentukan beberapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengahkibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Beberapa rasio yang digunakan misalnya: total asset turn over ratio, receivable turn over ratio, inventory turn over ratio, dan sebagainya. d. Rasio Keuntungan (Profitabilitas) Rasio ini memberikan gambaran tentang kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu pada periode tertentu. Beberapa rasio yang sering digunakan adalah gross profit margin, net profit margin, return on total asset (ROA), dan sebagainya (Sadarachman diambil dari Hanafi; 1995: 262). 2) Kegunaan Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan tidak hanya berguna bagi kepentingan intern dan ekstern perusahaan. Bagi para bankir berguna untuk mempertimbangkan pemberian kredit jangka pendek maupun kredit jangka panjang kepada perusahaan, untuk itu para bankir lebih tertarik pada rencana jangka pendek, likuiditas, kemampuan memperoleh laba, tingkat efisiensi operasional dan solvabilitas. Bagi para kreditur jangka panjang lebih tertarik pada kemampuan laba dan tingkat efisiensi operasional. Sedangkan bagi para penanam modal lebih tertarik pada

18

kemampuan memperoleh laba jangka panjang dan tingkat efisiensi perusahaan. Bagi manajer keuangan tentu saja sangat berkepentingan dengan semua aspek rasio keuangan, karena harus mampu membayar hutang jangka pendek, mampu membayar hutang jangka panjang, mampu meningkatkan efisiensi perusahaan, mampu memaksimalkan nilai

perusahaan dan mampu memperoleh laba untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham.

3) Kelemahan Analisis Rasio Keuangan Meskipun analisis rasio dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat tentang operasi dan keuangan perusahaan, tetapi mempunyai kelemahan menurut Warsono (2003; 25) yaitu : a. Kadang sulit untuk mengidentifikasi kategori industri dengan perusahaan berada jika perusahaan beroperasi dalam beberapa bidang usaha. b. Angka rata-rata industri yang diterbitkan hanya merupakan perkiraan saja dan hanya memberikan panduan umum, karena bukan merupakan hasil penelitian ilmiah dari seluruh perusahaan dalam industri maupun sampel yang cocok dari beberapa perusahaan dalam industri. c. Rasio keuangan dapat terlalu tinggi atau terlalu rendah. d. Rata-rata industri mungkin tidak memberikan target rasio atau norma yang diinginkan. Rata-rata industri hanya dapat memberikan

19

panduan atas posisi keuangan perusahaan rata-rata dalam industri. e. Banyak perusahaan mengalami situasi musiman dalam kegiatan operasinya sehingga pos neraca dan rasionya akan berubah sepanjang tahun saat laporan disiapkan. 4) Analisis Rasio Keuangan atas Laporan Keuangan Laporan keuangan menjadi penting karena memberikan input informasi yang bisa dipakai untuk pengambilan keputusan. Banyak pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, mulai dari investor atau calon investor sampai dengan manajemen perusahaan itu sendiri. Laporan keuangan akan memberikan informasi mengenai likuiditas, profitabilitas, timing aliran kas, yang kesemuanya akan mempengaruhi banyak pihak-pihak yang berkepentingan. Harapan tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Dalam laporan keuangan, angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan baik tidaknya. Untuk itu diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat baik tidaknya angka yang dicapai oleh perusahaan, oleh karena itu diperlukan analisis rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Rata-rata industri bisa dan biasa digunakan sebagai pembanding. Meskipun rata-rata industri ini bukan merupakan

pembanding yang paling tepat karena beberapa hal, misalnya karena perbedaan karakteristik rata-rata perusahaan dalam industri dengan perusahaan tersebut. Tetapi rata-rata industri tetap bisa dipakai untuk perbandingan (Hanafi; 2003:70).

20

2.

Economic Value Added (EVA)

1) Pengertian EVA Menurut Young dan OByrne (2001: 18) EVA merupakan alat komukasi yang efektif baik untuk penciptaan nilai yang dapat dijangkau oleh manajer lini yang akhirnya mendorong kinerja perusahaan dan untuk menghubungkan dengan pasar modal.

Ide dasar dari EVA adalah pengemasan ulang dari manajemen perusahaan yang dapat dipercaya dan prinsip keuangan yang pernah ada. Namun EVA merupakan inovasi terpenting karena ia membuat teori keuangan moderen. Implikasi manajerial dari teori ini adalah mudah diakses oleh menejer perusahaan yang tidak terlatih dengan baik dalam keuangan atau tidak pernah memikirkannya. EVA membantu para manajer untuk lebih memahami tujuan keuangan, dan dengan demikian membantu mereka untuk mencapai tujuan. EVA tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri dan tidak pula membuat suatu analisa kecenderungan dengan tahun-tahun sebelumnya. Konsep ini lebih menekankan pada penentuan besarnya cost of capital. Diperhitungkannya biaya modal atas ekuitas merupakan keunggulan pendekatan EVA dibanding pendekatan akuntansi tradisional dalam mengukur kinerja perusahaan.

21

Economic Value Added (EVA) atau disebut juga dengan nilai tambah ekonomis (NITAMI) diartikan sebagai suatu konsep yang dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam pengukuran laba operasi perusahaan harus dengan adil mempertimbangkan harapan harapan setiap penyedia dana (kreditur dan pemegang saham). Derajat keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang dan struktur modal yang ada (Widayanto, 1993:51) Economic Value Added (EVA) adalah keuntungan operasi setelah pajak dikurangi dengan biaya modal dari seluruh modal untuk menghasilkan laba. Laba operasional setelah pajak menggambarkan hasil penciptaan nilai (value) didalam perusahaan, sedangkan biaya modal dapat diartikan sebagai pengorbanan yang dikeluarkan dalam penciptaan nilai tersebut (Steward, 1997:10). Berdasarkan pendapat pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian Economic Value Added (EVA) adalah keuntungan operasional setelah pajak, dikurangi biaya modal yang digunakan unntuk menilai kinerja perusahaan dengan memperhatikan secara adil harapan harapan para pemegang saham dan kreditur. Economic Value Added (EVA) merupakan perangkat finansial untuk mengukur keuntungan nyata perusahaan. Hal ini membuat perhitungan Economic Value Added (EVA) lain dengan perhitungan analisis rasio keuangan lainnya. Perbedaan tersebut dikarenakan pada perhitungan dengan menggunakan pendekatan Economic Value Added (EVA) dilibatkannya biaya modal operasi setelah

22

laba bersih, dimana hal tersebut tidak dilakukan dalam perhitungan konvensional. Setiap perusahaan tentunya menginginkan nilai Economic Value Added (EVA) akan naik terus-menerus, karena Economic Value Added (EVA) adalah tolok ukur fundamental dari tingkat pengembalian modal (return of capital). Ada beberapa cara untuk meningkatkan nilai Economic Value Added (EVA) perusahaan yaitu (Widayanto, 1993:32-33): a. Meningkatkan keuntungan (profit) tanpa menambah modal b. Mengurangi pemakaian modal c. Melakukan investasi pada proyek proyek dengan tingkat pengembalian tinggi. Konsep ini tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri dan tidak perlu membuat analisis kecenderungan dengan tahun tahun sebelumnya. Konsep ini lebih menekankan pada seberapa besar laba yang dihasilkan setelah dikurangi dengan biaya modal rata rata tertimbang. Metode Economic Value Added (EVA) sebagai Alat Ukur Kinerja Perusahaan Konsep Economic Value Added (EVA) ini tidaklah dimaksudkan untuk mengganti laporan rugi laba yang telah ada. Namun pendekatan ini hanyalah alat analisis yang digunakan sebagai tambahan informasi keuangan yang sangat berguna bagi pihak kreditur dan penyedian dana dalam menentuakan hubungannya dengan perusahaan. Bagi eksekutif hasil pengukuran kinerja dengan metode Economic Value

23

Added (EVA) seringkali digunakan untuk pengendalian serta sebagai alat yang sangat berguna didalam pengambilan keputusan keputusan strategis. Analisis Economic Value Added (EVA) ini mencoba melihat dari segi ekonomis dalam pengukuran kinerja perusahaan dengan adil atas dasar konsep kepuasan stakeholder (seluruh anggota perusahaan), bentuknya adalah dengan mempertimbangkan harapan harapan karyawan, pelanggan, dan pemberi modal (investor/pemegang saham). Derajat keadilannya adalah ditunjukkan oleh biaya modal rata rata tertimbang dan berpedoman terhadap nilai pasar. EVA adalah sisa laba (residual income, excess earning) setelah penyedia modal memberikan kompensasi sesuai tingkat pengembalian (rate of return) yang dibutuhkan atau setelah semua biaya kapital yang digunakan untuk menghasilkan laba. Yang dimaksud dengan laba disini adalah Net Operating Profit After Tax (NOPAT) yaitu laba operasi bersih sesudah pajak. Sedangkan biaya kapital adalah biaya bunga pinjaman dari biaya ekuitas yang digunakan untuk menghasilkan NOPAT yang dihitung secara rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital = WACC). EVA yang positif menunjukkan bahwa perusahaan berhasil menciptakan nilai (create value) bagi pemilik modal, konsisten dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan. Sebaliknya EVA yang negatif menandakan nilai perusahaan berkurang sebagai akibat tingkat

pengembalian yang dituntut investor.

24

2) Manfaat EVA Manfaat dari penerapan EVA antara lain (Utama, 1997; 12) : a. Dapat digunakan sebagai penilai kinerja perusahaan yang berfokus pada penciptaan nilai (value creation). b. Dapat meningkatkan kesadaran manajer bahwa tugas mereka adalah untuk memaksimumkan nilai perusahaan serta nilai pemegang saham. c. Dapat membuat para manajer berfikir dan juga bertindak seperti halnya pemegang saham yaitu memilih investasi yang

memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat dimaksimumkan. d. EVA membuat para manajer agar memfokuskan perhatian pada kegiatan yang menciptakan nilai dan memungkinkan mereka untuk mengevaluasi kinerja berdasarkan kriteria maksimum nilai perusahaan. e. EVA sebagai motivator perusahaan untuk lebih memperhatikan kebijaksanaan struktur modalnya. f. EVA dapat digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi proyek atau kegiatan yang memberikan pengembalian yang lebih tinggi dari pada biaya modal. 3) Keunggulan dan Kelemahan EVA Economic Value Added (EVA) sebagai alternatif pengukuran kinerja perusahaan yang relatif baru, memiliki beberapa keunggulan dan

25

kelemahan (Utama, 1997: 10). Keunggulan yang dimiliki metode Economic Value Added (EVA) antara lain: a. Konsep Economic Value Added (EVA) merupakan alat ukur yang dapat berdiri sendiri tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam satu industri, dan tidak perlu pula membuat suatu analisis kecenderungan dengan tahun tahun sebelumnya. b. Konsep Economic Value Added (EVA) adalah pengukur kinerja perusahaan yang melihat segi ekonomis dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan harapan pada pemilik modal (kreditur dan pemegang saham) secara adil. Dimana derajat keadilannya dinyatakan dalam ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar, bukan nilai buku. c. Konsep Economic Value Added (EVA) dapat dipakai sebagai tolok ukur dalam pemberian bonus bagi karyawan. Disamping itu Economic Value Added (EVA) juga merupakan tolok ukur yang tepat untuk memenuhi konsep kepuasan stakeholder yakni bentuk perhatian perusahaan kepada karyawan, pelanggan dan pemberi modal (kreditur dan investor). d. Walaupun konsep Economic Value Added (EVA) berorientasi pada kinerja operasional akan tetapi sangat berpengaruh untuk dipertimbangkan dalam penentuan arah strategis perkembangan portofolio perusahaan.

26

Disamping keunggulan keunggulan yang dimiliki oleh Economic Value Added (EVA) terdapat pula beberapa kelemahan EVA (Mirza, 1997 ; 68) : a. EVA hanya mengukur hasil akhir (result), konsep ini tidak mengukur aktivitas-aktivitas penentu seperti loyalitas dan tingkat retensi konsumen. b. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan

mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham-saham tertentu, padahal faktor-faktor lain terkadang justru lebih dominan. c. Konsep ini tergantung pada transparansi perhitungan EVA secara akurat, dalam kenyataanya seringkali perusahaan kurang transparan dalam mengemukakan kondisi internalnya. 4) Strategi Meningkatkan EVA Ada beberapa strategi untuk meningkatkan EVA: a. Strategi penciptaan nilai dengan mencapai pertumbuhan

keuntungan (Profitable Growth), hal ini bisa dicapai dengan menambah modal yang diinvestasikan pada proyek dengan tingkat pengembalian tinggi. b. Strategi penciptaan nilai dengan meningkatkan efisiensi operasi dalam hal ini menaikkan keuntungan tanpa menggunakan tambahan modal.

27

c. Strategi penciptaan nilai dengan rasionalisasi dan keluar dari bisnis yang tidak menjanjikan (rationalize and exit unrewording business). Hal ini berarti menarik modal yang tidak produktif dan menarik modal dari aktivitas yang menghasilkan tingkat pengembalian yang rendah dan menghapus unit bisnis yang tidak menjanjikan hasil. 5) Langkah-langkah Menentukan EVA Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan EVA menurut (Rousana, 1997; 19) : a. Menghitung biaya modal utang (Cost of Debt) b. Menghitung biaya modal saham (Cost of Equity) c. Menghitung struktur permodalan dari neraca. Struktur modal biasanya terdiri dari utang dan ekuitas, sehingga dicari: Komposisi utang = rasio utang terhadap jumlah modal Komposisi utang = rasio modal saham terhadap jumlah modal d. Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital) e. Menghitung EVA EVA = laba operasi bersih sesudah pajak (NOPAT) biaya modal. 6) Tolok Ukur Penilaian Kinerja Keuangan dalam EVA Dalam EVA, penilaian kinerja keuangan diukur dengan ketentuan: a. Jika EVA > 0, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dikatakan baik, karena perusahaan bisa menambah nilai bisnis. Dalam hal ini, karyawan berhak mendapat bonus, kreditur tetap mendapat bunga dan

28

pemilik saham bisa mendapatkan pengembalian yang sama atau lebih dari yang ditanam. b. Jika EVA = 0, maka secara ekonomis impas karena semua laba digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham, sehingga karyawan tidak mendapat bonus hanya gaji. c. Jika EVA < 0, maka kinerja keuangan perusahaan tersebut dikatakan tidak sehat, karena perusahaan tidak bisa memberikan nilai tambah. Dalam hal ini karyawan tidak bisa mendapatkan bonus hanya saja kreditur tetap mendapat bunga dan pemilik saham tidak mendapat pengembalian yang sepadan dengan yang ditanam.

3.

Market Value Added (MVA) Menurut Warsono (2003: 47) tujuan utama manajemen keuangan

perusahaan adalah memaksimumkan kemakmuran bagi para pemegang sahamnya. Tujuan ini jelas bermanfaat bagi para pegang saham biasa, dan itu juga menjamin bahwa sumberdaya yang terbatas dialokasikan secara efesien. Kemakmuran bagi para pemegang saham dapat dimaksimumkan dengan memaksimumkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas dengan jumlah modal ekuitas yang dipasok oleh para investor kepada perusahaan. Perbedaan ini disebut sebagai nilai tambah pasar (Market Value Added/MVA). Sedangkan menurut Sartono (2001: 103) tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Selain memberi

29

manfaat bagi pemegang saham, tujuan ini juga menjamin sumber daya perusahaan yang langka dialokasikan secara efesien dan memberi manfaat ekonomi. Kemakmuran pemegang saham dimaksimalkan dengan

memaksimalkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor pemegang saham. Kenaikan ini disebut Market Value Added (MVA). Ruky (1999: 350) menyatakan bahwa MVA adalah hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan. MVA mencerminkan seberapa sukses investasi baru di masa datang. Manfaat dari MVA disamping untuk mengukur kinerja perusahaan adalah juga untuk mengukur nilai perusahan yang berhasil diciptakan nilai perusahaan dalam kaitannya dengan pasar modal akan tampak pada harga saham perusahaan yang bersangkutan. Sebagian besar perusahaan memiliki tujuan utama untuk

memaksimalkan kekayaan pemegang saham (investor). Tujuan ini jelas menguntungkan pemegang saham, tetapi juga bermaksud untuk memastikan bahwa sumber daya yang terbatas telah dialokasikan secara efisien yang menguntungkan perekonomian. Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan

memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dengan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan ini disebut nilai tambah pasar (Market Value Added) (Brigham dan Houston, 2001:150). Nilai

30

Market Value Added dapat dihitung dengan rumus (Young dan OByrne, 2001: 26): MVA = Nilai pasar Ekuitas Modal ekuitas yang diinvestasikan investor MVA t = P t .Q t - P 0.Q t Keterangan: P t = Harga pasar saham per lembar Q t = Jumlah lembar saham yang beredar pada tahun t P 0 = Harga pasar saham per lembar saat penawaran perdana Tolok ukur Market Value Added adalah: a. MVA positif, berarti pihak manajemen perusahaan telah mampu meningkatkan kekayaan perusahaan dan para pemegang saham atau bisa dikatakan kinerja perusahaan tersebut sehat. b. MVA negatif, berarti pihak manajemen tidak mampu atau telah menurunkan kekayaan perusahaan dan kekayaan para pemegang saham, atau bisa dikatakan bahwa kinerja perusahaan tidak sehat. Manfaat dari Market Value Added yang dapat diaplikasikan pada perusahaan, antara lain: a. Sebagai alat mengukur nilai tambah dari perusahaan guna meningkatkan kesejahteraan bagi pemegang saham. b. Dengan MVA investor dapat melakukan tindakan antisipasi sebelum mengambil keputusan investasi. c. MVA dapat dijadikan sebagai alat pengukur atau penilaian peningkatan kekayaan para pemegang saham perusahaan.

31

C.

Kerangka Pikir Gambar 1

Rasio Keuangan, EVA dan MVA Dalam Mengukur Kinerja Perusahaan Semen
PT Semen Gresik (Persero)Tbk PT Semen Cibinong Tbk PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Laporan R/L, Neraca, IHSG, Bunga Obligasi, SBI, Harga Penutupan Saham.
Rasio Keuangan

EVA 1. Biaya modal hutang 2. Biaya modal saham 3. WACC

MVA MVA = Nilai pasar ekuitas modal ekuitas yang diinvestasikan investor.

1.

Rasio Likuiditas 2. Rasio Leverage 3. Rasio

Analisis Cross Sectional Approach dan Time Series Analysis Hasil Sehat, Cukup sehat, Tidak sehat 32

Berdasarkan Gambar 1, kerangka pikir pada penelitian ini menjelaskan bahwa untuk mengetahui kondisi kinerja keuangan perusahaan semen, sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PT Semen Gresik (Persero)Tbk, PT Semen Cibinong Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan menggunakan 3 alat analisis yaitu analisis rasio keuangan, EVA dan MVA. Pertama, Analisis rasio keuangan merupakan suatu teknik analisis yang dalam banyak hal mampu memberikan petunjuk atau indikator dalam berbagai kondisi untuk periode sekarang dan periode mendatang yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Kedua, Economic Value Added (EVA) merupakan suatu teknik analisis yang memperhitungkan keuntungan operasi setelah pajak dikurangi dengan biaya modal dari seluruh modal untuk menghasilkan laba yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan dengan memperhatikan secara adil harapan harapan para pemegang saham dan kreditur. Ketiga, Market Value Added (MVA) adalah hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan untuk kemakmuran pemegang saham, dengan memaksimalkan kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor pemegang saham. Ketiga alat perhitungan tersebut dianalisis dengan Cross Sectional Approach, dengan cara membandingkan rasio-rasio perusahaan yang satu

33

dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan atau dengan rasio rata-rata industri. Time Series Analysis, dengan cara membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari suatu periode ke periode lainnya, sehingga dapat diketahui bagaimana kondisi kinerja keuangan perusahaan semen jika diukur dengan metode rasio keuangan, EVA dan MVA, apakah kondisi kinerja keuangan sudah sehat dan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh pemegang saham dan kreditur.

D.

Hipotesis Berdasarkan latar belakang masalah, tujuan penelitian dan tinjauan

pustaka, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut : kinerja keuangan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, PT Semen Cibinong Tbk, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sehat jika diukur dengan metode Analisis Rasio Keuangan, EVA dan MVA.

34

BAB III METODE PENELITIAN

A.

Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah Deskriptif, yaitu penelitian yang

bertujuan untuk menyusun gambaran atau fenomena suatu permasalahan secara detail dan sistematis (Poerwanti, 2000: 24).

B. 1.

Jenis dan Sumber Data Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dokumenter

yaitu jenis data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak lain, yang biasanya dalam bentuk publikasi atau jurnal. 2. Sumber Data

35

Dalam melakukan penelitian ini penulis memperoleh data dari sumber data sekunder yaitu neraca dan laporan laba rugi yang diterbitkan oleh perusahaan semen yang tercatat di Bursa Efek Jakarta. Data penelitian ini diperoleh dari internet dan pojok BEJ (JSX corner) Universitas

Muhammadiyah Malang.

C.

Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melihat dan mempelajari dokumen-dokumen dan catatan-catatan tentang perusahaan yang diteliti, seperti neraca, laporan laba/rugi dan data tentang saham.

D. 1.

Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah kelompok dimana seorang peneliti akan memperoleh

hasil penelitian yang dapat disamaratakan (digeneralisasikan). Populasi yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah perusahaan semen yang go publik di Indonesia, yang listing dan aktif dalam transaksi penjualan di Bursa Efek Jakarta (BEJ). 2. Sampel

36

Sampel adalah suatu sub kelompok dari populasi yang dipilih dalam penelitian. Penentuan sampel menggunakan teknik non random sampling dengan jenis sensus sampling yaitu teknik yang menggunakan semua populasi dalam pengambilan sampelnya, disamping mempunyai kriteria sebagai perusahaan semen yang go publik dan memiliki laporan keuangan lengkap selama periode 2003-2005 yaitu pada perusahaan PT Semen Gresik (Persero) Tbk, PT Semen Cibinong Tbk dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

E.

Definisi Operasional Variabel Kinerja perusahaan pada dasarnya menjadi acuan dalam mengelola atau

menilai sehat atau tidaknya suatu perusahaan. Suatu perusahaan dapat berjalan dengan baik dikarenakan suatu kinerja perusahaan yang baik pula sehingga dapat memenuhi harapan harapan para pemegang saham dan kreditur. Variabel-variabel yang diteliti diantaranya: 1. Analisis Rasio

a. Rasio Likuiditas Rasio ini dipakai untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendeknya dengan segera. Termasuk rasio ini antara lain adalah: Current Ratio

37

Merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Rasio menunjukkan kesanggupan membayar hutang jangka pendek. Aktiva Lancar Current Ratio =Hutang Lancar Quick Ratio Merupakan perbandingan antara aktiva lancar (kecuali persediaan) dengan hutang lancar. Rasio ini merupakan Rasio Likuiditas yang lebih ketat dari pada Current Ratio. Persediaan dianggap aktiva lancar kurang likuid, sebab harus melalui dua tahap untuk menjadi kas (persediaan dijual kemudian menjadi piutang, piutang dikumpulkan baru menjadi kas). Aktiva Lancar - Persediaan Quick Ratio = Hutang Lancar x 100%

x 100%

Pada Current Ratio, semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek, tetapi jika terlalu tinggi, efeknya terhadap earning power kurang baik karena tidak semua modal kerja dapat digunakan. Pada Quick Ratio elemen-elemen aktiva lancar selain inventory dianggap paling likuid untuk menjamin pembayaran hutang pada saat jatuh tempo. Kreditur akan mempertimbangkan rasio ini dalam memberikan kreditnya. b. Rasio Leverage (Solvabilitas) Rasio ini mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam perusahaan dari kreditur. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban

38

finansialnya. Baik jangka panjang maupun jangka pendeknya. Yang temasuk rasio ini adalah : Total Debt to Total Asset Ratio Merupakan perbandingan antara hutang dengan total aktiva. Rasio ini mengungkapkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansial. Total Hutang Debt to Asset Ratio =Total Aktiva x 100%

Total Debt to Equity Ratio Merupakan perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri.

Rasio ini menunjukkan berapa nilai jumlah modal sendiri yang disediakan untuk membayar hutang. Total Hutang Debt to Equity Ratio = Total Modal c. Rasio Profitabilitas Rasio ini digunakan untuk mengungkapkan kemampuan x 100 %

perusahaan dalam menghasilkan laba, yang termasuk rasio ini adalah: % Net Profit Margin Laba Bersih Setelah Pajak = Penjualan x 100 % Laba Sebelum Bunga & Pajak Gross Profit Margin = Penjualan x 100

39

Return On Assets Return On Equity

Laba Bersih Setelah Pajak = Total Aktiva Laba Bersih Setelah Pajak = Modal Sendiri

x 100 % x 100 %

d. Rasio Aktivitas Rasio ini untuk menggunakan seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber-sumber dana sebagai mana digariskan oleh kebijaksanaan perusahaan. Yang termasuk rasio ini adalah: Penjualan Bersih Total Assets Turn Over Total Aktiva = Penjualan Bersih . Fixed Assets Turn Over = Tetap Bersih Aktiva Penjualan Kredit Receivable Turn Over = Piutang Harga Pokok Penjualan Inventory Turn Over Rata-rata Persediaan = Economic Value Vaded (EVA)

2.

Dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : 1) Menghitung biaya modal utang (cost of debt) Menurut Weston dan Brigham (1990:104) biaya modal utang dapat ditentukan sebagai berikut: a. Biaya Utang Sebelum Pajak (before tax cost of debt) Biaya utang sebelum pajak (Kd) diformulasikan sebagai berikut: Kd = Beban Bunga Kewajiban Jangka Panjang x100%

Keterangan:

40

Kd = Biaya utang sebelum pajak b. Biaya Utang Setelah Pajak (after tax cost debt) Biaya utang setelah pajak (Ki) dapat dihitung sebagi berikut: K i = K d (1 T) Keterangan: K i = Biaya utang setelah pajak Kd = Biaya utang sebelum pajak T = Tarif pajak 2) Menghitung biaya modal saham dengan pendekatan CAPM Menurut Warsono (2002;147). Biaya modal saham dapat ditentukan sebagai berikut: K s = Rf + ( Rm - Rf ) Keterangan: Ks = biaya laba ditahan Rf = tingkat pengembalian atas suatu aktiva bebas risiko = beta, pengukur risiko sistematis saham Rm = tingkat pengembalian pasar Adapun rumus perhitungan besarnya beta berdasarkan pendekatan regresi adalah: = n xy ( x)( y) n x 2 ( x)
2

Keterangan: n = Banyaknya periode pengamatan

41

x = Tingkat hasil pengembalian dari portofolio pasar ( R m ) y = Tingkat hasil pengembalian saham individual ( R i ) Untuk mengetahui tingkat hasil pengembalian dari portofolio pasar ( Rm) Rm t = IHSG t IHSG t 1 IHSG t 1

Keterangan: Rm t IHSG t = Tingkat hasil pengembalian dari portofolio pasar periode t = Indeks harga saham gabungan periode t

IHSG t 1 = Indeks harga saham gabungan sebelum periode t Untuk mengetahui tingkat pengembalian saham individual ( R i ) Ri =

( Pi t Pi t 1 ) + Di t
Pi t 1

Keterangan: Ri = Tingkat hasil pengembalian saham I pada periode t Pi t = Harga saham I pada periode t Pi t 1 = Harga saham I sebelum periode t Di t = Deviden pada periode t (Widayanto, 1993: 53) 3) Menghitung struktur permodalan dari neraca Struktur modal biasanya terdiri dari utang dan modal saham, sehingga dicari: komposisi utang = rasio utang terhadap jumlah modal.

42

komposisi ekuitas = rasio modal saham terhadap jumlah modal 4) Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) Menurut Young dan OBryne (2001; 149) rumus biaya modal rata-rata tertimbang dapat dihitung sebagai berikut: WACC = Utang Ekuitas (Bi Utang)(1 - T) + Bi Ekuitas Pembiayaan Total Pembiayaan Total

Adapun rumus lain yang digunakan untuk menghitung WACC (Weston and Brigham,1994:116) WACC = Wd . Kd (1 T) + Ws . Ks Keterangan: Wd = Bobot dari hutang Kd = Tingkat biaya modal hutang sebelum pajak T = Tingkat pajak yang berlaku Ws = Bobot dari saham biasa Ks = Tingkat biaya modal saham biasa 5) Menghitung EVA Menurut Young dan OBryne (2001;32), EVA dihitung sebagai berikut: EVA = NOPAT Biaya Modal Keterangan: EVA = Economic Value Added (Nilai Tambah Ekonomis) NOPAT = Net Operating After Taxes (Laba Operasi Setelah Pajak) Biaya Modal = WACC x Total Modal 3. Market Value Added (MVA)

43

a. Menghitung nilai kapitalisasi pasar saham = Harga pasar saham x jumlah saham beredar = P t .Q t b. Menghitung MVA = Nilai pasar ekuitas modal ekuitas yang diinvestasikan investor = P t .Q t P 0.Q t Keterangan: P t = harga saham pada periode t Q t = jumlah saham pada periode t P 0 = harga saham pada saat penawaran perdana

F. Dalam

Teknik Analisis Data penelitian ini ada dua cara yang dilakukan dalam

membandingkan kinerja keuangan perusahaan antara lain : 1. Cross Sectional Approach dengan

menggunakan uji analisis data perbedaan rata-rata. Cross Sectional Approach merupakan suatu cara mengevaluasi unsur-unsur neraca dan laporan laba/rugi dengan cara membandingkan rasio-rasio perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya yang sejenis pada saat yang bersamaan atau dengan rasio rata-rata industri. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa baik atau buruk suatu

44

perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industrinya. 2. uji analisis data angka indeks. Time Series Analysis adalah suatu cara mengevaluasi unsur-unsur neraca dan laporan laba/rugi dengan jalan membandingkan rasio-rasio keuangan perusahaan dari suatu periode ke periode lainnya. Perbandingan antara rasio yang dicapai saat ini dengan rasio-rasio pada masa lalu akan memperlihatkan apakah perusahaan dapat dilihat dari trend tahun ke tahun, sehingga dengan melihat perkembangan ini perusahaan dapat membuat rencana-rencana untuk masa depannya. (Syamsuddin, 2002:39) Time Series Analysis dengan menggunakan

G.

Uji Hipotesis

Analisis Rasio Keuangan a. Rasio Likuiditas Jika CR it CR it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat

dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika QR it QR it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat

dinyatakan sehat atau sebaliknya. b. Rasio Leverage (Solvabilitas)

45

Jika DTTA it DTTA it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya.

Jika DTE it DTE it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya.

c. Rasio Profitabilitas Jika GPM it GPM it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika NPM it NPM it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika ROA it ROA it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika ROE it ROE it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya.

d. Rasio Aktivitas Jika TATO it TATO it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika FATO it FATO it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya. Jika RTO it RTO it 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya.

46

Jika ITit ITit 1 ,maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat atau sebaliknya.

EVA Jika EVA > EVA, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat. Jika EVA < EVA, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan tidak sehat. MVA Jika MVA > MVA, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan sehat. Jika MVA < MVA, maka kinerja keuangan perusahaan dapat dinyatakan tidak sehat.

Daftar Pustaka

Eugene, Brigham and Joel Houston. 2001. Fundamentals Of Financial Management. Eighth Edition, Diterjemahkan oleh Herman Wibowo, Manajemen Keuangan, Edisi kedelapan, Erlangga, Jakarta. Hanafi, M. Mamduh Dr, MBA, dkk. 1995. Analisis laporan Keuangan, Edisi Revisi; UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

47

_____, M Mamduh dan Abdul Halim. 2003. Analisis Laporan Keuangan, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Mahmud, Abdul Halim. 2003. Analisis Laporan Keuangan, Cetakan Pertama, UPP STIE YKPN, Yogyakarta. Mirza, Teuku. 1997. EVA Sebagai Alat Penilai, Usahawan No.4, XXVI. Stewart, G Bennet, Stern, Joel M. 1997. EVA sebagai Alat Penilai; Majalah Usahawan, No.04 / Th XXVI / April. Mulyadi. 1997. Akuntansi Manajemen, Konsep, Manfaat dan Rekayasa, Edisi Kedua, STIE YKPN, Yogyakarta. Riyanto, Bambang. 1997. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4, BPFE, Yogyakarta. Rosyidiana, Heny F. 2003. Penerapan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) dalam Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT Mandom Indonesia Tbk dan PT Mustika Ratu Tbk. Skripsi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang. Rousana, Mike. 1997. Memanfaatkan EVA Untuk Menilai Perusahaan di Pasar Modal Indonesia, Majalah Usahawan No.4 TH XXVI (April): 18-20. Sartono, A. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi 3, BPFE, Yogyakarta. Setyarini, Fina. 2003. Analisa Penerapan Antara Eva Dengan Rasio Keuangan dalam Menilai Kinerja Perusahaan ( Studi Pada

48

Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di BEJ ). Skripsi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang. Syamsudin, Lukman. 2002. Manajemen Keuangan Perusahaan. PT. Raja Grafindo. Jakarta. Utama, Sidartha. 1997. Economic Value Added, Pengukur Penciptaan Nilai Perusahaan. Majalah Usahawan no 04 th XXVI, April. Warsono. 2002. Manajemen Keuangan Perusahaan, Jilid I, Edisi Kedua, Cetakan Pertama. Penerbit UMM Press, Malang. _______. 2003. Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi Ketiga, Bayumedia, Malang. Weston, J.F dan E.F. Brigham. 1994. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Terjemahan Al Fonsus Sirait, Jilid 1, Edisi Kesembilan, Cetakan Pertama, Penerbit Erlangga, Jakarta. ______, J.F dan T.E. Copeland. 1997. Management Finance, Alih bahasa Jaka Wibisana dan Kirkbrandoko; Manajemen Keuangan, Jilid I dan II, Edisi ke-9, Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta. Widayanto, Gatot. 1993. Nitami / EVA, Suatu Terobosan Baru dalam Pengukuran Kinerja Perusahaan, Majalah Usahawan No. 12 TH XXII: 50-51.
Young, S. David and Stephen OByrne. 2001. EVA and Value-Based

Management: A pratical Guide to Implementation, Diterjemahkan oleh Lusy Widjaja.. Salemba Empat, Jakarta. www.bi.go.id

49

www.indoexchange.com www.jsx.com www.kompas.com www.pikiranrakyat.com

50