Anda di halaman 1dari 3

Dalam dunia Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), dikenal istilah segitiga api.

Seperti halnya cinta segitiga, sebenarnya istilah ini tidak ada sangkut pautnya dengan segitiga yang kita kenal dalam matematika. Dalam bahasa Inggris disebut Fire Triangle, terjemahannya yang lebih tepat mungkin segitiga kebakaran. Tapi kebakaran juga sering diteriakkan: Api! Api!, kan? Maksud dari segitiga api ialah: perlu tiga komponen untuk menyebabkan nyala api atau kebakaran. Bila salah satu saja tidak ada, tak akan ada nyala api atau kebakaran. Ketiga komponen itu adalah: bahan bakar, udara, dan pemicu.

Api akan timbul ketika bahan bakar, oxidizer dan sumber api sudah menyatu atau tercampur pada tingkat tertentu. Ini membuktikan bahwa api tidak dapat terjadi apabila : 1. Tidak terdapat bahan bakar atau bahan bakar tidak cukup untuk menimbulkan api. 2. Tidak terdapat oxidizer atau oxidizer tidak cukup untuk menimbulkan api.

3. Sumber api tidak memiliki energi yang cukup untuk menimbulkan api. Bermacam-macam bahan bakar, oxidizer dan sumber api umumnya terdapat pada industri kimia, diantaranya :

Padat Cair : : plastik, serbuk bensin,

Bahan kayu, aseton, fiber, partikel eter,

bakar logam pentana

Gas : asitilen, propana, metana, karbon monoksida, hidrogen Padat Cair : : hidrogen metal peroksida, peroksida, asam nitrat, amonium asam Oxidizer nitrit. perklorat

Gas : oksigen, flourine, klor, flour Korek api, listrik statis, puntung rokok,dll. Sumber api

Bila salah satu dari yang tiga tersebut di atas tidak ada, maka tak akan ada nyala atau kebakaran. Selain itu, komposisi atau kadar bahan bakar di udara harus pada kondisi tertentu, baru bisa dipicu untuk menyala. Elpiji dapat dinyalakan bila konsentrasinya di udara berada antara 2% sampai 10%. Bila kurang dari 2%, atau lebih dari 10%, Elpiji tidak dapat dipicu untuk menyala. Energi yang diperlukan untuk menyalakannya pun berbeda-beda. Pada suhu yang rendah dan konsentrasi Elpiji yang lebih tinggi, energi untuk menyalakannya perlu lebih besar. Para pendaki gunung pasti pernah mengalami kesulitan menyalakan kompor atau lentera gas dengan pemantik

kuarsa. Bunga api terlihat meletik, tetapi gas tak mau menyala. Diperlukan batu geretan atau korek api kimia untuk menyalakan gas pada cuaca dingin. Nyala api adalah indikasi terjadinya reaksi oksidasi, yaitu bergabungnya oksigen dengan bahan bakar, membentuk dua zat lain (air dan karbon dioksida), seraya mengeluarkan panas. Kalau reaksinya tidak sempurna, hasilnya bukan Cuma air dan CO2, tetapi ada serombongan zat lain, yang berguna maupun yang beracun, yang dihasilkan. Reaksi oksidasi yang sempurna tidak berwarna, tapi bisa terlihat sebagai warna biru. Bila api berwarna merah, artinya ada kekurangan oksigen, atau terlalu banyak bahan bakar. Ini boros, mengeluarkan racun, dan membuat pantat wajan menjadi hitam. Api merah dengan semburan api yang khas disukai para penjaja nasi dan mie goreng. Oleh karena itu mereka menggunakan regulator Elpiji yang bisa disetel, agar nyala api bisa disesuaikan dengan kehendak. Nyala api adalah reaksi oksidasi yang cepat, sehingga panas yang dihasilkannya membentuk lidah api (plasma) yang dapat kita lihat. Reaksi oksidasi dapat berlangsung perlahan, panas yang ditimbulkannya tidak menimbulkan plasma, dan dampaknya baru teramati setelah waktu yang lama. Karat dan halaman buku yang menguning adalah dua contoh reaksi pembakaran yang berlangsung perlahan. Selain oksigen, zat lain yang dapat membakar adalah chlor. PDAM menggunakan chlor untuk membunuh kuman dalam air. Kalau oksigen membuat kita hidup, chlor membunuh. Tetapi kalau chlor bergabung dengan natrium, kita menggunakannya sehari-hari untuk melezatkan masakan. Cobalah cicipi sayur asem yang kekurangan natrium-chlorida. Anyep.