Anda di halaman 1dari 200

THT TELINGA HIDUNG TENGGOROK

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

TELINGA ( AURUM, AURIS)


T. LUAR (AURIS EKSTERNA) T. TENGAH (AURIS MEDIA) T. DALAM (AURIS INTERNA)

1. T. LUAR (AURIS EKSTERNA)


1. 2. 3. DAUN TELINGA (AURIKULA) LIANG TELINGA (MEATUS AKUSTIKUS EKSTERNUS) GENDANG TELINGA (MEMBRANA TIMPANI)

DAUN TELINGA (AURIKULA) Kerangka dibentuk oleh tulang rawan (kartilago). Bagian bawah merupakan jaringan ikat yang disebut lobulus. Keseluruhannya ditutupi oleh kulit. Bagian-bagian daun telinga: Heliks Antiheliks Krusheliks Krusantiheliks Tulang Rawan Konka Tragus Antitragus Lobulus ------------ Jaringan Ikat

LIANG TELINGA (MEATUS AKUSTIKUS EKSTERNUS) Saluran berbelok terdiri dari : a. Sepertiga bagian luar, merupakan tulang rawan, disebut PARS KARTILAGINEA. Pada bagian ini terdapat : Folikel rambut Kelenjar serumen (Glandula Seruminosa) Kelenjar keringat (Glandula Sebasea) b. Duapertiga bagian dalam, merupakan tulang, disebut PARS OSEA. Pada bagian ini terdapat sedikit kelenjar keringat.

GENDANG TELINGA (MEMBRANA TIMPANI) Merupakan : Selaput berwarna putih mengkilat seperti mutiara dengan :
Posisi membentuk sudut 45O dg bidang horisontal, tepi bawah tertelak 6mm lebih medial dari

(pada bayi <1 th letaknya lebih horisontal)


Ukuran tinggi 9-10 mm

lebar 8-9 mm
Bentuk oval yang condong ke anterior

Bagian - bagian gendang telinga :

A. Pars Flaksida = Membrana Schrapnelli B. Pars Tensa


1. 2. 3. 4. 5. 6. Prosesus Brevis Malei Plika Anterior Manubrium Malei Umbo Refleks Cahaya (Cone of Light) Plika Posterior

PEMBAGIAN KUADRAN
I. II. III. IV. Anterior Inferior Antero Superior Postero Superior Postero Inferior

HISTOLOGI
Pars Tensa : terdiri dari 3 lapisan Lapisan Luar : kulit tipis, lanjutan kulit MAE (merupakan epitel) Lapisan Dalam : mukosa, lanjutan mukosa yg melapisi kavum timpani Lapisan Tengah : serat-seratnya radier dan sirkuler Pars Tensa menjadi tegang. Pars Flaksida : Lebih tipis dibandingkan Pars Tensa, karena tidak mengandung lapisan tengah

II. T. TENGAH (AURIS MEDIA)


Merupakan rongga kecil, dimana : ke Lateral : dibatasi membrana timpani ke Depan : berhubungan dg nasofaring melalui tuba auditiva eustachii ke Belakang : berhbungan dg antrum mastoideum melalui aditus ad antrum ke Dalam : berhubungan dg telinga dalam melalui foramen ovale. Tuba auditiva Eustachii (TAE) dewasa berbeda dg TAE bayi. Pada bayi : TAE : Lebih pendek Lebih besar diameternya Lebih horisontal Hal-hal inilah yg menyebabkan bayi/anak lebih mudah terkena otitis media. Fungsi TAE : - Aerasi - Drainase - Proteksi

Didalam telinga tengah terdapat : Tulang-tulang pendengaran (Osikula Auditiva) :maleus, inkus, stapes. Otot Pembuluh darah Saraf Osikula auditiva masing-masing dihubungkan oleh suatu persendiaan. Maleus melekat pada membrana timpani, sedangkan stapes melekat pada tingkap lonjong (Foramen Ovale) Fungsi osikula auditiva Meneruskan impuls bunyi yg berasal getaran membrana timpani, diteruskan ke telinga dalam yg berisi cairan perilimfe dan endolimfe agar kedua macam cairan tersebut dapat bergetar maka impuls bunyi oleh osikula auditiva intensitasnya diperbesar +18x.

Mastoid terletak dibelakang telinga, yang merupakan ronga-ronga kecil yang saling berhubungan yang disebut Pneumatisasi. Diantaranya ada satu rongga besar yang disebut Antrum Mastoideum, yang berhubungan dg Kavum Timpani melalui Aditus Ad Antrum. Ada 3 jenis Pneumatisasi
1. Normal (jumlah sel normal) 2. Sklerotik (jumlah sel sangat sedikit) 3. Hiperpneumatisasi (jumlah sel sangat banyak)

III. T. DALAM (AURIS INTERNA) Berisi : - KOHLEA - VESTIBULUM


KOHLEA Seperti rumah siput/alat pendengaran Berbentuk tabung 2 lingkaran Bagian basal lebar, bagian apeks sempit Berisi perilimfe dan endolimfe, keduanya dipisahkan membrana reisner Pada membrana reisner terdapat organon corti (sbg sel penerima rangsang suara) Gelombang suara dari stapes, menggerakkan cairan perilimfe dan endolimfe menggetarkan membrana basalis dan organon corti Selanjutnya impuls suara pada organon corti dirubah menjadi tenaga listrik diteruskan ke saraf akustikus ke otak (area wernick) sbg pusat pendengaran.

VESTIBULUM Sgb organ vestibuler/alat keseimbangan, yg merupakan kanalis semisirkularis. Ada 3 kanalis: horisontal, superior dan posterior Fungsi : menjaga keseimbangan tubuh bersama : otot mata, otot, otak kecil dan saraf proprioseptif
PERSARAFAN Persarafan ditelinga saraf sensoris Telinga luar Dari cabang-cabang N. Aurikularis Mayor N. Oksipitalis Minor N. Aurikulo Temporalis N. Fasialis N. Vagus Telinga tengah Dari cabang N. Glosofaringeus Telinga dalam Tidak ada persarafan.

PENAMPANG KOHLEA A. SKALA VESTIBULI B. SKALA MEDIA C. SKALA TIMPANI

1. STRIA VASKULARIS 2. MEMBRANA REISSNER 3. MEMBRANA BASALIS 4. SEL RAMBUT DALAM 5. SEL RAMBUT LUAR 6. ORGANON CORTI

SISTEM PENDENGARAN
KONDUKSI

AURIKULUM MEATUS AKUSTIKUS EKSTERNUS MEMBRANA TIMPANI OSIKULA AUDITIVA (MELLEUS, INKUS, STAPES) PERILIMFE ENDOLIMFE

TULI CAMPURAN ORGANON CORTI N. ASKUSTIKUS SENSORI NEURAL

BATANG OTAK

PUSAT PENDENGARAN MENDENGAR DG SADAR KORTEKS SEREBRI (PUSAT WERNICKE)

PEMERIKSAAN ORGAN TELINGA



Untuk dpat menegakkan diagnosis penyakit pd organ telinga diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yang baik. Untuk anamnesis diperlukan simtomatologi, antara lain :
Sakit telinga ------------------- Telinga meler ------------------- Tuli ------------------------------ Mbenging ---------------------- Gatal -------------------------- Rasa tersumbat ----------- Perasaan berputar -------- Sakit kepala ----------------- OTALGIA OTORE DIFNES TINITUS ITCHING OBSTRUKSI VERTIGO CEFALGIA

PEMERIKSAAN Inspeksi Otoskopi Tes pendengaran INSPEKSI Melihat keadaan telinga dan sekitarnya : luka, udim, hiperemi, darah, sekrit, dll

TES GARPU TALA Rinne Wieber Schwabach RINNE Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada satu telinga Hasil : Rinne (+) normal / tuli saraf Rinne (-) tuli konduksi WIEBER Membandingkan hantaran tulang, antara telinga kanan dan telinga kiri Hasil : - tidak ada lateralisasi - Lateralisasi kearah telinga sehat, berarti telinga yang sakit adalah tuli saraf - Lateralisasi kearah telinga yang sakit, berarti telinga tersebut tuli konduksi SCHWABACH Membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dan penderita. Hasil : Schwabah memanjang tuli konduksi Schwabah memendek tuli saraf

OTOSKOPI Pemeriksaan dg otoskop yg bertujuan untuk melihat keadaan MAE dan membrana timpani MAE : udim, furunkel, serumen, korpus alienum, dll Membrana timpani : normal, retraksi, hiperemi, bombans atau perforasi TES PENDENGARAN Tes Bisik Tes Garpu Tala Tes Audiometri TES BISIK Ruang sunyi tidak ada gema, minimal panjangnya 6 m Pemeriksa membisikkan kata dengan menggunakan udara cadangan sesudah ekspirasi biasa. Kata yang dibisikkan terdiri atas satu atau dua suku kata Mata penderita ditutup Hasil : Normal : 6 meter Tuli ringan : 4-6 meter Tuli sedang : 1-4 meter Tuli berat : < 1meter Tuli total : berteriak didepan telinga, tetap tidak mendengar

TES AUDIOMETRI
Tes dengan memakai audiometer (alat elektroakustik) Hasil ditampilkan dalam suatu grafik yg disebut Audiogram.

Hasil : Klasifikasi Normal Tuli ringan Tuli sedang Tuli sedang berat Tuli berat Tuli sangat berat nilai ambang rata-rata (500 1000 2000Hz) 0-25 dB 26-40 dB 41-55 dB 56-70 dB 71-90 dB > 90 dB

HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

HIDUNG (=NASUS) HIDUNG LUAR (NASUS EKSTERNUS) HIDUNG DALAM (NASUS INTERNUS)

HIDUNG LUAR (NASUS EKSTERNUS)


1. 2.
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

NARES ANTERIOR KARTILAGO SEPTUMNASI

RADIKS NASI DORSUM NASI APEKS NASI NARES ANTERIOR KOLUMELA SULKUS NASOLABIALIS ALA NASI PLIKA NASOLABIALIS SULKUS ALARIS

BENTUK HIDUNG
I. PLATYRRHINES II. MESORRHINES III. LEPTORRHINES

PLATYRRHINES
NASAL INDEX TDPT PD : : 65 80 ORANG KULIT HITAM : 61 65 KULIT BERWARNA : 61 ATAU KURANG ORANG KULIT PUTIH

MESORRHINES
NASAL INDEX TDPT PD :

LEPTORRHINES
NASAL INDEX TDPT PD :

RONGGA HIDUNG (SKEMATIS)


1. 2. 3. 4. SINUS ETMOIDALIS KAVUM ORBITA KONKA SUPERIOR MEATUS NASI MEDIUS 5. KONKA MEDIUS 6. SINUS MAKSILARIS 7. MEATUS NASI INFERIOR 8. KONKA INFERIOR 9. SEPTUM NASI 10. SINUS FRONTALIS

NASUS EKSTERNUS
Bagian hidung yg paling menonjol kedepan disebut APEKS NASI (ujung hidung). Pangkal hidung disebut RADIKSNASI Bagian hidung yg berjalan dari radiks sampai apeksnasi disebut DORSUM NASI

NASUS INTERNUS
= RONGGA HIDUNG = HIDUNG DALAM = KAVUM NASI Kavum nasi terbagi oleh septum nasi menjadi 2 bagian kanan dan kiri Didalam kavum nasi terdapat struktur penting yaitu :

1. KONKA : Inferior, medius dan superior. Masing-masing kanan dan kiri 2. MEATUS : Dibawah masing-masing konka terdapat meatus : inferior, medius dan superior Meatus nasi merupakan suatu celah pada celah-celah (meatusnasi) terdapat :
Pd meatus nasi inferior terdapat ; Muara (Ostium) dari Duktus Nasolakrimalis Pd meatus nasi medius terdapat : muara-muara dari sinus maksilaris, sinus etmoidalis anterior dan sinus frontalis Pd meatus nasi superior terdapat muara dari sinus etmoidalis posterior dan sinus sfenoidalis

3. Septumnasi (Sekat Hidung)


Terdiri atas tulang dan tulang rawan Pd bag. anterior terdapat area little, tempat pleksus Kiesselbach, yaitu suatu anyaman pembuluh darah yg terbentuk dari beberapa cabang arteri. Tempat ini mudah terkena trauma, sehingga terjadi epitaksis (mimisen)

Kavumnasi berhubungan kedepan dg dunia luar mll Nares Anterior, sedang kebelakang berhubungan dg Nasofaring mll Nares Posterior atau Koane. Atap kavumnasi dibentuk tulang berlubang seperti Tapisan (area kribriformis) yaitu suatu tempat keluarnya ujung-ujung saraf pembauan / penghidu. Daerah ini disebut REGIO OLFAKTORIA.

Aliran darah hidung berasal dari cabang-cabang Arteri Karotis Eksterna dan Interna. Sedang sistem persarafan oleh cabang N. Trigeminus. Kavumnasi dilapisi mukosa. Kecuali nares anterior dan vestibulum nasi yg dilapisi kulit dan ditumbuhi rambut. Diantara sel-sel mukosa terdapat sel Goblet yg menghasilkan lendir mengandung Lisosim yg mempunyai efek antiseptik. Tiap sel mukosa mempunyai Silia (rambut getar), gerakannya otomatis kearah belakang, yg mendorong lendir ke nasofaring.

SINUS PARANASAL
Disekitar hidung terdapat 4 pasang rongga kanan kiri yg disebut SINUS PARANASAL. Sinus tersebut berhubungan dg kavumnasi lewat otiumsinus yg terletak pd MEATUSNASI. Hal ini yg menyebabkan infeksi hidung (RINITIS) dapat dg mudah meluas kearah sinus menjadi SINUSITIS. Keempat pasang sinus tersebut adalah :
SINUS MAKSILARIS (terbesar) Ostiumnya di Meatus Nasi Medius SINUS ETMOIDALIS ANTERIOR Ostiumnya di Meatus Nasi Medius SINUS FRONTALIS Ostiumnya di Meatus Nasi Medius SINUS ETMOIDALIS POSTERIOR Ostiumnya di Meatus Nasi Superior SINUS SFENOIDALIS Ostiumnya di Meatus Nasi Superior

Khusus sinus maksilaris letaknya sangat berdekatan dg gigi atas (Molar / Premolar), sehingga radang pd gigi dapat meluas ke sinus maksilaris.

FISIOLOGI Hidung dan sinus paranasalis berfungsi sebagai : Alat : 1. Respiratoris 2. Olfaktoris 3. Resonator 4. Drainase dan Ventilasi

1. Sbg Alat Pernafasan


Mengatur jumlah udara yg masuk Menyiapkan udara yg masuk ke paru (dg cara menyaring, membasahi dan memanasi udara) Melaksanakan desinfeksi dg bantuan lendir, ensim, silia, sel fagosit, dll

2. Sbg Alat Pembauan (Olfaktoris) Dg cara bekerjasama dg saraf pengecapan (GUSTATORIUS) 3. Fungsi resonansi suara dilaksanakan bersama sinus paranasalis. Kalau terjadi obstruksi suara akan jadi sengau (bindeng) yg disebut RINOLALIA OKLUSA 4. Fungsi drainase dan ventilasi. Sekret didalam sinus paranasal (SPN) akan keluar mll ostium kedalam kavum nasi. Sebaliknya udara dari kavum nasi masuk kedalam SPN mll ostium juga. Bila ostium tersumbat, mis.oleh udim mukosa atau polip maka fungsi ostium terganggu, terjadi penumpukan sekret didalam rongga sinus.

PEMERIKSAAN HIDUNG DAN SPN


Untuk dapat menegakkan diagnosis penyakit2 pd hidung dan SPN diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yg baik. Untuk anamnesis diperlukan gejala2 peny. (SIMTOMATOLOGI) sbg : Sakit hidung : RINALGI Pilek / Meler : RINORE Bersin : SNIZING Hidung Buntu : OBSTRUKSINASI Ingus Bau : FOETOR EKSNASALIS Tdk dpt membau : ANOSMIA Pembauan menurun : HIPOSMIA Sll membau busuk : KAKOSMIA Mimisen : EPISTAKSIS Rasa gatal dihidung : ITCHING Suara sengau (bindeng) : NASOLALIA / RINOLALIA NASOLALIA OKLUSA = NASOLALIA TERTUTUP NASOLALIA APERTA = NASOLALIA TERBUKA

CARA-CARA PEMERIKSAAN :

1. RINOSKOPIA ANTERIOR
Dg spekulum hidung dan lampu kepala Dg lampu kepala, cermin datar, mll rongga mulut. Cermin menghadap keatas Dg lampu khusus yg dimasukkan rongga mulut dan penderita dalam ruang gelap

2. RINOSKOPIA POSTERIOR

3. TRANSILUMINASI (DIAPANOSKOPI)

4. RONTGEN FOTO ; misalnya waters untuk sinus maksilaris

THT (TELINGA, HIDUNG, TENGGOROK)


TENGGOROK (= FARING DAN LARING) FARING I. NASOFARING (EPIFARING) II. OROFARING (MESOFARING) III. LARINGOFARING (HIPOFARING) Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

I. NASOFARING
Berhubungan dg rongga hidung melalui Koana (Nares Posterior) Bag.dari faring paling atas Nasofaring dan orofaring dibatasi oleh palatum mole Didalamnya terdapat jaringan limfoid yaitu adenoid (pada atap nasofaring) Pada sisi lateral kanan dan kiri terdapat ostium tuba eustachius dan fosa Rossenmuleri Fisiologi *.1. Respirasi *.2. Aerasi *.3. Drainase : - Hidung - SPN - Kavum timpani *.4. Resonator

II. OROFARING
Terletak dibawah nasofaring Tertelak juga sebelah dorsal (belakang) rongga mulut (kavum oris) Pd mukosa orofaring terdapat jaringan limfoid disebut granula (pada dinding posterior). Sedang pada sisi lateral. Dibelakang arkus posterior tdpt jaringan limfoid dsbt Lateral Band. Antara orofaring dan kavum oris dibatasi ismus fausium. Ismus fausium dibentuk oleh arkus anterior, arkus posterior (kanan dan kiri), uvula dan pangkal lidah. Kavum oris dibagian depan, kanan dan kirinya adalah deretan gigi atas dan bawah. Sedang atapnya dibentuk oleh palatum durum ( langit 2 keras) dan palatum mole (langit 2 lunak). Didalam kavum oris terdapat jaringan limfoid, yg terletak pada fosa tonsilaris yg disebut TONSIL. Fosatonsilaris ini dibatasi arkus anterior dan arkus posterior. Tonsilnya disebut Tonsila Palatina. Fisiologi
Deglutisi (Reflek Menelan)

III. LARINGOFARING
Terbentang mulai setinggi Oshyoid/Epiglotis sampai ujung atas usofagus / introitus usofagei, setinggi vertebra cervicalis (VC VI) Diantara dinding lateral laringofaring dan laring didapatkan cekungan yg disebut Fosapiriformis yg terkait dg proses menelan Fisiologi
Deglutisi

GAMBAR FARING

1. 2.

SINUS FRONTALIS KONKA : - SUPERIOR - MEDIUS - INFERIOR 3. TONSILA PALATINA 4. SINUS SPENOIDALIS 5. ADENOID (TONSILA FARINGEA) 6. MUARA TUBA EUSTACHII

A. NASOFARING B. OROFARING C. LARINGOFARING

GAMBAR PENAMPANG KAVUM ORIS

1. 2. 3. 4. 5. 6.

UVULA ARKUS ANTERIOR ISMUS FAUSIUM ARKUS POSTERIOR TONSILA PALATINA LINGUA

Dari uraian diatas, disimpulkan


Di nasofaring terdapat jaringan Limfoid yaitu Adenoid (faring tonsil) Di orofaring terdapat jaringan Limfoid yaitu Granula dan Lateral Band kanan dan kiri. Pada pangkal lidah terdapat Lingual Tonsil. Dikavumoris terdapat Tonsila Palatina. Adenoid Granula Membentuk lingkaran / Lateral Band Cicin Ring Waldeyer (Kanan & Kiri) Lingual Tonsil Tonsila Palatina

FISIOLOGI
Fungsi Ring Waldeyer adalah sebagai benteng bagi saluran makanan dan saluran nafas dari serangan mikroorganisme yg masuk mll kedua saluran tersebut dg membentuk antibodi dan limfosit.

PEMERIKSAAN FARING
Untuk dapat menegakkan diagnosis penyakit2 pada faring diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yg baik. Untuk anamnesis diperlukan simtomatologi sebagai berikut : 1. Sakit waktu menelan : Odinofagi 2. Kesukaran menelan : Disfagi 3. Sama sekali tidak dapat menelan : Afagi 4. Sendawa/Peristaltik kearah kranial : Regurgitasi 5. Rasa gatal : Itching 6. Rasa panas/terbakar : Burning 7. Muntah : Vomitus 8. Sekret lengket 9. Sakit kepala : Sefalgia 10.Ludah (Saliva) berlebihan : Hipersalivasi

PEMERIKSAAN
Pemeriksan dg menggunakan spatula lidah. Bag. faring yg terlihat adalah orofaring dan laringofaring. Nasofaring diperiksa dg rinoskopi posterior, yaitu dg menggunakan cermin datar menghadap keatas dimasukkan mll Kavum Oris. Yg perlu diperhatikan warna mukosa (Hiperemi Normal) udim, sekret, tumor. Pada tonsil diperhatikan : permukaannya, warna, ada bercak putih mudah berdarah (Beslag pada Difteri)

LARING

Terdiri atas beberapa tulang rawan : Tiroid Krikoid Aritenoid Masing2 dihubungkan oleh Ligamentum dan dapat digerakkan oleh otot/muskulus. Organ penting pd laring adalah Korda Vokalis (Plika Vokalis). Plika Vokalis terpasang melintang dari muka ke belakang. Dimuka melekat pd Kartilago Tiroid, dibelakang melekat pd Aritenoid. Ada 2 kelompok otot yg menggerakkan Plika Vokalis, yaitu : Otot Aduktor yg berfungsi menggerakkan plika vokalis kegaris tengah Otot abduktor yg menggerakkan plika vokalis kelateral Diantara Plika Vokalis kanan dan kiri terdapat celah yg disebut Rima Glotis, yg merupakan tempat lewatnya udara pernafasan ke paru. Pd saat stadium respirasi plika vokalis ditarik kelateral, hingga rima glotis melebar. Pd saat stadium fonasi plika vokalis bergerak kemedial (merapat), sehingga secara simetris bertemu digaris tengah.

Syarat-syarat agar suara dapat nyaring : 1. Tepi plika vokalis rata 2. Fungsi plika vokalis harus normal (dapat bergerak kelateral dan dapat merapat ke medial) 3. Harus ada udara yg cukup kuat dari paru Kalau salah satu syarat tidak dipenuhi, akan terjadi suara parau (=Hoarsnes=Disfoni) Gangguan pd plika vokalis dpt menyebabkan :- Parau - Sesak nafas

A. Suara Parau : - Paresis - Vokal Nodul (Singer Node) B. Suara parau disertai sesak nafas, bila plika vokalis : *. Tidak dapat merapat kegaris tengah. Penyebabnya : Tumor atau Radang pd Plika Vokalis *. Tepi plika vokalis tidak rata. Penyebabnya : Tumor Ganas, Papiloma, TBC C. Suara nyaring, tetapi sesak nafas: bila plika vokalis tidak dapat bergerak ke lateral (Paresis otot abduktor)

JAKUN (Adam Apple)


Pertemuan sayap kartilago tireoidea kanan dan kiri yg menyatu dilinea mediana yg membentuk sudut, dimana pada pria lebih menonjol, sedang pada wanita tidak menonjol. Bagian-bagian Laring
Vestibulum Ventrikulus Subglotis Rima glotis : : : antara plika ventrikularis dan plika vokalis dibawah rima glotis celah antara plika vokalis kanan dan kiri


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Bagian-bagian berdasarkan hasil pemeriksaan laringoskopi tidak langsung Epiglotis Plika Vokalis Komisura Anterior Komisura Posterior Aritenoid Plika Ariepiglotika Plika ventrikularis (plika vokalis spuria / plika vokalis palsu) Fisiologi Laring Proteksi Fonasi Respirasi Fiksasi Deglutisi Sirkulasi

GAMBAR LARING DILIHAT DARI DALAM (POTONGAN VERTIKAL) 1. ADITUS LARINGIS 2. VESTIBULUM 3. PLIKA VOKALIS SPURIA 4. VENTRIKULUS 5. PLIKA VOKALIS 6. RIMA GLOTIS 7. SUBGLOTIS

GAMBAR LARING DILIHAT BERDASARKAN PEMERIKSAAN LARINGOSKOPIA INDIREKTA (TIDAK LANGSUNG) 1. EPIGLOTIS 2. KOMISURA POSTERIOR 3. PLIKA VOKALIS SPURIA 4. KOMISURA ANTERIOR 5. PLIKA VOKALIS 6. PLIKA ARIEPIGLOTIKA 7. ARITENOID

PEMERIKSAAN LARING Untuk dpt menegakkan diagnosis penyakit2 pd laring diperlukan anamnesis dan pemeriksaan yg baik. Untuk anamnesis diperlukan simtomatologi sebagai berikut : 1. Serak : Hoarsnes, Disfoni 2. Sesak Nafas : Dispnu 3. Suara Pernafasan Berbunyi : Stridor
PEMERIKSAAN
Pemeriksaan laring secara tidak langsung (Laringoskopia Indirekta) dg memakai cermin datar. Bayangan laring akan ditangkap oleh cermin Pemeriksaan laring secara langsung laringoskopia direkta dg memakai laringoskopi X-foto, dll

GAMBAR LARING

DISTRES RESPIRASI
Sumbatan laring dapat menyebabkan sesak nafas (Distres Respirasi) yg sangat tergantung berat ringannya sumbatan. Jackson membagi distres respirasi yg progresif menjadi 4 stadium / derajat STADIUM 1 - Cekungan Suprasternal - Stridor - Pasien tampak tenang STADIUM 2 - Cekungan Suprasternal makin dalam - Timbul cekungan epigastrium - Pasien mulai gelisah

STADIUM 3

- Cekungan Suprasternal - Cekungan Epigastrium - Cekungan Infraklavikula - Cekungan Interkostal - Pasien sangat gelisah - Dispnu

STADIUM 4 - Cekungan-cekungan pd stad.3 makin jelas - Pasien sangat gelisah - Tampak ketakutan & sianosis - Dispnu meningkat - Bila keadaan berlangsung terus penderita kehabisan tenaga, pusat pernafasan paralitik karena hiperkapnea - Pd keadaan ini penderita tampaknya tenang dan tertidur. Akhirnya dapat meninggal karena asfiksia.

TRAKEOSTOMI
Operasi membuat lubang pd trakea, dg tujuan mengatasi gangguan lalu lintas udara pernafasan. Jenis trakeostomi
EMERGENCY (DARURAT) ELEKTIF (DIRENCANAKAN)

T. EMERGENCY : Untuk distres respirasi derajat III dan IV T. ELEKTIF : Untuk distres respirasi derajat I dan II

INDIKASI TRAKEOSTOMI

Mengatasi sumbatan laring Mengurangi ruang rugi (Dead Air Space) disaluran pernafasan atas Mempermudah penghisapan sekrit dari bronkus Untuk memasang respirator Untuk mengambil benda asing dari subglotik

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTITIS EKSTERNA DIFUSA


Batasan :
Infeksi pada kulit meatus akustikus eksternus

Etiologi
Streptokokus, stafilokokus, fungi

Patofisiologi
Sebagai faktor prediposisi
Faktor Endogen : anemia, hipovitaminosis, DM, alergi Faktor Eksogen : trauma, kelembaban, bentuk MAE yg tidak lurus

Diagnosis
Anamnesis
Itching sampai otalgia pada MAE Otore Pendengaran normal atau sedikit menurun

Pemeriksaan
MAE terisi sekret serous (alergi), purulen (infeksi kuman), keabu-abuan atau kehitaman (jamur) Kulit MAE udim, hiperemi merata sampai ke membrana timpani

Terapi
Aural toilet Menghilangkan faktor predisposisi Tetes telinga Analgetik

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA


OTITIS EKSTERNA SIRKUMSKRIPTA = OTITIS EKSTERNA FURUNKULOSA

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTITIS EKSTERNA SIRKUMSKRIPTA = OTITIS EKSTERNA FURUNKULOSA Batasan


Infeksi akut folikel rambut MAE

Etiologi
Stap aureus, stap albus

Patofisiologi
Biasanya didahului trauma ringan pada MAE terjadi infeksi pada folikel rambut. Bisa sampai terjadi supurasi

Diagnosis
Anamnesis
Otalgia spontan Pendengaran normal Ada riwayat manipulasi MAE Otore purulen bercampur darah bila furunkel pecah

Pemeriksaan
Tragus pain Limfadenitis didepan tragus, dibawah atau dibelakang aurikula MAE pars kartilaginea udim dan hiperemi

Terapi
MAE dipasang tampon sufratul, diganti setelah 2 hari Analgetik Antibiotik 5-7 hari Bila terbentuk abses insisi

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT (OMSA)

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT (OMSA)


Batasan
Omsa adalah infeksi akut dengan pembentukan sekret purulen yang mengenai mukosa kavum timpani.

Etiologi
Kuman penyebab :
Strep pneumonie Stap aureus H. influenzae

Patofisiologi
Biasanya didahului ispa. Ispa menyebabkan penyumbatan tuba eustachius. Terjadi gangguan ventilasi kavum timpani dengan akibat timbulnya kavum timpani vakum. Selanjutnya terjadi transudasi didalam kavum timpani adanya infiltrasi kuman patogen dari nasofaring dan kavumnasi menimbulkan supurasi.

Diagnosis Dibagi dalam 4 stadium Stadium I (Stad. Kataral)


Telinga terasa penuh Grebeg-grebeg Gangguan pendengaran Batuk, pilek Pemeriksaan : Membrana timpani retraksi, hiperemi Kadang-kadang tampak air-fluid level Nyeri telinga (otalgia) Gangguan pendengaran Demam Batuk pilek Pemeriksaan : Membrana timpani bombans (bulging), hiperemi.

Stadium II (Stad. Supuratif)

Stadium III (Stad. Perforasi)


Otore Otalgia Gangguan pendengaran Batuk pilek Pemeriksaan :
- Sekret mukopurulen

- Membrana timpani perforasi


- Kdng kdng tampak pulpasi

Stadium IV (Stad. Resolusi)


Gangguan pendengaran Kdng kdng ada tinitus Telinga kering Pemeriksaan :
- M.Timpani perforasi kering, hiperemi - Tdk ada sekret.

Terapi
Memperbaiki drainase
Miringitomi Dekongestan

Antibiotik Simtomatik

Kasus omsa perlu dirujuk, apabila :


MT. tampak bombans Sering kali kambuh

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) Batasan


Omsk ialah keradangan kronik mengenai mukosa dan struktur tulang didalam kavum timpani

Etiologi
Kuman aerob
Gram positif Gram negatif : S. Pyogenes, S. Albus : Proteus SPP Psedomonas SPP E. Coli

Kuman anerob : Bakteriodes SPP

Patofisiologi
Omsk timbul dari infeksi yang berulang dari omsa Faktor-faktor penyebab infeksi berulang : Eksogen : infeksi dari luar melalui perforasi membrana timpani Endogen : alergi, DM, TBC Rinogen : peny. kavum nasi dan sekitarnya

Diagnosis
Anamnesis
Otore terus menerus/kumat-kumatan > 8 mgg Tuli

Pemeriksaan
Omsk tipe benigna (tipe tubatimpanal)
Perforasi sentral Mukosa menebal Tuli konduktif Foto mastoid : sklerotik Perforasi atik / marginal Terdapat kolesteatom Destruksi tulang Tuli konduktif / tuli campuran

Omsk tipe maligna (tipe atikoantral)

Foto mastoid : sklerotik / rongga

Terapi Tipe tubotimpanal stad. Aktif


Antibiotik Pengobatan infeksi kav.nasi & sekitarnya Perawatan lokal dg perhidrol 3% dan tetes telinga Pengobatan alergi bila ada latar belakang alergi Pd stad.tenang (kering) dilakukan miringoplastik

Tipe antikoantral
Mastoidektomi radikal Mastoidektomi radikal + rekonstruksi

Perbedaan OMSK benigna & OMSK maligna


OMSK BENIGNA Sekret OMSK MALIGNA

Bening, Purulen, kental menggumpal, mukopurulen, tidak abu kekuningan, berbau, berbau kolesteatom Sentral, subtotal Udim, hipertrofi Marginal, atik, total Degenerasi, terbentuk polip, granulasi

Perforasi Perubahan mukosa

Foto mastoid Sklerotik


Komplikasi Jarang

Rongga berisi kolesteatom


Abses retro aurikuler, abses otak, labirintitis, meningitis

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

BAROTRAUMA (AEROTITIS) (=OTITIS MEDIA SEROSA AKUT)

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

BAROTRAUMA (AEROTITIS) (=OTITIS MEDIA SEROSA AKUT)


Adalah keadaan dg terjadinya perubahan tekanan yg tiba-tiba diluar telinga tengah (pada saat naik pesawat atau menyelam) yg menyebabkan tuba eustachii gagal untuk membuka, sehingga dapat terjadi timbunan cairan darah pada telinga tengah. Gejala : - Difnes - Otalgia - Autofoni - Tinitus - Perasaan ada air dalam telinga - Vertigo Diagnosa Dapat ditemukan perforasi atau membrana timpani bombans kehitaman

Terapi
Konservatif dg dekongestan lokal Prasat valsava Bila perlu miringotomi atau memasang pipa ventilasi

Preventif
Mengunyah permen karet Perasat valsava (pada saat pesawat terbang/ waktu turun)

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

OTITIS MEDIA SEROSA KRONIK

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTITIS MEDIA SEROSA KRONIK


Batasan OMS : Keradangan non bakterial mukosa kavum timpani yg ditandai dg terkumpulnya cairan yg tidak purulen (serous atau mukus) Patofisiologi Gangguan fungsi tuba eustachius merupakan penyebab utama Gangguan tersebut terjadi pada : 1. Radang kronik pada kav.nasi, nasofaring, faring, misl. Alergi 2. Pembesaran tonsil dan adenoid 3. Tumor nasofaring 4. Palatoskisis

Diagnosis Anamnesis
Telinga terasa grebeg-grebeg Difnes Autofoni

Pemeriksaan
Pada otoskopi
M. Timpani berwarna kekuningan dan dof Reflek cahaya hilang Dapat ditemukan air fluid level

Pemeriksaan tambahan

Audiogram : tuli konduksi Timpanogram : tipe B atau C

Terapi Tahap I : tube Tahap II : tonsil,

- Miringotomi dan dipasang ventilating


- Obat-obat dekongestan - Bila ada pembesaran adenoid dan

dilakukan operasi - perawatan alergi

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

PRESBIAKUSIS

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

PRESBIAKUSIS
Batasan Ketulian yg disebabkan proses ketuaan Patofisiologi
Terjadi pada usia 60-80 th dapat terjadi pada umur 40 th (presbiakusis perekok) Kelainan dapat terjadi pada koklea, nervus auditivus dan pada susunan saraf pusat

Faktor yang mempengaruhi


Kebisingan Diet lemak tinggi Merokok dan ketegangan

Diagnosis Anamnesis
Difnes, sulit berkomunikasi Tinitus Diplakusis Dapat disertai vertigo

Pemeriksaan
Pada otoskopi tidak ditemukan kelainan

Pemeriksaan tambahan
Audiometri : tuli saraf bilateral simetris dg penurunan diatas 1000 Hz

Terapi Tidak ada terapi difinitif yg memuaskan


Vitamin-vitamin dan vasodilator diberikan selama 1bln, dihentikan bila tidak ada perbaikan Bila perlu ABD (alat bantu dengar)

Pemecahan
Menghindari kebisingan Diet rendah lemak Menghindari rokok, ketegangan, avitaminosis, anemi Pengobatan kelainan kardiovaskular

Tuli (difnes) Ada 3 macam difnes


Tuli konduksi Tuli saraf Tuli campuran

Tuli konduksi
Auris eksterna - Atresia mae - Sumbatan serumen - Ot.eks sirkumskripta - Osteoma MAE - Omsa, Omsk - Otosklerosis - Hemotimpanum - Dislokasi asikula auditiva

Auris media

Tuli saraf, ada 2 jenis : Tuli sensorineural koklea


Labirintitis Intoksikasi obat ototoksik, alkohol Trauma akustik Trauma kapitis Pengaruh kebisingan

Tuli sensori neural


Tumor saraf (neuroma) Tumor pons serebelum Multiple mieloma Perdarahan otak

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

PENYAKIT MENIERE

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

PENYAKIT MENIERE
Penyakit meniere adalah suatu kelainan labirin yg etiologinya belum diketahui, dan mempunyai tras gejala yg khas, yaitu DIFNES, TINITUS, dan VERTIGO, penyakit ini terutama terjadi pada wanita dewasa Etiologi
Diduga merupakan fenomena imunologi

Patofisiologi
Adanya pembengkakan (udim) rongga endolimfe yg disebabkan cairan endolimfe yg berlebihan. Apabila tekanan endolimfe terus meningkat, membrana reisner dapat robek, terjadilah percampuran cairan endolimfe dan perilimfe.

Manifestasi klinis.
Akibat percampuran c.endolimfe dan perilimfe terjadilah gangguan pendengaran. Penderita mengalami difnes nada rendah Selanjutnya diikuti tinitus, telinga terasa penuh Vertigo disertai muntah yg semuanya berlangsung sekitar 15 menit. Biasanya menyerang wanita di usia tengah baya Difnes yg awalnya nada rendah, akhirnya nada tinggi juga terkena Pada pemeriksaan
Pada telinga tidak ditemukan kelainan Tes garputala : tuli saraf Pemeriksaan dg tes gliserin yg diminum 1,2 ml/kgBB menunjukkan adanya hidrops endolimfe Pada audiogram: ditemukan sensori neural hearing loss nada rendah

Penatalaksanaan
Pasien harus dirawat, berbaring dalam posis yg meringankan keluhan Diberikan diet rendah garam dan pemberian diuretik ringan Diberikan obat-obat :
Anti vertigo Anti muntah Vasodilator perifer Kalau perlu diberi obat anti iskemi dan neurotonik atau operasi shunt

Fisioterapi

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

OTOSKLEROSIS

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

OTOSKLEROSIS
Merupakan penyakit telinga tengah Suatu penyakit yg disebabkan proses penulangan yg terjadi disekitar tulang pendengaran, yg mengakibtkan tulang pendengaran menjadi kaku. Proses penulangan paling banyak terjadi pada kaki stapes atua pada persendiaan antra inkus dn stapes Stad awal tuli konduksi, bila proses meluas sampai kohlea, akan berkembang menjadi tuli campuran Penyebab pasti belum diketahui, diduga berhubungan dg genetik Penderit berusia 20-50 th Wanita lebih banyak Sifat bilateral

Gejala
Tinitus Penurunan pendengaran progresif Kdng-kadang vertigo Membrana timpani normal Tidak ada riwayat sakit telinga, atau trauma kepala/telinga

Diagnose ditegakkan dg pemeriksaan audiometri nada murni Pengobatan


Stapedektomi Kasus tertentu ABD Tuli saraf berat kohlear implan

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

PENYAKIT TELINGA DALAM

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

A. TULI AKIBAT BISING


Bising : bunyi atau suara yg mengganggu dan tidak dikehendaki oleh yg mendengarnya Akut = trauma akustik
Terjadi oleh karena bising keras, tunggal dan mendadak Sering merupakan tuli campuran dan mengenai satu telinga

Kronik = noise induced hearing loss (NIHL)


Terjadi oleh karena bising kronik, pelan-pelan jangka panjang Tuli saraf mengenai kedua telinga

B. PRESBIAKUSIS
= ketulian usia lanjut Mulai umur 40 th, nampak jelas umur 65 th Terjadi degenerasi organon corti Dipengaruhi
genetik lingkungan (kebisingan) obat ototoksik penyakit yg diderita

tuli saraf, mengenai 2 telinga gambaran klinik


sulit berkomunikasi mendengar suara keras, timbul otalgia bila tuli berat sering diikuti depresi

penataksanaan
sulit disembuhkan kalau perlu pakai ABD

C. TULI MENDADAK
Terjadi secara mendadak Penyebab belum tau Tuli saraf, mengenai satu telinga Sering disertai : - tinitus - vertigo - mual - muntah Perlu perawatan segera

D. VERTIGO
Perasaan gerakan berputar yg dirasakan seolaholah benda yg ada diseklilingnya berputar mengitari dirinya (vertigo obyektif) atau dirinya yg berputar terhadao sekelilingnya (vertigo subyektif) Sistem keseimbangan terjadi dari 4 faktor
Sistem Vestibuler Menangkap gerakan ekselerasi dan persepsi gravitasi Rangsang Proprioseptif Yg memberi informasi hubungan posisi kepala dan bagian tubuh yg lain Indera Pengelihatan Memberikan persepsi sensasi posisi, kecepatan dan orientasi Batang otak dan serebelum Berfungsi mengintegrasikan ketiga sensasi tersebut

Berdasarkan penyebabnya vertigo dibagi 2 : Vertigo nonvestibuler Vertigo vestibuler Vertigo nonvestibuler

Hipoglikemi Gangguan serebrovaskuler Hiperkolesterolemi Histeris Dll


Penyakit meniere Neuronitis vestibuler Neurinoma akustik Dll

Vertigo vestibuler

Diagnosis ditegakkan berdasarkan :


Anamnesis
Kapan mulai berapa lama Adakah disertai muntah-muntah, keluar keringat dingin

Pemeriksaan
Otoskopi Adakah nistagmus Hipertensi Hiperkolesterolemi Audiometri

Pengobatan
Obat anti vertigo Obat anti muntah Pemberian cairan (kalau perlu)

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

PENYAKIT MENIERE

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

PENYAKIT MENIERE
Suatu penyakit pada auris interna, yg ditandai :
Vertigo Tinitus Difnes Rasa penuh di telinga Dapat disertai nausea, vomitus dan keluar keringat dingin

Pada stad.awal
difnes ringan, unilateral dan reversiberl

Pada stad.lanjut
difnesnya irreversibel dan bilateral

Patofisiologi Terjadi udim rongga endolimfe membran reisner robek endolimfe dan perilimfe bercampur gangguan pendengaran, maka terjadi :
Tuli nada rendah Tinitus Telinga terasa penuh (obstruksi) Vertigo (semua berlangsung 15 menit)

Kebanyakan penderita wanita setengah baya Serangan dapat secara tiba-tiba Pengobatan
Obat antivertigo Obat antimuntah Diuretika Diet rendah garam Bila berat operasi

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

PENYAKIT HIDUNG DAN SPN

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

POLIP HIDUNG
Suatu masa lunak berwarna putih keabuabuan, terdapat dalam rongga hidung Polip hidung (polip nasi) berasal dari pembengkakan mukosa hidung yg berisi banyak cairan interseluler dan kemudian terdorong kedalam rongga hidung oleh gaya berat Macam-macam polip hidung
Multipel : sering berasal dari sinus etmoidalis Soliter : biasanya berasal dari sinus maksilaris, keluar dari osteum sinus maksilaris, osteum rongga hidung, membesar di koana dan nasofaring disebut polip antrokoana

Etiologi
Biasanya sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung Kadang-kadang ditemukan bersama adanya infeksi pada hidung

Polip biasanya diderita orang dewasa Patofisiologi


Udim mukosa yg kebanyakan terdapat didalam meatus medius Stroma terisi cairan interseluler sehingga mukosa yg sembab polipoid Bila proses terus berlangsung jaringan polipoid turun kerongga hidung sambil membentuk tangan terbentuk polip

Gejala
Hidung tersumbat yg bersifat menetap, makin lama makin berat Bila berat dapat terjadi hiposmia atau anosmia Bila polip menyumbat osteum sinus, maka terjadi sinusitis dg keluhan nyeri kepala dn rinore Bila penyebabnya alergi, maka gejala utamanya bersin-bersin, pilek dan gatal-gatal dihidung Pemeriksaan rinoskopi anterior : Masa putih keabu-abuan bertangkai mudah digerakkan Konsistensi lunak Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Dg vasokonstriktor tidak mengecil

Terapi
Polipektomi Etmoidektomi Caldwell LUC (CWL)

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

SINUSITIS MAKSILARIS KRONIK

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

SINUSITIS MAKSILARIS KRONIK


Batasan
Sinusitis maksilaris yg telah menimbulkan perubahan histologi pada mukosa, yakni fibrosis dan metaplasia

Patofisiologi
Rinogen

Deviasi septum nasi, polipnasi rinitis alergika, dll


Dentogen

Infeksi gigi molar/premolar atas Gejala klinik


Pilek berbau, kental. Biasanya satusisi Rasa kering tenggorok, tenggorok berlendir Batuk-batuk Sefalgia

Diagnosis Anamnesis cermat Pem. Fisik


Rinoskopi anterior
Mukosa udim, hiperemi Mukosa dimeatus medius

Rinoskopi posterior : mukosa dinasofaring Kadang-kadang nyeri tekan pipi Transiluminasi : gelap pada sisi sakit

Bila dentogen ada karies pada geraham atas disisi yg sakit Pemeriksaan penunjang
Foto water : kesuraman pd sisi yg sakit

Terapi
Evaluasi penyebab rinogen Evaluasi penyebab dentogen Irigasi, antrostomi, CWL (Cald Well Luc) / operasi

IRIGASI SINUS MAKSILARIS


1. SINUS MAKSILARIS 2. OSTIUM SINUS MAKSILARIS 3. SEPTUM NASI 4. KONKA INFERIOR 5. MEATUS NASI INFERIOR

BIASANYA TINDAKAN ANTROSTOMI BILA PERLU DITERUSKAN DG TINDAKAN OPERSAI CALD WELL LUC (CWL) YAITU SUATU OPERASI MEMBERSIHKAN ISI SINUS MAKSILARIS (PUS, POLIP, TUMOR) DG JALAN MELAKUKAN INSISI PADA LINEA GINGIVOBUCALIS SEPANJANG 1-1 cm, SELANJUTNYA DIBAWAH INSISI DITERUSKAN DG MEMBUKA TULANG MAXILLA +0,5cm. DARI LUBANG ITULAH DILAKUKAN PEMBERSIHAN SINUS MAKSILARIS. SELANJUTNYA DIPASANG TAMPON MELALUI LUBANG TERSEBUT, YG UJUNGNYA DIKELUARKAN TERLEBIH DULU MELALUI LUBANG ANTROSTOMI (BERGUNA UNTUK MELEPAS TAMPON). SELANJUTNYA SETELAH SINUS MAKSILARIS PENUH DG TAMPON (TAMPON PANJANG DIBASAHI DG BETADIN DAN ZALF ANTIBIOTIK) LUKA INSISI DIJAHIT. TAMPON DIBIARKAN SELAMA 3x24 JAM.

ANGIO FIBROMA NASOFARING JUVENILIS (ANJ)


MERUPAKAN TUMOR NASOFARING YANG SECARA HISTOPATOLOGI MERUPAKAN TUMOR JINAK, TETAPI SECARA KLINIS GANAS, KARENA MEMPUNYAI POTENSI TUMBUH MENDESAK ORGAN SEKITARNYA. PENYEBAB PASTI BELUM DIKETAHUI KEMUNGKINAN ADANYA KETIDAK SEIMBANGAN HORMONAL PENYAKIT INI BANYAK DIDERITA LAKI-LAKI ANTARA 10-17 TAHUN. TUMOR INI DITEMUKAN PADA ATAP NASOFARING, UMUMNYA UNILATERAL JARANG PADA GARIS TENGAH ATAU DINDING LATERAL NASOFARING PERTUMBUHAN RELATIF CEPAT TUMOR T.A PEMBULUH - PEMBULUH DARAH BESAR / KAPILER YANG MUDAH PECAH

GAMBARAN KLINIK OBSTRUKSI NASI PROGRESIF SEKRET PURULEN EPISTAKSIS BERULANG, HEBAT, BAIK LEWAT HIDUNG ATAU MULUT (80% PENDERITA) PADA SISI DIMANA ADA ANJ TELINGA : TINITUS, OBSTRUKSI, DIFNES.

PERLUASAN

ANJ

KEDEPAN : KE KAVUMNASI OBSTRUKSI NASI KEBAWAH : MENDESAK PALATUM MOLE DAPAT TERUS MENUTUP SALURAN NAFAS DAN SALURAN MAKANAN DISTRES RESPIRASI & DISFAGI KEATAS : MENDESAK BASIS KRANII DAN MASUK KE INTRA KRANIAL TERAPI : - OBAT-OBATAN HORMON (ESTROGEN) - RADIASI - OPERASI PROGNOSIS : - PADA KEADAAN DINI BAIK - PADA KEADAAN LANJUT/SUDAH MASUK KE INTRAKRANIAL JELEK

KARSINOMA NASOFARING (KNF)


TUMOR GANAS TERBANYAK DI BID THT SEBAGIAN BESAR PENDERITA DATANG TERLAMBAT PEMAHAMAN PENGENALAN GEJALA DINI TUMOR INI MASIH KURANG. > BANYAK DIDERITA LAKI-LAKI DARI PADA WANITA (2:1) UMUR RATA-RATA : 30 50 TH PENYEBAB BELUM JELAS, DIDUGA : EPSTEIN BARR VIRUS (EBV), RANGSANGAN BAHAN KARSINOGENIK BERUPA : - BENZO PIREN - ASAP PEMBAKARAN KAYU - RUMPUT

- TEMBAKAU - MINYAK TANAH - DUPA - KEMENYAN - ZAT NITROSAMIN (PADA IKAN ASIN DAN MAKANAN YANG DIAWETKAN) FAKTOR LAIN ADALAH IRITASI KRONIS MISAL NASOFARINGITIS KRONIS FAKTOR RAS / KETURUNAN SOSIAL EKONOMI LINGKUNGAN KEBIASAAN HIDUP TERTENTU

GAMBARAN KLINIK
GEJALA DINI BERUPA ADANYA KELUHAN TERBATAS PADA NASOFARING. PADA STADIUM LANJUT KELUHAN SUDAH MERUPAKAN AKIBAT DARI PERLUASAN TUMOR KE ORGAN SEKITAR ATAU METASTASIS JAUH. KEMUNGKINAN ADANYA KNF HARUS DIFIKIRKAN BILA DI JUMPAI ADANYA TRIAS GEJALA.
a. TUMOR LEHER, GEJALA TELINGA, GEJALA HIDUNG b. GEJALA TELINGA, GEJALA HIDUNG, GEJALA INTRA KRANIAL. c. TUMOR LEHER, GEJALA INTRA KRANIAL, GEJALA HIDUNG.

PEMERIKSAAN RINOSKOPI ANT : TUMOR PADA KAVUM NASI BAGIAN BELAKANG PEMERIKSAAN RINOSKOPI POST : TUMOR PADA NASOFARING

PERBEDAAN GEJALA DINI & GEJALA LANJUT


A. GEJALA DINI TELINGA : TINITUS, DIFNES, OTALGIA HIDUNG : RINORE, INGUS CAMPUR DARAH OBSTRUKSI NASI, EPISTAKSIS. B. GEJALA LANJUT EKSPANSIF : KEDEPAN MENUTUP KOANE OBATRUKSI NASI KEBAWAH MENDESAK PALATUM BOMBANS PALATUM MOLE INFILTRATIF : KEATAS LEWAT FORAMEN LACERUM KE INTRAKRANIAL STRABISMUS, DIPLOPI, KELUMPUHAN OTOT MATA, MATA JULING/TDK DAPAT BERGERAK, NYERI KULIT PIPI, KELUMPUHAN FARING, PALATUM MOLE, OTOT LIDAH DLL.

METASTASIS : PEMBENGKAKAN KELENJAR LEHER PADA SEKITAR ANGULUS MANDIBULE, KE HATI, TULANG, GINJAL, LIMFA.
PEMERIKSAAN LEBIH LANJUT : X FOTO LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI BIOPSI, BAIK DARI NASOFARING, MAUPUN KELENJAR GETAH BENING LEHER (BILA SUDAH TERJADI METASTASIS)

PENGOBATAN
RADOTERAPI (PENYINARAN) MERUPAKAN PENGOBATAN UTAMA, TERUTAMA UNTUK TUMOR YANG RADIO SENSITIF (TUMOR JENIS ANAPLASTIK STADIUM I & II) RADIO TERAPI + KEMOTERAPI UNTUK TUMOR DENGAN STADIUM LANJUT. PROGNOSIS - PADA STAD DINI KEMUNGKINAN HIDUP LEBIH 5 TAHUN ADALAH 30 % - STAD LANJUT PROGNOSE JELEK

PENYAKIT FARING DAN LARING

TONSIL DAN FARING

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

TONSIL DAN FARING


Untuk dapat memeriksa faring dan tonsil mulut dibuka lebar-lebar, lidah ditarik kedalam, dilunakkan lidah ditekan kebawah, dibagian medial penderita disuruh bernafas :
tak boleh menahan nafas tak boleh nafas kuat tak boleh ekspirasi atau mengucap ch

MEMERIKSA MOBILITAS TONSIL Spatula menekan jaringan peritonsiler sedikit lateral dari arkus anterior (sebelumnya didahului dg menekan lidah sebelah anterior tonsil, sehingga kelihatan pole bawah tonsil) Pada : Tumor tonsil fiksasi Tonsilitis kronik tonsil mobil dan sakit

T1 T2 T3 T4

Besar Tonsil Ditentukan Sbb : T0 : tonsil telah diangkat T1 : besar tonsil jarak arkus anterior dan uvula T2 : besar tonsil 2/4 jarak arkus anterior dan uvula T3 : besar tonsil 3/4 jarak arkus anterior dan uvula T4 : besar tonsil mencapai arkus anterior atau lebih

Memeriksa Patologi Tonsil Dan Palatum Mole TONSILITIS AKUT : - semua merah - titik-titik putih pada tonsil TONSITILITS KRONIK : - arkus anterior merah - ditekan sakit ABSES PERITONSIL : - ismus fausium kecil - tonsil terdesak kemedial - sekitar tonsil merah dan udim - uvula terdesak heterolateral udimatus DIFTERI : - pseudomembran kotor, hemoragis - mukosa normal - bull neck - perlu usap tenggorok RADANG SPESIFIK : - TBC TUMOR : - keras, fiksasi tonsil SIKATRIK : - akibat tonsilektomi - pasca insisi abses peritonsil

Memeriksa Patologi Faring FARINGITIS AKUT semua merah FARINGITIS KRONIK hanya granulae merah DIFTERI pseudomembran menutup tonsil, arkus anterior, faring PARALISIS N.VAGUS : saat mengucapkan aa uvula menunjukkan kearah sisi sehat

PENYAKIT FARING DAN LARING

ADENOIDITIS AKUT

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

ADENOIDITIS AKUT
Suatu Peradangan Akut Pada Jaringan Adenoid (Tonsila Faringea) ETIOLOGI
Streptokokus Hemofilus influensa Virus

GAMBARAN KLINIK Adenoid secara fisiologis dijumpai pada anak baru lahir sampai pubertas. Pada umur 12 th mulai mengecil dan pada umur 17-18 th sudah menghilang.

YG DIKELUHKAN : panas badan tinggi, dapat sampai kejangkejang buntu hidung gelisah, tidak dapat menyusui dg tenang, sehingga sering menangis karena kelaparan pda rinoskopi anterior : adenoid membesar dan hiperemi. kavumnasi dapat penuh sekret. sering bersamaan dg tonsilitis komplikasi : otitis media supuratif akut, laringitis, trakeitis, bronkitis dan bronkopneumoni TERAPI : - ANTIBIOTIK (GOL. PENISILIN) - ANALGETIK / SIMTOMATIK

PENYAKIT FARING DAN LARING

TONSILITIS AKUT

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

TONSILITIS AKUT
Merupakan peradangan akut pada tonsila palatina. Terbanyak pada usia 5-10 th ETIOLOGI
GOL STREPTOKOKUS VIRUS

Tonsil merupakan jaringan limfoid yg disebut folikel. Diantara folikel terdapat saluran yg bermuara dipermukaan tonsil yg disebut kripte, yg berfungsi sebagai jalan penyaluran eksudat. Dari kripte dapat keluar berupa detritus yg merupakan kumpulan : epitel yg lepas, limfosit dan lekosit

GAMBARN KLINIK Odinofagi Rasa sakit dapat smpai ke telinga reffered pain Panas tinggi dapat sampai kejang-kejang (terutama bila pada bayi), sakit kepala, badan lesu Nafsu makan berkurang Pada saat bicara terdengar mulut seperti penuh makanan, disebut plummy voice Foetor exore Ptialismus (ludah menumpuk dalam mulut) Pada pemeriksaan Tonsil udim, hiperemi, detritus (+) Ismus fausium tampak menyempit Dapat terjadi pembesaran kelenjar regional leher, yg nyeri tekan Dapat terjadi komplikasi : abses peritonsil, abses parafaring, otitis media. Glomerulonepritis akut, rematik dan endokarditis TERAPI : Pada umumnyapadat sembuh sendiri, istirahat, makanan lunak Obat simtomatik, kalau perlu antibiotik

PENYAKIT FARING DAN LARING

TONSILITIS KRONIK

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

TONSILITIS KRONIK
Merupakan Keradang Kronik Pada Tonsil PATOFISIOLOGI Merupakan kelanjutan infeksi akut berulang atau infeksi subklinik pada tonsil. Terjadi pembesaran tonsil sebagai akibat hipertrofi folikel-folikel. Pada anak-anak biasanya disertai hipertrofi adenoid, sehingga disebut adenotonsilitis kronik.

DIAGNOSIS 1. Anamnesis Odinofagi bersifat kronik, menghebat bila ada serangan akut Rasa mengganjal ditenggorok Mulut berbau Badan lesu, makan kurang Cefalgia Pada adenoiditis kronik / adenotonsilitis kronik terjadi buntu hidung, tidur ngorok (mendengkur) 2. Pemeriksaan Tonsil membesar (umumnya), hiperemi pada serangan akut Kripte melebar, terisi detritus Arkus anterior dan posterior hiperemi Pada adenotonsilitis kronik dapat terjadi adenoid face Pada rinoskopi anterior fenomena palatum mole negatif, kadang tertutup sekret.

KOMPLIKASI
OTITIS MEDIA, SINUSITIS PARANASAL

TERAPI
Pada serangan akut terapinya sama seperti tonsilitis akut Bila perlu dilakukan tonsilektomi atau adenoton-silektomi

Indikasi Tonsilektomi / Adenotonsilektomi Tonsilitis akut residivans (kambuh > 5x setahun) Tonsilitis kronik, yg mengalami eksaserbasi akut lebih dari 5x setahun Tonsil sebagai sumber infeksi Tonsilitis sebagai penyulit abses peritonsil Tonsil besar dg gangguan menelan/ bernafas Tonsil sebagai karier difteri
Tumor tonsil

PENYAKIT FARING DAN LARING

LARINGITIS

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

A. LARINGITIS AKUT

Merupakan komplikasi rinitis dan faringitis Etiologi


Virus Streptokokus hemolitikus Hemofilu influensa

Gejala klinis
Hoarsnes = disfoni = parau Bila berat dapat sampai afoni (tidak dapat bersuara) Tenggorok gatal dan dapat sampai sakit untuk bicara Seringkali disertai batuk Suhu tubuh subfebris

Pemeriksaan laringoskopi tidak langsung


Plika vokalis / kordavokalis
Hiperemi & udim

Pada orang dewasa tidak terlalu menimbulkan masalah Bila menyerang anak-anak dapat menyebabkan sesak nafas hebat. Yg dapat berakibat fatal. Hal ini karena adanya udim plika vokalis yg dapat menyebabkan rima glotis tertutup. Selain hal tersebut juga jaringan sekitar laring memang mudah sekali udim Udim karena itu laringitis pada anak harus mendapat penanganan yg lebih serius

PENGOBATAN
Dewasa
Istirahat bersuara (vokal res) Antibiotika Obat simtomatik Kasus ringan dapat sembuh sendiri (self limiting) MRS Selain pengobatan diatas ditambah kartikosteroid Nebulaiser (stoom uap) Kalau perlu tracheostomi

Anak

B. LARINGITIS KRONIS
Merupakan laringitis yg sering kambuh (misalnya pada perokok) Atau oleh karena iritasi sekret pada sinusitis dan faringitis kronik Gambaran klinik
Batuk Horsnes yg sifatnya hilang timbul Banyak diderita oleh orang yg banyak berbicara

Pemeriksaan laringoskopi langsung


Plika vokalis : hiperemi dan tebal Gerakan plika vokalis normal

Pengobatan
Vokal res Jangan merokok Hindari Tempat Berdebu / Berasap

PENYAKIT FARING DAN LARING

KARINOMA LARING

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

KARSINOMA LARING
Banyak diderita laki-laki, umur 40 th keatas Sering dikaitkan dg kebiasaan merokok atau berada pada lingkungan berdebu Gambaran klinik Horsnes kronik yg tidak sembuh-sembuh, walaupun sudah sering diobati Rasa tidak enak ditenggorok sepert ada sesuatu yg tersangkut Fase lanjut timbul odinofagi Sesak nafas bila rima glotis tertutup / hampir tertutup (80%). Sesak nafas terjadi secara pelan-pelan sehingga penderita dapat beradaptasi. Merasakan sesak bila tumor besar. Hal ini berarti merupakan stadium lanjut penderita terlambat Fase lanjut juga ditandai pembesaran kelenjar Bila menjumpai kasus dg gambaran klinik sebagaimana diatas segera dirujuk

PENGOBATAN
Operasi / laringektomi Radiasi

Bila dilakukan laringektomi penderita tidak dapat bersuara. Dapat bersuara dg latihan melalui usofagus (usofagus speech) dg bantuan seorang binawicara

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA

KOLESTEATOM

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

KOLESTEATOM
= CHOLESTEATOSIS = EPIDERMOSIS = KERATOSIS KAVUMTIMPANI Adalah suatu Kista Epidermoid yg mengandung keratin yg dikelilingi kristal kolesterol Sering kolesteatom ini terdapat pada kavum timpani kolesteatom timpani, yg mengalami proses hiperproliferasi sel epitel keratin epidermis dg sifat : Tumbuh agresif, erosif dan destruktif terhadap mukosa dan tulang (pada metus akustikus eksternus dan kavum timpani) Dapat disertai pembentukan jaringan granulasi dikavum timpani dan antrum mastoideum Manifestasi klinis berupa invasi dan migrasi ke jaringan sekitarnya.

ETIOPATOGENESIS
Etiopatogenesis kolesteatom hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Haberman (1889) mengatakan bahwa kolesteatom timpani berasal dari migrasi epitel epidermis, sisa membrana timpani atau meatus akustikus eksternus bagian medial melalui tepi perforasi membran timpani ke kavum timpani.

PEMBAGIAN KOLESTEATOM
Berdasarkan patogenesisnya, kolesteatom dibagi 2 : 1. Kolesteatom Kongenital (Kol. Primer) Terjadi dari jaringan epitel embrional Sering berada pada telinga tengah dan antrum mastoideum Dapat menyebabkan paralise nervus facialis, SNHL, gangguan keseimbangan

2. Kolesteatom Akuisita (Kol. Sekunder) Terdapat pada tubaeustacii



Menyumbat tuba e Biasanya pada bayi, jarang pada anakanak Terjadi karena adanya hipertrofi adenoid dan ISPA Terjadi pembentukan kantong pada atik atau bag. tepi posterosuperior

Timbunan keratin Perforasi membrana timpani : merupakan lokus minoris resistensi Infasi atik oleh keratin Ekspansi bertahap : osikula auditiva editus ad antrum antrum mastoideum

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA


PENATALAKSANAAN EPITAKSIS

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

PENDAHULUAN
Epistaksis atau pendarahan hidung (Nose Bleed) atau lebih dikenal dengan istilah mimisen adalah suatu pendarahan yang keluar melalui lubang hidung, baik ke arah depan melalui lubang hidung depan (nares anterior) ataupun ke belakang melalui lubang hidung belakang (nares posterior) dan atau keluar dari Nasofaring dan masuk ke dalam faring. Epsitaksis dapat terjadi pada semua umur. Paling banyak terjadi pada usia anak-anak dan umur lebih dari 60 tahun, jarang terjadi pada bayi dan dewasa muda. Sebenarnya Epistaksis bukanlah merupakan suatu penyakit, tetapi hanya suatu gejala dari suatu penyakit untuk menentukan asal pendarahan sering sulit ditemukan. Sebagian besar ( 80%) Epistaksis berasal dari septumnasi bagian depan (Pleksus Kiesselbach) yaitu sebagai Epistaksis Anterior dan 20% sebagai Epistaksis Posterior, dimana sebagian darah dari rongga hidung masuk ke dalam faring dan sebagian keluar melalui lubang hidung depan. Tanpa memandang penyakit yang melatarbelakanginya, Epistaksis harus segera dihentikan, guna menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan.

MACAM-MACAM EPISTAKSIS
Epistaksis dapat terjadi karena pendarahan rongga hidung (Kavum Nasi), Sinus Paranasales ataupun Nasofaring. Sedangkan berdasarkan asal pendarahannya, Epistaksis dibagi 2 : 1. Epistaksis Anterior yaitu Epistaksis yang disebabkan karena pendarahan dari rongga hidung bagian depan (Anterior), biasanya dari Pleksus Kiesselbach yang terletak pada area Little yaitu pada Septum Nasi bagian depan atau dari Arteria Etmoidalis Anterior. 2. Epistaksis Posterior yaitu Epistaksis yang disebabkan pendarahan oleh karena pecahnya Arteri atau Vena yang terletak pada rongga hidung bagian belakang, Septum Nasi bagian belakang atau Nasofaring. Biasanya dari Arteri Sfenopalatina atau Arteri Etmoidalis Posterior.

ANATOMI HIDUNG
Secara Anatomis hidung dibagi 2 : Hidung Luar (Nasus Eksternus) Hidung Dalam (Nasus Internus) yaitu rongga hidung atau Kavum Nasi

HIDUNG LUAR (NASUS EKSTERNUS)


1. 2. NARES ANTERIOR KARTILAGO SEPTUMNASI

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

RADIKS NASI DORSUM NASI APEKS NASI NARES ANTERIOR KOLUMELA SULKUS NASOLABIALIS ALA NASI PLIKA NASOLABIALIS

BENTUK HIDUNG I. PLATYRRHINES II. MESORRHINES III. LEPTORRHINES


PLATYRRHINES - NASAL INDEX : 65 80 - TDPT PD : ORANG KULIT HITAM MESORRHINES - NASAL INDEX : 61 65 - TDPT PD : KULIT BERWARNA LEPTORRHINES - NASAL INDEX : 61 ATAU KURANG - TDPT PD : ORANG KULIT PUTIH

RONGGA HIDUNG (SKEMATIS)


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. SINUS ETMOIDALIS KAVUM ORBITA KONKA SUPERIOR MEATUS NASI MEDIUS KONKA MEDIUS SINUS MAKSILARIS MEATUS NASI INFERIOR KONKA INFERIOR SEPTUM NASI SINUS FRONTALIS

PENYAKIT PENYAKIT TELINGA


VASKULARISASI KAVUM NASI

Dr. H. Amdad Umar Mansyur, SpTHT

VASKULARISASI KAVUM NASI


Suplai darah Kavum Nasi dari cabang-cabang Arteri Karotis Eksterna dan Arteri Karotis Interna. 1. Cabang Arteri Karotis Eksterna yaitu : 2. a. Sfenopalatina (lanjutan a. Maksilaris Interna) mensuplai Kavum nasi, Meatus dan sebagian besar Septum. 3. a. Palatina Mayor (cabang a. Maksilaris Interna) mensuplai dinding Lateral Kavum Nasi dan bagian Anterior Septum.a. Labialis Superior (cabang a. Facialis). Cabang ini mensuplai ujung Septum dan ala nasi. Cabang ini juga beranastomosis dengan cabang a. Sfenopalatina dan a. Palatina mayor yang membentuk Pleksus Kiesselbach yang terletak pada Septum Nasi bagian Anterior (Pada Area Litte), dimana pleksus ini letaknya superfisial, sehingga dengan tergores sedikit saja mudah terjadi epistaksis. 4. a. Infraorbitalis dan a. Labialis Superior, cabang a. Maksilaris Interna yang mensuplai Sinus Maksilaris. 5. a. Faringeal, cabang a Maksilaris Interna yang mensuplai Sinus Sefinoid.

Cabang-cabang Arteri Karotis Interna yaitu : a.Etmoidalis Anterior dan Posterior, yang merupakan cabang a. Oftalmika. Arteri ini yang mensuplai atap Hidung, Septum Nasi bagian Arterior, dinding Lateral Kavum Nasi, Sinus Etmoidalis dan Sinus Frontalis. Sistem Vena membentuk Pleksus Kavernosus, yang berada dibawah membrana mukosa. Pleksus ini jelas terlihat diatas Konka Media dan Inferior serta Septum bagian bawah. Vena-vena di hidung tidak memiliki katup, sehingga merupakan salah satu faktor predisposisi penyebaran infeksi sampai Intrakranial.

ETIOLOGI 35 % Trauma : trauma ringan sampai berat :


Mengorek hidung Membuang ingus terlalu kuat Kena pukulan Kecelakaan

65 % Spontan / tanpa penyebab yang jelas

FAKTOR PREDISPOSISI :
1. Faktor predisposisi dalam mukosa hidung
Inflamasi Krusta ber AC. Arteriosklerasis Idiopatik Degenerasi : Rinitis akuta, rinitis allergika : Rinitis atropikans / ozaena, pada ruang

2. Faktor predisposisi dalam dinding pembuluh darah


3. Faktor predisposisi karena aliran dan tekanan darah 4. Faktor predisposisi karena kelainan hemostatis : misalnya trombositopenia, pengaruh obat- obatan (dicumarol, hiparin, aspirin dll).

PATOFISIOLOGI EPISTAKSIS
Epistaksis merupakan suatu bentuk pendarahan yang sampai sekarang belum jelas benar patofisiologinya. Salah satu teori menyebutkan bahwa ketidakseimbangan hormonal dapat menyebabkan timbulnya pendarahan, yang disebabkan oleh karena meningkatnya permeabilitas kapiler secara abnormal. Perlu dipikirkan kemungkinan obatobatan misalnya aspirin sebagai penyebab kelainan hemostasis, telah dibuktikan pula adanya aktifitas fibrinolis yang berlebihan pada penderita epistaksis. Teori- teori yang lain menyatakan bahwa terjadinya ruptura dinding pembuluh darah mukosa hidung masih merupakan suatu teka-teki yang penuh misteri.

PENATALAKSANAAN EPISTAKSIS :
Penanganan epistaksis aktif (darah masih dalam keadaan keluar) harus segera dihentikan, tanpa memperhatikan apa yang menjadi penyebabnya. Hal ini dimaksudkan juga agar tidak terjadi komplikasi yang tidak diharapkan. Untuk dapat melakukan penanganan epistaksis dengan baik, perlu juga sesegera mungkin menentukan jenis epistaksisnya, apakah epistaksis anterior ataukah epistaksis posterior.

1. Epistaksis Anterior
Epistaksis anterior ditandai adanya darah dari rongga hidung yang sebagian besar keluar melalui lubang hidung depan (nares anterior) pada posisi penderita duduk tegak. Epistaksis anterior sering berasal dari septumnasi bagian depan (Plektus Kiesselbach), kadangkadang juga berasal dari arteria etmoidalis anterior. Penanganan epistaksis anterior diberi/dipasang tampon anterior dengan kapas atau kasa steril yang diberi zalf antibiotik, tampon dapat dipertahankan 23 hari, penderita dapat pulang dan kembali setelah 2 atau 3 hari.

2. Epistaksis Posterior
Epistaksis posterior ditandai adanya darah dari rongga hidung sebagian besar masuk kedalam rongga mulut dan sebagian kecil saja yang keluar melalui nares anterior, pada penderita dengan posisi duduk tegak. Sumber pendarahan biasanya dari a. etmoidalis posterior. Sumber pendaharan/bleeding point pada epistaksis ini sering sulit ditentukan baik dengan rinoskopi anterior maupun dengan rinoskopi posterior, sehingga penanganannya juga sering mengalami kesulitan. Pemasangan tampon posterior ( tampon belloq ) harus segera dipasang (setelah diagnosa epistaksis posterior ditegakkan) kadang-kadang harus diikuti juga dengan pemasangan tampon anterior. Bila dengan tampon posterior, epistaksis masih belum teratasi, maka dapat dilakukan legasi arteria karotis eksterna, arteria maksilaris interna atau arteria etmoidalis anterior dan arteria. etmoidalis posterior. Penderita dengan epistaksis posterior harus menjalani rawat inap.

Pemberian obat-obatan pada epistaksis.


Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa pemberian obat-obatan pada epistaksis kurang bermanfaat. Tetapi menurut Cody dan kawan-kawan pada tahun 1981 menyatakan bahwa dapat digunakan obat-obatan hematinik suportif. Pemberian Vitamin C dan Vitamin K menunjukkan keberhasilan yang bervariasi pada pasien yang mengalami epistaksis berulang, Telah digunakan 20 mg premarin intramuskuler atau intravena bersama karbazokrom salisilat. Karbozokrom dianggap efektif untuk terapi penderita dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan disertai ruptura kapiler. Karbozokrom diberikan 10 mg (2 ml), diberikan intra muskuler atau peroral dan diulangi dalam 2 jam sesuai kebutuhan. Pada anak- anak dibawah usia 12 tahun diberikan 5 mg setiap 2 jam, intramuskuler atau peroral.

KESIMPULAN :
Epistaksis bukan suatu penyakit, hanyalah gejala suatu penyakit. Epistaksis harus segera dihentikan secara adekuat tanpa memandang apa yang jadi penyebabnya Epistaksis anterior dipasang tampon anterior, tidak harus MRS Epistaksis posterior harus dipasang tampon posterior, harus MRS.

BENDA ASING DI BIDANG THT (KORPUS ALIENUM )KORPAL

Dr. AMDAD UMAR MANSYUR, SpTHT

I. BENDA ASING TELINGA


YANG DIMAKSUD BENDA ASING DI TELINGA ADALAH KORPAL YG MASUK KEDALAM LIANG TELINGA (MEATUS AKUSTIKUS EKSTERNUS MAE)

JENIS KORPAL
1. BENDA HIDUP :serangga : klaper, coro, jangkrik, nyamuk, semut, dll 2. BENDA MATI
Biji tumbuh2-an, padi, beras, klenteng (biji kapuk), kedelai, dll Bunga-bungan Daun-daunan Kertas Potongan korek api Kerikil, Kapas, dll

Hal-hal Yg Menimbulkan Keluhan/ Menonjol


1. Otalgia hebat 2. Obstruksi pd MAE

ke IGD

CARA PENANGANAN
1. Perhatian Anatomi Telinga MAE
Bentuk MAE lengkung (Panjang + 2,5 Cm) MAE khususnya pd laki-laki pd 1/3 Lateral sering ditumbuhi rambut. MAE Balita relatif lebih pendek (<2,5 Cm dan lebih kecil

2. Perlu diperhatikan jenis korpalnya 3. Perlu diperhatikan posisi korpal didalam MAE.

GAMBAR TELINGA

4. Jangan sampai menimbulkan trauma pd MAE lebih-lebih terhadap membrana timpani 5. Untuk balita harus dilakukan fixasi kuat, sehingga penderita tidak terlalu bergerak berlebihan. 6. Korpal binatang diupayakan dimatikan dulu dengan Gliserin, obat tetes telinga. 7. Jangan memberikan cairan yang menimbulkan rasa sakit / merangsang pd MAE atau membrana timpani - Minyak kayu putih - Minyak tanah, bensin dll

8. Korpal kecil : Nyamuk, semut dikeluarkan dengan mesin penghisap secara pelanpelan. 9. Korpal bulat dikeluarkan dengan pengait 10. Korpal kertas, kapas dan sejenisnya diambi dengan Tang Bengkok / Tang Buaya. 11. Korpal pada balita tidak kooperatif GA (Setelah semua upaya gagal salah cara fiksasi anak?)

Beberapa keadaan yang kadangkadang dikira korpal pada MAE 1. OMA (Otitis media supuratif Akut) STAD. supurasi Kavum timpani penuh PUS Obstruksi, membrana timpani bulging OTALGIA Tx : Miringotomi. 2. Otitis Eksterna Furunkulosa Furunkel pada MAE 1/3 Lateral MAE udim dan menyempit Otalgia & Obstruksi. Tax : Insisi dan pasang tampon pada MAE.

3. Serumen yang mengembang karena kemasukan air. Memenuhi MAE dan menekan dinding MAE Obstruksi dan Otalgia. Tx : Ekstraksi Serumen

II. BENDA ASING RONGGA HIDUNG


Kebanyakan dijumpai pada anak-anak / balita. Macam korpal 1. Mineral : Kertas, spon, plastik. 2. Biji-bijian : Kacang, jagung dll 3. Binatang : Pacat, larva Lokasi korpal 1. Vestibulum nasi 2. Meatus nasi inferior 3. Dasar kavum nasi

GEJALA 1. Rinore, sering unilateral 2. Obstruksi nasi 3. Foetor eks nasale 4. Kadang-kadang ekpistaksis (lendir campur darah) PEMERIKSAAN - Terlihat masa dikavum nasi, unilateral - Rinoskopi anterior * Sekrit mukopus, bau * Mukosa Hiperemis * Kadang-kadang korpal tertutup jaringan granulasi (Terlalu lama).

CARA PENANGANAN Korpal diupayakan segera diambil, karena : * Mudah menimbulkan peradangan * Mudah menimbulkan kerusakan mukosa. * Kemungkinan masuk terhirup kedalam sal pernafasan Pengambilan dengan pengait, bentuk sendok berlubang, dengan fikasi kuat. Bila tidak kooperatif dg GA

III. BENDA ASING DI FARING


Mengenai semua umur Biasanya benda mati : duri, kayu, isi ceklekan, jarum pentul Lokasi : orofaring, hipofaring yaitu pada
Dinding posterior faring Fosa tonsilaris / tonsil Pangkal lidah

Gejala : Odinofagi / kadang-kadang hebat Penanganan : Diambil dengan tang bengkok / pinset / pean kalau perlu diberikan anestasi lokal (Xicocain Spray)

GAMBAR FARING

NASOFARING

OROFARING

LARINGOFARING

IV. BENDA ASING DI LARING


Biasanya anak-anak Jenis korpal : kacang, jagung, jarum pentul, isi ceklekan, paku jamur Bila korpal berhenti dilarang keluhan dapat berupa: * Sesak napas * Stridor * Kadang-kadang odinofagi Tx : Diambil dengan laring direk KP trakheostomi

V. BENDA ASING DI TRAKHEA / BRONKHUS


Biasanya anak-anak Jenis korpal : paling sering kacang Keluhan : Bila ditrakhea sesak nafas serasa kecekik bila dibronkus sesak nafas baik dilaring, trakhea maupun bronkhus sesak nafas diikuti biru / sinosis Bila masuk bronkhus, sering korpal masuk ke bronkhus primarius dekstra, karena
Posisi bronkhus kanan lebih vertikal dari bronkhus sinistra Diameter bronkhus dekstra relatif lebih besar dari bronkhus sinistra

1. 2. 3. 4.

BRONKHUS UTAMA KARINA BRONKHUS SINISTRA BRONKHUS DEKSTRA

Berdasarkan besar kecilnya korpal yg masuk ke bronkhus, ada beberapa keadaan yg terjadi a. BY PASS VALVE OBSTRUCTION Korpal : kecil/ringan Suara nafas : stridor M Udara inspirasi dan ekspirasi dpt masuk dan dpt keluar
K

b. CHECK VALVE OBSTRUCTION Korpal : agak besar/berat Inspirasi : udara dpt masuk ke paru M Ekspirasi : udara dari paru tdk dpt keluar K ---------- EMFISEMA Px : fot torak

C. STOP VALVE OBSTRUCTION Korpal : besar/berat - menutup bronkhus M Inspirasi : udara tdk dpt masuk ke paru Ekspirasi : udara dari paru tdk dpt K keluar ---------- ATELEKTASE Px : foto torak

PENANGANAN
DILAKUKAN BRONKHOSKOPI (dirujuk)

VI. BENDA ASING DI USIFAGUS


Jenis-jenis Korpal Di Usofagus 1. VEGETAL 2. NON VEGETAL
a. TIDAK TAJAM : - DAGING - UANG LOGAM b. TAJAM : - TULANG - GIG PALSU - PENITI PALING SERING : DAGING, UANG LOGAM

BEBERAPA FAKTOR YG DPT MENYEBABKAN MASUKKNYA KORPAL KE DLM USOFAGUS 1. UMUR :- Anak2 : uang logam - Tua/Dewasa : daging 2. FAKTOR MAKANAN - daging - tempe dg biting/lidi - bakso berpaku - sate dg sunduknya 3. GIGI PALSU : dg pemakaian gigi palsu orang tdk merasa apa2 thd apa yg dimakan 4. GANGGUAN MENTAL : menelan sesuatu

LOKASI
Korpal paling sering terhenti pd pemyempitan usofagus paling atas, yaitu setinggi VCVI yg disebut INTROITUS USOFAGUS, dmn tdpt M. Krikofaringeus (75%), dmn otot tsb selalu dlm kontraksi tonis, kecuali jika ada Bolus makanan, barulah relaksasi

GEJALA-GEJALA (1)
1. ODINOFAGI jika korpal masih diusofagus bag.atas rasa sakit pd bag. Leher jika korpal pd pars torakalis, rasa sakit dibelakang sternum atau diantara skapula jika korpal d bag. Bawah usofagus (pars abdominalis) rasa sakit pd epigastrium

GEJALA-GEJALA (2)
2. 3. 4. 5. 6. 7. Disfagi Afagi Regurgitasi -------- jika obstruksi total Tersendak Hipersalivasi Hematemesis Korpal tajam Rasa tercekik Korpal terlalu besar menekan trakea

Tempat-tempat Penyimpanan pd Usofagus


1) Introitus usofagei / m. krikofaringeus VCV VI 2) Persilangan dg arkus aorta V THV 3) Persilangan dg bronkhus sinistra -- > V THVI 4) Hiatus diapragmatika / hiatus kardia VYH X

PEMERIKSAAN
A. RO FOTO : unt korpal yg bersifat radiopaque : uang logam, tulang
Polos Usofagografi dg kontras barium Pemeriksaan sinar tembus ( DL )

B. USOFAGOSKOPI

PENANGANAN
USOFAGOSKOPI : Dx dan Tx ( rujuk )

PREVENTIF
Anak balita jangan diberi uang logam Gigi palsu dilepas waktu tidur Orang tua hati2 makan daging