Anda di halaman 1dari 13

1 PERANG DINGIN DAN PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI PASCA PERANG DUNIA II Berakhirnya Perang Dunia II tidak

menyelesaikan segala pertikaian antarnegara di dunia. Meskipun terjadi penurunan konflik bersenjata antarnegara-negara besar tetapi ketegangan di antara mereka berubah dalam bentuk Perang Dingin. Pengertian Perang Dingin adalah perang dalam bentuk ketegangan tanpa menyebabkan konflik senjata secara langsung, sebagai perwujudan dari konflik-konflik kepentingan, supremasi, dan perbedaan ideologi di antara negara-negara adidaya pemenang Perang Dunia II, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Setelah kemenangan Sekutu atas pihak Poros Jerman-Italia-Jepang, terjadi perbedaan visi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mengenai tatanan dunia yang akan dibangun. Amerika Serikat menginginkan dunia yang berideologi demokrasi-liberal sementara Uni Soviet menginginkan dunia yang berideologi komunis. Tahap awal Perang Dingin diwarnai dengan perbedaan pendapat antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mengenai masa depan Polandia setelah Perang Dunia II berakhir. Polandia saat itu diduduki oleh Uni Soviet. Uni Soviet memandang bahwa Polandia harus berada di bawah pengaruhnya karena merekalah yang berhasil mengusir Jerman keluar dari negeri itu dan telah membentuk pemerintahan komunis di sana. Sikap tersebut tidak diterima oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat menganggap rakyat Polandia mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Perbedaan pandangan mengenai nasib Polandia ini kemudian berkembang menjadi perbedaan pandangan mengenai masa depan negara-negara Eropa Timur. Uni Soviet menerapkan sistem komunis di bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan di daerah-daerah yang mereka kuasai setelah Perang Dunia II. Untuk mengimbangi seruan demokratisasi Barat, di negara-negara yang dikuasainya Uni Soviet menerapkan apa yang disebut sebagai demokrasi rakyat, atau sering disebut dengan demokrasi sosialis. Demokrasi tersebut bermakna hanya ada satu partai politik, yaitu Partai Komunis, sementara partai oposisi tidak diperkenankan. Di lain pihak, Amerika Serikat berupaya menyebarkan pemerintahan demokrasi liberal. Berbeda dengan sistem demokrasi sosialis yang disebarkan Uni Soviet, sistem demokrasi liberal memperbolehkan partai-partai politik bebas berdiri, di mana rakyat bebas memilih wakilwakilnya untuk duduk di badan legislatif. Partai-partai politik pun bebas mengeluarkan pendapat dan boleh beroposisi. Agar negara-negara Eropa (Barat) tidak terpengaruh oleh ideologi komunis (berdasarkaai Teori Domino) maka Amerika Serikat membantu negara-negara tersebut dengan bantuan yang dikenal dengan sebutan Marshall Plan. Dalam kurun waktu 1946-1947, Uni Soviet membentuk pemerintahan komunis di Polandia, Bulgaria, Hongaria, dan Rumania. Karena munculnya negara-negara komunis yang dibentuk Uni Soviet ini berada di wilayah benua Eropa bagian timur maka mereka disebut juga dengan nama Blok Timur. Negara-negara yang sejalan dengan pandangan Amerika Serikat adalah Perancis dan Inggris serta negara-negara yang pada umumnya berada di wilayah benua Eropa bagian barat, sehingga disebut Blok Barat. Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, mengistilahkan Blok Timur dengan sebutan tirai besi (iron curtain) untuk memberi label kepada komunis yang kaku dan tertutup. Kedua blok tersebut bersaing untuk menguasai atau mempengaruhi negara-negara yang baru merdeka. Blok Timur membantu mereka dengan senjata dan pendidikan para kader, sementara Blok Barat membantu melalui tenaga-tenaga ahli, modal, dan pendidikan untuk pembangunan supaya idieologi komunis tidak berkembang. Ketegangan-ketegangan antara keduanya pun mulai sering terjadi. Uni Soviet menganggap dirinya sebagai pemimpin revolusi dunia yang progresif dan menuduh Amerika Serikat selalu mencegah setiap kegiatan revolusi yang digagas oleh Uni Soviet. Sebaliknya, Amerika menuduh aktivitas Uni Soviet sebagai kegiatan untuk menyebarkan komunisme. Untuk mencegah meluasnya pengaruh Uni Soviet. pada tanggal 4 April 1949 negaranegara Eropa Barat dan Amerika Serikat membentuk suatu organisasi pertahanan bersama yang disebut North Atlantic Treaty Organization (Organisasi Pertahanan Atlantik Utara, disingkat NATO). Pada tahun 1955, Uni Soviet mendirikan organisasi pertahanan yang bernama Pakta Warsawa untuk mengimbangi NATO. Selama berlangsungnya Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak pernah bertemu dalam peperangan yang nyata atau kontak fisik secara langsung. Keduanya lebih terlihat dalam perlombaan pembuatan persenjataan mutakhir, yang intinya ingin memperlihatkan kekuatan masing-masing. Akan tetapi, kedua negara tersebut selalu berada di belakang negaraSS Collection Arranged by Suci

2 negara yang sedang bertikai. Masing-masing memberikan bantuan, terutama bantuan senjata, kepada negara-negara yang sedang bertikai. Perhatikan data berikut ini : Pemimpin blok Ideologi Kepartaian Bentuk bantuan Organisasi pertahanan Blok Barat USA Demokrasi liberal Banyak partai Senjata dan pendidikan kader NATO Blok Timur USSR Demokrasi sosialis 1 partai (tidak ada oposisi) Tenaga ahli, modal, dan pendidikan Pakta Warsawa

Menguatnya Perang Dingin a. Kompetisi senjata Kompetisi persenjataan yang sangat mengkhawatirkan dunia adalah bukan senjata konvensional, tetapi senjata nuklir. Hal ini karena senjata nuklir mempunyai daya perusak luar biasa dan dapat menghancurkan peradaban manusia. Amerika Serikat dan Uni Soviet saling berlomba mengungguli persenjataannya, tetapi di sisi lain mereka sangat khawatir karena perang nuklir dapat menyebabkan kehancuran yang sangat dahsyat. Senjata nuklir mempunyai jelajah antarbenua karena berbentuk rudal penjelajah. Rudal yang ditembakkan dapat melalui pesawat terbang atau kapal selam. Pusat-pusat peluncuran senjata tersebut ditempatkan pada tempat yang strategis sehingga memudahkan untuk menyerang musuh. Contohnya, yaitu pada saat Krisis Kuba (1962). Uni Soviet menempatkan rudalnya di Kuba dan siap ditembakkan ke tempat-tempat pertahanan Amerika Serikat. Keberhasilan tersebut dapat terlihat bahwa dalam hal perlombaan persenjataan, Uni Soviet secara kuantitatif lebih unggul dibandingkan dengan Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Senjata Rudal balistik Rudal dad kapal selam Pe awat pengebom rudal Kendaraan bersasaran ledak Kekuatan nuklir medan (rudal) Kekuatan nuklir medan (pesawat bam) USSR 1398 989 150 4872 860 880 USA 1052 584 376 6774 108 218

Tabel perbandingan senjata yang digunakan Uni Soviet dan Amerika Serikat tahun 1983 b. Spionase Spionase adalah bentuk kerja memata-matai lawan agen rahasia kedua belah pihak melakukan spionase. Kegiatan ini menimbulkan ketegangan, baik yang dilakukan oleh intelijen Uni Soviet Kommissariat Gasudarstvenni Bezopastnotsi (KGB) maupun intelijen Amerika Serikat Central Intelligence Agency (CIA). Kedua intelijen ini saling mencari informasi rahasia di negara-negara lawan. Agen rahasia memainkan peran penting sebelum melakukan gerakan politik dan militer. KGB berpolitik di Kuba untuk menghadapi Amerika Serikat. Sebaliknya, CIA membantu warga Kuba yang ingin keluar dari negaranya dan dibawa untuk menyerang Kuba. Berbeda dengan di Indonesia, CIA berperan dalam menjatuhkan pemerintahan Orde Lama. c. Aliansi militer Dua blok kekuatan dunia saling memperkuat militernya dengan melakukan aliansi militer. Terjadinya Perang Dingin dapat mempererat persekutuan dengan negara-negara satelitnya. Dengan demikian, dapat membantu kekuatan militer dan sebagai pelindung saat terjadi serangan dari lawan. Aliansi dua blok ini terbagai atas Blok Barat membentuk NATO (North Atlantic Treaty Organization), sedangkan Blok Timur mendirikan Pakta Warsawa.
SS Collection Arranged by Suci

3 NATO NATO atau disebut juga Pakta Pertahanan Atlantik Utara (Eropa Barat dan Amerika Utara) dibentuk pada tahun 1949. Fungsi dibentuknya Pakta Pertahanan ini adalah sebagai sarana untuk menjangkau keamanan melalui tindakan bersama sesuai dengan Perjanjian Atlantik Utara. Selain itu, NATO juga bertujuan menangkal ancaman militer dan kemungkinan intervensi militer dari Uni Soviet dan negara-negara komunis. Oleh sebab itu, dalam salah satu pasal perjanjian tersebut dikatakan bahwa apabila salah satu negara anggota NATO diserang berarti menyerang seluruh anggota NATO. Perjanjian NATO ditandatangani pada tanggal 4 April 1949 di Washington oleh dua belas negara, yaitu Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Luxemburg, Denmark, Inggris, Italia, Kanada, Perancis, Portugal, Norwegia dan Eslandia. Pada tahun 1952, Yunani dan Turki masuk menjadi anggota NATO. Begitu juga Jerman Barat pada tahun 1955 dan Spanyol pada tahun 1982. Tujuan dibentuknya NATO adalah : menyelesaikan persengketaan secara damai; tidak boleh menggunakan kekerasan maupun ancaman militer dalam hubungan internasional; menghilangkan persengketaan politik dan ekonotni internasional; memupuk kerja sama ekonomi di antara anggota, dan serangan terhadap salah satu anggota NATO berarti menyerang seluruh anggota NATO. Pakta Warsawa Pakta Warsawa dibentuk pada tanggal 14 Mei 1955 di Warsawa, Polandia. Anggotanya, yaitu Uni Soviet, Polandia, Jerman Timur, Cekoslavia, Hongaria, Rumania, Bulgaria, dan Albania. Adapun tujuan didirikannya Pakta Warsawa adalah sebagai berikut : Menekan kembali pengaruh AS di Eropa Barat. Mengisolasi dan menetralisasi Republik Federasi Jerman (Jerman Barat). Mempersatukan negara-negara komunis. Memupuk kerja sama negara-negara anggota dalam bidang militer untuk mengimbangi NATO, terutama politik Amerika Serikat di Eropa Barat; dan Menghendaki persatuan di Eropa Timur. Fungsi Pakta Warsawa sebagai berikut : Fungsi ke dalam, yaitu bertujuan agar semuanya dapat dipergunakan sebagai perlengkapan yang dapat memelihara dominasi Uni Soviet terhadap negara-negara satelitnya. Fungsi ke luar, yaitu aliansi militer diarahkan pada negara-negara di luar Blok Timur. Adapun perbandingan kekuatan NATO dan Pakta Warsawa adalah : Persenjataan NATO Pakta Warsawa Tank 17000 45000 Senjata artileri 9500 19400 Senjata anti pesawat udara 5300 6500 Pelontar rudal darat ke udara 1800 6300 Pelontar rudal darat ke darat 350 1200 Peristiwa-peristiwa Perang Dingin Krisis Berlin Peristiwa pertama Perang Dingin adalah Krisis Berlin. Krisis Berlin berakar dari pembagian Jerman menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Saat Jerman kalah dalam Perang Dunia II, pasukan Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis menduduki Jerman bagian barat, sedangkan pasukan Uni Soviet menduduki Jerman bagian timur. Berlin sebagai ibukota Jerman pun turut dibagi dua menjadi Berlin Barat dan Berlin Timur. Krisis Berlin terjadi pada bulan Juni 1948. Uni Soviet melanggar perjanjian dengan memblokade akses masuk ke kota Berlin. Hal ini membuat masyarakat kota Berlin terancam kelaparan akibat kurangnya suplai logistik. Amerika
SS Collection Arranged by Suci

4 Serikat membantu penduduk Berlin dengan operasi yang diberi nama Air Lift Operation. Akhirnya, pada Mei 1949 Uni Soviet menghentikan blokade. Perluasan Perang Dingin Keluar Eropa Teori Domino (Domino Effect) adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa apabila satu negara telah menganut ideologi tertentu, negara-negara tetangganya secara otomatis akan menganut ideologi yang sama pula. Perwujudan dari teori Domino pada masa perang dingin adalah munculnya Proxy War di berbagai kawasan di luar Eropa. Proxy War adalah perang sekunder sebagai akibat dari perang primer yang berlangsung di antara dua negara besar Amerika Serikat dan Uni Soviet. Proxy War terjadi antara lain di Vietnam dan Korea (Asia), dan di Kuba (Amerika Latin). Perang Korea Pecahnya Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan bermula dari adanya aneksasi Jepang terhadap Korea sejak tahun 1910. Pada masa awal Perang Dunia II, Uni Soviet menduduki Korea dan memerangi Jepang. Pada 10 Agustus 1945, Amerika Serikat mengeluarkan sebuah kebijakan politik luar negeri untuk menduduki Korea bagian selatan dalam rangka membendung penyebaran komunisme Uni Soviet yang telah terlanjur menyebar di kawasan utara Korea. Langkah Amerika Serikat itu bertujuan agar Uni Soviet tidak sampai menguasai seluruh kawasan semenanjung Korea. Para petinggi Amerika Serikat pada saat itu membuat sebuah grand-design untuk memecah Korea pada titik 38, dengan alasan untuk tetap mempertahankan posisi Seoul dari pengaruh Uni Soviet yang dirasa semakin kuat di bagian utara Korea. Selanjutnya, untuk meneguhkan posisi di kawasan pendudukan, Amerika Serikat dan Uni Soviet saling mendukung berdirinya sebuah rezim di daerah kekuasaan masing-masing. Rezim pertama di Korea Selatan (Republik Korea) dipimpin oleh Syngman Rhee. la adalah seorang tokoh anti-komunis yang sempat tinggal di Amerika Serikat dan sangat terkenal dengan gerakan "kanan"nya. Rezim pertama di Korea Utara (Republik Demokrasi Rakyat Korea) dipimpin oleh Kim Il Sung. la adalah tokoh gerilyawan Korea yang pernah berperang bersama Cina untuk membendung kekuatan Jepang di Manchuria tahun 1930-an. Kebijakan pertama Kim Il Sung yang sangat terkenal adalah meredistribusi tanah di Korea Utara, yakni sebuah praktik reformasi agraria yang telah menjadi ciri khas dari paham komunis. Kedua rezim dibentuk tahun 1946 secara aklamasi. Korea Selatan memproklamirkan berdirinya Republic of Korea dan Korea Utara memproklamirkan berdirinya People's Republic of Korea. Titik garis Batas antara dua Korea tersebut terletak di garis lintang 38. Korea Utara yang berbasis ideologi komunis menjadi salah satu target utama politik containment yang dilancarkan oleh Amerika Serikat. Politik containment adalah kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat yang bertujuan membendung penyebaran ideologi komunis dan membentuk suatu negara menjadi oposisi bagi negara-negara yang menganut paham komunisme di seluruh dunia. Wujud politik containment Amerika Serikat ini berasal dari pemberian bantuan militer dan pertahanan bagi Korea Selatan. Bantuan militer Amerika Serikat ini juga didukung oleh diturunkannya pasukan dari negara-negara Sekutu, seperti Inggris, Kanada, Turki, dan Australia, yang bernaung di bawah bendera PBB. Perang Korea dimulai pada 25 Juni 1950, yang ditandai dengan invasi pasukan Korea Utara melewati garis Batas 38 menuju Korea Selatan. Perang tersebut merupakan kelanjutan terpecahnya Korea, yaitu Korea Selatan (dipimpin oleh Syngman Rhee) dan Korea Utara (dipimpin oleh Kim Il Sung). Perpecahan Korea itu terjadi tahun 1948. Korea Utara yang didukung oleh Uni Soviet telah berhasil memukul mundur pasukan Korea Selatan dan pasukan Amerika Serikat hingga Busan, sebelah selatan dari Korea Selatan. Penyebab kekalahan Korea Selatan dan pasukan Amerika Serikat adalah minimnya kapasitas dan kualitas persenjataan, selain jumlah pasukan Korea Utara dan Uni Soviet lebih banyak daripada pasukan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Tanggal 15 September 1950, pasukan Amerika Serikat, dipimpin Jendral Douglas MacArthur, mendarat di kawasan Inch'on. Pendaratan pasukan Amerika Serikat tersebut menjadi taktik yang sangat jitu dalam mengurung pasukan Korea Utara yang sudah terlanjur jauh memasuki kawasan Korea Selatan. Keikutsertaan Cina dalam Perang Korea pada Oktober 1950 juga menyebabkan makin melebarnya ruang konflik Perang Dingin di kawasan Asia. Keikutsertaan Cina dalam perang
SS Collection Arranged by Suci

5 Korea diawali dengan masuknya pasukan PBB ke kawasan Korea Utara dengan melintasi garis Batas 38. Tujuan tindakan pasukan PBB tersebut semata-mata adalah untuk mewujudkan persatuan Semenanjung Korea yang terpecah akibat Perang Korea. Cina menganggap hal tersebut sebagai sebuah ancaman terhadap pertahanan dan keamanannya karena pasukan PBB beraliansi erat dengan Amerika Serikat. Akhirnya, negosiasi damai mulai digagas seiring dengan terpilihnya Dwight D. Eisenhower sebagai presiden Amerika Serikat. Secara implisit, ia mengisyaratkan kepada Cina dan Korea Utara untuk bersikap akomodatif terhadap proses negosiasi. Jika tidak, Eisenhower memberikan ultimatum akan menggunakan kekuatan nuklirnya untuk menginvasi Cina. Kesepakatan pun akhirnya dicapai pada 27 Juli 1953, dalam 2 poin utama. Pertama, kedua negara yang berseteru menyepakati secara de facto garis batas lintang 38 sebagai garis perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Kedua, pihak yang berseteru juga akan melakukan pertukaran dan pengembalian para tawanan perang ke negaranya masing-masing. Akan tetapi, eskalasi Perang Dingin yang diharapkan mereda seiring dengan dicapainya kesepakatan tersebut tidak kunjung terwujud sampai saat ini. Zona demiliterisasi yang terdapat di perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara, sepanjang kurang lebih 1000 km, menjadi bukti atas masih aktifnya perang urat syaraf antara Korea Utara dan Korea Selatan. Perang Vietnam Vietnam, Kamboja, dan Laos dikuasai Perancis sejak Napoleon III memegang kekuasaaan di Perancis pada abad ke XVI. Dari ketiga koloni tersebut, Vietnam adalah yang terbesar. Orangorang Perancis mengambil alih perdagangan, perkebunan, pertambangan, dan perhutanan. Pada bidang pemerintahan juga dikuasai orang-orang Perancis, sedangkan orang-orang Vietnam hanya diberi kesempatan menduduki posisi-posisi rendah saja. Hal inilah yang menyebabkan timbulnya gerakan perlawanan yang kuat dari rakyat Vietnam. Selama PD II, Vietnam jatuh ke tangan Jepang. Di Vietnam didirikan Liga Kemerdekaan Vietnam (Vietminh) yang dipimpin oleh Ho Chi Minh pada tahun 1941. Pada tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh memproklamasikan kemerdekaan Vietnam dengan menggunakan Declaration of Independent USA. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 1954, Perancis dikalahkan di Benteng Dien Bien Phu. Pada awalnya, USA tidak memberikan bantuan langsung ke Perancis. Akan tetapi, karena Uni Soviet membantu Vietnam, akhirnya USA membantu Perancis. Untuk mengakhiri perang di Vietnam, diadakan Konferensi Jenewa pada tahun 1954. Dengan demikian, Laos dan Kamboja diberi kemerdekaan. Vietnam dibagi menjadi dua, Vietnam Utara (Republik Demokrasi Vietnam), yang berhaluan komunis diperintah oleh Vietminh dan Vietnam Selatan (didukung Barat) diperintah Perancis. Tahun 1955 diadakan Pemilihan Umum di Vietnam Selatan dan didirikan Republik Vietnam dengan presiden pertamanya, Ngo Din Diem. Kemudian pihak komunis berusaha mengubah status quo yang diakibatkan oleh pembagian Vietnam menjadi dua negara sesuai Perjanjian Jenewa. Vietnam Utara melakukan penyusupan ke daerah selatan, terutama ke daerah pertanian di delta sungai Mekong, untuk menggalang rakyat di sana agar menyiapkan perbekalan bagi tentara Vietnam Utara yang akan menyerang Vietnam Selatan. Gerakan Vietnam Utara ini mendapat dukungan dari Uni Soviet dengan tujuan membendung pengaruh RRC ke selatan. Meskipun sama-sama komunis tetapi antara Cina dan Uni Soviet terjadi ketegangan karena Cina menuduh pemimpin Uni Soviet saat itu, Kruschev, bersikap kompromistis dengan Amerika Serikat. Hal itu dianggap Cina sebagai pengkhianatan terhadap revolusi komunis. Perkembangan tersebut membuat Amerika Serikat merasa kuatir karena Vietnam Selatan, yang dianggap sebagai benteng demokratis oIeh Amerika Serikat, mendapat ancaman komunis. Oleh karena itu, Amerika Serikat kemudian mengirimkan bantuan kepada Vietnam Selatan (Di bawah pemerintahan Presiden John F. Kennedy, Amerika Serikat memutuskan untuk mengirimkan bantuan pasukan militer Amerika Serikat ke Vietnam secara besar-besaran. Pemberian bantuan militer itu dikukuhkan oleh Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden Lyndon B. Johnson) untuk mencegah meluasnya pengaruh komunis ke Asia Tenggara. akibatnva, terjadi pertempuran antara Vietnam Utara yang didukung oleh persenjataan Uni Soviet dengan Vietnam Selatan yang didukung oIeh pasukan Amerika Serikat. Pada tahun 1968, pasukan Vietnam Utara mclancarkan gerakan besar-besaran terhadap Vietnam Selatan. Amerika
SS Collection Arranged by Suci

6 Serikat kemudian membalasnya dengan menyerang Hanoi, ibukota Vietnam Utara. Akan tetapi persenjataan modern Amerika tidak mampu mengalahkan pasukan Vietnam Utara yang didukung oleh gerilyawan Vietcong. Akhirnya mereka menarik pasukannya dari Vietnam Selatan. Akibatnya, Vietnam Utara dengan mudah menaklukkan Vietnam Selatan dan menyatukan seluruh negeri itu di bawah panji komunis dengan nama Republik Sosialis Vietnam. Dampak terbesar dari perang Vietnam terlihat dari banyaknya jumlah korban yang jatuh. Amerika Serikat menghabiskan dana sebesar $200.000.000.000 untuk membiayai perang ini, tetapi berakhir dengan kekalahan. Dampak dari Perang Vietnam bagi kondisi politik dan perkembangan ideologi di kawasan Asia Tenggara adalah menangnya ideologi komunisme di berbagai negara di kawasan lndocina, seperti Kamboja dan Laos. Kekuatan Vietnam menjadi salah satu poros komunisme yang disegani oleh Amerika Serikat di kawasan Asia. Penyebaran paham komunisme di Asia Tenggara didalangi oleh adanya sebuah lembaga di Uni Soviet yang bernama Communist International (Comintern). Pola kaderisasi badan ini adalah dengan menjaring para tokoh negara atau pemuda-pemuda yang pintar untuk dididik menjadi agen-agen penyebar paham komunisme. Di Indonesia, Dipo Nusantara Aidit merupakan salah satu tokoh yang pernah mengenyam pendidikan di Comintern. Di Vietnam, Ho Chi Minh, tokoh kemerdekaan Vietnam, juga pernah menjadi salah satu peserta didik Comintern. Revolusi Kuba Kuba merupakan negara yang perjalanan sejarah politiknya diwarnai oleh pemerintahan diktatorial yang saling menjatuhkan melalui proses kudeta. Tahun 1924, Kuba dipimpin Gerrardo Machado, tokoh politik yang korup dan diktator dalam menjalankan pemerintahan. Berbagai kelompok masyarakat Kuba pun mulai menunjukkan perlawanan dan melakukan serangkaian gerakan pembangkangan terhadap Machado. Tahun 1933, puncak perlawanan rakyat Kuba diwakili oleh kelompok pekerja dan buruh yang mengancam akan melakukan serangan besar terhadap pemerintahan Machado. Akhirnya, pemerintahan Machado ditumbangkan oleh kekuatan militer pimpinan Fulgencio Batista. Batista pun menguasai Kuba tahun 1940. Pada kurun waktu tahun 1940 hingga tahun 1944, di bawah kekuasaan diktatorial Batista, Kuba mengalami masa yang penuh dengan ketakutan dan state-terrorism. Kondisi stateterrorism adalah kondisi apabila aparatur pemerintahan melaksanakan teror dan kekejaman terhadap rakyatnya dengan menggunakan segenap perangkat negara. Melalui polisi dan tentara, Batista melancarkan segenap pengekangan terhadap kehidupan sosial politik masyarakat. Surat kabar dan pers dibungkam, pihak oposisi mengalami intimidasi dan dipenjarakan, terjadi teror dan penyiksaan terhadap insan wartawan, serta pembuangan lawan-lawan politik Batista ke kawasan Miami. Kepemimpinan Batista yang diktator sebenarnya sempat berakhir tahun 1944 dengan terpilihnya Carlos Prio secara demokratis dalam pemilihan umum. Akan tetapi, Batista kembali berkuasa tahun 1952 hingga 1958. Pada masa kepemimpinannya yang kedua ini, pemerintahan Batista mengalami banyak perlawanan dari berbagai gerakan rakyat dan gerilyawan revolusioner, terdapat pula dua kelompok gerilayawan besar yang menentang Batista. Kelompok yang pertama menamakan diri sebagai The Second Front. Kelompok yang dipimpin oleh Eloy Guierez ini berpusat di kawasan Pegunungan Escambray. Kelompok yang kedua dan yang mendorong terjadinya Revolusi Kuba adalah kelompok revolusioner pimpinan Fidel Castro. Penyerangan Castro yang pertama terjadi pada 26 Juli 1953, yang dikenal dengan "26" of July Movement", atau "Gerakan 26 Juli". Dalam penyerangan itu, Fidel Castro bersama pasukannya menyerang pangkalan militer Moncada di kota Santiago, yaitu pangkalan militer besar yang dihuni oleh pasukan Batista. Perlawanan Castro tersebut berhasil menggugah semangat masyarakat Kuba walaupun akhirnya mengalami kegagalan. Castro pun ditangkap dan dipenjarakan hingga tahun 1955. Pada proses pengadilannya, pidato Castro yang berjudul "Sejarahlah yang Akan Membebaskanku" menjadi penggugah semangat rakyat Kuba untuk bangkit melawan diktatorianisme Batista, sekaligus menjadi simbol Revolusi Kuba. Setelah dibebaskan tahun 1955, Castro melawat ke Meksiko dan Amerika Serikat untuk menggalang dukungan dan dana untuk aksi perlawanannya terhadap pemerintahan Batista. Di dalam perjalanan itulah, sewaktu berada di Meksiko, Fidel Castro bertemu dengan Ernesto "Che" Guevara, yang menjadi sekutu
SS Collection Arranged by Suci

7 dekatnya dalam menggulingkan pemerintahan Batista. Tahun 1956, setelah menyusun dan membangun rencana kekuatan, Fidel Castro bersama Che Guevara dan anggota pasukan lainnya kembali melakukan penyerangan terhadap kekuatan militer Batista. Dengan menggunakan kapal dari Meksiko, pasukan Castro mendarat di dataran Kuba dan disambut dengan perlawanan sengit dari pasukan Batista. Pasukan Castro terdesak mundur dan masuk ke daerah Pegunungan Sierra Maestra, lalu memulai praktik perang gerilya. Akhirnya, pada Maret 1958, pasukan Castro memasuki Havana dan mengalahkan kekuatan militer Batista. Pasukan Castro yang menamakan dirinya pasukan The 26`"Movement tersebut dipimpin oleh Che Guevara dan Camilo Cienfuegos. Masuknya pasukan Castro ke Havana disambut meriah oleh penduduk setempat dengan meneriakkan yel-yel "Long live Castro". Hal ini menjadi indikasi atas kuatnya pengaruh Castro di tataran masyarakat kelas bawah Kuba. Serangan itu berhasil dan Batista pun menyerah, lalu pergi ke Amerika Serikat pada 1 Januari 1959. Penggulingan pemerintahan Batista dan kemenangan Castro atas rezim pemerintahan diktatorial Batista itu disebut Revolusi Kuba. Kemudian, Castro menjadi pemimpin Kuba dan menjalankan negaranya dengan haluan komunisme. Secara strategic, Amerika Serikat melihat kekuatan komunis di Kuba sebagai sebuah ancaman karena dua faktor utama. Pertama, ada efek domino penyebaran paham komunisme di kawasan Kuba. Oleh karena itu, Amerika Serikat segera membangun sebuah kekuatan penangkal untuk mencegahnya, yaitu memperkuat dominasi persenjataan dan militernya di kawasan tersebut. Kedua, kondisi kedekatan jarak antara Kuba dan Amerika Serikat berdampak pada dekatnya jarak tempur Kuba untuk mencapai kawasan Amerika Serikat. Selain itu, adanya kesamaan paham dan kerja sama Brat antara Kuba dan Uni Soviet memungkinkan Uni Soviet menyimpan salah satu rudalnya di kawasan Kuba. Hal itu dapat berdampak pada terciptanya sebuah efek domino dan Proxy War di kawasan Amerika Latin. Dalam konsep Proxy War, ketegangan Perang Dingin antara Kuba dan Amerika Serikat memuncak pada Oktober 1962. Peristiwa tersebut dikenal dengan nama Krisis Misil Kuba atau Cuban Missile Crisis. Peristiwa itu diawali dengan adanya laporan dari pesawat mata-mata Amerika Serikat tentang adanya aktivitas pembangunan instalasi senjata nuklir Uni Soviet di Kuba yang tergolong ke dalam jenis Intermediate Range Ballistic Missiles (IRBMs). Laporan itu langsung membuat John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat pada saat itu, bergerak untuk mencegah agar proyek pembangunan instalasi tersebut tidak berkembang lebih lanjut karena berpotensi memunculkan perang nuklir antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Taktik yang digunakan oleh Kennedy adalah dengan memblokade perairan di sekitar Kuba dari masuknya armada kapal selam Uni Soviet yang membawa hulu ledak nuklir ke Kuba. Cara tersebut diperhalus oleh Kennedy dengan tidak menggunakan kata "blokade laut" dalam pernyataannya karena kata "blokade" identik dengan perang. la menggunakan istilah "karantina laut", sebagai sebuah istilah yang menurut Kennedy tepat untuk mereduksi eskalasi potensi munculnya perang akibat Krisis Misil Kuba. Krisis tersebut berjalan selama 13 hari. Krisis Misil Kuba berakhir dengan adanya kesepakatan antara Nikita Khrushchev dan John F. Kennedy. Kesepakatan itu terdiri atas dua hal. Pertama, Uni Soviet setuju untuk menarik semua hulu ledak nuklirnya dari Kuba dan tidak membangun instalasi senjata nuklir di sana. Kedua, Amerika Serikat tidak diperbolehkan menginvasi Kuba. Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Ruang Angkasa pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin Teknologi Masa Perang Dunia II Senjata Pada masa Perang Dunia II, bentuk pesawat mengalami perubahan dari era sebelumnya. Perubahan itu di antaranya, meliputi bahan yang digunakan, desain pesawat, mesin pesawat, cokpit yang dilengkapi dengan sistem radio, bahkan ada yang dilengkapi radar. Misalnya, radar pada sistem pertahanan melengkapi lampu sorot (search light) yang dapat mendeteksi pesawat lawan pada jarak yang jauh serta berbagai cuaca dan waktu. Mesin pesawat tidak lagi menggunakan bentuk radial, tetapi dilengkapi dengan sistem injeksi bahan bakar, seperti Messerschmit yang memungkinkan pesawat dapat bergerak lebih lincah serta dapat dinyalakan tanpa bantuan staf teknisi.
SS Collection Arranged by Suci

8 Dalam Perang Dunia II, Jepang juga muncul sebagai kekuatan yang mengembangkan pesawat militer. Negara ini berani menyerang Pangkalan Amerika, Pearl Harbor pada Desember 1941. Pesawat ini banyak memberikan perlawanan tangguh. Jepang juga merancang pesawat untuk melakukan serangan Kamikaze di Mandala Pasifik, yaitu MXY-7. Bom Atom Pada tanggal 6 Agustus 1945 di Hiroshima, pesawat pembom B2-9 Super Fortres Enola Bay yang diterbangkan oleh Colonel Paul Tibbets menjatuhkan Little Boy, bom atom pertama yang digunakan dalam peperangan. Berselang tiga hari kemudian, 9 Agustus 1945 bom Fat Man dari jenis yang lebih kuat dijatuhkan di Nagasaki. Senjata non-konvensional yang disebut sebagai senjata pemusnah masal ini memiliki kedahsyatan yang luar biasa. Proses penciptaan senjata nuklir tidak terlepas dari proyek Manhattan. Melalui proyek inilah lahir bom trinity yang merupakan bom atom pertama di dunia dan diuji di Alamorgodo, New Mexico pada tanggal 16 Juli 1945. Jadi, dibutuhkan enam tahun sejak Albert Einstein menyampaikan surat kepada Franklin D. Roosevelt pada tahun 1939. Dalam surat itu, Einstein mewakili ilmuwan terkemuka menyebutkan bahwa AS harus segera melakukan riset tenaga atom karena jika tidak melakukan, Hittler yang akan melakukan itu terlebih dahulu. Dalam surat itu, disebutkan juga bahwa tenaga atom bisa menjadi sumber energi utama dalam tempo yang tidak lama. Atas dasar itulah, sehari sebelum Jepang menyerang Pearl Harbor, Amerika Serikat terjun langsung ke dalam Perang Dunia II. Presiden Roosevelt mengambil keputusan bersejarah untuk menempatkan dana sebesar 2 miliar dollar AS untuk memulai proyek Manhattan. Di dalam tim ini juga terdapat ilmuwan, seperti Niels Bohr yang melarikan diri dari Jerman karena takut diperintahkan membuat senjata atom untuk Hitler. Tokoh ilmuwan yang lainnya, yaitu Richard Feyman yang dikenal sebagai ahli fisika dan juga mahir dalam matematika. Tabel perbandingan kekuatan bom atom dan bom konvensional Jenis Bom Kekuatan (dalam ton TNT) 1. Bom atom jatuh di Nagasaki 10.000 Seluruh bom jatuh di Jerman selama Perang Dunia II 1.300.000 2. 3. Seluruh bahan ledak kimia selama Perang Dunia II 5.000.000 4. Bom hidrogen diledakkan di Bikini Atoll 1954 15.000.000 -

Teknologi Masa Perang Dingin Bom Nuklir Dalam perkembangan selanjutnya, terbukti bahwa bom atom bukan bagian akhir dari upaya manusia dalam mengembangkan senjata pemusnah massal. Amerika Serikat dan Uni Soviet kemudian memulai pembuatan termonuklir atau bom hidrogen. Bom atom Nagasaki yang berkekuatan ledak 20 kiloton setara dengan 20.000 ton dinamit (TNT) mampu menewaskan sekitar 35.000 orang dalam seketika. Di samping itu, tidak kalah hebat dengan senjata nuklir yang berukuran mega ton (juta ton) atau sedikitnya 50 kali kekuatan bom atom. Bom hidrogen telah berhasil digunakan untuk menggantikan bom atom yang kedahsyatannya jauh di bawah bom hidrogen. Namun, untuk sampai ke sasaran yang dituju, bom harus dilontarkan. Oleh sebab itu, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet sama-sama mengembangkan sarana pelontarnya (delivery system). Melalui udara, pelontar membutuhkan pesawat jenis pembom yang mempunyai fasilitas khusus untuk pelontaran bom nuklir. Pada dekade 1950-an, salah satu terobosan penting dalam hal sistem pelontaran bom nuklir adalah peluru kendali (rudal) balistik. Dalam perkembangannya, nuklir tidak hanya dimiliki AS dan Uni Soviet. Negara Inggris berhasil meledakkan bom atom (1952) dan bom hidrogen (1957). Sementara itu, Prancis berhasil meledakkan bom atom pertamanya pada tahun 1960 dan bom hidrogen pertamanya pada tahun 1968. Setelah Prancis, RRC meledakkan bom atom pada tahun 1964 dan bom hidrogen pada tahun 1966.
SS Collection Arranged by Suci

9 Selain memiliki daya penghancur yang jauh lebih dahsyat, senjata nuklir juga memiliki efek yang sangat ditakuti, yaitu efek radiasi pada saat meledak. Jika dilihat dari kemampuannya dapat bersifat membunuh. Senjata nuklir bisa melakukannya dengan dug cara, yakni secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, yaitu melalui kedahsyatan kekuatan penghancurnya saat meledak, sedangkan secara tidak langsung melalui penghancuran sistem alam dan sistem buatan manusia yang menjadi andalan hidupnya. Efek dari radiasi juga bisa dilihat pada efek tekanan ledakan. Ketika terjadi ledakan senjata nuklir, dalam tempo kurang dari satu detik akan timbul gelombang tekanan ledak yang sangat kuat dalam bentuk dinding udara rapat. Secara fisik, gelombang ini. sama dengan tekanan yang ditimbulkan oleh bom konvensional. Akan tetapi, jumlahnya jutaan lebih kuat dari titik pusat ledakan dengan kecepatan 1.200 km/jam, sedikit lebih cepat dari kecepatan suara. Selain itu, efek dari senjata nuklir juga mempunyai efek radiasi. Jika bom konvensional bisa menimbulkan suhu beberapa ribu derajat, bagian paling panas ledakan senjata nuklir bisa mencapai suhu jutaan derajat. Melalui ledakan nuklir dibebaskan pula panas atau radiasi dalam jumlah yang sangat besar. Radiasi panas ini bisa secara langsung menghanguskan kulit, atau secara tidak langsung menimbulkan kematian karena kebakaran yang ditimbulkannya. Selain bisa mematikan manusia menurut kekuatannya, seseorang bisa mati dalam beberapa hari karena sistem saraf pusatnya hancur. Ia bisa mati dalam beberapa bulan kalau sumsum tulang merahnya hancur. Ia juga bisa mati dalam tempo 2 s.d 25 tahun karena kanker darah. (Pada masa sekarang ini, teknologi nuklir tidak hanya dikembangkan oleh negara-negara maju. Negara-negara, seperti Iran, India, dan juga Korea Utara sekarang juga sudah mengembangkan teknologi ini. Selain sebagai senjata, teknologi ini juga banyak dikembangkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik). Pengembangan Roket dan Eksplorasi Ruang Angkasa Salah satu dampak Perang Dingin adalah perlombaan pembuatan senjata-senjata baru yang modern seperti senapan dan granat, sampai dengan senjata baru yang modern seperti meriam, pesawat terbang dan Roket AntarBenua atau Intercontinental Ballistic Missiles (ICBM). Senjata yang disebut terakhir itu bukan saja membawa bom-bom konvensional melainkan juga bom-bom nuklir mempunyai daya ledak berpuluh-puluh kali lipat dari bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II. Penemuan-penemuan baru di bidang fisika-kimia, khususnya yang berkaitan dengan bahan bakar untuk roket-roket tersebut, ternyata telah menghidupkan kembali impian yang pernah dirintis oleh seorang guru sekolah Rusia, Konstantin Tsiolkovsky (1903), yang menemukan cara menggunakan roket untuk perjalanan ke ruang angkasa. Menurut pendapatnya, agar roket itu mampu mencapai jarak yang cukup jauh ke ruang angkasa maka bahan bakar yang dipergunakannya adalah gas cair. Tsiolkovsky sendiri dapat dikatakan tidak sempat membangun roketnya. Justru ahli fisika dari Massachusetts, yaitu Robert Goddard. Pada tahun 1926 Goddard telah meluncurkan roketroket ciptaannya yang berbahan bakar gas cair. Selama Perang Dunia II, banyak dibuat roketroket sejenis untuk membantu mempercepat daya dorong pesawat terbang (pesawat tempur) Amerika Serikat sewaktu melakukan take off. Akan tetapi, sukses besar dalam pembuatan roket-roket selama paruh awal dari abad ke20 justru terjadi di Jerman, bukan Amerika Serikat. Pada tahun 1920-an, Hermann Oberth (ahli matematika dan fisika) dan Walter Hohmann (arsitek) telah membuat rancangan dan percobaan roket-roket untuk perjalanan ke ruang angkasa dan planet-planet. Selama Perang Dunia II, NAZI Jerman telah membuat satu program pembangunan roket-roket terkendali untuk keperluan perang (German Rocket Research Center - GRRC) di Peenemunde, dekat Laut Baltik. Program itu diketuai oleh Wernher Von Braun, seorang sarjana roket muda tamatan Universitas Berlin (1934). Hasil karyanya adalah roket terkenal dengan bahan gas cair yang mampu menempuh jarak 80 km dengan membawa bahan ledak sebanyak 950.000 newton (56.000 lb), yang diberi nama V2. Dengan roket tersebut, pihak NAZI Jerman dapat membombardir London dan Paris. Setelah Jerman menyerah, banyak sarjana Jerman dari GRRC ditangkap oleh pasukan Rusia atau Amerika Serikat. Von Braun sendiri ditangkap oleh tentara Amerika Serikat dan pada tahun 1950 dibawa ke Huntsville, Alabama, Amerika Serikat. Pada tahun 1955, Von Braun
SS Collection Arranged by Suci

10 dinaturalisasi menjadi warga negara Amerika Serikat dan lima tahun kemudian diangkat menjadi direktur George C. Marshall Space Flight Center (NASA) di Huntsville. Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet, pada beberapa tahun pasca-Perang Dunia II, banyak menggunakan sarjana dan teknisi Jerman yang mereka tangkap untuk membangun program roket jarak jauhnya, baik untuk program luar angkasa maupun untuk kepentingan militer. Pada bulan Agustus 1957, program roket Uni Soviet di bawah pimpinan Sergei Korolyev berhasil mendahului Amerika Serikat, dengan meluncurkan roket R-7 yang panjangnya sekitar 30 m dan membawa hulu ledak seberat 88.000 lb (3,8 juta newton), sekaligus merupakan roket ICBM pertama yang diproduksi Uni Soviet. Keberhasilan itu kemudian mengilhami Korolyev untuk memodifikasi R-7 agar dapat meluncurkan satelit buatan ke orbit ruang angkasa. Pada bulan Oktober 1957, dengan menggunakan roket R-7, Rusia berhasil meluncurkan satelit buatan pertama tanpa awak, yang diberi nama Sputnik, untuk mengitari orbit bumi. Sukses dengan Sputnik pertama, pada bulan berikutnya Rusia kembali meluncurkan Sputnik yangg kedua dengan membawa seekor anjing di dalamnya. Anjing tersebut diberi narna Laika. Kemudian pada 12 April 1961, Uni Soviet meluncurkan roket luar angkasanya yang diberi nama Vostok I dengan kosmonotnya Yuri Gagarin. Roket Vostok 1 berhasil mengelilingi bumi, sekaligus menjadikan Yuri Gagarin sebagai manusia pertama yang berhasil mengelilingi (mengorbit) bumi. Pada tahun 1957, Amerika Serikat sendiri mencoba untuk meluncurkan satelitnya ke ruang angkasa. Upaya pertama dilakukan pada bulan Desember 1957, namun tidak berhasil. Barulah pada bulan Januari 1958 Amerika Serikat berhasil mengirimkan satelit Explorer I ke orbit bumi dengan menggunakan roket Jupiter C yang merupakan hasil modifikasi dari roket ICBM Redstone (program roket Amerika Serikat pada tahun 1950-an di bawah pimpinan Von Braun). Setelah keberhasilan Sputnik dan Explorer, kedua negara tersebut terus bersaing untuk menjadi negara pertama dalam meluncurkan satelit-satelit ruang angkasa, termasuk program mendaratkan manusia di bulan yang jaraknya dari bumi lebih dari 110.000 km. Pada bulan Oktober 1958, Amerika Serikat meluncurkan Pioneer I ke bulan disusul dengan pelucuran Pioneer 3 pada bulan Desember 1958. Namun, kedua misi tersebut belum berhasil menaklukkan bulan. Sementara itu, Uni Soviet juga mengalami dua kali kegagalan. Pada bulan Januari 1959 Luna I diluncurkan ke bulan. Misi ini pada dasarnya juga tidak berhasil, karena satelit Luna I hilang. Meskipun demikian, Luna I menoreh catatan tersendiri bagi perkembangan teknologi waktu itu. Luna tercatat sebagai satelit pertama yang `beredar' di luar orbit bumi. Setelah itu, pada bulan September 1959 Uni Soviet meluncurkan Luna 2 yang berhasil mendekati bulan. Akhirnya, pada bulan Oktober tahun yang lama, Uni Soviet meluncurkan satelitnya yang bernama Luna 3 yang berhasil mengedari orbit bulan. Untuk pertarna kalinya satelit-satelit itu berhasil mengirimkan gambar-gambar sisi bulan yang sulit terlihat dari bumi. Memasuki dekade 1960-an, pcrsaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam mengeksplorasi ruang angkasa semakin sengit. Pada bulan Februari 1966, Uni Soviet berhasil mendaratkan Luna 9 di permukaan bulan secara baik dan mengirimkan gambar-gambar permukaan bulan langsung dari permukaan bulan itu sendiri. Amerika Serikat baru berhasil mendaratkan Surveyor I di permukaan bulan secara baik pada 2 Juni 1966 dan mengirimkan beribu-ribu gambar permukaan bulan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Amerika Serikat mengirimkan Lunar Orbiter yang mengelilingi bulan dan mengirim ribuan foto hampir seluruh permukaan bulan dengan resolusi tinggi untuk dipelajari para ilmuwan, terutama daerah yang disebut zona Apollo. Zona ini dipersiapkan Amerika Serikat untuk program pendaratan manusia di bulan. Mulai tahun 1965, Uni Soviet mengirimkan satelit ruang angkasa yang berfungsi juga sebagai laboratorium ruang angkasa tanpa awak yang diberi nama Soyuz. Di samping mengirimkan foto-foto atau gambar-gambar bulan, satelit ruang angkasa ini dipergunakan untuk mempersiapkan dan menguji para kosmonout Rusia untuk pendaratan di bulan, juga tanaman dan benda hidup lainnya. Persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk mendaratkan manusia di bulan akhirnya dimenangkan oleh Amerika Serikat. Pada 11 Juli 1969, astronout Neil Alden Armstrong, yang bertindak sebagai komandan Apollo 11, mendarat di bulan, sekaligus menjadi manusia pertama yang mendarat di permukaan bulan. Setelah itu Armstrong menerima medali
SS Collection Arranged by Suci

11 dari presiden Amerika Serikat (Presidential Medal of Freedom) dan berbagai penghargaan internasional lainnya untuk kesuksesannya dalam mini Apollo 11. Setelah sukses mendaratkan manusia di bulan, para sarjana di Amerika Serikat merencanakan untuk mendaratkan robot-robot di bulan yang dinilai lebih murah dan lebih efisien dalam mengeksplorasi bulan dan ruang angkasa. Kini lembaga-Icmbaga angkasa luar seperti the United States National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan the European Space Agency (ESA) berjuang mengirimkan robot-robot ke bulan dan ruang angkasa, terutama untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Misi robot dinilai jauh lebih murah dan lebih efisien daripada para astronout manusia. Pemanfaatan satelit-satelit ruang angkasa untuk kepentingan umum lainnya di luar program bulan dan militer sebenarnya sudah dimulai hampir bersamaan dengan dirancangnya program pendaratan manusia di bulan. Pada permulaan tahun 1960, Amerika Serikat meluncurkan satelit Tiros I yang ditujukan untuk memantau iklim dan cuaca bumi. Setelah itu NASA's EarResources Technology Satellite Earth (ERTS) pada tahun 1972 meluncurkan Landsat I ke orbit bumi sehingga dapat melihat dan memotret hampir semua lokasi di bumi. Pada tahun 1962, untuk pertama kalinya Inggris meluncurkan satelitnya yang merupakan satelit astronomi, yaitu satelit Aril 1, yang tujuanm untuk mempelajari cahaya ultraviolet dan radiasi sinar-X dari matahari. Amerika Serikat sendiri baru meluncurkan satelit astronominya pada tahu1968, yaitu Orbiting Astronomical Observatory (OAO) yang menggunakan teleskop ultraviolet yang tujuannya antara lain untuk mempelajari sinar-X. Beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun 1983, diluncurkan satelit TL Infrared Astronomical Satellite (IRAS) yang merupakan hasil kerjasama antara Amerika Serikat dengan Inggris dan Belanda. Sampai tahun 2000, Amerika masih terus meluncurkan berbagai satelit untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Program Roket-Roket Menengah dan Antar-Benua (ICBM dan SLBM) Seperti telah disinggung di atas, pendahulu dari roket ICBM adalah V2 yang dirancang ilmuwan Jerman, Von Braun, pada masa Perang Dunia II Di samping roket terkendali, penemuan teknologi maju pada masa Perang Dunia II adalah radar yang dapat mendeteksi gerakan atau kedatangan kapal-kapal dan pesawat musuh. Seperti halnya NAZI Jerman, Amerika Serikat dan Uni Soviet sangat tertarik dengan roket-roket kendali itu bukan hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi melainkan juga sebagai senjata pamungkas. Dengan menggunakan ilmuwan-ilmuwan Jerman yang berhasil mereka bawa, Amerika Serikat dan Uni Soviet mulai melakukan eksperimen untuk kepentingan militer. Perang Dingin yang dimotori oleh kedua negara inilah yang turut memacu mereka melakukan berbagai eksperimen untuk menciptakan roket-roket kendali, baik roket jarak menengah maupun roket jarak jauh (antar-benua) dengan membawa bom yang berdaya ledak tinggi. Perang Dunia II mengajarkan kepada mereka bahwa dalam perang-perang masa mendatang, serangan-serangan tidak lagi hanya datang dari meriam-meriam kapal laut atau angkatan darat tetapi juga dari udara. Oleh karena itu, pengembangan radar dan roket-roket terkendali menjadi sangat penting, tidak saja untuk membidik target-target statis di daratan melainkan juga target-target bergerak baik di darat, laut, maupun udara. Roket terkendali jenis udara ke udara dan udara ke darat merupakan roket-roket kendali menengah yang membawa proyektil peledak. Kedua jenis roket ini sempat diuji coba oleh Jerman sewaktu berlangsung Perang Dunia IL Jika dibandingkan dengan roket kendali atau peluru kendall masa kim, apa yang diproduksi Jerman waktu itu dapat dikatakan masih primitif. Bom yang dijatuhkan dari pesawat oleh Jerman dikendalikan melalui radio kontrol yang sederhana. Pasca Perang Dunia II, Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan Perancis telah mengembangkannya jauh lebih canggih. Ada roket kendali pencari panas, artinya roket-roket itu akan menghantam sumber yang menghasilkan panas, seperti mesin pesawat terbang, tank, atau kapal laut. Yang terakhir adalah roket kendali yang mencari targetnya dengan menggunakan sinar infra merah, misalnya Sidewinder (Amerika Serikat). Selain roket kendali dari udara ke udara dan udara ke darat, juga dikembangkan roket kendali kecil dan menengah dari darat ke udara. Misalnya, roket kendali Patriot yang merupakan roket antiroket kendali yang dipergunakan Amerika Serikat dalam Perang Teluk untuk menjatuhkan roket-roket kendali Silkworm yang dipergunakan tentara Irak. Contoh lainnya
SS Collection Arranged by Suci

12 adalah Stinger yang merupakan roket kendali antipesawat terbang yang sangat mobile karena dapat dibawa oleh seorang prajurit. Kedua roket tersebut dipandu mencapai targetnya dengan menggunakan sinar infra merah. Roket-roket kelas ringan dan menengah yang notabene tidak berhulu ledak nuklir ini umurnnya diperjualbelikan oleh produsennya secara tidak terbatas. Bukan hanya di kalangan negara-negara maju, tetapi juga di dunia ketiga termasuk Indonesia. Kadangkala penjualan roketroket kendali ini merupakan satu paket dengan peralatan lainnya, seperti pesawat tempur, kapal selam, korvet, dan seterusnya. Pada masa pemerintahan Soekarno misalnya, Indonesia menggunakan roket buatan Uni Soviet bersama dengan pesawat tempur Mig 17, 19, dan 21. Sedangkan pada masa Orde Baru, Indonesia menggunakan Exocet buatan Prancis yang dipasang pada kapal perang Indonesia. Roket-roket kendali yang tidak banyak diperjualbelikan secara luas yang sekaligus menjadi monopoli negara-negara besar adalah roket-roket kendali jarak jauh atau antarbenua (Intercontinental Ballistic Missiles, ICBM). Amerika Serikat misalnya, memacu eksperimeneksperimennya untuk menghasilkan roket-roket jenis ini, terutama setelah Uni Soviet berhasil meluncurkan Sputnik I pada Oktober 1957. Setelah mengalami kegagalan dalam uji coba roket Atlas pada tahun 1958, Amerika Serikat berhasil dengan roket-roket ICBM Titan, Titan II, dan Minuteman dalam jangka waktu delapan tahun. Dari tahun ke tahun, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet terns memproduksi ICBM yang mampu menjangkau jarak jauh yang lebih akurat berkat penemuan di bidang elektronik, komputer, dan kemampuan hulu ledaknya yang semakin kuat, yaitu bom nuklir. Jika pada awalnya setiap ICBM hanya membawa satu hulu ledak, maka sejak tahun 1970-an mulai dikembangkan dengan lebih dari satu hulu ledak dengan berbagai target, yang disebut Multiple Independently Targeted Rerntrw Vehicle (MIRV). Produk ICBM kemudian dikembangkan pula oleh beberapa negara Eropa dan Asia, seperti Inggris, Perancis dan Cina. Lokasi peluncuran ICBM pun menjadi lebih tersebar. Tidak terbatas pada negara produsennya, tetapi juga ditempatkan di daerah-daerah strategis di negara-negara yang menjadi sekutu Blok T'imur atau Blok Barat. Tentu saja Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan produsen sekaligus pemilik ICBM terbanyak, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. ICBM terbaru Amerika Serikat (data 1999) adalah LGM-118 Peacekeepcr, yang sebelumnya dikenal dengan nama MX. ICBM ini terdiri dari tiga tingkat, panjangnya sekitar 21,6 m, diameternya 2,2 m, dan berat sekitar 88,500 kg. ICBM ini merupakan jenis MIRV, yang setiap hulu ledaknya mampu menghasilkan ledakan yang equivalen dengan 450.000 ton TNT. ICBM ini dapat mencapai target sejauh 11.000 km. Selain ICBM, baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet mengembangkan pula roket-roket kendali jarak jauh yang diluncurkan dari kapal selam yan. disebut Submarine-Launched Ballistic Missile (SLBM). Pengembangan SLBM pada dasarnya sudah dilakukan sejak akhir tahun 1950-an, setelah menyadari bahwa silo-silo ICBM yang permanen di daratan akan mudah menjadi target penyerangan musuh karena mudah dideteksi. Oleh karena itu, penggunaan kapalkapal selam sebagai pengganti silo-silo yang static merupakan alternatif yang tepat. Kapal selam dapat menghindari pendeteksian pihak musuh secara lebih baik dan lebih akurat karena dapat berpindah-pindah dan dapat menyelam sampai tidak tertangkap oleh radar musuh. Dengan adanya perkembangan teknologi tinggi dan diperkenalkannya MIRV, SLBM menjadi pendamping ICBM yang dapat diandalkan. SLBM Amerika Serikat yang terbaru adalah Trident D-5, yang kadangkala disebut Trident }I. SLBM ini pertama kali diproduksi pada bulan Maret 1990. Panjangnya sekitar 13 m dengan diameter 2,1 m. Setiap Trident D-5 membawa 15 hulu ledak (MIRV). Trident dibawa oleh kapal selam dari kelas Ohio, dan setiap kapal selam membawa 24 SLBM trident. Senjata nuklir, baik berupa bom yang dijatuhkan dari pesawat terbang maupun diluncurkan dari silo-silo dan kapal selam, tidak saja menarik bagi negara-negara besar tetapi juga negara-negara berkembang, terutama yang terkait dalam Perang Dingin. Beberapa negara Non-Blok, seperti Indonesia. juga termasuk di antaranya. Pada masa pemerintahan Soekarno, dengan meminta bantuan para saijana RRC, Indonesia berupaya untuk mengembangkan bom atom. Namun, sampai berakhir masa pemerintahan Soekarno, program bom nuklir itu belum pernah terdengar berhasil melakukan uji coba. Ketertarikan negara-negara di dunia terhadap senjata nuklir bukan saja karena kedahsyatannya tetapi juga dampaknya terhadap musuh.
SS Collection Arranged by Suci

13 Pembatasan Senjata Nuklir Bahaya radiasi yang ditimbulkan oleh senjata nuklir, termasuk uji cobanya, telah memaksa PBB untuk merundingkannya dengan negara-negara produsen senjata-senjata jenis itu. Pada tahun 1963 dicapai kesepakatan antara Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet untuk tidak melakukan tes senjata nuklir di udara, atmosfir, dan di bawah permukaan air (laut). Kesepakatan sejenis kemudian dibuat pula dengan beberapa negara lainnya. Salah satu kesepakatan yang paling penting adalah perjanjian yang dibuat pada tahun 1968 (the Nuclear Nonproliferation Treaty of 1968) antara Inggris, Perancis, Cina, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Berdasarkan perjanjian itu, mereka sepakat akan membatasi produksi senjata-senjata nuklir, uji coba senjata nuklir, dan tidak akan mentransfer pengetahuan teknologi pembuatan senjata nuklir ke luar lima negara tersebut. Meskipun perjanjian itu seolah-olah ingin mencegah meluasnya penggunaan senjata nuklir, namun jika diamati pada dasarnya kelima negara itu khawatir jika teknologi pembuatan senjata nuklir itu dikuasai pula oleh negara-negara di luar mereka. Pendek kata, mereka ingin agar teknologi dan pengetahuan tentang senjata nuklir tetap menjadi monopoli mereka. Sementara itu, antara Uni Soviet dan Amerika Serikat sendiri terus diupayakan negosiasi untuk membatasi ICBM dan sejenisnya yang kemudian dikenal dengan nama Strategic Arms Limitation Talks (SALT). Negosiasi ini membicarakan tentang pembatasan pembangunan instalasi senjata roket-roket kendali dan antinya. Pada perundingan SALT II tahun 1979 dicapai kesepakatan yang dramatic, yaitu pengurangan sejumlah besar pangkalan peluncur ICBM. Namun, Senat Amerika Serikat menolak meratilikasi hasil perundingan itu setelah militer Uni Soviet menginvasi Afghanistan. Amerika Serikat sendiri dalam dekade 1980-an ternyata telah melakukan tindakan yang kontroversial. Di saat masyarakat menuntut dibatasinya penggunaan senjata nuklir dan negosiasi untuk pembatasan sedang diupayakan, Amerika Serikat justru memperkenalkan Strategic Defense Initiative (SDI) kepada sekutunya, diikuti dengan penempatan ICBM-nya di beberapa negara Eropa yang menjadi sekutunya. Meskipun demikian, perundingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk mengurangi senjata tetap dilakukan. Akhirnya pada bulan Desember 1987, dalam pertemuan di Washington, Presiden Ronald Reagan dan Mikhail Gorbachev menandatangani kesepakatan itu (the Intermediate Range Nuclear Forces Treaty - INF). Berdasarkan perjanjian tersebut, Amerika Serikat dan Um Soviet akan memusnahkan seluruh roket-roket balistik yang jangkauannya sekitar 500-5.500 km. Perjanjian INF kemudian diratifikasi oleh Senat Amerika Serikat dan Presidium Uni Soviet pada bulan Mei 1988. -

##### SS #####

Daftar Pustaka : Magdalia Alfian dkk. 2007. Sejarah untuk SMA dan MA Kelas XII IPA. Jakarta : ESIS. Mohammad Iskandar dkk.2007. Sejarah Indonesia dalam Perkembangan Zaman. Jakarta : Ganeca Exact. Ricklefs,M.C (1999). Sejarah Indonesia Modern. Dikmenum. Yogyakarta. Gadjah Mada Unipersity Press. Suhartono dan Syamsul Rizal. 2007. Sejarah Program IPA untuk SMA dan MA Kelas XII. Jakarta : Widya Utama.

SS Collection Arranged by Suci