Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada masa sekarang dimana teknologi informasi sudah

memasuki setiap bidang dalam kehidupan kita maka posisi dari teknologi informasi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita terutama pada bidang bisnis dimana diperlukan informasi yang cepat dan akurat agar dapat bersaing dengan pesaing yang lainnya. Peran teknologi informasi dalam bisnis didalam perusahaan dimulai dari internal perusahaan dimana segala aktivitas sehari-hari perusahaan yang dahulunya menggunakan mesin tik sekarang beralih menggunakan komputer yang jauh lebih cepat lalu beralih lagi dengan menggunakan jaringan (Local Area Network), dimana membuat proses bisnis dapat menjadi lebih efektif dan efisien, lalu kemudian berkembang lagi menggunkan software yang ter-intergrated antara proses yang satu dengan proses lainnya. Inilah yang menjadi keunggulan dari masing-masing perusahaan dalam berkompetisi antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dimana dengan menggunakan teknologi informasi mereka dapat menekan operation cost sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan laba perusahaan. Namun, selain penggunaan teknologi informasi, ada suatu konsep yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dari kinerja perusahaan yaitu Bussines Process Reengineering. Definisi dari Bussines Process Reengineering adalah pemikiran ulang secara fundamental dan perancangan ulang 1

secara radikal atas proses-proses bisnis untuk mendapatkan perbaikan dramatis dalam hal ukuran-ukuran kinerja yang penting dan kontemporer seperti biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan. Penelitian dilakukan pada PT Envirindo Tirtanusa, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak dibidang usaha supplier peralatan untuk laboratorium, medical, technical, di Indonesia yang telah berdiri sejak tahun 1995. Dimana customer mereka pada umumnya adalah perusahaan yang berasal dari seluruh Indonesia yang menngutamakan mutu dan ketepatan waktu pengiriman. PT. Envirindo Tirtanusa Berkedudukan di Bekasi dan telah memiliki cabang dibeberapa kota di Indonesia, seperti Jogjakartadan Surabaya. Perusahaan-perusahaan yang bergerak dibidang usaha ini sangat banyak jumlahnya sehingga terjadi persaingan yang sangat ketat dengan competitor. Oleh karena itu, perusahaan harus bias bekerja seefektif dan seefisien mungkin agar dapat memberikan pelayangan yang baik dan memuaskan dengan harga yang kompetitif, Serta dengan adanya persyaratan dari customer yang mengharuskan supplier-nya memiliki system komputerisasi dan internal perusahaannya bila ingin mengikuti tender. Sistem Informasi di perusahaan ini telah terkomputerisasi sejak tahun 2004. Pada system informasi yang terdapat pada perusahaan ini terdapat internal control yang cukup baik dan menunjang kinerja perusahaan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menganalisis lebih jauh mengenai Sistem Informasi pada PT. Envirindo Tirtanusa

Pembatasan Masalah
Karena pembahasan dari system informasi sangat luas, maka penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu: 1) Bagaimana Sistem Informasi pada PT. Envirindo Tirtanusa 2) Apakah terdapat Pengawasan Internal pada PT. Envirindo Tirtanusa 3) Apa Kelebihan dan Kelemahan dari system yang terdapat pada PT. Envirindo Tirtanusa

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah seperti yang telah diuraikan di atas, dapat di temukan beberapa rumusan masalah yang terdiri dari 1. Apakah perusahaan ini telah menggunakan system system terkomputerisasi? 2. Sejak kapan perusahaan ini telah menggunakan komputerisasi? 3. Software apa yang digunakan, maupun sistem software atau database pada perusahaan ini? 4. Bagaimana keadaan suatu system tersebut, apakah system tersebut dapat bergerak secara statis atau dinamis pada waktu tertentu? 5. Apa yang dilakukan perusahaan ini untuk menjaga keamanan data-data yang ada di perusahaan ini? 6. Bagaimana cara pegawai untuk mengakses system data? 7. Persiapan apa yang dilakukan perusahaan ini apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti bencana alam atau kebakaran?

8. Bila terjadi kesalahan atau hilangnya data-data yang sudah ada, apa yang dilakukan perusahaan ini? Apakah perushaan ini sudah memiliki back up data? 9. Bagaimana struktur jaringan system data yang ada di perusahaan ini? 10. Apakah kelebihan dan kekurangan dari system tersebut?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seperti apakah Sistem informasi dan Internal control pada PT. Envirindo Tirtanusa dan untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan dari system informasi yang telah dijalankan pada perusahaan tersebut

BAB II LANDASAN TEORI


2.1. Sistem Informasi
Sistem adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang saling berkaitan dan susunan dan prosedur yang saling berhubungan, utama yang suatu melaksanakan mempermudah kegiatan-kegiatan

organisasi. Infomasi adalah data yang telah diproses atau diolah sehingga memiliki arti atau manfaat yang berguna. Informasi pun mempunyai umur, yang dimaksud umur di sini adalah kapan atau sampai kapan sebuah informasi memiliki nilai atau arti bagi penggunanya. Adanya acuan pada titik waktu tertentu dan pernyataan suatu perubahan pada suatu waktu. 4

Kualitas Informasi tergantung dari 3 hal, yaitu informasi harus : 1. Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bisa atau menyesatkan. Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan maksudnya. 2. Tepat pada waktunya, berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat. 3. Relevan, berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk pemakainya. Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya berbeda. Dari 3 hal tersebut maka akan di dapatkan sebuah nilai dari informasi tersebut. Nilai informasi ditentukan dari dua hal, yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkannya. Sistem informasi adalah kumpulan informasi di dalam sebuah basis data menggunakan model dan media teknologi informasi digunakan di dalam pengambilan keputusan bisnis sebuah organisasi. Di dalam suatu organisasi, informasi merupakan sesuatu yang penting di dalam mendukung proses pengambilan keputusan oleh pihak manajemen. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data. Dari definisi di atas terdapat beberapa kata kunci : 1. Berbasis komputer dan sistem manusia dan mesin

Berbasis komputer: perancang harus memahami pengetahuan komputer dan pemrosesan informasi.

Sistem manusia mesin : ada interaksi antara manusia sebagai pengelola dan mesin sebagai alat untuk memroses informasi. Ada proses manual yang harus dilakukan manusia dan ada proses yang terotomasi oleh mesin. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur/manual sistem. 5

2. Sistem basis data terintegrasi

Adanya penggunaan basis data secara bersama-sama (sharing) dalam sebuah data base manajemen system.

3. Mendukung operasi

Informasi

yang

diolah

dan

di

hasilkan

digunakan

untuk

mendukung operasi organisasi.

Sistem

informasi

memiliki

komponen

berupa

subsistem

yang

merupakan elemen elemen yang lebih kecil yang membentuk sistem informasi tersebut misalnya bagian input, proses, output. Tanpa ketiga itu sistem informasi tidak dapat berjalan dengan baik. 1. Input : sekumpulan data yang akan kita olah menjadi sebuah informasi yang nantinya akan kita sajikan bagi masyarakat. 2. Proses : suatu kegiatan dimana kita mengolah seluruh data yang ada untuk menghasilkan suatu informasi . 3. Output : informasi-informasi yang dapat dengan mudah di peroleh, di mengerti dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Komponen Fisik pada Sistem Informasi: 1. Perangkat keras komputer : CPU, storage, perangkat

input/output, terminal untuk interaksi, media komunikasi data. 2. Perangkat lunak komputer : perangkat lunak sistem (sistem operasi dan utilitinya), perangkat lunak umum aplikasi (bahasa pemrograman), perangkat lunak aplikasi (aplikasi akuntansi dll). 3. Basis data : penyimpanan data pada media penyimpan

komputer. 4. Prosedur : langkah-langkah penggunaan sistem. 6

5. Personil : yang mengoperasikan sistem, menyediakan masukan, mengkonsumsi keluaran dan melakukan aktivitas manual yang mendukung sistem.

Suatu sistem informasi di buat untuk suatu keperluan tertentu atau untuk memenuhi permintaan penggunaan tertentu, maka struktur dan cara kerja sistem informasi berbeda-beda bergantung kepada keperluan dan permintaan yang harus dipenuhi, oleh karena kepentingan yang harus di layani sangat beraneka ragam, maka sistem informasipun semakin beraneka ragam. Berbagai bidang dapat di olah melalui sistem informasi, contohnya, sistem informasi manajemen, sistem informasi akuntansi, sistem informasi perbankan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Pengembangan sistem dapat berarti menyusun sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau untuk memperbaiki sistem yang sudah ada. Sistem yang sudah lama perlu diperbaiki atau bahkan diganti, dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu : 1. Kesalahan yang tidak sengaja, yang menyebabkan kebenaran data kurang terjamin. 2. Tidak efisiensinya operasi pengolahan data tersebut. 3. Adanya instruksi-instruksi atau kebijaksanaan yang baru baik dari pemimpin atau dari luar organisasi seperti peraturan pemerintah. Dengan sistem informasi masyarakat jadi lebih mudah untuk

memperoleh informasi dengan cepat. Perkembangan sistem informasi pun dari tahun ke tahun berkembang semakin cepat, dengan di dukung oleh perkembangan teknologi juga tentunya.

Informasi pada saat ini berkembang sangat cepat, melalui banyak media, terutama internet. Internet mungkin media lebih efisien dan praktis dari pada media yang lainnya seperti koran. karena di internet orang dapat dengan mudah mencari, merubah ataupun menambahkan informasi yang belum jelas kebenarannya. SISTEM INFORMASI AKUNTASI Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala sesuatu sebenarnya yang adalah berkenaan sebuah sistem dengan Akuntansi.Akuntansi sendiri lain : Mengumpulkan dan Menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi. Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Melakukan control secara tepat terhadap aset organisasi.

informasi. Fungsi penting yang dibentuk SIA pada sebuah organisasi antara

Subsistem SIA memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi nonkeuangan yang secara langsung memengaruhi pemrosesan transaksi keuangan. SIA terdiri dari 3 subsistem: 1. Sistem pemrosesan transaksi, mendukung proses operasi bisnis harian 2. Sistem buku besar/pelaporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengembalian pajak. 3. Sistem pelaporan Manajemen, yang menyediakan pihak manajemen berbagai laporan keuangan bertujuan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kinerja, serta laporan pertanggung jawaban.

2.2. Internal Control


Sejarah Internal Control Konsep Internal Control telah bergulir sejak tahun 1930-an. Untuk pertama kali, George E. Bennet menyebutkan definisi Internal Control. Namun istilah tersebut baru dinyatakan secara institutional oleh AICPA pada tahun 1949 melalui laporan khusus yang berjudul Pengendalian Internal Elemen-elemen Sistem yang Terkoordinasi dan Pentingnya Pengendalian bagi Manajemen dan Akuntan Independen. Selanjutnya konsep tersebut berkembang pesat dengan yang kita kenal delapan unsur Pengendalian Internal. Perkembangan berikutnya, pada awal tahun 80-an konsep tersebut dinilai banyak pihak sudah tidak aplicabel lagi. Semakin kompleksnya dunia bisnis dan teknologi membuat konsep pengendalian internal tersebut tidak efektif dalam mendorong tercapainya tujuan perusahaan. Semakin banyak keluhan dari perusahaan dan institusi yang telah menerapkan konsep internal control sebagaimana dikembangkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA), namun masih mengalami kegagalan. Pada tahun 1992, The Commitee of Sponsoring Organization of The Treadway Internal Commission (COSO) menerbitkan laporan yang COSO berjudul tersebut Control-Integrated Framework. Laporan

memberikan suatu pandangan baru tentang konsep Internal Control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Jika pada konsep sebelumnya hanya menekankan pada proses penyusunan laporan keuangan saja, maka konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi. Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak. Di Indonesia, perkembangan menarik terjadi dengan terbitnya Undangundang nomor 1 tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 9

2006.

Pada

ketentuan harus

tersebut,

ditetapkan Sistem

bahwa

setiap

instansi Intern.

pemerintah

mengembangkan

Pengendalian

Penjelasan dan ketentuan lain yang menjabarkan menyebutkan bahwa Sistem Pengendalian Intern terdiri dari 5 komponen yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi serta monitoring. Hal ini mengandung arti bahwa konsep Internal Control versi COSO diterapkan pada sektor pemerintahan di Indonesia. Sebuah langkah maju dan berani serta menjadi tantangan yang tidak mudah bagi para auditor internal pemerintah. Pengertian Internal Control Melalui Statement of Auditing Standar (SAS), AICPA mendefinisikan Internal Control sama dengan definisi COSO, yaitu suatu proses yang dipengaruhi oleh aktivitas Dewan Komisaris, Manajemen dan Pegawai, yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang wajar atas (a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan (c) ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Berbeda dengan definisi pertama yang hanya mengaitkan pengendalian hanya dengan perencanaan, metode dan pengukuran, pada definisi berikutnya terkait dengan proses yang dipengaruhi oleh aktivitas seluruh komponen organisasi. Definisi ini mengandung makna yang lebih luas dari definisi sebelumnya. Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau internal control di definisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud

10

(seperti mesin dan lahan)

maupun

tidak

(sepertireputasi atau hak

kekayaan intelektual seperti merek dagang). Untuk menjaga agar sistem internal control ini benar-benar dapat dilaksanakan, maka sangat diperlukan adanya internal auditor atau bagian pemeriksaan intern. Fungsi pemeriksaan ini merupakan upaya tindakan pencegahan, penemuan penyimpangan-penyimpangan melalui pembinaan dan pemantauan internal control secara berkesinambungan. Bagian ini harus membuat suatu program yang sistematis dengan mengadakan observasi langsung, pemeriksaan dan penilaian atas pelaksanaan kebijakan pimpinan serta pengawasan sistem informasi akuntansi dan keuangan lainnya. Tujuan Internal control Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya pengendalian intern adalah sbb:

Menjaga kekayaan organisasi. Memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi. Mendorong efisiensi. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

Sistem Internal Control Sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu : 1. Pengendalian Intern Akuntansi (Preventive Controls) Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi. 2. Pengendalian Intern Administratif (Feedback Controls) Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen (dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi). Contoh : 11

pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

Unsur-unsur Internal Control Struktur Pengendalian Intern terdiri atas lima (5) unsur atau elemen yaitu: 1. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalain orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur. Beberapa faktor yang berpengaruh di dalam lingkungan pengendalian antara lain:

Integritas dan Nilai Etik Merupakan etika entitas yang dimiliki dan standar perilaku yang berlaku serta bagaimana mereka mengkomunikasikan dan mengaplikasikan dalam praktik.

Komitmen terhadap kompetensi Kompetensi merupakan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

Dewan Direksi dan Komite Audit Jajaran direktur yang efektif adalah yang independen terhadap manajemen. Komite audit bertanggung jawab sebagai komunikator, baik bagi internal auditor maupun eksternak auditor.

Gaya Manajemen dan Gaya Operasi Pemahaman dan aspek-aspek tentang filosofi manajemen dan gaya operasi memberi auditor suatu pemahaman mengenai sikap manajemen terhadap pengendalian intern.

Struktur Organisasi

12

Pemahaman struktur organisasi memberi gambaran bagi auditor mengenai manajemen dan elemen-elemen fungsional dari bisnis dan bagaimana pengendalian diimplementasikan.

Pemberian Wewenang dan Tanggung Jawab Memberi pemahaman mengenai pengendalaian dan cara-cara yang digunakan untuk pengendalian, perencanaan formal organisasi dan operasi, penugasan karyawan dan kebijakan yang dimiliki entitas

Praktek dan Kebijakan Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan aspek penting dalm pengendalian intern. Pengendalian intern yang dikembangkan entitas berusaha untuk mengatur, menjaga tindakan-tindakan yang dilakukan manusia dalam entitas.

2. Penaksiran Risiko Penaksiran risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola. Penetuan risiko tujuan laporan keuangan adalah identifikasi organisasi, analisis, dan manajemen risiko yang berkaitan dengan pembuatan laporan keuangan yang disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan sebagai berikut:

Perubahan dalam lingkungan operasi Personel baru Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki Teknologi baru Lini produk, produk, atau aktivitas baru Restrukturisasi korporasi Operasi luar negeri Standar akuntansi baru

13

Semua entitas memiliki risiko tergantung dari ukuran, struktur, sifat, atau jenis dari perusahaan. risiko tersebut dapat berupa risiko eksternal dan internal dan semua harus bisa dikendalikan. Perubahan ekonomi, industri, regulasi serta kondisi operasi memungkinkan timbulnya risiko berbeda yang harus segera dapat diatasi oleh manajemen. Auditor berkepentingan untuk memahami mengenai pengetahuan tentang penilaian risiko yang dilakukan oleh manajemen, seperti pengidentifikasian risiko terhadap laporan keuangan, pengevaluasian kemungkinan terjadinya, keputusan manajemen atas tindakan yang akan dilakukan. 3. Aktivitas Pengendalian Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. Umumnya aktivitas pengendalian yang mungkin relevan dengan audit dapat digolongkan sebagai kebijkan dan prosedur yang berkaitan dengan berikut ini:

Review terhadap kinerja Pengolahan informasi Pengendalian fisik Pemisahan tugas

Aktivitas pengendalian dapat dikategorikan sebagai berikut:

Pengendalian Pemrosesan Informasi ini berkaitan dengan proses otorisasi, kelengkapan dan

Hal

keakuratan data keuangan. Pengendalian pemrosesan informasi digolongkan menjadi dua (2), yaitu: 1. 2. Pengendalian umum Pengendalian aplikasi

Pengendalian yang ditujukan untuk pemrosesan tipe-tipe transaksi baik di lingkungan komputer maupun manual dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 14

1.

Otorisasi yang tepat (setiap bukti transaksi diotorisasi

secara tepat sehingga tidak ada bukti yang melewati prosedur otorisasi) 2. Pencatatan dan dokumentasi (semua bukti transaksi telah dicatat dan didokumentasikan dan bila akan diperiksa, dapat dilacak kembali) 3. 4. 5. 6. Pemeriksaan independen Pemisahan tugas Pengendalian fisik Telaah kinerja atas aktivitas pengendalian berkaitan dengan

Pengembangan

kebijakan dan prosedur dapat dijabarkan dalam lima (5) aktivitas pengendalian berikut: 1. Pemisahan tugas 2. Otorisasi yang jelas atas transaksi dan aktivitas 3. Pendokumentasian dan pencatatan 4. Pengendalian fisik atas assets dan catatan 5. Pengecekan secara independen atas kinerja 1. Informasi dan Komunikasi Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka. Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai tentang sistem informasi yang relevan dengan pelaporan keuangan untuk memahami:

Golongan transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi laporan keuangan Bagaimana transaksi tersebut dimulai Catatan akuntansi, informasi pendukung, dan akun tertentu dalam laporan keuangan yang tercakupalam pengolahan dan pelaporan transaksi

15

Pengolahan akuntansi yang dicakup sejak transaksi dimulai sampai dengan dimasukkan digunkan ke dalam laporan keuangan, memproses, termasuk alat elektronik (seperti komputer dan electronic data interchange) yang untuk mengirim, memelihara, dan mengakses informasi

2. Pemantauan (Monitoring) Pemantauan pengendalian penentuan adalah intern desain proses dan yang menentukan kualitas kinerja dan sepanjang operasi waktu. Pemantauan tepat mencakup waktu

pengendalian

pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus (ongoing activities), evaluasi secara terpisah (separate periodic evaluations), atau dengan berbagai kombinasi dari keduanya. Auditor perlu memahami mengenai pemantauan untuk mengetahui aktivitas pemantauan seperti apakah yang digunakan perusahaan dan bagaimana aktivitas tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan pengendalian internal bila dibutuhkan.

Mengidentifikasi Entity-Level Controls Tujuan mendapatkan pemahaman awal dari setiap komponen

pengendalian internal,Sementara mengevaluasi entitas tingkat kontrol, auditor mungkin mengidentifikasi kontrol yang mampu mencegah atau mendeteksi salah saji dalam laporan keuangan. Itu periode-end proses pelaporan keuangan dan pemantauan manajemen terhadap hasil operasi merupakan sumber potensial dari kontrol tersebut. Proses identifikasi yang relevan entitas-tingkat kontrol dapat dimulai dengan pemantauan, dan informasi dan komunikasi).diskusi antara auditor 16

dan karyawan yang sesuai untuk atas pelaporan keuangan (yaitu, lingkungan pengendalian, penilaian risiko, aktivitas

pengendalian,pemantauan, dan informasi dan komunikasi). Sementara mengevaluasi entitas tingkat kontrol, auditor mungkin mengidentifikasi kontrol yang mampu mencegah atau mendeteksi salah saji dalam laporan keuangan. Itu periode-end proses pelaporan keuangan dan pemantauan manajemen terhadap hasil operasi merupakan sumber potensial dari kontrol tersebut. Pengaruh Entity-Level Controls pada Pengujian Kontrol Lain Evaluasi auditor entitas tingkat kontrol dapat menghasilkan

peningkatan atau mengurangi pengujian bahwa auditor jika tidak mungkin dilakukan pada lain kontrol. Sebagai contoh, jika auditor telah merancang pendekatan audit dengan harapan tertentu entitas tingkat kontrol (misalnya, kontrol dalam lingkungan pengendalian) akan efektif dan mereka kontrol tidak efektif, auditor dapat mengevaluasi kembali merencanakan

pendekatan audit dan memutuskan untuk memperluas prosedur audit nya. Di sisi lain, evaluasi auditor dari beberapa entitas tingkat kontrol dapat menghasilkan pengurangan nya atau pengujian nya kontrol lain, seperti kontrol lebih sesuai pernyataan yang relevan. Tingkat dimana auditor mungkin dapat mengurangi pengujian kontrol atas pernyataan yang relevan dalam kasus tersebut tergantung padapresisi dari entitas-tingkat kontrol

17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Tempat dan Waktu Penelitian


Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di PT. Envirindo Tirtanusa,

Jalan Kusuma Utara Raya No. 5-7 Bekasi 17111. Dimulai sejak tanggal 20-23 Desember 2012.

3.2. Program Kegiatan Penelitian


Dalam melakukan program kegiatan kunjungan ke perusahaan untuk menganalisa internal control dilakukan dengan cara : 1. Melakukan Interview dan observasi dengan bagian manajer IT perusahaan 2. Melakukan pencatatan atas hasil interview dan observasi 3. Pencarian dan pengumpulan data melalui internet dan beberapa sumber buku yang berkaitan tentang Sistem Informasi Akuntansi

3.3.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu metode menjabarkan permasalahan yang berkenaan dengan penelitian.

18

3.4.

Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah melakukan studi lapangan dengan cara mewawancarai dan observasi narasumber, yaitu manajer IT perusahaan

3.5.

Perumusan Pertanyaan

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang diajukan dalam kunjungan ke perusahaan untuk menganalisa internal control : 1. Apakah perusahaan ini telah menggunakan system system terkomputerisasi? 2. Sejak kapan perusahaan ini telah menggunakan komputerisasi? 3. Software apa yang digunakan, maupun sistem software atau database pada perusahaan ini? 4. Bagaimana keadaan suatu system tersebut, apakah system tersebut dapat bergerak secara statis atau dinamis pada waktu tertentu? 5. Apa yang dilakukan perusahaan ini untuk menjaga keamanan data-data yang ada di perusahaan ini? 6. Bagaimana cara pegawai untuk mengakses system data? 7. Persiapan apa yang dilakukan perusahaan ini apabila terjadi halhal yang tidak diinginkan seperti bencana alam atau kebakaran? 8. Bila terjadi kesalahan atau hilangnya data-data yang sudah ada, apa yang dilakukan perusahaan ini? Apakah perushaan ini sudah memiliki back up data? 9. Bagaimana struktur jaringan system data yang ada di perusahaan ini? 10. Apakah kelebihan dan kekurangan dari system tersebut?

19

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Hasil Penelitian


Setelah melakukan kunjungan ke perusahaan untuk menganalisa internal control pada PT. Envirindo Tirtanusa, maka kami telah mendapatkan hasil analisa internal control dari perusahaan tersebut. Berdasarkan hasil Analisa kami, PT. Envirindo Tirtanusa telah menggunakan system informasi sejak tahun 2004 dan terus mengikuti zaman dalam meng-Upgrade pengetahuan dan system informasi dalam perusahaan tersebut. Saat ini, software yang di gunakan perusahaan tersebut adalah Wings. Pihak manajer dan accounting di perusahaan tersebut mengakui software akuntansi tersebut cenderung mudah di akses dan mudah di operasikan. Karena telah menggunakan system informasi yang teroperasikan dengan baik, maka hal ini dapat meningkatkan siklus pemesanan barang sehingga terdapat peningkatan kinerja karyawan pada proses administrasi dari menerima permintaan harga sampai kita memberikan harga untuk customer saat sistem tersebut diimplementasikan.

20

Dengan adanya software akuntansi, hal ini dapat lebih meningkatkan kinerja karyawan dalam proses pembuatan laporan keuangan setiap bulan, minggu, atau harian. Terdapat peningkatan pelayanan kepada customer karena pekerjaan dipermudah oleh software yang ada sehingga kinerja karyawan dibidang pelayanan customer meningkat. Dengan adanya sistem informasi yang telah terkomputerisasi dan yang sistemnya telah online, maka, data-data perusahaan seperti data customer, data supplier, data stock barang maupun data laporan keuangan terkendali sehingga dapat diakses kapan saja, walaupun disaat mendesak sekalipun. Mengenai Human Error, hal ini juga terminimalisir. Terdapat peningkatan kinerja karyawan dalam menghadapi kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Dalam hal penyimpanan barang penjualan, perusahaan ini menyimpannya di gudang yang lokasinya tidak jauh dari kantor pusat sehingga dapat mempermudah dalam pendistribusian barang. Sangat disayangkan, perusahaan ini masih kurang dalam mempersiapkan dalam menghadapi hal-hal yang tidak terduga seperti Bencana alam atau Kebakaran. Karena disana tidak terdapat standar pengamanan yang baik untuk penyelamatan dari bencana.

21