Anda di halaman 1dari 17

PENELUSURAN INFORMASI DAN SISTEM TEMU BALIK INFORMASI

1. PENDAHULUAN

Pada hakekatnya, setiap manusia memerlukan informasi, manusia menjadi kaya akan pengetahuan karena adanya informasi, baik itu yang bersifat ilmiah maupun sosial. Dan seiring waktu, informasi berkembang semakin cepat, hal ini membuat informasi menjadi satu kebutuhan. Informasi kemudian juga menjadi alat masyarakat dalam mengambil keputusan, baik itu individu maupun organisasi, karena informasi yang benar dan jelas membuat keputusan dapat diambil dengan tepat. Informasi berasal dari kata informacion (bahasa Perancis) yang diadopsi dari kata informationem (bahasa Latin), artinya adalah garis besar, konsep atau ide. Informasi adalah kata benda dari informare yang artinya melakukan aktifitas dalam pengetahuan yang dikomunikasikan. Informasi adalah pesan (ucapan atau ekspresi) atau kumpulan pesan yang terdiri dari order sekuens dari simbol, atau makna yang dapat ditafsirkan dari pesan atau kumpulan pesan. Informasi dapat direkam atau ditransmisikan. Hal ini dapat dicatat sebagai tandatanda, atau sebagai sinyal berdasarkan gelombang. Informasi bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi. Informasi memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, persepsi, stimulus, komunikasi, kebenaran, representasi, dan rangsangan mental. Dalam beberapa hal pengetahuan tentang peristiwaperistiwa tertentu atau situasi yang telah dikumpulkan atau diterima melalui proses komunikasi, pengumpulan intelejen, ataupun didapatkan dari berita juga dinamakan informasi. Dalam bidang ilmu komputer, informasi adalah data yang disimpan, diproses, atau ditransmisikan. Informasi yang bersifat ilmiah biasanya dapat diperoleh melalui perpustakaan. Saat ini peran perpustakaan dalam memberikan layanan informasi dituntut untuk mengikuti dan mengiringi perkembangan teknologi yang pesat sebagai salah satu bentuk layanan cepat kepada pemustaka. Dan salah satu hal penting dari sebuah perpustakaan adalah adanya proses temu kembali informasi yang secara spesifik berhubungan dengan proses penelusuran informasi. Temu kembali informasi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan
1 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

dan memasok informasi bagi pemustaka sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemustaka (Sulistyo-Basuki, 1992). Sulistiyo Basuki dalam Saepudin (2009) menerangkan bahwa kebutuhan informasi ditentukan oleh: 1. Kisaran informasi yang tersedia; 2. Pemustakaan informasi yang akan digunakan; 3. Latar belakang, motivasi, orientasi profesional, dan karakteristik masing-masing pemustaka; 4. Sistem sosial, ekonomi, dan politik tempat pemustaka berada; dan 5. Konsekuensi pemustakaan informasi. Kebutuhan pemustaka akan informasi timbul ketika pengetahuan yang dimilikinya masih dirasa kurang dan pemustaka terdorong untuk mencari informasi. Akan tetapi usaha dalam menemukan informasi sering menemui masalah, diantaranya karena kurang memadainya metode penyediaan informasi, terbatasnya keterjangkauan informasi, ataupun dari diri pemustaka itu sendiri. Salah satu sistem informasi yang sangat penting di perpustakaan adalah sistem temu kembali informasi (Information Retrieval System), yaitu sistem informasi yang berfungsi menemukan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemustaka dan juga sebagai perantara kebutuhan informasi pemustaka dengan sumber informasi yang tersedia. Sistem temu kembali tersebut dalam hal ini adalah katalog Online atau OPAC. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai temu kembali informasi, penelusuran informasi dan sistem temu kembali informasi dengan contoh sistem temu kembali informasi di Perpustakaan Nasional RI.

2. PEMBAHASAN

2.1. TEMU KEMBALI INFORMASI

Istilah temu kembali informasi mulai dikenal pada tahun 1952 dan semakin populer pada sekitar tahun 1961 ketika disadari bahwa temu kembali informasi memiliki peran khusus dalam kegiatan perpustakaan.

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Temu kembali informasi adalah istilah generik yang mengacu pada temu kembali dokumen atau sumber atau data dari fakta yang dimiliki unit informasi atau perpustakaan. Temu kembali informasi merupakan proses untuk mengidentifikasi kemudian memanggil suatu dokumen dari suatu penyimpanan sebagai jawaban atas permintaan sebuah informasi. Temu kembali informasi dilakukan selama pencari informasi membutuhkan informasi yang masih tersebar dan belum diketemukan keberadaannya. Sebuah identifikasi informasi akan memberikan gambaran mengenai informasi yang diperlukan, baik itu jenis maupun keberadaannya. Dalam identifikasi informasi diperlukan alat bantu penelusuran yang dapat digunakan untuk membantu pencari informasi. Alat-alat ini antara lain adalah: katalog, indeks, bibliografi, opac dan berbagai alat lainnya yang dibuat tercetak maupun dalam format digital.

2.2. PENELUSURAN INFORMASI

2.2.1. PENGERTIAN PENELUSURAN INFORMASI

Penelusuran informasi merupakan bagian dari sebuah proses temu kembali informasi. Penelusuran informasi menjadi penting karena ruh atau nyawa dari sebuah layanan informasi dalam unit informasi atau perpustakaan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan informasi yang diminta pemustaka, bagaimana menemukan informasi yang diminta pemustaka, dan bagaimana memberikan jalan kepada pemustaka untuk menemukan informasi yang dikehendaki, dengan bantuan berbagai alat penelusuran dan temu kembali informasi yang dimiliki perpustakaan / unit informasi. Dengan adanya alat bantu penelusuran informasi, diharapkan proses pencarian informasi dapat dilakukan dengan lebih cepat dan lebih spesifik. Dengan proses temu kembali informasi yang lebih cepat maka diharapkan dapat menghemat waktu pencari informasi. Sehingga pencari informasi dapat menggunakan waktu lainnya untuk melakukan kegiatan lain. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Proses dan pemustakaan alat yang tepat akan menghasilkan informasi yang tepat pula.

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Berdasarkan polanya, penelusuran informasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu: 1. Telusur dokumen : penelusuran diawali dengan identifikasi dokumen dan/atau sumber, dari sini dihasilkan informasi aktual. 2. Telusur informasi : penelusuran diawali dengan informasi yang diperoleh dari bank data, kumpulan data, atau perorangan. Berdasarkan cara dan alat yang digunakan, penelusuran dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1.

Penelusuran Informasi Konvensional : penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui cara-cara konvensional/manual seperti menggunakan kamus,

ensiklopedi,kartu katalog, bibliografi, dan indeks.


2.

Penelusuran Informasi Digital : penelusuran yang dilakukan dengan dan melalui media digital atau elektronik seperti melalui Search Engine (di Internet), Database Online, Jurnal Elektronik, OPAC (Online Public Access Catalog), Reference Online, dan informasi lain yang tersedia secara elektronik/digital.

Pada layanan penelusuran informasi, seringkali terjadi penelusuran informasi menggunakan kombinasi dari perangkat penelusuran informasi konvensional dan digital untuk mendapatkan data atau informasi setepat mungkin, dan dalam hal ini pembedaan tersebut diabaikan. Beberapa hal penting dalam penelusuran 1. Kunci Telusur, adalah karakteristik informasi atau dokumen yang dapat digunakan untuk keperluan menelusur dan memilih dokumen/informasi. Contohnya antara lain subyek, nama penulis, judul, tahun terbit, dan geografis. 2. Pencatatan Pertanyaan, merupakan sebuah prosedur yang akan membantu pemustaka dalam proses penelusuran terutama untuk keperluan: a. Pencatatan pertanyaan yang diajukan pemustaka b. Identifikasi kebutuhan informasi dan dokumen c. Memahami bahasa dokumenter dari pemustaka d. Menghindari pengulangan penelusuran e. Bahan evaluasi temu balik informasi, termasuk analisis prosedur yang digunakan dan efektifitasnya f. Evaluasi Pemustaka 3. Alat Telusur, yaitu alat yang digunakan sebagai sarana proses penelusuran informasi / dokumen. Alat telusur tersebut diantaranya adalah
4 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

1.

Katalog perpustakaan koleksi bahan pustaka: buku, terbitan berkala, laporan, hasil konferensi, koleksi audio-visual

2. Bibliografi buku-buku, abstrak dan indeks jurnal dan artikel jurnal 3. Thesis, patents, standard, publikasi yang diterbitkan lembaga tertentu 4. CD-ROM dan media rekam Lainnya 5 Internet/Online databases, berbagai bentuk karya digital seperti e-journal, e-books, e-articles, dan sebagainya.

2.2.2.

TEKNIK PENELUSURAN INFORMASI Penerapan teknik penelusuran yang tepat akan membuat hasil penelusuran cepat dan

akurat. Dengan demikian pemustaka dapat menghemat waktu. Berikut ini beberapa teknik penelusuran informasi yang dapat digunakan oleh pemustaka : 1. Penelusuran Informasi melalui Katalog Teknik penelusuran menggunakan katalog perpustakaan ini biasanya difokuskan untuk menemukan sebuah kode atau angka klasifikasi yang akan mengarahkan pemustaka ke dalam sumber informasi / koleksi perpustakaan yang dibutuhkan. Pemustaka akan diarahkan kepada jajaran koleksi perpustakaan. Pemustaka atau staf dapat menelusur melalui 3 entri penting yakni berdasarkan judul, pengarang dan / atau subyek. 2. Penelusuran Informasi melalui Bibliografi Bibliografi mirip dengan katalog hanya cakupannya lebih luas, karena tidak hanya mencantumkan koleksi yang dimiliki perpustakaan tapi juga di luar perpustakaan. Teknik penelusuran ini memanfaatkan daftar bahan pustaka baik yang berupa buku, jurnal maupun sumber lainnya untuk menelusur lebih jauh terhadap informasi dan sumber informasi aslinya. Sebetulnya bibliografi dapat dilihat dalam sebuah karya tulis atau bahan pustaka, biasanya pada halaman bagian akhir. Namun ada juga yang tercetak dalam sebuah buku berisi bibliografi seperti bibliografi nasional Indonesia. 3. Penelusuran Informasi melalui Indeks Indeks sering diartikan sebagai daftar istilah penting yang terdapat dalam sebuah karya tulis/bahan pustaka dan disusun secara alphabetis. Indeks memudahkan orang dalam menelusur informasi, karena dapat membawa penelusur kepada sumber informasi secara langsung. Indeks ini dapat berupa bagian dari sebuah karya tulis / bahan pustaka dan dapat pula berupa buku yang diterbitkan khusus. Beberapa contoh indeks :
5 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

a. Indeks dalam buku-buku ilmiah b. Buku Indeks c. Indeks (artikel) majalah d. Majalah indeks e. Indeks surat kabar f. Indeks makalah 4. Penelusuran Informasi melalui Abstrak Perbedaan antara indeks dan abstrak adalah indeks hanya sampai pada informasi penunjukkan tempat dimana suatu informasi disimpan, sementara abstrak di samping menunjukkan tempat informasi, juga memuat ringkasan informasi dari subyek yang ada. Secara definitive, abstrak merupakan pemadatan dari sebuah karya seperti laporan penelitian, artikel majalah/jurnal, prosiding, dan lain-lain. Abstrak yang biasanya dikumpulkan sesuai dengan subyek atau kekhususan informasinya dan disusun secara alphabetis juga. 5. Penelusuran Informasi melalui Kamus & Ensiklopedi Kamus yang disusun secara alphabetis untuk memudahkan pemustaka dalam menelusuri informasi yang diinginkan biasanya digunakan untuk mencari informasi singkat mengenai ejaan, etimologi, batasan/definisi, pengucapan, padanan kata, pembagian suku kata, dan informasi gramatika. Ensiklopedi sejenis dengan kamus, hanya ensiklopedi biasanya memuat informasi yang lebih lengkap dan tidak hanya memberikan arti, padanan, maupun ejaan tetapi juga membahas lebih dalam lagi seperti sejarah, dan keterangan lainnnya. Ensiklopedi biasanya disusun secara alphabetis dan berseri / volume. 6. Penelusuran Informasi melalui Jaringan Informasi Perpustakaan Jaringan informasi perpustakaan adalah salah satu alat yang dapat memberikan solusi kepada pemustaka untuk mencari informasi secara lebih luas. Jaringan menjadi penting karena akan membentuk sebuah jejaring informasi yang luas, terintegrasi dan lebih lengkap. Sharing informasi menjadi kekuatan dari alat telusur ini, dan saat ini sudah semakin mudah dengan adanya teknologi informasi yang dapat membentuk sebuah jaringan informasi online. 7. Penelusuran Informasi melalui Komputer dan Internet Kemudahan dalam proses penelusuran informasi semakin dirasakan dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat. Pemustaka dan staf perpustakaan
6 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

memiliki kesempatan lebih dalam memperoleh informasi baik informasi tercetak maupun digital. Dengan adanya internet, pemustaka dan staf perpustakaan dimanjakan untuk meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari berbagai unit informasi / perpustakaan di seluruh dunia. Adanya penelusuran informasi melalui komputer dan internet membawa orang untuk menembus batasan-batasan yang ada pada teknik penelusuran informasi secara manual/ konvensional. Misalnya melalui OPAC, Search Engine, dan Database Online, pemustaka perpustakaan akan lebih mudah mendapatkan informasi yang dikehendaki, dengan jenis dan macam yang cakupannya lebih luas lagi. 8. Penelusuran informasi melalui media lain Ada banyak alat bantu penelusuran yang dapat dimanfaatkan oleh pemustaka dan staf perpustakaan dalam mendapatkan informasi, meskipun alat-alat bantu tersebut tidak secara spesifik berfungsi sebagai alat penelusuran informasi. Misalnya brosur, pamlet, atlas, globe, peta, direktori, buku pedoman, buku tahunan, dan lain-lain.

Dapat dikatakan disini bahwa keberhasilan sebuah penelusuran informasi ditentukan oleh beberapa hal, yaitu : 1. Kejelasan dalam identifikasi kebutuhan informasi yang disampaikan oleh pemustaka 2. Ketepatan dalam menggunakan berbagai alat / sumber penelusuran 3. Ketepatan dan kecermatan dalam melaksanakan dan menggunakan prosedur penelusuran 4. Kecermatan dalam menentukan analisa hasil penelusuran informasi. 5. Ketekunan dalam menggunakan berbagai cara dan teknik penelusuran.

2.3. SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

2.3.1. PENGERTIAN TEMU KEMBALI INFORMASI

Sistem temu kembali informasi berasal dari kata Information Retrieval System (IRS). Pengertian mengenai sistem temu kembali informasi menurut Sulistyo-Basuki adalah kegiatan yang bertujuan untuk menyediakan dan memasok informasi bagi pemustaka sebagai jawaban atas permintaan atau berdasarkan kebutuhan pemustaka. Dengan kata lain sistem

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

temu kembali informasi memiliki fungsi menyediakan kebutuhan informasi sesuai dengan kebutuhan dan permintaan pemustakanya. Lancaster dalam Muddamale (1998) mendefinisikan sistem temu kembali informasi sebagai suatu proses pencarian dokumen dengan menggunakan istilah-istilah pencarian untuk mendefinisikan dokumen sesuai dengan subyek yang diinginkan. Sistem temu kembali informasi didefinisikan juga sebagai proses yang berhubungan dengan representasi, penyimpanan, pencarian, dan pemanggilan informasi yang relavan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pemustaka. Pendapat ini menunjukkan bahwa dalam sistem temu kembali informasi terkandung sejumlah kegiatan yang meliputi proses identifikasi kecocokan, representasi, penyimpanan, pengambilan, serta pencarian atau penelusuran dokumen yang relevan atau sesuai, dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Menurut Chowdury (1999), pada intinya sistem temu kembali informasi memiliki tiga komponen utama yang saling mempengaruhi, yaitu : 1. Kumpulan dokumen 2. Kebutuhan informasi pemustaka 3. Proses pencocokan (matching) Dapat disimpulkan bahwa sistem temu kembali informasi merupakan sebuah sistem yang berguna dalam memanggil dan menempatkan dokumen dari/dalam basis data sesuai dengan permintaan pemustaka. Sistem temu kembali informasi memiliki tujuan akhir memberikan kepuasan informasi bagi pemustaka. Jadi, temu kembali informasi merujuk pada keseluruhan. kegiatan yang meliputi pembuatan wakil informasi (representation), penyimpanan (storage), pengaturan (organization) sampai kepada pengambilan (access).

2.3.2.Tujuan dan Fungsi Sistem Temu Kembali Informasi

Tujuan utama sistem temu kembali informasi adalah untuk menemukan dokumen yang sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka secara efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan kepuasan baginya, karena sasaran akhir dari sistem temu kembali informasi adalah kepuasan pemustaka. Chowdhury (1999) mengatakan fungsi utama sistem temu kembali informasi antara lain adalah sebagai berikut :
8 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

1. Menemu-kembalikan informasi yang relevan. 2. Merepresentasikan pernyataan (query) pemustaka dengan cara tertentu yang memungkinkan untuk dipertemukan dengan sumber informasi yang terdapat dalam basis data perpustakaan. 3.Merepresentasikan isi sumber informasi dengan cara tertentu yang

memungkinkan untuk dipertemukan dengan pernyataan (query pemustaka). 4. Mempertemukan pernyataan pencarian dengan data yang tersimpan dalam basis data. 5. Menganalisis isi sumber informasi suatu dokumen. 6. Menyempurnakan untuk kerja sistem berdasarkan umpan balik yang diberikan oleh pemustaka.

2.3.3. Efektivitas Sistem Temu Kembali Informasi

Efektivitas adalah kemampuan dari sistem untuk memanggil berbagai dokumen dari suatu basis data sesuai dengan permintaan pemustaka. Efektivitas dari sistem temu kembali informasi dapat diukur dengan paramater rasio atau perbandingan perolehan (recall) dan ketepatan (precision). Sulistyo-Basuki menyatakan bahwa : Rasio perolehan (recall) adalah perbandingan dokumen ditemukan dengan jumlah total dokumen relevan dalam sistem. Sedangkan rasio ketepatan (precision) adalah perbandingan antara dokumen relevan dengan jumlah dokumen yang ditemu balik dalam penelusuran. Dapat dikatakan bahwa perolehan (recall) dan ketepatan (precision) merupakan suatu hal yang sangat bertentangan. Perolehan merupakan jumlah keseluruhan dokumen yang terpanggil oleh sistem dan belum tentu relevan dengan permintaan pemustaka. Sedangkan ketepatan merupakan kemampuan sistem untuk tidak memanggil dokumen yang tidak relevan dengan permintaan pemustaka. Dengan demikian apabila perolehan tinggi maka ketepatan rendah dan jika ketepatan tinggi maka perolehan rendah. Oleh karena itu ketepatan yang biasanya menjadi salah satu ukuran yang digunakan untuk menilai kefektifan suatu sistem temu kembali informasi.

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

3. OPAC SEBAGAI SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

3.1. PEMAHAMAN OPAC Ada beberapa pendapat mengenai OPAC. Diantaranya adalah pengertian OPAC sebagai segi penyimpanan dan penelusuran secara online. Online Public Access Catalog, adalah katalog yang berisi cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan, disimpan pada magnetic disk atau media rekam lainnya, dan dibuat tersedia secara online kepada pemustaka. Katalog itu dapat ditelusur secara online melalui titik akses yang ditentukan. Selanjutnya yaitu pengertian OPAC yang menunjukkan fungsinya sebagai sarana temu balik yang dapat diintegrasikan dengan sistem sirkulasi. OPAC adalah sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara umum, dapat dipakai pemustaka untuk menelusur pangkalan data katalog, untuk memastikan apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu, untuk memperoleh informasi mengenai lokasinya, dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi, maka pemustaka dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang sedang dicari sedang tersedia di perpustakaan atau sedang dipinjam. Melalui OPAC, pemustaka bisa menelusur dokumen yang dibutuhkan dengan berbagai cara, yang tidak mungkin dapat dilakukan pada katalog kartu atau katalog manual lainnya, misalnya menelusur berdasarkan kata kunci ke semua ruas. Sistem OPAC biasanya menawarkan atau menyediakan akses yang luas kepada seluruh cantuman bibliografi. Hasil penelusuran melalui OPAC dapat ditampilkan secara sistematis dan bervariasi. Tampilan informasi bibliografi adalah hal lain yang utama yang membedakan OPAC dengan katalog kartu. Bentuk dan isi cantuman bibliografi pada katalog kartu selalu berada pada format yang sama, sedangkan pada OPAC dimungkinkan pada format yang fleksibel, luwes dan bisa didesain sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

3.2. PROSES DALAM SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI DALAM OPAC OPAC disediakan untuk membantu pemustaka perpustakaan dalam mencari dokumen dan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka dalam memecahkan suatu pertanyaan atau permintaan. OPAC menjadi suatu sarana bagi pemustaka untuk menulusur informasi. OPAC merupakan sarana penyimpanan, sarana penelusuran informasi secara online, dan sebagai
10 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

sarana untuk memeriksa status dari suatu bahan pustaka. Proses penelusuran informasi menjadi penting untuk menghasilkan sebuah temuan atau informasi yang relevan, akurat dan tepat. Pada Perpustakaan Nasional yang menganut layanan tertutup, peran katalog online atau OPAC sangatlah penting, karena pemustaka hanya dapat mengakses data atau informasi yang dicarinya melalui katalog online dan tidak dapat mengakses koleksinya langsung ke dalam ruang penyimpanan koleksi. Pemustaka hanya dapat mengakses OPAC, tapi tidak INLIS. Pemustaka hanya dapat mengoperasikan OPAC dengan memasukkan kata kunci seperti pengarang, judul, nomor panggil buku atau penerbit. Namun pemustaka juga tidak dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang dicarinya ada atau tidak karena status bahan pustaka tidak up to date dengan kondisi di lapangan pada saat yang bersamaan. Hal ini seringkali membuat pemustaka kecewa, karena ketika meminta koleksi kepada petugas, koleksi yang dimaksud tidak tersedia. OPAC di Perpustakaan Nasional RI menyediakan beberapa akses dalam penelusuran, yaitu penelusuran melalui penelusuran kombinasi kata dan penelusuran kombinasi tajuk. Selain itu pada kotak penelusuran pemustaka dapat memasukkan kata kunci sesuai yang diketahuinya, kemudian memilih dari ruas apakah kata kunci tersebut, dari pengarang, judul, subyek, penerbit, nomor panggil atau jika tidak mengetahui secara pasti mengetik kata kunci secara acak dengan memilih dari ruas sembarang. Dibawah ini diberikan beberapa contoh penelusuran dan hasil-hasilnya yang dilakukan menggunakan OPAC Perpustakaan Nasional RI.

11

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Halaman awal OPAC dengan filter pencarian

Halaman hasil penelusuran melalui kata kunci Organizing Knowledge pada ruas Judul

12

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Halaman Detail Data dari pemilihan salah satu entri

Detail data berisi informasi lebih rinci (katalog) dari salah satu entri

13

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Tampilan MARC

Halaman Pencarian Kata Kunci/penelusuran kombinasi kata


14 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

Hasil pencarian menggunakan kata kunci organizing dan knowledge

Halaman Pencarian Tajuk Subyek


15 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

4. PENUTUP Informasi adalah pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran, pengalaman, atau instruksi Kebutuhan pemustaka akan informasi timbul ketika pengetahuan yang dimilikinya masih dirasa kurang dan pemustaka terdorong untuk mencari informasi Dalah hal ini informasi yang ilmiah dapat diperoleh di perpustakaan. Salah satu hal penting dari sebuah perpustakaan adalah adanya proses temu kembali informasi yang secara spesifik berhubungan dengan proses penelusuran informasi. Aktivitas temu kembali informasi tidak terbatas pada cara penyimpanan buku, tapi juga mencakup penempatan informasi yang telah dikatalog dan diindeks agar mudah ditemukan kembali. Untuk itu diperlukan suatu sistem yang memudahkan dalam penelusuran informasi, yang kemudian dikenal sebagai sistem temu kembali informasi. Salah satu contoh sistem temu kembali informasi di perpustakaan adalah katalog online atau OPAC, seperti yang ada di Perpustakaan Nasional RI. Diharapkan adanya katalog online tersebut membantu pemustaka menelusur dengan efektif sehingga diperoleh hasil yang tepat sesuai dengan keinginan pemustaka.

16

Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor

DAFTAR PUSTAKA

Arief Surachman. Tahapan Penelusuran Informasi http://myundip.files.wordpress.com/2011/09/tahapan-penelusuran-informasi-ariefsurachman.pdf Diakses pada 22 Desember 2011 Hasby. Alat Bantu Penelusuran Informasi Untuk Mempercepat Temu Kembali Informasi (Pengantar Analisis Subyek) http://duniaperpustakaan.com/2010/02/06/alat-bantupenelusuran-informasi-untuk-mempercepat-temu-kembali- 22 Desember 2011

Katalog Online Perpustakaan Nasional RI http://opac.pnri.go.id/ diakses pada 29 Desember 2011

Menuju Layanan Perpustakaan Berbasis ISO (Layanan Perpustakaan PT) http://riah.staff.uns.ac.id/2011/10/03/penelusuran-informasi-berbasis-teknologi-informasi-diupt-perpustakaan-uns/ diakses pada 22 Desember 2011

Oktalia Pramudyaningrum [et al.] Penelusuran Informasi dengan Bibliografi http://oktaasshafiyya.blogspot.com/2011/12/penelusuran-informasi-dengan.html

Penelusuran Informasi, http://miftahfauzi38.blogspot.com/2011/12/penelusuraninformasi.html diakses pada 22 Desember 2011

Ratu Siti Zainab, Efektivitas Temu Kembali Informasi dengan Menggunakan Bahasa Alami pada CD-ROM AGRIS dan CAB Abstraks, http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp112022.pdf, diakses pada 26 Desember 2011

Wikipedia. Informasii http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi. diakses pada 22 Desember 2011

Wikipedia Katalog Akses Daring Perpustakaan http://id.wikipedia.org/wiki/Katalog_akses_daring_perpustakaan diakses pada 22 Desember 2011
17 Ade Riri Riyani, MTP 2011, IPB Bogor