Anda di halaman 1dari 9

Penerapan SCM pada Perusahaan BMW Nama Perusahaan : Bayerische Motoren Warke (BMW) Jenis Perusahaan : Industri Perusahaan

Otomotif Tahun didirikan : 1913 Pendiri : Franz Josef Popp Kantor Pusat : Munich, Jerman Implementasi SCM Bayerische Motoren Wark (BMW) adalah perusahaan yang menggunakan manajemen terpadu dari rantai pasok, yang memungkinkan perusahaan ini untuk membuat penghematan yang signifikan dalam pengelolaan bahan baku yang diterima dari pemasok. Siklus pemindahkan roda bahan baku dari pemasok, sehingga diterima danmelakukan proses produksi, kemudian alur ke distributor hingga ke pelanggan. Setiap siklus dilakukan dalam kerangka organisasi terpisah dan mandiri (independen).Keberhasilan BMW dimulai dari perjanjian pada tujuan, dengan pemasok dan dukungan yang konsisten dengan budaya perusahaan kepercayaan. Apakah BMW mengutamakan ERP pada system implementasi SCM? Ya. Sejak diperkenalkannya rantai pasokan terpadu, BMW secara substansial meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan bahan baku diperoleh dari pemasok.Manajemen sistem yang mereka gunakan adalah siklus pemasok komoditas perpindahan aliran dan diterima dan membuat produksi, dan kemudian didistribusikan kepada distributor dan pelanggan. Setiap siklus dilakukan dalam kerangka organisasi terpisah dan mandiri (independen). Adalah bahwa perusahaan memiliki keuntungan dari pelaksanaan SCM? Ya. Karena keberhasilan BMW sukses adalah dalam proses melakukan pengukuran, kepercayaan dengan pemasok dan dukungan sesuai dengan budaya perusahaan. Untuk membangun sistem manajemen untuk rantai pasokan terpadu, BMWmenerapkan : 1. Data Pull yang Akurat. BMW membagikan informasi point-of-sale (POS) kepada vendor sehingga setiap anggota terhubung pasokan perencanaan rantai yang efektif. Kedua, penggunaan teknologi informasi untuk produk komputer dibantu (CAD-order).Sehingga menempatkan POS sistem data persediaan yang ada dan sisa pekerjaan. Kemudian bahan baku yang dikirim langsung dari pemasok. Pengurangan Ukuran Lot Pemasok mengirimkan bahan baku material dalam ukuran terbatas dan tidak terlalu besar, kemudian bahan baku yang sudah diterima bisa langsung diproses. Keuntungan mengirimkan ukuran baku tidak terlalu besar untuk memberikan bahan baku ke pabrik setidaknya mengurangi biaya pemeliharaan bahan baku. Managed Inventory Persediaan yang ada pada saat ini dikelola oleh vendor (vendor managed inventory VMI), jadi pada saat persediaan barang mencapai hampir nol,VMI kemudian mengirimkan permintaan langsung ke pemasok bahan baku.Pemasok langsung mengirimkan bahan bakunya ke bagian produksi dan tidak melalui gudang, sehingga terjadi alur penghematan rute yang juga berdampak pada penghematan biaya. Standardisasi BMW melakukan tindakan khusus untuk meningkatkan tingkat standardisasi (normalisasi) terhadap pemasok bahan baku memerintahkan. Karena selain menjaga kualitas produk, juga dapat meningkatkan kualitas produk BMW. Pemesanan Elektronik dan Pemindahan Dana Untuk pertukaran data, kontrol transaksi, membeli, menerima, dokumen, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pemasok BMW menggunakan sistem pertukaran data

2.

3.

4.

5.

elektronik (EDI - EDI). Ada transmisi data standar untuk komunikasi komputer. Karena selain menghemat kertas dan menyederhanakan pekerjaan administratif. Namun, EDI telah dihentikan dan digantikan oleh internet lebih cepat dan lebih murah. Dengan demikian, pemesanan dapat dilakukan secara online. Tidak hanya itu, aktivitas online lainnya sedang dilakukan. Apakah bisnis melayani pelanggan dapat berjalan lebih baik dengan menggunakan APO tools dalam SAP? Ya, karena seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa penerapan SCM pada BMW berhasil secara substansial meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan bahan bakuproduksi. Manajemen sistem yang mereka gunakan adalah siklus pemasok komoditas perpindahan aliran dan diterima dan membuat produksi, dan kemudian didistribusikan kepada distributor dan pelanggan. Setiap siklus dilakukan dalam kerangka organisasiterpisah dan mandiri (independen).

ANALISIS HUBUNGAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DAN ENTERPRISE RESOURCE PLANNING

ANALISIS HUBUNGAN SUPPLY CHAIN MANAGEMENT DAN ENTERPRISE RESOURCE PLANNING by : YULIA RAHMI Jika Anda berada dalam supply chain management pada saat ini , maka kompleksitas adalah sebuah kanker , dimana Anda harus berjuang. Manajemen proses adalah senjata untuk mengembangkan sebuah model yang kuat dari proses supply chain management dan mendefinisikan mereka secara benar, sehingga mereka dapat dikelola.. Ini telah memungkinkan organisasi kita untuk memahami bahwa supply chain management adalah terlalu penting untuk hanya fungsi. Sebaliknya itu pekerjaan semua orang. " -Tom Blackstock Wakil Presiden, Supply Chain Operasi, Coca-Cola Amerika Utara PENDAHULUAN Dalam lingkungan saat ini, ada tekanan untuk lebih bertanggung jawab sosial pada lingkungan dan

ada risiko yang perlu dikurangi dan dikelola. Lalu, ada kompleksitas yang diciptakan oleh kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat, globalisasi, tekanan pada biaya, dan ketersediaan dan akses ke sumber daya. Manajemen diharapkan untuk meningkatkan profitabilitas, meningkatkan pertumbuhan pendapatan dan melindungi pangsa pasar yang lebih besar. Agar berhasil, manajemen harus menyadari bahwa keberhasilan akhir dari sebuah organisasi bergantung pada kemampuan untuk mengintegrasikan jaringan perusahaan hubungan bisnis dengan cara yang saling menguntungkan. Pengelolaan jaringan ini hubungan adalah supply chain management. Manajemen rantai pasokan yang sukses membutuhkan lintas-integrasi fungsional dalam perusahaan dan di seluruh jaringan perusahaan yang terdiri dari rantai pasokan. Munculnya SCM dilatar belakangi oleh 2 hal pokok, yaitu: 1. Praktek manajemen logistik tradisional yang bersifat adversarial pada era modern ini sudah tidak relevan lagi, karena tidak dapat menciptakan keunggulan kompetitif 2. Perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat dengan persaingan yang semakin ketat Konteks produk yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen dalam pengertian manajemen produksi dan operasi adalah kombinasi produk barang dan jasa. Industri manufaktur tidak akan dapat bersaing apabila produk yang ditawarkan murni hanya barang, dan industri jasa juga tidak memiliki daya tarik apabila yang ditawarkan kepada konsumen murni berupa layanan. Keberhasilan perusahaan dalam memberikan produk terbaik kepada konsumen meliputi kombinasi di antara keduanya, yaitu barang dan jasa dalam porsi masing-masing yang ideal menurut perusahaan. Menyajikan produk dalam arti luas tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi sistem produksi operasi yang harus dijalankan perusahaan. Mulai dari mengidentifikasi selera konsumen sampai dengan mengupayakan seluruh kebutuhan input dari pemasok untuk memproduksi dan mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan selera konsumen yang dibidik. Pada dasarnya konsumen mengharapkan dapat memperoleh produk yang memiliki manfaat pada tingkat harga yang dapat diterima. Untuk mewujudkan keinginan konsumen tersebut maka setiap perusahaan berusaha secara optimal untuk menggunakan seluruh asset dan kemampuan yang dimiliki untuk memberikan value terhadap harapan konsumen. Implementasi upaya ini tentunya menimbulkan konsekuensi biaya yang berbeda di setiap perusahaan termasuk para pesaingnya. Untuk dapat menawarkan produk yang menarik dengan tingkat harga yang bersaing, setiap perusahaan harus berusaha menekan atau mereduksi seluruh biaya tanpa mengurangi kualitas produk maupun standar yang sudah ditetapkan. Salah satu upaya untuk mereduksi biaya tersebut adalah melalui optimalisasi distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen. Distribusi yang optimal dalam hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep Supply Chain Management (SCM). SCM sesungguhnya bukan merupakan suatu konsep yang baru. Menurut Jebarus (2001) SCM merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan konsumen. Konsep ini menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk darisupplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen. Dari sini aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat pembatas yang besar, sehingga mekanisme informasi antara berbagai elemen tersebut berlangsung secara transparan. SCM merupakan suatu konsep menyangkut pola pendistribusian produk yang mampu menggantikan pola-pola pendistribusian produk secara optimal. Pola baru ini menyangkut aktivitas pendistribusian, jadual produksi, dan logistik Perkembangan lingkungan industri yang dinamis pada era global seperti sekarang ini menjadi

pemicu bagi banyak organisasi perusahaan untuk menggali potensi yang dimiliki, serta mengidentifikasi faktor kunci sukses untuk unggul dalam persaingan yang semakin kompetitif. Teknologi yang juga berkembang pesat menjadi sebuah kekuatan untuk diterapkan dalam iklim persaingan, salah satunya aplikasi Enterprise Resources Planning. Apakah ERP itu ? Bagaimanakah hubungan supply chain management dan Enterprise Resources Planning ? . Serta, Apa saja implementasinnya di dunia bisnis Indonesia ?. Mari temukan jawabannya di term paper ini. MENGENAL LEBIH DEKAT SUPPLY CHAIN Supply Chain adalah sistem organisasi, orang, teknologi, kegiatan, informasi dan sumber daya yang terlibat dalam memindahkan produk atau layanan dari pemasok ke pelanggan . Kegiatan rantai pasokan transformasi sumber daya alam, bahan baku dan komponen menjadi produk jadi yang dikirimkan ke pelanggan akhir.

Diagram dari sebuah rantai suplai. Panah hitam menunjukkan aliran material dan informasi dan panah abu-abu merupakan aliran informasi dan backhauls. Unsur-unsur adalah (a) pemasok awal, (b) pemasok, (c) produsen (produksi), (d) pelanggan, (e) pelanggan akhir. Pada kenyataannya struktur supply chain jauh lebih kompleks dari gambar 1. Berbagai kemungkinan di lapangan bisa terjadi, antara lain: 1. Sebuah pemasok mungkin sekaligus adalah industri manufaktur, dengan kata lain sebuah supply chain bisa saja melibatkan sejumlah industri dalam satu rantai hulu ke hilir . 2. Supply chain tidak selalu merupakan rantai lurus 3. Sebuah industri manufaktur bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pemasok 4. Produk-produk yang dihasilkan oleh sebuah industri mungkin didistribusikan oleh beberapa pusat distribusi yang melayani ratusan bahkan ribuan distributor, retailer, pedagang kecil, dan sebagainya. Praktek tradisional, semua aktivitas tersebut dilakukan tanpa atau dengan sedikit koordinasi. Istilah cross fungsional team misalnya tidak banyak diaplikasikan dalam manajemen SC tradisional. Pola hubungan manajemen logistik tradisional masih bersifat adversarial, dalam arti pola hubungannya masih mementingkan pihak-pihak secara individual tidak mengacu pada kinerja keseluruhan pihak yang menjadi pembentuk sebuah SC, contohnya antara lain: Hubungan antara pemasok dengan perusahaan yang disuplainya hanya terbatas pada transaksi jual beli. Pola-pola negosiasi hanya mementingkan pihak-pihak secara individual. Pemasok ingin secepatnya memindahkan atau menjual produknya secepat dan sebanyak mungkin dengan harga yang tinggi, sementara perusahaan yang disuplainya menginginkan harga yang murah dan pengiriman yang cepat dan tepat. Lingkungan Bisnis senantiasa berubah dan perubahan tersebut semakin lama semakin cepat. Akselerasi perubahan ini disebabkan berkembangnya secara cepat faktor-faktor penting, antara lain: 1. Tuntutan konsumen yang semakin kritis. Konsumen menjadi semakin rumit dan terlalu banyak menuntut. Mereka menuntut harga murah, mutu tinggi untuk setiap produk yang ditawarkan, penyerahan tepat waktu, dan sesuai dengan selera mereka. 2. Infrastruktur telekomunikasi, informasi, transportasi, dan perbankan yang semakin canggih memungkinkan berkembangnya model baru dalam aliran material/produk. 3. Daur hidup produk. Daur hidup produk sangat pendek seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan pasar. 4. Kesadaran konsumen akan pentingnya aspek sosial dan lingkungan dalam kehidupan, menuntut

industri manufaktur memasukkan konsep- konsep ramah lingkungan mulai dari proses perancangan produk, proses produksi maupun proses distribusinya. 5. Globalisasi dan perubahan peta ekonomi dunia ke arah meningkatnya kemampuan ekonomi negara-negara dunia ketiga, telah menciptakan banyak paradigma baru dalam dunia bisnis, dan salah satu paradigma penting adalah meningkatnya persaingan antara produk jasa di pasaran. Dengan latar belakang praktek manajemen logistik tradisional dan perubahan lingkungan bisnis yang semakin cepat tersebut di atas, Supply Chain Management (SCM) merupakan salah satu konsep dalam rangka merespon persoalan tersebut. Supply Chain Management (SCM) menekankan pada pola terpadu menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga pada konsumen akhir. Dalam konsep SCM ingin diperlihatkan bahwa rangkaian aktivitas antara supplier hingga konsumen akhir adalah dalam satu kesatuan tanpa sekat yang besar. Mekanisme informasi antara berbagai komponen tersebut berlangsung secara transparan. APA ITU SUPPLY CHAIN MANAGEMENT ?

Supply chain management adalah suatu sistem yang ditujukan untuk mengendalikan suplier. Pengendalian ini bertujuan utama untuk memastikan ketersediaan bahan baku atau bahan mentah agar tidak menghambat kinerja perusahaan secara keseluruhan. Tujuan utama dari supply chain management adalah untuk memenuhi permintaan pelanggan melalui penggunaan sumberdaya paling efisien, termasuk kapasitas distribusi, persediaan dan tenaga kerja. Secara teori, sebuah supply chain berusaha untuk memenuhi permintaan dengan pasokan dan melakukannya dengan persediaan minimal. Berbagai aspek mengoptimalkan rantai pasokan termasuk penghubung dengan pemasok untuk menghilangkan hambatan; sumber strategis untuk menyerang keseimbangan antara biaya bahan terendah dan transportasi, menerapkan JIT (Just In Time) teknik untuk mengoptimalkan aliran manufaktur; mempertahankan campuran yang tepat dan lokasi pabrik dan gudang untuk melayani pasar pelanggan, dan menggunakan lokasi / alokasi, routing analisis kendaraan, pemrograman dinamis dan, tentu saja, tradisional logistik optimasi untuk memaksimalkan efisiensi dari sisi distribusi. Perusahaan yang berada dalam supply chain pada intinya ingin memuaskan konsumen dengan bekerja sama membuat produk yang murah, mengirimkan tepat waktu dan dengan kualitas yang bagus. Apabila mengacu pada sebuah perusahaan manufaktur, kegiatan-kegiatan utama yang masuk dalam klasifikasi SCM adalah : product development, procurement, palanning and control, production dan distribution. Pendekatan yang ditekankan dalam SCM adalah terintegrasi dengan semangat kolaborasi. Supply chain management tidak hanya berorientasi pada urusan internal melainkan juga eksternal perusahaan yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner SCM yang didesain dengan baik menghasilkan net value positif dengan memberikan keuntungan, mengurang biaya, dan menigkatkan kelangsungan hidup keuangan. Perusahaan dengan supply chain yang diselsaikan dengan baik dapat membagikan keuntungan dengan layak, dengan menghasilkan yang disebut win-win relationship. ENTERPRISE RESOURCE PLANNING ( ERP )

Enterprise Resource Planning (ERP) adalah sistem yang dapat mengintegrasikan semua data dan proses di sebuah perusahaan ke dalam sebuah sistem tunggal. Pengertian ERP sendiri berasal dari sistem yang didesain untuk perancangan efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Program ERP sangat membantu perusahaan yang memiliki bisnis proses yang luas, dengan menggunakan database dan reporting tools manajemen yang terbagi. Business processes merupakan sekelompok aktivitas yang memerlukan satu jenis atau lebih input yang akan menghasilkan sebuah output dimana output ini merupakan value untuk konsumen. Dalam suatu sistem ERP, biasanya sudah terdapat beberapa modul software yang dapat saling berketaitan antara satu dengan yang lain. Sebuah database dalam sistem ERP biasanya mengandung semua data yang terdapat dalam module software yang meliputi, manufactring, supply chain management, financial, projects, human resource, customer relationship management, dan data warehouse. Dengan banyaknya modul yang terdapat pada sebuah sistem ERP, tak heran jika aplikasi ini dapat menurunkan banyaknya jumlah software yang dibutuhkan pada sebuah perusahaan besar. ERP juga dapat menghasilkan laporan yang terbagi dalam beberapa sistem secara lebih mudah. ERP juga dapat memudahkan manajemen tingkat tinggi, dalam melakukan fungsi analisa yang berlaku di suatu perusahaan besar, untuk mengindentifikasi tren yang berlaku di perusahaan sehingga sehingga dapat membuat keputusan secara cepat. Implementasi sebuah sistem ERP umumnya akan memerlukan proses re-engineering (perubahan/penyempurnaan proses bisnis/industri), selama proses implementasi anda mempunyai kesempatan untuk memperbaiki proses-proses yang kurang sempurna ataupun mengganti proses bisnis dengan sistem yang lebih modern yang paling sesuai dengan bisnis anda. Projek ERP juga meletakkan dasar sistem bisnis baru dimana sistem ERP dapat berintegrasi dengan E-commerce dan Costumer Relationship Management (CRM., ERP umumnya juga dilengkapi sistem EDI (Electronic Data Interchange) sehingga memungkinkan sistem untuk bertukar data dengan sistem dari Vendor, Customer, dan lain lain, serta dilengkapi sistem email untuk pengiriman informasi dan peringatan terhadap kondisi kondisi tertentu untuk membantu pengawasan dan kontrol terhadap sistem. Agar sebuah perusahaan dapat menerapkan konsep ERP dengan baik, setiap aspek dari organisasi, manusia, informasi, dan teknologi harus dipersiapkan dengan baik. Adapun keuntungan dari implementasi ERP antara lain : a. Integrasi data keuangan b. Standarisasi Proses Operasi c. Standarisasi Data dan Informasi Keuntungan diatas adalah keuntungan yang dapat dirasakan namun tidak dapat diukur. Keberhasilan implementasi ERP dapat dilihat dengan mengukur tingkat Return on Investment (ROI), dan komponen lainnya, seperti: -Pengurangan lead-time -Peningkatan kontrol keuangan - Penurunan inventori - Penurunan tenaga kerja secara total -Peningkatan service level - Peningkatan sales -Peningkatan kepuasan dan loyalitas konsumen -Peningkatan market share perusahaan - Pengiriman tepat waktu

- Kinerja pemasok yang lebih baik -Peningkatan fleksibilitas -Pengurangan biaya-biaya -Penggunaan sumber daya yang lebih baik -Peningkatan akurasi informasi dan kemampuan pembuatan keputusan. Kerugian yang mungkin terjadi ketika salah menerapkan ERP antara lain adalah : - Strategi operasi tidak sejalan dengan business process design dan pengembangannya - Waktu dan biaya implementasi yang melebihi anggaran - Karyawan tidak siap untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru - Persiapan implementation tidak dilakukan dengan baik - Berkurangnya fleksibilitas sistem setelah menerapkan ERP Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang secara de facto adalah aplikasi yang dapat mendukung transaksi atau operasi sehari-hari yang berhubungan dengan pengelolaan sumber daya sebuah perusahaan, seperti dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas.Sistem ERP dibagi atas beberapa sub-sistem yaitu sistem Financial, sistem Distribusi, sistem Manufaktur, sistem Maintenance dan sistem Human Resource. Untuk mengetahui bagaimana sistem ERP dapat membantu sistem operasi bisnis kita, mari kita perhatikan suatu kasus kecil seperti di bawah ini: Katakanlah kita menerima order untuk 100 unit Produk A. Sistem ERP akan membantu kita menghitung berapa yang dapat diproduksi berdasarkan segala keterbatasan sumber daya yang ada pada kita saat ini. Apabila sumber daya tersebut tidak mencukupi, sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumber daya yang diperlukan, sekaligus membantu kita dalam proses pengadaannya. Ketika hendak mendistribusikan hasil produksi, sistem ERP juga dapat menentukan cara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang ditentukanpelanggan. Dalam proses ini, tentunya segala aspek yang berhubungan dengan keuangan akan tercatat dalam sistem ERP tersebut termasuk menghitung berapa biaya produksi dari 100 unit tersebut. Dapat kita lihat bahwa data atau transaksi yang dicatat pada satu fungsi/bagian sering digunakan oleh fungsi/bagian yang lain. Misalnya daftar produk bisa dipakai oleh bagian pembelian, bagian perbekalan, bagian produksi, bagian gudang, bagian pengangkutan, bagian keuangan dan sebagainya. Oleh karena itu, unsur 'integrasi' itu sangat penting dan merupakan tantangan besar bagi vendor vendor sistem ERP. Pada prinsipnya, dengan sistem ERP sebuah industri dapat dijalankan secara optimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien seperti biaya inventory (slow moving part, dll.), biaya kerugian akibat 'machine fault' dll. Dinegara-negara maju yang sudah didukung oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-Time). Di sini, segala sumberdaya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving).Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, inventory, dsb. Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari sistem ERP, maka industri kita juga harus mengikuti 'best practice process' (proses umum terbaik) yang berlaku. Disini banyak timbul masalah dan tantangan bagi industri kita di Indonesia. Tantangannya misalnya, bagaimana merubah proses kerja kita menjadi sesuai dengan proses kerja yang dihendaki oleh sistem ERP, atau, merubah sistem ERP untuk menyesuaikan proses kerja kita.

Proses penyesuaian itu sering disebut sebagai proses Implementasi. Jika dalam kegiatan implementasi diperlukan perubahan proses kerja yang cukup mendasar, maka perusahaan ini harus melakukan Business Process Reengineering (BPR) yang dapat memakan waktu berbulan bulan. Analisis Hubungan Supply Chain Management dan Enterprise Resources Planning

SCM : adalah suatu sistem informasi untuk memudahkan pengendalian atas supplier. ERP : adalah sistem inti perusahaan yang mengendalikan semua aspek internal perusahaan. CRM : adalah sistem informasi untuk melakukan pengendalian atas konsumen perusahaan. ERP adalah sebuah sistem komputer yang dirancang untuk dapat mengendalikan seluruh aspek dalam perusahaan. Sistem ERP adalah suatu sistem yang menyatukan semua subsistem-subsistem diatas. Sistem ini luar biasa kompleks, tetapi apabila diinplementasikan, akan sangat memudahkan manajemen dalam melakukan monitoring pekerjaan sehari-hari, evaluasi, dan pada akhirnya mengambil keputusan. Pengembangan dari sistem ini adalah dengan teknologi Electronic Data Interchange (EDI) yang memungkinkan supplier dapat memantau stok kita secara realtime sehingga resiko kekurangan stok akan dapat diminimalisasikan. ERP merupakan teknologi yang terintegrasi yang dapat memberikan value terhadap supply chain management. Implementasi ERP pada PT. SEMEN GRESIK Group Tanggal 01 Januari 2010 group perusahaan BUMN persemenan terbesar milik Pemerintah ini , Semen Gresik Group baru saja melaunching program SAP sebagai ERP terbarunya yang akan dipakai secara bersama sama untuk ketiga pabrik semen , yaitu PT. Semen Gresik ( Persero ) Tbk, PT. Semen Padang, PT. Semen Tonasa. Proyek ERP (Enterprise Resource Planning) yang dimulai sejak 2008 ini merupakan pilot project bagi Semen Gresik Group yang nantinya diharapkan bisa meningkatkan integritas ketiga perusahan semen nasional tersebut. Diharapkan dengan pemakaian program ERP SAP yang baru ini bisa menggantikan serta mengakomodir fungsi program ERP sebelumnya yang sudah dipakai oleh ketiga perusahan persemenan tersebut, PT. Semen Padang dengan program Oracle-nya, serta pogram J.D. Edward sebagai andalan PT. Semen Gresik (Persero) Tbk dan PT. Semen Tonasa. Program SAP untuk pertama kali di rollout di PT. Semen Padang, selanjutnya menyusul di PT.Semen Gresik ( Persero ) Tbk, dan PT. Semen Tonasa. Software buatan Jerman ini telah lama dipakai di perusahaan besar Eropa dan Amerika. Di Indonesia, banyak perusahaan besar yang telah mengimplementasikan SAP sebagai program ERP-nya, misalnya Astra International, Toyota Astra Motor, Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Bentoel Prima, United Tractor, Daihatsu Motor, Pertamina, Aqua, Telkomsel, Auto 2000, Blue Bird. Semoga dengan adanya program ERP SAP yang baru ini, Semen Gresik Group bisa semakin bersinergi dan maju. SAP Covers the Entire Value Chain for a Cement Plan PENUTUP

ERP adalah sistem yang didesain untuk perancangan efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang dapat mensupport supply chain management, sehingga perusahaan lebih competitive di bidang kualitas, rendah biaya, peningkatan value costumers. Pengembangan dari sistem ini adalah dengan teknologi Electronic Data Interchange (EDI) yang memungkinkan supplier dapat memantau stok kita secara realtime sehingga resiko kekurangan stok akan dapat diminimalisasikan. ERP merupakan teknologi yang terintegrasi yang dapat memberikan value terhadap supply chain management.