Anda di halaman 1dari 28

Tugas 1 Teknologi Serat, Karet, Kulit, Gum dan Resin

Hari/tanggal Dosen

: Selasa, 6 November 2012 : Dr. Ono Suparno STP.MT

KULIT SAMAK KAMBING, DOMBA, SAPI

Disusun oleh: Arnis Sinta W. Mangarissan S. Rizky Amelia Pronika Kricella Lianitha Kurniawati Eka Sandra Putri Devina Kurniati Shinta Febrianti F34090053 F34090051 F34090056 F34090059 F34090068 F34090074 F34090078 F34090083

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi, industri-industri di Indonesia semakin bersaing untuk memproduksi dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu dari industri yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah industri penyamakan kulit. Kulit samak merupakan kulit yang dihasilkan dari proses penyamakan dan berbahan baku dari kulit mentah. Kulit mentah yang digunakan dalam proses penyamakan berasal dari kulit hewan seperti sapi, kambing, domba, buaya, ular, dan hewanhewan lainya. Dalam makalah ini difokuskan pada pembahasan mengenai kulit kambing, domba, dan kulit sapi. Fungsi kulit pada hewan adalah untuk melindungi jaringan-jaringan dibawahnya, alat perasa, dan tempat penyimpanan cadangan energi. Namun, ketika hewan itu telah dipotong, kulit akan kehilangan fungsinya dan kualitasnya menjadi menurun. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan kulit lebih lanjut, yaitu proses penyamakan. Proses penyamakan kulit pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kulit mentah yang mudah rusak karena aktifitas mikroorganisme menjadi kulit samak yang tahan lama. Prinsip dalam proses penyamakan adalah pemasukan bahan-bahan tertentu ke dalam jalinan serat kulit sehingga terjadi ikatan kimia antara kulit dan bahan penyamak. Kulit samak merupakan produk dengan nilai jual yang tinggi. Hal ini dikarenakan hasil kulit samak memiliki sifat yang lebih kuat dan stabil terhadap pengaruh fisik, biologis, dan kimia, sedangkan kulit mentah yang merupakan bahan dasar kulit samak memiliki sifat yang mudah rusak dan membusuk. Kulit samak banyak digunakan sebagai bahan baku tas, sepatu, jaket, dompet, ikat pinggang, dan sebagainya. Kulit sapi, daging, dan domba merupakan jenis kulit yang paling sering untuk dilakukan proses penyamakan. Hal ini dikarenakan ketiga jenis hewan ini merupakan hewan yang dagingnya sering dikonsumsi oleh manusia. Oleh karena itu, penyamakan pada kulit sapi, domba, dan kambing merupakan proses penyamakan yang sangat baik untuk dilakukan karena bahan baku kulit mentahnya mudah didapatkan. Kulit samak yang berasal dari hewan mamalia seperti sapi, kambing dan domba memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Pemanfaatan kulit mentah dalam proses produksi kulit samak merupakan salah satu upaya memanfaatkan hasil samping industri peternakan, sehingga dapat memberikan nilai tambah karena produk olahannya memiliki nilai jual yang tinggi. Selain itu, pendirian industri kulit samak akan meningkatkan pendapatan nasional, membuka peluang usaha yang dapat menyerap tenaga kerja. Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses yang saling berurutan. Sebelum kulit mentah menjadi kulit samak, kulit mengalami proses penyamakan yang secara umum dapat digolongkan menjadi tiga tahap, yaitu: pengerjaan rumah basah (beam house operation), penyamakan (tanning), dan penyelesaian (finishing). Berdasarkan bahan penyamak yang digunakan, dikenal berbagai jenis cara penyamakan seperti penyamakan nabati, sintetis, minyak, aldehida, quinon, dan campuran. Selain teknologi proses, makalah ini juga akan membahas mengenai prospek pemasaran dari produk-produk kulit samak. B. Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui proses pembuatan kulit samak, sentra produksi, harga bahan baku, tingkat produksi, standar mutu (bahan baku dan produk), produk turunan, dan manfaat atau kegunaan kulit samak yang berasal dari hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan domba. Selain itu untuk mengetahui tentang kulit samak dilihat dari segi aspek teknologi proses yang digunakan, aspek lingkungan yang terjadi dan aspek pemasaran.

C. Output Output yang ingin dicapai dari pembuatan makalah ini adalah sebagai sumber informasi tentang penyamakan kulit dari kulit hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan domba. Makalah ini akan membahas mengenai kulit dan produk turunannya. Pembahasan meliputi beberapa aspek antara lain, aspek bahan baku, aspek produk, aspek legalitas, aspek teknologi proses, aspek lingkungan dan aspek pemasaran serta finansial. Aspek bahan baku membahas mengenai sentra produksi, harga dan standar mutu bahan baku. Sedangkan untuk aspek produk dibahas mengenai pohon industri, jenis dan manfaat serta standar (SNI atau standar internasional). Pada aspek teknologi akan dibahas mengenai teknologi proses produksi dan biaya produksi, sedangkan untuk aspek lingkungan akan dibahas mengenai limbah industri pengolahan kulit, proses pengolahan limbah dan pemanfaatannya. Aspek pemasaran yang akan dibahas yaitu permintaan produk kulit samak, penawaran ekspor-impor, pangsa pasar dan prospeknya.

TINJAUAN PUSTAKA A. Bahan Baku a. Sentra produksi Salah satu sentra industri penyamakan kulit, yaitu terdapat di daerah Sukaregang, Garut, Jawa Barat. Luas wilayah sentra adalah 79,75 Ha. Lahan kawasan Sukaregang masih didominasi oleh penggunaan non terbangun seluas 42,36 Ha atau sekitar 53,21 persen dari total luas kawasan Sukaregang. Sedangkan luas terbangun yang terdiri dari pemukiman dan kegiatan industri seluas 37,41 Ha atau sekitar 46,79 persen dari luas kawasan Sukaregang. Lokasi industri penyamakan memiliki kecenderungan untuk mendekat pada sungai-sungai yang melintasi kawasan Sukaregang yaitu Sungai Ciwalen dan Cigalumpeng. Sentra produksi kulit samak ini sudah berkembang dengan baik sejak jaman penjajahan Belanda. Produk kulit hasil penyamakannya pun sudah cukup dikenal oleh kalangan pelaku industri kerajinan kulit tidak hanya di wilayah Sukaregang dan Kabupaten Garut, tetapi juga di kalangan pelaku industri kerajinan kulit di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Bahkan, sebagian kulit samak produksi sentra industri penyamakan kulit Sukaregang, Garut juga diekspor ke berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kalangan industri kulit di luar negeri. Keterampilan dan keahlian dalam mengolah kulit hewan di kalangan pengusaha industri penyamakan kulit di Sukaregang, Garut umumnya diperoleh secara turun temurun dari orang tua mereka. Sebagian pengusaha lainnya mendapatkan keterampilan atau keahlian tersebut melalui pengalaman kerja bertahun-tahun di industri penyamakan kulit milik pengusaha lainnya. Keterampilan dan keahlian menyamak kulit hingga kerajinan mengolah kulit hewan menjadi berbagai produk kerajinan di Kecamatan Sukaregang, Garut seolah-olah sudah menjadi keterampilan atau keahlian milik bersama seluruh anggota masyarakat. Karena sebagian besar masyarakat Sukaregang, Garut kini menggantungkan kehidupannya dari kegiatan industri penyamakan kulit dan industri kerajinan kulit lainnya. Saat ini setidaknya terdapat 330 industri penyamakan kulit di Kecamatan Sukaregang, Garut. Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki potensi domba Garut (Domba Priangan) yang memiliki kualitas baik sebagai bahan baku industri penyamakan kulit. Kulit domba diperoleh dari domba Garut (domba priangan). Domba ini adalah hasil persilangan segitiga antara domba asli, domba merino dan domba ekor gemuk (kapstat) dari Afrika Selatan. Domba Garut biasanya diternak dengan baik oleh pemiliknya sehingga memiliki kulit dan bulu yang berkualitas baik. Keunggulan produk kulitnya memiliki susunan penampang (rajah) dan pori-pori kulit yang halus yang berasal dari ternak tropis dan dipelihara sangat baik. Di Kecamatan Sukaregang, Garut sendiri terdapat tiga kelompok industri penyamakan kulit yang sudah cukup mapan. Pertama, industri penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri sepatu. Bahan baku kulit untuk kebutuhan industri sepatu biasanya lebih tebal dan lebih kaku. Untuk keperluan industri sepatu ini industri penyamakan kulit biasanya menggunakan bahan mentah dari kulit sapi atau kulit kerbau. Kedua, industri penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri garmen dari kulit. Biasanya kulit samak untuk industri garmen memiliki ketebalan kulit yang lebih tipis jika dibandingkan dengan kulit samak untuk industri sepatu. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit bagi industri garmen dari kulit, biasanya kalangan industri penyamakan kulit menggunakan bahan mentah berupa kulit kambing atau kulit domba. Selain dipergunakan sebagai bahan baku untuk industri garmen (seperti jaket kulit), jenis kulit ini biasanya juga dipakai sebagai bahan

baku untuk industri sarung tangan golf. Ketiga industri penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri sarung tangan kerja (working gloves) dari kulit. Bahan kulit mentah yang dipakai untuk proses penyamakan kulit jenis ini biasanya diambil dari hasil split atau seset dari kulit sapi atau kulit kerbau. Selain ketiga jenis sentra industri penyamakan kulit tersebut, di Sukaregang, Garut masih ada sentra industri kulit lainnya, yaitu sentra industri kerupuk kulit. Biasanya bahan baku untuk industri pembuatan kerupuk kulit ini menggunakan bahan mentah berupa kulit sapi atau kulit kerbau segar. Sentra industri kulit di Kabupaten Garut, khususnya di Kecamatan Sukaregang kini telah berkembang menjadi klaster industri yang cukup lengkap dan mapan, mulai dari industri hulu berupa industri penyamakan kulit hingga industri hilir berupa industri kerajinan sepatu, tas, jaket, dompet, ikat pinggang, topi dan lain-lain. Keterkaitan antara industri hulu dengan industri hilirnya pun sudah terjalin dengan sangat erat sehingga tumbuh menjadi hubungan yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. b. Harga Harga kulit domba per lembar mencapai Rp 90.000,- untuk ukuran besar dengan panjang 120 cm, sedangkan ukuran kecil dengan panjang 90 cm mencapai harga Rp 30.000,-. Sedangkan harga kulit kambing per lembar mencapai Rp 40.000,-untuk ukuran besar dan Rp 17.000,- hingga Rp 20.000,- untuk ukuran kecil. Biaya produksi per lembar kulit mencapai Rp 20 ribu. Tiap lembar kulit domba atau kambing tersebut bisa menghasilkan sekitar 18 20 feet (kaki, ukuran 20x20 cm) kulit samak. Harga per feet kulit domba sekitar Rp 5.500. Sedangkan harga per feet kulit kambing berkisar Rp 3.000 sampai Rp 3.500,-. Harga kulit sapi mentah jenis ongol/sapi jawa berkisar Rp 12.500/kg, untuk kulit sapi perah seharga Rp 11.000/kg c. Standar Mutu SNI (1989) menyebutkan bahwa kulit mentah adalah kulit hewan yang masih dalam keadaan segar atau kering yang belum atau yang sudah diproses pendahuluan (belum disamak) masih bersifat belum mantap. Mutu atau kualitas kulit ditentukan oleh : 1). Perlakuan sewaktu ternak masih hidup (iklim, pakan, luka goresan, bekas cambuk, cap bakar, penyakit), 2). Perlakuan setelah pemotongan ternak (cara pemotongan dan pengulitan), 3). Perlakuan selama pengawetan (suhu dan kelembapan ruang, sentuhan logam), 4). Perlakuan selama pengangkutan (suhu dan kelembapan, air hujan, air laut), 5). Penyimpanan (kelembapan dan waktu) (Saleh, 2004). Secara umum kulit terdiri dari air 65%, lemak 2%, bahan mineral 0,5, protein 33%. Protein kulit digolongkan menjadi dua yaitu protein berbentuk (fibrous protein) yang terdiri dari kolagen 29%, keratin 2% dan elastin 0,3% serta protein tak berbentuk (globular protein) yang terdiri dari albumin dan globulin 1%,serta mucin dan mucoid 0,7% (Purnomo, 1984). Setiap kulit binatang (hewan) dari jenis yang berbeda mempunyai sifat dan karakter yang berbeda pula. Oleh karena itu kulit binatang dapat dibedakan kualitasnya menurut faktorfaktor berikut: 1. Macam/jenis binatang (ternak). 2. Area geografi (asal) ternak. 3. Aktivitas ternak 4. Masalah kesehatan ternak 5. Usia ternak Pembagian kelas kulit berdasarkan berat

Perbedaan kelas kulit mentah baik kulit sapi ataupun kerbau dapat diketahui melalui berat tiap-tiap lembar kulit. Untuk menentukan tingkatan berat inidigunakan tanda abjad (alfabet). Adapun penggolongan kulit berdasarkan beratnya dapat dijelaskan sebagai berikut. 1.Kelas A: kulit yang beratnya 0 kg - 3 kg/lembar. 2.KelasB: kulit yang beratnya 3 kg - 5 kg/lembar. 3.Kelas C: kulit yang beratnya 5 kg - 7 kg/lembar. 4.Kelas D; kulit yang beratnya 7 kg - 9 kg/lembar. 5. Kelas E: kulit yang beratnya 9 kg/lembar atau lebih,sedangkan untuk menunjukkan kulit sapi diberi tanda Z. Pembagian kelas kulit mentah sapi dan kerbau berdasar beratnya, jugadapat dilakukan sebagai berikut: a. Kelas ringan :kulit yang beratnya 1 kg - 6 kg/lembar. b. Kelas sedang I : kulit yang beratnya 6 kg - 8 kg/lembar c. Kelas sedang II.: kulit yang beratnya 8 kg -10 kg/lembar. d. Kelas berat I : kulit yang beratnya 10 kg -15 kg/lembar. e. Kulit berat II : kulit yang beratnya lebih dari 15 kg/lembar. Kualitas kulit kambing/ domba Persyaratan penentuan kelas kambing/domba, secara garis besar tidak jauh berbeda dengan penentuan kelas pada kulit sapi dan kerbau. Namun kulit kambing tidak ditentukan berdasarkan beratnya, melainkan berdasarkan panjang tengah-tengah dari ekor hingga leher, dan lebarnya kulit. Oleh karena itu pembagian kelas kambing/domba dapat dibedakan sebagai berikut. 1. KelasI 2. Kelas II 3. Kelas III 4. Kelas IV 5. Kelas V 6. Kelas akhir kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 70 cm. kulit yang panjangnya 100 cm, lebar 60 cm. kulit yang panjangnya 90 cm, lebar 55 cm. kulit yang panjangnya 80 cm,lebar50. kulit yang panjangnya 70 cm, lebar 45 cm. kulit yang panjangnya kurang dari 70cm.. Spesifikasi kulit domba mentah basah menurut SNI (1992) adalah sebagai berikut: a. Bau : berbau khas kulit domba b. Warna dan kebersihan : merata, segar/cerah, bersih dan tidak ada warna yang mencurigakan c. Bulu : tidak rontok d. Ukuran kulit : dasar penentuan ukuran kulit dipergunakan lembar kulit atau panjang kulit dalam cm/ft square e. Elastisitas : cukup elastis f. Kandungan air g. Cacat h. i. Kulit mentah segar : maksimum 66% Kulit mentah garaman : maksimum 25% Mekanis : luka cambukan, gores atau potongan pisau, dll

Parasit: caplak, lalat, dll Bahan pengawet : garam (NaCl) khusus untuk kulit garaman Mutu kulit domba mentah ditetapkan sebagai berikut: Mutu Kulit I

Berbau khas kulit domba cerah, bersih, tidak ada cacat (lubang-lubang, penebalan kulit), kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. Mutu Kulit II Berbau khas kulit domba cerah, bersih, cukup elastis, terdapat sedikit cacat diluar daerah punggung (krupon) dan bulu tidak rontok, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. Mutu Kulit III Berbau khas kulit domba, warna tidak cerah, kurang elastis, kurang elastis, tidak utuh/ banyak sekali cacat dan kerontokan bulu, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%.

Spesifikasi kulit kambing mentah basah menurut SNI (1992) adalah sebagai berikut: a. Bau : berbau khas kulit kambing b. Warna dan kebersihan : merata, segar/cerah, bersih dan tidak ada warna yang mencurigakan c. Bulu : tidak rontok d. Ukuran kulit : dasar penentuan ukuran kulit dipergunakan lembar kulit atau panjang kulit dalam cm/ft square e. Elastisitas : cukup elastis f. Kandungan air g. Cacat h. i. Kulit mentah segar : maksimum 66% Kulit mentah garaman : maksimum 25% Mekanis : luka cambukan, gores atau potongan pisau, dll Termis : cap bakar atau terkena api

Parasit: caplak, lalat, dll Bahan pengawet : garam (NaCl) khusus untuk kulit garaman Mutu kulit kambing mentah ditetapkan sebagai berikut: Mutu Kulit I Berbau khas kulit kambing cerah, bersih, tidak ada cacat (lubang-lubang, penebalan kulit), kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. Mutu Kulit II Berbau khas kulit kambing cerah, bersih, cukup elastis, terdapat sedikit cacat diluar daerah punggung (krupon) dan bulu tidak rontok, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. Mutu Kulit III Berbau khas kulit kambing, warna tidak cerah, kurang elastis, kurang elastis, tidak utuh/ banyak sekali cacat dan kerontokan bulu, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%.

Spesifikasi kulit sapi mentah basah menurut SNI (1992) adalah sebagai berikut:

a. b. c. d.

Bau : berbau khas kulit sapi Warna dan kebersihan : merata, segar/cerah, bersih dan tidak ada warna yang mencurigakan Bulu : tidak rontok Ukuran kulit Berdasarkan berat kulit mentah basah dibagi dalam dua tingkatan, yaitu: A = berat < 20 kg B = berat > 20kg Elastisitas : cukup elastis Kandungan air Kulit mentah segar : maksimum 66% Kulit mentah garaman : maksimum 25% Mekanis : luka cambukan, gores atau potongan pisau, dll Termis : cap bakar atau terkena api Cacat

e. f.

g.

h. i.

Parasit: caplak, lalat, dll Bahan pengawet : garam (NaCl) khusus untuk kulit garaman Mutu kulit sapi mentah ditetapkan sebagai berikut: Mutu Kulit I Berbau khas kulit sapi cerah, bersih, tidak ada cacat (lubang-lubang, penebalan kulit), kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. Mutu Kulit II Berbau khas kulit sapi cerah, bersih, cukup elastis, terdapat sedikit cacat diluar daerah punggung (krupon) dan bulu tidak rontok, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%.

Mutu Kulit III Berbau khas kulit sapi, warna tidak cerah, kurang elastis, kurang elastis, tidak utuh/ banyak sekali cacat dan kerontokan bulu, kandungan airnya pada kulit mentah segar maksimum 66%, sedangkan pada kulit mentah garaman maksimum 25%. d. Tingkat Produksi Menurut Purnomo (1985), komoditas kulit digolongkan menjadi kulit mentah dan kulit samak. Kulit mentah adalah bahan baku kulit yang baru ditanggalakan dari tubuh hewan sampai kulit yang mengalami proses pengawetan atau siap samak (Judoamidjojo, 1974). Kulit mentah dibedakan atas kulit hewan besar (hides) seperti sapi, kerbau, kuda, dan steer, serta kulit yang berasal dari hewan kecil (skins) seperti kambing, domba, kelinci, dan termasuk kulit hewan besar yang belum dewasa seperti kulit anak sapi dan anak kuda (Purnomo, 1985). Bahan baku yang digunakan untuk penyamakan kulit adalah kulit mentah. Bahan baku kulit mentah biasanya didapatkan dari Rumah Potong Hewan (RPH), serta pengumpul kulit pada tingkat kelurahan, tingkat kecamatan, dan tingkat provinsi. Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) menyatakan kebutuhan bahan baku industri kulit dalam negeri dipenuhi oleh impor sebesar 60%. Kulit lokal hanya bisa menyediakan bahan baku kulit sebesar 40%. Data APKI juga menyebutkan bahwa kapasitas produksi ideal hide sebanyak 15 juta P.A, sedangkan produksi lokal hanya menunjang hide sebanyak 2 juta P.A. Masih dibutuhkan 13 juta P.A hide untuk memenuhi kapasitas produksi, yang didapatkan dari impor bahan baku kulit.

B. Produk a. Pohon Industri

Gambar. Pohon Industri b. Jenis Berbagai macam kulit hewan baik sapi, kerbau, kambing dan domba pada dasarnya dapat dibuat menjadi berbagai jenis kulit. Jenis-jenis kulit samak menurut SENADA (2007) yaitu: 1. Full Grain/Full Top Leather Kulit yang tidak diratakan atau tidak dihaluskan pada bagian atasnya, sehingga bagian luar kulit secara utuh masih alami dipertahankan selama proses penyamakan. 2. Corrected Grain Leather Kulit yang memiliki permukaan tambahan/buatan yang di emboss ke dalamnya setelah dihaluskan lebih baik lagi bagian luar kulit yang kurang bagus. 3. Nappa Leather Kulit domba yang dinamakan Nappa. Tetapi kata Nappa menjadi istilah lain yang berarti lembut seperti kulit sapi Nappa. 4. Patched Leather Kulit yang selesai disamak, dicelup dan melalui proses akhir (finishing) sesuai keinginan, pengrajin yang terlatih kemudian memilih kulit yang cocok dalam warna dan teksturnya. Masing-masing lembaran kulit kemudian dipotong dengan tangan ke dalam ukuran yang berbeda-beda, lalu dijahit ke dalam corak-corak berbentuk mosaik menjadi produk akhir yang berbeda dari lainnya. 5. Patent Leather Ketika kulit sapi dikerjakan dengan bahan akhir yang protektif seperti cat acrylic atau bahan tahan air untuk memproduksi hasil akhir yang sangat mengkilap. 6. Nubuck Leather Kulit aniline yang telah dihaluskan/diratakan untuk menciptakan bintik (naps). Nubuck termasuk Top Grain Leather sehingga tak bisa dikategorikan sebagai split atau suede. Permukaan kulit aniline Nubuck disikat untuk menciptakan tekstur seperti beludru, sehingga seringkali dikira suede. Suede adalah bagian dalam dari potongan kulit, sedangkan Nubuck adalah efek yang timbul dari pengerjaan di bagian luar kulit. 7. Suede Leather

Ketika kulit di-finish melalui penghalusan dengan roda emory untuk menciptakan suatu permukaan yang berbintik (naps). Suede terbuat dari lapisan yang dipisahkan dari bagian top grain suatu kulit. 8. Pull-up Leather Kulit yang memperlihatkan efek warna meretak bila kulit di tarik ketat. Kulit ini menggunakan bahan celup full aniline, dan sebagai tambahan memiliki sejenis minyak dan/atau wax aplikasi, yang menyebabkan warna menjadi terlihat lebih muda ketika kulit ditarik. c. Manfaat Potensi bisnis kulit kambing, sapi, dan domba temyata masih sangat besar. Buktinya, permintaan yang datang tak hanya dari pasar dalam negeri. Permintaan pasokan kulit ini dari luar negeri pun tak pernah sepi. Maklum, kulit tersebut bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari busana hingga kerajinan tangan. Di dalam negeri, permintaan kulit-kulit ini lebih banyak untuk bahan baku kerajinan tangan dan perabotan. Sementara, pasar luar negeri lebih sering menggunakan kulit hewan ternak ini untuk berbagai produk garmen mewah. Misalnya jaket, sarung tangan, hingga tas golf eksklusif. Namun, banyak juga yang menjadikan kulit sapi sebagai produk pangan yaitu kerupuk kulit. Hal ini dikarenakan pada kulit sapi mengandung zat yang bermanfaaat bagi tubuh diantarnya, protein, lemak, mineral, dan natrium glutamat. Kulit domba dan kambing memang terkenal akan kualitasnya yang prima jika digunakan sebagai bahan baku produk. Selain itu, kulit domba dan kambing memiliki tingkat kelembutan yang tinggi. Sehingga, kulit ini menjadi pilihan bahan baku produk yang paling digemari para konsumen. Proses pembuatan kulit dimulai dari pengumpulan kulit domba dan kambing dari berbagai peternakan. Setelah itu kulit disamak dan dilanjutkan dengan pewarnaan menggunakan pewarna khusus kulit. Kemudian, mulailah tahap pengeringan serta penyelesaian akhir. Setelah itu, kulit siap dibuat menjadi produk jaket, tas golf, sarung tangan, sepatu, produk-produk lain.. 1. Kulit Sapi Sapi banyak dikonsumsi masyarakat luas, kulitnya banyak dibutuhkan dalam industri kerajinan, karena kepadatan kulitnya yang memberikan kekuatan, ukurannya lebih lebar, tebal dan hasilnya lebih mengkilat. Bahkan bagian dalam kulit hasil split dapat diperdagangkan secara terpisah,misalnya untuk pakaian dalam yang tipis tetapi cukup kuat. 2. Kulit Kambing Kulit kambing banyak terdapat di Indonesia dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan barang kerajinan. Ukurannya tidak terlalu lebar, sekitar 28 x 28 cm dengan hasil samakan mengkilap dan ada pula yang berwarna. Kualitasnya berbeda-beda berdasarkan jenis kulit hasil pengolahannya. 3. Kulit Domba Selain ukurannya yang agak kecil dan bentuknya memanjang, kulit domba tidak banyak berbeda dengan kulit kambing. Hasil olahan kulit dalam bentuk non pangan lebih banyak dalam bentuk kulit tersamak (leather) melalui proses penyamakan. Beberapa jenis produk leather yang kita kenal adalah sebagai berikut (Anonim,2011) : - Kulit sol Kulit sol biasanya berasal dari kulit tebal yang mempunyai struktur serat yang kuat dan padat misalnya kulit sapi dan kerbau. Jenis kulit ini kaku dan sulit dibengkokkan.

10

Penggunaannya sebagai bahan sol sepatu untuk militer/polisi serta pekerja pabrik. Kulit sol diolah dengan melalui penyamakan nabati. - Kulit vache Kata vache berasal dari bahasa Perancis la vache yang berarti sapi. Kulit ini lebih lemas dibanding sol dan banyak digunakan untuk sol dalam dan kap pembuatan sepatu cara modern. Kulitnya berasal dari sapi . - Kulit raam Kulit raam adalah jenis kulit vache digunakan untuk menyambung kulit atasan dengan kulit bawahan dan diperdagangkan sebagai lajuran dengan lebar 12-18 mm dan tebal 1,8-2,2 mm. Warna biasanya disesuaikan dengan warna kulit sapi. - Kulit box Kata box merupakan contoh dari kulit atasan yang berasal dari kulit sapi melalui penyamakan chrome. Sifat kulit ini lemas, struktur kuat serta nerf tidak mudah pecah dan lepas. Banyak digunakan sebagai bahan sepatu kantor atau kerja. - Kulit fahl Kulit fahl merupakan bahan untuk kulit atasan berasal dari kulit sapi yang disamak nabati dan diberi gemuk tidak berwarna atau berwarna kehitaman. Sifatnya tahan air, lemas dan kekuatan tariknya tinggi. Banyak digunakan sebagai bahan sepatu gunung, militer maupun sepatu lapangan - Kulit tahan air Kulit ini merupakan kulit atasan melalui proses penyamakan chrome, kombinasi dan nabati. Kulit diberi gemuk agar tahan terhadap air dan banyak digunakan sebagai bahan pembuatan sepatu berat, laras, sport dan ski. Kadar gemuknya mencapai 15-21%. Jenis kulit ini berasal dari kulit sapi - Kulit nubuk dan velour Kulit ini berasal dari kulit sapi yang disamak chrome dan pada bagian atas (nerf) digosok sedikit sehingga bila diraba akan terasa seperti beludru. - Kulit chevrau Kulit ini dibuat dari kulit kambing yang disamak chrome yang digunakan sebagai bahan kulit atasan. Kulit ini biasa juga disebut kulit glase. - Kulit chevrette Kulit ini berasal dari domba yang disamak chrome. Kekuatannya sedikit berada dibawah kulit chevrau sehingga kebanyakan dibuat untuk jenis sepatu rumah. - Kulit blank Kulit ini kebanyakan diolah dengan samak nabati sifatnya elastis tidak mudah dibengkokkan dan kuat. Digunakan sebagai bahan untuk sadel, tas, ransel. Bahannya berasal dari kulit sapi. - Kulit vachet Kulit ini berbahan mentah kulit sapi dan digunakan sebagai bantal pada kursi dan peralatanperalatan rumah tangga lainnya. - Kulit mebel Kulit ini mirip dengan kulit blank namun jumlah gemuk yang diberikan lebih banyak, elastis dan kuat. - Kulit halus Yang tergolong kulit ini adalah kulit sampul buku dan kulit tas. Bahan mentahnya berasal dari kulit sapi, kambing dan domba yang disamak nabat

11

d.

Standar SNI atau Standar Internasional

Kulit samoa dibuat dari kulit domba atau anak sapi yang disamak menggunakan minyak ikan hingga memiliki karakter lembut dan lemas. Kulit jenis ini dapat digunakan untuk penyarinagn minyak industri dan industri alat optik. Tabel Persyaratan mutu kulit samoa menurut SNI 06-1752-1990 Persyaratan No Jenis Uji Satuan Minimum Sifat Kimia : 1 2 3 Kadar Minyak Kadar Abu pH % % 10 5 8 Sesudah disarikan minyaknya Maksimum Keterangan

Sifat Fisis : 1 Tebal Ketahanan Gosok Cat Tutup 2 -Kering -Basah 3 4 5 Kekuatan Sobek Kekuatan Jahit Kemuluran Penyerapan air 6 2 jam 24 jam 7 Kekuatan Tarik % % N/mm2 100 200 7.5 N/mm2 N/mm2 % 5 4 15 40 50 Mm 0.3 1.2

Organoleptik : 1 2 Keadaan Kulit Warna Halus Kuning Muda/ Mendekati Putih Seperti Beledu

(Sumber : Anonim, 2011)


Kulit sapi belahan samak nabati untuk sol dalam ialah kulit jadi yang dibuat dari kulit belahan dalam yang disamak masak dengan bahan penyamak nabati, untuk pembuatan sol dalam.

12

Tabel Syarat Mutu Kulit Sapi Belahan Samak Nabati untuk Sol Dalam Berdasar SNI 06-0568-1989

N o Sifat Kimia : 1 2

Persyaratan Jenis Uji Satuan Minimum Maksimum Keterangan

Kadar Air Kadar Abu Kadar Minyak dan/atau Lemak Kadar Zat Larut dalam Air Derajat Penyamakan pH

% %

20 2.5

3 4 5 6

% % -

60 3.5

2 16 95 7 untuk pH = (3.5-4.5) apabila cairan diencerkan 10 kali, selisih pH sebelum dan pH sesudah diencerkan harus kurang dari 0.7

Sifat Fisis : 1 2 3 Tebal Rata-rata Penyamakan Penyerapan Air - 2 jam - 24 jam 4 Kuat Tarik % % kg/cm2 150 baik, tidak pecah 1 75 100 Mm 1 masak -

5 6

Kuat Bengkak Berat Jenis

Organoleptik : Keadaan dan Warna Permukaan Kulit Keadaan Kulit Warna Penampang Kulit

1 2 3

rata dipres padat rata

Bekas goresan pisau maks 10% terhadap luas kulit

(Sumber : Kemenperin, 2009)

13

Kulit lapis domba atau kambing samak kombinasi adalah kulit jadi (matang) yang dibuat dari kulit domba atau kambing yang disamak dengan bahan penyamak krom dan nabati. Tabel Syarat Mutu Kulit Lapis Domba Berdasar SNI 06-0463-1989

Persyaratan No Jenis Uji Satuan Minimum Sifat Kimia : 1 Kadar Air Kadar Minyak/Lemak Kadar Zat Larut dalam Kulit Kadar Abu Kadar Krom Oksida Derajat Penyamakan % 18 Maksimum

Keterangan

8 2 di atas kadar kromium oksida

3 4 5 6

% % % -

1.5 25

untuk pH = (3.54.5) apabila cairan diencerkan 10 kali, selisih pH sebelum dan pH sesudah diencerkan harus kurang dari 0.7

pH

3.5

Sifat Fisis : 1 2 3 4 5 Tebal Lastibility Kekuatan Tarik Kemuluran Penyerapan Air -2 Jam -24 Jam kg/cm2 % % Mm 0.7 nerf tidak pecah 75 60 80 25 1.2

Organoleptik : 1 2 Nerf Bagian Daging Licin, warna muda Bersih dari sisa

14

daging 3 Keadaan kulit Cukup lemas

(Sumber : Kemenperin, 2009)


Kulit lapis sapi atau kerbau krom - nabati adalah kulit jadi tersamak yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau yang disamak dengan bahan penyamak kombinasi krom-nabati sebagai bahan pelapis. Tabel Syarat Mutu Kulit Lapis Sapi Samak Krom Campuran Berdasar SNI 06-0484-1989

Persyaratan No Sifat Kimia : 1 2 3 4 5 6 Kadar Air Kadar Minyak/Lemak Kadar Zat Larut dalam Kulit Kadar Abu Kadar Krom Oksida Derajat Penyamakan % % % % % 2 2 25 18 6 6 Jenis Uji Satuan Minimum Maksimum

Keterangan

pH

3.5

untuk pH = (3.54.5) apabila cairan diencerkan 10 kali, selisih pH sebelum dan pH sesudah diencerkan harus kurang dari 0.7

Sifat Fisis : 1 2 3 4 5 Tebal Lastibility Kekuatan Tarik Kemuluran Penyerapan Air - 2 Jam - 24 Jam kg/cm2 % % 80 100 Mm 0.7 nerf tidak pecah 100 80 1.2

15

Organoleptik : 1 Nerf Warna coklat muda dan rata

(Sumber : Kemenperin, 2009)


C. Proses Produksi a. Teknologi Proses Produksi Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit samak disebut penyamakan. Mekanisme penyamakan kulit pada prinsipnya adalah memasukkan bahan tertentu (bahan penyamak) kedalam anyaman atau jaringan serat kulit sehingga terjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dengan serat kulit (Purnomo, 1987). Menurut Fahidin dan Muslich (1999), teknik penyamakan kulit dikelompokan menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra penyamakan, penyamakan, dan pasca penyamakan. 1. Pra penyamakan Proses pra penyamakan (Beam House Operation) meliputi perendaman, pengapuran, pembuangan daging, pembuangan kapur, pengikisan protein, pemucatan dan pengasaman (Purnomo, 1987). a. Perendaman (soaking) merupakan tahapan pertama dari proses penyamakan yang bertujuan mengembalikan kadar air kulit yang hilang selama proses pengawetan sehingga kadar airnya mendekati kadar air kulit segar. b. Pengapuran bertujuan menghilangkan epidermis dan bulu, kelenjar keringat dan lemak, serta menghilangkan semua zat-zat yang bukan kolagen. Kapur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses penyamakan. c. Pembuangan daging (fleshing) bertujuan menghilangkan sisa-sisa daging yang masih melekat pada kulit dan menghilangkan lapisan subkutis (lapisan antara daging dan kutis). Proses pembuangan bulu (scudding) bertujuan menghilangkan sisa-sisa bulu beserta akarnya yang masih tertinggal pada kulit (Fahidin dan Muslich, 1999). d. Pembuangan kapur (deliming) bertujuan menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari Suasana basa akibat pengapuran, menghindari pengerutan kulit ketika pengasaman, serta menghindari timbulnya endapan kapur yang dapat bereaksi dengan bahan penyamak. Proses pembuangan kapur biasanya menggunakan garam ammonium sulfat (ZA) yang nantinya dicampur dengan asam sulfat. e. Pengikisan protein (bating) bertujuan melanjutkan pembuangan semua zat-zat bukan kolagen Yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran. Pengikisan protein ini dilakukan oleh enzim protease. Pengikisan ini diutamakan untuk globular protein yang terdapat diantara serat kulit dan elastin. Dengan terurainya protein ini maka akan terdapat banyak ruang kosong diantara serat-serat kulit sehingga kulit samakan menjadi lebih lunak dan lemas. Waktu bating yang berlebihan dapat menyebabkan kulit menjadi menipis karena banyak protein yang terhidrolisis mengakibatkan kekuatan tarik menjadi rendah, sedangkan waktu bating yang terlalu singkat menyebabkan terjadinya pemisahan serat-serat fibril yang tidak sempurna dan penetrasi bahan penyamak kurang merata. f. Pengasaman (pickling) berfungsi mengasamkan kulit sampai pH tertentu untuk menyesuaikan dengan penyamak krom yang mempunyai pH 2.5 - 3. Selain itu, pengasaman juga dilakukan untuk menghilangkan noda hitam pada kulit akibat proses sebelumnya, menghilangkan unsur besi pada kulit serta menghilangkan noda putih karena pengendapan CaCO3 yang menyebabkan cat dasar tidak merata (Purnomo, 1987).

16

2. Penyamakan Penyamakan bertujuan mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivitas kajian lapangan organisme, kimia maupun fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap pengaruhpengaruh tersebut. Bahan penyamak dapat berasal dari bahan nabati (tumbuhtumbuhan), mineral, dan minyak. Bahan penyamak nabati dapat berasal dari kulit akasia, manggis, buah pinang, gambir dan lain-lain. Bahan penyamak mineral adalah garam-garam yang berasal dari logam-logam aluminium, zirkonium, dan kromium. Bahan penyamak dari minyak dapat berasal dari minyak ikan hiu atau ikan lainnya. Penggunaan bahan penyamak akan mempengaruhi sifat fisik dari kulit, seperti kelemasan, ketahanan terhadap panas/dingin, terhadap gesekan, dan lain-lain (Purnomo, 1987). Kulit yang disamak dengan penyamak nabati akan berwarna seperti warna bahan penyamaknya, mempunyai ketahanan fisik yang kurang baik terhadap panas. Sifat dari kulit yang disamak yaitu agak kaku tetapi empuk, cocok untuk bahan dasar ikat pinggang dan tas. Mekanisme pada penyamakan nabati yaitu mereaksikan gugus-gugus hidroksil yang terdapat dalam zat penyamak dengan struktur kolagen kulit dan membuat reaksi ikatan dari molekul zat penyamak dengan molekul zat penyamak lainnya hingga seluruh ruang kosong yang terdapat diantara rantai kolagen terisi seluruhnya. Proses penyamakan akan berlangsung sempurna jika kolagen telah menyerap kira-kira separuh dari berat zat penyamak yang digunakan. Dalam penyamakan nabati, pH dan kepekatan dari larutan bahan penyamaknya harus diatur. Pada pH tinggi, bahan penyamak nabati mempunyai zarah-zarah yang lebih halus dibanding pada pH rendah. Pada kepekatan rendah, penyamak nabati mempunyai ukuran zarah yang lebih kecil dibanding pada kepekatan tinggi. Dengan demikian, kondisi yang diberlakukan pada penyamakan nabati adalah dimulai dengan pH tinggi dan kepekatan rendah kemudian diakhiri dengan pH rendah dan kepekatan tinggi (Purnomo, 1987). Bahan penyamak mineral yang paling banyak digunakan yaitu krom. Hal ini karena krom memiliki sifat-sifat khusus yang berhubungan dengan struktur molekul bahan krom itu sendiri. Penyamakan menggunakan krom menghasilkan kulit dengan tekstur yang lebih lemas dibanding penyamak nabati, tahan terhadap panas yang tinggi, daya tarik tinggi dan memungkinkan hasil yang lebih baik bila dilakukan pengecatan. Kulit ini cocok untuk kulit atasan sepatu, baju, sarung tangan, dan lain-lain. Mekanisme dari penyamakan krom yaitu membentuk ikatan dengan asam-asam amino dalam struktur protein kolagen yang reaktif. Besar kecilnya molekul krom akan berpengaruh terhadap daya penetrasinya. Hal ini erat kaitannya dengan basisitas dari krom. Proses penyamakan diawali dengan basisitas yang rendah (sekitar 33%) dan diakhiri dengan basisitas yang tinggi (sekitar 66%). Pada basisitas rendah, krom mempunyai daya penetrasi yang baik terhadap jaringan kulit walaupun daya ikatnya terhadap kulit lemah. Pada basisitas tinggi, daya penetrasi krom rendah namun daya ikatnya tinggi sehingga krom mampu berikatan dengan jaringan kulit secara sempurna (Purnomo, 1987). 3. Pasca penyamakan Pasca penyamakan bertujuan membentuk sifat-sifat tertentu pada kulit terutama berhubungan dengan kelemasan, kepadatan, dan warna kulit. Proses tersebut terdiri atas netralisasi, pewarnaan, perminyakan, pengecatan, pengeringan, pelembaban, dan pelemasan (Fahidin dan Muslich, 1999). a. Penetralan (neutralization) bertujuan mengurangi kadar asam dari kulit yang disamak menggunakan krom agar tidak menghambat proses pengecatan dasar dan perminyakan (Purnomo, 1985).

17

b.

Pewarnaan dasar memiliki fungsi sebagai pemberian warna dasar pada kulit tersamak seperti yang diinginkan. Pemberian warna disesuaikan dengan bentuk produk akhir yang direncanakan. c. Peminyakan (fat liquoring) bertujuan melicinkan serat kulit sehingga lebih tahan terhadap gaya tarikan, menjaga serat kulit agar tidak lengket sehingga lebih lunak dan lemas, dan memperkecil daya serap, serta membuat kulit lebih fleksibel (mudah dilekuk dan tidak mudah sobek). d. Pengecetan bertujuan memenuhi selera konsumen. Pengecatan zat warna hanya melekat di permukaan dalam media bahan perekat yang fungsinya melekatkan warna dan memperbaiki permukaan kulit. e. Pengeringan bertujuan menghentikan semua reaksi kimia di dalam kulit. f. Pelembaban biasanya dilakukan selama 1-3 hari pada udara biasa agar kulit menyesuaikan dengan kelembaban udara disekitarnya. Proses ini menyebabkan jumlah air bebas atau air tidak terikat di dalam kulit meningkat sehingga kulit siap menerima perlakuan fisik pada proses pelemasan. g. Pelemasan dilakukan dengan tujuan melemaskan kulit dan mengembalikan luas kulit yang hilang (mengkerut) selama proses pengeringan. Mutu kulit samak (leather) selain dipengaruhi oleh proses yang dilakukan di industri penyamakan kulit, juga sangat bergantung pada mutu kulit mentah sebagai bahan dasarnya. Sementara itu, mutu kulit mentah dipengaruhi oleh kerusakan kulit yang terjadi pada saat hewan hidup, pemotongan, dan pengawetan. Purnomo (1985), membagi kerusahan kulit mentah menjadi: a. Kerusakan antemoterm, yaitu kerusakan yang terjadi pada hewan hidup. b. Kerusakan postmortem, yaitu kerusakan yang terjadi pada waktu pengulitan, pengawetan, penyimpanan, dan transportasi. Selain kerusakan tersebut, mutu kulit juga dipengaruhi oleh bangsa, jenis kelamin, dan umur ternak waktu dipotong. Pada setiap spesies terdapat perbedaan antara kulit hewan jantan dan betina. Kulit hewan betina mempunyai rajah yang lebih halus dan bobot rata-rata lebih ringan daripada kulit hewan jantan, tetapi mempunyai daya tahan renggang yang lebih besar dibanding jantan. Perbedaan yang dipengaruhi oleh umur hewan dapat menurunkan mutu kulit samak. Kulit hewan muda pada umumnya mempunyai struktur yang halus dan kompak, tetapi kurang tahan terhadap pengaruh dari luar. Pada hewan tua, lapisan rajah makin kuat dan kasar. b. Perkiraan Biaya Produksi Kulit yang telah disamak dijual dalam satuan luas per square foot, kecuali kulit fur dan reptil. Komponen utama biaya langsung (variable cost) pada industri pengolahan kulit samak adalah biaya bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja, air, listrik, penanganan limbah, dan biaya pemeliharaan, sedangkan komponen biaya tidak langsung (overhead cost) pada industri pengolahan kulit samak adalah biaya administrasi, supervisi, penjualan, transportasi, komunikasi, sewa, bunga bank, pajak, asuransi, dan penyusutan gedung dan peralatan. a. Biaya Langsung (Variable Cost) Biaya langsung (variable cost) merupakan biaya yang langsung dipengaruhi oleh banyakya (unit) barang yang diproduksi. Pada industri pengolahan kulit samak, harga bahan baku (kulit mentah) sangat berfluktuasi mencapai 50% tergantung pada ketersediaan kulit mentah dan permintaan pasar. Kulit mentah dibeli dengan satuan berat atau satuan lembar sedangkan penjualannya dilakukan dalam satuan luas. Rasio luas yang dihasilkan diekspresikan

18

dalam satuan sq ft per kg. Rasio tersebut dipengaruhi oleh jenis ternak, waktu pemotongan, dan teknik pengulitan. Kulit setelah penggaraman dengan berat lebih dari 20 kg, menghasilkan kulit jadi dengan luas 1 2 sq ft/kg, dengan rataan 1,5 sq. ft./kg. Kulit setelah penggaraman dengan berat antara 10 20 kg menghasilkan kulit jadi dengan luas 2,0 2,5 sq ft/kg.

Kulit kecil (skin) dengan berat kulit setelah penggaraman dibawah 4 kg menghasilkan kulit jadi dengan luas antara 3,0 4,0 sq.ft/kg Kulit mentah akan mengalami penyusutan sampai dengan 10% dari rasio tersebut. Biaya kulit mentah dapat mencapai 50% atau lebih dari total biaya kulit samak, sehingga biaya kulit mentah menjadi faktor utama yang diperhatikan oleh perusahaan pengolahan kulit. Dikarenakan kontribusi biaya kulit mentah yang sangat besar maka sebaiknya proses penyamakan kulit dilakukan dengan hati-hati agar kulit tidak rusak. Penanganan yang dilakukan adalah penyesuaian antara tebal kulit mentah dengan permintaan ketebalan kulit samak sehingga dapat mengurangi hilangnya kulit karena splitting dan shaving, mengurangi limbah trimming, dan menghindari kerusakan mesin yang dapat menjadikan kulit bolong atau sobek. Maksimal kerusakan kulit yang dapat terjadi pada proses produksi adalah 5%. Bahan pembantu (zat kimia) digunakan dalam proses soaking, liming, tanning, peminyakan, pewarnaan, finishing dan lain-lain. Bahan kimia untuk proses basah (beam house) biasanya dihitung berdasarkan pada berat kulit mentah, proses tanning berdasarkan pada berat bloten, proses dyeing didasarkan pada berat shaving, dan proses finishing dihitung secara keseluruhan berdasarkan zat kimia yang menempel pada kulit dan zat kimia yang terbuang (over spray, kelebihan mencampur, dan lain sebagainya). Tenaga kerja adalah tenaga kerja yang langsung berhubungan dengan proses produksi kulit seperti tenaga kerja pada bagian beam house; proses tanning; proses drying, shaving, splitting, persiapan untuk finishing, dan proses finishing. Komposisi untuk biaya tenaga kerja pada industri penyamakan kulit adalah beam house 12%, proses tanning 11%, proses drying, shaving, dan splitting 25%, persiapan untuk finishing 24%, dan proses finishing 28%. Pada umumnya kulit yang dapat dihasilkan per jam kerja tenaga kerja adalah 17 sq ft per jam untuk kulit besar, 14 sq ft per jam untuk kulit sedang, dan 10 sq ft per jam untuk kulit kecil. Biaya utilitas yang diperhitungkan dalam industri penyamakan kulit adalah air, energi (listrik, panas, dan lampu), penanganan limbah, maintenance mesin. Besarnya biaya untuk utilitas tergantung dari kulit yang diolah, skala pabrik, lokasi, dan fasilitas yang ada. b. Biaya Tidak Langsung (Overhead Cost) Biaya tidak langsung (overhead cost) merupakan biaya yang tidak langsung dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi. Biaya ini dikenal juga dengan istilah biaya tetap (fixed cost). Untuk memperkirakan biaya tidak langsung biasanya didasarkan pada data historis perusahaan atau mengacu pada data perusahaan lain yang sejenis dengan skala usaha yang sama. Dalam situasi era perdagangan bebas, produksi dapat sangat berfluktuasi tidak hanya jumlahnya tetapi juga jenis produk yang diproduksi, hal ini tergantung pada ketersediaan produk dan permintaan pasar karena beberapa produk kulit bersifat musiman. Walaupun produksi berfluktuasi tetapi biaya tetap pada umumnya relatif tidak berfluktuasi. Biaya tidak langsung pada industri penyamakan kulit berkisar antara 10% - 20% dari total penjualan. Menurut Gumilar (2010), kecepatan waktu produksi dipengaruhi oleh kecepatan proses dari bahan baku sampai menjadi kulit jadi (leather) dan akan berpengaruh terhadap kecepatan penjualan pula. Kecepatan waktu produksi ini berpengaruh terhadap perputaran modal (capital

19

turnover), semakin cepat produksi maka semakin cepat dijual dan semakin cepat pula menerima pembayaran. Semakin singkat waktu mengeluarkan uang untuk proses produksi dengan penerimaan uang dari konsumen maka biaya modal menjadi lebih sedikit. Kecepatan waktu produksi juga berpengaruh terhadap kuantitas produksi dan kuantitas penjualan sehingga total biaya produksi menjadi lebih efisien. Harga pokok produksi merupakan jumlah dari biaya-biaya yang melekat pada suatu produk yang diproduksi oleh suatu perusahan. Ada tiga elemen pokok biaya dalam suatu perusahaan manufaktur, yaitu biaya bahan baku (material cost), biaya tenaga kerja (labor cost), dan biaya produksi (indirect manufacturing expenses). Biaya bahan baku terdiri dari direct material cost dan indirect material cost. Direct material cost adalah biaya semua bahan yang secara fisik dapat di identifikasi sebagai bagian dari produk jadi dan biasanya merupakan bagian terbesar dari material pembentuk harga pokok produksi. Biaya tenaga kerja dibagi menjadi direct labor cost dan indirect labor cost. Direct labor cost adalah semua biaya yang menyangkut gaji dan upah seluruh pekerja yang secara praktis dapat diidentifikasi dengan kegiatan dari pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Indirect manufacturing expenses meliputi semua biaya produksi selain ongkos utama (direct material cost dan direct labor cost) yang bersifat menunjang atau memperlancar proses produksi dan dibebankan terhadap pabrik Perhitungan untuk harga pokok produksi pada industri penyamakan kulit adalah: Biaya bahan baku (harga kulit mentah) : Rp 15.000 / inchi Biaya tenaga kerja: Rp 3.400 / jam Biaya zat kimia (keseluruhan) : Rp 2.000 / sq. ft Biaya utilitas (peralatan, dll) : Rp 500 / sq. ft. Catatan: Kulit besar lebih dari 20 kg dapat menghasilkan 1,5 sq ft / kg kulit jadi, jadi biaya bahan baku per square foot: Biaya bahan baku per square foot = 15.000 / 1,5 = Rp 10.000 / sq.ft. Tingkat penyusutan kulit mentah adalah 10%, dan kerusakan produksi sebanyak 5%, jadi biaya bahan baku total: Biaya bahan baku total = Rp 10.000 + (15 % x Rp 10.000) = Rp 11.500 / sq. ft. Tenaga kerja dapat menghasilkan 17 sq ft / jam. Jadi biaya tenaga kerjanya: Biaya tenaga kerja = 3.400 / 17 = Rp 200 / sq ft

Jadi Harga Pokok Produksi Kulit tersebut adalah: HPP = Biaya bahan baku + Biaya zat kimia + Biaya tenaga kerja langsung + Biaya utilitas HPP = Rp 11.500 + Rp 2.000 + Rp 200 + Rp 500 = Rp 14.200 / sq. Ft Laba usaha dikenal pula dengan marjin usaha. Menurut Gumilar (2010), dikenal dua jenis laba usaha, yaitu marjin kontribusi (contribution margin) atau marjin bruto (gross margin). Marjin kontribusi adalah kelebihan dari penjualan atas seluruh biaya variabel. Marjin kontribusi dapat dinyatakan sebagai suatu angka yang menunjukkan total, sebagai suatu angka perunit, sebagai rasio, dan sebagai persentase. Marjin bruto adalah suatu pengertian yang digunakan secara luas, khususnya di dalam industri eceran. Marjin bruto dirumuskan sebagai kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan (yaitu harga pokok barang dagangan yang dibuat atau dibeli dan dijual kembali). Sebagai contoh, harga jual kulit sapi adalah Rp 19.000 / sq. ft dan harga pokok produksinya sebesar Rp 14.200 / sq. ft, sehingga marjin / laba bruto penjualan kulit sapi tersebut adalah : Laba Bruto = Penjualan harga pokok produksi Laba Bruto = Rp 19.000 Rp 14.200 = Rp 4.800

20

Break event point atau titik pulang pokok adalah suatu studi mengenai kaitan antara biaya, volume, dan laba dimana kondisi perusahaan memperoleh laba bersih sama dengan nol. Biaya terdiri dari biaya langsung (variable cost) dan biaya tidak langsung (overhead cost / fixed cost). Laba bersih adalah kelebihan dari penjualan atas seluruh variable cost dan fixed cost. Penjualan merupakan harga jual per unit barang dikalikan dengan volume barang terjual. Laba bersih = Penjualan variable cost fixed cost BEP pada kondisi Laba bersih = 0 Penjualan = Variable cost + Fixed cost (Q x P) = (Q x C) + Fc Q = jumlah P = harga jual per sq. ft. C = harga pokok produksi per sq. ft Fc = total biaya tetap per periode Jika diketahui biaya tetap perusahaan = Rp 50.000.000 per bulan maka agar perusahaan tidak mengalami kerugian (BEP), jumlah minimal kulit yag harus diproduksi adalah: (Q x P) = (Q x C) + Fc Q x (P - C) = Fc Q x (19.000 - 14.200) = 50.000.000 Q = 50.000.000 / 4.800 Q = 1.041,67 sq. ft D. Limbah Industri, Pengolahan dan Pemanfaatanya. 1. Limbah proses pengawetan Limbah cair yang dihasilkan merupakan bahan organik, sehingga dapat dipakai sebagai bahan baku pupuk cair. Menerapkan good house keeping agar tidak terdapat lagi ceceran garam.Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan garam-garam sisa dari pengawetan, dan menggunakannya kembali, mengumpulkan air yang keluar dari kulit pada suatu wadah, agar baunya bisa diminimalkan dan membuat tempat khusus (bak khusus) untuk pengawetan dan mengalirkan air keluar yang dari kulit menggunakan pipa menuju bak penampungan limbah cair. Pada proses pengurangan kadar garam. Meminimalkan penggunaan air dan mengumpulkan limbah cair tersebutke dalam suatu wadah serta penggunaan kembali air tersebut pada prosesyang sama untuk selanjutnya. Mengolah sisa garam yang mengkristal pada molen, misalnya dilakukanpengeringan agar dapat digunakan kembali garam tersebut pada prosespengawetan. Mengoptimalkan penggunaan garam dengan cara meminimalisirpenggunaan garam. Mendesain instalasi pembuangan air dengan baik menggunakan pipa, agar sisa air pada proses ini tidak tercecer dan menerapkan good housekeeping. Membersihkan garam yang mengkristal pada molen setelah prosespenggaraman. 2. Limbah proses perontokan bulu Mengumpulkan bulu yang terbuang dan memanfaatkannya menjadi suatuproduk lain. Contohnya: bulu dapat diolah menjadi benang wall, unutk pupuk kompos, untuk industri jaket (dijual ke industri yangmembutuhkan) dan dimanfaatkan pula untuk berbagai bentuk kerajinantangan. Mengumpulkan limbah air tersebut pada suatu wadah/ kolam untuk dilakukan proses pengolahan lebih lanjut karena mengandung zat kapurdan sianida. Zat kapur dan sianida dipisahkan dari air dengan cara diendapkan yangdigunakan kembali untuk proses perontokan bulu. Meminimalisir penggunaan zat kapur dan sianida. 3. Limbah proses pencucian

21

4.

Pada proses pencucian didapatkan limbah cair berupa air sisa pencucian.Air sisa pencucian ini sebaiknya ditampung dalam satu wadah yangkemudian akan digunakan kembali pada proses pencucian berikutnya,dan sedapat mungkin meminimisasi penggunaan air. Menerapkan good house keeping. Limbah proses penghilangan daging Dihasilkan potongan-potongan atau sisa daging kemudianmengumpulkan daging yang terbuang pada satu tempat khusus. Potongandaging ini bisa dipilah dan dikeringkan untuk pakan ternak ikan,makanan kucing atau bisa dijual ke pengolahnya. Daging diolah untuk kemudian dimanfaatkna menjadi pupuk. Membersihkan alat setiap kali selesai kegiatan dengan menerapkan goodhouse keeping. Mengalirkan langsung sisa air menggunakan saluran pipa menuju bak pembuangan limbah cair. Membakar danging yang terkumpul agar tidak membusuk dan tidak mengahasilkan bau bangkai. Limbah proses pembuangan kapur Meminimalisir penggunaan kapur agar kandungan kapurnya tidak tinggi dan air tersebut dapat digunakan kembali. Penggunaan kembali air tersebut untuk proses pengapuran selanjutnya. Memanfaatkan sisa-sisa kapur yang mengkristal untuk proses pengapuran selanjutnya. Mendesain instalasi pembuangan air dengan baik menggunakan pipa,agar sisa air pada proses ini tidak tercecer dan menerapka good housekeeping. Membersihkan kapur yang mengkristal pada molen setelah proses perontokan bulu. Limbah proses pencucian Pada proses pencucian didapatkan limbah cair berupa air sisa pencucian.Air sisa pencucian ini sebaiknya ditampung dalam satu wadah yangkemudian akan digunakan kembali pada proses pencucian berikutnya,dan sedapat mungkin meminimisasi penggunaan air.Menerapkangood house keeping. Limbah proses pengasaman (pikel) Limbah yang dihasilkan pada proses ini berupa limbah cair yaitu larutan sisa pengasaman. Limbah tersebut sebelum dibuang dilakukan penanganan terlebih dahulu.Menerapkan good house keeping. Limbah proses penyamakan Pada proses ini digunakan chrom, produksi bersih dapat dilakukandengan mengukur secara teliti jumlah chrom yang diperlukan, sehingga tidak terjadi pemborosan dalam pemakaian chrom. Jadi meminimalisir limbah chrom yang terbentuk. Membuang air ke bak penampungan menggunakan saluran pipa, menggunakan takaran chrom secukupnya agar sisa air yang dihasilkantidak mengandung chrom dengan kelarutan yang tinggi, menerapkan good house keeping. Limbah perataan dan pengukuran (shaping) Pada proses ini dihasilkan serbuk kulit. Opsi yang dapat diterapkan yaitu mengumpulkan serbuk kulit dan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan produk lain atau dengan menjual serbuk kulit, mendesain alat penyerutan dengan menambahkan suatu wadah untuk tempat berkumpulnya serbuk kulit tersebut atau dapat dilakukan dengancara menyediakan wadah untuk tempat keluarnya (mengumpulnya) serbuk kulit, membuat tempat penampungan khusus untuk serbuk kulit yang dihasilkan agar tidak tercecer dan menerapkan good house keeping.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Limbah proses pewarnaan dasar

22

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Membuang air ke bak penampungan menggunakan saluran pipa, mengumpulkan sisa cat dasar untuk digunakan pada proses pewarnaandasar selanjutnya, minyak minyak pelemasan kulit agar dapat digunakankembali pada proses pewarnaan dasar selanjutnya dan menerapkan good house keeping. Limbah proses pencucian Pada proses pencucian didapatkan limbah cair berupa air sisa pencucian. Air sisa pencucian ini sebaiknya ditampung dalam satu wadah yang kemudian akan digunakan kembali pada proses pencucian berikutnya,dan sedapat mungkin meminimisasi penggunaan air, dan menerapkan good house keeping. Limbah proses pengeringan Dilakukan penjemuran di luar ruangan, sehingga semua kulit bisa terkenalangsung sinar matahari, sehingga proses pengeringan berjalan lebihefektif dan efisien dan menerapkan good house keeping. Limbah proses peregangan Secara umum pada proses ini tidak ada limbah yang dihasilkan. Tetapi suhu panas yang dihasilkan mesin menyebabkan suhu di ruangan penyetrikaan cukup panas, dan menerapkan good house keeping dengan menyusun kulit yang telahdisetrika dengan rapih dan teratur. Limbah proses spraying Dilakukan penyemprotan warna terhadap kulit, hendaknya penyemprotandilakukan secara hati-hati dan tidak terlalu boros. Hal ini untuk meminimalisir zat pewarna yang disemprotkan agar tidak bercecerandimana-mana, menerapkan good house keeping misalnya, menuangkan cat secara hati-hati, agar cat tidak tercecer. Mengumpulkan ceceran cat untuk digunakan kembali pada proses penyemprotan selanjutnya. Menggunakan sprayer yang hasil semprotannya tidak terlalu menyebar, agar tidak banyak cat yang terbuang. Limbah proses penyetrikaan Secara umum pada proses ini tidak ada limbah yang dihasilkan. Tetapisuhu panas yang dihasilkan mesin menyebabkan suhu di ruanganpenyetrikaan cukup panas. Menerapkan good house keeping dengan menyusun kulit yang telahdisetrika dengan rapih dan teratur. Limbah proses penyortiran Pada proses ini dihasilkan kulit-kulit yang ukurannya memenuhi standar dan tidak memenuhi standar. Pilihan yang dapat diterapkan yaitu menjual kulit yang tidak sesuai standar kepada konsumen dengan standar yang lebih rendah, mengumpulkan kulit yang tidak sesuai ukurannya untuk dimanfaatkan pada pembuatan produk lain, menerapkan good house keeping dengan mengumpulkan kertas etiket(label) untuk dibuang ke tempat sampah dan menggunakan etiket atau label secukupnya.

E. Pemasaran a. Permintaan dan Penawaran


Selama lima tahun terakhir, produksi kulit domestik telah mengalami perubahan yang signifikan. Salah satu contoh dapat dilihat pada Tabel 2, tahun 2004 sampai tahun 2006, produksi kulit jadi untuk alas kaki meningkat 49 persen yaitu dari 45 juta kaki persegi pada tahun 2002 menjadi 67 juta kaki persegi pada tahun 2004. Akan tetapi, dalam dua tahun terakhir tingkat produksi telah menurun sebesar 15 persen dari 67 juta kaki persegi pada tahun 2004 menjadi 57 juta kaki persegi pada tahun 2006. Tabel 1. Konsumsi dan Produksi Kulit Jadi untuk Alas Kaki di Indonesia Tahun 20022006

23

Tabel 1 juga menunjukkan bahwa produksi kulit di Indonesia yang di produksi belum cukup memenuhi konsumsi. Pada tahun 2006 konsumsi kulit jadi untuk alas kaki sebesar 69 juta kaki persegi, sementara produksi kulit jadi hanya sebesar 57 juta kaki persegi. Hal tersebut sebagian disebabkan oleh penurunan jumlah industri penyamakan kulit yang beroperasi di Indonesia yang diakibatkan krisis ekonomi pada tahun 1998. Namun pada tahun 2006 jumlah industri mulai meningkat dengan pertumbuhan sebesar 21,8 persen dari tahun 2004 untuk industri menengah-besar dan 20 persen untuk industri rumahan. Penurunan jumlah penyamakan kulit yang beroperasi dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jumlah Industri Penyamakan Kulit yang Beroperasi di Indonesia Tahun 19982006

Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah sentra industri penyamakan kulit yang potensial di Jawa Barat. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Garut (2006), tingginya populasi dan kapasitas produksi ternak besar di Kabupaten Garut, mengawali tumbuh kembangnya industri kecil atau rumahan pengolahan kulit tersamak di Kabupaten Garut. Selain itu, jumlah unit industri penyamakan kulit di Kabupaten Garut saat ini mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2000 tercatat sebanyak 290 unit dan pada tahun 2006 tercatat sebanyak 340 unit industri formal dan non formal dengan rata-rata kapasitas produksi per tahun sebesar 7.659.250 kg atau 9.360.000 squarefeet. Jumlah industri tekstil kulit dan aneka di Garut dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2003 tercatat sebanyak 949 unit, tahun 2004 tercatat sebanyak 1137 unit dan tahun 2005 sebanyak 1181 unit, dengan nilai produksi masing-masing sebesar Rp 117.442.490, Rp 129.089.526 dan Rp 134.267.726 (BPS Garut, 2006). Menurut Dinas Perindag Kabupaten Garut (2006) selain memenuhi permintaan konsumen lokal dan nasional, jaket kulit Garut juga meluas ke pasar internasional, seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Jepang. Volume ekspornya mencapai 5.100 potong dengan nilai US $ 258.651. Peningkatan industri kerajinan kulit dan aneka membuat industri penyamakan kulit terus berkembang dari tahun ke tahun. Implikasinya akan semakin banyak perusahaan yang masuk ke dalam industri tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya persaingan yang ketat antar industri baik dalam pengadaan bahan

24

baku, sumberdaya manusia yang berkualitas, hasil produk olahan, besarnya pangsa pasar dan seluruh aspek lainnya yang terkait pada industri tersebut. b. Ekspor-Impor Indonesia Tabel 3. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kulit di Indonesia Tahun 2001- 2005

Tabel 4. Perkembangan Volume dan Nilai Impor Kulit di Indonesia Tahun 2000-2004

Sumber: Departemen Perdagangan c. Pangsa Pasar Pangsa pasar produk kulit Indonesia di dunia saat ini baru mencapai 0,3 persen. Pengembangan bahan baku di sentra penyamakan kulit saat ini tersebar di sejumlah wilayah seperti Sukaregang Garut, Yogyakarta, Magetan Jawa Timur,. Sementara sentra produk kulit seperti sentra sepatu dikembangkan di Mojokerto, Pulo Gadung, Cibaduyut dan Magetan. Tas dan koper dikembangkan di Tanggulangin, Jawa Timur dan Tajur, Bogor. Sentra jaket kulit di Garut dan Bandung. d. Prospek Prospek pengembangan industri penyamakan kulit ini cukup baik. Pada daerah sentra industri penyamakan kulit seperti di kabupaten Garut terdapat prospek yang baik dari segi ekonomi dan sosial masyarakat. Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah unit usaha industri penyamakan kulit di Kabupaten Garut tahun 2006 sebanyak 340 unit, dengan penyerapan jumlah tenaga kerja sebanyak 1.595 orang. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan industri penyamakan kulit dapat mengurangi jumlah pengangguran di sekitar wilayah Garut dengan banyak menyerap tenaga kerja. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Garut (2006) jumlah unit usaha jenis industri ini mencapai 72 persen dari jenis industri lainnya dengan jumlah tenaga kerja mencapai 66 persen dari tenaga kerja pada industri lainnya. Hasil industrinya sudah diekspor ke Inggris, Belanda, Jepang, Iran, Australia, Belgia, Italia, Jerman dan Maroko.

25

Tabel 5. Potensi Industri Penyamakan Kulit per Tahun di Kabupaten Garut pada Tahun 2006.

Prospek bisnis kulit masih cerah sejauh kulit masih banyak peminatnya, baik sebagai bahan industri furnitur maupun garmen. karena industri kulit dan produk kulit di dalam negeri merupakan industri padat sumber daya hewani dan potensinya di Indonesia dapat dikembangkan, maka industri kulit dan produk kulit di dalam negeri tetap memiliki prospek yang cukup bagus. Dengan jumlah penduduk Indonesia pada saat ini yang diperkirakan telah mecapai 210 juta jiwa dan ini merupakan pasar kulit dan produk kulit yang cukup potensial. Sedangkan Peluang ekspor kulit dan produk kulit Indonesia kepasaran dunia seperti telah dijelaskan di atas masih memiliki prospek yang cukup besar . Nilai ekspor dunia pada tahun 2001 tercatat sebesar US$ 12.5 miliar dan Indonesia berada pada urutan 23 ekspor dunia dengan nilai baru mencapai US$ 85.0 juta.

26

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Komoditas kulit digolongkan menjadi dua golongan yaitu : (1) kulit yang berasal dari binatang besar (hide) seperti kulit sapi, kulit kerbau, kulit kuda, kulit banteng, kulit badak, kulit harimau, dan lain-lain, (2) kulit yang berasal dari binatang kecil (skin) seperti kulit domba, kulit kambing, kulit rusa, kulit babi dan kulit reptil. . Kulit samak merupakan kulit yang dihasilkan dari proses penyamakan dan berbahan baku dari kulit mentah. Pemanfaatan kulit mentah dalam proses produksi kulit samak merupakan salah satu upaya memanfaatkan hasil samping industri peternakan, sehingga dapat memberikan nilai tambah karena produk olahannya memiliki nilai jual yang tinggi. Salah satu sentra produksi kulit samak terbesar di Indonesia adalah sentra penyamakan kulit yang terdapat di daerah Sukaregang, Garut, Jawa Barat. Harga kulit domba per lembar mencapai Rp 90.000,- untuk ukuran besar dengan panjang 120 cm, sedangkan ukuran kecil dengan panjang 90 cm mencapai harga Rp 30.000,-. Mutu atau kualitas kulit ditentukan oleh : 1). Perlakuan sewaktu ternak masih hidup (iklim, pakan, luka goresan, bekas cambuk, cap bakar, penyakit), 2). Perlakuan setelah pemotongan ternak (cara pemotongan dan pengulitan), 3). Perlakuan selama pengawetan (suhu dan kelembapan ruang, sentuhan logam), 4). Perlakuan selama pengangkutan (suhu dan kelembapan, air hujan, air laut), 5). Penyimpanan (kelembapan dan waktu). Jenis-jenis kulit samak antara lain Full Grain/Full Top Leather, Corrected Grain Leather ,Nappa Leather , Patched Leather, Patent Leather, Nubuck Leather, Suede Leather, Pull-up Leather . Produk kulit samak antara lain dimanfaatkan sebagai bahan baku kerajinan tangan dan perabotan. Sementara, pasar luar negeri lebih sering menggunakan kulit hewan ternak ini untuk berbagai produk garmen mewah. Misalnya jaket, sarung tangan, hingga tas golf eksklusif. Teknik penyamakan kulit dikelompokan menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra penyamakan, penyamakan, dan pasca penyamakan. Pada setiap proses penyamakan akan dihasilkan limbah yang kemudian dapat diolah bahkan dimanfaatkan kembali untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Dilihat dari aspek pemasaran, permintaan dan penawaran terhadap kulit samak mengalami kenaikan seiring dengan perkembangan fashion dan teknologi. Namun kendala yang terjadi disebabkan oleh kekurangan bahan baku kulit mentah. Sehingga memberikan peluang terhadap kulit imitasi untuk memasuki pasar.

B. Rekomendasi
Karena terdapat kekurangan pasokan bahan baku maka perlu ada dorongan terhadap para peternak untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan produksi kulit mentah agar peluang kulit imitasi masuk ke pasaran dapat ditekan. Karena hal ini dapat menurunkan tingkat penjualan kulit asli.

27

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Kulit Samoa Menggunakan Minyak Biji Karet. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53005/BAB%20II%20Tinjauan %20Pustaka.pdf?sequence=3. (2 November 2012) Anonim 2011. Teknologi pengawetn dan pengolahan kulit http://irmangasali.blogspot.com/2011/03/teknologi-pengawetan-dan-pengolahan.html Badan Pusat Statistik1). 2006. Statistik Kabupaten Garut 2006. Garut. Badan Pusat Statistik2). 2006. Statistik Peternakan. CV Arena Seni. Jakarta. Fahidin dan Muslich. 1999. Ilmu dan Teknologi Kulit. Bogor: Fateta IPB. Fahidin dan Muslich. 1997. Diktat Ilmu dan Teknologi Kulit. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor Judoamidjojo, R. M. 1981. Defek-Defek pada Kulit Mentah dan Kulit Samak. Bhratara Karya Aksara. Jakarta. Judoamidjojo, R. M. 1981. Teknik Penyamakan Kulit untuk Pedesaan. Angkasa Bandung. Bandung. Kemenperin. 2009. http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI%2006-0484-1989.PDF (2 November 2012) Kemenperin. 2009. http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI%2006-0463-1989.PDF (2 November 2012) Kemenperin. 2009. http://pustan.bpkimi.kemenperin.go.id/files/SNI%2006-0568-1989.PDF (2 November 2012) Purnomo, E. 1984. Teknologi Penyamakan Kulit 1. Akademi Teknologi Kulit,Yogyakarta. Saleh,E.2004. Dasar Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Diktat Kuliah.Program Studi Produksi Ternak. Jurusan Fakultas Pertanian.UniversitasSumatera Utara. Standar Nasioanal Indonesia. 1989. Istilah dan Definisi untuk Kulit dan CaraPengolahannya. SNI 0391-89A. Departemen Perindustrian, Indonesia. Standar Nasioanal Indonesia. 1992. Kulit Domba Mentah Basah. SNI 01-2739-1992. Departemen Pertanian, Indonesia. Standar Nasioanal Indonesia. 1992. Kulit Domba Mentah Basah. SNI 06-2736-1992. Departemen Pertanian, Indonesia Standar Nasioanal Indonesia. 1992. Kulit Domba Mentah Basah. SNI 06-2738-1992. Departemen Pertanian, Indonesia. Purnomo E. 1985. Pengetahuan Dasar Teknologi Penyamakan Kulit. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit, Departemen Perindustrian. Purnomo E. 1987. Penyamakan Kulit Reptil. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit, Departemen Perindustrian. SENADA. 2007. Profil Spesifikasi Kulit Tersamak Indonesia. Jakarta.

28