Anda di halaman 1dari 3

Sebelum melakukan persemaian untuk pembangunan hutan tanaman. proses pengadaan benih untuk keperluan persemaian sangat diperlukan.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan benih, diperlukan benih yang berkualitas dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu pelu dilakukan penanganan benih secara baik. Tindakan penanganan benih yang baik menurut Siswandi 200 antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pengunduhan buah Ekstraksi benih Pengeringan Pembersihan/seleksi Pengepakan Penyimpanan Pengujian Penyaluran

Pengunduhan buah adalah proses mengambil buah dari pohon sumber benih yang sudah masak yang akan dijadikan sebagai benih tanaman. Untuk mendapatkan benih yang baik, harus diperoleh dari benih yang telah masak yaitu dicirikan oleh warna kulit buah (halus, kasar, rapat, regang dll). Penentuan saat pengunduhan sangat menentukan kualitas fisiologi benih yang dihasilkan, apabila benih masih terlalu muda, benih tidak dapat berkecambah tidak normal atau busuk (Bramasto 2008). Cara pengumpulan benih tergantung jenis dana ukuran pohon. Menurut Mulawarman (2002) cara pengumpulan benih yang biasa dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Mengumpulkan benih dari lantai hutan, cara ini mudah dilakukan, beberapa pohon seperti Jati (Tectona grandis), Gmelina (Gmelina arborea), dan Kemiri (Aleurites moluccana) dapat dikumpulkan dengan cara ini. Kelemahannya antara lain biji yang terlalu kecil Kaliandra (Calliandra calothyrsus), dan Lamtoro (Leucaena leucocephala) tidak dapat dikumpulkan dengan cara ini karena biji akan tersebar dari buah/polong dan sulit dikumpulkan, benih yang dikumpulkan dengan cara ini sering kali mutunya tidak sebaik benih yang dikumpulkan langsung dari pohon, serta buah yang jatuh seringkali belum cukup tua, buah/biji yang dikumpulkan dari lantai hutan seringkali membawa hama/penyakit perusak benih. 2. Memetik buah langsung dari pohon. Dilakukan jika pohon tidak terlalu tinggi atau menggunakan galah. Mutu benih yang dikumpulkan sangat baik karena betul-betul matang serta benih yang dikumpulkan berasal dari tajuk paling luar dimana biji yang dihasilkan kemungkinan besar merupakan hasil penyerbukan luar.

3. Mengumpulkan buah dengan memanjat pohon. Cara ini dilakukan apabila pohon cukup tinggi dan tidak dapat dicapai dari tanah. metode pemanjatan yang sering digunakan adalah pemanjatan dengan tangga serta pemanjatan tanpa bantuan alat. Pemanjatan tanpa bantuan alat diperlukan keterampilan memanjat yang baik dari pemetik buah/benih.

Setelah proses pengumpulan buah/benih dilakukan, benih perlu dilakukan proses ekstraksi. Ekstraksi adalah proses mengeluarkan biji dari buah yang sudah dipetik. Ada dua proses ekstraksi yaitu ekstraksi kering dan ekstraksi basah (Bramasto 2008). 1. Ekstraksi kering adalah kegiatan mengeluarkan benih dari buah dengan cara penjemuran atau diangin-anginkan di udara terbuka, sampai buah merekah dengan sendirinya dan benih mudah dikeluarkan. Contohnya untuk benih sengon, akasia, mahoni, gaharu dll. 2. Ekstraksi basah adalah kegiatan mengeluarkan benih dari tipe buah berdaging dengan bantuan air, yaitu buah terlebih dulu direndam daging buah menjadi lunak dan hancur, sehingga benih dapat dikeluarkan dengan mudah atau terjadi pemisahan antar benih dengan kulit buah, yaitu benih akan tenggelam sedangkan serpihan kulit buah akan terapung. Contohnya adalah ekstraksi benih Gmelina, Mimba, Rotan dll. Selain proses pengunduhan buah serta ekstraksi buah. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aspek pengunduhan buah untuk menjaga kualitas benih menurut Departemen Kehutanan (2006) adalah : 1. Benih yang diunduh harus dari sumber benih yang bersertifikat. Apabila benih diunduh dari sumber pohon yang tidak bersertifikat, maka benih harus diunduh dari pohon dengan karakter yang baik untuk suatu tujuan pemanfaatan. 2. Pengumpulan data dan informasi yang berhubungan dengan pengunduhan (seperti : jenis, tipe tegakan, waktu pengunduhan, produksi buah, berat buah yang diunduh, ukuran buah, identitas pohon yang diunduhdan orang yang mengunduh) 3. Apabila benih berasal dari sumber benih yang bersertifikat, maka lebih baik benih dapat dikelompokkan berdasarkan kelas pohon induk di dalam sumber benih. 4. Membuat laporan yang disampaikan kepada pihak yang berwenang bahwa pengunduhan telah dilaksanakan. 5. Setelah benih diunduh harus segera disertifikasikan untuk mendapatkan sertifikat mutu benih kepada pihak berwenang.

Dapus : Departemen Kehutanan. 2006. Manual Penanganan Benih Tanaman Hutan. Sumedang : Balai Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura. Mulawarman et al. 2002. Pengelolaan Benih Pohon : Sumber Benih, Pengumpulan dan Penanganan Benih. Bogor : International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) dan Winrock International. Siswandi Joni. 2000. Penerapan teknologi perbenihan dalam memproduksi benih/bibit berkualitas. Makalah. Dalam : Dialog Stakeholder Kegiatan Rehabilitasi Lahan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Ciamis. Bramasto Yulianti. 2008. Teknik penanganan benih tanaman hutan hasil panen. Dalam Mitra Hutan Tanaman Vol. 3, No. 3, 131 140.