Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat tinggi pada bayi, anak-anak, dan orang lanjut usia, terutama di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama di tingkat puskesmas (pusat kesehatan masyarakat). Terus munculnya ancaman kesehatan dalam bentuk penyakit menular membuat langkah pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan sama sekali tidak boleh diabaikan. Penyakit/patogen yang menular merupakan masalah yang terus berkembang, dan penularan patogen yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak terkecuali. Cara penularan utama sebagian besar ISPA adalah melalui droplet, tapi penularan melalui kontak (termasuk kontaminasi tangan yang diikuti oleh inokulasi tak sengaja) dan aerosol pernapasan infeksius berbagai ukuran dan dalam jarak dekat bisa juga terjadi untuk sebagian patogen. Karena banyak gejala ISPA merupakan gejala nonspesifik dan pemeriksaan diagnosis cepat tidak selalu dapat dilakukan, penyebabnya sering tidak langsung diketahui. Selain itu, intervensi farmasi (vaksin, antivirus, antimikroba) untuk ISPA mungkin tidak tersedia. Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran napas akibat debu. Faktor itu antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi,daya larut dan sifat kimiawi, serta lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai kurang dari 10 mikron. Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas

tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1 - 0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli; bila membentur alveoli, debu dapat tertimbun disitu. Kecamatan Merapi sebagai salah satu daerah penghasil batubara di Indonesia juga mengalami berbagai masalah kesehatan, terutama saluran nafas. Masalah yang cukup mengemuka sementara ini terutama berkenaan dengan debu batubara yang berterbangan. Debu batubara mengandung bahan kimiawi yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit paru-paru. Penyakit tersebut muncul bila masyarakat yang berada di lokasi tambang batubara, atau di kawasan lalu-lintas pengangkutan batubara, menghirup debu batubara secara terus-menerus, dan yang paling berisiko adalah pekerja penambangan batubara itu sendiri. Oleh karena itu, pada laporan kasus ini akan disajikan mengenai prevalensi angka kejadian infeksi pernafasan akut sebelum penambangan batubara muncul, yaitu tahun 2010 dan saat penambangan batubara mencapai jumlah yang cukup untuk menimbulkan polusi udara, yaitu tahun 2011.

B. Tujuan Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui adakah peningkatan prevalensi angka kejadian infeksi saluran pernafasan akut sebelum dan sesudah adanya penambangan batubara di Kecamatan Merapi Barat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008). ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Nelson, 2003). Jadi, dapat disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.

B. Etiologi Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Corynebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (Suhandayani, 2007). Selain oleh infeksi kuman, ISPA dapat disebabkan oleh asap pembakaran bahan bakar kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan bakar kayu ini banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga selalu melakukan aktifitas memasak tiap hari menggunakan bahan bakar kayu, gas maupun minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa disadarinya telah mereka hirup sehari-hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk, sesak nafas dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar kayu tersebut mengandung zat-zat seperti Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur, Nitrogen dan Oxygen yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2002).

C. Klasifikasi Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur di bawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun (Muttaqin, 2008): a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan 1) Pneumonia Berat Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 6x per menit atau lebih. 2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa) Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu: a) Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari volume yang biasa diminum) b) Kejang c) Kesadaran menurun d) Stridor e) Wheezing f) Demam / dingin. b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun 1) Pneumonia Berat Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta). 2) Pneumonia Sedang Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah: a) Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih b) Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih. 3) Bukan Pneumonia Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan 5 tahun yaitu : a) Tidak bisa minum b) Kejang

c) Kesadaran menurun d) Stridor e) Gizi buruk Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah : a. ISPA ringan Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek dan sesak. b. ISPA sedang ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390 C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok. c. ISPA berat Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.

D. Faktor resiko Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) : a. Faktor Demografi Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu : 1) Jenis kelamin Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki-laki lebih banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering terkena polusi udara. 2) Usia Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah tangga yang memasak sambil menggendong anaknya. 3) Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas kesehatan serta pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala dan upaya penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang datang kesarana

pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat karena kurang mengerti bagaimana cara serta pencegahan agar tidak mudah terserang penyakit ISPA. b. Faktor Biologis Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu (Notoatmodjo, 2007): 1) Status gizi Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan

mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak minum air putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan semakin menigkat, sehingga dapat mencegah virus ( bakteri) yang akan masuk kedalam tubuh. 2) Faktor rumah Syarat-syarat rumah yang sehat (Suhandayani, 2007): a) Bahan bangunan a) Lantai : Ubin atau semen adalah baik. Syarat yang penting di sini adalah tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan. Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan bendabenda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan berdebu merupakan sarang penyakit gangguan pernapasan. b) Dinding : Tembok adalah baik, namun disamping mahal tembok sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak cukup, maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan alamiah. c) Atap Genteng : Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng cocok untuk daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun

rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng ataupun asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal juga menimbulkan suhu panas didalam rumah. d) Lain-lain (tiang, kaso dan reng) Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan ini tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang-lubang bambu merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini cara memotongnya barus menurut ruas-ruas bambu tersebut, maka lubang pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup dengan kayu. b) Ventilasi Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen) didalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteribakteri penyebab penyakit) c) Cahaya Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup dan

berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dam akhirnya dapat merusakan mata. c. Faktor Polusi Adapun penyebab dari faktor polusi antara lain yaitu (Lamsidi, 2003) :

1) Cerobong asap Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau pabrik-pabrik industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas (vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke atas terbawa oleh angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas (asap) yang dibuang melalui cerobong horizontal dan dialirkan ke bak air akan mudah larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh media Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa menyerap racun dan logam berat. Langkah tersebut dilakukan supaya tidak akan ada lagi pencemaran udara, apalagi hujan asam. Cerobong asap juga bisa berasal dari polusi rumah tangga, polusi rumah tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak, bahan bakar untuk memasak yang paling banyak menyebabkan asap adalah bahan bakar kayu atau sejenisnya seperti arang. 2) Kebiasaan merokok Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzol dehide, urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresorperyline dan lainnya, sehingga di bahan kimia tersebut akan beresiko terserang ISPA.

3) Debu Faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, serta lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai kurang dari 10 mikron. Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak

mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1- 0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli; bila membentur alveoli, debu dapat tertimbun disitu (Yunus, 1997). d. Faktor timbulnya penyakit Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut Bloom dikutip dari Effendy (2004) menyebutkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya lingkungan kesehatan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi rumah yang cukup untuk mengurangi polusi asap maupun polusi udara, keturunan, misalnya dimana ada orang yang terkena penyakit ISPA di situ juga pasti ada salah satu keluarga yang terkena penyakit ISPA karena penyakit ISPA bisa juga disebabkan karena keturunan, dan dengan pelayanan sehari-hari yang baik maka penyakit ISPA akan berkurang dan kesehatannya sedikit demi sedikit akan membaik, dan pengaruh

mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

E. Manifestasi Klinis ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan struktur fungsi siliare (Muttaqin, 2008). Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam, pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus (muntah), photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk, keluar sekret, stridor (suara nafas), dyspnea (kesakitan bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen), dan dapat berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan mengakibatkan kematian. (Nelson, 2003).

Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah : a. Gejala dari ISPA Ringan Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Batuk 2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau menangis). 3) Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung. 4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370 C atau jika dahi anak diraba. b. Gejala dari ISPA Sedang Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumurkurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung dapat digunakan arloji. 2) Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer). 3) Tenggorokan berwarna merah. 4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak. 5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga. 6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur). 7) Pernafasan berbunyi menciut-ciut. c. Gejala dari ISPA Berat Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Bibir atau kulit membiru. 2) Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu bernafas. 3) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun. 4) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah. 5) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.

10

6) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba. 7) Tenggorokan berwarna merah.

F. Penatalaksanaan Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA). Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA . Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut (Smeltzer & Bare, 2002) : a. Pemeriksaan Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar anak tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju anak harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi. b. Klasifikasi ISPA Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut : 1) Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam (chest indrawing). 2) Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.

11

3) Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.. c. Pengobatan 1) Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigendan sebagainya. 2) Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain. 3) Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman

streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya. d. Perawatan di rumah Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA. 1) Mengatasi panas (demam) Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).

12

2) Mengatasi batuk Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis sendok teh dicampur dengan kecap atau madu sendok teh , diberikan tiga kali sehari. 3) Pemberian makanan Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang-ulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan. 4) Pemberian minuman Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita. 5) Lain-lain a) Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. b) Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah. c) Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang berventilasi cukup dan tidak berasap. d) Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan. e) Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali ke petugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

G. Pencegahan Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain: a. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA. Misalnya

13

dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan masuk ke tubuh kita. b. Imunisasi Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus / bakteri. c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat bagi manusia. d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/ bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran antara bibit penyakit).

B. Ventilasi 1. Pengertian Ventilasi adalah tempat sebagai proses penyediaan udara segar ke dalam dan pengeluaran udara kotor dari suatu ruangan tertutup secara alamiah maupun mekanis. Tersedianya udara segar dalam rumah atau ruangan amat dibutuhkan manusia, sehingga apabila suatu ruangan tidak mempunyai sistem ventilasi yang

14

baik dan over crowded maka akan menimbulkan keadaan yang dapat merugikan kesehatan (Lamsidi, 2003). 2. Fungsi Ventilasi Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut (Suhandayani, 2007) : a. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan. b. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara. c. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang. d. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan. e. Mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal. f. Mendisfungsikan suhu udara secara merata. 3. Jenis Ventilasi Rumah Berdasarkan kejadiannya, maka ventilasi dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu (Notoatmodjo, 2007): a. Ventilasi alam. Ventilasi alam berdasarkan pada tiga kekuatan, yaitu: daya difusi dari gas-gas, gerakan angin dan gerakan massa di udara karena perubahan temperatur. Ventilasi alam ini mengandalkan pergerakan udara bebas (angin), temperatur udara dan kelembabannya. Selain melalui jendela, pintu dan lubang angin, maka ventilasi pun dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai hasil sifat porous dinding ruangan, atap dan lantai. b. Ventilasi buatan Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut diantarana adalah kipas angin, exhauster dan AC (air conditioner). 4. Syarat Ventilasi Persyaratan ventilasi yang baik adalah sebagai berikut (Mukono, 2000) : a. Luas lubang ventilasi tetap minimal 5 % dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimal 5 % dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai ruangan.

15

b. Ventilasi sering di buka untuk keluar masuk udara c. Udara yang masuk harus bersih, tidak dicemari asap dari sampah atau pabrik, knalpot kendaraan, debu dan lain-lain. d. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang ventilasi berhadapan antar dua dinding. Aliran udara ini jangan sampai terhalang oleh barang-barang besar, misalnya lemari, dinding, sekat dan lain-lain. 5. Penilaian Ventilasi Rumah Secara umum, penilaian ventilasi rumah dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dan luas lantai rumah, dengan menggunakan Role meter. Menurut indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10% luas lantai rumah (Notoatmodjo, 2007) Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Luas ventilasi rumah yang < 10% dari luas lantai (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan mengakibatkan berkurangnya konsentrasi oksigen dan bertambahnya konsentrasi karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembang biaknya bakteribakteri patogen termasuk kuman (Notoatmodjo, 2007). Selain itu, luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangngya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan. Rumah yang memenuhi syarat ventilasi baik akan mempertahankan kelembaban yang sesuai dengan temperature kelembaban udara. Berdasarkan hasil penelitian Ratnawati (2002) diperoleh sebanyak 17,2% responden tidak ISPA dan sebanyak 82,8% menderita ISPA pada ventilasi kurang. Hal ini menunjukkan bahwa pada ventilasi rumah yang kurang baik, jumlah kejadian ISPA pada balita lebih banyak jika ventilasi rumah yang baik.

16

6. Akibat Yang Ditimbulkan Karena Ventilasi Yang Kurang Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 (oksigen) di dalam rumah yang berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Di samping itu tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadi proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangngya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk ke dalam rumah, akibatnya kuman yang ada di dalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan.

17

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Perbandingan Angka Kejadian ISPA Tahun 2010 dan Tahun 2011 Berdasarkan Umur

Telah dilakukan pendataan pasien yang didiagnosa menderita ISPA di Puskesmas Merapi II pada periode tahun 2010 dan tahun 2011. Data kasus ISPA diambil pada tahun 2010 karena pada tahun tersebut dimana tambang batubara mulai muncul dan dianggap kasus ISPA belum dipengaruhi oleh dampak negatif tambang batubara, yaitu debu. Tahun 2011 juga diambil sampel sebagai data pembanding setelah pertambangan batubara dianggap mencapai jumlah yang cukup berarti untuk menimbulkan polusi udara yang menjadi salah satu faktor risiko timbulnya penyakit ISPA. Berdasarkan data kunjungan pasien Puskesmas Rawat Inap Merapi II, jumlah pasien yang didiagnosa menderita ISPA di tahun 2010 sebanyak 596 orang. Jika dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2011, yaitu 787 orang, terdapat peningkatan jumlah penderita ISPA di wilayah Puskesmas Rawat Inap Merapi II sebanyak 191 orang (32%). Pasien yang diambil dalam kasus ini dikategorikan ke dalam 6 kelompok umur berdasarkan kriteria WHO dan Depkes 2002, yaitu kelompok umur balita (0-4 tahun), kanak-kanak (5-11 tahun), remaja (12-17 tahun), dewasa (18-40 tahun), tua (41-65 tahun), dan lanjut usai (>65 tahun). Adapun perbandingan jumlah penderita ISPA menurut karakteristik umur pada tahun 2010 dan 2011 adalah sebagai berikut.

18

250 200 150 100 50 0 184

242 223

159 120 70 73 38 49 25 135

65

2010

2011

Gambar1. Diagram Perbandingan Distribusi Pasien ISPA Tahun 2010 dan 2011 Berdasarkan Kategori Umur

Berdasarkan kategori umur di atas, kelompok umur yang paling banyak mengalami ISPA baik pada tahun 2010 maupun tahun 2011 adalah kelompok usia balita (0-4 tahun), yang masing-masing penderitanya sebanyak 184 anak (31%) dan 242 anak (31%). Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk-pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk-pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Pada bayi, antibodi belum bisa disintesis oleh tubuhnya sendiri, melainkan didapat dari ASI (air susu ibu). Namun, setelah usia 24 bulan, anak baru bisa membentuk antibodi sendiri. ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia (radang paru-paru) sering terjadi pada anak-anak terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak sehat. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi

19

silang, beban immunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau malah berlebihannya pemakaian antibiotik. Selain itu, penyakit infeksi sangat juga dipengaruhi oleh status sosioekonomi dan pendidikan orangtua. Status sosioekonomi dan pendidikan orangtua yang kurang akan menyebabkan kemiskinan, ketidaktahuan tentang gizi, higienitas, sanitasi lingkungan, dan penyakit yang diderita oleh anak maupun dirinya sendiri. Hingga saat ini angka kematian akibat ISPA yang berat masih sangat tinggi, terutama pada usia yang ekstrim yaitu usia pediatrik (bayi dan anak) dan geriatrik (usia lanjut). Pada kaum geriatri disebabkan oleh sistem imunitas yang mulai menurun seiring dengan bertambahnya usia Kematian seringkali

disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan parah/lanjut dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi.

B. Gambaran Perbandingan Angka Kejadian ISPA Tahun 2010 dan Tahun 2011 Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin pasien ISPA yang berobat ke Puskesmas Rawat Inap Merapi II, jumlah pasien berjenis kelamin laki-laki, yaitu 374 orang (63%) di tahun 2010 dan 428 orang (54%) di tahun 2011 lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan, yaitu 374 orang (63%) pada tahun 2010 dan 222 orang (37%) pada tahun 2011. Adapun rasio pasien ISPA laki-laki dan perempuan adalah 1,68 : 1 pada tahun 2010 dan 1,19 : 1 pada tahun 2011.

20

Tahun 2010
Peremp uan 37% Lakilaki 63%

Tahun 2011
Peremp uan 46% Lakilaki 54%

Gambar 2. Diagram Distribusi Perbandingan Pasien ISPA Tahun 2010 dan 2011 Menurut Jenis Kelamin

Menurut WHO 2009 dan NCBI literature, jenis kelamin tidak mempengaruhi timbulnya penyakit ISPA. Tetapi pada beberapa penelitian kesehatan, pasien laki-laki cenderung lebih banyak menderita ISPA karena faktor kebiasaan dan pajanan. Sebagian besar pasien laki-laki memiliki kebiasaan merokok yang juga faktor risiko ISPA terbesar. Selain itu, mayoritas pekerja tambang batubara tersebut adalah laki-laki, sehingga hal ini berpotensial menentukan lama dan besarnya pajanan seseorang terhadap debu. Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkhus dilapisi oleh membran mukosa bersilia, udara yang masuk melalui rongga hidung disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut yang terdapat dalam hidung, sedangkan partikel debu yang halus akan terjerat dalam lapisan mukosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukosa ke posterior ke rongga hidung dan ke arah superior menuju faring. Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan pergerakan silia hidung menjadi lambat dan kaku bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan akibat iritasi oleh bahan pencemar. Produksi lendir akan meningkat sehingga menyebabkan penyempitan saluran pernafasan dan rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan. Akibat dari hal tersebut akan menyebabkan kesulitan bernafas sehingga benda asing tertarik dan bakteri lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan, hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

21

Menurut WHO, sekresi lendir atau gejala pilek terjadi juga pada penyakit common cold disebabkan karena infeksi kelompok virus jenis rhinovirus dan atau coronavirus.Penyakit ini dapat disertai demam pada anak selama beberapa jam sampai tiga hari. Sedangkan pencemaran udara diduga menjadi pencetus infeksi virus pada saluran nafas bagian atas. yang

ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udarapernafasan mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernafasannya.

C. Gambaran Perbandingan Angka Kejadian ISPA Tahun 2010 dan Tahun 2011 Berdasarkan Wilayah Tempat Tinggal

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, jumlah pasien yang berobat ke Puskesmas Merapi II dan didiagnosa sebagai ISPA, baik pada tahun 2010 maupun 2011, terbanyak berasal dari desa Merapi, yaitu 154 orang (25,84%) pada tahun 2010 dan 176 orang (22,36%) pada tahun 2011.
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 39 19 11 815 25 13 6 50 32 30 18 21 10 54 39 33 15 72 64 60 64 61 53 47 48 47 50 40 36 176 154

2010

2011

Gambar 3. Diagram Distribusi Perbandingan Pasien ISPA Tahun 2010 dan 2011 Berdasarkan Wilayah Tempat Tinggal

22

Salah satu faktor yang memungkinkan jumlah pasien dari wilayah Merapi merupakan yang paling banyak adalah karena jarak tempuh lebih dekat dan waktu yang lebih singkat untuk ke Puskesmas. Mengenai jarak dan waktu tempuh desa ke puskesmas dapat dilihat pada Tabel 4. Diperkirakan jumlah penderita ISPA lebih besar lagi karena data tidak termasuk pasien yang berobat ke bidan desa ataupun tempat lain.

Tabel 1. Daftar Jarak dan Waktu Tempuh Desa ke Puskesmas Merapi II No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Nama Desa Muara Temiang Lubuk Kepayang Tanjung Telang Karang Endah Payo Suka Marga Tanjung Pinang Gunung Agung Suka Cinta Ulak Pandan Negeri Agung Lebak Budi Tanjung Baru Kebur Telatang Muara Maung Merapi Jarak (km) 18 17 16 15 14 9,5 9 8,4 7,5 6 6,2 6,5 3 2,5 1,5 1 0,5 Waktu Tempuh (menit) 30 30 25 25 15 30 30 25 20 30 35 40 15 5 10 10 3

Selain itu, berdasarkan jumlah penyebaran tempat penambangan batubara, Desa Merapi merupakan salah satu desa dengan tingkat polutan debu tertinggi akibat batubara. Berdasarkan jumlah lokasi penambangan batubara, terdapat beberapa desa yang memiliki kadar debu tinggi akibat batubara, antara lain Desa Suka Marga, Negeri Agung, Tanjung Baru, Kebur, Telatang, Muara Maung, dan

23

Merapi. Semakin banyak jumlah penambangan, semakin tinggi pula kadar polusi udara yang ditimbulkannya. Hal ini menyebabkan penduduk terpajan lebih lama terhadap salah satu faktor risiko ISPA ini. Terdapat tiga mekanisme penimbunana debu di dalam paru-paru : a. Pengaruh inersia Pengaruh inersia akan timbul kelembaban dari debu itu sendiri dimana pada saat bergerak dan melalui belokan-belokan, maka akan lebih didorong oleh aliran udara. Pada sepanjang jalan pernapasan yang lurus akan langsung ikut dengan aliran lurus kedalam. Sedangkan partikel-partikel yang besar kurang sempat ikut dalam aliran udara, akan tetapi mencari tempat-tempat yang lebih ideal untuk menempel atau mengendap seperti pada tempat lekuk-lekuk pada selaput lender dalam saluran napas. b. Pengaruh sedimentasi Pengaruh sedimentasi terjadi di saluran-saluran pernapasan dimana kecepatan arus udara kurang dari 1 cm/detik, sehingga partikel-partikel tersebut melalui gaya berat dan mengendap. c. Gerakan Brown Gerakan Brown berlaku untuk debu-debu berukuran kurang dari 0.1 mikron dimana melalui gerakan udara dan permukaan partikel debu yang masuk ke dalam tubuh khususnya, akan mengganggu alveoli kemudian mengendap. Selain itu, ada empat alternatif pengaruh fisik dari partikel debu yang mengendap, yaitu : a. Debu berukuran 5 mikron yang mengendap pada saluran pernapasan bagian atas dapat menimbulkan efek berupa iritasi yang ditandai dengan gejala faringitis. b.Debu berukuran 2-3 mikron yang mengendap lebih dalam pada

bronkus/bronkiolus dapat menimbulkan efek berupa bronchitis, alergi, atau asma. c.Debu yang berukuran 1-3 mikron yang mengendap di alveoli, dimana gerakannya sejalan dengan kecepatan konstan. d. Debu yang berukuran 0.1-1 mikron karena terlalu ringan tidak dapat menempel pada saluran napas tetapi mengikuti gerak brown dan berada dalam bentuk suspensi (Fume atau Smoke)

24

Menurut WHO 1996 ukuran debu partikel yang membahayakan adalah berukuran 0,1 5 atau 10 mikron. Depkes mengisaratkan bahwa ukuran debu yang membahayakan berkisar 0,1 sampai 10 mikron. Faktor kebersihan lingkungan masing-masing desa, termasuk kondisi rumah juga sangat menentukan besarnya risiko penduduk terkena penyakit ISPA. Desa dengan slum area menjadi tempat yang mudah bagi kuman penyebab ISPA untuk berkembang biak. Sedangkan rumah dengan ventilasi yang buruk, juga meningkatkan risiko timbulnya penyakit ini.

D. Gambaran Perbandingan Angka Kejadian ISPA Tahun 2010 dan Tahun 2011 Berdasarkan Musim

Dari hasil pendataan pasien ISPA yang berobat ke Puskesmas Merapi II, didapatkan distribusi penderita berdasarkan waktu (bulan) dengan jumlah penderita terbanyak di bulan September pada tahun 2010, yaitu sebanyak73 orang (12,24%) dan bulan Agustus di tahun 2011, yaitu sebanyak 80 orang (10,16%).

80 70 60 50 40 30 20 10 0 48 36 41 67 68 62

75 65 58 43 47 67 70 59

80 76 73 63 55 52 4244 31 2010 2011 61

Jan Feb Mar Apr Mei

Jun

Jul

Agt

Sep

Okt

Nov

Des

Gambar 4. Diagram Distribusi Perbandingan Pasien ISPA Tahun 2010 dan 2011 Berdasarkan Waktu

25

Dari data distribusi penderita ISPA menurut waktu ini dapat dikelola menjadi data berdasarkan musim. Adapun musim yang ada di Indonesia dapat dikategorikan menjadi 2 musim, yaitu musim hujan, yang berlangsung dari bulan Oktober Maret, dan musim kemarau, dari bulan April September. Maka berdasarkan karakteristik musim, pasien ISPA yang berobat ke Puskesmas Merapi II, baik sepanjang tahun 2010 maupun 2011, terbanyak pada musim kemarau,343 orang (58%) dan 433 orang (55%).

Tahun 2010
Musim Hujan 58% Musim Hujan 42% Musim Kemara u 55%

Tahun 2011
Musim Hujan 45%

Gambar 5. Diagram Distribusi Perbandingan Pasien ISPA Tahun 2010 dan 2011 Berdasarkan Karakteristik Musim

Dari pendataan pasien rawat jalan di Puskesmas Merapi II tahun 2010 dan 2011, angka kejadian penyakit ISPA rata-rata menunjukkan angka yang lebih tinggi di bulan-bulan musim kemarau, yaitu antara bulan April September. Pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa musim mempengaruhi angka kejadian ISPA. Hal ini berkaitan dengan temperatur harian, kelembapan, dan kecepatan angin. Pada musim kemarau, dimana suhu yang meningkat akan menyebabkan berat jenis droplet dan debu respirabel menjadi lebih ringan, didukung oleh kecepatan angin yang rata-rata lebih tinggi pada siang hari menimbulkan partikel ini lebih mudah tditerbangkan angin, sehingga tingkat penularan ke manusia menjadi lebih tinggi. Selain itu, kelembaban udara di musim kemarau yang juga menurun akan mendukung kondisi tersebut. Oleh sebab itu, ISPA akan lebih mudah meningkat di musim kemarau.apalagi didukung dengan maraknya

26

penambangan batubara di Kecamatan Merapi semakin meningkatkan kadar debu di udara yang dapat menimbulkan kelainan faal paru. Kegiatan penimbunan batubara dalam bentuk gunungan akan menimbulkan dampak terhadap penurunan kualitas udara, berupa peningkatan debu udara ambien. Dispersi debu batubara terjadi karena bantuan yang berhembus mengenai tumpukan batubara, saat penurunan dan penaikan batubara ke kendaraan pengangkut. Lalu lintas kendaraan pengangkut itu sendiri pun akan meningkatkan pergerakan debu yang dilaluinya.

27

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Terdapat peningkatan prevalensi angka kejadian ISPA di Puskesmas Merapi II setelah adanya penambangan batubara, yaitu dari tahun 2010 ke tahun 2011 yaitu sebanyak 191 orang (32%). Kelompok usia balita (0-4 tahun) merupakan kategori umur dengan prevalensi tertinggi pasien ISPA, yaitu sebanyak 184 anak (31%) pada tahun 2010 dan 242 anak (31%) pada tahun 2011. Adapun rasio pasien ISPA laki-laki dan perempuan adalah 1,68 : 1 pada tahun 2010 dan 1,19 : 1 pada tahun 2011. Berdasarkan wilayah tempat tinggal, jumlah pasien yang berobat ke Puskesmas Merapi II dan didiagnosa sebagai ISPA, baik pada tahun 2010 maupun 2011, terbanyak berasal dari desa Merapi, yaitu 154 orang (25,84%) pada tahun 2010 dan 176 orang (22,36%) pada tahun 2011. Berdasarkan waktunya, pasien ISPA terbanyak saat musim kemarau, dimana paling banyak di bulan September pada tahun 2010, yaitu sebanyak73 orang (12,24%) dan bulan Agustus di tahun 2011, yaitu sebanyak 80 orang (10,16%).

B. Saran 1. Sebagai upaya mengatasi peningkatan angka kejadian ISPA akibat debu penambangan batubara, perlu dilakukannya analisis kadar debu dan studi analitik mengenai pajanan debu batubara dan gangguan pernafasan pada masyarat. Hendaknya penelitian bersifat follow up dan tidak hanya cross sectional. Penelitian ini diharapkan menjadi bukti otentik tingkat pencemaran penambangan batubara di Kecamatan Merapi II yang bisa berguna bagi masyarakat dan pekerja tambang sebagai upaya penanggulangan gangguan kesaehatan yang ditimbulkan. 2. Perlu dilakukannya usaha untuk meminimalisir kadar debu respirabel yang berisiko terhirup penduduk yang lebih bermakna , antara lain menggunakan alat pelindung diri (masker) atau pengadaan hujan buatan, mengingat penyiraman jalan dirasakan tidak adekuat untuk mengontrol debu yang terbang. Usaha ini sebaiknya melibatkan pengusaha tambang dan pemerintah daerah setempat.

28

3. Standardisasi proses penambangan batubara. Hal ini dirasakan perlu karena rendahnya kualitas penambangan batubara di wilayah Kecamatan Merapi II. Rendahnya kualitas penambangan batubara ini disebabkan oleh tidak diawasinya pembangunan batubara, sehingga risiko untuk menimbulkan polusi sangat tinggi. 4. Dilakukannya studi hazard mengenai tambang batubara mengingat

penambangan batubara banyak menimbulkan masalah kesehatan. Masalah yang cukup mengemuka sementara ini terutamaberkenaan dengan debu batubara yang berterbangan. Debu batubara mengandung bahan kimiawi yang dapat

mengakibatkan terjadinya penyakit paru-paru. Penyakit tersebut muncul bila masyarakat yang berada di lokasi tambang batubara, atau di kawasan lalu-lintas pengangkutan batubara, menghirup debu batubara secara terusmenerus, dan yang paling beresiko adalah pekerja penambangan batubara itu sendiri . 5. Perlu terjalinnya dukungan dari pihak pemerintah (camat, bupati, atau gubernur) dan badan pemerhati lingkungan, seperti majelis kedokteran okupasi, departemen kesehatan,badan kesehatan dunia (WHO). Hal ini mengingat

kepemilikan penambangan di Kecamatan Merapi Barat juga berasal dari kalangan tertentu, sehingga diperlukan dukungan yang kuat agar topik permasalahan bisa diangkat. 6. Edukasi kepada masyarakat dan para pekerja tambang mengenai penyakit ISPA dan pencegahannya, higienitas diri dan sanitasi lingkungan yang penting diperhatikan, serta sosialisasi dampak negatif penambangan batubara.

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Carmem L, Wing-Hong. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. WHO, 2007.

2. Eric A, dkk.Disease Control Prioritiesin Developing Country: Acute Respiratory Infections in Children. Ch 25, 483-497.

3. Qomariyatus S, Laily K, Ratna S. Pajanan Debu Batubara dan Gangguan Pernafasan pada Pekerja Lapangan Tambang Batubara. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol 4, No.2, 2008: 1-8.

4. Tan Malaka. Modul Blok 20: Kualitas Udara dan Kesehatan. FK Unsri, 2009.

30