Anda di halaman 1dari 8

Alquran Turun dalam Tujuh Huruf (2/habis)

SeppmSat, 27 Sep 2008 22:09:11 +0000UTC30 24, 2007 oleh nulibya


Oleh Zaenil Ghulam Abdullah*) Jadi, qiraah itu ialah cara membaca ayat-ayat al-Quran yang berupa wahyu Allah Swt, dipilih oleh seorang imam ahli qiraah, berbeda dengan cara ulama lain, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir sandanya dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta cocok dengan bacaan terhadap tulisan al-Quran yang terdapat dalam salah satu mushaf Utsman. F. Hikmah Diturunkannya Al-Quran Dengan Tujuh Huruf Hikmah yang dapat diambil dengan kejadian turunnya Al-Quran dengan tujuh huruf adalah sebagai berikut:[1]

1. Mempermudah ummat Islam khususnya bangsa Arab yang dituruni Al-Quran sedangkan mereka
memiliki beberapa dialeks (lahjah) meskipun mereka bisa disatukan oleh sifat ke-Arabannya.

2. Sebagai mukjizat al-Quran dari sisi lughawi (bahasa) bagi bangsa Arab. Karena beragamnya
dialek diantara suku-suku Arab.

3. Mukjizat al-Quran dari segi makna dan penggalian hokum. Karena berubahnya bentuk lafaz
dalah sebagaian huruf akan menghasilkan produk hukum yang dapat berlaku dalam setiap masa

4. Menyatukan ummat Islam dalam satu bahasa yang disatukan dengan bahasa Quraisy yang
tersusun dari berbagai bahasa pilihan dikalangan suku-suku bangsa Arab yang berkunjung ke Makkah pada musim haji dan lainnya. G. Mengenal Qiraah Berdasarkan etimologi (bahasa), qira>at jamak dari qira>`ah, yang merupakan isim mas{dar dari qara>`a. Qiroah artinya bacaan.[2] Sedangkan menurut terminologi (istilah), sebagaimana yang dikemukakan imam al-Zarqa>ni> dalam bukunya Mana>h{il al-Irfa>n , sebagi berikut: . Qiraah ialah suatu cara membaca al-Qura>n yang dipilih oleh salah seorang imam ahli qiraah, yang berbeda dengan cara orang lain dalam mengucapkan al-Qura>n al-Kari>m, sekalipun riwayat (sanad) dan jalannya sama .[3]

Imam Ibnu al-Jauzi> dalam kitabnya Munjid al-Muqrii>n mendefinisikan qiraah sebagaimana berikut : Qiraah adalah ilmu mengenai cara mengucapkan kalimat-kalimat al-Qura>n dan perbedaanperbedaannya.[4] Imam al-Zarkassi dalam bukunya al-Burha>n fi Ulu>m al-Qura>n mengingatkan bahwa alQira>ah (bacaan) itu berbeda dengan al-Qura>n (yang dibaca). Keduanya merupakan dua fakta yang berlainan. Sebab, al-Qura>n adalah wahyu Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk menjadi keterangan dan mukjizat. Sedangkan qiraah ialah perbedaan cara membaca lafaz-lafaz wahyu tersebut di dalam tulisan huruf-huruf yang menurut Jumhu>r cara itu adalah mutawa>tir. [5] Jadi, qiraah itu ialah cara membaca ayat-ayat al-Qura>n yang berupa wahyu Allah swt, dipilih oleh seorang imam ahli qiraah, berbeda dengan cara ulama lain, berdasarkan riwayat-riwayat mutawa>tir sandanya dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta cocok dengan bacaan terhadap tulisan al-Qura>n yang terdapat dalam salah satu mushaf U{sma>n. H. Sejarah Timbulnya Qiraah Periodesasi Qurra adalah sejak zaman sahabat sampai dengan masa tabiin. Orang-orang yang menguasai al-Quran ialah yang menerimanya dari orang-orang yang dipercaya dan dari imam demi imam yang akhirnrnya berasal dari nabi Muhammad saw. Sedangkan mushaf-mushaf tersebut tidak bertitik dan berbaris, dan bentuk kalimat di dalamnya mempunyai beberapa kemungkinan berbagai bacaan. Kalau tidak, maka kalimat itu harus ditulis dengan satu wajah yang lain. Kalangan sahabat sendiri berbeda-beda dalam pengambilannya dari nabi Muhammad saw. Sahabat nabi Muhammad saw terdiri dari beberapa golongan, tiap-tiap golongan mempunyai lahjah (bunyi suara atau sebutan) yang berlainan satu sama lainnya. Manakala mereka menyebut pembacaan atau membunyikan dengan lahjah yang tidak mereka biasakan, suatu hal yang menyukarkan. Maka untuk mewujudkan kemudahan, Allah yang Maha Bijaksana menurunkan alQuran dengan lahjah-lahjah yang biasa dipakai oleh golongan Quraish dan oleh golongangolongan yang lain di tanah Arab. Oleh karena demikian, jadilah bagi al-Quran beberapa rupa (macam) bunyi lahjah. [6] Diantara para sahabat yang terkenal mengajartkan qiraat ialah Ubai, Ali>, Zaid bin S{a>bit, ibn Masu>d, Abu> Mu>sa> al-Ashari> dan lain-lain. Segolongan sahabat mempelajari qiraat dari Ubai, diantarnya Abu> Hurairah, Ibn Abba>s, dan Abdullah bin Saib. Ibnu Abba>s

juga belajar pada Zaid. Dari mereka itulah sebagian besar sahabat dan tabiin di berbagai Negara belajar qiraat. Mereka itu semuanya bersandar kepada nabi Muhammad saw sampai dengan datangnya masa tabiin pada permulaan abad ke-2 H.[7] kemudian kepada para sahabat itulah sebagian besar tabiin di setiap negeri mempelajari qiraat. Diantara para tabiin tersebut ada yang tinggal di Madinah yaitu ibnu Musayyab, U{rwah, Sali>m, Umar bin Abdul Azi>z, Sulaima>n dan Aja keduanya putra Yasar, Mua>z{ bin H{a>ris} yang terkenal dengan Mua>z{ al-Qa>ri, Abdurrah{man bin Hurmuz alAraj, Ibn Shiha>b al-Zuhri>, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam. Yang tinggal di Makkah adalah: Uba>d bin Umar, Ata> bin Abu> Raba>h, T}a>wus, Muja>hid, Ikri>mah dan ibn Abu> Mali>kah. Tabiin yang tinggal di Kufah ialah : Alqamah, al-Aswad, Mashru>q, Ubaidah, Amr bin Syurahbil, al-H{a>ris bin Qais, Amr bin Maimu>n, Abu> Abdurrahman alSulami, Said bin Ja>bir, al-Naha>i, dan al-Shabi. Adapun yang tinggal di Basrah ialah Abu> Aliyah, Abu> Raja>, Nasr bin A<s{im, Yahya bin Yamar, al-H{asan, Ibn Si>rin dan Qatadah, Sedang yang tinggal di Syam ialah al-Mughi>rah bin Abu> Shiha>b al-Mahzu>mi> dan khalifah bin Saad sahabat Abu> Darda. Tidak diragukan lagi bahwa penguasaan tentang riwayat dan penerimaan merupakan pedoman dasar dalam bab Qiraah dan al-Qura>n. Ketika mengirim al-Qura>n adatau mushaf-mushaf keseluruh penjuru kota, khlifah Usma>n r.a mengirimkan pula para sahabat yang memiliki cara membaca tersendiri dengan masing-masing mushaf yang diturunkan setelah para sahabat berpencar keseluruh daerah dengan bacaan yang dibawa oleh para sahabat tersebut. Dengan demikian, beraneka ragamlah pengambilan para tabiain. Sehingga masalah ini bisa menimbulkan imam-imam Qari yang mashur yang berkecimpung di dalamnya, dan mencurahkan segalanya untuk qiraat dengan memberi tanda-tanda seta menyebarluaskannya. Itulah sejarah singkat timbulnya qiraah dan macam-macamnya. I. Macam-macam Qira>at Qira>at ada macam-macam jenisnya. pendapat tentang qira>at itu sendiri juga sangatlah beragam dan semua pendapat tersebut sangatlah berbobot seperti yang tertera di bawah ini. Pengarang kitab al-Itqa>n menyebutkan macam-macam qira>at itu ada yang Mutawa>tir, Mashhu>r, Shadh, Ah{ad, Maud{u dan Mudarraj.[8] Sedangkan Qad{i> Jala>l al-Di>n al-Bulqi>ni mengatakan: Qira>at itu terbagi ke dalam: Mutawa>tir, Ah{ad dan Shadh. [9] Yang mutawatir adalah qiraat tujuh yang mashur. Yang ahad adalah qira>at tsala>thah (tiga) yang menjadi pelengkap qiraah ashrah (sepuluh), yang kesemuanya dipersamakan dengan

qiraat para sahabat. Adapun qiraat yang shadh ialah qiraat para tabiin seperti qiraat Amasy, Yah{ya ibnu Wathab, Ibnu Jubair dan lain-lain. Imam as-Suyut}i mengatakan bahwa kata-kata di atas perlu ditinjau kembali. Yang pantas untuk berbicara dalam bidang ini adalah tokoh qurra pada masanya yang bernama Shaikh Abu> alKhair ibnu al-Jazari dimana beliau mengatakan dalam muqaddimah kitabnya al-Nashr: Semua qiraat yang sesuai dengan bacaan Arab walau hanya satu segi saja dan sesuai dengan salah satu mushhaf Usmani walaupun hanya sekedar mendekati serta sanadnya benar maka qiraat tersebut adalah s{ah{ih} (benar), yang tidak ditolak dan haram menentangnya, bahkan itu termasuk dalam bagian huruf yang tujuh dimana al-Qura>n diturunkan. Wajib bagi semua orang untuk menerimanya baik timbulnya dari imam yang tujuh maupun dari yang sepuluh atau lainnya yang bisa diterima. Apabila salah satu persyaratan yang tiga tersebut di atas tidak terpenuhi maka qiraat itu dikatakan qiraat yang syadz atau batil, baik datangnya dari aliran yang tujuh maupun dari tokoh yang lebih ternama lagi. Inilah pendapat yang benar menurut para muhaqqiq dari kalangan salaf maupun khalaf. Adapun tujuh Qa>ri yang mashur adalah :[10] 1. Ibnu Amir Nama lengkapnya adalah Abdullah al-Yahsubi seorang qadhi di Damaskus pada masa pemerintahan Walid ibnu Abdu al-Mali>k. Pannggilannya adalah Abu> Imra>n. Dia adalah seorang tabiin, belajar qiraat dari al-Mughi>rah ibnu Abi> Shiha>b al-Mahzu>mi dari Us{ma>n bin Affa>n dari Rasulullah saw. Beliau Wafat di Damaskus pada tahun 118 H. Orang yang menjadi murid, dalam qiraatnya adalah Hisha>m dan Ibnu Dhakwa>n. Dalam hal ini pengarang al-Sha>t{i>bi> mengatakan: Damaskus tempat tinggal Ibnu Amir, di sanalah tempat yang megah buat Abdullah. Hisham adalah sebagai penerus Abdullah. Dhakwa>n juga mengambil dari sanadnya. 2. Ibnu Kathr Nama lengkapnya adalah Abu> Muh{ammad Abdullah Ibnu Kathi>r al-Dari> al-Makki>, ia adalah imam dalam hal qiraat di Makkah, ia adalah seorang tabiin yang pernah hidup bersama shahabat Abdullah ibnu Jubair. Abu> Ayyu>b al-Ans{a>ri> dan Anas ibnu Ma>lik, dia wafat di Makkah pada tahun 120 H. Perawinya dan penerusnya adalah al-Ba>zi> wafat pada tahun 250 H. dan Qunbul wafat pada tahun 291 H.

Al-Sha>t{i>bi> mengemukakan: Makkah tempat tinggal Abdullah. Ibnu Kathi>r panggilan kaumnya. Ahmad al-Ba>zi> sebagai penerusnya. Juga.. Muh{ammad yang disebut Qumbul namanya. 3. As{i>m al-Ku>fi> Nama lengkapnya adalah As{i>m ibnu Abi> an-Nujud al-Asadi>. Disebut juga dengan Ibnu Bahdalah. Panggilannya adalah Abu> Bakar, ia adalah seorang tabiin yang wafat pada sekitar tahun 127-128 H di Kufah. Kedua Perawinya adalah; Shubah wafat pada tahun 193 H dan H}afs{ah wafat pada tahun 180 H. Kitab Sha>t{i>bi> dalam syairnya mengatakan: Di Kufah yang gemilang ada tiga orang. Keharuman mereka melebihi wangi-wangian dari cengkeh Abu> Bakar atau As{im ibnu Iyasi> panggilannya. Shuba perawi utamanya lagi terkenal pula si Hafs yang terkenal dengan ketelitiannya, itulah murid Ibnu Iya>si> atau Abu> Bakar yang diridhai. 4. Abu Amr Nama lengkapnya adalah Abu Amr Zabba>n ibnu al-Ala ibnu Amma>r al-Bas{hri>, seorang guru besar pada rawi. Disebut juga sebagai namanya dengan Yah{ya, menurut sebagian orang nama Abu> Amr itu nama panggilannya. Beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H. Kedua perawinya adalah alDu>ri> wafat pada tahun 246 H. dan al-Susi> wafat pada tahun 261 H. Al-Shatibi mengatakan: Imam Mazini> dipanggil orang-orang dengan nama Abu Amr al-Bas{ri>, ayahnya bernama Ala, Menurunkan ilmunya pada Yahya al-Yazi>di>. Namanya terkenal bagaikan sungai Evrat. Orang yang paling saleh diantara mereka, Abu> Shuaib atau al-Susi berguru padanya. 5. H}amzah al-Ku>fi> Nama lengkapnya adalah H{amzah Ibnu Habi>b Ibnu Ima>rah al-Zayya>t al-Fard{i> al-Thaimi> seorang bekas hamba Ikrimah ibnu Rabi at-Taimy, dipanggil dengan Ibnu Imarh, wafat di Hawan pada masa Khalifah Abu> Jafar al-Mans{u>r tahun 156 H. Kedua perawinya adalah Khalaf wafat tahun 229 H. Dan Khallad wafat tahun 220 H. dengan perantara Sali>m. Sha>tibi> mengemukakan: H}amzah sungguh Imam yang takwa, sabar dan tekun dengan AlQura>n, H{alaf dan Khallad perawinya, perantaraan Sali>m meriwayatkannya.

6. Imam Na>fi. Nama lengkapnya adalah Abu> Ruwaim Na>fi ibnu Abdurrahman ibnu Abi> Nai>m al-Laithi>, asalnya dari Isfahan. Dengan kemangkatan Na>fi berakhirlah kepemimpinan para qari di Madinah al-Munawwarah. Beliau wafat pada tahun 169 H. Perawinya adalah Qa>lu>n wafat pada tahun 12 H, dan Warasi> wafat pada tahun 197 H. Syaikh Sha>t{ibi> mengemukakan: Na>fi seorang yang mulia lagi harum namanya, memilih Madinah sebagai tempat tinggalnya. Qo>lu>n atau Isa dan Uthma>n alias Warasi>, sahabat mulia yang mengembangkannya. 7. Al-Kisa>iy Nama lengkapnya adalah Ali>> Ibnu H}amzah, seorang imam nahwu golongan Kufah. Dipanggil dengan nama Abu> al-Hasan, menurut sebagiam orang disebut dengan nama Kisa>iy karena memakai kisa pada waktu ihram. Beliau wafat di Ranbawiyyah ketika ia dalam perjalanan ke Khura>sa>n bersama ar-Rashi>d pada tahun 189 H. Perawinya adalah Abu> al-H{a>rits wafat pada tahun 424 H, dan al-Du>ri> wafat tahun 246 H. Sha>t{ibi> mengatakan: Adapun Ali panggilannya Kisa>iy, karena kisa pakaian ihramnya, Laith Abu> al-H}a>ris perawinya, Hafsah al-Du>ry hilang tuturnya. Sedangkan yang disebut Qiraah Ashrah adalah qiraah yang disandarkan kepada sepuluh orang ahli qiraah, yaitu tujuh orang yang tersebut dalam qiraah sabah ditambah dengan tiga orang lagi, yaitu: - Abu> Jafar Yazi>d Ibnu al-Qaqa al-Qa>ri (wafat 130 H.) di Madinah. - Abu> Muh{amamad Yaqub bin Isha>q al-Hadari (wafat 205 H.) di Basrah. - Abu> Muh}ammad Khalaf bin Hisha>m al-Amasyy (wafat 229 H.) Selain yang disebutkan di atas, juga ada dikenal dengan qiraat Arbaa Ashrata, yaitu qiraah yang disanadkan kepada 14 orang ahli qiraah yang mengajarkannya. 14 orang ahli qiraah tersebut ialah 10 orang ahli qiraah asrah ditambah empat orang ahli qiraah yang lain. Empat orang itu adalah sebagai berikut :

- H{asan al-Bas{ri> (wafat 110 H.) dari Basrah. - Ibnu Muhaish (wafat 123 H.) - Yahya Ibnu al-Muba>rok (wafat 202 H.) dari Baghdad. - Abu> al-Faraj Ibnu Ah}mad al-Sambuzi (wafat 388 H.)[11] J. Kesimpulan Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

A. 1. Maksud dari al-Ah}ruf al-Sabah masih diperdebatkan dikalangan para ulama, karena
tidak adanya nash yang sarih tentang makna sebenarnya al-Qura>n diturunkan dalam tujuh huruf.

2. Dari lima pendapat tentang maksud tujuh huruf, yang paling dekat kebenarannya adalah
pendapat keempat.

3. Perbedaan-perbedaan dialek (lahjah) itu membawa konsekuensi lahirnya bermacammacam bacaan (qiraah) dalam melafalkan al-Qura>n. Dengan melihat beragamnya dialek, sebenarnya bersifat alami (natural), artinya tidak dapat dihindari lagi. Oleh karena itu, Rasulullah saw. sendiri membenarkan pelafalan al-Qura>n dengan berbagai macammacam qiraat.

4. Qiraah Sabah adalah Qiraat yang dinisbatkan kepada imam yang tujuh dan masyhur. 5. Tujuh imam yang masyhur adalah : Na>fi>`, Ibnu Kathi>r, Abu> Amr, Ibnu Amir,
As{im, H}amzah dan Kisa`i.

[1] Manna [2] Ibnu

al-Qattan, Maba>hith fi> Ulu>m al-Qura>n. 169

Mandur, Lisan al-Arab, (Beirut: Dar Sadir,tt). CD.Mausuah al-Mafahim. Abdul Adhim al-Zarqani, Manahil al-Irfan, juz. 1. 489.

[3] Muhammad [4] Ibid.

[5] Abdul

Jalal H.A., Ulumul Quran, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998). 328

[6]

Hasbi Ash-Siddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang,

1990). 76.
[7] Manna [8] Jala>l [9] Ibid.

al-Qattan, Maba>hith fi> Ulu>m al-Qura>n. 170.

al-Di>n al-Suyut{i>, al-Itqa>n fi Ulu>m al-Qura>n, juz. 1. 75

[10]

Manna> al-Qatt{a>n, Maba>hith fi> Ulu>m al-Qura>n. 180-185. Lihat juga,

Muhammad Abdul Az{i>m al-Zarqa>ni>, Mana>hil al-Irfa>n, juz. 1., 535-544.


[11] Ibid.