Anda di halaman 1dari 16

IPBA Atmosfir

Oleh : Komang suardika. (0913021034)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Udara sangat penting bagi kehidupan semua makhluk. Tanpa adanya udara, kita tidak akan bisa hidup. Kita membutuhkan oksigen untuk bernafas, dimana oksigen yang manusia hirup setiap saat berada dalam atmosfer. Pemanasan global adalah salah satu permasalahan tentang atmosfer yang merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup di bumi ini. Pemanasan global adalah fenomena naiknya suhu permukaan bumi karena meningkatnya efek rumah kaca atau meningkatnya kandungan CO2 di atmosfer. Pemanasan global atau Global Warming saat ini menjadi isu internasional. Isu tersebut timbul karena pemanasan global mempunyai dampak yang sangat besar bagi dunia dan kehidupan makhluk hidup, yaitu perubahan iklim dunia. Pengaruh terbesar bagi manusia dan kehidupan yang lain berasal dari lapisan atmosfer, karena pada lapisan inilah cuaca selalu berubah. Cuaca seperti kita ketahui banyak memiliki pengaruh terhadap kehidupan makhluk hidup, apabila cuaca berubah-ubah, inilah yang merugikan makhluk hidup. Banyak hal yang mungkin bisa terjadi karena perubahan cuaca ini. Perubahan cuaca yang tak menentu menyebabkan kesehatan, pekerjaan dan kegiatan lainnya secara tidak langsung akan terganggu. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk yang tinggal di bumi, sepatutnya menjaga bumi yang kita cintai ini agar nantinya kehidupan makhluk hidup yang berada di bumi tidak terganggu. Berdasarkan konsep-konsep tersebut, Penulis menyusun makalah ini dan menyajikan materi tentang Atmosfer. Penulis berharap dengan makalah ini, nantinya kita lebih memahami dan mengerti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Atmosfer sehingga dapat membantu kita untuk mengatasi permasalahan yang melanda dunia secara global, termasuk mencegah hal-hal yang akan merusak kehidupan di bumi ini.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut. 1.2.1 Bagaimanakah tinjauan lapisan Atmosfer Bumi ? 1.2.2 Bagaimanakah tinjauan cuaca secara umum? 1.2.3 Bagaimanakah tinjauan angin secara umum? 1.2.4 Bagaimana proses pembentukan awan? 1.3 Tujuan Penulisan Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1.3.1 Untuk menjelaskan tinjauan lapisan Atmosfer Bumi. 1.3.2 Untuk menjelaskan tinjauan cuaca secara umum. 1.3.3 Untuk menjelaskan tinjauan angin secara umum. 1.3.4 Untuk menjelaskan pembentukan awan 1.4 Manfaat Penulisan Dari penulisan makalah ini, Penulis harapkan kita dapat mengerti dan memahami hal-hal yang terkait dengan atmosfer bumi dan cuaca serta angin secara umum sehingga dapat mencegah hal-hal negative yang akan mengganggu lapisan Atmosfer Bumi.

BAB II PEMBAHASAN

Atmosfer adalah lapisan udara yang menyelimuti bumi. Udara merupakan benda gas yang terdiri dari berbagai macam gas, debu, uap air dan partikel kecil lainnya. Atmosfer ini akan melindungi bumi dari radiasi matahari yang berlebihan dan hantaman meteor (batu-batuan) yang berasal dari ruang angkasa. selain itu, atmosfer medium bagi awan, disebabkan kedudukan bumi 23,5o miring terhadap bidang edarnya sehingga terjadi pola cuaca yang tidak sama di tiap belahan bumi ini sepanjang tahun. Gerakan udara pada atmosfer terkadang juga menimbulkan malapetaka seperti badai yang banyak melanda daerah dipermukaan bumi ini. Karena pengaruh atmosfer ini akhirnya berkembang ilmu-ilmu seperti klimatologi, meteorology dan geofisika. Atmosfer terdiri dari lapisan-lapisan gas yang hingga ketinggian 80 km komposisi gas di atmosfer dapat dikatakan seragam. Dalam keadaan kering susunan udara itu secara garis besar disajikan pada tabel 1 : Tabel 1 Gas-gas dalam udara kering Banyak (%) 78,00 21,00 0,936 0,03 Tidak menentu

Gas Nitrogen Oksigen Gas mulia Karbondioksida

Uap air dan debu

Gas nitrogen (N2) sangat penting untuk tumbuh-tumbuhan karena gas nitrogen merupakan bahan utama penyubur tanah. Gas oksigen (O2) merupakan gas yang diperlukan untuk pembakaran makanan dalam tubuh makhluk hidup. Makhluk hidup dapat memperoleh oksigen melalui proses pernapasan (respirasi). Karbondioksida (CO2) merupakan gas hasil pernapasan. Gas ini sangat diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis. Dalam udara, karbondioksida berfungsi sebagai penyimpan panas yang dipancarkan oleh bumi. Jika di atas permukaan bumi tidak ada karbondioksida, bumi akan menjadi sangat dingin. Namun, jika terlalu banyak karbondioksida, permukaan bumi menjadi sangat panas. Gas mulia dapat berupa Argon (Ar), Krypton (Kr), Neon (Ne), atau Xenon (Xe) merupakan gas-gas yang sulit bereaksi
4

dengan unsur-unsur lain. Neon dan argon banyak digunakan untuk mengisi bohlam (lampu pijar). Gas lain dapat berupa helium, hidrogen dan ozon. Helium (He) dan Hidrogen (H2) merupakan gas yang sangat ringan. Oleh karena itu, dalam atmosfer letaknya di lapisan bagian atas. Gas-gas tersebut sering digunakan sebagai pengisi balon. Makin tinggi lapisan udara presentase zat yang ringan seperti H2 ain besar sedangkan zat yang berat seperti N2, O2 dan Ar relatif makin berkurang (lihat tabel 2). Tinggi Zat Zat Lemas Zat pembakar Argon Zat air Jumlah 15 79,5 19,7 0,8 0 100,0 20 81,2 18,3 0,5 0 100,0 40 86,5 12,6 0,2 0,7 100,0 100 3,0 0 0 97,0 100,0

Beberapa jenis gas yang berada diatmosfer akan berubah-ubah tergantung pada proses yang terjadi di bumi, atmosfer dan matahari. Uap air, karbondioksida dan ozone merupakan gas-gas yan jumlahnya berubah wujud menjadi air (cair) ataupun padat (es) Uap air dapat berubah wujud menjadi air (cair) ataupun padat (es) Karbon dioksida, dapat menjadi inti kondensasi, efekk rumah kaca dan meningkatkan suhu atmosfer Ozone (O3) adalah gas yang dapat menyerap sinar ultraviolet yang berada pada ketinggian 20-30 km dari permukaan bumi. Sinar ulatraviolet adalah sinar yang mempunyai efek kimia yang tinggi yang dapat membahayakan makhluk hidup terutama manusia. Selain itu debu, asap dan butir-butir garam dari penguapan air laut juga akan berubahubah. Partikel debu yang bersifat higroskopis dapat bertindak menjadi inti kondensasi membentuk lapisan tebal dan gelap yang dapat mengganggu lalu lintas dan menghalangi sinar matahari untuk masuk. Debu juga dapat menghamburkan radiasi yang datang dari matahari. memantulkan, menyerap dan

Lapisan-lapisan atmosfer dapat dibedakan berdasarkan atas perubahan temperature terhadap ketinggian, seperti yang dilukiskan pada gambar 1.

Lapisan-lapisan atmosfer adalah : 1. Troposfer, adalah lapisan udara yangmasih memungkinkan manusia untuk berhubungan secara akrab, karena dengan udara inilah kita dapat bernapas dan dalam udara ini pula cuaca dan iklim berbeda. Troposfer merupakan bagian atmosfer terdapat dengan ketebalan rata-rata 0 hingga 10 km dan suhu rata-rata sekitar -50oC. Penurunan suhu disebabkan troposfer sangat sedikit menyerap gelombang pendek dan tanah banyak menyerap radiasi matahari. Pada lapisan troposfer lebih banyak terdapat uap air dan karbon dioksida dibandingkan lapisan-lapisan lain, dimana kedua gas ini dapat mengukur keseimbangan panas di bumi, terutama terhadap radiasi sinar inframerah. Karbon dioksida dan uap air dapat menghalangi sinar inframerah yang diradiasikan kembali dari tanah yang terkena sinar panas matahari. 2. Tropopause, laipasan ini merupakan penyekat atau pembatas dengan lapisan stratosfer. Lapisan ini sangat dingin (-40oC di daerahh kutub dan -80oC di daerah
6

katulistiwa/ekuator) dan suhunya tetap. Ketebalan lapisan ini 6 km di daerah kutub dan 18 km di daerah katulistiwa. 3. Stratosfer, terletak pada ketinggian 16-49 km. Suhunya makin tinggi sesuai dengan pertamabahan tingginya. Kepadatan lapisan atmosfer kurang padat dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Lapisan udara ini terdiri dari gas-gas yang terdapat pada trofosfer, kecuali uap air yang jumlahnya lebih sedikit. Lapisan yang mengandung butir-butir sulfat tertentu mengjin membentuk hujan, dan yang mengandung ozone (O3) akan melindungi dari radiasi matahari terutama sinar ultraviolet, sehingga kadar ultra violet yang sampai dipertemukan bumi aman bagi manusia. 4. Stratopause, terletak di atas stratosfer di bawah mesosfer pada ketinggian 60 km. Temperaturnya berorde 0oC dan mempunyai temperature diskontunuitas. 5. Mesosfer, berada pada ketinggian sekitar 60 hingga 85 km. Pada lapisan mesosfer karbon dioksida dan uap air kurang begitu penting, kepadatan gas-gas yang lain juga sudah agak berkurang. Mesosfer mempunyai suatu lapisan ion atau udara yang memunyai muatan listrik yang disebut lapisan D, hal ini disebabkan oleh adanya sinar ultraviolet pada molekul-molekul udara bertemu dengan elektron atau muatan negatif. Penurunan temperatur rata-rata 0,4oC setiap 100 m yang disebabkan terjadinya kesetimbangan radiasi negatif. Lapisan ini merupakan tempat dimana meteor terbakar karena peristiwa panas mekanik (gesekan) dengan udara. 6. Mesopause, merupakan lapisan yang membatasi mesosfir dengan suhu rendah -100oC dengan termosfer. Lapisan ini berada pada ketinggian sekitar 85 km. 7. Termosfer, lapisan 85 km sampai 200 atau 300 km. Lapisan ini ditandai dengan kenaikan suhu yang ekstrim dari 100oC sampai ribuan derajat Celcius. Kepadatan termosfer sangat rendah, kurang dari seperempat juta kepadatan udara pada permukaan bumi. Namun, walaupun tipis, udara di termosfer cukup padat untuk membakar meteor yang sedang malaju turun pada ketinggian 300 km. Hampir semua atom gas pada lapisan termosfer mengandung muatan listrik oleh radiasi matahari dll. 8. Termopause,lapisan yang paling tinggi di atmosfer berkisar pada ketinggian 200 km atau 300 km sampai dengan 1000 km. Lapisan ini mempunyai suhu relatif konstan dnegan perbedaan yang terjadi karena adanya perbedaan siang dan malam. Amplitudo harian pada siang hari 1000-2000K dan malam hari 600-1500K.
7

1.

Cuaca

Pengertian Cuaca Dalam atmosfer terdapat beberapa gejala alam seperti hujan, angin, petir serta beberapa parameter seperti suhu, kelembaman dan tekanan udara. Parameter tersebut selalu berubah dan kombinasinya menentukan kondisi udara pada saat disuatu tempat yang dinamakan Cuaca. Cuaca ini terjadi di lapisan trofosfer yaitu lapisan atmosfer yang paling tipis dan paling rendah.

1.1 Unsur Cuaca Unsur udara yang utama terdiri dari lima, yaitu suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara, angin dan curah hujan. Disamping itu ada unsure cuaca seperti intensitas penyinaran matahari, keadaan awan dan petir. Kadang-kadangn ada gejala alam yang berhubungan dengan cuaca seperti pelangi. 1. Suhu Udara Udara akan menjadi panas karena ada penyinaran matahari. Suhu di permukaan matahari tercata 60000 C. karena jarak antara matahari dan bumi cukup jauh, maka kita dapat menikmati matahri itu tanpa ada akibat yang membahayakan. Panas yang dipancarkan matahari pertama kali akan diterima permukaan bumi. Melalui persentuhan antara bumi dan udara, maka lapisan atmosfer yang paling bawah pertama kali mendapat panas dari permukaan bumi. Panas ini dirambatkan secara berangsur dari lapisan atnosfer paling bawah ke paling atasnya. Akan tetapi lapisan yang sangat tinggi, udara menjadi lebih panas lagi karena pancaran langsung dari matahari tanpa halangan atau dari atmosfer yang telah tipis. Tingkat penerimaan panas oleh bumi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah sebagai berikut (Sarjani, 2009). a. Sudut datang sinar matahari, yaitu sudut yang dibentuk oleh permukaan bumi dengan arah datangnya sinar matahari. Makin kecil sudut datang sinar matahari, semakin sedikit panas yang diterima oleh bumi dibandingkan sudut yang datangnya tegak lurus. b. Lama waktu penyinaran matahari, makin lama matahari bersinar, semakin banyak panas yang diterima bumi. c. Keadaan muka bumi (daratan dan lautan), daratan cepat menerima panas dan cepat pula melepaskannya, sedangkan sifat lautan kebalikan dari sifat daratan.

d. Banyak sedikitnya awan, ketebalan awan mempengaruhi panas yang diterima bumi. Makin banyak atau makin tebal awan, semakin sedikit panas yang diterima bumi. Adanya awan akan menghalangi pancaran matahari. Kemampuan menyerap awan menyerap panas matahari 5 hingga 20 % dari pancaran sinar matahari yang melewatinya (lihat pada gambar 2).

Keadaan permukaan bumi seperti perbedaan warna batuan, daratan dan lautan akan mempengaruhi penerimaan panas matahari. Batuan berwarna cerah lebih cepat menerima dan melepaskan panas dari pada batuan gelap. Permukaan darat lebih cepat menerima dan melepaskan panas dari pada permukaan laut.

2. Tekanan Udara Karena udara memiliki massa dan udara dipengaruhi oleh gravitasi bumi, maka udara memiliki gaya berat. Akibatnya udara mempunyai tekanan. Alat ukur tekanan udara adalah barometer dan satuan yang digunakan adalah atmosfer, milibar dan mm Hg ( 1 atmosfer = 760 mm Hg = 1013 milibar, 1 milibar = mm Hg. Tekanan udara luar dipengaruhi oleh ketinggian dan suhu. Makin tinggi letak udara makin berkurang tekanannya dan makin tinggi suhu makin kecil tekanannya. Adanya perbedaan tekanan antara dua daerah akan menyebabkan timbulnya angin

3. Kelembaban Udara Kelembaban udara menyatakan kandungan uap air di dalam udara yang dipengaruhi oleh penguapan dan suhu udara. Kemampuan udara memegang uap air yang berbeda-beda seperti terlihat pada table 2 berikut ini. Tabel 2 Jumlah kandungan uap air maksimum pada berbagai ketinggian suhu udara Suhu udara (0C) Jumlah maksimum uap air ( gr/m3) -20 1,1 -10 2,4 0 4,9 10 9,4 20 17,3 30 30,4

Table 2 diatas dapat menjelaskan hubungan antara penurunan suhu udara dengan kemungkinan hujan turun. Misalkan pada suhu 300 C udara mengandung 25 gram uap air per m3. Kondisi ini tidak akan menyebabkan hujan turun. Bila suhu udara turun hingga mencapai 20 0 C, kandungan uap air telah melebihi batas maksimum, berarti udara sudah jenuh uap air. Pada saat suhu sudah mencapai batas maksimum, pengembunan mulai terjadi. Mula-mula berbentuk kabut, lalu turun hujan. Ada dua jenis kelembaban udara yaitu : Kelembaban mutlak (absolute) adalah kelembaban yang didasarkan pada jumlah gram uap air pada suatu tempat pada suatu setiap volume 1 m3 . Kelembaban nisbi (relative) adalah kelembaban yang didasarkan pada jumlah gram uap air pada saat itu dibandingkan dengan jumlah gram uap air maksimum pada suhu tersebut kali 100 %. Udara dinyatakan jenuh uap air bila kelembabannya relatifnya 100 %. Dalam kondisi ini udara tidak mampu lagi mempertahankan air dalam bentuk uap. Uap airpun mulai mengembun menjadi bintik-bintik air yang halus melayang di udara, itulah awan atau embun. Jika butir-butir itu bertambah besar sehingga tidak dapat melayang lagi, turunlah ia sebagai hujan

10

3. AWAN Seperti telah dibahas sebelumnya awan merupakan kumpulan uap air di udara dalam keadaan jenuh, dalam bentuk zat cair atau kristal dan padat yang karena penurunan suhu terjadi peristiwa pengembunan dan sublimasi. Peranan awan sangat besar sebagai salah satu unsure cuaca. Bermacam-macam bentuk awan dapat kita lihat, ada yang bergumpal dalam ukuran besar sampai beriak kecil yang dinamakan awan cumulus dan ada pula awan yang berbentuk tabir yang berlapis-lapis rata menutupi bagian langit yang luas yang dinamakan awan stratus. Kadangkadang tampak awan tinggi yang berbentuk garis-garis dinamakan awan cirrus. Awan cumulus dibentuk oleh udara yang naik dan membawa cukup uap air sampai pada titik kondensasi atau melampauinya, cirri awan ini adalah bergumpal-gumpal dan dasarnya horizontal. Awan stratus bersifat tipis, merata pada daerah luas dan terbentuk pada daerah lapisan inverse. Bila lapisan ini naik sampai pada titik kondensasi maka akan terbentuk awan stratus. Awan cirrus terjadi di atmosfer yang tinggi, bersifat sangat tipis seperti bulu ayam dengan garis tipis yang berserat. Awan ini terbentuk dari kristal es disebabkan karena keberadaannya yaitu pada daerah atmosfer yang tinggi. Awan ini sering menutupi daerah yang sangat luas sehingga matahari terhalang oleh kelambu putih, awan ini tidak mengakibatkan turunnya hujan. Berdasarkan ketinggiannya dari tanah awan dapat diklasifikasikan menjadi : 1. Awan rendah dibawah 200 m Strato Cumulus (St-Cu), awan tebal luas dan bergumpal-gumpal. Stratus (St), awan merata rendah dan berlapis-lapis, dan Nimbo Stratus (Ni-St), lapisan awan yang luas sebagian telah hujan.

2. Awan tengah (sedang) 2000-6000 m Alto Cumulus (A-Cu), awan tebal bergumpal-gumpal Alto Stratus (A-St), awan berlapis-lapis tebal.

3. Awan tinggi (6000-9000 m) awan ini terdiri dari kristal-kristal es Cirrus (Ci) awan tipis seperti bulu burung.
11

Cirro Stratus (Ci-St), dan Cirro Cumulus (Ci-Cu) sebagai kelompok biri-biri atau sisik ikan.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai bentuk lain dari awan yang disebut dengan kabut. Kabut dapat melayang-layang diatas permukaan laut atau pulau.

4. HUJAN

Secara umum dapat dikatakan hujan adalah zat cair atau air membeku yang jatuh dari atmosfer. Turunnya hujan dimulai dari uap air yang mengalami penurunan suhu sampai titik embun atau titik beku. Proses pengembunan (kondensasi) uap air pada umumnya terjadi apabila massa udara yang banyak mengandung uap air naik ke lapisan yang lebih tinggi. Pengembunan itu dilakukan oleh inti kondensasi yang terjadi dari partikel zat padat yang berterbangan di atmosfer. Penaikan massa udara itu disebabkan menjadi ringan atau karena terdesak naik pada lereng pegunungan. Apabila suhu udara turun sampai titik kondensasi uap air dalam udara akan menjadi titiktitik air yang bergaris tengah antara 0,004-0,008 mm, seperti yang terdapat dalam awan. Apabila butir-butir itu bergabung menjadi lebih besar, maka akan turun kepermukaan bumi sebagai hujan. Titik-titik air hujan pada umumnya berjari-jari 0,3-3 mm dan pada hujan rintik-rintik berjari-jari antara 0,04-0,3 mm. Selain hujan yang berupa cair ada pula hujan yang berupa padat salju dan hujan es. Hujan salju terjadi apabila uap air berlangsung menjadi padat membentuk halur apabila suhunya -150C sampai -200C. Proses itu disebut sublimasi, agar uap bersublimasi diudara harus ada inti sublimasi. Adapun hujan es terjadi karena butir air hujan di lapisan yang tinggi mengalami penurunan suhu yang tiba-tiba dan sangat rendah. Curah hujan di khatulistiwa pada umumnya lebih tinggi daripada didaerah yang lain di permukaan bumi. Hal ini berhubungan erat dengan intensitas penyinaran matahari yang berpengaruh terhadap penguapan dan drajat kelembapan udara.

12

5. Iklim Iklim adalah rata-rata dari keadaan udara selama waktu yang panjang. Perbedaanya yang nyata dengan cuaca terletak pada waktu dan tempat atau luas daerah. Baik iklim ataupun cuaca memiliki indicator atau petunjuk yang sama yaitu tekanan udara, kelembaban udara, dan pengendapan air di udara. Unsur-unsur iklim adalah unsur-unsur cuaca yang telah dirata-ratakan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu unsur iklim bersifat stabil, tidak seperti unsur cuaca yang selalu berubah. Perubahan iklim berlangsung dalam waktu yang lama dan meliputi areal yang sangat luas bahkan seluruh permukaan bumi. Berdasarkan fakrot-faktor pembentuk iklim seperti suhu, udara, hujan, dll, dikenal beberapa macam klasifikasi a. Klasifikasi iklim berdasarkan letak lintang, maka iklim dapat dibedakan atas: 1) Iklim tropic, 2) Iklim sedang, dan 3) Iklim kutub.

b. Klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan, maka iklim dapat dibedakan atas: 1) Zone katulistiwa basah, curah hujan rata-rata tahunan diatas 2000 mm terutama dari hujan konveksi, 2) Zone pantai timur daerah tropic, curah hujan rata-rata (1500-2000) mm terutama dari hujan pegunungan dan tiupan angin pasat,

13

3) Zone gurun tropic, curah hujan rata-rata kurang dari 250 mm, bahkan kurang dari 50 mm berasal dari hujan konveksi yang sangat tidak teratur, 4) Zone gurun dan stepa lintang tengah, curah hujan rata-rata kurang dari 500 mm, bahkan kurang dari 100 mm, karena letaknya pada banyangan hujan tiupan angin barat, 5) Zone subtropik lembab, curah hujan rata-rata (1.000-1.500) mm berasal dari hujan yang dibawa siklon tropic, 6) Zone pantai barat lintang tengah, curah hujan rata-rata diatas 2.000 mm dari hujan pegunungan yang berasal dari angin barat, dan 7) Zone artik dan gurun kutub, curah hujan rata-rata di bawah 30 mm.

c. Klasifikasi iklim menurut W.Koppen terdiri atas: 1) Iklim A (iklim hujan tropik). Suhu rata-rata bulanan di atas 180 C, tidak mempunyai musim dingin dan curah hujan tinggi, curah hujan lebih tinggi daripada penguapan, 2) Iklim B (iklim kering). Penguapan lebih besar daripada curah hujan rata-rata sepanjang tahun. Tidak terdapat kelebihan air, sehingga tidak ada aliran sungai yang permanen, 3) Iklim C (iklim sejuk, lembab-mesotermal). Suhu rata-rata bulan terdingin di bawah 180 C, tetapi diatas -30C, 4) Iklim D (iklim hutan salju-mikrotermal). Suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari -30C, bulan terpanas lebih dari 100C, 5) Iklim E (iklim kutub). Suhu rata-rata bulan terpanas di bawah 100C, iklim ini tidak mempunyai musim panas sebenarnya.

14

Tabel Musim

Bagi daerah katulistiwa terjadi 2 kali perubahan musim yakni musim penghujan dan musim kemarau. Sedangkan bagi daerah di sebelah utara dan selatan daerah katulistiwa di bagi menjadi 4 musim dalam satu tahun Tanggal 21 Maret - 21 Juni 21 Juni 23 September 23 September 22 Desember 22 Desember 21 Maret Belahan Bumi Utara Musim Bunga Musim Panas Musim Gugur Musim Dingin Belahan Bumi Selatan Musim Gugur Musim Dingin Musim Bunga Musim Panas

DAFTAR PUSTAKA Pujani, Ni Made.2004. Struktur Bumi(sifat dan keadaan fisis bumi). Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri Singaraja

15

16