Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aliran Fluida Fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir, bisa berupa cairan atau gas. Fluida mengubah bentuknya dengan mudah dan pada gas, fluida mempunyai volume yang sama dengan volume ruang yang membatasi gas tersebut. Pemakaian mekanika kepada medium kontinyu, baik benda padat maupun fluida adalah didasari pada hukum gerak newton yang digabungkan dengan hukum gaya yang sesuai. Salah satu cara untuk menjelaskan gerak suatu fluida adalah dengan membagibagi fluida tersebut menjadi elemen volume yang sangat kecil yang dapat dinamakan partikel fluida dan mengikuti gerak masing-masing partikel ini. Konsep aliran fluida yang berkaitan dengan aliran fluida dalam pipa adalah : 1. Hukum kekekalan massa 2. Hukum kekekalan energi 3. Hukum kekekalan momentum 4. Katup 5. Orificemeter 6. Arcameter (rotarimeter) (Madang, 2011). 2.2 Pengukuran Aliran Pengukuran aliran adalah untuk mengukur kapasitas aliran, massa laju aliran, volume aliran. Pemilihan alat ukur aliran tergantung pada ketelitian, kemampuan pengukuran, harga, kemudahan pembacaan, kesederhanaan dan keawetan alat ukur tersebut. Dalam pengukuran fluida termasuk penentuan tekanan, kecepatan, debit, gradien kecepatan, turbulensi dan viskositas. Terdapat banyak cara melaksanakan pengukuran-pengukuran, misalnya : langsung, tak langsung, gravimetrik, volumetrik, elektronik, elektromagnetik dan optik. Pengukuran debit secara langsung terdiri dari atas penentuan volume atau berat fluida yang melalui suatu penampang dalam suatu selang waktu tertentu. Metoda tak langsung bagi pengukuran debit memerlukan

penentuan tinggi tekanan, perbedaan tekanan atau kecepatan dibeberapa dititik pada suatu penampang dan dengan besaran perhitungan debit. Metode pengukuran aliran yang paling teliti adalah penentuan gravimerik atau penentuan volumetrik dengan berat atau volume diukur atau penentuan dengan mempergunakan tangki yang dikalibrasikan untuk selang waktu yang diukur. Pada prinsipnya besar aliran fluida dapat diukur melalui : 1. Kecepatan (velocity) 2. Luas bidang yang dilaluinya 3. Volumenya (Ferdinan, 2007). 2.3 Pola Aliran Laminar berasal dari bahasa latin thin plate yang berarti plate tipis atau aliran

sangat halus. Pada aliran laminar, gaya viscous (gesek) yang relatif besar mempengaruhi kecepatan aliran sehingga semakin mendekati dinding pipa, semakin rendah kecepatannya. Secara teori, aliran ini berbentuk parabola dengan bagian tengah mempunyai kecepatan paling pinggir mempunyai kecepatan paling rendah akibat adanya gaya gesekan. Pada aliran turbulen, gaya momentum aliran lebih besar dibandingkan gaya gesekan dan pengaruh dari dinding pipa menjadi kecil. Karenanya aliran turbulen memberikan profil kecepatan yang lebih seragam dibandingkan aliran laminar, walaupun pada lapisan fluida dekat dinding pipa tetap laminar. Profil kecepatan pada daerah transisi antara laminar dan turbulen dapat tidak stabil dan sulit untuk diperkirakan karena aliran dapat menunjukkan sifat dari daerah aliran laminar maupun turbulen atau osilasi antara keduanya. Pada beberapa tempat, aliran turbulen dibutuhkan untuk pencampuran zat cair (Divo, 2008).

Laminar Gambar 2.1 Pola Aliran Turbulen dan Laminar (Divo, 2008)

Dalam menganalisa aliran, sangatlah penting untuk mengetahui tipe aliran yang mengalir dalam pipa tersebut. Untuk itu harus dihitung besarnya bilangan Reynold dengan mengetahui parameter-parameter yang diketahui besarnya. Besarnya Reynold (NRe), dapat dihitung dengan menggunakan persamaan : NRe = Dimana : NRe = bilangan Reynold D v = diameter (m) = massa jenis fluida (kg/m3) = viskositas fluida (Pa.s) = kecepatan rata-rata fluida (m/s) (Gultom, 2011)

Aliran akan laminar jika bilangan Reynold kurang dari 2000 dan akan turbulen jika bilangan Reynold lebih besar dari 4000. Jika bilangan Reynold terletak antara 2000 4000 maka disebut aliran transisi (Gultom, 2011). 2.4 Persamaan Kontinuitas Gerak fluida di dalam suatu tabung aliran haruslah sejajar dengan dinding tabung. Meskipun besar kecepatan fluida dapat berbeda dari suatu titik ke titik lain di dalam tabung. Pada gambar 2.2 menunjukkan tabung aliran untuk membuktikan persamaan kontinuitas.

Gambar 2.2 Tabung Aliran (Divo, 2008) Pada gambar 2.2, misalkan pada titik P besar kecepatan adalah V1 dan pada titik Q adalah V2. Kemudian A1 dan A2 adalah luas penampang tabung aliran tegak lurus pada titik Q. Di dalam interval waktu t sebuah elemen fluida mengalir kira-

kira sejauh Vt. Maka massa fluida m1 yang menyeberangi A1 selama interval waktu t adalah : m1 = 1.A1.V1.t (Divo, 2008) dengan kata lain massa m1/t adalah kira-kira sama dengan 1.A1.V1. Kita harus mengambil t cukup kecil sehingga di dalam interval waktu ini baik V maupun A tidak berubah banyak pada jarak yang dijalani fluida, sehingga dapat ditulis massa di titik P adalah 1.A1.V1 massa di titik Q adalah 2.A2.V2, dimana 1 dan 2 berturutturut adalah kerapatan fluida di P dan Q. Karena tidak ada fluida yang berkurang dan bertambah maka massa yang menyeberangi setiap bagian tabung per satuan waktu haruslah konstan. Maka massa P haruslah sama dengan massa di Q, sehingga dapatlah ditulis : 1.A1.V1 = 2.A2.V2 (Divo, 2008)

Persamaan berikut menyatakan hukum kekekalan massa di dalam fluida. Jika fluida yang mengalir tidak termampatkan, dalam arti kerapatan konstan maka persamaan dapat ditulis menjadi : A1.V1 = A2.V2 Dimana: A V = luas penampang (m2) = kecepatan fluida (m/s) (Divo, 2008)

m = massa fluida yang berpindah (kg) t = interval waktu (s) 2.5 = densitas (kg/m3)

Jenis Alat Ukur Aliran Fluida Jenis alat ukur aliran fluida yang paling banyak digunakan diantara alat ukur

lainnya adalah alat ukur fluida jenis laju aliran. Hal ini dikarenakan konstruksinya yang sederhana dan pemasangannya yang mudah. Alat ukur aliran fluida jenis ini dibagi empat jenis yaitu : 1. Venturimeter 2. Nozzle 3. Pitot tubes 4. Plate orifice

Pada dasarnya prinsip kerja dari keempat alat ukur ini adalah sama yaitu bila aliran fluida mengalir melalui alat ukur ini, maka akan terjadi perbedaan tekanan sebelum dan sesudah fluida mengalir. Beda tekanan menjadi besar bila laju aliran yang diberikan kepada alat ini bertambah (Ferdinan, 2007). 2.5.1 Venturimeter Venturimeter ini merupakan alat primer dari pengukuran aliran yang berfungsi untuk mendapatkan beda tekanan. Sedangkan alat untuk menunjukan besaran aliran fluida yang diukur atau alat sekundernya adalah manometer. Venturimeter memiliki kerugian karena harganya mahal, memerlukan ruangan yang besar dan rasio diameter throatnya dengan diameter pipa tidak dapat diubah. Untuk sebuah venturimeter tertentu dan sistem manometer tertentu, kecepatan aliran yang dapat diukur adalah tetap sehingga jika kecepatan aliran berubah maka diameter throat nya dapat diperbesar untuk memberikan pembacaan yang akurat. Pada venturimeter ini fluida masuk melalui bagian inlet dan diteruskan ke bagian outlet cone. Pada bagian inlet ini ditempatkan titik pengambilan tekanan awal. Pada bagian inlet cone fluida akan mengalami penurunan tekanan yang disebabkan oleh bagian inlet cone yang berbentuk kerucut atau semakin mengecil kebagian throat. Kemudian fluida masuk kebagian throat inilah tempat-tempat pengambilan tekanan akhir dimana throat ini berbentuk bulat datar. Lalu fluida akan melewati bagian akhir dari venturimeter yaitu outlet cone. Outlet cone ini berbentuk kerucut dimana bagian kecil berada pada throat, dan pada outlet cone ini tekanan kembali normal. Penurunan tekanan pada inlet cone akan dipulihkan dengan sempurna pada outlet cone. Gesekan tidak dapat ditiadakan dan juga kehilangan tekanan yang permanen dalam sebuah meteran yang dirancang dengan tepat (Ferdinan, 2007).

Gambar 2.3 Venturimeter (Ferdinan, 2007) 2.5.2 Flow Nozzle Flow nozzle ini merupakan alat primer dari pengukuran aliran yang berfungsi untuk mendapatkan beda tekanannya. Sedangkan alat untuk menunjukkan besaran aliran fluida yang diukur atau alat sekundernya adalah berupa manometer. Pada flow nozzle, kecepatan fluida bertambah dan tekanan semakin berkurang seperti dalam venturimeter. Dan aliran fluida akan keluar secara bebas setelah melewati lubang flow nozzle sama seperti pada plat orifice. Flow nozzle terdiri dari dua bagian utama yang melengkung pada silinder (Ferdinan, 2007).

Gambar 2.4 Flow Nozzle (Ferdinan, 2007) 2.5.3 Pitot Tubes Nama pitot tubes datang dari konsensip Henry de Pitot pada tahun 1732. Pitot tubes mengukur besaran aliran fluida dengan jalan menghasilkan beda tekanan yang diberikan oleh kecepatan fluida itu sendiri. Sama halnya seperti plate orifice, pitot tubes membutuhkan dua lubang pengukuran tekanan untuk menghasilkan suatu beda

tekanan. Pada pitot tubes ini biasanya fluida yang digunakan adalah jenis cairan dan gas. Pitot tubes terbuat dari stainless steel dan kuningan (Ferdinan, 2007).

Gambar 2.5 Pitot Tubes (Ferdinan, 2007) 2.5.4 Plate Orifice Agar dapat melakukan pengendalian atau proses-proses industri, kuantitas bahan yang masuk dan keluar dari proses perlu diketahui. Kebanyakan bahan
ditransportasikan diusahakan dalam bentuk fluida, maka penting sekali mengukur kecepatan aliran fluida dalam pipa. Berbagai jenis meteran digunakan untuk mengukur laju arus seperti plate orifice. Untuk plate orifice ini, fluida yang digunakan adalah jenis cair dan gas. Pada plate orifice ini piringan harus bentuk plat dan tegak lurus pada sumbu pipa. Piringan tersebut harus bersih dan diletakkan pada perpipaan yang lurus untuk memastikan pola aliran yang normal dan tidak terganggu oleh fitting, kran atau peralatan lainnya. Prinsip dasar pengukuran plat orifice dari suatu penyempitan yang menyebabkan timbulnya suatu perbedaan tekanan pada fluida yang mengalir (Ferdinan, 2007).

2.6

Aplikasi Aliran Fluida dengan Penampang Berubah

2.6.1 Analisis Pengaruh Aliran Turbulen Terhadap Karakteristik Lapisan Batas pada Pelat Datar Panas Perkembangan ilmu mekanika fluida dari waktu ke waktu semakin pesat. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, studi tentang modifikasi lapisan batas adalah salah satu studi yang sangat bermanfaat untuk dikembangkan. Lapisan batas adalah lapisan tipis pada solid surface yang terbatas pada daerah yang sangat sempit dekat dengan permukaan kontur dimana kecepatan fluida tidak uniform u sebagai pengaruh dari gaya viskos yang muncul akibat adanya viskositas.

Akibat sifat kental dari fluida, timbul gaya kental/viskos di sekitar daerah dekat permukaan pelat. Daerah aliran dekat permukaan pelat yang masih dipengaruhi oleh gaya viskositas disebut daerah lapisan batas. Semakin jauh dari permukaan pelat (arah sumbu-y) semakin kecil pengaruh gaya viskos sehingga kecepatan alir menjadi semakin besar. Dan makin jauh dari tepi depan pelat (arah sumbu-x) semakin besar pengaruh gaya viskos sehingga daerah lapisan batas akan menjadi lebih lebar. Pada lapisan batas terdapat tiga daerah aliran. Pada permukaan terbentuk lapisan batas laminar tetapi pada jarak tertentu dari tepi depan mulai terjadi proses transisi hingga aliran menjadi turbulen. Perubahan daerah lapisan batas ini tidak lepas dari pengaruh gaya viskos. Semakin besar gaya viskos makin besar gangguangangguan pada aliran fluida sehingga arah kecepatan tidak lagi searah tetapi menjadi acak ke sembarang arah. Profil kecepatan laminar mendekati bentuk parabola sedangkan profil turbulen pada bagian dekat permukaan hampir mendekati garis lurus. Terjadinya lapisan batas seperti yang dijelaskan di atas tidak memperhatikan adanya perpindahan panas, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan adanya pelat panas yang dialiri oleh fluida. Gambar 2.6 memperlihatkan suatu fluida itu mengalir dengan distribusi kecepatan yang sama atau uniform u dimana ketika melewati suatu solid surface aliran tersebut mengalami distribusi kecepatan yang berbeda yang dipengaruhi oleh adanya permukaan padat. Distribusi kecepatan ini dimulai dari titik di permukaan padat tersebut, dimana aliran fluida tersebut mempunyai kecepatan nol kemudian semakin besar ketika menjauhi permukaan dari bodi tersebut. Pengaruh tegangan geser akan hilang pada posisi tertentu dan kecepatan fluida mencapai nilai kecepatan fluida nonviscous (u = 0,99 u) dan posisi tersebut merupakan batas daerah viscous (lapisan batas) dengan bagian nonviscous. Jarak yang diukur dari permukaan padat arah normal hingga posisi tersebut disebut dengan tebal lapisan batas (Faruk dan Kamiran, 2012).

Gambar 2.6 Struktur Lapisan Batas (Faruk dan Kamiran, 2012)