Anda di halaman 1dari 9

Contoh Berita Kriminal

Sidang Lanjutan Kasus Pembunuhan Raafi

Jakarta - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali menggelar sidang lanjutan perkara penusukan siswa SMA Pangudi Luhur I, Raafi Aga Winarsya, dengan terdakwa Sher Mohammad Febriawan alias Febri (42), Senin (16/4).

Sidang kali ini mengagendakan tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap eksepsi terdakwa. JPU menolak tuduhan penasehat hukum terdakwa, yang menganggap dakwaan yang disusun Jaksa hanya merupakan hasil copy paste atau penggandaan dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Kepolisian.

"Pertama, surat dakwaan dalam perkara sudah cermat, jelas dan lengkap, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan," kata JPU, Dedy Sukarno.

Dijelaskan Dedy, surat dakwaan itu dinyatakan cermat, jelas, dan lengkap karena memuat tindak pidana dan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana yang dilakukan terdakwa, Febry pada Sabtu, 5 November 2011, sekitar pukul 02.00 WIB di Club Shy Rooftop lantai 5 Gedung Papilion, Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan, sehingga PN Jakarta Selatan berwenang memeriksa dan mengadili perkara tersebut.

"Dengan begitu, Jaksa Penuntut umum memohon agar majelis hakim memeriksa dan mengadili perkara ini agar menayatakan surat dakwaan penuntut umum disusun sudah secara cermat, serta menolak eksepsi penasehat hukum terdakwa," ujarnya.

Sebelumnya, dalam eksepsinya, Kuasa hukum keberatan dengan beberapa keanehan dalam surat dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum.

Menurutnya, pembuatan surat dakwaan tidak melalui proses Pra-Penuntutan. Selain itu, rumusan uraian perbuatan tiap dakwaan dibuat secara copy-paste. Hal serupa terjadi pada rumusan uraian perbuatan terdapat beberapa pelaku, tapi pada rumusan pasal surat dakwaan tidak menempatkan delik pasal penyertaan, yaitu pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kuasa hukum Febry, Endi Martono, usai sidang mengatakan eksepsi yang ditujukan tidak menyangkut substansi perkara "Jadi eksepsi kami tidak menyangkut substansinya. Tapi kebijakan ditolak atau tidaknya ada di subtansi majelis hakim nanti, tandasnya Sementara diakhir persidangan, Febry meminta kepada majelis hakim untuk memutuskan persidangan ini dengan membuka hati.

"Majelis hakim saya minta memutuskan dengan membuka hati. Saya tidak pernah melakukan dan saya bukan pelaku agaar ini jd pertimbangan," mohon Febry.

Kasus pembunuhan ini bermula ketika korban Raafi dikeroyok di Shy Rooftop Kemang dan berujung ditusuk dengan senjata tajam pada Sabtu 5 November 2011 lalu. Raafi tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kepolisian menetapakan terdakwa Febry sebagai pelaku utama atas kejadian tersebut. Sedangkan istri dan rekan-rekan Febry ditetapkan sebagai tersangka yang diduga ikut mengeroyok Raafi

Febry ditetapkan sebagai terdakwa pelaku pembunuhan sekaligus pengeroyokan dan penganiayaan terhadap Raafi Aga Winasya Benjamin. Ia dijerat dengan tiga pasal sekaligus. Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan, pasal 170 ayat (2) KUHP tentang tindak kekerasan secara bersama-sama, dan Pasal 351 ayat (3) tentang penganiayaan hingga matinya seseorang.

Empat Calon Gubernur Dianggap Sah Posted by Ery Gusman | Friday, 30 November 2012 Kecuali Sabaruddin Labamba dan La Ode Asis KENDARINEWS.COM (Jakarta): Kesaksian mantan komisioner KPU Sultra kembali menguntungkan gugatan para calon. Misalnya soal sah tidaknya empat calon dan tiga calon. Tiga mantan komisioner mengangap sah karena sesuai dengan hasil verifikasi. Eka Suaib lebih dahulu diberi kesempatan. Menurutnya, pada tanggal 1 Oktober telah dilakukan pleno penetapan calon dan menghasilkan empat pasang calon. Pasangan Ali Mazi masuk sebagai calon secara resmi. Nah berbicara Parpol, setelah dilakukan penelitian tahap kedua kemudian dilanjutkan verifikasi Parpol melalui koordinasi dengan pihak Panwas, untuk pasangan Ali Mazi mempunyai 20 Parpol pendukung yang dipersentasekan mencapai 15,11 persen. "Kita sudah lakukan konsultasi pada KPU Pusat, yang jelas empat pasangan calon itu sah kecuali Sabaruddin Labamba dan La Ode Asis. Lalu, yang terjadi keluar dua berita acara. Berita acara pertama ditanda tanganni dua komisioner yaitu Bosman dan Masudi yang meloloskan tiga calon. Yaitu ARbae, NUSA dan BM-Amirul. Saya tidak mengetahui dasarnya apa dan saya tidak pernah membaca kalau ada UU yang menyatakan keputusan itu benar. Sedangkan berita acara kedua kedua diteken tiga komisioner memutuskan empat calon yang satunya Ali Mazi, dan itu sesuai dengan UU,"ungkapnya. Mantan komisoner lainya La Ode Ardin mengungkapkan, berkaitan dengan pasangan calon dia mengakui membuat penetapan calon pada 1 Oktober dan saat itu telah qorum yang dihadiri empat komisioner dan setujui. Akan tetapi Masudi membuat keputusan calon bersama Bosman yang menetapkan tiga pasangan yang sangat melanggar hukum. "Yang mulai jadi memang telah terjadi kekisruhan. Dan kami sudah melakukan hal yang benar,"tegasnya. Sedangkan Syahir membeberkan, pada tanggal 8 September KPU pusat telah memanggil untuk meminta keterangan soal Ali Mazi-Wuata Saranani namun justru berkembanglah pembahasan menyangkut pergantian antara waktu Ali Mazi-Wuata, partai pendukung dan ketiga Logistik. Hanya saja, ada dua item mendadak tidak dibahas yaitu pergantian pasangan calon Ali Mazi dan logistik padahal ini bertentangan dengan norma standar. Justru kata Sahir, lebih urgen pembahasan pada parpol-parpol yang beririsan antara NA dan Ali Mazi. "PSI itu yang dibahas, padahal yang harusnya adalah persoalan. Nah kalau kita melihat, PSI itu masih mengikuti pemilihan pada 2009. Yang mulia, persoalan KPU Sultra tidak disikapi oleh KPU Pusat sehingga keputusan selama ini keputusan yang kami jalankan dan kami anggap benar-benar saja,"ucapnya. Sementara itu, kesaksian lain datang dari La Ode Muhamad Muharam salah satu anggota KPPS di Muna dan La Ode Muhamad Idris sebagai ketua PPK. Keterangan yang disampaikan melalui teleconference menyebutkan, selama proses pemilihan mereka tidak melakukan verifikasi, tidak ada pemberitahuan menyangkut penetapan DPT karena tidak pernah disampaikn oleh KPU

Kabupten. "Yang mulia, telah terjadi kesembrawutan dalam tahapan DPT. Artinya mereka tidak jelas dalam pemutakhiran data, lalu tidak ada jadwal penyelenggara Pilkada, kami selalu diinfromasikan secara mendadak hanya lewat SMS,"ujarnya saat memberikan keterangan dari kampus Unhalu yang disaksikan langsung oleh tiga hakim beserta seluruh pihak di dalam ruang sidang MK, kemarin. Saksi lainnya berasal dari pasangan BM-Amirul. Ia menghadirkan Abdullah Arsad dan Slamet Durasin sebagai tim dari kandidat tersebut. Penjelasannya, dalam proses penyelenggara Pilkada telah terjadi pelanggaran Undang-Undang (UU) oleh KPU, sehingga pihaknya tidak menerima keputusan hasil rekapilasi karena tahapan dari KPU tidak sah. Kemudian diantaranya pleno DPT itu tidak dihadiri oleh tiga komisioner sementara secara hukum menyatakan minimal harus empat, lalu penetapan pasangan calon itu ditetapkan dengan satu penetapan dan dua berita acara yang mempunyai makna berbeda dari isi yang tertuang. Sehingga, menimbulkan ketidak pastian hukum. Kemudian penetapan pasangan didasari oleh berita acara yang melanggar hukum karena disetujui oleh dua komisioner sehingga tim pasangan BM mengajukan keberatan mempertanyakan, keabdsahan tahapan yang dilakukan oleh KPU Sultra yang berimplikasi pada cacat hukum. "Jadi yang mulia, saya tidak menandatangani hasil rekapitulasi tersebut. Termasuk saksi dari pasangan ARbae, karena kami anggap telah terjadi pelanggaran dan Pilgub di Sultra itu sangat jauh dari ketentuan perundang-undangan,"beber Durasin (cr2/nan/KP)

KPU Dicecar Soal Putusannya Melanjutkan Pilkada Posted by Ery Gusman | Friday, 30 November 2012 KENDARINEWS.COM (Jakarta): Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat menjadi bulanbulanan di arena sidang sengketa Pilgub Sultra. Pimpinan sidang Mahfud MD meminta KPU menjawab dua persoalan yang dianggap krusial. Pertama, mengapa KPU Pusat mengambil alih Pilgub Sultra, atau berdasarkan apa sehingga Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) melakukan pemecatan komisioner KPU Sultra. Selanjutnya pengambilalihan itu, berdasarkan pada keputusan melanjutkan proses yang sebelumnya yang telah dinyatakan lima komisioner harus diberhentikan secara tetap. "Kok bisa dilanjutkan, mestinya kan kalau diberhentikan dari awal semua batal, kira-kira kan begitu. Tapi tentu ada logika lain, misalnya tingkat kesalahan apa, itu harus dijelaskan. Pokok masalah ini hanya itu. Kalau KPU bisa menjawab berarti bisa dipertanggungjawabkan. Kalau tidak berarti pihak pemohon yang menang. Jangan dijawab sekarang karena pasti tidak bisa tuntas karena waktu. tukas Mahfud yang didampingi dua hakim lainnya, Maria Farida Indrati dan Anwar Usman masing -masing anggota. Pertanyaan ini menurut Mahfud sebuah kesimpulan dari keterangan beberapa saksi yang diajukan penggugat. Mahfud tidak ingin keterangan atau penjelasan baik oleh kuasa hukum maupun saksi disampaikan bertele-tele. Sebab, harus fokus pada inti sehingga bisa dicapai kesimpulan. Intinya, apa yang diketahui itu yang harus dijelaskan. Menyikapi hal tersebut kuasa hukum KPU Pusat Fadli Nasution mengaku akan menyiapkan semua jawaban terkait permintaan majelis hakim. Katanya, KPU menjalankan pemilihan sesuai dengan UU yang mempunyai dasar hukum kuat. Misalnya terkait keputusan DKPP dalam pengambilalihan yang dilanjutkannya proses tahapan. "Pasti kita akan memberikan jawaban dan itu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh majelis hakim,"tuturnya. Dikatakannya, dua opsi yang diberikan hakim MK memang bisa dikatakan inti dari proses gugatan yang dilakukan. Sehingga pihaknya akan memberikan keterangan berdasarkan UU dan aturan-aturan yang ada dalam Pemilu. Sebab, majelis hakim memang mempertanyakan dasar atau aturan dari proses yang dijalankan sementara lima komisioner dipecat karena melakukan pelanggaran. "Tadi kan Pak Arif Budiman sudah mau jawab, tapi hakim bilang nanti saja pada sidang selanjutnya,"ucapnya. Sidang ketiga akan berlangsung Selasa 4 Desember. Nah di situ pihak termohon akan memberikan keterangan dari semua tudingan. (cr2/nan/KP)

Pelayanan RS Bahtramas Dibawah Standar Posted by Fitri | Monday, 03 December 2012 KENDARINEWS.COM: Layak atau tidaknya Rumah Sakit Bahtramas (RS Provinsi Sultra, red), disebut sebagai salah satu RS berstandar Internasional, kian terjawab. Jangankan menyandang status RS berstandar embel-embel Internasional, menyandang status standar tingkat provinsi Sultra saja belum. Hal ini diungkapkan Ketua Ombudsman Perwakilan RI Aksah di Kendari, Senin (3/11/2012). Aksah mengatakan, pelayanan di RS Bahtramas jauh dibawah standar sesuai UU nomor 25 tahun 2009. Dalam undang-undang tersebut, lanjut Aksah, ada 14 item yang menjadi standar pelayanan yang harus dipenuhi bagi sebuah instansi. "Tidak usah kita bicara detail, ada 14 item standar pelayanan yang harus dipenuhi dalam UU nomor 25 tahun 2009. Tapi apa yang terjadi di RS Bahteramas, AC, air, TV saja tidak berfungsi. Padahal ini adalah hak masyarakat. Jadi wajar saja kalau ada pasien yang berobat disana lantas mengamuk, karena pelayanan jauh dibawah standar," jelas Aksah pada KendariNews.Com. Kata Aksah, dari hasil pemantauan Ombudsman RI Perwakilan Sultra sejak 1 Desember 2012, dari 14 item yang diamanahkan UU nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik, hanya dua item yang berjalan di RS Bahteramas, yaitu prosedur mekanisme pelayanan, dan tarif pelayanan sesuai SK Gubernur Sultra. "Aneh, semua kebutuhan publik di RS Bahteramas seperti AC, TV, sudah dianggarkan dalam APBD Sultra tahun 2011. Bagaimana KPA (Dirut Rs Bahteramas) bisa menandatangani kontrak, sementara barang-barang publik yang diadakan, tidak bisa berfungsi," kata Aksah. Pihaknya, dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan Pimpinan RS Bahteramas, agar semua kepentingan publik sesuai ketentuan undan-undang

Oknum Polisi Diduga Aniaya Jukir Posted by Ery Gusman | Monday, 03 December 2012 KENDARINEWS.COM (Mataram): Seorang oknum polisi diduga menganiaya Widyadnya, 35 tahun, Kamis lalu (29/11). Korban yang merupakan juru parkir (jukir), dianiaya di depan Rumah Makan Timbul Rejeki, Gomong, Mataram. Kasus ini pun dilaporankan ke Polres Mataram dan teregister dengan nomor polisi : LP/21/XI/2012. Hanya saja, oknum polisi tersebut belum diketahui identitasnya, begitupun dengan tempat tugasnya. Namun, dipastikan terlapor itu seorang polisi yang bertugas di Mataram. Korban yang merupakan warga Karang Medain itu mengisahkan, kejadian berawal saat dirinya meminta uang parkir pada oknum polisi tersebut. Namun, permintaannya tidak digubris. Saya hanya minta uang parkir saja, kata Widyadnya di Graha Pena Lombok, Sabtu sore lalu (1/12). Rupanya permintaannya itu membuat oknum polisi tersinggung. Sehingga, pukulan telak mendarat di wajahnya. Akibatnya, pelipis kiri Widyadnya mengalami luka lebam. Saya tibatiba dipukul. Saya tidak tahu masalahnya, jelasnya. Belum puas memukul, oknum polisi tersebut kembali menganiaya korban. Sebuah tendangan keras kembali dilayangkan ke tubuh korban, sehingga korban tersungkur. Saya tidak berani melawan. Karena dia seorang polisi, aku Widyadnya. Saat dirinya dianiaya, suasana di sekitar ramai. Hanya saja, mereka yang melihat peristiwa penganiyaan itu tidak berani menolong. Tidak ada satupun yang membantu. Dia langsung pergi usai memukul saya, terangnya. Keberatan dengan perlakuan oknum polisi itu, ia pun memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut malam itu juga dengan tuduhan dugaan penganiyaan. Malam itu juga saya laporkan ke Propam Polres Mataram, katanya. Kasubaghumas Polres Mataram AKP Arief Yuswanto membenarkan adanya laporan yang dilayangkan korban. Kini, pihaknya sedang memproses laporan korban. Kita masih selidiki oknum polisi tersebut. Karena, identitasnya belum diketahui, katanya saat dikonfirmasi Lombok Post (Grup JPNN). (mis/jpnn)

Warga Keluhkan Jalan Rusak


Di Posting Oleh kepres on Dec 1st, 2012 Dengan Kategori Berita Kendari Kota. Anda Bisa Memberikan Respon Terhadap Beberapa Postingan ini RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Kondisi jalan rusak di Jalan Kedondong, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, samping Pasar Anduonohu, Jumat (30/11). ANCHU/KE KENDARI, KE Jalan-jalan di Kota Kendari tidak semuanya mulus. Masih ada sejumlah ruas jalan yang dibiarkan rusak. Misalnya di Jalan HEA Mokodompit, Kampus Baru Unhalu, tepatnya di depan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Kendari, Kelurahan Lalolara, Kecamatan Kambu. Di sana, kondisi jalan rusak parah. Ini sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang setiap saat membayar pajak, bahkan mengancam keselamatan pengendara yang melintas di jalan itu. Padahal ini jalan belum lama diperbaiki, ujar Rudi, salah satu sopir angkutan kota (angkot). Bagi Rudi, jalan rusak berlubang tersebut cukup membahayakan. Apalagi, kata dia, di saat mobil sudah berpapasan dengan pengendara motor yang ngotot berebut bagian beraspal di jalan itu. Kadang, hal itu bisa memicu kecelakaan lalu lintas. Selain Jalan HEA Mokodompit, kerusakan jalan juga dijumpai di Jalan Kedondong, samping Pasar Anduonohu. Di jalan yang menghubungkan Jalan Bunggasi dengan wilayah By Pass itu terlihat rusak parah. Pengendara sulit menghindari lubang-lubang yang ada.

Kita hindari lubang kecil, kita dapat lubang besar. Parah, keluh Syamsul, salah satu warga Anduonohu. Syamsul berharap, pemerintah Kota Kendari dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Kendari dapat menyikapi masalah ini. Minimal, katanya, ada kegiatan tambal sulam pada jalan-jalan rusak. Tambal sulamnya pun, lanjut Syamsul, jangan asal-asalan. Maksudku, di beberapa ruas jalan di Kota Kendari memang kelihatan ada kegiatan tambal sulam. Tapi, tambal sulamnya bukannya menjadikan jalan jadi mulus, melainkan membuat gundukan-gundukan yang justru lebih membahayakan pengendara, karena dikira jalan mulus ternyata bukit, katanya. Jalan rusak juga di jumpai di Jalan RA Kartini, Kelurahan Kendari Caddi. Warga setempat mengaku, kondisinya sudah rusak parah, sudah setahun. Berlubang-lubang cukup dalam. Apalagi bila musim hujan tiba, jalan layaknya kubangan kerbau. Sudah banyak pengguna jalan yang celaka karena kondisi tersebut, tulis salah satu warga melalui pesan singkatnya yang disampaikan melalui rubrik layanan publik Kendari Ekspres (KE). (jie)