Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN ANALISIS TES MATA PELAJARAN IPA KELAS VI SD

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Evaluasi Pembelajaran SD (GD519) Dosen Drs. Yaya Sunarya, M.Pd. (1005)

Oleh Bella Nur Andani 1003310 3 Matematika

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PEDAGOGIK FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2012

BAB I PENDAHULUAN

Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu proses yang sistematik dalam menentukan tingkat pencapaian tujuan instruksional yang diraih siswa. Evaluasi adalah proses kegiatan yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran di kelas, pendidikan di sekolah. Hasil dari kegiatan evaluasi berguna untuk kepentingan perbaikan pembelajaran, untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa, untuk kepentingan administrasi, dan sebagainya. Evaluasi seringkali melibatkan pengukuran dan biasanya diikuti dengan judgement untuk pengambilan keputusan. Pengukuran merujuk pada suatu proses kegiatan yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang besar-kecilnya perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil belajar dalam bentuk kuantitaf. Alat yang dipergunakan dalam pengukuran disebut tes. Tes diartikan sebagai sejumlah pertanyaan yang oleh subjek dijawab benar atau salah, atau sejumlah tugas yang oleh subjek dilaksanakan dngan berhasil atau gagal sehingga kemampuan subyek dapat dinyatakan dengan skor atau dinilai berdasarkan skala tertentu. Mengingat pentingnya evaluasi dalam pembelajaran, seorang guru sudah seharusnya memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan evaluasi. Kemampuan-kemampuan yang perlu dimiliki yaitu kemampuan mengembangkan instrumen, khususnya tes, mengadministrasikan tes atau instrumen yang lainnya dan mengolah serta menafsirkan data hasil belajar. Dari serangkaian kemampuan tersebut, terdapat kemampuan yang perlu juga dikuasai oleh seorang guru yaitu kemampuan menganalisis tes, sebagai salah satu dari keterampilan melakukan evaluasi. Tes sebagai alat evaluasi diharapkan dapat menghasilkan skor yang obyektif. Oleh karena itu perlu diusahakan agar tes yang diberikan kepada peserta didik memiliki mutu yang cukup baik dilihat dari berbagai segi. Tes hendaknya disusun sesuai dengan prosedur dan prinsip penyusunan tes. Kemudian setelah tes digunakan, dengan menganalisis tes tersebut guru dapat mengetahui apakah tes tersebut obyektif dan efektif atau sebaliknya.

BAB II KAJIAN TEORI

A. Pengertian Analisis Tes Analisis tes merupakan suatu kegiatan dalam rangka mengkonstruksi tes untuk mendapatkan gambaran tentang kualitas tes, baik kualitas keseluruhan tes maupun kualitas tiap butir soal yang menjadi bagian dari tes tersebut. B. Tujuan Analisis Tes 1. Untuk mengkaji dan menelaah tes agar diperoleh soal yang bermutu. 2. Untuk mengetahui apakah tes atau soal yang digunakan untuk mengevaluasi sudah mampu mengukur apa yang sebenarnya ingin diukur melalui tes atau soal tersebut. 3. Untuk mengetahui sejauh mana data yang dihasilkan oleh tes atau soal dapat berguna bagi proses pembelajaran.

C. Manfaat Analisis Tes 1. Hasil analisis tes dapat dapat menjadi umpan balik untuk perbaikan/ peningkatan kualitas tes. 2. Meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam membuat tes yang baik dan efisien. 3. Guru dapat membuat bank soal yakni kumpulan soal-soal yang sudah teruji kebaikannya. 4. Memberi masukan kepada guru tentang kesulitan siswa.

D. Cakupan Kegiatan Analisis Tes 1. Analisis validitas tes Validitas tes adalah tingkat keabsahan atau ketepatan suatu tes. Tes yang valid adalah tes yang benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Tes IPA kelas VI SD, hendaknya benar-benar mengukur hasil belajar IPA siswa kelas VI SD. Validitas tes selalu terkait dengan pertanyaan : valid dalam hal apa dan untuk siapa? Tes yang valid untuk siswa SMP kelas VIII, tidak valid

untuk siswa sekolah dasar. Dengan demikian, menguji validitas suatu tes berarti kita membandingkan tes yang telah dibuat dengan suatu kriteria tertentu. Berdasarkan cara/ prosedur pengujian validitas, terdapat dua cara yaitu analisis rasional dan analisis empiris. Analisis rasional dilakukan dengan judgement, sedangkan analisis empiris adalah analisis dengan menggunakan data empiris hasil di lapangan. Berdasarkan standar yang digunkan, ada empat macam validitas tes, yakni : a. Validitas permukaan (face validity) Tingkat validitas permukaan diketahui dengan melakukan analisis atau telaah rasional (berdasarkan pertimbangan logis, bukan pada hitungan angka-angka empirik). Untuk melakukan analisis validitas permukaan, hal yang dapat dijadikan kriteria adalah aturan penulisan soal. Indeks validitas yang didapat adalah prosentase. Berapa persen soal-soal yang dibuat sesuai dengan kriteria penulisan soal. semakin besar prosentase yang diperoleh maka semakin valid tes tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa validitas permukaan tergolong analisis paling lemah, namun lebih baik daripada tidak dilakukan analisis sama sekali. Sehingga lebih baik bila tes tersebut dianalisis lebih lanjut lagi. b. Validitas isi (content validity) Tingkat validitas isi juga diketahui dengan analisis rasional. Pada prinsipnya dilakukan pemeriksaan terhadap tiap butir soal, apakah soal sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus atau dengan kompetensi yang hendak diukur atau dengan indikator keberhasilan siswa. Untuk validitas isi, kriteria yang dapat digunakan adalah kisi-kisi penulisan soal yang disusun berdasarkan silabus. c. Validitas kriteria (criterion validity) Validitas ini diketahui dengan cara empirik, yakni menghitung koefisien korelasi antara tes bersangkutan dengan tes lain yang sudah dianggap valid sebagai kriterianya. Sebagai contoh, skor tes Matematika buatan guru dikorelasikan dengan skor tes Matematika yang telah dibakukan. Dengan rumus korelasi Pearsons Product Moment dan

menggunakan kalkulator, perhitungan validitas kriteria tersebut tidak terlalu sulit, apalagi bila menggunakan komputer. Kesulitan utama dalam menentukan validitas kriteria ialah mencari skor tes yang akan dijadikan kriteria. Bila kriterianya buruk atau tidak valid, maka validitas tes yang diperoleh akan percuma saja. d. Validitas ramalan (predictive validity) Validitas ini menunjukkan sejauh mana skor tes bersangkutan dapat digunakan meramal keberhasilan siswa di masa mendatang dalam bidang tertentu. Cara menghitungnya sama seperti validitas kriteria, dalam hal ini skor tes dikorelasikan dengan keberhasilan siswa di masa datang. Suatu tes yang baik biasanya memiliki angka validitas 0,50 atau lebih; tentu saja angka itu makin tinggi makin baik. Suatu tes dengan angka validitas kurang dari 0,50 belum tentu buruk. Mungkin kriterianya yang buruk atau keliru menentukan kriteria.

2. Analisis reliabilitas tes Reliabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsistensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat dipercaya untuk menghasilkan skor yang tidak berubah-ubah walaupun diteskan pada situasi dan waktu yang berbeda-beda. Ada tiga cara mengetahui reliabilitas tes. Pada prinsipnya diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi antara dua kelompok skor tes. Tiga cara itu sebagai berikut. a. Tes-retest method (metoda tes ulang) Suatu tes diujikan terhadap kelompok siswa tertentu dua kali dengan jangka waktu tertentu (misalnya satu semester atau satu catur wulan ). Skor hasil pengetesan pertama dikorelasikan dengan skor hasil pengetesan kedua. b. Paralel test method (metoda tes paralel) Cara ini mengharuskan adanya dua tes yang paralel, yakni dua tes yang disusun dengan tujuan yang sama (hanya sedikit perbedaan redaksi,isi atau susunan kalimatnya). Dua tes tersebut diadministrasikan pada satu kelompok siswa dengan perbedaan waktu beberapa hari saja. Skor dari kedua macam tes tersebut kemudian dikorelasikan.

c. Split-half method (metode belah dua) Cara ini paling mudah karena tidak perlu mengulangi pelaksanaan tes atau menyusun tes yang paralel. Cukup satu tes dan diadministrasikan satu kali kepada sekelompok siswa (minimal 30 siswa). Pada saat penyekoran, tes dibelah menjadi dua sehingga tiap siswa memperoleh dua macam skor, yakni skor yang diperoleh dari soal-soal bernomor genap. Skor total diperoleh dengan menjumlah skor ganjil dan genap. Selanjutnya skor-ganjil dikorelasikan dengan skor- genap, hasilnya adalah koefisien korelasi rgg. Atau koefisien korelasi ganjil-genap.

3. Analisis butir soal Baik buruknya tes tergantung pada butir-butir soal yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu untuk mendapatkan tes yang baik perlu dipilih butir-butir yang baik. Butir yang buruk harus dibuang, yang kurang baik perlu direvisi. Untuk mengetahui kualitas tiap butir soal perlu analisis satu persatu. Analisis butir soal meliputi: a. Analisis daya pembeda tiap butir soal. Daya pembeda menunjukkan sejauh mana tiap butir soal mampu membedakan siswa yang menguasai bahan dan siswa yang tidak menguasai bahan. Butir soal yang daya pembedanya rendah, tidak ada manfaatnya, malahan dapat merugikan siswa yang belajar sungguh-sungguh. b. Analisis tingkat kesukaran tiap butir soal. Tingkat kesukaran menunjukkan apakah butir soal tergolong sukar, sedang atau mudah. Tes yang baik memuat kira-kira 25 % soal mudah, 50 % sedang dan 25 % sukar. Butir soal yang terlalu sukar sehingga hampir tidak terjawab oleh semua siswa atau terlalu mudah sehingga dapat dijawab oleh hampir semua siswa, sebaiknya dibuang karena tidak bermanfaat. c. Analisis pengecoh (distraktor) pada setiap butir soal. Analisis pengecoh/option diperlukan hanya pada tes bentuk pilihan ganda dimana siswa harus memilih satu dari beberapa alternatif jawaban. Tiap pengecoh/distraktor hendaknya bermanfaat, yakni ada sejumlah siswa

yang memilihnya. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali berarti tidak bermanfaat, sedang pengecoh yang dipilih oleh hampir semua siswa berarti terlalu mirip dengan jawaban yang benar. d. Analisis homogenitas tiap butir soal. Tingkat homogenitas (tingkat konsistensi) soal menunjukkan apakah tiap butir soal mengukur aspek atau kompetensi yang sama, atau sejauh mana tiap butir soal menyumbang skor total tiap siswa. Butir soal yang homogen adalah yang menunjang skor total. Sebaliknya, butir soal yang tidak seiring dengan skor-total dikatakan tidak homogen, dan lebih baik dibuang atau direvisi.

Kegiatan analisis tes pada bentuk pilihan ganda maupun pada tes bentuk uraian/ essay prinsipnya sama, namun ada sedikit perbedaan dalam teknik pelaksanaan analisis.

E. Aturan Penulisan Soal Pilihan Ganda 1. Soal harus sesuai dengan indikator. 2. Pengecoh harus berfungsi. 3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. 4. Pokok soal harus dirumuskan secara singkat, jelas dan tegas. Contoh soal yang pernyataannya tidak jelas dan tegas : Pada umumnya, kata berimbuhan adalah . a. berani b. beringas c. beringin d. beranjak (B. Indonesia SD)

5. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. 6. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Contoh soal yang memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar : Generator listrik di Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Sigura-gura digerakkan oleh tenaga . a. air b. uap panas c. gas bumi d. solar (IPA SD)

7. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda. Contoh soal yang mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda : Nama bangun geometri di bawah ini bukan merupakan bangun ruang, kecuali . a. segitiga samakaki b. segitiga samasisi c. prisma segitiga d. bujur sangkar (Matematika SD)

8. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. 9. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama. 10. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan Semua pilihan jawaban di atas salah/benar. Contoh : Orang yang berhati bersih akan selalu . a. bersikap tekun b. berbuat sopan c. memperlihatkan keberanian d. semua pilihan jawaban di atas salah (PKn SD)

11. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis waktunya. 12. Gambar, grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. 13. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti : sebaiknya, umumnya, kadang-kadang. 14. Butir soal jangan bergantung pada jawaban sebelumnya. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan siswa yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya. 15. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: 1) unsur subjek, 2) unsur predikat, 3) anak kalimat; b) pemakaian kata: 1) pilihan kata, 2) penulisan kata,; c) pemakaian ejaan: 1) penulisan huruf, 2) penggunaan tanda baca. 16. Bahasa yang digunakan harus komunikatif, sehingga pernyataannya mudah dimengerti siswa.

17. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku di setempat jika soal akan digunakan untuk daerah lain atau nasional. 18. Pilihan jawaban jangan mengulang kata/ frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. Letakkan kata/ frase pada pokok soal. Contoh : Tanah humus dapat dimanfaatkan untuk pertanian karena . a. berasal dari daun-daun yang telah mengering b. berasal dari pembakaran daun kering c. berasal dari kayu dan daun yang membusuk d. berasal dari abu letusan gunung berapi (IPS SD)

F. Aturan Penulisan Soal Essay 1. Soal sesuai dengan indikator 2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas 3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran 4. Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, atau tingkat kelas . 5. Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai 6. Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal 7. Ada pedoman penskoran 8. Gambar, grafik, tabel, diagram dan sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca 9. Rumusan kalimat soal komunikatif 10. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar 11. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian. 12. Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat. 13. Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan siswa.

BAB III HASIL ANALISIS TES

Tes yang dianalisis diambil dari soal Ujian Akhir Semester mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam kelas VI di SDN Mengger Girang 1 Bandung. Tes tersebut terdiri dari 35 soal pilihan ganda dan 5 soal essay. Sampel hasil tes yang dianalisis berjumlah 30 siswa. Untuk analisis tes pilihan ganda ini cakupan kegiatannya meliputi analisis validitas, realibilitas, daya pembeda, tingkat kesukaran, dan pengecoh/ option. Sedangkan untuk analisis tes essay meliputi analisis validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran. Berikut hasil analisis tes tersebut.

A. Analisis Tes PG 1. Analisis validitas tes PG Hasil analisis secara rasional yaitu dengan menggunakan validitas permukaan menunjukkan bahwa dari 35 soal pilihan ganda yang telah ditelaah, terdapat 11 soal yang tidak sesuai kriteria. Perhitungan validitas permukaan/ tampilan tes tersebut adalah (24:35) x 100% = 68,57 %. Berdasarkan pertimbangan logis, soal-soal yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut perlu direvisi atau diperbaiki. Soal-soal tersebut diantaranya Soal pada no 1 tidak sesuai dengan indikator. Pada kisi-kisi soal tertulis indikatornya menyebutkan ciri-ciri burung hantu. Perumusan soal no 2 agar lebih komunikatif sebaiknya menjadi Bunglon menangkap mangsanya dengan cara . Soal no 4 tidak sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Kemudian terdapat pengecoh yang kurang bermanfaat, yaitu pada option D. Pada soal no 6 terdapat gambar dimana gambar pada soal tersebut kurang jelas. Pada soal no 7 agar pengecoh berfungsi sebaiknya option berisi tandatanda perubahan primer pada laki-laki. Kemudian option pada soal tersebut tidak homogen dan logis karena berisi tanda-tanda pubertas pada perempuan.

Soal no 17 tidak sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Kemudian pengecohnya tidak berfungsi karena tidak homogen. Sebaiknya semua option pada soal tersebut merupakan bahan yang dijadikan bumbu masakan.

Soal no 18 pengecohnya tidak berfungsi karena pilihan jawabannya tergolong. Pada soal no 22 dan no 23 pilihan jawabannya tidak homogen. Penulisan soal no 24 tidak terdapat subjek kalimat. Agar lebih jelas sebaiknya perumusan soalnya seperti Berdasarkan tabel di samping, bahan yang termasuk konduktor panas ditunjukkan oleh nomor .

Penulisan soal no 25 juga tidak terdapat subjek kalimatnya dan tidak ada penggunaan tanda baca yang tepat. Perumusan soal sebaiknya Pada gambar di samping, bagian yang merupakan konduktor panas ditunjukkan oleh huruf .

2. Analisis reliabilitas tes PG Setelah menganalisis tiap lembar jawaban soal PG setiap siswa (30 siswa) diperoleh skor tiap lembar jawaban dengan 3 macam skor : jumlah skor total, jumlah skor soal bernomor ganjil, dan jumlah skor soal bernomor genap (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Dari jumlah skor ganjl dan genap dicari koefesien korelasi ganjil-genap. Kemudian koefesien korelasi tersebut digunakan untuk menghitung reliabilitas. Indeks reliabilitas berkisar antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi pula keajegan/ketepatannya. Rumus koefesien reliabilitas tes metode belah dua (split half method)
2 1+

rtt =

Ket : rtt = koefesien reliabilitas tes

= koefesien korelasi ganjil-genap

Koefesien korelasi ganjilgenap 0.627050393

Koefesien reliabilitas tes 0.773006135

Dari hasil perhitungan, diperoleh koefesien reliabilitas tes sebesar 0,77. Hal tersebut menunjukkan tes pilihan ganda ini memiliki tingkat reliabilitas yang cukup baik. Artinya tes ini cukup dapat menghasilkan skor yang ajeg/ konsisten dimana skor yang dihasilkan relatif tidak berubah meskipun waktu dan situasi saat tes digunakan berbeda-beda.

3. Analisis Butir Soal PG a. Analisis daya pembeda pada setiap soal PG Untuk menganalisis daya pembeda, terlebih dahulu skor total disusun dari yang tertinggi hingga terendah. Ambil 27% siswa yang skor totalnya tinggi (kelompok unggul atau atas) dan 27% siswa yang skor totalnya rendah (kelompok asor atau bawah) sehingga diambil masing-masing kelompok unggul dan asor 8 siswa. Kemudian dihitung jumlah jawaban yang benar, baik pada kelompok unggul maupun pada kelompok asor (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda yakni:

DP =

x 100%

Ket: DP = Indeks daya pembeda butir soal tertentu (satu butir soal) BU = jumlah jawaban benar pada kelompok unggul atau atas BA = jumlah jawaban benar pada kelompok asor atau bawah NU = jumlah siswa pada salah satu kelompok U atau kelompok A

Kriteria daya pembeda sebagai berikut. Negatif 9% = sangat rendah 10% - 19% = rendah 20% - 29% = cukup baik 30% - 49% = baik 50% ke atas = sangat baik

Tabel Hasil Perhitungan Daya Pembeda PG No Soal PG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Jumlah Benar KU 8 8 5 8 8 8 8 8 8 7 8 6 8 8 8 6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 6 7 Jumlah Benar KA 7 6 4 8 6 5 5 7 1 6 8 3 5 8 8 3 6 8 5 3 4 4 2 8 7 2 0 4 Daya Pembeda (DP) 12.50% 25% 12.50% 0% 25% 37.50% 37.50% 12.50% 87.50% 12.50% 0% 37.50% 37.50% 0% 0% 37.50% 25% 0% 37.50% 62.50% 50% 50% 75% 0% 12.50% 75% 75% 37.50% Ket DP rendah cukup baik rendah sangat rendah cukup baik baik baik rendah sangat baik rendah sangat rendah baik baik sangat rendah sangat rendah baik cukup baik sangat rendah baik sangat baik sangat baik sangat baik sangat baik sangat rendah rendah sangat baik sangat baik baik

29 30 31 32 33 34 35

7 5 8 8 6 8 8

4 2 6 5 2 8 7

37.50% 37.50% 25% 37.50% 50% 0% 12.50%

baik baik cukup baik baik sangat baik sangat rendah rendah

Tabel di atas menunjukkan hasil dari perhitungan daya pembeda tiap butir soal pilihan ganda. Variasi tingkat daya pembeda yang didapat dari perhitungan diantaranya sangat rendah, rendah, cukup baik, baik, dan sangat baik. Sebanyak 7 soal memiliki tingkat daya pembeda sangat rendah, 6 soal memiliki tingkat daya pembeda yang rendah, 4 soal memiliki tingkat daya pembeda yang cukup baik, 10 soal tingkat daya pembedanya baik, dan 8 soal tingkat daya pembedanya sangat baik. Persentase daya pembeda pada soal-soal tes ini yaitu 20% sangat rendah, 17,14% rendah, 11,43% cukup baik, 28,57% baik, dan 22,86% sangat baik. Berikut grafik lingkaran dari persentase daya pembeda soal pilihan ganda. Daya Pembeda Soal PG
sangat rendah 23% 20% 17% 29% 11% rendah cukup baik sangat baik

Indeks daya pembeda mulai dari cukup sampai sangat baik dapat dikategorikan baik. Sedangkan untuk indeks daya pembeda mulai dari sangat rendah sampai rendah dikategorikan rendah. Jadi sebanyak 62,86 % soal pada tes pilihan ganda ini memiliki indeks daya pembeda yang baik, yang artinya soal tersebut mampu membedakan peserta didik mana yang belajar dan tidak belajar atau dengan kata lain dapat membedakan antara peserta didik yang menguasai dan yang tidak menguasai materi. Sedangkan

sebanyak 37,14 % soal pada tes pilihan ganda ini memiliki indeks daya pembeda yang rendah. Hal tersebut menunjukkan bahwa soal-soal tersebut tidak dapat membedakan antara peserta didik yang menguasai materi dengan yang tidak.

b. Analisis tingkat kesukaran pada setiap soal PG Tabel skor yang digunakan untuk menghitung tingkat kesukaran sama dengan tabel skor untuk menghitung daya pembeda. Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda yakni:
+ +

TK =

x 100%

Ket: TK = Indeks tingkat kesukaran butir soal tertentu (satu butir soal) BU = jumlah jawaban benar pada kelompok unggul atau atas BA = jumlah jawaban benar pada kelompok asor atau bawah NU = jumlah siswa pada kelompok unggul NA = jumlah siswa pada kelompok asor Kriteria tingkat kesukaran sebagai berikut. 0% - 15% = sangat sukar 16% - 30% = sukar 31% - 70% = sedang 71% - 85% = mudah 86% - 100% = sangat mudah

Tabel Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran PG No Soal PG 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Jumlah Benar KU 8 8 5 8 8 8 8 8 8 7 8 6 8 8 8 6 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 6 7 7 5 8 8 6 8 8 Jumlah Benar KA 7 6 4 8 6 5 5 7 1 6 8 3 5 8 8 3 6 8 5 3 4 4 2 8 7 2 0 4 4 2 6 5 2 8 7 Tingkat Kesukaran (TK) 93.75% 87.50% 56.25% 100% 87.50% 81.25% 81.25% 93.75% 56.25% 81.25% 100% 56.25% 81.25% 100% 100% 56.25% 87.50% 100% 81.25% 68.75% 56.25% 56.25% 62.50% 100% 93.75% 62.50% 37.50% 68.75% 68.75% 43.75% 87.50% 81.25% 50% 100% 93.75% Ket TK sangat mudah sangat mudah sedang sangat mudah sangat mudah mudah mudah sangat mudah sedang mudah sangat mudah sedang mudah sangat mudah sangat mudah sedang sangat mudah sangat mudah mudah sedang sedang sedang sedang sangat mudah sangat mudah sedang sedang sedang sedang sedang sangat mudah mudah sedang sangat mudah sangat mudah

Berdasarkan tabel di atas, variasi indeks tingkat kesukaran pada tes pilihan ganda ini terdiri dari sangat mudah, mudah, dan sedang. Sebanyak 15 soal memiliki indeks tingkat kesukaran sangat mudah, 6 soal memiliki indeks tingkat kesukaran mudah, dan 14 soal memiliki indeks tingkat kesukaran sedang. Persentase tingkat kesukaran pada soal-soal tes pilihan ganda ini yaitu 42,86 % soal sangat mudah, 17,14% soal mudah, dan 40% soal sedang. Berikut persentase tingkat kesukaran digambarkan dalam grafik. Tingkat Kesukaran Soal PG

40%

43%

sangat mudah mudah sedang

17%

c. Analisis pengecoh/ option pada setiap soal PG Indeks pengecoh/ option dihitung dengan rumus :
/( 1)

IPc =

x 100%

Ket : IPc = indeks pengecoh/ option nPc = jumlah siswa yang memilih pengecoh/ option itu N = jumlah seluruh subjek yang ikut tes nB = jumlah subjek yang menjawab benar pada butir soal itu Alt = banyak alternatif jawaban/ option (3, 4, atau 5)

Keterangan kualitas pengecoh/ option : ** kunci jawaban ++ sangat baik (IPc = 76% - 125% atau mendekati 100%) + baik (IPc = 51% - 75% atau 126% - 150%)

- kurang baik (IPc = 26% - 50% atau 151% - 175%) -- buruk (IPc = 0% - 25% atau 176% - 200%) --- sangat buruk (IPc = lebih dari 200%)

No 1 Option a b 29 ** ** c 0 0% -d 1 303% ---

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

Kualitas pengecoh --

No 2 Option a b 1 c 0 d 28 ** **

Siswa yg memilih 1 IPc

151% 151% 0% --

Kualitas pengecoh -

No 3 Option a b 11 c 13 d 4 70% +

Siswa yg memilih 2 IPc 35%

194% ** -**

Kualitas pengecoh -

No 4 Option a b 0 0% -c 0 0% -d 0 0% --

Siswa yg memilih 30 IPc **

Kualitas pengecoh **

No 5 Option a b 0 c 27 ** ** d 1 100% ++

Siswa yg memilih 2 IPc

200% 0% --

Kualitas pengecoh --

No 6 Option a b 2 c 0 d 2 150% +

Siswa yg memilih 26 IPc **

150% 0% + --

Kualitas pengecoh **

No 7 Option a b 0 c 3 d 25

Siswa yg memilih 2 IPc

120% 0% --

180% ** -**

Kualitas pengecoh ++

No 8 Option a b 2 c 0 d 0 0% --

Siswa yg memilih 28 IPc **

298% 0% ----

Kualitas pengecoh **

No 9 Option a b 3 c 17 ** ** d 3 69% +

Siswa yg memilih 7 IPc

161% 69% +

Kualitas pengecoh -

No 10 Option a b 22 c 1 37% d 4 149% +

Siswa yg memilih 3 IPc

112% ** **

Kualitas pengecoh ++

No 11 Option a b 30 ** ** c 0 0% -d 0 0% --

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

Kualitas pengecoh --

No 12 Option a b 19 ** ** c 7 d 2

Siswa yg memilih 2 IPc 54%

190% 54% -+

Kualitas pengecoh +

No 13 Option a b 0 c 2 d 27

Siswa yg memilih 1 IPc

100% 0% --

200% ** -**

Kualitas pengecoh ++

No 14 Option a b 29 ** ** c 0 0% -d 1 303% ---

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

Kualitas pengecoh --

No 15 Option a b 0 c 29 ** ** d 0 0% --

Siswa yg memilih 1 IPc

303% 0% --

Kualitas pengecoh ---

No 16 Option a b 2 c 3 69% + d 17 ** **

Siswa yg memilih 8 IPc

184% 46% -

Kualitas pengecoh --

No 17 Option a b 1 75% + c 3 d 26

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

225% ** -**

Kualitas pengecoh --

No 18 Option a b 0 0% -c 30 ** ** d 0 0% --

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

Kualitas pengecoh --

No 19 Option a b 3 c 5 d 0

Siswa yg memilih 22 IPc **

112% 187% 0% ++ ---

Kualitas pengecoh **

No 20 Option a b 22 ** ** c 6 d 0

Siswa yg memilih 2 IPc 74%

224% 0% ----

Kualitas pengecoh +

No 21 Option a b 1 c 24 ** ** d 3 150% +

Siswa yg memilih 2 IPc

100% 50% -

Kualitas pengecoh ++

No 22 Option a b 2 60% + c 4 d 4

Siswa yg memilih 20 IPc **

120% 120% ++ ++

Kualitas pengecoh **

No 23 Option a b 19 ** ** c 4 d 4

Siswa yg memilih 3 IPc 81%

108% 108% ++ ++

Kualitas pengecoh ++

No 24 Option a b 27 ** ** c 2 d 1

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

200% 100% -++

Kualitas pengecoh --

No 25 Option a b 29 c 0 0% -d 0 0% --

Siswa yg memilih 1 IPc

303% ** **

Kualitas pengecoh ---

No 26 Option a b 1 30% c 7 d 2

Siswa yg memilih 20 IPc **

210% 60% --+

Kualitas pengecoh **

No 27 Option a b 1 c 14 ** ** d 2 37% -

Siswa yg memilih 13 IPc

243% 18% --

Kualitas pengecoh ---

No 28 Option a b 1 30% c 7 d 2

Siswa yg memilih 20 IPc **

210% 60% --+

Kualitas pengecoh **

No 29 Option a b 19 ** ** c 4 d 4

Siswa yg memilih 3 IPc 81%

108% 108% ++ ++

Kualitas pengecoh ++

No 30 Option a b 13 ** ** c 5 88% ++ d 8 141% +

Siswa yg memilih 4 IPc 70%

Kualitas pengecoh +

No 31 Option a b 0 c 1 d 28

Siswa yg memilih 1 IPc

149% 0% --

149% ** + **

Kualitas pengecoh +

No 32 Option a b 24 c 0 0% -d 1 50% -

Siswa yg memilih 5 IPc

250% ** **

Kualitas pengecoh ---

No 33 Option a b 2 43% c 12 d 16

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

257% ** --**

Kualitas pengecoh --

No 34 Option a b 1 c 29 d 0 0% --

Siswa yg memilih 0 IPc 0%

303% ** --**

Kualitas pengecoh --

No 35 Option a b 0 c 0 0% -d 29 ** **

Siswa yg memilih 1 IPc

303% 0% --

Kualitas pengecoh ---

B. Analisis Tes Essay 1. Analisis validitas tes essay Analisis validitas rasional juga dilakukan untuk menganalisis soal essay ini yaitu dengan validitas tampilan/ permukaan. Setelah membandingkan 5 soal essay dengan kriteria penulisan soal essay, soal tes ini sudah memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Dengan demikian, tes essay ini dapat dikatakan valid.

2. Analisis reliabilitas tes essay Setelah menganalisis tiap lembar jawaban soal essay setiap siswa (30 siswa) diperoleh skor tiap lembar jawaban dengan 3 macam skor : jumlah skor total, jumlah skor soal bernomor ganjil, dan jumlah skor soal bernomor genap (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Dari jumlah skor ganjl dan genap dicari koefesien korelasi ganjil-genap. Kemudian koefesien korelasi tersebut digunakan untuk menghitung reliabilitas. Indeks reliabilitas berkisar antara 0 - 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi pula keajegan/ketepatannya. Rumus untuk mencari reliabilitas pada soal essay sama dengan rumus untuk mencari reliabilitas pada soal pilihan ganda. Setelah melakukan perhitungan diperoleh :

Koefesien korelasi genap-ganjil = 0.236875 Koefesien reliabilitas tes = 0.387096 Hasil koefesien reliabilitas tes essay menunjukkan bahwa tes ini sifatnya tidak reliabel. Hal ini berarti soal essay pada tes ini tidak menghasilkan skor

yang konsisten. Apabila diteskan pada waktu dan situasi berbeda maka skor yang dihasilkan dapat berbeda.

3. Analisis butir soal essay a. Analisis daya pembeda setiap soal essay Untuk menganalisis daya pembeda pada soal essay sama dengan menganalisis daya pembeda pada soal PG. Skor total disusun dari yang tertinggi hingga terendah. Ambil 27% siswa yang skor totalnya tinggi (kelompok unggul atau atas) dan 27% siswa yang skor totalnya rendah (kelompok asor atau bawah) sehingga diambil masing-masing kelompok unggul dan asor 8 siswa. Kemudian dihitung jumlah jawaban yang benar, baik pada kelompok unggul maupun pada kelompok asor (tabel analisis skor terdapat di lampiran). Hal yang membedakan antara analisis daya pembeda pada essay dengan analisis daya pembeda pada PG yaitu rumus yang digunakannya. Rumus untuk menghitung daya pembeda pada soal essay :

DP =

x 100%

Ket : DP = indeks daya pembeda butir soal tertentu SU = jumlah skor kelompok unggul pada butir soal yang diolah SA = jumlah skor kelompok asor pada butir soal yang diolah EU = jumlah skor ideal salah satu kelompok (unggul/asor) pada butir soal yang sedang diolah Kriteria daya pembeda pada soal essay sama dengan kriteria daya pembeda pada soal PG (pilihan ganda).

Tabel Hasil Perhitungan Daya Pembeda Soal Essay No Soal Essay 36 37 38 39 40 Jumlah Benar KU 8 6 8 6 4 Jumlah Benar KA 2 2 8 1 0 Daya Pembeda (DP) 75% 50% 0% 62,5% 50% Ket DP sangat baik sangat baik sangat rendah sangat baik sangat baik

Hasil perhitungan tabel di atas menunjukkan indeks daya pembeda soal essay terdiri dari sangat rendah dan sangat baik. Pada tes ini terdapat satu soal yang indeks daya pembedanya sangat rendah dan empat soal yang indeks daya pembedanya sangat baik. Soal dengan no 36, 37, 39, dan 40 dapat membedakan antara peserta didik yang belajar dengan yang tidak belajar. Sedangkan soal no 38 sama sekali tidak dapat membedakan antara peserta didik yang belajar dengan yang tidak belajar.

b. Analisis tingkat kesukaran setiap soal essay Tabel skor yang digunakan untuk menghitung tingkat kesukaran sama dengan tabel skor untuk menghitung daya pembeda. Hal yang membedakan antara analisis tingkat kesukaran pada essay dengan analisis tingkat kesukaran pada PG yaitu rumus yang digunakannya. Rumus untuk menghitung tingkat kesukaran pada soal essay :

TK =

x 100%

Ket : TK = indeks tingkat kesukaran butir soal tertentu SU = jumlah skor kelompok unggul pada butir soal yang diolah SA = jumlah skor kelompok asor pada butir soal yang diolah EU = jumlah skor ideal pada kelompok unggul EA = jumlah skor ideal pada kelompok asor

Kriteria tingkat kesukaran pada soal essay sama dengan tingkat kesukaran pada soal PG.

kriteria

Tabel Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Soal Essay No Soal Essay 36 37 38 39 40 Jumlah Benar KU 8 6 8 6 4 Jumlah Benar KA 2 2 8 1 0 Tingkat Kesukaran (TK) 62.5% 50% 56.25% 44% 25% Ket TK
sedang sedang sedang sedang sukar

Berdasarkan tabel di atas, soal-soal essay pada tes ini memiliki indeks tingkat kesukaran yang terdiri dari sedang dan sukar. Pada tes ini terdapat empat soal (no 36, 37, 38, dan 39) yang memiliki indeks tingkat kesukaran yang sedang dan satu soal (no 40) yang memiliki indeks tingkat kesukaran yang sukar.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah melakukan analisis tes mulai dari analisis validitas hingga analisis butir soal didapatkan hasil sebagai berikut. 1. Analisis Soal PG a. Validitas Hasil perhitungan validitas tampilan soal PG pada tes ini adalah 68,75%. Ini artinya 68,75% soal yang secara tampilan valid. Tes ini sebesar 68,75% soal mengukur apa yang hendak diukur yaitu mengukur hasil belajar IPA siswa SD kelas VI. b. Reliabilitas Koefesien reliabilitas tes sebesar 0,77 (cukup baik). Ini artinya tes ini cukup reliabel atau ajeg. Tes ini cukup dapat menghasilkan skor yang konsisten walaupun diujikan pada situasi dan waktu yang berbeda-beda. c. Butir soal 1) Daya Pembeda Persentase daya pembeda pada soal-soal tes ini yaitu 20% sangat rendah, 17,14% rendah, 11,43% cukup baik, 28,57% baik, dan 22,86% sangat baik. Daya pembeda yang rendah tidak ada

manfaatnya, karena dapat merugikan peserta didik yang belajar sungguh-sungguh. Oleh karena itu, soal-soal yang memiliki daya pembeda yang rendah perlu direvisi atau diperbaiki sehingga soalsoal tersebut dapat membedakan antara peserta didik yang menguasai materi dengan yang tidak menguasai. 2) Tingkat Kesukaran Persentase tingkat kesukaran pada soal-soal tes pilihan ganda ini yaitu 42,86 % soal sangat mudah, 17,14% soal mudah, dan 40% soal sedang. Pada tes ini tidak ada soal yang tingkat kesukarannya sukar. Soal-soal yang tingkat kesukarannya sangat mudah sebaiknya

dibuang atau direvisi sehingga soal tersebut memuat tingkat kesukaran mudah, sedang , dan sukar. Tes yang baik memuat kirakira 25 % soal mudah, 50 % sedang dan 25 % sukar. 3) Pengecoh/ option Banyak soal yang pengecohnya tidak berfungsi, yang pengecohnya sama sekali tidak ada siswa yang memilih. Selain itu, ada pengecoh yang dipilih siswa jumlahnya hampir mendekati jumlah kunci jawaban yang dipilih siswa. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa pengecoh/ option-nya menyesatkan siswa. Tetapi ada beberapa soal yang semua pengecohnya sudah berfungsi/ bermanfaat.

2. Analisis Soal Essay a. Validitas Berdasarkan tampilan/ permukaan, soal-soal essay pada tes ini sudah sesuai dengan kriteria. Maka dari itu, tes ini dikatakan valid secara rasional. b. Reliabilitas Hasil koefesien reliabilitas tes ini adalah 0.38. Angka tersebut menunjukkan bahwa tes ini tidak reliabel. c. Butir soal 1) Daya pembeda Pada tes ini terdapat satu soal yang indeks daya pembedanya sangat rendah dan empat soal yang indeks daya pembedanya sangat baik. Soal dengan daya pembeda sangat rendah perlu direvisi yaitu soal no 38. 2) Tingkat kesukaran Pada tes ini terdapat empat soal yang memiliki indeks tingkat kesukaran sedang dan hanya satu soal yang memiliki indeks tingkat kesukaran sukar. Soal essay pada tes ini tidak memuat indeks tingkat kesukaran yang mudah. Suatu tes yang baik soal-soalnya memuat kira-kira indeks tingkat kesukaran 20 % mudah, 50% sedang, dan 25% sukar.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil keseluruhan analisis tes, soal-soal pada tes ini sudah dapat mengukur hasil belajar peserta didik tetapi pada tes ini masih terdapat kekurangan pada beberapa soal. Soal-soal PG dan essay pada tes ini dapat digunakan kembali dengan melakukan beberapa revisi atau perbaikan pada soalsoal tersebut sehingga tes ini menjadi lebih obyektif dan efektif. Dengan demikian, guru dapat membuat kumpulan soal yang dapat digunakan kembali untuk melakukan evaluasi pembelajaran IPA kelas VI SD.

DAFTAR PUSTAKA

________. 2010. Panduan Analisis Butir Soal. [Online]. Tersedia : http://gurupembaharu.com/home/panduan-analisis-butir-soal/ (24 Desember 2012) Anisa, Alita arifiana . 2012. Analisis Kualitas Tes dan Butir Soal. [Online]. Tersedia : http://re-alitha.blogspot.com/2012/05/analisis-kualitas-tes-danbutir-soal.html (24 Desember 2012) To, Karno. 2003. Mengenal Analisis Tes. Bandung : Jur PPB FIP UPI.
Wahyudin, Uyu. 2006. Evaluasi Pembelajaran SD. Bandung : UPI PRESS.