Anda di halaman 1dari 14

Pemberdayaan Pasien Lanjut Usia dengan Home Care melalui Optimalisasi Budaya Bangsa

*identitas dan asal institusi dirahasiakan*


ABSTRAK Masyarakat Indonesia cenderung menempatkan masyarakat lanjut usia (lansia) sebagai hal yang paling istimewa. Hal ini menyebabkan lansia Indonesia masih tergantung pada orang lain khususnya keluarga. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004, jumlah penduduk lansia di Indonesia sebanyak 16.522.311 jiwa atau 7,6 persen dari jumlah total penduduk. Dari jumlah tersebut, 15 persen diantaranya atau 2.426.190 orang terlantar dan 28 persennya atau 4.658.280 orang rawan terlantar. Melihat kenyataan tersebut perlu dilakukan telaah lanjut untuk memberikan data yang semakin valid sehingga bisa dilakukan tindakan nyata untuk mengatasinya. Karya tulis ini disusun dengan metode tinjauan pustaka dengan tujuan untuk mengetahui permasalahan lanjut usia di Indonesia serta berbagai upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemberdayaan lansia, khususnya langkah kongkrit yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan mengoptimalkan budaya bangsa yang diaplikasikan ke dalam home care maka masalah geriatri di Indonesia bisa tertangani dengan baik karena seluruh warga Indonesia memiliki kontribusi yang sama dalam pembangunan. Kata kunci : Lanjut usia. Home care. Budaya. Indonesia. ABSTRACT Indonesian identify elderly as the most special person. Thus, elderly becomes depending on other people, especially their family. The latest data from The Center of Statistic Bureau (BPS) in 2004, the total of elderly in Indonesia are 16.522.311 person or 7.6 percent. From this amount, 15 percent or 2.426.190 person are isolated and 28 percent or 4.658.280 person are almost isolated. By illustrating this reality, we have to be focus on the problem to provide more valid data so action will be applicable as soon as possible. The method of writing this paper is study literature. The objective is to know the problem of elderly in Indonesia and kind of actions that can be done to empower elderly, especially real action that has strong relationship with Indonesians culture. By optimizing Indonesians culture that can be applicable to home care concept, the problem of geriatric in Indonesia will be handled well because all Indonesia have the same contribution to our development. Keywords : Elderly. Home care. Culture. Indonesia.

Pendahuluan Upaya peningkatan kesehatan masyarakat yang dicanangkan pemerintah dapat dikatakan mulai membuahkan hasil. Salah satu parameter yang dapat dilihat yaitu meningkatnya usia harapan hidup (life expectancy) penduduk. Namun perlu disadari bahwa dampak positif ini juga mempunyai efek yang secara tidak langsung membawa permasalahan baru yaitu jumlah penduduk lanjut usia (lansia) yang semakin bertambah. Menurut Susenas tahun 1999, proporsi penduduk lansia Indonesia telah mencapai 7,5% dan menurut proyeksi tahun

2000-2005 diperkirakan menjadi 7,58% dan 8,13% dari total penduduk. 1 Transisi demografi hampir terjadi di seluruh dunia di mana proporsi penduduk berusia lanjut bertambah sedangkan jumlah penduduk muda menetap atau bahkan berkurang. Pertambahan jumlah lansia di Indonesia dalam kurun waktu tahun 1990-2025, tergolong tercepat di dunia. Mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Kofi Annan, dalam peringatan Hari Lanjut Usia Internasional pada 1 Oktober 2000, mengeluarkan deklarasi yang mengandung peringatan, khususnya Indonesia di tahun 2050 akan mencapai sepuluh juta jiwa. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperhitungkan pada tahun 2025, Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah warga lansia sebesar 41,4% yang merupakan sebuah peningkatan tertinggi di dunia.2,3 Pada tahun 2002, jumlah lansia di Indonesia berjumlah 16 juta dan diproyeksikan akan bertambah menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat keempat dunia, setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus Badan Pusat Stastistik (BPS) tahun 1998 masing-masing untuk pria 63 tahun dan perempuan 67 tahun. Angka di atas berbeda dengan kajian WHO (1999), di mana usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke-103 dunia.4 Proses menua memang suatu kondisi alami yang tidak dapat diintervensi. Proses ini sudah merupakan bagian dari siklus hidup (life cycle) manusia. Banyak hal yang dapat berubah mengiringi proses menua ini baik dari sisi fisik, mental psikologis, kondisi ekonomi, sosial budaya dan sebagainya. Dalam dunia medis diketahui bahwa penurunan tingkat kesehatan berhubungan dengan proses degeneratif dimana terjadi penurunan fungsi anatomi maupun fisiologi. Penurunan fungsional organ tubuh inilah yang menyebabkan terjadinya kondisi patologis pada orang lanjut usia. Dengan beberapa alasan itulah maka orang lanjut usia ditempatkan pada posisi khusus di masyarakat. 5 Budaya Indonesia yang menganut tradisi ketimuran memiliki beberapa perbedaan dalam memandang lansia jika dibandingkan dengan budaya barat. Masyarakat Indonesia pada umumnya menempatkan lanjut usia pada posisi yang dihormati. Hal ini bukan saja karena sesuai dengan nilai budaya yang hidup dan berkembang di masyarakat tetapi juga karena lansia tergolong ke dalam kelompok rentan. Penghormatan itu dapat berdampak pada pemberian fasilitas dan pelayanan khusus dalam rangka perlindungan dan pemenuhan hak-hak lansia. Dengan demikian memang sudah selayaknya jika budaya bangsa yang luhur ini dilestarikan untuk membangun lansia Indonesia yang sehat dan sejahtera. Konsep home care usia lanjut sebagai adaptasi dari tradisi budaya Indonesia seharusnya sudah mulai dipikirkan sebagai suatu

alternatif perawatan serta pemberdayaan lansia mengingat permasalahan yang dihadapi Indonesia di mana telah terjadi transisi demografi. Jumlah penduduk lansia yang meledak tidak akan menjadi problem yang berarti, bila kuantitas yang besar tersebut diimbangi dengan kualitas yang baik pula. Hal ini bisa dilihat dengan beberapa parameter di antaranya berhasilnya upaya pemberdayaan lansia serta munculnya lansia yang peduli dengan konsep healthy aging. 3 Pembahasan Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tetapi tetap sehat (healthy aging) yang merupakan dambaan setiap insan. Healthy aging artinya menjadi tua dalam keadaan sehat.3 Dalam hal ini, yang terpenting adalah promosi kesehatan dan pencegahan penyakit yang juga harus dimulai sedini mungkin dengan cara dan gaya hidup sehat. Active Agieng adalah proses untuk mengoptimalkan kesempatan, kesehatan, partisipasi dan keamanan untuk meningkatkan kualitas hidup sejalan dengan pertambahan usia. Melalui healthy aging berarti mencegah agar proses menua tadi tidak disertai dengan proses patologi atau paling tidak meminimalkan kondisi patologi pada usia lanjut. Healthy aging dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor : 1. endogenic aging, dimulai dengan cellular aging lewat tissue dan anatomical aging ke arah proses menuanya organ tubuh. Proses ini seperti jam yang terus berputar. 2. exogenic factor, dibagi dalam penyebab lingkungan (environment) dimana seseorang hidup dan faktor sosio-ekonomi, sosio budaya atau yang paling tepat disebut gaya hidup (life style). Faktor exogenic aging tadi, kini lebih dikenal dengan sebutan faktor risiko. Bangsa ini patut berbangga mempunyai budi luhur yang memiliki ikatan keluarga yang mencerminkan nilai keagamaan dan budaya yang dipelihara dan dikembangkan dengan mengangkat orang tua sebagai sosok yang dihargai, dihormati dan dijunjung tinggi dalam kehidupan keluarganya. Di Indonesia umumnya memasuki usia lanjut tidak perlu dirisaukan. Mereka cukup aman karena anak atau saudarasaudara yang lainnya masih merupakan jaminan yang baik bagi orang tuanya. Anak berkewajiban menyantuni orang tua yang sudah tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Nilai ini masih berlaku, memang anak wajib memberikan kasih sayangnya kepada orang tua sebagaimana mereka dapatkan ketika mereka masih kecil. (tabel 1) Nilai agama dan norma budaya masyarakat sangat mendukung pemeliharaan lansia oleh anggota keluarga. Misalnya pada masyarakat di Bali terdapat ajaran agama tri rene (tiga hutang), yakni hutang kepada Tuhan, leluhur dan orangtua yang masih hidup (prinsip putra sesane). Selain itu terdapat juga keyakinan tentang karmapala yaitu adanya pembalasan perilaku di kemudian hari.

Tabel 1. Alasan keluarga untuk menerima/merumat orang lanjut usia di rumah Negara Jenis kela min Karena sangg up melak ukann ya (perse n) 32,1 37,5 Tanggung jawa b kelu arga (pers en) Tanggung jawab masy araka t (pers en)

Laki-laki 62,0 6,0 Perempua 58,3 4,2 n Indonesi Laki-laki 3,5 86,1 10,4 a Perempua 3,2 80,4 16,4 n Sri Lanka Laki-laki 32,8 59,5 7,6 Perempua 33,2 55,7 10,9 n Thailand Laki-laki 42,1 42,2 15,7 Perempua 38,4 42,1 19,6 n Sumber : WHO-5-country-Study on Health of Elderly (SEARO),1993 Di tengah iklim budaya timur yang sebagian besar masih berada pada extended family, memelihara ibu atau ayah di lingkungan keluarga sendiri, masih sangat memungkinkan. Masyarakat Indonesia masih menganut pola kolektivitas jadi jarang yang sampai hati membiarkan orangtuanya di luar tanggung jawabnya. Berbeda dengan budaya barat yang bergaya individualistik. Karena memelihara orang tua tidak dianggap sebagai suatu penghargaan, mereka cenderung mengambil jalan praktis dengan cara memisahkannya di lingkungan khusus. Bahkan tidak lagi menjadi pemandangan aneh lagi jika pihak orang tuanya sendiri merasa tidak asing kala si anak mengantarkan mereka ke panti wreda atau panti jompo.6 Diamati dari sisi positif, lingkungan panti dapat memberikan kesenangan bagi orang tua yang telah lanjut usia. Sosialisasi di lingkungan yang memiliki tingkat usia sebaya akan menjadi hiburan tersendiri sehingga kebersamaan ini dapat mengubur kesepian yang biasanya mereka alami. Akan tetapi mungkin jauh di lubuk hati,

Myanma r

mereka merasa jauh lebih nyaman berada di dekat keluarganya. Apalagi di negara kita yang masih menjunjung tinggi kekeluargaan, tinggal di panti menjadi suatu hal yang tidak natural lagi, bagaimanpun alasannya.6 Ketergantungan penduduk lansia terhadap penduduk produktif nampaknya akan terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2005 sebesar 8,11 yang artinya setiap 100 penduduk produktif harus menanggung 8 penduduk lansia (tabel 2).

Tabel 2. Dependency Ratio in Indonesia, 1971-2020 Year Elderly Young People Total (percent) (percent) 1971 4,69 82,15 86,84 1980 5,82 73,27 79,09 1990 6,32 61,51 67,83 1995 6,93 54,08 61,02 2000 6,97 46,20 53,17 2005 7,74 42,13 49,87 2010 8,32 37,87 46,20 2015 8,74 34,11 42,84 2020 10,14 31,23 41,38 Sumber : Biro Statistik Nasional Bagi keluarga lansia, kegiatan peningkatan kualitas lansia diarahkan kepada upaya keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan, rasa ketidakberdayaan lansia dan perasaan ditelantarkan anak serta menyalurkan potensi lansia dalam meningkatkan kesejahteraannya. Lansia yang masih produktif dimungkinkan untuk diberdayakan agar mempunyai kegiatan yang dapat meringankan beban keluarga. Melalui wahana bina keluarga lansia keluarga diharapkan dapat berbagi pengalaman dalam merawat lansia dan memberdayakan lansia itu sendiri agar tetap sehat dan bugar serta merasa dihargai sebagai sesepuh yang dapat menjadikan keluarga harmonis bagi 3 generasi yang hidup dalam satu atap. 1 Home care usia lanjut dapat dikatakan merupakan konsep yang diadaptasi dari budaya bangsa Indonesia. Pemberdayaan masyarakat utamanya keluarga harus juga didukung kerjasama lintas sektoral (desa, PKK, Posyandu Lansia, Puskesmas). Untuk melaksanakan perawatan kesehatan lansia di rumah perlu dilakukan pemilihan dan pelatihan keluarga yang membantu lansia. Lingkup pelayanan kesehatan di rumah dapat meliputi pelayanan perawatan kesehatan

yang komprehensif (promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif) dan holistik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual). 7 Upaya pelayanan kesehatan lansia di masyarakat tetap secara struktural dalam koordinasi Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan primer tingkat pertama (primary health care). Program pemberdayaan lansia ini dapat diselenggarakan secara terpadu dengan kegiatan puskesmas lainnya yang terkait serta strategi pelayanan sesuai dengan perencanaan strategi puskesmas. Dengan demikian upaya kesehatan lansia merupakan serangkain upaya yang tidak terpisahkan dari pencapaian visi puskesmas, dimulai dari pengorganisasian di tingkat puskesmas sampai pemberdayaan masyarakat melalui keluarga usia lanjut. 7,8 Beberapa program kegiatan yang dapat dilaksanakan Puskesmas dalam rangka memberikan pelayanan terhadap lansia: 1. Patients joint health care team atau Self-help course Para lansia yang mempunyai masalah kesehatan tertentu seperti diabetes, hipertensi dan artritis dikumpulkan secara periodik untuk mendapatkan informasi pemeliharaan kesehatan terkini. Setiap bulan dapat diberikan topik yang terjadwal misalnya komplikasi penyakit, gizi dan pelaksanaan senam bagi lansia. 2. Pemeriksaan osteoporosis, kardiovaskuler dan gula darah secara periodik. Pemeriksaan rutin ini dapat dilaksanakan beberapa bulan sekali. Melalui pemeriksaan rutin yang terkoordinasi ini maka pelayanan kesehatan lansia dapat dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Program ini dapat digabungkan dengan pelaksanaan Posyandu Lansia agar lebih efisien. Melalui pemeriksaan ini diharapkan dapat menerapkan pelayanan perawatan kesehatan lansia yang komprehensif dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif serta rehabilitatif. 3. Collaborating on care Sistem pembinaan lansia terus diupayakan untuk selalu lebih baik dengan mensinergiskan upaya yang dilakukan Pemerintah Daerah (PEMDA), tenaga kesehatan, , pasien, keluarga, masyarakat dan pembiayaan dari pihak ketiga. Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pemberdayaan kelompok lansia dan keluarga lansia serta didukung kerja sama lintas sektor (desa, PKK). Untuk melaksanakan perawatan kesehatan lansia di rumah, dilakukan pemilihan dan pelatihan keluarga yang membantu lansia. 4. Membangun forum kebersamaan lansia Dalam masyarakat perlu dibangun suatu wadah bagi lansia untuk sarana apresiasi diri serta bergaul dengan teman sebaya. Para lansia dapat menghimpun diri di dalam kelompok di masyarakat. Kelompok ini dapat beranggotakan keluarga yang berasal dari Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) tertentu. Dalam

1. 2. 3. 4. 5.

kumpulan itu mereka dapat mengadakan pertemuan secara teratur, di tempat-tempat dan dengan kegiatan yang bervariasi. Variasi kegiatan setiap pertemuan itu merupakan upaya agar seluruh lansia dengan berbeda kepentingan tetap bisa ikut aktif dalam forum lansia tersebut. Kegiatan dalam forum itu dapat dibagi-bagi menurut kelompok peminat sehingga jika dikehendaki setiap kelompok besar bisa dibagi lagi dalam beberapa kelompok kecil dengan kegiatan yang berbeda-beda. Seorang pemimpin kelompok dapat menikmati dengan kelompoknya sendiri dan merasa sangat puas dengan upaya yang mereka lakukan bersama sesama penggemar kegiatan tertentu. Dalam kebersamaan itu para lansia diharapkan memperoleh kebahagiaan tersendiri. Kegiatan berbasis masyarakat ini memungkinkan keluarga mengambil peranan yang sangat dominan. Lansia tidak perlu tinggal di panti jompo tetapi tetap tinggal bersama keluarganya di kampung atau di pedesaan. Keluarganya tetap bisa selalu bersama dengan orang tua yang mereka hormati, bahkan pada hari-hari pertemuan atau saat ada kegiatan di kelompoknya anggota yang lebih muda dapat mendampingi lansia dalam kegiatan yang telah diprogramkan. 9 Sesuai dengan konsep home care para lansia mendapatkan perawatan, upaya pemberdayaan serta pelayanan terhadap kesehatannya di rumah tetapi tetap dalam koordinasi pemberi pelayanan publik terdekat yaitu puskesmas. Mekanisme perawatan kesehatan di rumah meliputi tahapan sebagai berikut : penjaringan lansia pengelola program lansia menerima rujukan atau mencari kasus koordinator program menentukan apakah lansia secara medis layak dirawat di tempat tinggal mereka dengan mengisi lembar assessment home care usila lansia akan menerima pelayanan perawatan dari pelaksana perawatan di rumah secara periodik koordinator melakukan pemantauan dan penilaian tentang pelayanan yang diberikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan serta dipersiapkan dalam rangka pelaksanaan program home care usia lanjut diantaranya : 1. peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang mampu membina lansia 2. melengkapi kekurangan sarana pembinaan dan operasional sesuai dengan kebutuhan 3. mengadakan semacam pelatihan pemeliharaan kesehatan lansia untuk keluarga, utamanya keluarga yang memiliki lansia dengan penyakit kronis dan resiko tinggi

4. perlu dipertimbangkan tersedianya sarana pembinaan dan penyuluhan yang sesuai dengan perkembangan jaman seperti CD dan VCD secara serial 5. perlu dikaji kembali mekanisme koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dalam pembinaan lansia berkesinambungan. 10 Meskipun upaya pemberdayaan serta perawatan lansia dilaksanakan di rumah namun tetap harus diperhatikan prinsip pelayanan lansia yang elegan dan bermartabat. Prinsip kesejahteraan sosial lanjut usia didasarkan pada resolusi PBB NO. 46/1991 tentang Principles For Older Person (Prinsip-prinsip bagi lanjut usia) yang pada dasarnya berisi himbauan tentang hak dan kewajiban lanjut usia yang meliputi kemandirian, partisipasi, pelayanan, pemenuhan diri dan martabat yaitu : 1. memberikan pelayanan yang menjujung tinggi harkat dan martabat lanjut usia 2. melaksanakan, mewujudkan hak azasi lanjut usia 3. memperoleh hak menentukan pilihan bagi dirinya sendiri 4. pelayanan didasarkan pada kebutuhan yang sesungguhnya 5. mengupayakan kehidupan lanjut usia lebih bermakna bagi diri, keluarga dan masyarakat 6. menjamin terlaksananya pelayanan bagi lanjut usia yang disesuaikan dengan perkembangan pelayanan lanjut usia secara terus menerus serta meningkatkan kemitraan dengan berbagai pihak 7. memasyarakatkan informasi tentang aksesbilitas bagi lanjut usia agar dapat memperoleh kemudahan dalam penggunaan sarana dan prasarana serta perlindungan sosial dan hokum 8. mengupayakan lanjut usia memperoleh kemudahan dalam penggunaan sarana dan prasarana dalam kehidupan keluarga serta perlindungan sosial dan hukum 9. memberikan kesempatan kepada lanjut usia untuk menggunakan sarana pendidikan, budaya, spriritual dan rekreasi yang tersedia di masyarakat 10. memberikan kesempatan bekerja kepada lanjut usia sesuai dengan minat dan kemampuan 11. memberdayakan lembaga kesejahteraan sosial dalam masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam penanganan lanjut usia di lingkungannya. 3, 11 Implementasi Home Care Lanjut Usia memiliki manfaat dalam berbagai bidang, antara lain: Ekonomi Menjadi tua seringkali disamakan dengan kerentanan, kehidupan sosial dan keberdayaan ekonomi yang menurun, sementara penyakit degeneratif mulai mengancam. Sebaliknya infrastruktur

1.

yang tersedia belum mengakomodasi kebutuhan warga lanjut usia untuk mempertahankan kondisi kesehatan fisik dan psikisnya. Demikian pula fasilitas kesehatan yang mampu menangani kasus geriatri belum memadai. Sebagai antisipasi terhadap kompleksitas pengelolaan lansia maka diperlukan penanganan sedini mungkin yang dapat bersifat holistik, sinergis dan berkesinambungan. Home care lansia sesuai dengan konsep budaya Indonesia yang sistem merawat orang tua dilaksanakan di rumah diharapkan mampu menjadi salah satu solusi. Hal ini disebabkan pengendalian biaya pemeliharaan kesehatan lansia akan menjadi lebih cost effective, baik dari sisi institusi maupun lansia itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan semakin melonjaknya jumlah lansia maka semakin banyak pula budget kesehatan bagi subsidi perawatan kesehatan lansia. Apalagi jika dicermati bahwa kondisi kesehatan lansia yang rentan terhadap penyakit dan ketidakberdayaan maka pembiayaan kesehatan lansia memang menjadi mahal. Bahkan berdasarkan data di Amerika budget perawatan geriatri meningkat dari tahun 2004 2005. Dari data National Institute on Aging (NIA) pada tahun 2004 dana yang dikeluarkan sebesar $1.025 juta sedangkan pada tahun 2005 meningkat sebesar $1.056 juta. Meskipun di Indonesia belum terdapat data pasti namun diharapkan dengan program home care lansia yang lingkupnya tidak hanya perawatan kuratif serta rehabilitatif tetapi juga promotif dan preventif mampu mengurangi pengeluaran biaya kesehatan lansia.11 2. Kesehatan Keluarga merupakan satu-satunya tempat yang sangat penting untuk memberikan dukungan, pelayanan serta kenyamanan bagi usia lanjut. Beberapa studi menyimpulkan bahwa proporsi usia lanjut yang tinggal bersama keluarga masih sangat tinggi. Perawatan kesehatan di rumah oleh keluarga atau kader tidak saja membantu menekan biaya perawatan bagi usila tetapi juga dapat menimbulkan kenyamanan bagi usila karena mereka dirawat di rumah sendiri sehingga diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhannya. 12 Demensia sebagai salah satu dari sekian banyak sindroma geriatri yang lazim dialami oleh orang lanjut usia ternyata mempunyai metode perawatan kesehatan yang sejalan dengan konsep home care lansia. Pada Deklarasi Kyoto sebagai hasil Konferensi Alzheimers Disease Internasional ke-20 yang diadakan di Jepang (2004) terdapat rekomendasi untuk tetap memberikan perawatan yang maksimal bagi lansia di rumah. Hal ini dapat dilihat pada dua dari sepuluh rekomendasi yang

terdapat pada tindakan minimal yang diperlukan untuk perawatan penderita demensia yaitu : a. Berikan perawatan dalam masyarakat (1) Tetapkan prinsip bahwa yang terbaik bagi penderita demensia adalah dinilai dan diobati di rumahnya sendiri. (2) Kembangkan dan galakkan penilaian kebutuhan rutin untuk digunakan dalam perawatan primer dan sekunder. (3) Prakarsai pilot project pengembangan tim perawatan masyarakat yang bersifat multidisiplin, perawatan sepanjang hari dan perawatan jangka pendek agar pemberi perawatan dapat beristirahat. (4) Keluarkan penderita demensia dari wisma-wisma yang kurang tepat. b. Libatkan masyarakat, keluarga dan konsumen Upaya ini bertujuan untuk memahami serta mengerti kebutuhan para penderita alzheimer dari lingkungan terdekat penderita. 3. Psikologi Para lansia yang hidup di suasana panti, dari sisi psikologi sangat rentan terkena gejala etena syndrom. Pada saat orang tua terpisah dari anak serta cucunya maka timbullah perasaan useless dan kesepian. Padahal, mereka yang sudah tua masih mampu mengaktualisasikan potensinya secara optimal. Bila dijadikan kendala, kondisi fisik serta daya ingat merupakan gangguan kecil pada masa tua. Namun jika lansia dapat mempertahankan pola hidup serta cara dia memandang suatu makna kehidupan maka sampai ajal menjemput mereka masih dapat berbuat banyak bagi kepentingan semua orang.13 Kesejahteraan Sosial Secara umum, lanjut usia cenderung tinggal bersama dengan anaknya yang telah menikah. Tingginya penduduk lanjut usia yang tinggal dengan anaknya menunjukkan masih kuatnya norma bahwa kehidupan orang tua merupakan tanggungjawab anak-anaknya. Survey yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD FEUI, 1993) terhadap 400 penduduk usia 60-69 tahun, yang terdiri dari 329 pria dan 71 wanita menunjukkan bahwa hanya sedikit penduduk lanjut usia yang tinggal sendiri (1,5 %), diikuti oleh yang tinggal dengan anak (3,3 %), tinggal dengan menantu (5 %), tinggal dengan suami atau istri dan anak (29,8%), tinggal dengan suami, istri dan menantu (19,5%) serta penduduk lanjut usia yang tinggal dengan pasangannya sebesar 18,8 %.

4.

Hasil temuan Yulmardi (1995) juga menunjukkan bahwa masyarakat lanjut usia di Sumatera, khususnya di pinggiran kota Jambi sebagian besar tinggal dalam keluarga luas. Menurut Rudkin (1993) penduduk lanjut usia yang hidup sendiri secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan dengan lanjut usia yang tinggal dengan keluarganya. Dengan melihat kondisi tersebut maka sudah selayaknyalah upaya perawatan lansia di rumah diberdayakan untuk mendukung lansia yang sehat jasmani dan mental. Kesimpulan 1. Pemberdayaan lansia bertujuan untuk memperpanjang usia harapan hidup dan masa produktif, terwujudnya kemandirian dan kesejahteraannya, terpeliharanya sistem nilai budaya dan kekerabatan bangsa Indonesia serta lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. 2. Pemberdayaan lansia dapat dilakukan dengan konsep home care yang sesuai dengan kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. 3. Pelaksanaan home care lansia dilaksanakan dengan koordinasi antara keluarga, masyarakat serta wakil pemerintah dalam strata pemberi pelayanan primer pertama yaitu puskesmas. Beberapa program yang dapat dilaksanakan dalam upaya perawatan lansia yaitu : a. patients joint health care team atau Self-help course b. pemeriksaan osteoporosis, kardiovaskuler dan gula darah secara periodik c. collaborating on care d. membangun forum kebersamaan lansia. 4. Perawatan serta pemberdayaan lansia dengan konsep home care dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya : a. Ekonomi Melalui home care lansia pengendalian biaya pemeliharaan kesehatan lansia akan menjadi lebih cost effective, baik dari sisi institusi maupun lansia itu sendiri. b. Kesehatan Home care lansia dapat menimbulkan kenyamanan bagi usila karena mereka dirawat di rumah sendiri sehingga diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhannya c. Psikologi Para lansia yang hidup di suasana panti, dari sisi psikologi sangat rentan terkena gejala etena syndrom. Pada saat orang tua terpisah dari anak serta cucunya maka timbullah perasaan useless dan kesepian. Melalui home care lansia kondisi tersebut dapat diminimalkan. d. Kesejahteraan sosial

Berdasarkan penelitian orang lanjut usia yang hidup sendiri secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dibandingkan dengan lanjut usia yang tinggal dengan keluarganya. Saran 1. Mengingat penduduk lanjut usia merupakan sosok yang unik di masyarakat baik ditinjau dari aspek fisik, mental, psikologis, medis, ekonomi, sosial serta budaya maka kepada pemerintah diharapkan untuk segera merealisasikan terbentuknya Komite Nasional Lanjut Usia Indonesia, menciptakan strategi dan program-program pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) lansia, menciptakan fasilitas dan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan ilmu dan ketrampilan untuk pra lansia maupun lansia serta meningkatkan upaya-upaya terpadu pemberdayaan SDM lansia. 2. Kepada masyarakat diharapkan memberikan lingkungan yang ramah lansia, menciptakan dan memberikan peluang bagi para lansia untuk menambah ilmu dan ketrampilan melalui saranasarana, kursus-kursus maupun pendidikan berkelanjutan agar para lansia dapat lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari. 3. Harapan kepada keluarga yaitu agar tetap menghormati orang tua yang telah lanjut usia sesuai budaya tanpa memberikan proteksi yang berlebihan, menciptakan suasana kondusif bagi terpeliharanya kesehatan jasmani dan rohani lansia.

Ucapan terima kasih 1) Dr. Retno Widiastuti MS selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan (FKIK) UNSOED yang telah memberikan fasilitas selama pembuatan karya tulis ini. 2) Dr. H.M. Mambodyanto SP, S.H,M.M.R. selaku Ketua Jurusan Kedokteran UNSOED yang telah memberikan fasilitas selama proses penyusunan karya tulis ini. 3) Dr. H. Zaenuri Syamsu Hidayat, Sp. F selaku Ketua Jurusan III Kedokteran yang telah memberikan dukungan selama proses penyusunan karya tulis ini. 4) Dr. Joko Mulyanto, M.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan petunjuk, saran, arahan, bimbingan dan motivasi selama proses penyusunan karya tulis ini. 5) Teman-teman BEM Keluarga Besar Mahasiswa Kedokteran (KBMK) UNSOED. 6) Teman-teman Kedokteran UNSOED dari angkatan 2001-2007. 7) Keluarga Rizki Hapsari N. yang senatiasa mendukung dalam situasi apapun termasuk berkorban waktu sehingga waktu bertemu

menjadi jarang , Drs. Wawan S.N., Ella Subiakti, BSc., Rahmat Vanadi Nugraha, Reza Muhamad Nugraha. Dan sahabat tercinta yang selalu mendukung dan bersabar, Ricky Gustari Diharja. 8) Keluarga Diah Ayu Putriyanti yang tidak henti-hentinya memacu untuk menulis sebuah karya tulis ini. Penghargaan Artikel ini berpartisipasi dalam Acara Temu Ilmiah Nasional Mahasiswa Kedokteran seluruh Indonesia di Denpasar, Bali, Agustus 2007 Daftar pustaka 1. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 2006. Peningkatan Ketahanan Keluarga dalam Mewujudkan Keluarga Kecil Berkualitas. Available from www.bkkbn.go.id 2. Setiyabudi, Tony. Gerontologi dan Permasalahannya di Indonesia. Available www.cigp.org 3. World Health Organization. 2003. Ageing and Health ; A Health Promotion Approach for Developing Countries. Available from www.wpro.who.int 4. Kementerian Koordinator Tentang Kesejahteraan Rakyat. 2007. Peraturan Perundang-Undangan Tentang Lanjut Usia. Available from www.menkokesra.go.id 5. Darmojo, Boedhi, dkk. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ; 1999. 6. Suyono, Haryono. 2007. Membangun Lansia Bersama Masyarakat. Available from www.pelita.or.id 7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Kesejehteraan Lansia. Available from www.depkes.go.id 8. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. 2001. Prosiding Seminar dan Lokakarya Pengembangan Pusat Pelayanan Lanjut Usia. Available from www.pkbi.or.id 9. Kim Dung Do-Le dan Yulfita Raharjo. Community Based Support for The Elderly in Indonesia: The Case of Pusaka. [paper]. Paper presented at the 2002 IUSSP Regional Population Conference on Southeast Asias Population in a changing Asian Context, Bangkok, Thailand, 10-14 June 2002 10. Elisabeth Schhrder- Butterfill. 2002. Pillars of The Family, Support Provided By The Elderly in Indonesia. Available from www.ageing.ox 11. American Geriatry Society. 2005. Caring for Older Americans : The Future of Geriatric Medicine. Available from www.americangeriatrics.org 12. Rizkiyana. 2004. Pemeliharaan Kesehatan Usila PUK Boja Kab. Kendal. Health. LRC. 13. Budiman,Dini. 2004. Lansia di Panti, Bagai Dua Sisi Mata Uang. Available from www.pikiranrakyat.com

Catatan: data-data demografi dan tabel diperoleh dari : Biro Pusat Statistik .1998. Proyeksi Penduduk Indonesia per Propinsi 1995-2005. BPS, Jakarta.