Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH SOFTWARE APLIKASI TENAGA LISTRIK

ANALISA ALIRAN DAYA MENGGUNAKAN ETAP

DISUSUN OLEH : Nama : Tsalatsatul Chabibah NIM : 3.39.10.0.17 Kelas : LT 3B

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI SEMARANG 2013

I. PENDAHULUAN ETAP (Electric Transient and Analysis Program) merupakan suatu perangkat lunak yang mendukung sistem tenaga listrik. Perangkat ini mampu bekerja dalam keadaan offline untuk simulasi tenaga listrik, online untuk pengelolaan data real-time atau digunakan untuk mengendalikan sistem secara real-time. Fitur yang terdapat di dalamnya pun bermacammacam antara lain fitur yang digunakan untuk menganalisa pembangkitan tenaga listrik, sistem transmisi maupun sistem distribusi tenaga listrik. Analisa tenaga listrik yang dapat dilakukan ETAP antara lain : a. Analisa aliran daya b. Analisa hubung singkat c. Arc Flash Analysis d. Analisa kestabilan transien ETAP memiliki 2 macam standar yang digunakan untuk melakukan analisa kelistrikan, ANSI dan IEC. Pada dasarnya perbedaan yang terjadi di antara kedua standar tersebut adalah frekuensi yang digunakan, yang berakibat pada perbedaan spesifikasi peralatan yang sesuai dengan frekuensi tersebut. Simbol elemen listrik yang digunakan dalam analisa dengan menggunakan ETAP pun berbeda. Pada percobaan ini digunakan standar ANSI.

Gambar 1. Elemen standar ANSI

II. ANALISA ALIRAN DAYA Aliran daya pada suatu sistem tenaga listrik secara garis besar adalah suatu peristiwa daya yang mengalir berupa daya aktif (P) dan daya reaktif (Q) dari suatu sistem pembangkit (sisi pengirim) melalui suatu saluran atau jaringan transmisi hingga sampai ke sisi beban (sisi penerima). Pada kondisi ideal, maka daya yang diberikan oleh sisi pengirim akan sama dengan daya yang diterima beban. Namun pada kondisi real, daya yang dikirim sisi pengirim tidak akan sama dengan yang diterima beban. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal: 1. Impedansi di saluran transmisi. Impedansi di saluran transmisi dapat terjadi karena berbagai hal dan sudah mencakup resultan antara hambatan resistif, induktif dan kapasitif. Hal ini yang menyebabkan rugirugi daya karena terkonversi atau terbuang menjadi energy lain dalam transfer energi. 2. Tipe beban yang tersambung jalur. Ada 3 tipe beban, yaitu resistif, induktif, dan kapasitif. Resultan antara besaran hambatan kapasitif dan induktif akan mempengaruhi P.F. sehingga mempengaruhi

perbandingan antara besarnya daya yang ditransfer dengan yang diterima. Metode Analisa Aliran Daya Ada beberapa metode yang digunakan dalam analisa aliran daya yakni Metode NewtonRaphson, Metode Fast-Decoupled dan Metode Akslerasi Gauss-Seidel. Dan pada analisa ini menggunakan metode Newton-Raphson. Metode Newton-Raphson merumuskan dan memecahkan menurut rumus berikut : [ ][ ]=[ ] aliran daya secara iterative

Dimana P dan Q adalah bus daya nyata dan ketidak cocokan vector daya rekatif antara nilai yang ditentukan dan nilai yang dihitung, masing masing; V dan merupakan sudut tegangan bus dan vector besarnya dalam bentuk penambahan, dan J1 sampai J4 disebut matrik Jacobian. Metode Newton-Raphson memproses karakteristik konvergensi kuadratik yang unik. Ini biasanya mempunyai kecapatan konvergensi yang sangat cepat dibandingkan metode perhitungan yang lain. Ini juga mempunyai keuntungan bahwa kriteria konvergensi ditentukan untuk memastikan konvergensi untuk bus daya nyata dan ketidaksesuaian daya reaktif. Kriteria ini memberikan control langsung dari akurasi yang diinginkan untuk

spesifikasi solusi aliran daya. Kriteria konvergensi untuk Metode Newton-Raphson biasanya diatur untuk 0,001 MW dan Mvar. Metode Newton-Raphson sangat tergantung nilai awal tegangan bus. Pemilihan yang hati-hati terhadap nilai awal tegangan bus sangat direkomendasikan. Sebelum menjalankan aliran daya menggunakan Metode Newton-raphson, ETAP membuat sedikit iterasi DAussSeidel untuk menetapkan setting dari nilai awal tegangan bus. Metode Newton-Raphson direkomendasikan untuk digunakan dengan banyak sistem sebagai pilihan pertama. Bus bus pada aliran daya Dalam analisa sistem tenaga (aliran daya) ada 3 klasifikaasi bus yaitu: 1. Load bus (PQ bus) cirinya adalah terhubung dengan beban PQ dari beban diketahui dan tetap yang dihitung adalah (V) dan sudut fasa. 2. Swing/slack bus (P dan V bus). Bus terhubung dengan generator P dan |V| tetap (diketahui, sudut fasa besarnya nol. Daya yang dihitung adalah daya aktif dan reaktif. Berfungsi untuk mencatu rugi-rugi daya dari beban yang tidak dapat dicatu dari generator lain. 3. Generator bus adalah bus yang terhubung dengan generator P dan |V| diketahui dan tetap yang dihitung adalah daya aktif dan sudut fasa dari generator. Pada tiap-tiap bus terdapat 4 besaran, yaitu : 1. Daya real atau daya aktif (P) 2. Daya reaktif (Q) 3. Harga saklar tegangan (V) 4. Sudut fasa tegangan (phi)

III. PERCOBAAN A. Gambar Rangkaian

Gambar 2. Diagram satu garis percobaan

B. Langkah Percobaan 1. Menyalakan komputer kemudian menjalankan program ETAP yang telah diinstal di komputer dengan mengklik icon ETAP. 2. Membuat file pada program ETAP 3. Membuat diagram satu garis system pembangkit ke dalam program ETAP 4. Menginput data-data peralatan sistem kedalam program ETAP 5. Mengoperasikan program dengan mengklik run load flow pada tools program untuk menghitung aliran daya pada system. 6. Untuk melihat hasil perhitungan dapat dilihat pada report manager dan dapat dicetak langsung.

C. Data Percobaan 1. Data Generator a. Generator 1 Mode V P PF : Swing : 20 kV : 60 MW : 95% b. Cable 2 ( bus 4 5 ) R X Y Panjang : 0,0121 : 0,0327 : 0,0059 : 60 km : 0,0289 : 0,0784 : 0,0142 : 40 km : 0,0581 : 0,1571 : 0,0286 : 50 km : 0,0581 : 0,1571 : 0,0286 : 50 km : 0,0733 : 0,1986 : 0,0721 : 130 km : 0,0144 : 0,0391 : 0,0284 : 20 km

c. Cable 3 ( bus 2 5 ) R X Y Panjang

b. Generator 2 Mode V P PF 2. Data Beban a. Beban 1 V P Q b. Beban 2 V P Q c. Beban 3 V P Q 3. Data Saluran a. Cable 1 ( bus 1 2 ) R X Y Panjang : 0,0733 : 0,1986 : 0,0721 : 150 km : 20 kV : 25,01 MW : 15,23 Mvar : 20 kV : 54,4 MW : 32,64 Mvar : 20 kV : 20,13 MW : 12,08 Mvar : Swing : 20 kV : 90,3 MW : 95%

d. Cable 4 ( bus 2 4 ) R X Y Panjang

e. Cable 5 ( bus 4 3 ) R X Y Panjang

f. Cable 6 ( bus 2 3 ) R X Y Panjang

g. Cable 7 ( bus 1 3 ) R X Y Panjang

D. Hasil percobaan 1) Gambar rangkaian setelah di run load flow

Gambar 3. Gambar rangkain setelah run load flow

2) Alert view

Gambar 4. Alert view

IV. ANALISA Dari gambar hasil run load flow dan dari alert view dapat diketahui bahwa pada generator 2 mengalami over excited. Untuk memperbaiki keadaan tersebut perlu dipasang capasitor. Besarnya kapasitor yang harus dipasang dapatt diketahui dari alert view. Pada alert view ditunjukkan bahwa rating/limitnya adalah sebesar 29,701 Mvar sedangkan pada kenyataannya beroperasi (operating) sebesar 32,994 Mvar. Besar nilai kapasitor yang harus ditambahkan adalah hasil dari pengurangan Mvar operating 95 % Mvar rating. C = 32,994 (95% x 29,701) C = 32,994 28,215 C = 4,779 Mvar Karena setting keadaan marginal pada percobaan ini adalah 95% (artinya akan mengalami keadaan marginal apabila beroperasi 95%) jadi nilai kapasitor harus lebih besar dari 4,779 Mvar agar operatingnya kurang dari 95%. Untuk itu diambil nilai kapasitor sebesar 5 Mvar / 5000 kvar.

Gambar rangkaian setelah ditambah kapasitor

Gambar 5. Gambar rangkaian setelah penambahan kapasitor

Alert view setelah penambahan kapasitor

Gambar 6. Alert view

V. KESIMPULAN (PENUTUP) Dengan menggunakan ETAP dapat diketahui dengan cepat tindakan apa yang harus diketahui. Pada percobaan di atas, untuk memperbaiki keadaan over excited pada generator dilakukan penambahan kapasitor pada bus yang terhubung langsung dengan generator. Besar nilai kapasitor yang harus ditambahkan dapat dilihat pada alert view.

REFERENSI [1] [2] [3] [4] ETAP User Guide 7.0 Power Factor in Electrical Energy Management 98704121-ETAP Percobaan II Aliran Daya Modul Praktikum STL 2011