Anda di halaman 1dari 9

mediatorcrew

MODUL

NEXT GENERATION NETWORK

TEKNOLOGI informasi dan komunikasi (infokom) berkembang semakin pesat didorong oleh Internet protocol (IP) dengan berbagai aplikasi baru dan beragam layanan multimedia. Infrastruktur infokom terdiri dari public switched data network (PSDN) dan public switched telephone network (PSTN), namun hingga kini tulang punggung infokom masih banyak berpijak pada jaringan PSTN. Kondisi ini kurang menguntungkan karena PSTN eksisting umumnya lebih menekankan pada layanan suara dan berpita sempit (narrow band). Untuk mempercepat penyediaan layanan pita lebar (broadband) pada jaringan eksisting tersebut maka PSTN dan PSDN harus segera "melebur" menjadi satu jaringan tunggal multilayanan yang disebut dengan jaringan telekomunikasi masa depan atau next generation network (NGN). Ada tiga faktor utama pendorong evolusi jaringan PSTN tradisional menuju NGN. Pertama, keterbatasan arsitektur sentral PSTN eksisting. Operator telekomunikasi akan kesulitan untuk meningkatkan kemampuan PSTN untuk melayani layanan multimedia jika hanya mengandalkan upgrade versi perangkat lunak dan hardware pada sentral eksisting. Infrastruktur sentral eksisting kebanyakan merupakan propietary atau teknologinya bersifat tertutup dan dikuasai vendor tertentu saja. Hal ini jelas menimbulkan ketergantungan operator telekomunikasi kepada pemasok perangkat tersebut. Operator juga sulit untuk berinovasi dan membuat fitur baru. Selain itu, biaya upgrade dan pengembangannya pun menjadi mahal dan membutuhkan waktu yang lama. Karena sifatnya yang tertutup pula, maka biaya operasi dan pemeliharaan juga semakin besar. Kedua, tren konvergensi jaringan dan layanan. Saat ini perbedaan teknik antara PSTN dan PSDN menyebabkan terjadinya pemisahan antara keduanya. PSTN yang berbasis sirkuit switch merupakan jaringan kompleks dengan ukuran yang besar, tersentralisir, dan tertutup. Sedangkan PSDN berbasis paket switch, lebih sederhana dan terdistribusi. PSDN tumbuh dengan pesat dengan adanya

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

Internet, ekstranet, virtual private network (VPN), serta teknologi berbasis paket lainnya. Bahwa suatu saat nanti paket switch akan menggantikan sirkuit switch, bisa dilihat dari semakin meningkatnya penggunaan voice over Internet protocol (VoIP). Namun hingga kini PSTN masih menduduki posisi terdepan untuk menyalurkan data, terutama layanan dial up analog modem. Investasi sentral PSTN eksisting yang sangat besar juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Pilihannya adalah konvergensi antara PSDN dan PSTN menjadi satu jaringan tunggal multilayanan, dengan melakukan evolusi secara bertahap pada jaringan PSTN agar mampu mengakomodasi paket switch. Ketiga, regulasi telekomunikasi telah memunculkan operator-operator baru. Persaingan yang semakin ketat antaroperator menyebabkan pelanggan akan berpindah ke kompetitor jika operator tersebut tak mampu memberikan layanan yang beragam, broadband, dan murah. Arsitektur NGN Menurut tren perkembangan jaringan telekomunikasi saat ini, jaringan masa depan akan menjadi jaringan terintegrasi pita lebar, terdiri dari bermacam-macam akses edge dengan hierarki fungsional jaringan makin jelas dan mudah dipahami. Secara umum, hierarki NGN terbagi menjadi beberapa lapisan (layer), yaitu: network service & application, network control, core switching, dan edge access layer. Lapisan network service & application bertugas untuk memproses logika layanan, meliputi logika layanan intelligent network (IN), AAA (addressing, authentication, authorization) dan address resolution, serta mengembangkan aplikasi layanan dengan mengadopsi protokol standar dan application program interface (API). Komponennya meliputi server AAA, network management system (NMS), billing, network database, serta server aplikasi (application server). Dengan adanya server aplikasi ini maka aplikasi-aplikasi layanan atau fitur-fitur baru lebih mudah dan murah dikembangkan karena platformnya terbuka (open platform) tanpa harus terikat oleh platform dari vendor/developer tertentu (propietary). Contoh aplikasi yang bisa dikembangkan adalah number portability, yaitu layanan yang memungkinkan nomor telepon pelanggan asal tidak berubah apabila pelanggan tersebut berpindah lokasi atau operator. Lapisan kedua, network control, bertugas mengatur logika panggilan, memproses permintaan panggilan, dan memberi tahu lapisan core switching untuk membentuk hubungan yang sesuai. Di sinilah letak softswitch yang terdiri dari server panggilan (call server), pengendali rute (route controller), dan gerbang pensinyalan (signalling gateway). Secara hierarkis softswitch dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu class 4 dan class 5. Softswitch class 4 merupakan pengendali hubungan antarsentral tandem regional (trunk) dalam backbone nasional. Sedangkan softswitch

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

class 5 merupakan tipe softswitch yang mengendalikan hubungan pada sentral lokal yang terhubung langsung dengan pelanggan. Lapisan ketiga NGN adalah lapisan core switching untuk mengatur pembangunan dan pengelolaan hubungan serta melakukan penyambungan dan pengaturan jalur komunikasi untuk merespons perintah control layer. Komponennya meliputi sentral broadband multi- service, sentral utama ATM dan router IP berkapasitas besar, dan lain-lain. Lapisan paling bawah adalah lapisan akses ujung (edge access layer) yang mendukung akses dari berbagai macam tipe media gateway, yaitu trunk gateway dan access gateway. Berbagai tipe perangkat konsentrasi akses multi-service, remote access server (RAS), analog gateway, maupun wireless gateway bisa diimplementasikan pada lapisan ini (Lihat gambar). Kendala Ada sejumlah kendala yang menghadang migrasi NGN pada infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Meskipun sejumlah vendor global dan nasional telah berhasil mengembangkan teknologi ini, namun kematangan softswitch masih dipertanyakan mengingat teknologi ini belum secara luas digunakan untuk kepentingan komersial oleh operator-operator telekomunikasi dunia. Kondisi infrastruktur eksisting juga bisa menjadi penghambat laju menuju NGN. Hampir seluruh sentral dan perangkat telekomunikasi di Indonesia masih memakai spesifikasi teknis atau protokol lama yang bersifat propietary. Di lain pihak softswitch memberikan persyaratan standar dan protokol yang paling mutakhir dan terbuka sehingga hal ini dapat menyulitkan persyaratan kesesuaian protokol, interoperability dan interworking antara perangkat eksisting dengan perangkat NGN. Faktor lainnya adalah masalah biaya investasi perangkat NGN dan penyediaan jaringan akses yang masih terasa mahal dan kurang kompetitif jika dibandingkan dengan meng-upgrade sentral eksisting. Diperkirakan investasi untuk menyediakan jaringan akses yang kompatibel dengan NGN bisa mencapai 65 persen dari total investasi untuk menggelar NGN. Dan yang terakhir namun sering membuat runyam adalah masalah regulasi. Penerapan NGN bisa menimbulkan konsekuensi perubahan peta bisnis telekomunikasi sehingga regulator dituntut untuk segera memahami dan membuat aturan main tentang teknologi ini. Sasarannya, agar tidak menimbulkan dispute antar- operator dan kebingungan masyarakat saat nantinya teknologi ini telah dikomersialkan. Meskipun masih banyak kendala yang dihadapi operator telekomunikasi untuk menerapkan teknologi softswitch, tetapi langkah perencanaan untuk melakukan migrasi (roadmap) menuju NGN harus segera dilaksanakan. Tanpa melakukan migrasi menuju NGN, jaringan PSTN yang masih menjadi tulang punggung infrastruktur telekomunikasi lambat laun tak akan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

optimal lagi mengakomodasi layanan multimedia. Konvergensi antara jaringan sirkit (circuit networks) dengan jaringan paket (packet network)termasuk di dalamnya jaringan selulerakan menjadi sebuah kebutuhan di masa yang akan datang. Ini karena di masa datang komunikasi bukan hanya melibatkan suara, namun sudah data, image dan bahkan video. Kapan terjadinya dan apakah jaringan sirkitkita kenal dengan layanan telpon tetap (PSTN)akan dihapuskan untuk kemudian diganti dengan infrastruktur jaringan paket, itu masih menjadi tanda tanya. Akan tetapi, kalaupun hal itu terjadi, akan memakan waktu lama sampai seluruh jaringan tadi diganti dan menuju jaringan generasi masa depan (NGN-Next Generation Network).Layanan komunikasi suara selama ini masih berbasis pada circuit-swithed. Pada jaringan ini, setiap call (panggilan) akan diberikan sebuah kanal tersendiri (dedicated), dan tidak ada pengguna lain yang dapat menggunakan kanal tersebut selama call yang tadi masih berlangsung. Kelebihannya, layanan ini mendukung real time-service. Namun, kelemahannya juga banyak. Kanal yang idle (tida aktif) karena tidak ada yang menggunakan juga harus tetap bekerja. Belum lagi biaya pembangunan dan pengembangan jaringaninfrastrukutur yang relatif mahal. Jumlah aplikasi layanan ini juga terbatas. Sementara itu, jaringan paket digunakan untuk komunikasi data. Dalam jaringan ini, informasi dipecah menjadi beberapa bagian (disebut paket, frame atau pun sel), diberi header berisi informasi pengirim, penerima dan urutan paket dari informasi baru setelah itu dikirim. Pada pengiriman, semua kanal bisa digunakan,tidak seperti pada circuitswitchdengan memih kanal yang kosong dan paling cepat sampai ke tujuan/penerima. Kelebihan jaringan ini tentu saja dari efisiensi pemakaian kanal, karena setiap pengguna jaringan bisa menggunakan semua kanal yang tersedia untuk mengirim informasi ke pengguna yang lain. Sejak berkembangnya telepon internet (VoIP) maka layanan komunikasi suara bukan hanya bisa dilewatkan oleh jaringan sirkit namun juga oleh jaringan paket yang berbasis IP (Internet Protokol). Dan lagi dengan teknik packet voice, dimana suara akan dikonversi menjadi bentuk digital, kemudian dimampatkan (compress) dan akhirnya dibagi manjadi beberapa paket suara untuk kemudian dikirim ke penerima via jaringan paket, ternyata memberikan kualitas bagus. Ini membuka peluang untuk mengirimkan informasi suara lewat jaringan paket, dalam bentuk packet voice.Dengan melihat fakta dan aspek teknis di atas, tampaknya jaringan masa depan Next Generation Networkmemang akan berbasis paket. Namun dengan mempertimbangkan aspek bisnis, dalam hal ini biaya investasi yang harus ditanamkan, mengganti seluruh jaringan sirkit dengan jaringan paket akan membutuhkan biaya yang

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

sangat besar. Oleh karena itu muncul solusi dengan melakukan migrasi antar jaringan secara bertahap. Dalam proses ini, jaringan sirkit tetap akan bisa berfungsi dan bahkan berhubungan dengan jaringan paket secara simultan. Dengan begitu, perusahaan penyedia layanan telekomunikasi tetap dapat mengambil untung dari layanan selama ini dan secara bertahap melakukan up-grade menuju jaringan berbasis paket. Untuk mendukung solusi itu, telah muncul satu alat yang bernama softswitch. Alat ini mampu menghubungkan antara jaringan sirkit dengan jaringan paket, termasuk di dalamnya adalah jaringan telpon tetap (PSTN), internet yang berbasis IP, kabel TV dan juga jaringan seluler yang telah ada selama ini. Sebuah forum bernama ISC (International Softswitch Consortium)beranggotakan Siemens, NTT, Alcatel, Cisco, HSS, Sonus, Telcordia, dllyang membahas tentang softswitch, Next Generation Network dan juga melakukan uji standar terhadap beberapa produk softswitch memberikan definisi tentang softswitch sebagai berikut: segala hal yang berhubungan dengan sistem komunikasi generasi masa depan (next generation communication) yang berbasis open-standard, mengintegrasikan layanan voice, data dan video dan menggelar layanan value-added yang lebih menjanjikan dibandingkan layanan PSTN sekarang. Softwitch dikembangkan secara terpisah, perangkat keras (hardware), disebut Media Gateway (MG) dan perangkat lunaknya (software), disebut Media Gateway Controller (MGC) yang fokus pada software call-processing. Alasan terbesar mengapa pengembangannya dipisah adalah pada etika open-standard tadi, dimana monopoli baik sisi hardware maupun software menjadi hilang, dengan begitu para pemain akan bersaing secara adil dan masing-masing akan menawarkan produk terbaiknya ke pasar. Selain itu, juga membuka peluang bagi perusahaan lain, terutama di bagian software call prosessing untuk ikut bermain. Dan yang pasti hal ini juga akan memanjakan para penyedia layanan telekomunikasi dalam memilih produk yang paling kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan. Penyedia layanan juga bisa melakukan setting jaringan, membuat konfigurasi dan pengembangan sesuai dengan kebutuhanya tanpa harus terpaku pada satu vendor. Hal ini bertolak belakang dengan pengembangan teknologi jaringan sirkit yang sangat vendor-driven, yaitu ketergantngan operator penyedia layanan dengan pihak suplier sangat tinggi, termasuk biaya penambahan dan testing feature baru yang mahal, sehingga layanan yang diberikan masih bertumpu pada transfer suara saja. MGC akan bekerja di tataran pengaturan panggilannya (call control) serta call processing. MGC akan mengontrol panggilan yang masuk untuk mengetahui jenis media penggilan dan tujuannya. Dari situ, MGC akan mengirikan sinyal ke MG untuk

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

melakukan koneksi, baik intrakoneksi jaringansirkit ke sirkit atau paket ke paket; maupun interkoneksi jaringansirkit ke paket dan sebaliknya.Jika diperlukan, MGC akan meminta MG melakukan konversi media yang sesuai dengan permintaan, atau langsung meneruskan panggilan jika tidak diperlukan konversi. MGC menganggap MG sebagai kumpulan terminasi. Dalam fungsi itu, maka MGC dapat meminta MG melakukan konversi, koneksi dan pengiriman ring-tone (dering suara telpon) ke tujuan. Antara MGC dan MG sendiri akan saling berhubungan dengan protokol Megaco atau MGCP (Media Gateway Control Protocol). Sementara itu, satu MGC akan berhubungan dengan MGC yang lain, baik itu yang berada di jaringan yang sama maupun berbeda, dengan mengirimkan protokol sinyal tertentu. Untuk jaringan sirkit, MGC akan mengirimkan SS7 (Signalling System 7), sementara jika berhubungan dengan jaringan paket, maka MGC akan menggunakan H.323 atau SIP (Season Initiation Protocol). MG sendiri hanya akan bekerja sebagai converter antara jaringan sirkit dengan jaringan paket. Di sini fungsi softswitch menjadi hanya setara dengan switch analog dan tidak memberikan layanan yang lain. MG juga bisa bekerja di sisi pelanggan maupun penyedia layanan, dimana softwitch bukan hanya berfungsi sebagai converter, namun juga memberikan feature lebih, termasuk dial-tone tentunya. Pada posisi ini, maka softswitch akan bekerja lebih kompleks. MG juga akan mengirimkan bermacam sinyal, tergantung jenis media yang digunakan. Sinyal itu dikirm atas permintaan MGC, sehingga dapat dideteksi oleh terminal atau oleh MGC selanjutnya. Softswitch akan memegang peranan penting di masa transisi dimana di satu sisi jaringan sirkit masih eksis sementara di sisi lain kebutuhan akan jaringan paket makin besar, terutama diasari alasan bahwa jaringan paket lebih hemat, dan lebih handal dalam pengiriman informasi terutama yang dalam format data, juga munculnya teknik paket suara (packet voice) yang membuat suara yang dikirim mampu dikonversi menjadi bentuk paket digital untuk kemudian dikirim via jaringan paket, ditambah fakta bahwa dengan perubahan dari sirkit ke paket akan banyak biaya yang bisa ditekan, terutama biaya opersional. Halhal seperti itulah yang semakin memacu terwujudnya jaringan paket terintegrasi dengan nama Next Generation Networks (NGN). Bagaimana dengan kita?...Pintu sebenarnya terbuka lebar bagi masuknya pemain baru di masa transisi sampai era NGN nanti. Baik untuk operator baru, bisnis content-service provider, dan tentu saja bisnis 3rd party yang menyediakan jasa outsourcing jaringan terintegrasi lewat softswitch. Patut ditunggu gebrakan pemerintah dalam membuat regulasi di bidang ini. Akan lebih bijak jika pemilihan teknologi telekomunikasi yang akan diterapkan di negara ini, bukan hanya

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

berdasar aspek bisnis, kemungkinan masuknya investor baru, atau bahkan gengsi kepada negara lainyang ini sangat tidak berdasar. Namun patut juga dipertimbangkan aspek teknis, kompatibilitas dan konvergensi dengan infrastrukutur yang eksis, dan tentu saja, portofolio masa depan dunia telekomunikasi Indonesia. Semoga kita belajar dari kesalahan kita. Boleh jadi untuk masalah teknologi komunikasi, industri seluler kita jauh lebih maju dibanding negara-negara tetangga di semenajung. Setidaknya apa yang terjadi di pameran teknologi komunikasi CommunicAsia 2007 yang diselenggarakan di Singapura, 19-24 Juni 2007, menunjukkan hal tersebut. Saat semua operator seluler menawarkan layanan berteknologi 3G dan 3,5G, PT Excelcomindo Pratama Tbk. (XL) dari Indonesia sudah mulai menawarkan layanan NGN (Next Generation Network) alias teknologi 4G. NGN menjadi jargon di industri telekomunikasi untuk teknologi selanjutnya (4G/generasi keempat), yang diramalkan akan menjadi jaringan telekomunikasi masa depan. Istilah NGN ini juga merujuk pada internet call atau VoIP (Voice over Internet Protocol) sehingga bisa diartikan layanan komunikasi NGN adalah layanan komunikasi yang menggunakan fasilitas internet. Sejak beberapa tahun lalu, sebenarnya kita sudah mengenal VoIP, tapi VoIP dalam 4G ini berbeda dengan sebelumnya. Ini disebabkan adanya teknologi IPv6 (Internet Protocol versi 6), yang akan menggantikan IPv4 yang umum digunakan selama ini. Secara mudah, kelebihan IPv6 adalah bisa menyediakan nomor jauh lebih banyak dan sistem keamanan yang lebih baik dari versi sebelumnya. Itu memungkinkan dikembangkan dalam skala industri, itulah yang mendorong industri seluler turut mengembangkannya. Di CommunicAsia 2007, XL memperkenalkan penggunaan NGN untuk layanan korporat. Ada dua produk yang mereka tawarkan, layanan Instant Office dan Hosted PBX (Private Branch eXchange). Instant Office merupakan layanan telekomunikasi suara (voice) dan data, yang dirancang khusus untuk perusahaan berskala kecil dan menengah. Sementara Hosted PBX untuk perusahaan besar yang memilki banyak kantor cabang. Pada dasarnya dengan kedua produk layanan tersebut, XL menyediakan jasa penanganan untuk keperluan telekomunikasi perusahaan. Misalnya dalam penyediaan telefon, XL menyediakan handset khusus yang bisa memiliki extension nomor telefon perusahaan sehingga bisa digunakan sebagai telefon internal perusahaan selain fungsi handset pada umumnya. Singkatnya, jika sebuah perusahaan membuka kantor baru dan menggunakan layanan ini, tak perlu repot-repot belanja dan mengeset sistem PABX/Private Automatic Branch eXchange (sistem telefon yang umumnya dipakai di perkantoran sekarang) karena semua itulah yang ditawarkan XL untuk penanganannya. Menurut Syauqi Maulid Zar,

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

Solution Development Spesialist XL, yang bertugas di CommunicAsia 2007, yang perlu dilakukan perusahaan hanyalah mempekerjakan seorang operator telefon untuk menerima telefon masuk dari luar. Sampai sebatas itu, tentulah tidak terlalu istimewa. Yang paling menarik adalah memungkinkannya dilakukan berbagai efisiensi sehingga ujung-ujungnya bisa memangkas biaya yang dikeluarkan perusahaan. Menurut Syauqi, dari beberapa perusahaan yang sudah menggunakan layanan berbasis NGN XL, terjadi pengurangan biaya telefon 30-40 persen. Hal tersebut diketahui Syauqi dari empat perusahaan yang sudah menggunakan NGN XL di Indonesia. Masing-masing perusahaan tersebut memiliki 500 sampai 2.000 kantor cabang sehingga jika menangani urusan komunikasinya sendiri selain akan sangat repot juga menjadi kurang efisien. Angka 30-40 persen itu baru efisiensi dari biaya penggunaan telefon, belum dihitung pengurangan biaya karena tak perlu membeli PABX, terhindar dari hambatan kerja akibat pemasangan sistem, tak perlu mengeluarkan biaya pemeliharaan hingga ke masalah kebutuhan tenaga operator telefon. Pengurangan biaya ini akan lebih terasa lagi jika perusahaan memerlukan banyak panggilan ke luar negeri, katanya. Hal itu dimungkinkan karena menggunakan VoIP untuk salurannya, dan adanya kerja sama international roaming dengan 328 operator telefon dari 137 negara. Akibatnya memungkinkan berbagai biaya untuk pembicaraan ke luar negeri bisa banyak dipangkas. Kendati berbiaya murah, kualitas suara menggunakan teknologi NGN ini juga tetap terjaga bagus. Penulis mencoba sendiri dari Singapura memanggil nomor extension kantor XL di Jakarta, yang handset-nya (pemilik nomor extension tadi) juga dibawa ke Singapura. Suara yang diterima terdengar jelas walaupun menempuh jarak yang Singapura-Jakarta bolak-balik. Hanya, karena lawan bicaranya berhadap-hadapan, terjadi delayed suara sekitar seperempat detik. Menurut Syauqi secara teknis dimungkinkan karena XL sudah memiliki jaringan infrastruktur yang berbasis internet protocol (IP)yang cukup luas. Sejak tahun 1996, XL telah membangun backbone serat optik (fiber optic) di sepanjang Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, yang disambungkan dengan kabel bawah laut ke Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, hingga ke Singapura dan Malaysia. Saat ini 60 persen dari jaringan backbone tersebut sudah berbasis IP. Tahun 2006 ada 19 kota yang sudah tersedia IP backbone. Tahun ini sudah bertambah beberapa puluh hingga mencapai 50 kota pada akhir tahun 2007. Melihat apa yang sudah dilakukan XL, rasanya tidak berlebihan jika kita berharap NGN akan membuat layanan telekomunikasi bisa berbiaya lebih murah. Betapa tidak, dalam pengaplikasian NGN dalam taraf awal saja, XL sudah bisa menawarkan harga yang jauh lebih murah.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

Tentunya jika teknologi 4G nantinya semakin matang dipastikan akan dijual lebih murah lagi. Apalagi untuk pengembangan teknologi NGN ini tidak dilakukan sendirian oleh XL, komunitas seperti Task Force IPv6 APJII dan VoIP Rakyat sudah sejak lama menggeluti pengembangan internet sebagai sarana telekomunikasi. Kita pernah mendengar RT/RW-net, yang belakangan semakin banyak digemari masyarakat. Begitu pun penggunaan VoIP di warnet-warnet, yang semakin menjamur. Semuanya terus bergerak ke arah pengembangan NGN yang lebih matang. Jadi terjadi percepatan untuk peluang masyarakat Indonesia bisa menikmati telefon murah. Malah menurut pakar teknologi informasi Onno W. Purba, dengan NGN ini memungkinkan semua orang Indonesia memiliki nomor telefon secara gratis, dan bertelefon hanya berbiaya penggunaan internet. Tinggal masalahnya regulasi yang sudah harus segera diusahakan pemerintah, supaya tidak selalu ketinggalan oleh kemajuan teknologi. Sehingga berbagai inovasi anak bangsa tidak terus-terusan membentur karang, dan membuat daya saing bangsa semakin jauh tertinggal.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

DUDI NUGROHO

JARINGAN TELEKOMUNIKASI