Anda di halaman 1dari 7

PRE PLANNING PENYULUHAN KESEHATAN KEBERSIHAN DIRI A.

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus) 1. Pokok Pembahasan DPT 2. Sub Pokok Bahasan a. Pengertian difteri, pertusis dan tetanus b. Tanda dan gejala DPT c. Cara Penularan 3. Tujuan a. Tujuan Instruksional Umum Setelah dilakukan penyuluhan pada siswa/i kelas 5 SD Harapan Baru tentang DPT diharapkan dapat siswa/I mengerti dan memahami tentang DPT b. Tujuan Instruksional Khusus Setelah dilakukan penyuluhan pada siswa/I kelas 5 SD Harapan Baru, diharapkan siswa/i mampu: menyebutkan pengertian DPT, cara menularan DPT, tanda dan gejala DPT. 4. Sasaran Siswa/I Kelas 5 SD Harapan Baru 5. Metode Ceramah Diskusi

6. Media Leaflet Flipchart

7. Waktu dan Tempat Penyuluhan Hari/Tanggal Waktu Tempat : jumat, 11 Maret 2011 : 11.30-12.00 : Jl. Pintu Air IV Kec. Medan Johor

8. Pengorganisasian Moderator Penyuluh : Siti Aminah Daulay : Suheri

9. Kegiatan Penyuluhan NO 1 KEGIATAN Pembukaan PENYULUHAN 1. Memberi salam 2. Menjelaskan PESERTA 1. Menjawab salam MEDIA WAKTU 3 Menit

tujuan, manfaat dan 2. Mendengarkan cakupan materi dan memperhatikan 2 Kegiatan inti 1. Menyebutkan pengertian DPT 1. Mendengarkan dan memperhatikan 2. Menyebutkan tanda 2. Mendengarkan dan gejala DPT dan memperhatikan 3. Menyebutkan cara 3. Mendengarkan penularan DPT dan memperhatikan 3 Penutup 1. Melakukan jawab 2. Menyimpulkan materi penyuluhan tanya 1. Bertanya menjawab 2. Mendengarkan dan memperhatikan 3. Menutup memberi leaflet 4. Memberi salam dan 3. Menerima leaflet 4. Menjawab dan Leaflet 7 Menit Leaflet dan Flipchart 15 menit

salam

10. EVALUASI 1. Evaluasi Struktur a) Kesiapan mahasiswa memberikan materi penyuluhan b) Media dan alat memadai c) Waktu dan tempat penyuluhan sesuai dengan rencana kegiatan 2. Evaluasi Proses a) Pelaksanaan penyuluhan sesuai dengan alokasi waktu b) Peserta penyuluhan mengikuti kegiatan dengan aktif c) Peserta penyuluhan menanyakan tentang hal-hal yang diajukan oleh penyuluh pada saat evaluasi 3. Evaluasi Hasil Peserta mampu menjawab 80% pertanyaan yang diajukan oleh perawat saat evaluasi.

11. Materi Imunisasi DPT a. Difteri 1. Defenisi Penyakit difteri adalah penyakit akut dan mudah menular yang disebabkan oleh sejenis bakteri yang disebut Corynebacterium Diphtheriae, sifatnya sangat ganas dan mudah menular (A.H. Markum, 2002). 2. Penularan Difteri Penularan terjadi karena adanya kontak (langsung atau tidak langsung) dengan penderita atau penderita pembawa kuman (carier). Tanpa pengobatan yang cukup, masa penularan berlangsung sampai 4 minggu. Tetapi dengan pengobatan yang baik masa penularan hanya berlangsung antara 24 sampai 48 jam (Sudarjat Suraatmaja, 1997). 3. Gejala Klinis Difteri Gejala klinis difteri antara lain; panas kurang lebih 38 derajat celsius, ada pseudomembrane putih keabu-abuan di faring, laring atau tonsil, tak mudah lepas dan mudah berdarah, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak napas disertai bunyi (stridor) (Sudarjat Suraatmaja, 1997). 4. Gambaran Klinis Difteri Penyakit Difteri adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae. Mudah menular dan menyerang terutama saluran napas bagian atas dengan gejala Demam tinggi, pembengkakan pada amandel ( tonsil ) dan terlihat selaput puith kotor yang makin lama makin membesar dan dapat menutup jalan napas. Racun difteri dapat merusak otot jantung yang dapat berakibat gagal jantung. Penularan umumnya melalui udara ( betuk / bersin ) selain itu dapat melalui benda atau makanan yang terkontamiasi. Tanda khas dari penyakit difteri adalah adanya tanda radang adanya selaput yang berwarna putih kotor kerongkongan dan bila meluas

ke tenggorokan dapat menyebabkan penyumbatan pada jalan napas. Pada kasus yang berat, terjadi pembengkakan disertai udem pada leher (Sudarjat Suraatmaja, 1997) 5. Pencegahan Penyakit Difteri Penyakit difteri dapat dicegah dengan imunisasi DPT pada bayi umur kurang dari satu tahun sebanyak 3 kali; meningkatkan gizi penderita; mencegah penderita tidak keluar rumah, sekolah, bermain selama kurang lebih 5 hari; mengawasi dan melakukan pemerikasaan laboratorium terhadap orang yang kontak dengan penderita selama 2 kali masa inkubasi; dan penyuluhan (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2005). b. Pertusis (Batuk Rejan, Batuk 100 Hari). 1. Pengertian Penyakit Pertusis atau batuk rejan atau dikenal dengan Batuk Seratus Hari adalah penyakit infeksi saluran yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Penyakit pertusis dapat diderita oleh bayi karena selama dalam kandungan tidak mendapatkan zat anti terhadap pertussis. Jika diderita bayi penyakit ini merupakan penyakit yang gawat dengan kematian 1530%. Pada anak-anak penyakit ini jarang menyebabkan kematian, tetapi pengobatan terhadap penyakit ini sulit dan memakan waktu lama (8 minggu) sehingga pengobatan terhadap pertusis memerlukan biaya yang cukup tinggi (Sudarjat Suraatmaja, 1997). 2. Penyebab Pertusis Pertusis disebabkan oleh infeksi kuman Bordetella Pertussis. Kuman mengeluarkan toksin yang menyebabkan ambang rangsang batuk menjadi rendah, sehingga dengan rangsangan sedikit saja (tertawa terbahak-bahak, dan menangis) akan terjadi batuk yang hebat dan lama (Sudarjat Suraatmaja, 1997).

3. Penularan Pertusis Dengan percikan sewaktu penderita batuk, masa penularan terjadi sejak permulaan penyakit sampai 3 minggu berikutnya. 4. Masa Inkubasi Pertusis Masa inkubasi pertusis terjadi antara 6 sampai 12 hari (rata-rata). 5. Gambaran Klinis Pertusis Pada stadium permulaan yang disebut stadium kataralis yang berlangsung 1-2 minggu, gejala belum jelas. Penderita menunjukkan gejala demam, pilek, batuk yang makin lama makin keras. Pada stadium selanjutnya disebut stadium paroksismal, baru timbul gejala khas berupa batuk lama atau hebat, didahului dengan menarik napas disertai bunyi whoops. Stadium paroksismal berlangsung 4-8 minggu. Pada bayi batuk tidak khas, whoops tidak ada tetapi sering disertai penghentian napas sehingga bayi menjadi biru (Sudarjat Suraatmaja, 1997). c. Tetanus Tetanus merupakan salah satu infeksi yan berbahaya karena mempengaruhi sistim urat syaraf dan otot. Infeksi tetanus disebabkan oleh bakteri yang disebut dengan Clostridium tetani yang memproduksi toksin yang disebut dengan tetanospasmin. Tetanospasmin menempel pada urat syaraf di sekitar area luka dan dibawa ke sistem syaraf otak serta saraf tulang belakang, sehingga terjadi gangguan pada aktivitas normal urat syaraf. Terutama pada syaraf yang mengirim pesan ke otot. Gejala tetanus umumnya diawali dengan kejang otot rahang (dikenal juga dengan trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut, lengan atas dan paha.

12. Referensi Rafif, (2010). Imunisasi Difteri, Pertusis, tetanus (DPT). Diambil dari: http://rafifsafaalzena.blogspot.com/2010/08/imunisasi-difteri-pertusistetanus-dpt.html Muamalah, Siti (2006). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Status Imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT). skripsi