Anda di halaman 1dari 9

Siklus Sel

Pertumbuhan dan perkembangan setiap makhluk hidup tergantung dari pertumbuhan sel dan perbanyakan sel. Hal ini berlaku baik untuk makhluk hidup uniseluler maupun multiseluler. Pembelahan sel pada makhluk hidup uniseluler berarti pula reproduksi karena akan terjadi dua makhluk hidup yang berasal dari satu sel induk. Sedangkan pada makhluk hidup multiseluler pembelahan sel sangat penting untuk pertumbuhan makhluk hidup dari muda sampai dewasa. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan makhluk hidup multiseluler termasuk manusia tergantung dari jumlah sel yang menyusun jaringan-jaringan dalam tubuhnya karena semakin besar ukuran jaringan tubuh semakin banyak jumlah sel yang menyusun. Pertumbuhan sel merupakan sebuah siklus yang berulang, yaitu dari sel muda bertumbuh menjadi dewasa, kemudian membelah menjadi dua sel muda lagi untuk bertumbuh menjadi dewasa, demikian seterusnya sehingga terjadi siklus yang dinamakan siklus sel (Juwono dan Juniarto, 2000). Sel merupakan satuan dasar struktural, fungsional dan hereditas makhluk hidup. Untuk pertumbuhan dan perkembangannya, setiap organisme hidup tergantung pada pertumbuhan dan penggandaan sel-selnya. Pada organisme uniseluler, pembelahan sel diartikan sebagai reproduksi, dan dengan proses ini dua atau lebih individu baru dibentuk dari sel induk. Pada organisme multiseluler, individu-individu baru berkembang dari satu sel primordial yang dikenal dengan nama zygot, selanjutnya tumbuh dan berkembang menjadi individu baru. Selama rentang hidupnya, sel-sel pada organisme multiseluler sebagian mengalami penuaan dan kerusakan. Oleh sebab itu perlu diperbaiki melalui pembelahan sel. Dengan demikian pembelahan sel berfungsi dalam (i) reproduksi (ii) pertumbuhan, dan (iii) perbaikan (Adnan, 2008) Umumnya, sebelum suatu sel mengalami pembelahan, sel-sel terlebih dahulu mengalami pertumbuhan hingga mencapai ukuran tertentu. Setiap sel mengalami dua periode yang penting dalam siklus hidupnya, yaitu periode interfase atau periode non pembelahan dan periode pembelahan sel (M) yang menghasilkan sel-sel baru. Kedua periode tersebut secara umum dikenal dengan nama siklus sel. Dengan kata lain, kegiatan yang terjadi dari satu pembelahan sel ke pembelahan sel berikutnya disebut siklus hidup (daur) sel. Secara singkat tahapan pada siklus hidup sel dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Skema siklus sel Interfase terdiri atas tiga fase, yaitu: G1 (Gap pertama), S(Sintesis DNA), dan G2 (Gap kedua). Pada fase G1, sel anak mengalami pertumbuhan, pada fase S terjadi replikasi dan transkripsi DNA; sedangkan pada fase G2, merupakan fase post sintesis, dimana sel mempersiapkan diri untuk membelah. Pembelahan sel meliputi dua tahapan yaitu : kariokinesis atau mitosis dan sitokinesis. Perlu diingat bahwa apabila pembelahan sel menghasilkan dua buah sel anak yang tidak sama besarnya, maka G1 bagi sel anak yang kecil lebih lama daripada sel anakan yang besar (Adnan, 2008). Puncak siklus hidup sel yaitu pembelahan sel, yang secara umum diberi tanda M yang berarti fase mitosis. Pada waktu yang singkat kromatin di dalam inti sel induk memampat membentuk kromosom, untuk kemudian bersama-sama dengan seluruh isi sel, dibagi dua ke masing-masing sel anak. Selama periode interfase, kromosom tidak tampak disebabkan karena materi kromosom dalam bentuk benang-benang kromatin, dan komponen-komponen makromolekulnya didistribusikan di dalam inti. Selama siklus sel terjadi perubahanperubahan yang sangat dinamis. Perubahan-perubahan tersebut terutama komponenkomponen kimia dari sel seperti DNA, RNA, dan berbagai jenis protein. Duplikasi DNA berlangsung selama periode khusus dari interfase yang disebut fase sintesis atau periode S. Periode sintesis didahului oleh periode G1 dan diikuti oleh periode G2 (Adnan, 2008). Fase pembelahan sel yang terdiri atas fase mitosis dan sitokinesis. Fase mitosis terdiri atas beberapa fase yaitu fase profase, fase prometafase, fase metafase, fase anafase, dan fase telofase. Selama pembelahan sel, inti mengalami serangkaian perubahan-perubahan yang sangat kompleks, terutama perubahan-perubahan kandungan intinya. Pada saat pembelahan sel berlangsung, salut inti dan nukleus menjadi tidak tampak dan subtansi kromatin mengalami kondensasi menjadi kromosom (Adnan, 2008)

Dalam masa pertumbuhan sel akan mengalami perubahan-perubahan tertentu dan umumnya akan melewati tahap-tahap pertumbuhan sel. Tampak pada Gambar 2, siklus sel terdiri dari beberapa fase yang meliputi:

Gambar 2. Siklus Sel ( Secko, 2003) Keterangan : M S = Mitosis = Sintesis

G1 = Gap 1 G2 = Gap 2 1. Fase Mitosis (M) Fase dimana terjadi pembelahan sel aktif. Setelah melalui fase ini ada 2 alternatif: a. Menuju fase G1 dan melalui proses proliferasi b. Masuk fase istirahat (G0). Pada fase istirahat (G0) kemampuan sel untuk berproliferasi hilang dan sel meninggalkan siklus secara tak terpulihkan 2. Fase post mitotic (G1) Fase G1 merupakan fase yang paling menentukan terhadap keseluruhan siklus karena merupakan poin vital dari regulasi signal pertumbuhan. fase ini berfungsi untuk memastikan cukupnya signal untuk kelangsungan sel dan akurasi transmisi informasi genetik. Pada fase ini sel mempersiapkan suatu interval dalam proses pembelahan sel, dimulai dengan sintesis enzim-enzim yang dibutuhkan pada sistesis DNA. Proses sintesis DNA akan terjadi jika sel telah melewati Retriction Poin (R) pada akhir fase ini (King, 2000). Pada fase ini tidak terjadi sintesis DNA, tetapi terjadi sintesis RNA dan protein. Pada akhir fase G1 terjadi sintesis RNA yang optimum (Siswandono dan Soekarjo, 2000). 3. Fase Sintetik (S). pada fase ini terjadi replikasi DNA sel. 4. Fase post sintetik (G2) sintesis DNA berhenti, sedangkan sintesis RNA dan protein berjalan terus. Selama fase G2, replikasi DNA dimonitor untuk memastikan bahwa DNA

telah dilipatgandakan. Fase ini merupakan fase pertumbuhan sel dan finalisasi komponen sel sebelum diproses ke dalam fase mitosis. Karena proses mitosis dapat berhenti jika masih terdapat DNA yang belum diperbaiki pada saat fase sintesis DNA (S). Proses tersebut dinamakan G2 check point yang dimonitori oleh gen p53. Dari uraian di atas jelas bahwa sintesis DNA hanya terjadi dalam waktu singkat yaitu dalam tahap S sedangkan sintesis RNA berlangsung terus sampai pada saat sel mulai mengadakan pembelahan. Dalam siklus sel, setelah tahap G2 dalam pertumbuhan akan diikuti dengan tahap pembelahan sel (Fase mitosis / M) yang akan menghasilkan sel-sel baru yang masih muda dan kemudian akan mengalami pertumbuhan melalui tahap-tahap G1, S dan G2.

1. Pentingnya Replikasi Sangat penting replikasi bagi suatu sel untuk membelah dan melanjutkan hidupnya. Ketika sel membelah, DNA juga akan mengalami replikasi atau pembelahan untuk menyusun organisme baru. Karakteristik yang penting dari DNA adalah kemampuannya untuk membuat salinan DNA. Proses dari penyalinan pita DNA pada dalam suatu sel disebut replikasi. Sel membelah menjadi dua dan dibagi pada tiap salinan DNA yang mengalami pembelahan sel. Transfer replikasi informasi DNA penting untuk menciptakan suatu salinan dari DNA pada suatu sel baru. Salinan ini diciptakan dengan tujuan untuk melanjutkan keberlangsungan hidup suatu spesies. Replikasi DNA akan membuat suatu organisme mereproduksi kode genetik dan mentransfernya pada genersi baru. Hal ini merupakan alasan mengapa replikasi DNA berperan penting pada kelangsungan hidup organisme (Hari, 2010). Replikasi DNA juga penting karena kita dapat memilki gen yang sama dengan orang tua kita. Identifikasi dari evaluasi pohon keluarga menjadi mudah hanya menggunakan replikat DNA. Replikasi DNA adalah suatu mekanisme penggandaan DNA. Tujuan dari replikasi untuk membuat replikat, dari DNA yang merupakan cetak biru dari arsip-arsip penting pemerintahan, dalam tubuh kita. Prinsip dari replikasi itu sendiri adalah memasangkan n-TP atau nukleotida triposphat baru pada rantai tunggal / single strand DNA (Okta, 2009). Selain jawaban yang di atas, replikasi DNA penting agar DNA kita tidak termutasi. Pada proses replikasi terdapat pos-pos pengecekan, jikalau ada kode yang salah tercetak, dapat langsung dikenali dan langsung diperbaiki. Pada prinsipnya DNA merupakan rantai ganda yang basa-basa penyusunnya saling berkomplemen, saling berpasangan yang hidup

dalam harmoni. Untuk bereplikasi, double strand tersebut harus dipisahkan agar menjadi single strand DNA, yang kemudian akan berperan sebagai cetakan DNA, dan ditambahkan basa nukleotida baru pada masing-masing strand, untuk kemudian menjadi dua DNA baru yang sama seperti sebelumnya. Enzim helikase ini berjalan terus dan membuat double strand DNA menjadi terpisah. Pergerakan molekul enzim ini pada double strand DNA, membutuhkan suplai energi berbentuk ATP atau Adenosine Triposphat (Okta, 2009).

Setelah rantai ganda DNA dipisahkan, maka masing-masing dari rantai primer tersebut akan dibuat menjadi rantai DNA ganda kembali oleh enzim DNA polimerase. Penambahan basa untuk menjadi rantai ganda dilakukan dari urutan 5 ke 3. Mengapa hanya bisa ditambahkan dari urutan 5 ke 3? Hal ini terjadi karena tiap-tiap basa baru yang hendak berikatan membawa tiga molekul posphat pada ujung 3-nya, untuk menempel ke ujung 5 dari rantai primer, maka basa baru yang hendak berikatan harus melepaskan 2 molekul posphat untuk menciptakan energi agar bisa menempel. Saat terjadi kesalahan, maka basa baru tersebut dapat lepas, dan digantikan dengan basa lain yang cocok. Sedangkan andaikata basa baru yang hendak berikatan menempel dari sisi 3 dari rantai primer, dimana pada urutan 3 dari rantai primer terdapat 3 molekul posphat, dan pada sisi 5 dari basa baru hanya terdapat 1 molekul posphat. Jika basa baru ingin

menempel, maka 2 posphat yang dilepaskan harus dari rantai primer. Celahnya adalah saat terjadi kesalahan pemasangan basa nukleotida yang baru, maka saat basa nukleotida yang baru dilepaskan, sisi 3 dari rantai DNA primer hanya tersisa 1 molekul basa posphat, jadi tidak akan dimungkinkan adanya penempelan basa nukleotida baru lagi, karena tidak adanya 2 molekul posphat yang dilepaskan unutk menghasilkan energi yang dipergunakan untuk menempel. Jadi itulah mengapa arah replikasi berlangsung dari 5 ke 3 (Okta, 2009).

2. Waktu Terjadinya Replikasi Replikasi hanya terjadi pada fase S (pada mamalia). Replikasi adalah duplikasi dari DNA secara akurat, dimana genom manusia pada satu sel terdiri sekitar 3 milyar dan pada saat replikasi harus diduplikasi secara akurat (persis tidak boleh ada yang salah). Salah satu sumber kesalahan DNA adalah pada kesalahan replikasi yang dipengaruhi oleh berbagai factor, diantaranya karena kondisi lingkungan dan kesalahan replikasi sendiri sehingga menyebabkan terjadinya mutasi. Replikasi harus terjadi sebelum sel membelah, dan harus selesai sebelum fase M. Replikasi adalah transmisi vertical (dari sel induk ke sel anak supaya informasi genetik yang diturunkan sama dengan sel induk). Supaya replikasi sel dari generasi ke generasi tidak terjadi kesalahan maka perlu ada repair. Selain karena kesalahan replikasi, DNA juga sangat rentan terhadap bahan kimia, radiasi maupun panas (hal yang dapat menyebabkan mutasi pada DNA pada saat replikasi) (Santoso,2010).

3. Proses Replikasi Proses replikasi pertama kali di mulai ketika enzyme Helicase memutus ikatan kimia yang paling lemah diantara dua rantai polinukleotida. Untaian DNA diputus tepat di tengah memisahkan pasangan-pasangan basa. Rantai polinukleotida yang baru dipisahkan menjadi rantai tunggal akan menjadi rantai dasar (template) untuk membentuk dua untai rantai DNA baru. Di dalam sel-sel nucleus, terdapat banyak nukleotida-nukleotida bebas. Basa-basanya akan berikatan dangan basa-basa yang ada di dalam rantai dasar (template), yang berdasarkan aturan Chargaff, akan berpasangan hanya dengan basa lain yang merupakan pasangannya. Misalnya, di dalam rantai dasar(template) terdapat basa Guanine (G),maka basa Cytosinlah (C) yang terikat padanya. Proses terbentuknya ikatan basa-basa ini dibantu oleh enzyme yang disebut enzyme DNA Polymerase III. Enzyme ini hanya bekerja dari ujung 5 ke ujung 3 dari rantai DNA. Hal ini terjadi juga pada rantai dasar

(template) yang lainnya. Hanya saja sedikit berbeda prosesnya dengan rantai dasar yang pertama (Riyadi, 2010). Karena proses replikasi oleh enzyme polymerase III hanya berlangsung dari ujung 5 ke ujung 3, maka pada rantai dasar (template) ke dua dibutuhkan peran RNA primase yang membuat RNA Primer sebagai jembatan awal bagi enzyme polymerase III bekerja. Selanjutnya dengan bantuan DNA polymerase I dan DNA ligase akan diperoleh sebuah rantai DNA baru dari rantai dasar (template) ke dua.Proses ini terjadi berulang ribuan kali untuk menciptakan dua molekul DNA yang persis sama dengan molekul DNA asal. Sehingga saat mitosis terjadi, sel saudaranya akan menerima molekul DNA yang betulbetul sama. Jika terjadi sesuatu yang salah dalam replikasi DNA, mutasi-pun terjadi. Kesalahan mutasi akan menyebabkan protein dalam DNA memiliki urutan asam amino yang salah, misalnya susunan basa yang berubah atau hilangnya basa tertentu (Riyadi, 2010).

4. Aturan komplementer A-T; G-C; C-G; T-A; A-T; G-C; A-T; G-C; C-G; A-T; G-C; T-A

DAFTAR PUSTAKA

Adnan, 2008, Siklus Sel, http://www.scribd.com/doc/20537650/SIKLUS-SEL-AdnanUNM#download, diakses tanggal 5 April 2012 Hari, 2010, Why is DNA Replication Important?, http://www.knowswhy.com/why-is-dnareplication-important/, diakses tanggal 5 April 2012 Juwono dan A.Z. Juniarto, 2000, Biologi Sel, EGC, Jakarta King, R.J.B., 2000, Cancer Biology, 2nd ed., Pearson Education Limited, London Okta, 2009, Sebuah Kontemplasi Dibalik Replikasi DNA, http://oktaplantlover.wordpress.com/2009/10/12/sebuah-kontemplasi-dibalik-replikasidna/, diakses tanggal 5 April 2012 Riyadi, W., 2010, Replikasi DNA, http://sciencebiotech.net/replikasi-dna/, diakses tanggal 5 April 2012 Santoso, 2010, Replikasi DNA, http://id.shvoong.com/medicine-and-health/genetics/2077846replikasi-dna/#ixzz1uDVHVSmk, diakses tanggal 5 April 2012 Secko, D., 2003, The Cell Cycle : A Universal Cellular Division Program, SCQ, http://www.scq.ubc.ca/the-cell-cycle-a-universal-cellular-division-program/, diakses tanggal 5 April 2012 Siswandono dan B. Soekardjo, 2000, Kimia Medisinal, Jilid 2, Airlangga University Press, Surabaya

TUGAS BIOKIMIA MOLEKULER SIKLUS SEL DAN REPLIKASI DNA

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Biokimia Molekuler yang dibina oleh Prof. Dr. Ir. Chanif Mahdi, MS.

disusun oleh: Chandra Ayu S. (0910920006)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012