Anda di halaman 1dari 10

Analisis Hukum Dagang Putusan MAHKAMAH AGUNG Nomor 8 K/Pdt.

Sus/2012 Tahun 2011 Mata Kuliah : Hukum Dagang Dosen : Hesty Lestari, S.H., L.L.M., M.E.S.

Disusun Oleh: Eva Dewi Kartika 205110114

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA 2012-2013


1

I. Duduk Perkara
A. Para Pihak :
a. Penggugat/Pemohon b. Tergugat/ Termohon c. Turut Tergugat

: Rapoibo Thomas. : Hardy Sukamto.

: Departemen Hukum dan HAM Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Direktorat Merek.

B. Obyek Sengketa: Nama merek dagang yang bergerak di bidang usaha sendal dan sepatu, yaitu Singapore Shoes yang telah didaftarkan oleh si tergugat dengan sertifikat merek tertanggal 11-08-2009 nomor IDM000187113 untuk kelas barang/jasa 35 (tuga puluh lima). Dimana dalam hal ini pihak penggugat mengklaim bahwa dirinya sebagai pemilik satu-satunya merek dagang Singapore Shoes yang telah didaftarkan oleh tergugat. Padahal tergugat telah menjual seluruh inventaris toko dan merek dagang tersebut kepada penggugat pada tanggal 26 Mei 2003 (hal ini dapat dibuktikan melalui adanya kwitansi). C. Dugaan Pelanggaran Dugaan Pelanggaran yang dilakukan tergugat (Menurut Penggugat):
-

Pasal 4 UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek , yaitu penggugat merasa bahwa tergugat dengan itikad tidak baik, mendaftarkan merek dagang Singapore Shoes dalam kategori barang 35. Padahal tergugat sudah menjual inventaris toko termasuk merek dagang kepada penggugat pada tanggal 26 Mei 2003. Hal ini dibuktikan dengan kwitansi mengenai perincian pembelian barang-barang inventaris toko dan merek Singapore Hoes tertanggal 26-05-2003 Pasal 6 ayat (3) huruf b UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek , yaitu merek dagang Singapore Shoes merujuk pada nama suatu negara atau adanya indikasi geografis, yang menunjukkan daerah asal suatu barang, dan adanya faktor alam dan faktor manusia di daerah asal tersebut, memberikan ciri dan kualitas tertentu dari barang yang dihasilkan dan bisa merugikan pihak konsumen dalam mekanisme pasar. Oleh karena merek yang mengandung indikasi geografis tidak boleh didaftarkan tanpa adanya persetujuan tertulis dari pihak yang berwenang (pemerintah Singapura).
2

Pasal 532 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata , yaitu tergugat dengan itikad buruk mendaftarkan merek dagang Singapore Shoes kepada Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. Padahal pada.

Oleh karena itu penggugat menginginkan agar Pengadilan Negeri Niaga Medan memutuskan :
-

Berdasarkan Pasal 69 Undang-Undang Merek No. 15 Tahun 2001, yaitu penggugat menginginkan adanya pembatalan terhadap merek Singapore Shoes tersebut. Berdasarkan Pasal 70 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu hasil putusan pengadilan niaga medan apabila menerima gugatan ini agar disampaikan oleh panitera yang bersangkutan kepada Direktorat Jenderal untuk melaksanakan pembatalan pendaftaran Merek yang bersangkutan dari Daftar Umum Merek dan mengumumkannya dalam Berita Resmi Merek setelah putusan badan peradilan. Pasal 71 ayat (1) dan (3) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu penggugat menginginkan Pembatalan pendaftaran Merek dilakukan oleh Direktorat Jenderal dengan mencoret Merek Singapore Shoes dari Daftar Umum Merek dengan memberi catatan tentang alasan dan tanggal pembatalan tersebut. Kemudian hal itu diumumkan pada Berita Resmi Merek.

Dugaan Pelanggaran yang dilakukan penggugat (Menurut Tergugat dalam Ekspesinya):


-

Pasal 68 Ayat( 2) Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu penggugat sebagai pihak yang menuntut pembatalan merek harus melalui prosedur yaitu mengajukan permohonan pendaftaran merek kepada Dirjen HKI. Di dalam kasus ini, si penggugat tidak dapat membuktikan bahwa ia telah mengajukan permohonan pendaftran merek Singapore Shoes kepada Dirjen HKI (Si tergugat telah melakukan pengecekkan mengenai hal itu). Pasal 68 ayat (25) Undang-Undang No. 15 Tahun 2001 (Kami tidak dapat menganalisi pasal tersebut karena pada kenyataannya pasal tersebut tidak ada. Hal ini mungkin disebabkan pada kesalahan penulisan pada putusan Ma tersebut.)

II.Putusan Pengadilan
A. Pengadilan Niaga
1. Pertimbangan Hukum Pengadilan Niaga dalam Pengadilan Negeri Medan menolak gugatan didasarkan adanya bukti putusan pidana No. 338/Pid. B/2010/PN. Bj. Di dalam putusan tersebut Penggugat dinilai bersalah karena menggunakan merek yang memiliki persamaan pokok (Nama Merek) dengan merek lain. Hal ini juga dikarenakan pembuktian yang diajukan oleh penggugat hanya merupakan bukti Surat Izin Tempat Usaha, Surat Izin Usaha Perdagangan, Surat Izin Tanda Daftar Perusahaan, Surat Ketetapan Pajak, Surat Setoran Pajak Daerah, Surat Kesepakatan Bersama dengan Tergugat dalam hal kesepaktan mengenai jual beli inventaris toko dan pembelian merek dagang Singapore Shoes, dan kwitansi. Pengadilan Niaga dalam Pengadilan Negeri Medan berpendapat bahwa bukti-bukti yang diajukan oleh Penggugat tersebut hanya merupakan bukti izin usaha dan dagang saja. Ketika mendaftarkan merek tersebut, tergugat melakukan pengecekan terlebih dahulu pada turut penggugat mengenai merek Singapore Shoes tersebut. Maka diketahuilah bahwa, Penggugat tidak mengajukan permohonan pendaftaran atas merek Singapore Shoes tersebut. Hal ini diketahui dengan tidak adanya nomor agenda yang menunjukkan permohonan pendaftaran yang dilakukan oleh penggugat atas merek Singapore Shoes. Oleh karena itu dapat disimpulkan pula bahwa si penggugat hanya mengajukan pembuktian mengenai izin usaha, izin dagang, surat kesepakatan mengenai jual beli inventaris toko dan merek dagang, dan kwitansi saja. Namun, penggugat tidak dapat membuktikan bahwa ia pernah mengajukan permohonan pendaftaran mengenai merek Singapore Shoes tersebut. 2. Putusan Bahwa terhadap gugatan yang diajukan oleh Rapoibo Thomas terhadap Hardy Sukamto tersebut, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan telah mengambil putusan, yaitu putusan Nomor : 01/Merek 2011/PN.Niaga.Mdn. tanggal 07 Juni 2011. Putusan tersebut menyatakan bahwa:
4

Pengadilan Negeri Niaga Medan memutuskan untuk menolak seluruh gugatan Penggugat, yaitu membatalkan pendaftaran merek Singapore Shoes dengan daftar nomor IDM000187113. Dapat kami tafsirkan bahwa Pengadilan niaga memenangkan pihak tergugat dan turut tergugat. Hal ini berarti menyatakan bahwa turut tergugat (Dirjen HKI tidak akan membatalkan merek dagang Singapore Shoes dengan sertifikat nomor IDM000187113 atas nama Tergugat. Pemilik merek dagang sepatu dan sendal Singapore Shoes dengan sertifikat nomor IDM000187113 untuk kelas barang/jasa 35 (tuga puluh lima) adalah tergugat. Tergugat masih dapat memakai merek Singapore Shoes dalam menjalankan usahanya. Dalam hal ini juga membuat Penggugat dijatuhi pidana karena melanggar Pasal 91 UU No. 15 Tahun 2001, karena telah menggunakan merek yang memiliki persamaan pada pokoknya (Nama Mereknya) dengan merek lain Penggugat juga dijatuhi hukuman yaitu membayar seluruh ongkos perkara yang timbul sebesar Rp. 1.001.000,00 Namun putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan ini juga mengakibatkan penggugat mengajukan kasasi melalui perantaraan kuasanya pada tanggal 13 Juni 2012. Permohonan kasasi tersebut dapat diterima secara formal karena diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh UU.

B. Mahkamah Agung 1. Pertimbangan Hukum Mahkamah Agung berpendapat bahwa alasan Pemohon kasasi tidak dapat dibenarkan. Keputusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Tinggi Medan tidak salah dalam menerapkan hukum. Alasan yang diberikan pemohon didasarkan pada pembuktian yang diajukan oleh pemohon dan tidak dapat dipertimbangkan oleh Mahkamah Agung. Karena pertimbangan mengenai pembuktian tersebut dilakukan oleh Pengadilan Niaga Medan. Pertimbangan Pengadilan Niaga pun tidak pun tidak bertentangan dengan Hukum dan Undang-Undang yang berlaku. Karena dalam pertimbanmgan hukum tersebut Pengadilan Niaga negeri Medan mengacu pada Putusan Pidana No. 388/Pid.B/ 2010/ PN Bj. Permohonan Kasasi yang diajukan oleh pemohon, dapat dianggap tidak sesuai dengan kenyataan atau hukum yang berlaku. Karena menurut pendapat pemohon, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan telah melanggar ketentuan hukum yang ada, yaitu
5

Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 665 K/Sip/1971 tanggal 5 Desember 1971, yaitu mempertimbangkan suatu perkara dengan menunjuk pada suatu putusan yang belum secara jelas mempunyai kekuatan hukum, sehingga kurang tepat untuk djadikan unsur dalam pengambilan keputusan tersebut. Pada tahap kasasi ini, Mahkamah Agung juga menyatakan bahwa si Pemohon telah melanggar dengan memakai merek yang mempunyai persamaan pokoknya dengan merek lain. 2. Putusan Bahwa terhadap kasasi yang dimohonkan oleh pemohon, dalam hal ini Mahkamah Agung memutuskan untuk menolak permohonan kasasi atau memenangkan pihak termohon. Dampak dari putusan tersebut adalah pihak termohon dapat tetap menggunakan mereknya tersebut untuk menjalankan usahanya. Pihak pemohon pun dijatuhi hukuman untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000.000,00.

III.

ANALISIS

Kami tidak setuju dengan Putusan Pengadilan niaga dan Putusan Mahkamah Agung yang menolak untuk membatalkan merek Singapore Shoes tersebut. Kami mempunyai prespektif bahwa, apa yang telah dilakukan Tergugat memang betul telah terbukti untuk melanggar Pasal 4, Pasal 6 Ayat (1) Huruf c, Pasal 6 Ayat (3) Huruf b, dan Pasal 56 Ayat (1) UU No. 15 Tahun 2001. Terguat melanggar Pasal 4 UU No. 15 Tahun 2001, karena Ia telah menjual inventaris toko dan merek dagang tersebut kepada si penggugat. Berdasarkan Surat Kesepakatan Bersama dan Kwitansi mengenai pembelian inventaris toko dan merek dagang tersebut, dapat diketahui Si Tergugat telah melakukan perjanjian jual beli bersama penggugat, untuk menyerahkan barang inventaris toko tersebut termasuk merek dagang tersebut kepada penggugat. Memperhatikan dari Pasal 1338 KHUPer yang menyatakan bahwa Setiap persetujuan yang sah berlaku sebagai UU bagi para pihak yang melakukan persetujuan tersebut. Si tergugat dengan kesadarannya tahu bahwa merek Singapore Shoes adalah milik penggugat. Seharusnya dengan itikad baik si tergugat melaksanakan isi perjanjian tersebut, bukan malah mendaftarkan merek dagang tersebut kepada Dirjen HKI tanpa sepengetahuan penggugat. Melihat esensi dari Pasal 4 UU No. 15 Tahun 2001, bahwa setiap merek yang diajukan oleh Pemohon yang beritikad baik adalah pemohon yang mendaftarkan mereknya secara layak, jujur, tanpa ada niat untuk menjiplak merek laindemi kepentingan usahanya yang berakibat pada kerugian pada pihak lain, atau menimbulkan kondisi persaingan yang curang.1 Dapat kita simpulkan bahwa seharusnya Dirjen HKI tidak mengabulkan permohonan merek yang diajukan oleh tergugat, yaitu Hardy Sukamto. Karena setelah timbulnya kasus ini dapat diketahui bahwa ada pihak yang dirugikan karena itikad buruk dari si tergugat. Tergugat melanggar Pasal 6 Ayat (1) Huruf c dan Ayat (3) Huruf b, UU No. 15 Tahun 2001 Di dalam ulasan di dalam Putusan Mahkamah Agung tersebut tidak ditemukan adanya pembuktian yang diajukan oleh Tergugat untuk membuktikan bahwa
1

Ahmad Miru, Hukum Merek, (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), hlm. 13-14.

merek Singapore Shoes mendapat izin dari pemerintah Singapura untuk menggunakan merek tersebut. Padahal seperti yang kita tahu, bahwa setiap merek yang mempunyai Indikasi Geografis, dan menyerupai nama dari suatu negara permohonannya harus mendapatkan izin tertulis dari pemerintah setempat. Pengusaha dan perusahaan sering menggunakan nama geografis untuk menunjukkan asal dari barang atau jasa yang mereka tawarkan kepada masyarakat. Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal barang yang dikaitkan dengan kualitas, dan reputasi, atau karakteristik lain yang sesuai dengan asal geografis barang tersebut.2 Hal ini dapat menimbulkan suatu kerugian pada masyarakat awam, yang hanya mengaitkan nama merek (menyerupai nama negara) dengan kualitas barang yang sesuai dengan nama mereknya. Hal inni dapat menjerat tergugat melanggar Pasal yang ada pada Pasal 8 Ayat (1) huruf d UU Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999, yaitu memproduksi atau memperdagangkan tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut. Tergugat juga Melanggar Pasal 56 Ayat (1) UU No. 15 Tahun 2001, yaitu menggunakan indikasi geografis untuk kepentingan usahanya. Namun, belum jelas apakah ia mempunyai izin untuk menggunakan merek tersebut. Meskipun demikian, kami juga tidak membenarkan apa yang telah dilakukan oleh penggugat. Karena penggugat sendiri telah melakukan kesalahan yang fatal, yaitu menggunakan merek Singapore Shoes selama ia menjalankan usahanya, TANPA pernah mengajukan permohonan atas pendaftaran merek dagang tersebut kepada Dirjen HKI. Pembuktian yang diajukan Tergugat pun berbatas hanya pada pada izin usaha, izin dagang, dan surat kesepakatan mengenai perjanjian jual beli yang dilakukan oleh penggugat. Akibatnya si penggugat tidak mempunyai hak secara penuh dan memberikan kepastian hukum dalam menggunakan merek Singapore Shoes tersebut dalam menjalankan usahanya di bidang penjualan sendal dan sepatu. Hal inilah yang kemudian berakibat pada keleluasaan tergugat untuk mendaftarkan merek Singapore Shoes. Kami berpendapat juga bahwa si Penggugat telah melakukan kesalahan dengan melanggar prosedur yang telah termaktub dalam Pasal 24 Ayat (1), yaitu dalam perihal mengajukan gugatan dan keberatan atas Permohonan merek Singapore
2

Tim Lindsey BA, dan kawan-kawan , Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, (Bandung : Alumni, 2004), hlm. 142

Shoes yang diajukan oleh tergugat. Mengapa dalam jangka waktu 3 bulan setelah ditempatkannya merek tersebut dalam Berita Resmi Merek, si penggugat tidak melakukan keberatan atau sanggahan untuk meminta Direktorat Jenderal untuk membatalkan permohonan merek tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa selama periode pengumuman tersebut (3 Bulan), pihak pesaing usaha dapat mengajukan keberatan atas pendaftaran merek tersebut dan mengajukan alasan-alasan tertulis mengapa merek itu seharusnya tidak dapat didaftarkan (Pasal 24 Ayat (2)).3 Oleh karena itu kami sarankan, agar Dirjen HKI dalam mengabulkan suatu permohonan pengajuan merek, harus benar-benar memeriksa dan menelusuri apakah merek tersebut telah sesuai dengan syarat-syarat yang diajukan oleh UU No. 15 Tahun 2001. Dirjen HKI pun juga harus memperhatikan aspek yang terpenting yaitu, masyarakat sebagai konsumen dan pihak diluar pemohon.hal ini dimaksudkan agar mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang telah dilanggar haknya.4

Ibid, hlm. 142 Ahmad, Op. Cit. 149.

Daftar Pustaka

Miru, Ahmad. Hukum Merek .(Jakarta: Rajawali Pers, 2005).

BA, Tim Landsey dan kawan-kawan. Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar. (Bandung : Alumni, 2004).

10