Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH Pembagian Waris Adat Antara Orang Suku Batak dengan Orang Suku Jawa Mata Kuliah : Hukum

Antar Tata Hukum Dosen : Bobby Stiven, S.H., L.L.M.

Disusun Oleh: Eva Dewi Kartika 205110114

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA 2012-2013

1
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

Bab I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara multikultural yang terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, bahasa, adat, ras dan sebagainya. Keberagaman itu menjadikan Indonesia menganut tiga sistem hukum, yaitu Sistem hukum Eropa Kontinental (Civil Law), Sistem hukum islam, dan Sistem Hukum Adat. Berdasarkan hal tersebut kita dapat mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara pluralistik. Hukum Eropa kontinental diberlakukan di Indonesia karena ketika Indonesia dijajah oleh Belanda, Belanda mengatur kodifikasi hukum yang ada di Hindia Belanda, dan menganut sistem hukum Civil Law itu. Hukum Islam diterapkan di Indonesia karena mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Sedangkan berlakunya hukum adat di Indonesia karena hukum adat telah merupakan kebiasaan tidak tertulis yang tetap dilakukan, dan dijaga oleh masyarakat adatnya. Sehingga menimbulkan akibat hukum apabila melanggar kebiasaan tidak tertulis itu. Berlakunya hukum adat mempunyai konskuensi hukum tersendiri dalam sistem hukum di Indonesia. Sehingga hukum adat terus dipelihara, terus dilestarikan, dan telah bersemayam dalam hati nurani rakyat Indonesia. Hukum adat yang berlaku di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan UU yang berlaku, kesusilaan dan kesopanan. Hukum adat itu senantiasa tumbuh dari sesuatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup, dan pandangan hidup, yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat hukum adat itu berlaku.1 Hukum adat dalam satu suku berbeda dengan suku yang lainnya. Perbedaan ini disebabkan karena setiap masyarakat adat mempunyai tata cara atau kebiasaan yang khas dan berbeda, dalam pergaulan hidupnya.2 Masyarakat hukum adat strukturnya bersifat genealogis (menurut asas kedarahan atau keturunan) dan bersifat teritorial (berdasarkan lingkungan daerah). Masyarakat adat berdasarkan faktor genealogis mengenal tiga macam pertalian keturunan, yaitu :

Bushar Muhammad, Asas-Asas Hukum Adat Suatu Pengantar (Jakarta: Pradnya Paramitha, 2003), hlm. 21.
2

Ibid, hlm. 42.

2
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

1. Pertalian keturunan menurut garis laki-laki (Patrilineal), contoh masyarakat hukum

adat Batak.
2. Pertalian keturunan menurut garis perempuan (Matrilineal)

3. Pertalian menurut garis ibu dan bapak (Parental), contoh masyarakat hukum adat Jawa. Hukum adat mengatur tentang hukum perkawinan adat, hukum waris adat, dan hukum perjanjian adat. Suatu masalah HATAH, yaitu tentang Hukum Antar Tempat akan terjadi apabila ada percampuran adat antara masing-masing pertalian keturunan itu. Percampuran itu umumnya terjadi karena perkawinan. Sejatinya perkawinan merupakan hak bagi semua orang dalam hidupnya, hak untuk memilih pasangan hidupnya dan bahagia mengarungi biduk rumah tangga dengan pasangannya itu. Namun suatu masalah akan timbul dalam kedua kubu keluarga apabila ada suatu perbedaan diantara mereka. Bermula dari perkawinan yang harus melakoni kewajiban adat masing-masing. Selain itu dari perkawinan ini akan berujung pada hukum waris adat si suami atau istri yang akan digunakan apabila perkawinan itu berakhir dan tata cara pembagian warisannya kepada anak-anaknya. Menarik untuk diteliti adalah permasalahan pembagian warisan dalam perkawinan masyarakat adat Batak dengan Jawa yang sering terjadi dalam kehidupan sosial di Indonesia. Dimana ada perbedaan adat diantara kedua suku tersebut. Titik Primer dari masalah pewarisan ini adalah perbedaan adat yang menganut sistem keturunan patrilinear dengan sistem keturunan parental yang akan mempengaruhi tata cara pembagian warisnya Titik sekunder dari permasalahan ini ditentukan oleh kesepakatan masing-masing pihak. B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara pembagian harta waris pada perkawinan masyarakat suku Batak

dengan suku Jawa?

3
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

BAB II HUKUM WARIS ADAT DAN HUKUM ANTAR TEMPAT


A. Hukum Waris

Hukum waris merupakan salah satu bagian dari hukum perdata secara keseluruhan dan merupakan bagian terkecil dari hukum kekeluargaan. Hukum waris sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia, sebab setiap manusia pasti akan mengalami peristiwa hukum yang dinamakan kematian. Akibat hukum yang dilanjutnya timbul dengan terjadinya peristiwa hukum kematian seseorang diantaranya ialah masalah bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban-kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu. Soepomo menerangkan bahwa hukum waris itu memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tak terwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada keturunannya.3 Menurut Ter Haar dalam bukunya "Azas-azas dan Susunan Hukum Adat" yang dialihbahasakan oleh K.Ng. Soebakti Poesponoto memberikan rumusan hukum waris sebagai berikut : "Hukum waris adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi ke generasi".4 Dalam rangka memahami kaidah-kaidah serta seluk beluk hukum waris, hampir tidak dapat dihindarkan untuk terlebih dahulu memahami beberapa istilah yang lazim dijumpai dan dikenal. Istilah dimaksud tentu saja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengertian hukum waris itu sendiri. Beberapa istilah tersebut, yaitu
1. Ahli Waris :orang yang berhak menerima pusaka (peninggalan) orang yang telah

meninggal, berhak menerima harta peninggalan pewaris


3

Soepomo, Bab-bab tentang Hukum Adat, (Jakarta: Penerbitan Universitas Indonesia, 1996), hlm. 72.
4

K.Ng. Soebakti Poesponoto, Azas dan Susunan Hukum Adat, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1960), hlm. 197.

4
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

2. Warisan: harta peninggalan, pusaka, dan surat wasiat. 3. Pewaris: orang yang memberi pusaka, yakni orang yang meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, pusaka, maupun surat wasiat.
4. Mewarisi: mendapat harta pusaka, biasanya segenap ahli waris adalah mewarisi harta

peninggalan pewarisnya.
5. Proses pewarisan: Istilah proses pewarisan mempunyai dua pengertian atau dua makna,

yaitu:1) berarti penerusan atau penunjukan para waris ketika pewaris masih hidup; dan 2) berarti pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal. Tiga macam sistem hukum waris hadir bersama serta berlaku terhadap masyarakat dalam wilayah hukum Indonesia. Ketiga macam sistem hukum waris itu memiliki sifat yang khas dan berbeda antara yang satu dengan yang lain. Sistem hukum waris yang dimaksud adalah hukum waris islam yang berdasar dan bersumber pada Al-Quran, hukum waris barat peninggalan zaman Hindia Belanda yang bersumber pada BW (Burgerlijk Wetboek), dan hukum waris adat yang bersumber pada adat istiadat dan sistem pertalian keturunan pada masyarakat adat masingmasing. Upaya ke arah membuat kodifikasi hukum waris yang sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat akan senantiasa mendapat kesulitan, mengingat beranekaragamnya budaya, agama, sosial, dan adat istiadat serta sistem kekeluargaan yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat Indonesia. Dengan demikian, bidang hukum waris ini menurut kriteria Mochtar Kusumaatmadja, termasuk "bidang hukum yang mengandung terlalu banyak halangan, adanya komplikasi-komplikasi kultural, keagamaan dan sosiologi".5 B. Hukum Waris Adat Seperti telah dikemukakan bahwa hukum waris merupakan salah satu bagian dari sistem kekeluargaan yang terdapat di Indonesia. Hukum waris adat adalah hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, tentang harta warisan, pewaris dan cara harta warisan itu dialihkan. Oleh karena itu, pokok pangkal uraian tentang hukum waris adat bertitik tolak dari bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan yang terdapat di Indonesia menurut sistem keturunan. Pasal 26 UU No. 1 tahun 1974 menyatakan bahwa Apabila perkawinan putus karena perceraian maka soal pembagian harta dikembalikan pada hukum masing-masing. Sepanjang mengenai harta kekayaan dan pembagiannya dapat diberlakukan hukum adat. Hal ini menimbulkan Hukum waris yang ada dan berlaku di Indonesia sampai saat ini masih belum merupakan unifikasi hukum. Atas dasar peta hukum waris yang masih demikian plurailistiknya, akibatnya sampai sekarang ini pengaturan masalah warisan di Indonesia masih belum terdapat keseragaman. Namun demikian pluralistiknya sistem hukum waris di Indonesia tidak hanya karena sistem pertalian keturunan masyarakat yang beragam, melainkan juga disebabkan adat-istiadat masyarakat Indonesia yang juga dikenal sangat bervariasi. Oleh sebab itu, tidak heran kalau sistem hukum waris adat yang ada juga beraneka ragam serta memiliki corak dan sifat-sifat tersendiri sesuai dengan sistem pertalian keturunan dari masyarakat adat tersebut. Setiap sistem keturunan yang terdapat dalam masyarakat Indonesia memiliki kekhususan dalam hukum warisnya yang satu sama lain berbeda-beda, yaitu :
1. Sistem Patrilineal, yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek

moyang laki-laki. Di dalam sistem ini kedudukan dan pengaruh pihak laki-laki dalam hukum waris sangat menonjol.

Mochtar Kusumaatmadja, Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional, (Bandung: Binacipta,1975), hal. 12.

5
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

2. Sistem Matrilineal, yaitu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak nenek

moyang perempuan. Di dalam sistem kekeluargaan ini pihak laki-laki tidak menjadi pewaris untuk anak-anaknya. Anak-anak menjadi ahli waris dari garis perempuan/garis ibu karena anak-anak mereka merupakan bagian dari keluarga ibunya, sedangkan ayahnya masih merupakan anggota keluarganya sendiri,
3. Sistem Parental atau bilateral, yaitu sistem yang menarik garis keturunan dari dua sisi,

baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Di dalam sistem ini kedudukan anak lakilaki dan perempuan dalam hukum waris sama dan sejajar. Artinya, baik anak laki-laki maupun anak perempuan merupakan ahli waris dari harta peninggalan orang tua mereka. Berkaitan dengan hal tersebut. Tjokorda Raka Dherana, mengemukakan, antara lain: "...masalah hukum adat waris tidak dapat dipisahkan dengan pembicaraan tentang hukum adat kekeluargaan, karena sistem kekeluargaan yang dipergunakan membawa akibat kepada penentuan aturanaturan tentang warisan. Di samping itu, peranan agama yang dianut tidak kalah pentingnya pula dalam penentuan aturan-aturan tentang warisan karena unsur agama adalah salah satu unsur hukum adat. Hal ini mengakibatkan pula bahwa meskipun hukum adat kekeluargaan di Bali menganut sistem patrilineal, tetapi dalam pelaksanaannya berbeda dengan daerah-daerah lain yang juga memakai sistem patrilineal, seperti halnya di Batak".6 Di samping sistem kekeluargaan yang sangat berpengaruh terhadap pengaturan hukum adat waris terutama terhadap penetapan ahli waris dan bagian harta peninggalan yang diwariskan, hukum adat waris mengenal tiga sistem kewarisan, yaitu : a. Sistem kewarisan individual yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa para ahli waris mewarisi secara perorangan, misalnya di: Jawa, Batak. Sulawesi, dan sebagainya, b. Sistem kewarisan kolektif, yaitu sistem yang menentukan bahwa para ahli waris mewaris harta peninggalan secara bersama-sama (kolektif) sebab harta peninggalan yang diwarisi itu tidak dapat dibagi-bagi pemilikannya kepada masing-masing ahli waris. Contohnya "harta pusaka di Minangkabau dan "tanah dati di semenanjung Hitu Ambon; c. Sistem kewarisan mayorat, yaitu sistem kewarisan yang menentukan bahwa harta peninggalan pewaris hanya diwarisi oleh seorang anak. Sistem mayorat ini ada dua macam, yaitu: 1. Mayorat laki-laki, yaitu apabila anak laki-laki tertua/ sulung atau keturunan laki-laki merupakan ahli waris tunggal dari si pewaris, misalnya di Lampung; 2. Mayorat perempuan, yaitu apabila anak perempuan tertua merupakan ahli waris tunggal dari pewaris, misalnya pada masyarakat Tanah Semendo di Sumatera Selatan. Hazairin menarik kesimpulan ternyata tidak mudah bagi kita untuk menentukan dengan pasti dan tegas bahwa dalam suatu masyarakat tertentu dengan sistem kekeluargaan yang berprinsip menarik garis keturunan, memiliki sistem hukum adat waris yang mandiri yang berbeda sama sekali dengan sistem hukum adat waris pada masyarakat lainnya. Namun tidak demikian halnya sebab mungkin saja sistem kekeluargaannya berbeda, sedangkan sistem hukum adat warisnya memiliki unsur-unsur kesamaan.7 C. Hukum Antar Tempat Hukum antar tempat ini terjadi apabila ada perbedaan lingkungan hukum adat yang dianut oleh sesorang dengan orang yang lainnya dalam melakukan suatu hubungan hukum. Umumnya masalah ini terjadi dalam masalah hukum keluarga, yaitu perkawinan, waris, perceraian, dan sebagainya.
6

Erman Suparman, Hukum Waris di Indonesia dalam Prespektif Islam, Adat, dan BW, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 53.
7

Ibid, Hlm. 54.

6
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

Hukum Antar Tempat ini dapat dirumuskan sebagai Keseluruhan peraturan dan keputusan hukum, yang menunjukkan stesel hukum manakah yang berlaku atau apakah yang merupakan hukum, jika hubungan-hubungan dan peristiwa-peristiwa antar warga negara dalam satu negara dan satu waktu tertentu, memperlihatkan titik-titik pertalian dengan stesel-stesel dan kaidahkaidah hukum yang berbeda dalam lingkungan-lingkungan kuasa tempat dan soal-soal.8 Titik primer dari persoalan hukum antar tempat ini adalah perbedaan lingkungan hukum adat yang dianut oleh masing-masing pihak. Sedangkan, titik sekundernya adalah kesepakatan para pihak untuk menentukan hukum mana yang akan dipakai dalam menyelesaikan sengketa itu. Dewasa ini, hukum antar tempat sudah tidak dipersoalkan lagi.9 Karena perkawinan merupakan hak seseorang, dan ia bebas untuk menentukan pilihannya, apakah ia ingin menikah dengan orang sesuku ataupun tidak. Dalam perkembangannya pun banyak terjadi perkawinan dengan perbedaan adat yang terjadi di Indonesia.

BAB III PEMBAGIAN WARIS DALAM SISTEM KEKELUARGAAN PATRILINEAL (BATAK) DAN SISTEM KEKELUARGAAN BILATERAL ATAU PARENTAL (JAWA)
A. Garis Keturunan Patrilinear (Batak)

Agar dapat mempertahankan garis keturunan yang patrilineal itu, maka perkawinan dalam masyarakat hukum adat kebapaan dilangsungkan dengan mengambil calon istri dari suatu klan diluar klannya sendiri. Perkawinan yang dimaksud dengan cara demikian disebut kawin exogami (exo berarti luar, dapat disimpulkan yaitu kawin dengan wanita dari luar klan sendiri). Klan dari pihak istri secara otomatis akan hilang apabila perkawinan dilangsungkan. Salah satu bentuk dari perkawinan exogami dalam masyarakat hukum adat kebapaan adalah suatu sistem perkawinan yang terkenal dengan nama kawin jujur yang dilakukan masyarakat hukum adat Batak. Konsekuensi dari perkawinan jujur ini adalah yang menjadi ahli waris hanya anak laki-laki sebab anak perempuam yang telah kawin dengan cara "kawin jujur" (yang kemudian masuk menjadi anggota keluarga pihak suami) selanjutnya ia tidak merupakan ahli waris orang tuanya yang meninggal dunia.
1. Hukum Adat Waris Patrilinear Pada Masyarakat Batak.

Terdapat beberapa alasan atau argumentasi yang melandasi sistem hukum adat waris masyarakat patrilineal, sehingga keturunan laki-laki saja yang berhak mewarisi harta peninggalan pewaris yang meninggal dunia, sedangkan anak perempuan sama sekali tidak mewaris. Hal ini didasarkan pada anggapan kuno yang memandang rendah kedudukan wanita dalam masyarakat Batak pada umumnya.10 Kenyataan bahwa anak laki-laki merupakan ahli waris pada masyarakat hukum adat batak, dipengaruhi pula oleh beberapa faktor sebagaiberikut:
a.

Silsilah keluarga didasarkan pada anak laki-laki. Anak perempuan tidak dapat melanjutkan silsilah (keturunan keluarga); Dalam rumah-tangga, isteri bukan kepala keluarga. Anak-anak memakai nama keluarga (marga) ayah. Istri digolongkan ke dalam keluarga (marga) suaminya;

b.

S. Gautama, Pengantar Hukum Perdata Nasional Indonesia, (Bandung: Binacipta, 1987), hlm. 18.
9

Penjelasan Pak Bobby Stieven, S.H., L.L.M. dalam pertemuan satu pada tanggal 14 Agustus 2012.
10

Djaja S. Meliala & Aswin Peranginangin, Hukum Perdata Adat Karo dalam Rangka Pembentukan Hukum NasionaI, (Bandung: Tarsito, 1978), hlm. 54.

7
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

c.

Dalam adat, wanita tidak dapat mewakili orang tua (ayahnya) sebab ia masuk anggota keluarga suaminya;

d. Dalam adat, kalimbubu (laki-laki) dianggap anggota keluarga sebagai orang tua (ibu); e. Apabila terjadi perceraian, suami-isteri, maka pemeliharaan anak-anak menjadi tanggung

jawab ayahnya. Anak laki-laki kelak merupakan ahli waris dari ayahnya baik dalam adat maupun harta benda.11 Apabila anak perempuan sudah menikah, ia dianggap tergolong kelompok suaminya. Anak perempuan yang sudah kawin menjadi golongan anak beru, seperti halnya dengan suaminya dan saudara-saudaranya yang semarga. Sehubungan dengan itu, hanya anak laki-laki yang akan menerima warisan dari orang tuanya. Disini menunjukkan, bahwa kaum wanita masyarakat adat Batak mempunyai harga diri yang cukup besar serta mempunyai sifat mampu berdiri sendiri yang mengagumkan. Namun tidaklah beralasan juga, jika memandang kaum wanita dalam masyarakat yang bersistem patrilineal secara apriori lebih rendah daripada masyarakat lain yang bersistem matrilineal dan bilateral. Berkaitan dengan hal di atas, maka dalam mempelajari hukum adat waris patrilineal di Tanah Karo, hendaknya masalah status hak dan kewajiban seorang wanita jangan ditinjau terlepas dari masyarakat, adat istiadat, dan norma-norma yang berlaku di dalam sistem sosialnya.
2. Pewaris, Ahli Waris, dan Pembagian Harta Pusaka dalam Warisan.

Pewaris menurut masyarakat adat Batak Karo adalah seorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, baik harta itu diperoleh selama dalam perkawinan maupun harta pusaka, karena di dalam hukum adat perkawinan suku Karo yang memakai marga itu berlaku keturunan patrilineal maka orang tua merupakan pewaris bagi anak-anaknya yang laki-laki dan hanya anak laki-laki yang merupakan ahli waris dari orang tuannya.12 Akan tetapi anak laki-laki tidak dapat membantah pemberian kepada anak perempuan, demikian juga sebaliknya. Hal tersebut didasarkan pada prinsip bahwa orang tua (pewaris) bebas menentukan untuk pembagian harta benda kepada anak-anaknya berdasarkan kebijaksanaan orang tua yang tidak membedakan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Ahli waris atau para ahli waris dalam sistem hukum adat waris di Tanah Patrilineal13, terdiri atas:
a. Anak laki-laki, yaitu semua anak laki-laki yang sah yang berhak mewarisi seluruh harta

kekayaan. baik harta pencaharian maupun harta pusaka. Jumlah harta kekayaan pewaris dibagi sama di antara para ahli waris. Misalnya pewaris mempunyai tiga orang anak lakilaki, maka masing-masing anak laki-laki akan mendapat bagian dari seluruh harta kekayaan termasuk harta pusaka. Apabila pewaris tidak mempunyai anak lakilaki, yang ada hanya anak perempuan dan isteri, maka harta pusaka tetap dapat dipakai, baik oleh anak-anak perempuan maupun oleh isteri seumur hidupnya, setelah itu harta pusaka kembali kepada asalnya atau kembali kepada "pengulihen".
b. Anak angkat, merupakan ahli waris yang kedudukannya sama seperti halnya anak sah.

Namun, anak angkat ini hanya menjadi ahli waris terhadap harta pencaharian/harta bersama orang tua angkatnya. Sedangkan untuk harta pusaka, anak angkat tidak berhak.
c. Ayah dan Ibu serta saudara-saudara sekandung si pewaris. Apabila anak laki-laki yang

sah maupun anak angkat tidak ada, maka yang menjadi ahli waris adalah ayah dan ibu serta saudara-saudara kandung si pewaris yang mewaris bersama-sama.

11

Erman Suparman, Loc.Cit., hlm. 48 Ibid, hlm. 49. Ibid, hlm. 52.

12

13

8
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

d. Keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu. Apabila anak laki-laki yang sah,

anak angkat, maupun saudara-saudara sekandung pewaris dan ayah-ibu pewaris tidak ada, maka yang tampil sebagai ahli waris adalah keluarga terdekat dalam derajat yang tidak tertentu. e.
f.

Persekutuan adat Apabila para ahli waris yang disebutkan di atas sama sekali tidak ada, maka harta warisan jatuh kepada persekutuan adat. Janda,14 pada masyarakat adat patrilineal dengan melakukan perkawinan jujur, istri/janda yang ditinggal suaminya meninggal dunia, bukan ahli waris dari almarhum suaminya. Tetapi, selama janda mematuhi peraturan adat di pihak keluarga suaminya, ia berhak mengurus, memelihara, mengusahakan dan menikmati harta warisan suaminya untuk keperluan hidupnya dan anak-anak dari almarhum suaminya, dan kemudian harta warisan tersebut akan diteruskan/dialihkan kepada anak lakinya. Bila anak-anaknya belum dewasa, pengurusan harta warisan tersebut dilakukan, janda didampingi oleh saudara tertua dari almarhum suaminya atau penggantinya yang masih hidup. Yang dimaksud dengan harta pusaka atau barang adat yaitu barang-barang adat yang tidak bergerak dan juga hewan atau pakaian yang harganya mahal. Barang adat atau harta pusaka ini adalah barang kepunyaan marga atau berhubungan dengan kuasa kesain, yaitu "bagian dari kampung secara fisik".

Proses penyerahan barang-barang harta benda kekayaan seseorang kepada turunannya, seringkali sudah dilakukan ketika orang tua (pewaris) masih hidup. Apabila pembagian dilakukan setelah pewaris meninggal dunia, maka perlu diperhatikan, bahwa walaupun pada dasarnya semua anak laki-laki mempunyai hak yang sama terhadap harta peninggalan orang tuanya. Namun, pembagian itu harus dilakukan dengan sangat bijaksana sesuai dengan kehendak atau pesan pewaris sebelum meninggal dunia. Apabila dalam pembagian itu terjadi sengketa, maka anak beru dan senina mencoba menyelesaikannya melalui musyawarah.
3. Sistem Pewarisan dalam Hukum Adat Batak15

a. Sistem pewarisan individual Pada keluarga-keluarga Patrilineal di tanah Batak pada umumnya berlaku sistem pewarisan individual ini, yaitu harta warisan terbagi-bagi kepemilikannya kepada masing-masing ahli waris. Salah satu kelebihan sistem pewarisan individual ini adalah dengan adanya pembagian terhadap, harta warisan kepada masing-masing pribadi ahli waris, mereka masing-masing bebas untuk menentukan kehendaknya terhadap bagian warisan itu. b. Sistem pewarisan mayorat laki-laki Pada masyarakat suku Batak selain sistem pewarisan individual ada juga sebagian masyarakat yang menggunakan sistem pewarisan mayorat laki-laki, yaitu sistem pewarisan yang menentukan bahwa harta warisan seluruhnya dikuasai dan dipelihara oleh anak laki-laki sulung. c. Sistem pewarisan minorat laki-laki Pada sebagian suku Batak, anak laki-laki bungsu dapat diberi kepercayaan untuk menguasai dan memelihara harta warisan peninggalan orang tuanya. Misalnya ia yang paling lama tinggal di rumah warisan orang tua, dengan demikian ia merupakan orang yang menjaga dan memelihara rumah warisan tersebut. Berkaitan dengan.hukum adat waris Batak Karo yang hanya mengakui anak laki-laki sebagai ahli waris, maka melalui putusan Mahkamah Agung tanggal 1 November 1961 No.179 K/Sip/l961
14

Torop Eriyanto Sabar Nainggolan, Kedudukan Anak Perempuan Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Adat Batak Toba, ( Tesis Magister Universitas Diponegoro, Semarang, 2003), hlm. 41
15

Ibid, hlm. 51.

9
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

telah terjadi upaya ke arah proses persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria di Batak16. Meskipun putusan Mahkamah Agung ini banyak mendapat tantangan. Namun, tidak sedikit pula pihak-pihak yang justru menyetujui hal tersebut.Adapun yang menjadi pertimbangan dari putusan Mahkamah Agung dalam putusan tersebut di atas, antara lain:
1. "Menimbang, bahwa keberatan-keberatan tersebut berdasarkan atas anggapan, bahwa di

Tanah Karo tetap ber1aku selaku hukum yang hidup, bahwa seorang anak perempuan tidak berhak sama sekali atas barang warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya";
2. "Menimbang, bahwa Mahkamah Agung berdasar selain atas rasa perikemanusiaan dan

keadilan umum juga atas hakikat persamaan hak antara wanita dan pria, dalam beberapa keputusan mengambil sikap dan menganggap sebagai hukum yang hidup di seluruh Indonesia, bahwa anak perempuan dan anak laki-laki dari seorang peninggal warisan, bersama-sama berhak atas warisan, dalam arti, bahwa anak laki-laki sama dengan anak perempuan";
3. "Menimbang, bahwa berhubung dengan sikap yang tetap dari Mahkamah Agung ini,

maka juga di Tanah Karo, seorang anak perempuan harus dianggap ahli waris yang berhak menerima bagian warisan dari orang tuanya".
B. Garis Keturunan Bilateral atau Parental (Jawa)

Masyarakat hukum adat yang susunannya didasarkan atas keturunan menurut garis ibu dan bapak adalah sekumpulan manusia yang merupakan kesatuan karena para anggotanya menarik garis keturunan melalui garis ayah dan ibu. Kedua garis itu dinilai dan diberi derajat yang sama. Baik pihak ayah, maupun pihak ibu, dirasakan dan dinilai sama oleh yang bersangkutan dan dipandang sama oleh masyarakat, sebagai suatu pertalian kekeluargaan. Masyarakat hukum adat jawa menganut hukum adat keibu-bapaan yang dalam Bahasa Belanda disebut gezin, yaitu yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak.17 Dalam hal perkawinan, untuk anggota gezin yaitu anak di Jawa dan Madura tidak ada pembatasan apapun. Anggota gezin itu boleh kawin dengan siapa saja, asal perkawinan yang hendak dilangsungkan tidak bertentangan dengan moral dan agama. Pemuda-pemudi Jawa adalah paling bebas untuk kawin dengan orang pilihan mereka sendiri. Adapun tentang keberatan berasal dari orang tua yang didasarkan pada perbedaan agama, atau pada sentimen personlijk terhadap calon menantu yang beralasan pada berbagai ikatan sosial.
1. Hukum Adat Waris Patrilinear Pada Masyarakat Jawa.

Sistem hukum adat waris yang terdapat dalam masyarakat yang menganut sistem kekeluargan dengan menarik garis keturunan dari kedua belah pihak orang tua, yaitu baik dari garis bapak maupun dari garis ibu yang dikenal dengan sebutan sistem parental atau bilateral. Sistem kekeluargaan parental atau bilateral ini memiliki ciri khas tersendiri pula, yaitu bahwa yang merupakan ahli waris adalah anak laki-laki maupun anak perempuan. Mereka mempunyai hak yang sama atas harta peninggalan orang tuanya sehingga dalam proses pengalihan atau pengoperan sejumlah harta kekayaan dari pewaris kepada ahli waris, anak laki-laki dan anak perempuan mempunyai hak untuk diperlakukan sama.
2. Harta Waris, Ahli Waris, Penetapan Ahli Waris, dan Pelaksanaan Pembagian

Waris Menurut hukum adat Jawa, semua harta baik yang berstatus sebagai harta asal (gawan) maupun harta bersama (gono gini) yang dikuasai selama perkawinan disebut dengan harta perkawinan, sedangkan harta peninggalan adalah suatu harta warisan yang belum terbagi atau tidak dapat
16

Ibid,hlm. 39. Bushar Muhammad, Loc. Cit., hlm. 26

17

10
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

terbagi dikarenakan salah seorang pewaris masih hidup. Harta warisan merupakan harta kekayaan dari pewaris yang telah wafat, baik harta itu telah terbagi atau masih dalam keadaan tidak terbagi.18 Ahli waris menurut Sudiyat19, dalam hukum adat Jawa para ahli waris dapat dikelompokkan dalam tata urutan sebagai berikut : 1. Keturunan pewaris 2. Orangtua pewaris 3. Saudara pewaris atau keturunannya 4. Orangtua dari orangtua pewaris atau keturunannya Dalam pengelompokkan janda, duda, dan anak angkat tidak dimasukkan ke dalam ahli waris karena ada yang berpendapat bahwa mereka bukanlah ahli waris meskipun dalam perkembangannya mereka mendapatkan bagian dari harta warisan. Jenjang atau urutan ahli waris adalah: Pertama, yaitu anak-anak. Kedua, yaitu orang tua apabila tidak ada anak, dan Ketiga, yaitu saudara apabila tidak mempunyai orang tua. Akan tetapi dari penelitian setempat tidak diperoleh keterangan apakah adanya satu kelompok ahli waris akan menutup hak ahli waris yang lain. Pengadilan Negeri Indramayu yang dikukuhkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa barat di Bandung, memutuskan:Apabila seseorang tidak mempunyai anak kandung, maka keponakan-keponakannya berhak mewarisi harta peninggalannya yang merupakan barang asal atau barang yang diperolehnya sebagai warisan orang tuanya. (PN. Indramayu tanggal 28 Agustus 1969,No.36/1969/Pdt., PT. Jabar di Bandung tanggal 23 Januari 1971, Nomor 507/ 1969/Perd/PTB20 Penetapan Ahli Waris Ada beberapa yurisprudensi mengenai masalah penetapan ahli waris. Putusan-putusan Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung, Pengadilan Negeri Indramayu, Pengadilan Negeri Purwakarta, dan Pengadilan Negeri Pandeglang, pada prinsipnya menyatakan, bahwa suatu gugatan penetapan ahli waris dapat dikabulkan apabila tergugat mengakui atau tidak membantah atau tidak menyangkal penggugat sebagai ahli waris.21 Pelaksanaan Pembagian Harta Warisan 1. Tata cara membagi harta warisan Pelaksanaan pembagian warisan tergantung pada hubungan dan sikap para ahli waris. Pembagian warisan mungkin terjadi dalam suasana tanpa sengketa atau sebaliknya dalam suasana persengketaan di antara para ahli waris. Dalam suasana tanpa persengketaan, suasana persaudaraan dengan penuh kesepakatan, pelaksanaan pembagian waris dilakukan dengan cara: a) Musyawarah antara sesama ahli waris/keluarga b) Musyawarah antara sesama ahli waris dengan disaksikan oleh sesepuh desa 2. Saat pembagian warisan
18

Agus Sudaryanto, Aspek Ontologi Pembagian Waris dalam Hukum Islam dan Hukum Adat, dalam Mimbar Hukum (Volume 22 No. 3, Oktober 2003), hlm. 5
19

Ibid, hlm. 8.

20

Jawa Barat Yurisprudensi (1969-1972) Buku I-Hukum Perdata,( LPHKFH-UNPAD; Bandung, 1974), hlm. 36,37.
21

Erman Suparman, Loc. Cit, hlm, 79.

11
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

Di beberapa daerah, dijumpai praktik, saat pembagian warisan tersebut ditentukan berdasarkan lamanya pewaris meninggal. Pembagian harta warisan biasanya dilakukan pada hari ke 40 (empat puluh) atau hari ke100 (seratus) sejak pewaris meninggal dunia. 22 3. Bagian Warisan untuk Anak Laki-laki dan Perempuan Di berbagai daerah kalangan masyarakat Jawa dapat dikatakan ada dua kemungkinan pembagian warisan antara anak laki-laki dengan perempuan yaitu23,
1. Cara dundum kupat atau sigar semangka, artinya bagian anak laki-laki

dan perempuan berimbang sama.


2. Cara segendong sepikul, artinya bagian anak laki-laki dua lipat bagian

anak perempuan. BAB IV Analisis dan Kesimpulan


A. Analisis, berdasarkan rumusan masalah diatas yaitu :

Pada perkawinan yang dilangsungkan oleh masyarakat adat Batak dengan Jawa dapat ditarik kesimpulan bahwa, apabila terjadi : Suami bersuku Batak sedangkan istrinya bersuku Jawa menikah kemudian membagi warisan pada ahli warisnya, contoh: Ruli Handrio Sihombing menikah dengan Eva Dewi Kartika. Mereka mempunyai tiga orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Maka, dalam pembagian harta warisannya, apabila :
a. Dilakukan menurut adat batak: Karena pihak laki-laki adalah orang batak (penerus

klan). Oleh karena itu yang diutamakan sebagai ahli waris adalah anak laki-lakinya. Apabila dalam pernikahan itu mereka mempunyai tiga orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Maka, setiap anak laki-laki dari pernikahan antara Ruli dengan Eva tersebut, mendapatkan 1/3 bagian dari jumlah harta yang diwariskan. Sedangkan anak perempuannya tidak akan dibagikan harta warisnya (menurut adat hukum Batak wanita tidak dapat memiliki harta warisan karena ia sudah menjadi bagian dari klan suaminya). Namun, anak perempuan ini akan diberikan sesuatu (biasanya dalam bentuk uang) sebelum pernikahannya untuk menggantikan warisan itu karena dia (karena dia tidak dapat meneruskan klannya).24 b. Dilakukan menurut adat jawa: Anak laki-laki dan perempuan mendapatkan hak yang sama dalam mendapatkan warisan tersebut. Namun dalam pembagiannya bisa dilakukan dengan cara : a. Membaginya dengan bagian yang sama rata pada tiap ahli waris (sigar semangka). Jadi masing-masing ahli waris akan mendapat bagian yang sama yaitu . b. Membaginya dengan perbandingan 2:1 untuk anak laki-laki dengan perempuan (segendong sepikul). Jadi ketiga anak laki-laki tersebut mempunyai bagian yang sama yaitu 1/3 dari harta warisan tersebut sedangkan anak perempuannya mendapat bagian 2/3 dari harta warisan tersebut.
22

Ibid, hlm. 72. Agus Sudaryanto, Loc. Cit., 10

23

24

Penjelasan Pak Hanafi Tanuwijaya, S.H., M.H. dalam Hukum Adat bagi Masyarakat Adat dalam bidang keluarga

12
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

c. Membaginya dengan surat wasiat. Dimana dalam surat wasiat tersebut kedua orang tua saling menyepakati untuk memilih cara pembagian harta waris tersebut. Apakah memakai hukum adat Batak atau Jawa ataupun bisa memilih cara pembagian harta menurut UU (BW). Namun apabila si Istrinya yang bersuku Batak sedangkan suaminya bersuku Jawa, maka hukum waris yang digunakan adalah hukum waris adat Jawa atau berdasarkan BW saja. Karena di dalam hal ini pihak yang mempunyai kewajiban untuk meneruskan klan tidak ada. Namun untuk kepastiannya sebaiknya diadakannya surat wasiat untuk memperjelas hukum mana yang dipakai.

B. Kesimpulan Dalam pembagian waris menurut hukum waris adat Batak, hanya pihak laki-laki saja yang diberikan harta waris, sedangkan pihak wanitanya tidak diberikan bagian dalam warisan. Hal ini terjadi karena masyarakat suku Batak menganut sistem Patrilineal (berdasarkan garis laki-laki). Sehingga, hanya anak laki-laki saja yang dapat meneruskan Klan, sedangkan untuk wanitanya, dia akan mengikuti klan atau family suaminya. Dalam pembagian waris menurut adat Jawa, pembagian waris dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan membaginya secara rata atau seimbang jumlahnya antara anak laki-laki dan wanita, dan dengan membaginya dengan sistem perbandingan 2:1 untuk anak laki-laki maupun perempuan. Maka untuk menghindari terjadinya konflik dalam pembagian warisan ini hendaknya ahli waris membuat kesepakatan tertulis yang tertuang dalam surat wasiat tentang hukum apa yang akan dipakai dalam pembagian waris tersebut. Apakah menggunakan hukum waris adat batak atau jawa, ataupun dengan menggunakan hukum waris barat (BW) ataukah hukum waris yang berdasarkan agama dan kepercayaan yang dianut oleh ahli waris tersebut. Hal ini dilakukan juga demi adanya keadilan dan kepastian hukum bagi para ahli waris untuk memiliki bagian-bagian yang seharusnya dimilikinya. Mengenai masalah H.A.T.A.H yaitu hukum antar tempat yang terjadi dalam masalah ini, dapat disimpulkan hal ini terjadi karena terjadi perbedaan adat antara masing-masing pihak. Titik primer dari masalah ini adalah perbedaan hukum adat yang berlaku pada masing-masing masyarakat adat. Titik sekunder dari permasalahan ini adalah kesepakatan para pihak untuk menentukan hukum mana yang akan diberlakukan dalam pembagian hukum warisnya.

13
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

Daftar Pustaka
Buku : Gautama,Sudargo. Pengantar Hukum Perdata Nasional Indonesia (Bandung: Binacipta, 1987). Jawa Barat Yurisprudensi (1969-1972) Buku I-Hukum Perdata,( LPHKFH-UNPAD: Bandung, 1974) Kusumaatmadja, Mochtar. Pembinaan Hukum dalam Rangka Pembangunan Nasional (Bandung: Binacipta,1975). Meliala, Djaja S. & Aswin Peranginangin. Hukum Perdata Adat Karo dalam Rangka Pembentukan Hukum NasionaI (Bandung: Tarsito, 1978). Muhammad, Bushar. Asas-Asas Hukum Adat Suatu Pengantar (Jakarta: Pradnya Paramitha. 2003). Nainggolan, Torop Eriyanto Sabar. Kedudukan Anak Perempuan Dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Adat Batak Toba (Semarang : Universitas Diponegoro, 2003). Poesponoto,K.Ng. Soebakti. Azas dan Susunan Hukum Adat (Jakarta: Pradnya Paramita, 1960). Soepomo. Bab-bab tentang Hukum Adat (Jakarta: Penerbitan Universitas Indonesia, 1996). Sudaryanto,Agus. Aspek Ontologi Pembagian Waris dalam Hukum Islam dan Hukum Adat. (Yogyakarta : Mimbar Hukum Universitas Gajah Mada,Volume 22 No. 3, Oktober 2003) Suparman, Erman. Hukum Waris di Indonesia dalam Prespektif Islam, Adat, dan BW (Bandung: Refika Aditama, 2005). Catatan : Penjelasan Pak Bobby Stieven, S.H., L.L.M. dalam pertemuan satu pada tanggal 14 Agustus 2012. Penjelasan Pak Hanafi Tanuwijaya, S.H., M.H. dalam Hukum Adat bagi Masyarakat Adat dalam bidang keluarga. Website : www.scribd.com
14
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)

www.eprints.undip.ac.id www.mimbar.hukum.ugm.ac.id

15
PEMBAGIAN WARISAN DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT ADAT BATAK DENGAN JAWA MENURUT HUKUM ADAT Eva Dewi Kartika (205110114)