Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTEK SERAT TEKSTIL IDENTIFIKASI SERAT PADA BAHAN TEKSTIL (KAIN)

NAMA NIM

: IHWAL ILHAMI : 124016

AKADEMI TEKNIK WARGA SURAKARTA


JANUARI 2012

1. TUJAN PERCOBAAN
a. Untuk mengetahui jenis serat yang menyusun suatu bahan tekstil (kain uji) melalui uji pembakaran, uji mikroskopik & uji pelarutan

2. DASAR TEORI
A. Klasifikasi Serat

Serat adalah sebuah zat yang panjang, tipis, dan mudah dibengkokkan. Panjang serat beberapa ratus kali lebarnya. Ditinjau dari segi zat kimia penyusunnya, serat tekstil tersusun atas molekul-molekul yang sangat besar yaitu berupa selulose, protein, thermoplastics atau mineral. Berdasarkan asal zat kimia seratnya, serat dikelompokkan menjadi serat alam dan serat buatan. 1. Serat buatan adalah serat yang molekulnya disusun secara sengaja oleh manusia. Serat buatan dikelompokkan ke dalam serat alam yang diolah kembali, serat setengah buatan (bahan dari serat alam dan bahan kimia buatan), serat buatan (murni dari bahan kimia buatan). 2. Serat alam adalah serat yang molekulnya terbentuk secara alami. Serat alam dikelompokkan ke dalam serat yang berasal dari tumbuhan dan yang berasal dari hewan. Serat tumbuhan dapat diperoleh dari bagian biji, batang, daun atau buahnya. Serat hewan dapat diperoleh dari bagian bulu atau rambut binatang. 2.a Serat selulose Selulose merupakan bahan utama pada tumbuh-tumbuhan. Jumlah kandungan selulose pada serat berbeda-beda, rayon mengandung 100%, kapas 91% dan lenan 70% selulose. Jumlah kandungan selulose yang besar pada serat yang berbeda menyebabkan serat-serat ini mempunyai sifat-sifat kimia yang sama. a.1 Serat kapas Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam jenis gossypium, yaitu 1) Gossypium arboreum, 2) Gossypium herbareum, 3) Gossypium barbadense, dan 4) Gossypium hirsutum. Tiap jenis tanaman kapas tersebut menghasilkan kapas yang mutunya sangat khas. - Gossypium barbadense disebut juga kapas sea island, merupakan jenis yang menghasilkan kapas yang bermutu sangat tinggi karena panjang serat 38 - 55 mm, halus dan berkilau. - Gossypium arboreum dan gossypium herbareum menghasilkan serat yang pendek yaitu 7 - 25 mm. - Gossypium hirsutum disebut juga kapas upland, menghasilkan serat panjang 25 - 35 mm. Serat kapas diperoleh dari buah kapas. Buah kapas yang sudah

matang dipetik, bulu-bulunya dipisahkan dari bijinya, dibersihkan dan dipintal. Bulu-bulu pendek yang masih melekat pada biji-biji kapas tersebut disebut linter. Kapas terutama tersusun atas selulose. Selulose dalam kapas mencapai 94 % dan sisanya terdiri atas protein, pektat, lilin, abu dan zat lain. Proses pemasakan dan pemutihan serat akan mengurangi jumlah zat bukan selulose dan meningkatkan persentase selulose. a.1.1Penampang serat kapas i) Membujur Bentuk memanjang serat kapas, pipih seperti pita yang terpuntir. Bentuk memanjang serat, dibagi menjadi tiga bagian, antara lain: dasar, badan dan ujung. - Dasar Berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan serat pertumbuhan serat tetap tertanam di antara sel-sel epidermis. Dalam proses pemisahan serat dari bijinya, pada umumnya dasar serat ini putus sehingga jarang ditemukan pada saat kapas diperdagangkan. - Badan Merupakan bagian utama dari serat, kira-kira 3/4 sampai 15/16 panjang serat. Bagian ini mempunyai diameter yang sama, dinding yang tebal, dan lumen yang sempit. - Ujung Merupakan bagian yang lurus dan mulai mengecil dan pada umumnya kurang dari 1/4 bagian panjang serat. Diameter bagian ini lebih kecil dari diameter badan dan berakhir dengan ujung yang runcing. ii) Melintang Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa, penampang lintangnya terdiri dari 6 bagian. - Kutikula Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein. Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar tembus air dan zat pewarna. Berfungsi melindungi bagian dalam serat. - Dinding primer Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri dari selulose tetapi juga mengandung pektin, protein, dan zat-zat yang mengandung lilin. Selulose dalam dinding primer berbentuk benang yang sangat halus yang tidak tersusun sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral mengelilingi sumbu serat.

- Lapisan antara Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda dengan dinding primer. - Dinding sekunder Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian utama serat kapas. Dinding ini juga merupakan lapisan benang yang halus yang membentuk spiral mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubah-ubah. - Dinding lumen Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu dibanding dinding sekunder. - Lumen Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya bervariasi dari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat. GAMBAR PENAMPANG SERAT KAPAS

B. Cara Identifikasi Serat Cara mengenali serat sangat tergantung dari jenis serat, pengalaman analisis dan perlengkapan analisa yang tersedia. Bila peraturan tentang pelabelan sudah berlaku, para consumen cukup melihat jenis serat yang dicantumkan pada label dari suatu bahan sandan dan bahan tekstil tertentu. Analisa yang paling sederhana adalah cara pembakaran dan pengenalan secara visual. Namun ada juga cara pengujian yang lain diantaranya secara uji mikroskopik dan uji kelarutan. Identifikasi serat terutama didasarkan beberapa sifat khusus serat yaitu : morfologi, sifat kimia atau fisikanya. Pada umumnya identifikasi serat dilakukan menurut gabungan beberapa cara, yaitu uji mikroskop dan kimia, untuk dapat diprtanggung jawabkan hasilnya. Dalam industri tekstil identifikasi serat sangat penting, kadar dan jenis tekstil dalam tekstil perlu diketahui dengan tepat, karena kadar dan jenis serat akan mempengaruhi sifat kain dan sangat menentukan cara pengolahan yang harus dilakukan, terutama dalam pencelupan dan penyempurnaan. Pengujian sifat kimia dari serat dapat dilakukan secara makro tanpa menggunakan mikroskop atau dngan cara mikro dengan menggunakan mikroskop. Cara kimia makro digunakan untuk mengidentifikasikan serat yang terdiri dari serat campuran. Pengujian sifat kimia serat dapat dibedakan atas : 1. uji pelarutan 2. uji pewarnaan 3. uji pembakaran Uji pembakaran dilakukan secara makro, sedangkan uji pelarutan dan uji pewarnaan dapat dilakukan secara makro maupun mikro.

B.1 UJI PEMBAKARAN Uji pembakaran serat adalah cara yang dilakukan untuk menggolongkan atau menentukan serat. Untuk memperkirakan golongan serat secara umum digunakan uji pembakaran, tetapi untuk serat serat campuran cara ini dianggap kurang meyakinkan karena hasilnya kurang dapat dipertanggung jawabkan. Uji pembakaran ini biasanya meliputi hal hal sebagai berikut : - pengamatan cara terbakarnya - pengamatan bau - pengamatan warna dari asap yang terbentuk - pegamatan sisa pembakarannya
Berdasarkan pengamatan diatas tentunya cara uji pembakaran tidak dapat digunakan untuk mengidetifikasi dan meneliti serat secara khusus. Kriteria tentang uji pembakaran yaitu dapat dilihat sebagai berikut : 1. Apabila serat terbakar cepat dan meninggalkan abu berbentuk serat dan berbau seperti kertas terbakar, maka ciri ini menunjukkan bahwa serat tersebut termasuk serat selulosa. 2. Apabila serat meleleh dan meninggalkan bulatan kecil diujungnya dan disertai dengan bau menyengat seperti bau asam cuka maka keadaan ini menunjukkan serat rayon asetat. 3. Apabila serat terbakar tanpa meninggalkan abu dan berbau seperti rambut terbakar serta meninggalkan bulatan kecil diujungnya, maka ciri tersebut menunjukkan bahwa serat tersebut termasuk serat protein. 4. Apabila sewaktu terbakar mengeluarkan bau seperti plastik terbakar dan meninggalkan abu yang berbentuk bulatan kecil yang tak teratur maka ciri ciri tersebut merupakan ciri ciri serat poliamida, serat poliester dan serat poliakrila B.2 UJI MIKROKOPIK

Identifikasi serat didasarkan pada beberapa sifat khusus dari suatu serat, yaitu morfologi, sifat kimia atapun sifat fisikanya. Pada uji mikroskop kali ini, akan diteliti mengenai morfologi dari beberapa serat. Pada serat alam, morfologi seratnya menunjukkan suatu bentuk dengan perbedaan yang besar antara satu dengan yang lainnya, karena serat-serat tersebut ditentukan oleh jenis tanaman dan jenis hewannya. Dalam batas tertentu morfologi mempunyai bentuk yang tetap, oleh karena itu morfologi serat dari serat alam sangat menentukan dalam identifikasi seratnya. Pada serat buatan, morfologi serat kurang penting untuk identifikasi serat, karena morfologi serat ditentukan terutama oleh cara pembuatan dan penarikan seratnya, dan bukan oleh jenis seratnya. serat terbagi atas :

Serat selulosa : rami, jute, sisal, kapas, sabut kelapa, dll. Protein : bulu unta, vicuna, sutera dan wol. Mineral : asbes

Yang kesemuanya itu merupakan serat alam, sedangkan serat buatan meliputi : * Organik : alginat, triasetat, rayon, nylon, poliester. * Anorganik : kaca, logam.

Pada dasarnya identifikasi serat tekstil dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain : cara mikroskopi, cara pelarutan, pewarnaan, pengukuran berat jenis, pembakaran, dan pengukuran titik leleh. Dari beberapa cara tersebut, cara yang digunakan pada percobaan ini adalah dengan cara mikroskop. Identifikasi serat serat tekstil dengan cara mikroskop dimaksudkan untuk mengetahui jenis serat dari pandangan melintang dan pandangan membujur, dengan demikian dapat diketahui ciri ciri suatu serat contohnya wool dimana seratnya bersisik dilihat dari penampang membujur atau serat sutera mempunyai penampang melintang yang berbentuk menyerupai segitiga. Uji identifikasi dengan mikroskop merupakan cara yang baik, karena kita dapat mengetahui dengan jelas terutama untuk jenis serat campuran, dalam pengujian dengan mikroskop ini dilakukan dengan 2 cara melintang dan membujur, dengan percobaan mikroskop ini denagan jelas mengetahui perbedaan serat yang satu dengan B.2.i Mikroskop Mikroskop merupakan salah satu alat penting dalam kegiatan praktikum biologi di sekolah. Mikroskop berfungsi untuk melihat benda-benda atau organisme yang berukuran sangat kecil. Jenis Mikroskop yang banyak digunakan disekolah adalah Mikroskop Monokuler. Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, jenis mikroskop dan kemampuan memperbesar benda juga semakin maju. Ada beberapa mikroskop yang kita kenal, yaitu : 1. Mikroskop sederhana

2. Mikroskop Monokuler

3. Mikroskop Elektron

Dari berbagai Mikroskop itu mikroskop elektron yang memiliki perbesaran paling tinggi, dapat memperbesar benda sampai 500.000 kali.. Mikroskop ini menggunakan elektron sebagai ganti cahaya pada mikroskop cahaya. Bagian-bagian Mikroskop

Lensa Okuler Tabung Mikroskop Tombol pengatur fokus kasar Tombol pengatur fokus halus Revolver Lensa Objektif Lengan Mikroskop Meja Preparat Penjepit Objek Glass Kondensor Diafragma Reflektor/cermin Kaki Mikroskop Satuan yang biasanya digunakan pada objek yang dilihat melalui mikroskop adalah Mikron ( 1 milimeter = 1000 mikron ) Perbesaran total didapat dari hasil perkalian perbesaran lensa objektif dengan lensa Okuler. Misalnya: Pengamatan menggunakan lensa objectif dengan pembesaran 45 kali dan lensa okuler perbesaran 10 kali maka perbesaran total adalah = 10 x 45 = 450 kali ukuran semula. Fungsi Bagian-bagian Mikroskop 1. Lensa Okuler untuk memperbesar benda yang dibentuk oleh lensa objektif 2. Tabung Mikroskop Untuk mengatur fokus, dapat dinaikkan dan diturunkan

3. Tombol pengatur fokus kasar Untuk mencari fokus bayangan objek secara cepat sehingga tabung mikroskop turun atau naik dengan cepat 4. Tombol pengatur fokus halus Untuk memfokuskan bayangan objek secara lambat, sehingga tabung mikroskop turun atau naik dengan lambat 5. Revolver Untuk memilih lensa obyektif yang akan digunakan 6. Lensa Objektif Untuk menentukan bayangan objektif serta memperbesar benda yang diamati. Umumnya ada 3 lensa objektif dengan pembesaran 4x, 10x, dan 40x. 7. Lengan Mikroskop Untuk pegangan saat membawa mikroskop 8. Meja Preparat Untuk meletakkan objek (benda) yang akan diamati 9. Penjepit Objek Glass Untuk menjepit preparat di atas meja preparat agar preparat tidak bergeser. 10. Kondensor Merupakan lensa tambahan yang berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk dalam mikroskop 11. Diafragma Berupa lubang-lubang yang ukurannya dari kecil sampai selebar lubang pada meja objek. Berfungsi untuk mengatur banyak sedikitnya cahaya yang akan masuk mikroskop 12. Reflektor/cermin Untuk memantulkan dan mengarahkan cahaya ke dalam mikroskop. Ada 2 jenis cermin, yaitu datar dan cekung. Bila sumber cahaya lemah, misalkan sinar lampu, digunakan cermin cekung tetapi bila sumber cahaya kuat, misalnya sinar matahari yang menembus ruangan, gunakan cermin datar. 13. Kaki Mikroskop Untuk menjaga mikroskop agar dapat berdiri dengan mantap di atas meja.

B.3 UJI PELARUTAN

Uji pelarutan ini dimaksudkan agar praktikan dapat menentukan sifat-sifat kimia dari masing-masing serat. Uji ini sangat penting terutama untuk seratserat buatan yang mempunyai morfologi yang hampir sama. Telah diketahui bahwa serat-serat tekstil tersusun atas polimerpolimer,kemudian polimer-polimer tersebut saling terikat satu sama lain. Penyusun pengikat antar polimer tersebut,antara lain : a. IKATAN HIDROGEN Ikatan dimana atom hidrogen dihubungkan dengan dua atom lain. Ikatan ini terdapat diantara dua gugus fungsional di dalam satu atau dua molekul. b. GUGUS HIDROKSIL Gugus ini biasanya memudahkan kelarutan dalam air. Gugus ini mempunyai kemampuan untuk menarik gugus hidroksil yang lain dari serat maupun dari atomnya sendiri,sehingga serat akan mudah menyerap air. c. GUGUS KARBOKSIL Mempunyai sifat yang sama dengan gugus hidroksil,tetapi jika lebih bersifat asam maka lebih mudah bereaksi dengan zat-zat lain. d. GUGUS AROMATIL Dalam polimer gugs ini menyebabkan molekul lebih kaku,dapat menaikan kohesi antar molekul,sehingga membuat titik lelehnya lebih tinggi dari jenis molekul yang lainnya. Dengan melihat kelarutan serat pada berbagai pelarut dapat disimpulkan jenis seratnya. Prinsip pengujian pada uji kelarutan ini adalah melarutkan serat pada beberapa pelarut kemudian diamati sifat kelarutannya. Apakah serat tersebut larut dengan sempurna, larut sebagian atau tidak larut sama sekali. Uji pelarutan ini dilakukan dalam suhu kamar terlebih dahulu. Bila serat belum/ tidak larut, maka selanjutnya dipanaskan atau dididihkan dalam wadah yang berisi air yang dipanaskan. Namun bila serat sudah larut, pemanasan tersebut tidak perlu dilakukan. Uji pelarutan berhubungan dengan sifat kimia dari masing masing serat. Uji ini sangat penting terutama untuk serat serat buatan yang mempunyai morfologi hampir sama. Denganm e l i h a t k e l a r u t a n s e r a t p a d a b e r b a ga i p e l a r u t d a p a t d i s i m p u l k a n j e n i s s e r a t n ya . Prisip p e n g u j i a n n y a a d a l a h m e l a r u t k a n s e r a t p a d a b e r b a g a i p e l a r u t k e m u d i a n d i a m a t i s i f a t kelarutannya. Adapun pelarut yang umum digunakan adalah : -asam klorida : Asam ini akan melarutkan serat nilon. -Asam sulfat 70% : Serat yang larut dalam p e l a r u t i n i a d a l a h s e r a t k a p a s , r a y o n viskosa, rayon asetat, nilon dan sutera. - A s a t o n : La r u t a n i n i h a n ya m e l a r u t k a n s e r a t r a yo n a s e t a t . -NaOCl : Serat wol dan sutera akan larut dalam larutan ini. - M e t i l s a l i s i l a t : La r u t a n i n i a k a n m e l a r u t k a n s e r a t poliester. -NaOH 45% : Pada suhu mendidih larutan ini akan m e l a r u t k a n p o l i e s t e r , w o l d a n sutera.

- M e t a C r e s o l : La r u t a n i n i a k a n m e l a r u t k a n s e r a t r a yo n a s e t a t d a n p o l i a m i d a / n yl o n . - D M F : La r u t a n i n i a k a n m e l a r u t k a n p o l i a k r i l a t , p o l i a m i d a d a n r a yo n a s e t a t . -Asam Nitrat : Pada suhu kamar akan melarutkan r a y o n a s e t a t , w o l , p o l i a k r i l a t d a n nilon.- N a O H 1 0 % / KOH 10 % dalam keadaan suhu kamar dan mendidih akan m e l a r u t k a n serat wol dan sutera

3. ALAT DAN BAHAN


a. b. c. d. e. Mikroskop Beunsen Kaca objek & penutup Jarum, dll H2SO4 80 % a. Kain X b. Lak c. Gabus d. Benang

4. CARA PENGUJIAN
a. tiriskan kain sesuai dengan arah benang b. pisahkan antara benang lusi & pakan c. lakukan percobaan pada benang lusi dan benang pakan untuk mengetahui jenis seratnya, dengan cara identifikasi : C.1 UJI PEMBAKARAN :
1. ambil Beberapa benang lusi/pakan kemudian dijepit pada penjepit dan didekatkan secara perlahan pada nyala api 2. Lakukan pengamatan dengan memperhatikan a. Sifat pembakaran b. Bau c. Sisa pembakaran 3. Catat hasil pengujian setiap saat dan ulangi pembakaran sekali lagi untuk bisa dibandingkan datanya dan tentukan antara hasil pembakaran Benang lusi dan pakan sama atau tidak.

C.2 UJI MIKROSKOPIK MEMBUJUR:


1. Siapkan mikroskop dan perlengkapan lainnya yang digunakan dalam pengujian 2. Ambil kaca objek dan penutup, bersihkan dulu sebelum digunakan 3. Ambil beberapa helai benang lusi/pakan, punter sampai benang menjadi potongan serat letakan pada kaca objek, tutup objek yang akan diamati dengan lensa penutup 4. Letakkan kaca objek pada meja objek yang ada di mikroskop 5. Pasang lensa okuler dan lensa objektif sesuai dengan pembesaran yang diinginkan

6. Amati objek sampai terlihat gambarnya dengan jelas kemudian, gambar objek yang diamati pada laporan sementara anda sesuai dengan pembesarannya dan tentukan antara hasil penampang membujur Benang lusi dan pakan sama atau tidak.

C.3 UJI MIKROSKOPIK MELINTANG:


1. Ambil sedikit benang yang akan diuji,punter benang sehingga menjadi beberapa bagian serat kemudian sejajarkan dan beri sedikit lak pada permukaan serat 2. Ambil potongan gabus, masukan benang pada lubang jarum dan tusukkan jarum pada tengah-tengah potongan gabus 3. Tusukkan kembali jarum pada lubang yang sama digabus, tarik jarum dan benang sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :

4. Masukkan serat yang telah diberi lak pada untiran benag dan tarik jarum/benang sehingga serat dapat masuk kedalam gabus 5. Buat potongan melintang dari gabus yang sudah ada seratnya dengan cara memotong gabus secara melintang dengan silet yang tajam 6. Irisan tipis gabus dan serat diletakkan dipermukaan kaca objek yang telah dibersihkan kemudian tutup serat dengan menggunakan kaca penutup 7. Amati irisan penampang melintang serat dengan mikroskop dan gambar objek/serat hasil pengamatan. Pengamatan dilakukan pada pembesaran 100x dan 200x/400x 8. Gambar penampang melintang benang lusi &pakan serta tentukan antara hasil penampang melintang Benang lusi dan pakan sama atau tidak.

C.2 UJI KELARUTAN: 1. Cuci sabu peralatan yang akan digunakan untuk uji kelarutan 2. Ambil sedikit benang lusi/pakan yang akan diuji kelarutan dan masukkan ke dalam tabung reaksi 3. Pilih jenmis zat kimia yang dapat melarutkan serat 4. Ambil secukupnya larutan zat kimia yang akan digunakan untuk pengujian dan masukkan kedalam tabung reaksi 5. Lakukan uji pelarutan sesuai dengan kondisi pengujian dan lakukan pengadukan selama pengujian 6. Amati serat yang diuji, apakah larut, larut sebagian atau tidak larut 7. Catat waktu yang diperlukan 8. Tulis data hasil uji benang lusi/pakan pada table uji kelarutan d. Dari Semua Uji yang dilakukan, berikan kesimpulan serat yang menyusun benang lusi
dan benang pakan kain.

5. HASIL PENGUJIAN
A. Hasil Uji Pembakaran A.1 Benang Lusi a. Sifat Pembakaran : Terbakar sebentar,api padam bara meneruskan pembakaran
b. Bau/Asap c. Sisa Pembakaran d. Golongan : Seperti Kertas Terbakar : Abu, Hitam keabuan, mudah remuk : Sellulosa

A.2 Benang Pakan a. Sifat Pembakaran : Terbakar sebentar,api padam bara meneruskan pembakaran
b. Bau/Asap c. Sisa Pembakaran d. Golongan : Seperti Kertas Terbakar : Abu, Hitam keabuan, mudah remuk : Sellulosa

B. Hasil Uji Mikroskopis B.1 Benang Lusi a. Bentuk Penampang membujur

b. Bentuk Penampang melintang

B.1 Benang Pakan a. Bentuk Penampang membujur

b. Bentuk Penampang melintang

C. Hasil Uji Kelarutan 1. benang lusi larut dalam H2SO4 80% pada suhu kamar dengan waktu 3 menit 2. benang Pakan larut dalam H2SO4 80% pada suhu kamar dengan waktu 106 detik

6 KESIMPULAN
a. serat yang digunakan dalam pembuatan benang Lusi adalah serat kapas b. serat yang digunakan dalam pembuatan benang Pakan adalah serat kapas c. Kain yang diuji disusun oleh serat kapas

7. DFTAR PUSTAKA
1. Wiwit wiedarty,22 april 2011, Uji Serat Mikroskop 1 dan 2, http://superakhwat08.wordpress.com/2011/04/22/uji-serat-nikroskop-1-dan2/ 2. Untung Mardiyanto, 2011, Mengidentifikasi Serat Tekstil, http://www.scribd.com/doc/87744458/Mengidentifikasi-Serat-Tekstil-Kelasx-Smt-1 3. Jimmy Wales, Larry Sanger,, 7 Oktober 2012, KAPAS, http://id.wikipedia.org/wiki/Kapas 4. guru ngeblog ,8 november 2008, MIKROSKOP, http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/08/mengenal-mikroskop/ 5. Lyle, Dorothy S.. 1982. Modern Textiles. New York: John Wiley & Sons. 6. Jumaery, dkk. 1977. Pengetahuan Tekstil. Bandung: ITT. 7. Moerdoko, W. dkk. 1975. Evaluasi Tekstil. Bandung: ITT. 8. Hartanto, N. Sugiarto dan Watanabe, S. 1986. Teknologi Tekstil. Jakarta: Pradnya Paramita. 9. Soeprijono, P. dkk. 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung: ITT. 10. M o e r d o k o W i b o w o , S . T e k s Evaluasi Tekstil Bagian Kimia . , I n s t i t u t T e k n o l o g i Tekstil Bandung, 1975. 11. Serat Serat Tekstil ,Institut Teknologi Tekstil Bandung 12. Ipan, selasa 12 juni 2009, Uji kelarutan http://muzdalipa.blogspot.com/2012/06/laporn-serat-uji-pelarutan.html 13. Choretin, senin 22 maret 2010, Kelarutan http://serattekstil.blogspot.com/2010/03/uji-pelarutan.html