Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu pandangan hidup yaitu merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali aspek pendidikan. Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan mewariskan sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasardasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat. Untuk menjamin supaya pendidikan dan prosesnya efektif, maka dibutuhkan landasan-landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normatif dan pedoman pelaksanaanya. Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila" yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia. 1 Oleh karena itu perlunya kita membahas lebih lanjut mengenai filsafat pendidikan pancasila untuk mengetahui apa filsafat pendidikan Pancasila dan bagaimana Filsafat Pendidikan Pancasila itu dalam tinjauan

Ontologi.Epistemologi dan Aksiologi, serta peranan Filsafat Pendidikan Pancasila dan Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila.
Riri.Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional.html.http:///Kumpulan-Makalah-RiRi-pandangan-Filsafat-Pendidikan-PancasilaTerhadap-Sistem-Pendidian-Nasional.htm. diakses pada 29 Oktober 2012.
1

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan Filsafat Pendidikan Pancasila ? 2. Apa Dasar-dasar Filsafat Pendidikan Pancasila ? 3. Bagaimana Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi ? 4. Bagaimana peranan Filsafat Pendidikan Pancasila dan Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila?

C. Tujuan dan kegunaan Adapun tujuan dan kegunaan dari pembnuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian dari Filsafat Pendidikan Pancasila. 2. Untuk mengetahui Dasar-dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. 3. Untuk mengetahui Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. 4. Untuk mengetahui peranan Filsafat Pendidikan Pancasila dan Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Filsafat Pendidikan Pancasila Pancasila yang dibahas secara filosofis disini adalah Pancasila yang butir-butirnya termuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang tertulis dalam alinia ke empat. Dijelaskan bahwa Negara Indonesia didasarkan atas Pancasila. Pernyataan tersebut menegaskan hubungan yang erat antara eksistensi negara Indonesia dengan Pancasila. Lahir, tumbuh dan berkembangnya negara Indonesia ditumpukan pada Pancasila sebagai dasarnya. Secara filosofis ini dapat diinterpretasikan sebagai pernyataan mengenai kedudukan Pancasila sebagai jati diri bangsa (Putra, 1988:43). Melihat dari beragamnya kebudayaan yang terdapat dalam bangsa Indonesia maka proses kesinambungan dari kehidupan bangsa merupakan tantangan yang besar. Demi perkembangan kebudayaan Indonesia selanjutnya dituntut adanya rumusan yang jelas yang mampu berperan sebagai pemersatu bangsa sehingga cirri khas bangsa Indonesia menjadi nyata. Jadi, Pancasila mengarahkan seluruh kehidupan bersama bangsa, pergaulannya dengan bangsa-bangsa lain dan seluruh perkembangan bangsa Indonesia dari waktu kewaktu. Namun dengan diangkatnya Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak berati bahwa Pancasila dengan nilai-nilai yang termuat didalamnya sudah terumus dengan teliti dan jelas, juga tidak berarti pancasila telah merupakan kenyataan didalam kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila adalah pernyataan tentang jati diri bangsa Indonesia.2 Pancasila dikenal sebagai filosofi Indonesia. Kenyataannya definisi filsafat dalam filsafat Pancasila telah diubah dan diinterpretasi berbeda oleh beberapa filsuf Indonesia. Pancasila dijadikan wacana sejak 1945. Filsafat

Neouka.Filsafat Pendidikan Pancasila. http://neouka.wordpress.com/2010/06/09FilsafatPendidikan-Pancasila/.Diakses pada 02 November 2012.

Pancasila senantiasa diperbarui sesuai dengan permintaan rezim yang berkuasa, sehingga Pancasila berbeda dari waktu ke waktu. Beberapa pendapat filsafat pendidikan Pancasila : a. Filsafat Pancasila Asli Pancasila merupakan konsep adaptif filsafat Barat. Hal ini merujuk pidato Sukarno di BPUPKI dan banyak pendiri bangsa merupakan alumni Universitas di Eropa, di mana filsafat barat merupakan salah satu materi kuliah mereka. Pancasila terinspirasi konsep humanisme, rasionalisme, universalisme, sosiodemokrasi, sosialisme Jerman, demokrasi parlementer, dan nasionalisme. b. Filsafat Pancasila versi Soekarno Filsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh Sukarno sejak 1955 sampai berakhirnya kekuasaannya (1965). Pada saat itu Sukarno selalu menyatakan bahwa Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari budaya dan tradisi Indonesia dan akulturasi budaya India (Hindu-Budha), Barat (Kristen), dan Arab (Islam). Menurut Sukarno Ketuhanan adalah asli berasal dari Indonesia, Keadilan Soasial terinspirasi dari konsep Ratu Adil. Sukarno tidak pernah menyinggung atau mempropagandakan Persatuan. c. Filsafat Pancasila versi Soeharto Oleh Suharto filsafat Pancasila mengalami Indonesiasi. Melalui filsuf-filsuf yang disponsori Depdikbud, semua elemen Barat disingkirkan dan diganti interpretasinya dalam budaya Indonesia, sehingga menghasilkan Pancasila truly Indonesia. Semua sila dalam Pancasila adalah asli Indonesia dan Pancasila dijabarkan menjadi lebih rinci (butir-butir Pancasila). Filsuf Indonesia yang bekerja dan mempromosikan bahwa filsafat Pancasila adalah truly Indonesia antara lain Sunoto, R. Parmono, Gerson W. Bawengan, Wasito Poespoprodjo, Burhanuddin Salam, Bambang Daroeso, Paulus Wahana, Azhary, Suhadi, Kaelan, Moertono, Soerjanto Poespowardojo, dan

Moerdiono.

Berdasarkan penjelasan diatas maka pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.3 B. Dasar- dasar Pendidikan Pancasila Secara yuridis konstisional Negara Indonesia berdasarkan pancasila yang termaksud dalam pembukaan UUD 45 alinea ke-4 Ketentuan yuridis

kontisional mengandung makna baik formal maupun fungsional menyatakan : 1) Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara 2) Pancasila adalah norma-norma dasar dan norma-norma tertinggi dalam Negara R.I 3) Pancasila adalah ideology Negara 4) Pancasila adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional 5) Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa. Nilai-nilai dalam social budaya Indonesia : a) b) c) d) e) Kesadaran mengakui adanya tuhan dan kepercayaan Negara Kesadaran keluarga Kesadaran musyawarah mufakat dalam akhlak Kesadaran gotong royong, tolong menolong Kesadaran tenggang rasa / tepa selera.4 Dalam Filsafat Pancasila terdapat banyak nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas dan perekat bangsa Indonesia. Filsafat yang terkandung didalam pancasila harus disoroti dari titik tolak pandangan yang holistic mengenai kenyataan kehidupan bangsa yang beranekaragam. Ini menekankan pada semangat Bhineka Tunggal Ika, semangat ini diharapkan mendasari seluruh

Dedey.Filsafat Pendidikan Pancasila dan Etos Kerja. http:///de2y'l-if-filsafatpendidikan-pancasila-dan-etos-kerja.html. diakses tanggal 29 Oktober 2012. 4 Mukhlis. Dasar-dasar filsafat Pendidikan Pancasila. http://dasar-dasar-filsafatpendidikan- pancasila-ab-mukhlis-berbagi-ilmu.html. diakses tanggal 29 Oktober 2012.

kehidupan bangsa Indonesia. Yaitu adanya kesatuan didalam keaneka ragaman yang ada. Dari penjelasan itu dapat dinyatakan bahwa Bhineka Tunggal Ika adalah inti Filsafat Pancasila. Kerinduan bangsa Indonesia akan terwujudnya kesatuan didalam pengalaman akan keperbagaian tersebut merupakan cerminan kerinduan umat manusia sepanjang zaman. Menurut Drijarkara dalam Putra (1988:32) Pancasila adalah inheren (melekat) kepada eksistensi manusia sebagai manusia, lepas dari keadaan yang terntu pada kongretnya. Sebab itu dengan memandang kodrat manusia qua valis (sebagai manusia), kita juga akan sampai ke Pancasila. Hal ini digambarkan melalui sila-sila dalam Pancasila. Notonagoro (dalam noor, 1987:153) dalam kaitannya menyebutkan kalau dilihat dari segi intisarinya, urut-urutan lima sila Pancasila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya isi, tiap-tiap sila yang lima sila dianggap maksud demikian, maka diantara lima sila ada hubungannya yang mengikat yang satu kpada yang lain, sehingga Pancasila merupakan satukesatuan yang bulat. Adapun hubungannya dengan pendidikan bahwa bagi bangsa Indonesia keyakinan atau pandangan hidup bangsa, dasar negara Republik Indonesia ialah Pancasila. Karenanya system pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila itu. Sistem pendidikan nasional dan system filsafat pendidikan Pancasila adalah sub system dari system negara Pancasila. Dengan kata lain system negara Pancasila wajar tercermin dan dilaksanakan di dalam berbagai subsistem kehidupan nasional bangsa Indonesia secara keseluruhan. Tegasnya tiada system pendidikan nasional tanpa filsafat pendidikan. Jadi, jelas bahwa tidak mungkin system pendidikan nasional Pancasila dijiwai

dan didasari oleh system pendidikan yang lain, kecuali Filsafat Pendidikan Pancasila.5 C. Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. a. Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Ontologi Ontologi adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Ontologi kadang-kadang disamakan dengan metafisika, sebelum manusia menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti hakikat sesuatu (Muhammad Noor Syam,1984:24). Jadi, ontologi adalah cabang dari filsafat yang persoalan pokoknya adalah apakah kenyataan atau realita itu. Dalam kenyataannya, Pancasila dapat dilihat dari penghayatan dan pengalaman kehidupan sehari-hari. Dan bila dijabarkan menurut sila-sila dari Pancasila itu adalah sebagai berikut ; 1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa Sila pertama ini menjiwai sila-sila yang lainnya. Dengan sila pertama ini, kita diharapkan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang juga merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Karena itu, di lingkungan keluarga, sekolah, dan di masyarakat ditanamkan nilai-nilai keagamaan dan Pancasila. 2. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pendidikan tidak membedakan usia, agama, dan tingkat sosial budaya dalam menuntut ilmu. Setiap manusia mempunyai kebebasan dalam hal menuntut ilmu, mendapat perlakuan yang sama.

Neouka.Filsafat Pendidikan Pancasila. http://neouka.wordpress.com/2010/06/09FilsafatPendidikan-Pancasila/.Diakses pada 02 November 2012.

3. Sila ketiga, Persatuan Indonesia Sila ketiga ini tidak membatasi golongan dalam belajar. Ini berarti, bahwa semua golongan dapat menerima pendidikan, baik dari golongan rendah maupun golongan yang tinggi, tergantung kepada kemampuannya untuk berpikir, sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 ayat 1. 4. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan Sila keempat ini sering dikaitkan dengan kehidupan berdemokrasi. Dalam hal ini, demokrasi sering juga diartikan sebagai kekuasaan ada di tangan rakyat. Bila dilihat dari dunia pendidikan, maka hal ini sangat relevan karena menghargai pendapat orang lain demi kemajuan. Jadi, dalam menyusun tujuan pendidikan, diperlukan ide-ide dari orang lain demi kemajuan pendidikan. 5. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Dalam sisdiknas, maksud adil dalam arti luas mencakup seluruh aspek pendidikan yang ada. Adil disini adalah adil dalam melaksanakan pendidikan. Adil juga dalam arti sempit di kelas, pendidik tidak boleh membeda-bedakan siswa. b. Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Epistemologi Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda. Epistemologi dapat juga berarti bidang filsafat yang menyelidiki sumber, syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas, dan hakikat ilmu pengetahuan. 1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa Pancasila bersumber dari bangsa Indonesianyang prosesnya melalui perjuangan rakyat. Bila kita hubungkan dengan pancasila, maka dapat kita ketahui bahwa apakah ilmu itu didapat melalui rasio atau datang dari Tuhan.

2. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Seorang guru tidak boleh memonopoli kebenaran. Nilai

pengetahuan dalam pribadi telah menjadi kualitas dan martabat kepribadian subjek pribadi yang bersangkutan, baik secara intrinsik, terlebih lagi secara praktis. 3. Sila ketiga, Persatuan Indonesia Proses terbentuknya pengetahuan manusia merupakan hasil dari kerja sama atau produk hubungan dengan lingkungannya. Potensi dasar dengan faktor kondisi lingkungan yang memadai akan membentuk pengetahuan. Bila ini dihubungkan dengan Pancasila, akan sangat sesuai karena dalam hubungan antar manusia itu diperlukan suatu landasan, yaitu Pancasila. 4. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan Dalam sisdiknas, pendidikan memang mempunyai peranan yang besar, tapi itu tidak menutup kemungkinan peran keluarga dan masyarakat dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Jadi, dalam hal ini, diperlukan suatu ilmu keguruan untuk mencapai guru yang ideal, guru yang kompeten. 5. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Ilmu pengetahuan sebagai perbendaharaan dan prestasi individu serta sebagai karya budaya umat manusia merupakan martabat kepribadian manusia. Dalam arti luas, adil dimaksudkan seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama. Hal ini didapatkan melalui pendidikan, baik itu formal, informal, maupun nonformal. c. Filsafat Pendidikan Pancasila dalam Tinjauan Aksiologi Aksiologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilai-nilai (value). Nilai tdak akan timbul dengan sendirinya. Nilai timbul karena

manusia mempunyai bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Jadi, masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai. 1. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa Dilihat dari segi pendidikan, sejak dari tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi, diberikan pelajaran agama dan hal ini merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional. 2. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dalam kehidupan umat Islam, setiap muslim yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah berhak berdiri di depan dengan tidak membedakan keturunan, ras, dan kedudukan. Inilah sebagian kecil contoh dari nilai-nilai Pancasila yang ada dalam kehidupan umat Islam. 3. Sila ketiga, Persatuan Indonesia Jika kita ingin berhasil, kita harus berkorban demi tercapainya tujuan yang didambakan. Sebagai warga negara, kita mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini. Kita harus senantiasa bersatu untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. 4. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan Sebelum adanya agama, di Indonesia sudah ada sikap gotong royong dan musyawarah. Dengan datangnya agama, sikap ini lebih diperkuat lagi. Selain sikap tersebut, bangsa Indonesia sudah melaksanakan hasil musyawarah dengan penuh tanggung jawab dan

dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan. 5. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Adil berarti seimbang antara hak dan kewajiban. Dalam segi pendidikan, adil itu seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama, di mana ilmu agama adalah subsistem dari sistem pendidikan nasional.6

Irfan Damaika.Filsafat Pendidikan Pancasila. http://Realita-Kehidupan-FilsafatPendidikan-Pancasila.html. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2012.

D. Peranan Filsafat Pendidikan Pancasila dan Hubungan Pendidikan Dan Masyarakat Dengan Filsafat Pendidikan Pancasila Pancasila merupakan dasar negara yang membedakan suatu bangsa dengan bangsa lain, sedangkan filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguhsungguh untuk mencari kebenaran sesuatu. Sementara filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidikan berdasarkan filsafat. Jika kita hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan, ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menerapkan sila-sila Pancasila, diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh mengenai bagaimana nilai-nilai pancasila itu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini, tentu pendidikanlah yang mempunyai peran utama.7 Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para perencana pendidikan, dan orang-orang yang berkerja dalam bidang pendidikan. Hal tersebut akan mewarnai perbuatan mereka secara arif dan bijak, menghubungkan usaha-usaha pendidikannya dalam falsafah umum, falsafah bangsa dan negaranya. Pemahaman akan filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.8 Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana

mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi
Riri.Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional .html.http:///Kumpulan-Makalah-RiRi-pandangan-Filsafat-Pendidikan-Pancasila-Terhadap-SistemPendidian-Nasional.htm. diakses pada 29 Oktober 2012. 8 Sadulloh, Uyoh. 2012. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cet 6. (Bandung,: Alfabeta:
2012).h.16.
7

antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Prof. Dr. Umar Anggara Jenie menyatakan, Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu pengetahuan diperlukan untuk panduan etik. Sila-sila dalam Pancasila adalah prinsip-prinsip etika universal yang juga dihormati negara lain (Kompas, 16 Agustus 2006). Filsafat Pendidikan Pancasila mendasari Ilmu Pengetahuan kontektual milik budaya bangsa Indonesia yang nilai-nilainya berbeda dengan bangsa lain. Ilmu pengetahuan kontekstual yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan milik budaya bangsa Indonesia yang nilai-nilainya berbeda dengan bangsa lain. Menurut ajaran Ki Hadjar Dewantara, ilmu pengetahuan kontekstual budaya Indonesia yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang beralaskan garis-hidup bangsanya (cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan

(maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyat, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia ke seluruh dunia; ilmu pengetahuan yang membuat peserta didik mampu mengalaminya sendiri dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya (Karya, KH.Dewantara, bagian Pertama: Pendidikan, 2004).9

9 Jande, R.D.Karolus MH. Filsafat Pendidikan .http:/Filsafat-HTML/MIRIFICA-Newsfilsafat.html. diakses pada 22 November 2012.

Hubungan masyarakat dan Pendidikan Pendidikan yang maju dan modern hanya ditemukan dan modern pula, pendidikan yang main dan modern hanya diselenggarakan oleh masyarakat yang maju dan modern, secara teoritis disebut hubungan korelasi positif. Manusia sebagai individual, yang menentukan sikap dan wawasannya kebijaksanaan dan strategi serta tujuan dan sasaran yang hendak ditempuhnya. Pertimbangan dan penentuan ini diambil berdasarkan keyakinan, motivasi dan tujuan dalam hidupnya, maka manusia sebagai subjek individual, pendidikan adalah suatu usaha, aktifitas yang dilakukan menurut tujuan dan kehendaknya (cita karsa) secara mandiri. Bagi anak tujuan dan kehendak belajar dipenuhi oleh factor lingkungan, orang tua / keluarga. Demikian pula dengan masyarakat ! bangsa dan Negara factor luar adalah kondisi dan tantangan zaman dan potensi-potensi yang dimiliki (sumber daya alam, sumber daya manusia dan kebudayaan). Manusia pribadi atau masyarakat memiliki keyakinan dan kepercayaan yang tercermin dalam tujuan (cita-cita) dan hasrat luhur atau kehendak berdasarkan cita dan karsa memilih dan menerapkan aktifitas / fungsi kehidupan atau usaha mendidik dirinya. Pendidikan merupakan fungsi manusia dan masyarakat untuk

mengembangkan dan meningkatkan dirinya, martabat dan kepribadiannya. Hubungan masyarakat dengan pendidikan itu sebagai hubungan fungsional berarti :
a) Bahwa masyarakat atau Negara secara sadar dan mandiri cita karsa atau tujuan

dan

keinginan luhur akan dicapai melalui kebijakan, lembaga dan strategi

tertentu.
b) Pendidikan suatu lembaga, perwujudannya secara nasional adalah system

pendidikan nasional yang bersumber dan ditentukan oleh cita karsa manusia menurut keyakinan dan pandangan hidup dan filsafat Negara sebagai sumber nilai cita dan kepribadian nasionalnya10

Mukhlis. Dasar-dasar filsafat Pendidikan Pancasila. http://dasar-dasar-filsafatpendidikan- pancasila-ab-mukhlis-berbagi-ilmu.html. diakses tanggal 29 Oktober 2012.

10

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. 2. Secara yuridis konstisional Negara Indonesia berdasarkan pancasila yang termaksud dalam pembukaan UUD 45 alinea ke-4 Ketentuan yuridis

kontisional mengandung makna baik formal maupun fungsional menyatakan: Pancasila adalah dasar Negara atau filsafat Negara, Pancasila adalah normanorma dasar dan norma-norma tertinggi dalam Negara R.I, ideology

Negara,sebagai adalah identitas dan karakteristik bangsa atau kepribadian nasional dan Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa. 3. Filsafat Pendidikan Pancasila dapat ditinjau Dari segi Ontologi,Epistemologi dan Aksiologi. Ontologi adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang hakikat yang ada. Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda , dan Aksiologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki nilainilai (value). Nilai tdak akan timbul dengan sendirinya. Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Jadi, masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai. 4. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik,

B. Saran Pancasila bukanlah sekedar rumusan kering sisa-sisa masa lalu, melainkan roh sekaligus fondasi utama bangsa Indonesia. Pancasila bukanlah pasal-pasal mati yang mesti dihafal, melainkan sebuah realitas yang perlu untuk terus ditafsir semakin luas dan semakin dalam dengan menggunakan kerangka berpikir filsafati, sehingga mampu menjadi inspirator perilaku bangsa Indonesia setiap harinya. Untuk itu, proses pendidikan Pancasila haruslah menjadi proses yang menantang untuk berpikir, berguna untuk menjelaskan apa yang terjadi, serta mendorong tindakan-tindakan perubahan ke arah yang lebih baik, sesuai dengan konteks yang ada

DAFTAR PUSTAKA

Dedey . 2009. Filsafat Pendidikan Pancasila dan Etos Kerja. http:///de2y'l-if-filsafatpendidikan-pancasila-dan-etos-kerja.html. diakses tanggal 29 Oktober 2012. Epinawey. 2011. http://epinawey.blogspot.com/2011/12/filsafat-pendidikanpancasila.html. Diakses tanggal 20 Novemver 2012. Jande,R.D.Karolus MH.2010. Filsafat Pendidikan .http:/Filsafat-HTML/MIRIFICANews-filsafat.html. diakses pada 22 November 2012. Mukhlis. 2010. Dasar-dasar filsafat Pendidikan Pancasila. http://dasar-dasar-filsafatpendidikan- pancasila-ab-mukhlis-berbagi-ilmu.html. diakses tanggal 29 Oktober 2012. Neouka.2010. Filsafat Pendidikan Pancasila. http :// neouka. wordpress.com/2010/06/09 Filsafat-Pendidikan-Pancasila/. Diakses pada 02 November 2012. Riri. 2011. Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan Nasional .html.http:///Kumpulan-Makalah-RiRi-pandangan-FilsafatPendidikan-Pancasila-Terhadap-Sistem-Pendidian-Nasional.htm. diakses pada 29 Oktober 2012. Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cet 6. Bandung: Alfabeta. 2012. Tafsir , Achmad. Filsafat Pendidikan Islam. Cet 4. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya. 2010