Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Budaya Terhadap Status Gizi Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah gizi yang kurang saat ini masih tersebar luas dinegara-negara berkembang, termasuk Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima di samping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak kualitas SDM Indonesia. Pada sisi lain, masalah gizi di Negara maju, yang juga mulai terlihat di Negara-negara berkembang,termasuk Indonesia sebagai dampak keberhasilan di bidang ekonomi. Penyuluhan gizi secara luas perlu digerakan bagi masyarakat guna perubahan prilaku untuk meningkatkan keadaan gizinya. Kualitas gizi di Indonesia Sangat memprihatinkan, hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai gizi masyarakat, banyak gizi buruk, busung lapar di daerah-daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti faktor ekonomi, sosial budaya, kebiasaan dan kesukaan. Kondisi kesehatan termasuk juga pendidikan atau pengetahuan. Selain tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat, banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, baik faktor individu, keluarga maupun masyarakat. Pada saat ini, sebagian besar atau 50% penduduk Indonesia dapat dikatakan tidak sakit akan tetapi juga tidak sehat, umumnya disebut kekurangan gizi. Kejadian kekurangan gizi sering terluputkan dari penglihatan atau pengamatan biasa, akan tetapi secara perlahan berdampak pada tingginya angka kematian ibu, angka kematian bayi, angka kematian balita, serta rendahnya umur harapan hidup. United Nations memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Hal ini dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi. diperlihatkan juga faktor yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi, yaitu pelayanan kesehatan yang tidak memadai, penyakit infeksi, pola asuh, konsumsi makanan yang kurang, dan lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian. Secara sistimatis determinan yang berpengaruh pada masalah gizi dapat terjadi pada masyarakat. Sehingga upaya perbaikan gizi akan lebih efektif dengan selalu mengkaji faktor penyebab tersebut. Pengaruh determinan masyarakat perkotaan dan pedesaan bisa menjadikan tolak ukur masyarakat terhadap kebutuhan gizi yang mereka konsumsi. status gizi dan kesehatan penduduk yang menunjukkan fakta yang terjadi pada masyarakat Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang terbentang dari sabang sampai merauke dengan latar belakang dari etnis,suku dan tata kehidupan sosial yang berbeda satu dengan yang lainnya hal ini telah memberikan suatu formulasi struktur sosial masyarakat yang turut memenuhi menu makanan maupun pola makanan. Diantaranya masyarakat perkotaan dan pedesaan, banyak sekali penemuan para ahli sosiologi dan ahli gizi menyatakan bahwa faktor budaya sangat berperan terhadap proses terjadinya kebiasaan makanan dan bentuk makanan itu sendiri, sehingga tidak jarang menimbulkan berbagai masalah gizi apabila faktor makanan itu tidak diperhatikan baik oleh kita yang mengkonsumsi. Kecenderungan muncul dari suatu budaya terhadap makanan sangat bergantung pada fotensi alamnya atau faktor pertanian yang dominan. Budaya masyarakat perkotaan dan pedesaan sangatlah berbeda dalam masalah kebutuhan pangan dan status sosial yang mereka miliki. Pengaruh budaya antara masyarakat perkotaan dan pedesaan selalu dijadikan pembanding. Membedakan tingkat pengetahuan masalah tentang gizi dan pola hidup yang mereka jalani,

masyarakat perkotaan lebih cenderung terhadap kemajuan ekonomi, pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Sedangkan masyarakat pedesaan pada umumnya disebabkan kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasis), dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi. Hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk mengurangi angka kekurangan gizi dan pengaruh status gizi pada masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut : Pengertian budaya Pengertian gizi Pengertian masyarakat perkotaan dan pedesaan pengaruh budaya masyarakat terhadap status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan Cara menanggulangi status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan yang dikemukakan adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui pengertian budaya Untuk mengetahui pengertian gizi Untuk mengetahui pengertian masyarakat perkotaan dan pedesaan Untuk mengetahui pengaruh budaya masyarakat terhadap status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan Untuk mengetahui cara menangulangi status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan

BAB II PENGARUH BUDAYA TERHADAP STATUS GIZI MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN 2.1 Pengertian budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk

jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993). Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia. Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar. Arti Kata Budaya Secara Terminologis Budaya adalah suatu hasil dari budi dan atau daya, cipta, karya, karsa, pikiran dan adapt istiadat manusia yang secara sadar maupun tidak, dapat diterima sebagai suatu perilakuyang beradab. Dikatakan membudaya bila kontinu, konvergen Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya. Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama. 2.2 Pengertian Gizi dan Pengertian Status Gizi . Gizi adalah ilmu tentang makanan dan hubungannya dengan kesehatan dan aktivitas fisik. Sedangkan pengertian dari gizi yang tepat adalah mengkonsumsi makanan dan cairan dalam jumlah memadai untuk menyediakan :Bahan bakar (karbohidrat dan lemak) yang cukup sebagai sumber tenaga Protein yang cukup untuk membangun, mempertahankan dan memperbaiki semua jaringan tubuh Zat pengatur (vitamin dan mineral) yang cukup yang membantu proses metabolisme Secara klasik Gizi dihubungkan dengan kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi, membangun, dan memelihara jaringan tubuh. Tetapi sekarang kata gizi mempunyai pengertian lebih luas, disamping untuk kesehatan, gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja. Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidak seimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun. Pengertian Status Gizi merupakan ekspresi satu aspek atau lebih dari nutriture seorang individu dalam suatu variabel (Hadi, 2002). Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (Supariasa, dkk, 2001). Sedangkan menurut Gibson (1990) menyatakan status gizi adalah keadaan tubuh yang merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan

utilisasinya. Gizi seimbang merupakan aneka ragam bahan pangan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, baik kualitas (fungsinya), maupun kuantitas (jumlahnya). Direktorat Gizi Depkes pada tahun 1995 telah mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Tujuan PUGS merupakan alat untuk memberikan penyuluhan pangan dan gizi kepada masyarakat luas, dalam rangka memasyarakatkan gizi seimbang. Pedoman disusun dalam rangka memenuhi salah satu rekomendasi Konferensi Gizi Internasional di Roma pada tahun 1992. PUGS merupakan penjabaran lebih lanjut dari pedoman 4 sehat 5 sempurna yang memuat pesan-pesan yang berkaitan dengan pencegahan baik masalah gizi kurang, maupun masalah gizi lebih yang selama 20 tahun terakhir mulai menampakkan diri di Indonesia (diambil dari Almatsier, 2002) PUGS merupakan susunan makanan yang menjamin keseimbangan zat-zat gizi. Hal ini dapat dicapai dengan mengkonsumsi beraneka ragam makanan tiap hari. Tiap makanan dapat saling melengkapi dalam zat-zat gizi yang dikandungnya. Pengelompokan bahan makanan disederhanakan, yaitu didasarkan pada tiga fungsi utama zat-zat gizi, yaitu sebagai: (1) sumber energi/tenaga; (2) sumber zat pembangun; dan (3) sumber zat pengatur. Sumber energi diperlukan tubuh dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kebutuhan zat pembangun dan zat pengatur, sedang kebutuhan zat pengatur diperlukan dalam jumlah yang lebih besar dari pada kebutuhan zat pembangun (diambil dari Almatsier, 2002) Sumber energi diperoleh dari beras, jagung, sereal/gandum, ubi kayu, kentang dan yang semisal dengannya. Zat pengatur diperoleh dari sayur dan buah-buahan, sedang zat pembangun diperoleh dari ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan dan sebagainya. Ketiga golongan bahan makanan dalam konsep dasar gizi seimbang tersebut digambarkan dalam bentuk kerucut dengan urutan-urutan menurut banyaknya bahan makanan tersebut yang dibutuhkan oleh tubuh. Dasar kerucut menggambarkan sumber energi/tenaga, yaitu golongan bahan pangan yang paling banyak dimakan, bagian tengah menggambarkan sumber zat pegatur, sedangkan bagian atas menggambarkan sumber zat pembangun yang secara relatif paling sedikit dimakan tiap harinya.PUGS memuat 13 pesan dasar yang diharapkan dapat digunakan masyarakat sebagai pedoman untuk mengatur makanan sehari-hari yang seimbang dan aman guna mencapai dan mempertahankan status gizi dan kesehatan yang optimal. Pesan dasar tersebut antara lain: (1) makanlah aneka ragam makanan; (2) makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi; (3) makanlah makanan sumber karbohidrat setengah dari kebutuhan energi; (4) batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi; (5) gunakan garam beryodium; (6) makanlah makanan sumber zat besi; (7) berikan ASI saja kepada bayi sampai umur empat bulan; (8) biasakan makan pagi; (9) minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya; (10) lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur; (11) hindari minum minuman beralkohol; (12) makanlah makanan yang aman bagi kesehatan; (13) bacalah label makanan yang dikemas. (Subdit. Gizi Masyarakat. Depkes) Kebutuhan Zat-Zat Gizi Kesehatan tubuh yang optimal adalah hasil interaksi kecukupan berbagai zat gizi dengan faktorfaktor lain yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Di lain pihak, kecukupan zat gizi ini ditentukan oleh banyak hal, dimana kegiatan fisik (temasuk olahraga di dalamnya) merupakan salah satu diantaranya. Bergantung pada jenis olahraga, kebutuhan energi dapat berkisar antara 2500-4500 kalori dengan proporsi karbohidrat: 55-67%, lemak: 20-30%, dan protein: 13-15%. Protein tidak dipakai sebagai

sumber enregi dalam olahraga. Zat ini lebih berfungsi sebagai pengatur cairan tubuh dan untuk mempertahankan kondisi jaringan yang dipakai. Kebutuhan tubuh akan protein harus diperhitungkan dengan kebutuhan energi total. Pertimbangannya bila di dalam diet proporsi protein berlebihan, maka protein akan diubah menjadi lemak atau dibakar menjadi energi. Diet seperti ini tidak ekonomis. Kebutuhan protein dipengaruhi pula oleh mutu hayati menu yang dihidangkan. Pada umumnya, mutu hayati protein nabati lebih rendah daripada protein hewani. Mutu protein hewani yang rendah meningkat dalam diet campuran dengan perbandingan protein nabati:hewani (1:1) Zat Gizi dan Fungsinya Zat-zat gizi tersebut adalah: karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Di samping kelima jenis zat tersebut, ada dua zat gizi lain yang sering dimasukkan ke dalam kelompok tersebut karena mutlak diperlukan tubuh yaitu air dan oksigen. Karbohidrat dan lemak di dalam tubuh akan dioksidasikan guna menghasilkan energi. Protein dapat diubah menjadi energi apabila di dalam tubuh tidak tersedia lagi karbohidrat dan lemak yang dapat dioksidasi menjadi energi pada keadaan darurat. Zat-zat gizi tersebut diperlukan dalam proses fungsi normal tubuh yaitu: a)maintenance tubuh, b) pertumbuhan, c) perbaikan jaringan tubuh yang rusak, d) reproduksi, e) kerja, dan f) specific dynamic action (SDA) bahan makanan itu sendiri. Penyebab dari gizi kurang antara lain : kebiasaan makan dimana makanan yang dikonsumsi kurang mengandung kalori dan protein. Faktor social budaya dapat juga menjadi factor penyebab gizi buruk dimana adanya pantangan mengkonsumsi makanan tertentu, seperti anak tidak boleh makan ikan karena takut kecacingan. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan gizi kurang adalah penyakit metabolic, infeksi kronik atau kelainan organ tubuh lain.

Akibat Gizi Kurang Pada Proses Tubuh akibat kurang gizi terhadap proses tubuh berlangsung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan pada proses-proses : pertumbuhan anak-anak tidak tumbuh menurut potensialnya. Protein digunakan sebagai zat pembakar, sehingga otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari tingkat social ekonomi menengah keatas rata-rata lebih tinggi daripada yang berasal dari keadaan social ekonomi rendah. Produksi Tenaga Kekurangan energy berasal dari makanan, menyebabkan seorang kekurangan tenaga untuk bergerak,bekerja, dan melakukan aktivitas. Orang menjadi malas, merasa lemah, dan produktivitas kerja menurun. Pertahanan Tubuh Daya tahan terhadap tekanan atau stress menurun. System imunitas dan anti bodi berkurang, sehingga orang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat membawa kematian. Struktur dan Fungsi Otak Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan metal, dengan demikian kemampuan berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanen.

Perilaku Bagi anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukan perilaku tidak tenang. Mereka mudah tersinggung, cengeng, dan apatis Dari keterngan diatas tampak, bahwa gizi yang baik merupakan modal bagi pengembangan sumberdaya manusia. Akibat Gizi Lebih pada Proses Tubuh Gizi lebih menyebabkan kegemukan atau obesitas. Kelebihan energi yang dikonsumsi disimpan di dalam jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan salah satu faktor risiko dalam terjadinya berbagai penyakit degenerative, seperti hipertensi atau tekaan darah tinggi, penyakit-penyakit diabetes, jantung koroner, hati dan kantung empedu. Kebutuhan gizi tiap orang berbeda-beda dan hal tersebut berhubungan dengan jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan dan juga aktifitas seseorang. Oleh karena itu setiap individu sangat berbeda dalam menerima konsumsi makanan. Di samping itu keanekaragaman makanan juga harus diperhatikan karena pada dasarnya setiap jenis makanan tertentu tidak mengandung semua kebutuhan yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga perlu beberapa makanan lain untuk mendapatkan komposisi makanan sesuai yang dianjurkan. Oleh karena makanan yang beraneka ragam yang mengandung protein, lemak, karbohidrat serta beberapa mineral lain yang dibutuhkan tubuh dari beragam jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari. 2.3. pengertian masyarakat perkotaan dan pedesaan Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberap cirri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu : 1. kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa 2. orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu 3. pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata 4. kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa 5. interaksi yang terjai lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi 6. pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu 7. perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar. Kota secara internal pada hakekatnya merupakan suatu organisme, yakni kesatuan integral dari tiga komponen meliputi penduduk, kegiatan usaha dan wadah. Ketiganya saling terkait, pengaruh mempengaruhi, oleh karenanya suatu pengembangan yang tidak seimbang antra ketiganya, akan menimbulkan kondisi kota yang tidak positif, antara lain semakin menurunnya kualitas hidup masyarakat kota. Dengan kata lain, suatu perkembangan kota harus mengarah paa penyesuaian lingkungan fisik ruang kota dengan perkembangan sosial dan kegiatan usaha masyarakat kota Di pihak lain kota mempunya juga peranan/fungsi eksternal, yakni seberapa jauh fungsi dan peranan kota tersebut dalam kerangka wilayah atau daerah-daerah yang dilingkupi dan melingkupinya, baik dalam skala regional maupun nasional. Dengan pengertian ini diharapkan bahwa suatu pembangunan kota tidak mengarah pada suatu organ tersendiri yang terpisah dengan daerah sekitarnya, karena keduanya saling pengaruh mempengaruhi.

Masyarakat Pedesaan Yang dimaksud dengan desa menurut Sukardjo Kartohadi adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.

Menurut Bintaro desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan cultural yang terdapat disuatu daerah dalam hubungannya danpengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.. Menurut paul H.Landis : desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan cirri-ciri sebagai berikut : 1. Mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antra ribuan jiwa 2. Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukuaan terhadap kebiasaan 3. Cara berusaha (ekonomi) aalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam sekitar seperti : iklim, keadaan alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan. Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuatsesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yagn amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat. Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain : 1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya. 2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan 3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian 4. Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata pencaharian, agama, adapt istiadat, dan sebagainya Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan : 1. konflik 2. kontraversi 3. kompetisi 4. kegiatan pada masyarakat pedesaan 2.4 pengaruh budaya terhadap status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan Perilaku konsumsi masyarakat desa dan kota masih memprioritaskan karbohidrat, meskipun jika dibandingkan antara masyarakat desa dan kota konsumsi protein dan lemak lebih baik pada masyarakat kota. Kecukupan gizi pada masyarakat kota juga relatif baik pada masyarakat kota, terutama untuk masyarakat desa standar kalori dan lemak masih belum memenuhi standar Pola Pangan Harapan (PPH) nasional. Jika dibandingkan antara kelompok pendapatan rendah dan tinggi, hampir semua sumber gizi (kalori, protein dan lemak) berbeda secara signifikan baik di desa maupun di kota. Untuk masyarakat desa hanya lemak yang tidak berbeda, sedangkan untuk masyarakat kota hanya kalori yang tidak berbeda. Krisis ekonomi telah menyebabkan ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga menjadi minim. Pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari untuk seluruh anggota keluarga sulit dijangkau, terutama pada keluarga yang hidupnya pas-pasan. Dalam keadaan seperti ini diperkirakan terjadi perubahan pola makan, dimana pada sebelum krisis ekonomi lebih diutamakan makanan yang beragam dan lebih mahal agar dapat memenuhi kebutuhan gizi untuk menjamin tumbuh kembang dan kesehatan, tetapi pada saat krisis karena keterbatasan penghasilan lebih ditujukan untuk mengisi perut agar dapat bertahan hidup. Konsekuensinya diperkirakan banyak anggota keluarga yang menderita kekurangan gizi, terutama bayi, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Pemeriksaan status gizi masyarakat pada prinsipnya merupakan upaya untuk mencari kasus malnutrisi dalam masyarakat, terutama meraka yang golongan rentan. Merka itu ialah:

wanita hamil dan menyusui karena kebutuhan akan zat gizi mereka meningkat bayi dan anak balita karena mereka belum mampu mengonsumsi atau mencerna makanan yang tersedia dan mereka cenderung cepat mengalami malnutrisi karena kebutuhan akan zat gizi juga tinggi. 3.keluarga atau orang yang kebutuhannya tidak tercukupi oleh system distribusi makanan yang lazim, karena jumlah keluarga yang besar, atau lansia yang tinggal sendiri, atau janda. . Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaruh budaya antara lain sikap terhadap makanan, penyebab penyakit, kelahiran anak, dan produksi pangan. Dalam hal sikap terhadap makanan, masih banyak terdapat pantangan, tahayul, tabu dalam masyarakat yang menyebabkan konsumsi makanan menjadi rendah. Konsumsi makanan yang rendah juga disebabkan oleh adanya penyakit, terutama penyakit infeksi saluran pencernaan. Disamping itu jarak kelahiran anak yang terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu banyak akan mempengaruhi asupan zat gizi dalam keluarga. Konsumsi zat gizi keluarga yang rendah, juga dipengaruhi oleh produksi pangan. Rendahnya produksi pangan disebabkan karena para petani masih menggunakan teknologi yang bersifat tradisional. 2.5 Faktor yang mempengaruhi status gizi pada masyarakat perkotaan dan pedesaan Secara umum, status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan masih banyak yang dipengaruhi oleh berbagai hal yang membedakan pola konsumsi dan kebutuhan akibat dari budaya yang berbeda .kemiskinan masih merupakan bencana bagi jutaan masyarakat Faktor-fakor yang mempengaruhi terhadap status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli kesehatan masyarakat HL. Blum, yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter ( keturunan ). Tiga faktor yang pertama, yaitu lingkungan yang mempengaruhi pola hidup sehat bagaimana antara masyarakat kota dan desa bisa hidup bersih, perilaku menjadi dasar penentu bagaimana masyarakat bisa terjauh dari penyakit agar mampu melakukan hidup sehat dan bersih dan pelayanan kesehatan adalah yang dominan.yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yang bisa memberikan informasi tentang kesehatan. kondisi lingkungan antara masyarakat perkotaan baik pedesaan masih mencerminkan lingkungan yang kurang sehat, yang antara lain ditandai dengan rendahnya jumlah rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum yaitu hanya 51,60 % (64,48 % di perkotaan dan 43,25% di perdesaan); dan rendahnya kepemilikan jamban (hanya 8,6 % rumah tangga yang memiliki jamban, yaitu 13,6 % di perkotaan dan 8,6 % di perdesaan). Sedangkan dari kondisi rumah tinggal, hanya 50,4 % yang memiliki rumah sesuai dengan standar minimal rumah sehat. Selain itu, merebaknya berbagai penyakit menular seperti demam berdarah,malaria,muntaber dan sebagainya menujukkan kualitas lingkungan yang rendah. Dalam hal perilaku, masyarakat belum menunjukkan perilaku sehat, antara lain ditandai oleh rendahnya partisipasi penduduk usia 10 tahun ke atas yang berolahraga (hanya 22,6%), Jumlah Perokok Aktip yang cukup tinggi (laki-laki 62,9 % dan perempuan 1,4 %). Selain itu, pemanfaatan tempat pelayanan kesehatan hanya 40 %. Dari masyarakat pedesaan masih kurangnya informasi tentang kesehatan, sedangkan masyarakat perkotaan lebih dominan dengan aktivitas kerja. Perilaku sehat yang sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan, membuang sampah pada tempatnya, tidak meludah di sembarang tempat, menggunakan jamban dan menjaga kebersihan air sungai, memasak air sebelum diminum belum menjadi kebiasaan di masyarakat kita. Dalam hal Pelayanan kesehatan, akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih rendah, antara lain ditandai oleh rendahnya kunjungan ke Puskesmas (61,6%), rendahnya kunjungan ke Balai Pengobatan Umum (61,6%), dan rendahnya kunjungan ke BKIA (20,22 %). Sulitnya akses ke rumah sakit ditandai dengan rendahnya penggunaan tempat tidur dari kapasitas yang tersedia baik di RS Pemerintah maupun swasta Banyak orang sakit yang tidak mendapat perawatan dan pengobatan sebagaimana mestinya dengan berbagai alasan termasuk karena ketidak tahuan dan ketiadaan biaya. Belum baiknya kondisi ketiga faktor di atas bukan semata-mata disebabkan oleh kemiskinan, tetapi

juga karena rendahnya tingkat pendidikan serta kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Disamping itu, kurangnya kegiatan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat, tidak berfungsinya posyandu akhir-akhir ini, ketiadaan dokter di banyak Puskesmas/Pustu terutama dikawasan Indonesia Timur adalah penyebab yang juga harus mendapat perhatian. 2.5 Penanggulangan status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan . Masyarakat perlu diber-dayakan agar mampu mengatasi masalah gizi keluarganya sendiri. Cara memberdayakan masyarakat antara lain melalui penyuluhan gizi yang komunikatif dan efektif merubah perilaku. Selain itu untuk jangka panjang, sebagai usaha penyelamatan dampak krisis ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan-bantuan yang bersifat darurat melainkan harus pula memperhatikan potensi masyarakat. Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi .diantaranya : 1. Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi pada msyarakat perkotaan dan pedesaan, mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan, mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten. 2. Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. 3. Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta. 4. Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan. Hal lain juga yang mesti ditanggulangi masalah kadar gizi (kadarzi) Tahap awal strategi pemberdayaan kadarzi dimulai dari melibatkan secara aktif keluarga dalam pemetaan kadarzi untuk identifikasi masalah perilaku dan gizi keluarga. Dan identifikasi masalah perilaku dan gizi keluarga. Hasil pemetaan dibahas bersama masyarakat untuk merencanakan tindaklanjut. Apabila masalah tersebut bisa diselesaikan langsung oleh keluarga maka perlu dilakukan pembinaan, akan tetapi apabila ditemui masalah kesehatan dan masalah lain maka perlu dirujuk ke petugas kesehatan dan petugas sektor lain. Strategi yang dilakukan dalam mewujudkan Kadarzi adalah : 1. Pemberdayaan keluarga dengan menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku gizi seimbang, misalnya melalui pengembangan konseling dan KIE sesuai kebutuhan setempat 2. Melakukan advokasi dan mobilisasi para pengambil keputusan, pejabat pemerintah di berbagai tingkat administrasi, penyandang dana dan pengusaha dengan tujuan meningkatkan kepedulian/komitmen terhadap masalah gizi di tingkat keluarga 3. Mengembangkan jaring kemitraan dengan berbagai perguruan tinggi, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, tokoh agama, media massa, kelompok profesi lainnya untuk mendukung tercapainya tujuan Kadarzi 4. Menerapkan berbagai teknik pendekatan pemberdayaan petugas ditujukan untuk mempercepat perubahan perilaku dalam mewujudkan kadarzi.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan , Budaya merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya budaya bisa menjadikan perbedaan dari prilaku manusia Pengaruh budaya tentang gizi masyarakat adalah faktor untuk menentukan berinteraksi dengan masyarakat dari dalam maupun luar budaya Pengaruh budaya antara masyarakat perkotaan dan pedesaan selalu dijadikan pembanding. Status Gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Zat Gizi sangat diperlukan sekali dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan memberikan sumber energi. masyarakat pedesaan masih banyak yang kurang mengerti tentang pola hidup sehat dan bersih. Pola makan menurut standar gizi bahwa penduduk miskin masih kurang untuk memenuhi kebutuhan makan .masyarakat pedesaan dengan budayanya yang masih tahayul terhadap pola makanan masyarakat perkotaan. Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang masih bersifat induvidualis masalah pola hidup sehat dan lingkungan sehat menjadi tanggung jawab sendiri sedangkan masyarakat pedesaan bersifat kekeluargaan lingkungan sehat menjadi tanggung jawab bersama. Membedakan tingkat pengetahuan masalah tentang gizi dan pola hidup masyarakat perkotaan lebih cenderung terhadap kemajuan ekonomi, pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Sedangkan masyarakat pedesaan pada umumnya disebabkan kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasis), dan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi Penilaian gizi terhadap masyarakat perkotaan dan pedesaan umumnya disebabkan kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasis), dan kurangnya

pengetahuan masyarakat tentang gizi. lingkungan yang mempengaruhi pola hidup sehat bagaimana antara masyarakat kota dan desa bisa hidup bersih, perilaku menjadi dasar penentu bagaimana masyarakat bisa terjauh dari penyakit agar mampu melakukan hidup sehat dan bersih dan pelayanan kesehatan adalah yang dominan.yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yang bisa memberikan informasi tentang kesehatan.

3.2 Saran Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan gizi adalah multifactor. Oleh karena itu pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sector yang terkait. Selama faktor-faktor status gizi masyarakat perkotaan dan pedesaan belum dapat kita tingkatkan, maka selama itu pula masalah-masalah kesehatan masyarakat yang kita hadapi selama tidak dapat terselesaikan secara baik. Budaya terhadap pola konsumsi dan hidup bersih haruslah kita penuhi untuk hidup yang lebih baik dari masalah kekurang gizi dan lingkungan yang tidak sehat kebutuhan gizi tetap kita jaga baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan yang bisa membantu Negara dari kekurangan gizi Meningkatkan status gizi penduduk, perlu ditingkatkan penyediaan beraneka ragam pangan dalam jumlah mencukupi, disamping peningkatan daya beli masyarakat. Lingkungan sangat berpengaruh sekali dengan pola hidup sehat masyarakat perlu bimbingan tentang kesehatan dan pola konsumsi yang memenuhi standar gizi.

DAFTAR PUSTAKA

Buku: Almaster, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. Bakri, Bachyar, fajar, ibnu, dan Supariasa, I dewa nyoman.2001. penilain status gizi.jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC Francin Paath, Erna, Yuyun Rumdasih, dan Heryati. 2005. Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC MB, Arisman. 2003. Gizi dalam Daur Kehidupan. jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Website: http://id.wikipedia.org/wiki/kebudayaan#pengertian http:organisasi.org/arti definisi http:rajawana.com http:akhmadsaugiwordpres.com http:docstop.com Diposkan oleh kesehatan masyarakat di 22:59 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: kesehatan