Anda di halaman 1dari 9

Ajaran Wahidiyah

LILLAH
Artinya, segala amal perbuatan apa saja, perbuatan
lahir dan perbuatan batin, baik yang wajib, yang sunnah
dan yang mubah, lebih-lebih yang berhubungan langsung
dengan ALLOH WA ROSUULIHI seperti sholat, puasa,
haji, baca Quran, baca sholawat dan sebagainya, maupun
yang berhubungan di dalam masyarakat, di dalam kehi-
dupan sehari-hari, seperti makan, minum, tidur, istirahat,
bekerja dan sebagainya, asal bukan perbuatan yang
terlarang, asal bukan perbuatan yang tidak diridloi oleh
ALLOH, asal bukan perbuatan yang melanggar syariat
dan undang-undang, pokoknya asal bukan perbuatan yang
merugikan : melaksanakannya supaya disertai niat ber-
ibadah kepada ALLOH dengan ikhlas LILLAHI TAALA
tanpa pamrih suatu apapun. Baik pamrih duniawi maupun
pamrih ukhrowi.
Dengan menyertakan niat ibadah LILLAH (di dalam
hati terutama) di dalam segala perbuatan yang tidak
terlarang seperti itu, menurut hadits tersebut di atas,
perbuatan apa saja yang kita lakukan akan mempunyai
nilai ibadah/tercatat sebagai ibadah. Dan dengan demikian
sesuailah dengan kehendak ALLOH yang digariskan di
dalam ayat 56 surat Adz-Dzaariat tersebut. Sekali lagi
harus diingat bahwa yang boleh dan bahkan harus disertai
niat ibadah LILLAH adalah terbatas pada perbuatan yang
tidak terlarang.
Adapun perbuatan yang melanggar syariat atau
undang-undang, yang tidak diridloi oleh ALLOH, yang
merugikan, baik merugikan diri sendiri dan lebih-lebih
merugikan orang lain, sama sekali tidak boleh disertai niat
ibadah LILLAH. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Betapa-
Ajaran Wahidiyah
pun kecil dan remehnya. Harus berusaha sekuat mungkin
untuk menjauhi dan meninggalkan ! Dan pada saat
menjauhi atau meninggalkan itulah yang harus disertai
niat ibadah LILLAH. Jangan sampai dalam kita menjauhi
atau meninggalkan munkarot itu didorong oleh kemauan
nafsu. Harus LILLAH - beribadah kepada ALLOH,
menjalankan perintah ALLOH ! Titik. Tidak ingin begini
dan begitu. Demikian seterusnya di dalam kita menjalan-
kan amar maruf dan nahyi munkar, harus dengan niat
ibadah kepada ALLOH dengan ikhlas LILLAH. Jangan
karena terdorong oleh nafsu supaya begini dan begitu,
agar tidak merusak dan menghancurkan nilai bangunan
amal yang kita kerjakan.
Masalah pamrih atau berkeinginan terhadap sesuatu
yang menggembirakan dan menyenangkan, ingin kepada
kebaikan-kebaikan; seperti ingin pahala, surga dan
sebagainya atau takut dari sesuatu yang menakutkan ;
seperti kesusahan, penderitaan, siksa neraka dan lain
sebagainya, itu diperbolehkan. Bahkan sewajarnya harus
begitu. Sebab manusia tidak lepas dari sifat basyariyah
yang mempunyai keinginan dan harapan serta kemauan-
kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu, dan nafsu
itupun suatu anugrah Tuhan yang diberikan kepada
manusia sehingga menjadi makhluk yang lebih lengkap
dan paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya.
Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan. Diarah-
kan menurut arah yang telah digariskan oleh ALLOH ;
yaitu Liyabuduuni tersebut. Diarahkan untuk ibadah
kepada ALLOH. Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi
timbunan hawa nafsu yang serakah dan mengakibatkan
penyelewengan dan penyalah gunaan yang akibatnya akan
menghancurkan manusia itu sendiri. Bahkan bisa meng-
hancurkan ummat dan masyarakat. Oleh karena itu di
Ajaran Wahidiyah
dalam berkeinginan atau pamrih seperti di atas harus
disertai niat ibadah kepada ALLOH dengan ikhlas
LILLAH (semata-mata karena ALLOH).
Jadi lebih jelasnya, ketika kita bersembahyang, ber-
puasa, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji,
membaca Quran, membaca dzikir, membaca sholawat dan
sebagainya supaya disertai niat beribadah yang sungguh-
sungguh ikhlas LILLAH. Jangan sampai kita melakukan
semua tadi karena ingin surga, ingin pahala, takut neraka,
ingin terhormat, ingin terpuji, ingin kaya dan sebagainya.
Begitu juga ketika kita bekerja, belajar, berjuang untuk
bangsa, agama dan negara, mengurus dan mengatur rumah
tangga, kita ke sawah, ke pasar, ke kantor, ke toko, dan
ketika kita makan, minum, tidur, istirahat, mandi dan
sebagainya dan sebagainya, supaya disertai dengan niat
ibadah kepada ALLOH dengan ikhlas semata-mata karena
ALLOH (LILLAH) tanpa pamrih. Begitu juga ketika kita
berkeinginan, berkemauan, berangan-angan, berfikir dan
sebagainya harus disertai niat ibadah kepada ALLOH.
(LILLAH). Jadi benar-benar melaksanakan pernyataan
yang kita baca pada setiap sholat yaitu :
Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku
adalah untuk ALLOH Robbil Aalamiin.
dan menerapkan di dalam hati kandungan ayat yang sering
kita baca di dalam Surat Al Fatihah :
Hanya kepada-MU (yaa ALLOH) kami mengabdikan diri
Ajaran Wahidiyah
Dengan demikian bagi yang telah mampu menerapkan
hal- hal tersebut boleh dikatakan hatinya senantiasa ber-
tahlil : j9 ..i .i}j (TiadaTuhan melainkan ALLOH).
Ilmiah dan pengertian mudah dipelajari mudah dihafal.
Akan tetapi disamping pengertian, perlu diusahakan
penerapan dan pelaksanaan ilmiah yang sudah kita miliki.
Orang yang mempunyai ilmu akan tetapi ilmunya tidak
diterapkan / tidak diamalkan, dia sangat terkecam sekali
dan akan mengalami bahaya yang sangat berat. Di dalam
kitab Nazhom Az Zubad
(1)
dikatakan :
Orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya
kelak disiksa lebih dahulu daripada penyiksaan para
penyembah berhala.
Itu suatu kecaman yang berat. Jadi jelasnya, amal
perbuatan apa saja, berupa sholat sekalipun, jika tidak
disertai niat ibadah LILLAH otomatis disalahgunakan oleh
nafsu. Atau LINNAFSI, menuruti keinginan nafsu. Dan
nafsu adalah sebagai sarang iblis dan syetan. Kelak di
neraka tempatnya.
Di dalam Wahidiyah ; AlhamduLillah dengan memper-
banyak Mujahadah Wahidiyah disamping terus menerus
melatih hati dengan niat LILLAH seperti di atas, Alhamdu
Lillah pengamalnya dikaruniai banyak kemajuan dan
peningkatan dalam hal beribadah kepada ALLOH dengan
niat ikhlas LILLAH tersebut.
Sekali lagi, amal perbuatan apa saja, atau ibadah apa
saja, sekalipun berupa sholat, zakat, puasa, naik haji, baca
Quran, baca dzikir / tahlil, baca sholawat, menolong
(1)
Karangan Asy-Syekh Al-Allamah Ahmad bin Ruslan Asy-Syafii
Ajaran Wahidiyah
orang lain, bershodaqah dan amal-amal kebajikan lainnya,
jika tidak disertai niat ibadah LILLAH - ikhlas karena
ALLOH, tidak dicatat sebagai ibadah kepada ALLOH. Dan
jika tidak dicatat sebagai ibadah kepada ALLOH berarti
ibadah kepada selain ALLOH . Menyembah selain
ALLOH . Kepada siapa ? Kepada nafsunya sendiri.
Menyembah nafsunya sendiri dengan memperalat sholat,
zakat, dan seterusnya tadi. Sholat, zakat, haji, baca
Qur'an, baca sholawat dan sebagainya dikerjakan hanya
sebagai kedok untuk menuruti keinginan nafsunya. Ingin
begini, ingin begitu, pamrih begini, pamrih begitu dan
sebagainya ! Suatu pendurhakaan terhadap ALLOH yang
sangat keterlaluan ! Harus cepat-cepat bertaubat dan
mengadakan perbaikan, atau membiarkan dirinya dibakar
oleh api neraka akibat amal-amal ibadah yang tidak ikhlas
LILLAH itu
Mari kita mengadakan koreksi kepada diri kita masing-
masing.
AL-FAATIHAH !
Sekali lagi mari kita perhatikan dan kita terapkan
firman ALLOH :
Artinya kurang lebih :
Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya
menyembah ( beribadah / mengabdikan diri kepada )
ALLOH dengan ikhlas karena ALLOH (LILLAH) dalam
(menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya
mereka menjalankan sholat dan menunaikan zakat;
Ajaran Wahidiyah
dan yang demikian itulah agama yang tegak. (Q.S.
98 Al- Bayyinah : 5).
Di dalam Al Qur'an dan Terjemahnya yang di-
keluarkan oleh Departemen Agama RI diterangkan bahwa
yang dimaksud menjalankan agama dengan lurus
artinya terbebas dari syirik dan dari kesesatan. Untuk
menyelamatkan dari bahaya syirik dan kesesatan,
Ajaran Wahidiyah memberikan bimbingan praktis yaitu
penerapan BILLAH disamping LILLAH. Sebagaimana
penjelasan di bawah ini.
LILLAH- BILLAH
Semua orang beragama, agama apa saja, sama-sama
dikaruniai kemampuan oleh ALLOH . Tuhan Maha
Kuasa dapat menerapkan LILLAH BILLAH dalam hatinya.
LILLAH BILLAH bukan suatu upacara keagamaan, melain-
kan keseragaman sikap hati manusia beragama atau
manusia yang iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi
LILLAH BILLAH itu seharusnya menjadi uniform hati
setiap manusia yang menyatakan diri sebagai hamba
Tuhan Yang Maha Esa.
Bagi kita bangsa Indonesia yang mengakui dan
menggunakan falsafah Pancasila sebagai pedoman atau
tuntunan hidupnya, dimana sila pertama dari Pancasila itu
ke-Tuhanan Yang Maha Esa, dituntut oleh Pancasila itu
sendiri agar supaya setiap bangsa Indonesia menerapkan
LILLAH BILLAH. Atau jika memakai istilah Pancasila :
UNTUK TUHAN YANG MAHA ESA dan SEBAB TUHAN
YANG MAHA ESA. Diterapkan di dalam hati setiap bangsa
Indonesia dalam segala langkah dan kegiatan hidupnya.
Ajaran Wahidiyah
LILLAH = Lil Tuhan Yang Maha Esa
= Untuk Tuhan Yang Maha Esa
BILLAH = Bil Tuhan Yang Maha Esa
= Sebab Tuhan Yang Maha Esa
Kita semua bangsa Indonesia diberi kemampuan
dapat menerapkan itu. Semua ! Dari segenap lapisan
masyarakat bangsa Indonesia. Dari pemeluk agama apa
saja dan dari pengikut kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa mana saja, mampu. Penerapan LILLAH BILLAH
tidak membutuhkan syarat-syarat yang berat, tidak mem-
butuhkan ilmiah yang sukar-sukar. Tidak memerlu-kan
batasan tingkat-tingkat hidup dan tidak ada pem-batasan
umur sudah dewasa atau belum dewasa.
Semua, sekali lagi, semua diberi kemampuan oleh
ALLOH Tuhan Yang Maha Pencipta. Yang penting ada
kemauan. Hanya modal kemauan ini yang diperlukan.
Siapa ada kemauan pasti menemukan jalan.
Firman ALLOH:
Artinya kurang lebih :
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di
dalam menuju kepada-Ku, pasti AKU tunjukkan
berbagai jalan-Ku (29-Al-An-kabut-69)
Jelas di situ ALLADZIINA = Orang-orang atau orang
banyak. Tegasnya lagi, manusia.
Ilmiah atau teori mudah dipelajari mudah dihafal
LILLAH begini, BILLAH begitu dan seterusnya. Akan tetapi
penerapan dan prakteknya, perlu perhatian yang khusus
Ajaran Wahidiyah
dan serius ! Penerapan itu digerakkan dan dituntun oleh
Hidayah dari ALLOH . Boleh dikatakan jika tidak
mendapat hidayah dari ALLOH , tidak memperoleh
syafaat dari Rosululloh tidak mendapat barokah
karomah, dan nadhroh Ghoutsu Hadzaz-Zamaan wa
Awaanihi wa Saairi Auliyai - Ahbaabillahi Rodliyallohu
Taala anhum, sukar atau tidak mungkin dapat menerap-
kannya. Padahal, ilmu yang tidak diamalkan itu terkecam
sekali.
Ilmu tanpa amal bagaikan lebah tanpa madu.
Yang ada hanya sengat (entup-Jawa)nya saja.
Mungkin hanya bisa menyengat (ngentupJawa) orang
lain / masyarakat saja. Ibarat ada orang sakit bukan
memberikan madu obatnya melainkan malah memberikan
racun. Jelas merugikan diri sendiri karena tidak punya
madu, dan merugikan orang lain karena sengatannya.
Oleh sebab itu, disamping kita mempelajari ilmu-
ilmu (ilmu apa saja), yang lebih penting lagi adalah
berusaha memperoleh hidayah ! Caranya antara lain
dengan Mujahadah seperti sudah kita bahas di muka.
Telah diperingatkan oleh Rosululloh :
Artinya kurang lebih :
Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak
ber-tambah hidayahnya dia bukan menjadi dekat
(kepada ALLOH), melainkan bahkan semakin jauh dari
ALLOH. (Riwayat Abu Mansur Ad-Dailami dari Jabir
RA).
Ajaran Wahidiyah
Semakin jauh, berarti semakin dibendu / dimurkai
oleh ALLOH. Semakin dikutuk oleh ALLOH. Jadinya
semakin berlarut-larut, semakin besar menimbulkan
kerugian di dalam masyarakat. Mari kita lebih berhati-hati.
Tidak perlu mengoreksi orang lain, mari kita koreksi kita
sendiri.
Alhamdulillah! dengan Mujahadah Wahidiyah
menurut pengalaman yang sudah-sudah, kita banyak
dikaruniai taufiq dan hidayah dari ALLOH yang tidak
atau jarang kita peroleh di luar menjalankan Mujahadah
Wahidiyah.