Anda di halaman 1dari 34

TONSILITIS, PHARINGITIS,TUMOR PHARING

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah 1 Yang dikoordinatori oleh Sri Utami Dwiningsih, MNS

Disusun Oleh : 1. Bekti Choirinnisa 2. Isti Maulia Mulyadi 3. Rizky Kurniawan P.17420110002 P.17420110014 P.17420110027

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG

JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah SWT. sehingga dengan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Tonsilitis, pharingitis, dan Tumor pharing ini tanpa halangan suatu apa pun. Penulis menyadari, penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, antara lain: 1. Ibu Sri Utami Dwiningsih, MNS selaku Koordinator Mata Kuliah KMB1 2. Bapak Dan ibu pengampu Mata Kuliah KMB1 3. Segenap tim penyusun makalah 4. Pihak-pihak lain yang telah mendukung terselesaikannya makalah Penulis mengucapkan terimakasih atas dukungan dan bantuan dari pihakpihak tersebut. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan serta penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mohon maaf atas kekurangan tersebut dan besar harapan penyusun untuk mendapat kritik berikut saran mengenai kekurangan tersebut.

Semarang, juli 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Epidemologi penyakit pernafasan berupa tumor faring, faringitis dan tonsilitis adalah hal yang penting dipelajari. Penyakit tersebut banyak menjangkiti masyarakat. Terlebih di era globalisasi yang membuat angka mobilisasi dan transportasi naik. Polusi dan segala hal yang penyebarannya melalui udara tidak mudah dilawan begitu saja dengan sistem imun tubuh jika dihadapkan dengan diri kita masing-masing. Terbukti tingginya angka infeksi pada bagian tonsil dan faring sangatlah tinggi, tentulah karena pola hidup yang utama dan penyebaran bakteri yang tidak terkendali. Proses preventif dikalangan masyarakat sungguh sangat minim, pada akhirnya langkah medis berupa kuratif dan rehabilitatif-lah yang berperan dalam menghadapi kasus tersebut. Meskipun pada akhirnya belum tentu hasil yang diharapkan akan didapat, dikarenakan medis bukanlah kumpulan hitungan matematis, melainkan banyak sekali probabilitas didalamnya. Menjaga diri adalah hal yang paling baik, sebelum penyakit itu menggerogoti tubuh. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah pembuatan makalah ini adalah : a. Apakah yang disebut dengan Faringitis, Tonsilitis, dan Tumor Faring ?

b. Bagaimanakah identifikasi penyakit tersebut ? c. Bagaimanakah pelaksanaan medis penyakit tersebut ? d. Bagaimanakan asuhan keperawatan penyakit tersebut ? 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan pembuatan makalah ini adalah : a. b. c. d. Mengetahui tentang Faringitis, Tonsilitis, dan Tumor Faring Mengidentifikasi Faringitis, Tonsilitis, dan Tumor Faring Mengetahui Faringitis, Tonsilitis, dan Tumor Faring Mengetahui Faringitis, Tonsilitis, dan Tumor Faring BAB II PEMBAHASAN 2.1 Tonsilitis 2.1.1 Pengertian Tonsilitis Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman streptococcusi beta hemolyticus, streptococcus viridans dan streptococcus pyogenes dapat juga disebabkan oleh virus, yang kadang-kadang mengakibatkan sakit tenggorokan dan demam. Tonsil terdiri atas jaringan limfatik dan terletak pada kedua sisi orofaring Tonsilitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara, Imam, 2006). Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004). 2.1.2 Klasifikasi

Macam-macam tonsillitis menurut Imam Megantara (2006): 1. Tonsillitis akut

Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus. 2. Tonsilitis falikularis Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus. Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut. 3. Tonsilitis Lakunaris Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil. 4. Tonsilitis Membranosa (Septis sore Throat) Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membrane. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan. 5. Tonsilitis Kronik Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis. 1. TONSILITIS AKUT ETIOLOGI Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus, pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Virus terkadang juga menjadi penyebab penyakit ini. Tonsillitis ini seringkali terjadi mendadak pada anak-anak dengan peningkatan suhu 1-4 derajat celcius. PATOFISIOLOGI Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila kuman ini terkikis maka jaringan limfoid superficial

bereaksi,

terjadi

pembendunagn

radang

dengan

infiltrasi

leukosit

polimorfonuklear. MANIFESTASI KLINIK Tonsillitis Streotokokus grup A harus dibedakan dri difteri, faringitis non bacterial, faringitis bakteri bentuk lain dan mononucleosis infeksiosa. Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan dalam tonsillitis akut ini meliputi suhu tubuh naik hingga 40o celcius, nyeri tenggorok dan nyeri sewaktu menelan, nafas yang berbau, suara akan menjadi serak, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di telinga. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus berbentuk folikel, lacuna akan tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan. KOMPLIKASI Otitis media akut (pada anak-anak), abses peritonsil, abses parafaring, toksemia, septicemia, bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan arthritis.

PEMERIKSAAN 1. Tes Laboratorium Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan demam renmatik, glomerulnefritis, dan demam jengkering. 2. Pemeriksaan penunjang Kultur dan uji resistensi bila diperlukan. 3. Terapi

Dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik, dan obat kumur yang mengandung desinfektan. PERAWATAN Perawatan yang dilakukan pada penderita tonsillitis biasanya dengan perawatan sendiri dan dengan menggunakan antibiotic. Tindakan operasi hanya dilakukan jika sudah mencapai tonsillitis yang tidak dapat ditangani sendiri. 1. Perawatan sendiri Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus sebaiknya biarkan virus itu hilang dengan sendirinya. Selma satu atau dua minggu sebaiknya penderita banyak istirahat, minum minuman hangat juga mengkonsumsi cairan menyejukkan. 2. Antibiotik Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotic yang akan berperan dalam proses penyembuhan. Antibiotic oral perlu dimakan selama setidaknya 10 hari. 3. Tindakan operasi Tonsillectomy biasanya dilakukan pada anak-anak jika ank mengalami tonsillitis.selama tujuh kali atau lebih dalam setahun, anak mengalami tonsillitis lima kali atau lebih dalam dua tahun, amandel membengkak dan berakibat sulit bernafas, adanya abses. 2. TONSILITIS MEMBRANOSA Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis membranosa beberapa diantaranya yaitu Tonsilitis difteri, Tonsilitis septic, serta Angina Plaut Vincent. 1.TONSILITIS DIFTERI

ETIOLOGI Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positis pleomorfik5penghuni saluran pernapasan atas yang dapat menimbulkan abnormalitas toksik yang dapat mematikan bila terinfeksi bakteriofag. PATOFISIOLOGI Bakteri masuk melalui mukosa lalu melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling lalu selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalu pembuluh darah dan limfe. Toksin ini merupakan suatu protein yang mempunyai 2 fragmen yaitu aminoterminal sebagai fragmen A dan fragmen B, carboxyterminal yang disatukan melalui ikatan disulfide.

MANIFESTASI KLINIS Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5 tahun. Penularan melalui udara, benda atau makanan uang terkontaminasai dengan masa inkubasi 2-7 hari. Gejala umum dari penyaki ini adalah terjadi kenaikan suhu subfebril, nyeri tnggorok, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, dan nadi lambat. Gejala local berupa nyeri tenggorok, tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor makin lama makin meluas dan menyatu membentuk membran semu. Membran ini melekat erat pada dasar dan bila diangkat akan timbul pendarahan. Jika menutupi laring akan menimbulkan serak dan stridor inspirasi, bila menghebat akan terjadi sesak nafas. Bila infeksi tidak terbendung kelenjar limfa leher akan membengkak menyerupai leher sapi. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan pada jantung berupa miokarditis sampai decompensation cordis KOMPLIKASI .

Laryngitis difteri, miokarditis, kelumpuhan otot palatum mole, kelumpuhan otot mata, otot faring laring sehingga suara parau, kelumpuhan otot pernapasan, dan albuminuria. DIAGNOSIS Diagnosis tonsillitis difteri harus dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis karenapenundaan pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Pemeriksaan preparatlangsung diidentifikasi secara fluorescent antibody technique yang memerlukanseorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphteriae dengan pembiakan padamedia Loffler dilanjutkan tes toksinogenesitas secara vivo dan vitro. Cara PCR(Polymerase Chain Reaction) dapat membantu menegakkan diagnosis tapipemeriksaan ini mahal dan masih memerlukan penjagn lebih lanjut untuk menggunakan secara luas. 2.TONSILITIS SEPTIK Penyebab dari tonsillitis ini adalah Streptokokus hemolitiku yang terdapat dalam susu sapi sehingga dapat timbul epidemic. Oleh karena itu perlu adanya pasteurisasi sebelum mengkonsumsi susu sapi tersebut. 3. ANGINA PLAUT VINCENT ETIOLOGI Penyakit ini disebabkan karena kurangnya hygiene mulut, defisiensi vitamin C serta kuman spirilum dan basil fusi form. MANIFESTASI KLINIS Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam sampai 39o celcius, nuyeri kepala, badan lemah, dan terkadang terdapat gangguan pencernaan. Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi, dan gusi berdarah. PEMERIKSAAN

Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau dan kelenjar submanibula membesar. PENGOBATAN Memperbaiki hygiene mulut, antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu, juga pemberian vitamin C dan B kompleks. 3.TONSILITIS KRONIS ETIOLOGI bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut , namun terkadang bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif.

FAKTOR PREDISPOSISI Mulut yang tidak hygiene, pengobatan rdang akut yang tidak adekuat, rangsangan kronik karena rokok maupun makanan. PATOFISIOLOGI Karena proses rang berulang maka epitel mukosa dan jarinagn limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. MANIFESTASI KLINIS Adanya keluhan pasien di tenggookan seperti ada penghalang, tenggorokan terasa kering, pernapasan berbau. Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata, kriptus membesar dan terisi detritus.

KOMPLIKASI Timbul rhinitis kronis, sinusitis atau optitis media secara perkontinuitatum, endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitus, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis. PEMERIKSAAN 1. Terapi Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil. 2. Faktor penunjang Kultur dan uji resistensi kuman dari sedian apus tonsil. PENGOBATAN Tonsilitis kronis dapat diatasi dengan menjaga higiene mulut, obat kumur, obat hisap, dan tonsilektomi. PENATALAKSANAAN MEDIS Sebaiknya pasien tirah baring. Cairan harus diberikan dalam jumlah yang cukup, serta makan makanan yang berisi namun tidak terlalu padat dan merangsang tenggorokan. Analgetik diberikan untuk menurunkan demam dan mengurangi sakit kepala. Di pasaran banyak beredar analgetik (parasetamol) yang sudah dikombinasikan dengan kofein, yang berfungsi untuk menyegarkan badan. Jika penyebab tonsilitis adalah bakteri maka antibiotik harus diberikan. Obat pilihan adalah penisilin. Kadang kadang juga digunakan eritromisin. Idealnya, jenis antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil biakan. Antibiotik diberikan antara 5 sampai 10 hari. Jika melalui biakan diketahui bahwa sumber infeksi adalah Streptokokus beta hemolitkus grup A, terapi antibiotik harus digenapkan 10 hari untuk mencegah kemungkinan komplikasi nefritis dan penyakit jantung rematik. Kadang kadang

dibutuhkan suntikan benzatin penisilin 1,2 juta unit intramuskuler jika diperkirakan pengobatan orang tidak adekuat. Terapi obat lokal untuk hegiene mulut dengan obat kumur atau obat isap. Antibiotik golongan penisilin atau sulfonamida selama 5 hari. Antipiretik. Obat kumur atau obat isap dengan desinfektan. Bila alergi pada penisilin dapat diberikan eritromisin atau klindamigin. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada tonsilitis akut adalah : 1. hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil 2. nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil 3. resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia 4. intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan 5. gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii FOKUS INTERVENSI 1. DP : hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada tonsil Intervensi : Pantau suhu tubuh anak ( derajat dan pola ), perhatikan menggigil atau tidak Pantau suhu lingkungan Batasi penggunaan linen, pakaian yang dikenakan klien Berikan kompres hangat Berikan cairan yang banyak ( 1500 2000 cc/hari ) Kolaborasi pemberian antipiretik 2. DP : nyeri berhubungan dengan pembengkakan pada tonsil Intervensi : Pantau nyeri klien(skala, intensitas, kedalaman, frekuensi ) Kaji TTV

Berikan posisi yang nyaman Berikan tehnik relaksasi dengan tarik nafas panjang mengeluarkannya pelan pelan melalui mulut Berikan tehnik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak Kolaborasi pemberian analgetik 3.DP : resiko perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia Intervensi : Kaji conjungtiva, sclera, turgor kulit Timbang BB tiap hari Berikan makanan dalam keadaan hangat Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi seringsajikan makanan dalam bentuk yang menarik Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan Kolaborasi pemberian vitamin penambah nafsu makan 4. DP : intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan Intervensi : Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas Monitor TTV sebelum, selama dan sesudah melakukan aktifitas Berikan lingkungan yang tenang Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi klien 5. DP : gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii Intervensi : Kaji ulang gangguan pendengaran yang dialami klien Lakukan irigasi telinga Berbicaralah dengan jelas dan pelan Gunakan papan tulis / kertas untuk berkomunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi Kolaborasi pemeriksaan audiometri melalui hidung dan

Kolaborasi pemberian tetes telinga


2.2 Faringitis

2.2.1 Pengertian Faringitis (dalam bahasa Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yangmenyerang (Wikipedia.com) 2.2.2 Epidemiologi Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insidensinya meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut sepanjang akhir masa anakanak dan kehidupan dewasa. Kematian yang diakibatkan faringitis jarang terjadi,tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi penyakit ini. 2.2.3 Etiologi Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae. 2.2.4 Patofisiologi Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring tenggorok atau faring yang disebabkan oleh bakteri atau virus tertentu. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.

menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau faringitis. 2.2.5 Klasifikasi Berdasarkan lama berlangsungnya : Faringitis akut, adalah radang tenggorok yang disebabkan oleh virus dan bakteri yaitu streptokokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan tonsil yang masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk.Faringitis ini terjadinya masih baru,belum berlangsung lama. Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkungan berdebu,menggunakan suara berlebihan, menderita batu kronik, dan kebiasan menkonsumsi alcohol dan tembakau. mukosa Faringitis atrofi kemungkinan merupakan tahap lanjut dari jenis pertama (membrane faring Berdasarkan agen penyebab Faringitis Virus Faringitis Bakteri tipis, keputihan,licin dan pada waktunya berkerut) Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding Faringitis kronik dibagi menjadi 3, yaitu: Faringitis hipertrofi,ditandai dengan penebalan umum dan kongesti membrane

Biasanya tidak ditemukan nanah di tenggorokan, Sering ditemukan nanah di tenggorokan Demam ringan atau tanpa demam. Demam ringan sampai sedang Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat. Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang Kelenjar getah bening normal atau sedikit membesar Pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah bening.

Tes apus tenggorokan memberikan hasil negatif Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif untuk strep throat Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh bakteri Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium

2.2.6 Gejala Klinis Penyakit ini cenderung akut dengan disertai demam yang tinggi, sakit kepala, rasa nyeri di perut dan muntah-muntah. Tenggorokan terasa nyeri, amandel menjadi berwarna merah dan membengkak. Pada anak yang sudah lebih besar, akan terlihat adanya lapisan seperti krim di atas amandel (eksudat) yang tidak mengeluarkan darah bila disentuh. Kelenjar getah bening di leher sering membengkak dan terasa nyeri bila ditekan. Berbeda dengan faringitis virus, penderita faringitis streptokokus tidak mengalami rhinitis, suara serak atau batuk. 2.2.7 Pemeriksaan Fisik Inspeksi : kemerahan pada faring,adanya pembengkakan di daerah leher Palpasi : adanya kenaikan suhu pada bagian leher, adanya nyeri tekan TTV : suhu tubuh mengalami kenaikan, nadi meningkat, dan napasnya cepat. 2.2.8 Pemeriksaan diagnostic : Kultur dan uji resistensi. 2.2.9 Diagnosis Pemeriksaan serologic Pemeriksaan sputum untuk mengetahui basil tahan asam Fotothorak untuk melihat adanya tuberkolusis paru Biopsi jaringan untuk mengetahui proses keganasan serta mencari basil tahan asam di jaringan. 2.2.10 Tindakan penanganan Untuk faringitis virus penanganan dilakukan dengan memberikan aspirin atau asetaminofen cairan dan istirahat baring. Komplikasi seperti sinusitis atau

pneumonia biasanya disebabkan oleh bakteri karena adanya nekrosis epitel yang disebabkan oleh virus sehingga untuk mengatsi komplikasi ini dicadangkan untuk menggunakan antibiotika. Untuk faringitis bakteri paling baik diobati dengan pemberian penisilin G sebanyak 200.000-250.000 unit, 3-4 kali sehari selama 10 hari. Pemberian obat ini biasanya akan menghasilkan respon klinis yang cepat dengan terjadinya suhu badan dalam waktu 24 jam. Erritromisin atau klindamisin merupakan obat alin dengan hasil memuaskan jika penderita alergi terhadap penisilin. Jika penderita menderita nyeri tenggorokan yang sangat hebat, selain terapi obat, pemberian kompres panas atau dingin pada leher dapat membantu meringankan nyeri. Berkumur-kumur dengan larutan garam hangat dapat pula meringankan gejala nyeri tenggorokan dan hal ini dapat disarankan pada anak-anak yang lebih besar untuk dapat bekerja sama. 2.2.11 Komplikasi Penyakit ini, jika dibiarkan sampai menjadi berat, dapat menimbulkan radang ginjal (glomerulonefritis akut), demam rematik akut, otitis media (radang telinga bagian tengah), sinusitis, abses peritonsila dan abses retropharynx (radang di sekitar amandel atau bagian belakang tenggorokan yang dapat menimbulkan nanah). 2.2.12 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Data Dasar Identitas Pasien (nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, sumber biaya, dan sumber informasi) Identitas Penanggung ((nama, jenis kelamin, umur, status perkawinan, agama, suku bangsa, pendidikan, bahasa yang digunakan, pekerjaan, alamat, dan hubungan dengan pasien)

Riwayat Keperawatan, meliputi : Riwayat Kesehatan Sekarang Mengkaji data subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien, meliputi:

Alasan masuk rumah sakit. Pasien mengatakan terasa nyeri di leher dan mengatakan sakit saat menelan.

Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri dan merasa tidak nyaman pada daerah leher Pasien mengatakan mual dan muntah. Pasien mengatakan sakit saat menelan

Kronologis keluhan Pasien mengeluh nyeri di leher Riwayat Kesehatan Masa Lalu Mengkaji apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya, sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami infeksi pada saluran tenggorokan dan pernah menjalani perawatan di RS.... Riwayat Kesehatan Keluarga Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama Riwayat Psikososial dan Spiritual Mengkaji orang terdekat dengan pasien, interaksi dalam keluarga, dampak penyakit pasien terhadap keluarga, masalah yang mempengaruhi pasien, mekanisme koping terhadap stres, persepsi pasien terhadap penyakitnya, tugas perkembangan menurut usia saat ini, dan sistem nilai kepercayaan.

Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual Dikaji 14 kebutuhan dasar manusia menurut Virginia Handerson, seperti : Bernafas Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pernafasan, sesak, atau batuk, serta ukur respirasi rate. Makan Dikaji apakah klien menghabiskan porsi makan yang telah disediakan RS, apakah pasien mengalami mual atau muntah ataupun kedua-duanya. Minum Dikaji kebiasaan minum pasien sebelum dan saat berada di RS, apakah ada perubahan (lebih banyak minum atau lebih sedikit dari biasanya). Eliminasi Dikaji pola buang air kecil dan buang air besar. Terutama difokuskan tentang apakah pasien cenderung susah dalam buang air kecil (kaji kebiasaan dan volume urine) atau mempunyai keluhan saat BAK. Gerak aktivitas Dikaji apakah pasien mengalami gangguan/keluhan dalam melakukan aktivitasnya saat menderita suatu penyakit (dalam hal ini adalah setelah didiagnosa mengalami Faringitis) atau saat menjalani perawatan di RS. Istirahat/tidur Dikaji apakah pasien mengalami gangguan pola tidur akibat penyakitnya, misalnya gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak saat merasa nyeri di leher Pengaturan suhu tubuh Dikaji/ukur TTV pasien untuk mengetahui keadaan umum pasien, apakah pasien mengalami demam atau tidak. Selain itu, observasi kondisi pasien mulai dari ekspresi wajah sampai kulit, apakah kulitnya hangat atau kemerahan, wajahnya pucat atau tidak.

Kebersihan diri Dikaji kebersihan pasien saat dirawat di RS, bila perlu libatkan keluarga pasien dalam melakukan perawatan diri pasien, misalnya saat mandi dan sebagainya. Rasa nyaman Dikaji kondisi pasien yang berhubungan dengan gejala-gejala

penyakitnya, misalnya pasien merasa nyeri di perut bagian bawah (dikaji dengan PQRST : faktor penyebabnya, kualitas/kuantitasnya, lokasi, lamanya dan skala nyeri) Rasa aman Dikaji apakah pasien merasa cemas akan setiap tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya, dan apakah pasien merasa lebih aman saat ditemani keluarganya selama di RS. Sosial dan komunikasi Dikaji bagaimana interaksi pasien terhadap keluarga, petugas RS dan lingkungan sekitar (termasuk terhadap pasien lainnya). Pengetahuan Dikaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya yang diderita saat ini dan terapi yang akan diberikan untuk kesembuhannya. Rekreasi Dikaji apakah pasien memiliki hobi ataupun kegiatan lain yang ia senangi. Spiritual Dikaji bagaimana pendapat pasien tentang penyakitnya, apakah pasien menerima penyakitnya adalah karena murni oleh penyakit medis ataupun sebaliknya. 1. Pengkajian Fisik, meliputi :

Keadaan Umum, yaitu dengan mengobservasi bentuk tubuh, warna kulit, kesadaran, dan kesan umum pasien (saat pertama kali MRS) Gejala Kardinal, yaitu dengan mengukur TTV (suhu, nadi, tekanan darah, dan respirasi) Keadaan Fisik, yaitu melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi dari kepala sampai anus, tapi lebih difokuskan pada bagian leher Pemeriksaan Penunjang, yaitu dari hasil pemeriksaan laboratorium dengan uji kultur dan uji resistensi
2. Anamnesa

Adanya riwayat merokok,adanya riwayat streptokokus,dan yang penting ditanyakan apakah klien pernah mengalami nyeri/lesi pada mulut (nyeri saat menelan)
3. Diagnosa keperawatan :

Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi pada tenggorokan Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dengan sekret yang kental ditandai dengan kesulitan dalam bernafas, Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi 4. Perencanaan Tujuan Intervensi Rasional 1. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang Dengan kriteria hasil: 1. Nyeri pasien berkurang dari skala 5 menjadi 3 2. Pasien tidak tampak meringis

3. TTV normal, Nadi:60-100 x permenit, RR:16-20 x permenit, TD:100-140/60-90 mmHg, Suhu:36,8-37,2 C Kaji ulang tingkat nyeri Ajarkan teknik relaksasi Kaji TTV Kolaborasi dalam pemberian analgetik Agar tepat dalam memilih tindakan untuk mengatasi nyeri, Meningkatkan relaksasi dan mengurangi nyeri, Untuk mengetahui keaadaan umum pasien, Untuk mengurangi nyeri
2. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat

bernapas lancar Dengan kriteria hasil: 1.Pasien dapat mengeluarkan sputum 2.Pasien mengatakan dapat bernapas dengan lancar Identifikasi kualitas atau kedalaman nafas pasien Anjurkan untuk minum air hangat Ajari pasien untuk batuk efektif Kolaborasi untuk pemberian ekspektoran Untuk mengetahui keadaan napas pasien Untuk mencairkan sputum agar mudah dikeluarkan Untuk melegakan saluran pernapasan Untuk mengencerkan dahak 3. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi Dengan kriteria hasil:

1.Pasien mengatakan tidak sakit dalam menelan makanan 2.Pasien makan dengan lahap 3.Nafsu makan pasien meningkat 4.Pasien nampak lebih segar Kaji intake makanan pasien Anjurkan pasien untuk makan makanan yang tinggi kalori dan serat kolaborasi dengan ahli gizi

1. Untuk mengetahui adanya peningkatan nafsu makan 2. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien 3. Untuk mendapatkan menu makanan yang sesuai dengan kebutuhannya

3. Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pengetahuan pasien

meningkat Dengan kriteria hasil: 1. Pasien dapat menyebutkan kembali apa yang dijelaskan perawat 2. Pasien mengangguk dan nampak mengerti 3. Pasien mengatakan mengerti Kaji tingkat pengetahuan pasien Lakukan BHSP Berikan Health Education Lakukan evaluasi 1. Untuk mengetahui seberapa tahu pasien akan penyakitnya 2. Agar pasien percaya terhadap perawat 3. Untuk menambah pengetahuan dan informasi tentang penyakitnya

4. Untuk mengetahui daya tangkap pasien setelah diberikan HE 4. Evaluasi Nyeri O berhubungan : Wajah normal, dengan proses inflamasi (tidak pada tenggorokan meringis) permenit

S : Pasien mengatakan nyerinya berkurang (penurunan skala nyeri) pasien tampak x relaks tampak x TTV Nadi:60-100 permenit, RR:16-20

TD:100-140/60-90mmHg, Suhu:36,8-37,2C A : Tujuan tercapai P : Pertahankan kondisi pasien Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan dengan sekret yang kental ditandai dengan kesulitan dalam bernafas S : Pasien mengatakan dapat bernapas lancar O : Pasien dapat mengeluarkan sputum A : Tujuan tercapai P : Pertahankan kondisi pasien Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan menelan S : Pasien mengatakan tidak sakit saat menelan makanan O : - Pasien makan dengan lahap - Nafsu makan pasien meningkat - Pasien nampak lebih segar A : Tujuan tercapai P : Pertahankan kondisi pasien

Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan sumber informasi S : Pasien mengatakan mengerti tentang penjelasan perawat O : - Pasien dapat menyebutkan kembali apa yang dijelaskan perawat - Pasien mengangguk dan nampak mengerti A : Tujuan tercapai P : Pertahankan kondisi pasien 2.3 Tumor Faring PENDAHULUAN Tumor faring merupakan suatau tantangan bagi ahli THT, karena faring adalah bagian integral dari traktus aerodigestif bagian atas. Faring adalah kesatuan antara nasofaring, orofaring, dan hipofaring yang hamper tidak Nampak batas-batasnya secara anatomic dan fungsional. Struktur-struktur diatas memiliki fungsi yang multiple, seperti berbicara dan menelan, pertahanan imunologi dan respirasi. Tumor pada stadium lanjut akan mengganggu fungsi-fungsi tersebut. Menurut asal tumor, biologi dan stadium pada saat ditemukan, sifat-sifat tumor faring bervariasi dari jinak, sampai ganas dan membutuhkan lebih dari satu jenis penanganan. Pencegahan dan diagnosis dini sangat penting supaya prognosis dan hasil fungsional operasi baik. Evaluasi dan penanganan tumor faring memerlukan pengetahuan yang mendalamtentang anatomi dan embriologi yang relevan, keuntungan dan kelemahan sistwm staging tumor, factor etiologi, histopatologi, biologi tumor, dan sifat-sifat klinis tumor. Pengetahuan yang baik mengenai beberapa pilihan terapi bedah dan non bedah sangan penting untuk melakukan konsultasi dengan pasien dan merencanakan terapi, INSIDEN

Di seluruh dunia, kira-kira ditemukan 390.000 kasus baru kanker cavum oris dan faring yang didiagnosis setiap tahun. Insidens tumor-tumor ini sangat tinggi di Asia Tengah, Afrika Selatan, dan Eropa. Data dari negara berkembang menunjukkan bahwa insidennya pun meningkat. Di Amerika Serikat, insidens kanker mulut dan faring adalah 11,9/100.000 populasi per tahun dengan rerata 30.000 kasus baru per tahun. Insidens menurut umur dan angka mortalitas akan meningkat sesuai peningkatan umur dan lebih tinggi 3 kali lipat pada pria dibandingkan dengan wanita. GEJALA KLINIS Gejala dapat dibagi ke dalam tanda-tanda awal dan tanda-tanda lanjut. Tandatanda awal tumor faring sering diabaikan oleh penderita. Gejala-gejala terebut berupa iritasi tenggorok, rasa terbakar bila memakan makanan yang asam-asam, benjolan pada leher dan adynophagia. Nyeri alih telinga unilateral juga sering ditemukan. Hemoptisis atau perdarahan melalui mulut juga dapat terjadi. Tanda-tanda lanjut meliputi disfagia, disartria atau Hot Potato Voice,trismus, gejala sumbatan jalan nafas, otitis media serosa akibat sekunder dari obstruksi tuba eustachius, dan penurunan berat badan. PATOFISIOLOGI Belum ada kejelasan secara pasti penyebab terjadinya tumor faring, namun kemungkinan besar disebabkan karena merokok dan polusi udara. IX. PENATALAKSANAAN Radioterapi hingga sekarang masih merupakan terapi utama dan pengobatan tambahan yang dapat diberikan berupa bedah diseksi leher, pemberian tetrasiklin, interferon, kemoterapi, dan vaksin antivirus. Perhatian terhadap efek samping dari pemberian radioterapi seperti, mulut terasa kering, jamur pada mulut, rasa kaku di leher, sakit kepala, mual dan muntah kadang-kadang dapat timbul. Oleh karena itu dapat dianjurkan pada penderita untuk membawa air minum dalam aktivitas dan

berusaha menjaga kebersihan pada mulut dan gigi. Pemberian vaksin pada penduduk dengan resiko tinggi dapat dilakukan untuk mengurangi angka kejadian penyakit ini pada daerah tersebut. Diagnosa Keperawatan Tumor Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17). Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) meliputi : 1) Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi atau krisis maturasi. 2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factor budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan. 3) Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker. 4) Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks, hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan. 5) Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker), ketidakberdayaan. 6) Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan saraf/otot, dan nyeri. Intervensi dan Implementasi Tumor Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).

Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006) adalah :
1) Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak

mudah atau dread yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman. Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol. Kriteria hasil : - klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasisituasi yang membuat stress. - klien mampu mempertahankan penampilan peran. - klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori. - klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik. - tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu. : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan

Rasional : memudahkan intervensi.

Rasional

kemampuan mengontrol ansietas. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. Rasional

pendekatan

dan

motivasi

membantu

pasien

untuk

mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.

Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam keadaan cemas.

Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.

Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.

Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.

Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan. 2) Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang. Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh. Kriteria hasil : - pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh. - memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan. - menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh.

Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya.

Rasional : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.

Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh.

Rasional : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.

Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis.

Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi kecemasan.

Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien.

Rasional : menciptakan suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan berarti dalam diri pasien. 3) Koping individu, ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadap stressor, pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat, dan atau ketidakmampuan : pasien untuk menggunakan menunjukkan sumber yang yang tersedia. efektif. Tujuan waktu luang. - mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif. - menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya. - berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).

koping

Kriteria hasil : - pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi

Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan pemberi pelayanan kesehatan.

Rasional : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya.

Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.

Rasional : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya, memudahkan intervensi

Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.

Rasional : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat ini.

Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain. Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan emosional untuk pasien dan keluarga.

Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.

Rasional : menciptakan suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi kecemasan.

4) Proses keluarga, perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga. Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga. Kriteria hasil : - pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping. - pasien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap.

Kaji interaksi antara pasien dan keluarga. Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin

Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.

menghambat pengobatan. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.

Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang digunakan.

Rasional : membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat .

Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu.

Rasional : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota keluarga. 5) Ketakutan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan bahaya nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata. Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan. Kriteria hasil : - mencari informasi untuk menurunkan ketakutan. - menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan. - mempertahankan penampilan peran dan hubungan social.

Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien.

Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.

Berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat menurunkan atau mengurangi takut.

Rasional : mempertahankan perilaku koping yang efektif.

Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan. : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk

Rasional

mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan. 6) Mobilitas fisik, hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang.. - melakukan pergerakkan dan perpindahan. - mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik: 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran. 3= membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. 4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.

Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.

Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.

Rasional : mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.

Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.

Rasional : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.

Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.

Rasional : mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.

Rasional : sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. Evaluasi Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001). Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah : 1) Ansietas berkurang/terkontrol. 2) Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh. 3) Pasien menunjukkan koping yang efektif. 4) Pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga. 5) Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan. 6) Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. DISKUSI Tumor faring merupakan kasus yang menantang para ahli bedah. Hal tersebut disebabkan karena kompleksnya struktur pembuluh darah dan saraf yang berada pada daerah tersebut. Selain hal tersebut, penanganan jalan nafas harus menjadi perhatian serius. Pada kasus ini dilakukan dua kali operasi untuk melakukan ekstirpasi tumor orofaring yang sudah ekstensi ke nasofaring dan hipofaring. Pasca operasi terjadi keluhan berupa disfagia motorik yang terjadi akibat paralisis. Dilakukan fisioterapi selama 3 minggu, terdapat perubahan yang signifikan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3. Edisi 8. Jakarta:EGC Carpenito, Lynda Jual. 2002. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC