Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PBL BLOK 16 SKENARIO A

Disusun oleh : Kelompok 1 Ima yuliana Hilda Bella fadilla hais Rona Lisa Anriz Siti Aziza Airunnisa Venny Mayasari Maratun sholihah hrp Muhammad falih akbar Stefani Gunawan Maria winarti Pembimbing 04101001005 04101001010 04101001014 04101001015 04101001027 04091001040 04101001048 04101001085 04101001088 04101001112 : dr. Abdullah shahab Sp.KJ

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya laporan tutorial skenario A blok 16 ini dapat terselesaikan dengan baik. Laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas tutorial yang merupakan bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Tim penyusun laporan ini tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan tugas tutorial ini. Laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik pembaca akan sangat bermanfaat bagi revisi yang senantiasa akan tim penyusun lakukan.

Palembang , 3 januari 2013

Penyusun

Skenario A blok 16 Diego anak laki-laki berusia 30 bulan, dibawa ke klinik karena belum bisa bicara dan tidak bisa duduk diam. Diego hanya bisa mengoceh dengan kata-kata yang tidak dimengerti oleh orang tuanya dan orang lain. Bila dipanggil sering kali tidak bereaksi terhadap panggilan. Diego juga selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan. Senang bermain dengan bola, tetapi tidak suka bermain dengan anak lain. Diego anak pertama dari ibu berusia 34 tahun. Lahir spontan pada kehamilan 38 minggu. Selama hamil ibu diego pernah mengalami demam dan sering mengonsumsi daging mentah tetapi periksa kehamilan dengan teratur ke SpOG. Riwayat persalinan : lahir langsung menangis. Berat badan waktu lahir 3.500 gram. Diego bisa tengkurap usia 6 bulan, berjalan usia 12 bulan, tidak ada riwayat kejang, dan tidak ada keluarga yang menderita kelainan seperti ini. Pemeriksaan Fisis dan pengamatan : Berat badan 17kg, tinggi badan 92 cm, lingkar kepala 50 cm. Tidak ada gambaran dismorfik. Anak sadar, tetapi tidak mau kontak mata dan tersenyum kepada pemeriksa. Tidak menoleh ketika dipanggil namanya. Anak selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan. Ketika diberikan bola, dia menyusun bola-bola secara berjejer, setelah selesai lalu dibongkar, kemudian disusun berjejer lagi, dan dilakukan berulang-ulang. tidak ada gerakan-gerakan aneh yang diulang-ulang. Tidak mau bermain dengan anak lain. Bila memerlukan bantuan, dia menarik tangan ibunya untuk melakukan. Tidak bisa bermain pura-pura (imajinatif). Tidak melihat benda yang ditunjuk. Tidak bisa menunjuk benda yang diranyakan oleh orang lain.Pemeriksaan fisik umum, neurologis dan laboratorium dalam batas normal. Tes pendengaran normal.

I.

Klarifikasi istilah 1. Dismorfik : Keadaan dimana terdapat bentuk morfologik yang berbedabeda 2. Imajinatif : Dapat berkhayal atau berpura-pura membayangkan sesuatu.

II.

Identifikasi Masalah.

1. Diego laki-laki 30 bulan, dibawa ke klinik dengan keluhan: Belum bisa bicara dan tidak bisa duduk diam Hanya bisa mengoceh dengan kata-kata yang tidak dimengerti Bila dipanggil tidak bereaksi Selalu bergerak kesana-kamari tanpa tujuan Senang bermain dengan bola tapi tidak suka bermain dengan permainan lain.

2. Riwayat kehamilan ibu diego Anak pertama saat ibu berusia 34 tahun Lahir spontan, usia kehamilan 38 minggu Ibu sering demam dan mengkonsumsi daging mentah selama hamil dan teratur konsul ke SpOG

3. Riwayat persalinan Lahir langsung menangis Berat badan lahir 3500gram Dapat tengkurap usia 6 bulan Berjalan usia 12 bulan Tidak ada riwayat kejang Tidak ada keluarga yang menderita kelainan seperti ini

4. Pemeriksaan fisik dan pengamatan BB 17 kg, TB 92 cm, Lingkar kepala 50cm Tidak ada gambaran dismorfik.

Anak sadar dan tidak mau kontak mata dan tersenyum pada pemeriksa Tidak menoleh ketika dipanggil namanya Selalu bergerak kesana kemari tanpa tujuan Ketika diberikan bola, dia menyusun bola-bola secara berjejer, setelah selesai lalu dibongkar, kemudian disusun berjejer lagi, dan dilakukan berulang-ulang.

Tidak ada gerakan aneh yang dilakukan berulang-ulang Tidak mau bermain dengan anak lain, bila memerlukan bantuan dia menarik-narik tangan ibunya untuk melakukan.

Tidak bisa bermain pura-pura (imajinatif) Tidak melihat benda yang ditunjuk Tidak bisa menunjuk benda yang ditanyakan orang lain

III. Analisis Masalah 1. Bagaimana perkembangan normal anak usia 30 bulan? Perkembangan Perilaku Normal anak usia 30 bulan Motorik Berlari, Berdiri dengan 1 kaki tanpa jatuh. Membuat tumpukan dari 6 kubus. Meniru coretan garis lingkar. Sosial Masa membangkang, Anak berulang-ulang mengatakan saya mau dan akan marah bila tidak terpenuhi. Sudah mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh orang tuanya Perkembangan bahasa (pemahaman) - Mengerti bagian tubuh yang kecil (siku, pipi, kelopak mata). - Mengerti kategori nama keluarga (nenek, bayi). - Mengerti ukuran (yang kecil, yang besar). - Mengerti sebagian besar kata sifat. Mengerti fungsi (mengapa kita perlu makan,

mengapa kita perlu tidur). Penguasaan ekspresi - Menggunakan kalimat yang nyata dengan kata-kata berfungsi secara tata bahasa (dapat, akan, sebuah). - Biasanya memberikan maksud sebelum bertindak. - Bercakap-cakap dengan anak lain, biasanya hanya monolog. - Logat sendiri dan okolalia secara bertahap menghilang dari pembicaraan. - Perbendaharaan kata bertambah (sampai 270 kata pada usia 2 tahun, 895 kata pada usia 3 tahun) termasuk ucapan populer (slang). - P, b, m diartikulasikan secara benar. Berbicara mungkin menunjukkan

gangguan irama

2. Mengapa diego hanya mau bermain bola dan tidak ingin bermain yang lain? Pada anak dengan gangguan autistik tidak mampu berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan maupun keinginannya sehingga perilaku dan hubungannya terhadap orang lain menjadi terganggu dan jenis permainan dan aktivitasnya bersifat kaku, berulang, dan monoton. Oleh sebab itu diego hanya mau bermain satu permainan saja, yaitu bermain bola dan tidak mau bermain yang lain

3. Mengapa diego belum bisa bicara? pada anak autistik terjadi penyimpangan bahasa seperti keterlambatan bicara merupakan salah satu karakteristik dari gangguan autistik.

4. Bagaimana tahap perkembangan kepribadian anak usia 30 bulan? Fase anak-anak(2-3tahun) Otonomi vs Perasaan malu, ragu-ragu Masa kanak-kanak awal ditandai adanya kecenderungan otonomi perasaan malu, ragu-ragu Pada masa ini sampai batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri (dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya) tetapi di pihak lain dia telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu. Orang tua dalam mengasuh anak pada usia ini tidak perlu mengobarkan keberanian anak dan tidak pula harus mematikannya. Dengan kata lain, keseimbanganlah yang diperlukan di sini. Ada sebuah kalimat yang seringkali menjadi teguran maupun nasihat bagi orang tua dalam mengasuh anaknya yakni tegas namun toleran.

5. Bagaimana hubungan antara riwayat kehamilan ibu diego dengan keluhan diego? Hubungan dengan : Usia ibu saat kehamilan (34 tahun) Usia ibu pada saat mengandung anak pertama lebih dari 30-34 tahun memiliki resiko 27% anak lahir dengan autisme.

Sering demam dan konsumsi daging mentah Demam saat hamil meningikatkan resiko autisme, Sejumlah studi memastikan bahwa ketika sistem kekebalan wanita (betina) terpicu untuk melawan infeksi selama masa kehamilan maka hal itu mempengaruhi perkembangan otak anak dengan cara yang sedemikian rupa, meski mekanismenya belum bisa dipahami oleh para pakar. Dan terdapat pula hubungan antara kebiasaan sering mengkonsumsi daging mentah saat kehamilan dengan kondisi diego sekarang. Karena

daging yang diolah setengah matang seringkali sudah terdapat parasit di dalamnya, Kalau ibu hamil mengonsumsi daging yang terinfeksi parasit ini, otomatis ia juga akan terjangkit beberapa macam penyakit yang disebabkan oleh parasit tadi, infeksi tersebut dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak anak

6. Mengapa diego tidak mau berinteraksi dengan orang sekitarnya? Karena pada anak yang menderita gangguan austistik mengalami

gangguan kualitatif dalam interaksi sosial, salah satunya adalah gagal untuk mengembangkan hubungan dengan orang disekitarnya. Mereka cenderung mernarik diri dari lingkungan sekitarnya. Itulah sebab mengapa Diego tidak mau berinteraksi dengan orang disekitarnya. Anak autisme juga memiliki Gangguan faktor afektif dan fungsionalnya, kurang empati, dan tidak berespon terhadap orang lain.

7. Mengapa diego melakukan satu aktivitas saja dan berulang-ulang? Pada anak dengan autisme terdapat perilaku stereotipik, jenis permainan dan aktivitasnya bersifat kaku, berulang, dan monoton. Oleh sebab itu diego sering melakukan satu aktivitas saja dan berulang.

8. Mengapa diego tidak bisa bermain pura-pura(imajinatif)? Pada kasus: Diego tidak mampu bermain pura-pura (menirukan peran lain) karena ketidakmampuannya dalam berimajinatif dia tidak bisa berhayal berpura-pura menjadi sesuatu dalam sebuah permainan.

9. Apa diagnosis banding kasus ini? ASD Retardasi mental ADHD Sindrom Asperger

Bahasa, komunikasi

terlambat

atau

terlambat atau sama tidak berkembang sekali

berkembang baik

bahasa berkembang baik, komunikasi akan terlambat berkembang

sama sekali tidak berkembang

perilaku, motorik kasar halus dan

terbatas, stereotipik, hiperaktif, hipotonik tidak otot tetapi ada

terbatas, stereotipik, pasif, gangguan motorik ada

stereotipik, hiperaktif, otot tidak

terbatas, stereotipik, tidak hiperaktif, tidak gangguan motorik kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan ada

hipotonik, tidak ada

gangguan motorik

gangguan motorik

interaksi sosial

kegagalan bertatap

untuk mata,

inatensi, ketergantungan

kontak mata ada, ada gangguan interaksi sosial, inatensi, tidak menarik diri tetapi

menunjukkan ekspresi maupun fasial, postur

dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara inatensi, diri layak, menarik

gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak, atensi baik,

menarik diri

emosional

kurangnya empati, agresif tetapi dapat pula terlalu diam

agresif dengan kontrol impuls yang dapat diam buruk, pula dan

kurangnya empati

kurangnya empati

terlihat depresi kognitif tidak untuk mampu bermain sangat menurun berkembang lebih baik berkembang lebih baik

secara imajinatif memori terganggu karena jarang sekali sangat menurun tidak terganggu karena masih dirangsang oleh kognitif dan kemampuan bahasa yang masih baik

dirangsang akibat interaksi sosial

dan emosi yang kurang

10. Bagaimana cara penegakan diagnosis dan WD kasus ini? Secara detail, menurut DSM IV ( 1995), kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut :

A. Harus ada total 6 gejala dari (1),(2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) : 1. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini : a. Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, sepertikontak mata, ekspresi sosial. b. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya. c. Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain. d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. 2. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini: a. Perkembangan bahasa lisan ( bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal. b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi c. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi

berulangulang. d. Kurang mampu bermain imajinatif ( make believe play ) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf

perkembangannya. 3. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini : a. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan focus dan intensitas yang abnormal/ berlebihan. b. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas

c. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh. d. Sikap tertarik yang sangat kuat/ preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek. B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif. C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak WD : Autisme

11. Apa etiologi dan faktor resiko kasus ini? Etiologi : tidak diketahui Faktor resiko : Genetic Penyakit pada otak (TORCH infection) Perkembangan otak yang abnormal (microcephali, hydrocephalus) Penyakit metabolic (PKU, MPS) Kelainan destruksi post natal yang didapat (encephalitis, meningitis) Kelainan genetik (tuberous sclerosis, fragile x sindrom) Encephalopathy timbal Neoplasma

12. Bagaimana epidemiologi kasus ini? Prevalensi 3-4 per 1000 anak. Perbandingan laki-laki dari wanita 3-4:1.

13. Bagaimana patogenesis kasus ini? Persepsi yang tidak mantap disertai disfungsi batang otak ketidakmampuan otak untuk mengatur rangsangan sensoris yang masuk yang membuat anak autisme berperilaku menyimpang dari realitas lingkungan yang ada.

Gangguan fungsi limbik gangguan fungsi limbik ini diperkirakan sama dengan amnesia (sama-sama menyerang fungsi limbik, yaitu bagian hipokampus dan amigdala). Amigdala memiliki peran dalam perilaku terhadap rangsangan emosi dalam mengendalikan emosi. Anak autisme biasanya tidak bisa mengendalikan emosi dan seringkali agresif pada diri sendiri dan orang lain, sebaliknya bisa juga sangat pasif. Sedangkan hipokampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat, jika terjadi kerusakan di sana akan menyebabkan kesulitan dalam menyerap dan mengingat informasi baru, juga menimbulkan perilaku yang steriotipik,dan stimulasi diri. Pada anak-anak autis, diketemukan neuron di amigdala dan hipokampusnya neuron yang sangat padat dan kecil-kecil.

Gangguan Hemispher Kiri: kelainan kognitif dan bahasa diakibatkan oleh gangguan ini. Beberapa anak autisme menunjukkan kemampuan yang tinggi pada otak kanan. Hal ini disebabkan karena otak kanan mengkompensasi kerusakan otak kirinya. Jika otak kanan tidak mampu mengkompensasi maka yang terjadi adalah kerusakan pada kedua otak.

Gangguan neurotransmiter: peningkatan serotonin pada 1/3 anak autis. Diduga gangguan fungsi neurotransmiter tersebut yang menyebabkan adanya gangguan kognitif dan perilaku. Serotonin : hiperserotonin pada sepertiga anak autis Dopamin: hiperdopaminergik menyebabkan adanya gerakan stereotipi.

Kenaikan zat lainnya: epinefrin, norefineprin, dan oksitosin.

14. Bagaimana tatalaksana kasus ini? Terapi yang terpadu Penanganan / intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai

disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik. Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain : a. Terapi medikamentosa b. Terapi psikologis c. Terapi wicara d. Fisioterapi

Terapi medikamentosa Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat: antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor ) yang bisa memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan

dopamine (diberikan dalam dosis yang paling minimal) pemberian haloperidol (haldol) menurunkan gejala perilaku dan mempercepat belajar. Fenfluramine (pondimin) menurunkan kadar serotonin darah efektif pada beberapa anak autistik. (kaplan jilid 2 hal 738) Naltrexone Merupakan obat antagonis opiat yang diharapkan dapat menghambat opioid endogen sehingga mengurangi gejala autisme seperti mengurangi cedera pada diri sendiri dan mengurangi hiperaktifitas (Lensing dkk,1995). Clompramin Merupakan obat yang berguna untuk mengurangi stereotipik, konvulsi, perilaku ritual dan agresifitas, biasanya digunakan dalam dosis 3,75 mg (Campbell dkk,1996) Lithium merupakan obat yang dapat digunakan untukmengurangi perilaku agresif dan mencederai diri sendiri (Lumbantobing,2001) Ritalin Untuk menekan hiperaktifitas (Lumbantobing,2001)

Terapi psikologis

Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri ( self mutilation ), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan menyembuhkan dalam arti mengembalikan penyandang autis ke posisi normal. Rutter ( dalam Wenar, 1994 ) membuat pendekatan yang komprehensif dalam intervensi autisme yang memiliki tujuan : membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal meningkatkan kemampuan belajar anak autistic mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan meningkatkan interaksi penyandang autis dengan orang lain dan tidak membiarkannya hidup sendiri . Interaksi yang kurang justru akan menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan yang bervariasi juga dapat mengurangi kekakuan ini. mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan melukai diri sendiri

15. Bagaimana prognosis kasus ini? Prognosis dubia, jika ditangani dengan baik prognosis bisa bonam, namun jika tidak ditatalaksana prognosis malam.

16. Apa preventif kasus ini? Merencanakan kehamilan sebelum usia lanjut Saat hamil ibu jangan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dan menghindari infeksi.

17. Berapa KDU kasus ini? 2 dan 3B

IV. Hipotesis Diego laki-laki 30 bulan, dibawa ke klinik dengan keluhan belum bisa bicara dan tidak bisa duduk diam karena diduga autism

V.

Kerangka konsep Kehamilan ibu 1. Usia ibu 34 thun 2. Suka konsumsi daging mentah 3. Demam saat hamil Diego 30 bulan

Autisme

belum bisa bicara dan tdk bisa duduk diam

Berbicara tidak dimengerti perkataan yang t

Lebih suka bermain bola sendiri

Tidak imajinatif

VI. Sintesis A. TUMBUH KEMBANG ANAK Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, atau ukuran, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram) dan ukuran panjang (cm, meter). Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dari seluruh bagian tubuh sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya, termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungannya.

Perkembangan Perilaku, Emosional, dan Kemampuan Bersosialisasi Menurut ERICK ERICKSON perkembangan psychososial atau

perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi 4 tahap: a. Masa Bayi (0-1 tahun) - Trust >< Mistrust Periode ini dianggap sebagai stadium kepercayaan dasar lawan ketidakpercayaan dasar. Tahap ini merupakan tahap pengembangan rasa percaya diri. Fokus terletak pada panca indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.

Pada usia 3 minggu bayi mencontoh-contoh pergerakan wajah dari pengasuh dewasanya. Bayi membuka mulut dan menjulurkan lidahnya ke luar sebagai respon orang dewasa yang melakukan hal yang sama. Pada bulan ketiga dan keempat kehidupannya, perilaku tersebut mudah untuk ditimbulkan. Perilaku meniru dianggap sebagai prekursor dari kehidupan emosional pada seorang bayi. Respon tersenyum terjadi dalam dua fase: fase pertama adalah senyum endogen yang terjadi spontan dalam dua bulan pertama dan tidak berhubungan dengan stimulasi eksternal; fase kedua adalah senyum eksogen yang terstimulasi dari luar, biasanya oleh ibu pada

minggu ke-16. Perilaku bayi terus-menerus berkembang sebagai akibat dari respon sosial pengasuhnya terhadap perilakunya sendiri. Pada tahun pertama, mood bayi sangat bervariasi dan berhubungan erat dengan keadaan internal, seperti rasa lapar. Pada masa ini bayi mengembangkan suatu perasaan kepercayaan dasar dimana keinginan mereka akan dipuaskan secara sering atau perasaan bahwa mereka akan kehilangna sebagian besar yang mereka inginkan. Selama enam bulan kedua, cara sosial yang dominan berpindah dari mendapatkan ke mengambil, dimanifestasikan secara oral dengan

menggigit. Perpisahan yang lama dengan ibu pada waktu itu dapat menyebabkan depresi, hospitalisme, depresi anaklitik, atau tonus depresi yang menjadi bagian dari struktur karakter dewasa seseorang.

b. Masa Belajar Berjalan (2-3 tahun) - Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu Stadium ini merupakan stadium otonomi melawan rasa malu dan keraguan diri. Tantangan mereka pada masa ini adalah untuk menjadi terpisah dan individual. Mereka belajar untuk berjalan, makan sendiri, mengontrol sfingter anal, dan untuk berbicara.

Dalam tahun kedua, afek rasa senang dan tidak senang menjadi terdiferensiasi lebih lanjut. Ditemukan eksplorasi yang menggembirakan, rasa senang yang dinyatakan, rasa dalam menemukan dan mengembangkan perilaku baru, menggoda dan mengejutkan atau mengolok-olok orang tuanya, mempunyai kemampuan menunjukkan rasa cinta yang terorganisir (seperti berlari, merangkul, tersenyum, mencium orang tuanya dalam waktu yang sama), serta menunjukkan protes. Rasa senang terhadap keluarga, ketakutan pada orang asing, dan kecemasan yang berhubungan dengan kemarahan dan kehilangan pengasuh yang dicintai dapat bertambah pada masa ini.

c. Periode Prasekolah (3-5 tahun) - Inisiatif >< Rasa Bersalah

Stadium ini merupakan stadium inisiatif lawan bersalah. Pada usia 3 tahun anak akan belajar menjadi instruktif, mereka meraih dengan hasrat dan keingintahuan sehingga anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi. Ekspresi minat bergairah terhadap orang tua dengan jenis kelamin yang berlawanan akan terlihat. Dalam stadium ini pula anak akan mengalami kekecewaan dan sering kali mencoba untuk berebutan tempat bagi dirinya sendiri untuk kasih sayang orang tuanya.

d. Tahun-tahun Pertengahan (usia 6-11 tahun) - Industri/Rajin >< Inferioriti Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian. Pada masa ini pula interaksi dengan teman sebaya mempunyai kepentingan yang sangat besar. Hubungan yang khusus terdapat dengan orang tua yang berjenis kelamin sama, dengan siapa anak beridentifikasi dan siapa yang sekarang merupakan model peran. Anak menjadi yakin akan kemampuannya untuk menggunakan barang-barang dewasa selama periode latensi, dimana mereka menunggu, mempelajari, dan mempraktikkan untuk menjadi pemberi nafkah.

Perkembangan Anak Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita, karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini kemampuan berbahasa, kreativitas, sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk pada masa ini.

Empat parameter yang dipakai dalam menilai perkembangan anak adalah: 1. Gerakan motorik kasar (pergerakan dan sikap tubuh). 2. Gerakan motorik halus (menggambar, memegang suatu benda dll). 3. Bahasa (kemampuan merespon suara, mengikuti perintah, berbicara spontan). 4. Kepribadian/tingkah laku (bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya).

Stimulasi dalam tumbuh kembang anak Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif (pendengaran), taktil (sentuhan) dll dapat mengoptimalkan perkembangan anak. Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Pada tahap perkembangan awal anak berada pada tahap sensori motorik. Pemberian stimulasi visual pada ranjang bayi akan meningkatkan perhatian anak terhadap lingkungannya, bayi akan gembira dengan tertawa-tawa dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi bila rangsangan itu terlalu banyak, reaksi dapat sebaliknya yaitu perhatian anak akan berkurang dan anak akan menangis. Pada tahun-tahun pertama anak belajar mendengarkan. Stimulus verbal pada periode tahun pertama sangat penting untuk perkembangan bahasa anak. Kualitas dan kuantitas vokal seorang anak dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar menirukan kata-kata yang didengarnya. Tetapi bila simulasi auditif terlalu banyak (lingkungan ribut)

anak akan mengalami kesukaran dalam membedakan berbagai macam suara. Stimulasi visual dan verbal pada permulaan perkembangan anak merupakan stimulasi awal yang penting, karena dapat menimbulkan sifatsifat ekspresif misalnya mengangkat alis, membuka mulut dan mata seperti ekspresi keheranan, dll. Selain itu anak juga memerlukan stimulasi taktil, kurangnya stimulasi taktil dapat menimbulkan penyimpangan perilaku sosial, emosional dan motorik. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan anak, misalnya dengan bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dll.. Stimulasi ini akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak, sehingga anak akan lebih responsif terhadap lingkungannya dan lebih berkembang. Pada anak yang lebih besar yang sudah mampu berjalan dan berbicara, akan senang melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap lingkungannya. Motif ini dapat diperkuat atau diperlemah oleh

lingkungannya melalui sejumlah reaksi yang diberikan terhadap perilaku anak tersebut. Misalnya anak akan belajar untuk mengetahui perilaku mana yang membuat ibu senang/mendapat pujian dari ibu, dan perilaku mana yang mendapat marah dari ibu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang responsive akan memperlihatkan perilaku eksploratif yang tinggi. Stimulasi verbal juga dibutuhkan pada tahap perkembangan ini. Dengan penguasaan bahasa, anak akan mengembangkan ide-idenya melalui pertanyaan-pertanyaan, yang selanjutnya akan mempengaruhi

perkembangan kognitifnya (kecerdasan). Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, perhatian mulai teralih ke teman sebayanya. Akan sangat menguntungkan apabila anak mempunyai banyak kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui sosialisasi anak akan memperoleh lebih banyak stimulasi sosial yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak.

Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program untuk anakanak prasekolah yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan edukatif). APE adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk pengembangan aspek fisik (kegiatan-kegiatan yang menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak), aspek bahasa (dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar), aspek kecerdasan (dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna dll.), dan aspek sosial (khususnya dalam hubungannya dengan interaksi antara ibu dan anak, keluarga, dan masyarakat). Bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah makanan yang penting untuk perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi anak tidak sekedar mengisi waktu luang saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan otot-ototnya, melibatkan persaan, emosi, dan

pikirannya. Sehingga dengan bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup, selain itu bila dikakukan bersama orang tuanya hubungan orang tua dan anak menjadi semakin akrab dan orang tua juga akan segera mengetahui kalau terdapat gangguan perkembangan anak secara dini. Buku bacaan anak juga penting karena akan menambah kemampuan berbahasa,

berkomunikasi, serta menambah wawasan terhadap lingkungannya.

Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain, latihan-latihan atau olah raga. Anak perlu diperkenalkan dengan olah raga sedini mungkin, misalnya melempar/menangkap bola, melompat, main tali, naik sepeda dll).

Di bawah ini ada beberapa contoh alat permainan balita dan perkembangan yang distimuli:

1. Pertumbuhan fisik/motorik kasar: Sepeda roda tiga/dua, bola, mainan yang ditarik atau didorong 2. Motorik halus: Gunting, pensil, bola, balok, lilin. 3. Kecerdasan/kognitif: Buku bergambar, buku cerita, puzzle, lego, boneka, pensil warna, radio. 4. Bahasa: Buku bergambar, buku cerita, majalah, radio tape, TV 5. Menolong diri sendiri: Gelas/piring plastik, sendok, baju, sepatu, kaos kaki 6. Tingkah laku social:Alat permainan yang dapat dipakai bersama, misalnya congklak, kotak pasir, bola, tali.

Perkembangan Perilaku Normal Motorik Umur 1 bulan Motor Behavior Adaptive

Kepala merebah, tonic neck reflex, Melihat sekitarnya, tracking tangan mengepal. eye movement ada tapi

terbatas. 4 bulan Kepala tak merebah lagi, letak Tracking eye movement baik, simetris, tangan terbuka. menggenggam benda yang diberikan padanya. 7 bulan Duduk dengan sokongan kedua Memindahkan kubus dari

tangan, memegang kubus, melihat satu tangan ke tangan yang dan menyentuh kancing. 10 bulan Duduk tanpa sokongan lain. tangan, Bermain dengan 2 kubus, yang satu disentuhkan

merangkak hingga berdiri.

dengan yang lain 1 tahun Berjalan dengan bantuan, duduk Memindahkan bersila. Mengetahui arti kancing, kedalam cangkir. memasukan dan mengambilnya dari botol. 1 6/12 Berjalan tanpa jatuh. Duduk sendiri Mengeluarkan kancing dari kubus

bulan

di kursi kecil. Menyusun tumpukan botol. dengan 3 kubus. Meniru coretan garis lurus.

2 tahun

Berlari. Menyusun tumpukan dari 6 kubus.

Meniru lingkaran. Membuat

coretan

garis

3 tahun

Berdiri dengan 1 kaki tanpa jatuh. Membuat kubus. tumpukan dari

jembatan

10 dengan 3 kubus. Meniru gambar silang. Membuat dengan pintu 5 gerbang kubus.

4 tahun

Berjinjit.

Menggambar orang. 5 tahun Berjinjit dengan kaki bergantian. Dapat menghitung 10 sen.

Perkembangan Sosial Umur 0-1 bulan Status Interaksi Sosial Belum ada Tindakan Menangis & Diam, dipengaruhi oleh stimuli eksternal Dapat melihat wajah orang. 2-4 bulan Awal reaksi social Tertawa dan tersenyum bila melihat wajah orang. Bermain dengan tangan dan pakaian, mengenal botol dan bersiap-siap untuk makan. 5-6 bulan Kontak sosial aktif Minta perhatian ortu dengan membuat suara atau menyentuh ortu. 8-12 bulan Perkembangan aktif sosial Membedakan wajah marah & tidak dengan memalingkan muka.

Membedakan suara. Bertindak ramah pada orang yang

dikenal, dan malu pada orang yang belum dikenal. 1-2 tahun Penyempurnaan aktif sosial Anak mencari mengharapkan ada teman bermain, mencari teman sebaya. Memberikan mainan bila diminta. 2-4 tahun Masa membangkang Anak berulang-ulang mengatakan saya mau dan akan marah bila tidak terpenuhi. Sudah mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh ortunya. 5-6 tahun Masa adaptasi Anak mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan, krn pd masa ini terdapat perkembangan kesadaran kewajiban dan pekerjaan. > 6 tahun Masa berpikir dan emosi Anak mulai malas bekerja (harus

dirangsang). Anak mulai tahu membenci dan menyanyangi orang lain, serta menilai sikap lingkungan terhadapnya. > 9 tahun Masa mandiri Anak sedikit mulai menetang pimpinan dan mencari jalannya sendiri.

Perkembangan Bahasa USIA DAN STADIUM PERKEMBANGAN 0-6 bulan - Menunjukkan respon terkejut terhadap suara yang keras atau tiba-tiba. - Berusaha melokalisasi suara, memalingkan mata atau kepala. - Memiliki vokalisasi selain menangis - Memiliki tangisan yang berbeda untuk PENGUASAAN PEMAHAMAN PENGUASAAN EKSPRESI

- Tampak mendengarkan pada pembicara, mungkin berespon dengan senyuman. - Berespon saat mendengar namanya sendiri.

rasa lapar, rasa sakit. - Membuat vokalisasi untuk menunjukkan kesenangan. - Bermain dengan membuat suarasuara. - Berceloteh (mengulangi urutan suara).

7-11 bulan Masuk bahasa stadium

- Menunjukkan selektivitas mendengar (mengendalikan secara disadari). - Mendengarkan musik atau bernyanyi dengan senang. - Mengenali jangan, panas, namanya sendiri. - Melihat gambar yang disebutkan namanya sampai satu menit. - Mendengarkan pembicaraan tanpa terganggu oleh suara lain.

- Berespon terhadap namanya sendiri dengan vokalisasi. - Meniru melodi ungkapan. - Mengguanakan logat sendiri (bahasa sendiri) - Memiliki gerak isyarat (menggelengkan kepala untuk tidak). - Memilki seruan (oh-oh) - Bermain permainan kata (menepuk kue, sembunyisembunyian)

12-18 bulan Stadium satu kata

- Menunjukkan perbedaan kasar antara suara yang tidak sama (suara lonceng lawan anjing lawan terompet lawan suara ayah atau ibu). - Mengerti bagian tubuh dasar, nama benda-benda yang sering. - Mendapatkan pengertian beberapa kata baru tiap minggunya. - Dapat mengidentifikasi benda sederhana (bayi, bola, dll). - Mengerti sampai 150 kata pada usia 18 bulan

- Menggunakan kata tunggal (rata-rata usia timbulnya kata pertama adalah 11 bulan; pada usia 18 bulan, anak menggunakan sampai 20 kata). - Berbicara dengan mainan, diri sendiri, atau orang lain, dengan mengguanakan pola logat sendiri yang panjang dan kadang-kadang dengan kata-kata. - Kira-kira 25% ungkapan adalah dapat dimengerti. - Semua huruf hidup diucapkan secara tepat. - Konsonan awal dan akhir sering kali dilewatkan.

12-24 bulan Stadium pesan kata dua kata

- Berespon terhadap petunjuk sederhana (Berikan bola itu). - Berespon terhadap perinyah bertindak (Ke sini, Duduk) - Mulai mengerti kalimat

- Menggunakan ungkapan dua kata (Mama gendong, semua pergi, bola ke sini)

kompleks (Kalau kita pergi ke toko, saya akan berikan kamu permen)

- Meniru suara lingkungan dalam bermain (moo, rrmm, rrmm, dll.) - Menyebut dirinya sendiri dengan nama, mulai menggunakan kata ganti. - Meniru dua atau lebih kata terakhir dari suatu kalimat. - Mulai menggunakan ungkapan telegrafik tiga kata (semua bola pergi, saya pergi sekarang) - Ungkapan 26% dan 50% dapat dimengerti. - Menggunakan bahasa untuk meminta.

24-36 bulan Stadium Pembentukan Bahasa

- Mengerti bagian tubuh yang kecil (siku, pipi, kelopak mata). Tata - Mengerti kategori nama keluarga (nenek, bayi). - Mengerti ukuran (yang kecil, yang besar). - Mengerti sebagian besar kata

- Menggunakan kalimat yang nyata dengan kata-kata berfungsi secara tata bahasa (dapat, akan, sebuah). - Biasanya

sifat. - Mengerti fungsi (mengapa kita perlu makan, mengapa kita perlu tidur).

memberikan maksud sebelum bertindak. - Bercakap-cakap dengan anak lain, biasanya hanya monolog. - Logat sendiri dan okolalia secara bertahap menghilang dari pembicaraan. - Perbendaharaan kata bertambah (sampai 270 kata pada usia 2 tahun, 895 kata pada usia 3 tahun) termasuk ucapan populer (slang). - P, b, m diartikulasikan secara benar. - Berbicara mungkin menunjukkan gangguan irama

B. Gangguan Autistik

Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan pervasif (gangguan yang luas) yang ditandai dengan munculnya gejala sebelum tiga tahun dan memiliki ciri kelainan pada 3 bidang yaitu: 1. Interaksi sosial 2. Komunikasi 3. Perilaku yang terbatas dan berulang Diagnosis ini bisa saja meliputi pasien yang memiliki IQ rendah hinggi tinggi, sifatnya bisa pendiam atau sebaliknya, mudah sekali terbawa suasana atau sebaliknya pasif, dan sifatnya bisa terorganisisr maupun sebaliknya.

Epidemiologi Menurut Penelitian dari Jepang, dari 21610 anak, 1.3 kasus per 1000 anak mengalami autisme.

Autis berdasarkan munculnya gangguan dibagi menjadi 2 yaitu:


Autis yang terjadi sejak bayi, biasanya terdeteksi sejak usia 6 bulan Autis Regresif,biasanya untuk anak usia 1,5-2 tahun, ditandai dengan kemunduran kembali (regresi). Kemampuan yang diperoleh menjadi hilang. Kontak mata yang tadinya sudah bagus menjadi lenyap. JIka awalnya sudah bisa mengucapkan beberapa kata, kemampuan bersuaranya jadi hilang. Autisme ditandai oleh ciri-ciri utama, antara lain :

Tidak peduli dengan lingkungan sosialnya Tidak bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya. Perkembangan Bicara dan bahasa tidak normal (penyakit kelainan mental pada anak=autistic-children)

Reaksi / pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau berulang-ulang dan tidak padan.

Gejala-gejala ini bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur, inteligensia, pengaruh pengobatan, dan beberapa kebiasaan pribadi lainnya. Kurangnya orientasi lingkungan dan kepedulian terhadap sekitar disebabkan karena rendahnya daya ingat anak meskipun terhadap kejadian yang baru.Kebanyakan inteligensia anak autisme rendah, sekitar 20%

mempunyai IQ>70, 60 % mempunyai IQ <50, sedang 20%nya lagi mempunyai IQ antara 50-70. Anak autis juga kurang mempunyai kemampuan khusus seperti membaca, berhitung, menggambar, atau melihat jalanan yang berliku-liku. Anak autis kurang bisa bergaul atau kurang bisa mengimbangi anak sebayanya akan tetapi tidak sampai seperti anak down syndrom yang idiot atau anak yang gerakan ototnya kaku, pada anak dengan kelainan jaringan otak. Penyebab terjadinya Autisme belum diketahui secara pasti, hanya diperkirakan mungkin adanya kelainan dari sitem syaraf (neurologi) dalam berbagai derajat berat ringannya penyakit. Dari konsesus para ahli mengakui bahwa Autisme diakibatkan terjadinya kelainan fungsi luhur di daerah otak. Kelainan ini bisa disebabkan berbagai macam trauma seperti: 1. Sewaktu bayi dalam kandungan, Misalnya karena keadaan keracunan kehamilan (toxemia gravidarum), Infeksi virus rubella, virus cytomegalo dll. 2. Kejadian segera setelah lahir (perinatal) seperti kekurangan oksigen (anoksia) 3. Keadaan selama kehamilan seperti pembentukan otak kecil, misalnya vermis otak kecil yang lebih kecil (mikrosepali) atyau terjadinya pengerutan jaringan ortak (tuber sklerosis) 4. Mungkin karena kelainan metabolisme seperti pada penyakit Addison, ( karena infeksi tuberkulosa, dimana terjadi bertambahnya pigment tubuh dan kemunduran mental)

5. Mungkin karena kelainan chromosom seperti syndrome chromosoma X yang fragil dan sydrome chromosom XYY. 6. Mungkin faktor lain. Kriteria diagnostik Secara detail, menurut DSM IV ( 1995), kriteria gangguan autistik adalah sebagai berikut : A. Harus ada total 6 gejala dari (1),(2) dan (3), dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari ( 2 ) dan (3) : 4. Kelemahan kwalitatif dalam interaksi sosial, yang termanifestasi dalam sedikitnya 2 dari beberapa gejala berikut ini : e. Kelemahan dalam penggunaan perilaku nonverbal, sepertikontak mata, ekspresi wajah, sikap tubuh, gerak tangan dalam interaksi sosial. f. Kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan tingkat perkembangannya. g. Kurangnya kemampuan untuk berbagi perasaan dan empati dengan orang lain. h. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik. 5. Kelemahan kualitatif dalam bidang komunikasi. Minimal harus ada 1 dari gejala berikut ini: e. Perkembangan bahasa lisan ( bicara) terlambat atau sama sekali tidak berkembang dan anak tidak mencari jalan untuk berkomunikasi secara non verbal. f. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak digunakan untuk berkomunikasi g. Sering menggunakan bahasa yang aneh, stereotype dan berulangulang. h. Kurang mampu bermain imajinatif ( make believe play ) atau permainan imitasi sosial lainnya sesuai dengan taraf

perkembangannya.

6. Pola perilaku serta minat dan kegiatan yang terbatas, berulang. Minimal harus ada 1dari gejala berikut ini : e. Preokupasi terhadap satu atau lebih kegiatan dengan focus dan intensitas yang abnormal/ berlebihan. f. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas g. Gerakan-gerakan fisik yang aneh dan berulang-ulang seperti

menggerak-gerakkan tangan, bertepuk tangan, menggerakkan tubuh. h. Sikap tertarik yang sangat kuat/ preokupasi dengan bagian-bagian tertentu dari obyek. B. Keterlambatan atau abnormalitas muncul sebelum usia 3 tahun minimal pada salah satu bidang (1) interaksi sosial, (2) kemampuan bahasa dan komunikasi, (3) cara bermain simbolik dan imajinatif. C. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Anak

Daftar Pustaka

Sugiarmin, M. (2005). Individu dengan Gangguan Autisme. PLB UPI Maslim, Rusdi (2001) Diagnosis gangguan Jiwa Rujukan ringkas dari PPDGJ III. Jakarta : PT Nuh jaya Kaplan, sadock (2010) Sinopsis Psikiatri jilid 2 : Gangguan Perkembangan Pervasif.