Anda di halaman 1dari 32

Artikel Sejarah Perkembangan Kaligrafi Di Indonesia D I S U S U N Oleh : M.

naufal zulfikar Kelas : IX1 ( nine


one

2012 - 2013
1. Sejarah Perkembangan Kaligrafi di Dunia Islam
Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya bangsa Mesir dengan tulisan Hierogliph, bangsa India dengan Devanagari, bangsa Jepang dengan aksara Kaminomoji, bangsa Indian dengan Azteka, bangsa Assiria dengan Fonogram/Tulisan Paku, dan pelbagai negeri lain sudah terlebih dahulu memiliki jenis huruf/aksara. Keadaan ini dapat dipahami mengingat Bangsa Arab adalah bangsa yang hidupnya nomaden(berpindah-pindah) yang tidak mementingkan keberadaan sebuah tulisan, sehingga tradisi lisan (komuniksai dari mulut kemulut) lebih mereka sukai, bahkan beberapa diantara mereka tampak anti huruf. Tulisan baru dikenal pemakaiannya pada masa menjelang kedatangan Islam dengan ditandai pemajangan al-Mualaqat (syairsyairmasterpiece yang ditempel di dinding Kabah). Pembentukan huruf abjad Arab sehingga menjadi dikenal pada masa-masa awal Islam memakan waktu berabad-abad. Inskripsi Arab Utara bertarikh 250 M, 328 M dan 512 M menunjukkan kenyataan tersebut. Dari inskripsi-inskripsi yang ada, dapat ditelusuri bahwa huruf Arab berasal dari huruf Nabati yaitu huruf orang-orang Arab Utara yang masih dalam rumpun Smith yang terutama hanya menampilkan huruf-huruf mati. Dari masyarakat Arab Utara yang mendiami Hirah dan Anbar tulisan tersebut berkembang pemakaiannya ke wilayah-wilayah selatan Jazirah Arab. Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Umayyah (661-750 M) Beberapa ragam kaligrafi awalnya dikembangkan berdasarkan nama kota tempat dikembangkannya tulisan. Dari berbagai karakter tulisan hanya ada tiga gaya utama yang berhubungan dengan tulisan yang dikenal di Makkah dan Madinah yaituMudawwar (bundar), Mutsallats (segitiga), dan Tiim (kembar yang tersusun dari segitiga dan bundar). Dari tiga inipun hanya dua yang diutamakan yaitu gaya kursif dan mudah ditulis yang disebut gaya Muqawwar berciri lembut, lentur dan gayaMabsut berciri kaku dan terdiri goresan-goresan tebal (rectilinear). Dua gaya inipun menyebabkan timbulnya pembentukan sejumlah gaya lain lagi diantaranya Mail(miring), Masyq (membesar) dan Naskh (inskriptif). Gaya Masyq dan Naskh terus berkembang, sedangkan Mail lambat laun ditinggalkan karena kalah oleh perkembangan Kufi. Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut huruf-huruf
2

maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya Kufi Murabba (luruslurus), Muwarraq (berdekorasi daun), Mudhaffar (dianyam), Mutarabith Muaqqad (terlilit berkaitan) dan lainnya. Demikian pula gaya kursif mengalami perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan gaya Kufi, baik dalam hal keragaman gaya baru maupun penggunannya, dalam hal ini penyalinan al-Quran, kitab-kitab agama, surat-menyurat dan lainnya. Diantara kaligrafer Bani Umayyah yang termasyhur mengembangkan tulisan kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat tulisan yaitu Thumar, Jalil, Nisf, dan Tsuluts. Keempat tulisan ini saling melengkapi antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih sempurna. Tulisan Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar pada tumar-tumar (lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang tidak terpotong. Tulisan ini digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah kepada amir-amir dan penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring digunakan oleh masyarakat luas. Sejarah perkembangan periode ini tidak begitu banyak terungkap oleh karena khilafah pelanjutnya yaitu Bani Abbasiyah telah menghancurkan sebagian besar peninggalanpeninggalannya demi kepentingan politis. Hanya ada beberapa contoh tulisan yang tersisa seperti prasasti pembangunan Dam yang dibangun Muawiyah, tulisan di Qubbah Ash-Shakhrah, inskripsi tulisan Kufi pada sebuah kolam yang dibangun Khalifah Hisyam dan lain-lain. Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Abbasiyah (750-1258 M) Gaya dan teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini semakin banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak ibn Ajlan yang hidup pada masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M), dan Ishaq ibn Muhammad pada masa Khalifah al-Manshur (754-775 M) dan al-Mahdi (775-786 M). Ishaq memberi kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan mempopulerkan pemakaiannya. Kemudian kaligrafer lain yaitu Abu Yusuf as-Sijzi yang belajar Jalil kepada Ishaq. Yusuf berhasil menciptakan huruf yang lebih halus dari sebelumnya. Adapun kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah yang pada masa mudanya belajar kaligrafi kepada Al-Ahwal al-Muharrir. Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang spektakuler tentang rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu : titik, huruf alif, dan lingkaran. Menurutnya setiap huruf harus dibuat berdasarkan ketentuan ini dan disebut al-Khat al-Mansub (tulisan yang berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa, dan Tauqi yang merupakan tulisan kursif. Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi. Usaha Ibnu Muqlah pun dilanjutkan oleh murid-muridnya yang terkenal diantaranya Muhammad ibn As-Simsimani dan Muhammad ibn Asad. Dari dua muridnya ini kemudian lahir kaligrafer bernama Ibnu Bawwab. Ibnu Bawwab mengembangkan lagi rumus yang sudah dirintis oleh Ibnu Muqlah yang dikenal dengan Al-Mansub AlFaiq (huruf bersandar yang indah). Ia mempunyai perhatian besar terhadap perbaikan

khat Naskhi dan Muhaqqaq secara radikal. Namun karya-karyanya hanya sedikit yang tersisa hingga sekarang yaitu sebuah al-Quran dan fragmen duniawi saja. Pada masa berikutnya muncul Yaqut al-Mustasimi yang memperkenalkan metode baru dalam penulisan kaligrafi secara lebih lembut dan halus lagi terhadap enam gaya pokok yang masyhur itu. Yaqut adalah kaligrafer besar di masa akhir Daulah Abbasiyah hingga runtuhnya dinasti ini pada tahun 1258 M karena serbuan tentara Mongol. Pemakaian kaligrafi pada masa Daulah Abbasiyah menunjukkan keberagaman yang sangat nyata, jauh bila dibandingkan dengan masa Umayyah. Para kaligrafer Daulah Abbasiyah sangat ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang tengah berkembang. Karya-karya kaligrafi lebih dominan dipakai sebagai ornamen dan arsitektur oleh Bani Abbasiyah daripada Bani Umayyah yang hanya mendominasi unsur ornamen floral dan geometrik yang mendapat pengaruh kebudayaan Hellenisme dan Sasania. Perkembangan Kaligrafi Periode Lanjut Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat dari negeri Islam (alMaghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya kaligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif. Sementara bagi kawasan Masyriq, setelah kehancuran Daulah Abbasiyah oleh tentara Mongol dibawah Jengis Khan dan puteranya Hulagu Khan, perkembangan kaligrafi dapat segera bangkit kembali tidak kurang dari setengah abad. Oleh Ghazan cucu Hulagu Khan yang telah memeluk agama Islam, tradisi kesenian pun dibangun kembali. Penggantinya yaitu Uljaytu juga meneruskan usaha Ghazan, ia memberikan dorongan kepada kaum terpelajar dan seniman untuk berkarya. Seni kaligrafi dan hiasan alQuran pun mencapai puncaknya. Dinasti ini memiliki beberapa kaligrafer yang dibimbing Yaqut seperti Ahmad al-Suhrawardi yang menyalin al-Quran dalam gaya Muhaqqaq tahun 1304, Mubarak Shah al-Qutb, Sayyid Haydar, Mubarak Shah al-Suyufi dan lain-lain. Dinasti Il-Khan yang bertahan sampai akhir abad ke-14 digantikan oleh Dinasti Timuriyah yang didirikan Timur Leng. Meskipun dikenal sebagai pembinasa besar, namun setelah ia masuk Islam kaum terpelajar dan seniman mendapat perhatian yang istimewa. Ia mempunyai perhatian besar terhadap kaligrafi dan memerintahkan penyalinan al-Quran. Hal ini dilanjutkan oleh puteranya Shah Rukh. Diantara ahli kaligrafi pada masa ini adalah Muhammad al-TughraI yang menyalin al-Quran bertarih 1408 daam gaya Muhaqqaq emas. Dan putera Shah Rukh sendiri yang bernama Ibrahim Sulthan menjadi salah seorang kaligrafer terkemuka. Dinasti Timuriyah mengalami kemunduran menjelang abad ke-15 dan segera digantikan oleh Dinasti Safawiyah yang bertahan di Persia dan Irak sampai tahun 1736. pendirinya Shah Ismail dan penggantinya Shah Tahmasp mendorong perumusan dan pengembangan gaya kaligrafi baru yang disebut Taliq yang sekarang dikenal khat Farisi. Gaya baru yang dikembangkan dari Taliq adalah Nastaliq yang mendapat pengaruh dari Naskhi. Tulisan Nastaliq ahkirnya menggeser Naskhi dan menjadi tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin sastra Persia.
4

Di Kawasan India dan Afganistan berkembang kaligrafi yang lebih bernuansa tradisional. Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal memanjang yang kontras dengan garis vertikalnya yang ramping. Sedangkan di kawasan Cina memperlihatkan corak yang khas lagi, dipengaruhi tarikan kuas penulisan huruf Cina yang lazim disebut gaya Shini. Gaya ini mendapat pengaruh dari tulisan yang berkembang di India dan Afganistan. Tulisan Shini biasa ditorehkan di keramik dan tembikar. Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Arab diperintah oeh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Turki. Perkembangan kaligrafi sejak masa dinasti ini hingga perkembangan terakhirnya selalu terkait dengan dinasti Utsmaniyah Turki. Perkembangan kaligrafi pada masa Utsmaniyah ini memperlihatkan gairah yang luar biasa. Kecintaan kaligrafi tidak hanya pada kalangan terpelajar dan seniman tetapi juga beberapa sultan bahkan dikenal juga sebagai kaligrafer. Mereka tidak segan-segan untuk merekrut ahli-ahli dari negeri musuh seperti Persia, maka gaya Farisi pun dikembangkan oleh dinasti ini. Adapun kaligrafer yang dipandang sebagai kaligrafer besar pada masa dinasti ini adalah Syaikh Hamdullah al-Amasi yang melahirkan beberapa murid, salah satunya adalah Hafidz Usman. Perkembangan kaligrafi Turki sejak awal pemerintahan Utsmaniyah melahirkan sejumlah gaya baru yang luar biasa indahnya, berpatokan dengan gaya kaligrafi yang dikembangkan di Baghdad jauh sebelumnya. Yang paling penting adalah Syikastah, Syikastah-amiz, Diwani, dan Diwani Jali. Syikastah (bentuk patah) adalah gaya yang dikembangkan dari Taliq an Nastaliq awal. Gaya ini biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan praktis. Gaya Diwani pun pada mulanya adalah penggayaan dari Taliq. Tulisan ini dikembangkan pada akhir abad ke-15 oleh Ibrahim Munif, yang kemudian disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah. Gaya ini benar-benar kursif, dengan garis yang dominan melengkung dan bersusun-susun. Diwani kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan gaya baru yang lebih monumental disebut Diwani Jali, yang juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan). Gaya ini sepenuhnya dikembangkan oleh Hafidz Usman dan para muridnya.

2. Bahasa dan Script Arab


Bahasa Arab termasuk dalam kelompok script abjad Semit di mana terutama konsonan yang diwakili secara tertulis, sedangkan tanda vokal (menggunakan diacritics) adalah opsional. Alfabet awal-yang dikenal manusia adalah Semit Utara, yang dikembangkan sekitar tahun 1700 SM di Palestina dan Suriah. Ini terdiri dari 22 huruf konsonan. Bahasa Arab, Ibrani, dan huruf Fenisia didasarkan pada model ini. Kemudian, sekitar 1000 SM, huruf Fenisia itu sendiri digunakan sebagai model oleh orang Yunani, yang menambahkan huruf untuk vokal. Yunani pada gilirannya menjadi model untuk Etruscan (c. 800 SM), dari mana datang huruf dari alfabet Romawi kuno, dan akhirnya semua alfabetBarat. Script Utara Arab, yang akhirnya menang dan menjadi tulisan Arab Al-Quran, yang paling substansial dan berhubungan langsung ke script Nabatian, yang berasal dari naskah bahasa Aram. Aramik Lama, bahasa Yesus dan para Rasul, berasal dari 2 milenium SM, dan beberapa dialek yang diucapkan masih oleh kelompok-kelompok kecil di Timur Tengah. Tulisan Arab masih sama dengan bahasa Aram nama-nama huruf alfabet (Alef, Jeem, Dal, Zai, Sheen, dll); representasi grafis yang sama untuk huruf fonetis yang sama (Sad dan Dad, Ta dan Tha, dll); koneksi surat dalam kata yang sama dan beberapa bentuk setiap huruf tergantung pada lokasi di kata, kecuali untuk surat-surat yang tidak dapat terhubung ke surat-surat yang datang sesudah mereka (Alef, Dal / Dthal, Raa / Zai, Waw). Huruf Arab berisi 18 bentuk huruf, dengan menambahkan satu, dua, atau tiga titik untuk huruf fonetik mirip dengan karakteristik total 28 huruf adalah diperoleh. Ini mengandung tiga vokal panjang, sementara diacritics dapat ditambahkan untuk menunjukkan vokal pendek. Dengan penyebaran Islam, huruf Arab diadaptasi oleh beberapa negara non-Arab untuk penulisan bahasa mereka sendiri. Dalam surat Iran Arab digunakan untuk menulis Persia, dengan penambahan empat huruf untuk mewakili fonetik yang tidak ada dalam bahasa Arab: p, ch, zh, dan g.

Turki Utsmani menggunakan huruf Arab hingga tahun 1929 dan menambahkan masih surat lain. Alfabet ini juga digunakan untuk menulis bahasa Turki lainnya dan dialek, seperti Kazakhstan, Uzbekistan, dll Beberapa bahasa lain digunakan huruf Arab pada satu waktu atau yang lain, termasuk bahasa Urdu, Melayu, Swahili, Hausa, Aljazair Suku, dan lain-lain. Dari contoh sederhana dan primitif awal abad 5 dan 6, huruf Arab berkembang pesat setelah munculnya Islam di abad ke-7 menjadi bentuk seni yang indah. Dua utama keluarga gaya kaligrafi adalah gaya kering, umumnya disebut Kufic, dan gaya kursif yang lembut, yang meliputi Naskhi, Thuluth, Nastaliq dan banyak lainnya.

3. Definisi Kaligrafi

Kata kaligrafi berasal dari bahasa Yunani. (kallos) berarti indah dan (graph) yang artinya tulisan. Menurut wikipedia, kaligrafi adalah seni menulis indah dengan pena sebagai hiasan. Artinya, kaligrafi merupakan tulisan indah yang dihasilkan oleh tangan. Kaligrafi dalam bahasa kita sering diasosiasikan terhadap tulisan Arab. Padahal tidak. Semua tulisan tangan yang indah bisa disebut dengan kaligrafi. Mungkin karena bahasa indonesia yang tidak mempunyai keaksaraan yang kuat, sehingga tulisan indah dalam bahasa Indonesia hampir tidak ada (tulisan memang ada, tetapi tidak mementingkan unsur keindahan aksara). Semenjak ditemukan kertas sebagai media, kaligrafi berkembang pesat. Di Tiongkok misalnya, budaya menulis kaligrafi menjadi sebagai ciri khas para terpelajar. Begitu juga di Jepang dan Eropa. Kaligrafi mengiringi kecermelangan ilmu pengetahuan saat itu. Dengan bermodalkan sebuah kwas dan tinta, para sarjana di Tiongkok menorehkan puisi ke selembar kertas. Catatancatatan penting di zaman Renaissance juga ditorehkan di dalam sebuah buku. Sayangnya, perkembangan tulis menulis kemudian bergeser. Sejak memasuki era digital dengan diperkenalkannya sistem operasi komputer seolah-olah kaligrafi sudah menjadi barang jadul nan usang. Ukuran huruf yang indah dengan komposisi yang sempurna bisa ditorehkan oleh sebuah software. Kemudian hasil out put-nya dicetak menggunakan printer.

4. Jenis Huruf Kaligrafi


Dalam istilah kaligrafi ada yang dikenal dengan Khat. Seni khat ialah satu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, penyusunannya dan cara-cara merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Khat merupakan seni tulisan indah yang mempunyai nilai-nilai kehalusan dan kesenian. Nilainya tinggi kerana ianya mudah dirobah mengikut penulisan, bahkan tulisannya seolah-olah mempunyai irama. Ia juga disandarkan pada subjek-subjek yang berkaitan dengan agama dan digunakan untuk menulis ayat-ayat suci dan kata-kata bijak pandai (hukama').

Seni khat berkembang dengan perkembangan seni ukiran dan kadang-kadang keduadua bidang seni ini tidak boleh dipisahkan antara satu sama lain.Ia juga menjadi coretan tulisan indah daripada kehalusan rasa seni dan ketajaman daya pemikiran manusia yang mencipta seni tulisan sebagai lambang kepada perkataan yang dituturkan. Perbedaannya dengan huruf-huruf lain adalah dari segi keindahannya, mudah dirubah, disandarkan kepada perkara yang berkaitan dengan agama dan digunakan untuk menulis ayat-ayat suci.

Kepentingan Seni Khat : Ia mempunyai kaitan dengan peningkatan tahap tamadun itu sendiri. Sebab itu ia merupakan hasil aktiviti masyarakat maju dan bertamadun. Salah satu maksud dalam saranan Nabi Muhamad s.a.w agar umat Islam membaca dan menulis ayat-ayat al-Quran dengan baik. Dan dengan cara ini difikirkan untuk memudahkan lagi mereka mempelajari dan menghafalnya.
9

Keindahan tulisan merupakan kelembutan jari dan kehalusan pemikiran serta citarasa penulisnya. Rasulallah s.a.w menggalakkan penulisan khat. Sabda Rasullah yang bermaksud: "Hendaklah kamu mengindahkan seni khat keran ianya narata kunci rezeki". Saidina Ali pernah berkata : "Serikan anak-anakmu dengan ilmu seni tulis kerana tulisan merupakan perkara yang paling mustahak dan menyeronokkan". Sebagai seni tulis yang melahirkan karya artistik yang bermutu tinggi, kaligrafi memiliki aturan dan teknik khusus dalam pengerjaannya. Bukan hanya pada teknik penulisan, tetapi juga pada pemilihan warna, bahan tulisan, medium, hingga pena. Secara teknis kaligrafi juga sangat bergantung pada prinsip geometri dan aturan tentang keseimbangan. Aturan keseimbangan ini secara fundamental didukung oleh huruf alif dan titik yang menjadi penanda dan pembeda bagi beberapa huruf Arab. Meski dalam perkembangannya muncul ratusan gaya penulisan kaligrafi, tidak semua gaya tersebut bertahan hingga saat ini. Ada delapan gaya penulisan kaligrafi yang populer yang dikenal oleh para pecinta seni kaligrafi, diantaranya yaitu :

1. Khat khoufi (Kufi) 2. Khat Naskhi 3. Khat Riq'ah 4. Khat Diwani Jali 5. Khat Tsuluts 6. Khat Farisi 7. Khat Raihani 8. Khat Diwani

10

5. Khat Naskhi
Khat Naskhi adalah tulisan yang sampai ke wilayah Arab Hijaz dalam bentuknya yang paling akhir, setelah lepas dari bentuknya yang kuno sebelum masa kenabian. Selanjutnya gaya tulisan yang semakin sempurna tersebut digunakan untuk urusan administrasi perkantoran dan surat-menyurat di zaman kekuasaan Islam. Pada abad ke-3 dan ke-4 hijriyah, pola-pola Naskhi bertambah indah berkat kodifikasi yang dilakukan Ibnu Muqlah (272-328 H). Para ahli sejarah beranggapan, bahwa Ibnu Muqlah adalah peletak dasar lhat Naskhi dalam bentuknya yang sempurna di zaman Bani Abbas. Di zaman kekuasaan Atabek Ali (545 H), usaha memperindah khat Naskhi mencapai puncaknya sehingga terkenallah gaya yang disebut Naskhi Atabeki yang banyak digunakan untuk menyalin mushaf al-Quran di abad pertengahan Islam, dan menggeser posisi khat Kufi kuno yang banyak digunakan sebelumnya. Khat ini disebut Naskhi karena para Khattat menulis mushaf al-Quran dan berbagai buku dengan menggunakan gayanya. Naskhi adalah tulisan yang sangat lentur dengan banyak putaran dan hanya memiliki sedikit sudut yang tajam seperti sudut-sudut Kufi. Sekarang huruf-huruf Naskhi menyebar di aneka penerbitan untuk mencetak buku, koran, dan majalah bahkan meluas menjadi huruf-huruf komputer. Dibandingkan dengan gaya lain, Naskhi lebih mudah digunakan untuk mengajari membaca para pemula. Ada kesepakatan, nahwa Naskhi membantu penulis menggoreskan penanya dengan cepat dibandingkan kaligrafi bergaya rumit semisal Sulus, karena huruf-hurufnya yang kecil dan pertemuan secara jelas goresan-goresan memanjangnya, didukung oleh harmoni huruf-huruf dan keindahan posturnya. Naskhi ada dua model : 1. Khat Naskhi Qadim Naskhi Qadim atau kuno adalah gaya tulisan yang sampai kepada kita dari zaman Abbas kemudian diperindah oleh Ibnu Muqlah, diperindah lagi oleh masyarakat Atabek, lalu diolah lagi menjadi karya yang semakin sempurna oleh orang-orang Turki. Para khattat sekarang secara tradisional menulis dengan gaya ini semata karena mengikuti kaedah dan asal muasalnya yang lama, yang telah diletakkan dasar-dasarnya oleh para empu kita dahulu, mencakup ukuran, ketinggian, tipis tebal garis horizontal dan vertikal, sampai bentuk-bentuk lengkungannya. Khat Naskhi Suhufi Naskhi Suhufi atau jurnalistik merupakan gaya tulisan yang terus berkembang bentuk hurufnya. Dinamakan suhufi karena penyebarannya yang luas di lapangan jurnalistik. Berbeda dengan Naskhi Qadim yang lebih lentur dengan banyak putaran, Naskhi Suhufi cenderung kaku dan pada beberapa bagian mendekati bentuk Kufi karena memiliki sudut-sudut yang tajam. Makanya gaya ini kerap disebut Naskhi-Kufi atau perpaduan Naskhi dan Kufi dengan ciri-ciri umum sapuan horizontalnya sangat tebal dan sapuan vertikalnya sangat tipis dan pendek.

2.

11

Naskhi-Kufi yang banyak digunakan di lapangan advertensi, papan nama, poster, dan judul-judul tulisan koran dan majalah telah masuk dalam dunia komputer sehingga jarang atau bahkan tidak pernah digoreskan langsung oleh tangan.

Bentuk Huruf Khat Naskhi :

12

6. Khat Tsuluts
Dinamakan khat Tsuluts karena ditulis dengan kalam yang ujung pelatuknya dipotong dengan ukuran sepertiga (tsuluts) goresan kalam. Ada pula yang menamakannya khat Arab karena gaya ini merupakan sumber pokok aneka ragam kaligrafi Arab yang banyak jumlahnya setekah khat Kufi. Untuk menulis dengan khat Tsuluts, pelatuk kalam dipotong dengan kemiringan kira-kira setengah lebar pelatuk. Ukuran ini sesuai untuk khat Tsuluts Adi dan Tsuluts Jali. Khta Tsuluts yang banyak digunakan untuk dekorasi dinding dan berbagai media karena kelenturannya, dianggap paling sulit dibandingkan gaya-gaya lain, baik dari segi kaedah ataupun proses penyusunannya yang menuntut harmoni dan seimbang. Dalam rentang perjalanannya, khat Tsuluts berkembang menjadi beberapa gaya, antara lain : 1. Khat Tumar Khat yang diciptakan oleh Qutbah al-Muharrir yang tumbuh dan berkembang di masa Bani Umayyah ini biasa ditulis dalam ukuran besar dengan aturan-aturannya yang simple. Khat ini sangat cocok untuk dekorasi dinding atau media-media berukuran besar. Para khattat Turki menamakannya Jali Tsuluts atau Tsuluts Besar. Tumar atau Tamur jamaknya Tawamir bermakna sahifah (lembaran atau manuskrip). Khat Tumar artinya khat yang ditulis di lembaran atau manuskrip. Khat Muhaqqaq Penciptanya adalah Ibnu Bawab (w.413 H). Ibnu Bawab adalah kaligrafer masyhur setelah Ibnu Muqlah. Khat ini hampir mirip dengan khat Tsuluts karena perbedaan keduanya sangat samar dan hanya dapat diketahui oleh ahli khat yang cermat. Pada perkembangannya, khat ini semakin redup dan jarang sekali digunakan sehingga posisinya digeser oleh khat Tsuluts. Khat Raihani Pencipta khat ini adalah Ibnu Bawab juga, namun berhubungan erat dengan Ali ibn alUbaydah al-Rayhan (w. 834 M) sehingga namanya diambil untuk nama khat ini. Pendapat lain menjelaskan Rayhani dengan kata Rayhan yang berarti harum semerbak karena keindahan dan popularitasnya. Khat Tawqi Tawqi artinya tanda tangan, karena para khalifah dan perdana menteri senantiasa menggunakan Tawqi untuk menandatangani perbagai naskah mereka. Diciptakan oleh Yusuf alSyajari (w.210/825M). Lalu berkembang di tangan Ahmad ibn Muhammad yang dikenal dengan
13

2.

3.

4.

Ibnu Khazin (w.1124 M) sebagai murid generasi kedua Ibnu Bawab. Yang membedakan Tsuluts dengan Tawqi adalah ukuran Tawqi yang selalu ditulis sangat kecil. Bentuk yang menyerupai Tawqi adalah Tugra atau Turrah yang pada awalnya berfungsi sebagai cap dan lambang sultansultan Usmani dengan ukuran bervariasi. 5. Khat Riqa atau Ruqa Riqa jamaknya Ruqah artinya lembaran daun kecil halus yang digunakan untuk menulis khat tersebut. Gaya ini diciptakan oleh Al-Ahwal al-Muharrir yang diolahnya dari Khafif Tsuluts. Sebagian sejarawan menamakan gaya ini dengan khat Tawqi, namun yang lebih benar adalah bahwa Riqa pun diolah pula dari Tawqi. Ukuran Riqa lebih kecil dari Tawqi dan digunakan khusus untuk menyalin teks-teks kecil dan penyajian kisah. Khat Tsulusain Diciptakan oleh saudara Yusuf al-Syajari bernama Ibrahim al-Syajari (w.200an H) di zaman Bani Abbas. Ibrahim membuat kaedah Tsulusain dari khat yang sudah ada semenjak dahulu yaitu khat Jalil. Tsulusain berarti dua pertiga karena ditulis dengan kalam yang ujung pelatuknya dipotong seukuran dua pertiga lebar goresan kalam, sedikit lebih kecil dari khat Tumar yang ditulis sangat besar. Khat Musalsal Diciptakan oleh Al-Ahwal al-Muharrir dari keluarga Barmak di zaman Bani Abbas. Sebagian huruf-huruf khat ini saling berhubungan, oleh karena itu beberapa sejarawan modern menamakannya khat Mutarabit yang berarti saling ikat atau berikatan. Khat Tsuluts Adi Pencipta khat ini adalah Ibrahim al-Syajari diawal abad ke-3 H di zaman Bani Abbas. Dalam beberapa kamus bahasa Arab disebutkan, anna al-sulusiyya min al-khuttut huwa al-galiz al-huruf (sepertiga dari khat adalah huruf yang sulit). Khat Tsulus Jali Jali artinya wadih (jelas). Kejelasan dalam hal ini terletak pada lebar anatomi hurufnya yang lebih dominan daripada jaraknya, dibandingkan dengan jarak yang lebih dominan daripada lebar anatomi hurufnya dalam Tsulus Adi. Dengan demikian, dalam Tsulus Jali akan tampak dengan jelas komposisi huruf yang bertumpuk memadati ruang media yang ditulis. Khat ini banyak digunakan untuk menulis judul-judul dan media seni yang permanen.

6.

7.

8.

9.

10. Khat Tsulus Mahbuk Mahbuk artinya terstruktur atau tersusun rapi, yang diukur menurut keindahan pembagian (husn al-tawzi) dan aturan komposisi (ihkam al-tartib). Keindahan pembagian dicirikan dengan tidak adanya kelompok huruf yang bertumpuk di satu tempat sementara tempat lain terlalu kosong sehingga mendorong khatta memperbanyak dan mengisinya dengan syakal dan hiasan untuk mensari keseimbangan. Sedangkan aturan komposisi adalah ketepatan memposisikan kata, huruf, dan titik di tempat-tempat yang strategis. 11. Khat Tsulus Mutaassir bil Rasm

14

Beberapa khattat atau kaligrafer berusaha menggubah aksara Arab kepada bentuk visual yang bisa berbicara biar lebih bervariasi sekaligus untuk menyeimbangkan antara ketaatan terhadap ajaran agama dengan kesenangan menggambar, karena dalam Islam visualisasi makhluk hidup secara jelas berlawanan dengan semangat dakwah agama tersebut untuk selalu menjaga ketauhidan dan menjauhi kesyirikan. Potensi huruf Arab yang sangat lentur dan mudah dibentuk mendorong para khattat menciptakan gambar-gambar simbol yang mengungkap kalimat-kalimat suci dan tauhid, sehingga kaligrafi diolah menjadi sarana menggambar yang terbebas dari visualisasi makhluk hidup secara terang-terangan. Khat yang dipengaruhi gambar ini akhirnya diterima dan populer di kalangan seniman muslim. Banyak ragam dan variasi aliran khat ini, yang secara bebas mengambil pola figural atau simbolik berupa gambar manusia, binatang, tumbuhan dan benda-benda. 12. Khat Tsulus Handasi Gaya ini merupakan Tsulus yang menyusun huruf dan kata secara geometris (handasi) dan indah berdasarkan rasa seni, sehingga menjadi dasar kekompakan, keserasian, dan penyatuan sebuah karya. 13. Khat Tsulus Mutanazhir Mutanazhir artinya saling memantul. Dinamakan pula khat Tsulus Mirat (cermin), dimana yang berada disamping kanan memantul ke samping kirinya, sehingga seolah diantara dua sisi tersebut ada cermin. Khat ini dinamakan juga dengan gaya Makus (memantul), musanna (AC-DC atau dua dimensi), dan Aynali (saling tatap). Gaya ini tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan muslim yang saling berbalas kebaikan dalam kehidupan sehari-hari seperti memberi salam dan menjawabnya. Bentuk huruf khat Tsuluts:

15

7. Khat Diwani
Khat Diwani merupakan salah satu jenis khat yang dicipta oleh penulis khat pada zaman pemerintahan Kerajaan Uthmaniyah. Ibrahim Munif adalah orang yang mencipta kaedah dan menentukan ukuran tulisan khat Diwani. Khat Diwani dikenali secara rasmi selepas negeri Qostantinopal ditawan oleh Sultan Uthmaniyah, Muhammad al-Fatih pada tahun 857 Hijrah. Khat Diwani digunakan sebagai tulisan rasmi di jabatan-jabatan kerajaan. Seterusnya, tulisan ini mula berkembang ke segenap lapisan masyarakat. Kebiasannya tulisan khat Diwani ini digunakan untuk menulis semua pekeliling pentadbiran, keputusan kerajaan serta surat menyurat rasmi dan pada masa sekarang ianya digunakan untuk menulis watikah, sijil dan untuk hiasan. Khat Diwani terbahagi kepada 2 jenis iaitu Diwani biasa dan Diwani Mutarabit(bercantum). Akan tetapi, khat Diwani biasa yang banyak digunakan dan diamalkan oleh penulis-penulis khat terkenal berbanding khat Diwani Mutarabit. Asas bentuk bagi kedua-dua jenis khat Diwani ini

16

adalah berbentuk bulat dan melengkung. Ianya ditulis dengan cara yang lembut dan mudah dibentuk mengikut kehendak penulis. Keistimewaan khat Diwani dapat dilihat pada kesenian bentuk hurufnya yang melengkung dan memerlukan kemahiran penulis khat itu menulisnya dengan lembut dan menepati kaedah. Hashim Muhammad al-Baghdadi dan Syed Ibrahim merupakan antara penulis khat yang terkenal dengan khat Diwani.

Bentuk Huruf Khat Diwani :

8. Khat Raihani
Jika dilihat dari segi bentuk Khat Raihani hampir menyerupai Khat Thulus. Hanya hurufhurufnya agak lebih lebar dan panjang serta ditambah dengan tanda-tanda syakal. Hashim Muhammad al-Khuttat dalam kitabnya Qawaid al-Khatti li al-Araby menyatakan bahawa kaligrafi khat adalah sesuatu yang mengasyikkan dan sangat menarik. Tulisan ini adalah satu-satunya yang paling fleksibel, elastik dan mudah dibentuk untuk disesuaikan dengan tempat tanpa mengorbankan keasliannya.

Lebih mempesonakan lagi jika khat tersebut dihasilkan oleh seorang seniman Naturalist. Keindahan tulisan ini sering membuat seseorang seniman mengolahnya menjadikan benda-benda yang wujud seperti perahu, gelas, binatang dan sebagainya. Bahkan pengambilan sumber

17

semulajadi yang lain seperti tumbuhan merupakan seni yang sangat indah dalam perkembangan kesenian Islam yang digabungkan dengan seni Khat yang berasal daripada tulian Arab. Penyertaan ini pula pada hakikatnya merupakan kesedaran kepada erti larangan untuk mencuba menggambarkan makhluk-makhluk hidup sesuai dengan Hadith Nabi S.A.W. Sebagai hasilnya, maka usaha untuk mengabadikan ciptaan Ilahi yang berupa alam dan segala kandungannya dalam bentuk yang abstrak dan estatik.

Bentuk Huruf Khat Raihani :

9. Khat Riq'ah
Khat Riq'ah adalah sejenis khat yang dirancang oleh orang Turki pada zaman pemerintahan Utsmaniyah (850H). Tujuan khat ini dibuat adalah untuk menyeragamkan tulisan dalam semua urusan resmi di kalangan pegawai. Menurut Kamus Bahasa Riqa'ah berarti potongan kertas yang ditulis. Ia berkembang dari khat nasakh dan Thuluth tetapi perkembangannya dalam bentuk yang agak berbeda dari keduanya, ini lebih mudah. Biasanya ditulis dengan ukuran yang kecil. Bentuk alifnya pendek dan tidak kepala (Tarwisah) seperti Thuluth. Khat riq'ah merupakan salah satu khat yang begitu digemari oleh penulis khat ketika zaman Othmaniah dan melalui banyak perbaikan oleh Shaikh Hamdullah al-Amas i. Kemudian setelah itu terjadi lagi beberapa perubahan oleh penulis khat lain sampai ia menjadi populer, digemari dan paling banyak digunakan. Di hari ini, riq'ah adalah pilihan tulisan tangan oleh Masyarakat arab

18

Fitur-fitur tulisan ini adalah bentuk hurufnya berukuran kecil, lebih cepat dan mudah ditulis, jika dibandingkan dengan khat nasakh. Penggunaan khat ini dalam masyarakat kita berfokus pada penulisan catatan dan tulisan. Beberapa langkah telah diambil untuk membuat khat ini dapat dipelajari oleh murid-murid sekolah dan dapat digunakan dalam urusan harian seperti urusan surat menyurat, urusan bisnis, iklan dan promosi barang dan dijadikan judul-judul besar dalam koran. Bentuk Huruf Khat Riq'ah :

10.

Khat Khoufi

Khat Kufi adalah gaya tulisan Arab yang karaker dominannya berbentuk siku (kubisme), Kufi muncul pertama kali di Kota Kuno Kufah Irak, dan pada perkembangan selanjutnya menyebar ke sebagian wilayah dunia Islam,sehingga jenis tulisan ini sebagai tulisan Pan Islami di samping tulisan Tsulus dan naskhi. Lantaran bentuk Khat Kufi yang bersiku tersebut sangat sesuai untuk keperluan dekoratif pada bangunan arsitektur seperti masjid, madrasah dan gedunggedung kota di negeri Islam. Walaupun demikian pda awal-awal pwrkwmbangan Islam Kufi digunakan sebagai tulisan untuk mushaf Al Quran. Adapun jenis-jenis Khat kufi adalah sebagai berikut: 1. Kufi Musyajjar (Floriated Kufi)

19

kufi Musyajjar ini adalah model Kufi di mana garis Vertikalnya diperluas ke bentuk dedaunan dan bunga dalam berbagai ukuran. 2. Kufi Mudhaffar (Plaited Kufi) Kufi mudhaffar adalah jenis tulisan tulisan Kufi yang di mana huruf-huruf vertikalnya berkait jalinan antara satu huruf dengan huruf yang lain. 3. Kufi Animasi (Animated Kufi) Kufi Animasi adalah jenis tulisan Kufi yang menggambarkan animasi figur makhluk hidup seperti manusia dan binatang. 4. Kufi Murabba (Squared Kufi) Sesuai dengan namanya, jenis Kufi Murabba ini terdiri dari garis-garis lurus horizontal yang dihubungkan dengan garis-garis vertical hingga tercipta sudut atau bersiku-siku. 5. kufi Muzakhraf Khat Kufi Muzakhraf adalah khat Kufi yang dipadukan dengan zukhrufiyah yang bermotif frolal yang digayakan. Adapun jenis-jenis Kufi yang lain masih banyak jenisnya, seperti Kufi Mushafi, kufi Timur (Estern Kufi), Kufi Kontemporer, Kufi magribi dan lain-lain.

Bentuk huruf khat kufi (khoufi) :

20

11.
21

Khat Diwani

Khat Diwani merupakan salah satu jenis khat yang dicipta oleh penulis khat pada zaman pemerintahan Kerajaan Uthmaniyah. Ibrahim Munif adalah orang yang mencipta kaedah dan menentukan ukuran tulisan khat Diwani. Khat Diwani dikenali secara rasmi selepas negeri Qostantinopal ditawan oleh Sultan Uthmaniyah, Muhammad al-Fatih pada tahun 857 Hijrah. Khat Diwani digunakan sebagai tulisan rasmi di jabatan-jabatan kerajaan. Seterusnya, tulisan ini mula berkembang ke segenap lapisan masyarakat. Kebiasannya tulisan khat Diwani ini digunakan untuk menulis semua pekeliling pentadbiran, keputusan kerajaan serta surat menyurat rasmi dan pada masa sekarang ianya digunakan untuk menulis watikah, sijil dan untuk hiasan. Khat Diwani terbahagi kepada 2 jenis iaitu Diwani biasa dan Diwani Mutarabit(bercantum). Akan tetapi, khat Diwani biasa yang banyak digunakan dan diamalkan oleh penulis-penulis khat terkenal berbanding khat Diwani Mutarabit. Asas bentuk bagi kedua-dua jenis khat Diwani ini adalah berbentuk bulat dan melengkung. Ianya ditulis dengan cara yang lembut dan mudah dibentuk mengikut kehendak penulis. Keistimewaan khat Diwani dapat dilihat pada kesenian bentuk hurufnya yang melengkung dan memerlukan kemahiran penulis khat itu menulisnya dengan lembut dan menepati kaedah. Hashim Muhammad al-Baghdadi dan Syed Ibrahim merupakan antara penulis khat yang terkenal dengan khat Diwani. Bentuk Huruf Khat Diwani :

22

12.

Khat Farisi

Dahulu kala sebagai warisan dari nenek moyang mereka bangsa Saman yang sebelum Islam menulis dengan khat Pahlevi. Gaya ini merupakan nisbah ke Pahle, suatu kawasan antara Hamadan, Isfahan dan Azerbaijan. Saat Islam menaklukkan negeri Persia, masyarakat Iran pun memeluk Islam sebagai agama baru mereka. Melalui pergaulan dengan masyarakat Arab muslim, orang-orang Iran mengganti tulisan Pahlevi dengan tulisan Arab yang kemudian mereka namakan khat Taliq. Pada waktu-waktu selanjutnya lahir pula gaya-gaya khat yang lain seperti Nastaliq dan Syikasteh. Terutama dua tulisan pertama, kerap disebut Farisi saja mengingat asalnya dari Persia. Diantara gaya khat Farisi yang populer dari Iran adalah : 1. Khat Taliq atau khat Farisi Taliq Masyarakat Iran mengolah khat Taliq dari khat yang digunakan untuk menyalin alQuran waktu itu, yang disebut khat Firamuz. Semula cara-cara menulisnya dicuplik dari kaedah khat Tahrir, khat Riqa, dan khat Tsulus. Keindahan khat Farisi Taliq adalah pada kelenturan putarannya, huruf-huruf tegaknya yang agak condong ke kanan, sapuan-sapuan memanjangnya yang tebal, dan gelombang gerigi yang tebal-tipis secara variatif. Khat Nastaliq atau Khat Farisi Nastaliq Khat Nastaliq adalah hasil kreasi kaligrafer Iran Mir Ali al-Harawi, diolah dari khat Taliq yang dimasuki sedikit unsur Naskhi sehingga menjadi gabungan Naskhi-Taliq atau Nastaliq. Nastaliq yang sekarang sering disebut Farisis sebagaimana Taliq, dikembangkan dan dipercantik oleh masyarakat Iran. Penggunaannya yang luas menjadi alat tulis naskah harian menempatkannya sama dengan posisi khat Naskhi di wilayah-wilayah lain. Karena itu, sangat mungkin pula gaya ini merupakan khat Taliq yang difungsikan sebagai tulisan naskah yang meluas setelah dimodifikasi oleh Mir Ali. Khat Syikasteh Di samping khat Taliq, orang-orang Iran juga menciptakan kaligrafi gaya baru yang mereka sebut khat Syikasteh, diambil dari khat TAliq dan khat Diwani. Syikasteh artinya berantakan, karena gores-goresan akhir huruf yang diliarkan sehingga terkesan berantakan atau semrawut. Khat ini digunakan hanya di wilayah Persia dan tidak menyebar ke segenap pelososk wilayah Arab Islam sepeti gaya lain. Hal itu disebabkan karena Syikasteh sulit dibaca. Khat Farisi Mutanazhir Khat jenis ini dihubungkan dengan penampilannya yang saling pantul secara indah dan seimbang. Unsur-unsur saling pantul dalam khat Farisi Mutanazhir ini terletak pada sapuansapuan horizontalnya atau pada huruf-huruf vertikalnya seperti alif dan lam yang saling bangun secara harmonis.

2.

3.

4.

5.

Khat Farisi Mukhtazal


23

Gaya ini lahir sebagai reaksi atas adanya kemiripan bentuk huruf-huruf Farisi dan kemungkinan satu huruf memiliki lebih dari satu fungsi. Dengan demikian, satu goresan dapat berfungsi sebagai mukhtazal untuk meringkas beberapa huruf sehingga memiliki beberapa bacaan. Gaya ini kerap menyulitkan khattat dan pembaca. Khattat kesulitan karena dalam beberapa keadaan persilangan khat tidak mudah dibuat. Sedangkan bagi pembaca kesulitannya adalah karena menderita kesusahan dalam membaca dan memahami maksudnya, sehingga timbul dugaan bahwa khat semacam ini merupakan teka-teki. Dari sini sebuah peribahasa mengatakan Khairul khat ma quria (sebaik-baik khat adalah yang bisa dibaca). 6. Khat Farisi Mirat Mirat atau cermin yang berfungsi memantulkan gambar nampak dalam gaya kaligrafi ini saat sisi kanan memantul ke sisi kiri (sama persisi denga khat Tsulus Mutanazhir), makanya sering juga disebut khat Farisi Mutanazhir.

Bentuk huruf Khat Farisi :

13.
24

Beberapa Peralatan Kaligrafi

- Kertas Banyak ahli kaligrafi menggunakan kertas yang berbeda karena ada keinginan pribadi. Hal ini baik bagi Anda untuk menguji berbagai jenis kertas beberapa untuk melihat mana yang terbaik bagi Anda. Tapi sebagian besar kaligrafi umumnya menggunakan kertas Perkamen. Permukaan kertas Anda tidak boleh:

terlalu kasar terlalu licin Terlalu bertekstur Terlalu berminyak

- Pensil Kaligrafi Ada beberapa pena kaligrafi dan alat-alat tulis yang dapat Anda gunakan. Set kaligrafi, spidol, pena, pensil tukang kayu memiliki ujung berbentuk persegi panjang yang luas dan pena kaligrafi dip biasanya dengan ujung datar (tidak dengan sudut miring). Ini tidak akan bekerja baik dengan kaligrafi Arab. Ujung spidol, pena atau pensil anda harus dipotong atau dibentuk pada sudut miring sekitar 3540 derajat. Untuk memastikan bahwa pena dapat bekerja dengan baik untuk membuat kaligrafi Arab, gambarlah bentuk berikut : Berikut ini adalah alat yang paling umum yang digunakan dalam membuat kaligrafi: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pensil Felt Tip Pens Permanen Marker Set Kaligrafi dan Fountain Pens Bambu / Reed Pens Pen nib

25

14.

Pensil Kaligrafi

Pensil adalah Alat yang paling ekonomis dan mudah didapat. Anda dapat menggunakanpensil tunggal dengan tip berbentuk benar, atau menggunakan kombinasi dari dua pensilpada pengaturan tertentu, atau Anda bisa menggunakan pensil tukang kayu. 1. Pensil Tunggal: Untuk tujuan praktek, pensil 2H biasa dapat digunakan, asalkan ujungnya dipotong(berbentuk) pada sudut miring sekitar 3540 derajat. Anda perlu memotong ujungdengan menggunakan pisau bukan dengan rautan. Ikuti instruksi yang sama seperti yang untuk pensil tukang kayu di bawah ini.

2.

Dua Kombinasi Pensil: Bila menggunakan pensil dua masukan bersama dua pensil biasa (2H), satukanpensil menggunakan band elastis atau selotip. Pensil juga perlu diatur pada sudut miring sekitar 35-40 derajat, atau titik yang tepat adalah sekitar masuk yang lebih tinggi bahwa titik kiri.

3.

Carpenter Pensil: Pensil tukang kayu yang tersedia dari toko-toko perlengkapan konstruksi seperti Home Depot. Pensil ini memiliki pusat yang luas dan berbentuk persegi panjang. Pensil keras (H) lebih baik dari pada Pensil yang lembut. Untuk mempersiapkan pensil, gunakan pisau untuk mempertajam ujung, dan jangan menggunakan rautan. Ujung pensil harus berbentuk (dipotong) pada sudut miring sekitar 35-40 derajat sehingga cocok untuk kaligrafi Arab.

26

15.

Bambu / Reed Pens

Kita juga dapat membuat pena kaligrafi dari bambu. Untuk membuat pena kaligrafi dari bambu ikutilah langkah-langkah berikut ini :

1. Pertama, gunakan pahat dan silet untuk membuat salah satu pena dari bambu.

2. Buatlah memotong ke bawah.

27

3. Sekarang potong bambu dengan kemiringan sudut 45 derajat.

Gunakan gunting atau pisau untuk meratakan ujung bambu yang sudah anda potomg sebelumnya.. dan selesai, pena kaligrafi dari bambu siap digunakan.

28

16.

Felt Tip Pens

Felt Tip Pens adalah pena yang ujungnya berbentuk lebar, pena ini sangat cocok untuk digunakan dalam membuat kaligrafi. Pena ini tersedia di toko-toko perlengkapan stasioner atau toko-toko seni Anda perlu memilih ujung pena seperti yang diproduksi oleh Zig. Di Daerah Arab, Anda akan menemukan pena yang khusus dibuat untuk kaligrafi Arab dengan PILOT dan Zig. Pena ini memiliki lebar nib yang berbeda, yaitu : 1.0, 2.0, dan 3.0 mils. Contoh Felt Tip pens :

29

17.

Permanen Marker

Anda dapat juga dapat menggunakan Permanen Marker ( Spidol Permanen ) untuk membuat kaligrafi, jangan lupa .. anda juga harus memotong ( mengasah ) ujung spidol dengan suduut kemiringan 35 - 40 derajat, seperti contoh di bawah ini :

30

18.

Set Kaligrafi

Pena Kaligrafi sepertiozmiled, Shaeffer, dan set kaligrafi Rotring dan pena, dapat digunakan untuk membuat kaligrafi Arab. Para biji pena ini harus berbentuk pada sudut miring sekitar 3540 derajat menggunakanamplas. Pena Rotring tersedia dalam 1,5, 1,9, 2,7 juta. Berikut ini adalah contoh Set Kaligrafi :

31

19.

Nib Pen

Kaligrafi Arab kontemporer paling umum menggunakan Nib Pen. Pena terbuat dari pena baja dimasukkan dalam wadah kayu. Seperti pena bambu, nib pen juga harus dicelupkan ke dalam tinta, sebelum digunakan. Pena ini tersedia dalam berbagai ukuran, dan Anda bisa mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pena bambu. Ketika Anda membeli sebuah pena, pilihlah yang ujungnya benar-benar datar. Pena ini dapat bertahan selama berbulan-bulan jika dibersihkan setelah digunakan dan disimpan dengan baik.

Berikut ini adalah contoh Pen Nib :

32