Anda di halaman 1dari 10

I. PENDAHULUAN 1.1.

Latar belakang Lobster air tawar Red claw (Cherax quadricarinatus ) merupakan salah satu jenis udang air tawar yang semakin banyak dibudidayakan karena merupakan komoditas sebagai ikan hias maupun untuk konsumsi. Dari berbagai jenis lobster air tawar (Cherax Sp) red claw (Cherax quadricarinatus) memiliki morfologi warna capit jantan yang menarik dan pertumbuhannya relatif lebih cepat dibandingkan dengan spesies lain ( Showalter, 1996). Rata-rata kebutuhan untuk konsumsi pasar internasional mencapai 2000 ton/tahun (www.fisheries.nsw.gov.au). Sedangkan kebutuhan Nasional mencapai 6-8 ton/bulan (www.trubus.online.com). Produksi budidaya lobster air tawar akan sangat tergantung pada kondisi induk dan benih serta pengelolaan budidayanya. Induk yang baik akan menghasilkan benih yang baik. Namun lobster air tawar yang berkembang di masyarakat pembudidaya saat ini semakin lama mengalami degradasi / penurunan kualitas genetik yang menyebabkan kualitas genetiknya rendah. Rendahnya kualitas genetik dicirikan dengan lambatnya laju pertumbuhan, matang kelamin di usia muda, dan kematian tinggi akibat daya tahan tubuh menurun ( Matricia, et all, 1998 dalam Ariyanto, dkk, 2003). Penurunan kualitas benih diantaranya disebabkan hilangnya alel langka akibat pengaruh genetic drift neck Agnese et al., 1985 dalam menyebabkan terjadinya oleh penggunaan induk yang terlalu sedikit sehingga variasi genetiknya menurun atau (Taniguchi et al., 1983; Rustidja, 2003). Disamping pola perkawinan yang

dilakukan oleh para pembudidaya dengan cara yang salah dan tidak terprogram dapat proses inbreeding yang mengakibatkan menurunnya kualitas benih (Rustija,2003).

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sejarah dan Biologi Umum Lobster Air Tawar ( Cherax ) Lobster air tawar (Cherax) merupakan jenis udang air tawar yang berasal dari Australia, Papua, serta pulau-pulau di sekitarnya ( Riek, 1972). Udang tersebut ditemukan oleh suatu tim ekspedisi Botani New Guinea pada tahun 1920 1922 (Holthuis dalam Tapilatu, 1996). Lobster air tawar (Cherax) terdiri atas famili Astacidae yang terdapat di belahan bumi utara dan famili Parastacidae di belahan bumi bagian selatan. Kini telah diketahui sebanyak 27 jenis cherax di Australia, sedangkan di Papua terdapat 14 jenis dan 1 anak jenis. Red claw (Cherax quadricarinatus) adalah spesies yang berasal dari Australia bagian Utara dan sudah dibudidayakan sejak tahun 1985 (Gu, et al, 1995). Pada tahun 2002 Lobster air tawar red claw mulai dibudidayakan di Indonesia ( Sukmajaya, 2003). Sampai saat ini perkembangan budidaya lobster air tawar sudah menyebar secara luas, salah satunya adalah di propinsi Jawa Timur. Pada penelitian ini sejarah atau asal usul sampel lobster air tawar red claw yang diuji dari empat populasi yang berasal dari Ponorogo, Bondowoso, Tulungagung dan Magetan. Menurut informasi pembudidaya lobster air tawar red claw tersebut, mereka membudidayakan mulai tahun 2004 . Seperti halnya populasi yang berasal dari Ponorogo, red claw (Cherax quadricarinatus) mulai dibudidayakan pada tahun 2004. Induk red claw diambil dari beberapa sumber diantaranya dari Surabaya, Blitar dan Jogjakarta. Kemudian pada tahun 2005 diambil induk dari Australia. Sehingga red claw yang dihasilkan pada saat ini merupakan hasil cross breeding dari beberapa wilayah sumber induk di atas. Di Bondowoso, red claw (Cherax quadricarinatus) mulai dibudidayakan tahun 2004. Induk red claw diambil dari Surabaya dan Muncar Banyuwangi. Pembudidaya dari Tulungagung mulai membudidayakan red claw (Cherax quadricarinatus) pada tahun 2004 dan pada tahun tersebut induk red claw diambil dari Bogor. Kemudian pada tahun 2005 mendatangkan induk dari Australia (Walkamin). Pembudidaya di Magetan mulai

membudiyakan red claw (Cherax quadricarinatus) pada tahun 2005, induk berasal dari Jakarta dan Surabaya (Pers. Com) Lobster air tawar genus Cherax adalah termasuk dalam kelompok udang (Crustacea) air tawar yang secara alami memiliki tubuh relatif besar dan memiliki daur siklus hidup di lingkungan air tawar. Beberapa nama internasional lobster air tawar adalah crayfish, crawfish dan crawded (Sukmajaya & Suharjo 2003). Secara taksonomis, lobster air tawar jenis red claw termasuk dalam filum : Arthropoda, kelas: Crustacea, ordo : Decapoda, famili : Parasticidae, genus : Cherax dan spesies : Cherax quadricarinatus (Von Martens) ( Riek, 1968, Wiyanto, 2003). Berlainan dengan suku Astacidae di belahan bumi utara, suku Parastacidae tidak memiliki pola umum siklus reproduksi, hal ini disebabkan kisaran habitat dan variasi iklim yang ekstrim (Merrick 1993). Perkawinan dan peneluran akan berlangsung secara tidak normal apabila suhu berada di bawah batas ambang, sehingga Cherax biasanya kawin apabila suhu udara relatif tinggi (Brotowidjoyo et al. 1995). Selanjutnya dikemukakan bahwa suksesnya perkawinan tergantung pada besar dan kekuatan Cherax jantan menguasai betina. Seekor jantan dapat mengawini sejumlah betina. 2.2. Morfologi lobster air tawar ( Cherax) Tubuh udang secara morfologi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sefalotoraks (bagian kepala dan dada) dan bagian abdomen (perut). Penutup sefalotoraks disebut karapas yang terdiri dari zat tanduk (kitin) tebal yang merupakan senyawa nitrogen polisakarida (C8H13O5)x. Zat tanduk ini merupakan hasil sekresi dari epidermis dan dapat mengelupas (moulting). Tubuh udang terdiri dari segmensegmen yang tertutup karapas. Masing-masing segmen memiliki anggota badan dengan fungsi bermacam-macam. Struktur badan tersebut dari bagian depan sampai badan terakhir terdiri atas : tangkai mata, cheliped (capit), antennula, antenna, mandibula, maksila, maksiliped, periopoda, pleopoda, uropoda dan telson (ekor). Struktur tubuh Cherax secara garis besar tidak jauh berbeda dengan struktur tubuh jenis-jenis udang yang lainnya (Martosudarmo & Ranoemiharjo 1980).

Pleopoda

Gambar 2. Struktur morfologi Cherax (BPPT LBN LIPI, 1983/1984 ). Dilihat dari organ tubuh luar, lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap sebagai berikut : 1. Sepasang antena yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan. 2. Sepasang antenela untuk mencium pakan, 1 mulut dan sepasang capit (celiped) yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya. 3. Enam ruas badan (abdomen) agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala. 4. Ekor. Satu ekor tengah (telson) memipih, sedikit lebardan dilengkapi dengan duri-duri halus yang terletak di semua bagian tepi ekor, serta 2 pasang ekor samping (uropod) yang memipih.

5. Enam pasang kaki renang (pleopod) yang berperan dalam melakukan gerakan renang. Di samping sebagai alat untuk berenang, kaki renang pada induk betina yang sedang bertelur memiliki karakteristik memberikan gerakan dengan tujuan meningkatkan kandungan oksigen terlarut di sekitarnya, sehingga kebutuhan oksigen telur dan larva dapat terpenuhi. Kaki renang juga digunakan untuk membersihkan telur atau larva dari tumpukan kotoran yang terendap. 6. Empat pasang kaki untuk berjalan (periopod). 7. Perbedaan lobster betina dan jantan terletak pada alat kelamin. Pada lobster jantan terdapat benjolan pada bagian pangkal sepasang kaki belakang, sedangkan pada betina benjolan muncul di pangkal sepasang kaki ketiga dari belakang. 8. Secara khusus red claw (Cherax quadricarinatus) memiliki warna tubuh hijau kemerahan dengan warna dasar bagian atas capit berupa garis merah tajam, terutama pada induk jantan yang telah berumur lebih dari 7 bulan. Lobster air tawar red claw dapat hidup dan tumbuh pada suhu 2 - 37c. Namun suhu yang optimal untuk hidup dan tumbuh adalah dengan baik adalah 23 31c. Toleransi terhadap kandungan oksigen di dalam air adalah 1 ppm, Keasaman 6 9,5 dan amonia tidak boleh lebih 1 ppm. Deskripsi lobster air tawar red claw (Cherax quadricarinatus) yang diteliti dari empat sumber lokasi melalui pengukuran yang dilakukan pada beberapa kriteria seperti ditunjukkan pada tabel-tabel di bawah ini. Tabel 1. Deskripsi Lobster Air Tawar red claw (Cherax quadricarinatus) Ponorogo No 1 2 3 4 5 6 7 Deskripsi Panjang Total (cm) Panjang Standar (cm) Lingkar Abdomen (cm) Panjang Karapas (cm) Lebar Karapas (cm) Panjang Rostrum (cm) Panjang Capit (cm) Nilai 12,8 15,7 5,0 6,0 7,6 8,9 5,8 7,3 2,5 3,2 3,8 4,8 7 12,7

8 Lingkar Capit (cm) 9 Berat (gr) 10 Rasio Panjang Total dengan Panjang Standar 11 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Abdomen 12 Rasio Panjang Total dengan Panjang Karapas 13 Rasio Panjang Total dengan Lebar Karapas 14 Rasio Panjang Total dengan Panjang Rostrum 15 Rasio Panjang Total dengan Panjang Capit 16 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Capit 17 Rasio Panjang Total dengan Berat Sumber : pengukuran langsung

1,6 5,8 45,45 93,00 1,58 2,13 1,53 1,92 1,88 2,61 4,53 5,12 2,89 3,51 1,16 1,95 2,60 5,44 0,16 0,28

Tabel 2. Deskripsi Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Bondowoso No Deskripsi 1 Panjang Total (cm) 2 Panjang Standar (cm) 3 Lingkar Abdomen (cm) 4 Panjang Karapas (cm) 5 Lebar Karapas (cm) 6 Panjang Rostrum (cm) 7 Panjang Capit (cm) 8 Lingkar Capit (cm) 9 Berat (gr) 10 Rasio Panjang Total dengan Panjang Standar 11 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Abdomen 12 Rasio Panjang Total dengan Panjang Karapas 13 Rasio Panjang Total dengan Lebar Karapas 14 Rasio Panjang Total dengan Panjang Rostrum 15 Rasio Panjang Total dengan Panjang Capit 16 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Capit 17 Rasio Panjang Total dengan Berat Sumber: pengukuran langsung Nilai 12,0 14,5 6,3 8,5 7,5 9,1 5,3 6,5 2,5 4,0 3,0 4,5 7,7 10,2 2,5 10 48 85,8 1,65 2,0 1,45 1,70 2,00 2,54 3,20 5,20 4,83 3,09 1,16 1,76 2,64 5,44 0,16 0,28

Tabel 3. Deskripsi Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Tulungagung No Deskripsi 1 Panjang Total (cm) 2 Panjang Standar (cm) Nilai 12,5 14,6 4,2 5,7

3 Lingkar Abdomen (cm) 4 Panjang Karapas (cm) 5 Lebar Karapas (cm) 6 Panjang Rostrum (cm) 7 Panjang Capit (cm) 8 Lingkar Capit (cm) 9 Berat (gr) 10 Rasio Panjang Total dengan Panjang Standar 11 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Abdomen 12 Rasio Panjang Total dengan Panjang Karapas 13 Rasio Panjang Total dengan Lebar Karapas 14 Rasio Panjang Total dengan Panjang Rostrum 15 Rasio Panjang Total dengan Panjang Capit 16 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Capit 17 Rasio Panjang Total dengan Berat Sumber: pengukuran langsung

6,0 9,2 5,5 6,8 2,4 3,3 3,5 4,5 8,2 10,8 2,5 4,5 48 71 1,83 2,20 1,44 1,88 1,77 2,18 3,93 5,21 2,71 3,57 1,23 1,73 2,88 5,00 0,18 0,27

Tabel 4. Deskripsi Lobster Air Tawar(Cherax quadricarinatus) Magetan No Deskripsi 1 Panjang Total (cm) 2 Panjang Standar (cm) 3 Lingkar Abdomen (cm) 4 Panjang Karapas (cm) 5 Lebar Karapas (cm) 6 Panjang Rostrum (cm) 7 Panjang Capit (cm) 8 Lingkar Capit (cm) 9 Berat (gr) 10 Rasio Panjang Total dengan Panjang Standar 11 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Abdomen 12 Rasio Panjang Total dengan Panjang Karapas 13 Rasio Panjang Total dengan Lebar Karapas 14 Rasio Panjang Total dengan Panjang Rostrum 15 Rasio Panjang Total dengan Panjang Capit 16 Rasio Panjang Total dengan Lingkar Capit 17 Rasio Panjang Total dengan Berat Sumber : pengukuran langsung. Nilai 11,6 15,4 4,5 5,8 7,0 9,2 5,5 7,2 2,4 3,2 3,6 4,8 7,5 11,5 2,5 5,1 40 80,38 1,53 1,97 1,57 179 2,14 2,98 4,62 5,21 3,00 3,57 1,25 1,68 2,55 5,24 0,18 0,30

DAFTAR PUSTAKA Admin. 2006. Lobster Air Tawar. www.trubus-online.com (diakses tanggal 16 Pebruari 2007). Brotowidjoyo MD, Tri banowo D, Mulbyantoro E, 1995. Pengantar Lingkungan Perairan dan Budidaya Air. Yogyakarta, Liberty. Castillo, R and Mc Andrew B.J. 1998. Population of seabass in Portugal. Evidence from Allozymes. Journal of Fish Biology 53, 1038 1049. Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2003. Mengenal Budidaya Udang Naga. www.suarapembaruan.com (diakses tanggal 21 Juli 2006) Farajallah, A. 1995. Keragaman Genetik Labi-labi Dogania suplana ( Testudines: Trianychidae ) Berdasarkan Polimorfisme Protein. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Gu,H, Peter B Mather, Michael F. Capra. 1995. Juvenile Growth Performance among stocks and families of red claw crayfish, cherax quadricarinatus ( Von Martens).Aquaculture 134 p 29 36. Harris. H. and Hopkinson, D.A. 1976. Handbook of Enzyme Electroforesis in Human Genetic, Nort-Holland Publishing Company, Amsterdam, American Elsevier Publishing Company, Inc New York. Holdich D.M. and R.S Lowery. 1988. Fresh Water Crayfish (Biology, Management and Exploitation). Timber Press. Portland, Oregon. Merrick JR. 1993. Freshwater crayfish of New South Wales. Linean Society. Myers. J . M, Per O. H, Greg. H , Robert N. I. 2001. Genetics and broodstock management ofcoho salmon. Aquasulture 197 p 43 - 62 Nugroho, E.,Mulyasari, Fauzan Ali dan Gunawan, 2005, Evaluasi Variasi Genetik Udang Galah Makasar - Sulawesi, Banjarmasin Kalimantan, Jambi Sumatra, Sukabumi Jawa, dan GI Macro dengan menggunakan penciri MtDNACO-1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, (in published). Philippa. M, Zhiyuan. G, Garth F, Choy L. H. 2002. The potential impact of modern biotechnology on fish aquaculture. Aquaculture 204 p 255269 Requintana, P.D., and Benitez, L.V. 1981. Lactate Dehydrogense isozyme Pattern During The Development of Milk fish ( Chanos chanos. Forskal ) Journal Biology 10 ( 2-3 ) p 289 299 . Riek EF. 1972. The Philogeny of the parasticidae ( Crustacea : Decapoda : Parastisidae ) with description of new spesies. Australian Journal Zoology.

Rustidja. 2003. Permasalahan Induk dan Benih Ikan Nila. Makalah. Disampaikan pada Acara Semi-Loka Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia Cabang Jawa Timur. 26 Juni 2003 di Situbondo. Rustidja, 2006 Strategi Pembuatan Benih Lobster Air Tawar (LAT) Berkualitas. Bahan Kuliah Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Perikanan Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya Malang. Sofro, A.S.M. 1994. Keanekaragaman Genetik. Andi Offset. Jogjakarta. Sugama, K., Taniguchi, N. and Sumadinata, K. 1989. Genetics Variation and Population Structure of Black Seabream ( Scanthopagrus schleyeli ) in japan. Bull Mar. Sci. Fish. Kochi University. Sugama, K. 1988. Population Genetics Analysis of Seabream , Pagrus mayor, Thesis. For Degree of Master of Science. Kochi University japan. Sugama, K. 1991. Study on Genetics Variation and Chromosome set Manipulation in red Sea Bream Pagrus mayor. Thesis for Degree of Doctor in Agriculture Science Kochi University Japan. Sugama, K. and Agus Priyono 1998. Biochemical Genetic Differentiation Among Wild Populations of Milk Fish (Chanos chanos) in Indonesia. IFR Journal. Vol IV no. 1.P.11.18 Sugama, K, Haryati, J.A.H. Benzie and E. Ballment, 2001, Genetic Variation and Population Structure of the giant tiger prawn, Penaeus monodon, in Indonesia. Gondol Research Institute for fisheries Bali. Indonesia, Australian Institute of marine Science. Queensland Australia, Center for Marine and Coastal Studies, University of new South Wales Sidney Australia. Sukmajaya, Y dan I. Suharjo, 2003. Lobster Air Tawar Komoditas Perairan Prospektif Agro Media Pustaka 53 hal. Setiawan, C, 2006. Teknik Pembenihan dan Cara Cepat Pembesaran Lobster Air Tawar, Agro Media Pustaka. 88 hal. Sukmajaya, Y. I. Suharjo dan Amirudin , 2005. Laporan Tinjauan Hasil , Proyek Pengembangan Rekayasa Teknologi BBAT Sukabumi, Tahun Anggaran 2004. Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan Jakarta. Suzuki,D.T, Anthory, F Griffiths, Jeffrey. H. Miller and Richard C. Lewonth, 1989, W.H. Frieman and Company, New York. Tapilatu,R.F.1996. Hubungan Beberapa Aspek Biologi Cherax Lorentzi (Crustacea : Parastacidae) dengan Karakteristik Habitatnya di Daerah Aliran Sungai Klasafet Sorong Irian Jaya.125 hal. Tave,D.1996. Genetic for Fish Hatchery Managers. Departeman of fisheries and Allied Aquacultures Alabama Agriculture Experiment Station Auburn University, Auburn Alabama, USA 299p. Trubus. 2006. Si Capit Merah di Seantero Dunia. www.fisheries.nsw.gov.au (diakses tanggal 17 Februari 2007) Wiyanto, R. H dan R. Hartono. 2003. Lobster Air Tawar ( Pembenihan dan Pembesaran ). Penebar Swadaya. 79 hal. Wiyanto, R. H dan R. Hartono. 2003. Merawat Lobster Hias di Aquarium. Penebar Swadaya.63 hal.

10

Zhenkang X, Jurgenne H. P, Leobert D.P, Priscilla. P, Jane. B, Acacia. A.W. 2000. Genetic diversity of wild and cultured Black Tiger / Shrimp Penaeus monodon in the Philippinesusing microsatellites. Aquaculture 199 (2001)13 40.