Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Bahan bakar adalah suatu materi apapun yang bisa diubah menjadi energi.

Biasanya bahan bakar mengandung energi panas yang dapat dilepaskan dan dimanipulasi. Kebanyakan bahan bakar digunakan manusia melalui proses pembakaran (reaksi redoks) dimana bahan bakar tersebut akan melepaskan panas setelah direaksikan dengan oksigen di udara. Proses lain untuk melepaskan energi dari bahan bakar adalah melalui reaksi eksotermal dan reaksi nuklir (seperti Fisi nuklir atau Fusi nuklir). Hidrokarbon (termasuk di dalamnya bensin dan solar) sejauh ini merupakan jenis bahan bakar yang paling sering digunakan manusia. Bahan bakar lainnya yang bisa dipakai adalah logam radioaktif. Saat ini kita mengenal beberapa bahan bakar yang digunakan sebagai energy kebutuhan dalam kehidupan sehari hari.Seperti kita ketahui keberadaan batu bara dan minyak bumi sebagai bahan bakar yang banyak digunakan keberadaannya semakin berkurang.Karena kedua jenis bahan bakar ini merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui maka alangkah lebih baik jika kita menemukan bahan alternative murah pengganti batu bara dan minyak bumi.
Dalam hal tersebut maka pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan bakar alternatif PLTU sangatlah menghemat pemproduksian batu bara sekitar 35% setiap harinya. Fenomena menunjukkan bahwa sampah plastik sangat melimpah di Indonesia. Hal ini karena masih minimnya daur ulang sampah plastik. Maka dari fenomena tersebut sangat efisien jika sampah plastic sebagai energi alternatif PLTU serta mengurangi polusi lingkungan. Saat ini pemerintah menghimbau masyarakat untuk membakar sampah dalam tungku buatan sendiri. Sekali lagi tindakan ini berbahaya, karena pembakaran sampah yang mengandung plastik akan menghasilkan dioksin. Agar tidak menghasilkan dioksin, sampah plastik harus dibakar pada suhu setidaknya 1200 C. Oleh karena itu pembakaran sampah plastik sebagai energi alternative yaitu dengan suhu 1200 C. Sangatlah rugi jika sampah plastik dibuang da di bakar begitu saja sehingga menjadi limbah udara yang merugikan masyarakat setempat. Gas hasil pembakaran sampah plastik dapat dimanfaatkan sebagai energi.

Perumusan Masalah Rumusan yang akan dibahas dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :
permasahan yang dibahas dalam program ini adalah: Bagaimana cara memanfaatkan sampah plastik menjadi energy alternative BBM? Bagaimana Kelebihan/keuntungan penggunakan sampah plastik sebagai energi alternative BBM?

Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mendiskripsikan pengetahuan dan pengenalan kepada masyarakat bahwa sampah plastik dapat dimanfaatkan menjadi energy alternative BBM 2. Mengantisipasi terjadinya krisis BBM 3. Untuk memanfaatkan sampah plastik yang biasanya dibuang dan dibakar

Luaran Yang Diharapkan


Luaran yang diharapkan dalam program ini adalah : a. Meningkatkan karya kreatifitas inovatif mahasiswa dalam rangka bereksperimen dan menemukan hasil karya yang bermanfaat dan tepat guna. b. Masyarakat dapat memanfaatkan sampah plastik yang sebelumnya masih sangat minim dimanfaatkan. c. Terciptanya energi alternatif . d. Pemerintah dapat mengembangkan proses daur ulang sampah plastic menjadi energy alternative BBM

Kegunaan Program Adapun kegunaan program yang dimaksud adalah : a. Meningkatkan inovatif mahasiswa dalam menemukan hasil karya yang dapat dimanfaatkan dalam bidang teknologi. b. Untuk meningkatkan kreatifitas dan penalaran pada pengembangan ilmu teknologi tepat guna. c. Memperkenalkan kepada masyarakat agar dapat memanfaatkan sampah plastik sebagai energi alternative BBM. d. Mendaur ulang sampah plastik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Plastik Plastik merupakan produk polimer sintetik atau semi sintetik yang terbentuk dari kondensasi organik atau senyawa polimer dan bisa juga dari zat lain dengan tujuan untuk meningkatkan performa dan ekonomis. Senyawa polimer ini tersusun dari monomer-monomer rantai karbon pendek baik hopolimer ataupun kopolimer, sedangkan menurut jenisnya plastik dapat dibedakan menjadi dua macam diantaranya adalah : a. Thermoset, yaitu jenis plastik yang memiliki karakteristik keras, durable, mempertahankan

bentuknya dan tidak dapat berubah/ diubah kembali kedalam bentuk aslinya contohnya adalah polyurethanes, polyester, epoxy resins dan phenolic resin. b. Thermoplastic, yaitu jenis plastic yang memiliki karakteristik yaitu dapat kembali ke bentuk aslinya melalui pemanasan, mudah diolah dan dibentuk seperti dibentuk menjadi Film, fiber, kemasan (packaging). Contoh material thermoplastik ialah: Polyethylene (PE), Polyprophylene (PP), dan polyvinyl chloride (PVC). Jenis plastik inilah yang biasa diolah menjadi bahan bakar. Secara umum plastik dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan jenis reaksinya, yaitu plastik (polimer) kondensasi dan polimer adisi (poliolefin misalnya polietilen, polipropilen, polistyrene). Polimer kondensasi diantaranya adalah poliamid, poliester, dan nilon dapat didepolimerisasi (diurai) lewat jalur sintesis balik sehingga menghasilkan kembali monomer diasam, diol, atau diamid. Proses tersebut yang boleh dikatakan dapat menghasilkan monomer dengan yield sangat tinggi melibatkan reaksi kimia yang disebut alkoholisis (penguraian alkohol), glikolisis (penguraian glikol), dan hidrolisis (penguraian oleh air). Sebaliknya, teknik depolimerisasi serupa tidak dapat diterapkan secara langsung pada jenis polimer adisi sehingga membutuhkan tindakan aktivasi.
2.2 Struktur sampah plastik

Struktur dasar penyusun kimia plastik merupakan ikatan kovalen yaitu ikatan antar atom dengan cara berbagi elektron, diantara dua unsur atom ikatan ini dapat terdiri dari berbagai elektron, plastik merupakan bagian dari molekul hydrocarbon, zat yang penyusun

dasarnya merupakan zat carbon dan hydrogen. Plastik yang mempunyai struktur paling sederhana adalah polyethylene (PE). Umumnya susunan molekul dari PE terdiri dari sekitar 1000 atom karbon didalam tulang punggungnya. Molekul dari plastik sering disebut dengan macro molekul karena ukurannya sangat besar dilihat dari panjang rantai karbonnya. Plastik memiliki dua jenis atau tipe dalam menyusun molekulnya, yaitu amorphous dan kristal. a. Susunan molekul dari plastik amorphous cenderung tidak beraturan. Plastik amourphous biasanya bening atau tidak transparan selama tidak ada filler atau campuran lain , contoh jenis plastik ini adalah alkirik. b. Susunan molekul dari plastik kristal adalah teratur. Keteraturan ini dapat di buat dengan cara pendinginan yang relatif lama. Plastik kristal cenderung tidak transparan. Pada umumnya plastik merupakan campuran dari ke dua tipe ini. Bagian luar dari plastik cenderung amorphous , karena proses pendinginan bagian luar lebih cepat. Sementara bagian dalam cenderung berbentuk kristal karena memerlukan waktu yang relatif lama agar menjadi dingin. 2.3 Bahan bakar alternatif Pada saat ini, bahan bakar yang biasa kita gunakan umumnya berasal dari bahan bakar fosil baik dari batu bara maupun minyak bumi, seperti yang kita ketahui bahwa bahan baku ini memiliki keterbatasan jumlahnya, sehingga akan menipis akibat ekploitasi yang berlebihan. Maka dari itu telah banyak dilakukan penelitian untuk mencari solusi guna mendapatkan bahan bakar alternatif. Disamping itu juga, penelitian yang dilakukan ditinjau dari beberapa aspek diantaranya adalah mencari bahan bakar yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, bahan baku yang melimpah/ dapat diperbaharui diantaranya adalah biofuel, biodiesel, energi yang dihasilkan dari panas surya, geothermal, bahkan angin. Selain itu juga banyak penelitian yang memanfaatkan limbah sebagai bahan baku misalnya adalah pemanfaatan limbah sayuran sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, biodiesel dari minyak goreng bekas bahkan pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan baku pengganti bensin. Berbeda halnya dengan limbah organik, keberadaan plastik dalam tanah tidak dapat diuraikan secara alami sehingga menimbulkan ancaman yang serius terhadap lingkungan. Pengolahan limbah plastik sebagai bahan baku pengganti bensin dianggap sebagai salah satu

solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Plastik sudah dianggap sebagai bahan pokok kebutuhan rumah tangga ataupun domestik sehingga keberadaan limbah plastik ini semakin meningkat. Pengolahan plastik sebagai salah satu pengembangan dari ilmu pengetahuan memberikan manfaat positif untuk mengatasi masalah lingkungan, meningkatkan taraf hidup orang banyak, juga menjadi tawaran solusi mencari energi alternatif. Konversi yang dihasilkan dari proses ini mencapai 60% bahkan lebih tergantung dari bahan plastik yang digunakan ddan atau dengan penambahan zat kimia lain.

BAB III METODOLOGI

3.1. Sifat penulisan Dalam penulisan karya tulis ini, penulis mengembangkan dengan sifat penulisan secara deskriptif dan non experimental. Disusun berdasarkan sifat ilmiah atau dari ilmu pengetahuan alam. Karya tulis mencoba menganalisis penanganan plastik sehingga dapat dijadikan bahan baku alternatif serta menganalisis keuntungan yang didapat dari penggunaan reaktor plastik.

3. 2. Metode Perumusan masalah Rumusan masalah merupakan kumpulan beberapa masalah yang timbul dari latar belakang, serta disusun secara sistematika dengan tujuan memudahkan penulisan karya tulis ilmiah, agar dapat mengendalikan penulisan agar tidak menyimpang dari permasalahan penting yang dibahas. Dalam menyusun perumusan masalah, penulis menggunakan metode analisa terhadap suatu kasus dan mencoba mengaitkan dengan potensi yang ada dan tidak tergali sebelumnya dari suatu keadaan di alam. Analisa masalah dalam karya tulis ini, bersifat non experimental. Diawali dengan memahami konsep potensi yang ingin dimasukkan, dan menganalisisnya dengan permasalahan yang ada. 3. 3. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data, yang dilakukan oleh penulis adalah menggunakan metode sistematika, merujuk pada beberapa literatur, tinjauan pustaka dan mengidentifikasi dari berbagai masukan dan informasi-informasi terbaru dari situs-situs internet. 3.4 Metode Pelaksanaan Proses pengolahan limbah plastic menjadi bahan bakar meliputi beberapa proses, diantaranya :

1.

Pirolisis adalah dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau reagen kimia lainya dimana material mentah akan mengalami pemecahan stuktur kimia menjadi fase gas. Teknik seperti ini mampu menghasilkan gas pembakaran yang berguna dan aman bagi lingkungan Proses pirolisis ini akan memecah hidrokarbon rantai karbon panjang dari polimer plastik menjadi rantai hidrokarbon berantai pendek, selanjutnya molekul-molekul ini didinginkan menjadi fase cair.

2.

Proses hydrotreating/hidrocracking yaitu proses penyulingan yang memisahkan unsur-unsur yang dihasilkan pada proses pirolisis. Proses ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan senyawa aromatic dan senyawa polar

3.

Proses hidro-isomerisasi, pada proses ini digunakan katalis yang berfungsi menjadikan molekulmolekul isomer mempunyai viskositas yang tinggi. Selain bisa digunakan sebagai bahan baku pengganti bensin (gasolin) plastik yang diproses bisa juga dibentuk menjadi bahan bakar pengganti minyak tanah (kerosin) dan bahan bakar diesel (solar) dengan destilasi ulang yang mengacu pada titik uap dari produk yang dihasilkan ataupun dengan menambah proses dan bahan yang digunakan. Bensin merupakan hidrokarbon berantai pendek antara C4-C10 yang biasa digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor bisa juga digunakan sebagai pelarut organik. Sedangkan minyak tanah merupakan rantai mempunyai rantai hidrokarbon antara C11-C15 dan solar mempunyai panjang hidrokarbon antara C16-C20. Untuk mengetahui kualitas dari bahan bakar yang dihasilkan ini, perlu dilakukan pengujian lanjutan dalam menentuka sifat fisik ataupun kimianya diantarnya adalah densitas, specific gravity, viskositas, titik nyala, titik tuang, angka oktan dll. Pengujian sifat fisik dan kimia ini mengacu pada pengujian yang dikeluarkan oleh American Society for Testing and Material (ASTM). Di Indonesia sendiri terdapat berbagai jenis bensin, yang memiliki angka oktan yang berbeda-beda. Angka oktan merupakan ukuran dari kemampuan bahan bakar untuk mengatasi ketukan sewaktu terbakar dalam mesin. Angka ini menunjukan mutu bakar dari bensin, semakin tinggi angka oktanya maka semakin bagus pula kualitas dari pembakaran bensin tersebut. Pirolisis limbah plastik sebagai salah satu solusi yang menguntungkan dan lebih ramah lingkungan, dibandingkan dengan melakukan proses pembakaran sampah plastik yang tentunya

sangat berdampak negatif bagi kesehatan dan mengakibatkan pencemaran lingkungan selain itu proses ini juga dianggap sebagai suatu solusi yang lebih ekonomis. Disamping itu perlu adanya penelitian untuk mengetahui jumlah konversi, kandungan kimia hasil konversi, sifat fisik dan kimia darikonversi yang dihasilkan. Pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar cair ini merupaka salah satu solusi, terdapat beberapa solusi lain yang dapat dikembangkan dalam penerapan pada sector energi. Oleh karena itu pengembangan ilmu pengetahuan sangatlah penting.