Anda di halaman 1dari 49

SKENARIO B Tn.

Abu,30 tahun,petani,dibawa ke UGD RS Ernaldi Bahar karena meresahkan keluarga dan pernah mencoba untuk bunuh diri (tentamen suicidum) .Tn Abu sering sedih,kadang menangis tanpa sebab.keluarganya menyatakan bahwa mulai terdapat perubahan perilaku sejak 3 tahun yang lalu,ditandai dengan secara

berangsur-angsur menarik diri dari pergaulan dan lebih suka mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari. Satu tahun yang lalu ia mengeluh selalu mendengar suara seperti ada orang yang mengobrol dan kadang mengomentari dirinya,padahal orangnya tidak ada. Kemudian suara ini makin mengganggu dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu dan dia tak kuasa untuk menolaknya.Seminggu yang lalu suara tersebut memaksanya untuk melukai dirinya sendiri. Kepribadian permorbid mengarah ke schizoid dan pada umur 20 tahun menjadi makin nyata,makin mengisolasi diri dan tak ada interaksi social sama sekali.Dalam 1 tahun terakhir kemunduran makin hebat,kurang bisa mengurus diri dan tak dapat mengerjakan pekerjaan sehari-hari,bicaranya terbatas,kalimat yang diucapkan kacau dan sukar dimengerti. Menurut keluarga tak ada stressor yang memicu perubahan perilaku ini.Pada autonamnesis tampak pasien terlihat diam tak banyak gerak,kadang

menangis dan sulit untuk menjawab pertanyaan.Jawaban hanya sepatah dua kata saja,tak begitu jelas,dan kadang menolak untuk bicara sama sekali.Tanda-tanda autism jelas terlihat dan tak ada gejala ambivalensi pada saat pemeriksaan. Informasi tambahan Terdapat riwayat perkawinan yang baik,ada riwayat skizofrenia dalam keluarga dan taraf kecerdasan normal,tak ada stressor dalam 1 Tahun terakhir. GAF scale sekitar 20-11 saat pemeriksaan (saat ada upaya bunuh diri menurun sampai 10-01).Pemeriksaan fisik tak ada kelainan.

I.

KLARIFIKASI ISTILAH 1. Tentamen suicidum : suatu tindakan untuk mengakhiri hidup sendiri 2. Menangis tanpa sebab : menangis secara tiba-tiba tanpa ada penyebab yang jelas 3. Selalu mendengar suara seperti ada orang yang mengobrol dan kadang mengomentari dirinya, padahal orangnya tidak ada : suara halusinasi yang berkomentar secara terus-menerus; halusinasi auditory 4. Kepribadian premorbid : suatu kepribadian ciri khas yang ditandai sikap pemalu dan senang menyendiri 5. Schizoid : sifat yang menyerupai skizofrenia yang mengindikasikan predisposisi untuk menjadi skizofrenia 6. Mengisolasi diri : menarik diri dari pergaulan 7. Interaksi sosial : suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat 8. Kalimat kacau dan sukar dimengerti : pengucapan kata jelas tetapi susunan kata dalam kalimat tidak sistematis dan tidak bisa dimengerti (terbalikbalik) 9. Stressor : pemicu terjadinya stress 10. Autisme : gangguan perkembangan pervasive yang ditandai oleh kelainan fungsi dalam bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang. 11. Gejala ambivalensi : eksistensi simultan dari sikap emosional yang bertentangan dengan bertujuan objek atau orang. 12. Terlihat diam tak banyak gerak : posisi tidak banyak bergerak (bukan katatonik) yang disebabkan depresi 13. Skizofrenia : gangguan mental atau kelompok gangguan yang ditandai oleh kekacauan dalam bentuk isi pikiran contohnya delusi atau halusinasi, dalam mood contohnya dalam afek yang tidak sesuai dalam perasaan dirinya dan hubungannya dengan dunia luar dan dalam tingkah laku.

14. GAF Scale : global assessment functioning scale; penilaian fungsi secara global.

II.

IDENTIFIKASI MASALAH 1. Tn. Abu, 30 tahun, petani, dibawa ke UGD RS Ernaldi Bahar karena meresahkan keluarga dan pernah mencoba untuk bunuh diri (tentamen suicidum). 2. Tn. Abu sering sedih dan kadang menangis tanpa sebab. 3. Riwayat perjalanan penyakit: Kepribadian premorbid mengarah ke schizoid dan pada umur 20 tahun menjadi makin nyata, makin mengisolasi diri dan tak ada interaksi sosial sama sekali Mulai terdapat perubahan perilaku sejak 3 tahun yang lalu, ditandai dengan secara berangsur-angsur menarik diri dari pergaulan dan lebih suka mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari Satu tahun yang lalu ia mengeluh selalu mendengar suara seperti ada orang yang mengobrol dan kadang mengomentari dirinya, padahal orangnya tidak ada. Kemudian suara ini makin mengganggu dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu dan dia tak kuasa untuk menolaknya. Dalam satu tahu terakhir kemunduran makin hebat, kurang bisa mengurus diri dan tak dapat mengerjakan pekerjaan seharihari, bicaranya terbatas, kalimat yang diucapkan kacau dan sukar mengerti Seminggu yang lalu suara tersebut memaksanya untuk melukai dirinya sendiri. 4. Pada autoanamnesis, tampak pasien terlihat diam tak banyak bergerak, kadang menangis dan sulit untuk menjawab pertanyaan. Jawaban hanya sepatah dua kata saja, tak bergitu jelas, dan kadang menolak untuk bicara

sama sekali. Tanda-tanda autisme jelas terlihat dan tak ada gejala ambivalensi pada saat pemeriksaan. 5. Informasi tambahan Menurut keluarga, tak ada stressor yang memicu perubahan perilaku ini Terdapat riwayat perkawinan baik Ada riwayat skizofrenia dalam keluarga Taraf kecerdasan normal Tak ada stressor dalam 1 tahun terakhir GAF scale sekitar 20-11 saat pemeriksaan (saat ada upaya bunuh diri menurun sampai 10-0) Pemeriksaan fisik tak ada kelainan

III.

ANALISIS MASALAH 1. Apa saja yang menyebabkan tentamen suicidum? 1. 2. 3. 4. Gangguan mood : Bipolar disorder, Depresi Terkait penggunaan obat-obatan Skizofrenia Gangguan kepribadian

2. Apa yang dimaksud dengan meresahkan keluarga? Jawab : Maksud dari meresahkan keluarga itu adalah tindakan atau perilaku yang tidak biasa dari pasien, misalnya mencoba bunuh diri, marah-marah tak beralasan, memukuli atau menjahati orang lain yang mengakibatkan keluarganya merasa cemas, resah, dan takut terhadap perubahan perilakunya.

3. Apa hubungan riwayat masa lalu dengan gejala sekarang? (10,1,2,3) Dua puluh tahun yg lalu, kepribadian premorbid mengarah ke schizoid. Kepribadian yang skizoid ini lebih cenderung mudah mengalami stress, akibat perilakunya yang terlalu kaku (kurang dapat mengekspresikan emosinya sendiri)2. Dan sikap yang lebih senang menyendiri mungkin dapat membuat orang lain tidak mengetahui beberapa keadaan tentang dirinya. Tiga tahun yang lalu pasien berangsur-angsur menarik diri dari pergaulan dan lebih suka mengurung diri di dalam kamar sepanjang hari. Pasien mengalami fase prodormal skizofrenia. Satu tahun yang lalu pasien mengalami halusinasi auditori. Keadaan ini masuk dalam fase aktif skizofrenia.

4. Apakah ada hubungan riwayat skizofrenia dalam keluarga dengan keadaan Tn. Abu sekarang? (4,5,6) Ya, ada hubungan. Sekarang Tn.Abu mengalami gangguan jiwa berat yaitu skizofrenia, dimana salah satu etiologi skizofrenia adalah ditemukan riwayat skizofrenia dalam keluarga. Faktor genetik yang mempengaruhi, apabila : hanya satu orang tua yang mengalami skizofrenia maka kemungkinan 7-16%, kedua orang tua mempunyai kemungkinan 40%, kembar monozigot mempunyai kemungkinan 85,8%, kembar dizigotik mempunyai kemungkinan 14%.

5. Apa interpretasi GAF Scale? (7,8) 100-91 = gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang tak tertanggulangi. 90-81 = gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa. 80-71 = gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll. 70-61 = beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. 60-51 = gejala sedang (moderate), disabilitas sedang. 50-41 = gejala berat (serious), disabilitas berat. 40-31 = beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan

komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi. 30-21 = disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak

mampu berfungsi hamper semua bidang. 20-11 = bahaya mencederai diri/ orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri. 10-01 = seperti di atas persisten dan lebih serius. 0 = informasi tidak adekuat.

Pada kasus, GAF scale sekitar 20-11 (pada saat pemeriksaan) dan 10-01 (pada saat upaya bunuh diri), hal ini menunjukkan pasien dalam keadaan berat/ serius.

6. Apa diagnosis banding kasus ini? (9,10,1) Skizoafektif tipe depresi Skizofrenia Undifferentiated Episode depresi berat dengan gejala psikotik

Skizoafektif

Skizofrenia Undifferentiated

Episode depresi berat dengan gejala psikotik

Gejala psikotik Riwayat skizofrenia Gangguan afektif

Gejala psikotik : halusinasi, pikiran dan bicara dan berpikir tidak teratur Gangguan afektif : depresi

7. Bagaimana cara mendiagnosis dan diagnosis kerja (termasuk apa saja subtype skizofrenia) kasus ini? (2,3,4,5) Kriteria diagnosis skizofrenia menurut PPDGJ-III 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan

biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) : a. - Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, atau - Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan - Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya.

b.

- Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau - Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau - Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus). - Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.

c.

- Halusional Auditorik ; - Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien . - Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau - Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d.

Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu

mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain) 2. Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus. f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme. g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea,

negativisme, mutisme, dan stupor. h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika. 3. Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal); 4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku

pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial. Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima karakter berikut: F20.X0 Berkelanjutan, F20.X1 Episodik dengan kemunduran progresif, F20 X2 episodik dengan kemunduran stabil, F20.X3 Episode berulang , F20. X4 remisi tak sempurna, F20.X5 remisi sempurna, F20.X8. lainnya, F20.X9. Periode pengamatan kurang dari satu tahun. Pada kasus ditemukan : 1. Halusinasi auditorik 2. Gejala-gejala negatif : menarik diri, mengurung diri 3. Gejala telah berlangsung lebih dari satu bulan 4. Adanya perubahan perilaku, menetap dan bermakna. Sehingga diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan.

Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif samasama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia) Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik

10

berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F25.1) atau campuran dari keduanya (F25.2). Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33)

F 25.1 Skizoafektif tipe depresif Pedoman diagnostic menurut PPDGJ Kategori ini harus dipakai baik untuk episode skizoafektif tipe depresif yang tunggal, dan untuk gangguan berulang dimana sebagian besar di dominasi oleh skizoafektif tipe depresif. Afek depresif harus menonjol, disertai oleh sedikitnya 2 gejala khas, baik depresif maupun kelainan prilaku terkait seperti tercantum dalam uraian untuk episode depresif (F 32) Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu, atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan untuk skizofrenia, F20.-pedoman diagnostic (a) sampai (d). Pada kasus ditemukan, pasien sering sedih, kadang menangis tanpa sebab (depresi) dan gejala khas skizofrenia (halusinasi auditorik,gejala negatif) bersamaan. Sehingga dapat dimasukkan dalam skizofrenia subtype : skizoafektif tipe depresi.

Diagnosis multiaksial : Aksis1 : F25.1 Skizoafektif tipe depresi Aksis2 : F60.1 Kepribadian premorbid menuju schizoid Aksis3 : Tidak ada kelainan fisik Aksis4 : Tidak ada stressor Aksis5 : 20-11

11

8. Apa etiologi dan faktor risiko kasus ini? Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui. Beberapa faktor neurobiologi yang dapat menyebabkan skizoafektif adalah : A. Genetik Penelitian tentang genetika dari skizofrenia, dilakukan pada tahun 1930 an. Dimana diketemukan bahwa kemungkinan seseorang akan menderita skizofrenia jika anggota keluarga lainnya juga menderita skizofrenia. Kemungkinan seseorang menderita skizofrenia berhubungan dengan dekatnya hubungan persaudaraan tersebut ( sebagai contohnya, sanak saudara derajat pertama atau derajat kedua). Prevalensi Skizofrenia pada populasi spesifik Populasi Populasi umum Bukan saudara kembar pasien skizofrenik Anak dengan satu orang tua skizofrenik Kembar dizigotik pasien skizofrenik Anak dari kedua orang tua skizofrenik Kembar monozigot pasien skizofrenik Prevalensi(%) 1,0 8,0 12,0 12,0 40,0 47,0

Kembar monozigot memiliki angka yang tertinggi. Penelitian bahwa kembar monozigot yang diadopsi menunjukan bahwa kembar yang diasuh oleh orang tua angkat mempunyai skizofrenia dengan kemungkinan yang sama besarnya seperti saudara kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandungnya. Temuan tersebut menyatakan bahwa pengaruh genetic melebihi pengaruh lingkungan.

12

Pada penelitian yang sekarang dengan dilakukan observasi dengan berbagai peralatan biologi molecular dan genetic molecular. Terdapat beberapa hubungan yang dilaporkan pada pasien dengan skizofrenia, meliputi kromosom 3,5,6, 8,13,dan 18. Dan disamping itu juga diketemukan trinucleotide repeats ( CAG/ CTG) pada kromosm 17 dan 18.

B.

Biokimia Rumusan yang paling sederhana untuk mengungkapkan patofisiolgi dari

skizofrenia adalah hipotesa dopamine. Hipotesa ini secara sederhana menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan karena terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. Hipotesis ini disokong dari hasil observasi pada beberapa obat antipsikotik yang

13

digunakan

untuk

mengobati

skizofrenia

dimana

berhubungan

dengan

kemampuannya menghambat dopamine ( D 2 ) reseptor. Hipotesis dopaminergik tentang skizofrenia terus diperbaiki dan diperluas. Satu bidang spekulasi adalah reseptor dopamine tipe 1 mungkin memainkan peranan dalam gejala negatif, dan beberapa peneliti tertarik dalam menggunakan agonis D 1 sebagai pendekatan pengobatan untuk gejala tersebut.

mesolimbic overactivity = positive symptoms of psychosis

Walaupun hipotesis dopamine tentang skizofrenia telah merangsang penelitian skizofrenia selama lebih dari dua dekade, namun hal ini masih merupakan hipotesis. Hipotesis tersebut masih memiliki masalah. Pertama, antagonis dopamine efektif dalam mengobati hampir semua pasien psikotik dan pasien yang teragitasi berat, tidak tergantung diagnosis. Dengan demikian tidak mungkin untuk menyimpulkan bahwa terjadi hiperaktivitas dopaminergik. Sebagai contohnya antagonis dopamine digunakan juga untuk mengobati mania akut. Kedua, beberapa data eletrofisiologis menyatakan neuron dopaminergik mungkin meningkatkan kecepatan pembakarannya sebagai respon dari pemaparan jangka panjang dengan obat anti psikotik. Data tersebut menyatakan bahwa abnormalitas awal pada pasien ini mungkin melibatkan keadaan

hipodopaminergik. Beberapa penelitian sebelumnya menyatakan bahwa, dalam kondisi experimental yang terkontrol, konsentrasi asam homovanilinic ( sebagai metabolit dopamine utama) dalam plasma dapat mencerminkan konsentarasi asam

14

homovanilinic dalam susunan saraf pusat. Penelitian tersebut menunjukan hubungan positif antara konsentrasi asam homovanilinic praterapi yang tinggi dengan : keparahan gejala psikotik dan respon terapi terhadap obat anti psikotik. Disamping itu perlu juga dipikirkan neurotransmitter lainnya seperti serotonin dan asam amino GABA sebagai etiologi dari skizofrenia. Secara spesifik antagonism pada reseptor serotonin ( 5 hidroxy- tryptamine) tipe 2 ( 5 HT2) menurunkan gejala psikotik dan dalam menurunkan gangguan tersebut berhubungan dengan antagonism D2. Pada salah satu penelitian, aktivitas serotonin berperan dalam perilaku bunuh diri dan impuls yang serupa juga ditemukan pada pasien skizofrenia. Neurotransmiter lainnya yang juga berperan adalah asam amino GABA inhibitor, dimana pada beberapa pasien skizofrenia mengalami kehilangan neuron GABA nergik di dalam hipokampus. Kehilangan inhibitor GABA ergik secara teoritis dapat menyebabkan hiperaktivitas neuron dopaminergik dan

noradrenergic.

C.

Anatomi dan patalogi

Dalam dekade yang lalu semakin banyak penelitian yang telah melibatkan peranan patofisiologis untuk daerah tertentu di dalam otak, termasuk system limbic, korteks frontalis, dan ganglia basalis. Ketiga daerah tersebut saling

15

berhubungan, sehingga disfungsi pada salah satu daerah mungkin akan melibatkan patalogi primer di daerah lainnya di dalam otak. Penelitian menyebutkan bila terjadi disfungsi misalnya pada bagian tertentu dari sitem limbic yang merupan tempat yang potensial akan menimbulkan gangguan pada sebagian besar pasien dengan gangguan skizofrenia. Pembesaran ventricular otak merupakan salah satu yang palin sering menyebabkan gangguan pada pasien skizofrenia. Akan tetapi pembesaran pada sulkus dan atrofi pada otak juga pernah dilaporkan. Pembesaran ventricular secara teoritis berhubungan dengan kemiskinan fungsi premorbid, gejala negative, kemiskinan terhadap respon pengobatan, dan gangguan kognitif. Pada pemeriksaan dengan menggunakan MRI terdapat juga kemungkinan kerusakan pada daerah thalamus, amygdale/ hippocampus, lobus temporal, dan basal ganglia. Pada peneliatan, menunjukan sampel otak pasien skizofrenia postmortem diketemukan adanya penurunan ukuran daerah tersebut. Ganglia basalis terlibat dalam pengendalian gerakan dimana pada pasien skizofrenia mempunyai pergerakan yang aneh, bahkan tanpa adanya gangguan pergerakan akibat medikasi. Gerakan aneh termasuk berjalan yang kaku, menyeringai wajah, dan gerkan streotipik. Sehingga ganglia basalis dilibatkan dalam patofisiologi skizofrenia. Beberapa penelitian menyatakan bahwa ukuran regio temporal yang berkurang pada skizofrenia dan gangguan pada gyrus temporalis superior atau planum temporal berhubungan dengan timbulnya halusinasi.

D.

Perkembangan saraf Saat trisemester kedua pada kehamilan, neuron otak janin harus saling

berhubungan dengan neuron lainnya sehingga menghasilkan suatu kesatuan dalam otak. Gangguan proses perkembangan yang dapat dihubungkan pada gangguan skizofrenia adalah kegagalan sel dalam melakukan pematangan, pemindahan hingga terjadinya apoptosis. Kegagalan dari sel untuk berpindah pada posisi yang benar akan menyebabkan terjadinya daerah abu abu yang ektopik pada otak dan

16

kekacauan neuron pada daerah spesifik di hipokampus. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada pasien skizofrenia. Disamping itu juga ditemukan adanya hubungan gangguan perkembangan dengan cedera otak yang terjadi pada awal kehidupan, dimana pada pasien dengan skizofenia memiliki lebih banyak sejarah cedera otak dan komplikasi perinatal dibandingkan dengan pasien yang tidak skizofrenia.

E.

Elektrofisiologi Penelitian elektroensefalografi ( EEG) pada pasien skizofrenia

menunjukan sejumlah besar pasien mempunyai rekaman yang abnormal, yang disertai dengan peningkatan kepekaan terhadap prosedur aktivasi akan terlihat, penurunan aktivitas alfa, peningkatan aktivitas teta dan delta, dengan kemungkinan aktivitas epileptiformis yang lebih dari biasanya. F. Neuroimunolgi Sejumlah kelaianan imunologis dihubungkan dengan pasien skizofenia dimana didapatkan adanya penurunan produksi interleukin 2 sel T, penurunan jumlah dan responsifitas limfosit perifer, kelainan pada reaktivitas seluler dan humoral terhadap neuron, dan adanya antibody yang diarahkan ke otak. Penelitian yang dilakukan secara cermat yang mencari bukti bukti infeksi virus neurotoksik pada skizofrenia telah menghasilkan hal yang negative, walaupun data epidemiologi menunjukan tingginya insidensi skizofrenia.

G.

Komplikasi kelahiran Penelitian terakhir menyatakan bahwa skizofrenia juga dapat disebabkan

dari ketidaknormalan perkembangan otak. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan yang terjadi pada wanita hamil, seperti komplikasi pada kelahiran dapat menyebabkan meningkatnya resiko menderita skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia.

17

H.

Malnutrisi Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama yang bila terjadi pada

trimester pertama kehamilan, dapat menyebabkan gangguan perkembangan struktur sistem saraf pusat. Yang mana pada akhirnya hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya skizofrenia. Menurut Dr. Jack McClellan seorang professor psikiatri dari University of Washington, asam folat mempunyai peranan besar dalam proses transkripsi gen dan regulasi, serta replikasi DNA. Kekurangan zat ini pada janin akan menyebabkan mutasi ini dapat menyebabkan ketidaknormalan fungsi otak yang dapat berkembang menjadi skizofrenia.

I.

Infeksi Infeksi virus yang terjadi selama kehamilan, dapat mengganggu

perkembangan otak janin, yang berakibat timbulnya skizofrenia di kemudian hari. Perubahan anatomi pada susunan saraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang-orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia. Virus influenza, measles, polio, herpes simplex tipe 2, difteria dan pneumonia yang terjadi pada janin merupakan faktor resiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya skizofrenia, walaupun belum dapat dipastikan apakah penyakit ini langsung mengenai otak janin atau ketidaknormalan perkembangan merupakan akibat sekunder dari respon imun maternal.

9. Bagaimana epidemiologi kasus ini? Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen, kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Tetapi angka tersebut adalah angka pekiraan, karena berbagai penelitian terhadap gangguan skizoafektif telah menggunakan kriteria diagnostic yang bervariasi. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-

18

laki dibandingkan wanita, khususnya wanita yang menikah. Usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki. Laki-laki dengan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisocial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata. (Kaplan, 2003) Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 sampai 1 % dan biasanya timbul pada usia sekitar 18 sampai 45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11 sampai 12 tahun sudah menderita skizofrenia.

10. Bagaimana patofisiologi kasus ini?

Dopamin adalah neurotransmitter yang terbuat dari asam amino tirosin. Dopamin dibentuk di otak, di ventral tegmental area dan substansia nigra. Neuron tertentu mengandung dopamine dan mempunyai reseptornya. Di otak terdapat 3 sistem primer yang melibatkan dopamin, antara lain sistem nigrostriatal, sistem mesolimbik, sistem mesokortikal. Sistem mesolimbik

19

dan mesokortikal mempunyai nucleus di ventral tegmental area, sedangkan sistem nigrostriatal mempunyai nucleus di substansia nigra. Menurut hipotesis dopamine, gejala positif disebabkan oleh peningkatan dopamine di sistem mesolimbik. Gejala negatif,kognitif, dan afektif disebabkan oleh penurunan dopamine di sistem mesokortikal.

20

Transmisi dopamin diregulasi oleh sirkuit komplek di otak yang melibatkan neurotransmitter lain seperti c-aminobutyrate (GABA) and glutamat. Neuron dopamin di Ventral Tegmental Area(VTA) dikontrol oleh sistem eksitasi,glutamatergic cells project-ing dari kortek, dan sistem penghenti, dimediasi oleh GABAergic cells. Jika koordinasi sistem eksitasi dan sistem penghenti terganggu, seperti adanya abnormalitas pada glutamatergic pyramidal cells atau hipofungsi reseptor NMDA(N-methylD-aspartate), pengeluaran dopamin mesolimbik tidak dapat kendalikan. Jika kedua sistem(eksistasi dan penghenti) bermasalah, sistem penghenti diperkirakan mempunyai peranan yang paling besar dalam regulasi dopamin mesolimbik. Pada orang normal, kedua sistem ini saling membatalkan satu sama lain. Pada pasien skizofrenia, keadaan yang dapat menimbulkan pelepasan dopamin yang berlebih seperti stress atau konsumsi ampetamin, disini sistem penghenti kurang mampu menurunkan dopamin. Pada saat yang bersamaan, stimulasi mesocortical dopaminergic projection tidak adekuat, sehingga kadar dopamin yang rendah pada mesokortikal.

21

11. Apa manifestasi klinik kasus ini? (6,7,8) Gejala positif : a. Delusi : pikran yang salah b. Halusinasi : melihat, mendengar merasa mencium merasa sesuatu yg sebenarnya tidak ada. Paling banyak mendengar suara2 yg memerintahkan atau mengomentari apa yang dia lakukan. Gejala negatif : a. Gangguan emosi b. Perubahan perilaku, apatis yang extreme c. Hilang motivasi/ inisiatif d. Tidak ada kontak sosial e. Emotional unresponsiveness

Gejala disorganisasi : a. Gangguan pikiran dan berbicara b. Berbicara dari satu topik ke topik lain c. Punya kata2 atau suara2 tersendiri yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri d. Dapat pula ditemukan perubahan fungsi kognitif dan mood afektif

Gejala depresi : a. Kehilangan minat dan kegembiraan b. Berkurangnya energiyang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktifitas c. Konsentrasi dan perhatian berkurang d. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang e. Gagasan rasa bersalah dan tidak beguna f. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis g. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

22

h. Tidur terganggu i. Nafsu makan berkurang

12. Bagaimana tatalaksana kasus ini? 1. Hospitalisasi Hospitalisasi ditujukan untuk tujuan diagnosis, stabilisasi pengobatan, untuk keselamatan pasien yang mencoba bunuh diri, pasien yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri. 2. Farmakoterapi : Farmakoterapi diberikan pada fase akut maupun fase residual. Pada fase akut, farmakoterapi bertujuan untuk mengurangi gejala psikotik. Sedangkan pada fase residual,farmakoterapi bertujuan untuk mencegah munculnya gejala psikotik. Pada kasus ini, diberikan dahulu obat antipsikotik tipikal. Jika tidak terdapat perbaikan gejala, dapat diberikan obat antipsikotik atipikal.

Obat antipsikotik tipikal

No. Golongan 1 Fenotiazin

Obat Chlorpromazin Thioridazin Trifluoperazin Perfenazin Flufenazin

Dosis anjuran 150-600 mg/hari 150-600 mg/hari 10-15 mg/hari 12-24 mg/hari 10-15 mg/hari 5-15 mg/hari 7,5-15 mg/hari 1-4 mg/hari

Butirofenon

Halloperidol Droperidol

Difenilbutilpiperidin Pimozide

23

Obat lain : Lithium, dapat menurunkan gejala psikotik lebih lanjut pada 50% pasien skizofrenia Anticonvulsant, (carbamazepine dan valproate) efektif untuk menurunkan episode kekerasan pada pasien skizofrenia Benzodiazepine

Terapi biologik: ECT (pilihan terakhir) jika tidak ada progresifitas semua obat yang diberikan.

3. Psikoterapi : Psikoterapi bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sosial, selfsufficiency, kemampuan praktik, komunikasi interpersonal. Beberapa metode yang digunakan antara lain : - Latihan kemampuan social meningkatkan kemampuan sosial - Terapi personal meningkatkan kemampuan penyesuain diri dan social. - Terapi perilaku kognitif meningkatkan kemampuan interpersonal - Vocational therapy membantu pasien memperoleh kembali kemampuan yang lama atau mengembangkan yang baru. - Terapi psikoanalisa - Terapi humanistik

Selain psikoterapi pada pasien, perlu dilakukan edukasi terhadap keluarga pasien. Edukasi yang perlu disampaikan kepada keluarga pasien antara lain : 1. Gejala penyakit jiwa (perilaku aneh dan agitasi) 2. Antisipasi kekambuhan 3. Penanganan psikosis akut

24

4. Pengobatan yang akan mengurangi gejala dan mencegah kekambuhan 5. Perlunya dukungan keluarga terhadap pengobatan dan rehabililtasi pasien 6. Perlunya organisasi kemasyarakatan sebagai dukungan yang berarti bagi pasien dan keluarga

Konseling pasien dan keluarga Beberapa topik yang dapat menjadi fokus konseling adalah : 1. 2. Pengobatan dan dukungan keluarga terhadap pasien Membantu pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari 3. Kurangi stress dan kontak dengan stres

13. Apa prognosis kasus ini? Prognosis Baik Usia tua Ada faktor presipitasi yang jelas Acute onset Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan premorbid baik Gejala gangguan mood (terutama gangguan depresif) Menikah Riwayat keluarga dengan gangguan mood Sistem pendukung baik Gejala positif Lajang, cerai, atau menjanda/duda Riwayat keluarga dengan skizofrenia Sistem pendukung buruk Gejala negative Tanda dan gejala neurologis Prognosis Buruk Usia muda Tidak ada faktor presipitasi Insidious onset Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan premorbid buruk Perilaku autistic, menarik diri

25

Riwayat trauma perinatal Tanpa remisi dalam 3 tahun Berulang kali relaps Riwayat melakukan tindakan penyerangan

Ad vitam Ad fungsionam 14. Apa KDU kasus ini?

: Bonam : Dubia ad malam

3B: Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan member terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

IV.

Hipotesis

Tn. Abu, 30 tahun, petani, meresahkan keluarga dan pernah mencoba untuk bunuh diri e.c. skizoafektif tipe depresi

26

V.

Kerangka Konsep

-Riwayat keluarga skizofrenia -Kemungkinan : - Faktor lingkungan - Biologis - Neuroanatomi Gangguan neurotransmitter Tn.Abu,30 tahun kepribadian premorbid skizoid

Gejala positif

Gejala negatif

Gejala depresi

Skizoafektif tipe depresi

VI.

Sintesis A. Psikotik A. Definisi Psikosis adalah hilangnya kontak dengan realitas yang biasanya meliputi: - Keyakinan yang salah tentang apa yang terjadi (delusi)

- Melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada (halusinasi) B. Penyebab, kejadian, dan faktor risiko Sejumlah masalah medis dapat menyebabkan psikosis, termasuk: 1. Alkohol dan obat-obatan terlarang tertentu, baik selama penggunaan dan selama withdrawal

2. Penyakit otak, seperti penyakit Parkinson, penyakit Huntington,

27

dan kelainan kromosom tertentu

3. Tumor otak atau kista 4. Demensia (termasuk penyakit Alzheimer) 5. HIV dan infeksi lain yang mempengaruhi otak 6. Beberapa obat resep, seperti steroid dan stimulan 7. Beberapa jenis epilepsi 8. Stroke C. Psikosis (gejala psikotik) juga dapat ditemukan di:

- Kebanyakan orang dengan skizofrenia

- Beberapa orang dengan gangguan bipolar (manic-depressive) atau depresi berat

- Beberapa gangguan kepribadian

D.

Gejala Gejala psikotik termasuk:

- Berpikir dan berbicara kacau

- Salah kepercayaan yang tidak didasarkan pada kenyataannya (delusi), terutama ketakutan atau kecurigaan tak berdasar.

- Mendengar, melihat, atau merasa hal-hal yang tidak ada

28

(halusinasi).

- Pikiran yang "melompat" antara topik yang tidak berhubungan (gangguan berpikir)

B. Skizofrenia Definisi Skizofrenia Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (Sadock, 2003). Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan pikiran, gaduh gelissah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri dari pergaulan, miskin kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh, sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif

Epidemiologi Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki

29

daripada perempuan dan lebih besar di daerah urban dibandingkan daerah rural (Sadock, 2003). Pasien skizofrenia beresiko meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, terutama ketergantungan nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin. Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri (Kazadi, 2008).

Menurut Howard, Castle, Wessely, dan Murray, 1993 di seluruh dunia prevalensi seumur hidup skizofrenia kira-kira sama antara laki-laki dan perempuan diperkirakan sekitar 0,2%-1,5%. Meskipun ada beberapa ketidaksepakatan tentang distribusi skizofrenia di antara laki-laki dan perempuan, perbedaan di antara kedua jenis kelamin dalam hal umur dan onset-nya jelas. Onset untuk perempuan lebih rendah dibandingkan lakilaki, yaitu sampai umur 36 tahun, yang perbandingan risiko onsetnya menjadi terbalik, sehingga lebih banyak perempuan yang mengalami skizofrenia pada usia yang lebih lanjut bila dibandingkan dengan laki-laki (Durand, 2007

Etiologi

Terdapat beberapa pendekatan yang dominan dalam menganalisa penyebab skizofrenia, antara lain :

Faktor Genetik Menurut Maramis (1995), faktor keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur. Angka kesakitan bagi saudara tiri ialah 0,9 - 1,8%; bagi saudara kandung 7 15%; bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita

30

skizofrenia 7 16%; bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40 68%; bagi kembar dua telur (heterozigot) 2 -15%; bagi kembar satu telur (monozigot) 61 86%. Skizofrenia melibatkan lebih dari satu gen, sebuah fenomena yang disebut quantitative trait loci. Skizofrenia yang paling sering kita lihat mungkin disebabkan oleh beberapa gen yang berlokasi di tempat-tempat yang berbeda di seluruh kromosom. Ini juga mengklarifikasikan mengapa ada gradasi tingkat keparahan pada orang-orang yang mengalami gangguan ini (dari ringan sampai berat) dan mengapa risiko untuk mengalami skizofrenia semakin tinggi dengan semakin banyaknya jumlah anggota keluarga yang memiliki penyakit ini (Durand & Barlow, 2007).

Faktor Biokimia

Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga memainkan peranan (Durand, 2007).

Faktor Psikologis dan Sosial

Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua-anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga (Wiraminaradja & Sutardjo, 2005).

31

Banyak penelitian yang mempelajari bagaimana interaksi dalam keluarga mempengaruhi penderita skizofrenia. Sebagai contoh, istilah schizophregenic mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand & Barlow, 2007). Menurut Coleman dan Maramis (1994 dalam Baihaqi et al, 2005), keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orangtua terkadang bertindak terlalu banyak untuk anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya. Perjalanan Penyakit Perjalanan penyakit skizofrenia sangat bervariasi pada tiap-tiap individu. Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan keadaan residual (Sadock, 2003; Buchanan, 2005).

Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia, walaupun gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa hari sampai beberapa bulan.

Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas, gundah (gelisah), merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien dengan skizofrenia menyatakan bahwa sebagian penderita

32

mengeluhkan gejala somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah pencernaan (Sadock, 2003).

Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis, yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku.Penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri (tilikan) buruk sampai tidak ada.

Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis skizofrenia. Yang tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, yaitu dapat berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh (Buchanan, 2005). Tipe-tipe Skizofrenia Diagnosa Skizofrenia berawal dari Diagnostik and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yaitu: DSM-III (American Psychiatric Assosiation, 1980) dan berlanjut dalam DSM-IV (American Psychiatric Assosiation,1994) dan DSM-IV-TR (American Psychiatric

Assosiation,2000). Berikut ini adalah tipe skizofrenia dari DSM-IV-TR 2000. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala yang dominan yaitu (Davison, 2006) :

1. Tipe Paranoid

Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan, keagamaan, atau somalisas) mungkin juga muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi, dan agresif.

33

2. Tipe Disorganized (tidak terorganisasi) Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat kaitannya dengan isi pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari.

3. Tipe Katatonik Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah gangguan pada psikomotor yang dapat meliputi ketidakbergerakan motorik (waxy flexibility). Aktivitas motor yang berlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan berkomunikasi (mutism), gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang lain (echopraxia).

4. Tipe Undifferentiated Tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion), emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi, referensi yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan ketakutan.

5. Tipe Residual Tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti keyakinan-keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar yang tidak sepenuhnya delusional. Gejala-gejala residual itu

34

dapat meliputi menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek datar.

Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada pasien skizofrenia dapat berupa terapi biologis, dan terapi psikososial.

Terapi Biologis Pada penatalaksanaan terapi biologis terdapat tiga bagian yaitu terapi dengan menggunakan obat antipsikosis, terapi elektrokonvulsif, dan pembedahan bagian otak. Terapi dengan penggunaan obat antipsikosis dapat meredakan gejala-gejala skizofrenia. Obat yang digunakan adalah chlorpromazine (thorazine) dan fluphenazine decanoate (prolixin). Kedua obat tersebut termasuk kelompok obat phenothiazines, reserpine (serpasil), dan haloperidol (haldol). Obat ini disebut obat penenang utama.

Obat tersebut dapat menimbulkan rasa kantuk dan kelesuan, tetapi tidak mengakibatkan tidur yang lelap, sekalipun dalam dosis yang sangat tinggi (orang tersebut dapat dengan mudah terbangun). Obat ini cukup tepat bagi penderita skizofrenia yang tampaknya tidak dapat menyaring stimulus yang tidak relevan (Durand, 2007).

Terapi Elektrokonvulsif juga dikenal sebagai terapi electroshock pada penatalaksanaan terapi biologis. Pada akhir 1930-an, electroconvulsive therapy (ECT) diperkenalkan sebagai penanganan untuk skizofrenia.Tetapi terapi ini telah menjadi pokok perdebatan dan keprihatinan masyarakat karena beberapa alasan. ECT ini digunakan di berbagai rumah sakit jiwa pada berbagai gangguan jiwa, termasuk skizofrenia.

35

Menurut Fink dan Sackeim (1996) antusiasme awal terhadap ECT semakin memudar karena metode ini kemudian diketahui tidak menguntungkan bagi bagian besar penderita skizofrenia meskipun penggunaan terapi ini masih dilakukan hingga saat ini. Sebelum prosedur ECT yang lebih manusiawi dikembangkan, ECT merupakan pengalaman yang sangat menakutkan pasien. Pasien seringkali tidak bangun lagi setelah aliran listrik dialirkan ke tubuhnya dan mengakibatkan ketidaksadaran sementara, serta seringkali menderita kerancuan pikiran dan hilangnya ingatan setelah itu. Adakalanya, intensitas kekejangan otot yang menyertai serangan otak mengakibatkan berbagai cacat fisik (Durand, 2007). Pada terapi biologis lainnya seperti pembedahan bagian otak Moniz (1935, dalam Davison, et al., 1994) memperkenalkan prefrontal lobotomy, yaitu proses operasi primitif dengan cara membuang stone of madness atau disebut dengan batu gila yang dianggap menjadi penyebab perilaku yang terganggu. Menurut Moniz, cara ini cukup berhasil dalam proses penyembuhan yang dilakukannya, khususnya pada penderita yang berperilaku kasar. Akan tetapi, pada tahun 1950-an cara ini ditinggalkan karena menyebabkan penderita kehilangan kemampuan kognitifnya, otak tumpul, tidak bergairah, bahkan meninggal.

Terapi Psikososial

Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi pengobatan di dalam maupun di luar Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga (Durand, 2007).

36

Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Para peserta terapi saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami. Peserta diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi, sehingga dapat memperkaya pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.

Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha untuk menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali.

Dalam hal ini, keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan penderita dan caracara untuk menghadapinya. Dari beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al., 1994; Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangat membantu dalam proses penyembuhan, atau sekurang-kurangnya mencegah kambuhnya penyakit penderita, dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual. Terapi Psikoanalisa. Terapi Psikoanalisa adalah metode terapi berdasarkan konsep Freud. Tujuan psikoanalisis adalah menyadarkan individu akan konflik yang tidak disadarinya dan mekanisme pertahanan yang digunakannya untuk mengendalikan kecemasannya . Hal yang paling penting pada terapi ini adalah untuk mengatasi hal-hal yang direpress oleh penderita.

37

Metode terapi ini dilakukan pada saat penderita schizophrenia sedang tidak "kambuh". Macam terapi psikoanalisa yang dapat dilakukan, adalah Asosiasi Bebas. Pada teknik terapi ini, penderita didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan dan mengucapkan apa saja yang ada dalam pikirannya tanpa penyuntingan atau penyensoran (Akinson, 1991).

Pada teknik ini, penderita disupport untuk bisa berada dalam kondisi relaks baik fisik maupun mental dengan cara tidur di sofa. Ketika penderita dinyatakan sudah berada dalam keadaan relaks, maka pasien harus mengungkapkan hal yang dipikirkan pada saat itu secara verbal. Pada saat penderita tidur di sofa dan disuruh menyebutkan segala macam pikiran dan perasaan yang ada di benaknya dan penderita mengalami blocking, maka hal itu merupakan manifestasi dari keadaan over-repressi. Hal yang direpressi biasanya berupa dorongan vital seperti sexual dan agresi. Repressi terhadap dorongan agresi menyangkut figur otorotas yang selalu diwakili oleh father dan mother figure. Repressi anger dan hostile merupakan salah satu bentuk intrapsikis yang biasa menyebabkan blocking pada individu. Akibat dari blocking tersebut, maka integrasi kepribadian menjadi tidak baik, karena ada tekanan ego yang sangat besar. Menurut Freud, apabila terjadi blocking dalam proses asosiasi bebas, maka penderita akan melakukan analisa. Hasil dari analisanya dapat menimbulkan insight pada penderita. Analisa pada waktu terjadi blocking bertujuan agar penderita mampu menempatkan konfliknya lebih

proporsional, sehingga penderita mengalami suatu proses penurunan ketegangan dan penderita lebih toleran terhadap konflik yang dialaminya. Seperti yang telah diungkapkan terdahulu bahwa penderita diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan segala traumatic events dan keinginan-keinginan yang direpressnya. Waktu ini disebut dengan moment chatarsis. Disini penderita diberi kesempatan untuk mengeluarkan uneg-

38

uneg yang ia rasakan , sehingga terjadi redusir terhadap pelibatan emosi dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya.

Dalam teknik asosiasi bebas ini, juga terdapat proses transference, yaitu suatu keadaan dimana pasien menempatkan therapist sebagai figur substitusi dari figur yang sebenarnya menimbulkan masalah bagi penderita. Terdapat 2 macam transference, yaitu (1) transference positif, yaitu apabila therapist menggantikan figur yang disukai oleh penderita, (2) transference negatif, yaitu therapist menggantikan figur yang dibenci oleh penderita (Fakultas Psikologi UNPAD, 1992). Terapi Perilaku (Behavioristik) Pada dasarnya, terapi perilaku menekankan prinsip pengkondisian klasik dan operan, karena terapi ini berkaitan dengan perilaku nyata. Para terpist mencoba menentukan stimulus yang mengawali respon malasuai dan kondisi lingkungan yang menguatkan atau mempertahankan perilaku itu (Ullaman dan Krasner, 1969; Lazarus, 1971 dalam Atkinson, 1991).

Akhir-akhir ini, pakar terapi perilaku melihat adanya pengaruh variabel kognitif pada perilaku (misalnya, pemikiran individu tentang situasi menimbulkan kecemasan tentang akibat dari tindakan tertentu) dan telah mencakupkan upaya untuk mengubah variabel semacam itu dengan prosedur yang khusus ditujukan pada perilaku tersebut (Bandura, 1982; Meinchenbaum dan Jaremko, 1982 dalam Atkinson, 1991).

Pada kongres psikiatri di Malaysia beberapa bulan lalu tahun 2000 ini, cognitif -behavior therapy untuk pasien schizophrenia ditampilkan pakar psikiatri dari Amerika maupun dari Malaysia sendiri. Ternyata, terdapat hasil yang cukup baik, terutama untuk kasus-kasus baru, dengan menggunakan cognitif - behavior therapy tersebut. Rupanya ada

39

gelombang besar optimisme akan kesembuhan schizophrenia di dunia dengan terapi yang lebih komprehensif ini.

Selain itu, secara umum terapi ini juga bermaksud secara langsung membentuk dan mengembangkan perilaku penderita schizophrenia yang lebih sesuai, sebagai persiapan penderita untuk kembali berperan dalam masyarakat. Paul dan Lentz (Rathus, et al., 1991; Davison, et al., 1994) menggunakan dua bentuk program psikososial untuk meningkatkan fungsi kemandirian. a. Social Learning Program. Social learning program menolong penderita schizophrenia untuk mempelajari perilaku-perilaku yang sesuai. Program ini menggunakan token economy, yakni suatu cara untuk menguatkan perilaku dengan memberikan tanda tertentu (token) bila penderita berhasil melakukan suatu perilaku tertentu. Tanda tersebut dapat ditukar dengan hadiah (reward), seperti makanan atau hak-hak tertentu.

Program lainnya adalah millieu program atau therapeutic community. Dalam program ini, penderita dibagi dalam kelompokkelompok kecil yang mempunyai tanggung jawab untuk tugas-tugas tertentu. Mereka dianjurkan meluangkan waktu untuk bersama-sama dan saling membantu dalam penyesuaian perilaku serta membicarakan masalah-masalah bersama dengan pendamping. Terapi ini berusaha memasukkan penderita schizophrenia dalam proses perkembangan untuk mempersiapkan mereka dalam peran sosial yang bertanggung jawab dengan melibatkan seluruh penderitan dan staf pembimbing.

Dalam penelitian, social learning program mempunyai hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perawatan dalam rumah sakit jiwa dan millieu program. Persoalan yang muncul dalam terapi ini adalah identifikasi tentang unsur-unsur mana yang efektif. Tidak jelas apakah

40

penguatan dengan tanda (token) ataukan faktor-faktor lain yang menyebabkan perubahan perilaku; dan apakah program penguatan dengan tanda tersebut membantu perubahan perilaku hanya selama tanda diberikan atau hanya dalam lingkungan perawatan. b. Social Skills Training. Terapi ini melatih penderita mengenai ketrampilan atau keahlian sosial, seperti kemampuan percakapan, yang dapat membantu dalam beradaptasi dengan masyarakat (Rathus, et al., 1991; Davisoan, et al., 1994; Sue, et al., 1986). Social Skills Training menggunakan latihan bermainsandiwara. Para penderita diberi tugas untuk bermain peran dalam situasisituasi tertentu agar mereka dapat menerapkannya dalam situasi yang sebenarnya. Bentuk terapi seperti ini sering digunakan dalam panti-panti rehabilitasin psikososial untuk membantu penderita agar bisa kembali berperan dalam masyarakat. Mereka dibantu dan didukung untuk melaksanakan tugas-tugas harian seperti memasak, berbelanja, ataupun utnuk berkomunikasi, bersahabat, dan sebagainya. Meskipun terapi ini cukup berhasil, namun tetap ada persoalan bagaimana mempertahankan perilaku bila suatu program telah selesai, dan bagaimana dengan situasisituasi yang tidak diajarkan secara langsung.

Terapi Humanistik a. Terapi Kelompok. Banyak masalah emosional menyangkut kesulitan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain, yang dapat menyebabkan seseorang berusaha menghindari relasinya dengan orang lain, mengisolasi diri, sehingga menyebabkan pola penyelesaian masalah yang dilakukannya tidak tepat dan tidak sesuai dengan dunia empiris. Dalam menangani kasus tersebut, terapi kelompok akan sangat bermanfaat bagi proses

penyembuhan klien, khususnya klien schizophrenia.

41

Terapi kelompok ini termasuk salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi arah di dalamnya. Di antara peserta terapi tersebut saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang dialami oleh mereka. Klien dihadapkan pada setting sosial yang mengajaknya untuk berkomunikasi, sehingga terapi ini dapat memperkaya pengalaman mereka dalam kemampuan

berkomunikasi. Di rumah sakit jiwa, terapi ini sering dilakukan. Melalui terapi kelompok ini iklim interpersonal relationship yang konkrit akan tercipta, sehingga klien selalu diajak untuk berpikir secara realistis dan menilai pikiran dan perasaannya yang tidak realistis. b. Terapi Keluarga. Terapi keluarga ini merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok. Kelompoknya terdiri atas suami istri atau orang tua serta anaknya yang bertemu dengan satu atau dua terapist. Terapi ini digunakan untuk penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Ungkapan-ungkapan emosi dalam keluarga yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh kembali diusahakan kembali. Keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif maupun yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersama-sama. Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Keluarga juga diberi penjelasan tentang cara untuk mendampingi, mengajari, dan melatih penderita dengan sikap penuh penghargaan. Perlakuan-perlakuan dan pengungkapan emosi anggota keluarga diatur dan disusun sedemikian rupa serta dievaluasi. Dari beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon (Davison, et al.,1994; Rathus, et al., 1991) ternyata campur tangan keluarga sangan membantu dalam proses penyembuhan, atau sekurang-kurangnya

42

mencegah kambuhnya penyakit penderita, dibandingkan dengan terapiterapi secara individual.

C. Gangguan Jiwa Afektif Gangguan Jiwa Afektif Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. Gangguan afektif ini antara lain: a. Gangguan Afektif tipe Depresif --- Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. Faktor penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan.Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan, pada umur 40 50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). Pada usia pertengahan tersebut prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki, akan tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang. Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause, yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif lagi, walaupun sebenarnya tidak harus begitu, karena kebutuhan biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya. Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah: sedih, sukar tidur, sulit berkonsentrasi, merasa dirinya tak berharga, bosan hidup dan kadangkadang ingin bunuh diri. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik, namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. Pada depresi psikotik, kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality testing ability) ikut terganggu dan
43

berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat mengenali orang, tempat, maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu, tak ada rasa takut, dsb. b. Gangguan Afektif tipe Manik --- Gangguan ini sering timbul secara bergantian pada pasien yang mengalami gangguan afektif tipe depresi sehingga terjadi suatu siklus yang disebut gangguan afektif tipe Manik Depresif. Dalam keadaan Manik, pasien menunjukkan keadaan gembira yang tinggi, cenderung berlebihan sehingga mendorong pasien berbuat sesuatu yang melampaui batas kemampuannya, pembicaraan menjadi tidak sopan dan membuat orang lain menjadi tidak enak. Kondisi ini lebih jarang terjadi dari pada tipe depresi. Kondisi semacam ini kadang-kadang silih berganti, suatu ketika pasien menjadi eforia, aktif, riang gembira, pidato berapi-api, marah-marah, namun tak lama kemudia menjadi sedih, murung, menangis tersedu-sedu yang sulit dimengerti. c. Neurosis --- Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia). Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena disangka sebagai gejala ketuaan. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Gangguan neurosis pada lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lanjut usia (lansia). Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Kepribadiannya tetap utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik, namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang neurosis obsesive untuk mandi, ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak puas-puas untuk mandi. Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut:

44

Neurosis cemas dan panic Neurosis obsesif kompulsif Neurosis fobik Neurosis histerik (konversi) Gangguan somatoform

Faktor resiko penyakit ini termasuk: 1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga 2. Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik, penarikan diri, dan/atau impulsivitas. 3. Stress lingkungan 4. Kelahiran pada musim dingin. Faktor ini hanya memiliki nilai prediktif yang sangat kecil. 5. Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian adalah karena dideritanya gangguan ini Tidak ada jalur etiologi tunggal yang telah diketahui menjadi penyebab skizofrenia. Penyakit ini mungkin mewakili sekelompok heterogen gangguan yang mempunyai gejala-gejala serupa. Secara genetik, sekurang-kurangnya beberapa individu penderita skizofrenia mempunyai kerentanan genetic herediter. Kemungkinan menderita gangguan ini meningkat dengan adanya kedekatan genetic dengan, dan beratnya penyakit, probandnya. Penelitian Computed Tomography (CT) otak dan penelitian post mortem mengungkapkan perbedaan-perbedaan otak penderita skizofrenia dari otak normal walau pun belum ditemukan pola yang konsisten. Penelitian aliran darah, glukografi, dan Brain Electrical Activity Mapping (BEAM) mengungkapkan turunnya aktivitas lobus frontal pada beberapa individu penderita skizofrenia. Status

hiperdopaminergik yang khas untuk traktus mesolimbik (area tegmentalis ventralis di otak tengah ke berbagai struktur limbic) menjadi penjelasan patofisiologis yang paling luas diterima untuk skizofrenia.

45

Semua tanda dan gejala skizofrenia telah ditemukan pada orangorang bukan penderita skizofrenia akibat lesi system syaraf pusat atau akibat gangguan fisik lainnya. Gejala dan tanda psikotik tidak satu pun khas pada semua penderita skizofrenia. Hal ini menyebabkan sulitnya menegakkan diagnosis pasti untuk gangguan skizofrenia. Keputusan klinis diambil berdasarkan sebagian pada: 1. Tanda dan gejala yang ada 2. Riwayat psikiatri 3. Setelah menyingkirkan semua etiologi organic yang nyata seperti keracunan dan putus obat akut. Gejala - Gejala Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain

ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin. Secara umum, gejala-gejala skizofrenia adalah sebagai berikut:

yang muncul pada penderita

muncul delusi dan halusinasi. Delusi adalah keyakinan/pemikiran yang salah dan tidak sesuai kenyataan, namun tetap dipertahankan sekalipun dihadapkan pada cukup banyak bukti mengenai pemikirannya yang salah tersebut. Delusi yang biasanya muncul adalah bahwa penderita skizofrenia meyakini dirinya adalah Tuhan, dewa, nabi, atau orang besar dan penting. Sementara

46

halusinasi adalah persepsi panca indera yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya penderita tampak berbicara sendiri tetapi ia mempersepsikan ada orang lain yang sedang ia ajak berbicara.

kehilangan energi dan minat untuk menjalani aktivitas seharihari, bersenang-senang, maupun aktivitas seksual, berbicara hanya sedikit, gagal menjalin hubungan yang dekat dengan orang lain, tidak mampu memikirkan konsekuensi dari tindakannya,

menampilkan ekspresi emosi yang datar, atau bahkan ekspresi emosi yang tidak sesuai konteks (misalkan tiba-tiba tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas).

menampilkan

perilaku

tidak

terorganisir,

misalnya

menampilkan pose tubuh yang aneh, pembicaraan yang tidak tertata dengan baik (bicara melompat-lompat dari satu topik ke topik yang lain atau 'tidak nyambung'). Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas: 1. Gejala-gejala Positif. Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain. 2. Gejala-gejala Negatif. Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/ mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia). Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita skizofrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan skizofrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post

47

Traumatic Stress Dissorder. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau skizofrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhatihati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan. Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren. Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala skizofrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita skizofrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis. Penderita skizofrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita skizofrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.

48

VII.

Daftar Pustaka 1. Arif, I.S. 2006. Skizofrenia; Memahami Dinamika Keluarga Pasien. Bandung : Refika Aditama. 2. Maslim, R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 3. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA.2003. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatri. 9th ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins. 4. 5. Stahl SM. CNS Spectr. 2007;12(4):265-268 Dorland, W. A. Newman.. 2002. Kamus Kedokteran Dorland edisi 29. Jakarta: EGC. 6. Bertolote JM, Fleischmann A, De Leo D, Wasserman D (2004). "Psychiatric diagnoses and suicide: revisiting the evidence". Crisis25 (4): 14755 7. Psychosis. PudMed Health.7 Maret 2012. Web. 8 Januari 2013. < http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002520/>

49