Anda di halaman 1dari 98

Soekarno Manusia Multi Dimensional

Berbicara mengenai Indonesia, berarti berbicara mengenai Soekarno. Ia merupakan simbol nasionalisme Indonesia. Ia berhasil menjembatani perbedaaan-perbedaan yang tercipta di antara suku, agama dan golongan yang ada di Indonesia dan menanamkan kepada rakyat kesadaran tentang suatu bangsa, bangsa Indonesia. Kendati Soekarno telah lama meninggalkan kita, Soekarno seakan-akan masih ada di sekitar kita. Secara sosiologis Soekarno tetap berada dalam kalbu masyarakat Indonesia. Nama besar Soekarno tetap digunakan untuk meraup suara dalam pemilihan umum. Mitos-mitos yang mengelilingi Soekarno tetap terpelihara dalam hati para pengagumnya. Soekarno tetap merupakan bayang-bayang bagi pemerintah sesudahnya. Soeharto, BJ Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati Soekarno Putri dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal tertentu menjadi pelanjut dari apa yang telah dikerjakan Soekarno. Soekarno merupakan persona bagi sarjana asing. Terbukti dengan sedemikian banyak tulisan mengenai Soekarno. Tulisan yang sangat beragam ditulis mengenai Soekarno. Memahami diri Soekarno tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Sebab Soekarno mempunyai beberapa sisi dalam kehidupan. Soekarno bisa dilihat sebagai seorang politisi ulung yang menguasai panggung sejarah sedemkian lama, tetapi Soekarno bisa juga dilihat sebagai seorang pemikir yang mempunyai daya jangkau buah pikiran sedemikian luas. Soekarno juga bisa dilihat sebagai orator yang hebat. Pidato-pidatonya disampaikan dengan bahasa sederhana yang dengan mudah dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Soekarno mempunyai kepekaan artistik yang begitu luar biasa terbukti dengan koleksi-koleksi benda seni yang terdapat di Istana Jakarta, Bogor dan Cipanas. Keindahan ibukota tidak lepas dari sentuhan seni dari Presiden Soekarno. Memahami manusia Soekarno, bagaikan memahami lukisan dengan seribu warna. Begitu banyak dimensi tentang dirinya, dan bermacam-macam pula gambaran yang muncul dari setiap dimensi itu.

Kebanyakan tulisan mengenai Soekarno dalam kumpulan karangan ini diterjemahkan dari jurnal-jurnal ilmiah terkenal seperti Indonesia (Amerika Serikat), Archipel (Perancis) dan Bijdragen Tot De Taal-,Land De Volkenkunde (Belanda), Review of Indonesia and Malayan Affairs (Australia) dan The Jurnal of American History (Amerika Serikat), Modern Asian Studies. Empat jurnal pertama yang disebut dikenal sebagai jurnal-jurnal pretegius yang mengkaji masalah-masalah Indonesia. Ini menunjukkan sekaligus betapa tersebarnya pusat-pusat pengkajian masalah-masalah Indonesia. Selama ini pusat kajian mengenai Indonesia berada di Belanda, Amerika Serikat, Australia dan Perancis. Di samping itu sejumlah tulisan merupakan bagian dari buku atau kumpulan karangan. Salah satu tulisan dari kumpulan karangan sarjana Skandinavia mengenai Indonesia disertakan dalam kumpulan karangan ini. Pertunjukan Wayang dan Tulisan Klasik Soekarno Tulisan dalam kumpulan karangan ini diawali dengan tulisan Bernhard Dahm, seorang penulis biografi pemikiran Soekarno, yang menulis riwayat hidup Soekarno sekitar seperempat abad sebelum Soekarno terjun dalam dunia politik sebagai ketua Perserikatan Nasional Indonesia kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia dan setelah mendirikan Algemene Studie Club di Bandung sebelum lulus dari Techniche Hogeschool pada tahun pertengahan 1926. Proses sosialisasi politik Soekarno dimulai pada masa kanak-kanaknya, sewaktu dia masih bernama Kusno dan tinggal bersama kakeknya di Tulungagung. Waktu itu dia masih seorang pencinta wayang yang fanatik, yang lambat lain memahami betul arti makna yang terkandung dalam falsafah-falsafah cerita-ceritanya. Cerita-cerita wayang ini menyuburkan tumbuhnya mitologi Jawa bagaimana tercermin dalam Jayabaya. Tumpukan kesengsaraan, penderitaan dan pengalaman yang dibangun pada bagian permulaan dari satu cerita yang berlangsung dalam kegelapan malam melahirkan rasa tdak puas dan frustasi yang dalam terhadap suasana ketidakadilan yang digambarkan. Dari sini mengalirlah ke lubuk hati para penonton suatu harapan agar seseorang berbuat menentang kezaliman itu dan mengantarkan suasana ke perbaikan Sesudah sekian lama menanti, pada bagian akhir cerita, perubahan yang diharapkan pun datang bersamaan dengan munculnya sang ksatria, si Ratu Adil, yang merebut kemenangan
2

dari pemerkosa keadilan di ujung pagi. Frustasi yang dibangun pada permulaan cerita terjawab puas dengan munculnya sang surya membuka tabir hari baru. Para penonton usai, kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sungguhpun begitu, apa yang mereka tonton semalam, atau pada malammalam sebelumnya dan pada malam-malam sesudahnya itu lambat laun akan tertanam di dalam hati mereka sebagai nilai-nilai yang akan banyak mempengaruhi tingkah laku politik. Dengan lain perkataan, proses pendidikan atau sosialisasi politik mereka antara lain banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita wayang yang mereka tonton. Inilah yang turut mendukung dan menyuburkan apa yang disebut Mitologi Jawa, konsep kepercayaan atau pandangan hidup yang mempengaruhi tingkah laku masyarakat Jawa seharihari. Cerita wayang yang sangat mewarnai proses sosialisasi politik Soekarno adalah cerita Bharata Yudha dan Mahabharata yang menggambarkan peperangan antara dua keluarga yang bermusuhan Kurawa dan Pandawa. Menurut Dahm, Soekarno terutama sekali tertarik pada tokoh Bima dari Pandawa. Bima adalah seorang ksatria yang mempunyai sifat-sifat tidak mengenal kompromi dengan mereka yang datang dari luar golongannya di satu pihak, dan pihak, dan pada waktu yang sama bersedia berkompromi dengan mereka yang segolongan dengan dia. Sifat-sifat ini sangat menonjol dalam perkembangan intelektual dan tingkah politik Soekarno di tahuntahun selanjutnya. Oleh karena itu Bernhard Dahm menganggap tidak ada jalan yang lebik baik untuk mempelajari dan mengerti Soekarno daripada melalui tokoh wayang Bima ini. Sifat tidak mengenal kompromi terhadap musuh luar atau asing jelas ditunjukkan oleh sikap anti-kolonialis dan anti-imperialis Soekarno yang amat keras. Perkenalannya dengan tokoh-tokoh radikal dari NationalIndische Partij (NIP), terutama Dr Tjipto Mangunkusumo, telah memperkeras sikap ini pada dirinya. Ini telah menjadikan Soekarno seorang pejuang anti-penjajahan yang gigih, atau menurut istilah Bernhard Dahm seorang crusader. Kesediannya untuk berkompromi dengan mereka yang segolongan dengan dia (yaitu yang sama-sama menentang penjajah asing) ditunjukkan oleh Soekarno dalam usaha-usahanya untuk mencarikan sebuah landasan yang sama (common denominator) bagi masyarakatnya yang majemuk. Melalui
3

caranya sendiri dia mengumpulkan ide-ide atau aliran-aliran yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, lalu kemudian dia olah sendiri menjadi suatu ide baru yang dia anggap bisa diterima oleh semua pihak, yaitu sebagai common denominator mereka. Proses semacam itu terkenal di kalangan ilmu pengetahuan sosial sebagai sinkretisme Jawa, yaitu proses menerima dan mengubah unsur-unsur yang berbeda-beda menjadi sesuatu yang dikehendaki oleh si pemeroses itu sendiri. Demikianlah Soekarno menurut ukurannya sendiri serta menurut ukuran para pengikutnya, telah berhasil mengelolah ide-ide atau aliran-aliran polirik yang hidup di masanya, yaitu Nasionalisme, Islam, dan Marxisme, yang sama buat semua anggota masyarakat, sebuah common demoninator, sebuah ideologi. Tulisan Soekarno mengenai Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang dimuat oleh Indonesia Muda tiga bulan sesudah ia mendapatkan title Insinyur pada pertengahan tahun 1926, Soekarno dengan jelas mengemukakan sebuah common denominator hasil pemikirannya itu. Pokok pikiran Soekarno bahwa gerakan-gerakan Islam, marxis dan nasionalis di Indonesia berasal dari suatu dasar yang sama yaitu hasrat kebangsaan untuk melawan kapitalisme dan imperialisme Barat dan bahwasanya ketiga aliran gerakan politik tersebut harus bersatu dalam perjuangan melawan msuh bersama. Menurut Ruth McVey, sebenarnya pembahasan Soekarno mengenai Nasionalisme, Islam dan Marxisme ditujukan kepada rekan-rekan sesama pemimpin di dalam gerakan kemerdekaan. Dalam hal ini, Soekarno tidak berbicara pada penduduk desa yang frustasi maupun kaum proletar radikal yang sempat melancarkan pemberontakan PKI. Soekarno juga tidak berbicara kepada para santri pembela Islam, ataupun kepada orang-orang biasa yang inggal di dalam kota atau dekat kota yang kemudian nantinya bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dalam pencarian atas sebuah orientasi di dunia yang sedang mengalami modernisasi. Soekarno melihat bahwa kelompok-kelompok aliran tersebut memang ada, tetapi dia memandang mereka hanya sebagai pengikut ataupun calon pengikut kelompok elite metropolitan yang menjadi sasarannya. Esai Soekarno justru ditujukan kepada orang-orang segenerasi yang terlibat dalam kancah perpolitikan muda, berkomitmen terhadap perjuangan menuju kemerdekaan, dan sudah memikirkan identitas diri mereka dalam kapasitas nasional, bukan regional. Di dalam kelompok kecil itulah,
4

Soekarno melihat dengan jeli sumber pemimpin negara di masa depan ; dia juga melihat kelemahan dan pemborosan energi akibat perselisihan terusmenerus, yakni ketika perbedaan personal maupun ideologi berbenturan sehingga berakibat fatal. Persatuan para pemimpin politik Indonesia dianggap sebagai sesuatu yang vital bagi perjuangan kemerdekaan, sebagaimana diperlihatkan pemerintah Hindia Belanda, dalam upaya menghalangi persatuan tersebut. Namun bagi Soekarno dan orang-orang segenerasinya, persatuan sekedar menjadi kunci menuju efektivitas politik. Di mata mereka, perasaan frustasi akibat konflik tiada henti di kalangan mereka sendiri, ditambah dengan konsep tradisional dan ide-ide yang dipinjam dari sosialisme memberikan tafsiran tersendiri bagi kata persatuan. Kata persatuan memperoleh nilai yang hampir-hampir magis; hanya melalui persatuanlah kekuatan politik bisa tercapai. Yang dimaksud dengan Rakyat adalah seluruh masyarakat Indonesia, suatu perwujudan spiritual dari seluruh bangsa. Soekarno dan rekan-rekannya menolak ketidakpercayaan kaum intelektual terhadap rakyat biasa yang dianggap sebagai musuh dari pencerahan dan justru berargumen bahwa rakyat memiliki keinginan progresif yang akan merespon siapa saja yang memanggil mereka atas nama kebebasan masa depan. Istilah Rakyat yang menjadi sejajar dengan istilah proletar di mata Marx; mereka memang terbuang dan tidak berdaya sekarang, tetapi ditakdirkan untuk mengubah dunia ketika dimonbilisasi di dalam sebuah revolusi. Akan tetapi, tidak seperti kaum proletar yang didefinisikan berdasarkan kelas. Rakyat mempresentasikan massa; ia tidak dibedakan dari kaum penguasa dan di saat yang bersamaan terbagi berdasarkan kelompokkelompok bahasa, agama, budaya, dan ekonomi yang bersatu dalam bermacam-macam identifikasi ideologi. Kaum nasionalis seperti Soekarno percaya bahwa persatuan masyarakat bisa diraih dengan cara menggabungkan komponen-komponen tersebut alih-alih menyingkirkan elemen-elemen yang dianggap berseberangan sebagaimana pandangan kaum Leninsis. Persatuan akan terjadi hampir secara sempurna di puncak hirarki ; dalam pandangan kaum Soekarnois pada tahun 1920-an, persatuan harus dicapai di kalangan anggota elite yang aktif secara politik. Dengan semangat yang dikobarkan oleh visi mengenai tujuan bersama masyarakat Indonesia, golongan elite akan mempresentasikan kekuatan-kekuatan besar di dalam masyarakat sekaligus mengalirkan energi mereka demi kepentingan
5

nasional. Tujuan Soekarno menulis Nasionalisme, Islam dan Marxisme adakah untuk meyakinkan para calon pemimpin untuk mengambil peran tersebut. Mencermati kepercayaan penuh Soekarno terhadap golongan atas, dapat dikatakan bahwa gagasan mengenai perjuangan kelas telah lenyap dari visinya atau perpolitikan Indonesia, sebagaimana yang banyak menimpa kaum nasionalis radikal lainnya yang meminjam ide-ide Marxis. Sebagai anggota kelompok elite yang ambisius, yang dihubungkan dengan sistem pemerintahan tradisional oleh ikatan keluarga dan latar belakang budaya serta dihubungkan dengan gaya penjajahan Belanda oleh ambisi dan latar belakang pendidikan, pemimpin-pemimpin seperti itu tidak terlalu berminat dengan penjungkirbalikan sistem yang berdampak besar, lebih dari sekedar menggantikan pemerintah Belanda dengan orang-orang mereka sendiri. Lebih dari itu, pandangan mengenai adanya konflik kepentingan antara penguasa dan subjek yang dikuasai sangat bertentangan dengan pandangan politik tradisional. Di dalam pandangan tradisional, pemimpin dianggap mampu menyatukan kekuatan sosial yang berbeda-beda, mampu memobilisasi kekuatan-kekuatan tersebut dan menjaganya agar tetap seimbang, karena dia dianggap menduduki posisi yang lebih tinggi sekaligus titisan dari kekuatan-kekuatan tersebut yang memerintah bukan untuk mengusung kepentingan pribadi. Akibatnya, gagasan mengenai kelas-kelas yang sifatnya permanen di dalam masyarakat, di mana kebijakan diambil oleh mereka yang ada di puncak strata, bisa diterima sebagai suatu gagasan yang alamiah. Tetapi di waktu yang bersamaan, pembagian berdasarkan kelas, di mana penguasa memainkan peranan yang sifatnya satu arah, ditolak karena dianggap sebagai konsep yang cocok untuk negara Barat tetapi berbahaya dan berpotensi menimbulkan kekacauan di dalam konteks Indonesia. Indonesia Menggugat dan Empat Surat Minta Ampun Pemerintah kolonial Hindia Belanda begitu khawatir melihat kepopuleran Soekarno dan pertumbuhan PNI sehingga pada tanggal 29 Desember 1929 mereka menangkap beratus-ratus pemimpin pusat dan cabang PNI. Soekarnos, Maskun, Gatot Mangkupradja, dan Supriadinata diajukan ke Pengadilan Daerah Bandung tanggal 18 Agustus 1930, atas tuduhan menyebarkan propaganda yang dapat mengganggu ketentraman umum.
6

Semua dinyatakan bersalah dengan Soekarno dijatuhi hukuman penjara 4 tahun, Gatot 2 tahun, Maskun 20 tahun, dan Supriadinata 15 bulan. Soekarno menggunakan peradilan itu untuk mengucapkan sebuah pidato yang panjang yang menjelaskan tentang tujuan dan cara-cara yang ditempuh kaum nasionalis. Ini merupakan suatu taktik yang pintar karena pemerintah kolonial tidak akan dapat mencegah disiarkannya berita mengenai proses pengadilan. Di bawah judul; Indonesia Menggugat pidato pembelaan Soekarno dengan rasa ingin tahu dibeli oleh beribu-ribu orang Indonesia yang sangat terpengaruh oleh kecamannya terhadap imperialisme dan argumentasinya yang kuat bagi Indonesia Merdeka. Itulah sebuah pidato yang gemilang, diucapkan dengan humor, daya dan penuh gairah dengan tujuan membangkitkan semangat nasionalis di hati orang-orang sebangsanya. Pidato yang bersejarah ini kemudian diterjemahkan dan diberi anotasi oleh Roger K Paget yang juga menulis disertasi mengenai Soekarno di Cornell University. Sumbangan ilmiah Roger K Paget terutama terletak pada Bab Pendahuluan yang hampir 70 halaman panjangnya. Menurut Paget Indonesia Menggugat merupakan karya Soekarno pertama dan terpenting dalam bentuk buku yang memberi gambaran yang lebih jelas tentang identitas intelektualnya sebagai cendikiawan dan politisi. Pada waktu itu ia baru menjelang 30 tahun. Pidato pembelaan ini terutama dan langsung dialamatkan kepada masyarakat kolonial Eropa, yang isi dan argumentasinya banyak sekali diwarnai oleh literatur kaum sosialis liberal Barat. Secara tidak langsung ia merupakan seruan mobilisasi nasional kepada bangsanya Sebagaimana umumnya berlaku bagi karya-karya tulis Soekarno, pleidoinya ini mengandung banyak repetisi akibat langsung dari pengaruh-pengaruh dominan gaya pidatonya. Akan tetapi, ketekunan dan kecaman Roger K Paget telah memungkinkan memilih esensi pidato itu dan menelaah isinya secara sungguh-sungguh. Ulasan Paget tentang teori-teori Soekarno yang berkaitan dengan imperialisme dan kapitalisme, senantiasa merujuk karya-karya berbagai tokoh sosialis liberal Barat yang berkembang pada waktu itu. Yang menarik perhatian ialah bahwa Soekarno jelas tampak tidak menggantungkan konsep-konsep pemikirannya secara kuat pada salah seorang pemikir sosialis tertentu saja. Ia secara bebas berpindah dari pendapat tokoh sosialis tertentu ke tokoh sosialis lainnya. Sungguhpun tak dapat disangkal bahwa pemikiran-pemikiran yang dikutipnya memang umumnya berasal dari
7

tokoh-tokoh sosialis liberal Barat, terutama karena bahan-bahan untuk keperluan itu memang banyak tersedia dalam karya-karya kaum sosialis Barat pada waktu itu. Mendasari pilihan Soekarno akan bahan mungkin terdapat tiga pertimbangan. Pertama, tuntutan itu mencoba mengasosiasikan Soekarno dengan PKI yang resmi dilarang, Jika mereka berhasil, hukumannya pasti akan maksimal. Lebih penting lagi, identifikasi Soekarno dengan partai komunis itu bisa menghancurkan perawakannya di seluruh gerakan nasionalis. Pada kedua hal, adalah tindakan bijaksana dari Soekarno untuk tidak menfaatkan eksponen radikal anti-imperialisme, seperti Lenin atau Trosky. Kedua, dari sudut pandang mengarahkan ke bukan hanya pengadilan itu namun seluruh rakyat Indonesia, adalah masuk akal untuk mengembangkan kesan cemas yang ditujukan kepada imperialisme pada umumnya. Untuk tugas ini, sosialis liberal Eropa adalah yang ideal, karena konsep anti-imperialisme mereka pada umumnya tidak tergantung pada sumber yang kaku untuk perubahan sosial atau ekonomi yang mungkin mengasingkan unsur-unsur keagamaan atau lainnya dari gerakan nasionalis Indonesia. Ketiga, kaum sosialis liberal negitu banyak dan tulisan-tulisan mereka tentang imperialisme begitu mirip hingga Soekarno bisa mengemukakannya secara bergantian. Dengan cara ini, dia bisa menghindari identifikasi yang jelas dengan pemikiran individu sosialis tertentu. Pada gilirannya, Soekarno bisa menumbuhkan keutamaannya sendiri sebagai suara antiimperialisme Indonesia, sementara secara bersamaan mendapat manfaat dari persetujuan teoritis poin tertentu analisnya. Ada satu teoritikus dalam Indonesia Menggugat yang jelas Soekarno hargai di atas yang lainnya. Dia adalah Karl Kaustky. Dengan banyaknya referensi kepada Kaustky. Dengan banyaknya referensi kepada Kaustky dalam banyak bab dengan frekuensi kutipan, dan dengan subtansi kutipan yang dipilih, sebuah jawaban tentatif dapat ditawarkan untuk pertanyaan-pertanyan di atas. Melalui Kautsky, Soekarno berusaha sedekat mungkin dalam menjelaskan, entah untuk penjelasan bangsa Eropa tentang keadaan Indonesia yang gawat atau untuk pencapaian tujuan politik nasionalisme. Sudah jelas, bahwa pada akhirnya, tidak perduli betapa simpatiknya dia terhadap masalah kolonial, Kaustky menduduki posisi teratas dalam pemikiran Soekarno. Ditangkapnya Soekarno dan para pemimpin PNI lainnya menyebabkan terhentinya segala kegiatan PNI lainnya. Soekarno dinyatakan bersalah,
8

partai itu dibubarkan dan sebuah partai baru menggantikannya yaitu Partai Indonesia (Partindo) di bawah pimpinan Sartono sebagai ketua. Biar bagaimanapun partai ini adalah PNI dengan nama lain. Pada tanggal 4 September Gubernur Jendral De Graeff mengumumkan pengampunan sebagian hukuman para pemimpin PNI Soekarno akan dibebaskan pada tanggal 31 Desember sesudah hanya menjalani hukuman dua tahun dari yang seharusnya empat tahun, dan Gatot Mangkupradja akan dibebaskan segera. Tetapi Soekarno tidak lama menghirup udara segar. Setelah kerusuhan Zeven Provincien, Soekarno diperingatkan untuk mengurangi kegialan politiknya karena ketegangan politik dan ketakutan pemerintah akan agititasi politik Partindo yang menimbulkan keresahaan. Pada tanggal 1 Agustus Soekarno ditahan dan penetapan pembatasanpembatasan yang melumpuhkan hak berkumpul dari Partindo di seluruh negeri jajahan. Pada saat inilah tersebar kabat bahwa telah terjadi perubahan sikap dalam diri Soekarno terbukti dengan adanya Empat Surat Pengampunan Soekarno terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mengenai hal tersebut ditulis secara lebih detail oleh RC Kwantes dan Bob Hering. Menurut mereka berdua, letika Soekarno menjalankan masa tahanan menulis empat surat kepada wakil Pengadilan Tertinggi Hindia Belanda, surat-surat itu berturut-turut tertanggal 31 Agustus, 7, 21 dan 28 September 1933. Dengan kata-kata yang memelas Soekarno meminta dan akhirnya memohon dalam surat itu untuk dibebaskan dari tuntutan pengadilan atau dari penahanan. Soekarno berjanji akan mengundurkan diri dalam dunia politik dan akan hidup di luar luar kota sebagai insinyur. Tulisan ini seakan-akan hendak melanjutkan perdebatan mengenai empat surat pengampunan Soekarno terhadap Hindia Belanda, yang diakibatkan terbitnya tulisan Rosihan Anwar yang berjudul Perbedaan Analisa Politik Soekarno dengan Hatta pada harian Kompas, 15 September 1980. Untuk menunjukkan sikap lemah dan lekas bertekuk lutut, ketika mendapat kesulitan, Rosihan Anwar merujuk empat surat pengampuan yang termuat dalam buku John Ingleson yang berjudul Road to Exlie : The Nationalist Movement in Indonesia 1927 1934 terbitan Heinmaan Educational Books (Asia ) Ltd, 1980. Dalam merperkuat argumen mengenai kebenaran empat surat pengampunan, RC Kwantes menggunakan proses verbal yang berisi intrograsi terhadap diri Soekarno, yang dilakukan oleh wakil Jaksa Kepala di Pengadilan Bandung,
9

R Hendarin. Di dalam proses verbal tersebut terkesan Soekarno mengakui bahwa cara berjuang yang dilakukan selama ini salah. Oleh karena itu Soekarno menyesal atas tindakan-tindakan selama ini dan menyatakan bahwa dirinya telah berubah serta keinginan untuk menjauhi dunia politik. Berbeda dengan RC Kwantes, Bob Hering dalam memperkuat argumen mengenai kebenaran empat surat pengampunan, menggunakan sumbersumber lain seperti dari M Husni Thamrin dan Stokvis. Soekarno mulai ragu-ragu atas kebenaran prinsip non-kooperasi terhadap Hindia Belanda yang dijalankan selama ini dan telah terjadi perubahan besar dalam dirinya Soekarno, misalnya, mengenai metode-metode perjuangan yang benar Kendati kebanyakan orang meragukan keaslian dari salinan-salinan surat itu, RC Kwantes dan Bob Hering tidak meragukan keaslian surat-surat itu, sehingga RC Kwantes dan Bob Hering menganggap teks itu ke dalam publikasi sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Kedua orang orang ini menyatakan dengan adanya surat pengampunan tidak berarti bahwa Soekarno telah kehilangan pandangannya pada real politik pada waktu itu dan Soekarno sedang berupa mencari ruang untuk membuat cita-cita kemerdekaannya menjadi kenyataan. Dalam pengasingannya di Ende, tanpa berdaya Soekarno hanya bisa melihat gerakan nasional mengubah haluannya. Kesediaan kaum pergerakan untuk mengkompromikan prinsip-prinsip yang diletakkannya tentu menambah kekecewaannya dalam pembuangan. Dari satu segi, mungkin pulau Flores lebih pahit bagi kehidupan Soekarno dibandingkan dengan Sukamiskin. Meskipun di Flores ia mendapatkan sekedar kebebasan bergerak dan sampai batas-batas tertentu dibolehkan berhubungan dengan orang lain. Pembatasan ini dari hari ke hari semakin terasa mencekam, menciptakan suatu kontras yang tajam dengan kehidupannya yang sekarang dengan kehidupan yang penuh dengan aksi politik dahulu, seperti membuat ia merasa lebih tidak berdaya dan membeku. Di samping Soekarno berbicara mengenai kemerdekaan Indonesia, Soekarno menganggap bahwa kaum perempuan dapat mengambil bagian dalam pergerakan nasional. Tulisan Soekarno tentang peranan perempuan sebenarnya bisa ditelusuri pada tulisan Kongres Kaum Ibu yang dimuat Soeloeh Indonesia Moeda, 1928. Tulisan panjang ini berisi pandangan Soekarno mengenai rencana untuk mengadakan kongres perempuan sekaligus memberikan indikasi pertama dari pandangan Soekarno terhadap peran perempuan dalam pergerakan nasional.
10

Soekarno mengindentifikasi mengenai dua tipe utama organisasi perempuan yang ada di Indonesia pada masa itu. Soekarno mendorong mereka menetapkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu pencapaian kemerdekaan nasional. Hanya dalam kemerdekaan Indonesia, bebas dari tekanan kolonial, maka perempuan dapat mencapai kesetaraannya. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, kaum perempuan Indonesia harus bersiap diri untuk terjun bergabung dengan pergolakan nasionalis bersama-sama kaum laki-laki Indonesia. Soekarno membenarkan bahwa ada sejumlah hambatan yang merintangi jalan menuju peran serta perempuan dalam pergerakan nasional Hal itu disebabkan oleh hambatan kebudayaan, yang menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki dan melarang mereka mengambil peran dalam urusan non domestik. Menurut Colin Brown yang menulis tulisan ini, ada dua tema yang dapat diangkat dari tulisan Soekarno tentang perempuan pada akhir tahun 1920-an hingga akhir 1940-an. Pertama, ia berpendapat secara konsisten bahwa perempuan Indonesia seharusnya berpartisipasi secara aktif dan secara sepenuhnya pada pergerakan nasionalis bersama-sama dengan kaum lelaki Indonesia. Kedua, ia tidak peduli akan apa yang dianggap oleh kelompok perempuan sebagai masalah perempuan, hal-hal utama dan unik yang menyangkut perempuan saja. Sebenarnya ada hubungan yang erat antara kedua tema tersebut, yang selalu berada seputar perhatian Soekarno, yaitu mendirikan dan mempertahankan kesatuan gerakan nasionalis yang mungkin merupakan sebuah obsesi baginya. Ketimbang melihat mereka sebagai segmen yang tertindas secara keseluruhan populasi, sebagai kelas yang terpisah dari kaum laki-laki, perempuan Indonesia harus melihat diri mereka sebagai bagian yang menyatu dengan rakyat banyak. Mereka harus mengerti bahwa musuh mereka yang utama dan kekuatan yang menghalangi mereka untuk mencapai kebebasan serta perkembangan harkat sebagai manusia, bukanlah pria Indonesia, melainkan kapitalis asing dan sistem kolonial yang memperbudak Indonesia. Lebih dari itu, perjuangan untuk isu-isu perempuan itu pastinya membuat pecah pergerakan nasional mengalihkan sebagian modal perjuangan (para perempuan) jauh dari cita-cita mengusir kekuasaan kolonial dan pencapaian kemerdekaan Indonesia. Jadi perjuangan isu-isu perempuan bukan saja tidak membawa keuntungan-keuntungan untuk pihak mereka, melainkan juga
11

mengancam keutuhan pergerakan nasional dan kemungkinan-kemungkinan pergerakan tersebut meraih kemenangan sesungguhnya. Dalam pengasingannya di Ende, tanpa berdaya Soekarno hanya bisa melihat gerakan nasional mengubah haluannya. Kesediaan kaum pergerakan untuk mengkompromikan prinsip-prinsip yang diletakkannya tentu menambah kekecewaannya dalam pembuangan. Dari satu segi, mungkin pulau Flores lebih pahit bagi kehidupan Soekarno dibandingkan dengan Sukamiskin Meskipun di Flores ia mendapatkan sekadar kebebasan bergerak dan sampai-sampai tertentu dibolehkan orang berhubungan dengan orang lain. Pembatasan ini dari hari ke hari semakin terasa mencekam, menciptakan suatu kontras yang tajam dengan kehidupannya yang sekarang dengan kehidupan yang penuh dengan aksi politik dahulu, seperti membuat ia merasa lebih berdaya dan membeku. Selama tahun-tahun Soekarno berada di Ende, Soekarno kembali mendalami Islam dan mendiskusikan problema-problemanya dalam korespondensi yang luas dengan seorang ulama di Bandung, tempat ia juga melukiskan keadaan dan perasaannya. Hasan mengirimkan buku-buku untuknya dalam surat balasannya, ia memberikan komentar tentang isi buku-buku itu sambil menyatakan perasaannya mengenai Islam pada umumnya. Pada permulaan tahun 1938, setelah Soekarno diserang penyakit malaria yang berat, diputuskan untuk memindahkannya ke tempat pengasingan yang lebih sehat. Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, Sumatra Selatan. Ini adalah tempat pengasingan Soekarno yang agak lebih besar dari Ende. Tetapi kota ini masih cukup terpencil dan jauh dari untuk mencegah Soekarno berkecimpung dalam pergaulatan politik. Di Bengkulu Soekarno meneruskan pekerjaaan jurnalistiknya secara berkala Ia tidak menulis situasi politik Hindia Belanda, tetapi diperbolehkan menulis mengenai perkembangan politik dunia. Dalam Pemandangan 1941, Soekarno mencoba mengungkapkan analisis tentang dirinya sendiri Soekarno oleh Soekarno sendiri. Melalui tulisannya itu, ia mengulang tema lamnaya tentang sintesis dan rekonsialiasi antara ketiga aliran: Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Tetapi ia menulis lebih jauh mengenai pentingnya masalah persatuan itu, yakni dengan menyelipkan bahwa dirinya yang menjadi simbolis sintesis itu, aliran-aliran pokok identitas Indonesia terpadu dalam dirinya.

12

Kerjasama dengan Balatentara Jepang dan Pidato 1 Juni 1945 Kendati Soekarno dan Hatta diasingkan dan gerakan nasionalis ditindas, ada sejumlah pencapaian dalam tujuh tahun setelah tahun 1927. Sejak itu tidak suatu kelompok nasionalis jika tidak menyeruhkan kemerdekaan penuh dengan penciptaan suatu bangsa yang bersatu. Lambang-lambang nasionalisme bendera merah putih dan lagu Indonesia Raya sudah melembaga. Soekarno dan Hatta diakui sebagai pemimpin-pemimpin politik utama dan ketika Jepang menyerbu di tahun 1942 kedua pemimpin itu sekali lagi mampu mengambil alih gerakan nasionalis dan memimpin Indonesia maju menuju kemerdekaan. Pendudukan Jepang atas Hindia Belanda merupakan peristiwa yang membawa perubahan besar bagi Soekarno. Perubahan ini mengakhiri pengasingannya, mengembalikan ke tengah gelanggang kehidupan politik dan menghadapkannya pada masalah-masalah politik dan moral yang sulit. Ia tidak lagi berdiri sebagai pihak oposisi, tetapi sudah mempunyai kedudukan formal sebagai sebagai wakil pendapat umum kaum nasionalis. Pada zaman pendudukan Jepang ini Soekarno adalah seorang yang menjadi pemimpin tanpa tantangan dari rakyatnya. Periode kelam dalam sejarah Indonesia menjadi perhatian dari penulis biografi politik Soekarno, John D Legge. Pendudukan Jepang adalah sesuatu yang mendadak dihadapkan kepada Soekarno. Situasi baru ini ternyata cocok dengan keahlian-keahliannya yang istimewa, jauh lebih cocok ketimbang lingkungan situasi di zaman kolonial Belanda. Jepang memerintah dengan cara politik tinggi, melalui organisasiorganisasi massa, upacara-upacara kebesaran dan indoktrinasi ideologi. Ini seluruhnya berbeda dengan gaya Belanda yang anti-politik. Jepang memberikan lebih banyak ruang gerak bagi seorang agitator seperti Soekarno. Soekarno mengetahui bahwa kemerdekaan Indonesia dapat dicapai dengan satu atau lain jalan lewat pendudukan Jepang, dan ia tetap teguh pada keyakinan ini, meskipun politik pendudukan Jepang semakin keras dan nampaknya teguh menolak setiap konsesi. Kerja sama Soekarno dengan pembesar-pembesar Jepang telah mengantarkan dirinya pada kedudukan Ketua Putera dan Djawa Hokokai serta Presiden Dewan Pertimbangan Pusat. Kedudukan-kedudukan ini penting dalam pembentukan dirinya sebagai pemimpin. Setelah tahun-tahun
13

oposisi,, tahanan dan pembuangan di zaman Belanda ia mendadak mendapatkan posisi dan tanggung jawab. Bersamaan dengan itu ia pun terlibat dalam tugas-tugas yang tidak menyenangkan. Ia harus mengerahkan dukungan untuk kepentingan perang Jepang ; ia menggunakan slogan-slogan pro Jepang. Tidak dapat diragukan, Jepang telah menarik keuntungan luar biasa dari kerja sama ini yang memenuhi tujuan mereka dahulu mendatamgkan Soekarno ke Jawa. Sementara hal itu harus dibayar dengan harga moral yang mahal. Apakah hal ini sepadan ? Dalam hubungan rekaman hidupnya yang giat membantu Jepang pada tahun 1942 dan 1943, perilakunya yang mengandung unsur-unsur budak, dan politik kekerasaan Jepang yang harus dipertahankannya nampaknya Soekarno telah berjalan melebihi batas seperlunya itu. Ia nampaknya telah banyak memberi korban, telah sangat jauh mengompromikan dirinya sendiri supaya tetap bisa diterima oleh pembesar-pembesar Jepang. Ia bertindak begitu jauh, lebih jauh dari kaum kooperator zaman 1930-an yang begitu keras dikecamnya. Tentu ia menganggap mereka telah sia-sia bekerja sama dengan kekuasaan kaum penyerbu sementara, yang akhirnya dapat dipergunakan untuk tujuan-tujuan nasional, jika sekiranya pimpinan nasional dapat bertahan menanti berlalunya badai pendudukan militer Jepang. Ia telah berhasil mencapai tujuan-tujuan yang bersifat taktis. Terbentuknya Peta adalah luar biasa pentingnya bagi persiapan landasan kekuatan pokok dalam perjuangan Republik Indonesia pada masa depan. Berdirinya sistem dewan-dewan setempat telah menyediakan tata susunan kerja pemerintahan lokal yang kemudian beralih menjadi aparat administrasi revolusi, sehingga memungkinkan Republik melaksanakan wewenangnya. Pemakaian bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang semakin meluas juga mempunyai arti penting dalam konsolidasi rasa sebangsa ini. Ini semua adalah hasil tipu muslihat dan tawarmenawar Soekarno yang mencerminkan kemahirannya sebagai seorang orator. Di samping itu, kehadirannya sebagai wakil resmi Indonesia dalam rezim militer Jepang telah meningkatkan kesadaran massa akan dirinya sebagai pemimpin bangsa, serta menciptakan kesadaran umum atas tujuan-tujuan yang ditetapkannya\. Selama tahun-tahun ini ia mempunyai saluran hubungan dengan massa-rakyat yang sebelumnya tidak pernah terdapat, baik bagi dirinya maupun bagi pemimpin-pemimpin politik lainnya. Dan penggunaan saluran ini menciptakan landasan dukungan baru untuk hari
14

depan. Kesempatan berpidato pada peristiwa-peristiwa resmi, kebebasannya berkeliling Jawa, dan lebih penting lagi perluasan hubungan rasio sampai ke pelosok-pelosok desa Indonesia, adalah sangat luar biasa pentingnya bagi pemupukan citra kepribadiannya; kemampuannya berpidato dengan menggunakan kiasan sindiran dan cerita wayang atau keahliannya berbicara dalam bentuk perimbangan memungkinkan dirinya terhimdar dari sensor dan dengan demikian ia secara langsung dapat berkomunikasi dengan massa penduduk Jawa yang berjuta-juta. Penyedian radio desa yang semula untuk menyampaikan keinginan-keinginan Jepang, dalam prakteknya telah juga dimanfaatkan sebagai alat saluran cita-cita, gagasan dan kepribadian Soekarno. Ini adalah sukses-sukses yang luar biasa yang nilainya membenarkan pilihannya pada tahun 1942. Jika orang berpendapat bahwa kesediaan bekerja sama dengan tentara pendudukan adalah sifat lemah dan pengecut. Penilaian demikian adalah sangat keras. Seharusnya secara adil orang juga harus melihat keyakinannya ketika menetapkan pilihannya dan kepercayaannya yang teguh selama melewati tahun-tahun itu, melayani Jepang dan sekaligus bangsanya sendiri dan membalikkan situasi bila mungkin, demi kepentingan cita-cita nasional. Kemampuannya mencapai sukses ini mau tak mamu mengundang rasa hormat. Melalui tulisannya, Aiko Kurasawa menjelaskan mengenai asal muasal kerjasama Soekarno dengan Pemerintah Jepang. Pada nulan Juli 1942, empat bulan sesudah penjajahan militer Jepang dimulai, ada perintah dari Jawa agar Soekarno dipulangkan ke Jakarta. Soekarno dan istrinya kembali ke Jakarta dengan naik kapal dari Palembang. Setelah Soekarno kembali ke Jawa, Soekarno minta bertemu dengan Panglima Besar Presiden Angkatan Darat Jepang ke-16 yang menduduki Pulau Jawa, Jenderal Imamura. Tentu saja Jenderal Imamura setuju, dan Soekarno diterima. Pada pertemuan pertama itu, Jenderal Imamura menanyakan apakah Soekarno siap bekerja sama dengan Jepang. Menurut Imamura, ia tidak mekso. Dia memberi pilihan antara bekerja sama atau bersikap netral . Dia hanya mengatakan kalau Soekarno menentang Jepang, terpaksa akan dipakai cara-cara kekerasaan. Jenderal Imamura, juga tidak menjanjikan kemerdekaan, karena Pemerintah Jepang masih punya rencana untuk menguasai terus Indonesia. Imamura hanya berjanji, akan meningkatkan situasi keamanan dan memperbaiki kehidupan bangsa Indonesia.
15

Sesudah pertemuan dengan Imamura, Soekarno berunding dengan temantemannya selama beberapa hari. Akhirnya diputuskan untuk bekerja sama selama beberapa hari. Akhirnya diputuskan untuk bekerja sama dengan Jepang. Sesuai dengan atobiografinya, maksud pertama Soekarno bukan untuk membantu Jepang, tetapi memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki nasib bangsa Indonesia. Memang besar resikonya, tetapi Soekarno mungkin merasa yakin bisa mengatasinya. Soekarno memperkirakan tentara Jepang tidak akan tinggal lama di Indonesia . Mereka nanti akan segera kalah. Oleh karena itu, dia piker sebaiknya tidak menentang Jepang secara terbuka. Pidato Soekarno di hadapan para anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 1 Juni 1945, menjadi perhatian dari Bernhard Dahm. Sebagai prinsip pertama atau sila pertama dari dasar negara yang hendak dibangun itu oleh Soekarno dikatakan kebangsaan. Tapi dengan segera ditambahkan bahwa yang dimaksudkannya bukan kebangsaan dalam art sempit. Negara yang hendak didirikan itu adalah negara semua untuk semua atau satu buat semua, semua buat satu arinya, semua orang berhak atas tanah air Indonesia. Untuk membenarkan asas kebangsaan itu, Soekarno mengutip definisi Ernst Renan dan Otto Bauer. Prinsip kedua yang oleh Soekarno ditawarkan kepada anggota BPUPK adalah kemanusian dalam hubungan antara bangsa-bangsa, yang dinamakan juga internasionalisme. Penolakannya terhadap Chauvinisme, terhadap nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, dan kata-kata Gandhi yang dikutipnya, Nasionalismeku adalah kemanusiaan. Gagasan utama juga sangat menonjol dalam asasnya yang ketiga, mufakat, atau demokrasi . Tetapi hal ini dicapai jika semua pihak mewakili sampai suatu tingkat yang memuaskan semua orang. Melalui asas mufakat ini ia juga berusdaha untuk menjamin bagi golongan-golongan minoritas hak yang sesungguhnya untuk didengar. Gagasan itu muncul dalam kaitannya dengan seruan yang penuh gairah yang oleh Soekarno ditujukan kepada golongan Islam agar tidak bersikeras menuntut pembentukan sebuah negara Islam yang tidak akan memungkinkan adanya kerjasama yang aktif dari golongan-golongan agama yang lainnya.
16

Sila keempat yang ditawarkan Soekarno adalah keadilan sosial. Dalam hal ini pun, ia tidak lupa untuk kembali berbicara tentang kesia-sian demokrasi parlementer. Soekarno melihat liberalisme hanya menjamin hak-hak politik tetapi merintangi keadilan sosial. Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan Kesejahteraan Sosial, kata Soekarno. Asas kelima dan terakhir yang dikemukakan Soekarno, yakni kepercayaan kepada Tuhan. Sejak semula, ada tempat bagi Tuhan di dalam sistem filsafatnya Tetapi kepercayaan itu mengalami pasang surut; dalam keadaan yang paling sulit, Tuhan yang berada paling dekat dalam penjara, di tempat pembuangan, di zaman pendudukan Jepang, disaat setiap harapan nampak seperti ilusi. Seperti yang dikatakan pada awal pidatonya, soalnya untuk menemukan suatu pandangan dunia bagi Indonesia yang dapat disetujui oleh semua golongan penduduk dan dalam hal ini Soekarno berhasil dengan konsep Pancasilanya, sebagaimana terbukti dari tepuk-tangan yang riuh rendah dari hadirin ketika ia mengakhiri pidatonya. Berulang-ulang ia menganggap sebagai tugas utamanya untuk menemukan suatu landasan bersama bagi berbagai aliran politik. Dalam tahun 1926, landasan utama itu adalah nasionalisme yang selebar dan seluas udara, yang memberi tempat bagi semua mahluk hidup. Dalam 1932, landasan bersama ia adalah Marhaenisme, yang merupakan upaya untuk menarik sebanyak mungkin golongan ke dalam perjuangan revolusioner bersama-sama dengan kaum proletar. Dan, akhirnya, dalam 1945, Pancasilalah yang hendak memberikan satu landasan bersama bagi semua aliran. Orator yang berkharisma dan Sensisitifitas Artistik Soekarno dibesarkan di lingkungan HOS Tjokroaminoto yang dikenal sebagai orator ulung. Kemampuan berpidato Soekarno kemudian ternyata melebihi kemampuan sang guru, HOS Tjokroaminoto. Ia adalah seorang ahli pidato yang hebat. Pidato-pidatonya penuh dengan dasar-dasar pokok pikiran nasionalis yang di sampaikan dalam bahasa yang sederhana yang sangat mudah dimengerti oleh para pendengarnya. Ia menggunakan
17

dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat setempat yang popular, terutama cerita-cerita wayang, untuk mewujudkan pikiran-pikiran nasionalismenya. Tulisan Elisabeth Lind ini membicarakan mengenai kemampuan retorika daripada Soekarno. Soekarno membungkus pesan-pesan politiknya yang sarat dengan dengan istilah-istilah tradisi Jawa, Dengan demikian bagaimana kharisma Soekarno secara resmi valid diterima melalui retorikanya. Maklum sistem gagasan, baik lokal maupun struktural, yang menjadi pedoman pemikiran politik Indonesia, sampai hari ini masih dikuasai masyarakat Jawa. Seperti dalang, Soekarno memiliki persan politik yang harus disampaikan Namun, berbeda dengan peran Soekarno sebelumnya yang bersifat pribadi, pesan dari pemimpin Pemimpin Besar Revolusi ini ditujukan kepada masyarakat Indonesia. Soekarno, sebagai Presiden pertama Negara Republik Indonesia yang saat itu baru merdeka, dihadapkan pada tugas mediasi antara elite modern Indonesia yang berorinetasi asing dengan tipikal masyarakat berskala lokal yang memegang teguh tradisi, termasuk mereka yang cenderung kekota-kotaan, yakni masyarakat tradisional yang berorintasi kota dan tinggal di kawasan kota-kota kecil. Masalah lain yang harus diatasinya adalah menerjemahkan konsep politik modern supaya dapat dipahami masyarakat terpelahar secara menyeluruh. Retorika pewayangan tidak hanya lekat dalam diri Soekarno dan pengikutnya, tetapi juga mayoritas masyarakat Indonesia, karena orang Jawa, Sunda dan Bali, tumbuh bersama tradisi wayang. Bila pesan politik Soekarno bisa dimodel bak retorika dalang dan struktur pementasan wayang, maka masyarakat yang dukungan nya dinilai sangat penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan dan di kemudian hari turut serta membangun bangsa ini kemungkinan dapat menangkap maksudnya dengan tepat.

18

Di ujung tulisan ini Elisabeth Lind menyimpulkan bahwa demi mengukuhkan kharismanya, Soekarno menghias pidato-pidatonya dengan filosofi lelakon pewayangan Jawa, baik dari segi struktur maupun artikulasi bahasanya. Diketahui, bahwa dalam masyarakat adat Jawa, pementasan wayang berfungsi sebagai sarana penyebarluasan pesan-pesan politik, Presiden Soeharto yang kharisma dan kemampuan berpidatonya tidak sebanding dengan Soekarno juga memanfaatkan wayang untuk tujuan-tujuan politis. Oleh karena itu, pada Rencana Pembangunan Lima Tahun pertma Soeharto mengundang dalang-dalang dari segala penjuru untuk turut serta ambil bagian dalam perjuangan rakyat Indonesia menciptakan masyarakat adil dan makmur.. Tulisan Anne-Marie Hussein-Joufrroy mencoba menganalisis kata-kata tertentu yang bersifat tipikal pada awal sebuah periode dan bisa menghilang pada waktu berikutnya, sementara yang lain lebih lambat. Tulisan merujuk Soekarno sebagai pengguna bahasa yang representatif karena dia pada masanya dikenal sebagai orator. Kendati Soekarno bukan satu-satunya orang yang memunculkan kata baru pada masa itu, yaitu terutama kosa kata politik. Namun sebagai seorang orator, dia menunjukkan sebuah semangat kolektik untuk menaikan derajat bahasa Indonesia terutama sejak tahun 1942. Sebagian pidatonya direproduksi oleh pers dan radio yang disebarkan ke seluruh Indonesia. Dibalik ideologi yang coba ditanamkan melalui pidato, tak bisa bisa dihindarkan kosa kata yang diucapkan menjadi istilah yang memengaruhi masyarakat. Tentu tidak semua kosa kata yang diperkenalkan Soekarno dianalisis. Ada dua kata yang menarik perhatian; Merdeka dan Revolusi. Kata Merdeka dari bahasa Sansekerta yaitu Mahardika telah muncul jauh sebelumnya. Kata Merdeka ternyata mempunyai pengaruh dengan berubah nama Hindia Putera menjadi Indonesia Merdeka pada tahun 1924. Kata Merdeka berarti Kemudian sampai tanggal 17 Agustus 1959 perlu ditandai bahwa formula kata di atas kemudian digantikan dengan slogan-slogan lain. sebuah seruan nasionalis Soekarno untuk sebuah penyatuan. Sampai akhir karir politiknya dia terus mengusung kebiasaan untuk menjalankan sebuah aklamasi. Sampai tahun 1959, Merdeka terutama dalam seruan Sekali Merdeka, tetap Merdeka. disimpulkan merujuk pada wacana 17 Agustus

19

Sebaliknya kata Revolusi kerap muncul setelah tahun 1959. Namun dengan terjadinya peristiwa 30 September 1965, keadaan memaksa Soekarno untuk keluar dari skema politik yang kemudian dikenal dengan terbentuknya Orde Baru. Kata Revolusi kemudian sering tak disebut dan muncul kata-kata lain yang lebih merepresentasikan rezim Orde Baru. Meski kata Revolusi muncul menandai era Orde Baru. Istilah Revolusi bisa pula dianggap komunisme, berbeda dengan kata Revolusi yang ada pada Orde Lama Soekarno. Dalam konteks Indonesia, revolusi merupakan simbol sebuah periode heroik yang dimiliki orang Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki keberanian menghadapi orang Belanda dan di sisi lain memelihara kesatuan mereka. Tapi kemudian kata tersebut mulai mengalami penurunan maknanya, Soekarno mengasosiasikannya dengan insitusi Demokrasi Terpimpin yang dianggap sebagai bentuk aspirasi yang sangat Indonesia. Pembentukan Rezmi Demokrasi Terpimpin sebagai penolakan terhadap nilai-nilai Barat, yang mana liberalisme dan demokrasi parlementer dipadukan. Revolusi tersebut harus berakhir pada saat munculnya insan politik yang baru. Sementara makna sempit yang disung Revolusi yaitu kemampanan suatu rezim politik yang mendominasi jiwa bangsa Indonesia tapi merupakan sebuah rancangan untuk meringankan beban bangsa Indonesia seperti yang termuat dalam Amanat Penderitaan Rakyat dan meringankan kesengsaraan umat manusia secara keseluruhan. Kendati kedua kata tersebut mempenyai perbedaan dalam konteks tetapi secara umum menunjukkan makna prinsip memperbaiki kehidupan sosial. Meskipin kata Merdeka makin ditinggalkan dan Revolusi diperbaharui dan berubah maknanya, namun pada tahun 1959 menjadi kunci dalam periode ini. Tahun 1933, Soekarno mendeklarasikan bahwa Indonesia akan merdeka, tak akan lagi musuh yang harus lawan. Pada saat kemerdekaan itu selalu dibutuhkan, dan untuk membenarkan perlawanan yang terus berlangsung maka konsep baru yang senada harus memperbaharuinya.

20

Penulisan biografi Soekarno terasa kurang tanpa melibatkan berbicara mengenai kepekaan asrtistik dirinya. Selama ini tulisan-tulisan mengenai Soekarno mengabaikan mengenai hal itu. Tulisan Angus Mcintrye bertujuan menyatakan bahwa kepekaan arstitstik berada di garis depan kehidupan Soekarno, mendeskripsikan dan mengetahui sifat dasar dari kepekaan ini dan yang terakhir adalah melacak pengaruh kepekaaaan artistik. Soekarno bukan saja seorang mempunyai kemampuan melukis tetapi ia adalah kolektor seni yang bertebaran di Istana Jakarta, Bogor dan Cipanas. Kendati di dominasi oleh karya-karya seniman setelah proklamasi kemerdekaan, tetapi juga terdapat koleksi seniman asing yang pernah tinggal dan berkarya di Indonesia. Sebagian koleksi menjadi milik negara, di samping menjadi milik Soekarno pribadi. Tampaknya Presiden Soekarno tidak melakukan pemisahan kepemilikan, tetapi yang jelas ia berencana untuk mewariskan koleksinya pada rakyat Indonesia. Ia berkeinginan masyarakat luas dapat mengapresiasi dan menikmati lukisan-lukisannya sebagai yang dia lakukan. Bagi Soekarno, melihat lukisan ditengah kesunyian bisa menghasilkan ide yang berguna bagi kepentingan bangsa dan negara. Lukisan realisme yang bertujuan menunjukkan representasi dunia nyata yang benar, obyektif, dam imparsial disukai Soekarno. Misalnya, lukisanlukisan Dullah dan Affandi pada masa tertentu (seperti Guiding his Blind Father yang awalnya dikenal sebagai The Blind Beggar). Lukisan Dullah yang berjudul Persiapan Gerlya ditempatkan pada tempat yang terhormat di belakang kursi Presiden di ruangan di mana ia biasa menerima tamu negara di Istana Jakarta. tetapi Soekarno juga menyukai lukisan ekspresionisme, misalnya lukisan Hendra Gunawan dan tidak bisa memahami lukisan-lukisan dari Affandi. Soekarno menyukai sejumlah lukisan kubisme Picasso pada Blue Periode namun memandang lukisanlukisan kubisme Picasso sebagai karya orang gila. Oleh karena itu, Soekarno tidak memberi ruang gerak bagi bertumbuhnya kubisme di Indonesia dengan alasan agar lukisan modern tersebut merusak rasa pelukis muda Indonesia. Tampak Soekarno tidak bersimpati dengan lukisan abstrak semacam itu. Di ujung tulisan digambarkan mengenai usaha Presiden Soekarno memperindah kota Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia
21

dengan menunjuk Soemarno sebagai Kepala Daerah dan teman lamanya seniman Henk Ngantung sebagai Wakil Kepada Daerah. Setahun kemudian, pada tahun 1961, Soekarno mengubah kedudukan kota dengan membuat Kepala Daerah (atau Gubernur) bertanggung jawab langsung padanya dan bukan pada Menteri Dalam Negeri, sehingga membuatnya memiliki kontrol pribadi atas perkembangan kotamadya, atau, untuk menggunakan sebutan barunya, Daerah Khusus Ibukota. Soekarno melibatkan dirinya sepenuh mendesain bangunan-bangunan baru, patung-patung dan monumen-monunem di Jakarta, tetapi membiarkan kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti pembangunan kampung tak tersentuh. Soekarno berperan penting mendesain Hotel Indonesia dan juga mengawasi dekorasi interior dan pilihan perabot, memberi persetujuan berkaitan dengan kontruksi untuk gedung Wisma Nusantara serta desain Monumen Irian Barat, Monumen Nasional. Sarinah Departemen Store dan Madjid Istiqal. Di akhir kekuasaannya, Soekarno masih bermimpin mengenai membangun jembatan melintasi Selat Sunda dari Jawa ke Sumatra, yang panjangnya kurang lebih dua puluh lima kilometer. Militer, Islam dan Komunisme Selama Perang Dunia II, Soekarno bersama Hatta merupakan dwitunggal yang mewakili penduduk Indonesia di bawah pemerintahan Jepang; pada bulan Agustus 1945 kedua pemimpin ini menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia yang baru lahir. Namun bagaimana bermain atas perasaan rakyat manakala suatu kebutuhan yang lebih mendesak lagi mesti meyakinkan kekuatan Sekutu yang datang bahwa para pemimpin Indonesia yang telah menjadi kolaborator Jepang adalah juga para pemimpin yang dengannya pihak Sekutu berurusan. Sesungguhnya, manakalah Soekarno dan Hatta telah dihadapkan pada kekosongan yang menandai penyerahan Jepang, mereka telah ragu-ragu untuk menyatakan kedaulatan Indonesia, melakukan hal itu hanya setelah pemuda-pemuda militan menclik mereka dan memaksakan tindakan itu. Deklarasi kemerdekaan Indonesia, gantinya suatu upacara khidmat dan pernyataan tujuan-tujuan yang menggelegar yang mungkin kita harapkan dari negara sebuah negara revolusioner, ternyata suatu pengumuman sederhana yang dibacakan di depan beberapa orang, di bawah pengawasan penuh keengganan pihak Jepang.
22

Usaha berikutnya ialah ialah mencegah kembalinya Belanda menyaksikan suatu perpecahan antara orang-orang Indonesia yang menganjurkan perjuangan,- konfrontasi habis-habisan dengan kaum penjajah dan mereka yang lebih memilih proses diplomasi yang lebih berangsur-angsur. Tulisan Ulf Sudhaussen memperlihatkan perbedaan antara Soekarno dengan militer mengenai bagaimana cara mempertahankan NKRI. Bagi militer, perjuangan kemerdekaan harus dilihat dengan aksi militer, sebab ada tanda-tanda Belanda tidak mau melepaskan wilayah jajahan mereka secara sukarela. Pandangan demikian adalah lazim pada perwira, sebab pendidikan dan ketrampilan militer adalah keahlian mereka yang utama, lagipula usia mereka relatif muda lebih cenderung pada tindakan daripada penyelesaian secara diplomatis. Sebaliknya, Soekarno, Moh Hatta dan Sutan Sjahrir, adalah orang-orang dengan usia lebih tua dan keahlian utamanya adalah menformulasikan dan menyodorkan ide-ide politik. Mereka lebih percaya, mendirikan suatu bangsa yang merdeka adalah tugas politik, yang harus dicapai melalui perundingan. Lagi pula, bagi mereka tercapainya kemerdekaan itu bukanlah tujuan akhir sejauh tujuan ideologis lainnya belum tercapai. Soekarno lebih suka terus mengejar tujuan kemerdekaan bangsa dengan cara-cara politik daripada secara militer, sehingga membuat dirinya bisa diterima oleh sekutu Barat yang menang perang. Periode Demokrasi Parlementer juga memperlihatkan kedekatan erat antara tujuan politik Soekarno dengan militer. Pemerintah Belanda pada akhir tahun 1949 secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia, yang masih dalam kerangka federal. Ternyata konsitusi tersebut telah meminggirkan Soekarno sebagai presiden hanya kecil kekuasaannya selain urusan seremonial Belanda juga meminggirkan tentara yang sebenarnya merupakan kekuatan yang paling terorganisasi. Soekarno dengan AH Nasution (yang menggantikan Panglima Besar Sudirman) bekerjasama dalam memperjuangkan penghapusan sistem federal dengan menegakkan negara kesatuan. Retaknya hubungan Soekarno dengan militer dengan terjadi Persitiwa 17 Oktober 1952. Ketika itu sejumlah pimpinan militer mengajukan petisi kepada Presiden Soekarno untuk membubarkan parlemen dan meminta diselenggarakan pemilihan umum untuk memilih anggota parlemen
23

Soekarno menolak petisi militer itu dan menganggap petisi itu sebagai pemberangusan demokrasi. Dengan berlakunya UUD 1945 berarti kekuasaan telah memperkuat kedudukan Presiden versi UUD 1945. Selama beberapa tahun sejumlah besar perwira militer tidak saja diberi kedudukan di dalam kabinet tetapi juga dalam dinas sipil, diplomatik dan ekonomi. Hubungan Soekarno dengan militer di bawah Demokrasi Terpimpin tidak berjalan harmonis. Kendati mereka sejalan dengan tujuan-tujuan nasional, dalam pelaksanaan mereka sering berbeda. Soekarno menuruti kemauannya untuk menyebarkan gagasan-gagasan radikal, khususnya pernyataan-pernyataan anti-Barat, anti kapitalis yang jauh mendahului waktunya dan cocok untuk keadaan internasional sekarang ini. Militer mendukung sebagaian besar gagasangagasan nasionalistik anti Barat Soekarno, tetapi menolak usaha Soekarno menarik Partai Komunis Indonesia (PKI) Sesungguhnya hubungan antara Soekarno dengan militer tidak begitu bermusuhan seperti yang sering diperkirakan. Kenyataan presiden dan militer sering bersaing terhadap konsituensi masing-masing, dan itu mempunyai potensi untuk terjadinya konflik. Tetapi kenyataan kedua pihak memperlihatkan bahwa perhatian mereka adalah secara fundamental serupa. Kenyataannya masing-masing mempunyai argumen sendiri-sendiri tetapi biasanya itu tidak menyangkut subtansi melainkan mengenai metode-metode pencapaian tujuan.

24

Soekarno bertumbuh di lingkungan Sarekat Islam dibawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto dan banyak menulis mengenai Islam tetapi secara politik dia berseberangan dengan partai politik Islam. Di bawah Demokrasi Terpimpin, hubungan buruk terjadi antara Soekarno dengan sejumlah organisasi Islam terkemuka. Akibatnya, hanya sekitar setengah jumlah umat Islam yang mau berkerjasama dengan rezim Soekarno. Organisasi-organisasi Islam terkemuka, seperti Muhammadiyah, sebelumnya telah memperlihatkan kekecewaannya dengan tidak turut memperebut pengaruh dan kekuasaan pada masa tersebut. Sedangkan yang lain seperti Perti dan Masyumi yang selama ini menjadi kekuatan oposisi di pedalaman dapat ditaklukandan dibuat tak berkutik. Akan tetapi masih ada sebuah kelompok Islam lain yang mau bekerjasa sama dengan Soekarno, hingga ia punya peran dalam pemerintahannya. Sikap terakhir ini tampak pada jammah yang menanamakan diri Jajasan Api Islam , suatu kelompok umat Islam, suatu kelompok umat Islam pendukung Soekarnoisme yang berusaha menyesuaikan Islam dengan doktrin Soekarno yang berlangsung antara tahun 1960-1965. Menurut jamaah ini, antara Islam dan Soekarnoisme terdapat kesesuaian dan saling melengkapi. Upaya penyesuaian Islam tradisional dengan ideologi ultranasionalisme meski kurang berhasil menunjukkan adanya kemampuan umat Islam untuk menyesuaikan ajaran agamanya yang telah mapan dengan pemikiran politik yang berhaluan kiri, ketika umat Islam membutuhkan. Itulah yang ingin dikatakan oleh Howard M Federspiel lewat tulisan ini.

25

Dari beberapa aspek, Soekarnoisme yang berusaha mendapatkan dukungan Islam ternyata mengalami kegagalan. Usaha agar kaum Muslim menerima dokstrin Soekarnoisme dan menyesuaikan dengan ajaran Islam juga gagal, karena ia hanya diterima oleh sebagian orang-orang Jajasan Api Islam, sekadar untuk menambah doktrin agamanya. Tentu saja, Api Islam memanfaatkan retorika dan slogan Soekarno, bahkan memberi dukungan terhadap berbagai kebijaksaaan pemerintahannya. Akan tetapi ia tidak pernah memberikan dukungan yang bermutu dan tidak pernah menganggap prinsip-prinsip Islam sebagai suatu yang istimewa, Namun, usahanya sukses dalam Api Islam yang mendukung pemerintah Soekarno secara terbuka dan mengakui pentingnya kooperasi dengan Komunis, bila dibandingkan dengan usaha untuk menantangnya, seperti yang dilakukan beberapa kalangan Islam lain. Konversi Api Islam mungkin hanya bersifat ke permukaan saja, tetapi tujuan sebenarnya adalah kooperasi dan dukungan terhadap golongan Islam yang besar, agar terwakili dan mendapatkan kesempatan untuk menguasai golongan kiri dengan rekonsiliasi Meskipun secara artifisial Api Islam seakan terbentuk dari Islam dan Soekarnoisme. Dari sudut pandang ini pun usaha rekonsiliasi Islam dengan Soekarnoisme gagal. Tujuannya tercapai bila mendapatkan pengaruh dan kedudukan penting dalam pemerintahan, walaupun kenyataannya semua fraksi kehilangan pengaruh di saat Komunis semakin kuat. Akan tetapi akibat yang cukup berhasil adalah bahwa Soekarno menghargai secara tulus para pemimpin NU. Namun demikian, jika usaha itu adalah untuk menafsirkan Soekarnoisme dengan nilai-nilai Islam, maka usaha tersebut lebih banyak kegagalannya daripada kesuksesannya. Kaum Muslimin yang menghormati Soekarno mungkin bisa menerima rekonsialisasi Api Islam, namun banyak orang Islam yang lain tidak tertarik dengan usaha seperti itu. Dalam hal ini, PKI telah menjadi pelopor dengan restu Soekarno dalam menafsirkan Soekarnoisme dengan Marxisme, Kelompok Api Islam yang berorentasi pada Soekarnoisme tidak bisa menandingi interprestasi PKI yang revolusioner itu.

26

Herbert Feith mencoba menjelaskan penyebab pertentangan antara presiden dengan tentara di masa demokrasi terpimpin. Yang paling sering berulang-ulang menjadi bahan pertentangan antara tentara dan presiden adalah soal PKI. Ini sebagian disebabkan perbedaan orientasi ideologis. Perbedaan-perbedaan itu juga mencerminkan kedudukan ideologis kelompok itu masing-masing yang berusaha memperoleh perwakilan politiknya. Selain itu ketidaksepakatan itu didasarkan pada perbedaan yang antara kedua mitra itu dalam hal memperhitungkan faktor waktu. Presiden Soekarno yang lahir pada tahun 1901 mengutamakan pola kekuasaan pada masa kehidupannya sendiri. Presiden kemungkinan besar percaya bahwa selama ia masih hidup kaum komunis tidak akan merupakan ancaman bagi pemerintah. Di pihak lain, pada pemimpin tentara yang sebagian besar berusia sekitar empat puluhan tahun, didesak oleh bawahannya untuk memikirkan kepentingan tentara dalam jangka panjang Dalam rangka pemikiran itulah mereka melihat kaum komunis sebagai tantangan besar di masa mendatang bagi mereka sendiri, bagi tentara dan rezim. Soekarno, memang memerlukan dukungan kaum komunis dalam rangka mempertahankan kekuasaannya dalam situasi pasca 1958 ini. Selama kurun waktu ini, presiden benar-benar hanya memiliki kekuatan kecil saja yang terorganisir baik. Soekarno tidak mempunyai parpolnya sendiri, memang wajar apabila hanya memiliki sedikit dukungan politik terorganisasi Betapun ia pernah berharap akan penting dan perlunya sebuah partai politik negara yang monolitik, dalam kenyataannya harapan itu tetap tinggal harapan. Menang benar Soekarno berhasil mendirikan Front Nasional pada tahun 1960, tetapi karena ia memerlukan parpol-parpol yang ada itu sebagai kekuatan politik pengimbang terhadap tentara, maka ia diharuskan memberi konsesi yang besar kepada parpol-parpol sebagai pembentuk dan sekaligus anggota front itu sehingga Front Nasional ini tidak lebih dari semacam konfederasi longgar kelompok-kelompok pendukung pemerintah. Karena kurangnya kekuatan pendukung yang terorganisasi, maka Soekarno selalu menghadapi bahaya lebih bergantung kepada tentara daripada sebaliknya. Maka ia terpaksa selalu mengimbangi kekuatan kelompokkelompok lain. Jadi, inilah yang mendorong ia sering sekali mencari dukungan dari jajaran parpol-parpol, khususnya PNI, NU dan PKI. Yang khusus penting dalam hubungan Soekarno Angkatan Darat ini ialah bahwa
27

Soekarno selalu berusaha untuk memberikan kedudukan kepada PKI yang sama derajat dengan PNI dan NU. Selain itu, Soekarno mengerem berbagai upaya pihak tentara membatasi kegiatan politik PKI. Pokok persoalaan di sini sebenarnya bukan Soekarno pro Komunis. Yang lebih tepat bahwa Soekarno tergantung kepada PKI, di dalam usaha mempertahankan posisinya menghadapi tentara. Di sini ada tiga faktor yang berperan. Pertama, berdasarkan hasil pemilu yang diadakan di Jawa pada tahun 1957 PKI merupakan partai terbesar. Kedua, PKI mempunyai perlengkapan keorganisasian yang paling luas dan cermat di kalangan penduduk pedesaan dan kelas-kelas bawah di perkotaan. Ketiga, PKI paling mampu dan tangkas mengerahkan massanya ke rapat-rapat umum di mana Soekarno berbicara. Bila dilihat dari kepentingan PKI, maka sebenarnya ketergantungan Soekarno kepada PKI ini bersifat timbal-balik. Setiap kali tentara berusaha membatasi kebebasan PKI dan PKI merasa cemas menghadapi kemungkinan tindaan-tindakan represif tentara yang lebih besar lagi, maka PKI selalu lari ke Soekarno, Maka PKI bukan hanya sekutu Soekarno yang kuat, tetapi yang paling dapat diandalkan, karena kecemasannya yang selalu besar terhadap tentara. Rupanya tentara dan Soekarno bersama-sama telah mencapai suatu yang hebat, yang tidak satupun dari mereka berdua ini sanggup sendirian mencapainya. Mereka telah berhasil mengurangi sedikit demi sedikit kekuatan ledak PKI. Perlindungan sepihak yang diberikan presiden serkali ada kasus yang merugikan PKI telah ikut memperlemah unsur-unsur keras dalam tubuh PKI yang menghendaki kebebasan sikap terhadap pemerintah Hal ini tidak mengakibatkan pemerintah tidak perlu lagi berurusan dengan pemberontakam komunis. Tuntutan-tuntutan pihak tentara juga terpenuhi. Kaum Komunis telah berada di bawah pengawasannya yang ketat. Sampai taraf tertentu PKI berhasil diperlemah, memang berarti Presiden Soekarno kehilangan sebagian kekuatan dari pengaruh kekuasaannya. Akan tetapi satu hal, Presiden Soekarno masih mampu menggunakan PKI untuk mendapatkan konsesi dari Angkatan Darat. Tulisan Peter Christian Hauswedell ini merupakan respon terhadap buku Biografi Politik Soekarno yang ditulis John D Legge pada tahun 1972, dua tahun setelah Soekarno meninggal. Tulisan ini hanya mengupas penilaian John D Legge yang berkaitan dengan orientasi politik Soekarno dan karakterisasinya dalam Demokrasi Terpimpin. Dalam pandangan John D Legge bahwa Soekarno pada dasarnya menyeimbangkan, memanipulasi dan
28

mendamaikan kekuatan-kekuatan oposisi dari tentara dan PKI dengan tujuan akhir melestarikan posisi dan kekuasaan. Pendapat Legge bahwa Soekarno adalah seorang penyeimbang menjadikannya melihat bahwa politik dalam negeri sebagai tindakan penyeimbangan dan juga sebuah pertunjukan. Karakterisasi ini membawanya kepada imej Soekarno sebagai seorang dalang, dan seorang manipulator yang pada akhirnya berusaha mati-matian mendudukan diri tetap berada di puncak pusat kekuatan perubahan yang terus menerus, dan orang yang kehilangan kontrol pada saat ia terperangkap oleh semangatnya sendiri. Anggapan bahwa Soekarno adalah penyeimbang mengasumsikan bahwa ia tetap tidak berkomitmen dan berpihak, serta hubungan segitiganya dengan PKI dan tentara berfungsi dengan baik dan imbang. Pandangan Soekarno yang demikian membawa Legge melihat politik presiden terutama dari perspektif taktis. Akibatnya John D Legge menggolongkan Nasakom sebagai alat taktis belaka. Berkaitan dengan kebijakan-kebijaksanaan Soekarno, John D Legge menyimpulkan bahwa kebijakan Soekarno, terlepas Soekarno mengetahui atau tidak melindungi status quo konservatif dari Demokrasi Terpimpin dan para elitenya yang korup, dan sangat diragukan apakah ia benar-benar menginginkan restrukturisasi yang mendasar dalam tatanan sosial. Melalui tulisan ini Peter Christian Hauswedell memberikan pendapat dan interprestasi yang cukup berbeda tentang Soekarno. Ide dasar pendapat Peter Christian Hauswedell adalah kecenderungan untuk tidak melihat Soekarno sebagai penyeimbang namun sebagai seorang yang secara sadar berpihak, tidak hanya dengan PKI, namun dengan semua pihak yang mau mengikuti interprestasinya mengenai Revolusi Indonesia yang lebih radikal. Karena itulah, Nasakom lebih sebagai sebuah upaya untuk menjadikan revolusi kiri progresif, dan bukan sekadar upaya taktis Soekarno untuk melindungi posisinya di puncak kekuasaan. Bahkan jika yang menjadi motif utama Soekarno adalah kepentingan pribadinya, akan susah untuk membayangkan bahwa Soekarno akan membahayakan dirinya sendiri dengan memberi dukiungan kepada Nasakom walau telah mendapat berbagai penolakan besar yang diperolehnya. Alinasi Soekarno dengan PKI menjadi semakin dekat, sementara hubungannya dengan Angkatan Bersenjata menjadi kian renggang dengan adanya kecurigaan di antara keduanya. Terlebih lagi, Soekarno tidak lagi berada dalam kesatuan fundamental namun berada di sebuah konflik yang berkembang dengan elit lainnya. Interprestasi Peter Christian Hauswedell mengenai paruh lain dari Demokrasi Terpimpin lebih
29

menggarisbawahi perubahan konten ideologis dan hubungan yang lebih kuat antara ideologi dan aksi politik, yang pada akhirnya akan memperlemah status-quo kaum konservatif di dalam sistem. Terakhir, komitmen Soekarno terhadap revolusi dan perubahan sosial, meski sangat idiosinkretsi dan bertahap dikarenakan oleh permainan kekuasaan yang sangat konservatif di Indonesia, sesungguhnya lebih serius daripada yang ditawarkan oleh kritikkritik orthodok untuk dipercayai. Tampak bagi Peter Christian Hauswedel bahwa baik interprestasi Soekarno sebagai kaki tangan PKI ( yang mungkin lebih tepat dimaksudkan sebagai fungsi politik), maupun pandangan yang lebih orthodox mengenai Soekarno sebagai seorang konservatif tidak bisa menyangkal adanya konsistensi dan komitmen Soekarno terhadap PKI pasca kudeta mengenai kesatuan Nasakom dan interprestasi revolusi Indonesia sebagai revolusi Kiri. Walau dalam penilaian banyak pengamat, ia dapat melestarikan posisinya jika ia mengorbankan PKI dan keteguhannya terhadap revolusi sebagai revolusi kiri; ia membayar kekeraskepalannya dengan harga kejatuhan dirinya. Telah dikatakan bahwa prinzippienreure adalah salah satu dari karakter luar biasa Soekarno : komitemennya terhadap karakter progresif kiri dalam revolusi Indonesia adalah keputusan dengan prinsip tinggi. Dalam pidato yang sangat emosional selepas kudeta ini, ia mencoba menghentikan luapan reaksi dan pembersihan sekaligus pembunuhan di negara ini. Ia membela PKI dan mengingatkan pendengarnya berkali-kali bahwa partai ini telah lebih banyak pengorbanan bagi kemerdekaan Indonesia dan bagi revolusi, lebih dari kelompok lain, termasuk kelompok nasionalismnya sendiri. Ia mengingatkan warga negaranya bahwa keinginan mereka untuk menghapus PKI secara tuntas, telah menggeser Revolusi Indonesia ke Kanan. Ia mungkin telah menyadari bahwa gerakan yang hendak menumpas PKI bertujuan mentransformasi visinya terhadap Revolusi Indonesia. Ketimbang menjadi boneka dari kontra-revolusi tersebut, ia memilih untuk jatuh bersama prinsip-prinsipnya. Melalui tulisannya, Olle Tornquist berusaha menjelaskan mengenai hubungan Soekarno dengan Partai Komunis Indonesia. Ketika terjadi kemunduran-kemunduran pada tahun 1960, PKI mencari perlindungan di bawah Presiden Soekarno. PKI menekankan mengenai betapa pentingnya memberi dukungan penuh pada kebijakan Soekarno, UUD 1945 dan Pancasila dan sebagainya. Dengan demikian, tidak ada pihak yang bisa menyingkirkan kaum komunis dengan menyatakan bahwa PKI menentang Presiden Soekarno. Sebaliknya, prinsip utama partai mengarah pada
30

penekanan dan penyikiran pihak lain, terutama kaum kapitalis birokrat yang tidak mengikuti Manipol, Nasakom dan garis-garis politiknya. Demi keselamatan, PKI mengeluarkan pernyataan jelas bahwa partai bermaksud memposisikan perjuangan kelas di bawah perjuangan nasional. Ketika masalah perjuangan kelas belum benar-benar menjadi penting di Indonesia. Namun akhirnya menjadi penting pula. Ada kecenderungan dominan di kalangan kaum komunis tetap merujuk pada Soekarno setiap kali mereka melakukan sesuatu. Aksi massa itu bagus karena Soekarno mengatakan demikian. Kaum komunis menjadi bagian dari pemerintahan karena Soekarno bicara tentang kabinet gotong royong dan Nasakom. Kaum imperialis itu musuh karena Soekarno mengatakan demikian. Demikian seterusnya, tak terbatas. Selama Soekarno meningkatkan perjuangan melawan Belanda untuk membebaskan Irian Barat, hal ini menjadi gambaran yang dominan. Tetapi kini posisi partai meningkat kuat dan kaum komunis memperoleh kembali hal-hal yang hilang selama akhir 1950-an. Sebenarnya Soekarno dan AD sangat membutuhkan dukungan kaum komunis. Mereka memerlukan dukungan PKI untuk memperoleh persenjataan dari Moskow. Ini bukan masalah senjata ringan atau sejumlah bazoko seperti yang disumbangkan kepada berbagai gerakan pembebasan, tetapi persenjataan yang paling canggih. Kemudian Indonesia menjadi negara yang mendapat bantuan militer terbesar dari Uni Soviet. Bagi kepnetingannya sendiri, Soekarno juga berusaha agar persenjataan ini hanya digunakan sebagai penangkal, agar kemenangan merebut Irian Barat bukan semata-mata menjadi milik pihak militer. Oleh karena itu Soekarno juga menggunakan aksi massa kaum komunis, yang tentu saja memberikan ruang gerak kepada PKI. Karena itulah PKI dapat memobilisasi massa dengan menegaskan kwajiban memperkuat garis belakang dan mendukung Presiden Soekarno. Ketika terjadi ketegangan antara Indonesia dengan negara baru yang sedang dibentuk Inggris. Subandrio kemudian menyatakan sikap Indonesia terhadap ancaman neokolonial yang ditandai dengan konfrontasi total. Disusul kemudian serangan demontrasi kedapada kedutaan Inggris dan Malaysia di Jakarta. Kula Lumpur menanggapinya dengan demontrasi balasan dan memutuskan hubungan diplomatik. Selanjutnya, para demontran di Jakarta

31

membakar Kedutaan Malaysia dan merusak rumah kediaman diplomatnya. Serikat Buruh PNI dan PKI menduduki sejumlah perusahan Inggris. Menariknya permintaan Indonesia kepada Kremlin untuk memperoleh lebioh banyak persenjataan ditolak. PKI malahan mendapat dampratan keas Dario Moskow berusaha mencari kawan-kawan lain di Jakarta. Moskow, mulai melirik AD dan Partai Murba, di mana tokoh seperti Nasution dan Adam Malik dipandang mempunyai peran kunci. Penekanan pada perjuangan kelas dalam kerangka nasionalisme Soekarno, dengan jelas menjadi gerakan ofensif ketika petunjuk politik dirumuskan dalam rapat CC PKI pada Desember 1963. Salahsatu landasan strategi yang diubah, termasuk penggunaan aksi-aksi massa militan untuk mendukung dan memberikan tekanan pada anti-imperialisme di bawah sayap Soekarno. Tujuannya adalah membuka kedok dan menyingkirkan kaum kapitalis birokrat sebagai pengkhianat. Pada dasarnya ini merupakan model yang sama seperti yang telah digunakan untuk menetralkan Masyumi dan PSI. Tetapi kini tuntutan dan aksi-aksinya lebih radikal. Metodenya sederhana tetapi cerdik, PKI mendorong massa agar memberikan dukungan kepada Soekarno untuk mempertajam kritik-kritik terhadap Malaysia, Inggris, AS dan lain-lain serta mendukung garis-garis politik lain seperti berdikari(berdiri di kaki sendiri). Berdasarkan demokrasi terpimpin semua harus menentang imperialisme dan bekerja untuk prinsip berdikari. Dengan demikian, kaum komunis lebih cemerlang daripada yang lain, termasuk Soekarno, ketika bicara masalah anti-imperialisme dan berdikari. Tak seorang pun dapat menghentikan PKI tanpa berpisah dengan Soekarno. Rex Mortimer juga mengulas hal yang sama dengan Olle Tornquist. Mengenai hubungan Soekarno dengan Partai Komunis Indonesia dan menjelaskan siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dalam kerjasama tersebut. Diawali dengan menjelaskan mengenai Soekarno. Dikatakan bahwa Soekarno membentuk daya tariknya dengan menggunakan gambarangambaran yang menimbulkan pengabdian yang mendalam dari segala lapisan masyarakat Indonesia, terutama golongan abangan Jawa. Semboyansemboyan yang digunakannya perampungan revolusi nasional, persatuan bangsa, indentitas bangsa Indonesia, sikap antiimperialisme, demokrasi terpimpin semuanya memberikan getaran yang mendalam bagi aliran tersebut. Kebanggan nasional ingin diperkuat dengan memberikan gambaran
32

mengenai tokoh-tokoh Jawa zaman dahulu yang diambil dari berbagai legenda cerita wayang di mana secara tradisional penekanan diberikan pada keserasian, penyekesaian konflik dengan permusyawaratan , gotong royong dan rasa keteraturan. Semua ini digabungkan oleh Soekarno dengan ide-ide modern yang membentuk suatu konsepsi dinamis tentang keserasian masa depan yang didasarkan atas nilai kepribadian dan kebudayaan Jawa. Fahamm kerakyatannya bersifat modern karena paham itu menjanjikan keikusertaan dari seluruh rakyat, tapi paham tersebut juga bersifat otoriter karena membenarkan adanya pemimpin bagi rakyat jelata yang merupakan pemimpin yang suci dan agung. Resep Soekarno bagi persatuan nasional melalui Nasakom, walaupun memberikan persamaan bagi setiap suku, dalam prakteknya menganjurkan persatuan menurut pengertian Jawa karena diberikannya halangan bagi ambisi-ambisi kedaerahan dan diperkuatnya peranan dari pusat politik Nasakom memberikan tempat terpenting dalam politik kepada tokoh-tokoh yang pintar berbicara dan kepada putra-putra asli yang menganut paham tradisional atau yang berpura-pura mengenaut paham tersebut ; konsep ini memperkuat birokrasi yang merupakan alat bagi orangorang Jawa untuk melawan otonomi daerah. Analisa dan resp Soekarno tersebut mempunyai daya tarik yang besar. Sifatsifat otoriter yang ada di dalamnya, kalau pun ada, disambut baik oleh sebagian besar masyarakat politik karena praktik-praktik politik dari Demokrasi Barat telah terbukti sangat mengecewakan mereka dan mereka bersedia mematuhi seorang pemimpin yang mempunyai kharisma dan resp untuk mengtasi segala kekurangan. Daya tarik Soekarno terutama sangat efektif bagi mereka yang merasa tersingkir dan terasing serta golongan abangan, yang melihat adanya tanda-tanda di dalam pemikiran Soekarno tentang akan datangnya seorang penguasa yang kuat dan adil yang akan mengembalikan kestabilan dan kemamuran negara dan menjadikan kraton, atau istana, sebagai pusat kekuasaan dan daya tarik. Ideologinya berhasil menyatukan berjuta-juta rakyat secara psikologis ke dalam suatu perjuangan untuk menciptakan negara sejahtera. Campuran antara unsur-unsur yang berorientasikan masa lampau dan usnurunsur yang berorientasikan masa depan dalam ideologi Soekarno tercermnin dalam struktur sistem politiknya. Banyak di antara lembaga-lembaga resmi pemerintahan yang kelihatannya modern dan progresif dari luar walaupun semuanya mempunyai mempunyai keyakinan tentang kesatuan bangsa dan pengarah dari penguasa yang berasal dari tradisi-tradisi sebelum zaman kolonial. Tetapi yang lebih penting adalah bahwa struktur yang lain,
33

terutama cara-cara informal pengambilan keputusan yang lebih penting dari pengakatan institusional, adalah jelas bersifat tradisional. Kalangan pemerintahan yang berkuasa, priyayi modern yang memimpin unit-unit birokrasi dan yang merupakan pendukung penguasa, ketentuan bahwa kesetian adalah ukuran untuk segala-galanya semua ini, bersama-sama dengan pemulihan kembali kejayaan dan kekuasaan pamong praja seperti di zaman dahulu, merupakan pencerminan dari masa kejayaan kerajaankerajaan Jawa dahulu kala. Dengan memberikan dukungan kepada ideologi dan struktur politik Soekarno, mengagung-agungkan peranan tradisionalnya, dan setuju untuk menyesuaikan diri dengan garis-garis besar haluan negara, golongan komunis ditarik ke arah akomodasi yang lebih jelas terhadap tradisi . Ada beberapa dasar pragmatis bagi alinasi golongan komunis dengan Soekarno yang memberikan perlindungan paling baik terhadap Angkatan Darat , dan harapan yang paling baik untuk memperoleh kedudukan penting dalam struktur kekuasaan yang dahulunya tidak akan mereka peroleh tanpa adanya perjuangan yang sengit. Pada waktu yang sama, ada beberapa alasan yang yang lebih dari alasan-alasan pragmatis yang menyebabkan mereka bersatu dan saling mengutungkan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, baik Soekarno maupun PKI memperoleh dukungan yang kuat dari lapisan masyarakat yang sama kelas bawah di daerah perkotaan yang terperangkap di antara pengaruh tradisi dan pengaruh modern, dan yang mencari pegangan yang kuat kepada siapa mereka akan memberikan dukungan; dan secara lebih mendalam lagi, dari kalangan golongan abangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang merindukan keamanan dan janji-janji tentang lehidupan yang lebih baik. Adalah tidak terlalu berlebih-lebihan untuk mengatakan bahwa Soekarno maupun PKI, dalam cara-cara yang tidak jauh berbeda, berusaha untuk menyuarakan kebutuhan dan kepentingan lapisan masyarakat tersebut. Mereka memberikan pesan-pesan yang utopis bagi masyarakat perkotaan untuk mengtasi kekacauan psiko-kultural mereka; sedangkan kepada golongan abangan mereka memberikan keyakinan bahwa kebutuhan materiil mereka akan dapat dipenuhi dan nilai-nilai budaya mereka akan dipertahankan terhadap tantangan Islam. Perobahan kecil, namun penting, yang terjadi dalam ideologi, PKI selama periode ini menunjukkan sejauh mana golongan komunis menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mengorbankan kesetiaan terhadap do9ktrin mereka. Pada tahun 1960, doktrin tentang kelas doinomorduakan demi aliansi nasional untuk melawan musuh dari luar luar dan sekutu-seukutunya
34

di dalam negeri. Rakyat menjadi sumber bagi segala aspirasi dan kebajikan nasional secara terus-menerus semenjak masa prakolonial sampai ke ke masa depan yang sosialistis. Aliran. Bukanya pengelompokan atas dasar kelas , menjadi titik pusat dari program front persatuan nasional . Spektrum masyarakat Indonesia dipahami atas dasar pengelompokan golongan kiri, kanan, dan tengah yang bersifat politis dan yang secara sosiologis netral; jadi bukannya atas dasar konsep kelas. Perjuangan untuk menjatuhkan imperialismedi Asia Tenggara dan di seluruh dunia menjadi perhatian yang utama dari kebijaksanaan dan tindakan PKI, jadi bukan perjuangan untuk mengadakan perombakan masyarakat. Namun, walaupun terdapat persamaan antara kedua ideologi atau kepentingan (dari Soekarno dan PKI), ada konflik yang terselubung antara keduanya dalam hal tujuan yangdicapai masing-masing pihak. Jika Soekarno, sebagai sumber kekuasaan dan perwujudan nilai-nilai priyayi, berusaha untuk menggabungkan massa orang-orang Jawa dengan massa dari sukusuku lainya menjadi satu kesatuan yang secara sosial bersifat konservatif dan yang dipimpin oleh para pemimpin mereka; golongan komunis, sebagai pihak yang haus kekuasaan dan juru bicara untuk menumbangkan kesatuan sosial seperti yang diinginkan Soekarno. Dalam prakteknya, konflik tersebut dapat ditekan sedemikian rupa oleh sifat-sifat Soekarno. Walaupun ia menjaga dengan ketat hak-hak istimewanya dan barangkali ia berpendapat bahwa seharusnya di Jawa tidak terdapat perbedaan, kecenderungan-kecenderungan Jacobin yang romantis yang ada padanya membuatnya lebih banyak menilai perobahan dan revolusi dari bentuknya, dan bukan dari kenyataannya. Jelas bahwa dukungan PKI bagi Soekarno ditujukan untuk memperoleh ruang gereak dan kegunannya sebagai imbangan terhadap kekuatan Angkatan Darat, dan ia merasa senang membiarkan para pejabat pemerintah dihina dan dicacimaki karena tidak melibatkan diri sepenuhnya ke dalam pencapaian cita-cita uyang dihormatinya. Hal ini memberikan kesempatan kepada golongan komunis untuk menentang konsolodasi struktur kekuasaan kapitalis-birokrat yang baru dengan melancarkan kampanye dan agitasi secara terus-menerus terhadap kaum reaksioner dan kaum hipokrit di tingkat tinggi. Dengan segala taktik gerilya politik mereka, mereka tidak mampu menguasai proses sosial-ekonomi, dan menemukan bahwa penggabungan birokrasi sipilmiliter sangat menentang ambisi mereka. Kejatuhan Soekarno dan Peran Amerika Serikat
35

Tulisan Peter Polomka juga berbicara mengenai kejatuhan Soekarno. Sebagai seorang bapak pendiri bangsa, Presiden Soekarno pada masa-masa akhirnya, memang tidak banyak memiliki rekan yang mendukung. Soekarno terutama ingin memberikan kebanggaan bagi bangsa Indonesia. Dia ingin membangun harga diri dan kepercayaan diri karena memimpikan bangsa Indonesia yang besar dari Sabang sampai Merauke. Dia menekankan semangat nasional, kesadaran nasional dan keberagamaan dalam bangsa yang bersatu. Soekarno mendorong terus semangat revolusioner yang massif, menunjukkan musuh dan krisis bangsa yang sesungguhnya, memunculkan simbol persatuan dan memperkenalkan Demokrasi Terpimpin Pun dia meminjam milliaran dollar untuk memperlengkapi persenjataan militer, membangun proyek-proyek besar yang berprestise, yang menjadi wajah penting Indonesia di mata dunia. Namun ketika Soekarno mulai sukses menumbuhkan kepercayaan diri bangsa yang sempat hilang, negara kemudian mengalami kelemahan. Kesatuan bangsa saat itu diuji melalui upaya kudeta yang terjadi pada Oktober 1965, momen yang membuat Soekarno jatuh dari pemerintahannya. Menurut versi militer, kudeta terjadi dipicu oleh sakitnya Soekarno pada awal Agustus tahun 1965, Soekarno saat itu sedang dalam kondisi yang lemah dan militer kemudian mengklaim bahwa Aidit merasa takut jika tibatiba presiden meninggal. Aidit mendapatkan informasi ini dari dokter-dokter Cina yang merawat Soekarno. Lalu untuk menghindari tekanan militer yang mungkin terjadi jika Soekarno meninggal, maka partai komunis memutuskan untuk menyingkirkan para pemimpin anti komunis melalui pembentukan Dewan Revolusi yang cenderung beraliran kiri, untuk melempangkan jalan menuju pemerintahan Nasakom. Lalu untuk mengantisipasi reaksi kaum anti komunis maka partai komunis mulai menumbuhkan ketidapercayaan pada insitusi militer melalui biro khusus bentukan Sjam dengan membuat kudeta sebagai skandal internal militer dan memastikan sosok pemimpin partai komunis tidak tersorot. Konsekuensinya, militer yang diperlihatkan dan ini merupakan strategi komunis untuk melanjutkan kekuasaannya sampai ke atas. Di samping penjelasan versi militer tidak sepenuhnya memuaskan, cukup bisa diterima kalau kudeta bisa juga merupakan puncak dari skandal internal militer. Sementara keterlibatan Aidit melalui Sjam masih juga dalam perdebatan sebab ada yang meragukan Aidit dan beberapa pimpinan komunis terlibat dalam kudeta ini. Dari empat pemimpin partai, hanya
36

Sudisman yang kemudian bersaksi di depan militer bahwa kudeta ini merupakan tindakannya secara individual tidak atas nama partai dan hal ini tidak pernah dirapatkan dalam sessi pertemuan partai komunis. Namun melihat gaya kepemimpinan otokrasi Aidit dalam partai komunis, para pemimpin militer meragukan hal ini. Buat mereka alasan cukup kuat menyatakan Aidit memang sangat percaya diri untuk melakukan kudeta yang direncanakan bahkan bisa sukses tanpa harus menyebarkan nama partai komunis Diterima atau tidak, kemungkinan militer melakukan kudeta pun tetap ada, sebab militer cukup beralasan dengan makin kuatnya posisi partai komunis dan kebingungan di tubuh militer sendiri. Apalagi militer terlihat makin tertutup akan aktivitasnya pada masa-masa menjelang kudeta. Militer menyembunyikan komunikasi rahasia dengan Malaysia pada akhir tahun 1964 dan misi rahasia ke Kuala Lumpur pada awal tahun 1965. Lalu militer juga gagal meyakinkan soal dinamakan Surat Gilschrist yaitu surat informasi rahasia tentang mantan Duta Besar Inggris, Gilschrist yaitu surat informasi rahasia tentang mantan Duta Besar Inggris, Gilschrist yang diduga dikirimkan atasannya dari London pada Maret 1965 untuk mencari tahu bahwa militer memang sedang bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris untuk menyingkirkan Soekarno. Hal ini dianggap militer merupakan surat palsu untuk memburukkan nama para Dewan Jendral, dengan menyebarkan rumor seputar kudeta. Lalu soal keterlibatan Soekarno dalam peristiwa ini masih kabur, sebab seorang Soekarno terasa sulit jika tidak mengetahui apa yang terjadi di seputarnya. Barangkali dia secara pribadi terlibat secara tidak langsung akibat ketidaksukaannya terhadap militer dan pemimpin militer yang sering ikut campur. Pada dasarnya sulit memastikan keberpihakan Soekarno ke mana, yang kemudian dianggap seperti riak lautnya revolusi tak bisa ditebak. Dia pada paginya, saat kudeta juga sempat datang ke Halim, Pusat Angkatan Udara dan alasan kedatangannya masih belum jelas. Namun diragukan pula jika Soekarno memang banyak tahu soal kudeta ini sebab kemudian dideklarasikan kabinet sudah dihilangkan dan hal ini pasti tidak diinginkan yang memiliki kabinet itu sendiri, kemudian dibentuk Dewan Revolusi Indonesia yang di dalamnya tak termasuk Soekarno. Barangkali pemimpin komunis melakukan sesuatu di luar sepengetahuan Soekarno sebagaimana seharusnya.

37

Soekarno percaya ada sebuah jalan bagi masa depan Indonesia yang cerah melalui gerakan yang dihidupkan dari ide-idenya. Ide tersebut antara lain ide kemerdekaan, sebuah dunia baru, yang lainnya menjadi prioritas kedua. Dia tidak mengesampingkan pentingnya pendidikan, pelayanan medis, industri dan hal-hal yang kongkrit lainnya, namun itu semua merupakan prioritas lanjutan dibandingkan penciptaan sebuah kepedulian, harapan dan ideologi yang dia sebut sebagai artileri spiritual sebuah bangsa. Tetapi sayangnya kudeta yang terjadi secara dramatis menjadi kegagalan pemerintahan Soekarno harus digarisbawahi. Ini pada akhirnya menjadi tonggakl melanggengkan naiknya kekuasaan militer dan kemudian melakukan pendekatan yang berbeda untuk mencapai masa depan yang baik bagi rakyat Indonesia. Menurut John Hughes, sebenarnya ada tiga fase yang mengantarkan Soekarno pada kejatuhannya. Fase pertama adalah periode 30 September sampai 11 Maret 1966. Ketika itu, Soekarno memerintahkan untuk mengambil langkah apapun untuk memulihkan ketenanangan di dalam negeri sekaligus menjaga keamanan dan kedudukan dirinya . Fase kedua dimulai dengan asumsi Soeharto mengenai mandat istimewa ini dan berakhir ketika Soekarno membacakan pembelaan menjawab kritik yang diajukan kepadanya di hadapan MPRS pada tanggal 10 Januari 1967. Fase ketiga dimulai sejak pembelaannya tersebut hingga keluarnya keputusan MPRS pada tanggal 12 Maret 1967 menanggalkan kekuasaan Soekarno sebagai presiden dan melimpahkan tugas kepresidenan kepada Soeharto. Masa setelah keputusan MPRS tanggal 12 Maret 1967 hingga ke pengangkatan Soeharto sebagai presiden sepenuhnya setahun kemudian. Pengangkatan Soeharto adalah epilog dari kisah kejatuhan Soekarno. Ada yang menulis bahwa orang digiring untuk percaya bahwa kejatuhan Soekarno tidak terhindarkan. Salah satu hal yang bisa menjadi bukti adalah, sebenarnya di awal 1967 Soekarno mungkin saja masih dapat menguasai kekacauan politik yang meningkat jika saja ia menghendaki demikian. Bahwa seorang politisi kawakan seperti Soekarno untuk bertindak lain tentu saja mengakibatkan perseteruan tak terelakkan antara dia dan lawan-lawan politiknya, hal tersebut kelihatan sangat tidak seperti orang Indonesia bagi sebagaian pengamat. Bagaimanapun, taktik Soekarno tidak selalu sejalan dengan gaya politiknya. Penyebab utama fase pertama kejatuhan Soekarno adalah upayanya yang mati-matian dalam melindungi kedudukan penting kaum Kiri radikal dan ideologi Komunis dalam kancah politik Indonesia di dalam maupun di luar
38

negeri. Soekarno dalam beberapa pidatonya ia terus mengingatkan Indonesia untuk tidak berbelok ke pihak Barat, menekankan bahwa revolusi Indonesia adalah revolusi kaum Kiri, dan terusmenerus menegaskan pentingnya mempertahankan Nasakom (ini adalah akronim Soekarno yang merujuk pada kesatuan dari tiga kekuatan politik Indonesia : nasionalisme, agama, dan komunisme). Soekarno juga menggugat kelompok Anti-Komunis yang menurutnya telah memfitnah kaum Kiri, dan ia menyerang kaum Muslim yang menurutnya tidak menjalankan hukum Islam karena tidak menguburkan mayat-mayat orang Komunis yang terbantai. Pernyataan ini membuat marah banyak golongan penting dalam masyarakat Indonesia dan menarik kutup antara sang presiden di satu sisi dengan pihak-pihak yang menentangnya. Di antara penentang itu adalah organisasi-organisasi mahasiswa garis keras anti-Soekarno seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang memiliki anggota sekitar 10.000 orang, organisasi Ansor, serikat dagang anti-Komunis yang didominasi oleh miluter.umat Islam, sejumlah komandan militer, akademisi, intelektual, dan banyak lagi. Meski banyak orang yang menentangnya, bukan berarti Soekarno tidak memiliki pendukung. Ia memiliki sejumlah pendukung, terutama yang pada desa-desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak orang-orang desa yang menghormatinya hampir seperti mereka menjunjung raja-raja tradisonal Jawa. Begitu pula di partai semacam PNI yang kedekatan politiknya dengan Soekarno telah lama dikenal luas. Soekarno juga memiliki pengikut di militer, terutama di barisan KK0 (Marinir) yang turut berseteru dengan kelompok-kelompok pelajar anti-Soekarno di jalanjalan kota. Mungkin yang paling mengganggu bagi Soekarno adalah taktik baru para pemuda yang berdemontrasi. Sikap anti-Soekarno kini diperlihatkan melalui demontrasi yang memanfaatkan anak-anak. Hal tersebut membuat pihak keamanan di ibu kota tidak dapat berbuat banyak. Kala itu Jendral Soeharto merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap keamanan, sebab ia menjabat sebagai Menteri Komandan Militer di kabinert baru tersebut. Di beberapa peristiwa pada aktivis KAMI meneruskan demontrasi dan protes mereka di jalanan dan pihak militer menanggapinya dengan sikap toleran. Pihak militer hanya sesekali membubarkan demontrasi dan menangkap pemimpinnya.

39

Banyak yang menganggap Soekarno sudah berada diambang kejatuhannya. Lawan-lawan Soekarno yang memanfaatkan demontrasi tidak membuang waktu mereka. Pada tanggal 11 Maret 1966 Soekarno menandatangani dekrit yang memberi pihak militer kekuatan hukum : negara memberikan kekuasaan kepada Jendral Soeharto untuk mengambil semua langkah untuk menjamin keamanan di dalam negeri, juga kekuasaan untuk mengamankan keamanan pribadi serta kekuasaan dari sang presiden selaku Pemimpin Besar Revolusi . Langkah pertama yang Soeharto ambil diantaranya adalah menandatangani dekrit tertanggal 12 Maret 1966 yang isinya melarang PKI di negeri ini dengan sampai Soekarno menerbitkan Pelengkap Nawaksaranya pada tanggal 10 Januari 1967, sang Presiden memiliki beberapa kesempatan menyelamatkan kekuasaan politiknya seandainya ia bersedia memainkan peran orang yang menyesal seperti diharapkan oleh MPRS, pihak militer, dan semua pemimpin partai. Pastinya, apapun bentuk rehabilitasi politik Soekarno tidak dapat diterima oleh KAMI dan para akademisi pendukungnya. Mereka menghendaki Soekarno hengkang dari kancah politik untuk selamanya. Di lain pihak mereka yang berada di lingkungan PNI dan NU dan para pegawai negeri, dengan menimbang kekuatan Soekarno yang tersisa dan tidak menghendaki pihak militer menentukan arah baru bagi politik Indonesia, siap mempertahankan Soekarno (dengan catatan hal tersebut dapat menghindari pertumpahan darah). Tentu saja aura adi-manusia dan kekuasaan luar biasa harus ditanggalkan dari diri sang Presiden. Bagaiamanapun sebagai sebuah sebagai sebuah pusat kekuatan dan keseimbangan politik Soekarno telah dibutuhkan dalam kondisi Indonesia pasca kudeta. Pada tanggal 12 Maret 1967 MPRS secara formal mengesahkan perpindahan kekuasaan kepada Soeharto dengan mengangkatnya sebagai orang yang mengerjakan tugas-tugas kepresidenan dan mempertahankan mandat Presiden kepada Soekarno. Soekarno secara resmi telah diganti, namun MPRS menolak untuk menyatakan secara formal bahwa ia diturunkan dari jabatannya (hal yang merupakan permintaan anti-Soekarno). MPRS menyatakan bahwa Soekarno telah gagal dalam menunaikan tugas konsitusionalnya kepada MPRS dan juga dalam pelaksaaan perintah yang telah diberikan padanya. Juga disebutkan telah menjalankan kebijakankebijakan yang secara tidak langsung telah menguntungkan rencana kudeta 30 September 1965. Ketetapan MPRS yang sama juga melarang Soekarno untuk melakukan kegiatan politik sampai pemilihan umum dilaksanakan dan menyatakan bahwa prosedur hukum selanjutnya akan

40

dilakukan kepada Soekarno dengan keputusan orang yang menjalankan tugas kepresidenan. Peristiwa Gerakan 30 September tidak dapat dilepaskan dari kontroversi di seputar keterlibatan Amerika Serikat, khususnya Central Intelligence Agency (CIA) dalam memprakondisikan kejadian tersebut. Keterlibatan CIA merupakan salah satu faktor determinan, di samping situasi dan kondisi dalam negeri yang dalam deskripsi berbagai tulisan di seputar Persitiwa G30S disebut sebagai bernuansa progresif revolusioner, yang masih membutuhkan kejelasan. Sebuah upaya lebih mirip rekontruksi sejarah perlu dilakukan melalui penemuan dan eksplorasi semua bahan yang relevan di seputar peristiwa tersebut. Dari puluhan tulisan yang telah beredar didasarkan pada dokumen-dokumen yang tersimpan, ada dua anggapan yang berseberangan. Pertama, AS melalui berbagai insitusinya, termasuk CIA, terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam mendukung Peristiwa G30S yang berakhir dengan jatuhnya Soekarno dari kursi kepresidenan. Kedua, bahwa CIA dalam hal ini AS, tentu tidak terlibat atau campur tangan dalam Peristiwa G30S berikut kejadian-kejadian menyusul. Lewat tulisan ini H.W. Brands mencoba membantah mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam melengserkan Presiden Soekarno dari tampuk kekuasaan. Suatu peralihan kekuasaan yang menggantikan sayap kiri Soekarno dengan sayap kanan Soeharto, yang melibatkan ratusan ribu kaum komunis di Indonesia terbunuh. Pembunuhan berdarah yang paling banyak jumlah dalam sejarah modern. Sebenarnya AS memiliki peran yang kecil dalam urusan melengserkan Soekarno. Justru perkembangan mengarah ke situ berkembang secara esensial dari Indonesia sendiri. Sudah berbulan-bulan pejabat Amerika Serikat telah mendesak Militer Indonesia untuk menyerang Soekarno, namun sia-sia ; pada musim panas 1965, pemerintahan Lyndon B Johnson, setelah kehilangan siasat menyerah. Kehadiran Amerika Serikat di Indonesia, menurun secara dratis, sementara beberapa orang Amerika tetap masih ngotot untuk terus berhubungan dengan calon potensial penggamnti Soekarno dan tidak diragukan lagi berusaha mendorong tindakan-tindakan agar Indonesia tidak sepenuhnya jatuh di bawah kendali kaum kiri. Baik maupun buruknya, administrasi Johnson telah meninggalkan Indonesia dengan alat-alatnya. Ketika kudeta dua tahap terjadi pada
41

malam September akhir, administrasi termasuk CIA terkejut. Analisis CIA mempunyai kepercayaan diri bahwa yang menggerakan peristiwa itu mungkin saja Menteri Luar Negeri Soebandrio dan pendukung-pendukung komunis lain dari lingkar dalam Soekarno Kendati demikian, diakui tentara dibawah Soeharto memperoleh bantuan rahasia, terutama dalam bentuk alat komunikasi walki-talkie, ketika Soeharto mulai melancarkan serangan balasan dapat mengkoordinasikan usaha mereka. Dengan bantuan tersebut tentara dapat mempercepat apa yang mungkin berlangsung lambat. Terbukti pada pertengahan akhir tahun 1965 kampanye tentara untuk menghancurkan PKI berjalan secara gesit dan mulus. Pada Januari 1966, CIA menyatakan bahwa era kepemimpinan Soekarno sudah berakhir. Tiga bulan terakhit wibawanya semakin merosot, ia tidak lagi menjadi Bapak dan pusat politik negara, sekarang ia menjadi orangtua yang suka marah-marah. Mengenai Partai Komunis Indonesia telah dihancurkan oleh tentara. AS tidak menggulingkan Soekarno dan mereka tidak bertanggung jawab atas pembantaian dan pencapaian Soeharto atas pembersihan orang-orang komunis seluruhnya sejalan dengan apa yang telah menjadi sasaran Amerika Serikat. Fakta menunjukkan bahwa AS miliki catatan intervensi yang panjang di negara-negara seperti Indonesia. Selama pemerintah pemerintah AS masih melakukan bisnis perang tersembunyi, tuduhan bahwa Amerika Serikat terlibat dalam melenggserkan Soekarno akan terus bergulir Kebangkitan Soekarno dan Terbentuknya Sebuah Mitos Setelah Soekarno jatuh dari kekuasannya. Diberlakukan larangan terhadap tulisan-tulisan politik Soekarno dan namanya jarang disebut oleh pemerintah. Keterkaitan dengan Pancasila yang erat dengan Soekarno bahkan mulai dihilangkan. Anthonie C Dake ahli politik dari Universitas Boon menerbitkan buku kontroversial yang diberi judul In The Spirit of Red Banteng. Buku ini menyimpulkan Soekarno bukan PKI sebagai dalang G30-S. Setahun kemudian, untuk memperkuat argumennya, Dake kembali menerbitkan buku The Devious Dalang : Soekarno and So-Called Putsch : Eyewitness Repor oleh Bambang Widjanarko. Setelah 16 tahun buku ini beredar, kemudian dibreidel pada tahun 1990.

42

Setelah delapan tahun menjadi bayang-bayang, figure Soekarno akhirnya menjadi pusat perhatian pada tahun 1978, Dalam pidatonya yang disampaikan kepada PDI oleh Letjen Ali Moertopo pada ulang tahun partai yang kelima, disebutkan Soeharto berencana memugar kompleks makam Soekarno di Blitar yang didedikasikan untuk Proklamator Kemerdekaan, presiden pertama Indonesia, Soekarno. Hal ini mengakhiri mengakhir masa kebisuan akan Soekarno dan sekaligus dimulainya pemulihan akan kenangan terhadap presiden pertama itu. Para kader PDI jelas merasa heran dengan berita itu, mempertanyakan alasan pemerintah tiba-tiba ingin menghormati Soekarno. Berbagai interprestasi muncul akan sikap pemerintah itu. Terlepas dari semua motif Soeharto, bagaimanapun keputusan itu memberikan sinyal sebuah zaman baru akan warisan Soekarno. Setelah keputusan Soeharto diwujudkan, kesadaran masyarakat akan Soekarno dimulai kembali. Belasan buku tentang Soekarno diterbitkan hanya dalam waktu satu satu tahun. Media massa sibu mengulas tentang Soekarno dengan nuansa penuh rasa hormat. Berbagai atribut peringatan mulai dari poster, stiker, dan hal yang berkaitan dengan Soekarno muncul di jalan-jalan dan trotoar. Dalam waktu singkat figure Soekarno kembali hidup, tak lagi dapat dihilangkan apalagi diperkenalkan dengan motif komersialisasi. Melalui tulisannya, Pierre Labrousse mencoba meneliti buku-buku Soekarno yang terbit pada periode itu dan menjadi lima kategori berdasarkan tema Kekuatan Supernatural, Pencita Agung, Tragedi Soekarno, Manusia Baru dan Kepemimpinan. Berkaitan dengan ide kekuatan Supernatural yang berasal dari takdir seseorang dengan kekuatan supernatural mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan orang Jawa. Tidak mengejutkan bahwa orang Jawa secara umum berperan aktif dalam pembentukan mitos seputar sosok Soekarno. Dengan demikian dijelaskan kejayaan Soekarno sebagai campur tangan Sang Pencipta. Mengenai Tragedi Soekarno, tulisan ini mengambil kisah memiluhkan dari dirinya. Pertama, dari pengalaman masa kecil yang menumbuhkan rasa iba. Kisah tentang kusulitan yang ia hadapi di masa kecil saat tumbuh di tengah keluarga melarat yang mengorbankan segala-galanya demi memastikan anaknya memperoleh pendidikan dan pencapaian sosial setinggi-tingginya. Kedua, kita juga menemukan penderitaan yang hebat serta keterasingan di penjara Sukamiskin, tempat pengasingan di Ende, dan di Bengkulu.
43

Terakhir, kita akan menyaksikan takdir yang ironis dari sang pahlawan. Sebagai orang tua yang sudah renta, hanya memakai sandal dan pakaian dalam dan menghabiskan sisa waktunya sebagai tahanan rumah. Sendirian dan dipisahkan dari rakyatnya yang ia cintai sepenuh hati. Pada tahun akhir tahun 1970-an, murid sekolah yang tidak mengalami peristiwa-peristiwa terakhir dari masa kekuasaaan Soekarno, bertanya tanya pada diri mereka sendiri mengenai konsep manusia Indonesia. Baik pertanyaan bersifat ontologis maupun dialektis, semuanya menemukan jawabannya pada sosok Soekarno : masalah imperialisme asing, masalah solidaritas nasional dan masalah konsep kepemimpinan di Indonesia. Karena jawaban tersebut sangat berbeda dengan yang dikemukakan oleh rezim Orde Baru, ia kemudian hadir sebagai alternatif. Baik di tingkat wacana maupun aksi ; manusia baru model Soekarno menemukan kembali tempatnya setelah upaya keras melestarikan gagasan tersebut. Mesikpun periode yang dianalisis amatlah singkat jika dibandingkan dengan sejarah yang sebenarnya, tak pelak periode itu memberi kita gagasan tentang betapa rumitnya dan kompleks fenomena yang bernama Soekarno ini, orang selalu bisa mengindentifikasikan dirinya dengan Soekarno dalam beberapa hal. Terlebih lagi, perannya yang besar dalam sejarah nasional menjadikan pusat dari berbagai perseteruan sosial demi sbuah klaim Soekarno siapa yang punya? Ia adalah pemimpin tertinggi, seorang Muslim, nasionalis, sekaligus pembangun. Ia sama punya andil besar baik bagi persatuan maupun perpecahan, Sebagaimana para pembaca mulai paham, penggambaran kembali sang insinyur ataupun sang Presiden Soekarno diamdiam melahirkan penilaian buruk terhadap penggantinya. Sebuah niat yang kentara terlihat oleh publik yang terbiasa dengan pembacaan atas ilusi. Melihat Soekarno sebagai sosok nasional memang perlu, namun dibutuhkan upaya yang hati-hati untuk kembali sosok historis dari seorang Soekarno. Kalau tidak, kita hanya akan menambahkan takhayul sejarah bangsa Indonesia. Akhirnya, di manapun kelak kita menempatkan sosok historis Soekarno, sungguh gegabah jika kita berpikir tanpa dirinya atau tanpa Pancasila tidak akan ada pencapaian politik yang tinggi.

44

Tulisan Karen Brook sebenarnya bisa dikatakan sebagai kelanjutan tulisan Pierre Labrousse. Setelah mengalami periode kebisunan yang cukup panjang, tibatiba pemerintah Soeharto memberi keleluasaan kembalinya Soekarno dalam wacana, tetapi memberi ruang gerak bagi tulisan-tulisan yang memojokan Soekarno juga bermunculan. Misalnya tulisan Rosihan Anwar mengenai empat surat pengampunan, Nugroho Notosusanto yang menyatakan bahwa Soekarno bukan satu-satunya yang berbicara mengenai Pancasila di sidang Dokuritzu Zyumbi Tyosokai dan Soegiarso Soerojo yang menuduh bukan PKI sebagai dalang pertiswa G30-S tetapi justru Soekarno sebagai dalang dari malam jahaman itu. Ketika tulisan itu beredar masyarakat menjadi terbelah. Tulisan yang memojokan Soekarno kadang-kadang mendapat respon yang melebih porsinya. Terlepas apa pemerintah Soeharto berada di balik ketiga peristiwa itu, tetapi yang jelas hal tersebut sejalan dengan sikap pemerintah Orde Baru Ketika Presiden Soekarno mendeklarasikan Orde Baru setelah mengambil alih pemerintahan tahun 1966, dia ibarat memposisikan dirinya amat jauh dengan kekacauan pada masa Soekarno. Kepemimpinannya ditampilkan sebagai kepemimpin baru yang akan membawa Indonesia pada masa depan. Namun dengan menamakan rezimnya Orde Baru, ini memproyeksikan rezim ini tak lepas dari bagian yang lain, secara natural ada reim baru pasti menggantikan sebuah rezim yang lama. Lewat rezim lama pasti akan menjadi referensi untuk memandang Orde Baru, apa yang ada di rezim yang lebih lama juga akan terlihat di Orde Baru Soeharto sudah memacangkan sebuah rezim yang secara psiklogis memang jadi juxraposisi atau sejajar dengan orde sebelumnya. Soeharto memang melakukan pendekatan yang berbeda dengan pendahulunya, Soekarno. Pada awalnya, Soeharto ingin menyingkirkan figure Soekarno dan mengutamakan kekuasaannya. Namun, setelah melihat hal tersebut tidak membuahkan hasil, Soeharto mencoba mengkooptasi kepopuleran Soekarno, dengan mengenalkan dirinya sebagai penerus Soekarno. Kooptasi dan pendekatan alternatif ini dibuktikan dengan prinsip Soeharto yang dipopulerkan yaitu mikul dhuwur mendhem jero yang seperti menunjukkan kesopanan menghormati Soekarno, sementara terus berusaha membatasi mitos Soekarno yang tetap ada justru dengan adanya kesalahan yang dibuat oleh Soekarno Kenangan romantis dan figur kharismatik Soekarno tetap tinggal di hati para penggagumnya. Memori tentang pidato Soekarno di PBB dan keberaniannya
45

berhadapan langsung dengan Barat seakan memaki Amerika Serikat dengan Persetan dengan bantuanmu, Seakan menjadi kenangan yang membanggakan bagi Indonesia yang saat itu baru berdiri. Kenangan tentang kebesarannya walaupun tak semua tetap dianggap menjadi kekuatan daya tawar Indonesia di mata internasional. Bagi kebanyakan orang Indonesia yang sempat hidup pada era Soekarno, pastilah merasa kehilangan sesuatu pada zaman Orde Baru. Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Soeharto sering ditampilkan dengan membandingkan gaya, sikap dan karakter Soeharto dan Soekarno. Hubungan istimewa dengan rakyat dan seni, kisah-kisah asmara yang melegenda, dan kecakapan berpidato adalah hal-hal yang membedakan Soekarno dengan Soeharto. Gaya kepemimpinan Soekarno yang kharismatik yang dilihat sebagai sumber kebanggaan nasional sering diperbandingkan dengan karakter Soeharto yang terkesan lamban dan tanpa greget. Citra Soekarno sebagai pencinta kehidupan, perdamaian dan harmoni sering dikontraskan dengan gambaran Soeharto sebagai pemimpin militer yang dingin. Minat untuk menggambarkan intelektualitas, kreativitas ideologis dan kesederhanaan Soekarno dalam hal keuangan tampak dimaksudkan sebagai kritik kelemahan-kelemahan Soeharto. Pendek kata, hal-hal yang menjadi kelebihan Soekarno diperlihatkan sebagai kekurangan Soeharto. Di samping tulisan mengenai empat surat pengampungan Soekarno terhadap pemerintah Hindia Belanda, Bob Hering juga menulis mengenai Soekarno berkaitan dengan mitos yang mengelilingi dirinya dengan cara memberi tafsiran ulang atas perjalanan hidup Soekarno. Sejak awal karir politiknya, baik dari sisi mitos maupun realitas kehidupan Soekarno selalu tak pernah dikepaskan dengan konsep kewibawaan versi Jawa-Bali, yaitu sebuah kharisma dan kekuasaan. Inilah yang mempengaruhi filosofi Soekarno dengan memandang kelemahan dan ketamakan manusia selama dominasi kolonialisme di negeri-negeri jajahan. Berkaitan dengan kepemimpinan dinyatakan bahwa Soekarno memimpin mulai pada bulan Agustus 1945 sampai terjadinya Peristiwa 30 September 1965. Hal tersebut lebih merupakan mitos ketimbang realitas, sebab setelah terjadi pengakuan kedaulatan pada bulan Desember 1949, saat itu kepemimpinan Soekarno mulai berkurang. Kendati demikian, Soekarno mempunyai kemampuan untuk memberi insipirasi dan mempengaruhi orang yang berada di sekitarnya. Soekarno ibarat magnit yang pada periode itu tak satu pun pemimpin Indonesia yang menandingi. Soekarno mengenal
46

rakyatnya, dan berinteraksi dengan mereka melalui hal yang dekat dengan rakyat dan bisa menyenangkan orang lain. Demokrasi Terpimpin yang sering disebut sebagai sentralisme dari kekuasaan presiden versi UUD 1945, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah pembentukan kekuasaan militer. AH Nasution dan Markas Besar Angkatan Darat memainkan peranan penting mengenai dibalik pembentukan Demokrasi Terpimpin. Kemudian Soekarno dan Nasution yang bagai dwi tunggal baru yang mengusung Demokrasi Terpimpin. Dillema Soekarno ditulis oleh Clifford Geertz yang menjadi saksi sejarah dari pengalan-pengalan sejarah Indonesia. Ia tumbuh bersama dengan Republik Indonesia sejak masa kepemimpinan Soekarno hingga Megawati Soekarno Putri. Pertama kali ia tiba di Indonesia, ketika ia mendarat di Tanjung Priok, Jakarta. Pada saat itu terjadi sebuah serangan terencana kepada pemerintah berkuasa. Insiden pertama dalam sejarah setelah pengakuan keadaulatan ini kemudian dikenal dengan sebutan Perstiwa 17 Oktober. Pada bulan 1958, Cliford Geertz duduk di berada di sebuah hotel, di Sumatra. Ia mendengar berita di radio, Presiden Soekarno memanggil para pemberontak yang kemudian dikenal dengan Persitiwa PRRI/Permesta. Ketika membolak-balik kenangan lama ternyata terjadi perubahan besar antara dulu dan sekarang, meski banyak juga sebenarnya tidak berubah. Dahulu, Soekarno dengan kharisma yang berpengaruh, penuh pesona, dan percaya diri tinggi, menguasai segala-galanya. Ditambah ambisi mimpimimpi yang luar biasa besarnya. Sementara saat ini, semua tampak kerdil dan menyedihkan. Penuh intrik dan hilang tujuan. Perubahan tidak bisa dihindari, bahkan menyebar secara menyeluruh. Terjunnya Megawati Soekarno Putri, putri pertama presiden pertama Republik Indonesia ke panggung politik, telah menyebabkan Soekarno bersama kejayaan dan gagasannya kembali menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Ia mengusung semangat persatuan yang senantiasa menjadi obsesi dari Soekarno. Betapa proses restorasi kesadaran berbangsa dan bernegara yang diperjuangkannya, yang tak terhindarkan sekaligus mengkhawatirkan, cukup berpengaruh pada perjalanan bangsanya di masa depan. Bagaimana masa lalu berharga ini akan dimanfaatkan? Untuk memulihkan nama baik anak keturunannya atau mendaur ulang bayangbayang ?

47

Tulisan Benedict Anderson merupakan tulisan terakhir dari kumpulan karangan mengenai Soekarno. Setelah 30 tahun Soekarno pergi meninggalkan kita, kecintaan terhadap Pemimpin Besar Revolusi tak pernah padam malah berubah menjadi pemujaan, seakan-akan Soekarno semacam dewa, bukan seorang manusia biasa. Dengan demikian, sebagian pemikirannya yang masih segar dan tepat pada suatu ketika dicetuskan, lama kelamaan menfosil menjadi wejangan yang dikira kebal terhadap Sang Batara Kala. Dalam ini pikiran-pikiran Soekarno mengalami nasib yang mirip terhadap pikiran-pikiran perintis revolusi Marxis sedunia, Vladimir Lenin. Untuk bangsa Indonesia dalam krisis besar seperti sekarang ini, rasanya segala macam fosil (pikiran yang sudah membuntu) justru berbahaya. Benedict Anderson juga berbicara mengenai kehebatan nasionalisme Soekarno Ketika itu masyarakat Indonesia hidup dalam sekat-sekat, tujuan dari nasionalisme adalah untuk menanamkan kesadaran berbangsa satu, bangsa Indonesia. Tanpa kesadaran semacam itu, dan pergerakan nasional yang timbul karenanya, tidak mempunyai kemampuan meruntuhkan pemerintah Hindia Belanda. Selama tahun 1825 1910, berbagai pemberontakan lokal dapat dipadamkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Soekarno paham betul mengenai persoalan tersebut, sehingga berjuang sekuat tenaga untuk menyebarkan kesadaran nasional yang didasarkan pada persatuan bangsa. Soekarno berserta angkatannya berhasil mewujudkan kesadaran nasional di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Tetapi yang menjadi persoalan adalah, bagaimana dengan nasionalisme Soekarno setelah Indonesia Merdeka. Tampaknya Soekarno tetap mendasarkan pada pengalaman masa lampau ketimbang melakukan refleksi yang mendalam terhadap situasi yang baru. Ia tetap menekankan perlunya nasionalisme persatuan bangsa gaya lama dalam menghadapi bahaya dari luar, seperti Belanda, Inggris, Amerika Serikat dan Malaysia. Kunjungan-kunjungan ke daerah selama ini yang dilakukan oleh Presiden Soekarno seharusnya membuka wawasan bagi Soekarno mengenai sebaiknya Indonesia Merdeka yang besar dan sedemikian majemuk untuk menjadi negara federal, seperti Amerika Serikat, Brazil dan Yugoslavia. Sebenarnya Soekarno telah menolak Negara Republik Indonesia Serikat yang didirikan setelah Komnprensi Meja Bundar di Den Haag,Tentu saja hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Sebab selama periode 1946-49 Belanda mendirikan sejumlah negara federal dalam upaya mengimbangi
48

atau menghancurkan Republik Yogya. Oleh karena itu, federalisme terasa kurang enak didengar, terlebih lagi sebagian besar pemimpin nasional alergi terhadapnya. Di ujung tulisannya, Ben Anderson mengenai bahaya pemfosilan pikiranpikiiran Soekarno. Sebenarnya proses pemfosilan dalam pikiran Soekarno mulai pada dirinya sendiri setelah Indonesia Merdeka dan Soekarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Kendati demikian tidak berarti bahwa secara total pandangan Soekarno sudah usang, hanya saja buah pikiran Soekarno itu perlu direnungkan dengan sikap kritis, dan berkesadaran sejarah atas jarak jauh antara masa kini dan masa Soekarno. Kedua dari Soekarno dan zamannya kita bisa menggali bibit gagasan penting tentang nasionalisme, bukan sebagai warisan nenek moyang tetapi sebagai komitmen untuk masa sekarang dan masa depan. Generasi Soekarnolah yang pertama-tama yang membayangkan sebagai orang Indonesia. Menjadi orang Indonesia bukan suatu yang alamiah, tetapi suatu yang diciptakan sejarah modern, yang menuntut tekad, solidaritas, rela berkorban dan harapan. Khususnya mengenai harapan, Manusia Indonesia yang dibayangkan oleh orang-orang pergerakan adalah manusia yang berdiri tegak, tidak membungkuk dan tidak menginjak, terbuka, dinamis, inklusif, bernyali dan berperikemanusian. Manusia ini harus digembleng, setiap hari, oleh dia sendiri dan sesamanya. Itulah kiranya pelajaran dari Soekarno yang paling penting yang masih tinggal segar untuk bangsanya. Islam dan Papua Menurut Wertheim, kendati kebanyakan orang Indonesia memeluk agama Islam. Indonesia dapat disebut sebagai Negara Islam terbesar di dunia. Akan tetapi kaum mayoritas Islam mempunyai mentalitas kaum minoritas. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa di dalam arena politik, sepanjang abad sejarah yang lalu, perwakilan dari komunitas muslim ditempatkan sebagai pemain luar. Entah pada massa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, Demokrasi Liberal, Demokrasi Terpimpin dan Orde Baru.

49

Keinginan mendirikan sebuah Negara Islam dengan melalui prosedur yang sah menjadi berkurang setelah melihat hasil pemilihan umum tahun 1955. Namun demikian, keinginan untuk mendirikan Negara Islam sebagai pengganti Negara Pancasila terus berlanjut sebagai isu yang akan ditetapkan Majelis Konsituante Para pendukung Negara Islam tidak mampu memperoleh dukungan 2/3 suara mayoritas. Perdebatan di Majelis Konsituante menemuhi jalan buntu dan pada bulan Juli 1959 Presiden Soekarno membubarkan Majelis Konsituante sekaligus memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945. Dengan demikian Pancasila tetap merupakan dasar negara Indonesia. Seiring dengan semakin besar kekuasan Presiden Soekarno, sejumlah komandan tentara, kebanyakan di Sumatra mengadakan pembakangan terhadap kebijakan Jakarta. Soekarno khawatir terhadap kemungkinan perpecahan Republik yang baru saja berdiri mengumumkan rencananya untuk membentuk kabinet gotong toyong. Kabinet tersebut akan dibentuk berdasarkan empat partai besar (PNI, Masyumi, NU dan PKI). Namun demikian, Masyumi menolak ide Soekarno tentang kerja sama antar partai besar, yang tentu akan memerlukan pengakuan PKI sebagai mitra sederajat. Usaha Soekarno untuk membendung gelombang perpecahan tidak berhasil justru terjadi Peristiwa PRRI/Permesta terjadi di Sumatra dan Sulawesi yang didukung kuat oleh unsur-unsur anti Komunis di dalam Masyumi. Dengan kejadian itu Masyumi akhirnya dilarang. Kemudian Soekarno membuat gagasan konsep Demokrasi Terpimpin dengan berdasarkan pada rumusan Nasakom, sebuah kerja sama antara kelompok Nasionalis, kelompok Agama (terutama di wakili oleh NU) dan kaum Komunis. Dibandingkan dengan kelompok modern Masyumi, karena latar belakang Jawa yang cukup dominan NU menjadi lebih cocok dan sejalan dengan gaya pemerintahan Soekarno yang populis dan anti Barat. Ada dua kukuatan besar yaitu tentara dan kelompok komunis, saling bersaing merebut kekuasaan pada periode Demokrasi Terpimpin. Sementara Presiden Soekarno sebagai kekuatan pertama, sebagai faktor kekuatan yang keempat Islam secara sengaja diabaikan. Namun, besar adanya bagi Soekarno rumusan Nasakom tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menjinakan PKI, sebagaimana Donald Hindley secara hati-hati menyebutnya, tetapi juga berfungsi dengan menetralisir kelompok Islam.

50

Tindakan Soekarno tersebut sebenarnya tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa NU dan PKI sebenarnya saling bermusuhan. PKI mendukung perjuangan para petani miskin untuk penetapan hukum Reformasi Agraria pada 1960 saat itu mereka berlawanan dengan NU yang khususnya di Jawa Timur, mewakili kepentingan para pemilik tanah kaya. Aksi Sepihak yang didukung oleh PKI menyebabkan terjadi benturan yang menyebabkan terlambatnya rumusan Nasakom Soekarno. Setelah terjadi Peristiwa 1965, kelompok Muslim, khususnya di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, melakukan aksi balas dendam terhadap mereka yang ikut ambil bagian dalam usaha pembagian lahan. Kaum muda Ansor berperan aktif dalam pembataian kelompok aktif setelah Peristiwa 1965. Kekuasaan Komunis lenyap dan kekuatan Islam muncul dan kemudian mulai terpinggirkan dengan dominasi kelompok militer. Saat Presiden Soekarno mengatakan bahwa Kennedy telah dibunuh lebih tepatnya untuk mencegah berkunjung di Indonesia, sebagaimana direncanakan untuk awal 1964, perkataannya hanyalah dianggap sesuatu yang berlebihan. Namun, kata Greg Poulgrain, tiga dekade setelah pembunuhan Presiden Kennedy, terlebih dengan strategi JFK di Asia Tenggara serta kunjungannya ke Jakarta yang terkait dengan perdamaian di kawasan tersebut, perkataan Soekarno menjadi sangat relevan terutama saat era perang dingin yang melibatkan diri Soekarno dan JFK. Indonesia, seperti yang dilaporkan oleh penasehat Kenndy, merupakan negara terkaya ketiga didunia setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet, kepulauan sepanjang 5.450 km terbentang di lautan dengan asset vital. Dalam skenario perang dingin tahun 1963 saat itu, Kennedy telah mengambil kebijakan untuk membantu Indonesia dalam skala yang cukup besar. Dia bertekad untuk mengamankan Indonesia dan menggunakan kemenangan politik untuk memastikan dirinya agar dipilih kembali. Dengan adanya partai komunis terbesar di luar blok Cina Uni Soviet, Indonesia akan menjadi sebuah kesuksesan politik luar negeri yang tidak tertandingi. Arus politik yang melingkupi Indonesia saat itu adalah isu nasionalisme bukan komunisme, meskipun kondisi Indonesia yang merupakan negara dunia ketiga dianggap cocok untuk pertumbuhan nilai-nilai komunisme. Nilai nasionalisme muncul sebagai akibat zaman setelah perang kemerdekaan saat itu dipimpin oleh Presiden Soekarno.

51

Presiden Kennedy menaruh rasa hormat terhadap Indonesia karena sikapnya yang pro-nasionalisme. Kennedy tetap mempertahankan Soekarno pada posisinya dan tidak seperti pendahulunya yang ingin melengserkan Soekarno dengan menyediakan senjata, pesawat serta pilot CIA untuk para kolonel pembakang di Sumatra dan Sulawesi, yang berjuang pada Peristiwa PRRI /Permesta. Namun kebijakan pembaruan Kennedy ditentang terlebih lagi di Indonesia dengan berbagai potensinya oleh tokoh yang tergabung dalam komplotan dunia industri, militer dan intelijen Amerika Serikat. Kekayaan sumber daya alam di Papua Barat mengandung potensi yang luar biasa. Bagi Indonesia, politik dalam negeri sendiri dan di dorong oleh bendera nasionalismelah yang mendorong pengambilan kembali wilayah bekas jajahan Belanda. Hal lain selain itu kedaulatan adalah masalah terungkapnya potensi sumber daya alam di wilayah ini. Solusi Kennedy untuk masalah penyelesaian kedaulatan Papua di tahun 1962 berpihak pada Indonesia. Tanggapan ini adalah satu-satunya pilihan yang bisa dia ambil pada masa situasi perang dingin saat itu. Kennedy dengan cepat berusaha menyelesaikan pertikaian guna meminimalkan pengaruh komunisme di Indonesia. Terjadinya konfrontasi Indonesia Malaysia membahayakan rencana Presiden Kennedy untuk membuat Indonesia sebagai sebuah kesuksesan kebijakan luar negeri. Presiden Kennedy merencanakan dengan Soekarno untuk mengunjungi Jakarta di awal 1964, Kenendy menegaskan agar Soekarno harus menghentikan konfrontasi. Soekarno sendiri kurang memiliki kekuasaan untuk melakukan hal ini dikarenakan kepentingan arus politik pada saat itu, kedua pihak baik tentara dan PKI, mendapatkan keuntungan dengan berlanjutnya konfrontasi. Namun demikian, Soekarno dan Kennedy sama-sama sepakat bahwa perdamaian dapat dicapai jika mereka bekerja sama.

52

Jika saja Kennedy berhasil tiba di Jakarta hal tersebut dapat memberikan Soekarno dukungan politis yang cukup menenangkan tentara dan meredakan kemungkinan amarah dari pendukung komunis Indonesia sebelumnya. Penghentian konfrontasi secara damai akan menjadi sebuah kesuksesan bagi Kennedy dan juga bagi Soekarno. Akan tetapi kunjungan semacam itu, dengan hasil yang diharapkan Kennedy akan menggagalkan rencana yang sudah dibuat bertahun-tahun oleh komplotan minyak dan intelijen. Hanya dengan satu kali tindakan semacam itu, Presiden AS akan tetap yang menggagalkan bertahuntahun persiapan yang telah dilakukan oleh Standard Oil yang telah mengetahui potensi dari bekas jajahan Belanda sejak lama. Untuk memperbesar peluang terpilihnya menjadi Presiden AS, Indonesia harus berpihak kepada Barat. Kebijakan politik Kennedy bertujuan untuk membendung pertumbuhan partai komunis terbesar di luar Moskow dan Beijing. Sebab kubu komunis saling bersaing untuk memiliki kesempatan untuk bisa mengambil alih Indonesia dan tentu juga bersaing dengan Washington. Kennedy telah membayangkan bahwa Indonesia alkan menjadi hadiah kemenangan atas perang dingin yang terjadi, namun ini merupakan taktik untuk memanfaatkan modal AS untuk mengisolasi pengaruh komunis dan dengan melibatkan Soekarno tentunya kebijakan semacam itu akan memberikan keuntungan bagi Kennedy juga Soekarno, namun hal itu tergantung atas terhentinya konfrontasi yang sedang berlangsung. Komplotan anti-Kennedy di dalam kelompok militer dan intelijen tidak bakal setuju dengan skenario Kennedy untuk menghentikan konfrontasi terutama hanya karena akan memperkuat kebijakan pribadi Kennedy dan memberikan dasar kekuasaan baru kepada Soekarno. Di kota Sorong berdiri sebuah monumen untuk memperingati pengambil alihan kekuasaan yang dilakukan Soekarno dari kekuasaan kolonial Belanda, Irian Barat. Sekaligus monumen itu merayakan semangat Trikora Sokarno yang dikumandangkan pada tanggal 19 Desember 1961. Ketika itu Presiden Soekarno mendorong para pejuangnya untuk mengharapkan gerakan mobilisasi jika memang diperlukan, menghentikan kolonialisme Belanda di Irian Barat serta untuk mengibarkan bendera Indonesia di wilayah itu. Puncak retorika Soekarno sebenarnya menandai penyelesaian yang terus terjadi sejak Koferensi Meja Bundar di Den Haag pada Desember 1949.
53

Perjanjian New York pada Agustus 1962, merupakan hasil mediasi Amerika Serikat antara Belanda dan Indonesia dalam perselisihan kedaulatan. Setelah dikucilkan dari Hindia secara sejarah, wilayah itu dipertahankan setelah tahun 1949 untuk menjadi benteng pertahanan Belanda, namun dilepaskan secara resmi pada Mei 1963. Sebagaimana paradoks yang terlihat, kemenangan Soekarno hanya bersifat sementara. Terlepas dari kedatangannya penuh kemenangan.ke daerah itu pada Mei 1963. Pemindahan kekuasaan merupakan kenenangan yang terlalu banyak memakan korban. Kepresidenannya yang hanya tiga tahun kemudian berada di tangan mantan komandan operasi Irian itu. Sebuah kontrak untuk mengeksploitasi sumber daya mineral tak terbatas di daerah itu segera ditandatangani oleh perusahaan Amerika Serikat (Freeport). Deklarasi Soekarno pada 19 Desember 1961 menggambarkan keahlian politiknya bahwa dia telah yakin, baik AS dan Australia tak memiliki sekutu militer dengan Belanda berkenan dengan perselisihan kedaulatan. Hal ini dipastikan saat Jendral Nasution sebagai Kepala Staf Angkatan Darat mengunjungi Canberra pada April 1961. Pada 15 Januari 1962, terjadi bentrokan di laut antara kapal Belanda dan Indonesia. Komdor Sudarso, wakil kedua dari AL Indonesia, berada di kapal torpedo. Macan Tutul, yang ditenggelamkan Belanda. Bentrokan ini membawa kedua belah pihak ke meja perundingan. Aksi Trikora Soekarno mempunyai potensi terjadinya bentrokan yang lebih besar telah diumumkan seoring perang dingin yang terjadi antara Moskow dan Washington. Potensi terjadinya konflik hanya semakin memperkuat penyelesaian Kennedy bahwa kekuasaan Belanda di wilayah itu harus berakhir. Kennedy tak mengerti mengapa Belanda sangat ingin mempertahankan wilayah itu. Kennedy adalah pendatang baru dalam urusan dengan Indonesia. Berkaitan dengan Irian Barat, Indonesia membutuhkan sejumlah bantuan senjata Moskow dan Washington secara terus menerus mempersenjatai Indonesia. Sementara perlengkapan asal Amerika Serikat membanjiri angkatan darat, senjata dari Blok Timur menuju kesatuan Indonesia lainnya Setelah pemberontakan di Sumatera dan Sulawesi, kekuatan politik angkatan darat maju pesat, dan Soekarno membayangkan usahanya menyeimbangkan angkatan darat dengan laut dan udara merupakan cerminan posisi Indonesia
54

dalam persekutuan perang dingin, keadaan darurat dari krisis Irian juga meningkatkan kekuataan angkatan darat, namun juga memperkuat dukungan untuk PKI. Presiden Kennedy beralasan bahwa semakin cepat perselisihan itu diselesaikan, semakin cepat PKI mulai mundur. Setelah 10 tahun sikap netral Amerika Serikat dalam perselisihan kedaulatan Irian Barat, pendirian Presiden Kennedy ditentukan oleh perkembangan perang dingin. Tak ada bukti yang mengindikasikan bahwa Kennedy atau Soekarno menumbuhkan motif tersembunyi berkaitan dengan potensi mineral dan minyak di wilayah itu. Pengusiran pemerintah Belanda dari Irian Barat adalah bukti pertama dari nasionalisme Soekarno. Marxisme dan Indonesia Menggugat Melalui autobiografinya, Soekarno menjelaskan bahwa ia mencapai kematangan dalam dunia politik, diperolehnya di periode Bandung bukan Surabaya. Kematangan itu berakhir dengan didirikannya Perserikatan Nasional Indonesia 4 Juli 1927. Kendati Soekarno menetap di rumah HOS Tjokroaminto, ketika ia masih di bangku SMA di Surabaya. Karir politik Soekarno tidak muncul sejak awal, sebagaimana tokoh nasionalis besar yang satu generasi dengannya memulai karir politik sejak awal, seperti Semaun, Baars, Sneevliet dan Tan Malaka yang sering mengunjungi kediamanan Tjokroaminoto. Hingga tahun 1923, Soekarno menghabiskan waktunya untuk belajar, membaca, dan mengamati. Buku-buku yang Soekarno baca tidak meliputi karya politik yang luas sebagaimana yang diutarakan John D Legge dalam Biografi Politik Soekarno. Setelah kembali dari Surabaya untuk mengurus keluarga Tjokroaminoto, selagi Tjokroaminoto dipenjara karena tuduhan keterlibatan dalam kasus Seksi B di Garut, Soekarno mempelajari karyakarya sosial politik, menjelang akhir masa studinya di Sekolah Teknik Tinggi dan pada akhirnya dengan penuh hasrat mulai membaca dan menyerap ilmu-ilmu tersebut. Di Bandung inilah Soekarno mulai benarbenar mendalami politik Fabianisme, Marxisme dan Sosial Demokrat. Salah satu mentor politik Soekarno muda yang jarang disebut orang adalah Daniel Mercellus George Koch, yang selama 47 tahun tinggal di Indonesia, beberapa kali memberikan contoh dalam berbagai segi pada karyanya. Kejahatan sistim kolonial menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda adalah
55

sebuah cara untuk menggunakan penduduk pribumi demi kepentingan ekonomi, politik, bangsa dan kultut penjajah. Sebagai editor Kritiek en Opbouw, majalah yang membahas masalah kolonial dalam kritik yang kontruktif, Koch seringkali berhubungan dengan tokoh pergerakan nasional. Sepanjang hidupnya Koch mengeritik keras kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pemikiran sosialpolitik Soekarno, yang berusaha ia wujudkan setelah Indonesia Merdeka dan semakin matang pada pertengahan akhir 1920-an, menurut John Penbrook yang bertetangga dengan Koch menjelang akhir kekuasaan kolonial Hindia Belanda. Soekarno pertama kali bertemu dengan Koch pada Agustus 1925, tahun kelahiran John Penbrook. Setelah Soekarno mendirikan Kelompok Studi Umum pada tahun 1926, Soekarno mengundang Koch, yang bergabung dengan kelompok tersebut, untuk memberikan kuliah mengenai gerakan nasional di India dengan pemerintah kolonial Inggris. Koch menceritakan mengenai propaganda Gandhi yang menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial Inggris. Setelah pertemuan pertamanya dengan Marcel Koch, Soekarno sering mendatangi rumah Koch di jalan Papandayan. Kunjungan ini terjadi hingga Soekarno di penjara pertama kali pada 1930. Sebagaimana yang diceritakan Koch kepada John Penbrook teman satu sel di penjara pada masa pendudukan Jepang di Cimahi, dalam kunjungan rutin tersebut tersebut percakapan panjang lebar kerap terjadi dengan Soekarno. Soekarno juga sering meminjam kajian-kajian sosial-politik dari Perpustakaan Koch yang besar. Soekarno menyukai kajian oleh Karl Kaustky. Kajian-kajian yang dipelajari oleh Soekarno dengan cermat ini terlihat jelas dalam percakapanpercakapan mereka berdua. Namun, ada satu masalah besar yang akan menghantui Soekarno sepanjang hidupnya. Ia tidak memiliki latar belakang seperti pemimpin nasionalis lainnya, Mohammad Hatta dan Soetan Sjahrir yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Keduanya belajar di Belanda di mana mereka tetap mengetahui pergerakan politik domestik dan internasional. Mereka belajar untuk lebih hati-hati dan mengembangkan keahlian manajemen serta berencana melatih kader-kader dengan gaya Barat. Pada saat itu Soekarno pasti ingin sekali memiliki segala pengalaman itu, karena ia dan teman dekatnya Mohammad Husni Thamrin berencana untuk singgah ke luar negeri. Tetapi sayangnya rencana tersebut tidak berjalan.

56

Pada usia muda, Soekarno membaca buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan Koch dengan lahap. Dalam masa itu Soekarno sedang membangun perpustakaannya sendiri. Namun pengetahuan yang ia peroleh hanya sebatas teori bukannya melalui pengalaman praktis seperti temantemannya di Perhimpunan Indonesia yang kuliah dan bekerja di luar negeri Seandainya Soekarno kuliah di salah satu universitas ternama Eropa seperti Roestam Effendi dan Nico Palar, Soekarno sudah pasti akan memiliki keachlian itu sejak usia awal. Walaupun begitu, ia sudah memiliki gagasan bahwa revolusi harus ditangani dalam proses pembangunan. Seperti yang Koch katakan pada John Penbrook, Soekarno mendapatkan gagasan tersebut dari karya Karl Kaustky. Kaustky sangat mempengaruhi Soekarno pada masa-masa akhirnya di Bandung dan itu membentuk karakter kampanye nasionalis Soekarno beberapa dekade sebelum Perang Pasifik. Menjelang kemunculan Soekarno di arena politik, partai komunis telah merupakan avantguard yang diakui dalam perjuangan antikolonial dan antiimperialis di sini. Sesudah kehancuran PKI, peranan utama dalam gerkan antikolonial jatuh ke tangan kaum borjuis kecil yang demokratis dengan pemimpinnya Soekarno, yang menjadi ideolog nasionalisme borjuis kecil yang radikal. Demikian kata Kapitsa MS dan Maletin NP dalam tulisan yang berjudul Indonesia Menggugat, yang merupakan bagian dari buku Biografi Politik Soekarno. Pada waktu itu Soekarno menyadari untuk merebut kemerdekaan diperlukan adanya partai yang mandiri, seperti yang sudah ditunjukkan oleh pengalaman PKI, merupakan sarana yang mumpuni dalam perjuangan politik dan pemobilisasian massa. Pada 4 Juli 1927, Soekarno dan kawankawan seperjuangannya telah mendirikan Partai Nasional Indonesia yang dengan cepat telah berkembang dengan sejumlah cabang di daerah-daerah Soekarno yang telah dipilih sebagai ketua berkeyakinan tugas utamanya adalah menyatuhkan seluruh kekuatan gerakan pembebasan nasional dibawah panji-panji PNI. Sesudah pimpinan PKI berlalu, menurut kedua sarjana Rusia tersebut, Soekarno adalah orang pertama yang mengerti massa dan gerakan massa merupakan kunci ke arah kemerdekaan Indonesia. Dimulailah periode pertumbuhan dan pengembangan PNI. Tak henti-hentinya Soekarno berkeliling di seluruh Jawa untuk berpidato. Ia selalu mengingatkan kepada massa pendengarnya tentang keagungan negeri ini pada masa lalu, berbicara mengenai kegelapan hari ini dan masa cerah pada hari esok. Ia memupuk
57

kesadaran nasional bangsa. Soekarno berseru agar mereka tidak mengharapkan rasa kasihan dari kaum penjajah sambil menunjukkan dewandewan yang dibentuk tidak ada gunanya dan akan tetapi seperti itu. kendatipun orang-orang Indonesia asli yang menjadi mayoritas di dalamnya. Soekarno mengajak menuntut diserahkan kemerdekaan sekarang juga. Soekarno banyak sekali melakukan kegiatan. Siang hari ia berpidato di lapangan yang penuh di hadiri masyarakat, malamnya di ruangan yang tidak begitu besar, paginya di gedung-gedung bioskop. Pengaruh dari pidatonya sangat memukau. Para hadirin menghirup kata-katanya, sedetik pun ia tidak pernah kehilangan kontak dengan massa pendengarnya. Kesuksesan Soekarno yang utama bukan disebabkan oleh mendalamnya analisis-analisis yang diberikannya, tapi justru karena imajinasinya yang hidup oleh energinya dan juga kecakapannya berbicara. Dalam hal ini tidak seorang pun dari pemimpin politik negerinya yang menyamainya. Mungkin salah satu rahasia kepopulerannya terletak dalam hal ia merupakan seorang ahli jiwa yang cemerlang. yang dengan cepat menuju menyerap kehendak dari saudara-saudara sebangsanya. Proses konsolidasi gerakan pembebasan nasional dan makin meningkatnya keradikalan PNI telah membangkitkan ketakutan besar di kalangan penguasa kolonial. Pemerintah bersiap-siap menghancurkan partai ini. Pada akhirnya di negeri ini telah beredar berita pada 1930 akan turun Ratu Adil , rakyat akan dibebaskan, pajak-pajak akan dihapuskan dan akan datang saatnya kehidupan yang adil dan makmur. Keyakinan mantap terhadap peristiwa besar yang akan datang pada 1930 ini lebih berakar kepada mitos messiah ketimbang propaganda-propaganda partai negeri ini menjadi bergolak dan penuh dengan berbagai desas-desus. Kemudian Soekarno ditahan. Baru pada pertengahan tahun 1930, muncul berita di koran-koran tentang Soekarno dan kawan-kawannya akan diadili. Soekarno menggunakan kesempatan itu untuk melakukan pembelaan politik Namun di selnya tidak adanya. Karena itu dduk di tempat dan menggunakan ember yang ditelungkupkan sebagai meja tulis. Demikianlah telah dilahirkan Indonesia Menggugat yang kemudian menjadi lembaran cermerlang dalam sejarah politik negeri ini. Dalam pembelaan yang cemerlang, yang sarat dengan sitiran-sitiran ilmuwan dan para politisi Barat dalam bahasa asli mereka, ia membuktikan kemelaratan, kelaparan dan penderitaan rakyat adalah akibat dari penindasan
58

kolonial. Sambil menguraikan sifat yang sebenarnya dari kolonialisme Belanda di Indonesia, serta menelanjangi rahasia mengapa kaum penjajah menolak memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Soekarno mengutarakan rahasia itu berbau gula, karet, minyak bumi, teh, tembakau, dan lain-lain. Ia banyak mencuplik hal-hal yang oleh kaum penjajah sendiri telah diakui lepasnya Hindia Belanda merupakan bencana nasional besar bagi Belanda. Indonesia adalah perahu penyelamat tempat Belanda berlayar. Soekarno menggarisbawahi persoalan jadi atau tidaknya revolusi bergantung kepada kaum imperialis dan bukan kepada PNI yang hanya bertujuan memberikan desakan moral untuk memaksa Belanda memberikan kemerdekaan kepada jajahannya. Pidato Soekarno sangat emosional itu telah menjadi satu dokumen gugatan yang mempunyai kekuataan luar biasa. Namun, keputusan proses ini telah ditentukan jauh sebelumnya. Vonis itu pun berbunyi PNI memperjuangkan dicapainya kemerdekaan dengan jalan menumbangkan dan melikuidasi kekuasaan Hindia Belanda. Soekarno dengan ketiga kawannya telah dijatuhi hukuman penjara. Di mata orang Indonesia, Soekarno telah menjadi orang yang mengorbankan dirinya demi tujuan bersama, yaitu kemerdekaan nasional. Nasibnya memprihatinkan semua orang. Ia telah menjadi orang yang paling popular di negerinya. Ia telah menfigurkan dalam dirinya persatuan Indonesia dan simbol perlawanan kepada kolonialisme. Sidang pengadilan itu sendiri dan pidato Soekarno, mempunyai arti sejarah bagi perkembangan perjuangan pembebasan nasional. Kemudian pidato Soekarno Indonesia Menggugat di Eropah dan mendapat sambutan hangat. Banyak para ahli hukum yang menuntut hukuman dijatuhkan pada Soekarno diringankan. Tekanan-tekanan kepada pemerintah Hind\ia Belanda baik di dalam maupun di luar negeri menjadi makin meningkat. Gubernur Jendral terpaksa mengurangi hukuman penjara dari 4 tahun menjadi 2 tahun dengan memperhitungkan masa tahanan Soekarno. Ia dibebaskan pada 31 Desember 1931. Ketika di pintu keluar penjara Soekarno diajukan pertanyaan, apakah ia akan memulai hoidup baru, ia menjawab, ia masuk penjara sebagai pemimpin politik dan ia akan tetap menjadi pemimpin politik sesudah keluar. Martir Nasional

59

Tulisan John Ingleson melanjutkan tulisan kedua sarjana Rusia tersebut. Pada 31 Desember 1931, Soekarno dibebaskan dari penjara Sukamiskin, Bandung. Ia disambut oleh sebuah panitia yang terdiri dari wakil-wakil sebagian besar organisasi nasionalis. Keesokan harinya ia berangkat ke Surabaya untuk mengikuti Kongres Indonesia Raya. Di stasiun Surabaya, Soekarno disambut massa yang melimpah diperkirakan sebanyak 5000 orang. Sewaktu ia terlihat di pintu gerbang, pekikan gembira Hidup Soekarno diteriakan oleh massa, disusul dengan nyanyian Indonesia Raya dan Mars Soekarno. Kejadian ini merupakan bukti betapa mendalamnya perasaan yang telah dibangkitkannya baik secara pribadi maupun dalam kedudukannya sebagai simbol perjuangan Indonesia. Kemunculan Soekarno yang pertama secara resmi di depan umum setelah dua tahun, terjadi pada malam harinya di Gedung Nasional di Surabaya. Biasanya gedung tersebut hanya menampung 1.600 orang, tetapi pada saat itu dipenuhi oleh 5000 orang, di samping beratus-ratus orang yang tidak masuk dan hanya berkerumun di luar pintu masuk. Kehadiran Soekarno disambut Sutomo sebagai ketua PPPKI dan ketua kongres Indonesia Raya, dengan sebuah pidato yang menggemakan kembali perasaan beribu-ribu orang Indonesia yang kesadaran politiknya telah ditumbuhkan oleh pidato Soekarno. Dalam jawaban yang singkat Soekarno menyatakan kepada pendengarnya bahwa ia akan menyampaikan sebuah pidato penting mengenai gerakan kebangsaan pada malam berikutnya bila mereka ingin mendengarkannya amanat yang telah dibawanya bagi mereka dari Sukamiskin. Pada malam berikutnya Soekarno menyampaikan pidatonya. Pidato tersebut bukanlah salah satu pidatonya yang terbagus, meskipun bagi pendengarnya yang demikian bergairah untuk hanya melihat dan mendengarkan Soekarno, pidato itu dengan sendirinya sudah mencukupi. Pidato terasa kekurangan drama emosional dan retorik yang mewarnai poidato-pidato nya sebelum ia dipenjarakan. Hiruk pikuk selama dua hari yang baru lalu, setelah ia dua tahun berpisah dari rakyat banyak yang memberi makan rohani, barangkali karena terjadi seketika, dirasakannya terlalu melelahkan. Bagaimanapun juga ia tidak memerlukan waktu yang lama untuk mendapat kembali api oratornya meskipun dalam tahun 1932 dan 1933, ia nampaknya tidak pernah sepenuhnya mampu mencapai kembali puncak-puncak keagungannya yang konsisten yang pernah diperlihatkannya pada tahun1928 1929.
60

Tema yang dikemukakannya, sebagaimana yang telah seringkali dikemukakan sebelumnya, adalah perlunya persatuan dalam gerakan nasionalis untuk dapat melawan Belanda kepada pendengarnya dinyatakannya bahwa ia merasa sedih karena rakyat yang dalam tahun 1929 bersatu dalam pikiran dan prinsip kini terpecah dalam dua golongan bahwa ia tidak akan masuk baik ke dalam Partindo maupun PNI Baru, tetapi akan berusaha menyatuhkan keduanya kembali ke dalam satu partai yang bersatu. Soekarno secara terbuka telah melibatkan dirinya dengan Kongres Indonesia Raya sebagai usaha menghidupkan kembali PPKI. Ia menggunakan sebagian besar waktunya pada permulaan 1932 untuk berbicara dengan pemimpinpemimpin baik dari partai-partai anggota PPKI maupun dari organisasiorganisasi yang kooperatif dan non-kooperatif yang berada di luar federasi. Ketika Soekarno sedang merencanakan suatu reorganisasi terhadap PPKI, maka serentak dengan itu ia juga mencoba mengakhiri perpecahan antara Partindo dan PNI Baru. Ketika itu ia melihat pertentangan di kalangan para pemimpin politik dan perpecahan terbuka di kalangan kaum non-kooperator sekuler, maka dengan nostalgia ia terkenang kembali kepada massa PNI tatkala kesatuan relatif pernah terwujud di kalangan kaum nasionalis. Dalam mencoba mempersatukan kembali Partindo dan PNI Baru, Soekarno dihadapkan suatu tugas yang luar biasa beratnya. Sesugguhnya jurang antara kedua kelompok itu pada tahun 1932 bukannya semakin mengecil tapi justru semakin melebar. Perbedaan kepribadian yang tajam antara para pemimpin Partindo dan PNI Baru merupakan suatu penghalang. Mereka juga berbeda dalam analisis tentang masyarakat Indonesia, PNI Baru bukan saja menolak kapitalisme Barat seperti yang dilakukan oleh PNI dan Partindo, tetapi juga menolak kapitalisme Indonesia. Hatta dan Sjahrir adalah para penganjur utama sistem parlementer multi partai untuk Indonesia dengan dewan-dewan perwakilan di tingkat daerah untuk menjamin agar kebutuhan-kebutuhan daerah tidak terabaikan. Namun, bagi Soekarno sistem demokrasi parlementer barat adalah tirani kaum mayoritas terhadap minoritas. Ia percaya bahwa membahas suatu masalah sampai tercapai mufakat akan lebih sesuai dengan pola pemerintahan tradisonal Indonesia. Di samping itu terdapat perbedaan yang mendasar antara Soekarno dan Hatta/ Sjahrir tentang konsep persatuan dalam gerakan kaum nasionalis.
61

Bagi Hatta dan Sjahrir masalahnya ialah bahwa seluruh kaum nasionalis harus bersatu dalam tekad mereka untuk memaksakan kemerdekaan dari Belanda. Persatuan organisasi dalam arti sebagaimana yang dikehendaki Soekarno tidaklah perlu. Kendati Soekarno menegaskan selama darah masih mengalir dalam tubuh nya, ia akan terus mengusahakan persatuan dalam gerakan nasionalis. Soekarno mencoba menghilangkan perbedaan-perbedaan antara sesama kaum nasionalis sebagai hanya salah pengertian. Penolakan Soekarno untuk mengakui adanya perbedaan yang nyata dan dalam antara kedua kelompok non-kooperasi sekuler itu turut menyebabkan kegagalan usahanya mewujudkan persatuan. Jika Soekarno benar-benar memahami perbedaan perbedaan antara kedua kelompok tersebut, kata John Ingelson, niscaya ia akan menolak untuk menyelesaikannya. Setelah Soekarno berusaha selama delapan bulan untuk kedua partai nasionalis sekuler tersebut, pada akhirnya menetapkan yang mana di antara kedua partai itu akan dimasukinya. Soekarno masuk Partindo, sebab partai tersebut telah menawarkan kebebasan bertindak yang cukup besar kepada Soekarno untuk meneruskan agitasi dalam kegiatan politiknya yang merupakan sumber kekuataan dirinya itu. Dalam penjelasannya tentang kegagalan usahanya untuk mempersatukan Partindo dan PNI Baru, tak terdapat nada kecewa kecuali rasa sedihnya bahwa orang-orang lain tak bisa melihat situasi dengan jelas seperti dia. Perpecahan yang terus berlanjut dalam gerakan nasionalis bukanlah kesalahannya. Jakarta, Jepang dan Revolusi Indonesia Lewat tulisan Jakarta masa Soekarno, Susan Blackburn ingin menjelaskan betapa Soekarno mempunyai pengaruh dalam menata keindahan kota Jakarta. Kendati Jakarta bukan sebuah kota yang memainkan peranan besar dalam Revolusi Nasional 1945 1949 tetapi begitu banyak monumen kepahlawanan era tersebut. Keberadaan patung-patung tersebut memperlihatkan sebuah ironi yang mana Soekarno dikenal sebagai orang yang menyeruhkan kehati-hatian selama revolusi dan menentang perubahan mendasar dalam bentuk apapun kecuali menggulingkan Belanda. Di masa pascakemerdekaan, Jakarta menjadi instrumen bagi Soekarno. Seperti dirinya, kota ini kuat dalam hal retorika dan simbol, namun lemah dalam tindakan revolusioner yang nyata.
62

Soekarno mempunyai peran paling besar dalam membentuk kota Jakarta selama periode 1950 1965. Ia memiliki visi terhadap Jakarta dimana sebagian dari keseluruhan visi tersebut telah diwujudkan, baik ketika ia masih berkuasa maupun setelahnya. Selain itu, ia telah membangun sebagian besar landmark terkenal Jakarta masa kini, beberapa diantaranya Monumen Nasional, Hotel Indonesia, Sarinah, Jakarta Bypass, Jembatan Semanggi dan masih banyak lagi yang lainnya adalah peninggalan Soekarno. Pada tahun-tahun tersebut, Soekarno seakan merupakan satu-satunya orang yang memberikan arah terhadap perkembangan kota. Visinya bagi negara secara keseluruhan tidak memiliki basis ekonomi yang nyata dan kuat. Namun, ia mampu mewujudkan visi tersebut menjadi kenyataan di Jakarta dibandingkan di seluruh Indonesia. Pascakemerdekaan Soekarno menempati istana Gubernur Jendral yang diganti namanya menjadi Istana Merdeka. Ia memiliki ketertarikan pribadi terhadap Jakarta dan menekankan pentingnya seni dalam kehidupan perkotaan. Di Istana Merdeka, para arsitek dan seniman dalam jumlah besar berkumpul untuk mendiskusikan perkembangan proyekproyek bangunan, patung, jalan dan taman. Di samping merubah nama bekas Istana Gubernur Jendral, Presiden Soekarno berkeinginan merubah nama lapangan pusat kota tersebut diganti menjadi Lapangan Merdeka. Semua bangunan yang ada di sana harus dibongkar dan agar dapat dibangun monumen tinggi yang kemudian dikenal dengan Monumen Nasional. Pada periode ini, Soekarno memindahkan poros utama kota yang membentang dari Lapangan Merdeka menuju jalan Thamrin, jalan Sudirman dan Kebayoran Baru. Daerah ini bersih dari konotasi kolonial serta akan menampilkan karya-karya hebat para arsitek dan kontraktor Indonesia.

63

Impian Soekarno bagi Jakarta dan keterlibatannya secara pribadi dalam perencanaan kota ini dapat dilihat dengan jelas di Gedung Pola. Monumen Proklamasi Kemerdekaan asli yang sederhana di Jalan Pegangsaan Timur diruntuhkan karena dianggap kurang megah untuk kota Jakarta. Monumen Proklamasi Kemerdekaan ini digantikan oleh Monumen Nasional yang baru sebagai simbol Jakarta. Soekarno memerintahkan didirikannya gedung kaca enam lantai di lokasi tersebut untuk menyimpan semua cetak biru proyek-proyek pembangunan Indonesia. Di Gedung Pola, Soekarno seringkali difoto sedang memperlihatkan maket-maket proyek-proyek besar kepada para tamu, seperti maket Kompleks Asian Games di Senayan, Planetarium di Taman Ismail Marzuki, Monumen Nasional, rancangan Jalan Thamrin, Jembatan Semanggi, Pasar Senen yang dibangun ulang, Pusat Perbelanjaan Sarinah, Mesjid Istiqlal dan Taman Ria Ancol. Rancangan-rancangan Soekarno ini bersifat modern dan monumental. Soekarno menyukai simbol-simbol agung yang akan membuat dunia terkagum-kagum dan membuat Jakarta sejajar dengan kota besar modern mana pun. Ia sangat menyukai gedung-pedung pencakar langit dan patungpatung yang menarik perhatian. Patung-patung Jakarta menyimpulkan retorika Soekarno, sebagaimana dikatakan Soekarno sendiri, ia jatuh cinta dengan romantika Revolusi yang menurutnya bertujuan memenuhi kebutuhan material maupun sprritual bangsa Indonesia. Di samping itu, Susan Blackburn berbicara mengenai pertambahan penduduk yang berlebih, yang mempunyai konsekuensi kekurangan perumahan bagi penduduk Jakarta. Salah satunya terjadi akibat migrasi ke Jakarta dengan alasan ekonomi. Pelayanan terhadap rumah-rumah tidak dapat dilakukan dengan baik karena departemen-departemen kota tidak mampu memenuhi tuntutan. Walaupun para pemimpin seperti Soekarno memiliki ambisi untuk membuat Jakarta menjadi kota yang indah, kenyataan nya tugas utama Pemerintah Kotapraja Jakarta adalah mengatasi pertambahan penduduk yang sangat besar dan kemiskinan warga Untuk menciptakan ekonomi yang lebih dinamis di Jakarta, Pemerintah Kotapradja Jakarta tidak bisa tergantung dari dana nasional. Subsidi pemerintah pusat yang sangat besar kepada pemerintah kota bukanlah solusi jangka panjang. Pada akhirnya, kota ini harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi penduduk Jakarta untuk membiayai kebutuhan mereka sendiri. Apa penduduk Jakarta mendapat manfaat
64

ekonomi pada pascakemerdekaan? Daya tarik terbesar Jakarta adalah janji yang terbukti bahwa para imigran dapat memperoleh penghasilan lebih besar dari tempat tinggal sebelumnya. Walaupun Jakarta tidak memiliki banyak pekerjaan standar yang dapat ditawarkan, hampir semua imigran dapat menemukan pekerjaan bagi dirinya. Kendati demikian, kemiskinan sebagian besar penduduk Jakarta terlihat jelas di mata para pengunjung. Banyak pengunjung pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Soekarno merasa Jakarta adalah kota yang menyedihkan. Susan Blackburn mengakhiri tulisannya dengan mengisahkan kejatuhan Soekarno, yang dimulai dengan terjadinya upaya kudeta 30 September 1965 Pembunuhan terhadap sejumlah jendral menjadi awal dari gelombang tindakan antikomunis di seluruh Indonesia di mana sekitar satu juta orang ditangkap, diperkirakan setengahnya kemudian dibantai sedangkan 200.000 orang lainnya ditahan. Namun, untungnya Jakarta terhindar dari peristiwa-peristiwa mengerikan seperti yang terjadi di tempat lain. Kebanyakan pembunuhan terjadi di pedesaan bukan di Jakarta. Sebagian besar gerakan antikomunis tidak resmi di Jakarta diarahkan untuk dilampiaskan pada properti, bukan orang. Soekarno akhirnya diturunkan dari jabatannya secara resmi pada bulan Maret 1967 Pendudukan Jepang selama tiga tahun di Indonesia berujung dengan pembayaran pampasan perang sebesar $ 223.08 juta kepada Indonesia. Pembayaran pampasan perang tersebut telah menarik kalangan pengusaha dan politisi Indonesia dan Jepang dan merangsang aktivitas pelobian. Para tokoh kedua negara termasuk dalam lobi ini mengadakan kontak dan ini merupakan satu bagian penting dari periode Demokrasi Terpimpin Soekarno. Pampasan perang merupakan hal yang menarik bagi pengusaha Jepang karena melibatkan sejumlah besar uang dan karena mereka dengan mudah mendesak para pengusaha Indonesia untuk meninggikan harga produk Jepang, dan akan berbagi keuntungan yang besar kepada mereka. Biasanya pejabat tinggi diberi komisi dari keuntungan ini atas jasanya mengizinkan Jepang untuk meninggikan produk mereka. Selain itu, bisnis pampasan ini aman karena pembayarannya, bahkan untuk produkproduk yang harganya ditinggikan, dilakukan oleh pemerintah Jepang, bukan oleh pemerintah Indonesia yang tidak stabil.

65

Banyak perusahan Jepang yang bersaing keras dalam penawaran mereka untuk proyek pampasan. Perusahan Jepang tersebut sering mengunjungi kantor Misi Pampasan Perang, dengan harapan dapat menjalin hubungan yang baik, sehingga bisa menerima perhatian yang istimewa. Mereka akan langsung ke Jakarta melobi petugas pampasan perrang di sana. Perusahan ini bahkan sering menyarankan produk dan pelayanan yang menguntungkan bagi Indonesia. Dengan kata lain, perundingan dasarnya dilakukan sebelum permintaan resmi dimasukan ke kantor Misi Pampasan. Para perantara atau pelobi pampasan, mewakili agen-agen pemesan, yakni dari pihak pemerintah Indonesia dan mewakili agen pemasok dari perusahan Jepang. Diantaranya terdapat para pedagang Cina perantauan dan pakar Indonesia yang mempunyai gaya tersendiri yang telah tinggal di sebelum atau semasa perang di Indonesia. Perusahan Jepang menggunakan jasa para perantara ini agar keberhasilan kebutuhan mereka mendapat perhatian dari eselon tinggi pemerintahan Indonesia. Banyak perusahan Jepang yang mencoba menjalin hubungan langsung dengan Soekarno sendiri, ustrinya yang berkebangsaan Jepang, Dewi, atau para pemimpin yang berpengaruh di lingkungan Partai Liberal Demokrat yang berkuasa. Perusahan Dagang Tonich, yang mana Kubo Matsuo menjadi direktur utamanya terbukti bisa menjalin hubungan dengan Presiden Soekarno dan mendapatkan manfaat ekonomi. Kendati perusahan dagang yang baru dan kurang dikenal, Kubo Matsuo menerima empat kontrak pampasan yang sangat besar. Kubo membangun gedung Wisma Indonesia berlantai empat di Tokyo, Wisma Negara, Monumen Nasional, dan sebuah menara tramisi televisi. Ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Jepang pada bulan Juni 1959, Kubo memperkenalkan sorang gadis kabaret berusia 19 tahun bernama Nemoto Naoko. Nemoto berjumpa dengan Presiden sebanyak dua kali di Hotel Imperial tempat Presiden Soekarno menginap. Kemudian berlanjut dengan Soekarno mengirim surat-surat mesra kepada Nona Nemoto melalui Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Disusul dengan kunjungan Nona Nemoto ke Indonesia selama dua minggu dengan menyamar sebagai karyawan Tonichi dan ditemani oleh Kubu sendiri dan tiba di Jakarta pada 14 September 1959. Sebagaimana pengakuan Dewi di kemudian hari, bahwa Kubo memanfatkan dirinya untuk melancarkan usaha bisnisnya di Indonesia. Kubo menyangkal pada tahun 1966 bahwa ia telah memanfatkan
66

Dewi untuk mendapatkan bantuan Soekarno walaupun ia mengakui bahwa perusahannya telah menyediakan perumahan untuk Dewi di Jakarta yang dikatakannya merupakan tempat Soekarno dapat mengunjunginya. Konflik antara Kubo dan Nona Nemoto membawa banyak perubahan di dalam lobi-lobi pampasan. Setelah kembalinya Kubo, Nyonya Nemoto memihak perusahan Dagang Kinoshita dan menolong Toyoshima. Melalui Toyoshima, dia juga membina persahabatan dengan Duta Besar Jepang, Oda Takio dan secara bertahap tampil menonjol di kalangan bisnis dan politik utama di Jepang dan Indonesia. Perkenalan Dewi dengan para tokoh terkemuka ini di Jepang meningkatkan statusnya di dalam lobi Jepang Indonesia, terutama setelah Perusahan Dagang Kinoshita meninggalkan Indonesia pada 1964 dan setelah Dewi tinggal di Wisma Yasso. Dewi muncul sebagai Ibu Negara presiden dan sebagai tokoh yang berpengaruh menurut caranya sendiri. Berbagai perusahaan Jepang, para pedagang Cina, dan pejabat Indonesia saling berlomba untuk mendapatkan bantuan istimewanya. Kendati Dewi menyangkal bahwa dirinya berperan melancarkan usaha bisnis mereka, Tetapi banyak pengusaha Jepang dan Indonesia mengatakan bahwa Dewi telah menerima sejumlah komisi Tulisan singkat ini, George McTurnan Kahin ingin berbicara mengenai teks lengkap pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebab selama ini kebanyakan orang sedikit memberi perhatian terhadap tulisan awal daripada keseluruhan pidato serta membatasi reproduksinya hanya pada akhir penyampaian proklamasi. Kahin memperoleh teks tersebut ketika ia berada di sini untuk melakukan penelitian untuk menyusun disertasi. Tetapi sayangnya, ketika terjadi agresi militer Belanda pada 19 Desember 1948, polisi militer Belanda menggeledah kumpulan dokumennya sehingga dokumen yang mau dikirim ke Amerika Serikat menjadi acak-acakan

67

Ketika Kahin menyusun buku tentang Revolusi Indonesia, Kahin tidak bisa menemukan dokumen berkenan dengan proklamasi kemerdekaan. Kahin menemukannya baru-baru ini sewaktu dirinya berusaha menulis lebih baik tentang beberapa pengalamannya tentang selama Revolusi Indonesia. Meskipun sudah lama berlalu sejak buku Kahin diterbitkan, dalam hal apa pun penting menarik perhatian pelajar Indonesia pada apa yang yang dulu Kahin tidak bisa gabungkan mengenai penjelasan peran Soekarno yang terlalu singkat dalam bukunya. Indonesianis dan Pengaruhnya Ketika Soekarno masih hidup dan setelah meninggal, sejumlah tulisan telah ditulis oleh sarjana asing. Soekarno yang menjadi tokoh sejarah ini yang paling banyak ditulis. Ada dua buku tentang Soekarno yang ditulis oleh sarjana asing dan perlu mendapat perhatian secara serius. Ketika Soekarno masih menjadi presiden pertama Republik Indonesia. Buku Soekarno dan Perjuangan Menuju Kemerdekan yang ditulis Bernhard Dahm. Buku ini pertama kali diterbitkan sebagai Volume XVIII der Schriften des Instituts fur Asienkunde di Hanburg dengan judul Sukarno Kampft um Indonesiens Unabhangigkeit Wedergang und Indeeneines asiarischen Nationalisten Frankurt 19966. Tulisan ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul Soekarno En De Strijd Om Indonesias Onafhankelijkeheid dan bahasa Inggris dengan judul Sukarno and the struggle for Indonesian independence dan pada akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Ketika Soekarno telah meninggal dunia, ada sebuah buku biografi politik yang ditulis oleh John D Legge dengan judul Sukarno A Political Biography dan kemudian terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sukarno Biografi Politik Soekarno. Dalam tahun 1966, Bernhard Dahm berkunjung ke Indonesia buat pertama kalinya sesudah edisi bahasa Jerman dari karya ilmiah ini diterbitkan pada permulaan tahun 1965. Kesempatan ini dipergunakan untuk menemui tokoh yang menjadi pusat perhatian bukunya, yaitu Soekarno. Melalui wawancaranya dengan Soekarno, menurut Bernhard Dahm, kendati mengetahui betul bahwa orang-orang komunis terlibat dalam Peristiwa Gerakan 30 September, Presiden Soekarno menolak tuntutan dari berbagai poihak untuk membubarkan PKI. Ketika Presiden Soekarno ditanya mengapa Presiden Soekarno tidak membubarkan PKI. Soekarno menjawab
68

bahwa tidak mungkin menghukum suatu partai secara keseluruhan berdasarkan kesalahan segelintir orang. Tetapi ketika Bernhard Dahm mengumakan bahwa Presiden Soekarno pernah berbuat demikian terhadap Masyumi dan PSI pada tahun 1960. Soekarno lalu menjelaskan bahwa Masyumi dan PSI merusak perjalan revolusi kami. Sedangkan PKI merupakan tombak (avant-garde) dari kekuatan-kekuatan revolusioner. Kita membutuhkannya untuk melaksanakan keadilan sosial kemakmuran masyarakat. Kemudian ketika Presiden Soekarno ditanya apa dia masih tetap berpegang pada konsep Nasakom. Soekarno membenarkan pernyataan tersebut. Aliran-aliran inimerupakan faktor-faktor obyektif dari masyarakat kami. Dan jika Anda ingin mengadakan perubahan-perubahan di dalam masyarakat itu Anda harus mempersatukan mereka, kata Soekarno. Dialog di atas kembali mengingatkan Bernhard Dahm kepada Soekarno di permulaan tahun dua puluhan sewaktu dia mulai muncul sebagai salah seorang pemimpinan pergerakan nasional Indonesia yang menghendaki persatuan dalam ungkapan dan tuturan kata-kata yang kurang lebih sama. Bernhard Dahm mengatakan Jelas caranya menghadapi masyarakatnya yang pluralistis tidak pernah berubah. Demikianlah, pesannya selalu tetap sama: menentang imperialisme sampai titik terakhur di satu pihak, sedangkan di pihak lain membangun sebuah orde baru dengan jalan mengawinkan ideologi-ideologi yang berbeda ke dalam suatu keseluruhan yang harmonis. Dengan lain perkataan Dahm berpendapat bahwa Soekarno tidak berubah. Dua tahun setelah Soekarno meninggal dunia, John D Legge menulis menerbitkan buku biografi politik Soekarno. Kendati diakui oleh John D Legge bahwa terlalu cepat untuk menyusun biografi Soekarno secara definitive. Dominasinya yang luar biasa pada kehidupan politik Indonesia selama tahun-tahun Demokrasi Terpimpin dan reaksi-reaksi pada tahun-tahun berikutnya untuk menentangnya telah menyulitkan dirinya untuk membuat penilaian yang tidak terpengaruh tentang tempatnya dalam sejarah nasionalisme Indonesia. Dengan demikian karya John D Legge ini adalah sebuah karya penilai sementara. Buku Bernhard Dahm mengenai pemikiran Soekarno adalah buku pertama yang menganalisa secara lengkap sampai 1945, sedangkan buku John D Legge adalah buku mengenai riwayat hidup sampai 1970. Ketika itu telaah

69

biografis di kawasan Asia Tenggara modern terbilang langkah. Sebenarnya negara-negara kebangsaan yang baru di kawasan Asia Tenggara itu tidak kekurangan dramatis yang persona yang semarak, berpengaruh besar, dan sesunguhnya, sering kontraversial. Usaha yang dilakukan oleh Bernhard Dahm dan John D Legge merupakan yang besar . Di halaman-halaman terakhir buku Sukarno Biografi Politik ini, John D Legge mempunyai pendapat yang sama dengan apa yang tulis Bernhard Dahm mengenai mengapa Presiden Soekarno tidak membubarkan PKI. Tahun-tahun terakhir kepresidenan Soekarno merupakan tahun-tahun ia kelihatan paling jelas tegak berdiri di atas dasar-dasar prinsip keyakinannya sendiri. Ia dapat mengutuk PKI untuk menyelamatkan dirinya dengan melihat kembali ke belakang pada kecamannya pada tahun 1926 bahwa komunis yang menjalankan taktik-taktik usang merupakan racun bagi rakyat. Ia tidak menempuh jalan ini, dan menolak untuk mengingkari tempat komunisme dalam kesepakatan persatuan nasional yang dibinanya. Buku yang ditulis oleh Bernhard Dahm dan John D Legge menjadi rujukan siapa saja ingin menulis Soekarno. Di samping itu ada dua tulisan pendek yang ditulis oleh Ruth McVey dan Roger K Paget. Tulisan Ruth McVey mencoba mengantarkan sidang pembaca untuk memahami tulisan Soekarno yang berjudul Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme yang diterbitkan majalah Indonesia Moeda pada tahun 19261927. Tulisan Roger K Paget mencoba mengantarkan sidang pembaca untuk memahami pidato pembelaan Soekarno pada tahun 1930 yang kemudian dikenal dengan Indonesia Menggugat. Ruth McVey dan Roger K Paget berhasil menjelaskan kandungan kedua tulisan sehingga kata pendahuluan mereka menjadi rujukan bagi banyak penulis. Adanya tulisan-tulisan tersebut memberi sumbangan penting bagi pengetahuan kita mengenai Soekarno dalam kacamata Barat. Tulisan Bernhard Dahm, John D Legge, Ruth McVey dan Roger K Paget tersebut menjadi rujukan utama dari tulisan Onghokham yang berjudul Sukarno : Mitos dan Realitas. yang dimuat dalam majalah ilmiah popular Prisma pada bulan Agustus 1977. Dengan memilih bahan rujukan tersebut, tidak bisa dihindari Onghokham dalam menarik kesimpulan ia memperoleh pengaruh apa yang telah dibaca. Menurut Onghokham, dalam detik-detik terakhir kekuasaan dan hidupnya, Soekarno berdiri sendiri. Ada semacam keagungan melihat tokoh revolusi ini mencoba memberikan arah kepada jalannya revolusi. di tengah segala arus umum menentangnya. Sebenarnya
70

kesimpulan Onghokham tidak berbeda dengan apa yang dinyatakan Bernhard Dahm dan John D Legge. Tetapi Onghokham menjelaskan mengapa Soekarno berdiri sendirian, Ia sekali berdiri sendirian bukan berdasarkan pada prinsip-prinsip keyakinannya, tetapi karena tidak dikelilingi oleh kawan-kawan seperjuangan yang sebanding Soekarno hanya memiliki patner politik tetapi hanya pengikut serta pengagum. Mengenai tidak berubahnya pemikiran Soekarno dibahas dalam tulisan Alfian ketika membahas pemikiran para pendiri bangsa. Tulisan tersebut dimuat dalam buku Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia. yang diterbitkan pada tahun 1980. Sambil mengakui bahwa Soekarno adalah pemikir modern Indonesia terpenting dan terbesar bukan hanya karena kualitas keorsinalan pemikiran-pemikirannya tetapi dalam hal keluasan pengaruhnya memang tidak ada duanya, Alfian mengatakan yang menjadi pusat perhatian alam pemikiran Soekarno bermuara pada persatuan bangsa Indonesia yang beraneka ragam atau majemuk sebagai prasyarat mutlak. Menurut Alfian, kegigihan Soekarno mempertahankan dan membela PKI sampai titik akhir kekuasaannya jelas memperlihatkan kesetiaannya yang dalam terhadap dimensi Marxisme dari pemikiran-pemikirannya. Ditinjau dari sudut ini, memang tampak masuk akal sekali pandangan yang mengemukakan bahwa sebagai pemikir Soekarno mempunyai konsistensi yang kuat.

71

Soekarno sampai akhir hayatnya tetap percaya bahwa ketiga aliran besar itu harus bersatu dalam barisan perjuangan mengisi kemerdekaan untuk menyelesaikan revolusi Indonesia. Valina Singka Subekti melalui tulisannya yang berjudul Soekarno dan Marhaenisme yang dimuat dalam buku Nazaruddin Sjamsuddin (Ed) Soekarno. Pemikiran Politik dan Kenyataan Praktek (1988) membenarkan konsistensi Soekarno, sebagai dinyatakan oleh Bernhard Dahm dan John D Legge. Tetapi, kata Valina Singka Subekti, konsitensinya kepada cita-citanya telah menyebabkan Soekarno luput menyadari perkembangan di dalam bangsanya sendiri dan dunia internasional akibatnya ia termakan oleh cita-cita dan fikirannya sendiri secara tragis. Ternyata terdapat kesenjangan yang jelas antara pemilikiran politik Soekarno dengan kenyataan perkembangan politik Soekarno. Kalau boleh menggunakan istilah Harry J Benda yang merujuk tulisan Bernhard Dahm, ada suatu kebesaran yang tragis pada diri orang seperti Soekarno, yang begitu yakin pada kebenarannya sendiri, yang menganggap dirinya tak mungkin salah, dan begitu kedap terhadap fakta-fakta yang nyata dalam kehidupan politik Indonesia. Sebenarnya melalui buku Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan,, Bernhard Dahm terlalu memberikan aksentuasi pada sifat sinkretisme Jawa. Dalam halaman-halaman akhir buku, Bernhard Dahm menyatakan bahwa menyatukan ketiga aliran Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme merupakan sesuatu hal yang tidak mungkin dalam kacamata Barat. Tidak demikian hanya bagi Soekarno, yang insinyur yang baginya pemikiran yang analistis tetap merupakan hal yang asing, bagi manusia Jawa yang berpaling kepada sintesa untuk memperoleh penyelesaian dan pemecahan masalah. Sebagai orang yang berpikir dalam kategorikategori lain, ia berpendapat bahwa untuk mencapai persatuan bisa saja diadakan kompromi lebih lanjut. Ketika Soekarno memeras Pancasila menjadi Trisila ( Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi dan Ketuhanan) dan menjadi Ekasila (Gotong Royong), sebenarnya Soekarno telah menemukan persatuan yang dicarinya, persatuan yang tidak dapat lagi diungkapkan dalam istilah-istilah Barat. Ia telah menemukannya di dalam kebudayaan sendiri yang tampaknya mempunyai pengertian yang lebih besar untuk upaya semacam ini.

72

Pandangan Bernhard Dahm tersebut menjadi rujukan dalam buku Badri Yatim yang berjudul Soekarno, Islam dan Nasionalisme (1985). Kebudayaan Jawa yang dikenal sebagai kebudayaan yang bersifat sinkretis. Sinkretisme, menurut Badri Yatim, telah memungkinkan orang-orang Jawa untuk memadukan apa-apa yang baik dalam dirinya dengan apa-apa yang dianggap baik dari luar, tanpa kehilangan landasan kebudayan sendiri. Sinkretisme budaya Jawa tentu telah membentuk kepribadian Soekarno. Di samping itu, pendidikan yang dilaluinya, termasuk bacaan-bacaannya telah banyak pula mempengaruhinya. Pengaruh budaya Jawa telah mendorongnya untuk memadukan atau menyatukan aliran-aliran yang berkembang di Indonesia : Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Dibuangnya filosofi Materialisme dari Marxisme, lalu diberinya Tuhan, dibuangnya kemunduran masa lampau Islam dan diberinya kemajuan dari Marxisme; dibuangnya kesempatankesempatan pemikiran nasionalis dan diberinya pengertian yang lebih luas dari pandangannya sendiri. Ketika Bambang Norsena menulis buku Religi & Religiusitas Bung Karno Keberagaman Mengokohkan Keindonesian (2000), ia berbicara mengenai betapa pentingnya memahami Soekarno dari pandangan Tradisionalisme Jawa. Untuk memperkuat pandangan Bambang Norsena mengutip pendapat dari John D Legge dan LCM Penders yang menulis buku The Life and Times of Sukarno. John D Legge menyatakan bahwa kemampuannya dalam menyerap unsur-unsur budaya yang berasal dari berbagai sumber dan mengaktualisasikannya dengan caranya sendiri telah terkenal, kemampuannya untuk mempersatukan dan memadukannya dalam rumusan ide politiknya, kemungkinan besar merupakan merupakan tipe toleransi seorang Jawa. Kemampuannya secara bersama-sama membawa arus pemikiran yang berbeda-beda dan melihatnya sebagian keseluruhan, terbesar dari tradisi orang Jawa itu. Dalam memahami pemikiran keagamaan Soekarno, Bambang Norsena memperkuat argumen dengan pendapat dari CLM Penders yang menyatakan bahwa Soekarno muda tidak pernah menjalani pendidikan di sebuah sekolah Islam, melainkan ia tumbuh dan dibesarkan dalam ajaran-ajaran Kejawen, sebuah pandangan hidup yang secara dasariah bersifat toleran, sinkretis mistis dan panteistis, yang telah memberikan insipirasi utama dari perpaduan kepercayaan Jawa asli, Hindu, Buddha dan Islam. Memang dari sudut

73

pandang ini, kita dapat memahami pandangan-pandangan keagamaan Soekarno, yang bagi kebanyakan pengamat Barat tidak lazim. Soekarno sangat percaya bahwa dirinya disingkirkan dari panggung politik oleh CIA yang tidak menyukai orientasi politiknya yang anti kapitalisme dan imperialisme. Sokarno merupakan seorang presiden yang sudah dirasuki gagasan persatuan yang diperlukan oleh perjuangan abadi melawan imperialisme Barat. Sebagaimana dikatakan Bernhard Dahm, pesannya pun tak pernah berubah di satu pihak, memerangi imperialisme sampai akhir dan di pihak lain, membangun suatu tatan baru dengan melebur ideologi-ideologi yang berbeda menjadi suatu keseluruhan yang harmonis. Pada tahun 1985, Peter Dale Scott menulis artikel mengenai penggulingan terhadap Presiden Soekarno yang dilakukan oleh CIA. Artikel Scoot berjudul US dan the Overthrow of Sukarno, 1965 1967: dan dimuat dalam Journal Pacific Affairs No. 58, Musim Panas, 1985. Menurut Peter Dale Scott, melalui dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi, terungkap bahwa Komisi Senat Khusus yang mempelajari CIA telah menemukan bukti tentang keterlibatan CIA dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Keterlibatan CIA barangkali seumur dengan usia Republik Indonesia Argumentasi tentang pentingnya Indonesia di mata AS adalah cukup sahih Hal ini bisa juga dilihat dari karya Audrey T Kahin dan George McTurnan Kahin dalam buku Suberversion as Foreign Policy, yang diterbitkan pada tahun 1995. Karena itu mengabaikan sama sekali keterlibatan CIA dalam sejarah Indonesia, bertolak belakang dengan fakta sejarah yang terungkap perihal operasi klandestein CIA sejak masa revolusi kemerdekaan.

74

Berbicara mengenai keterlibatan Amerika Serikat (CIA) bisa dibaca dalam buku Bung Karno Menggugat!. Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal 65 hingga G30 S, yang ditulis Baskara T Wardaya pada tahun 2006. Di bawah Demokrasi Terpimpin dukungan Amerika Serikat terhadap militer Indonesia terus meningkat. Tujuannya, kata Baskawa T Wardaya adalah menghabisi PKI, membatasi kekuasaan Presiden Soekarno, dan mengubah orientasi pemerintah Indonesia agar menjadi lebih pro Barat. Semula tiga kekuatan PKI, Presiden Soekarno dan Angkatan Darat dalam posisi berimbang. Dengan dukungan yang diberikan Amerika Serikat, Angkatan Darat menjadi semakin menguat. Jika kemudian Angkatan Darat mampu mengambil kendali pemerintah Indonesia itu bukan merupakan hal yang terlalu mengagetkan. Menarik, apa yang kemudian terjadi di Indonesia setelah Tragedi 1965 memang sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan oleh Washington sejak lama, PKI dihabisi, Sukarno ditendang dari kekuasaan, dan Indonesia menjadi makin terbuka terhadap kekuatan ekonomi dan politik Barat. Di samping itu, Baskara T Wardaya menulis buku Membongkar Supersemar Dari CIA hingga Kudeta Melawan Bung Karno, yang diterbitkan pada tahun 2007. Di dalam buku ini terdapat dokumen-dokumen yang berisi mengenai bagaimana CIA berusaha menyingkirkan Presiden dari panggung politik. Tesis Peter Dale Scoot mengenai keterlibatan CIA dalam menyingkirkan Presiden Soekarno mempunyai kesamaan pandangan dengan apa yang ditulis oleh Baskara T Wardaya dalam kedua bukunya. Kendati demikian, Baskara T Wardaya dalam tulisan tidak merujuk pada tulisan dari Peter Dale Scoot. Kesimpulan yang ditarik Peter Dale Scoot dan Baskara T Wardya lebih didasarkan pada dokumen-dokumen yang tersedia. Mengenai keterlibatan CIA dalam melapangkan jalan terjadinya suksesi kepemimpinan nasional dari Presiden Soekarmo ke Jendral Soeharto tidak bisa dipungkiri, demikian kata Nina Herlina, guru besar sejarah di Universitas Padjajaran dalam makalahnya yang berjudul Presiden Soekarno Dalam Krisis G30S , yang dipresentasikan dalam lokakarya pada tanggal 12-13 April 2005, sebagai hasil laporan penelitian mengenai Peristiwa G30S, yang diselenggarakan Departemen Pendidikan Nasional. Di samping itu, Nina Herlina mengatakan bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam perencanaan G30S namun pada akhirnya skenario diambil alih oleh Soeharto yang telah merencanakan untuk mengakhiri kekuasaan Presiden Soekarno
75

sebagaimana terlihat dari langkah-langkah pasti yang dilakukan melalui Supersemar. Berkaitan dengan sejauh mana keterlibatan Presiden Soekarno. Ada sebuah buku yang menulis bahwa Presiden Soekarno sebagai dalang dari Peristiwa G30S. Tesis tersebut ditulis Antonie CA Dake dalam buku Soekarno File, Berkas-berkas Soekarno 1965-1967, dan Kronologi Suatu Keruntuhan, yang pada pertengahan bulan November 2005 di Jakarta. Pandangan Antonie C Dake tersebut merupakan kelanjutan dari buku In the Spirit of the Red Banteng : Indonesian Communist Between Moscow and Peking, yang diterbitkan pada tahun 1973. Melalui buku In The Sipirit of The Red Banteng, Antonie CA Dake menyatakan bahwa Peristiwa G30S dilatarbelakangi sikap Presiden Soekarno yang sangat tidak sabar melihat oposisi beberapa perwira tinggi AD dalam program-program revolusinya. Ia kemudian memerintahkan Letkol Untung untuk membereskan mereka. Setahun kemudian Antonie CA Dake juga mempublikasikan buku The Devisious Dalang : Sukarno and the So-Called Untung Putsch L Eyewtness Report by Bambang S Widjanarko yang memperkuat kesimpulan dalam bukunya.

76

Kesaksian Bambang S Widjanarko yang menjadi rujukan utama bagi penulisan kedua buku Antonie CA Dake, ternyata menjadi rujukan pula bagi tulisan Nina Herlina guru besar sejarah di Universitas Padjajaran ketika berkisah mengenai keterlibatan Presiden Soekarno dalam Persitiwa G30S. Menurut kesaksian Bambang S Widjanarko, pada tanggal 5 Agustus 1965, Presiden Soekarno memberikan tugas kepada Letkol Untung untuk mengambil tindakan terhadap Dewan Jendral, dan pada tanggal 30 September 1965 Letkol Untung di Senayan memberikan surat kepada Presiden Soekarno tentang akan dimulainya gerakan penindakan terhadap jendral-jendral yang dianggap terlibat dalam Dewan Jendral. Ternyata tulisan Antonie CA Dake tidak memperoleh pembenaran dari Aminuddin Kasdi, guru besar sejarah di Universitas Negeri Suarabaya. Lewat tulisan yang berjudul Mungkinkah Bung Karno Terlibat ?, yang dipresentasikan dalam lokakarya pada tanggal 12-13 April 2005 sebagai hasil laporan penelitian mengenai Peristiwa G30S. Lewat tulisan Aminuddin Kasdi menyodorkan sejumlah fakta yang mendukung atau tidak mengenai keterlibatan Presiden Soekarno dalam Peristiwa G30S. Aminuddin Kasdi tidak memberi jawaban pasti sebagaimana yang dikatakan Antonie C.A Dake melalui kedua bukunya. Ia memberi sejumlah fakta dan sidang pembaca dipersilahkan untuk memilih jawaban, apakah Presiden Soekarno terlibat atau tidak. Berbeda dengan buku resmi yang dikeluarkan pemerintah dengan judul Gerakan 30 September : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara pada tahun 1984 ini, dijelaskan bahwa dalang Gerakan 30 September adalah PKI dengan Biro Khususnya yang memperalat unsur ABRI. Meskipun tidak ada satu kata pun dalam buku ini yang menyatakan keterlibatan Presiden Soekarno dalam Peristiwa G30S, sulit dipungkiri bahwa uraian-uraian tentang sikap dan perilaku Presiden Soekarno di dalamnya cenderung memojokan Presiden Soekarno. Penolakan keterlibatan Presiden Soekarno terlibat dalam Peristiwa G30S bisa dibaca dalam buku Kehormatan Bagi yang Berhak, yang ditulis Manai Sophian pada tahun 1994. Buku itu diluncurkan dalam merayakan ulang tahunnya ke-80. Dalam menelusuri kebenaran sekitar Presiden Soekarno di sekitar Peristiwa G30S, Manai Sophian mengumpulkan berbagai bahan
77

dokumen dari dalam dan luar negeri untuk menyusun buku itu, Manai juga mewawancarai 10 bekas tahanan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku itu berusaha mengungkapkan bagian sejarah Indonesia yang selama itu terasa kontroversial Dalam buku Kehormatan Bagi Yang Berhak disebutkan bahwa menurut pengakuan tokoh-tokoh PKI yang pernah ditahan dan diadili, mereka tidak merencanakan membunuh para jendral. Tugas gerakan yang dikendalikan Biro Khusus adalah menangkap para jendral yang disinyalir anggota Dewan Jendral dan sesudah itu menyerahkan kepada Presiden Soekarno untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil terhadap mereka. Tetapi ternyata dalam pelaksanannya terjadi penyimpangan, yang diperkirakan akibat rencana terselubung dalam memanfatkan gerakan tersebut. Semua itu, konon, dilakukan atas instruksi Sjam, sebagai pelaksana G30S. Pada akhir tahun 1980-an, terjadi kontroversi tentang Suratt-Surat Minta Ampun Soekarno. Lewat tulisannya di harian Kompas September 1980, Rosihan Anwar mengutip buku John Ingleson yang berjudul Road To Exile The Indonesia Movement, 1927 1934, yang diterbitkan oleh Asian Studies Association of of Australia, yang menyatakan bahwa ketika berada di Penjara Sukamiskin tahun 1933, Soekarno pernah mengirimkan empat surat minta ampun terhadap pemerintah Hindia Belanda. Dalam surat itu dinyatakan Soekarno berjanji untuk tidak aktif lagi dalam kegiatan politik jika pemerintah Hindia Belanda bersedia membebaskannya. Tulisan surat minta ampun tersebut telah menimbulkan debat publik. Tetapi kebanyakan orang pesimistik terhadap adanya surat minta ampun tersebut. Pada umumnya mereka mempersoalkan sisi etis pernyataan itu, relevansinya bagi sejarah dan masa depan bangsa, keotentikan dokumen-dokumen yang digunakan. Mengenai surat minta ampun Soekarno yang dinyatakan John Ingleson ternyata tidak menjadi rujukan bagi penulisan mengenai Soekarno. Tak ada keinginan untuk melakukan penelitian sejarah lebih lanjut mengenai kebenaran dari surat-surat tersebut juga. Buku Kepemimpinan Kharismatis. Tinjauan Teologis-Etis atas Kepemimpinan Kharismatis Soekarno yang ditulis Ayub Ranoh yang diterbitkan pada tahun 1999, sama sekali tidak mengutip pendapat John Ingleson yang telah menimbulkan debat publik. Kendati Ayub Ranoh berbicara mengenai Kepemimpinan Kharismatis Soekarno, tetapa fakta sejarah yang ditampilkan John Ingleson tidak diungkapkan dalam bukunya.

78

Justru surat minta ampun Soekarno bisa dibaca dalam buku yang ditulis Bob Hering yang berjudul Soekarno Bapak Indonesia Merdeka. Sebuah Biografi 1901 1945 dan buku Lambert Giebels yang berjudul Soekarno Biografi 1901 1950. Kedua buku tersebut diterbitkan dalam rangka memperingati 100 tahun Soekarno pada bulan Juni 2001. Mereka percaya benar mengenai surat minta ampun tersebut, sebagaimana yang dinyatakan John Ingleson. Pada awalnya dominasi pengetahuan sarjana asing mengenai Soekarno dominan sehingga sarjana Indonesia yang mau menulis mengenai Soekarno selalu merujuk pada tulisan-tulisan sarjana asing, Tetapi sesuai dengan perjalanan waktu dominasi pengetahuan mengenai Soekarno menjadi kurang dominan dengan tersedianya banyak bahan sehingga sarjana Indonesia mempunyai banyak pilihan sumber dan tidak lagi menggantungkan pada pengetahuan sarjana asing mengenai Soekarno. Sekarang sarjana Indonesia mempunyai keberanian memberi tafsiran sendiri mengenai Soekarno daripada mengandalakan tafsiran sarjana asing mengenai Soekarno. Kendati demikian tetap dibutuhkan penafsiran lain mengenai Soekarno, sebagai perbandingan dan untuk lebih mengenal sosok Soekarno. Warisan Soekarno Tak syak lagi bahwa di antara para pemikir modern Indonesia, Soekarno adalah yang terpenting dan terbesar. Hal itu bukan saja karena kualitas pemikiran-pemikirannya yang orsinal dan brilian, tetapi juga karena pemikiran-pemikiran itu berhasil menjangkau jauh ke dalam masyarakat. Kalau dalam kualitas keorsinalan pemikiran-pemikirannya mungkin ada beberapa tokoh lain yang mampu bersaing dengannya, tetapi dalam hal keluasan pengaruhnya memang tidak ada duanya. Di samping sebagai seorang cendikiawan yang mempunyai kemampuan besar dalam menuangkan pemikiran-pemikiran yang jernih ke dalam berbagai tulisan, Soekarno adalah pula seorang orator luar biasa dan kharismatis yang mampu menyampaikan pemikiran-pemikirannya, dengan gaya yang amat menarik dan mudah dimengerti, kepada khalayak ramai yang mendengarkannya. Titik tolak pemikiran-pemikirannya tampak berpangkal pada keyakinan bahwa bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa-bangsa lain, mempunyai dinamikanya sendiri, dan oleh karena itu mempunyai kemampuan untuk membangun dirinya sendiri. Yang menjadi persoalan baginya ialah mencari, menangkap dan menggerakkan dinamika itu. Dari situ akan lahirlah suatu
79

sikap kepercayaan kepada diri sendiri yang kuat. Seseorang yang mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri akan mempunyai kemampuan dan keberanian untuk mengubah nasibnya, membangun dirinya, membangun masyarakat dan kebudayaannya. Dia tidak akan takut atau phobi terhadap pengaruh atau ide-ide baru dari mana pun datangnya, dari dalam masyarakatnya sendiri ataupun dari luar. Bahkan dia mempunyai keberanian untuk mengambil apa-apa yang baik dari mana saja, dan kritis menyaring dan mengolahnya sendiri. Itulah barangkali gambaran kasar manusia Indonesia baru yang dicita-citakan Soekarno, yaitu manusia yang berhasil menemukan dinamika diri atau bangsanya. Manusia yang dengan kepercayaan pada diri sendiri yang tebal, berani mengubah nasibnya dan mengembangkan pemikirannya. Contoh terbaik dari manusia Indonesia baru yang dicita-citakan Soekarno itu tercermin dengan jelas di dalam dirinya sendiri, terutama Soekarno si cendikiawan dan pemikir. Sebagai seorang cendikiawan Soekarno memiliki sikap kritis yang tajam dan amat menghargai kebebasan berpikir, dan oleh karena itu dia adalah pula seorang yang pada dasarnya memusuhi dogmatisme. Cara berpikirnya yang dialektis dan/atau sinkretis memperkuat kualitas ini dan kecendikiawanannya. Dia jelas tidak phobi terhadap pemikiran-pemikiran dari mana pun datangnya, tetapi juga tidak mau menerima begitu saja tanpa melalui proses perdebatan yang sengit di dalam otaknya. Sebagaimana Tan Mala, Soekarno mempunyai keberanian yang ;luar biasa dalam mengembangkan pemikirannya. Dia tampak tidak pernah takut mengemukakan dan memperdebatkan ide-ide dengan siapa saja. Demikianlah kita lihat di dalam karangan-karangannya bagaimana dia berdebat dengan pemikir-pemikir dan negarawan-negarawan besar Barat, berargumentasi dengan tokoh-tokoh pemikir Islam, dan berdiskusi tentang esensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalam kekayaan kebudayaan bangsanya . Bilamana dia merasa lemah dalam satu bidang, Soekarno tidak malu bertanya dan tidak segan berusaha keras untuk mendalaminya. Misalnya, pada suatu ketika ia pernah merasa pengetahuannya masih kurang tentang Islam, maka untuk mengatasi kelemahannya dia berusaha betulbetul, dengan berbagai cara, mendalami nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agamanya. Begitu dia merasa mampu, dia memberanikan diri meneruskan pemikiran-pemikirannya sendiri tentang Islam. Dengan penuh keberanian pula dia memperdebatkan ide-ide barunya itu dengan pemikirpemikir Islam kenamaan. Serangkaian polemik intelektualnya yang terkenal dengan tokoh pemikir modernisme Islam yang paling utama di negeri ini. Mohammad Natsir, kini mempunyai makna sejarahnya sendiri.
80

Tak ayal lagi, sebagai seorang cendikiawan Soekarno menjelajah lautan perantauan mental yang dashyat, tetapi pada akhirnya dia ke luar sebagai pemenang yang gemilang dengan keberhasilannya melahirkan pemikiranpemikiran batu yang orsinal dan berbobot. Dalam perantauan mentalnya yang sengit itu Soekarno bertemu dan bertarung dengan berbagai macam aliran pemikiran, di mana tiga daripadanya memberi kesan yang dalam kepadanya, dan oleh karena itu sedikit banyak mempengaruhi corak pemikiran baru yang dilahirkannya. Aliran pemikiran pertama berasal dari nilai-nilai dasar yang terkandung dalam kebudayaan bangsanya , dalam hal ini tentunya terutama kebudayaan Jawa. Aliran kedua berasal dari pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh pemikir sosialis Barat, termasuk Karl Marx. Sedangkan aliran yang ketiga berasal dari pemikir-pemikir modernisme Islam. Walaupun dalam perantauan mentalnya Soekarno berhadapan dengan aliranaliran pemikiran yang kuat yang diwakili oleh pemikir-pemikir ulung dan kenamaan, dia tidak menempatkan dirinya sebagai seorang yang kerdil atau sebagai seorang yang angkuh tetapi picik. Kuncinya ialah, di samping bekal kepercayaan pada diri sendiri yang kuat, dia tidak malu-malu melengkapi dirinya dengan mempelajari apa-apa yang esensial yang terkandung di dalam aliran-aliran pemikiran yang dihadapinya itu. Oleh karena itu dia berhasil menempatkan diorinya sebagai equal atau orang yang sederajat. Seseorang yang hanya semata-mata mengandalkan pada kepercayaan diri sendiri dan tidak berusaha mengisi dirinya melalui pengembangan pemikiran, memang pada akhirnya bisa muncul sebagai manusia angkuh yang bermental picik. Betapaun juga dia tetap hanyalah seorang yang berpikiran kerdil. Manusia seperti itu jelas bukan manusia Indonesia baru yang dicita-citakan Soekarno, sebagaimana juga tercermin di dalam dirinya sebagai cendikiawan, pembangunan manusia Indonesia baru yang tidak bermental kerdil hanya mungkin terjadi kalau kepercayaan pada diri sendiri yang dimilikinya dilengkapi pula dengan keberhasilannya mengembangkan pemikiran. Keberhasilan Soekarno menempatkan dirinya sebagai equal atau orang yang sederajat dengan pemikir-pemikir ulung yang diketemukannya dalam perantauan mentalnya telah memungkinkan tokoh kita ini melahirkan pemikiran-pemikiran sendiri yang orsinal dan berbobot. Segi positif dari pandangan hidupnya adalah perjuangannya untuk mempersatukan bangsa Indonesia melawan imperialisme. Dalam usaha yang ulet mempersatukan semua suku dan lapisan masyarakat Indonesia dalam
81

satu kesatuan bangsa, ia telah memberikan sumbangan yang paling bernilai Jika ia berkata bahwa dasar terbentuknya satu bangsa adalah keinginan untuk bersatu, atau demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi bukanlah suatu demokrasi, atau jika ia berkata bahwa imperialisme adalah tingkat terakhir dari kapitalisme yang sedang runtuh, maka dengan itu ia melahirkan pandangan-pandangan yang merupakan bagian dari keyakinannya. Jika ia berbicara tentang persatuan bangsa, ia melahirkan keyakinan pandangannya sendiri. Untuk terbentuknya suatu bangsa perlu usaha bersama dari golongan Islam maupun komunis, golongan demokrat sosialis maupun nasionalis, betapapun besarnya perbedaan-perbedaan yang telah berlangsung lama di antara mereka. Kemungkinan kerja sama yang demikian merupakan inti pokok konsepsinya Nasionalisme, Islam dan Marxisme Sampai pada batas tertentu, ia berhasil meyakinkan orang lain agar setuju dengan pendapatnya, seperti pada tahun 1927, ia mempersatukan berbagai aliran politik dalam PPKI yang sebelumnya saling berselisih dan saling berlawanan dalam banyak hal. Usahanya menciptakan persatuan bangsa telah disusun pula dengan dayaupaya menciptakan suatu sintesa ideologi. Dalam menjalankan upaya-upaya terdapat beberapa langkah yang jelas. Ketika ia merumuskan Nasionalisme, Islam dan Marxisme, ia pada dasarnya memaksudkannya sebagai suatu strategi. Menghadapi kekuasaan kolonialisme Belanda adalah sesuatu yang wajar dan sederhana jika kaum komunis dan golongan Islam harus menyusun barisan kekuatan dan bekerja sama di bawah panji-panji nasionalisme. Dari pemikiran usaha kerja sama ini, ia tersentuh oleh harapan kemungkinan bisa dipersatukannya berbagai aliran keyakinan yang berbeda -beda, sehingga tercipta suatu keterpaduan yang dapat diterima dengan jalan saling memberi, karena tidak ada lagi pilihan lain. Dalam hal ini Soekarno merasa tidak akan mendapatkan kesulitan. Contohnya adalah dirinya sendiri, pendiriannya sekaligus berpegang kepada berbagai macam pandangan dunia. Siapa Soekarno itu? Nasionaliskah, Islamkah? Marxiskah? Ia bertanya dalam suatu tulisannya pada tahun 1941, yang berjudul Soekarno, oleh Soekarno sendiri.Pembaca-pemabaca, Soekarno adalah campuran dari semua isme-isme itu !. Ucapan ini sering diulanginya dalam beberapa kesempatan lain kemudian. Saya jadikan dirinya tempat bertemunya semua aliran ideologi itu, sehingga akhirnya menjadi Soekarno yang sekarang. Pidato tenang Pancasila pada tahun 1945 menampilkan pendirian yang paling padat dan terpadu dalam usaha mempersatukan Nasionalisme,
82

Perikemanusian, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sifat perdamaian dan kebersamaan hasil penggaliannya diungkapkan dalam kesimpulan akhir bahwa lima prinsip dasar Pancasila itu dapat diperas menjadi tiga (Sosio-Nasionalisme, SosioNasionalisme dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa) dan tiga ini diperas lagi menjadi satu, prinsip dasar kehidupan rakyat Indonesia, Gotong Royong. Yang menarik perhatian ialah, ketika pembicaraan berkisar persatuan bangsa, dasar pikiran Soekarno bertolak dari penghalang-penghalang persatuan yang tidak ditimbulkan oleh perbedaan-perbedaan kelas, tetapi oleh kesetian masing-masing suku pada kebiasaan adat lembaganya dan oleh aliran-aliran keyakinan dan budaya yang sang bertentangan. Dengan perspektif begini, maka mudahlah baginya menempatkan diri sebagai pemersatu bangsa. Apabila ia mengemukakan pemikirannya dalam bentuk-bentuk pembagian kelas-kelas masyarakat tani, buruh proletar, atau pedagang pengusaha maka ini hanya menarik keperluan segolongan masyarakat, mencari dukungan pada satu golongan untuk dipertentangkan dengan golongan lain. Tetapi, karena ia melihat bahwa masyarakat Indonesia terdiri kaum Marhaen, maka pemikirannya dapat menarik sekaligus semua golongan masyarakat yang didasarkan pada sintesa persatuannya, mempersatukan semua golongan-golongan kesukuan, semua agama dan semua keyakinan filsafat sosial. Meskipun sifatnya sederhana, konsep Marhaenisme adalah suatu pandangan yang peting, karena konsep ini mengungkapkan satu segi khusus dari masyaralkat Indonesia, bahwa perbedaan-perbedaan kelas bukanlah sumber perpecahan dalam susunan pergaulan hidup bangsa ini. Terlepas dari nilai kebenarannya yang sah, konsepsi Marhaenisme telah mempertajam pemahamannya tentang suatu Indonesia yang berbedabeda kebudayannya tetpi satu dalam perjuangan besar bersama di bawah kepemimpinanya. Pandangannya terhadap dunia luar juga nampaknya tidak banyak berubah. Sikap anti-imperialisme meskipun diselubungi dengan istilah-istilah baru, warna intinya tetap sama. Nekolim (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme) adalah istilah tahun 1960-an yang berasal dari istilah antiimperialisme pada tahun 1920, yang diciptakan agar cocok dengan situasi ketika penjajahan langsung sudah terlempar keluar, tetapi imperialisme dalam bentuk penguasaan ekonomi dari lingkungan pengaruh Barat masih berlaku. Pandangan lain dari perasaan yang serupa adalah konsep
83

perjuangan antara kekuatan-kekuatan yang sedang runtuh, kemudian diperas secara khas oleh Soekarno menjadi konsep Nefo melawan Oldefo. Inti konsep ini dijelaskan pertama kali oleh Soekarno pada sidang umum PBB bulan September 1960 dalam pidatonya yang berjudul Membangun Dunia Kembali . Dalam pidato itu diterangkan perbedaan anatara negerinegeri yang sedang tumbuh dan negeri-negeri tua yang sedang mempertahankan kekuasaannya yang sudah mapan. Soekarno secara cepat menggarap arti perpecahan Moskow-Peking yang membawa akibat-akibat berupa pengaruh yang berkepanjangan terhadap persekutuan-persekutuan internasional yang sedang berjalan, bahwa konflik dunia yang sebenarnya bukanlah perang dingin (dengan kemungkinan berdirinya kekuatan ketiga yang netral), tetapi disebabkan oleh imperialisme baju baru pada satu pihak dan nilai-nilai keadilan, persamaan dan kemerdekaan bagi rakyat-rakyat yang sudah sekian lama tertindas di dunia, pada pihak lain. Kepada negerinegerii yang sudah mapan ia kemukakan imperialisme belum mati. Banyak di antara Tuan-tuan dalam sidang ini tidak pernah mengenal imperialisme Tetapi saudara-saudara saya di Asia dan Afrika telah mengenal cambuk imperialisme. Mereka telah menderitanya, mereka mengenal bahayanya dan kelicikannya serta keuletannya. Di Beldrago, setahun kemudian pada konpernsi negara-negara Non-Blok yang juga disponsori Indonesia, Soekarno mengembangkan gagasan ini lebih lanjut, ia secara khusus menekankan pemakaian istilah Nefo, kekuatan-kekuatan baru yang sedang tumbuh, kekuatan-kekuatan yang sedang mempertahankan kekuasaannya yang sudah mapan, kekuatan yang bersifat menguasai. Keamanan dunia senantiasa terancam oleh Oldefo itu Antitesis Nefo-Oldefo dalam beberapa hal telah dirumuskan dalam pengertian bekas jajahan dan bekas penjajahnya yang sedapat mungkin mempertahankan kepentingan ekonominya dan kadang-kadang juga kepentingan politik dan militernya. Tetapi ini pun tidak bisa disimpulkan secara lengkap sebagai suatu keseluruhan. Ada unsur-unsur pembedaan antara yang kaya dan yang miskin kekuatan-kekuatan yang baru yang tumbuh, kata Soekarno, hanya memperingatkan negeri-negeri yang sudah melimpah-limpah kemakmurannya, bahkan mereka tidak mungkin terusmenerus bisa mengadakan penghisapan terhadap bangsa-bangsa yang dilanda kelaparan dan kemiskinan. Dalam pidato itu juga tersirat sekilas isyarat, bahwa konflik itu adalah antara negara-negara Sosialis dan kapitalis. Dalam pidato 17 Agustus tahun 1963, Soekarno mengumumkan bahwa negara-negara yang sedang tumbuh itu terdiri dari bangsa-bangsa Asia, bangsa-bangsa Afrika, bangsa-bangsa di Amerika Latin, bangsa-bangsa
84

sosialis, golongan-golongan progresif di negara-negara kapitalis.. Daya dorong konsep ini jelas terasa. Gagasan Nefo dan Oldefo bukan suatu teori ilmiah untuk menerangkan orde internasional, tetapi suatu kerangka pemikiran yang secara luas bersifat menggolong-golongkan yang dipakai untuk membeda-bedakan kawan dalam lawan dalam perjuangan yang berlangsung dalam tubuh orde internasional. Setidak-tidaknya, pemikiran ini mengemukakan, bahwa Soekarno, seperti sikapnya selama ini, tetap melihat dunia Barat sebagai musuh pokok Indonesia. Presiden Soekarno berbicara mengenai keharusan historis untuk menggabungkan semua kekuatan revolusioner di tengah suara-suara yang menginginkan dibubarkannya Partai Komunis Indonesia. Sebab aliran-aliran ini merupakan faktor-faktor obyektif dalam masyarakat Indonesia. Dan jika ingin terjadi perubahan dalam masyarakat, ketika aliran tersebut harus dipersatukan. Kata-kata Soekarno itu dengan jelas sekali mengingatkan akan Soekarno dari awal dasawarsa 1920-an, telah tampil ke depan sebagai pemimpin pergerakan Indonesia dengan kata-kata yang hampir sama. Jelaslah bahwa cara yang dipakainya untuk menangani masalah-masalah masyarakatnya sendiri yang majemuk, tidak pernah berubah. Demikian pula sikapnya terhadap musuh-musuh masyarakatnya itu, kolonialisme dan imperialisme. Dengan demikian, maka pesannya pun tak pernah berubah; di satu pihak, memerangi imperialisme sampai akhir, dan di lain pihak, membangun suatu tatanan baru dengan melebur ideologi-ideologi yang berbeda menjadi suatu keseluruhan yang harmonis. Cara pendekatan ini tidak terbatas pada situasi di Indonesia saja. Ia telah berjuang untuk memahkotai karya hidupnya dengan Canefo, Konperensi Kekuatankekuatan Baru, yang dijadwalkan untuk tahun 1966. Pada Nasakom Internasional itu - nama yang berulangkali ia gunakan untuk proyek ituia berharap dapat mempersatukan semua kekuatan anti-imperialis di dunia di bawah panjinya, dan setelah kemenangan final atas imperialis di dunia tanpa eksploitasi. Setelah Proyek Conefo dibatalkan, Soekarno merasa yakin bahwa ia merupakan kurban intrik-intrik imperialis dan bukan kurban kebijaksanaannya sendiri. Kendati bernapas pendek, Gerakan 30 September mempunyai dampak sejarah yang penting. Ia menadai awal berakhirnya masa kepresidenan Soekarno, sekaligus bermulanya masa kekuasaan Soeharto. Sampai saat itu Soekarno merupakan satu-satunya pemimpin nasional yang paling terkemuka selama dua dasawarsa lebih, yaitu sejak ia bersama pemimpin nasional lain, Mohammad Hatta, pada 1945 mengumumkan kemerdekaan
85

Indonesia. Ia satu-satunya presiden negara-bangsa baru itu. Dengan karisma, kefasihan lidah, dan patrotismenya yang menggelora, ia tetap sangat popular di tengah-tengah kekacauan politik dan salah urus perekonomian pascakemerdekaan. Soeharto menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) mendalangi Gerakan 30 September, dan selanjutnya menyusun rencana pembasmian terhadap orangorang yang terkait dengan partai itu. Tentara Soeharto menangkapi satu setengah juta orang lebih. Semuanya dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September. Dalam salah satu pertumpahan darah terburuk di abad keduapuluh, ratusan ribu orang dibantai Angkatan Darat dan milisi yang berafilisasi denganya, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dari akhir 1965 sampai pertengahan 1966. Dalam suasana darurat nasional tahap demi tahap Soeharto merebut kekuasaan Soekarno dan menempatkan dirinya sebagai presiden de facto (dengan wewenang memecat dan mengangkat dan mengangkat para menteri ) sampai Maret 1966. Pada bulan Maret 1967 Jenderal Soeharto dilantik sebagai penjabat Presiden. Kemudian pada bulan Maret 1968 posisi kepresidenan Presiden Soekarno secara pasti dicabut dan Jenderal Soeharto diangkat menjadi Presiden. Pada tanggal 21 Juni 1970, sesudah jatuh sakit selama waktu yang singkat, pukul tujuh pagi mantan Presiden Soekarno meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Pemerintah mengumumkan masa berkabung resmi selama satu minggu. Pada 22 Juni, jenazahnya yang diterbangkan ke Blitar, dimakamkan dengan upacara kenegaraan. Soekarno meninggal sebagai tahanan politik. Delapan tahun kemudian, satu windu menurut perhitungan orang Jawa, pembantu dekat Soeharto Jenderal Moertopo, pada kongres PDI tahun 1978 mengumumkan bahwa presiden akan memugarkan makam Soekarno di Blitar. Di pemakaman itu akan disemayamkan jenazah orangtua Soekarno dan diresmikan pada tanggal 6 Juni 1979, hari kelahiran Soekarno yang ke78. Setahun kemudian di Jakarta, di tempat di mana kemerdekaan diproklamasikan, didirikan sebuah tugu peringatan untuk proklamator Soekarno. Makam di Blitar dan tugu di Jakarta oleh sejumlah pengarang dianggap lampu hijau untuk kebangkitan kembali Soekarno. Timbullah sebuah arus penerbitan yang tidak bisa dihentikan mengenai Soekarno, yang tak lama kemudian mulai mengambil nada cerita kepahlawananyang kadar
86

kebenaran historisnya sangat rendah. Kenangan akan Soekarno yang berkembang menjadi mitos itu, tahun 1980-an menjadi aktual karena gambaran dia begitu berbeda dari penggantinya. Soekarno tidak hanya dilukiskan sebagai seorang boheminian dan pencinta wanita, tetapi juga sebagai seorang inteletual yang telah membuat ideologi-ideologi jamannya cocok untuk nasionalisme Indonesia. Dan ia juga dipuji sebagai seorang negarawan internasional, yang berani menentang PBB dan yang dengan ucapan legendarisnya Go to hell with your aid, berani menentang Amerika Serikat. Tetapi Soekarno terutama dipuja sebagai seorang orator dan pemimpin yang berkharisma, yang bersatu dengan bangsanya. Ini semua kontras dengan Soeharto, seorang bapak kepala keluarga yang pendiam, menjaga jarak, tidak berdarah seni dan anti-intelektual. Untuk sebagian pembentukan mitos sekitar Soekarno juga terjadi karena presiden Soekarno meninggal dalam keadaan miskin itu tidak pernah berusaha untuk memperkaya dirinya atau keluarganya. Ini sebuah serangan yang hampir terang-terangan atas penggantinya. Sampai saat itu tuduhantuduhan korupsi hanya diarahkan kepada para penasehat Soeharto. Tetapi sepanjang tahun 1980-an yang menjadi sasaran adalah istri presiden, Siti Hartinah. Orang-orang Jakarta curiga bahwa istri Soeharto ingin menjadikan kepresidenan suaminya sebuah dinasti kesultanan demi keturunannya yang ambisius; beberapa diantaranya sudah memasuki dunia bisnis. Nama Orde Baru yang diberikan Soeharto kepada pemerintahannya, mengandaikan suatu pemisahan radikal dari Orde Lama ; itu sebutan yang diberikan kepada pemerintahan Soekarno, Soekarno meneruskan Demokrasi Terpimpin pendahulunya. Ia berhasil menyempurnakan pemerintahan otokratis, sesuatu yang tidak berhasil dilakukan oleh Soekarno. Unsur yang baru Adalah bahwa Orde Baru mencurahkan seluruh energinya dalam pembangunan ekonomi negara. Presiden Soeharto menanggap stabilitas politik sebagai syarat dasar kebijakan pembangunanya Untuk menjamin stabilitas ia menggunakan hampir semua unsur Demokrasi Terpimpin Soekarno. Jadi, ia juga mempertahankan Undang-Undang Dasar 1945 yang tahun 1959 oleh Soekarno dipulihkan kembali, karena sistem presidensial dari konsitusi ini menjamin sebuah eksekutif yang maha kuasa. Yang tidak berhasil dilakukan oleh Soekarno, yaitu membuat partai-partai membiarkan dirinya dikubur dan meleburkan golongan-golongan fungsional dalam sebuah Front Nasional, oleh Soeharto dilakukan dalam waktu yang singkat. Sesudah pemilihan umum pertama di bawah
87

kekuasannya, di tahun 1971, partai-partai yang masih tersisa dari jaman Soekarno, dengan menurut berlebur dalam dua fusi partai yang dikontrol pemerintah Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. Para wakil dari sekitar 200 kelompok fungsional dalam parlemen dan Majelis Permusyawaratan Rakyat oleh Soeharto dihimpun dalam Golkar. Golkar ini bersifat front nasional yang tidak berhasil didirikan Soekarno. Dwi fungsi militer dan politik angkatan bersenjata dari jaman Soekarno, tetap dipertahankan dan malah dituangkan dalam undang-undang. Memang benar bahwa tidak ditetapkan secara resmi bahwa dwi-fungsi itu sebenarnya tri-fungsi, tetapi fungsi ketiga angkatan darat adalah bahwa ia tetap mempunyai pengaruh ekonomis. Pemerintah militer bayangan dari zaman Nasution hidup kembali dengan jangkauan sampai ke tingkat kampung dan desa. Para perwira yang masih dinas aktif memang tidak dilibatkan dalam proses kebijakan politik, tetapi pengabdian mereka kepada kebijakan pembangunan ekonomi dan, agar bisa mencapai tujuan ini, stabilitas politik sangat besar karena mereka berangsur-angsur lebih bisa menikmati hasilhasil perkembangan ekonomi itu. Kendati Soekarno telah lama meninggalkan kita, ingatan tentang Soekarno tetap hidup di kalangan massa Indonesia yang dicermin oleh dukungan bagi putrinya. Terpilihnya Megawati Soekarnoputri secara mengejutkan sebagai Ketua Umum PDI pada 1993. Soeharto yang selalu takut akan hantu Soekarno, menyadari bahwa penghormatan terhadap presiden pertama itu masih terus mengilhami golongan rakyat miskin. Megawati Soekarnoputri dengan cepat muncul sebagai simbol oposisi, menarik kekaguman rakyat maupun dukungan suatu koalisi intelektual liberal, mahasiswa radikal, dan aktivis buruh. Ada pengharapan yang sangat tinggi bahwa PDI akan memenangi bagian besar suara dalam pemilihan 1997 dan bahwa Megawati Soekarnoputri akan menantang Soeharto untuk kursi kepresidenan dalam Sidang Umum MPR pada 1998. Bagaimana pun semua ini terlampau banyak bagi pemerintahan Soeharto, yang mendukung kongres tandingan pada 1996, dan dalam kongres itu Soerjadi yang sudah dikalahkan Megawati Soekarnoputri pada 1993, dinaikkan lagi sebagai ketua umum. Menolak mengakui kepemimpinan Soerjadi, para pengikut Megawati Soekarnoputri menduduki kantor pusat PDI di kawasan elite Jakarta Pusat yang rindang, mendirikan di luarnya suatu mimbar bebas, tempat orang-orang sehari-hari berorasi untuk mengecam pemerintah. Menyadari popularitas Megawati Soekarnoputri di
88

Jakarta yang padat penduduknya ini, pihak penguasa enggan bertindak, membiarkan pendudukan kantor pusat PDI itu berlangsung selama beberapa pekan, dengan keabsahan rezim yang tersisa terus mengalami kemerosotan dengan cepat, pihak penguasa memutuskan mengambil alih gedung itu dengan kekerasaan. Pada 27 Juli 1996 tentara dan preman bayaran melancarkan serangan frontal yang menewaskan sejumlah pendukung PDI dan memicu kerusahan serius di Jakarta. Kendati Soeharto terpilih secara aklamasi sebagai presiden untuk masa jabatan lima tahun berikutnya pada bulan Maret 1998, krisis ekonomi yang terjadi, merosotnya kepercayaan terhadap Soeharto dan penembakan yang menyebabkan kematian empat mahasiswa dalam suatu demontrasi di Universitas Trisakti yang bergengsi di Jakarta, telah menyebabkan kekerasan yang mengguncang ibu kota. Setelah lebih banyak protes massal, yang memuncak pada pendudukan lima hari kompleks gedung MPR/DPR oleh para mahasiswa dan pekerja, pada 21 Mei 1998 Soeharto akhirnya bersedia mengundurkan diri. Pemilihan umum yang bebas pada 7 Juni 1999 itu, dimenangkan PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri. Tetapi partainya tidak mampu memenangi suatu mayoritas mutlak, yaitu hanya meraih 153 kursi dari 500 anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Golkar mendapat 120 kursi. PPP, PKB dan PAN masing-masing dengan 58, 51 dan 34 kursi. Setelah banyak berunding di luar sidang, partai-partai yang berbasis Islam berkoalsi dengan elemen-elemen dari Golkar untuk mengalahkan Megawati, yang oleh sejumlah kalangan ditakuti akan memajukan agenda nasionalis sekuler dengan mengorbankan Islam. Sebagai gantinya mereka Abdurrachman Wahid, yang diangkat sebagai presiden pertama Indonesia yang dipilih secara demokratis pada 20 Oktober 1999. Megawati Soekarnoputri sangat kecewa dengan apa yang dianggap sebagai pengkhianatan Abdurrachman Wahid, tetapi ia menerima posisi sebagai wakil presiden. Namun demikian, ia tidak harus menunggu lama karena Wahid segera mengasingkan koalisi yang telah mengantarkannya ke tampuk kekuasaan dan menyebabkan mereka berusaha mendepaknya. Dengan dukungan suara 11 persen di DPR, Abdurrachman Wahid terpaksa menghabiskan sebagian energi untuk mempertahankan posisinya. Hal ini terutama berlangsung dari pertengahan 2000, ketika ia diyang-bayangi ancaman impeachment atas dua dakwaan korupsi yang relatif kecil. Kisah impeachment yang sangat menyakitkan akhirnya berlangsung pada 23 Juli
89

2001 ketika Wahid dicopot dari jabatannya dan Megawati yang bersukacita disumpah sebagai presiden yang ke-5. Presiden Megawati Soekarnoputri memelihara warisan politik ayahnya. Ia memulihkan kembali dwi fungsi ABRI agar bisa mengandalkan dukungan angkatan bersenjata dan menunjukkan sikap alergis terhadap semua yang bisa dianggap merongrong negara kesatuan Republik Indonesia yang diumumkan Soekarno. Ia kembali mengirim pasukan ke Aceh untuk menghajar GAM dan meblokir undang-undang yang harus mewujudkan janji Abdurrachman Wahid kepada suku Papua untuk optonomi. Ia memperingatkan MPR yang masih tetap memperjuangkan reformasi, bahwa ia tidak akan menerima sebuah bentuk perubahan dari sistem presidensil menjadi sistem parlementer. Megawati Soekarnoputri mencoba untuk mengimbangi kekurangan karismanya, yang menjadi andalan ayahnya, dengan menampilkan diri sebagai Ibu Tanah Air. Namun rakyat jelata atau wong cilik, yang begitu mengharapkan putri Soekarno, tidak mengalami perbaikan nasib. Megawati tidak bisa menyembuhkan krisis ekonomi yang terus berlanjut dan tidak menepati janjinya untuk menindaki korupsi dengan tegas. Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri dan Sukmawati Soekarnoputri saling bersaing dalam Pemilu 2004. Masing-masing berkibar di bawah panji-panji Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Pelopor (PP) dan Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme). PDIP merupakan kelanjutan tak terpisahkan dari PDI yang didirikan pada 10 Januari 1973. Lahirnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) tidak bisa dilepaskan dari konflik yang terjadi di dalam tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan menguatnya sosok Megawati Soekarnoputri di panggung politik. Pada tanggal 1 Februari 1999, PDI pro Mega (yang berseberangan dengan PDI pro Soerjadi yang didukung oleh pemerintah Soeharto) akhirnya membentuk sebuah partai baru. Partai Pelopor didirikan pada tahun 2002. Sejak pendiriannya banyak kalangan telah melihat Partai Pelopor memiliki potensi untuk tumbuh menjadi kekuatan oposan terhadap pemerintah Presiden Megawati Soekarnoputri. Maklumlah, Rachmawati Soekarnoputri dikenal sebagai tokoh yang kritis dan vokal dalam mengkritisi jalannya pemerintahan. Sikapnya ini tak jarang membuat dirinya berhadapan langsung dengan pemerintahan kakaknya itu. Salah satu sikap oposisi di yang ditujukan Partai
90

Pelopor adalah ketika pada awal 2003 partai ini bersama dengan berbagai elemen mahasiswa, pemuda, buruh, dan lembaga swadaya masyarakat menjadi salah satu dari 36 elemen Gerakan Oposisi Nasional, yang menyeruhkan pembubaran eksekutif-legislatif, serta pembentukan pemerintah transisi bernama Pemerintahan Sipil Demokratik. Munculnya Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme) tak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya PNI di Indonesia dan kiprah Soekarno di dalam mendirikan PNI. Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan oleh Soekarno dan kawan-kawan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung. Partai ini menganut ajaran Marharnisme yang diperkenalkan oleh Soekarno sebagai asas utamanya. Marhaen merupakan sebutan yang dibikin Soekarno untuk menyebutkan kaum melarat dan sengsara. Lebih lanjut Soekarno menjelaskan marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalamnya segala halnya menyelamatkan marhaen, dengan perjuangan revolusioner. Marhaenisme harus mampu menjebol stelsel kapitalisme dan imperialisme sampai ke akarakarnya. Marhaenisme menurut versi Soekarno ini adalah asas dan cara perjuangan menuju pada hilangnya kapitalisme dan kolonialisme. Meningkatnya aktivitas politik yang kian marak pada tahun 1930-an, telah membuat pemerintah Hindia Belanda mengambil keputusan untuk melumpuhkan partai-partai politik dan menangkap pemimpinnya. Pada akhir April 1931, PNI dibubarkan dan kemudian didirikan Partai Indonesia ( Partindo) sebagai gantinya ketika Soekarno di penjara. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tanggal 29 Januari 1946 di Kediri, PNI kemudian didirikan lagi. Dalam Pemilu 1955, PNI unggul di tingkat nasional dan menang di posisi pertama dengan mengantongi 22.3 persen suara. Setelah Pemilu 1971, oleh pemerintah Soeharto, PNI bersama partai lain dilebur menjadi satu partai yaitu Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1973. Setelah Soeharto jatuh, berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1998, PNI dihidupkan kembali dan ikut pemilu 1999 dengan nama PNI Supeni. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002, partai yang tidak lolos dalam Pemilu 1999 bisa ikut Pemilu 2004 dengan memakai nama baru. PNI lalu memakai nama baru PNI Marhaenisme Tampilnya tiga putri Soekarno telah menimbulkan pertanyaan apakah ini fenomena kebangkitan Soekarno dan Soekarnoisme? PNI Marhaenisme mendasarkan pada marhaenisme ajaran Soekarno, dan berkeinginan
91

mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana diucapkan Soekarno pada hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945. Kendati Partai Pelopor tidak menjelaskan azasnya adalah Marhaenisme. Tetapi Partai Pelopor ingin meluruskan kembali mengenai ajaran Soekarno. Sebab saat ini banyak kalangan yang mengaku nasionalis menjual simbol-simbol nasionalis dan marhaenis, termasuk foto-foto Soekarno, sementara tidak tahu apa yang harus diperbuat sebagai seorang nasionalis.Rachmawati optimis, Partai Pelopor akan memperoleh dukungan rakyat kecil karena mendasari perjuangan pada ajaran Soekarno. Keberpihakan pada rakyat merupakan jawaban atas persoalan bangsa. Menurut Partai Pelopor, pembangunan itu tidak berarti hanya menekankan bidang materi dan kebendaan, tetapi seperti yang dicanangkan Soekarno, yaitu juga menekankan character dan nation building. Pandangan yang mengutamakan kemandiran ini tampak jelas dalam sikap Partai Pelopor yang menolak ketergantungan ekonomi pada lembaga dana internasional. Partai ini mencita-citakan pembangunan ekonomi nasional yang berdikari, seperti yang dianut Soekarno. Menurut partai ini, ketergantungan ekonomi Indonresia pada lembaga dana internasional jelas bertentangan dengan misi Partai Pelopor yang menghendaki pembangunan nasional yang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Beberapa pokok dari ajaran mendiang Soekarno seperti yang tertuang pada konsep Trisakti ( berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam bidang kebudayaan tampaknya memang menjadi platform Partai Pelopor. PDI Perjuangan berkehendak mempertahankan bentuk negara NKRI dan Pancasila secara konsekuen, sementara paham Soekarnoisme tidak lagi ditonjolkan. Di samping itu, ada dua partai yang mendukung bendera Soekarno. Partai Nasional Banteng Kemerdekaan dan Partai Penegak Demokrasi Indonesia. Partai Nasional Bung Karno didirikan pada tanggal 25 Juli 2002, setelah Eros Djarot tersingkir untuk menjadi kandidat Ketua Umum PDI Perjuangan dalam Kongres I PDI Perjuangan pada tanggal 12 Juni 2000. Pada tanggal 25 Juli 2002, ia mendekalarsikan berdirinya Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK). Dengan niat untuk melestarikan ideologi Soekarno. PNBK bertujuan membangun sosialisme Indonesia. Dalam pidato politiknya, Eros Djarot menegaskan, penggunan nama Bung Karno bukan dimaksudkan untuk melestarikan dinasti Soekarno. PNBK hanya ingin melestarikan ajaran-ajaran Soekarno yang tidak banyak dipahami orang dan masih banyak yang tidak diimplementasikan. Menurut Eros Djarot, PNBK, selain bercita92

cita untuk menerapkan ajaran-ajaran Soekarno seperti Marhaenisme, juga ingin membangun masyarakat yang adil dan bahagia berdasarkan sosialisme Indonesia. Namun, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang partai politik tidak memperkenankan penggunaan nama tokoh nasional sebagai nama partai, sehingga partai ini lalu mengubah namanya menjadi Partai Nasional Kemerdekaan (PNBK) Seiring dengan kemenangan PDI perjuangan dalam Pemilu 1999, kiprah PDI versi Soerjadi yang dipimpin Boedi Hardjono cenderung kian terkucil. Puncaknya terjadi saat Pemilu 1999, ketika akhirnya PDI gagal mencapai electoral threshold. PDI hanya mampu meraih 0,62 persen suara pemilih nasional atau sepadan dengan 2 kursi legislatif. Oleh karena itu, dalam mengikuti Pemilu 2004, PDI harus dengan identitas dan nama yang baru. Partai Penegak Demokrasi Indonesia. Sebagai partai demokrat yang banyak menyarikan ajaran Soekarno, Misi Partai PDI mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila dan UUD 1945. Partai PDI menawarkan nasionalisme dalam paham sebagai taman sarinya internasionalisme. Sebuah rasa kebanggan yang terbuka namun tetap percaya diri dan bangga dengan milik sendiri. Jika kita percaya pada acuan Robert Frost, bahwa sebuah bangsa menyatakan dirinya bukan oleh orang-orang yang dilahirkan, melainkan oleh orang-orang yang dihormatinya dan dikenangnya. Soekarno tetap punya daya jual yang tinggi. Tetapi, di dalam teori marketing, selalu ada sebab-akibat timbal-balik antara apa yang dijual dan siapa yang menjual. Membicarakan Soekarno pada sebuah era yang makin rasional, sudah tidak relevan lagi dalam konteks kebangkitam atau kebangkitan kembali. Soekarno sang Bapak Bangsa akan tetap di sana, dan sosoknya terlalu besar untuk kostum ideologi apa pun, termasuk Marhaenisme dan Soekarnoisme. Ia lebih merujuk pada suatu cita-cita yang di bawah pemerintahan putri sulungnya terasa tetap jauh di ufuk harapan.

93

Biografi ini adalah riwayat hidup dari seorang pahlawan proklamator. Dengan begini, kita tidak dalam keadaan berhadapan dengan Apa yang dikerjakan ? dan bukan pula hanya mengenai pergumulannya dengan nasib serta perjuangannya untuk mencapai cita-cita, tetapi juga dan tidak kurang pentingnya, struktur kontekstual yang dihadapi pemangku peran itu. Oleh karena itu, melalui biografi yang hanya merupakan sebagian dari keseluruhan sejarah, kita dimungkinkan juga memahami dinamika perjalanan bangsa, sejak awal gagasan-gagasan nasionalisme bertumbuh sampai sekarang. Sebagai sejarah, dari biografi pun kita tidak hanya akan mendapat sekadar hiburan di kala sedang menanti seseorang, tetapi juga pengetahuan tentang perjalanan bangsa serta kearifan dari pengelana dalam dimensi waktu. Bagaimana kehadiran sebuah biografi yang tebal di tangan Anda ? Biografi ini pasti mengundang pendapat dan tafsir dari dalam sebagai bahan dialog terbuka yang tidak akan berhenti, untuk kejelasan memahami proses berbangsa dengan kesadaran dan tanggung jawab. Anda akan diajak untuk terbang bertualang ke dalam perjalanan seorang anak manusia dengan lingkungan yang mengitarinya. Selamat jalan dan jangan lupa kembali!

94

Bibliografi Abdullah, Taufik, Sukri Abdurrachman dan Restu Gunawan (ed) Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional. Bagian I Rekontruksi dalam Perdebatan. Jakarta : Pustaka Obor Indonesia. Alfian. 1978. Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia. Jakarta : PT Gramedia. Alfian. 1980. Politik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia. Jakarta : LP3ES. Bouchier, David dan Vedi R Hadiz(ed) 2006. Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia. Periode 1965 1999. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti. Brands, H.W. Limits of Manipulation. How the United States Didnt Topple Sukarno, The Journal of American History, 76, December 1989, Hlm. 785 808. Brooks, Karen, The Ghost : Bung Karno in the New Order, Indonesia, No. 60 ( October ), 1985, Hlm. 61 99.
95

Brown, Colin, Sukarno on the Role of Women in the Nationalist Movement, Review of Indonesian and Malayan Affaris, 15, 1, 1981, Hlm. 68 92 . Dahm, Bernhard. 1987. Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan. Jakarta : LP3ES. Dake, Antonie C.A. Sukarno File. Berkas-berkas Soekarno 1965 1967. Kronologi Suatu Keruntuhan. Jakarta : Karrunia Aksara. Federspiel, Howard, Sukarno dan Apolog-Apolog Muslimnya, Ulumul Quran 7, Vol. II, 1990, Hlm. 36 43. Giebels, Lambert J. Pembantaian yang ditutup-tutupi. Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno. Jakarta : Grasindo. Hauswedell, Peter Christian, Sukarno : Radical or Conservative ? Indonesia Politic 1964 1965, Indonesia, No. 15 (April), 1973, Hlm. 109 143. Hering, Bob. Soekarno : The Man and the Myth : Looking Through a Glass Darkly, Modern Asia Studies,26,3 (1992), Hlm. 495 506. Hering, Bob. Nogmaals De Vier Brieven van Ir Soekarno, Bijdragen Tot De Tall-,Land En Volkenkunde, Deel,1989, Hlm. 281 293. Huseein-Joufroy, Anne-Marie, Let Mots Merdeka et Revolusi Chez Sukarno. Etude de Vocabulaire Politique Indonesin, Archipel 12 ( 1976 ), Hlm. 47 77. Ingleson, John. 1983. Jalan Ke Pengasingan. Pergerakan Nasionalis Tahun 1927 1934. Jakarta : LP3ES, Kapitsa MS & Maletin NP. 2009. Soekarno : Biografi Politik . Bandung : Ultimus. Kurasawa, Aiko. Bung Karno Di Bawah Bendera Jepang, dalam St Sularto (ed). 2001. Dialog dengan Sejarah Seratus Tahun Soekarno . Jakarta : Penerbit Kompas. Hlm. 92 105.

96

Kwantes, RC, Ir Soekarnos Vier Brieven, Bijdragen Tot De Tall-, Land-En Volkenkunde, Dell 143, 1987, Hlm. 293 311. Konspirasi Mazhab Ekonomi, Gatra No 21 Tahun XI 23 April 2005. Hlm. 133 146 . Labrouse, Pierre, The Second Life of Bung Karno. Analysis of the Mtyh (1978-1981), Indonesia, No.59 (April) 1993 (1994), Hlm. 175 196. Legge, John D. 1985. Sukarno Sebuah Biografi Politik. Jakarta : Sinar Harapan. McIntyre, Angus. 1993.Indonesian Political Biography : In Search of CrossCultural Understanding, Clayton : Centre of Southeast Asia Studies Monas University, Hlm. 161 209. McVey, Ruth. Introduction. The Management of Idelogical , dalam Sukarno. 1969. Nasionalism, Islam and Marxism. Ithaca NY : Cornell University Modern Indonesia Project Translation Series. Nishihara, Masahi. 1993. Sukarno, Ratnasari Dewii & dan Pampasan Perang. Hubungan Indonesia Jepang, 1951- 1966. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti. Paget, Roger K (ed). 1975. Indonesia Accuses! Soekarnos Defence Oration In the Political Trial of 1930. London : Oxford University Press. Politik Luar Negeri dan Dilemma Ketergantungan. Dari Sukarno sampai Soeharto, Prisma, No 9, September 1977, Tahun VI, Hlm. 75 87. Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal. Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto. Jakarta : ISSI dan Hasta Mitra. Sekretariat Negara Republik Indonesia. 1994. Gerakan 30 September : Pemberontakan Partai Komunis Indonesia : Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya. Jakarta : Sekneg RI . Sophian, Manai. 1994 Kehormatan Bagi Yang Berhak : Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI. Jakarta : Yayasan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.
97

Sukarno vs Sukarno, Tempo, Edisi 15 21 Desember 2003. Hlm. 24 37. Sundhaussen, Ulf , Bung Karno dan Militer , dalam St Sularto (ed) .2001. Dialog dengan Sejarah. Soekarno Seartus Tahun. Jakarta : Penerbit Kompas, Hlm. 249 260. Tim Litbang Kompas.2009. Partai-Partai Politik Indonesia . Ideologi dan Program 2004 2009. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Tornquist., Olle. 2011. Penghancuran PKI. Jakarta : Komunis Bambu.

98