Anda di halaman 1dari 37

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar belakang Kasus abortus dapat terjadi dimana saja dan kapan saja baik dinegara yang sudah maju maupun Negara sedang berkembang.1 Aborsi merupakan masalah kesehatan masyarakat
karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Namun sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis (Gunawan, 2000).

Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas dimana masa gestasi belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500 gram. Secara hukum abortus berarti tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin sebelum waktu kelahiran tanpa melihat usia kandungannya. 1,2 Abortus dapat terjadi secara alami (spontaneus), dapat pula terjadi kaerna dibuat atau disengaja (abortus provokatus).1 Pengguguran kandungan dapat dibedakan kepada definisi menurut hukum dan definisi menurut medis. Definisi pengguguran kandungan berdasarkan hukum adalah keluarnya bayi dari rahim ibunya sebelum saatnya dilahirkan. Secara medis, pengguguran kandungan didefinisikan sebagai janin yang belum layak hidup di luar rahim ibu yaitu kurang dari 20 minggu atau kurang dari 1000 gram. Yang dianggap penting adalah bahwa sewaktu pengguguran kehamilan dilakukan, kandungan tersebut masih hidup. Kasus abortus di Indonesia jarang diajukan ke pengadilan, karena pihak si ibu yang merupakan korban juga sebagai pelaku sehingga sukar diharapkan adanya laporan abortus. Umumnya kasus abortus diajukan ke pengadilan hanya bila terjadi komplikasi (si ibu sakit berat/mati) atau bila ada pengaduan dari si ibu atau suaminya (dalam hal izin). Abortus atau pengguguran kandungan selalu menjadi permasalahan dari masa ke masa. Dari segi kesehatan secara alami terjadi keguguran pada 10 15 % kehamilan. Di lain pihak ada keadaan yang memaksa pengguguran kandungan yang harus ditempuh (provokasi) untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil, tetapi banyak pula pengguguran dilakukan bukan untuk tujuan ini. Yang terakhir inilah yang menjadi permasalahan karena dalam pandangan masyarakat, hukum dan agama tindakan abortus bertentangan dengan kaidah yang baik.3 Abortus buatan, jika ditinjau dari aspek hukum dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni : Abortus buatan legal dan Abortus buatan illegal. Abortus buatan illegal yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain dari pada untuk menyelamatkan / menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi
1

syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis, karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Abortus kriminalis adalah tindakan pengguguran yang sengaja dilakukan untuk kepentingan si pelaku, orang hamil dan yang membantu. Pemeriksaan forensik pada kasus abortus provokatus kriminalis bertujuanmencari bukti dan tanda kehamilan, mencari bukti abortus dan kemungkinanadanya tindakan kriminal dengan obat-obatan atau instrumen dan menentukankaitan antara sebab kematian dengan abortus.1 Dokter dapat diminta bantuannya oleh penyidik untuk memeriksa kasusabortus provokatus tersebut. Dengan demikian seorang dokter sangat perlumembekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai tentang aspek pengetahuan forensik dari suatu abortus provokatus kriminalis.1 1.2 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memahami tentang abortus kriminalis, aspek hukum, dan medikolegal abortus kriminalis, serta pemeriksaan forensic pada kasus abortus kriminalis.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Skenario Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di sebuah Rumah Sakit tipe B. Seorang anggota polisi membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya sebagai botol dari sebuah alat suction curret milik seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa dokter tersebut disangka telah melakukan pengguguran kandungan yang illegal dan didalam botol tersebut terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction. Polisi menerangkan dalam surat keterangannya, bahwa darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga perempuan yang ssat ini sedang diperiksakan ke Bagian Kebidanan di Rumah Sakit anda. Penyidik membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan apakah benar telah terjadi pengguguran kandungan dan apakah benar bahwa ketiga perempuan yang sedang diperiksa di kebidanan adalah perempuan yang kandungannya digugurkan oleh dokter tersebut. Hasil pemeriksaan tersebut penting agar dapat dilanjutkan ke proses hokum terhadap dokter tersebut. Anda tahu bahwa harus ada komunikasi antara anda dengan dokter kebidanan yang memeriksa perempuan-perempuan diatas, agar pemeriksaan medis dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi penyidikan dan penegakan hukum. 2.1.1 2.1.2
melakukan pengguguran kandungan ilegal dengan Seorang dokter disangka telah

Identifikasi istilah yang tidak di ketahui Rumusan masalah

barang bukti botol suction berisi darah dan jaringan

Seorang dokter telah melakukan pengguguran kandungan ilegal. GDP Terdapat botol suction berisi darah dan jaringan yang diduga berasal 140/mgdL, dariGD 2 jam pengguguran kandungan tiga perempuan. 2.1.3
PP Analisis masalah 230mg/dL. Aspek Hukum Nyeri tekan betis.
Prosedur medikoleg al

Aspek Etik

Fisik Umu m Ginekolo Ibu Dara

BAK tidak lampias, pancaran air kencing semakin lemah

Pemeriksa an Medis

Laboratoriu m

riwayat pemasanga n kateter.


Interpretasi Hasil ana k

VeR

Jaringa

2.1.4

Hipotesis Seorang dokter telah melakukan penguguran kandungan ilegal.

2.2 Aspek Hukum Dalam pasal mengenai pengguguran tidak disinggung tentang umur anak dalam kandungan, ini berarti pengguguran dapat dilakukan sejak dari saat pembuahan sampai anak hampir dilahirkan. Anak yang digugurkan tidak perlu selalu mati setelah keluar dari rahim, ini dapat terjadi bila pengguguran dilakukan pada kandungan 28 minggu. Yang menerima hukuman adalah: 1. Ibu yang melakukan aborsi 2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi.
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi.

Berdasarkan UU No 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan: Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: a.Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan; atau
b.

Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologik

bagi korban perkosaan.4


(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui

konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.4
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana

dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.4 Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki ketrampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; d. Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 77

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundangundangan. Dari undang-undang tersebut jelas bahawa segala tindakan aborsi dilarang kecuali pada keadaan tertentu seperti terdapatnya indikasi medis dan jika kehamilan tersebut merupakan hasil perkosaan. Berdasarkan KUHP: Wanita yang menggugurkan kandungan KUHP Pasal 341 Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. KUHP Pasal 342 Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. KUHP Pasal 343 Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. KUHP Pasal 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.4 Dokter yang melakukan dan lain-lain yang terlibat Pasal 229 1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.

2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka dapat

dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. 4 Pasal 347 1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara

paling lama lima belas tahun. 4 Pasal 348 1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara

paling lama tujuh tahun. 4 Pasal 349

Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan.4 Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan: Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain, diancam hukuman empat tahun. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu hamil itu mati diancam 15 tahun Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.

Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter, bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan hak untuk praktek dapat dicabut. Berdasarkan UU RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan: Pasal 15 1. Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. 2. a) Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu,ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. b) Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. c) Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat diminta dari semua atau keluarganya. d) Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah. 3. Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan, sarana kesehatan yang ditunjuk. 7,8 Pasal 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 7,8 Berdasarkan HR: HR 1 November 1897

Pengguguran dalam kandungan hanya dapat dipidana apabila pada waktu perbuatan itu dilakukan, kandungannya hidup. Undang-undang tidak mengenal suatu dugaan hukum menurut hukum, darimana dapat disimpulkan bahwa ada kehidupan atau kepekaan hidup.4 HR 12 April 1898 Untuk pengguguran yang dapat dihukum vide pasal-pasal 346 348 KUHP disyaratkan bahwa kandungan ketika perbuatan dilakukan masih hidup dan adalah tidak perlu bahawa kandungan itu mati karena pengguguran. Keadaan bahwa anak itu lahir hidup, tidak menghalangi bahwa kejahatan telah selesai dilakukan. Undang-undang tidak membedakan antara tingkat kehidupan kandungan yang jauh lebih kecil, akan tetapi mengancam dengan hukuman pengguguran yang tidak tepat.4 HR 20 Desember 1943 Dari bukti-bukti yang dipakai oleh Hakim dalam keputusannya haris dapat disimpulkan bahwa wanita itu mengandung kandungan yang hidup dan bahwa terdakwa mempunyai niat dengan sengaja menyebabkan pengguguran dan kematian.4

2.3 Aspek Etik Profesi Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran kandungan (abortus provokatus). Tindakan abortus provocatus juga melanggar etika profesi kedokteran yang dinyatakan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia Pasal 7d yang menyatakan Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajipan melindungi hidup makhluk insani. Segala perbuatan dokter terhadap pasien bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaannya. Dengan sendirinya ia harus mempertahankan dan memelihara kehidupan manusia. Ini berarti bahwa baik menurut agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan: a. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus).

b. Mengakhiri hidup seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia). Sudah banyak buah pikiran dan pendapat tentang abortus provocatus yang diumumkan oleh berbagai ahli dalam berbagai macam bidang seperti agama, kedokteran, sosial, hukum, eugenetika dan sebagainya. Ikatan Dokter Indonesia sendiri telah mengadakan simposium tentang abortus yang meninjau masalah dari berbagai sudut. Pada umumnya, setiap negara mempunyai undang-undang yang melarang abortus provokatus. Abortus provokatus dapat dibenarkan sebagai pengobatan, apabila merupakan satusatunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus provocatus therapeuticus). Dalam Undng-Undang No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan, diperjelas tentang hal ini. Indikasi medik ini dapat berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran. Beberapa penyakit seperti hipertensi, tuberkulosis dan sebagainya tidak lagi dijadikan indikasi untuk melakukan abortus. Sebaliknya, ada pula negara yang membenarkan indikasi sosial, humaniter dan eugenetik, seperti misalnya di Swedia dan Swiss yaitu bukan semata-mata untuk menolong ibu, melainkan juga mempertimbangkan demi keselamatan anak, baik jasmaniah maupun rohaniah. Keputusan untuk melakukan abortus provocatus therapeuticus harus dibuat oleh sekurang-kurangnya dua dokter dengan persetujuan tertulis dari wanita hamil yang bersangkutan, suaminya dan atau keluarganya yang terdekat. Hendaknya dilakukan dalam suatu rumah sakit yang mempunyai cukup sarana untuk melakukannya. Menurut penyelidikan, abortus provocatus paling sering terjadi pada golongan wanita bersuami, yang telah sering melahirkan, keadaan sosial dan keadaan ekonomi rendah. Ada harapan abortus provocatus di kalangan wanita bersuami ini akan berkurang jika program keluarga berencana sudah dipraktekkan dengan tertib. Setiap dokter perlu berperan serta untuk membantu suksesnya program keluarga berencana ini. Pasal-pasal yang disusun dalam Kodeki berbunyi seperti berikut; 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. 2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar tertinggi.

3. Dalam melaksanakan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. 4. Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. 5. Setiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. 6. Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat. 7. Setiap dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. 7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih saying (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. 7b. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien. 7c. Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien. 7d. Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. 8. Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyrakat yang sebenar-benarnya.

9. Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati. 10.Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mepergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. 11.Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. 12.Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. 13.Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. 14.Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia ingin diperlakukan. 15.Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis. 16.Setiap dokter harus memelihara kesehatannya supaya dapat bekerja dengan baik. Setiap dokter harus senantiasa mengikuti pekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan. 2.4 Prosedur Medikolegal Prosedur medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.7 Aspek medikolgeal termasuk : a. Pengadaan visum et repertum,

b. Tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka c. Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan d. Kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran e. Tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik f. Tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik. Prosedur medikolegal yang dilakukan pada kasus ini adalah : 1. Pelaporan 2. Penyelidikan 3. Penyidikan 4. Pemberkasan perkara 5. Pengadilan 6. Vonis dari hakim Kewajiban dokter membantu peradilan Pasal 120 KUHAP 1. Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus.
2. AhIi tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa

ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta. 4 KUHAP Pasal 133 Pasal 133 KUHAP 1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia

berwenang mengajukan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2) Permintaan keterangan ahli sebagaimanan dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebut dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. 4
3) Mayat yang dikirim kepada ahli lekdokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit

harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan bterhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. 4 Pasal 134 KUHAP 1. Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. 2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak

yang diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. 8 Pasal 179 KUHAP 1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. 8 Sanksi bagi pelanggar kewajiban dokter Pasal 216

1. Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undang- undang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda puling banyak sembilan ribu rupiah. 2. Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya

atau untuk sementara waktu diserahi tugas

pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga. 5 Pasal 222

Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 5

Pasal 224 Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam: 1.
2.

dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan; dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan. 5

Pasal 522

Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. 5

Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli

Pasal 120 KUHAP 1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. 2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta. KUHAP Pasal 168 Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar keterangannya dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi: a. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa b. Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anakanak saudara terdakwa sampai derajat ketiga
c. Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai

terdakwa. 4 KUHAP Pasal 170 (1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka
(2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.4

Bentuk Bantuan Dokter bagi Peradilan dan Manfaatnya

Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperolah keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. KUHAP Pasal 184 (1) Alat bukti yang sah adalah: a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keterangan terdakwa (2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. KUHAP Pasal 186 Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Pasal 187 KUHAP Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu. b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan. c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.
d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat

pembuktian yang lain.

Pemeriksaan Tersangka Pasal 53 UU Kesehatan Tenaga kesehatan, untuk kepentingan pembuktian, dapat melakukan tindakan medis terhadap seseorang dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan yang bersangkutan. Pembuatan Visum et Repertum bagi tersangka (VeR Psikiatris) Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1960 tentang lafal sumpah dokter Saya bersumpah/berjanji bahwa: Saya akan membuktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dank arena keilmuan saya sebagai dokter..dst. Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran Pasal 1 PP No 10/1966 Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orangorang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran. 4,9 KUHP Pasal 322 (1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah. (2)Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu. 4,9 2.5 Pemeriksaan Medik Pada pemeriksaan pada ibu yang diduga melakukan aborsi, usaha dokter adalah mendapatkan tanda-tanda sisa kehamilan dan menentukan cara pengguguran yang dilakukan serta sudah berapa lama melahirkan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan oleh Sp.OG.

Pemeriksaan terhadap perempuan tersangka Anamnesa Pada tindakan anamnesis, doktor harus dapat melacak apakah tersangka pernah hamil atau melahirkan. Beberapa hal yang ditanyakan juga diharapakan bersifat terarah agar dapat membantu dalam melakukan pemeriksaan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan.6 Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan adalah seperti: Kapan mens terakhir? Berapa lamakah siklus? Kapan mennarche? Apakah ia mempunyai pacar atau sudah menikah? Apakah ia mempunyai anak sebelumnya, jika ada, berapa orang dan usia anak paling muda. Pemeriksaan fisik 1. Inspeksi:
a. Tanda-tanda kehamilan seperti perubahan pada payudara, pigmentasi, hormonal. 4

b. Tanda-tanda kekerasan pada perut dan uterus.

bisa dilakukan oleh si ibu atau orang lain, seperti

melakukan gerakan fisik berlebihan, jatuh, pemijatan/pengurutan perut bagian bawung 2. Periksa apakah ada komplikasi akibat penggunaan obat-obat untuk mengugurkan kandungan seperti: ibu. 3. Pemeriksaan ginekologis Diperiksa ada tidaknya tanda akut abdomen. Jika memungkinkan, cari sumber perdarahan: apakah dari dinding vagina, atau dari jaringan serviks, atau darah mengalir keluar dari ostium. perdarahan akibat luka jalan lahir, atonia uteri, sisa jaringan tertinggal, syok akibat refleks vasovagal atau nerogenik. Emboli udara akibat penyemprotan udara ke dalam uterus. Inhibisa vagus, hamper selalu terjadi pada abortus tanpa dilakukan anastesi pada diatesa hemoragik.

a. b.

Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau

konsepsi, tercium bau busuk dari vulva sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium. c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. Tanda-tanda telah melahirkan: Terdapat tanda involusi uterus iaitu setelah placenta lahir uterus adalah merupakan organ yang keras karena kontraksi dan retraksi otot-otot uterus. Perubahan pada cervix dan vagina iaitu lebih longgar di mana canalis cervicalis masih dapat dilalui oleh dua jari, dimana pinggirnya tidak rata, tetapi retak-retak karena terjadi robekan selama partus. Dinding perut dan peritoneum menjadi longgar karena diregang begitu lama. Dinding kandung kencing mengalami oedema dan hyperemia dan terjadinya obstruksi dari urethra dan terjadinya retensi urin. Apakah terdapat lochia iaitu cairan yang keluar dari vagina yang merupakan sekret dari luka akibat partus. Apakah terjadi robekan pada perineum.

Pemeriksaan untuk mengetahui berapa lamanya waktu si ibu tersebut sudah melahirkan bayi: Pemeriksaan lochia Lochia adalah sekret dari luka akibat partus, terutama luka pada bekas perlekatan placenta dan sifat lochia ini berubah sesuai dengan tingkat penyembuhan luka. Pada dua hari pertama lochia berupa darah dan disebut lochia rubra. Setelah hari ke-3 dan 4, berupa darah encer iaitu disebut lochia serosa. Pada hari ke-10 menjadi cairan putih disebut lochia alba. Pemeriksaan darah atau lekosit

Lekosit pada hari pertama nifas bisa sampai 30,000/mm3 yaitu sangat banyak.10 Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan toksikologi dari darah dan urin untuk mencari apakah terdapat obat/zat tertentu yang diguanakan agar janin mati tetapi si ibu cukup kuat untuk bisa selamat. Pemeriksaan mikroskopik Meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan, kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian, dan ditemukan sel radang PMN sebagai tanda dari intravitalitas.4 Pemeriksaan laboratorium darah lengkap Dengan pemeriksaan ini dapat menunjukkan penurunan kadar hematokrit, hemoglobin rendah yang dapat memicu pasca pendarahan setelah terjadinya aborsi. Pemeriksaan trombosit

Dapat meningkat karena mekanisme pembekuan darah yang terjadi sebagai mekanisme kompensasi setelah terjadinya pendarahan yang banyak setelah aborsi Fibrinogen

Pemeriksaan ini dapat membedakan aborsi ini tergolong dalam spontaneous atau pun missed abortion. Pemeriksaan ini lebih spesifik kepada missed abortion. Test urine

Pada pemeriksaan urin juga dapat di ketahui bahwa wanita tersebut sedang hamil jika adanya peningkatan bhCG yang sangat bermakna dalam mendeteksi bahwa wanita ini sebelumnya pernah hamil dan melakukan pengguguran. BhCG dapat menurun setelah 2- 3 minggu setelah melahirkan, dan uji ini memberi nilai yang sangat bermanfaaat.

Gambar. Penurunan kadar hCG setelah persalinan atas dasar waktu paruh 1.5 jam

Pemeriksaan pregnanediol perubahan uterus setelah ovulasi. Progesterone

Preganediol merupakan hasil metabolit progesterone. Progesterone sangat bertanggung jawab dalam plasenta. Kadar Prolactin dalam serum menigkat selama kehamilan dan dapat menurun jika terjadi aborsi dan disfungsi

Kadar prolactin serum berbeda beda mengikut jangka waktu kehamilan, pada trimester pertama < 80ng/ml, pada trimester kedua < 160ng/mL dan trimester ketiga < 400 ng/mL. Hormon ini meningkat sesuai jangka waktu kehamilan untuk menyediakan kepada pengembangan mammae semasa laktasi terjadi. Jika adanya peningkatan kepada hormone ini bermakna ibu ini pernah hamil. Pemeriksaan dengan USG

Dengan USG dapat mengetahui uterus seseorang sama ada telah di aborsi atau tidak dengan melihat kepada permukaan dinding rahim setelah terjadinya curratage. Pemeriksaan terhadap barang bukti (Hasil Curettage) Untuk mengidentifikasi hubungan antara barang bukti dengan perempuan tersangka tersebut, terdapat beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan: a. Pemeriksaan darah Pemeriksaan bercak darah merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada laboratorium forensik. Karena darah mudah sekali tercecer pada hampir semua bentuk tindakan kekerasan, penyelidikan terhadap bercak darah ini sangat berguna untuk mengungkapkan suatu tindakan kriminal. Pemeriksaan darah pada forensik sebenarnya bertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut. Sebelum dilakukan pemeriksaan darah yang lebih lengkap, terlebih dahulu kita harus dapat memastikan apakah bercak berwarna merah itu darah. Oleh sebab itu perlu dilakukan pemeriksaan guna menentukan: Bercak tersebut benar darah Darah dari manusia atau hewan Golongan darahnya, bila darah tersebut benar dari manusia

Bercak yang menempel pada suatu objek dapat dikerok kemudian direndam dalam larutan fisiologis, atau langsung direndam dengan larutan garam fisiologis bila menempel pada pakaian. Ada banyak tes penyaring yang dapat dilakukan untuk membedakan apakah bercak tersebut berasal dari darah atau bukan, karena hanya yang hasilnya positif saja yang dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.4,8 b. Pemeriksaan kimiawi Cara ini digunakan bila ternyata sel darah merah sudah dalam keadaan rusak sehingga pemeriksaan mikroskopik tidak bermanfaat lagi. Pemeriksaan kimiawi terdiri dari pemeriksaan penyaring darah dan pemeriksaan penentuan darah. Pemeriksaan penyaring darah H2O2 H2O + On Reagen perubahan warna (teroksidasi) Pemeriksaan penyaring yang biasa dilakukan adalah reaksi benzidin dan reaksi fenoftalin. Reagen yang digunakan dalam reaksi benzidin adalah larutan jenuh kristal benzidin dalam asam asetat glasial, sedangkan pada reaksi fenoftalin digunakan reagens yang dibuat dari fenolftalein 2 g + 100 ml. NaOH 20% dan dipanaskan dengan biji-biji Zinc sehingga terbentuk fenoftalin yang tidak berwarna. Cara pemeriksaan adalah sepotong kertas saring digosokkan pada bercak yang dicurigai kemudian diteteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1 tetes reagen benzidin.Hasil positif pada reaksi Benzidin adalah bila timbul warna biru gelap pada kertas saring. Sedangkan pada reaksi fenolftalin kertas saring yang telah digosokkan pada bercak yang dicurigai langsung diteteskan dengan reagen fenoftalin yang akan memberikan warna merah muda bila positif. Hasil negatif pada kedua reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut bukan darah, sedangkan hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut mungkin darah sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.7 Pemeriksaan penentuan darah Prinsip pemeriksaan penyaring adalah:

Pemeriksaan penentuan darah berdasarkan terdapatnya pigmen/kristal hematin (hemin) dan hemokhromogen. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah reaksi Teichman dan reaksi Wagenaar. Reaksi Teichman Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, tambahkan 1 butir kristal NaCl dan 1 tetes asam aseta glasial, tutup dengan kaca penutup dan dipanaskan. Hasil positif dinyatakan dengan tampaknya kristal heminHCl yang berbentuk batang berwarna coklat yang terlihat dengan mikroskop. Reaksi Wagenaar Seujung jarum bercak kering diletakkan pada kaca obyek, letakkan juga sebutir pasir, lalu tutup dengan kaca penutup sehingga antara kaca obyek dan kaca penutup terdapat celah untuk penguapan zat. Pada satu sisi diteteskan aceton dan pada sisi berlawanan diteteskan HCl encer, kemudian dipanaskan. Hasil positif bila terlihat kristal aceton-hemin berbentuk batang berwarna coklat. Hasil positif pada pemeriksaan penentuan darah memastikan bahwa bercak adalah darah. Hasil yang negatif selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan bercak darah, juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah yang struktur kimiawinya telah rusak misalnya bercak darah yang sudah lama sekali, terbakar dan sebagainya.7 c. Pemeriksaan serologik Pemeriksaan serologik berguna untuk menentukan spesies dan golongan darah. Untuk itu dibutuhkan antisera terhadap protein manusia (anti human globulin) serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu. Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi (antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi. d. Penentuan spesies Lakukan ekstraksi bercak atau darah kercing dengan larutan gram faal. Dianjurkan untuk memakai 1 cm2 bercak atau 1 g darah kering, tetapi tidak melebihi separuh bahan yang tersedia. Cara-cara yang dapat dipergunakan adalah : Reaksi cincin (eraksi presipitin dalam tabung).

Ke dalam tabung reaksi kecil, dimasukkan serum anti globulin manusia, dan ke atasnya dituangkan ekstrak darah perlahan-lahan melalui tepi tabung. Biarakan pada temperatur ruang kurang lebih 1,5 jam. Hasil positif tampak sebagai cincin presipitasi yang keruh pada perbatasan kedua cairan. Reaksi presipitat dalam agar. Gelas obyek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas lemak, dilapisi dengan selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras, dibuat lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi oleh lubang-lubang sejenis. Masukkan serum anti globulin manusia ke lubang di tengaj dan ekstrak darah dengan berbagai derajat pengenceran di lubang-lubang sekitarnya. Letakkan gelas obyek ini dalam ruang lembab (moist chamber) pada temperatur ruang selama satu malam. Hasil positif memberikan presipitium jernih pada perbatasan lubang tengah dan lubang tepi.7 Pemeriksaan Hubungan Antara Hasil Curratage dan Tersangka a. Penentuan Golongan Darah Ianya dapat di lakukan dengan meneteskan 1 tetes anti serum darah dan di lihat apakah terjadinya aglutinasi atau pun belum. Jika keduanya cocok maka akan terlihat reaksi aglutinasi.

Gambar 1. Penentuan golongan darah ABO cara makroskopik

b. Pemeriksaan Test DNA Pemeriksaan ini sangat akurat dan memberikan nilai yang sangat tepat hampir 99.9%. Bahan sampel DNA dapat dipilih dari jaringan apa saja, karena DNA dapat diperoleh dari semua sel berinti. Sel yang tidak memiliki DNA hanyalah sel darah merah karena sel darah merah tidak memiliki inti. Untuk itu terhadap berbagai bahan sampel tersebut harus diberi perlakuan sebagai berikut: 1. Jaringan

Untuk bahan sampel yang segar, sampel terbaik adalah jaringan limpa, kelenjar getah bening dan hati. 2. Darah Darah cair diberikan pengawet EDTA, dan disimpan dalam termos es atau lemari es. Alternatif lain, bahan diserap dengan kain kasa lalu dikeringkan. Bercak kering dapat dikerok dengan scalpel, dibawa dengan bendanya atau diusap dengan kain kasa basah lalu dikeringkan. 3. Tulang, Gigi dan Rambut Dibungkus dengan kertas alumunium dan disimpan pada suhu di bawah 20C. 2.6 Interpretasi Hasil Pada kasus, seorang penyidik ingin memastikan apakah benar dokter tersebut telah melakukan pengguguran kandungan yang illegal. Barang bukti yang digunakan oleh penyidik tersebut adalah alat suction curret milik dokter tersebut yang berisi darah dan jaringan dari tiga orang perempuan yang tersangka. Pada kasus seperti ini, tidak semua aborsi berdampak terhadap hokum. Jadi, pemeriksaan yang dilakukan haruslah benar-benar teliti untuk memastikan apakah tindakan pengguguran kandungan oleh dokter tersebut sesuai indikasi medis atau termasuk dalam kasus kriminalis. Pada kasus abortus provocatus, hasil pemeriksaan yang dapat ditemukan adalah seperti berikut: a. Pada pemeriksaan medis, ditemukan tanda-tanda kekerasan mekanik lokal pada genitalia interna/eksterna (uterus, vagina, serviks dan sebagainya) dan daerah perut bagian bawah sebagai tanda usaha abortus provocatus. b. Pada pemeriksaan toksikologi ditemukan adanya obat/zat yang dapat mengakibatkan abortus. c. Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan adanya sel trofoblas (tanda kehamilan), kerusakan jaringan (jejas/tanda usaha penghentian kehamilan), dan sel radang PMN (tanda intravitalitas). d. Adanya peningkatan hormone HCG (human chorionic gonadothropin) yang merupakan tanda kehamilan.
e. Adanya kecocokan DNA tersangka dengan janin.2

Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun bagian

atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Visum et Repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahasia jabatan bagi dokter serta ketentuan kearsipan.

Ada 3 tujuan pembuatan visum et repertum, yaitu : 1. Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim. 2. Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat. 3. Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan visum et repertum yang lebih baru.
Contoh Visum et Repertum pada kasus ini Visum Korban 1

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510 Nomor : 3546-SK III/2345/2-95 Lamp. : satu sampul tersegel Perihal : hasil pemeriksaan laboratorium terhadap Nn. A PROJUSTITIA VISUM et Repertum No: 0005 Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Michael. Dokter pada bagian forensik FK UKRIDA, atas permintaan dari kepolisian Resort Tanjung Duren dalam suratnya nomor 345/2013/VER008 tertanggal 10 Januari 2013, dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal 11 Januari 2013 pada pukul 16.30 WIB, bertempat di RS FK UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan atas korban dengan nomor registrasi 39498530 yang menurut surat tersebut adalah:--------------------------------------------------------------------------------------------------Nama: Nona A----------------------------------------------------------------------------------------------Usia: 19 tahun----------------------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin: Perempuan -------------------------------------------------------------------------------Warga Negara: Indonesia---------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan: Mahasiswi -------------------------------------------------------------------------------------Jakarta, 11 Januari 2013

Agama: Islam ----------------------------------------------------------------------------------------------Alamat: Hasil Pemeriksaan


1. Korban datang dalam keadaan lemas dan keadaan umum tampak sakit sedang-----------2. Korban mengaku: telah mengandung selama tiga bulan, dan diminta oleh pacarnya untuk

Jln.

Tanjung

Duren

-------------------------------------------------------------------------------

digugurkan kandungannya karena mereka belum siap untuk memiliki anak, korban sudah telat datang bulan selama kira-kira 3 bulan, korban mengaku mengalami mual muntah, dan perut terasa membesar sebelum menggugurkan kandungan. Saat ini korban merasa perutnya tidak nyaman dan terasa sakit.--------------------------------------------------------3. Pada korban ditemukan:
a. Tekanan darah seratus per tujuh puluh tekanan air raksa, denyut nadi seratus sepuluh kali

permenit, frekuensi nafas dua puluh kali permenit, suhu tubuh tiga puluh enam derajat Celsius.-------------------------------------------------------------------------------b. Selaput mata kanan dan kiri korban tampak pucat, mata korban tampak sembab-----c. Puting payudara tampak mengalami pengelapan baik pada payudara kanan dan kiri-d. Perut korban tampak terdapat adanya jaringan kulit bewarna kemerahan pada bagian perut

kanan dan kiri bawah------------------------------------------------------------------e. Ditemukan adanya bercak darah bewarna merah pada celanan dalam korban, di sekitar

lubang kelamin korban----------------------------------------------------------------------f. Pada pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya darah pada dinding vagina korban,

dan terdapat pelebaran mulut rahim, tampak adanya luka lecet disekitar mulut rahim-------------------------------------------------------------------------------------------g. Ditemukan adanya sisa-sisa jaringan plasenta pada rahim sebanyak seratus gram
4. Dilakukan pemeriksaan laboratorium korban: a. Pemeriksaan radiologi tampak adanya pembesaran rahim, dengan ukuran sepuluh

sentimeter kali delapan sentimeter, terdapat adanya sisa-sisa jaringan pada bagian dalam rahim----------------------------------------------------------------------------------b. Pemeriksaan jaringan-jaringan yang terdapat dalam rahim terdapat adanya sisa-sisa

jaringan plasenta-------------------------------------------------------------------------------c. Pemeriksaan test uji kehamilan pada air seni korban positif-----------------------------d. Pemeriksaan golongan darah korban menunjukkan golongan darah O rhesus positif---

e. Dilakukan pemeriksaan DNA untuk mencocokkan DNA korban dengan DNA jaringan

janin dalam tabung menunjukkan hasil positif sesuai-------------------------------------5. Dilakukan pemeriksaan laboraturium darah dan jaringan dalam tabung:
a. Dari pemeriksaan darah pada tabung kuret ditemukan adanya darah berbentuk

cakram

tidak

berinti,

golongan

darah

tidak

dapat

ditentukan--------------------------------------b. Dari pemeriksaan sediaan darah tepi ditemukan adanya sel-sel darah putih

dengan adanya gambaran stik drum 50% yang sesuai dengan darah wanita---------------------c. Dari pemeriksaan jaringan yang terdapat pada tabung kuret ditemukan adanya

sel-sel

plasenta,

dan

ditemukan

adanya

sel-sel

----------------------------------------------------d. Dari pemeriksaan DNA jaringan, ditemukan adanya DNA jaringan yang sesuai

dengan 6. Pengobatan yang telah dilakukan pada korban:

DNA

korban-----------------------------------------------------------------------------------a. Korban diberikan bantuan pernafasan-------------------------------------------------------b. Korban ditransfusi dengan darah golongan O----------------------------------------------c. Korban dirawat di rumah sakit --------------------------------------------------------------d. Korban diberikan antibiotik dan pengurang rasa nyeri--------------------------------------

KESIMPULAN Pada korban perempuan yang berusia delapan belas tahun ini, berdasarkan hasil temuan telah didapatkan tanda-tanda kehamilan yaitu puting payudara kanan dan kiri mengalami pengelapan, adanya peregangan kulit bewarna merah di perut bagian kanan bawah dan kiri bawah. Pada korban ini juga ditemukan adanya tanda-tanda pengguguran kandungan yaitu tampak adanya darah pada alat kelamin luar, dan dari pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya pelebaran tidak alami dari mulut rahim, dan terdapat sisa-sisa jaringan penggantung bayi dalam rahim korban. Dari hasil pemeriksaan laboraturium korban test kehamilan positif juga mendukung kehamilan. Pemeriksaan darah dan jaringan pada tabung kuret juga membuktikan salah satu janin dalam tabung memiliki DNA yang sesuai dengan korban. ---Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya dengan mengingat sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.----------------------------------------------------------------------------------------------------

Dokter yang memeriksa

dr. Michael Visum Korban 2 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510 Nomor : 3546-SK III/2345/2-95 Lamp. : satu sampul tersegel Perihal : hasil pemeriksaan laboratorium terhadap Nn. B PROJUSTITIA VISUM et Repertum No: 0005 Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Michael. Dokter pada bagian forensik FK UKRIDA, atas permintaan dari kepolisian Resort Tanjung Duren dalam suratnya nomor 345/2013/VER008 tertanggal 10 Januari 2013, dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal 11 Januari 2013 pada pukul 16.30 WIB, bertempat di RS FK UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan atas korban dengan nomor registrasi 39498530 yang menurut surat tersebut adalah:--------------------------------------------------------------------------------------------------Nama: Nona B----------------------------------------------------------------------------------------------Usia: 20 tahun----------------------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin: Perempuan -------------------------------------------------------------------------------Warga Negara: Indonesia---------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan: Mahasiswi -------------------------------------------------------------------------------------Agama: Islam ----------------------------------------------------------------------------------------------Alamat: Hasil Pemeriksaan
1. Korban datang dalam keadaan lemas dan keadaan umum tampak sakit sedang-------2. Korban mengaku: telah mengandung selama kira-kira 5 bulan, dan mengaku bahwa

Jakarta, 11 Januari 2013

Jln.

Tanjung

Duren

-------------------------------------------------------------------------------

kandungannya keguguran secara spontan dan tidak melakukan penguguran secara

sengaja, korban sudah telat datang bulan selama kira-kira 6 bulan, korban mengaku mengalami mual muntah. Saat ini korban merasa lemas dan pusing, merasa tidak nyaman pada perutnya.-----------------------------------------------------------------------3. Pada korban ditemukan:
a. Tekanan darah seratus sepuluh per tujuh puluh tekanan air raksa, denyut nadi

seratus kali permenit, frekuensi nafas dua puluh kali permenit, suhu tubuh tiga puluh tujuh derajat Celsius.--------------------------------------------------------------b. Selaput

mata

kanan

dan

kiri

korban

tampak

pucat-------------------------------------c. Puting payudara tampak mengalami pengelapan baik pada payudara kanan dan

kiri, payudara tampak membesar---------------------------------------------------------d. Perut korban tampak terdapat adanya peregangan jaringan kulit bewarna

kemerahan pada bagian perut kanan dan kiri bawah, juga terdapat luka memar berukuran tiga sentimeter kali dua sentimeter pada perut bagian tengah bawah----e. Ditemukan adanya bercak darah bewarna merah pada celanan dalam korban, di

sekitar lubang kelamin korban-----------------------------------------------------------f. Pada pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya darah pada dinding

vagina korban, dan terdapat pelebaran mulut rahim, tampak adanya luka lecet disekitar rahim-------------------------------------------------------------------------------g. Tidak ditemukan adanya sisa-sisa jaringan plasenta pada rahim, tetapi

mulut

ditemukan

darah

sebanyak

seratus

lima

puluh

cc.--------------------------------------------------4. Dilakukan pemeriksaan laboraturium korban:


a. Pemeriksaan radiologi tampak adanya pembesaran rahim, dengan ukuran lima

belas sentimeter kali 10 sentimeter, tidak terdapat adanya sisa-sisa jaringan plasenta------------------------------------------------------------------------------------b. Pemeriksaan test uji kehamilan pada air seni korban positif--------------------------

c. Pemeriksaan golongan darah korban menunjukkan golongan darah B rhesus positif


d. Dilakukan pemeriksaan DNA untuk mencocokkan DNA korban dengan DNA

jaringan janin dalam tabung menunjukkan hasil positif sesuai-----------------------5. Dilakukan pemeriksaan laboraturium darah dan jaringan dalam tabung:
a. Dari pemeriksaan darah pada tabung kuret ditemukan adanya darah berbentuk

cakram tidak berinti, golongan darah tidak dapat ditentukan--------------------------

b. Dari pemeriksaan sediaan darah tepi ditemukan adanya sel-sel darah putih dengan

adanya gambaran stik drum 50% yang sesuai dengan darah wanita------------------c. Dari pemeriksaan jaringan yang terdapat pada tabung kuret ditemukan adanya sel-

sel plasenta, dan ditemukan adanya sel-sel --------------------------------------------d. Dari pemeriksaan DNA jaringan, ditemukan adanya DNA jaringan yang sesuai

dengan DNA korban----------------------------------------------------------------------6. Pengobatan yang telah dilakukan pada korban:


a. Korban diberikan bantuan pernafasan-----------------------------------------------------b. Korban ditransfusi dengan darah golongan O--------------------------------------------c. Korban dirawat di rumah sakit ----------------------------------------------------------d. Korban diberikan antibiotik dan pengurang rasa nyeri-----------------------------------

KESIMPULAN Pada korban perempuan yang berusia dua puluh tahun ini, berdasarkan hasil temuan telah didapatkan tanda-tanda kehamilan yaitu terjadi pembesaran payudara kanan dan kiri sesuai untuk payudara ibu hamil, puting payudara kanan dan kiri mengalami pengelapan, adanya peregangan kulit bewarna merah di perut bagian kanan bawah dan kiri bawah. Pada korban ini juga ditemukan adanya tanda-tanda pengguguran kandungan yaitu adanya luka memar bewarna kehijauan pada perut bagian tengah bawah yang sesuai dengan kekerasan tumpul, juga tampak adanya darah pada alat kelamin luar, dan dari pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya pelebaran tidak alami dari mulut rahim. Dari hasil pemeriksaan laboraturium korban test kehamilan positif juga mendukung kehamilan. Pemeriksaan darah dan jaringan pada tabung kuret juga membuktikan salah satu janin dalam tabung memiliki DNA yang sesuai dengan korban. -----------------------------------------------------------------------------------Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya dengan mengingat sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.-------------------------------------------------------------------------------------------------------Dokter yang memeriksa

Dr. Michael Visum Korban 3 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510 Nomor : 3546-SK III/2345/2-95 Lamp. : satu sampul tersegel Perihal : hasil pemeriksaan laboratorium terhadap Nn. B PROJUSTITIA VISUM et Repertum No: 0005 Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Michael. Dokter pada bagian forensik FK UKRIDA, atas permintaan dari kepolisian Resort Tanjung Duren dalam suratnya nomor 345/2013/VER008 tertanggal 10 Januari 2013, dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal 11 Januari 2013 pada pukul 16.30 WIB, bertempat di RS FK UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan atas korban dengan nomor registrasi 39498530 yang menurut surat tersebut adalah:--------------------------------------------------------------------------------------------------Nama: Nona B----------------------------------------------------------------------------------------------Usia: 20 tahun----------------------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin: Perempuan -------------------------------------------------------------------------------Warga Negara: Indonesia---------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan: Mahasiswi -------------------------------------------------------------------------------------Agama: Islam ----------------------------------------------------------------------------------------------Alamat: Hasil Pemeriksaan:
1. Korban datang dalam keadaan lemas dan keadaan umum tampak sakit sedang------2. Korban mengaku: telah mengandung selama tiga bulan, dan diminta oleh pacarnya

Jakarta, 11 Januari 2013

Jln.

Tanjung

Duren

-------------------------------------------------------------------------------

untuk digugurkan kandungannya karena mereka belum siap untuk memiliki anak, korban sudah telat datang bulan selama kira-kira 3 bulan, korban mengaku mengalami mual muntah, dan perut terasa membesar sebelum menggugurkan kandungan. Saat ini korban merasa perutnya tidak nyaman dan terasa sakit.-----------------------------------3. Pada korban ditemukan:
a. Tekanan darah seratus per tujuh puluh tekanan air raksa, denyut nadi seratus

sepuluh kali permenit, frekuensi nafas dua puluh kali permenit, suhu tubuh tiga puluh enam derajat Celsius.-----------------------------------------------------------------

b. Selaput mata kanan dan kiri korban tampak pucat, mata korban tampak sembab
c. Putting payudara tampak mengalami pengelapan baik pada payudara kanan

dan kiri----------------------------------------------------------------------------------------------d. Perut korban tampak terdapat adanya jaringan kulit bewarna kemerahan pada

bagian perut kanan dan kiri bawah--------------------------------------------------------e. Ditemukan adanya bercak darah bewarna merah pada celanan dalam korban, di

sekitar lubang kelamin korban------------------------------------------------------------f. Pada pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya darah pada dinding

vagina korban, dan terdapat pelebaran mulut rahim, tampak adanya luka lecet disekitar rahim----------------------------------------------------------------------------------g. Ditemukan adanya sisa-sisa jaringan plasenta pada rahim sebanyak 30

mulut

gram-----4. Dilakukan pemeriksaan laboraturium korban:


a. Pemeriksaan radiologi tampak adanya pembesaran rahim, dengan ukuran sepuluh

sentimeter kali delapan sentimeter, terdapat adanya sisa-sisa jaringan pada bagian dalam rahim----------------------------------------------------------------------------------b. Pemeriksaan jaringan-jaringan yang terdapat dalam rahim terdapat adanya sisa-

sisa jaringan plasenta ------------------------------------------------------------------------c. Pemeriksaan test uji kehamilan pada air seni korban positif--------------------------

d. Pemeriksaan golongan darah korban menunjukkan golongan darah B rhesus positif


e. Dilakukan pemeriksaan DNA untuk mencocokkan DNA korban dengan DNA

jaringan janin dalam tabung menunjukkan hasil positif sesuai---------------------5. Dilakukan pemeriksaan laboraturium darah dan jaringan dalam tabung:
a. Dari pemeriksaan darah pada tabung kuret ditemukan adanya darah berbentuk

cakram tidak berinti, golongan darah tidak dapat ditentukan-------------------------b. Dari pemeriksaan sediaan darah tepi ditemukan adanya sel-sel darah putih dengan

adanya gambaran stik drum 50% yang sesuai dengan darah wanita----------------c. Dari pemeriksaan jaringan yang terdapat pada tabung kuret ditemukan adanya sel-

sel plasenta, dan ditemukan adanya sel-sel --------------------------------------------d. Dari pemeriksaan DNA jaringan, ditemukan adanya DNA jaringan yang sesuai

dengan DNA korban-------------------------------------------------------------------------6. Pengobatan yang telah dilakukan pada korban:

a. Korban diberikan bantuan pernafasan---------------------------------------------------b. Korban ditransfusi dengan darah golongan O--------------------------------------------c. Korban diberikan antibiotik dan pengurang rasa nyeri---------------------------------

KESIMPULAN Pada korban perempuan yang berusia delapan belas tahun ini, berdasarkan hasil temuan telah didapatkan tanda-tanda kehamilan yaitu puting payudara kanan dan kiri mengalami pengelapan, adanya peregangan kulit bewarna merah di perut bagian kanan bawah dan kiri bawah. Pada korban ini juga ditemukan adanya tanda-tanda pengguguran kandungan yaitu tampak adanya darah pada alat kelamin luar, dan dari pemeriksaan alat kelamin dalam tampak adanya pelebaran tidak alami dari mulut rahim, dan terdapat sisa-sisa jaringan penggantung bayi dalam rahim korban. Dari hasil pemeriksaan laboraturium korban test kehamilan positif juga mendukung kehamilan. Pemeriksaan darah dan jaringan pada tabung kuret juga membuktikan salah satu janin dalam tabung memiliki DNA yang sesuai dengan korban.----Demikian saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya dengan mengingat sumpah jabatan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.-------------------------------------------------------------------------------------------------------Dokter yang memeriksa

Dr. Michael

BAB III PENUTUP Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum berusia 22 minggu. Abortus dapat terjadi secara spontan atau secara buatan. Abortus buatan (pengguguran, aborsi, abortus provocatus) adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan mengakhiri proses kehamilan. Abortus buatan dapat bersifat legal (abortus provocatus medianalis/therapeuticus) yang dilakukan berdasarkan indikasi medik. Abortus buatan ilegal (abortus provocatus criminalis) adalah abortus yang dilakukan berdasarkan indikasi nonmedik. Abortus ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten

atau tenaga yang tidak kompeten. Berlandaskan Lafal Sumpah Hippokrates, Lafal Sumpah Dokter Indonesia dan International Code of Medical Ethics maupun KODEKI, setiap dokter wajib menghormati dan melindungi makhluk hidup insani. Karena itu, aborsi berdasarkan indikasi nonmedik adalah tidak etis.11 Tidak ada perbedaan hukum untuk pengguran fetus pada awal kehamilan atau pada akhir masa kehamilan, karena keduanya disebut aborsi. Dalam sebagian besar yuridiksi, fetus pada awal kehamilan sebelum digugurkan dinyatakan memiliki kehidupan yang sama dengan fetus pada akhir masa kehamilan. Aborsi yang dilakukan pada awal masa kehamilan sama bersalahnya dengan yang dilakukan pada akhir masa kehamilan.8

DAFTAR PUSTAKA
1. Abortus kriminalis. Diunduh dari : http://www.scribd.com/doc/80237586/abortus-

kriminalis. 8 Januari 2013. 2. Budyanto A, Wibisana W, dan Sudiono S dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan kedua. Jakarta: Bagian ilmu kedokteran forensik FKUI. 1997.
3. Staf pengajar ilmu kedokteran forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Cetakan

ke-4. Jakarta : bagian kedokteran Forensik FKUI; 2000. 4. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia. Edisi I, tahun 1994: 11-25, 33-6. 5. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006 6. Apuranto, H dan Hoediyanto. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Surabaya: Bag. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR. 2006. 7. Anonim. Forensik Molekuler; Ilmu Kedokteran Forensik; Bagian kedokteran Forensik FKUI; 1997; 207-211. 8. Chadha Vijay P. Ilmu Forensik dan Toksikologi. Abortus. 5st Ed. Editor: Kartini Agnes, Widya Medika. Jakarta: 1995
9. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. Edisi 3. Jakarta: ECG;

1999. 10. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensik dalam proses penyelidikan. Jakarta: Sagung Seto; 2008.

11. Buku Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Pemeriksaan Medis Pada Kasus Kejahatan

Seksual. tahun 1997. halaman 153.