Anda di halaman 1dari 21

PROSPEK PENANGANAN KRISIS LINGKUNGAN HIDUP DIKANCAH GLOBAL

Oleh: M. Fatkhul Damanhury 09401241012 PKnH A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN HUKUM FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Krisis lingkungan hidup terus menjadi isu penting dalam pembuatan kebijakan dikancah global. Mengingat dampaknya yang amat besar bagi kelanjutan kehidupan di muka bumi. Tak peduli negara maju maupun negara berkembang semua terkena dampak dari kerusakan lingkungan. Apalagi di era industrialisasi yang secara masif merebak di segala penjuru dunia dalam berbagai bidang, lingkungan menjadi suatu hal yang riskan terkena dampak negatif dari industrialisasi. Selain itu, pembangunan dewasa ini yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi turut menyumbang terjadinya krisis lingkungan hidup. Hal ini terlihat dari logika pembangunan yang mengarah pada penyusutan sumber daya di bumi ini. Diawali dari kesalahan terminoli seperti dikatakan oleh Willem Hogendirjk (Revolusi Ekonomi, terj, 1996)1 terjadi kesalahan fatal dalam terminology pertumbuhan ekonomi (economical growth). Menurutnya, istilah pertumbuhan ekonomi seperti dinomorsatukan oleh kebanyakan rezim dunia, sebetulnya adalah pertumbuhan produksi. Dengan aktifitas produksi, perekonomian sesungguhnya tidak sedang berkembang, sebab sumber daya (resources) yang bersifat langka kian menyusut. Hogendijk mengibaratkan bumi kita saat ini ibarat sebuah kereta api yang tengah kencang melaju menuju jurang. Ketersediaan sumber daya langka yang semakin menipis sepertinya tidak dapat dikompensasikan lagi atau diperbaharui. Pertumbuhan produksi yang seakan tanpa batas, agaknya berawal dari rasionalitas yang tertanam erat sejak manusia mengenal ilmu ekonomi. Dalil optimalisasi hasil dengan biaya minimal
1

Seperti dikutip oleh Indra Ismawan. Resiko Ekologis, di Balik Pertumbuhan EKonomi, Yogyakarta: Penerbit Media pRessindo, 19999, hal: 5

dipraktikan oleh milyaran manusia, sehingga membentuk persepsi dan tindakan secara missal. Sudut pandang rasionalitas ekonomi menimbulkan distorsi-distorsi yang meniadakan eksistensi sudut pandang lainnya.2 Realita mengenai prisip rasionalitas ekonomi dalam perekonomian tidak benarbenar bermuara pada rasionalitas. Minimalisasi biaya produksi tidak benar-benar terjadi, cost besar untuk biaya produksi justru dibebankan pada biaya ekternalitas pada generasi manusia berkutnya. Menanggapi hal ini sejumlah pakar dari MIT (MassachusettsInstitute of Technology) atau Clup of Rome telah berrupaya membongkar hegemoni pertumbuhan ekonomi, dengan mengajukan rekomendasi pertumbuhan ekonomi yang menyertakan aspek lingkungan hidup. Ada setidaknya lima butir pemikiran dari Neo-Malthusian, yaitu: pertama, pertumbuhan eskponensial merupakan sifat melekat pada kependudukan dan system akumulasi capital, yaitu pola produksi massa dan reproduksi. Kedua, ada keterbatasan potensi sumber daya di planet ini. Ada keterbtasan fisik terhadap pertumbuhan penduduk dan capital, yang meliputi terbatasnya cadangan sumber-sumber daya alam yang tidak dapat menyerap polusi, keterbatasan lahan yang tidak dapat ditanami, serta keterbatasan produksi per satuan lahan. Ketiga, umpan balik yang selama ini telah diabaikan dalam waktu lama. Keempat, ada dua alternatif respon yang dapat diberikan: menghilangkan gejala keterbatasan yang menghambat pertumbuhan atau memperlemah kekuatan yang mendorong pertumbuhan. Kelima pilihanhendaknya dijatuhkan pada equilibrium state, yaitu situasi dimana kondisi kependudukan telah mencapai derajat kestabilan pada tingkat tertentu yang dikehendaki, dan dimana kebutuhan materiil tercukupi dengan

Indra Ismawan, Op. Cit, hal: 8

memanfaatkan input yang tidak dapat diperbaharui dan yang menimbulkan polusi secara minimal.3 Negara-negara di dunia pun ikut andil dalam penyelesaian krisis lingkungan hidup. Melalui konferensi PBB mengenai lingkungan hidup negara-negara di dunia yang berkomitmen terus merancang solusi yang tepat untuk menangani krisis lingkungan hidup. Diawali dari konferensi Stockholm sampai dengan Rio+20 ditahun 2012. Di tahun 2012 lalu selain Konferensi Rio+20 agaknya Protokol Kyoto perlu mendapat sorotan terdiri. Dimana Protokol Kyoto yang berakhir pada tahun lalu tersebut diperpanjang selama 8 tahun sampai tahun 2020. Menjadi penting lagi dimana negara-negara penyumbang emisi gas terbesar di dunia seperti Amerika Serikat dan Cina belum juga meratifikasi Protokol tersebut. Alhasil harapan untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik menuai hambatan yang cukup berarti. Berdasarkan perkembangan ini penulis melihat perlu ada kajian lebih lanjut mengenai prospek penanganan krisis lingkungan hidup dikancah global. Kajian ini akan melihat dari sisi historis, perjalanan penanganan yang telah berjalan sampai saat ini, dan prospek ke depan utamanya dikaitkan dengan perpanjangan Protokol Kyoto dengan melihat komitmen dari negaranegara maju. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan berbagai masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi lingkungan hidup dewasa ini? 2. Bagaimana peran negara-negara dunia dalam penanganan krisis lingkungan hidup? 3. Bagaimana prospek penanganan krisis lingkungan hidup dikancah global?

Ibid, hal 26-27

BAB II PEMBAHASAN

A. Tinjauan Tentang Lingkungan Hidup 1. Pengertian lingkungan hidup Lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang ada di sekita manusia yang mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung.4 Lingkungan hidup sendiri merupakan sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi. Adapaun dalam UU No. 23 tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.5 Ruang lingkup peninjauan tentang lingkungan hidup dapat sempit, misalnya sebuah rumah dengan pekarangannya, atau luas, misalnya Pulau Irian. Lapisan bumi dan udara yang ada makhluknya, dapat juga dianggap sebagai suatu lingkungan hidup besar, yaitu biosfer. Bahkan tatasurya kita atau malahan seluruh alam semesta dapat menjadi objek tinjauan.6 2. Kondisi lingkungan hidup Dewasa ini kondisi lingkungan hidup di bumi semakin mengkawatirkan. Es di kutup utara terus mencair, permukaan laut naik, terjadi perubahan iklim yang tidak teratur (perubahan yang ektrem), bencana alam yang melanda berbagai wilayah di permukaan bumi, dan pemanasan global yang terus menggelisahkan. Kondisi ini kemudian biasa disebut dengan krisis lingkungan hidup.
4

____, http://afand.abatasa.com/post/detail/2405/lingkungan-hidup-kerusakan-lingkungan-pengertiankerusakan-linkungan-dan-pelestarian-.htm. diakses tanggal 7 November 2012. 5 Dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 6 Otto Soemarwoto. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit Djambatan, hlm.5253.

Krisis lingkungan hidup ini terjadi karena berbagai factor. Setidaknya ada tiga isu lingkungan global yang mencuat kepermukaan yaitu (1) masalah efek rumah kaca, (2) hujan asam, dan (3) penipisan lapisan Ozon di stratosfir.7 Pertama, efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah naiknya suhu permukaan bumi karena naiknya konsentrasi gas CO dan gas-gas lainnya di atmosfir. Kenaikan konsentrasi gas CO ini desebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organic lainnya yang melampaui kemampuan tumbuh-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Dengan meninggalkannya konsentrasi gas CO di atmosfir, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dengan sendirinya akan berpengaruh pada pola tanam sistem pertanian. Efek rumah kaca juga mengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengambang dan terjadi kenaikan permukaan air laut. Dengan meningkatnya suhu air laut sebesar 1,5 sampai 4,5 C diperkirakan akan terjadi kenaikan permukaan sebesar sebesar 25-140 cm. walaupun kenaikan permukaan air laut tersebut nampaknya kecil, namun telah cukup untuk menimbulkan kerugian yang besar, terutama pada daerah yang mempunyai ketinggian yang relative rendah terhadap permukaan air laut. Kedua, Hujan Asam. Pembakaran bahan bakar fosil juga menghasilkan beberapa jenis oksida beerang dan oksida nitrogen. Di utara oksida-oksida ini mengalami proses kimia dan berubah menjadi asam. Asam yang terbentuk ini akan akan turun ke permukaan bumi bersama-sama dengan air hujan sehingga terjadi apa yang disebut sebagai hujan asam. Hujan asam ini akan dapat mengakibatkan kematian benyak organism air di surngai, korosi dan kerusakan hutan yang cukup parah. Selain hujan asam juga akan emningkatkan kelarutan beberapa jenis logam,

Philip Kristanto, Op. Cit., hal. 8-9.

misalnya meningkatnya kadar Timbal (Pb) dalam air leideng. Meningkatnya kadar timbal ini diakibatkan oleh larutnya logam tersebut dalam pipa air leideng. Ketiga, penipisan Lapisan Ozon. Gas polutan lain yang berdampak negative terhadap kondisi atmosfir bumi adalah Klorofluorokarbon (CFC) yang merupakan salah satu gas buatan manusia dan banyak digunakan untuk bahan pendingin (refrigerant); sebagai gas pendorong dalam aerosol (misalnya untuk parfum, hairspray); untuk membuat plastik busa pada industri perabot rumah tangga; untuk membuat styrophore sebagai bahan isolator dan bahan pelindung barang kemasan, dan sebagainya. B. Peran Negara Dunia Dalam Penanganan Krisis Lingkungan Hidup Krisis lingkungan hidup yang semakin mengkawatirkan membuat berbagai pihak untuk berlomba-lomba mencari solusi untuk menyelamatkan bumi demi generasi yang akan datang. Negara, NGO/ LSM (nasional maupun transnasional), maupun masyarakat umum sering menggalakan penghematan energy yang tidak terbarukan, kampanye ekonomi hijau, pembangunan berkelanjutan, dan lain sebagainya. Ditingkat global sendiri, PBB sebagai organisasi yang menaungi berbagai bangsa di dunia sejak beberapa tahun silam terus mengadakan Konferensi Bumi/ Lingkungan Hidup. Berikut dijelaskan mengenai konferensi Bumi/ Lingkungan Hidup yang pernah diadakan PBB dan beberapa keputusan atau hal penting yang dihasilkan dari konferensi-konferensi itu. 1. Konferensi Stockholm (Stockholm Conference) Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang lingkungan hidup atau yang dikenal dengan Konferensi Stockholm (Stockholm Conference) dilaksanakan di Stockholm, Swedia pada tahun 1972. Konferensi yang diadakan oleh PBB ini merupakan jawaban terhadap semakin menurunnya kualitas lingkungan dan semakin meningkatnya concern masyarakat dunia pada saat itu, dan juga atas kekhawatiran

banyak kalangan pemerhati lingkungan di Eropa, selain itu pada saat itu juga terbit buku riset kajian Club of Rome, yang berjudul The Limits to Growth, Club of Rome merupakan kelompok think thank berpengaruh di Eropa yang dalam buku tersebut memaparkan bahwa seiring kemajuan pesat indutri dan pertumbuhan penduduk dunia sumber daya alam di bumi semakin menipis, dimana perkara ini kemudian diasumsikan menjadi penyebab negatif yang merusak tata lingkungan global secara masif, yang kelak jika keadaan seperti ini terus dibiarkan akan berefek buruk dan menciptakan krisis pangan dan krisis sumber daya secara global.8 Konferensi tingkat tinggi lingkungan hidup pertama di dunia ini diikuti oleh wakil dari 114 negara dan menghasilkan deklarasi lingkungan hidup, rencana aksi lingkungan hidup, dan rekomendasi tentang kelembagaan dan keuangan pendukung rencana aksi tersebut. Dalam konferensi Stockholm inilah untuk pertama kali moto Hanya ada satu bumu (Only one Earth) untuk semua manusia, diperkenalkan. Motto itu sekaligus menjadi motto konferensi. Selain itu, konferensi Stockholm menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari lingkungan hidup sedunia. Indonesia pada waktu itu diwakili oleh Prof. Dr. Emil Salim (Mentri Koordinator Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hifup).9 Isi dari deklarasi itu sendiri memuat sebuah resolusi mengenai pembentukan United Nations Environmental Program (UNEP). UNEP sendiri merupakan motor awal pelaksana komitmen mengenai lingkungan hidup dalam hubungan kerjasama antar negara, yang kemudian melahirkan gagasan dari pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development).
8

Clube of Rome. 1972. The Limits to Growth. Seperti dikutip Abdi Sapta. 2012. Lingkungan Hidup. diakses dari http://www.theglobalreview.com/content_detail.php?lang=id&id=8697&type=10#.UJnE0mfGnDc, tanggal 7 November 2012 9 Mulyadi. 2011. Pemanasan Global, sebuah Makalah yang disajikan dalam pelatihan Pendidikan Konverensi Alam, Angkatan 25. Diselenggarakan oleh The Indonesian Wildlife Conservation Foundation (IWF) dan Balai Taman Nasional Meru Betiri. Jember, Jawa Timur., hlm. 2.

Selain itu konferensi ini telah menyetujui 106 rekomendasi yang memuat dimuat dalam Action Plan Internasional, yang terdiri atas tiga bagian kerangka:10 a. Global assessment programme, dikenal sebagai Earthwatch; b. Enviromental Management Activites; c. Supporting measures: education and training, public information, and organizational a financing arrangements Dalam hubungan dengan masalah lingkungan sedunia (global environment problems), sidang umum PBB telah menerima 11 resolusi mengenai lingkungan hidup yang dijadikan landasan bagi kebijakan lingkungan.11 Pada saati itu, terdapat kesepakatan dalam Konferensi Stockholm mengenai diterimanya Declaration Enviromental yang berisi 26 asas dan 106 rekomendasi, yang kemudian dijadikan sebagai landasan bagi kebijakan lingkungan hidup bagi banyak negara. 2. KTT Bumi (Earth Summit) 1992 KTT Bumi 1992 ini diadakan di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992, tepatnya tanggal 16 Juni 1992. KTT ini merupakan tindak lanjut dari konferensi Stockholm 1972, terutama mengani isu utama yang berpengaruh pada kesejahteraan manusia dan pembangunan ekonomi di seluruh dunia (butir ke-2 Deklarasi Stockholm). Selain KTT Bumi, KTT di Rio de Jeneiro juga dikenal sebagai Konferensi tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, NFCCC). Konferensi tersebut dihadiri oleh 179 negara, organisasi internasional, dan organisasi non pemerintahan dan merumuskan lima dokomen, yaitu:12 a. Deklarasi Rio;
10

Husin Ilyas. 2008. Pengelolaan Lingkungan Tingkat Nasional dalam Negara Indonesia. Majalah Hukum Forum Akademika, Volume 17 nomor 1 April 2008., hal. 1-2 11 Siti Sundari Rangkuti. 1996. Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional.cetakan pertama. Surabaya: Airlangga University Press, hlm. 2 12 Mulyadi., Op. Cit., hlm. 3.

b. Konvensi Acuan tentang Perubahan Iklim; c. Konvensi Keanekaragaman Hayati; d. Prinsip-prinsip Pengelolaan Hutan; e. Agenda 21. a. Agenda 21 berisi program pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan yang didefinisikan sebagai pembangunan yang berwawasan atau peduli pelestarian lingkungan. Artinya dalam perencanaan pembangunan perlu upaya yang dapat meminimalisasi terjadinya kerusakan lingkungan akibat dari kegiatan pembangunan itu sendiri. b. Konvensi Keanekaragaman Hayati Prinsip dalam konvensi keanekaragaman hayati adalah setiap negara mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber-sumber daya hayati sesuai dengan kebijakan pembangunan lingkungannya sendiri dan mempunyai tanggung jawab untuk menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam yuridiksinya tidak menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan negara lain atau kawasan di luar batas yuridiksi nasional.13 Dibentuknya konvensi ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu14: 1. Konservasi keanekaragaman hayati. 2. Pemanfaatan berkelanjutan komponen-komponennya. 3. Pembagian keuntungan yang adil dan merata yang timbul dari penggunaan sumber daya genetik. c. Prinsip-prinsip Pengelolaan Hutan Prinsip-prinsip pengelolaan hutan terdiri dari 13 butir yang berisi tentang bagaimana peran negara dalam pengelolaan hutan dengan pengambilan kebijakan
13 14

Ibid. Ibid., hlm. 5

10

yang tepat. Lebih lanjut 13 butir prinsip ini dapat dilihat dalam Siti Sundari Rangkuti (1996), Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional. d. Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB Konvensi Kerangka Perubahan Iklim PBB atau istilah yang lebih dikenal UNFCCC, merupakan perjanjian internasional yang bersifat mengikat secara hukum dan diakui umum oleh masyarakat internasional dalam menanggapi perubahan iklim. Tujuan konvensi ini adalah menstabilkan emisi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer pada tingkat tertentu sehingga tidak membahayakan sistem iklim bumi dan berada di tingkat aman. 3. Protokol Kyoto Protokol Kyoto sebagai instrumen yang mengatur lebih lanjut implementasi konvensi perubahan iklim menetapkan kewajiban bagi Negara maju (disebut Negara Annex I) untuk menurunkan emisi mereka secara rata-rata 5% di bawah tingkat emisi tahun 1990. Hal ini disepakati karena negara maju sampai saat ini merupakan penyumbang terbesar terhadap peningkatan konsentrasi GRK di atmasofer. Target penurunan emisi tersebut harus sudah dapat dicapai pada periode komitmen pertama yaitu 2008-2012. Dalam melakukan upaya penurunan emisi. Negara Annex I dapat melakukannya di Negara berkembang melalui mekanisme pembangunan bersih yang dikenal sebagai CDM (Clean Development Mechanisem).15 Dengan diadopsinya Protokol Ktoto tidak berarti bahwa perundingan tentang perlindungan iklim Bui ini telah berakhir. Para pihak Konvensi Perubahan Iklim akan terus melakukan komitmen mereka menurut ketentuan-ketentuan konvensi dan akan menyiapkan implementasi protokol yang disertai dengan tatacara dan aturan yang

15

Ibid., hlm. 13.

11

disepakati. Meskipun demikian, perundingan berjalan sangat lamban selama bertahuntahun dengan segala liku-likunya.16 Pasca diadopsinya Protokol Kyotodi CoP3 pembicaraan mengenai

implementasi instrument hukum ini mengalami pasang surut. Dimulai dari Buenos Aires tahun 1998 (CoP4), Bornn tahun 1999 (CoP5), Den Haag tahun 2000 (CoP6, Bonn awal tahun 2001 (CoP6-Bagian II), Marrakesh, Maroko, akhir tahun 2001 (CoP7), dan New Delhi (CoP8) akhir tahun 2002. Semangat perundingan mencapai titik terendah pada awal tahun 2001 ketika Amerika Serikat menentang dan menolak perjanjian ini tiga bulan setelah CoP6 bulan November di Den Hagg. Semuanya kembali lancar ketika CoP7 Para Pihak yang terpolarisasi antara negara maju dan negara berkembang kembali menerima dan tidak mempertahnkan posisi masingmasing di CoP-CoP sebelumnya. Pada akhirnya Para pihak meratifikasi Protokol ini. Dalam isu lingkungan ini yang paling memiliki tanggungjawab adalah negaranegara maju. Negara-negara inilah yang emisi totalnya pada tahun 1990 adalah 13,7 Gt (giga-ton= 10 ton). Seperti terlihat dalam table lampiran terakhir pada Protokol Kyoto, secara persentase kontribusi terbesar adalah AS (36,1), disusul oleh Rusia (17,4), Jepang (8,5), Jerman (7,4), Inggris (4,2), Kanada 3,3), Italia (3,1), Polandia ((3), Perancis (2,7), Australia (2,1), empat negara antara 1-2 persen, 17 negara di bawah 1 persen dan sisanya tiga negara 0 persen. Dalam protokol ini ada tiga mekanisme yang dapat dipilih guna ikut berpartisipasi melaksanakan isi protocol untuk para Pihak, yaitu: (1) Mekanisme Pembangunan Bersih atau Clean Development Mechanism (CDM); (2) Joint Implementation (JI) dan; (3) Emission Trading (ET). 1) CDM
16

Daniel Muldiarso. 2005. Protokol Kyoto: Implikasi bagi Negara Berkembang. Jakarta: Penerbit Kompas, Cetakan Kedua., hlm. 7.

12

Secara

umum

CDM

merupakan

kerangka

multilateral

yang

memungkinkan negara maju melkukan investasi di negara berkembang untuk mencapai target penurunan emisinya. Sementara itu, negara berkembang berkepentingan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan tujuan memberikan aturan dasar bagi kegiatan proyek yang dapat menghasilkan pengurangan emisi yang disertifikasi (Certified Emission Reduction, CER).17 Dalam perjalanannya, pelaksanaan kegiatan A/R CDM sangat sedikit. Volume perdagangan karbon dari kegiatan A/R CDM hanya sekitar 0,002%, sedangkan sisanya dari kegiatan CDM energi. Hal ini disebabkan karena kompleksnya aturan dan prosedur perhitungan kredit penurunan emisi dan sifat kredit yang dihasilkan juga tidak permanen seperti halnya kredit penurunan emisi dari proyek energi. Dilain pihak emisi dari kegiatan LULUCF sangat besar. Secara global dalam periode 20 tahun terakhir, emisi dari LULUCF mencapai 1,65 Gt carbon per tahun dan lebih dari 80% berasal dari Negara berkembang, khususnya Negara berhutan tropis akibat dari konversi lahan menjadi pengguna lain. Lapaoran IPCC (2007) menunjukan bahwa laju kehilangan hutan sudah mencapai tingkat yang membahayakan yaitu sekita 13 juta ha/tahun terutama dari kegiatan alih guna lahan menjadi lahan pertanian dan perkebunan (deforestasi). Kerusakan hutan juga cukup tinggi yaitu sekitar 7,3 juta ha/tahun selama periode 2000-2005. Oleh karena itu, upaya penurunan emisi dari kegiatan pencegahan deforestasi akan memberikan dampak yang besar dalam menstabilkan konsentrasi GRK di atmosfer sehingga dapat menurunkan laju pemanasan global.18 2) JI
17 18

Daniel Muldiarso., Op. Cit., hlm. 52. Mulyadi., Op. Cit., hlm, 14.

13

Meskipun Pasal 6 Protokol Kyoto tidak memiliki judul, bahkan tidak menggunakan istilah JI, pasal ini membahas cara-cara untuk mengalihkan unit pengurangan emisi (Emission Reduction Unit, ERU) yang diperoleh dari suatu kegiatan di negara maju ke negara maju yang lainnya. Konsep yang mendasari mekanisme Kyoto yang satu ini adalah teori ekonomi klasik yaitu dengan input yang sekecil mungkin diharapkan akan memperoleh output yang sebesar mungkin, karena itu JI akan mengutamakan cara-cara yang murah atau yang paling menguntungkan bagi yang menanamkan modalnya. Kegiatan JI akan didanai oleh sector swasta untuk menghasilkan ERU.19 Pedoman pelaksanaan JI menekankan hal-hal sebagai berikut: a) Dibentuknya Komite Pengawas (Supervisory Committee) pelaksanaan Pasal 6 dibawah CoP/ moP) b) Para pihak yang terlibat harus memnuhi persyaratan keabsahan (eligibility requerements) dengan berbagai ketentuannya c) Para pihak yang terlibat harus mengikuti prosedur verifikasi yang ditentukan Komite Pengawas. 3) ET Jika negara maju mengemisikan GRK di bawah jatah yang diizinkan, maka negara tersebut dapat menjual volume GRK yang tidak diemisikannya kepada negara maju lain yang tidak dapat memnuhi kewajibannya. Skema ini selanjutnya disebut perdagangan emisi (emission Trading, ET) dengan komoditas berupa unit jatah emisi (assigned Amount Unit, AAU). Namun demikian, jumlah GRK yang dapat diperdagangkan dibatasi sehingga negara pembeli tetap harus memenuhi kewajiban domestiknya dan sesuai dengan ketentuan Protokol Kyoto.

19

Ibid., hlm. 48.

14

ET harus diperlakukan sebagai suplemen atas kegiatan domenstik tersebut. Demikian ketentuan Pasal 17 Protokol Kyoto.20 Konsep semacam ini telah berhasil menghapuskan (phase-out) penggunaan bahan-bahan perusak lapisan ozon (Ozone Depleting Substances, ODS). Ketentuan dalam Protokol Kyoto mengenai pelaksanaan ET tidak menyebutkan bahwa pihak swasta juga diizinkan mengikuti mekanisme ini, hal ini berbeda dengan JI dan CDM. 4. KTT Bumi Rio+20 KTT Bumi Rio+20 diadakan untuk menindaklanjuti KTT Bumi di Rio de Janeiro 20 tahun silam. Konferensi yang diadakan pada bulan Juni 2012 ini dihadiri oleh 100 Kepala negara dan pemerintahan dan lebih dari 40.000 perwakilan lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, dan masyarakat sipil. Secara garis besar dalam konferensi tersebut PBB kembali menggaungkan pentingnya implementasi dari isu global, Green Economy atau ekonomi hijau dengan slogan pro-growt, pro-job, and pro-poor, suatu inisiatif tentang ekonomi modern yang merespon persoalan lingkungan dan menjawab masalah kemiskinan serta kesenjangan ekonomi dunia. Inisiatif Green Economy dalam Tatanan Global. Gagasan tentang ekonomi hijau berangkat dari keyakinan para ekonomi environmentalist dunia tentang kegagalan pasar market failure yang menumbuhkan ketidakpercayaan akan sistem kapitalis karena telah memunculkan persoalan kemiskinan dan ketidakadilan global. Sementara aktivitas-aktivitas ekonomi telah mengakibatkan bermunculannya

permasalahan lingkungan seperti krisis ekologi, eksploitasi sumber daya alam yang mengakibatkan pada kelangkaan, hingga berujung kepada isu yang menuntut

20

Ibid., hlm. 57-58.

15

perhatian khusus warga dunia, yaitu perubahan iklim climate change dan pemanasan global global warming.21 Konferensi ini memiliki tiga tujuan22, yaitu: (1) memperbaharui komitmen politik atas pembangunan berkelanjutan, (2) mengidentifikasi kesenjangan antara progres kemajuan dan implementasi dalam mencapai komitmen-komitmen lama yang telah disetujui, serta; (3) mengatasi berbagai tantangan baru yang terus berkembang. Dalam konferensi ini muncul slogan Future We Want atau Masa Depan yang Kita Mau. Hasil dari konferensi bumi kedua ini adalah sebuah dokumen final The Future We Want. Isi dari dokumen The Future We Want adalah terdiri dari 283 poin sebagaian besar adalah penegasan kembali dari Deklarasi Stockholm (1972), Deklarasi Rio dan juga Agenda 21 (1992). Selain empat konferensi di atas pada bulan September Tahun 2000 terdapat suatu paradigm baru dalam pembangunan global. Paradigm tersebut terdapat pada Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi TUjuan Pembangunan Milenium, dideklarasikan di KTT Milenium oleh 189 negara anggota PBB di New York. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 55/2 Tanggal 18 September 2000, (A/Ris?55?2 United Nations Millennium Development Goals). Semua negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berkomitmen untuk mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan, dan

21

Fathur Anas. KTT Rio+20 dan Green Economy. Opini Okezone.com tanggal 21 Juni 2012, diakses dari www.okezone.com pada tanggal 7 November 2012. Fathur Anas adalah seorang Peneliti di Developing Countries Studies Center (DCSC), Jakarta 22 www.wikipedia.co.id, diakses tanggal 7 November 2012

16

pembangunan. Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan dalam beberapa tujuan yaitu: a) Menanggulagi Kemiskinan dna Kelaparan; b) Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua c) Mendorong Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Perempuan; d) Menurunkan Angka Kematian Anak; e) Meningkatkan Kesehatan Ibu; f) Memerangi HIV/AIDs, Malaria, dan Penyakit Menular Lainnya; g) Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup, dan h) Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan. Dalam setiap tujuan ditetapkan target-target dan indicator pencapaian atau kemajuan hingga tahun 2015. Untuk tujuan ketujuh yang berkaitan dengan lingkungan hidup ada empat target pencapaian, yaitu: (1) Target 7A: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan program negara serta mengakhiri kerusakan sumber daya; (2) Target 7B: Mengurangi laju hilangnya keragaman hayati, dan mencapai pengurangan yang signifikan pada 2010; (3) Target 7C: Menurunkan separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses yang berkelanjutan terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar pada 2015; (4)Target 7D: Pada 2020 telah mencapai perbaikan signifikan dalam kehidupan (setidaknya) 100 juta penghuni kawasan kumuh.23 C. Prospek Penanganan Krisis Lingkungan Hidup Dikancah Global 1. Protokol Kyoto: Harapan Semu Tanpa Keterlibatan Negara Maju Pada tahun 2012 lalu masa berlaku Protokol Kyoto telah habis. Perjanjian yang dibuat tahun 1997 itu di Kyoto, Jepang mewajibkan negara-negara industry

23

Peter Stalker.Laporan Pencapaian Target MDGs di Indonesia, Cetakan Kedua, 2008, hal: 34

17

memangkas emisi gas rumah kaca. Dalam mengatasi habisnya masa berlaku Protokol Kyoto, pada akhir tahun 2012 diadakan KTT Iklim PBB di Doha, Qatar. Hampir 200 negara yang ikut KTT ini sepakat untuk memperpanjang Protokol Kyoto sampai 2020 atau diperpanjang 8 tahun terhitung dari 1 Januari 2013. Namun, harapan komitmen dari negara-negara maju untuk berperan dalam pengurangan emisi gas tak kunjung tercapai saat momentum perpanjangan Protokol Kyoto. Dua negara maju, sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, Kanada dan Amerika Serikat keluar dari Protokol Kyoto. Sementara itu, tiga negara maju lainnya, Rusia, Jeapng, dan Selandia Baru memutuskan tetap menjadi anggota Protokol Kyoto namun tidak berkomitmen untuk menurunkan emisi. Selebihnya, 37 negara maju dan Uni Eropa menyepakati pelaksanaan periode kedua selama 8 tahun. Keseluruhan emisi dari negara-negara ini hanya 20% dari total emisi karbon dunia.24 Dalam perjalanan panjang Protokol Kyoto, Amerika Serikat tidak pernah meratifikasi Protokol ini. Negara tersebut berdalih jika terlibat dalam Protokol akan mengganggu kondisi perekonomian dalam negeri mereka. Setidaknya alasan yang diungkapkan oleh Presiden Bush kepada para senator menggambarkan mengapa negara adikuasa tersebut menolak Protokol Kyoto, yaitu: a) Delapan puluh persen penduduk dunia (termasuk yang berpenduduk besar seperti CIna dan India) dibebaskan dari kewajiban menurunkan emisi; b) Implementasi Protokol Kyoto akan berpengaruh negative terhadap pertumbuhan ekonomi AS karena pergantian pembangkitan energy dengan batu bara menjadi gas akan sangat sulit;

24

Aji Wihardandi. COP-18 Doha: Negara-negara Maju Lepas Tangan dari Protokol Kyoto, 2012, diakses dari http://www.mongabay.co.id/category/lingkungan-hidup/

18

c) Protokol Kyoto adalah cara mengatasi masalah perubahan iklim global yang tidak adil dan tidak efektif; d) CO2 menurut undnag-undang AS, Clean Air Act tidak dianggap sebagai pencemar sehingga secara domestic tidka perlu diatur emisinya; e) Kebenaran ilmiah perubahan iklim dan cara-cara untuk memecahkan persoalannya didukung oleh pemahaman ilmiah yang terbatas.25 Pada tanggal 16 Februari 2005, Protokol Kyoto mulai berlaku setelah berhasil mengumpulkan jumlah minimum negara yang meratifikasinya. Sejauh ini, 187 negara telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto. Protocol Kyoto mewajibkan bahwa 37 negara industry (disebut negara-negara Annex I) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sampai dengan 5,2 persen dibawah tingkat emisi tahun 1990. Namun, hingga masa berakhirnya Protokol Kyoto sampai adanya kesepakatan perpanjangan sampai 2020, tidak ada komitmen serius yang ditunjukkan lewat konvensi legal oleh negara-negara maju untuk menekan tingkat emisi. Apalagi fakta terbaru mengungkapkan, bahwa emisi karbon tahun ini (2012) meningkat 2,6 %, atau sekitar 58% jauh lebih tinggi dibandingkan emisi karbon dunia tahun 1990.26 2. KTT Perubahan Iklim di Doha, Qatar KTT perubahan Iklim di Doha, Qatar yang diadakan di bulan Desember 2012 lalu, bisa dikatakan sebagai kemunduran dalam upaya penanganan krisis lingkungan hidup. Pasalnya dari 187 negara yang bersedia menandatangani Protokol Kyoto, hanya tersisa 37 negara. Selain itu negara-negara maju yang banyak menyumbang emisi gas rumah kaca justru melepas tanggungjawab dan tidak terikat dalam periode kedua protocol Kyoto. Padahal agenda besar dari
25 26

Daniel Muldiarso, Op. Cit., hal: 26-27 AJi Wihardandi. Log. Cit.

19

perpanjangan masa berlaku Protokol untuk memberi waktu pada negara maju untuk mengurangi emisi gas mereka seperti target yang telah ditentukan. Sebut saja Kanada yang mengikuti jejak Amerika Serikat untuk keluar dari keterikatan terhadap Protokol Kyoto. Di lain pihak Jepang, Rusia, dan Selandia Baru menyetujui tapi tidak mau berkomitmen menurunkan emisi sesuai kesepakatan. Realita ini membuat pesimistis terhadap penanganan perubahan iklim di kancah global. 3. Solusi Yang Ditawarkan Melihat realitas perjalanan panjang Protokol Kyoto agaknya negara-negara maju harus kembali memikirkan komitmen mereka. Komitmen untuk terlibat dalam implementasi Protokol ini, terkait dengan pengurangan emisi gas karbon. Mengingat tak bisa dipungkiri, merekalah penyumbang paling besar emisi gas karbon. Tanpa keterlibatan mereka perpanjangan Protokol Kyoto sampai 2020 hanya merupakan harapan semu belaka. Ditambah fakta yang menunjukkan temperature bumi semakin naik seperti disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius (Kompas.com, 7/12). Kedua, persoalan perubahan iklim merupakan persoalan global yang berdampak nasional maupun lokal. Banyak wilayah dimuka bumi ini yang telah terkena dampak perubahan iklim, seperti di Amerika Serikat yang diterjang Bandai Sandy, Topan Evan di Samoa dan Fiji, dan Badai Washi yang menghantam Philipina pecan lalu yang menewaskan ribuan orang. Untuk itu selain komitmen dari negara maju untuk mengurangi emisi gas karbon, penduduk bumi harus terus menggalakkan kehidupan yang hemat energi dan penghijauan. Seperti, gerakan penanaman pohon, gerakan bersepeda untuk mengurangi polusi akibat penggunaan sepeda motor.

20

BAB III KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dari kajian mengenai prospek penanganan krisis lingkungan hidup dikancah global dapat disimpulkan bahwa, pertama, bumi terus mengalami krisis atau kerusakan seiring dengan industrialisasi disegala bidang dan penggalakan pertumbuhan produksi di berbagai negara. Alhasil, lingkungan terus tercemari oleh limbah industri, polusi terus mencemari udara yang kita hirup, dan yang paling mengkawatirkan adanya bencana alam yang terus melanda wilayah dimuka bumi ini tak peduli di barat (Badai Sandy), maupun di timur (Badai Washi di Filipina, yang menewaskan ribuan orang). Kedua, penanganan krisis lingkungan hidup cenderung menggelisahkan dan menimbulkan sikap pesimistis ketika negara-negara maju tidak berkomitmen dalam pengurangan emisi gas karbon. Negara-negara maju harus kembali memikirkan keterlibatan mereka pada Protokol Kyoto. Ketiga, walau kajian ini berfokus pada peran negara-negara di dunia, isu lingkungan hidup yang berdampak secara nasional maupun lokal perlu keterlibatan entitas penduduk bumi. Penduduk bumi dibelahan manapun mereka berada perlu bersamasama terus bergerak dalam pengurangi dampak krisis lingkungan hidup. Hal ini bisa dilakukan dengan jalan, melakukan gerakan hemat energi, menggalakkan bersepeda atau jalan kaki, atau bahkan menggalakkan penggunaan bahan daur ulang seperti paperless gerakan untuk menggunakan kertas bekas untuk mencetak.

21