Anda di halaman 1dari 5

LENSA Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular tak berwarna dan hampir transparan sempurna.

Tebalnya kira-kira 4mm dan diameternya 9mm. Dibelakang iris. Lensa digantung oleh zonula, yang menghubungkannya dengan korpus silier. Disebelah anterior lensa terdapat humor aquaeus, disebelah posteriornya vitreus. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semi permiabel ( sedikit lebih permeabel dari pada dinding kapiler) yang akan memperoleh air dan elektrolit masuk. Lensa ditahan ditempatnya oleh ligamentum yang dikenal sebagai zonula (zonula zinnii), yang tersusun dari banyak fibril dari permukaan korpus siliare dan menyisip ke dalam ekuator lensa. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu : kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung. Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan Terletak ditempatnya.

Keadaan patologik lensa ini dapat berupa : Tidak kenyal pada orang dewasa yang akan mengakibatkan presbiopia Keruh atau apa yang disebut katarak Tidak berada ditempat atau subluksasi dan dislokasi.

ENDOFTALMITIS
Endoftalmitis adalah peradangan pada seluruh lapang mata bagian dalam cairan dalam bola mata ( humor vitreus) dan bagian putih mata (sklera), biasanya akibat infeksi setelah truma atau bedah, atau endogen akibat sepsis.Berbentuk radang supuratif di dalam bola mata dan struktur di dalamnya. Peradangan supuratif di dalam bola mata akan memberikan abses didalam badan kaca. Penyebab endoftalmitis supuratif adalah kuman dan jamur yang masuk bersama trauma tembus (eksogen) atau sistemik melalui peredaran darah (endogen).

Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran bakteri, jamur, ataupun parasit dari fokus infeksi didalam tubuh. Bakteri yang sering merupakan penyebab adalah stafilokok, streptokok, pneumokok, pseudokok, pseudomonas dan basil sublitis. Jamur yang sering mengakibatkan endoftalmitis supuratif adalah aktinomises, aspergilus, fitomikosis sportrikum dan kokidioides. Endoftalmitis merupakan penyakit yang memerlukan perhatian pada tahun terakhir ini karena dapat memberikan penyulit yang gawat akibat suatu trauma tembus atau akibat pembedahan mata intra-okular. Peradangan yang disebabkan bakteri akan memberikan gambaran klinik rasa sakit yang sangat, kelopak merah dan bengkak, kelopak sukar dibuka, konjungtiva kemotik dan merah, kornea keruh, bilik mata depan keruh yang kadang-kadang disertai dengan hipopion. Kekeruhan ataupun abses didalam badan kaca, keadaan ini akan memberikan refleks pupil berwarna putih sehingga gambaran seperti retinoblastoma atau pseudoretinoblastoma. Bila sudah terlihat hipopion keadaan sudah lanjut sehingga prognosis lebih buruk. Karena itu diagnosis dini dan cepat harus sudah dibuat untuk mencegah berakhirnya dengan kebutaan pada mata. Endoftalmitis akibat kuman kurang virulen tidak terlihat seminggu atau beberapa minggu sesudah trauma atau perbedaan. Demikian pula infeksi jamur dapat tidak terlihat sesudah beberapa hari atau minggu. Endoftalmitis yang disebabkan jamur masa inkubasi lambat kadang-kadang sampai 14 hari setelah infeksi dengan gejala mata merah dan sakit. Di dalam badan kaca ditemukan masa putih abu-abu, hipopion ringan, bentuk abses satelit di dalam badan kaca, dengan proyeksi sinar baik.

Endoftalmitis diobati dengan antibiotika melalui periokular atau subkonjungtiva. Antibiotik topikal dan sistemik ampisilin 2gram/hari dan kloramfenikol

3gram/hari.Antibiotik yang sesuai untuk kausa bila kuman adalah stafilokok, basitrasin (topikal), metisilin (subkonjungtiva dan iv. Sedang bila pnemokok, streptokok dan stafilokok penisilin G (top, subkonjungtiva dan iv). Neiseria penisilin G(top.subkonjungtiva dan iv).Pseudomonas diobati dengan gentamisin; tobramisin dan karbesillin (top.subkonjungtiva dan iv). Batang gram negatif lain gentamisin (top.subkonjungtiva dan iv) Siklopegik diberikan 3 kali sehari tetes mata. Kortikosteroid dapat diberikan dengan hati-hati. Apabila pengobatan gagal dilakukan eviserasi. Enukleasi dilakukan bila mata telah tenang dan ptisis bulbi. Penyebabnya jamur diberikan amfoterisin B150 mikro gram subkonjungtiva. Penyulit endoftalmitis adalah bila proses peradangan mengenai ketiga lapisan mata (retina koroid dan sklera) dan badan kaca maka akan mengakibatkan panoftalmis. Prognosis endoftalmis dan panoftalmis sangat buruk terutama bila disebabkan jamur atau parasit.

HIFEMA ( Perdarahan di dalam COA )


Hifema dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar ( corpus ciliaris ). Pasien akan mengeluh sakit, disertai epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Merupakan keadaan yang gawat. Sebaiknya dirawat, karena takut timbul perdarahan sekunder yang lebih hebat dari perdarahan primer, yang biasanya timbul pada hari kelima setelah trauma. Perdarahan sekunder ini terjadi karena bekuan darah terlalu cepat diserap, sehingga pembuluh darah tidak mendapat waktu cukup untuk regenerasi kembali, dan menimbulkan perdarahan lagi. Adanya darah di dalam COA dapat menghambat aliran aquos humor ke dalam trabekula , sehingga dapat menimbulkan glaucoma sekunder.Hifema dapat pula menyebabkan uveitis. Darah dapat terurai dalam bentuk hemosiderin, yang dapat meresap masuk kedalam kornea, menyebabkan kornea berwarna

kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea. Jadi penyulit yang harus diperhatikan adalah : glaucoma sekunder, uveitis, dan imbibisio kornea. Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. Bila sedikit ketajaman penglihatan mungkin masih baik dan TIO normal. Perdarahan yang mengisi setengah COA, dapat menyebabkan gangguan visus dan TIO, sehingga mata terasa sakit oleh glaucomanya. Jika hifemanya mengisi seluruh COA, rasa sakit bertambah dan visus lebih menurun lagi, karena TIO bertambah pula. Zat besi didalam bola mata dapat menimbulkan sederosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan. Pengobatan : Semua hifema harus dirawat. Istirahat ditempat tidur dengan elevasi kepala 30-45 derajat. Keadaan ini harus dipertahankan selama minimal 5 hari. Pada anak-anak mungkin harus diikat tangan dan kakinya ketempat tidur dengan pengawasan yang sabar. Mata ditutup. Beri salep mata, koagulansia. Bila terisi darah segar, berikan antifibrinolitik, agar bekuan darah tak terlalu cepat diserap, untuk memberi kesempatan pembuliuh darah sembuh, agar tidak terjadi perdarahan sekunder. Pemberiannya tak boleh melewati 1 minggu, karena dapat mengganggu aliran aquos humor, menimbulkan glaucoma dan imbibisio kornea. Dapat diberikan 4 x 250 mg transamin. Selama dirawat perhatikan : - hifema penuh / tidak - TIO naik / tidak - fundus terlihat / tidak Hifema yang penuh dengan kenaikan TIO, perlu pemberian Diamox, Gliserin, yang harus dinilai selama 24 jam. - jika TIO tetap tinggi atau turun, tetapi tetap diatas normal, lakukan parasentese - jika TIO menjadi normal, diamox tetap diberikan dan dinilai setiap hari. Bila TIO ini tetap normal dan darah masih ada sampai hari ke 5 - 9 lakukan parasentese Jadi parasentese dilakukan : - jika TIO tidak turun dengan Diamox dan Timolol - jika darah masih tetap ada didalam COA pada hari ke 5 - 9 Hifema yang penuh mempunyai prognosis yang lebih buruk dari pada yang sebagian, dengan kemungkinan timbul glaucoma dan imbibisio kornea. Cara melakukan parasentese : 1 jam sebelum operasi, pasien diberikan sedative cocktail terdiri dari : - largaktil 25 mg - petidin 50 mg

- phenergan 25 mg Mata yang sakit didisinfeksi dengan asam pikrin 2%. Kornea ditetesi pantokain 2% setiap 3 menit 3 kali. Suntikkan retrobulbar novokain untuk block semua otot ekstraokuler. Pasang spekulum untuk memegang kelopak mata, agar tidak menutup kembali. Dengan jarum parasentese yang steril, dilakukan insisi pada kornea dijam 6 dekat limbus. Jangan dilimbus, karena banyak pembuluh darah. Darah akan keluar melalui luka tersebut, setelah jarum parasentese dikeluarkan lagi. Kadang-kadang COA dibersihkan dengan larutan garam fisiologi sampai semua darah keluar.. Kemudian berikan salep mata AB dan mata dibalut. Penderita disuruh tidur kembali. Bila ada glaucoma yang tidak bisa dikontrol dengan cara diatas, maka dilakukan iridenkleisis. Dan jika ada imbibisio kornea dilakukan keratoplasti.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sidartha Ilyas, Prof. Dr, SpM; Endoftalmitis dalam Ilmu Penyakit Mata; BP FKUI, Edisi ketiga, Jakarta, 2004; hal. 175-178 2. N. Wijaya S. D, Dr; Endoftalmitis dalam Ilmu Penyakit Mata, Jakarta, 1983. 3. Ilyas Sidharta, Prof.dr.H.SpM,Ilmu Penyakit Mata,ed.2,Jakarta : balai Penerbit FKUI: 2000 4. Wijaya Nana S.D, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan III, 1983