Anda di halaman 1dari 16

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. 2.1.1.

Perilaku Manusia Pengertian Perilaku manusia dirumuskan sebagai keadaan jiwa (berpendapat,

berpikir, bersikap) untuk memberikan tanggapan terhadap situasi luar subyek tersebut, yang dapat bersifat aktif (melakukan tindakan/action) maupun bersifat pasif. H.L.Blum (1966) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku ke dalam tiga domain (ranah/kawasan). Ketiga domain tersebut terdiri dari : ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor. Dalam perkembangan selanjutnya para ahli pendidikan menyebut Knowledge (pengetahuan), attitude (sikap) dan Practice (tindakan). Pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun dari orang lain. Pengetahuan seseorang dikumpulkan dan diterapkan secara bertahap mulai dari tahap yang paling sederhana hingga ke tahap yang lebih lengkap (Notoatmodjo Soekidjo, 1990). Tahap tersebut adalah : a. b. c. d. Orang mengetahui akan pengetahuan yang baru. Orang merasa tertarik untuk mendapatkan pengetahuan yang tersebut. Orang mulai menilai pengetahuan yang diperolehnya. Orang menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama. Sikap (attitude). Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan, yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya (David O Sears, !992). Sikap belum merupakan suatu tindakan/kreatifitas, akan tetapi berupa predisposisi tingkah laku (Marat, 1981). Sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi harus ditafsirkan sebagai tingkah laku yang tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka. Menurut Marat (1982) tingkat pengetahuan seseorang akan sesuatu sangat penting serta merupakan dasar dari sikap dan tindakan dalam menerima atau menolak sesuatu hal yang baru. Sikap merupakan respon evaluatif yang dapat berupa respon respon positif maupun respon negatif. Sikap manusia akan dicerminkan dalam bentuk perilaku dalam obyek. Namun menurut Mann (1969) mengatakan bahwa sekalipun diasumsikan bahwa sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda (Azwar S, 1995).

Allport (1954) seperti yang dikutip Marat (1981) menjelaskan bahwa sikap memiliki tiga komponen pokok, yakni : a. Komponen kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan, ide dan konsep terhadap suatu obyek. Kepercayaan datang dari apa yang kita lihat atau apa yang kita ketahui. Berdasarkan apa yang kita lihat kemudianterbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik suatu obyek. b. Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang terhadap obyek. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. c. Komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku. Komponen konatif dalam sikap menunjukan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi. Menurut tingkatannya sikap terdiri dari: a. Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). b. Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari pada sikap.

c.

Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan dan mendiskusikan terhadap suatu masalah.

d.

Bertanggung jawab (Responsible) Segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko. Ini merupakan tingkatan sikap yang paling tinggi.

Pengkategorian sikap Variasi bentuk pilihan jawaban yang memperhatikan tingkat kesetujuan, antara lain adalah sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, sangat setuju. Diferensiasi ini dapat disederhanakan lagi menjadi tiga pilihan : tidak setuju, ragu-ragu, setuju. Pada beberapa kasus, dapat dibuat juga skala yang aitem-aitemnya direspon hanya dengan dua pilihan : setuju dan tidak setuju. Pilihan jawaban yang disediakan selalu simetrikal, yaitu jenjang kearah positif sama banyak dengan jenjang ke arah negatif (Azwar, S, 1999). Rensis Likert telah mengembangkan pengukuran untuk mengukur sikap masyarakat yang dikenal dengan nama skala Likert. Dalam skala likert ini responden diminta untuk mencek setiap aitem apakah ia setuju (+) atau tidak setuju (-). Respon tersebut dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi setuju diberi skor tertinggi. Tidak ada masalah, misalnya untuk memberi angka 5 untuk yang tertinggi dan skor 1 untuk yang terendah atau sebaliknya. Yang penting adalah konsistensi dari arah sikap perlu diperhatikan (Nasir, Moh., 1999). Penskalaan sikap dapat

diperlebar menjadi skala 1 sampai 7 atau diperkecil menjadi skala 1 samapi 3 (Santoso, Singgih, 2000). Setelah skor T dari skala Likert diketahui, pengkategorian skor T dapat menggunakan cara penilaian dengan acuan norma (Azwar, S, 1995). Praktek (Practice). Seseorang berperilaku disebabkan oleh karena pengetahuan, kepercayaan dan sikap yang dimilikinya. Dan sikap itu sendiri apabila sudah positif terhadap nilai-nilai tertentu tidak selalu diwujudkan dalam tindakan yang nyata (perilaku). Hal ini disebabkan beberapa alasan antara lain: - Sikap untuk terwujud dalam tindakan tergantung pada situasi saat itu. - Sikap akan diikuti atau tidak oleh suatu tindakan mengacu pada pengalaman orang lain. - Sikap akan diikuti atau tidak dengan suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pengalaman seseorang. Ancok (1989) menyatakan bahwa adanya pengetahuan tentang sesuatu hal akan menyebabkan seseorang mempunyai sikap dan perilaku yang baik. 2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku 2.1.2.1 Faktor Intern a. Jenis Ras Setiap ras yang ada di dunia ini memperlihatkan perilaku khas dan memiliki ciri-ciri tersendiri. Misalnya Ras mongoloid mempunyai

perilaku yang ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. b. Jenis kelamin Perilaku antara laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan. Perbedaan ini dimungkinkan oleh karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas pekerjaan. c. Sifat fisik Kretschmer Sheldon seorang toko yang mengaitkan perilaku seseorang dengan tipe fisiknya. Misalnya orang yang pendek, bulat, gendut memiliki perilaku senang bergaul, humoris dan banyak teman (Kusmiati S, Desmaniarti, 1990). d. Sifat kepribadian Menurut Kusumanto Setyonegoro kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun lingkunganya, sehingga corak dan cara kebiasannya itu merupakan suatu kesatuan fungisioanal yang khas untuk manusia itu (Sri Kusmiati, Desmaniarti, 1990). Dalam kehidupan sehari-hari kepribadian diartikan sebagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi orang lain. sebagai contoh Orang yang pemalu dikatakan berkepribadian pemalu. Kepribadian setiap orang sangat unik sehingga dalam berperilaku sangat berbedabeda.

10

e.

Bakat bawaan Menurut Juhana Wijaya (1988) bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan ketrampilan khusus misalkan berupa kemampuan bermain musik., melukis dan lain-lain (Sri Kusmiati, Desmaniarti, 1990).

f.

Intelegensi Menurut Juhana Wijaya dikutip dari Sri Kusmiati dan Desmaniarti (1990) intelegensi didefenisikan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta efektif

g.

Pengalaman Pengalaman adalah segala sesuatu yang telah dialami atau dirasakan (Peter Salim, Yenni Salim, 1990). Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus social. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis. Tanggapan dan penhatan tersebut akan membentuk sikap baik positif maupun negatif tergantung pada berbagai factor. Middlebrook (1974) mengatakan bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut.

2.1.2.2 Faktor Ekstern

11

a. Pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu (Suwarno, 1992). Pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan (Sri Kusmiati Dra, Desmaniarti, BSc, 1990). Proses dan kegiatan pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan dan segala bentuk interaksi individu dengan lingkunganya baik secara formal maupun informal. Inti dalam kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar dengan hasil yang diharapkan adalah seperangkat perubahan perilaku. Seseorang dengan pendidikan tinggi akan bebrbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan lebih rendah. Jadi semakin tinggi pendidikan seseorang semakin baik perilakunya. Perawat yang juga mempunyai tingkat pendidikan yang berbeda, dalam berperilaku dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. b. Sosial ekonomi Lingkungan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Keadaan ekonomi seseorang yang mencukupi akan mampu menyediakan fasilitas yang diperlukan olehnya. Keadaan ekonomi tidak cukup akan mempengaruhi seseorang akan mencari dengan cara yang lain dan keadaan ini biasanya menimbulkan stres psikologi. Pada keadaan seperti ini salah satu manisfestasinya adalah seseorang akan lebih mudah terangsang oleh stimulus dari luar yang dianggap

12

menggangunya. Perawat juga tidak terlepas kemungkinan untuk mengalami keadaan seperti ini bila ia merasa keadaan sosial ekonominya tidak mencukupi. Secara sadar atau tidak perawat akan membawa permasalahannya ke tempat kerja dan manifestasi yang akan muncul adalah perilaku dalam merawat klien akan tidak sesuai dengan yang diharapkan. c. Lingkungan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu baik lingkungan fisik, biologis maupun sosial (Sri Kusmiati, Desmaniarti, 1990). Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Perawat dalam memberikan pelayanan juga tidak terlepas dari pengaruh lingkungan. d. Agama Agama merupakan suatu keyakinan hidup seseorang sesuai dengan norma/ajaran agamanya. Keyakina yang dianut seorang individu sangat berpengaruh terhadap tingkahlaku dan sikap hidup seseorang. Agama akan menjadikan individu berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya. e. Kebudayaan Menurut Koentjaraningrat yang dikutip dari Sri Kusmiyati (1990), kebudayaan adalah keseluiruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Dalam arti sempit kebudayaan diartikan sebagai

13

kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Kesemuanya itu akan mempengaruhi perilaku seseorang. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya. 2.2 Perilaku Asertif 2.2.1 Pengertian Perilaku asertif merupakan kegiatan individu atas sesuatu yang

berkaitan dengan individu tersebut, yang diwujudkan dalam bentuk gerak atau ucapan secara asertif. Asertif adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasan diri dengan tetap menghargai hak orang lain (Smith, 1992). Menurut Percell (1995), perawat dalam memberikan pelayanan dituntut memiliki sikap atau berperilaku asertif karena perilaku ini menunjukan komunikasi yang terbuka, dewasa dan langsung yang memungkinkan orang lain untuk melihat dan mengetahui perasaan seseorang serta meningkatkan harga diri (La Monica, 1998). Ada beberapa tahap untuk menjadi lebih asertif antara lain: menggunakan kata tidak sesuai dengan kebutuhan, mengkomunikasikan maksud dengan jelas, mengembangkan kemampuan mendengar, Pengungkapan komunikasi disertai dengan bahasa tubuh yang tepat, meningkatkan kepercayaan diri dan gambaran diri, menerima kritik dengan ramah dan belajar secara terus menerus (Lindberg et al, 1998).

14

2.2.2 Unsur-unsur perilaku asertif 1) Unsur verbal Kekerasan. Nada suara merupakan salah satu unusur non verbal yang sangat menentukan proses interaksi dapat berjalan baikm, dan tidak tergantung pada isi pesan yang dikirim. Nada yang asertif harus keras dan tegas sehingga terdengar dengan jelas ; tetapi tidak boleh terlalu keras sehingga memekakkan telinga penerma. Berteriak atau berbisik bukanlah sikap/ perilaku asertif. Kelancaran. Kelancaran mengatakan kata-kata juga tidak

tergantung pada isi pesan. Orang yang terlalu banyak penghentian atau kata-kata pengisi cenderung dilihat sebagai orang yang ragu, sedangkan orang yang terlalu bicara cepat sering dialami oleh orang lain sebagai orang yang terlalu membebani yang asertif adalah kecepatan bicara yang sedang tidak terputus-putus. Kontak mata. Kontak mata merupakan salah satu cara untuk mengukur respon seseorang pada saat interaksi dan dengan cara tersebut lawan bicara dipaksa untuk memberikan umpan balik. Membelalak atau menatap tajam adalah hal yang intrusif. Kontak mata asertif berarti bahwa seseorang mampu memandang wajah penerima pesan terus-menerus tetapi tanpa intensitas tertentu yang membuat penerima merasa ditantang. Ungkapan wajah. Ungkapan wajah sulit diukur digambarkan meskipun demikian kebanyakan orang telah tersosialisasi untuk mampu

15

memilih ungkapan wajah yang cocok untuk arti kata-kata dengan irama seringkali dipengaruhi oleh rasa tidak nyaman atau kecemasan. Perawat dalam memberikan pelayanan kepada pasien akan dihadapkan pada respon klien yang selalu berubah. Hal ini menuntut perawat untuk mampu masuk dan memahami apa yang dirasakan pasien dan ikut merasakan. Perasaan prrw tersebut akan tergambar melalui ungkpan wajah. Ungkapan tubuh. Ungkpan tubuh sebenarnya dapat

menyampaikan sekumpulan sikap kompleks (La Monica, 1998). Seseorang yang duduk membungkuk dapat dilihat sebagai marah, tidak berminat atau ketakutan, tangan menyilang dapat memberikan kesan bahwa seseorang berhati-hati, bersiaga dan tidak menerima. Tangan di pinggang dapat menunukkan perlawanan, perilaku merendahkan. Sedangkan postur kaku seperti kayu dapat menunjukkan ketakutan. Orang yang asertif dalam ungkapan tubuhnya akan tampak santai tetapi tidak membungkuk, berdiri tegak tanpa menjadi kaku dan

menggunakan tangan serta bahu untuk menekankan pembicaraan meraka tanpa menjadi terlalu memaksa atau kasar. Jarak. Jarak seseorang berdiri dari orang lain ketika interaksi akan berbeda-beda sertiap orang dan kebudayaan. Suatu dialog interpersonal yang berarti biasanya tidak terjadi pada jarak lima kaki. Jarak seseornag berdiri dalam dialog yang asertif adalah cukup dekat sehingga tidak banyak yang dapat lewat diantara mereka tetapi tidak

16

terlalu dekat sehingga memecahkan gelembung mereka. Yang dimaksud gelembung adalah batas tidak kasat mata yang digunakan oleh seseorang untuk melindungi dirinya dari intrusif orang lain. 2) Unsur non verbal Mengatakan tidak atau menyatakan sikap. Pernyataan sertif dapat berupa inisiasi atau reaksi. Terdapat cara-cara untuk mengatakan tidak secara asertif sebagai respon terhadap permintaan orang lain atau kebutuhan orang lain. banyak orang merasa disudutkan bila diminta untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Meskipun demikian, setiap orang akan pernah merasa ingin atau perlu menolak kebaikan atau permintaan. Bila mengatakan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, maka seseorang dapat secara tidak sengaja menjadi terlalu agresif atau terlalu membenarkan penolakan. Sebuah aspek penting dari mengatakan tidak secara asertif adalah bahwa penolakan dipahami dan dipercaya. Mengatakan terlalu banyak membuat seseorang tidak yakin dan mengatakan terlalu sedikit dapat tampak sebagai penolakan. Tujuannya adalah mengatakan tidak dengan tegas atau tanpa kompromi, sementara tetap mengakui hak orang lain untuk meminta. Mengatakan tidak secara asertif berarti seseorang dapat menolak sebuah permintaan dan memberi alasan dari penolakannya sambil menunjuk orang lain tersebut telah didengarkan. Meminta bantuan atau mempertahankan hak. Seseorng mempunyai hak untuk mendapatkan segala yang diminta, tetapi perlu

17

ada ijin untuk memintanya. Bila seseorang merasa terlalu sulit untuk minta pertolongan, hal ini kadang-kadang berarti ia takut ditolak dan bukan karena suasananya yang sulit. Permintaan bantuan secara asertif berarti menyatakan masalah dengan jelas dan membuat permintaan yang khusus. Permintaan harus berakhir dengan persetujuan atau dengan pemahaman mengapa tidak dapat atau tidak boleh disetujui. Seperti meminta bantuan, mempertahankan hak juga merupakan hak seseorang. Namun cara penyampaiannya yang perlu diketahui. Seseorang yang ingin mempertahankan haknya harus menyampaikan masalah, membuat permintaan khusus untuk perbaikan atau perubahan, bila terjadi pelanggaran atas hak-haknya. Pengungkapan perasaan. Meskipun perasaan sering muncul dari perilaku non verbal, orang mungkin tidak mengetahui perasaan orang lain kecuali jika perasaan itu diungkapkan melalui kata-kata. Ungkapan perasaan baik itu perasaan suka atau tidak suka harus difomulasikan dalam kata-kata yang tidak menyakitkan si penerima.

2.3 Pelayanan/ Asuhan Keperawatan Pelayanan keperawatan atau asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang langung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan metodologi proses keperawatan,

18

berpedoman pada standar keperawatan, dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup wewnang serta tanggung jawab keperawatan.

2.2. Kerangka Konseptual Faktor-faktor yang mempengaruhi : Tingkat pendidikan Pengalaman Jenis kelamin Sifat kepribadian Bakat bawaan Jenis ras Lingkungan Sifat fisik Intelegensi Sosial Ekonomi Agama Kebudayaan Perilaku asertif :

Pengetahuan

Sikap

Praktek

2.3. Hipotesa 1. Ada hubungan antara tingkat pendidikan dan perilaku asertif perawat di instalasi rawat inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 2. Ada hubungan antara pengalaman kerja dan perilaku asertif perawat di instalasi rawat inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya. 3. Ada hubungan anatara jenis kelamin dan perilaku asertif perawat di instalasi rawat inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

19

20