Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PSIKIATRI SKIZOFRENIA PARANOID DALAM REMISI PARSIAL

Disusun oleh: M. Riefky K 1010221056

Dokter Pembimbing: Dr. Mardi Susanto, Sp.KJ (K)

FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA RSUP PERSAHABATAN JAKARTA

2012 I. IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pekerjaan Alamat : Tn. Y : 34 Tahun : Perempuan : Islam :: Pondok Bambu

II. RIWAYAT PSIKIATRI Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 2 September 2012, pukul 10.00 WIB di Poliklinik Psikiatri RS Persahabatan. A. Keluhan Utama Pasien datang ke Poliklinik Psikiatri untuk kontrol rutin karena obat habis. B. Riwayat Gangguan Sekarang Pasien ditemani ibu pasien, datang ke poliklinik psikiatri RS Persahabatan untuk kontrol rutin dan obatnya akan habis (sisa 1), pasien dan ibu pasien mengatakan cocok dengan obat tersebut dan mengaku tidak pernah putus obat. Pasien saat ini tidak memiliki keluhan, namun menurut ibu pasien pasien masih suka marah tanpa sebab jelas dan mudah tersinggung. Pasien menyangkal memiliki gangguan tidur. Ibu pasien menjelaskan bahwa pasien pernah mendengar bisikan suarasuara di telinganya, bisikan berupa suara tetangga dan bibinya yang menghina dan memarahi dirinya, terkadang pasien ketakutan akan dijahati oleh orang-orang tersebut. Ibu pasien juga pernah melihat pasien berbicara sendiri dan senyum senyum sendiri. Namun saat ini keluhan diatas sudah menghilang

Pasien tidak pernah melihat bayangan ataupun mencium bau yang tidak dapat dirasakan orang lain. Pasien tidak pernah merasa pikirannya disedot, dibaca ataupun dikendalikan orang lain. Pasien tidak pernah merasakan adanya rangsangan yang tidak lazim pada sekujur tubuhnya. Pasien menuturkan tidak pernah merasakan bahwa dirinya saat ini sedang berada di tubuh orang lain yang tidak dikenalnya. Pasien juga tidak merasakan adanya perubahan pada lingkungannya, seperti rumahnya yang tiba tiba bertambah besar atau kecil. Pasien tidak pernah merasakan kalau dirinya dibicarakan atau digosipkan penyiar TV ataupun orang sekitar. Ibu Pasien menuturkan keluhan tersebut mulai dirasakan 14 tahun yang lalu namun mungkin juga muncul lebih awal, dikarenakan ibu pasien kurang memperhatikan keadaan anaknya. Namun saat ini, keluhan pasien tersebut pasien tidak pernah dirasakan lagi. Pasien menuturkan pasien menyadarari dirinya jika sedang sakit. Biasanya pasien melakukan relaksasi apabila menyadari bahwa dirinya sedang mendapat serangan. Relaksasi yang biasanya dilakukan oleh pasien duduk untuk menenangkan diri, sambil menonton TV. Pasien menyadari dirinya mengalami gangguan pskotik, namun gangguan tersebut ridak membuat pasien malas untuk merawat diri. Pasien mengatakan tidak mengalami masalah untuk menjaga kebersihan tubuhnya. Pada saat ini pasien tinggal di rumah orang tuanya milik pribadi. Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Adik pasien sudah menikah sehingga sudah pisah rumah. Pasien belum menikah. Ayah pasien sebagai tulang punggung keluarga, memiliki pekerjaan tidak tetap. Namun dikatakan ibu pasien penghasilan cukup untuk kebutuhan sehari hari dan biaya berobat pasien. Pasien lahir secara normal di bidan. Saat dalam kandungan, ibu pasien tidak memiliki riwayat penyakit yang berpengaruh terhadap perkembangan janin. Tidak ada riwayat gangguan pada proses kelahiran,

namun pasien memiliki gangguan perkembangan dalam hal mendengar dan berbicara. Pasien baru dapat berbicara lancar usia 5 tahun. Saat ini pasien masih menderita tuli ringan-sedang dan ada gangguan bicara. Pasien menamatkan sekolah sampai SMP Sanawiyah. Saat itu ibu pasien masih bekerja sehingga tidak memperhatikan keadaa emosi ataupun prestasi pasien di sekolah, namun dari keterangan pasien didapatkan bahwa tidak ada masalah saat sekolah baik dari segi akademik maupun kemampuan interaksi sosial. Namun ketika tamat SMP pasien tidak mau meneruskan sekolahnya tanpa alasan. Hingga saat ini pasien tidak memiliki perkerjaan. Seharihari pasien menghabiskan waktu untuk beres-beres kamar dan menonton tv yang merupakan hobinya. Pasien senang menonton berita di TV. Menurut ibu pasien, pasien juga tidak bisa ikut kegiatan lingkungan. Ibu pasien juga merasa takut jika pasien mengalami serangan saat sedang ikut kegiatan warga, sehingga pasien hanya berada di dalam rumah seharian. Ibu pasien masih rutin ikut pengajian dan arisan warga, sehingga jika ibu sedang arisan, pasien ditinggal di rumah sendirian. Namun menurut ibu pasien, pasien mampu merawat diri sehingga ibu pasien tidak khawatir untuk meninggalkan pasien sendiri di rumah. Pasien tidak pernah menkonsumsi NAPZA dan rokok. Pasien juga merupakan seorang muslim yang taat. Saat ini pasien memiliki satu keinginan saja, yaitu ingin sembuh. C. Riwayat Gangguan Sebelumnya 1. 2. 3. Riwayat Gangguan Psikiatri Riwayat Gangguan Medik Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif / Alkohol Tidak ada gangguan psikiatri sebelumnya. Gangguan mendengar dan bicara. Tidak terdapat riwayat penggunaan zat psikoaktif.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


a. Riwayat pranatal: Pasien dilahirkan dalam proses persalinan normal

dan tidak ada penyulit selama dalam masa kandungan dan proses persalinan.
b. Riwayat masa kanak-kanak dan remaja: Pasien tumbuh sesuai umur

sebagaimana anak seumurnya sehingga pasien tidak ada gangguan dalam pertumbuhan, namun perkembangan dalam hal bicara terganggu. Pasien bicara pada usia 5 tahun.
c. Riwayat masa akhir kanak-kanak: Pasien tumbuh dengan baik, tidak

ada masalah dalam berkehidupan sosial. d. Riwayat pendidikan Pasien sempat mengecap dunia pendidikan dari tingkat SD sampai SMP, prestasi belajar pasien biasa biasa saja. Pasien tidak melanjutkan ke tingkat SMA karena tidak mau, tanpa alasan jelas. e. Riwayat pekerjaan Saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan. Sehari, hari pasien hanya membersihkan kamar dan menonton TV. Ekonomi ditanggung ayah yang memiliki pekerjaan tidak tetap. f. Riwayat agama Pasien beragama Islam dan termasuk taat dalam menjalankan ibadahnya. g. Hubungan dengan keluarga Pasien memiliki hubungan yang baik dengan ayah, ibu dan saudara kandungnya. Keluarga pasien juga mendukung pasien untuk sembuh. Namun ibu pasien terkesan menutup anak dari interaksi sosial karena takut pasien akan mengalami serangan saat di luar rumah. Pada saat ini pasien tinggal di rumah milik keluarganya sendiri. Pasien tinggal di rumah tersebut bersama kedua orang tuanya.

h.

Aktivitas sosial

Pasien memiliki masalah dalam berinteraksi dengan orang lain. Psien tidak pernah mengikuti kegiatan sosial E. Riwayat Keluarga Di keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien. F. Situasi Sekarang Pasien perempuam umur 34 tahun, saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan. Pasien saat ini tinggal di rumah milik pribadi keluarganya sendiri. Pasien tinggal di rumah tersebut bersama kedua orang tuanya. Pasien dalam memenuhi biaya pengobatannya mengadalkan dari ayah yang bekerja tidak tetap. Hubungan pasien dengan orang tua dan saudara kandungnya baik baik saja. Ada masalah dalam bersosialisasi dengan orang lain pada diri pasien, pasien enggan untuk berinteraksi. Saat ini pasien memiliki keinginan untuk sembuh saja. G. Persepsi Pasien Terhadap Dirinya Saat ini pasien sangat menginginkan untuk sembuh. III. STATUS MENTAL A. DESKRIPSI UMUM 1. Penampilan Laki - laki usia 34 tahun, tampak sesuai dengan usia, berpakaian rapi, ekspresi tenang, perawatan diri baik, warna kulit sawo matang. 2. Kesadaran
Kesadaran umum Kontak psikis

: Compos mentis : Sulit dilakukan, masih wajar

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor

Cara berjalan

: Baik

Aktifitas psikomotor : Pasien kooperatif, tenang, kontak mata

kurang baik, tidak ada gerakan involunter dan secara umum dapat menjawab pertanyaan dengan baik. 4. Pembicaraan Kuantitas
Kualitas

: Baik, pasien dapat menjawab pertanyaan : Bicara spontan, volume bicara normal, jelas dan pembicaraan kebanyakan dapat

dokter dan dapat mengungkapkan isi hatinya dengan jelas. artikulasi kurang dimengerti Tidak ada hendaya berbahasa 5. Sikap Terhadap Pemeriksa Pasien kooperatif. B. KEADAAN AFEKTIF 1. 2. 3. 4. Mood Afek Keserasian Empati Pasien mengatakan alam perasaannya saat ini biasa biasa saja Sedikit tumpul Mood dan afektif serasi Pemeriksa tidak dapat merabarasakan perasaan pasien saat ini. C. FUNGSI INTELEKTUAL / KOGNITIF 1.

Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan Pasien sempat mengecap dunia pendidikan dari tingkat SD sampai SMP, prestasi belajar pasien biasa biasa saja. Pasien tidak melanjutkan ke tingkat SMA karena tidak mau, tanpa alasan jelas. Pengetahuan Umum 7

Baik, pasien dapat menjawab dengan tepat ketika ditanya nama presiden Indonesia yang pertama sampai presiden yang terakhir. 2. Daya kosentrasi Baik, pasien dapat mengikuti wawancara dengan baik dari awal sampai dengan selesai. Pasien juga dapat menjawab dengan benar pertanyaan penjumlahan angka yang diberikan oleh dokter (100-7=93). 3. Orientasi Waktu : Baik, pasien mengetahui waktu saat berobat siang hari
Tempat

: Baik, pasien mengetahui dia sedang berada di

RS
Orang : Baik, pasien mengetahui pemeriksa adalah dokter.

Situasi : Baik, pasien mengetahui bahwa dia sedang konsultasi dan wawancara 4. Daya Ingat Baik, pasien masih dapat mengingat dimana pasien bersekolah ketika pasien SD dan SMP Daya ingat jangka pendek Baik, pasien dapat mengingat bahwa pasien dapat menuju ke RS Persahabatan dengan menggunakan angkutan kota bersama ibunya. Daya ingat segera Baik, pasien tidk dapat mengingat 5 nama kota yang disebutkan oleh dokter. Akibat hendaya daya ingat pasien Terdapat hendaya daya ingat segera pada pasien saat ini. 5. Pikiran abstrak

Daya ingat jangka panjang

Pasien tidak dapat menjawab arti dari peribahasa dan ungkapan yang ditanyakan dokter seperti tong kosong nyaring bunyinya dan panjang tangan 6. Bakat kreatif Pasien memiliki kegemaran menonton TV. 7. Kemampuan menolong diri sendiri

Baik, karena pasien dapat mengerjakan segala sesuatunya tanpa disuruh dan mampu mengurus dirinya sendiri. D. GANGGUAN PERSEPSI 1. Halusinasi dan ilusi Halusinasi Ilusi Depersonalisasi Derealisasi E. PROSES PIKIR 1. Arus pikir
a. Produktivitas : Baik, banyak ide/ gagasan pembicaraan dan

: Terdapat riwayat halusinasi auditorik : Tidak terdapat ilusi : Tidak ada : Tidak ada

2. Depersonalisasi dan derealisasi

pasien dapat menjawab spontan bila diajukan pertanyaan


b. Kontinuitas

: Koheren, mampu memerikan jawaban sesuai

pertanyaan c. Hendaya berbahasa : tidak terdapat hendaya berbahasa 2. Isi pikiran a. Preokupasi Tidak terdapat preokupasi. b. Gangguan pikiran Tidak terdapat gangguan pikiran

F. PENGENDALIAN IMPULS Baik, karena pasien bisa mengendalikan dirinya.

G.DAYA NILAI
Norma Sosial : Pasien tidak mampu bersosialisasi dengan lingkungan

sekitarnya.

Uji Daya Nilai : Pasien tidak mampu menjawab ketika ditanya

apa yang akan pasien lakukan jika melihat anak kecil tersesat di tempat umum.

Penilaian realitas : Pada pasien saat ini sudah tidak terdapat

gangguan penilaian realitas walaaupun dulu punya riwayat halusinasi auditorik dan waham kejar. H.PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN KEHIDUPANNYA Menurut penilaian pemeriksa sebagai dokter terhadap pasien yaitu saat ini pasien menyadari bahwa dirinya sakit dan harus mengkonsumsi obat obatan dalam jangka panjang. Pasien mengalami kemajuan dan keinginan yang kuat untuk sembuh, sehingga pasien rajin kontrol dan minum obat secara teratur. I. TILIKAN / INSIGHT Tilikan derajat 5, pasien sadar sepenuhnya tentang motif dan perasaan dalam dirinya yang menjadi dasar dari gejala - gejalanya. Kesadaran itu membantu dalam perubahan dalam kepribadian dan perilakunya di masa yang akan datang, juga menimbulkan sikap keterbukaan terhadap ide-ide yang baru tentang dirinya dan tentang orang-orang penting dalam kehidupannya.

10

J. TARAF DAPAT DIPERCAYA Pemeriksa memperoleh kesan bahwa jawaban pasien dapat dipercaya karena konsisten dalam menjawab pertanyaan.

III.PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis i. ii. Keadaan umum: baik, compos mentis Tanda vital: Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu
iii. iv. v. vi. vii.

: 120/80 mmHg : 80 x/menit : Kesan dalam batas normal : Afebris : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan

Sistem kardiovaskuler: tidak ditemukan kelainan Sistem muskuloskeletal Sistem gastrointestinal Sistem urogenital Gangguan khusus

B. Status Neurologis
i. ii. iii. iv. v. vi.

Saraf kranial Saraf motorik Sensibilitas

: tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : gangguan bicara dan : tidak ditemukan kelainan

Susunan saraf vegetatif Fungsi luhur Gangguan khusus pendengaran

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

11

Pasien seorang laki-laki usia 34 tahun datang untuk kontrol karena obatnya sudah habis. Keadaannya sudah lebih tenang dari sebelumnya meskipun saat ini pasien masih marah-marah tanpa sebab jelas. Pasien sudah tidak senyum dan berbicara sendiri saat rumah kosong. Pasien pernah punya riwayat waham kejar dan halusinasi auditorik, ia merasa ada suara bibinya dan tetangga yang menjahatinya dan menghinanya. Tidak ada gejala halusinasi dan waham lainnya. Pasien tidak pernah merasa pikirinnya dibaca, disisipkan ataupun dikendalikan orang lain. Pasien juga tidak pernah merasa asing terhadap dirinya ataupun lingkungannya. Selama ini pasien tidak pernah mengalami trauma di kepala. Orientasi waktu, tempat, orang dan situasi baik. Fungsi kognitif pasien baik, pengendalian impuls baik. Tidak ada riwayat yang sama di dalam keluarganya. Pasien tidak pernah mengkonsumsi zat-zat psikoaktif (NAPZA) dan minuman beralkohol. Pasien mulai merokok tujuh tahun lalu, bersamaan dengan mulai munculnya gejala-gejala. Pasien lahir secara normal dan cukup bulan, sejak kecil pasien diasuh dan dibesarkan oleh orang tuanya sendiri. Masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa pasien kurang memiliki kemampuan yang baik untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Pendidikan terakhir pasien SMP, pasien tidak melanjutkan ke SMA tanpa alasan jelas. Keadaan umum baik namun pemeriksaan neurologis menunjukkan kelainan bicara dan pendengaran. Pasien merupakan anak ke 1 dari 2 bersaudara, hubungan pasien dengan orangtua dan saudara kandungnya baik. Pasien tinggal bersama ayah dan ibu di rumah milik pribadi orang tua di daerah Pondok bambu. Adik pasien sudah menikah dan pisah rumah dengan orang tua. Pasien belum menikah. Selama ini dalam pemenuhan 12

kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan berasal dari ayah pasien yang memiliki pekerjaan tidak tetap.

Pasien tidak memiliki pekerjaan. Aktivitas pasien sehari-hari bersih bersih kamar dan menonton TV Pada pasien didapatkan gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas sedang, menetap dalam fungsi secara umum kurang baik secara sosial, pekerjaan, sekolah, dll.

V. Formulasi Diagnosis Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan pada pasien terdapat kelainan pola perilaku dan psikologis yang secara klinis bermakna yang dapat menyebabkan timbulnya distress dan disabilitas dalam fungsi sehari-hari maka pasien dikatakan menderita gangguan jiwa. Diagnosis Aksis I
Pada pasien ini tidak terdapat kelainan fisik yang menyebabkan

disfungsi otak, sehingga pasien ini bukan gangguan mental organik(F.0).


Dari anamnesis tidak didapatkan riwayat penggunaan zat psikoaktif

dan minuman beralkohol. Maka pasien ini bukan gangguan mental dan perilaku akibat NAPZA(F.1).
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan dalam menilai realita,

yang ditandai dengan adanya riwayat halusinasi auditorik dan waham kejar sehingga dikatakan menderita gangguan psikotik (F.20).
Gangguan berupa halusinasi tersebut berlangsung lebih dari 1 bulan

(kurang lebih 14 tahun), sehingga dikatakan menderita skizofrenia (F.2)


Pada pasien ini ditemukan adanya riwayat halusinasi auditorik dan

waham kejar yaitu mendengar suara yang menghina dan memarah-

13

marahinya

sehingga

dikatakan

pasien

menderita

gangguan

skizofrenia paranoid (F20.0).


Saat ini keluhan mengenai gejala-gejala tersebut sudah agak

berkurang tapi masih marah marah tanpa sebab jelas. Oleh karena itu, pasien didiagnosis menderita gangguan skizofrenia paranoid dalam remisi parsial (F20.5)

Diagnosis Aksis II
Pada

masa kanak-kanak hingga remaja pasien tumbuh dan

berkembang dengan baik sebagaimana orang seumurnya dan dapat bersosialisasi. Namun ada keterlambatan dan gangguan menetap dalam proses bicara dan mendengar. Pendidikan yang ditempuh SD sampai SMP berlangsung baik, selalu naik kelas. Tidak terdapat gangguan kepribadian, dan ciri-ciri retardasi mental. Maka pada aksis II tidak ada diagnosis. Diagnosis Aksis III
Pada anamnesis pemeriksaan fisik dan neurologis pada pasien ini

ditemukan gangguan bicara dan mendengar. Maka pada aksis III didapatkan diagnosis tuli. Diagnosis Aksis IV

Pasien merupakan anak ke-1 dari 2 bersaudara. Pasien tinggal bersama ayah dan ibu di rumah milik pribadi orang tua di daerah Pondok bambu. Adik pasien sudah menikah dan pisah rumah dengan orang tua. Pasien belum menikah. Selama ini dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan biaya pengobatan berasal dari ayah pasien yang memiliki pekerjaan tidak tetap. Keluarga pasien mendukung untuk sembuh tapi terkesan menutup pasien dari lingkungan sekitar dengan alasan takut dan malu

14

bila pasien marah didepan warga. Pasien tidak mampu untuk bersosialisasi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya. Maka diagnosis Aksis IV pada pasien ini adalah terdapatnya gangguan dalam perekonomian, pekerjaan, interaksi sosial serta family suporting group.

Diagnosis Aksis V
Pada pasien didapatkan gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas

sedang dan menetap dalam fungsi, secara umum kurang baik dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dan lain-lain. Maka pada aksis V didapatkan GAF Scale 60-51. VI. Evaluasi multiaksial Aksis I : Gangguan skizofrenia paranoid dalam remisi parsial Aksis II : Tidak ada diagnosis Aksis III : Tuli Aksis IV : Gangguan perekonomian, pekerjaan, interaksi sosial, Family Suporting Group Aksis V : GAF Scale 60 - 61. VII. Daftar Problem : Tidak terdapat gangguan mendengar dan bicara :

Organobiologik Psikologis

Terdapat riwayat gangguan menilai realita berupa Halusinasi auditorik Waham kejar

15

Saat ini pasien tidak memiliki pekerjaan dan ayah hanya bekerja serabutan, yang membuat perekonomiannya kurang dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari maupun untuk berobat. Pasien juga enggan berinteraksi sosial ditambah ibu pasien terkesan menutup anak dari lingkungan sehingga memperburuk kemampuan interaksi sosial.

VIII. Prognosis Prognosis Ke Arah Baik


Pasien patuh minum obat dan rutin kontrol ke poliklinik. Tidak ditemukan tanda dan gejala efek samping pemakaian obat-

obatan anti-psikotik. Pasien dapat melakukan relaksasi untuk menanggulangi serangan yang akan timbul.
Pasien masih memiliki keinginan untuk sembuh

Prognosis Ke Arah Buruk


Pasien masih marah-marah tanpa sebab jelas. Perjalanan penyakit sudah berlangsung cukup lama (14 tahun).

Interaksi sosial dengan lingkungan luar rumah tidak pernah dilakukan Sehingga kesimpulan prognosis pada padien berdasarkan wawancara diatas sebagai berikut : Ad Vitam Ad Fungtionam Ad Sanationam X. Terapi 16 : Ad bonam : Dubia Ad bonam : Dubia Ad malam

Psikofarmaka : Haloperidol Trihexyphenidil Chlorpromazin Psikoterapi : Pada pasien


o

3 x 5 mg 3 x 2 mg 3 x 100 mg

Edukasi pentingnya minum obat secara teratur dan kontrol rutin setiap bulan. Bila pada saat keluhan datang dan pasien merasa ketakutan, pasien dapat mencari perlindungan dari anggota keluarganya atau jika masih mengganggu juga segera kontrol ke dokter.

o Mencoba mengalihkan pikiran-pikiran negatif dengan mengisinya dengan kegiatan positif yang bermanfaat.
o

Lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada keluarga
o o

Memberikan dukungan akan kesembuhan pasien. Memberikan saran kepada keluarga pasien untuk dapat memberikan suatu kegiatan yang dapat bermanfaat untuk hidup pasien.

Membantu mengingatkan pasien untuk minum obat.

o Menenangkan pasien atau menemani jika gejala muncul lagi. o Melatih pasien agar bergaul dengan lingkungan dan memberi semangat serta mendampingi pasien dalam berinteraksi sosial, tanpa menutup total dari lingkungan luar.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim, Rusdi. Dr. Sp.KJ. Buku Ajar Psikiatri . FK UI. Jakarta. 2003. 2. Maslim, Rusdi. D, SpKJ. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Cetakan Pertama. PT Nuh Jaya. Jakarta. 2001. 3. Maslim, Rusdi. Dr, SpKJ. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. PT Nuh Jaya, Jakarta. 2007.

18