Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN Belakangan ini, salah satu masalah yang paling umum dihadapi oleh negara-negara diseluruh duni adalah

penggunaan energi atau sumber daya beserta dampaknya terhadap lingkungan. Sumber energi yang paling banyak digunakan dalam pemanasan (heat generation), produksi, perdagangan, transportasi, dan fasilitas perumahan adalah fossil fuel (bahan bakar dari fosil) seperti minyak bumi, batubara, dan gas. Fossil fuel merupakan energy yang tidak terbarukan yang dihasilkan dari tanaman dan hewan yang telah mati selama jutaan tahun. Oleh karena itu, hampir tidak mungkin untuk mendapatkan fossil fuel tambahan dalam waktu dekat. Selain itu, penggunaan fossil fuel juga memilki dampak negatif bagi lingkungan selain manfaat yang diberikan bagi kehidupan manusia. Sebagai contoh kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia terutama Jakarta tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi tetapi juga polusi udara. Polusi udara ini disebabkan oleh gas buang dari alat transportasi yang hampir seluruhnya menggunakan bahan bakar fosil. Krisis energi yang terjadi karena kekurangan atau kelangkaan energi primer yang tak lain adalah fossil fuel seperti kelangkaan BBM yang sering kali terjadi di Indonesia ketika harga minyak bumi melonjak naik menjadikan konservasi energi sebagai solusi atas isu ini. Menurut Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi, definisi konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu guna melestarikan sumber daya energi dalam negeri serta meningkatkan efisiensi pemanfaatannya. Efisiensi merupakan salah satu langkah dalam pelaksanaan konservasi energi. Efisiensi energi adalah istilah umum yang mengacu pada penggunaan energi lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah layanan atau output berguna yang sama. Di masyarakat umum kadang kala efisiensi energi diartikan juga sebagai penghematan energi. Setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus melakukan konservasi energi1, yaitu: 1. Cadangan Energi Fosil Terbatas 2. Mengurangi Kerusakan Lingkungan Hidup 3. Mengurangi Subsidi Pemerintah untuk Energi Fosil 4. Memberikan Keuntungan bagi Pengguna Energi

Konservasi dan Efisiensi Energi http://konservasienergiindonesia.info/energy

Salah satu cara dapat digunakan untuk melakukan konservasi energi ini adalah dengan mengganti fossil fuel dengan energi alternatif atau biasa disebut energi yang dapat diperbaharui (renewable energy) dan juga ramah lingkungan. Walau demikian pada prakteknya fossil fuel tidak dapat diganti seluruhnya oleh energy alternatif. Energi aleternatif dapat diperoleh dari sumber daya alam dan dapat diproduksi kembali. Beberapa contohnya adalah energy dari sinar matahari, air, dan panas bumi (geothermal). ENERGI PANAS BUMI (GEOTHERMAL ENERGY) Energi panas bumi merupakan energi panas yang dihasilkan dan disimpan dalam bumi. Energi panas adalah energi yang menentukan suhu materi. Energi panas bumi dari kerak bumi berasal dari formasi asli planer ini (20%) dan peluruhan radioaktif dari mineral (80%)2. Air hujan dan salju yang mencair dapat meresap jauh kebawah perumakaan bumi hingga bermil-mil dan mengisi pori-pori dan celah-celah dari apa yang disebut dengan hot rock. Air yang telah mengisi hot rock ini dapat menjadi sangat panas dengan suhu mencapai 260oC atau lebih (jauh diatas titik

didih air). Terkadang air ini dapat kembali naik ke permukaan bumi (air panas kurang padat jika
Gambar 1 Geothermal Reservoir

dibandingkan dengan air dingin sehingga memiliki kecenderungan untuk naik) dan membentuk
2

How Geothermal Works http://www.ucsusa.org/clean_energy/our-energy-choices/renewable-energy/how-geothermalenergy-works.html

mata air panas, fumarole, mud pots, atau geyser. Jika air ini terjebak jauh dibawah permukaan maka akan membentuk geothermal reservoir yang terdiri dari air dan uap. Air dan uap dari reservoir inilah yang menjadi sumber dari energy panas bumi yang digunakan untuk menghasilkan listrik. Cara kerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) secara sederhana dapat dilihat melaui gambar 1, air dan uap dari bawah tanah naik mengisi geothermal well, menggerakan turbin generator, dan kembali ke reservoir (Nemzer, 2007). Bentuk dan jenis dari geothermal reservoir sangat bervarisasi sehingga jenis dari PLTP juga beragam, namun secara garis besar PLTP dapat dikategorikan menjadi tiga macam.
A.

Dry Steam Beberapa geothermal reservoir secara alami terisi dengan uap, bukan air. Oleh karena itu sumur (well) hanya akan menghasilkan uap. Uap ini lalu disalurkan dari sumur bawh tanah ke PLTP yang diarahkan ke turbin/generator. Tipe PLTP ini langka dan dapat ditemukan di California, Italia, dan Jepang.

B.

Flash Steam PLTP jenis ini adalah yang paling umum dan paling banyak digunakan. PLTP ini menggunakan geothermal reservoir yang terdiri dari air dengan suhu mencapai lebih dari 360oF (182oC). Air yang sangat panas ini mengalir ke atas melalui sumur dibawah tekanannya sendiri. Ketika mengalir naik, tekanan mulai berkurang dan beberapa bagian dari air panas ini mendidih dan berubah menjadi uap. Uap ini kemudian dipisahkan dari air dan digunakan untuk menggerakan turbin/generator. Air panas yang tersisa atau uap yang terkondensasi dikirim kembali ke reservoir, menjadikan hal ini sebagai sumber yang berkelanjutan.

C. Binary Steam Geothermal reservoir pada PLTP jenis ini cukup panas namun tidak dapat memproduksi uap sehingga diperlukan dorongan/bantuan untuk menggerakan turbin atau generator secara efisien. Air pada geothermal reservoir jenis ini hanya digunakan panasnya saja bukan untuk memproduksi uap. Dalam heat exchanger, panas yang dihasilkan dari air ditransfer ke cairan kedua. Ketika sudah digunakan, air ini akan dipompa kembali ke reservoir.

(A)

(B)

Terdapat berbagai macam ukuran dari PLTP dimulai dari ukuran kecil (dapat menghasilkan 300 kW sampai 10 MW), sedang (10 MW sampai 50 MW), dan besar (50 MW sampai 100 MW atau lebih). PLTP biasanya terdiri dari dua atau lebih turbin/generator dalam satu modul pembangkit listrik. Modul ekstra dapat ditambahkan jika diperlukan power tambahan. Diantara ketiga tipe PLTP, binary cycle merupakan yang paling versatile karena dapat digunakan dalam reservoir dengan suhu rendah. Modul kecil dari tipe ini dapat didirikan dengan cepat dan dapat disalurkan dengan mudah dan cocok untuk digunakan pada daerah terpencil (remote) yang jauh dari jalur transmisi listrik. Sebagai sumber daya energi, energi panas bumi memeliki beberapa keunggulan terutama jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Namzer (2007) menjelaskan beberapa keunggulan yang dimiliki oleh energi panas bumi.

(C) Gambar 2. Jenis-Jenis PLTP: A) Dry Steam, B) Flash Steam, C) Binary Cycle (sumber: NREL)

A.

PLTP tidak memiliki emisi berasap. Hasil buangan dari PLTP hanya uap air yang mengandung mineral alami dan gas dari geothermal reservoir. PLTP jenis flash steam dan dry steam hanya menghasilkan sebagian kecil dari emisi udara jika dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil. Sedangkan jenis binary cycle hampir tidak menghasilkan emisi sama sekali.

B.

Lahan yang digunakan oleh PLTP sangat sedikit jika dibandingakan dengan sumber energy konvensional dan dapat berbagi lahan dengan satwa liar. PLTP dapat didirikan didalam habitat yang sensitif sekalipun, ditengah-tengah lahan perkebunan atau pertanian, dan di area hutan rekreasi. Namun PLTP harus didirikan dilokasi yang mempunyai geothermal reservoir.

C.

Air pada geothermal reservoir mengandung berbagai konsentrasi mineral terlarut dan garam. Mineral ini dapat diekstrasi dan dimanfaatkan. Contohnya adalah zinc (digunakan dalam elektronik dan bahan untuk membuat paduan seperti perunggu dan kuningan) dan silika. Pada reservoir yang memilki konsentrasi tinggi, penggunaan teknologi geothermal yang lebih lanjut menjaga garam dan mineral dari penyumbatan dan korosi pada peralatan pembangkit listrik.

D. PLTP dapat beroperasi pada siang dan malam hari, jadi dapat menyedikan energi listrik

yang stabil. Namun tidak dapat digunakan secara eksklusif pada peaking power karena jika sumur geothermal dinyalakan dan dimatikan berulang kali dapat menyebabkan kerusakan pada sumur. POTENSI ENERGI PANAS BUMI INDONESIA Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat beberapa alasan mengapa konservasi energi harus dilakukan dan bukti nyata dari hal ini dapat dilihat sebagai berikut.
1.

Sampai saat ini, pemerintah terus melakukan kebijakan energi untuk tetap menggunakan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik (terutama batubara). Sebagai negara kepulauan dengan penduduk mencapai lebih dari 220 juta orang, kebutuhan listrik Indonesia terus meningkat setiap tahun mencapai 9 % (Ardiansyah, 2011). Dengan kondisi seperti ini maka
kebijakan pemerintah haruslah dirubah karena cadangan bahan bakar fosil Indonesia terus menipis.

2.

Kebijakan pemerintah untuk menggunakan batubara dalam menyokong kekurangan pasokan energi sebagai sumber energi utama kedua seakan menyalahi komitmen pemerintah untuk

mengatasi perubahan iklim akibat emisi dari bahan bakar fosil (Ardiansyah, 2011 dalam
Ardiansyah et al, 2012) Meskipun lebih dari 90 persen dari emisi gas rumah kaca Indonesia

saat ini berasal dari kehutanan dan penggunaan lahan, para ahli memprediksi emisi CO2 dari pembangkit listrik pada tahun 2030 akan meningkat mencapai 810 juta ton CO2 ekuivalen (CO2e) yang diakibatkan ketergantungan yang sangat besar pada batubara. Gambar berikut menunjukan bahwa pada tahun 2010 terjadi peningkatan emisi hampir tujuh kali dibandingkan jumlah tahun 2005 (DNPI, 2010) yang akan memperburuk dampak perubahan iklim dimana Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan sangat rentan terhadap perubahan iklim (Kementrian Lingkungan Hidup, 2009).

Gambar 2. Proyeksi Emisi Indonesia dalam mtCO2e (sumber: DNPI 2010)

Gambar 3. Proyeksi Peningkatan Emisi dari Penggunaan Batu Baru dalam Business as Usual (BAU) pada 2030 (sumber: DNPI 2010)

3.

Pemerintah Indonesia telah berusaha beberapa kali merubah subsidi terhadap bahan bakar fosil dalam 10 tahun terakhir dengan menggunakan beberapa strategi untuk mengurangi ketergantungan negara untuk bahan bakar fosil, termasuk mengurangi subsudi untuk Pertamina, sektor listrik, dan produk minyak bumi (Beaton & Lontoh, 2010 dalam Ardiansyah et al, 2012). Dalam memenuhi listrik negara yang terus tumbuh, pemerintah Indonesia harus menggunakan cadangan miyak dalam negri. Dengan kapasitas produksi sekitar 0,5 miliar barel per tahun, diperkirakan bahwa cadangan minyak bumi Indonesia tersisa 10 miliar barel dan akan habis dalam jangka waktu 20 tahun. (ESDM 2012, Koalisi Energi 2005). Jika tidak ditemukan cadangan minyak bumi yang baru, maka Indonesia diperkirakan akan menjadi negara pengimpor minyak bumi yang signifikan selama kurang dari dua dekade. Sejak tahun 2004, Indonesia sudah menjadi negara pengimpor baik minyak mentah maupun turunannya (Saad, 2009 dalam Ardiansyah et al, 2012)

Gambar 4. Subsidi BBM (Atas) dan Listrik (Bawah) dalam APBN dan Realisasinya (Sumber: Kementrian Keuangan, 2000-2012)

Lokasi Indonesia yang berada dalam ring of fire membuat Indonesia menjadi negara dengan sumber panas bumi terbesar di dunia dengan potensi sumber daya panas bumi dan cadangan diperkirakan sebesar 28.994 MWe dengan kapasitas terpasang sebesar 1.196 MWe (sekitar 4 % dari total cadangan).

Gambar 6. Penyebaran Wilayah Panas Bumi di Indonesia (sumber: Sukhyar, 2011)

Dari 276 wilayah panas bumi di Indonesia , 37 diantaranya dapat dianggap sebagai mining working areas yang sering disebut sebagai Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) (Sukhyar, 2011 dalam Ardiansyah et al, 2012). Dari 37 WKP yang dapat dilihat dari tabel 2, walaupun belum semua situs yang telah berhasil dilelang. Dapat dikatakan bahwa pemerintah Indonesia dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan energi panas bumi dengan berfokus pada WKP yang telah mature dan siap digunakan. Pemerintah melalui Pertamina seharusnya digunakan sebagai bidang pengembangan yang diprioritaskan (Sukhyar, 2011 dalam Ardiansyah et al, 2012).
Tabel 1. Potensi Cadangan Sumber Panas Bumi Indonesia dan Kapasitas Terpasang (sumber: Sukhyar, 2011)

Tabel 2. WKP Panas Bumi Indonesia (sumber: Sukhyar, 2011)

Pengembangan panas bumi di Indonesia sebagian besar terkonsentrasi di Jawa-Bali, Sumatera, dan Sulawesi Utara dikarenakan meningkatnya permintaan untuk listrik dan infrastruktur yang memadai dalam daerah ini (Hutapea & Lestari, 2010 dalam Aridiansyah 2012). Tabel 3 menunjukan PLTP yang sudah terpasang dan berjalan di Indonesia.
Tabel 3. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Indonesia (sumber: Hutapea & Lestari, 2010))

OPINI Dengan potensi sumber panas bumi yang begitu besar, seharusnya Indonesia dapat memanfaatkan hal ini untuk digunakan sebagai sumber energi utama termasuk untuk menghasilkan listrik. Selain itu Indonesia juga dapat mengurangi ketergantungannya terhadap negara-negara penghasil minyak dan dapat memangkas pengeluaran pada APBN terhadap subsidi BBM dan Listrik. Dana ini dapat digunakan untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan kesejahteraan masnyarakat karena sampai saat ini terbukti bahwa yang menikmati subsidi BBM hanyalah segelintir lapisan masyrakat yang sebenarnya termasuk dalam kategori mampu. Namun pemanfaatan panas bumi ini harus dilakukan dengan hati-hati terutama ketika mengadakan kerjasama dengan pihak perusahaan asing perlu diadakan pengawasan yang ketat agar energi ini dapat digunakan secara maksimal oleh rakyat Indonesia. PLTP juga dapat digunakan sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah-daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh jalur listrik konvensional. Biaya pendirian PLTP yang cukup mahal juga harus dijadikan pertimbangan ketika akan memulai proyek PLTP. Untuk mengurangi resiko kegagalan pengeboran dapat dilakukan dengan pengambilan dan pengukuran data secara menyeluruh dan penuh perhitungan. Pemerintah sebgai regulator juga harus membuat peraturan-peraturan agar jangan sampai sumber energi panas bumi ini hanya dinikmati oleh segelintir orang atau kelompk saja.

REFERENSI Ardiasnyah et al, 2012, Igniting the Ring of Fire: A Vision for Developing Indonesias Geothermal Power, WWF Indonesia Report June 2012. EECHI, 2012, Konservasi dan Efisiensi Energi, http://konservasienergiindonesia.info/energy, Accessed October 29, 2012. National Renewable Energy Laboratory, 2012, Geothermal Energy Production,

http://www.nrel.gov/learning/re_geo_elec_production.html, Accessed October 29, 2012. Nemzer, M., 2007, Energy For Keeps: Electricity From Renewable Energy, The California Study, Inc. Union of Concerned Scientist, 2009, How Geothermal Works,

http://www.ucsusa.org/clean_energy/our-energy-choices/renewable-energy/howgeothermal-energy-works.html, Accessed October 29, 2012 .