Anda di halaman 1dari 19

PROBABILITAS DI ESTIMASI BIAYA

Editor/Dosen : Dr. Ari Sandhyavitri dan Ridwan, ST, MT.


Tim penyusun : Kelompok 1.
Probabilitas di estimasi biaya yang dibahas dalam bagian ini adalah yang berhubungan dengan resiko,
informasi, waktu dan biaya.
Daftar Isi
PROBABILITAS DI ESTIMASI BIAYA ................................................................................. 2
1. Resiko ................................................................................................................................. 2
1.1. Jenis-jenis biaya proyek .............................................................................................. 3
1.2. Resiko Proyek ............................................................................................................. 4
1.3. Identifikasi Resiko ....................................................................................................... 4
1.4. Resiko-resiko yang mempengaruhi proyek ................................................................. 5
2. Mengelola Resiko ............................................................................................................... 6
2.1. Tujuan .......................................................................................................................... 7
2.2. Identifikasi Risiko (Risk Identification) ...................................................................... 7
2.3. Hirarki Pengenalan risiko ........................................................................................... 8
2.4. Analisa Risiko (Risk Analysis) ................................................................................... 9
2.5. Pengukuran Konsekuensi Risiko ............................................................................... 10
2.6. Mitigasi Risiko dan Kontrol (Risk Mitigation and Control) ..................................... 11
2.7. Keuntungan Manajemen Resiko ............................................................................... 11
3. Hubungan Probabilitas dengan waktu, sumberdaya dan inflasi ....................................... 12
4. Analisa Probabilitas .......................................................................................................... 14
4.1. Metode Distribusi Normal ......................................................................................... 14
4.2. Metode Triangle ........................................................................................................ 17
PROBABILITAS DI ESTIMASI BIAYA
Probabilitas di estimasi biaya yang dibahas dalam bagian ini adalah yang berhubungan
dengan resiko, informasi, waktu dan biaya.
1. Resiko
Dalam suatu proyek, permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi adalah tidak
teridentifikasi dan tidak tertanganinya faktor-faktor resiko dalam pelaksanaan proyek sehingga
mengakibatkan kendala dalam pencapaian tujuan proyek dibidang waktu, biaya dan kualitas.
Manajemen proyek merupakan suatu perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan
pengendalian sumber daya yang mencakup waktu dan biaya pelaksanaan untuk mencapai tujuan
tertentu sesuai dengan yang telah direncanakan.
Dalam sebuah probabilitas estimasi biaya mencakup masalah resiko yang harus dihindarkan
dari berbagai macam proyek. Hal tersebut bukanlah suatu hal yang mudah untuk diselesaikan, namun
masalah resiko harus menjadi perhatian utama dalam menganalisa sebuah proyek.
Dibawah ini akan dijelaskan tentang Torpedo Diagram.
Gambar 1. Torpedo Diagram
(Smith, 1991)
Pengertian tentang torpedo diagram
1. pada tahap studi kelayakan, informasi yang diperoleh sedikit sedangkan cakupan
ketidakpastian besar
2. Informasi berkembang, cakupan resiko mungkin mengecil dan terkontrol
3. perkiraan biaya dasar + ketidakpastian mungkin mendekati biaya yang hampir bisa dipastikan
4. hampir bisa dipastikan ia mendekati harga maksimum
1.1. Jenis-jenis biaya proyek
Biaya proyek konstruksi dapat dibagi sebagai berikut:
1. Biaya langsung (direct cost)
a. bahan material
b. upah buruh
c. biaya peralatan
2. Biaya tak langsung
a. biaya overhead
b. biaya tak terduga
c. keuntungan
Biaya tak terduga adalah salah satu biaya tak langsung. Biaya tak terduga adalah biaya untuk
kejadian-kejadian yang mungkin terjadi, mungkin juga tidak. Pada umumnya biaya ini diperkirakan
antara 0.5 - 5% dari biaya total.
Yang termasuk dalam biaya tak terduga adalah :
a. kesalahan
- kealpaan pemborong dalam memasukkan beberapa pos pekerjaan.
- gambar yang kurang lengkap (misalnya ada dibestek, tetapi tidak tercantum pada gambar)
b. Ketidakpastian yang subjektif
- ketidakpastian yang subjektif timbul karena interpretasi terhadap bestek, misalnya
tercantum dalam R.K.S : bahan dengan merk A atau lainnya yang disetujui direksi.
Dalam hal ini boleh digunakan merk lain yang kualitasnya sama, dan harganya lebih
murah, tetapi belum tentu dapat disetujui oleh konsultan pengawas.
- ketidakpastian subjektif lainnya ialah fluktuasi harga material dan upah buruh yang tida
tepat perkiraan
c. Ketidak pastian yang objektif
Ketidak pastian yang objektif adalah ketidakpastian tentang perlu atau tidaknya
suatu pekerjaan dilakukan atau tidak, dimana ketidak pastian itu ditentukan oleh obyek diluar
kemampuan manusia, misalnya: perlu tidaknya memasang sheet pile untuk pembuatan
pondasi. Dalam hal ini perlu tidaknya ditentukan oleh factor tinggi rendahnya muka air tanah
pada waktu pondasi dibuat
d. Biaya Overhead Proyek
Biaya Overhead Proyek meliputi :
- biaya personil dilapangan
- fasilitas sementara proyek
- Bank garansi, bunga Bank, ijin bangunan, pajak dan sebagainya.
- Peralatan kecil-kecil yang umumnya habis dan terbuang setelah proyek selesai
- Kontrol kualitas
- Biaya-biaya pengukuran dan lain-lain
Oleh karena itu perlu diadakan manajemen resiko. Tujuan diadakannya manajemen resiko
dalam penilaian proyek yaitu untuk mengoptimalkan proses evaluasi tujuan dari sasaran proyek. Dari
hasil ini mungkin berlawanan dari perencanaan semula. Pendekatan yang diambil dari penilaian
proyek akan membantu manajemen proyek didalam proses pengambilan keputusan.
1.2. Resiko Proyek
Yang dimaksud dengan resiko proyek adalah resiko murni yang secara potensial dapat
mendatangkan kerugian dalam upaya mencapai sasaran proyek (Soeharto, 2001).
Dalam pengambilan keputusan idealnya dilakukan pada situasi dengan total certainly,
dalam arti segala data dan informasi untuk membuat keputusan yang tepat telah tersedia,
sehingga dapat diharapkan keberhasilan dengan keyakinan yang cukup besar. Tetapi
kenyataannya seringkali tidaklah demikian. Sebagian besar keputusan didasarkan atas
informasi yang belum lengkap. Hal ini menimbulkan ketidakpastian yang identik dengan resiko
atas keberhasilannya. Proyek merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mengambil peluang,
sehingga resiko akan selalu menyertainya. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam
pengoptimalan pemanfaatan peluang-peluang yang ada dan mengambil langkah-langkah untuk
memperkecil dampak negatif dari resiko terhadap sasaran proyek.
1.3. Identifikasi Resiko
Resiko sesungguhnya tidak bisa diatur kecuali resiko tersebut diketahui. Resiko bisa
timbul dari faktor internal dan ekternal sepanjang tahapan-tahapan dari suatu proyek mulai
dari perencanaan sampai pada tahap pelaksanaan.
Resiko mempunyai dua dampak. Resiko biasanya diambil dengan mengacu ke konsekwensi
negatif. Sebagai pembanding dalam beberapa risiko boleh juga mempunyai dampak positif.
(Misalnya suatu pengurangan jumlah pekerja boleh meningkatkan keuntungan biaya, dan
efisiensinya meningkatkan efisiensi administrasi)
1.4. Resiko-resiko yang mempengaruhi proyek
a. Resiko yang berkaitan dengan bidang manajemen
1. Kurang tepatnya perencanaan dan pengendalian biaya, jadwal pelaksanaan dan mutu.
2. Ketepatan penentuan struktur organisasi.
1. Ketelitian dalam pemilihan personil.
3. Kurang jelasnya kebijaksanaan dan prosedur.
2. Koordinasi pada tahapan pelaksanaan proyek.
b. Resiko yang berkaitan dengan bidang teknis:
1. Ketepatan pekerjaan dan produk design engineering.
2. Ketepatan pengadaan material dan peralatan (volume, jadwal, harga dan kualitas).
3. Tersedianya tenaga ahli.
4. Tersedianya tenaga lapangan.
5. Variasi dalam produktifitas kerja.
6. Kondisi lokasi.
7. Penemuan teknologi baru dalam proses konstruksi.
c. Resiko yang berkaitan dengan bidang kontrak dan hukum.
Pasal-pasal kurang lengkap, kurang jelas dan interpretasi yang berbeda.
1. Pengaturan pembayaran, change order dan klaim.
2. Lisensi dan hak paten.
3. Force majure.
d. Resiko yang berkaitan dengan situasi ekonomi, sosial dan politik.
1. Peraturan perpajakan dan pungutan.
2. Perizinan.
3. Situasi pasar (pesedian dan penawaran material dan peralatan).
4. Ketidakstabilan moneter/ devaluasi.
5. Realisasi pinjaman.
6. aliran kas
Setelah semua resiko yang dapat dikenali teridentifikasi, langkah berikutnya yang
dilakukan adalah melakukan analisa terhadap resiko-resiko yang teridentifikasi tersebut. Maksud
dari analisa risiko adalah untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan terjadinya risiko
dan seberapa besar konsekuensi dari resiko tersebut.
2. Mengelola Resiko
Obyektif manejemen resiko adalah mencegah atau meminimisasi pengaruh yang tidak baik
akibat kejadian yang tidak terduga melalui menghindari resiko atau mempersiapkan rencana
kontingensi yang berkaitan dengan resiko tersebut.
Risk and uncertainty charaterise situation where the actual outcome for a particular event or
activity is likely to deviate from estimate or forecast value (Raftery, 1994).
Risiko merupakan suatu kemungkinan (possibility) terjadinya sesuatu yang tidak terduga sebelumnya,
bersifat merugikan dan dapat mempengaruhi penyelesaian proyek secara keseluruhan yang berkaitan
dengan waktu, biaya dan kualitas (Raftery, 1994).
Banyak pelaksanaan proyek yang mengalami keterlambatan dan melebihi anggaran (time and cost
overruns), hal ini menunjukkan adanya perkiraan yang terlalu optimis dan risiko proyek yang kurang
diantisipasi sebelumnya.
Manajemen risiko menyoroti berbagai tindakan, mengindentifikasi (Risk Indentification),
menilai (Risk Assessment), pengontrolan dan meminimalkan risiko (Risk minimise and control) yang
boleh terjadi selama proyek berjalan secara sistematis seperti gambar 2.3.
Gambar 2.3 Proses Manajemen Risiko
(Sumber: Manajemen Pembangunan, Ronald, 2003)
Risk
Management
Risk
Management
Risk
Identification
Risk
Identification
Risk
Analysis and asessment
Risk
Analysis and asessment
Risk
Mitigation and
control
Risk
Mitigation and
control
Risk
Treatment
Risk
Treatment
Reducting
Removal
Transfer
Retention
Reducting
Removal
Transfer
Retention
2.1. Tujuan
Tujuan diadakannya manajemen risiko dalam penilaian proyek adalah untuk suatu proses evaluasi
pengoptimalan tujuan dari sasaran proyek. Sebagian dari hasil ini mungkin berlawanan dari
perencanaan semula. Pendekatan yang diambil dari penilaian proyek akan membantu manejer proyek
didalam proses pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan idealnya dilakukan pada situasi dengan total certainty, dalam arti
segala data dan informasi untuk membuat keputusan yang tepat telah tersedia, sehingga dapat
diharapkan keberhasilan dengan keyakinan yang cukup besar. Tetapi kenyataannya seringkali tidaklah
demikian. Oleh satu dan lain sebab, sebagian besar keputusan didasarkan atas informasi yang belum
lengkap. Hal ini menimbulkan ketidakpastian yang identik dengan risiko atas keberhasilannya. Proyek
merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mengambil peluang, sehingga risiko akan selalu
menyertainya. Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam pengoptimalan pemanfaatan peluang-
peluang yang ada, sembari mengambil langkah-langkah untuk memperkecil dampak negatif dari
risiko terhadap sasaran proyek.
2.2. Identifikasi Risiko (Risk Identification)
Risiko sesungguhnya tidak bisa diatur kecuali risiko tersebut diketahui. Risiko bisa timbul
dari faktor internal dan ekternal sepanjang tahapan-tahapan dari suatu proyek mulai dari perencanaan
sampai pada tahap pelaksanaan. Pertanyaan yang bisa mambantu dalam mengindentifikasi risiko
adalah what can go wrong? (apa yang kemungkinan menyimpang)
Risiko mempunyai dua dampak. Risiko biasanya diambil dengan mengacu ke konsekwensi
negatif. Sebagai pembanding dalam beberapa risiko boleh juga mempunyai dampak positif.
(Misalnya suatu pengurangan jumlah pekerja boleh meningkatkan keuntungan biaya, dan
efisiensinya meningkatkan efesiensi administrasi).
Menurut Smith (1991) ada suatu perbedaan pokok antara ketidakpastian dan risiko.
1. Risiko ada manakala suatu keputusan dinyatakan dalam hal dari suatu cakupan
tentang hasil yang mungkin dan manakala kemungkinan dikenal dapat dihubungkan dengan hasil.
2. Ketidakpastian ada manakala ada lebih dari satu hasil mungkin dari suatu penyebap
tindakan hanyalah kemungkinan masing-masing hasil adalah tidak dikenal.
Proyek konstruksi di dalamnya terdapat perbedaan menarik antara ketidakpastian dan risiko
menjadi arti sangat kecil yang kedua-duanya telah digunakan dalam terminologi dengan menukarkan
keduanya.
2.3. Hirarki Pengenalan risiko
Smith (1991) memberikan suatu contoh yang sederhana untuk tiga kategori resiko
berdasarkan pada bagian terpenting (Tabel 2.1).
Tabel 2.1 Hirarki Identifikasi Risiko
(Sumber: Smith, 1991)
Sandhyavitri (2003), telah mengelompokkan risiko yang saling berhubungan dengan bagan alir
dalam 4 (empat) kelompok utama seperti gambar 2.4: (1) Risiko Manajemen, (2) Risiko Teknis, (3)
Risiko Kontrak dan hukum, (4) Risiko ekonomi dan sosial politik.
1. Risiko yang berkaitan dengan bidang manajemen.
1. Kurang tepatnya perencanaan dan pengendalian biaya, jadwal pelaksanaan dan mutu.
2. Ketepatan penentuan struktur organisasi.
3. Ketelitian dalam pemilihan personil.
4. Kurang jelasnya kebijaksanaan dan prosedur.
5. Koordinasi pada tahapan pelaksanaan proyek.
2. Risiko yang berkaitan dengan bidang teknis.
1. Ketepatan pekerjaan dan produk design engineering.
2. Ketepatan pengadaan material dan peralatan (volume, jadwal, harga dan kualitas).
3. Tersedianya tenaga ahli.
4. Tersedianya tenaga lapangan.
5. Variasi dalam produktifitas kerja.
6. Kondisi lokasi.
7. Penemuan teknologi baru dalam proses konstruksi.
3. Risiko yang berkaiatan dengan bidang kontrak dan hukum.
1. Pasal-pasal kurang lengkap, kurang jelas dan interpretasi yang berbeda.
Organisasi
Kondisi Proyek
Waktu dan Biaya
Alat penghubung
Kontrak
Manajemen
Produktivitas
Extreme
Politik
Peraturan Pemerintah
Keuangan
Ketidakstabilan Moneter
Situasi Pasar
Kompetisi
Kultur
Global
Kecelakaan
Serangan
Perubahan politis
Kebangkrutan
Bencana Alam
Keuangan
Sabotase
Lokal
2. Pengaturan pembayaran, change order dan klaim.
3. Lisensi dan hak paten.
4. Force majure.
4. Risiko yang berkaitan dengan situasi ekonomi, sosial dan politik.
1. Peraturan perpajakan dan pungutan.
2. Perizinan.
3. Situasi pasar (pesedian dan penawaran material dan peralatan).
4. Ketidak stabilan moneter/ devaluasi.
5. Realisasi pinjaman.
6. Aliran kas.
Gambar 2.4 Klasifikasi dan Identifikasi Risiko
(Sumber: Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan, Sandhyavitri, 2003)
2.4. Analisa Risiko (Risk Analysis)
Setelah semua risiko yang dapat dikenali teridentifikasi, langkah berikutnya yang dilakaukan
adalah melakukan analisa terhadap risiko-risiko yang teridentifikasi tersebut. Maksud dari analisa
risiko adalah untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan terjadinya risiko dan seberapa besar
konsekuensi dari risiko tersebut.
Pengukuran Kemungkinan Risiko
Risiko berhubungan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan. Sehingga
risiko itu memiliki unsur kemungkinan. Besarnya kemungkinan ini perlu diukur untuk mengetahui
seberapa mungkin sesuatu itu terjadi.
Besarnya kemungkinan terjadinya suatu risiko berbeda-beda. Ada risiko yang sangat mungkin
terjadi sedangkan ada risiko yang kemungkinan terjadinya sangat kecil. Untuk mengetahui besar dan
kecilnya kemungkinan terjadinya sesuatu, penulis mengacu pada Metode Aproksimasi. Metode ini
Risiko
Risiko
Manajemen
Risiko
Teknis
Risiko
Kontrak dan Hukum
Risiko
Ekonomi, Sosiali dan politik
digunakan karena tidak tersedianya data masa lalu yang dapat digunakan untuk mengetahui
kemungkinan terjadiunya suatu kejadian.
Metode Aproksimasi menggunakan rumus sebagai berikut:

6
4 b m a
t
e
+ +
..(1)
dengan :
te = nilai pengharapan dari waktu penyelesaian pekerjaan.
a = optimistic time
b = pessimistic time
m = most likely time
Hasil perhitungan dapat diketahui besarnya kemungkinan untuk masing-masing kejadian,
maka dapat diketahui pada jumlah kejadian mana yang memiliki kemungkinan yang besar terjadinya
risiko.
2.5. Pengukuran Konsekuensi Risiko
Sesuatu dikatakan berisiko apabila kemungkinan terjadinya besar, dan konsekuensi dari risiko
tersebut juga besar. Ada dua hal yang menentukan status dari suatu risiko adalah kemungkinan dan
konsekuensi. Selain kumungkinan, konsekuensi juga perlu diukur untuk mengetahui seberapa besar
risiko dari suatu kejadian.dalam mengukur konsekuensi dari suatu risiko, menggunakan rupiah
sebagai satuan.
Menurut Kountur (2004) ada dua macam kerugian yang dapat terjadi pada setiap risiko, yaitu:
1. Kerugian langsung.
Konsep yang di gunakan untuk menghitung konsekuensi langsung dari setiap risiko (kejadian
yang merugikan) menggunakan nilai ganti. Nilai ganti adalah nilai yang timbul untuk mengganti
kerugian akibat suatu kejadian untuk memperoleh barang yang kondisinya sama dengan sebelum
terjadinya kerugian.
2. Kerugian tidak langsung.
Kerugian tidak langsung berupa biaya sewa, pengurangan pendapatan perlu diperhitungkan
dalam menghitung konsekuensi dari suatu risiko. Kadang-kadang kerugian tidak langsung justru
lebih besar dibandingkan kerugian langsung. Kerugian tidak langsung dianggap sebagai biaya
overhead kontraktor tiap dari atu tiap bulan selama perpanjangan waktu pelaksanaan proyek.
Biaya overhead dijabarkan dengan rumus dibawah ini:
Y = Dpw . Bov ..(2)
dengan :
Y = tambahan biaya
Dpw = durasi perpanjangan waktu (hari)
Bov = biaya overhead tiap hari (Rp/hari)
2.6. Mitigasi Risiko dan Kontrol (Risk Mitigation and Control)
Mitigasi risiko meliputi berbagai tindakan seperti berencana untuk menghindari, mengurangi
dan pemindahan risiko (Smith, 1991). Menghindaran risiko adalah yang lebih disukai dalam
merespon pengambilan risiko, bila mana tidak semua risiko bisa dihindarkan. Dalam menghindari
risiko, penyelenggara proyek menyediakan rencana darurat bila tidak menerima risiko yang
ditetapkan.
Mengurangi risiko melibatkan tindakan yang perlu untuk mengendalikan, mengurangi dan
menghapuskan risiko yang diketahui tersebut. Berbagai prosedur peringanan risiko dapat diketahui
seperti unsur-unsur sebagai berikut :
1. Melaksanakan pengurangan risiko (risk reduction) memerlukan pengawasan yang
menyangkut gejala, mengambil maupun tindakan pencegahan dan tindakan yang diperlukan.
2. Memindahkan risiko (risk removal) melibatkan penghapusan risiko dengan
pemindahan risiko dari suatu proyek.
3. Pemindahan risiko (risk transper) dicapai dengan pemindahan risiko kepada pihak
lain seperti kontraktor ke perusahaan asuransi. Ini bukan merupakan penghapusan risiko melaikan
pemindahan beberapa biaya-biaya kerugian tambahan atau perubahan kepada pihak lain.
4. Mengingat risiko (risk retention). Mengizinkan beberapa risiko untuk dibawa oleh
pelaksana proyek untuk mengurangi premi asuransi, tetapi manfaat yang diperoleh dari menerima
risiko seimbang terhadap biaya-biaya yang bakal dikeluarkan dalam melawan risiko.
2.7. Keuntungan Manajemen Resiko
Menurut Smith (1991) Manajemen risiko adalah tidak hanya suatu metoda yang sistematis
dalam membantu manejer proyek dalam mencapai kesuksesan proyek (penyelesaian yang tepat
waktu dan sesuai dengan anggaran) tetapi juga mempunyai keuntungan lain, seperti :
1. Meningkatkan pemahaman mengenai korelasi biaya-biaya proyek, waktu dan mutu
sampai identifikasi risiko.
2. Mengidentifikasi risiko seluruh tahapan-tahapan proyek yang mendorong kearah
suatu kemampuan untuk mendesain tanggapan yang seuai, sehingga memperkecil dampak risiko.
3. Penanggulangan yang lebih sistematis dan lebih sedikit pengambilan keputusan.
4. Meningkatkan pembagian tanggung jawab berdasarkan pengalaman.
3. Hubungan Probabilitas dengan waktu, sumberdaya dan inflasi
Dalam hal ini diberikan beberapa ilustrasi hubungan antara probabilitas, waktu, sumber daya dan
inflasi.
1. Hubungan probabilitas diestimasi biaya terhadap waktu yaitu semakin tinggi tingkat
keterlambatan, maka semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional proyek.
Beberapa contoh resiko yang menyebabkan keterlambatan suatu proyek adalah sebagai
berikut:
Perubahan desain dan spesifikasi
Perubahan desain dan spesifikasi dalam pelaksanaan proyek adalah akibat kurang
koordinasinya antara pihak owner dengan pihak kontraktor
Keterlambatan mobilisasi peralatan dan pekerja
Keterlambatan mobilisasi peralatan dan pekerja bisa disebabkan oleh kondisi medan
yang kurang mendukung
Keterlambatan pengadaan material proyek
Keterlambatan pengadaan material proyek dapat disebabkan oleh keterlambatan
pengurusan jual beli (order) antara kontraktor dan suplier. Disamping itu dapat juga
disebabkan oleh kondisi medan untuk menempuh perjalanan kelokasi proyek.
Kondisi peralatan dan produktifitas pekerja
Rusaknya peralatan pada saat melaksanakan pekerjaan dapat mengakibatkan
keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. Rendahnya produktivitas pekerja dalam
malaksanakan setiap item pekerjaan disebabkan oleh kurangnya pengawasan dan
koordinasi dilapangan. Hal ini dapat dilihat dari realisasi pekerjaan dibandingkan
dengan waktu rencana proyek
Musim
Kurangnya antisipasi kontraktor dalam melaksanakan proyek pada musim hujan yang
curah hujan rata-rata yang tinggi mengakibatkan pelaksanaan proyek tidak optimal.
2. Hubungan probabilitas dengan tenaga yaitu semakin tinggi tingkat kerusakan tenaga (mesin
dan manusia), maka akan mempengaruhi besarnya peningkatan biaya yang harus dikeluarkan.
3. Hubungan probabilitas dengan inflasi adalah, semakin tinggi tingkat kenaikan harga material
pada masa mendatang maka probabilitas biaya yang dikeluarkan juga semakin besar sehingga
menyebabkan besarnya resiko proyek. Inflasi adalah perubahan harga barang dan jasa dalam
satu periode, yang umumnya inflasi diukur dengan perubahan sekelompok barang dan jasa
yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat, seperti tercermin pada perkembangan
indeks harga konsumen (IHK).
Faktor-faktor yang menyebabkan inflasi adalah sebagai berikut:
Inflasi tolakan biaya disebabkan oleh kenaikan biaya pengeluaran yang tinggi.
Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan harga bagi faktor-faktor pengeluaran seperti
tingkat upah. Sebagai contoh, jika kadar upah meningkat dengan tinggi, maka biaya
pengeluaran akan meningkat
Inflasi tarikan permintaan berawal pada ketidakseimbangan antara jumlah permintaan
dengan jumlah penawaran barang pada suatu waktu tertentu.
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-
menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang
secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga.
Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi
jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi.
Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala
dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua
yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi.
Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang
antara 10%30% setahun; berat antara 30%100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak
terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.
Dibawah ini diberikan daftar inflasi yang diberikan oleh Bank Sentral Republik Indonesia 2007.
Tabel 1. Laporan Inflasi (Bank Sentral Republik Indonesia, 2007)
LAPORAN INFLASI
Berdasarkan perhitungan inflasi tahunan


4. Analisa Probabilitas
Dalam menganalisa probabilitas suatu kejadian, disini dapat diberikan beberapa rumus untuk
menyelesaikannya.
4.1. Metode Distribusi Normal
Distribusi Normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi probabilitas yang paling banyak
digunakan dalam berbagai analisis statistika. Distribusi normal baku adalah distribusi normal yang
memiliki rata-rata nol dan simpangan baku satu. Distribusi ini juga dijuluki kurva lonceng (bell curve)
karena grafik fungsi kepekatan probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.
Bulan Tahun Tingkat Inflasi
November 2007 6.71 %
Oktober 2007 6.88 %
September 2007 6.95 %
Agustus 2007 6.51 %
Juli 2007 6.06 %
Juni 2007 5.77 %
Mei 2007 6.01 %
April 2007 6.29 %
Maret 2007 6.52 %
Februari 2007 6.30 %
Januari 2007 6.26 %
Desember 2006 6.60 %
November 2006 5.27 %
Oktober 2006 6.29 %
September 2006 14.55 %
Agustus 2006 14.90 %
Juli 2006 15.15 %
Juni 2006 15.53 %
Mei 2006 15.60 %
April 2006 15.40 %
Distribusi normal memodelkan fenomena kuantitatif pada ilmu alam maupun ilmu sosial. Beragam
skor pengujian psikologi dan fenomena fisika seperti jumlah foton dapat dihitung melalui pendekatan
dengan mengikuti distribusi normal. Distribusi normal banyak digunakan dalam berbagai bidang
statistika, misalnya distribusi sampling rata-rata akan mendekati normal, meski distribusi populasi
yang diambil tidak berdistribusi normal. Distribusi normal juga banyak digunakan dalam berbagai
distribusi dalam statistika, dan kebanyakan pengujian hipotesis mengasumsikan normalitas suatu data.
Distribusi normal merupakan bentuk distribusi yang memiliki sifat simetri, artinya besarnya peluang
untuk kejadian yang lebih besar dari rata-rata dan besarnya peluang untuk munculnya kejadian yang
lebih kecil dari rata-rata memiliki nilai sama besar. Dan besarnya peluang di sekitar nilai rata-rata
adalah lebih besar dibanding kejadian lain serta kejadian yang jauh dari nilai rata-rata memiliki
peluang yang mendekati nol, distribusi normal memiliki ekor yang kurus. Namun dalam model
ekonomi banyak kejadian kurang realistis dimodelkan dalam bentuk distribusi normal dan lebih cocok
dimodelkan dengan distribusi yang bersifat asimetri.
Distribusi normal memiliki fungsi sebagai berikut:
1
1
]
1

,
_



2
2
1
exp
2
1
) , (



x
f < < x
Dengan = 3.14159 dan e = 2.71828 adalah parameter
distribusi,sedangkan dan yang masing-
masing merupakan nilai rata-rata dan
standar deviasi (simpangan baku).
Kurvanya berbentuk sebuah lonceng
Sebagai contoh, adanya satu pekerjaan Pasang Pondasi batu kali, diperoleh
data sebagai berikut:
Untuk 1 m
3
pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen: 4 pasir diperlukan :
Bahan : An.G. 32 h
1.2 m
3
batu kali @ Rp 210.000 = Rp 252.000
4.0715 zak semen @ Rp 51.000 = Rp 207.646,5
0.522 m
3
pasir @ Rp 74.000 = Rp 38.628
= Rp 498.274,5
Upah
1.2 tukang batu @ Rp 45.000 = Rp 54.000

x
0.12 kep.tukang @ Rp 60.000 = Rp 7.200
3.6 pekerja @ Rp 45.000 = Rp 162.000
0.18 mandor @ Rp 60.000 = Rp 10.800
= Rp 234.000
Bahan + upah = Rp 498.274,5 + Rp 234.000
= Rp 732.274,5
Jika ada 2 kemungkinan harga semen pada tahun yang sama yaitu 51.000 dan 52.000, maka akan
mengubah harga 1 m
3
pasangan batu kali tersebut.
1.2 m
3
batu kali @ Rp 210.000 = Rp 252.000
4.0715 zak semen @ Rp 52.000 = Rp 211.718
0.522 m
3
pasir @ Rp 74.000 = Rp 38.628
= Rp 502.346
Upah
1.2 tukang batu @ Rp 45.000 = Rp 54.000
0.12 kep.tukang @ Rp 60.000 = Rp 7.200
3.6 pekerja @ Rp 45.000 = Rp 162.000
0.18 mandor @ Rp 60.000 = Rp 10.800
= Rp 234.000
Bahan + upah = Rp 502.346 + Rp 234.000
= Rp 736.346
Dari kedua harga semen tersebut diatas, maka diperoleh nilai rata-rata () nya
500 . 51
2 / ) 000 . 52 000 . 51 (

Sedangkan harga standar deviasinya () dapat dihitung sebagai berikut:


( )
( )
106 . 707
1 2
500 . 51 000 . 51
1

n
x x
setelah parameter diatas diperoleh, selanjutnya mencari probabilitas harga pasti rata-rata dari 1 sak
semen yaitu dengan cara sebagai berikut:
1
1
]
1

,
_



2
2
1
exp
2
1
) , (



x
f < < x
000439503 . 0 ) , (
106 . 707
500 . 51 000 . 51
2
1
exp
2 106 . 707
1
) , (
2

1
1
]
1

,
_


f
f
Hasil tersebut dikalikan dengan harga rata-rata (Rp 51.500), sehingga diperoleh nilainya Rp 22.63439.
untuk mendapatkan nilai rata-rata pastinya maka keduanya dijumlahkan yaitu Rp 51.500 + Rp
22.63439 = Rp 51.522,63439. hasil inilah merupakan probabilitas harga semen aktualnya. Sehingga
dalam mengestimasi biaya bisa jadi lebih mudah untuk mendapatkan harga rata-rata pastinya.
4.2. Metode Triangle
Triangle menetapkan distribusi dengan 3 poin yaitu nilai minimum, nilai yang hampir bisa dipastikan,
dan nilai maksimum.
Formulanya sebagai berikut:
) )( (
) ( 2
) (
a c a b
a x
x f

b x a if _
) )( (
) ( 2
) (
b c a c
x c
x f

c x b if _
Dimana
a = nilai minimum, b = nilai yang hampir dapat dipastikan, c = nilai maksimum
Triang ( 0,2,5 ) Triang ( 0,1,2 )
Sebagai contoh, adanya satu pekerjaan Pasang Pondasi batu kali, diperoleh data sebagai berikut:
Untuk 1 m
3
pasangan batu kali dengan perbandingan 1 semen: 4 pasir diperlukan :
Bahan : An.G. 32 h
1.2 m
3
batu kali @ Rp 210.000 = Rp 252.000
4.0715 zak semen @ Rp 51.000 = Rp 207.646,5
0.522 m
3
pasir @ Rp 74.000 = Rp 38.628
= Rp 498.274,5
Upah
1.2 tukang batu @ Rp 45.000 = Rp 54.000
0.12 kep.tukang @ Rp 60.000 = Rp 7.200
3.6 pekerja @ Rp 45.000 = Rp 162.000
0.18 mandor @ Rp 60.000 = Rp 10.800
= Rp 234.000
Bahan + upah = Rp 498.274,5 + Rp 234.000
= Rp 732.274,5
Jika ada 3 kemungkinan harga semen pada tahun yang sama yaitu Rp 51.000, Rp 51.500 dan Rp
52.000, maka akan mengubah harga 1 m
3
pasangan batu kali tersebut.
1.2 m
3
batu kali @ Rp 210.000 = Rp 252.000
4.0715 zak semen @ Rp 52.000 = Rp 211.718
0.522 m
3
pasir @ Rp 74.000 = Rp 38.628
= Rp 502.346
Upah
1.2 tukang batu @ Rp 45.000 = Rp 54.000
0.12 kep.tukang @ Rp 60.000 = Rp 7.200
3.6 pekerja @ Rp 45.000 = Rp 162.000
0.18 mandor @ Rp 60.000 = Rp 10.800
= Rp 234.000
Bahan + upah = Rp 502.346 + Rp 234.000
= Rp 736.346
1.2 m
3
batu kali @ Rp 210.000 = Rp 252.000
4.0715 zak semen @ Rp 51.500 = Rp 209.682,25
0.522 m
3
pasir @ Rp 74.000 = Rp 38.628
= Rp 500.310,25
Upah
1.2 tukang batu @ Rp 45.000 = Rp 54.000
0.12 kep.tukang @ Rp 60.000 = Rp 7.200
3.6 pekerja @ Rp 45.000 = Rp 162.000
0.18 mandor @ Rp 60.000 = Rp 10.800
= Rp 234.000
Bahan + upah = Rp 500.310,25 + Rp 234.000
= Rp 736.346
Jadi ada 3 kemungkinan perubahan harga untuk perubahan 1 material
Dari harga semen diatas dapat diperoleh data sebagai berikut ini,
a = Rp 51.000 b = Rp 51.500 c = Rp 52.000
3
c b a
x
+ +

500 . 51
3
000 . 52 500 . 51 000 . 51

+ +

x
x
Karena x = b, maka
) )( (
) ( 2
) (
a c a b
a x
x f

002 . 0 ) (
) 000 . 51 000 . 52 )( 000 . 51 500 . 51 (
) 000 . 51 500 . 51 ( 2
) (

x f
x f
Dari hasil f(x) kemudian dikalikan dengan harga rata-rata, seperti dibawah ini:
f(x) = 0.002 x = 51.500
maka harga mendekati kepastian adalah 0.002*Rp 51.500 = Rp 51.603