Anda di halaman 1dari 7

BAB 10 AKHLAKUL KARIMAH DALAM DUNIA MODERN1

A. Pengertian Akhlakul Karimah2


Akhlak dari segi bahasa di definisikan sebagai moral,tabiar,perangai,budi,adab,sifat semulajadi,maruah,watak,amalan agama atau rupa batin seseorang.akhlak berasal dari bahasa arab yaitu khuluqun yang berarti budi pekerti,perangai tingkah laku atau tabiat.

Akhlak juga bisa berarti dien (agama) sebagaimana firman Allah: Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung. (QS. Al-Qalam: 4) Menurut Dr. M. Abdullah Dirroz mengatakan bahwa : Akhlak adalah suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (dalan hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jelek). Akhlakul karimah merupakan manivestasi keimanan dan keislaman paripurna seorang Muslim. Akhlakul karimah dalam pengertian luasnya ialah perilaku, perangai, ataupun adab yang didasarkan pada nilai-nilai wahyu sebagaimana dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah kehidupan manusia masalah konflik beda pendapat senantiasa akan hadir. Oleh karena itu Islam membawa ajaran yang mewajibkan seluruh umatnya memiliki akhlakul karimah. Orang berakhlak tidak memerlukan pencitraan apalagi memaksakan kehendak. Baginya, kepentingan bersama jauh lebih penting daripada kepentingan pribadi dan golongannya. Betapa indahnya jika semua elemen bangsa memiliki karakter akhlakul karimah saling memahami, mengutamakan toleransi dalam berbeda pendapat, saling menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan dan bergerak demi keutuhan bangsa dan negara. Perlu di ingat bahwa kecanggihan teknologi, sistem, dan regulasi apapun, tidak akan memberi manfaat maksimal jika pribadi-pribadi bangsa ini tidak memiliki akhlakul karimah.

1 2

Makalah ini ditulis oleh Dina Eryanti, Ria Ratih, Muhammad Ikhsan, Dwi Febriyawan 1D http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/31/lm2iw7-akhlakul-karimahoh-indahnya 1

B. Akhlakul karimah dalam dunia modern


saat ini kita berada di tengah pusaran hegomoni media,revolusi iptek tdak hanya mampu menghadirkan sejumlah kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia modern,melainkan juga mengundang serentetan permasalahan dan kekhawatiran.Tegnologi multimedia misalnya,yang berubah begitu cepat sehingga mampu membuat informasi yang cepat di dapat,seperti isi yang tak terbatas ragamnya,serta lebih mudah dan enak untuk di nikmatinya.Namun,di balik itu semua,sangat potensial untuk mengubah gaya hidup seseorang,bahkan dengan mudah dapat merambah ke bilik-bilik keluarga yang semula sarat dengan norma asusila.Pada masa modern ini,

penerapan akhlak yang baik selalu di hadapkan dengan berbagai tantangan.

Tantangan meraih akhlakul karimah dalam dunia modern


1. Tentang kebudayaan Dewasa ini ummat Islam banyak mendapat berbagai macam tantangan, perlawanan, dan pengaruh yang serius dari musuh-musuh Islam, baik yang dilakukan secara terangterangan dalam bentuk penindasan-penindasan sebagaimana yang dilakukan oleh orangorang yahudi dan negara-negara lainnya, termasuk yang dilakukan oleh orang-orang barat terhadap negara-negara Islam khususnya Timur Tengah, maupun yang secara samar-samar namun pasti, yaitu merusak kebudayaan ummat Islam, sehingga umat Islam lebih cenderung berorientasi kepada kebudayaan orang-orang kafir daripada meruju sunnah-sunnah Nabawiyyah. Bahkan semua tadi dilakukan oleh kaum Muslimin dengan pergaulan, cara berpakaian maupun mengkonsumsi makanan-makanan yang dibuat oleh orang kafir yang tidak jelas Halal Haramnya. Musuh Islam terutama Yahudi dan Nashroni tidak bakal berdiam diri jika kaum Muslimin di muka bumi ini masih eksis mengamalkan ajaran-ajaran murni yang diambil dari inti sari Al-Quran dan hadits Nabawi. Musuh-musuh Islam sangat jeli melihat kelemahan kaum Muslimin dan mereka benar-benar memahami sendi-sendi utama kaum Muslimin, yang mana apabila kaum Muslimin sudah meninngalkan sendi-sendi tersebut pastilah lambat laun Islam akan tumbang dan yang ada hanyalah sebatas nama saja.

http://ribathdeha.wordpress.com/2012/05/18/ancaman-ummat-islam-dalam-menghadapizaman-modern/ 2

Di antara sendi-sendi Islam dijadikan sasaran utama mereka untuk dijauhkan dari kaum Muslimin adalah sabda Nabi saw.: Bermula dari kejadian perang salib yang berakhir pada abad ke-13, orang Nashroni menyadari bahwa umat Islam tidak dapat ditundukkan dengan perang fisik. Maka mereka merubah strategi dengan gerakan non fisik, yaitu mengarah pada kehancuran pada ide-ide Islam, baik dengan cara pembatasan gerak dawah Islam maupun pembaharuan ide-ide Islam sehingga tampak samar (keberadaannya menjadi kabur dan meragukan). Bersamaan dengan itu bergaerak pula orang-orang Yahudi, Atheis, Paganis dan orang-orang munafiq yang sejak semula memusuhi Islam, membuat satu langkah bersamasama untuk menghancurkan Islam. Mereka bersepakat dalam satu strategi yang terkenal dengan istilah Ghozwul Fikri (perang pemikiran). Seorang pemimpin partai liberal Inggris yang bernama Glad Stone mengingatkan teman-temanya dalam suatu pertemuan: Selama kitab ini (seraya mengangkat Al-Quran dengan tangannya ke atas) masih ada di muka bumi (dipelajari oleh kaum Muslimin), maka jangan harap mampu menundukkan kaum Muslimin. Karena itu banyak sekali cara mereka dalam usaha menjatuhkan kaum Muslimin dari Al-Quran yang semestinya untuk landasan kehidupan sehari-hari. di antaranya mereka berusaha keras untuk memasarkan di kalangan kaum muslimin 4S (Sing, Sex, Sport, Smoke) demikian juga 4F (Fun, Fashion, Food, Faith) dengan tujuan agar kaum Muslimin melupakan kitab pegangan utama Al-Quranserta tuntunan Nabi saw. lewat hadits-hadits Nabawiyyah.

http://ribathdeha.wordpress.com/2012/05/18/ancaman-ummat-islam-dalam-menghadapizaman-modern/ 3

C. Berakhlak mulia dan Modern


Belakangan ini kita sering mendengar berita-berita tentang banyaknya akhlak-akhlak para pemuda yang rusak. Di lingkungan pelajar dan mahasiswa misalnya, sering kita dengar tawuran antar pelajar, siswa-siswi yang tidak berakhlak, dan pergaulan bebas. Oleh karena itu siapapun yang mendambakan keselamatan dan keberuntungan dalam hidupnya, tidak ada jalan lain baginya kecuali dengan tazkiyatun nufus (penyucian jiwa). Menyucikan diri dari kefasikan, keburukan amalnya dan akhlak yang buruk. Bagaimanakah cara dan metode menyucikan diri yang benar? Adakah metode-metode yang khusus yang lazim dilakukan oleh orang yang akan memperbaiki akhlaknya? Apakah pengalaman pribadi, perasaan seseorang dan bisikan hati bisa dijadikan landasan amal dalam hal ini? Sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan oleh manusia tanpa petujuk dari Rasul mereka. Tidak terkecuali dalam masalah perbaikan akhlak, hendaknya kita kembalikan kepada petunjuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sebagai satu-satunya manusia yang ahli di bidang tersebut. Ketahuilah wahai saudaraku seiman, sesungguhnya memperbaiki akhlak dengan tujuan membentuk akhlak yang mulia merupakan faktor utama bagi kekuatan dan keagungan umat. Sesungguhnya nilai suatu umat itu terdapat pada akhlaknya. Jika akhlak itu hilang maka hilang pula nilai umat tersebut. Karena itulah perbaikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting, karena dia sangat berpengaruh bagi baik atau buruknya suatu umat. Di samping itu perbaikan akhlak menjadi landasan tegaknya perintah-perintah Allah Ta'ala di dalam jiwa manusia. Jika jiwa manusia dibiasakan dengan akhlak mulia dan lurus, niscaya jiwa tersebut akan senang dan bangga dalam mengagungkan syiar-syiar Allah Ta'ala dan berjalan diatas manhaj-Nya. Tidak ada ucapan yang lebih benar dari firman Allh Ta'ala. Dia berfirman Demikianlah ( perintah Allah ) dan barang siapa yang mengagungkan syiar- syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. ( QS. Al-Hajj/22:32) Akhlak yang mulia merupakan inti ajaran syariat yang toleran dan kumpulan ajaran agama yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Karena itu jiwa ini harus dikondisikan dengan akhlak tersebut sehingga mendapatkan kebahagiaan dan patuh terhadap perintah Allah Ta'ala. Sesungguhn yatazkiyatunnufus (penyucianjiwa) dan membersihkannya dari setiap kotoran, juga meningkatkan pada akhlak yang mulia. Karena tazkiyatunnufus merupakan landasan dalam memulai sebuah kehidupan yang islami sesuai dengan manhaj para nabi. 4

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang bagus akhlaknya dan sebaikbaik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. (HR. Tirmidzi) Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah Ta'ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam Sesungguhnya seorang mukmin itu akan mendapatkan derajat orang berpuasa dan oaring yang menegakan shalat malam dikarenakan kebaikan akhlaknya. (HR. abu Dawud)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah Ta'ala berfirman:

Dan sesungguhnya engkau (Rasulullah) berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qolam: 4)

http://bukhari.or.id Referensi: - Al-Quran dan terjemahan. - Prinsip dasar Islam, Ust. Yazid Abdul Qodir Jawaz.

D.Menegakan akhlakul karimah dalam dunia keilmuan dan dunia profesi.


Akhlakul karimah adalah perilaku dan tindakan yang dianggap baik (bernilai baik) berdasarkan tuntunan Al-quran dan Sunnah Rasulullah dan karena itu kita dianjurkan untuk melakukannya. Kebalikannya adalah akhlakus sayyiah, yaitu perilaku yang dianggap buruk berdasarakan tuntunan Al-quran dan Sunnah Rsulullah dan karena itu dianjurkan untuk meninggalkannya. Di dalam Islam perilaku seseorang (dan masyarakat) seluruhnya tunduk pada (diliputi oleh) hukum dan akhlak, (di dalam Islam keduanya harus berdasarkan atau paling kurang sejalan dengan tuntunan Al-quran dan Sunnah Rasulullah) yang dalam tulisan ini dibedakan berdasarkan sanksinya. Kalau pelanggaran atas ketentuan tersebut diberi sanksi oleh mahkamah maka perilaku tersebut dianggap tunduk atau termasuk kategori hukum; kalau pelanggaran atas ketentuan tersebut tidak diberi sanksi oleh mahkamah atau belum termasuk perbuatan yang diberi sanksi oleh mahakmah, maka perilaku atau perbuatan tersebut dianggap termasuk kategori akhlak. Menurut Al-quran manusia diciptakan adalah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah, serta untuk kebahagiaan dan kesejahteraan manusia itu sendiri dalam hidup di dunia dan hidup di akhirat. Untuk tujuan tersebut manusia diciptakan berbeda dengan semua makhluk lain, manusia diberi ruh sedang makhluk lain hanya diberi nyawa. Mungkin pemaknaan lebih lanjut dari pemberian ruh ini adalah adanya akal (pikiran), kata hati (nurani) serta nafsu pada manusia. Akibat dari pemberian ruh tersebut, manusia diberi kebebasan dan hak untuk memilih apakah akan menjadi baik (berbuat baik) atau akan menjadi jahat (berbuat buruk, salah) dan juga harus memikul tanggung jawab akibat pilihannya tersebut, akan menderita sekiranya melakukan pilihan yang salah (melakukan perbuatan yang buruk) dan akan berbahagia karena melakukan pilihan yang bernar (melakukan perbuatan yang baik). Menurut Al-quran, pikiran, nurani dan nafsu yang ada pada manusia tidak sanggup dan tidak mampu menuntun manusia untuk menemukan kebenaran sejati; tiga keistimewaan manusia tersebut sering atau paling kurang dapat menjadikan manusia terperosok jatuh pada keburukan dan kerendahan perilaku, sehingga menjadi lebih rendah dari binatang yang hanya diberi naluri (instink); karena itu manusia memerlukan bimbingan ilahi secara terus menerus, dan karena itulah Allah SWT. Selalu mengirim rasul-rasul sampai kepada Muhammad Saw. Sebagai Rasul terakhir.

http://alyasaabubakar.com/2012/12/akhlakul-karimah-dalam-penegakan-hukum/ 6

Ketidak seimbangan tatanan dunia yang pada akhirnya menyebabkan berbagai bencana adalah karena manusia tidak bisa berlaku sebagai khalifah dialam ini sebagaimana yang digariskan oleh allah sebalumnya. Pada kasus kerusakan lingkungan hidup, Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man bahwa sains adalah absah dan independen, peran dan fungsi sains serta aplikasinya bisa menjadi tidak absah dan bahkan berbahaya lantaran kurangnya pengetahuan yang lebih tinggi yang bisa di integrasikan dan rusaknya nilai sakral dan spiritual alam bisa di hindarkan. Untuk merealisasikan misi ini, sejarah dan filsafat ilmu harus di Investigasi kembali berkaitan dengan teologi tradisi agama-agama besar dan juga doktrin-doktrin agama di dunia timur beserta dengan kearifan-kearifan lokal mengenai alam semesta. Para pengkaji agama dan ilmu filsof terlalu banyak diam atau terbelakang karena kalah pengaruh dengan ilmu-ilmu alam yang semakin mendominasi pada zaman ini. Ilmu-ilmu alam menjadi tersekulerkan dan ilmu ini yang menjadi terpisah dari pemahaman agama dan kearifan akan alam telah di terima dengan bentuk absah suatu ilmu. Kenyataannya ilmu-ilmu modern sendirinya adalah buah dari seperangkat faktor-faktor yang mencangkup semua tradisi intelektual dan keagamaan. Dalam islam, ilmu alam seharusnya berdasarkan prinsip-prinsip yang lebih tinggi. Semua filosof muslim juga selalu memberikan ruang yang selayaknya bagi perkembangan metafisika dan klarifikasi pengetahuan mereka sendiri. Kenyataan ini jelasnya bertolak belakan dengan ilmu modern barat yang mengabaikan atau bahkan menjauhin nilai-nilai sakral dan spiritual yang dengannya manusia tidak akan memanfaatkan alam dengan seenaknya. Manusia hanyalah sebagian kecil dari alam ini, proses penciptaan manusia hanya perkara kecil bagi tuhan. Proses penciptaan alam ini tentunya sebuah fenomena yang lebih besar dan perlu di perhatikan. Namun manusia sering melupakannya dan menjadi sombong lantaran hak istimewa yang disandangnya sebagai khalifah di bumi. Karena itu, manusia harus menyadari amanat yang di sandangnya. Yang menjadi khalifah bahwa mewakili tuhan dalam mengelolah semua potensi yang ada di alam ini adalah bagi kebaikan seluruh umat manusia tanpa harus merusak lingkungannya. Tanggung jawab yang besar ini secara jelas memerlukan keahlian spesifik yang konfrehensif. Manusia tidak hanya perlu pintar, tapi juga perlu spritualitas dan kepribadian yang baik sehingga mereka selalu menahan diri untuk tidak merusak alam ini.

Seyyed Hossein Nasr, The Encounter of Man and Nature : the Spiritual Crisss of Modern Man (London : George Allen and Unwin, 1968), p.14.