Anda di halaman 1dari 23

Presentasi Kasus Psikotik Sp.

KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Pendidikan Status Agama Pekerjaan Alamat 2010 II. ALLOANAMNESIS Alloanamnesis dilakukan pada tanggal 4 Februari 2010, pukul 15.00 WIB dan 5 Februari 2010, pukul 10.00 WIB Diperoleh dari Nama Umur Jenis Kelamin Agama Status Pendidikan Terakhir Pekerjaan Hubungan Sifat Kenal Alamat 1 Ny. R 57 tahun Perempuan Islam Janda SD Penjual kerupuk Ibu kandung Seumur Hidup Mungkid, Magelang 2 Tn. R 38 tahun Laki-laki Islam Menikah SLTP Penjual es keliling Kakak kandung Seumur Hidup Mungkid, Magelang : Nn. P : 33 tahun : Perempuan : SLTP : Tidak menikah : Islam : Tidak bekerja : Mungkid, Magelang

Mondok (yang pertama kali) di RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang : 29 Januari

1. SEBAB DIBAWA KE RUMAH SAKIT


Pasien dibawa oleh keluarga pasien ke RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang karena pasien teriak-teriak dan tidur sulit.

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

B. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT (Riwayat perjalanan penyakit diperoleh dari alloanamnesis ( 4 dan 5 Februari 2010), autoanamnesis (2 Februari 2010) dan catatan medis). Pada bulan Oktober 2005 atau 5 tahun SMRS, pasien dan ibunya berjualan krupuk di pasar Ambarawa, mereka tidak memiliki kios, hanya berjualan di emperan toko atau trotoar. Pada suatu hari, tiba-tiba datang Polisi Pamong Praja merazia para pedagang pasar. Pasien kaget, lalu berlari dan bersembunyi bersama ibunya, saat itu pasien ketakutan di tempat persembunyiannya, lalu minta pulang ke Magelang hari itu juga. Bersama dengan ibunya, pasien pulang naik bis dan terjadi perubahan tingkah laku, selama dalam perjalanan pasien menyanyi dan bersholawat terus-menerus. Sejak saat itu pasien mulai teriak-teriak, menyanyi, dan berbicara sendiri. Dua bulan kemudian, pasien dibawa berobat ke mantri di desanya, lalu oleh mantri tersebut pasien diinapkan selama 1 bulan dan diberi obat (keluarga lupa jenis dan jumlah obatnya), kemudian pasien pulang dan diberi obat untuk diminum dirumah. Akan tetapi, pasien tetap berperilaku aneh, sampai akhirnya seorang perawat RSJ Magelang yang dikenal oleh kakak pasien menyarankan agar dibawa berobat ke dokter spesialis jiwa. Oleh dokter, pasien diberi obat (keluarga lupa jenis dan jumlah obatnya) untuk diminum kurang lebih untuk 1 bulan. Karena tidak teratur minum obat dan tidak rutin kontrol maka gejala muncul kembali. Pada pertengahan tahun 2006, atas kesepakatan keluarga, akhirnya pasien dikirim ke pondok pesantren di Magelang. Pasien adalah santriwati yang umurnya jauh lebih tua dibandingkan dengan temantemannya. Selama di pondok pesantren, pasien kurang bisa mengikuti pelajaran, tapi rajin sholat, mengaji, dan mendengarkan ceramah. Hubungan dengan warga pesantren dan teman-temannya pun baik. Pada suatu waktu, pasien menyukai salah satu santri senior yang bernama Kang Imam, akan tetapi pasien malu untuk mengungkapkan perasaannya dengan lelaki tersebut karena menganggap bahwa wanita tidak seharusnya mengungkapkan perasaan cinta pada laki-laki terlebih
Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

dahulu. Selama kurang lebih 3 tahun di pondok pesantren, komunikasi dengan keluarga tetap terjaga, setiap 1 bulan sekali pasien pulang ke rumah atau dijenguk oleh keluarga. Kadang-kadang pasien masih menunjukkan perilaku aneh seperti menyanyi terus menerus, berbicara sendiri dan banyak bergerak (keluarga tidak mengetahui secara pasti berapa kali pasien kumat di pesantren). Akhirnya pada suatu ketika pihak pondok pesantren memberitahukan pada keluarga bahwa sebaiknya pasien kembali ke rumah, lalu pasien dijemput oleh kakaknya. Setelah pulang dari pondok pesantren pada pertengahan tahun 2009 atau 6 bulan SMRS, pasien tinggal di rumah bersama kakak dan kakak iparnya. Terjadi peningkatan tingkah laku yang aneh setelah pulang dari pesantren, masih sering teriak-teriak, berbicara sendiri, menyanyi terus menerus, suka pergi-pergi, tidur sulit, bahkan pernah menceburkan diri ke kolam dengan pakaian lengkap. Waktu ditanya oleh kakak pasien tentang apa sebab menceburkan diri, pasien tidak menjawab dan hanya tertawa. Pasien pernah jalan kaki dari rumah menuju pesantren yang berjarak 5 km dengan alasan rindu dengan teman-teman dan suasana pesantren. Pasien juga mengatakan pernah beberapa kali melihat bayangan hitam sewaktu dia bangun tidur. Saat berbicara terus menerus, nama yang sering disebut pasien adalah Kang Imam. 1 bulan SMRS, pasien berobat ke poliklinik RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang dan diberi obat (keluarga lupa jenis dan jumlah obatnya). Setelah 2 minggu minum obat, pasien mulai menunjukkan perbaikan dan sisa obat tidak diminum. 1 minggu SMRS pasien diajak ibunya berjualan kerupuk lagi di pasar Ambarawa. Pasien dan ibunya tinggal di rumah kontrakan, hingga pada suatu hari, saat pasien ingin mencuci pakaiannya, tiba-tiba adik pemilik kontrakan berbicara dengan suara keras kepadanya, bahwa tidak ada air saat itu. Pasien kaget dan minta pulang ke Magelang. 4 hari SMRS pasien kembali berbicara dan tertawa sendiri, bernyanyi, berteriak, suka pergi-pergi dan tidak mau diam, mudah tersinggung, mudah marah, nafsu makan berkurang, dan tidur sulit.

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Karena

perilakunya

sudah

mengganggu

dan

menimbulkan

ketidaknyamanan bagi keluarga, maka pasien diputuskan untuk dibawa ke RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang dan mondok untuk pertama kalinya. C. 1. HAL HAL YANG MENDAHULUI SAKIT Sekitar 2. Faktor Organis 5 tahun yang lalu pasien sudah mengalami

Psikiatri perubahan tingkah laku dan ini merupakan mondok yang pertama.

Trauma kapitis (-) Pasien tidak pernah mengalami kecelakaan yang

menyebabkan trauma pada kepala.

Kejang (+) Pasien tidak mempunyai riwayat kejang. Panas tinggi yang lama (-) Pasien tidak mempunyai riwayat panas tinggi sebelum sakit. Keracunan (-) Pasien tidak pernah keracunan.

3. Penyalahgunaan alkohol dan NAPZA Pasien tidak mempunyai riwayat menggunakan alkohol dan NAPZA. Pasien juga tidak merokok. 4. Faktor Psikososial a. Faktor Predisposisi

1.

Kepribadian premorbid Pasien tergolong orang yang banyak berbicara dibandingkan keluarga yang lain, mudah bergaul dan senang

anggota

bersosialisasi. 2. 3. Kasih sayang Pasien cukup mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Sosial ekonomi

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Keadaan sosial ekonomi kurang. Ibu pasien berjualan kerupuk di pasar Ambarawa, sedangkan kakak pasien berjualan es krim keliling. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirasakan cukup. b. Faktor Pencetus Pasien diusir oleh Polisi Pamong Praja saat berjualan krupuk di trotoar pasar Ambarawa bersama ibunya dan karena adik pemilik kontrakan di Ambarawa berbicara keras kepadanya sehingga pasien kaget. D. RIWAYAT KELUARGA a. Pola Asuh Keluarga Pasien adalah anak ketiga dari 3 bersaudara. Pasien dibesarkan dalam keadaan kedua orang tua harmonis dan cukup mendapat perhatian. b. Silsilah Keluarga Pasien adalah anak ke-3 dari 3 bersaudara. Pasien memiliki 1 orang kakak laki-laki dan 1 kakak tiri perempuan dari ayahnya dengan ibu yang berbeda. Tidak ada keluarga yang mengalami gangguan jiwa.

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

E. GENOGRAM Genogram Nn. P

Tanggal pembuatan : 6 Februari 2010 Keterangan : Laki laki tanpa gangguan jiwa Perempuan tanpa gangguan jiwa Laki laki telah meninggal dunia Pasien Tinggal satu rumah dengan pasien

5. RIWAYAT PRIBADI (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)


6. Riwayat Kelahiran Pasien lahir di rumah, ditolong oleh dukun, cukup bulan, spontan, langsung menangis, dan
Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

tidak terdapat kelainan. Berat

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

badan tidak diketahui. Pada saat bayi, pasien tidak pernah mengalami panas tinggi dan kejang serta minum ASI cukup.

7.

Masa Anak Anak Awal (0-3 tahun) Pasien diasuh oleh keluarganya sendiri. ASI diberikan sampai

umur 2 tahun. Tidak ada riwayat kesulitan dalam pemberian makanan. Perkembangan pasien pada masa anak - anak awal sesuai dengan perkembangan anak seusianya. Tidak ada masalah perilaku yang menonjol. Waktu kecil mampu bermain bersama kakaknya dan teman-teman sebayanya. 8. Masa Anak Pertengahan (3-11 tahun) Pada usia 5 tahun pasien mulai masuk TK. Pada usia 7 tahun pasien melanjutkan sekolah ke SD. Saat pasien kelas 2 SD, pasien pindah ke MI. Dalam pergaulan dengan teman main, teman sekolah dan saudara-saudaranya dinilai masih wajar. Prestasi di sekolah dalam rata-rata. Saat masuk SD, keluarga menyadari bahwa mata kiri pasien tampak juling tetapi hal ini tidak menyebabkan pasien rendah diri. Kelas 3 SD, pasien pernah diangkat bisulnya di daerah hidung sehingga tampak jaringan parut. Orang tua menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan agama tidak terlalu ketat, dalam mengasuh mendapatkan kasih sayang yang cukup dan tidak membedakan dengan kakaknya. 9. Masa Anak Anak Akhir (11-18 tahun) Pada usia 13 tahun pasien lulus SD dan melanjutkan ke SMP. Pasien mampu bergaul dengan teman-temannya dan saudarasaudaranya. 10. Masa Remaja Pasien termasuk orang yang mudah bergaul dan punya banyak teman. 11. Perkembangan Jiwa

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Pasien dibesarkan dalam keluarga harmonis, kasih sayang cukup, mendapatkan pendidikan agama yang cukup dari kedua orang tuanya. 12. Riwayat Pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah SLTP. Prestasi pasien dalam rata-rata. 13. Riwayat Pekerjaan Saat bulan puasa, pasien membantu tetangganya membuat enting-enting kacang untuk dijual. Tahun 2005, pasien membantu berjualan kerupuk bersama ibunya di pasar Ambarawa selama 1 bulan.

14.

Riwayat Perkawinan/Riwayat Psikoseksual Pasien belum menikah. Penampilan dan pembawaan layaknya

perempuan, tertarik dengan lawan jenis. Pasien menstruasi pada umur 13 tahun. 15. Hubungan Sosial Sebelum dan setelah terjadi perubahan perilaku, hubungan pasien dengan keluarga, saudara, tetangga baik. Pasien terkadang keluar rumah dan mengobrol dengan tetangganya dan teman sebayanya. 16. Kegiatan Moral Spiritual Pasien adalah penganut agama islam dan sejak kecil rajin melaksanakan ibadah sholat dan mengaji. Saat dewasa pasien kadang-kadang mengikuti pengajian di kampungnya. 17. Kebiasaan Pasien tidak memiliki kebiasaan yang merugikan kesehatan dan menyebabkan kelainan otak seperti penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang lainnya. 18. Gambaran Kepribadian
8

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Sebelum dan setelah terjadi perubahan perilaku, pasien merupakan orang yang ceria dan aktif tetapi jarang sekali menceritakan masalah pribadi kepada orang lain. Pasien dapat bergaul sehingga mempunyai banyak teman..

19.

Sifat Alloanamnesis : dapat dipercaya

20. GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT

Fungsi Fungsi Mental Mental

A 2005

C 2006 2007 2008

D 2009

F 2010

Fungsi Peran Fungsi Peran Sosial Sosial

Keterangan :

A. Pasien dirazia oleh Polisi PP saat berjualan di pasar Ambarawa


bersama ibunya dan terjadi perbahan tingkah laku seperti teriakteriak, menyanyi, dan berbicara sendiri.

B. Pasien berobat ke mantri di desanya dan dokter spesialis jiwa dan


terdapat penurunan gejala.
Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 9

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

C. Pasien dikirim ke pondok pesantren di Magelang selama 3 tahun


tetapi belum ada perubahan tingkah laku.

D. Setelah pulang dari pondok pesantren, terjadi peningkatan gejala


yaitu sering teriak-teriak, berbicara menerus, suka pergi-pergi, tidur sendiri, menyanyi terus sulit, bahkan pernah

menceburkan diri ke kolam dengan pakaian lengkap.

E. Pasien berobat ke poliklinik RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang dan


diberi obat. Setelah 2 minggu minum obat, pasien mulai menunjukkan perbaikan dan sisa obat tidak diminum.

F. Pasien diajak ibunya berjualan kerupuk lagi di pasar Ambarawa.


Suatu saat pasien dikejutkan oleh suara adik pemilik kontrakan sehingga kaget dan minta pulang ke Magelang dan terjadi peningkatan gejala.

G. Pasien dibawa ke RSJP Prof. dr. Soeroyo Magelang dan mondok


untuk pertama kalinya. III. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 2 Februari 2010, pukul 08.00 WIB. A. Status Internus : baik : compos mentis : 110/70 mmHg : 76 x/menit : afebris : mesocephal, tidak bekas luka (jahitan) : bola mata tampak tidak sejajar, conjungtiva anemis (-/- ), sklera ikterik (-/-), pupil kanan dan kiri isokor Lidah Leher Dada * Paru * Jantung : simetris, vesikular, ronkhi (-/-), wheezing (-/-) : ictus cordis tak tampak, gallop (-)
10

Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign * Tensi * Nadi * Suhu Kepala Mata

: tidak kotor : deviasi trakhea (-), struma (-)

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Abdomen Ekstremitas

: supel, hepar dan lien tidak teraba, bising usus (+) normal : tonus dan pergerakan normal

B.

Status Neurologik : dalam batas normal (dbn)

Nervus Cranial Reflek reflek 21.

Reflek Fisiologis : (+) dbn : (+) dbn : (+) dbn

* Reflek Patella * Reflek Bisep * Reflek Trisep

* Reflek Brakhioradialis : (+) dbn * Reflek Tendo Archiles : (+) dbn

22. Reflek Patologis


Sensorik Motorik Vegetatif C. Status Psikiatrik : dbn : dbn : dbn

: (-)

Pemeriksaan status psikiatrik dilakukan pada tanggal 2 Februari 2010, pukul 08.00 WIB. 1. Kesan Umum bersih, perawatan diri cukup,tertawa dan terlihat gembira. Kesadaran Perilaku Pembicaraan : compos mentis : hiperaktif : banyak bicara, menjawab spontan dengan volume suara keras. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif Keadaan afektif Mood Afek : meningkat : euforia Deskripsi umum : tampak perempuan sesuai umur, penampilan cukup

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

11

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Roman muka Perhatian Fungsi kognitif

: banyak mimik : mudah ditarik sukar dicantum

- Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan Tingkat kecerdasan sesuai dengan pendidikan dan intelegensia, mampu berhitung dan menjawab pertanyaan-pertanyaan umum.

- Daya konsentrasi
- Orientasi Orang Waktu Tempat Situasi - Daya ingat Jangka pendek Jangka panjang - Pikiran abstrak Gangguan persepsi - Halusinasi dan ilusi Halusinasi visual Halusinasi olfaktori Halusinasi taktil Ilusi Depesonalisasi Derealisasi : cukup : cukup : cukup : cukup

: kurang

: kurang : kurang : cukup : cukup

Jangka menengah : kurang

- Kemampuan menolong diri sendiri

: tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Halusinasi auditorik : ada, disangkal oleh pasien

- Depersonalisasi dan derealisasi

Proses pikir - Arus Pikir Kuantitatif : logorrhoe

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

12

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Kualitatif Isi pikir Preokupasi Obsesi Gangguan pikiran o Waham bizzare Siar pikir Sisip pikir Kendali pikir Sedot pikir o Waham curiga o Waham kejar

: flight of idea : ada, tentang pria yang dicintainya : ingin menjadi istri Kang Imam

: (-) : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

o Waham magic mistic : (-)


o Waham kebesaran : (-) : (-) o Waham cemburu o Waham bersalah : (-) o Waham tak berguna : (-) o Waham somatik : (-) o Waham nihilistik : (-) Bentuk pikir Pengendalian impuls Pasien dapat kurang dapat mengendalikan diri saat pemeriksaan Daya nilai Norma sosial Penilaian realitas : selama dirawat di RS, pasien mudah bergaul dengan sesama pasien dan pegawai RS : derealistik (-), depersonalisasi (-) Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya Pasien ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarganya Tilikan (insight) Pasien tidak merasa dirinya sakit. : non realistik

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

13

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

IV.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Seorang pasien perempuan berusia 33 tahun, suku bangsa jawa, agama Iskam, anak ke-3 dari 3 bersaudara, belum menikah, tinggal bersama ibu, kakak kandung dan kakak ipar, pendidikan terakhir tamat SLTP. Sejak 5 tahun lalu, pasien mulai menunjukkan perubahan perilaku seperti teriak-teriak, menyanyi, dan berbicara sendiri. Pasien sudah pernah berobat ke dokter spsesialis jiwa, tetapi karena tidak teratur minum obat dan tidak rutin kontrol maka gejala timbul kembali. Saat ini pasien mondok untuk yang pertama kalinya. GEJALA YANG DIDAPAT

Kesan umum tertawa dan Sikap dan tingkah laku Roman muka Afek dan mood Persepsi Arus pikir

: compos mentis, perawatan diri cukup, terlihat gembira : hiperaktif dan kooperatif : banyak mimik : euforia dan meningkat : halusinasi auditorik

kuantitatif kualitas

: logorrhoe : flight of idea

Bentuk pikir : non-realistik

V.

SINDROM YANG DIDAPAT Sindroma Psikotik: Sakit sudah lebih dari 1 bulan Adanya hendaya/disfungsi fungsi peran (+), waktu luang (+), fungsi sosial (+), rawat diri (+) Adanya distress

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

14

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Adanya gangguan dalam berperilaku, pola pikir dan perasaan Sindrom Manik: Afek meningkat Mood euforia Loggorrhoe Banyak mimik Hiperaktif Sindrom Skizofrenia: Non realistik Inkoherensi Halusinasi auditorik (+) VI. DIAGNOSIS BANDING

1.
2.

Gangguan Skizoafektif Tipe Manik (F25.0) Mania dengan Gejala Psikotik (F30.2)

VII.
N o

PEMBAHASAN

1. Gangguan Skizoafektif Tipe Manik (F25.0)


Kriteria Diagnosis Pada Pasien

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

15

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

1.

Kategori ini digunakan baik untuk episode skizoafektif tipe manik yang tunggal maupun untuk gangguan berulang dengan sebagian besar episode skizoafektif tipe manik. Afek harus meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik lagi dua, gejala skizofrenia yang khas (sebagaimana ditetapkan dalam pedoman diagnostik skizofrenia, F.20.-, (a) sampai (d)). Terpenuhi

2.

3.

Terpenuhi

2. Mania dengan Gejala Psikotik (F30.2) N Kriteria Diagnosis o 1. Gambaran klinis merupakan bentuk mania yang lebih berat dari F30.1 (mania tanpa gejala psikotik) 2. Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi waham kebesaran (delusion of grandeur), iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar (delusion of persecution). Waham dan halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut (mood congruent). VIII. Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V IX. DIAGNOSIS KERJA : Gangguan Skizoafektif Tipe Manik (F25.0) : Z03.2 Tidak ada diagnosis : Tidak ada diagnosis : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial

Pada Pasien Tidak terpenuhi

: GAF 60-51, gejala sedang (moderate), disabilitas sedang PENATALAKSANAAN

A. PSIKOFARMAKA Risperidone 2x2mg


Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 16

Anti-psikosis (Atipikal)

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Carbamazepin 2x200mg RISPERIDONE Cara kerja obat

Anti mania

Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. Risperidone merupakan antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5-HT2 dan dopaminergik D2. Risperidone berikatan dengan reseptor 1-adrenergik. Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik. Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat, dimana dapat memperbaiki gejala positif skizofrenia, hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Antagonisme serotonin dan dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek samping ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan afektif dari skizofrenia. Farmakokinetik Risperidone diabsorpsi sempurna setelah pemberian oral, konsentrasi plasma puncak dicapai setelah 1-2 jam. Absorpsi risperidone tidak dipengaruhi oleh makanan. Hidroksilasi merupakan jalur metabolisme terpenting yang mengubah risperidone menjadi 9-hidroxyl-risperidone yang aktif. Waktu paruh (T) eliminasi dari fraksi antipsikotik yang aktif adalah 24 jam. Studi risperidone dosis tunggal menunjukkan konsentrasi zat aktif dalam plasma yang lebih tinggi dan eliminasi yang lebih lambat pada lanjut usia dan pada pasien dengan gangguan ginjal. Konsentrasi plasma tetap normal pada pasien dengan gangguan fungsi hati. Indikasi Terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain, dengan gejala-gejala tambahan (seperti; halusinasi, delusi, gangguan pola
Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 17

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

pikir, kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti; blunted affect, menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional, sulit berbicara). Juga mengurangi gejala afektif (seperti; depresi, perasaan bersalah dan cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia. Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap risperidone.

Efek Samping Yang umum terjadi: insomnia, agitasi, rasa cemas, sakit kepala. Efek samping lain: somnolen, kelelahan, pusing, konsentrasi terganggu, konstipasi, dispepsia, mual/muntah, nyeri abdominal, gangguan penglihatan, priapismus, disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, disfungsi orgasme, inkontinensia urin, rinitis, ruam dan reaksi alergi lain.

Beberapa kasus gejala ekstrapiramidal mungkin terjadi (namun insiden dan keparahannya seperti: jauh lebih ringan rigiditas, bila dibandingkan dengan haloperidol), tremor, hipersalivasi, bradikinesia,

akathisia, distonia akut. Jika bersifat akut, gejala ini biasanya ringan dan akan hilang dengan pengurangan dosis dan/atau dengan pemberian obat antiparkinson bila diperlukan.

Seperti

neuroleptik

lainnya,

dapat

terjadi berubah.

neuroleptic Bila hal

malignant ini terjadi,

syndrome (namun jarang), ditandai dengan hipertermia, rigiditas otot, ketidakstabilan otonom, kesadaran penggunaan obat antipsikotik termasuk risperidone harus dihentikan.

Kadang-kadang

terjadi

orthostatic

dizziness,

hipotensi

termasuk

ortostatik, takikardia termasuk takikardia reflek dan hipertensi. Risperidone dapat menyebabkan kenaikan konsentrasi prolaktin plasma yang bersifat dose-dependent, dapat berupa galactorrhoea, gynaecomastia, gangguan siklus menstruasi dan amenorrhoea. Kenaikan berat badan, edema dan peningkatan kadar enzim hati kadangkadang terjadi. Sedikit penurunan jumlah neutrofil dan trombosit pernah terjadi.
18

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Pernah dilaporkan namun jarang terjadi, pada pasien skizofrenik: intoksikasi air dengan hiponatraemia, disebabkan oleh polidipsia atau sindrom gangguan sekresi hormon antidiuretik (ADH); tardive dyskinesia, tidak teraturnya suhu tubuh dan terjadinya serangan

Dosis Dosis umum


Hari ke-1 : 2 mg/hari, 1-2 x sehari Hari ke-2 : 4 mg/hari, 1-2 x sehari (titrasi lebih rendah dilakukan pada beberapa pasien) Hari ke-3 : 6 mg/hari, 1-2 x sehari

Dosis umum 4-8 mg per hari. Dosis di atas 10 mg/hari tidak lebih efektif dari dosis yang lebih rendah dan bahkan mungkin dapat meningkatkan gejala ekstrapiramidal. Dosis di atas 10 mg/hari dapat digunakan hanya pada pasien tertentu dimana manfaat yang diperoleh lebih besar dibanding dengan risikonya. Dosis di atas 16 mg/hari belum dievaluasi keamanannya sehingga tidak boleh digunakan. Sediaan Obat Tablet 0,25, tablet 0,5 mg, tablet 1 mg, tablet 2 mg, tablet 3 mg ,tablet 4 mg, aoral solution (30ml, 1 mg/ml), dan sedian injeksi depo 12.5 mg, 25 mg, 37.5 mg and 50 mg

CARBAMAZEPIN Komposisi Setiap tablet mengandung Carbamazepin 200mg Cara Kerja Obat

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

19

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Carbamazepin

merupakan

antikonvulsan

kuat

yang

berkhasiat

sebagai

antiepileptik, psikotropik dan analgesik spesifik. Senyawa ini bekerja dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi. Selain mengurangi kejang, carbamazepin juga memberikan efek nyata terhadap perbaikan psikis yaitu perbaikan kewaspadaan dan perasaan. Disamping itu senyawa ini juga menunjukkan efek analgesik selektif, misalnya pada tabes dorsalis dan neuropati lainnya yang sukar diatas oleh analgesik biasa. Pada pemberian oral Carbamazepin diserap dengan lambat dan hampir lengkap, kurang lebih 75% berikatan dengan protein plasma, Kadar puncak dalam plasma dicapai dalam waktu 2 - 6 jam dan waktu paruh 15 jam. Carbamazepin dimetabolisme dalam hati menjadi derivat epoksid yang masih mempunyai aktivitas antikonvulsan, kemudian diekskresi bersama urin dan feses. Indikasi Epilepsi lobus temporalis, epilepsi psikomotor, kejang tonik-klonik (grand mal) terutama pada anak, neuralgia trigeminal, neuralgia glosofaringeal, polidipsia dan Dosis Dosis dewasa, awal 2 kali 1 tablet sehari, kemudian ditingkatkan secara bertahap maksimum 6 tablet sehari dalam dosis terbagi sehabis makan. Dosis penunjang, 4 - 6 tablet untuk epilepsi dan 3 - 4 tablet untuk neuralgia trigeminal. Anak dibawah 1 tahun, sehari '/2 tablet. Anak 1 - 6 tahun, sehari 2 kali 1/2 -1 tablet. Anak 6-12 tahun, sehari 2 kali 1 - 2 tablet. Peringatan dan Perhatian Pemberian dimulai dengan dosis rendah dipantau selama pengobatan. poliuria neurohormonal.

Carbamazepin tidak dianjurkan untuk mengatasi nyeri ringan yang dapat diatasi dengan analgesik biasa. Hati-hati pemberian pada pasien glaukoma atau

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

20

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

dengan gangguan fungsi hati. Darah pasien sebaiknya diperiksa sebulan sekali. Penderita yang mempunyai riwayat depresi sumsum tulang.

Efek Samping Efek samping terjadi pada sekitar 25% penderita yang diberikan pengobatan jangka lama, berupa pusing, vertigo, ataksia, diplopia, penglihatan kabur, diskrasia darah (leukopenia dan agranulositosis) dan reaksi hipersensitif. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap carbamazepin atau senyawa trisiklik. Interaksi obat Tidak boleh dikombinasi dengan obat penghambat MAO, Fenobarbital dan fenitoin dapat meningkatkan kadar carbamazepin. Eritrosin dapat menghambat biotransformasi carbamazepin. Carbamazepin dapat menurunkan kadar asam valproat. Hati-hati penggunaan kombinasi dengan PAS, INH, sikloserin dan warfarin.

B.

PSIKOTERAPI SUPORTIF Psikoventilasi Pasien dibimbing untuk menceritakan segala permasalahannya, apa yang menjadi kekhawatiran pasien kepada terapis, sehingga terapis dapat memberikan problem solving yang baik dan mengetahui antisipasi pasien dari faktor-faktor pencetus.

minum obat secara rutin.

Persuasi Membujuk pasien agar kooperatif dengan terapis lainnya dan Sugesti Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia dapat sembuh (penyakit terkontrol) dan dapat membantu mengatasi kekahwatirannya.

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

21

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

Desensitisasi Pasien dilatih untuk menerima kenyataan agar terbiasa di dalam lingkungan sosial untuk meningkatkan kepercayaan diri, memperbaiki mekanisme pembelaan diri dalam hubungan sosial dengan masyarakat.

C.

LATIHAN KERJA Pasien diberi latihan kerja agar pasien mendapatkan keahlian

yang dapat berguna dan bermaksud untuk memberikan kesibukan. D. TERAPI KELUARGA Keluarga pasien diinformasikan dan diajarkan cara merawat, memperlakukan pasien dengan benar, karena pasien gangguan jiwa memerlukan perhatian khusus. Keluarga dianjurkan mengawasi pasien saat minum obat dan memastikan pasien minum obat dengan rutin apabila pasien pulang ke rumah, dan bila pasien menolak minum obat, pasien harus mondok lagi. Keluarga juga dianjurkan menghargai pasien, membesarkan hati dan memberi kesibukan. Namun bukan berarti memanjakan pasien terlalu berlebihan, mengajarkan bagaimana agar tidak bergantung.

X. No .

PROGNOSIS PROGNOSIS BAIK BURUK

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

22

Presentasi Kasus Psikotik Sp. KJ

Pembimbing : dr. Santi Y.,

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Perjalanan penyakit : kronis Diagnosa : skizoafektif tipe manik (F25.0) Faktor pencetus : jelas Faktor herediter : tidak ada Gejala Positif (halusinasi auditorik, inkoherensi) Status Perkawinan : belum menikah Dukungan keluarga Respon terapi : mau minum obat Kesimpulan prognosis : dubia ad bonam + + + +

+ +

+ +

Rumah Sakit Jiwa Pusat Prof. dr. Soeroyo Magelang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

23