Anda di halaman 1dari 13

PRESENTASI KASUS

HERPES ZOSTER

Disusun Oleh : Rizky Arfina (111.0221.051)

Moderator Dr. Abraham Arimuko, SpKK Dipresentasikan tanggal 14 Januari 2013

KEPANITERAAN DEPARTEMEN KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO JAKARTA

2013
STATUS PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN DEPARTEMEN PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSPAD GATOT SOEBROTO I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Alamat Pekerjaan Agama Tanggal pemeriksaan II. : Tn. Y F : Laki-Laki : 18 tahun : Tangerang : Mahasiswa : Islam : 10 januari 2013

ANAMNESIS Diambil dari Autoanamnesis tanggal 10 Januari 2013 Keluhan Utama: Lenting-lenting kemerahan di bagian perut kanan dan punggung kiri. Riwayat Penyakit Sekarang: 2 minggu yang lalu pasien mengeluhkan pegal-pegal di seluruh badan. Pasien juga mengeluhkan demam, pusing dan badannya terasa lemas. 10 hari yang lalu, pasien mengeluhkan timbulnya bercak-bercak kemerahan dan terasa gatal terutama di perut kanan bawah dan punggung kiri bawah. 7 hari yang lalu muncul lenting berisi cairan dengan dasar berwarna kemerahan dan terasa gatal. Pasien memeriksakan dirinya ke RSPAD dan mendapatkan pengobatan berupa acyclovir salep. Setelah 1 minggu pengobatan pasien mengaku lenting-lenting di perut dan punggung sudah berkurang dan mengering. Pasien mengaku memiliki teman dengan keluhan yang serupa. Pasien menyangkal adanya riwayat alergi obat maupun makanan Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien mengaku pernah menderita cacar air saat kelas 4 SD. Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien menyangkal adanya keluhan serupa di keluarga.

13

III.

STATUS GENERALIS Keadaaan umum Kesadaran Keadaan gizi Vital Sign : baik : compos mentis : baik : Tekanan darah : 130/90 mmHg Nadi : 84 x/menit Pernafasan : 18 x/menit Suhu : afebris Kepala : normochepal, rambut hitam, distribusi merata Mata : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) Hidung : simetris, deviasi septum (-), sekret (-) Telinga : bentuk daun telinga normal, sekret (-) Mulut : mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-) Tenggorokan : faring tidak hiperemis, T1-T1 tenang. Thorax : Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-). Paru : vesikuler, ronki (-), wheezing (-) Abdomen : supel, nyeri tekan (-), pembesaran hepar dan lien tidak teraba Kelenjar Geah Bening: tidak teraba pembesaran. Ekstremitas : akral hangat, edema ( )

IV.

STATUS DERMATOLOGIKUS Lokasi : Pada regio umbilikal dan lateral dekstra abdomen serta regio lumbosakral lateral dekstra. Efloresensi : tampak dasar eritema yang disertai vesikel-vesikel berkelompok yang tersusun secara herpetiformis dan tampak pustul-pustul, krusta-krusta, dan erosi dengan dasar eritematosa. DIAGNOSA SEMENTARA Herpes Zoster. DIAGNOSA BANDING Herpes Simpleks. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan. RESUME Pasien seorang pria usia 18 tahun datang dengan keluhan lenting-lenting kemerahan di perut dan punggung kanan bawah sejak 2 minggu yang lalu. Pada pemeriksaan dermatologikus ditemukan vesikel, krusta-krusta, dan erosi dengan dasar eritematosa di perut dan punggung kanan bawah. DIAGNOSA KERJA

V. VI. VII. VIII.

IX.

13

Herpes Zooster X. ANJURAN PEMERIKSAAN Tzank Test Rapid Varicella Zoster Identification Kultur Virus PENATALAKSANAAN A. Non farmakologis - Istirahat cukup - Menghindari pecahnya vesikel dengan tidak menggaruk pada daerah lesi. B. Farmakologis - Axyclovir cream 5% 5 kali sehari - Interhistin 2x50 mg PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

XI.

XII.

13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA HERPES ZOSTER Herpes Zoster adalah penyakit setempat yang terjadi terutama pada orang tua yang khas ditandai oleh adanya nyeri radikuler yang unilateral serta adanya erupsi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang di inervasi oleh serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensoris dari nervus kranialis.1 Herpes Zoster rupanya menggambarkan reaktivasi dari refleksi endogen yang telah menetap dalam bentuk laten mengikuti infeksi varicella yang telah ada sebelumnya. Hubungan varicella dan Herpes Zoster pertama kali ditemukan oleh Von Gokay pada tahun 1888. Ia menemukan penderita anak-anak yang dapat terkena varicella setelah mengalami kontak dengan individu yang mengalami infeksi Herpes Zoster.1 Implikasi neurologik dari distribusi lesi segmental herpes zoster diperkenalkan oleh Richard Bright tahun 1931 dan adanya peradangan ganglion sensoris dan saraf spinal pertama kali diuraikan oleh Von Bareusprung pada tahun 1862. Herpes Zoster dapat mengenai kedua jenis kelamin dan semua ras dengan frekuensi yang sama.1

13

DEFINISI Herpes Zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang menyerang kulit dan mukosa, infeksi ini merupakan reaktifasi virus yang terjadi setelah infeksi primer. Artinya setiap orang yang pernah mengalami infeksi varicella zoster atau yang lebih dikenal dengan penyakit cacar air, mempunyai kemungkinan untuk mengalami herpes zoster.2,3 ETIOLOGI Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster. Virus varicella zoster terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan diameter 100 nm. Kapsid tersusun atas 162 subunit protein-virion yang lengkap dengan diameternya 150-200 nm, dan hanya virion yang terselubung yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan cepat dihacurkan dengan bahan organik, diterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana Ph yang tinggi. Masa inkubasinya 14-21 hari.1 PATOFISIOLOGI Pada episode infeksi primer, virus dari luar masuk ke tubuh hospes atau penerima virus. Selanjutnya terjadilah penggabungan virus dengan DNA hospes, mengadakan multiplikasi atau replikasi sehingga menimbulkan kelainan pada kulit. Virus akan menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf dan berdiam secara permanen dan bersifat laten. Infeksi hasil reaktifasi virus varicella yang menetap di ganglion sensorik setelah infeksi chicken fox pada masa anak-anak. Sekitar 20% orang yang menderita cacar akan menderita shingles (herpes zoster) selama hidupnya dan biasanya hanya terjadi sekali. Ketika reaktifasi virus berjalan dari ganglion ke kulit area dermatom.2,4

13

FAKTOR RESIKO1
1. Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini, akibat daya tahan

tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster makin tinggi pula resiko terserang nyeri. 2. Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukemia. Adanya lesi pada ODHA merupakan menifestasi pertama dari immunocompromised. 3. Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
4. Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang

13

FAKTOR PENCETUS KAMBUHNYA HERPES1 1. Trauma atau luka 2. Demam 3. Gangguan pencernaan 4. Sinar Ultraviolet 5. Stress 6. Kelelahan 7. Alkohol 8. Obat-obatan 9. Haid TANDA DAN GEJALA5 1. Gejala prodormal a. Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodormal yang berlangsung selama 1-4 hari. b. Gejala yang mempengaruhi tubuh: demam, sakit kepala, fatigue, malaise, nausea, rash, kemerahan, sensitif, sore skin (penekanan kulit), nyeri (rasa terbakar atau tertusuk) gatal dan kesemutan. c. Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus menerus atau hilang timbul. Nyeri juga bisa terjadi selama erupsi kulit. 2. Gejala yang mempengaruhi mata Berupa kemerahan, sensitif terhadap cahaya, pembengkakan kelopak mata, kekeringan mata, pandangan kabur, penurunan sensasi penglihatan dan lain lain. 3. Timbul erupsi kulit a. Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik.
b. Erupsi dapat terjadi diseluruh bagian tubuh, yang tersering didaerah

ganglion thorakalis.
c. Lesi dimulai dengan makula eritroskuamosa, kemudian terbentuk papul-

papul dan dalam waktu 12-24 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Pada hari ketiga berubah menjadi pustul yang akan mengering menjadi krusta

13

dalam 7 10 hari. Krusta dapat bertahan selama 2-3 minggu kemudian mengelupas. Pada saat ini nyeri segmental juga menghilang.
d. Lesi baru dapat terus muncul sampai hari ke 4 dan kadang-kadang sampai

hari ke 7.
e. Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan makula hiperpigmentasi dan

jaringan parut (pitted scar). 4. Pada lansia biasanya mengalami lesi yang lebih parah dan mereka lebih sensitif terhadap nyeri yang dialami 5. Kadang-kadang terjadi limfadenopati regional. KOMPLIKASI1,4
1. Neuralgia Pasca Herpes zoster (PHN) merupakan nyeri yang tajam dan spasmodik

(singkat dan tidak terus menerus) sepanjang nervus yang terlibat. Nyeri menetap di dermatom yang terkena setelah erupsi. Herpes zoster menghilang, batasan waktunya adalah nyeri yang masih timbul satu bulan setelah timbulnya erupsi kulit. Kebanyakan nyeri akan berkurang dan menghilang spontan setelah 1-6 bulan. 2. Gangren superfisialis, menunjukkan herpes zoster yang berat, mengakibatkan hambatan penyembuhan dan pembentukan jaringan parut.
3. Komplikasi mata antara lain: keratitis akut, skleritis, uveitis, glaukoma sekunder,

ptosis, korioretinitis, neuritis optika, dan paresis otot penggerak bola mata. 4. Herpes zoster diseminata/generalisata.
5. Komplikasi sistemik, antara lain: endokarditis, meningosefalitis, paralisis saraf

motorik,

progresif

multifokal,

leukoenchelopathy

dan

angitis

serebral

granulomatosa disertai hemiplegi (dua terakhir ini merupakan komplikasi herpes zoter optalmik). PEMERIKSAAN PENUNJANG1 1. Tes diagnostik untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan herpes simpleks:

13

a. Tzanck smear: mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat membedakan herpes zoster dan herpes simpleks. b. Kultur dari cairan vesikel dan tes antibodi: untuk membedakan diagnosis herpes virus. 2. Immunofluorescent mengidentifikasi varicella di sel kulit. 3. Pemeriksaan histopatologik. 4. Pemeriksaan mikroskop elektron. 5. Kultur virus. 6. Identifikasi antigen/asam nukleat VVZ.
7. Deteksi antibodi terhadap infeksi virus.

PENATALAKSANAAN1,2,6 1. Pengobatan topikal


a. Pada stadium vesikular diberi bedak salisil 2% atau bedak kocok kalamin

untuk mencegah vesikel pecah.


b. Bila vesikel pecah dan basah diberikan kompres terbuka dengan larutan

antiseptik atau kompres dingin dengan larutan Burrow 3x sehari selama 20 menit.
c. Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik

(basitrasin/polisporin) utuk mencegah infeksi sekunder selama 3x sehari. 2. Pengobatan Sistemik


a. Drug of choice adalah acyclovir merupakan DNA Polymerase Inhibitor

yang dapat mengintervensi infeksi virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan infeksi herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat diberikan secara oral, topikal, atau parenteral. Pemberian per oral mempunyai kelemahan, yaitu bioavaibilitas yang rendah dan dosis diberikan lima kali sehari.7 Pemberian lebih efektif pada hari pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang kecil terhadap post terapeutik neuralgia. Pemberian secara intravena hanya pada penderita dengan immunocompromised yang berat atau tidak dapat diobati secara per oral. Dosis yang digunakan untuk

13

pemberian oral adalah 5x800 mg sehari dan biasanya diberikan selama 7 hari. Bisa digunakan valasiklovir 3x1000 mg sehari karena konsentrasi dalam plasma yang tinggi. b. Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara-A, Vira-A) dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata.
3. Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon inflamasi dan efektif

namun

penggunaannya

masih

kontroversi

karena

dapat

menurunkan

penyembuhan dan menekan respon imun. 4. Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen nyeri dan antihistamin diberikan untuk menyembuhkan pruritus. 5. Penderita dengan keluhan mata Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukkan hubungan dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani dengan konsultasi optalmologis. Dapat diobati dengan salep mata steroid topikal dan midriatik, antivirus dapat diberikan.
6. Neuralgia Paska Herpes zoster

Bila nyeri masih terasa meskipun telah diberikan asyclovir pada fase akut, sebagai gold standart maka dapat diberikan golongan trisiklik, yaitu amitriptilin. Dosis yang dipakai sebagai anti nyeri adalah lebih rendah daripada dosis sebagai antidepresan. Penggunaan amitriptilin dosis rendah (10-50 mg) pada malam hari dapat mengurangi onset PHN pada pasien herpes zoster. Menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin di presinaps membran sel sehingga terjadi peningkatan konsentrasi serotonin dan atau norepinefrin di susunan saraf pusat. Menghambat reuptake serotonin dan norepinefrin di presinaps membran sel sehingga terjadi peningkatan konsentrasi serotonin dan atau norepinefrin di susunan saraf pusat.8 PROGNOSIS4 1. Umumnya baik, tergantung berat ringannya faktor predisposisi. 2. Pada orang muda dan anak umumnya baik.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Wuriyantoro. Herpes Zoster. www.medicastore.com Diakses pada 10 Januari 2013.

2.

Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke lima. Fakultas Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2007.

3. Herpes Zoster. www.mer-c.org.com diakses pada 10 Januari 2013. 4. Herpes Zoster. www.conectique.com diakses pada 10 Januari 2013. 5. Shingles. www.medlineplus.com diakses pada 10 Januari 2013. 6. AHFS. American Hospital Formulary Service: Drug Infomation ed.88. 1987. 7. Kabulrachman. HERPES. RSUP Dr.KARIADI. Grasia Offset. Semarang. 2007. 8. Amitriptilin. www.medicatherapy.com. Diakses pada 10 Januari 2013.

13

LAMPIRAN

13